You are on page 1of 162

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Rumah Sakit adalah bagian integral dari suatu organisasi sosial dan kesehatan
dengan fungsi menyediakan pelayanan paripurna (komprehensif), penyembuhan
penyakit (kuratif) dan pencegahan penyakit (preventif) kepada masyarakat.
Rumah sakit merupakan pusat pelatihan bagi tenaga kesehatan dan pusat
penelitian medik. Berdasarkan Undang-Undang tentang Rumah Sakit no.44 tahun
2009, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan perorangan secara
paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat
darurat. Rumah sakit juga mempunyai misi memberikan pelayanan kesehatan
kepada pasien yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Tugas rumah sakit umum adalah melaksanakan upaya pelayanan kesehatan


secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan penyembuhan dan
pemulihan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan peningkatan dan
pencegahan serta pelaksanaan upaya rujukan. Untuk menyelenggarakan
fungsinya, maka rumah sakit harus menyelenggarakan kegiatan seperti pelayanan
medis, pelayanan asuhan keperawatan, pelayanan penunjang medis dan nonmedis,
pelayanan kesehatan kemasyarakatan dan rujukan, pendidikan, penelitian dan
pengembangan, serta administrasi umum dan keuangan.

Salah satu hal yang sangat menunjang berfungsinya fungsi rumah sakit
adalah pelayanan asuhan keperawatan. Dalam memberikan pelayanan asuhan
keperawatan, setiap perawat dituntut harus mampu untuk memberikan asuhan
keperawatan yang sesuai dengan kebutuahan pasien. Salah satu faktor kegagalan
dalam memberikan sebuah pelayanan asuhan keperawatan adalah fungsi dari
manajemen keperawatan yang belum memumpuni untuk mendukung pelayanan
asuhan keperawatan kepada pasien.

Didalam rumah sakit memerlukan managemen yang baik untuk menunjang


mutu didalamnya, salah satu managemen yang harus berjalan adalah managemen
keperawatan. Manajemen keperawatan merupakan suatu bentuk koordinasi dan
integrasi sumber-sumber keperawatan dengan menerapkan proses manajemen
untuk mencapai tujuan dan obyektifitas asuhan keperawatan dan pelayanan
keperawatan. Proses manajemen keperawatan dibagi menjadi 5 tahap yaitu
1
perencanaan, pengorganisasian, kepersonaliaan, pengarahan dan pengendalian.
Manajemen pelayanan keperawatan adalah pelayanan di rumah sakit yang
dikelola oleh bidang perawatan melalui tiga tingkatan manajerial yaitu
manajemen puncak (kepala bidang keperawatan), manajemen menengah (kepala
unit pelayanan atau supervisior), dan manajemen bawah (kepala ruang
perawatan).

Proses menejemen keperawatan di ruang rawat inap merupakan proses


manajemen dasar dari sebuah instansi Rumah Sakit. Manajemen keperawatan di
ruang rawat inap di pimpin oleh kepala ruangan yang bertanggung jawab untuk
merencanakan, mengorganisir, memotivasi dan mengendalikan perawat serta
tenaga penunjang lainnya dalam memberikan pelayanan keperawatan. Proses
manajemen keperawatan diruangan dapat berjalan efektif jika 5 (perencanaan,
peengorganisasian, pengarahan dan pengendlian) tahap proses manajemen
keperawatan dapat dilaksanakan dengan baik. Kemampuan manajer untuk
memotivasi, mempengaruhi, mengarahkan dan berkomunikasi dengan para
bawahannya akan menentukan efektifitas manajer di ruangan. Dalam sebuah
proses manajemen keperawatan diruang rawat inap manajer harus mampu
menyeimbangkan antara teori dan pelaksanaan untuk meningkatkan mutu
pelayanan dalam proses manajemen keperawatan.

Sebagai salah satu upaya dasar yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
mutu manajemen keperawatan, dapat dilakukan sejak dini kepada mahasiswa
keperawatan melalui pembelajaran akademik secara teori maupun pembelajaran
di lahan praktik. Pembelajaran manajemen keperawatan di lahan praktik
merupakan cara yang efektif untuk mahasiswa karena mahasiswa dapat
mengaplikasikan secara langsung ilmu manajemen keperawatan dan diharapkan
mahasiswa mampu mengelola ruang perawatan dengan pendekatan proses
manajemen dan dapat memberikan manfaat bagi ruangan.

Bentuk pelaksanaan dari tindakan management keperawatan dapat dilakukan


melalui pembelajaran akademik secara teori maupun pembelajaran di lahan
praktik. Pembelajaran secara langsung merupakan cara yang tepat untuk
mengetahui gambaran management secara langsung. Hal tersebut menjadi dasar
mahasiswa profesi keperawatan untuk mengetahui dan mempelajari secara
langsung tentang management keperawatan. Tindakan ini merupakan dasar
mahasiswa STIKES St. Elisabeth Semarang melakukan praktik management

2
keperawatan dan melaksanakan kegiatan praktik management keperawatan di
RSUD Banyumas selama 3 minggu. Dalam pelaksanaanya diharapkan mahasiswa
mampu melaksanakan dan menerapkan management keperawatan dengan sebaik-
baiknya di RSUD Banyumas. Ruangan yang digunakan salah satunya adalah
ruangan paviliun Wijaya Kusuma. Ruangan ini memiliki fasilitas yang cukup
menunjang untuk melayani pasien. Di ruang paviliun dapat menampung 30 pasien
dengan berbagai macam diagnosa medis. Ruang paviliun Wijaya Kusuma
mempunyai struktur dengan dikepalai oleh 1 orang kepala ruang, ketua tim 2
orang, perawat pelaksana 12 orang, dan 1 administrasi dengan filosofi
Keselamatan, kesembuhan, dan kepuasan pelanggan adalah kebahagiaan kami.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Dengan dilaksanakannya praktek manajemen keperawatan, diharapkan
mahasiswa mampu mengelola pelayanan dan asuhan keperawatan professional
di ruang rawat inap dengan menggunakan keterampilan manajemen
keperawatan.
2. Tujuan Khusus
Diharapkan dengan dilaksanakannya praktek manajemen keperawatan
mahasiswa dapat menunjukkan kemampuan:
a. Pengetahuan
1. Menganalisa aplikasi perencanaan, pengorganisasian, pengerahan,
pelaksanaan dan pengontrolan asuhan keperawatan
2. Menganalisa kebutuhan ruangan terkait dengan manajemen asuhan
keperawatan dan manajemen operasional dengan analisi SWOT secara
berkelompok
3. Menganalisa hasil penelitian terkait manajemen asuhan keperawatan dan
operasional yang dapat diterapkan diruangan
4. Menganalisa gaya kepemimpinn yang tepat sesuai situasi dan kondisi
ruangan
b. Keterampilan
1. Melakukan supervise terhadap anggota tim
2. Melakukan pendelegasian terhadap anggota tim
3. Memecahkan masalah dengan PSBH di ruangan
4. Melaksananakan timbang terima/operan diruangan
5. Melaksanakan ronde keperawatan

3
6. Membuat POA
7. Melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan peran sebagai kapala
ruangan, ketua tim, perawat primer atau perawat pelaksana dan metode
penuugasan yang digunakan diruangan
c. Afektif
1. Menerapkap 5S1D
2. Menerapkan Long life learning
3. Menerapkan komunikasi efektif
4. Menerapkan critical thingking
5. Menerapkan kerjasama tim
C. Waktu dan Tempat
1. Waktu : 10 Desember – 29 Desember 2018
2. Tempat : Ruang Wijaya kusuma II
D. Peserta
Praktek stase manajemen keperawatan kelompok 5 mahasiswa program
studi profesi Ners Stikes St. Elisabeth Semarang terdiri dari 5 orang mahasiswi,
yaitu:
Ketua : Eutaklasia Andara, S. Kep
Wakil Ketua : Viola Constance, S. Kep
Sekretaris : Sundari Ambarwati, S. Kep
Bendahara : Klara Angela, S. Kep
Perlengkapan : Eka Meri Susana, S. Kep
E. Kategori Penilaian
Kategori penilaian berdasarkan Arikunto (2010) yang akan diberikan pada
masing-masing komponen instrumen pengumpulan data. Kategori penilaian ini
digunakan untuk menentukan nilai atau analisa yang terbagi dalam 5 kategori
yaitu sangat baik, baik, cukup, kurang dan sangatkurang, dengan rentang nilai
sebagai berikut :
1. Kategori baik = 70-100%
2. Kategori cukup = 40-69%
3. Kategori kurang = 0-39%
Melalui kesepakatan kelompok, pengambilan masalah yang akan diangkat jika
perolehan presntase penilaian <70%.

4
BAB II
TINJAUAN TEORI DAN HASIL PENGKAJIAN

A. Profil dan Gambaran Umum Rumah Sakit


1. Profil dan Gambaran Umum RS Banyumas

RSUD Banyumas didirikan pada tanggal 1 Januari 1924. Pada waktu berdiri
di beri nama “Burgerziekenhains te Banyumas”, yang lengkapnya bernama
“Juliana Burgerziekenhains” atau lebih dikenal pada waktu itu sebagai Rumah
Sakit Juliana, dengan kapasitas TT 110 buah. Nama tersebut diambil dari nama
seorang putra mahkota Ratu Wihelmina dari Belanda. Tahun 1935 kota
Kabupaten pindah ke Purwekerto, sehingga Rumah Sakit memprihatinkan dan
citranya menurun.
Setelah berakhir masa penjajahan Belanda di Indonesia (1941), maka rumah
sakit ini menjadi rumah sakit milik pemerintah pendudukan Jepang dan
digantikan namanya menjadi RSU Banyumas sampai dengan tahun 1945. Tahun
1945 sampai dengan 1947 menjadi rumah sakit milik Pemerintah RSUD
Banyumas. Daerah Kabupaten II Banyumas kemudian diserahkan kepada
pemerintah RI pada tahun 1950 dibawah Departemen Kesehatan (Pemerintah

5
Pusat). Tahun 1953 rumah sakit tersebut diserahkan pengelolaannya pada
Pemerintah Daerah Kabupaten Dati II Banyumas.
Mulai tahun1992 diadakan upaya perbaikan mutu pelayanan yang intensif
dengan penerapan Total Quality Management, Gugus Kendali Mutu, Akreditasi
dan tahun 2000 mulai mencoba menerapkan model akreditasi dengan standar
internasional meng-adopt sistem yang dikembangkan oleh ACHS, Australia
yaitu EquIP (Evaluation Quality Improvement Program) sehingga dapat
mencapai berbagai prestasi.
Tahun 1993 RSU Banyumas naik kelas dari Rumah Sakit Kelas D menjadi
Kelas C pada tanggal 19 Januari 1993melalui SK Menkes RI
No./Menkes/SK/I/1993. Tahun 2000 RSU Banyumas naik kelas dari Rumah
Sakit Kelas C menjadi Kelas B Non Pendidikan pada tanggal 28 Juli 2000
dengan SK Menkes RI No. 115/Menkes/SK/VII/2000. Tahun 2001 RSU
Banyumas ditetapkan menjadi RS kelas B pendidikan oleh menteri kesehatan
dengan SK No. 850/Menkes/SK/VIII/2001 pada 5 Oktober 2001,
penggelolaannya masih di bawah kendali pemerintahan daerah Kabupaten
Banyumas dan menjalin ikatan kerjasama dengan fakultas Kedokteran UGM
sehingga menjadi salah satu dari ketiga Rumah Sakit pendidikan utama FK
UGM, selain RSUP dr. Sardjito Yogyakarta dan RSU Soeradji Tirtonegoro
Klaten.
RSUD Banyumas mempunyai Visi, Misi, Motto dan Filosofi sebagai berikut:
a) Visi
Menjadi Rumah Sakit Pendidikan yang bermutu tinggi, seimbang dan
komprehensif.
b) Misi
a. Menyelenggarakan pelayanan, pendidikan dan riset bidang kesehatan
yang bermutu tinggi, manusiawi dan terjangkau bagi masyarakat.
b. Menyelenggarakan pelayanan, pendidikan dan riset bidang kesehatan
yang seimbang, komprehensif dan terintegrasi.
c. Mengembangkan profesionalisme Sumber Daya Manusia.
d. Meningkatkan kesejahteraan pihak-pihak yang terkait
c) Filosofi
Keselamatan, Kesembuhan dan Kepuasan Pelanggan adalah Kebahagiaan
Kami

6
d) Motto
Rumah Sakit Umum Banyumas memberikan Pelayanan Terbaik yang
“CEMERLANG” (Cepat, Efektif, Mudah, Efisien, Ramah, Lancar, Aman,
Nyaman, Gairah).

B. Profil dan Gambaran Umum Ruang Paviliun Wijaya Kusuma

Ruang Paviliun WIjaya Kusuma merupakan bangsal perawatan dengan kelas


VIP yang ada di RSUD Bayumas. Ruang Paviliun Paviliun WIjaya Kusuma
merupakan gabungan dari Paviliun WIjaya Kusuma II dan III yang diresmikan
pada bualan April 2017. Ruangan ini empunyai 30 kamar dengan dikepalai oleh 1
orang kepala ruang, ketua tim 2 orang, perawat pelaksana 12 orang, dan 1
administrasi. Pada tanggal 1 November 2018, telah diputuskan bahwa Ruang
Paviliun Wijaya Kusuma mendapat perawat tambahan sebanyak 2 orang, namun
kedua perawat ini belum dapat aktif bekerja di ruangan ini, dikarenakan 1 perawat
cuti melahirkan dan 1 perawat sedang diperbantukan di ruangan lain. Pelayanan
rawat inap ini berada dibawah tanggung jawab kepala instalasi rawat inap yaitu
dr. Sri Banun Sapardina dan Manajer Area Umum yaitu Ns Yusrianti Rohmah,
S.Kep.

a. Visi dan Misi Ruang Paviliun Paviliun WIjaya Kusuma


1. Visi:
Menjadi ruang SP2KP yang bermutu tinggi dengan berbasis keselamatan
paien.
2. Misi:
- Menjadi ruang SP2KP yang bermutu tinggi dengan berbasis keselamatan
pasien.
- Memberikan pelayanan keperawatan profesional yang bermutu tinggi,
seimbang dan komprehensif dengan mengutamakan keselamatan dan
kepuasan pelanggan.
- Meningkatkan dan mengembangkan profesionalisme sumber daya
manusia dengan pendidikan dan pelatihan berkesinambungan.
- Memberikan keamanan dan kenyamanan pelanggan.
- Meningkatkan kesejahteraan pihak-pihak terkait

7
b. Tujuan visi dan misi Ruang Paviliun WIjaya Kusuma
- Meningkatkan pengetahuan, kemampuan profesionalisme SDM Ruang
Paviliun Paviliun WIjaya Kusuma dan meningkatkan derajat kesehatan
pelanggan secara keseluruhan melalui pendidikan dan asuhan
keperawatan.
- Memberikan pelayanan, pendidikan keperawatan yang bermutu dan
profesional, meningkatakan derajat kesehatan yang optimal dan untuk
mengurangi kecacatan.
c. Filosofi Ruang Paviliun Paviliun WIjaya Kusuma
Keselamatan, kesembuhan, dan kepuasan pelanggan adalah kebahagiaan

8
Gambar 1. Struktur Organisasi Ruang Paviliun Wijaya Kusuma

Instalasi - Instalasi Direktur Wakil Direktur

Kepala Instalasi Rawat Inap Bidang - Bidang


dr. Sri Banun SG

Kepala Ruang
Dewi Natalia, S. Kep. Ns

Administrasi
Nasilem

Katim I Katim II
Tri Agus S., S. Kep. Ns Andri Yana, S. Kep. Ns

Anggota : Anggota :
1. Ngasirotun Jamilah 1. Yuliana K
2. Efi Rochimah 2. Apit Nurjanah
3. Evi Indriyani 3. Dina Ujiana
4. Tri Astuti 4. Ratna Lukita Sari
5. Ibnu Mansur 5. Fita Rizki
6. Afriatun 6. Retno Maichatun

9
Gambar 2. Denah Ruang Paviliun Wijaya Kusuma

10
C. Input
1. Man
a. Kuantitas Tenaga Perawat
Perawat adalah seorang yang memberikan pelayanan kesehatan secara
profesional dimana pelayanan tersebut berbentuk pelayanan biologis,
psikologis, sosial, spritual yang ditunjukkan pada inidividu, keluarga, dan
masyarakat.

Keberhasilan suatu organisasi Rumah Sakit sangat tergantung pada


kemampuan manajemen dalam menyerasikan unsur-unsur karyawan atau
tenaga perawat dengan sistem, struktur organisasi, tekhnologi, tugas, budaya
kerja dan lingkungannya. Hal ini telah disadari bahwa SDM seringkali
menjadi penyebab kegagalan suatu organisasi. Oleh karena itu penetapan
SDM di Rumah Sakit dalam hal ini tenaga perawat perlu diperhatikan.
Penetapan jumlah tenaga keperawatan adalah, proses membuat perencanaan
untuk menentukan berapa banyak dan dengan kriteria tenaga yang seperti apa
pada suatu ruangan tiap shiftnya. Untuk keperluan itu, beberapa ahli telah,
mengembangkan beberapa formula. Formula tersebut juga dapat digunakan
untuk menilai dan membandingkan apakah tenaga yang ada saat ini cukup,
kurang, atau berlebih.

Penetapan jumlah tenaga keperawatan merupakan salah satu perencanaan


dalam hal menentukan berapa banyak tenaga yang dibutuhkan dalam suatu
ruangan dan kriteria tenaga yang dipakai untuk suatu ruangan tiap shiftnya.
Di bawah ini beberapa formula yang dikeluarkan oleh para ahli dalam hal
penentuan apakah tenaga yang kurang, cukup, atau berlebihan, yaitu :

1) Pengelompokan unit kerja rumah sakit


Kebutuhan tenaga keperawatan harus memperhatikan unit kerja yang
ada di rumah sakit. Secara garis besar terdapat pengelompokan unit kerja
di rumah sakit sebagai berikut:

11
a) Rawat inap dewasa
b) Rawat inap atau perinatal
c) Rawat inap intensif (ICU dan HCU)
d) Instalasi Gawat Darurat (IGD)
e) Kamar bersalin
f) Instalasi Bedah Sentral
g) Instalasi Rawat jalan

2) Model pendekatan dalam penghitungan kebutuhan tenaga keperawatan.


Kajian Teori
Beberapa model pendekatan pendapat yang dapat dilakukan dalam
perhitungan kebutuhan tenaga keperawatan adalah :
a) Berdasarkan klasifikasi pasien menurut Depkes RI, rata – rata jam
perawatan, ialah :
i. Bedah 4 jam/ hari/ klien
ii. Penyakit dalam 3,5 jam/ hari/ klien
iii. Gawat 10 jam/ hari/ klien
iv. Kebidanan 2,5 jam/ hari/ klien
v. Pasien anak 4,5 jam
Berdasarkan tingkat ketergantungan rata – rata jumlah jam perawatan
menurut Depkes :
1) Askep Minimal 2 jam
i. Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri.
ii. Makan dan minum dilakukan sendiri.
iii. Ambulasi dengan pengawasan.
iv. Observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap shift.
v. Pengobatan minimal, status psikologis stabil.
2) Askep Sedang 3,08 jam
i. Kebersihan diri dibantu, makan minum dibantu.
ii. Observasi tanda-tanda vital setiap 4 jam.
iii. Ambulasi dibantu, pengobatan lebih dari sekali.
12
3) Askep agak berat 4,15 jam
i. Sebagian besar aktifitas dibantu.
ii. Observasi tanda-tanda vital setiap 2 – 4 jam sekali.
iii. Terpasang folley cateter, intake output dicatat.
iv. Terpasang infuse.
v. Pengobatan lebih dari sekali.
vi. Persiapan pengobatan perlu prosedur
4) Askep Berat 6,16 jam
i. Segala aktifitas diberikan perawat.
ii. Posisi diatur, observasi tanda-tanda vital setiap 2 jam.
iii. Makan memerlukan NGT, terapi intra vena.
iv. Penggunaan suction.
v. Gelisah/disorientasi
Formula perhitungan tenaga keperawatan menurut Depkes adalah :
 Jumlah perawat yang tersedia
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑗𝑎𝑚 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟 ℎ𝑎𝑟𝑖
𝑗𝑎𝑚 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑒𝑓𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓
 Loss Day
(𝑗𝑚𝑙ℎ ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑚𝑖𝑛𝑔𝑔𝑢/𝑡ℎ𝑛 + 𝑐𝑢𝑡𝑖 + ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑏𝑒𝑠𝑎𝑟)𝑥 𝑗𝑚𝑙ℎ 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑒𝑓𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑚𝑎 𝑠𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛
 Non Nursing Job
Jumlah perawat yang tersedia + (loss day x 25%)
 Faktor Koreksi
Loss day + Non Nursing Job
 Jumlah Tenaga Perawat
Tenaga perawat yang tersedia + faktor koreksi
Kajian Data
Jumlah pasien yang digunakan dalam perhitungan rumus ini berdasarkan
pengkajian pada tanggal 12 Desember 2018 di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma
yang berjumlah 17 pasien.

13
Klasifikasi pasien :
- Asuhan keperawatan minimal = 15 orang
- Asuhan keperawatan sedang = 2 orang
- Asuhan keperawatan agak berat = 0 orang
- Asuhan keperawatan maksimal = 0 orang
Jumlah jam perawatan / hari :
Tabel 1. Jumlah Jam Perawatan/hari
Keterangan Pasien Satuan per asuhan Jumlah
Askep Minimal 15 orang 2 jam 30 jam
Askep Sedang 2 orang 3,08 jam 6,16 jam
Askep Agak Berat 0 orang 4,15 jam 0 jam
Askep Maksimal 0 orang 6,16 jam 0 jam
TOTAL 36,16 jam
 Jumlah perawat yang tersedia
𝐽𝑚𝑙ℎ 𝑗𝑎𝑚 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡𝑎𝑛/ℎ𝑟
= 𝑗𝑎𝑚 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑒𝑓𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓
36,16
= = 5,16 orang
7

 Loss Day
𝑚𝑖𝑛𝑔𝑔𝑢
(𝑗𝑚𝑙ℎ ℎ𝑎𝑟𝑖 +𝑐𝑢𝑡𝑖+ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑏𝑒𝑠𝑎𝑟)𝑥 𝑗𝑚𝑙ℎ 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡
𝑡ℎ𝑛
= 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑒𝑓𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑚𝑎 𝑠𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛
79 𝑥 5,16 407,64
= = = 1,42 hari
286 286

 Non Nursing Job


= Jumlah perawat yang tersedia + (loss day x 25%)
= 5,16 + (1,42 x 25%)
= 5,515
 Faktor Koreksi
= Loss day + Non Nursing Job
= 1,42 + 5,515
= 6,935
 Jumlah Tenaga Perawat
= Tenaga perawat yang tersedia + faktor koreksi
14
= 5,16 + 6,935
= 12,095 >> 12 orang
Analisa :
Berdasarkan hasil penghitungan jumlah tenaga keperwatan berdasarkan rumus
Depkes RI, didapatkan hasil 12 orang tenaga perawat yang diperlukan di ruang
Paviliun Wijaya Kusuma. Karena pada realitanya di ruang Paviliun Wiajya
Kusuma telah memiliki 15 tenaga perawat, sehingga tidak diperlukan penambahan
tenaga keperawatan kembali.
b) Berdasarkan rumus Douglas
Kajian Teori
Douglas menetapkan jumlah perawat yang dibutuhkan dalam 1 unit perawatan
berdasarkan klasifikasi klien, dimana masing-masing kategori mempunyai nilai
standar/ shiftnya. Identifikasi jumlah pasien berdasarkan ketergantungan dengan
panduan :

Dilakukan 1 x sehari pada waktu yang sama dan sebaiknya dilakukan oleh
perawat yang sama selama beberapa hari sesuai kebutuhan, dengan format
klasifikasi menurut derajat ketergantungan.

Sedangkan klasifikasi derajat ketergantungan klien terhadap keperawatan


menurut Douglas berdasarkan kriteria sebagai berikut:

1. Perawatan minimal memerlukan waktu selama 1-2 jam atau 24 jam dengan
kriteria :
1) Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri
2) Makan dan minum dilakukan sendiri
3) Ambulasi dengan pengawasan
4) Observasi tanda-tanda vital dilakukan tiap shiff
5) Pengobatan minimal, status psikologi stabil
6) Persiapan pengobatan memerlukan prosedur

15
2. Perawatan intermediate memerlukan waktu 3-4 jam atau 24 jam dengan
kriteria:
1) Kebersihan diri dibantu, makan minum dibantu
2) Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam
3) Ambulasi dibantu, pengobatan lebih dari sekali
4) Folley catheter/intake output dicatat
5) Klien dengan pemasangan infus, persiapan pengobatan memerlukan
prosedur
3. Perawatan maksimal atau total memerlukan waktu 5-6 jam / 24 jam dengan
kriteria :
1) Segalanya diberikan / dibantu
2) Posisi diatur, observasi tanda-tanda vital tiap 2 jam
3) Makan memerlukan NGT, menggunakan terapi intravena
4) Pemakaian suction
5) Gelisah / disorientasi
Kategori tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 2. Standar Perhitungan Tenaga Perawat Menurut Douglas


Tingkat Kebutuhan tenaga perawat
ketergantungan Pagi Sore Malam
Minimal 0,17 0,14 0,07
Partial 0,27 0,15 0,10
Total 0,36 0,30 0,20
Sumber : Nursalam, 2011

Kajian data
Dilakukan perhitungan kebutuhan perawat dalam sehari yang disesuaikan dengen
jumlah pasien pada tanggal 12 Desember 2018 :
- Perawatan minimal = 15 pasien (pagi), 15 pasien (siang), 15 pasien (malam)
- Perawatan intermediate = 2 pasien (pagi), 2 pasien (siang), 2 pasien (malam)
- Perawatan maksimal atau total = 0 pasien

16
Tabel 3. Perhitungan Perawat Menurut Douglas

Tingkat Keb. Tenaga Perawat


Ketergantungan Pagi Siang Malam

Minimal 0,17 x 15= 2,55 0,14 x 15= 2,1 0,07 x 15= 1,05

Intermediate 0,27 x 2= 0,54 0,15 x 2= 0,3 0,10 x 2= 0,2

Total/Maksimal 0,36 x 0= 0 0,30 x 0= 0 0,20 x 0= 0

Jumlah 3,09 2,4 1,25


Total 6,74
Menurut perhitungan dengan menggunakan rumus Douglas, didapatkan jumlah
tenaga keperawatan yang dibutuhkan sebanyak 7 orang, dengan pembagian 3 orang di
pagi hari, 2 orang di siang hari dan 2 orang di malam hari. Untuk menentukan jumlah
perawat yang sednag libur/cuti dapat dicari menggunakan rumus 1⁄3 x 7 orang, hingga
didapatkan hasilnya 2,33 orang. Sehingga ketika dilakukan penjumlahan, didapatkan
dari hasil 7 orang tenaga perawat, 2 orang perawat libur/cuti, dan 1 kepala ruang ialah
10 orang tenaga perawat yang diperlukan dalam sehari.

Analisa

Berdasarkan perhitungan tenaga keperawatan menurut Douglas, didapatkan hasil


sebanyak 10 orang, jika dibandingkan dengan jumlah tenaga keperawatan yang ada
berjumlah 15, maka menurut Douglas, tidak perlu dilakukan penambahan tenaga
keperawatan di ruang Paviliiun Wijaya Kusuma.

c) Berdasarkan rumus Gilles


Kebutuhan tenaga perwat secraa kuantitatif dapat dirumuskan dengan
pertimbangan sebgaia berikut :
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑗𝑎𝑚 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑦𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑘𝑎𝑛 /𝑡ℎ𝑛
TP =
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑗𝑎𝑚 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡/𝑡ℎ𝑛 𝑥 𝑗𝑎𝑚 𝑘𝑒𝑟𝑗 𝑎𝑝𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡/ℎ𝑎𝑟𝑖

17
Atau dengan rumus :
𝐴 𝑥 𝐵 𝑥 365
TP =
(365−𝐶)𝑥 𝐽𝑎𝑚 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎/ℎ𝑎𝑟𝑖

Keterangan :

TP = Tenaga Perawat

A = Jam Efektif/24 jam (waktu perawatan yang dibutuhkan klien)

B = Sensus harian = BOR x Jumlah tempat tidur

C = Jumlah hari libur

Prinsip perhhitungan Gilles adaah sebagai berikut :

Jumlah jam keperawatan yang dibutuhkan klien per hari adalah :

i. Waktu keperawatan langsung (rata-rata 4-5/klien/hari) denga spesifikasi


pembagian adalah :
 Keperawatan mandiri/ Self care = 1⁄4 x 4 = 1 jam

 Keperawatann partial/ Partial care = 3⁄4 x 4 = 3 jam

 Keperawatan total/ Total care = (1 – 1,5) x 4 = 4 – 6 jam


 Keperawatan intensif/ Intensive Care = 2 x 4 = 8 jam
ii. Waktu keperawatan tidak langsung
 Menurut RS Detroit (Gilles, 1994) = 38 menit/klien/hari
 Menurut Wolfe dan Young = 60 menit/klien.hari = 1jam/hari/klien
iii. Waktu penyuluhan kesehatan lebih kurang 15 menit/hari/klien = 0,25
jam/hari/klien
iv. Jumlah jam kerja tiap perawat adalah 40 jam per minggu (kalau hari kerja efektif
6 hari maka 40/6 = 6,6 dibulatkan menjadi 7 jam per hari, kalau hari kerja efekif
5 hari maka 40/5 = 8 jma per hari.

18
Kajian Data

Berdasarkan hasil wawancara dengan perawat ruangan Paviliun Wijaya Kusuma


pada tanggal 12 Desember 2018 didapatkan jumlah staf ialah 16 orang, dengan rincian
1 orang Kepala Ruang, 2 orang Ketua Tim, 7 orang perawat penanggung jawab dan 5
orang perawat pelaksana serta 1 orang admin. Dari 15 orang tenaga perawat yang ada,
dilakukan 2 Tim yang sudah ditentukan oleh Kepala Ruang. Perawat di Ruang Paviliun
Wiajaya Kusuma dibagi menjadi 3 shift jaga yaitu :
Shift pagi : 4 – 5 orang
Shift siang : 3 orang
Shift malam : 3 orang
Libur biasa : 2 orang
Cuti / Hb : 1 – 2 orang
Tenaga dipinjam :-

Jam kerja pegawai dibagi menjadi 3 shift, yaitu :

Shift Pagi : 07.15 – 14.15

Shift Siang : 14.15 – 20.15

Shift Malam : 20.15 – 07.15

Pegawai yang bertigas dalam shift pagi secara menetap adalah kepala ruang, keta
tim, dan perawat pelakasana sesuai shift serta petugas administrasi.

Pendekatan dalam perhitungan kebutuhan tenaga keperawatan di ruang Paviliu


Wiajya Kusuma :

 Jumlah jam keperawatan langsung :


Keperawatan mandiri = 15 pasien x 1 jam = 15 jam
Keperawatan partial = 2 pasien x 3 jam = 6 jam
Keperawatan total = 0 pasien x (4-6 jam) = 0 jam
Keperawatan intensif = 0 pasien x 8 jam = 0 jam
TOTAL Jam Keperawatan Langsung = 21 jam

19
 Jumlah jam keperawatan tidak langsung :
17 pasien x 1 jam = 17 jam
 Jumlah jam pendidikan kesehatan :
17 pasien x 15 menit = 255 menit / 4,25 jam

Sehingga jumlah jam keperawatan/klien/hari :

A = 21 jam + 17 jam + 4,25 jam = 42,25 jam

Jumlah tenaga keperwatan yang dibutuhkan di ruang Paviliun Wijaya Kusuma :

𝐴 𝑥 𝐵 𝑥 365
TP =
(365−𝐶)𝑥 𝐽𝑎𝑚 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎/ℎ𝑎𝑟𝑖
42,25 𝑥 1,8326 𝑥 365
TP =
(365−79)𝑥 7
42,25 𝑥 1,8326 𝑥 365
TP =
(365−79)𝑥 7

TP = 14,11 orang >> 14 orang

Dalam Gilles juga dibutuhkan cadangan tenaga keperawatan sebagai berikut :

 Cadangan 20% dari jumlah TP = 20% x 14 orang = 2,8 orang jika dibulatkan
menjadi 3 orang
 Cadangan 25% dari jumlah TP = 25% x 14 orang = 3,5 orang, jika dibulatkan
menjadai 4 orang

Jadi uraian tenaga keperwatan yang dibutuhkan ruang Paviliun Wijaya Kusuma
ialah :

 Cadangan 20%
Kepala Ruang : 1 orang
Ketua Tim : 2 orang
Perawat Pelaksana : 11 orang
Cadanagan : 3 orang
TOTAL : 17 orang

20
 Cadangan 25%
Kepala Ruang : 1 orang
Ketua Tim : 2 orang
Perawat Pelaksana : 11 orang
Cadangan : 4 orang
TOTAL : 18 orang

Analisa

Berdasrkan hasil perhitungan tenaga keperawatan yang ada di Ruang Paviliun Wiajya
Ksuma dengan menggunkan rumus Gilles, didapatkan hasil total tenaga keperawatan
yang dibutuhkan sebanyak 17-18 orang , sedangkan pada realita yang ada diruangan,
hanya memiliki 15 tenaga keperawatan, sehingga perlu dilakukan penambahan tenaga
keperwatan sebanyak 2 – 3 orang untuk mencukupi kebutuhan tenaga keperawatan
yang ada diruangan Paviliun Wijaya Kusuma.

b. Kualitas Tenaga Perawat


Kajian Teori

Keberhasilan sebuah organisasi rumah sakit sangat bergantung pada kemampuan


manajemen dalam menyelaraskan unsur-unsur karyawan (tenaga perawat) dengan
sistem, struktur organisasi, teknologi, tugas, budaya kerja, dan lingkungannya.
Supaya dapat memberikan pelayanan keperawatan yang berkualitas diperlukan
sumber daya yang cukup dengan kualitas yang tinggi dan profesional sesuai dengan
tugas dan fungsinya. Di ruang Paviliun Wijaya Kusama terdapat 15 perawat,
sebanyak 5 perawat berpendidikan S1 Ners (33%), sebanyak 9 perawat
berpendidikan D3 Keperawatan (60%), dan sebanyak 1 perawat berpendidikan S1
Keperawatan (13%).
Kajian Data

Hasil pengkajian yang telah dilakukan di dapatkan data staff karyawan di Ruang
Paviliun Wijaya Kusuma sebagai berikut :
21
Tabel 4. Status Kepegawaian di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD
Banyumas
Status
No Nama Tmt Jabatan Pendidikan
Kepegawaian
1. Dewi natalia H 2002 Ka. Ru PNS S1 NERS
2. Nasilem 1993 Admin PNS SMEA
3. Tri Agus 1998 Katim I PNS S1 NERS
4. Andryana 2005 Katim II NON PNS S1 NERS
5. Ngasirotun 2004 Pj Shift PNS S1 NERS
Jamilah
6. Efi Rochimah 2009 Pj Shift NON PNS D3
7. Evi Indriani 2009 Pj Shift NON PNS D3
8. Tri Astuti 2014 AN NON PNS D3
9. Ibnu Mansur 2016 AN NON PNS D3
10. Afriatun 2017 AN NON PNS D3
11. Yuliana K 2008 PJ Shift NON PNS D3
12. Apit Nurjanah 2009 Pj Shift PNS S1 NERS
13. Dina Ujiana S 2010 Pj Shift PNS D3
14. Ratna Lukita Sari 2010 Pj Shift NON PNS D3
15. Fita Rizki 2012 AN NON PNS D3
16. Retno Maichatun 2017 AN NON PNS S1 NERS
Sumber : Data Primer Ruang Paviliun Wijaya Kusuma
Analisa :
Status pendidikan tenaga perawat di Ruang Wijaya Kusuma yaitu lulusan D3
sebesar 56,25%, S1 NERS sebesar 37,5% dan SMEA 6,25% sehingga kuliatas tenaga
perawat juga di pengaruhi oleh faktor tingkat pendidikan, dimana diharapkan bahwa
perawat yang berpendidikan S1 NERS akan lebih dapat mengkoordinasi sitem
pelayanan rumah sakit dengan baik. Akan banyak perubahan baik yang akan
menimbulkan dampak baik bagi kemajuan rumah sakit dan ruangan yang telah
dikelola. Namun, pengalaman dengan lamanya bekerja di RS tersebut juga dapat
mempengaruhi pola pikir perawat untuk menciptakan perubahan baik bagi ruangan
tanpa dilihat dari sisi jabatan dari perawat tersebut.

Tabel 5. Jenis Pelatihan Yang Telah Diikuti


Jenis Pelatihan Jumlah
Peran peawat dalam penanganan code blue 4
PPI RS+ SKP RS 16
APK/ ARK 16
22
Komunikasi Efektif 16
Sosialisasi STR Online 16
Orientasi Pelayanan 16
PMKP, CP, FINEA 1
WORKSHOP Sim Kep 1
Mananajemen waktu 16
IPSG 1
Leader Ship 4
Analisa :
Kualifikasi perawat berdasarkan pelatihan yang pernah diikuti adalah sebagian
besar perawat sudah mengikuti banyak pelatihan.

c. Pasien
Kajian Teori
Pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah kesehatannya
untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan, baik secara langsung
maupun tidak langsung di Rumah Sakit.

Kajian Data

Data Jumlah Pasien

Tabel 6. Data Pasien Yang Dirawat Di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma


Berdasarkan Data Demografi RSUD Banyumas
Periode 1 September – 30 November 2018
No Kecamatan Jumlah Persentase %
1 Banyumas 30 60,19%
2 Cilongok 7 14,89%
3 Kalibagor 5 10,76%
4 Somagede 2 4,25%
5 Sokaraja 7 7,12%
6 Kemranjen 3 4,10%
7 Kroya 2 4,25%
8 Kebasen 2 4,25%
9 Patikraja 1 2,12 %
10 Jatilawang 1 2,12%

Sumber:BagianITI RSUD Banyumas 2017

23
Analisa :
Berdasarkan data dari tabel diatas yang telah didapatkan dari untuk peringkat pertama
kajian demografi paling banyak terdapat pada kecamatan Banyumas sebanyak 25
pasien (53,19%), sedangkat peringkat kedua terbanyak adalah kecamatan Cilongkok
dengan pasien sejumlah 7 orang (14,89%) dan yang ketiga dari kecamatan Kalibagor6
orang (12,76%). Kecamatan kecamatan tersebut merupakan kecamatan kecamatan
yang berada di sekitar RSUD Banyumas.

Sepuluh Besar Penyakit


Tabel 7. Sepuluh Besar Diagnosa Medis diruang Paviliun Wijaya Kusuma
RSUD Banyumas Periode 2018
No Diagnosa Jumlah %
1. Dispepsia 10 11,46 %
2. Hipertensi 14 13,46 %
3. Anemia 11 11,8%
4. DM 12 11,9%
5. Melena 9 8,9%
6. CHF 11 10,8%
7. ISK 7 6,9%
8. SNH 5 4,9%
Sumber : Bagian Administrasi Ruang Paviliun Wijaya Kusuma
Analisa :
Dari data di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa kasus yang paling
banyak dijumpai adalah hipertensi sebanyak 13,46% dan dispepsi sebanyak 11,46%.
Kasus kedua adalah DM sebanyak 11,9%. Kasus yang ketiga dan keempat adalah
anemia dan CHF Kasus kelima sampai sepuluh adalah DM menempati posisi tertinggi.

2. Money
Kajian Teori
Menurut UU No 28 Tahun 2009, pendapatan asli daerah adalah sumber
keuangan daerah yang digali dari wilayah daerah yang bersangkutan yang terdiri
dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah
yang dipisah-pisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah.
24
Money atau uang merupakan salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan. Uang
merupakan alat tukar dan alat pengukur nilai. Besar-kecilnya hasil kegiatan dapat
diukur dari jumlah uang yang beredar dalam perusahaan. Oleh karena itu uang
merupakan alat (tools) yang penting untuk mencapai tujuan karena segala sesuatu
harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan berhubungan dengan berapa
uang yang harus disediakan untuk membiayai gaji tenaga kerja, alat-alat yang
dibutuhkan dan harus dibeli serta berapa hasil yang akan dicapai dari suatu
organisasi.
Menurut Nurcholis (2008:182), pendapatan asli daerah adalah pendapatan yang
diperoleh daerah dari penerimaan pajak daerah, retribusi daerah, laba perusahaan
daerah dan lain lain yang sah.

Kajian Data
Berdasarkan hasil data subyektif di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma terdapat
beberapa sumber pendapatan rumah sakit umum daerah Banyumas, antara lain :

Tabel 8. Tarif Ruangan di Ruang Paviliun WIjaya Kusuma tahun 2018 RSUD
Banyumas
No Kelas Tarif Ruangan
1. VIP 500.000 per hari
Sumber : Laporan Bagian Keuangan Ruangan Paviliun Wijaya Kusuma RSUD
Banyumas Tahun 2018

1. Daftar Isian Proyek pemerintah pusat dari APBN.


2. Daftar Isian Kegiatan dari APBD.
3. BLUD RSU Banyumas
4. Pendapatan Fungsional dan Non fungsional dari pendapatan pelayanan Rumah
Sakit
5. Pendapatan rumah sakit : Tarif ruangan
Paket tarif harian meliputi akomodasi, jasa visite 1 dokter DPJP, asuhan /
tindakan keperawatan, jasa pelayanan makanan. Di luar pelayanan tersebut
dikenakan tarif sesuai ketentuan.

25
Tabel 9. Laporan Pendapatan Per Debitur Periode 1 September 2018 – 30
November 2018 Di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas

No Cara pembayaran Jumlah


1. BPJS Rp. 412.259,716
2. UMUM Rp. 207.230,953
Total Rp. 619.490,669
Sumber : Laporan Bagian keuangan ruang paviliun wijaya kusuma RSUD
Banyumas 2018

3. Material
Kajian Teori
Standar peralatan keperawatan adalah penetapan peralatan yang meliputi
kebutuhan (jumlah, jenis, spesifikasi) serta pengelolaannya dalam upaya
mewujudkan pelayanan keperawatan yang berkualitas.
1. Pengertian dan ruang lingkup standar
Standar peralatan keperawatan adalah penetapan peralatan keperawatan yang
meliputi penentuan kebutuhan (jumlah, jenis dan spesifikasi) serta
peengelolaannya dalam upaya mewujudkan pelayanan keperawatan yang
berkualitas
2. Ruang lingkup
Peralatan keperawatan yang dimaksud dalam standar ini terdiri dari: Alat
tenun, Alat kesehatan, Alat rumah tangga, Alat pencatatan dan pelaporan
keperawatan.
Pengelolaan peralatan keperawatanyang meliputi: standar perencanaan,
standar pengadaan, standar distribusi, standar penggunaan, standar
pemeliharaan, standar penggantian, standar penghapusan dan standar
pengawasan dan pengendalian
3. Jenis Standar
a. Standar 1: alat tenun

26
Pernyataan:
Penetapan kebutuhan alat tenun berdasarkan jumlah, jenis dan spesifikasi
menjamin tersedianya alat tenun yang memadai untuk mencapai tujuan
pelayanan keperawatan.
Rasional:
Terpenuhinya kebutuhan alat tenun untuk mendukung pelayanan
keperawatan yang efektif dan efisien.
Kriteria struktur:
1) Adanya kebijakan RS tentang pengelolaan alat tenun.
2) Adanya mekanisme pengelolaan alat tenun di RS.
3) Adanya SOP/Protap penggunaan alat tenun.
4) Adanya SOP/Protap pemeliharaan alat tenun
5) Adanya standar alat tenun yang meliputi jumlah, jenis, dan spesifikasi
6) Adanya pedoman menghitung alat tenun
7) Adanya tempat penyimpanan alat tenun yang memadai
8) Adanya pengelola alat tenun
Kriteria Proses:
1) Mengidentifikasi kebutuhan alat tenun sesuai jumlah, jenis dan spesifikasi
2) Menyusun rencana kebutuhan alat tenun sesuai beban kerja dan jenis
pelayanan
3) Melaksanakan pendistribusian, pemeliharaan, dan penyimpanan alat tenun
sesuai SOP/Protap
4) Melaksankan koordinasi antara bidang keperawatan dengan unit kerja
terkait dalam pengelolaan alat tenun
5) Mengoptimalkan alat tenun menurut fungsi dan masa pakai
6) Melaksanakan pencatatan dan pelaporan penggunaan alat tenun secara
teratur dan berkala.
Kriteria Hasil:
1) Tersedianya alat tenun sesuai standar

27
2) Tersedianya dokumen meliputi jumlah, jenis, spesifikasi, kondisi dan masa
pakai alat tenun
3) Alat tenun
Daftar Linen Ruang Paviliun Wijaya Kusuma
Tabel 10. Daftar Linen Ruang Paviliun WIjaya Kusuma RSUD Banyumas
Periode 11 – 13 Desember 2018
Jumlah Yang Jumlah
No Nama Perbandingan Kondisi
Ada Seharusnya
1 Sprei 1:5 90 150 Baik

2 Sarung bantal 1:5 90 150 Baik

3 Baju tindakan 1:3 25 90 Baik

Handuk cuci
4 1:3 250 250 Baik
tangan
5 Selimut 1:5 90 150 Baik

6 Baju operasi 1:1 10 30 Baik

7 Stik laken 1:6 90 180 Baik

8 Perlak 1:5 60 150 Baik

9 Sarung guling 1:3 90 90 Baik

10 Penutup alat 1:1 5 30 Baik

Jumlah
Presentase
Sumber: Departemen Kesehatan RI
Kesimpulan :
Dari tabel 2.15 didapatkan jumlah perbandingan antara kesesuaian teori dengan data
dilapangan 50 % pada masing-masing komponen. Di ruang paviliun Wijaya Kusuma
tersedia 30 kamar, sebagai contoh dari data yang di dapatkan tersedianya sprei hanya
90 helai, hal tersebut perlu diperhatikan agar ruangan semakin memiliki fasilitas alat
tenun yang memadai.

28
b. Standar 2: Alat keperawatan
Pernyataan:
Penetapan kebutuhan alat keperawatan baik dari segi jumlah, jenis dan
spesifikasi menjamin tersedianya alat keperawatan yang memadai untuk mencapai
tujuan pelayanan keperawatan.
Rasional:
Terpenuhinya alat keperawatan yang memadai untuk mendukung pelayanan
keperawatan yang efektif dan efisien.
Kriteria struktur:
1) Adanya kebijakan RS tentang pengelolaan alat keperawatan.
2) Adanya mekanisme pengelolaan alat keperawatan dan kebidanan di RS.
3) Adanya SOP/Protap penggunaan alat keperawatan.
4) Adanya SOP/Protap pemeliharaan alat keperawatan.
5) Adanya standar alat meliputi jumlah, jenis dan spesifikasi
6) Adanya pedoman menghitung kebutuhan alat keperawatan.
7) Adanya pengelolaan alat keperawatan.
8) Adanya tempat penyimpanan alat keperawatan yang memadai
Kriteria proses:
1) Mengidentifikasi kebutuhan alat keperawatan sesuai dengan jumlah, jenis dan
spesifikasi
2) Menyusun rencana kebutuhan alat keperawatan yang meliputi jumlah, jenis
dan spesifikasi
3) Melaksanakan pendistribusian, pemeliharaan dan penyimpanan alat
keperawatan SOP/Protap
4) Melaksanakan koordinasi antara bidang keperawatan dengan unit kerja terkait
dalam pengelolaan alat untuk pelayanan keperawatan.
5) Mengoptimalkan alat menurut fungsi dan masa pakai sesuai dengan
SOP/Protap
6) Melaksanakan pencatatan dan pelaporan penggunaan alat keperawatan secara
teratur dan berkala

29
Kriteria hasil:
1) Tersedianya alat keperawatan sesuai dengan standar
2) Adanya dokumen meliputi frekuensi penggunaan alat tertentu, kondisi dan
masa pakai alat keperawatan.
3) Adanya daftar iventaris alat keperawatan ditiap unit kerja secara teratur dan
berkala.
4) Alat keperawatan di ruang rawai inap penyakit dalam dengan kapasitas 30
orang pasien per ruangan.
Tabel 11. Daftar Alat Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas
Periode 11 – 13 Desember 2018
Jumlah Jumlah
Nama Perbandingan Kondisi
Yang Ada Seharusnya
Ambubag - 1 - Baik

Tensi meter 2 / Ruangan


16 2 Baik
dinding
2 / Ruangan
Stetoskop 4 2 Baik

Thermometer 5 / Ruangan
4 5 Baik
digital
Kasur
- 2 - Baik
decubitus
Bed MAK - 30 - Baik

Gantunga
- 30 - Baik
Infuse
Bak spuit/Bak 2 / Ruangan
3 2 Baik
istrumen
Saction - 2 - Baik

Timbangan
1 / Ruangan 1 1 Baik
dewasa
Tongue spatel
- 3 - Baik
stenlis
Tramal kecil - 1 - Baik

30
Syringepum - 2 - Baik

Tourniquet - 2 - Baik

Glukosa test - 1 - Baik

Eye pupil
1 - Baik
senter
Troli emancy 1 - Baik

Troli medikasi 2 - Baik

Bengkok
4 - Baik
stenlis
Troli obat 2 - Baik

Alat EKG 2 - Baik

Saturasi
1 - Baik
Oksigen
Alat nebulizer 2 - Baik

Alat
30 - Baik
humadiwayer
Tabung saction
- - Baiik
sentral
Lampu baca
2 - Baik
radiologi
Troli
2 - Baik
Instrumen
Troli linen 2 - Baik

Box bayi 1 - Baik

Kursi roda 4 - Baik

Troli obat 1 - Baik

Timbangan
1 - Baik
bayi
Tempat
17 - Baik
Handrub
Analisa :

31
Kondisi alat-alat kesehatan dan kedokteran di ruang paviliun wijaya Kusuma
jika dilihat dari tabel memiliki kondisi yang baik. Namun, kasur decubitus yang
dimilki ruangan 2 buah rusak 1 dan belum mendapat perbaikan. Hal ini perlu di
perhatikan mengingat bahwa ruang paviliun wijaya kusuma menerima psien dari
berbagai usia dan penyakit.

c. Standar 3: Alat rumah tangga


Pernyataan:
Penetapan kebutuhan alat rumah tangga baik dari segi jumlah, jenis dan
spesifikasi menjamin tersedianya alat rumah tangga yang memadai untuk mencapai
tujuan pelayanan keperawatan.
Rasional:
Terpenuhinya kebutuhan alat rumah tangga yang memadai dalam upaya
menjjdukung pelayana keperawatan yang efektif dan efisien.
Kriteria Struktur:
1) Adanya kebijakan RS tentang pengelolaan alat rumah tangga
2) Adanya mekanisme pengelolaan alat rumah tangga di RS.
3) Adanya SOP/Protap alat penggunaan rumah tangga.

Tabel 12. Daftar Mebel dan Rumah Tangga Ruang Paviliun WIjaya Kusuma
RSUD Banyumas saat pengkajian tanggal 11 – 13 Desember 2018
Jumlah
Jumlah
Nama Perbandingan Yang Kondisi
Seharusnya
Ada
Meja ½ biro - 3 - Baik

Kursi Futura - 29 - Baik

Kursi - - Baik
conference 9
future
Kursi - - Baik
conference 1
beroda

32
Almari kayu - - Baik
4
2 pintu
Almari kaca - - Baik
(rak obat dan 1
infuse)
Kasur 1:1 30 30 Baik

Set kabinet - 30 - Baik

Nurse Station 1:1 1 1 Baik

Standar - - Baiik
40
infuse mobile
Troli kayu 1 / Ruangan 3 1 Baik

Lemari kotak - - Baik


1
saran
Sofa - 30 unit - Baik

Rak peralatan - - Baik


1
makan
Papan - - Baik
1
Informasi
Komputer - 2 - Baik

Printer - 1 - Baik

Stabilizer - 1 - Baik

Nurse call - 1 - Baik

Telfon - 1 - Baik

Lemari - - Baik
3
pendingin
AC - 35 - Baik

Jam dinding - 17 - Baik

TV - 31 - Baik

Water boiler - 32 - Baik

Ember besar - 31 - Baik

Gayung - 31 - Baiik

33
Tempat 1:1 - Baik
sampah non 16
infeksius
Tempat 1:1 - Baik
sampah 3
infeksius
Safety box - 1 - Baik

Keset kaki - 16 - Baik

Family - - Baik
5
contailer
Cermin - 31 - Baik

Kasur - - Baik
30
penunggu
Kursi - - Baik
30
pengunjung
Almari kayu - 1 - Baik
Sepeda - 2 - baik
Analisis :

Berdasarkan tabel 2.16 serta dilakukannya pengecekan, didapatkan sebagian besar


kondisi masih baik dan terawat pada alat melbeler dan rumah tangga di ruang Paviliun
WIjaya Kusuma. Dari data alat yang rusak dan penting untuk segera diperbaiki adalah
nurse call yang bertujuan untuk memudahkan pasien dalam berkomunikasi dengan
perawat. Tempat sampah infeksius dan non infeksius juga masih perlu di tambah
dalam jumlah yang banyak, sehingga sampah dapat di pilah berdasarkan standart PPI
yang ada di rumah sakit. Penambahan jumlah keset pada setiap ruangan dan kamar
pasien juga perlu diperhatikan, sehinga kebersihan ruangan semakin terjamin.

d. Standar 4: Alat pencatatan dan pelaporan


Pernyataan:
Penetapan kebutuhan alat pencatatan dan pelaporan baik dari segi jumlah dan
jenisnya yang dapat menjamin pelaksaan dan pelaporan dalam menunjang
tercapainya tujuan pelayanan keperawatan
34
Rasional:
Terpenuhinya alat pencatatan dan pelaporan yang diperlukan dalam upaya
mendukung pelayanan keperawatan yang efektif dan efisien.
Kriteria struktur:
1. Adanya kebijakan RS tentang pengelolaan alat pencatatan dan pelaporan
keperawatan.
2. Adanya mekanisme pengelolaan alat pencatatan pelaporan di RS
3. Adanya petunjuk teknis pengisian alat pencatatan dan pelaporan
4. Adanya SOP/Protap penyimpanan alat pencatatan dan pelaporan
5. Adanya standar alat pencatatan dan pelaporan meliputi jumlah, jenis dan
spesifikasi
6. Adanya pedoman menghitung kebutuhan alat pencatatan dan pelaporan
7. Alat pencatatan dan pelaporan di ruang rawai inap dengan kapasitas 30 orang
pasien per ruangan.

Kajian Data
Tabel 13. Alat Pencatatan Dan Pelaporan Menurut Depkes RI
No Nama barang Ratio
1 Formulir pengkajian awal 1:1
2 Formulir rencana keperawatan 1:5
3 Formulir catatan perkembangan pasien 1 : 10
4 Formulir observasi 1 : 10
5 Formulir resume keperawatan 1:1
6 Formulir catatan pengobatan 1 : 10
7 Formulir medik lengkap 1:1
8 Formulir laboratorium lengkap 1:3
9 Formulir rontgen 1:2
10 Formulir permintaan darah 1:1
11 Formulir keterangan kematian 5 lembar / bulan
12 Resep 10 buku / bulan
13 Formulir konsul 1:5
14 Formulir permintaan makanan 1:1
15 Formulir permintaan obat 1:1
16 Buku ekspedisi 10 / ruangan / tahun
17 Buku registrasi pasien 4 / ruangan / tahun
18 Buku polio 4 / ruangan / tahun

35
19 White board 1 / ruangan
20 Perforator 1 / ruangan
21 Steples 2 / ruangan
22 Bolpen 5 / ruangan
23 Pensil merah/ biru 2 / ruangan
24 Spidol whiteboard 6 / ruangan
Sumber: Departemen Kesehatan RI 2001
4. Machine
Kajian Teori
Machine atau mesin adalah alat yang digunakan untuk mencapai tujuan. Alat-
alat yang digunakan sebagai penunjang bagi pelaksanaan tindakan keperawatan
pada setiap ruangan (Brantas, 2009).
Pengadaan mesin di Ruang Paviliun WIjaya Kusuma disesuaikan dengan standar
kebutuhan alat dan fasilitas di RSUD Banyumas, dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 14. Inventaris Mesin Tahun 2018 di Ruang Wijaya Kusuma


RSUD Banyumas

Jumlah Mutasi
No Nama Alat Jumlah Akhir
Awal Tambah Kurang
1. Nebulizer 2 3
2. EKG 1 1
3. Suction 3 1 2
4. Syringe Pump 3 3
5. Bed side monitor 2 -
6. Infuse pump 3 3
Sumber: Data Primer ruang Paviliun WIjaya Kusuma Tahun 2018

Analisa

Berdasarkan tabel 2.18 kondisi alat mesin di Ruang Paviliun WIjaya Kusuma
stoke berfungsi dengan baik dan dapat memenuhi kebutuhan alat medis masing-
masing pasien, hanya terdapat satu alat sucsion yang rusak dan tidak dapat
berfungsi dengan baik.

36
5. Method
Kajian Teori
1) Metode penugasan
Adalah cara untuk membagi pekerjaan yang ada di suatu unit perawatan
kepada tenaga yang ada di unit tersebut .Metode penugasan terdiri dari:
2) Metode fungsional
Metode fungsional penugasan asuhan keperawatan terdiri dari pemisahan
tugas keperawatan yang terlibat di dalam setiap perawatan pasien dan
penugasan masing-masing anggota staf keperawatan untuk melakukan satu
atau dua fungsi bagi semua pasien di dalam sebuah unit.
Kelebihannya :
Masing-masing anggota staf memiliki kesempatan untuk menjadi sangat
terampil di dalam melakukan satu atau dua tugas yang merupakan
spesialisasinya.
Kekurangannya :
Perawatan setiap pasiennya di pilah-pilah, tidak total sehingga proses
keperawatan sulit diterapkan dan perawat melihat askep hanya sebagai
keterampilan saja.
3) Metode Tim
Konsepnya adalah:
a. Ketua tim adalah perawat yang berpendididkan luas dan berpengalaman.
b. Komunikasi efektif diperlukan untuk kelanjutan askep. Dolumentasi harus
selalu divalidasi.
c. Pelaksanaan metode tim harus fleksibel, dapat dilakukan pada shift pagi,
sore, dan malam.
Kelebihannya :
1. Pelayanan keperawatan yang komprehensif.
2. Memungkinkan penerapan proses keperawatan.
3. Konflik atau perbedaan pendapat antar staf dapat di tekan melalui rapat
tim.

37
4. Memberi kepuasan bagi anggota tim melalui hubungan interpersonal
Kekurangannya :
a) Rapat tim memerlukan waktu.
b) Tidak dapat dilakukan bila perawat belum terampil atau berpengalaman.
c) Pertanggunggugatan dalam tim tidak jelas.
4) Metode Primary
Metode penugasan utama bekerja baik di dalam sebuah organisasi dengan staf
perawat yang semuanya berijazah. Masing-masing perawat diberikan seluruh
tanggung jawab bagi perencanaan, pelaksanaan dan penilaian perawatan pasien
untuk semua beban tugas kecil.
Dalam metode ini, seorang perawat bertanggung jawab dalam askep klien yang
menjadi tanggung jawabya selama 24 jam terus-menerus dari datang sampai
pulang Keperawatan tim merupakan sebuah metode penugasan perawatan yang
dimaksudkan untuk menghasilkan sekelompok perawat professional, teknis dan
penyokong. Kelompok ini dipimpin oleh perawat yang berijazah dan
berpengalaman serta punya pengetahuan di bidangnya.
5) Metode Modular
Metode modular adalah pengorganisasian pelayanan / askep yang dilakukan
perawat professional untuk sekelompok klien semenjak masuk rumah sakit
sampai pulang (tanggung jawab total). Untuk metode ini perlu perawat yang
berpengetahuan, terampil, dan punya kemampuan kepemimpinan. Keuntungan
dan kerugian metode ini merupakan gabungan metode primer dan tim.
Kajian Data
Berdasarkan hasil wawancara dengan perawat ruangan didapatkan jumlah staf
di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma 15 perawat terdiri dari 1 karu, 2 katim, 7
perawat pelaksana dan 2 libur jaga. sedangkan tenaga non medis yang ada di ruang
Paviliun Wijaya Kusuma ada 1 orang.

38
Analisa :

Dari hasil pengkajian di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma didapatkan bahwa


Ruang Paviliun Wijaya Kusuma menggunakan metode tim dengan jumlah
perawat keseluruhan adalah 15 orang. Dengan perincian 1 orang Kepala Ruang, 2
orang Ketua Tim, 7 orang Perawat Pelaksana, serta 1 libur jaga.
a. Standart Kinerja
Standar adalah suatu tingkat kinerja yang secara umum dikenal sebagai
sesuatu yang dapat diterima, adekuat, memuaskan dan digunakan sebagai tolak
ukur atau titik acuan yang digunakan sebagai pembanding (Mar dan Biebing,
2001). Menurut Asrul Azwar (1994) standar menunjukan pada tingkat ideal
tercapai dan diinginkan, diukur dalam bentuk minimal dan maksimal,
penyimpangan masih dalam batas atas yang dibenarkan toleransi. Menurut
Nursalam (2002) Standar merupakan pernyataan yang absah, model yang disusun
berdasarkan wewenang kebiasaan atau kesepakatan mengenai apa yang memadai
dan sesuai, dapat diterima dengan layak.
Standar praktek keperawatan adalah norma atau penegasan tentang mutu
pekerjaan seorang perawat yang dianggap baik, tepat, dan benar, yang dirumuskan
sebagai pedoman pemberian asuhan keperawatan serta sebagai tolak ukur dalam
penilaian penampilan kerja seorang perawat (Nursalam, 2002). Menurut Gillies
(1994) standar asuhan keperawatan mempunyain 3 tujuan, yaitu:
1. Meningkatkan mutu asuhan keperawatan dengan memusatkanupaya
meningkatkan motivasi perawat terhadap pencapaian tujuan
2. Mengurangi biaya asuhan keperawatan dengan mengurangi kegiatan asuhan
keperawatan yang tidak penting.
3. Memberikan landasan tuntuk menentukan kelalaian keperawatandengan
mengantisipasi suatu hasil yang tidak memenuhi standar dalam asuhan
keperawatan serta menentukan bahwa kegagalan dari perawat untuk memenuhi
standar, membahayakan pasien.

39
Di Indonesia, standar keperawatan dipakai sebagai dasar pedoman dan
instrumentasi penerapan strandar asuhan keperawatan yang disusun oleh Depkes
(1997), yaitu:

1. Standar I, Pengkajian Keperawata


Pengkajian Keperawatan adalah data anamnesa, observasi yang paripurna dan
lengkap serta dikumpulkan secara terus-menerus tentang keadaan pasien untuk
menentukan asuhan keperawatan sehingga data keperawatan harus bermanfaat
bagi seluruh anggota tim, data pengkajian meliputi, pengumpulan data,
pengelompokan data dan perumusan masalah.
2. Standar II, Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah respon pasien yang dirumuskan berdasarkan
data status kesehatan pasien, dan komponenya terdiri dari masalah, penyebab,
dan gejala (PES), bersifat actual dan potensial serta dapat ditanggulangi oleh
perawat.
3. Standar III, Perencanaan Keperawatan
Perencanaan keperawatan disusun berdasarkan diagnose keperawatan,
komponenya meliputi prioritas masalah, tujuan asuhan keperawatan dan
rencana tindakan.
4. Standar IV, Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan adalah pelaksanaan tindakan yang ditentukan dengan
maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi secara maksimal yang mencakup aspek
peningkatan, Pencegahan, pemeliharaan serta pemulihan alat kesehatan dengan
mengikutsertakan keluarga
5. Standar V, Evaluasi Keperawatan
Evaluasi Keperawatan dilakukan secara periodic, sistematik, terencana untuk
menilai perkembangan
6. Standar VI, Catatan Asuhan Keperawatan
Dokumentasi keperawatan dilakukan secara individu oleh perawat selama pasien
dirawat inap maupun rawat jalan, digunakan sebagai informasi komunikasi dan
laporan, dilakukan setelah tindakan sesuai dengan pelaksanaan proses
40
keperawatan, setiap mencatat harus mencantumkan inisial atau paraf nama
perawat, menggunakan formulir yang baku dan simpan sesuai peraturan yang
berlaku.
Dasar hukum standar profesi keperawatan adalah undang-undang RI nomor 23
tahun 1992 pasal 53
Ayat 1: “Tenaga Kesehatan memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas
sesuai profesinya
Ayat 2: “Tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugasnya kewajiban standar
profesi dan pasien”.
Standar keperawatan menurut Depkes RI meliputi.
1. Standar pelayanan keperawatan (SPK)
2. Standar asuhan Keperawatan (SAK)

Suatu ruang perawatan di dalam sebuah rumah sakit idealnya mempunyai prosedur
tetap (Protap) tinfakan yang berlaku secara resmi yang dipahami dan diterapkan oleh
seluruh staf di ruangan, ruang perawatan mempunyai prosedur tetap semua tindakan
keperawatan dan SAK (Standar Asuhan Keperawatan) Minimal 10 Kasus diagnosis
terbanyak.

Standar Asuhan Keperawatan penyakit dalam RSUD Banyumas disusun


bersdasarkan standar asuhan keperawatan internasional. Standar asuhan yang dipakai
adalah Standarized Nursing Language, yaitu NANDA (North American Nursing
Diagnosis Association), Taksonomi II untuk diagnose keperawatan, NOC(Nursing
Outcomes Classification) untuk perencanaan tindakan atau intervensinya.

Dalam pembuatan SAK berisi penjelasan atau informasi tentang penyakit dan
rencanaasuhan keperawatan. Informasi tentang penyakit meliputi pengertian, tanda
dan gejala, etiolgi, patofisiologi, pemeriksaan penunjangdan manajemen terapi serta
prinsip pengkajian kasus penyakit (Brunner 2002).

Kajian Data
1. Daftar Standar Operasional Prosedur di Ruang Paviliun WIjaya Kusuma

41
Tabel 15. Standar prosedur operasional di ruang Wijaya Kusuma Tahun 2018

No. Tindakan yang sering di lakukan di ruang Paviliun Wijaya Kusuma


1 Pengambilan sampel urine
2 Pengambilan spesiesmen sputum
3 Pelayanan laborat rujukan satu pintu
4 Pengambilan specimen feses
5 Pengambilan spesimen
6 Penangan spesimen khusus (LCS, Cairan Pleura, Drain, Asites)
7 Cara penentuah hasil kritis
8 Permintaan untuk tidak dilakukan tindakan resusitasi/DNR
9 Perawatan menghadapi kematian
10 Addmisison care
11 Perlindungan barang berharga
12 Perlindungan kerahasiaan informasi pasien
13 Permintaan darah untuk transfusi
14 Pembuangan sampah infeksius
15 Pembuangan sampah benda tajam
16 Pembuangan sampah
17 Perlindungan kelompok berisiko
18 Perlidungan perculikan bayi
19 Pencegahan terhadap penculikan bayi
20 Perlindungan terhadap kekerasn fisik
21 Pemberian inform consent
22 Penjelasan hak pasien dalam pelayanan
23 Pelayanan kerohanian
24 Dukungan spiritual
25 Penatalaksanaan paksa pajanan
26 Penanganan kecelakaan kerja
27 Pelaporan kecelakaan kerja
28 Penyimpanan B3( bahan berbahaya beracun) gas medis
29 Penimpanan B3 golongan cairan mudah menyala
30 Penangan pasien bila banjir masuk ruang rawat
31 Penggunaan APAR
32 Penyimpanan B3
33 Pelayanan bimbingan rohani
34 Penanganan komplen pelanggan secara lisan melalui telepon
35 Penanganan komplen pelanggan secara terbuka di unit kerja
36 Penanganan komplen pelanggan secaraterbuka melalui media masa
37 Pemberian kartu identitas pengunjung di luar jam besuk
38 Bantuan tim kode biru
39 Bantuan pemmberian ASI
40 Melakukan Injeksi Intra Vena Bolus

42
41 Menghitung Pernafasan
42 Mengukur suhu via anus/rectal
43 Memindahkan pasien dari kursi roda ke bed
44 Memandikan pasien di atas tempat tidur
45 Exercise Therapi ; Kontrol Otot
46 Distraksi
47 Memberikan obat via sub lingual
48 Memberikan obat melalui kulit
49 Memberikan obat melalui vagina
50 Memberikan oxygen dengan nasal kanule
51 Ukur tekanan darah
52 Pemberian obat oral
53 Ukur suhu badan di ketiak
54 Pemberian makan melalui selang enteral
55 Memindahkan pasien dari tempat tidur ke kursi roda
56 Menghitung nadi
57 Membantu perawatan diri makan
58 Kompres demam
59 Penjagaan kulit/skin surveilance
60 Aplikasi panas dingin
61 Bantuan perawatan diri pakaian/ berhias
62 Irigasi bowel
63 Administrasi medikasi : topikal
64 Administrasi medikasi : parenntal
65 Memberikan obat tetes/ salep mata
66 Perawatan bedrest
67 Memberi makan/ menyuapi
68 Perawatan telinga
69 Nebulizer
70 Pembidaian
71 Pemberian obat : enteral
72 Perawatan luka amputasi
73 Memberi obat tetes telinga
74 Bnatuan perawatan diri mandi
75 Relaksasi nafas dalam
76 Water tepid spong/kompres hangat
77 Kurangi perdarahan : gastro intestinal
78 Intubasi NGT
79 EKG
80 Administrasi medikal : oral
81 Ukur tinggi badan (TB) dan berat badann (BB)
82 Perawatan kuku
83 Memberikan obat lewat rektum

43
84 Oral hygiene
85 Pemberian oksigen : Rebreathing Masker
86 Melepas kateter wanita
87 Melepas kateter pria
88 Membantu perawatan diri :: eliminasi
89 Pijat oxytosin
90 Serah terima / operan jaga perawat
91 Exercise : Therapi Mobilisasi
92 Exercise :kesimbangan
93 Memberikan oxygen non rebreathing masker
94 Melakukan penilain nyeri dan sedasi dengan comfort scale
95 Pengkajian nyeri pada anak-anak
96 Pengkajian nyeri pada bayi
97 Pengkajian nyeri
98 Pengkajian mata
99 Administrasi medikasi : parenteral
100 Pemberian produk darah
101 Bladder Training
102 Pemasangan infus pada anak
103 Pemasangan infus dewasa
104 Pemasangan kateter menetap pada wanita
105 Kompres demam
106 Perawatan luka insisi
107 Bantu selama pemeriksaan
108 Pengambilan penitipan kemasan steril
109 Pengendalian barang kadaluarsa
110 Pengenbalian instrumen on steril
111 Peminjaman instrumen steril
112 Dekontaminasi alat medis logam
113 Penerimaan kemasan on steril
114 Penempatan pasien dengan penyakit menular atau suspect
115 Pencegahan dan pengendalian ISK
116 Perawatan peralatan pasien
117 ICRA renovasi bangunan
118 Dekomentasi tingkat tinggi (DTT)
119 Pencegahan dan pengendalian plebhitis
120 Menyuntik aman
121 Pencegahan dan pengendalian infeksi aliran darah primer (IADP)
122 Pencegahan dan pengendalin infeksi daerah operasi
123 Pencegahan dan pengendalian luka tekan (dekubitus)
124 Penatalaksaan tertusuk jarum atau benda tajam
125 Kebersihan tangan
126 Penggunaan APD
44
127 Distribusi linen bersih
128 Pengumpulan linen kotor
129 Serah terima linen bersih
130 Pengumpulan linen kotor
131 Penerimaan tamu dinas
132 Perlindungan barang berharga
133 Penyerahan bayi pulang
134 Pelayanan pasien tahap terminal
135 Penanganan komplain pelanggan secara terbuka
136 Pelayanan penerjemah bahasa
137 Penyuluhan kesehatan internal eksternal
138 Perlindungan kerahasiaan informasi pasien
139 Pemberian kartu identitas pengunjung diluar jam besuk
140 Penanganan code brown / code grey / code silver
141 Pemberian inform consent
142 Pencegahan penculikan bayi dan anak
143 Pengkajian nilai dan kepercayaan pasien / keluarga dalam pelayanan
144 Perlindungan terhadap kekerasan fisik
145 Edukasi pasien atau keluarga secara kelompok diluar rumah sakit
146 Pengelolaan pasien bayi atau code pink
147 Penjelasan pasien dalam pelayanan
148 Tata tertib pengujung
149 Pasien kabur
150 Mengukur kepuasan pelanggan
151 Penangan komplin secara tertulis
152 Transfer pasien untuk pindah rumah sakit
153 Penyimpanan norum atau lasa di ruangan
154 Pelepasan gelang pasien
155 Komunikasi lewat telepon
156 Cara menuliskan catatan terintegrasi pasien
157 Pencatatan hasil kritis
158 Transfer psien antar ruang perawatan
159 Pemasangan gelang pasien rawat jalan
160 Penandaan psien resiko jatuh
161 Identifikasi bayi dan ibu sakit
162 Komunikasi lewat telepon
163 Transfer pasien untuk tindakan medik
164 Penilaian pasien resiko jatuh dewasa menggunakan skala morse
165 Pre conference
166 Timbang terima
167 Post Conference

Analisa :
45
Ketersediaan SOP yang ditetapkan oleh Rumah Sakit sesuai teori yaitu 27 SOP ,
maka dari hasil tabel menunjukan bahwa SOP Ruang Paviliun WIjaya Kusuma
memenuhi standard yaitu sebanyak 167 SOP.

8. Adanya SOP/Protap penyimpanan alat pencatatan dan pelaporan


9. Adanya standar alat pencatatan dan pelaporan meliputi jumlah, jenis dan
spesifikasi
10. Adanya pedoman menghitung kebutuhan alat pencatatan dan pelaporan
11. Alat pencatatan dan pelaporan di ruang rawai inap dengan kapasitas 30 orang
pasien per ruangan.

Kajian Data
Tabel 16. Alat Pencatatan Dan Pelaporan Menurut Depkes RI
No Nama barang Ratio
1 Formulir pengkajian awal 1:1
2 Formulir rencana keperawatan 1:5
3 Formulir catatan perkembangan pasien 1 : 10
4 Formulir observasi 1 : 10
5 Formulir resume keperawatan 1:1
6 Formulir catatan pengobatan 1 : 10
7 Formulir medik lengkap 1:1
8 Formulir laboratorium lengkap 1:3
9 Formulir rontgen 1:2
10 Formulir permintaan darah 1:1
11 Formulir keterangan kematian 5 lembar / bulan
12 Resep 10 buku / bulan
13 Formulir konsul 1:5
14 Formulir permintaan makanan 1:1
15 Formulir permintaan obat 1:1
16 Buku ekspedisi 10 / ruangan / tahun
17 Buku registrasi pasien 4 / ruangan / tahun
18 Buku polio 4 / ruangan / tahun
19 White board 1 / ruangan
20 Perforator 1 / ruangan
21 Steples 2 / ruangan
22 Bolpen 5 / ruangan
23 Pensil merah/ biru 2 / ruangan
24 Spidol whiteboard 6 / ruangan
Sumber: Departemen Kesehatan RI 2001

46
Analisa :

Ketersediaan SOP yang ditetapkan oleh Rumah Sakit sesuai teori yaitu 27 SOP
, maka dari hasil tabel menunjukan bahwa SOP Ruang Melati memenuhi standard
yaitu sebanyak 130 SOP.

D. PROSES
a. Proses Pelayanan Keperawatan (SP2KP)
Kajian Teori

SP2KP adalah sistem pemberian pelayanan keperawatan profesional yang


merupakan pengembangan dari MPKP (Model Praktik Keperawatan
Profesional) dimana dalam SP2KP ini terjadi kerjasama profesional antara
perawat primer (PP) dan perawat asociated (PA) serta tenaga kesehatan lainnya.
Pada aspek proses ditetapkan penggunaan metode modifikasi keperawatan
primer (kombinasi metode tim dan metode keperawatan primer). Penetapan
metode ini didasarkan pada beberapa alasan sebagai berikut: Pada metode
keperawatan primer, pemberian asuhan keperawatan dilakukan secara
berkesinambungan sehingga memungkinkan adanya tanggung jawab dan
tanggung gugat yang merupakan esensi dari suatu layanan profesional. Terdapat
satu orang perawat profesional yang disebut PP, yang bertanggung jawab dan
bertanggung gugat atas asuhan keperawatan yang diberikan. Pada MPKP,
perawat primer adalah perawat lulusan sarjana keperawatan/ Ners. Pada metode
keperawatan primer, hubungan profesional dapat ditingkatkan terutama dengan
profesi lain.
Metode keperawatan primer tidak digunakan secara murni karena
membutuhkan jumlah tenaga Skp/ Ners yang lebih banyak, karena setiap PP
hanya merawat 4-5 klien dan pada metode modifikasi keperawatan primer, setiap
PP merawat 9-10 klien. Saat ini terdapat beberapa jenis tenaga keperawatan
dengan kemampuan yang berbeda-beda. Kombinasi metode tim dan perawat
primer menjadi penting sehingga perawat dengan kemampuan yang lebih tinggi
mampu mengarahkan dan membimbing perawat lain di bawah tanggung

47
jawabnya. Metode tim tidak digunakan secara murni karena pada metode ini
tanggung jawab terhadap asuhan keperawatan terbagi kepada semua anggota
tim, sehingga sukar menetapkan siapa yang bertanggung jawab dan bertanggung
gugat atas semua asuhan yang diberikan.
a. Macam Metode Penugasan Dalam Keperawatan
Dalam pelaksanaan praktek keperawatan, akan selalu menggunakan
salah satu metode pendekatan di bawah ini :
1) Metode Penugasan Tim
Yaitu pengorganisasian pelayanan keperawatan oleh sekelompok perawat.
Kelompok ini dipimpin oleh perawat yang berijazah dan berpengalaman serta
memiliki pengetahuan dalam bidangnya. Pembagian tugas di dalam
kelompok dilakukan oleh pemimpin kelompok, selain itu pemimpin
kelompok bertanggung jawab dalam mengarahkan anggota tim.sebelum
tugas dan menerima laporan kemajuan pelayanan keperawatan klien serta
membantu anggota tim dalam menyelesaikan tugas apabila mengalami
kesulitan. Selanjutnya pemimpin tim yang melaporkan kepada kepala
ruangan tentang kemajuan pelayanan atau asuhan keperawatan klien. Metode
ini menggunkan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam
memberikan askep terhadap sekelompok pasien.
Ketenagaan dari tim ini terdiri dari :
a) Ketua tim
b) Pelaksana perawatan
c) Pembantu perawatan
Tugas dan Tanggung jawab Ketua tim:
a) Bertanggung jawab terhadap pengelolaan asuhan keperawatan klien sejak
masuk samapai pulang
b) Mengkaji kondisi kesehatan klien dan keluarganya
c) Membuat diagnose keperawatan dan rencana keperawatan
d) Mengkomunikasikan rencana keperawatan kepada anggota tim

48
e) Mengarahkan dan membimbing anggota tim dalam melakkan tindakan
keperawatan
f) Bersama anggota group melaksanakan Askep sesuai standar.
g) Bersama anggota group mengadakan serah terima dengan group.tim
(group petugas ganti) mengawasi : kondisi klien/anggota keluarga, logistic
keperawatan, administrasi rekammedic, pelayanan pemeriksaan
penunjang, kolaborasi program pengobatan.
h) Melanjutkan tugas-tugas yang belum dapat diselesaikan oleh
group sebelumnnya.
i) Merundingkan pembagian tugas dengan anggota groupnya.
j) Menyiapkan perlengkapan untuk pelayanan dan visite dokter.
k) Mendampingi dokter visite, mencatat dan melaksanakan program
pengobatan dokter.
l) Membantu pelaksanaan rujukan
m) Melakukan orientasi terhadap klien/anggota keluarga baru mengenai : tata
tertib ruangan RS, perawat yang bertugas.
n) Menyiapkan orientasi pulang dan memberi penyuluhan kesehatan
o) Memelihara kebersihan ruang rawat dengan: mengatur tugas cleaning
service, mengaturtugas peserta didik, mengatur tata tertib ruangan yang
ditunjukkan kepada semua petugas, peserta didik dan pengunjung ruangan.
p) Membantu karu membimbing peserta didik keperawatan
q) Membantu karu untuk menilai mutu pelayanan askep serta tenaga
keperawatan
r) Menulis lap oran tim mengenai klien/anggota keluarga dan lingkungan
Adapun tujuan dari perawatan tim adalah memberikan asuhan yang lebih baik
dengan menggunakan tenaga yang tersedia.
Kelebihan metode tim adalah :
a) Saling memberi pengalaman antar sesama tim.
b) Pasien dilayani secara komfrehesif
c) Terciptanya kaderisasi kepemimpinan

49
d) Tercipta kerja sama yang baik
e) Memberi kepuasan anggota tim dalam hubungan interpersonal
f) Memungkinkan menyatukan anggota tim yang berbeda-beda dengan aman dan
efektif.
Kekurangan metode tim adalah:
a) Tim yang satu tidak mengetahui mengenai pasien yang bukan menjadi tanggung
jawabnya.
b) Rapat tim memerlukan waktu sehingga pada situasi sibuk rapat tim ditiadakan
atau trburu-buru sehingga dapat mengakibatkan kimunikasi dan koordinasi antar
anggota tim terganggu sehingga kelanncaran tugas terhambat.
c) Perawat yang belum terampil dan belum berpengalaman selalu tergantung atau
berlindung kepada anggota tim yang mampu atau ketua tim.
d) Akuntabilitas dalam tim kurang jelas
2) Metode Perawatan Primer
Yaitu pemberian askep yang ditandai dengan keterikatan kuat dan terus menerus
antara pasien dan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan dan
mengkoordinasikan askep selama pasien dirawat.
a) Tugas perawat primer adalah
1. Menerima pasien
2. Mengkaji kebutuhan
3. Membuat tujuan, rencana, pelaksanaan dan evaluasi.
4. Mengkoordinasi pelayanan
5. Menerima dan menyesuaikan rencana
6. Menyiapkan penyuluhan pulang
b) Konsep dasar metode perawatan primer adalah:
1. Ada tanggung jawab dan tanggung gugat
2. Ada otonomi
3. Ada keterlibatan pasien dan keluarganya
c) Ketenagaan
Setiap perawat primer adalah perawat “bedside”.

50
1. Beban kasus pasien maksimal 6 pasien untuk 1 perawat
2. Penugasan ditentukan oleh kepala bangsal.
d) Perawat profesional sebagai primer dan perawat non profesional sebagai asisten.
e) Kepala bangsal
1. Sebagai konsultan dan pengendali mutu perawat primer
2. Orientasi dan merencanaka karyawan baru
3. Menyusun jadwal dinas
4. Memberi penugasan pada perawat asisten.
f) Kelebihan dari metode perawat primer
1. Mendorong kemandirian perawat.
2. Ada keterikatan pasien dan perawat selama dirawat
3. Berkomunikasi langsung dengan Dokter
4. Perawatan adalah perawatan komfrehensif
5. Model praktek keperawatan profesional dapat dilakukan atau diterapkan.
6. Memberikan kepuasan kerja bagi perawat
7. Memberikan kepuasan bagi klien dan keluarga menerima asuhan
keperawatan.
g) Kelemahan dari metode perawat primer
1. Perlu kualitas dan kuantitas tenaga perawat
2. Hanya dapat dilakukan oleh perawat profesional.
3. Biaya relatif lebih tinggi dibandingkan metode lain.
Kajian Teori Tugas Kepala Ruang
1. Pelaksanaan Tugas Kepala Ruang di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD
Banyumas
Kepala Ruang adalah seorang tenaga keperawatan yang diberi tanggung jawab
dan wewenang dalam mengatur dan mengendalikan kegiatan pelayanan
keperawatan di ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas.
2. Tanggung Jawab Kepala Ruang:
3. Kelancaran, ketepatan waktu pelaksanaan tugas tenaga keperawatan dan
kepuasan pelanggan terhadap pelayanan keperawatan di unit kerjanya.

51
4. Kebenaran dan ketepatan usulan rencana kebutuhan tenaga keperawatan, obat-
obatan dan peralatan keperawatan di unit kerjanya.
5. Keobyektifan dan kebenaran penilaian kinerja tenaga keperawatan di unit
kerjanya.
6. Kebenaran dan ketepatan pengaturan ketenagaan di unit kerjanya.
7. Kelancaran kegiatan orientasi perawat baru di unit kerjanya.
8. Kebenaran dan ketepatan penggunaan dan pemeliharaan peralatan keperawatan
serta mutu asuhan keperawatan di unit kerjanya.
9. Kebenaran dan ketepatan penerapan SPO pelayanan keperawatan di unit
kerjanya.
10. Kebenaran dan ketepatan pelaporan pelaksanaan asuhan keperawatan di unit
kerjanya.
11. Uraian Tugas:
a. Melaksanakan fungsi perencanaan, meliputi:
1. Merencanakan dan melaksanakan program kegiatan pelayanan
keperawatan di unit kerjanya.
2. Menyusun rencana kebutuhan tenaga keperawatan dari segi jumlah
maupun kualifikasi untuk di ruang rawat, koordinasi dengan kepala
instalasi.
3. Merencanakan kebutuhan tenaga dalam setiap sift kerja (pagi, siang,
malam , termasuk hari libur).
4. Melaksanakan fungsi penggerakan dan pelaksanan, meliputi:
a) Mengatur dan mengkoordinasikan seluruh kegiatan pelayanan di ruang
perawat, melalui kerja sama dengan petugas yang ada dan petugas lain
yang bertugas di ruang rawatnya.
b) Menyusun jadwal atau daftar dinas, libur, cuti tenaga keperawatan dan
tenaga lain sesuai dengan kebutuhan, pelayanan dan peraturan yang
berlaku di Rumah Sakit Royal Progres (bulanan, mingguan, harian).
c) Mengidentifikasi tingkat ketergantungan pasien.

52
d) Mengatur pembagian tugas perawat dan mengendalikan asuhan
keperawatan.
e) Melaksanakan program orientasi kepada tenaga keperawatan baru atau
tenaga lain yang akan bekerja di ruang rawat dibawah tanggung
jawabnya.
f) Memberi orientasi kepada pasien atau keluarganya meliputi penjelasan
tentang peraturan Rumah Sakit, tata tertib ruang rawat, fasilitas yang ada
dan cara penggunaannya serta kegiatan rutin sehari-hari.
g) Memeberi pengarahan, membimbing dan motivasi bagi tenaga
keperawatan untuk melaksanakan pelayanan atau asuhan keperawatan
sesuai ketentuan atau standar yang berlaku.
h) Mengadakan pertemuan berkala atau sewaktu-waktu dengan staf
keperawatan dan petugas lain yang bertugas di ruang rawat inap.
i) Memberi kesempatan atau ijin kepada staff keperawatan untuk mengikuti
kegiatan ilmiah atau penataran dengan koordinasi kepala instalasi
keperawatan.
j) Menyusun permintaan rutin meliputi kebutuhan peralatan dan obat-
obatan dan bahan lain yang diperlukan di ruang perawatan atau sesuai
kebutuhan dan berdasarkan ketentuan atau kebijakan Rumah Sakit.
k) Mengatur dan mengkoordinasikan pemeliharaan peralatan seperti
service, pembersihan dan uji kunci alat agar selalu dalam keadaan siap
pakai.
l) Mendampingi visit dokter dan mencatat instruksi atau program
pengobatan, kususnya bila ada perubahan program pengobatan pasien
dan menyampaikannya kepada perawat pelaksana untuk
melaksanakannya.
m) Mengelompokkan pasien dan mengatur penempatannya di ruang rawat
menurut tingkat kegawatan, infeksi atau noninfeksi , untuk kelancaran
pemberian asuhan keperawatan.

53
n) Memberi motivasi kepada perugas dalam memelihara kebersihan
lingkungan ruang rawat.
o) Meneliti pengisian formulir sensus harian pasien di ruang rawat inap.
p) Meneliti atau memeriksa pengisian daftar permintaan makanan pasien
berdasarkan macam dan jenis makanan pasien.
q) Meneliti atau memeriksa ulang pada saat penyajian makanan pasien
sesuai dengan program dietnya.
r) Menyimpan berkas catatan medis pasien dalam amsa perawatan di ruang
rawatnya dan selanjutnya mengembalikan berkas tersebut ke bagian
Medical Record bila pasien keluar atau pulang dari ruang rawat tersebut.
s) Membuat laporan harian, bulanan, dan tahunan mengenai pelaksanaan
asuhan keperawatan serta kegiatan lainnya di ruang rawat inap, untuk
disampaikan kepada atasannya kepala Instalasi Perawatan.
t) Memberikan penyuluhan kesehatan kepada pasien atau keluarga sesuai
kebutuhan dasar dalam batas wewenangnya.
Melaksanakan fungsi pengawasan, pengendalian dan penilaian, meliputi:
a. Mengendalikan kualitas sistem pencatatan dan pelaporan asuhan keperawatan dan
kegiatan lain secara tepat dan benar.
b. Mengendalikan dan menilai pelaksanaan asuhan keperawatan yang telah ditentukan
c. Menjamin kebijakan, peraturan, standar dan SPO dijalankan di unitnya sesuai
dengan ketentuan yang berlaku
d. Mengevaluasi secara periodik terhadap standar pelayanan dan SPO yang berlaku
untuk pelayanan keperawatan di unit kerjanya 3. Melakukan penilaian kinerja
tenaga keperawatan yang berada di bawah tanggungjawabnya dan menentukan
kriteria perawat di unitnya
e. Mengawasi, mengendalikan dan menilai pendayagunaan tenaga keperawatan,
peralatan dan obat-obatan secara efektif dan efisien
f. Mengawasi dan menilai mutu asuhan keperawatan sesuai standar yang berlaku
secara mandiri atau koordinasi dengan Tim Pengendalian Mutu Asuhan
Keperawatan.

54
g. Menyelesaikan masalah keperawatan yang terjadi di unit di bawah supervisinya
h. Mengawasi pelaksanaan sistem pencatatan dan pelaporan kegiatan asuhan
keperawatan serta mencatat kegiatan lain di ruang rawat secara tepat dan benar
i. Melakukan pengawasan terhadap inventaris barangg-barang, alkes, ATK dan obat
yang terdapat di unit kerja yang menjadi tanggung jawabnya.
j. Berperan aktif dalam presentasi kaksus, kegiatan kendali mutu, pengendalian
infeksi nosokomial dan kegiatan ilmiah lainnya dalam rangka meningkatkan mutu
pelayanan keperawatan khususnya di unit kerja yang menjadi tanggung jawabnya.
k. Melakukan tugas-tugas lain yang diberikan oleh pimpinan seperti kepanitiaan
khusus atau tigas lain untuk kepentingan organisasi Rumah Sakit.
Wewenang Kepala Ruang
a. Mengatur jadwal dinas peraat
b. Memberi petunjuk dan bimbingan pelaksanaan tugas staff keperawatan di unit
kerjanya.
c. Menilai, menegur, dan memotivasi perawat pelaksana di unit kerjanya.
d. Memimpin staff keperawatan untuk melaksanakan pelayanan keperawatan di unit
kerjanya.
e. Mananda tangani surat dan dokumen yang ditetapkan menjadi wewenang Kepala
Ruangan.
f. Menghadiri rapat berkala dengan Kepala Instalasi pelayanan keperawatan untuk
kelancaran pelaksanaan pelayanan keperawatan.

Kajian Data
Tabel 17. Pelaksanaan Tugas Kepala Ruang di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma
RSUD BanyumasTanggal 11-13 Desember 2018
Terlaksana
No Variabel yang dinilai
Ya Tdk
Menerangkan kepada pasien dan keluarganya mengenai
1 peraturan yang berlaku di Rumah Sakit, keadaan pasien 1
pada situasi tertentu.

55
Mengusahakan dan memelihara hubungan kerja yang
harmonis dan berdaya guna antara perawat dengan
2 perawat, perawat dengan dokter atau petugas lain, pasien 1
dan keluarga.
Mengatur dan mengendalikan kegiatan perawatan/atau
3 pegawai lain/siswa dalam kegiatan pelayanan 1
keperawatan (coordinator)
Karu mengatur dan mengawasi pelaksanaan rumah sakit
4 yang berlaku di ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD 1
Banyumas.
Karu mengenal jenis dan penggunaan barang, serta
mengusahakan pengadaan sesuai kebutuhan di ruang
5 Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas agar tercapai 1
pelayanan perawatan yang optimal.
Karu merancanakan, melaksanakan dan menilai
6 pelayanan perawatan sesuai dengan kebutuhan pasien 1
berdasarkan proses perawatan
Mengklarifikasi pasien menurut tingkat kegawatan atau
7 infeksi dan non infeksi untuk memudahkan cara 1
merawatnya.
Karu mengawasi dan meneliti pelaksanaan dan pemberian
8 obat, makanan atau diit dengan perhatian khusus terhadap 1
pasien yang perlu dibantu.

Mengawasi dan meneliti pencatatan medic dan catatan


9 perawatan pasien 1

Membimbing tenaga keperawatan dalam melaksanakan


10 teknik keperawatan. 1

Mengadakan pendekatan kepada setiap pasien yang


11 dirawat untuk mengetahui keluhan atau masalah yang 1
dihadapi
Mendampingi selama visite, mencatat serta melaksanakan
12 teknik keperawatan. 1

Memelihara dan meningkatkan sistem pencatatan dan


13 pelaporan secara teratur, yang berkesinambungan tentang 1
keadaan pasien untuk kepentingan keperawatan.

56
Karu mengisis buku catatan pribadi dan menandatangani
14 buku catatan pribadi dari pelaksana perawatan di ruang 0
Paviliun Wijaya Kusuma
Karu memberikan penyuluhan kesehatan kepada pasien
15 dan keluarganya sesuai dengan penyakitnya 1

Mengadakan penilaian pelayanan perawatan antara lain


16 dengan cara meneliti, mengobservasi reaksi pasien, reaksi 0
petugas, dan reaksi masyarakat.
Karu menyusun daftar dinas dari petugas perawatan dan
17 petugas lainnya secara merata dan seefektif mungkin. 1

Membantu mengawasi dan membimbing siswa perawat


18 untuk mendapatkan pengalaman belajar di ruang Paviliun 1
Wijaya Kusuma .
Menjaga rahasia yang menyangkut penyakit dan keadaan
19 pasien di ruang Paviliun Wijaya Kusuma sesuai dengan 1
sumpah jabatan.
Menjaga terpeliharanya kebersihan, kerapian , dan
20 keindahan di ruag Paviliun Wijaya Kusuma dan 1
lingkungannya
Menjaga perasaan nyaman bagi pasien dan petugas
21 selama melaksanakan kegiatan perawatan 1

Karu mengadakan rapat berkala dengan perawat


22 pelaksana 1

Mengusahakan kesejahteraan dan keselamatan kerja


23 petugas 1

24 Memberikan orientasi pada tenaga perawat baru 1


Jumlah 22 2
Persentase 91,6 % 8,4 %
Observasi mahasiswa Stikes St. Elisabeth Semarang 2018

Analisa :
Dari observasi yang telah dilakukan selama 3 hari dari tanggal 11-13 Desember
2018 disimpulkan bahwa pelaksanaan kepala ruang di ruang Paviliun Wijaya Kusuma
RSUD Banyumas dikategorikan dalam kategori baik yaitu didapatkan hasil 91,6 %.

57
2. Kajian Teori Pelaksanaan Tugas Ketua Tim di Ruangan
Ketua Tim adalah seorang perawat profesional yang diberi wewenang dantaggung
jawab dalam mengkoordinasikan asuhan keperawatan pada sekelompok pasien rawat
inap.
Tanggung Jawab Ketua Tim:
1. Kebenaran dan ketepatan pengaturan ketenagaan dan pembagian tugasdalam
timnya.
2. Kebenaran dan ketepatan penerapan dan asuhan keperawatan pada pasien yang
menjadi tanggung jawabnya.
3. Kebenaran dan ketepatan pendokumentasian asuhan keperawatan pasien yang
menjadi tanggung jawabnya pada jam dinasnya.
4. Kebenaran dan ketepatan laporan pelaksanaan asuhan keperawatan pasien yang
menjadi tanggung jawabnya.
Wewenang Ketua Tim:
1. Membuat rencana asuhan keperawatan
2. Membuat penugasan, supervisi dan evaluasi
3. Memimpin anggota tim untuk melaksanakan asuhan keperawatan padapasien
yang menjadi tanggung jawabnya pada jam dinasnya.
4. Mengatur ketenagaan, fasilitas saran dan asuhan keperawatan pasien yang
menjadi tanggung jawabnya pada jam dinasnya.
5. Uraian Tugas Ketua Tim:
a. Bersama kepala ruang atau penanggung jawab sift mengadakan serah terima
tugas setiap pergantian dinas.
b. Melakukan pembagian tugas atas anggota timya dengan perencanaan terhadap
pasien yang menjadi tanggung jawabnya.
c. Melakukan pembagian kerja dengan anggota timnya sesuai tingkat
ketergantungan pasien dan tingkat kompetensi anggota tim.
d. Mengkoordinir pekerjaan yang harus dilakukan bersama anggota tim
perawatan/kesehatan lain

58
e. Membuat rincian tugas anggota tim meliputi pemberian asuhan keperawatan ,
kerjasama antar anggota tim
f. Menyusun rencana keperawatan pasien yang menjadi tanggung jawabnya pada
jam dinasnya
g. Bersama dengan anggota tim, melaksanakan asuhan keperawatan kepada
pasien
h. Mengatur dan mengkoordinasikan seluruh kegiatan pelayanan pasien yang
menjadi tanggung jawabnya pada jam dinasnya
i. Melakukan pertolongan pertama kepada pasien dalam keadaan darurat secara
tepat dan benar sesuai dengan kebutuhannya, serta protap yang berlaku.
Selanjutnya segera melaporkan tindakan yang telah dilakukan kepada dokter
ruang rawat/dokter penanggung jawab ruangan.
j. Mendokumentasikan dengan lengkap asuhan keperawatan yang diberikan
pada pasien yang menjadi tanggung jawabnya
k. Memberi pengarahan dan motivasi kepada anggota tim untuk melaksanakan
asuhan keperawatan sesuai ketentuan/standar yang berlaku
l. Mengatur, mengontrol dan mengkoordinasikan pemeliharaan peralatan yang
dibutuhkan pasiennya agar selalu dalam keadaan siap pakai pada jam
dinasnya
m. Melaksanakan program orientasi kepada pasien baru dan keluarganya
meliputi penjelasan tentang peraturan rumah sakit, tata tertib dan fasilitas
yang ada
n. Mendampingi dokter selama kunjungan keliling (visite dokter) dan mencatat
rencana medik dari dokter
o. Menyiapkan perlengkapan untuk pasien yang akan pulang, seperti obat-
obatan, hasil pemeriksaan dan surat-surat yang diperlukan (surat istirahat,
resume keperawatan)
p. Mengontrol dan memeriksa ketepatan pemberian asuhan keperawatan dan
pemberian obat pada pasien yang menjadi tanggung jawabnya sesuai rencana
medik dari dokter

59
q. Mengisi daftar permintaan makanan, berdsarkan macam dan jenis makanan
pasien kemudian memeriksa ulang pada saat penyajiannya sesuai dengan
diitnya pada shift sore, malam dan hari libur
r. Melaksanakan serah terima tugas kepada ketua tim shift berikutnya secara
lisan maupun tertulis pada saat penggantian dinas
s. Mengikuti pertemuan berkala yang diadakan oleh kepala ruang atau kepala
instalasi perawatan di unit kerjanya
t. Berkoordinasi dengan kepala ruang atau PJ shift atau dokter spesialis terkait
untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan pasien atau keluarga
u. Melakukan tugas-tugas lain yang diberikan oleh kepala ruang apabila
diperlukan
v. Melaporkan secara lisan dan tulisan kepada kepala ruang apabila terdapat hal-
hal yang segera dilaporkan
Kajian Data
Tabel 18. Pelaksanaan Tugas Ketua Tim di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma
RSUD Banyumas Tanggal 11 – 13 Desember 2018
Terlaksana
No Variabel yang dinilai
Ya Tdk
Katim melakukan pengkajian lengkap dan mencatatnya pada
1 formulir rekam medis keperawatan untuk digunakan sebagai dasar 2
perencanaan askep lebih lanjut
Membuat rencana askep berdasarkan diagnose keperawatan dan
2 rencana terapy yang ditetapkan oleh dokter. 2
Melaksanakan askep sesuai dengan rencana keperawatan serta
3 membuat rencana ulang (resume) 2
Melaksanakan askep sesuai dengan rencana keperawatan serta
4 membuat rencana ulang (resume) 2
Memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga
5 sesuai kebutuhan klien 0
Mengadakan serah terima petugas kepada perawat yang jaga sore
6 dan menerima laporan tugas dari perawat jaga malam 2
Memberikan bimbingan kepada perawat yang telah menjadi
7 anggota tim dan melakukan evaluasi hasil kerjanya. 2

Menyususun data yang berhubungan dengan askep berdasarkan


8 laporan anggota tim sebagai masukan untuk membuat laporan 2
kerja pertanggungjawaban ruangan.
60
Menghadiri pertemuan klinik dengan dokter dan tim kesehatan lain
9 untuk membicarakan dan membahas kasus kasus dalam rangka 2
meningkatkan mutu asuhan dan pelayanan keperawatan
Katim melakukan kunjungan keliling ruangan bersama anggota
tim, dokter, dan tim kesehatan lain untuk mengetahui keadaan
10 2
pasien dalam rangka memberikan asuhan dan pelayanan
keperawatan
Memberikan bimbingan kepada siswa atau mahasiswa praktek
11 yang ada dalam tim dalam rangka orientasi dan pelaksanaan 2
praktek keperawatan
Jumlah 20 2
Presentase 90,9 9,09 %
%
Sumber: Observasi Mahasiswa Stikes St Elisabeth 2018
Analisa:

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan selama 3 hari terhadap


pelaksanaan katim di ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas,
didapatkan hasil 90,9 % dengan kategori baik. Hal ini menunjukan ketua tim ruang
paviliun wijaya kusuma melaksanakan tugas dengan baik sesuai prosedur yang
sudah sesuai ditetapakan, namun perlu ditingkatkan untuk ketua tim dalam
melakukan bimbingan klinik keperawatan(ronde keperawatan/ bed site teaching).

3. Kajian Teori Pelaksanaan Tugas Perawat Pelaksana


Seorang tenaga keperawatan yang diberi wewenang untuk melaksanakan
pelayanan atau asuhan keperawatan di ruang rawat
Tanggung jawab
1) Kelancaran, ketepatan waktu pelaksanaan tugas keperawatan dan kepuasan
pelanggan terhadap pelayanan keperawatan
2) Kebenaran dan ketepatan dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai
standar
3) Kebenaran dan ketepatan dalam mendokumentasikan pelaksanaan asuhan
keperawatan atau kegiatan lain yang diperlukan
Wewenang
1) Meminta informasi dan petunjuk kepada atasan

61
2) Memberikan asuhan keperawatan kepada pasien atau keluarga pasien sesuai
standar yang telah ditetapkan
Uraian Tugas Perawat Pelaksana
1) Memelihara kebersihan ruang rawat dan lingkungan
2) Menerima pasien baru sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku
3) Memelihara peralatan perawatan dan medis agar selalu keadaan siap pakai
4) Melaksanakan program orientasi kepada pasien tentang ruangan dan
lingkungan, peraturan atau tata tertib yang berlaku, fasilitas yang ada dan
cara penggunaannya, serta kegiatan rutin sehari-hari di ruangan
5) Menciptakan hubungan kerjasama yang baik dengan pasien dan keluarganya
6) Mengkaji kebutuhan dan masalah kesehtan pasien, sesuai batas kemampuan
dengan cara:
a. Mengamati keadaan pasien (tanda vital, kesadaran, keadaan mental dan
keluhan)
b. Melaksanakan anamnesa
7) Menyusun rencana keperawatan sesuai dengan kemampuannya
8) Melaksanakan tindakan keperawatan kepada pasien sesuai dengan
kebutuhan, antara lain:
a. Melaksanakan tindakan pengobatan sesuai dengan program pengobatan
b. Memberikan penyuluhan kesehatan kepada pasien dan keluarganya
9) Berperan serta melaksanakan pelatihan/mobilisasi pada pasien agar dapat
mandiri.
10) Membantu merujuk pasien kepada petugas kesehatan dan institusi pelayanan
kesehatan lain yang lebih mampu, untuk menyelesaikan masalah kesehatan
yang tidak dapat ditanggulangi
11) Melakukan pertolongan pertama kepada pasien dalam keadaan darurat
secara tepat dan benar sesuai dengan kebutuhannya, serta protap yang
berlaku. Selanjutnya segera melaporkan tindakan yang telah dilakukan
kepada dokter ruang rawat atau dokter penanggungjawab ruangan
12) Melaksanakan evaluasi tindakan keperawatan

62
13) Memantau dan menilai kondisi pasien dilanjutkan melakukan tindakan yang
tepat berdasarkan hasil pemantauan tersebut dan sesuai batas
kemampuannya.
14) Menciptakan dan memelihara hubungan kerjasama yang baik dengan
anggota tim kesehatan (dokter,ahli gizi, analis, pekarya kesehatan, pekarya
rumah tangga dll)
15) Berperan serta dengan anggota tim kesehatan dalam membahas kasus dan
upaya meningkatakan mutu asuhan keperawatan
16) Melaksanakan tugas pagi, sore, malam dan hari libur secara bergilir sesuai
dengan jadwal dinas
17) Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik antar pasien dan
keluarganya
18) Mengikuti pertemuan berkala yang diadakan oleh kepala ruang rawat.
19) Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan di bidang keperawatan, antara
lain melalui pertemuan ilmiah dan pelatihan.
20) Melaksanakan sistem pencatatan dan pelaporan asuhan keperawatan yang
tepat dan benar sebagai dokumentasi sehingga tercipta sistem informasi
rumah sakit yang dapat dipercaya atau akurat
21) Melaksanakan serah terima tugas kepada petugas pengganti secara lisan
maupun tertulis, pada saat pergantian dinas
22) Menyiapkan pasien yang akan pulang, meliputi :
a. Paviliun Wijaya Kusuma pasien menggunakan alat bantu yang
dibutuhkan, seperti :
a) Tongkat penyangga
b) Protesa
b. Paviliun Wijaya Kusuma pasien untuk melaksanakan tindakan
keperawatan di rumah, misalnya :
a) Merawat luka
b) Paviliun Wijaya Kusuma anggota gerak
c. Menyediakan formulir untuk penyelesaian administrasi

63
a) Surat ijin pulang
b) Surat keterangan istirahat sakit
c) Petunjuk diet
d) Resep obat dirumah, jika diperlukan
e) Surat rujukan atau pemeriksaan ulang
f) Surat keterangan lunas pembayaran, dll
d. Memberi penyuluhan kesehatan kepada pasien dan keluarganya sesuai
dengan keadaan dan kebutuhan pasien, mengenai :
a) Diet pengobatan yang perlu dilanjutkan dan cara penggunaannya
b) Pentingnya pemeriksaan ulang di rumah sakit, puskesmas atau institusi
pelayanan kesehatan lain
c) Cara hidup sehat, seperti pengaturan istirahat, makanan yang bergizi atau
bahan pengganti sesuai dengan cara keadaan sosial ekonomi
d) Mengantar pasien yang akan pulang sampai ke pintu rawat inap
Kajian Data
Tabel 19. Pelaksanaan Tugas Perawat Pelaksana di Ruang Paviliun Wijaya
Kusuma RSUD Banyumas Tanggal 11 – 13 Desember 2018
Terlaksana
No Variabel yang dinilai
Ya Tdk

1 Mengerjakan tugas yang diberikan katim 5


Melakukan konfirmasi/supervisi tentang kondisi pasien
2 segera setelah operan 5

3 Melakukan doa pada awal dan akhir dinas 5


Mengikuti pre conference yang diadakan oleh katim
4 tiap shif sesuai jadwal kerja 5

Melaksanakan asuhan keperawatan kepada pasien yang


5 menjadi tanggung jawabnya dan ada bukti di rekam 5
medic
Melakukan monitoring respon pasien dan ada bukti di
6 rekam keperawatan 5

Melakukan konsultasi tentang masalah klien/klg kepada


7 katim 5

64
Membimbing dan melakukan pendidikan kesehatan
8 kepada pasien yang menjadi tanggung jawabnya dan ada 5
di bukti rekam medik
Menerima keluhan klien/klg dan berusaha mengatasinya
9 5
Melengkapi catatan askep pada semua pasien yang
10 menjadi tanggung jawabnya 5

Melakukan evaluasi askep setiap akhir tugas pada semua


11 pasien yang menjadi tanggungjawabnya dan ada di bukti 5
rekam medic keperawatan
Mengikuti post conference yang dilakukan oleh Katim
pada akhir tugas dan melaporkan kondisi dan
12 perkembangan semua pasien yang menjadi tanggung 5
jawabnya padakatim
Bila Katim butuh, wajib mengenalkan anggota group
13 yang ada dalam satu group yang akan memberikan askep 5
pada jaga berikutnya kepada klien/klg
Berkoordinasi dengan Katim/Koordinator
14 Ruang/dokter/tim kesehatan lain bila ada masalah pada 5
pasien
Mengikuti diskusi kasus dengan tim kesehatan lain tiap
15 satu minggu sekali 5

Melaksanakan tugas pendelegasian Katim pada sore,


16 malam dan atau hari libur 5

Mengikuti diskusi kasus dalam pertemuan rutin


17 keperawatan di ruangan 5

18 Melaksanakan tugas lain sesuai uraian tugas anggota tim 5


Jumlah 80 10
80, 3 19,7
Presentase % %
Sumber: Observasi Mahasiswa Stikes St. Eliasabeth 2018

Analisa:
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan selama 3 hari di ruangan paviliun
wijaya kusuma didapatkan hasil penilianaya terhadap pelaksanaan perawat pelaksana
didapatkan hasil 80,3 % dan masuk dalam kategori baik, maka dapat disimpulkan
65
kinerja perawat di Ruang paviliun Wijaya Kusuma baik dan sesuai prosedur yang
telah ditetapkan, diharapkan perawat lebih meningkatakan dalam tindakan
memberiakan penjelasan pada klien sebelum melakukan tindakan keperawatan dan
memberikan dukungan terhadap asuhan ketika melaksanakan tugas atau pekerjaan.
5. Meeting Morning
a. Kajian Teori
Pengertian
Suatu pertemuan yang dilakukan di pagi hari sebelum dimulainya operan tugas
jaga antara shift malam ke shift pagi.
Tujuan
a. Dilakukan disemua ruang rawat inap / instalasi yang ada kaitannya dengan
pelayanan keperawatan agar tercapai dalam memberikan askep yang optimal
dan tepat
b. Dilakukan tiap pagi hari sebelum operan jaga. Waktu pelaksana kurang lebih
15 menit
c. Diikuti oleh perawat jaga malam, perawat jaga pagi, pramusaji, tenaga,
administrasi ruang dan house keeping
Presedur
Persiapan
a. Karu mempersiapkan materi dan informasi mengenai kegiatan-kegiatan non
keperawatan di ruang tersebut
b. Karu menyiapkan tempat untuk melakukan morning meeting
c. Mempersiapkan salah satu staf untuk menjadi notulen
d. Morning meeting diikuti oleh seluruh staf yang jaga pagi dan malam
Pelaksanaan
a. Karu membuka meeting morning dilanjutkan dengan doa bersama
b. Spiritual corner (membaca qur’an / kultum / membaca hadist)
c. Melakukan repetitive magic power (budaya kerja dan keyakinan dasar)
dibacakan oleh salah satu peserta ditirukan oleh semua peserta meeting
morning

66
d. Karu memberikan informasi dan arahan kepada staf dengan materi yang telah
disiapkan sebelumnya
e. Karu melakukan klasrifikasi apa yang telah disampaikan kepada staf
f. Memberikan kesempatan kepada staf untuk mengungkapkan permasalahan
yang muncul di ruangan
g. Bersama-sama staf mendiskusikan pemecahan masalah yang dapat di tempuh
h. Karu memberi motivasi dan reinforcement kepada staf
Penutup
a. Karu menutup meeting morning
b. Karu dan peserta meeting morning menandatangani notulensi
c. Meeting morning dilanjutkan dengan operan jaga

Kajian Data
Tabel 20. Pelaksanaan Meeting Morning di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma
RSUD Banyumas Tanggal 11 – 13 Desember 2018

No Variable yang dinilai Ya Tdk


1 Karu menyiapkan tempat untuk meeting morning 1
2 Karu menyiapkan materi untuk meeting morning 1
Karu memastikan perawat jaga sebelumnya dan perawat
3 jaga setelah shift mengikuti meeting morning 1
Karu menunjuk beberapa staff untuk menjadi notulen
4 dan repeating magic power 1

5 Membuka meeting morning dengan salam dan doa 1


Karu memastikan perawat jaga sebelumya dan perawat
6 jaga setelah shift hadir semua 1
Karu memberikan arahan pada staf dengan materi yang
7 telah disiapkan sebelumnya 1
Karu memberikan klarifikasi apa yang telah
8 1
disampaikan oleh staf
Memberikan kesempatan pada staf untuk
9 mengungkapkan permasalahan yang muncul di ruangan 1
Bersama staf mendiskusikan pemecahan masalah yang
10 1
dapat ditempuh

67
Karu memberi tugas kepada katim dan perawat
11 1
pelaksana sesuai tugas dan kemampuan masing-masing
12 Karu memberikan motivasi dan reinforcement pada staf 1
13 Menutup Meeting morning 1
14 Menandatangani catatan notulen 1
Jumlah 13 1
Presentase 92,85
7,15%
%
Sumber: Observasi Mahasiswa Stikes St Eliasabeth 2018
Analisa :
Berdasarkan obeservasi yang telah dilakukan selama 3 hari terhadap pelaksanaan
meeting morning mendapatkan hasil 92,85 % , masuk dalam kategori baik. Karena
di ruang paviliun wijaya kusuma setiap pagi setelah apel karu memimpin meeting
morning sesuai prosedur tetap yang ada diruangan. Diharapkan karu dpat
meningkatakan untuk melakukan klarifikasi apa yang telah disampaikan kepada staf
supaya tidak terjadi kesalahan

Tabel 21. Pengisian Buku Laporan Shift di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma
RSUD Banyumas Periode 11 – 13 Desember 2018

No. Variable yang dinilai Ya Tdk

1. Nomer kamar pasien 5


2. Data demografi pasien (nama, usia, tanggal lahir), RM,
5
alamat, dx.medis dan dokter yang merawat
3. Vital sign di isi lengkap 3 2
4. Terapi (obat, nutrisi, cairan dan progam terapi lainnya) 5
5. Dx. Keperawatan dan rencana intervensi keperawatan
5
pada hari itu
6. Implementasi pasien pagi/siang/malam :
a. Tindakan keperawatan yang telah dilakukan beserta 3
2
waktu pelaksanaannya
b. Jenis dan waktu rencana tindakan keperawatan yang 2
3
blum dilakukan

68
c. Terapi (terapi cairan, nutrisi, pengobatan) dan tindakan
medis (termasuk pemeriksaan-pemeriksaan) beserta 3 2
waktunya, yang dilakukan selama shift
d. Tindakan medis yang belum dilakukan selama shift 5
e. Perkembangan pasien yang ada selama shift 5
f. Pendidikan kesehatan yang telah dilakukan 5
g. Mengevaluasi hasil tindakan keperawatan 5
Jumlah 46 14
Persentase 76,67% 23,33%

2. Pelaksanaan Timbang Terima Tugas Jaga


a. Kajian Teori
Timbang terima (operan) merupakan teknik atau cara untuk menyampaikan dan
menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan keadaan klien.
Tujuan
a. Perawat dapat mengikuti perkembangan klien secara paripurna.
b. Meningkatkan kemampuan komunikasi antar perawat.
c. Akan terjalin suatu hubungan kerjasama yang bertanggung jawab antar
anggota tim perawat.
d. Terlaksananya asuhan keperawatan terhadap klien yang berkesinambungan.
Manfaat
a. Dapat menyampaikan hal-hal penting yang perlu ditindak lanjuti oleh perawat
pada shift berikutnya.
b. Dapat melakukan cross check ulang tentang hal-hal yang dilaporkan dengan
keadaan klien yang sebenarnya.
c. Klien dapat menyampaikan masalahnya secara langsung bila ada yang belum
terungkap.
Metode Pelaporan
a. Perawat yang bertanggung jawab terhadap pasien melaporkan langsung
kepada perawat penanggung jawab berikutnya. Cara ini memberikan

69
kesempatan diskusi yang maksimal untuk kelanjutan dan kejelasan rencana
keperawatan.
b. Pelaksanaan timbang terima dapat juga dilakukan di ruang perawat kemudian
dilanjutkan dengan berkeliling mengunjungi klien satu persatu.
Prosedur Pelaksanaan
a. Kedua kelompok dinas sudah siap.
b. Perawat yang melaksanakan timbang terima mengkaji secara penuh terhadap
masalah, kebutuhan dan segenap tindakan yang telah dilaksanakan serta hal-
hal yang penting lainnya selama masa perawatan (tanggung jawab)
c. Hal-hal yang sifatnya khusus, memerlukan perincian yang matang sebaiknya
dicatat khusus untuk kemudian diserahterimakan kepada petugas berikutnya.
d. Hal-hal yang perlu disampaikan dalam timbang terima :
1. Identitas klien dan diagnosa medis.
2. Masalah Keperawatan yang masih muncul.
3. Tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan (secara umum)
4. Intervensi kolaboratif yang telah dilaksanakan.
5. Rencana umum dan persiapan yang perlu dilakukan dalam kegiatan
operatif, pemeriksaan laboratorium / pemeriksaan penunjang lain,
persiapan untuk konsultasi atau prosedur yang tidak rutin dijalankan.
6. Prosedur rutin yang biasa dijalankan tidak perlu dilaporkan.
e. Perawat yang melakukan timbang terima dapat melakukan klarifikasi, tanya
jawab dan melakukan validasi terhadap hal-hal yang telah ditimbang
terimakan atau berhak terhadap keterangan-keterangan yang kurang jelas.
f. Sedapat-dapatnya, mengupayakan penyampaian yang jelas, singkat dan
padat.
g. Lama timbang terima tiap pasien tidak lebih dari 5 menit,kecuali dalam
kondisi khusus dan memerlukan keterangan yang rumit.
Hal-hal yang perlu Diperhatikan
a. Dilaksanakan tepat waktu pada saat pergantian dinas yang disepakati.
b. Dipimpin oleh penanggung jawab klien / perawat primer.

70
c. Diikuti oleh semua perawat yang telah dan akan dinas.
d. adanya unsur bimbingan dan pengarahan dari penanggung jawab.
e. Informasi yang disampaikan harus akurat, singkat, sistematik dan
menggambarkan kondisi klien pada saat ini serta kerahasiaan klien.
f. Timbang terima harus berorientasi pada masalaha keperawatan yang ada
pada kliwn, dengan kata lain informasi yang diberikan berawal dari
masalahnya terlebih dahulu (setelah diketahui melalui pengkajian), baru
kemudian terhadap tindakan yang telah dilakukan dan belum dilakukan
serta perkembangan setelah dilakukan tindakan.
g. Timbang terima dilakukan didekat pasien, menggunakan volume suara yang
pelan dan tegas (tidak berbisik) agar klien disebelahnya tidak mendengarkan
apa yang dibicarakan untuk menjaga privacy klien, terutama mengenai hal-
hal yang perlu dirahasiakan sebaiknya tidak dibicarakan secara langsung di
dekat klien.
h. Bila ada informasi yang mungkin membuat klien terkejut sebaiknya jangan
dibicarakan didekat klien tetapi diruang perawat.
Kajian Data
Tabel 22. Pelaksanaan Timbang Terima di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma
RSUD Banyumas Tanggal 11 – 13 Desember 2018
Terlaksana
No Variabel
Ya Tdk
Perawat jaga sebelumnya menyiapkan buku laporan shift
1 3
dan melengkapi buku laporan jaga
Perawat jaga sebelumnya menyiapkan tempat untuk
2 3
searah terima tugas
Karu/katim/PJ shift mempersiapkan anggota untuk
3 1 2
timbang terima
Perawat jaga sebelumnya memastikan hand over diterima
4 3
perawat jaga selanjutnya
Karu/katim/PJ shift Mempersilahkan perawat jaga
5 1 2
sebelumnya untuk melaporkan pasien
6 Perawat jaga sebelumnya Menyebutkan identitas pasien 3
7 Perawat jaga sebelumnya menyebutkan dx medis pasien 3
Perawat jaga sebelumnya menyebutkan dx keperawatan
3
8 pasien
71
Menginformasikan jenis, dan waktu rencana tindakan
9 3
keperawatan yang belum dilakukan
10 Menyebutkan perkembangan pasien yang ada selama shift 3
Menginformasikan pendidikan kesehatan yang telah
11 3
dilakukan
12 Mengevaluasi hasil tindakan keperawatan 3
Menyebutkan terapi dan tindakan medis beserta waktunya
13 3
yang dilakukan selama shift
Menginformasikan pada pasien/keluarga nama perawat
14 3
shift berikutnya pada akhir tugas
Memberi salam pada pasien, keluarga, serta
15 mengobservasi dan menginspeksi keadaan pasien, 3
menanyakan keluhan pasien (dalam rangka klarifikasi)
Menutup operan di nurse station dengan memberikan
16 ucapan terimakasih kepada perawat jaga sebelumnya dan 3
memberikan motivasi untuk perawat jaga selanjutnya
17 Menutup timbang terima dengan doa 3
18 Menandatangani buku laporan jaga oleh kedua shift 1 2
Jumlah 42 12
Presentase 77,78% 22,22%
Sumber: Observasi Mahasiswa Stikes St Eliasabeth 2018
Analisa :
Berdasarkan tabel diatas yang didapatkan dari observasi ruangan paviliun wijaya
kusuma, yang telah dilakukan selama 3 hari dari tanggal 11-13 Desember 2018
bahwa penilaian timbang terima 88,89 %, dikategori baik. Diharapkan selanjutnya
semua perawat dapat melaksanakan timbang terima setiap harinya.

3. Pre conference
a. Kajian teori
Pre conference, yaitu komunikasi katim dan perawat pelaksana setelah selesai
operan yang dipimpin oleh katim atau penanggung jawab tim. Isi pre
conference adalah rencana tiap perawat (rencana harian) dan tambahan rencana
dari katim atau PJ tim.
1) Persiapan
1. Ketua tim menyiapkan ruangan
72
2. Ketua tim menyiapkan rekam medik dan buku laporan shift pasien dalam
tanggung jawabnya seta buku berita acara timbang terima perawat jaga yang
telah diisi.
2) Pelaksanaan
3. Ketua tim/PJ membukapre conference dengan salam dan berdoa (masuk
dalam meeting morning, jika pagi)
4. Ketua Tim/PJ menjelaskan tujuan dilakukannya pre conference
5. Ketua Tim/PJ memandu pelaksanaan pre conference
6. Ketua Tim/PJ menjelaskan masalah keperawatan pasien, rencana tindakan
keperawatan yang menjadi tanggung jawabnya
7. Ketua Tim/PJ membagi tugas kepada anggota tim dengan memperhatikan
keseimbangan kerja
8. Ketua Tim/PJ mendiskusikan dengan kelompok tentang cara dan strategi
pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien
9. Ketua Tim/PJ memotivasi untuk memberikan tanggapan dan penyelesaian
masalah yang sedang didiskusikan
10. Ketua Tim/PJ mengklarifikasi kesiapan anggota tim untuk melaksanakan
asuhan keperawatan kepada pasiem yang menjadi tanggung jawabnya
11. Ketua Tim/PJ memberikan reinforcement positif pada anggota tim
12. Ketua Tim/PJ menyimpulkan hasil pre conference
3) Penutup
13. Ketua Tim/PJ mengakhiri pre conference
14. Ketua Tim/PJ mendokumentasikan hasil pre conference
Kajian data
Tabel 22. Pelaksanaan Pre Conference di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma
RSUD Banyumas Tanggal 11-13 Desember 2018
Terlaksana
No Variabel yang dinilai
Ya Tdk
1 Katim/Pj shift menyiapkan tempat untuk pre conference 5
Katim/Pj shift menyiapkan buku laporan tugas jaga 5
2
pasien
Katim/Pj shift menjelaskan tujuan dilakukan pre 5
3
conference
73
4 Katim/Pj shift memandu pelaksanaan pre conference 5
Membagi tugas pada PA sesuai kempuan yang dimiliki 5
5
dengan memperhatikan keseimbangan kerja
Katim/Pj shift Menjelaskan masalah pasien selama 5
6 dalam perawatan dan rencana keperawatan yang menjadi
tanggung jawabnya
Mendiskusikan cara dan strategi pelaksanaan asuhan 5
7
keperawatan pasien/tindakan
Memotivasi untuk memberikan tanggapan dan 5
8
penyelesaian masalah yang sedang didiskusikan
Mengklarifikasi kesiapan PA untuk melaksanakan 5
9 asuhan keperawatan pada pasien yang menjadi
tanggungjawabnya
10 Memberikan reinforcement positif pada PA 5
11 Menyimpulkan hasil pre conference 5
12 Menutup pre conference 5
Jumlah 50 10
83,3% 16,67%
Presentase
Sumber: Observasi Mahasiswa Stikes St Eliasabeth 2018
Analisa : Berdasarkan hasil observasi didaptkan nilai sebesar 58,4% dengan kategori
kurang baik. Hasil ini menunjukan bahwa pelaksanaan pre conference berjalan dengan
kurang baik. Pada kegiatan pre conference Dari obeservasi yang telah dilakukan
selama 3 hari terhadap pelaksanaan pre conference di RSUD Banyumas, didapatkan
dari point cek list pembagian tugas pada anggota tim jarang dilakukan hal tersebut
sangat penting karena perawat pelaksana yang bertugas harus sudah siap dengan tugas
dan tanggung jawabnya pada saat shift tersebut, serta menjelaskan masalah pasien
selama perawatan, mendiskusikan cara dan strategi keperawatan juga jarang dilakukan
hal ini dilakukan agar dapat membantu memecahkan masalah yang ada di saat shit,
dan memberikan reinforcement dan memotivasi juga perlu dilakukan supaya perawat
semangat dalam menjalankan tugas.
4. Post Conference
a) Kajian teori
Post conference, yaitu komunikasi katim dan perawat pelaksana tentang hasil
kegiatan sepanjang shift dan sebelum operan.

74
Persiapan
a. Ketua tim menyiapkan ruangan
b. Ketua tim menyiapkan rekam medik dan buku laporan shift pasien dalam
tanggung jawabnya
Pelaksanaan
a. Ketua tim/PJ membuka post conference
b. Ketua Tim/PJ menjelaskan tujuan dilakukannya post conference
c. Ketua Tim/PJ menjelaskan tentang hasil tindakan asuhan keperawatan yang
telah dilakukan
d. Ketua Tim/PJ mendiskusikan dengan anggota tentang masalah yang
ditemukan dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien dan mencari
upaya penyelesaian masalah
e. Ketua Tim/PJ memberikan reinforcement positif pada nggota tim
f. Ketua Tim/PJ menyimpulkan hasil post conference
g. Ketua Tim/PJ mengklarifikasi informasi pasien sebelum melakukan tindakan
operan tugas jaga shift berikutnya
Penutup
a. Ketua Tim/PJ mengakhiri post conference
b. Ketua Tim/PJ mendokumentasikan post conference

Kajian data
Tabel 23. Pelaksanaan Post Conference di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma
RSUD Banyumas Tanggal 11 – 13 Desember 2018
No. Aktivitas Ya Tidak
Persiapan
1. Kepala ruang/ PJ mempersiapkan perawat 5
(Karu, Ketua Tim dan Anggota Tim)
2. Ketua Tim menyiapkan tempat untuk post 5
conference
3. Ketua Tim menyiapkan rekam medik pasien 5
dalam tanggung jawabnya

75
Pelaksanaan
1. Ketua Tim / PJ membuka post conference 5
2. Ketua Tim / PJ menjelaskan tujuan 5
dilaksanakannya post conference
3. Anggota Tim menjelaskan tentang hasil 5
tindakan / hasil asuhan keperawatan yang telah
dilakukan
4. Mendiskusikan masalah yang telah ditemukan 5
dalam memberikan ASKEP pada pasien dan
mencari upaya penyelesaian
5. Ketua Tim / PJ memberi reinforcement pada 5
Anggota Tim
6. Ketua Tim / PJ menyimpulkan hasil post 5
conference
7. Ketua Tim / PJ mengklarifikasi informasi 5
pasien sebelum melakukan operan tugas jaga
shift jaga berikutnya
Penutup
1. Mengakhiri post conference dengan doa 5

2. Mendokumentasikan post conference 5

Total 16,67%

Observasi Mahasiswa Stikes St.Elisabeth 2018

Analisa : Berdasarkan hasil observasi didapatkan nilai sebesar 16,67%. Hasil ini
menunjukan bahwa pelaksanaan post conference dalam kategori sangat kurang. Post
conference bertujuan untuk melaporkan hasil implemantasi keperawatan dari perawat
pelaksana kepada ketua tim. Psot conference juga dapat digunakan untuk menyusun
renacana tindakan selanjutnya dan untuk mengetahui apakah tindakan keperawatan
sudah mengatasi masalah kepaerawatan pada pasien sehingga kegiatan ini perlu
dilakukan setiap akan mengakhirin shift.

76
Mutu Pelayanan Keperawatan
Proses Asuhan Keperawatan (Instrument A)
Kajian teori
1. Pengertian
Standar Asuhan Keperawatan (SAK) adalah uraian pernyataan tingkat kinerja
yang diinginkan, sehingga kualitas struktur, proses dan hasil dapat dinilai. Standar
asuhan keperawatan berarti pernyataan kualitas yang diinginkan dan dapat dinilai
pemberian asuhan keperawatan terhadap pasien/ klien. Hubungan antara kualitas
dan standar menjadi dua hal yang saling terkait erat, karena melalui standar dapat
dikuantifikasi sebagai bukti pelayanan meningkat dan memburuk
(Wilkinson,2006).
2. Tujuan
Tujuan ditetapkannya standar asuhan keperawatan diantaranya yaitu :
- Meningkatkan kualitas asuhan keperawatan dengan memusatkan upaya dan
meningkatkan motovasi perawat terrhadap pencapaian tugas.
- Mengurangi biaya asuhan keperawatan dengan mengurangi kegiatan perawat
yang tidak penting atau tidak tepat terhadap kebutuhan pasien.
- Memberikan landasan untuk mengantisipasi suatu hasil yang tidak memenuhi
standar asuhan keperawatan ataas kelalaian petugas keperawatan (Sitorus,
2006).
3. Manfaat
- Dalam praktek klinik, memberikan serangkaian kondisi untuk mengevaluasi
mutu asuhan keperawatan dan juga merupakan alat pengukur mutu penampilan
kerja perawat yang sangat diperlukan sebagai umpan balik dalam
meningkatkan penampilan kerja perawat.
- Dalam administrasi pelayanan keperawatan, sangat penting dalam perencanaan
pola ketenagaan, progam pengembangan staf dan mengidentifikasi isi dari
progam pelatihan.
- Dalam pendidikan keperawatan, standar sangat menbantu pendidikan
keperawatan dalam merencanakan kurikulum.

77
- Sebagai area riset dan penelitian keperawatan dengan temuan yang dapat
digunakan untuk memperbaiki dan meningkatkan asuhan keperawatan.
- Dalam sistem pelayanan kesehatan secara umum, perawat dapat menggunakan
standar untuk mengkomunikasikan inti asuhan keperawatan kepada konsumen
dan profesi kesehatan yang lain (Depkes RI, 2005).
4. Indikator Standar Asuhan Keperawatan
Indikator standar asuhan keperawatan, menurut Depkes (2010) sebagai berikut
Standar I – Pengkajian Keperawatan
Berupa data anamnesa, observasi yang paripurna dan lengkap serta
dikumpulkan secara terus menerus tentang keadaan pasien untuk menentukan
asuhan keperawatan , sehingga data dalam pengkajian harus bermanfaat bagi
semua anggota Tim. Data pengkajian meliputi pengumpulan data,
pengelompokan data dan perumusan data.
Standar II – Diagnogsa Keperawatan
Yaitu respon pasien yang dirumuskan berdasarkan data status kesehatan
pasien, dianalisis dan dibandingkan dengan norma fungsi kehidupan pasien dan
komponennya terdiri dari masalah, penyebab dan gejala/ tanda, bersifat aktual
dan potensial dan dapat ditanggulangi oleh perawat. Diagnosa keperawatan
adalah diagnosa yang dibuat oleh tenaga profesional yang menggambarkan
tanda dan gejala menunjuk kepada masalah kesehatan yang dirasakan pasien.
Standar III – Perencanaan Keperawatan
Standar ini disusun berdasarkan diagnosis keperawatan, komponennya
meliputi prioritas masalah, tujuan asuhan keperawatan dan rencana tindakan.
Standar IV – Intervensi Keperawatan
Berupa pelaksanaan tindakan yang ditentukan dengan maksud agar
kebutuhan pasien terpenuhi secara maksimal yang mencakup aspek peningkatan,
pencegahan, peme;iharaan serta pemulihan kesehatan dengan mengikut sertakan
keluarga serta berorientasi pada 14 komponen keperawatan.

78
Standar V – Evaluasi Keperawatan
Dilakukan secara periodik sistematis dan berencana untuk menilai
perkembangan pasien. Menentukan keberhasilan tindakan keperawatan dan
kebutuhan akan perubahan rencana perawatan meliputi : pengumpulan data
pengkajian, membandingkan perilaku pasien yang diharapkan dengan
kenyataan, melakukan evaluasi bersama pasien, keluarga dan bersama tim
kesehatan lainnya, mengidentifikasi perubahan yang dibutuhkan dalam
menentukan tujuan dan rencana keperawatan.
Standar VI – Catatan Asuhan Keperawatan
Dilakukan secara individual oleh perawat selama pasien dirawat inap
maupun rawat jalan, digunakan sebagai informasi, komunikasi dan laporan,
dilakukan segera setelah tindakan dilaksanakan sesuai dengan pelaksanaan
proses perawatan, setiap mencatat harus mencantumkan inisial/ paraf nama
perawat, menggunakan formulir yang baku, disimpan sesuai dengan peraturan
yang berlaku.

Kajian data
Tabel 25. Penilaian Asuhan Keperawatan di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma
RSUD Banyumas Tanggal 11 - 13 Desember 2018
Total
No Aspek yang dinilai Ya Tdk

Pengkajian
Mencatat data yang dikaji sesuai dengan pedoman
1 5
pengkajian
2 Data dikelompokkan (Bio-psiko-sosial-spiritual) 5
3 Data yang dikaji sejak pasien masuk sampai pulang 5
Masalah dirumuskan berdasarkan kesenjangan antara
4 5
status kesehatan dengan norma dan pola fungsi kehidupan
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan berdasarkan masalah yang telah
1 5
dirumuskan
2 Diagnosa keperawatan mencerminkan PES 2 3
3 Merumuskan diagnosa keperawatan aktual/potensial 5
Intervensi
79
1 Berdasarkan diagnosa keperawatan 5
2 Disusun menurut urutan prioritas 5
Rumusan tujuan mengandung komponen pasien
3 5
perubahan, perilaku, kondisi, pasien atau criteria
Rencana tindakan mengacu pada tujuan dengan kalimat
4 5
perintah, terinci dan jelas
Rencana tindakan menggambarkan keterlibatan pasien/
5 5
keluarga
Rencana tinadakan menggambarkan kerja sama, dengan
6 5
tim kesehatan lain
Implementasi
1 Tindakan dilaksanakan mengacu pada rencana tindakan 1 4
Perawat mengobservasi respon pasien terhadap tindakan
2 5
keperawatan
3 Revisi tindakan berdasarkan hasil evaluasi 5
Semua tindakan yang telah dilaksanakan dicatat ringkas
4 5
dan jelas
Evaluasi
1 Evaluasi mengacu pada tujuan 5
2 Hasil evaluasi dicatat 5
Catatan Asuhan Keperawatan
1 Menulis pada format yang baku 5
Pencatatan dilakukan sesuai dengan tindakan yang
2 5
dilaksanakan
Pencatatan ditulis denga jelas, ringkas, istilah yang baku
3 5
dan benar
Setiap melakukan tindakan, perawat mencantumkan
4 5
paraf/ nama jelas dan tanggal jika dilakukannya tindakan
Berkas catatan keperawatan disimpan sesuai dengan
5 5
ketentuan yang baku
Jumlah 108 12
Presentase 90% 10%
Sumber: Observasi Mahasiswa Stikes St Eliasabeth 2018

Analisa : Dari observasi yang telah dilakukan selama 3 hari terhadap


pendokumentasian asuhan keperawatan di ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD
Banyumas, didapatkan hasil baik dengan presentase 90%, dan dalam hal asuhan
keperawatan yang sudah diberlakukan sistem SIM KEP perawat masih ada yang
belum menerapkan pengambilan diagnosa dengan PES serta tindakan keperawatan
yang dilakukan tidak sesuai dengan apa yang telah direncanakan di SIM KEP
tersebut.
80
Discharge Planning
a. Kajian teori
Discharge planning merupakan suatu proses terintegrasi yang terdiri dari fase-fase
yang ditujukan untuk memberikan asuhan keperawatan yang berkesinambungan.
Komponen perencanaan pulang
1. Perawatan di rumah
2. Pemberian pembelajaran dan pendidikan kesehatan mengenai : diet, waktu
kontrol, tempat control.
3. Penjelasan mengenai obat-obatan yang masih diminum, dosis, cara pemberian,
dan waktu yang tepat untuk minum obat.
4. Obat-obatan yang dihentikan. Walaupun obat-obatan klien sudah tidak diminum
lagi, namun tetap dibawa oleh klien serta ditentukan siapa yang akan menyimpan
obat tersebut.
5. Hasil pemeriksaan
6. Hasil pemeriksaan luar sebelum MRS dibawakan kepada klien waktu pulang.
7. Surat-surat seperti surat keterangan sakit
Jenis pemulangan pasien

1. Conditional discharge (pemulangan sementara)

Jika klien pulang dalam keadaan baik dan tidak ada komplikasi, klien pulang
untuk sementara di rumah dan masih dalam proses perawatan dan harus ada
pengawasan dari pihak rumah sakit atau puskesmas terdekat.

2. Absolute discharge (pulang mutlak atau selamanya)

Jika klien sudah selesai masa perawatan dan dinyatakan sembuh dari sakitnya.
Jika klien perlu perawatan kembali, maka prosedur perawatan dapat dilakukan
kembali.

81
3. Judocal discharge (pulang paksa)

Jika kondisi klien masih perlu perawatan dan belum memungkinkan untuk
pulang, tetapi klien harus dipantau dengan melakukan kerjasama dengan tim
home care rs atau puskesmas terdekat.

Tindakan perawatan yang diberikan pada perencanaan pulang yaitu meliputi

1. Pendidikan (edukasi, reedukasi, reorientasi) kesehatan yang diharapkan dapat


mengurangi angka kekambuhan dan meningkatkan pengetahuan pasien serta
keluarga.

2. Program pulang bertahap.

3. Paviliun Wijaya Kusuma h pasien kembali ke lingkungan dan masyarakat antara


lain yang dilakukan pasien di rumah sakit, dan tugas keluarga.

4. Rujukan.

5. Integrasi pelayanan kesehatan harus mempunyai hubungan langsung antara


perawatan komunitas dengan rumah sakit sehingga dapat mengetahui
perkembangan pasien di rumah

Peran perawat dalam discharge planning Kepala ruangan

1. Membuka acara discharge planning kepada pasien


2. Menyetujui dan menandatangani format discharge planning Ketua Tim
3. Membuat rencana discharge planning
4. Membuat leaflet dan kartu discharge planning
5. Memberikan konseling
6. Memberikan pendidikan kesehatan
7. Menyediakan format discharge planning
8. Mendokumentasikan discharge planning

82
9. Melakukan agenda discharge planning (pada awal perawatan sampai akhir
perawatan) Perawat Pelaksana Ikut membantu dalam melaksanakan discharge
planning yang sudah direncanakan oleh Ketua Tim.
Kajian data
Tabel 26. Pelaksanaan Discharge Planning di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma
RSUD Banyumas Tanggal 11-13 Desember 2018
Terlaksana
No Variabel yang dinilai
Ya Tdk
1 Perawat Memberikan salam 5
2 Mengenalkan nama 5
Memberikan penyuluhan terkait dengan cara
3 5
diskusi, tanya jawab, demonstrasi
4 Menggunakan alat peraga (leaflet, flip chart) 5
5 Melakukan evaluasi 1 4
6 Memberikan umpan balik 5
7 Mengakhiri dengan salam 5
8 Pendokumentasian 5
Jumlah 26 14
Persentase 65% 35%
Sumber: Observasi Mahasiswa Stikes St Elisabeth 2018

Analisa : Dari observasi yang telah dilakukan selama 3 hari terhadap pelaksanaan
discharge planning di RSUD Banyumas, didapatkan hasil kategori cukup dengan
presentase 65% dimana para perawat masih belum melakukan pemberian dischart
planning yang baik dan benar.

Admission Care

 Pengertian
Admission care adalah hak atau ijin masuk bagi pasien yang berfungsi sebagai
coordinator untuk penerimaan pasien dirawat inap, baik yang berasal dari rawat
darurat atau rawat jalan. Admisi merupakan kegiatanyang sangat penting karena
sebagai ujung tombak pelayanan rawat inap. bagian ini mempunyai tanggung jawab

83
dalam pendaftaran pra penerimaan pasien, penerimaan pasien dan dalam penentuan
ruang perawatan.
 Fungsi
1. Sebagai koordinator untuk penerimaan pasien di rawat inap baik yang berasal
dari rawat jalan maupun UGD
2. Melaksanakan instruksi rujukan dari rawat jalan dan emergency
3. Mengatur tujuan pengiriman pasien ke ruang bangsal sesuai dengan instruksi
rujukan dan kondisi yang ada
4. Menentukan posisi pasien dalam daftar tunggu untuk mendapatkan pelayanan
lain
 Tujuan
1. Menentukan persyaratan pasien bisa masuk ke rumah sakit
2. Menerima pasien yang akan masuk bangsal rawat inap
3. Memproses perpindahan pasien antar bangsal perawatan di dalam rumah sakit
tersebut, antarrumah sakit dan tempat pelayanan kesehatan lainnya
4. Memproses pemulangan pasien dan kematian pasien
5. Mengelola pasien daftar pasien yang menunggu termasuk pasien dalam waiting
list
6. Memberikan konsultasi keuangan kepada pasien sebelum atau awal
pendaftaran
 Ruang Lingkup
1. Pengaturan jadwal pasien
2. Penempatan pasien
3. Pendaftaran pendahuluan, pendaftaran pasien rawat jalan, pendaftaran praktek
dokter, ruang perawatan, ruang darurat
4. Evaluasi kemampuan keuangan dan konseling
5. Informasi kepada pasien
6. Pembuatan sertifikat
7. Surat kelahiran dan kematian
8. Memproses ijin perawatan , ijin memberikan informasi, perawatan dan wasiat

84
9. Transportasi
10. Uji komunikasi
11. Hubungan dengan pasien
12. Memelihaha sistem identifikasi pasien
 Proses pelaksanaan
1. Tahap pra penerimaan (Pre Admission)
Proses pra penerimaan pasien adalah pengumpulan data pribadi pasien dan
data kemampuan keuangan/sumber pembiayaan sebelum pasien masuk rumah
sakit. Data ini biasanya didapat melaluisurat atau telepon sebelum pasien
masuk ke rumah sakit, untuk mendapatkan informasi tersebut dapat dipakai
formulir pra penerimaan.
2. Tahap penerimaan (Admission)
Pada tahap ini dapat dipakai sebagai kesempatan untuk mendapatkan
informasi yang selengkap-lengkapnya mengenai pasien dalam waktu yang
relative singkat.
3. Tahap Rekening (Billing)
Pada saat bagian keuangan mendapatkan informasi bahwa pasien rawat inap
akan keluar rumah sakit atau meninggal, maka pembuatan rekening pasien
segera dimulai. Lebih cepat pihak yang bertanggung jawab atas biaya pasien
mengetahui jumlah yang harus dibayar, lebih besar kemungkinan pembayaran
yang akan diterima.

Kajian Data

Tabel 27. Standar Prosedur Operasional Admision care di Ruang Paviliun


Wijaya Kusuma RSUD Banyumas
No Prosedur Ya Tidak

Tahap interaksi
A
1. Perawat mengenalkan nama 2 1

2. Sediakan privasi untuk klien dan keluarga 3

85
3. Orientasikan klien dan keluarga pada 3
lingkungan sekitar
4. Orientasikan klien dan keluarga pada 3
fasilitas yang lain
5. Lakukan pengkajian riwayat 3

6. Lakukan pengkajian fisik awal 3


3
7. Lakukan pengkajian keuangan awal dengan
cara yang tepat
8. Lakukan pengkajian psikososial awal
dengan tepat 3
9. Lakukan pengkajian religius awal dengan 3
tepat
10. Sediakan klien dengan hak dan kewajiban 3
klien
11. Dokumentasikan informasi yang 3
didapatkan
12. Pelihara kerahasiaan data klien 3
13. Kenali risiko klien untuk masuk kembali ke 3
unit perawatan
14. Buat diagnosa perawatan 1 2

15. Mulai membuat discharge planning. 1 2


16. Implementasikan pencegahan keamanan 2 1
dengan cara yang tepat
17. Berikan label pada papan klien 3
18. Beritahukan dokter tentang klien dan status 3
klien
19. Dapatkan order dari dokter untuk 3
perawatan klien
Total 47 9
Pesentase 84,2% 15,8%
SOP Admision Care RSUD Banyumas
Analisis:
Dari hasil pengkajian yang dilakukan didapatkan nilai 84,2% hal ini dapat
diartikan adanya pemberian admission care sudah sesuai dengan standar yang ada.
Dan terlihat ada beberapa yang perlu dikemabangkan kembali guna meningkatkan
admission care masing-masing ruangan.
86
Standar Operasional Prosedur Instrumen C
Kajian Teori
Suatu standar/ pedoman tertulis yang dipergunakan untuk mendorong dan
menggerakkan suatu kelompok untuk mencapai tujuan organisasi. Standar operasional
prosedur merupakan tata cara atau tahapan yang dibakukan dan yang harus dilalui
untuk menyelesaikan suatu proses kerja tertentu (Perry dan Potter, 2005).
Tujuan SOP antara lain :
1) Petugas/ pegawai menjaga konsistensi dan tingkat kinerja petugas/ pegawai atau
tim dalam organisasi atau unit kerja.
2) Mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi dalam organisasi.
3) Memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari petugas/ pegawai
terkait.
4) Melindungi organisasi/ unit kerja dan petugas/ pegawai dari malpraktek atau
kesalahan administrasi lainnya.

Tabel 28. Lembar Observasi Melakukan Injeksi Intravena Bolus


No Prosedur Ya Tidak
1 A. Fase Pra Interaksi
1. Melakukan verivikasi data sebelumnya
bila ada 5
2. Persiapan alat: 5
a. Bak injeksi
b. Alkohol swab 5
c. Spuit berisi obat 5
d. Bengkok/piala ginjal
e. Sarung tangan 5
B. Fase orientasi 5
1. Lakukan kebersihan tangan
2. Berikan salam 5
3. Perkenalan diri 5
4. Pastikan identitas
5. Jelaskan tujuan tindakan dan prosedur 5
6. Tanyakan kesiapan pasien 5

87
C. Fase Kerja 5
1. Lakukan kebersihan tangan
2. Pakai sarung tangan 5
3. Atur posisi port injeksi pada daerah 5
yang bebas dan aman
4. Bersihkan daerah penyuntikan dengan 5
alkohol swab 5
5. Tusukkan jarum kedalam port injeksi
yang telah tersedia dalam infuse set 5
(karet khusus)
6. Hentikan aliran infuse dengan cara
diklem dan lakukan aspirasi, pastikan
jalur IV line baik dengan adanya
darah saat di aspirasi 5
7. Masukkan obat perlahan-lahan 5
sampai habis
8. Cabut jarum setelah obat masuk 5
semua 5
9. Buang spuit dan jarum bekas pada
bengkok 5
10. Buka klem infuse dan atur kembali
5
tetesan infuse
11. Rapikan pasien 5
12. Bereskan alat
13. Lakukan evaluasi 5
14. Lepas sarung tangan
D. Fase Terminasi 5
1. Berpamitan
2. Lakukan kebersihan tangan 5
3. Dokumentasikan tindakan yang 5
dilakukan
Jumlah 95 50
Prsesentase 65,52% 34,48%
SOP injeksi intravena bolus RSUD Banyumas
Analisa:
Dari hasil pengkajian yang dilakukan dengan observasi sebanyak 3 kali kepada 3
perawat saat shift pagi, siang dan malam selama 2 hari pada dasarnya pelaksanaan
tindakan injeksi intravena bolus kurang baik. Hal ini dapat disimpulkan dari nilai hasil
observasi yaitu 65,52% dalam katagori cukup. Perawat tidak memperkenalkan diri,

88
mencuci tangan,memastikan identitas pasien serta tanpa memakai sarung tangan
sebagai APD perawat.
Tabel 29. Lembar Observasi Tekanan Darah
No Prosedur Ya Tidak
1 A. Fase Pra Interaksi 5
1. Melakukan verivikasi data sebelumnya
bila ada 5
2. Persiapan alat: 5
a. Tensimeter
b. Stetoskop 5
c. Buku catatan
B. Fase Orientasi 5
1. Lakukan kebersihan tangan
2. Berikan salam 5
3. Perkenalan diri 3 2
4. Pastikan identitas
5. Jelaskan tujuan tindakan dan prosedur 5
6. Tanyakan kesiapan pasien 5
C. Fase Kerja 5
1. Kebersihan tangan
2. Ucapkan salam 5
3. Pastikan identitas pasien 5
4. Perkenalkan diri
5. Jelaskan prosedur tindakan 3 2
6. Buka dan gulung lengan baju pasien 5
7. Pasang manset tensimeter pada lengan
atas dengan pipa karetnya berada disisi 5
luar lengan
5
8. Pasang pompa tensimeter
9. Pasang pangkal stetoskop di telinga 5
10. Raba arteri brachialis, lalu membran
stetoskop ditempatkan pada daerah 5
tersebut 5
11. Tutup sekrup balon karet, pengunci air
raksa dibuka, selanjutnya balon
dipompa sampai denyut arteri tidak 5
terdengar lagi dan air raksa di dalam
gelas naik
12. Buka sekrup balon perlahan-lahan
5
sehingga air raksa turun perlahan-
lahan. Sambil mempertahatikan 5

89
turunnya air raksa, dengarkan bunyi 5 SOP
denyutan pertama.
13. Dengarkan terus sampai denyutan yang 5
terakhir 5
14. Rapikan pasien
15. Bereskan alat
16. Pamitan dengan pasien 5
17. Kebersihan tangan setelah selesai
melakukan tindakan perawat 5
18. Dokumentasikan hasil tekanan darah
D. Fase Terminasi 5
1. Berpamitan
2. Lakukan kebersihan tangan 5
3. Dokumentasikan tindakan yang 5
dilakukan
Jumlah 109 49
Prsesentase 69,9 30.05
5% %
mengukur tekanan darah RSUD Banyumas
Analisa:
Dari hasil pengkajian yang dilakukan dengan observasi sebanyak 3 kali kepada
3 perawat saat shift pagi, siang dan malam selama 2 hari pada dasarnya pelaksanaan
tindakan mengukur tekanan darah sudah terlaksana cukup baik dengan persentase
69,95%.
Tabel 30. Lembar Observasi Pemasangan Infus Dewasa
No Prosedur Ya Tidak
A. FASE PRA INTERAKSI
1. Melakukan verifikasi data sebelumnya
bila ada 5
2. Persiapan alat: 5
a. Sarung tangan 1 steril
b. Selang infus sesuai kebutuhan (makro 5
drip) 5
c. Cairan parenteral sesuai program
d. Jarum iv catether (ukuran 20-16) 5
e. Kapas alkohol dalam kom
5
(secukupnya)
f. Desinfeksi 5
g. Torniquet / manset
h. Perlak dan pengalas
90
i. Bengkok 1 buah 3 2
j. Plester / hypafix
k. Leukomed 5
5
B. FASE ORIENTASI 5
1. Lakukan kebersihan tangan
2. Berikan salam/ Selamat pagi/ 5
siang/malam 2 3
3. Perkenalan diri
4. Pastikan identitas pasien 5
5. Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan 5
6. Pastikan kesiapan pasien
C. FASE KERJA 5
1. Lalukan kebersihan tangan
2. Lakukan desinfeksi tutup botol 5
cairan 5
3. Tutup infus set (klem)
4. Tusukan infus set dengan benar 5
5. Gantung botol cairan dengan benar 5
6. Isi tabung reservoir infus set sesuai
batasnya 5
7. Alirkan cairan hingga tidak ada
5
udara dalam selang
8. Atur posisi pasien dan pilih vena 5
besar dan lurus dan bawah dorsalis
superfisialis, sefilika, basalika,
mediana antecubiti 5
9. Pasang perlak dan alatnya
10. Bebaskan daerah yang akan di
insersi 5
11. Letakkan torniquet 5 cm proksimal
yang akan ditusuk 5
12. Lakukan kebersihan tangan
13. Pakai hand schoon
14. Bersihkan kulit dengan kapas 5
alkohol ( melingkar dari dalam
keluar) 5
15. Pertahankan vena pada posisi 5
stabil
16. Pegang IV cateter dengan sudut
30˚ 5
17. Tusuk vena dengan lobang jarum
menghadap keatas 5

91
18. Pastikan IV cateter masuk intra 5
vena kemudian menarik mandrin ±
0,5 cm 5
19. Masukkan IV cateter secara 5
perlahan
20. Tarik mandrin dan menyambung 5
dengan selang infusan 5
21. Lepaskan toniquet
22. Alirkan cairan infuse 5
23. Lakukan fiksasi IV cateter
5
24. Beri desinfeksi daerah tusukan dan
munutup dengan Leukomed 5
25. Atur tetesan sesuai program
26. Bereskan alat 5
27. Rapikan alat 5
D. FASE TERMINASI 5
1. Berpamitan
2. Lakukan kebersihan tangan 5
3. Dokumentasikan tindakan yang 5
dilakukan
Jumlah 225 15
Prsesentase 93,75% 62,5%
SOP memasang infus dewasa RSUD Banyumas
Analisa:
Dari hasil pengkajian yang dilakukan dengan observasi kepada 3 perawat saat
shift pagi dan siang selama 2 hari pada pelaksanaan tindakan pemasangan infus.
Hal ini dapat disimpulkan dari nilai hasil observasi yaitu 93,75 % dalam katagori
baik. Perawat tidak memperkenalkan diri, mendesinfeksi tutup botol cairan, dan
memasang perlak.
Tabel 31. Lembar Observasi Pemberian Inhalasi Melalui Nebulizer
No Prosedur Ya Tidak
A. FASE PRA INTERAKSI
1. Melakukan verifikasi data sebelumnya bila ada
2. Persiapan alat: 5
a. Obat bronkodilator 5
b. Spuit 5 cc
c. Bengkok
d. Tissu

92
B. FASE ORIENTASI 5
1. Lakukan kebersihan tangan
2. Berikan salam/ Selamat pagi/ siang/ malam 5
3. Perkenalkan diri 2 3
4. Pastikan identitas pasien
5. Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan 5
6. Pastikan kesiapan pasien 5
C. FASE KERJA 5
1. Cuci tangan sesuai prosedur
2. Jaga privasi pasien 5
3. Jelaskan langkah dan tujuan 5
4. Berikan posisi semi fowler
5. Kaji keluhan, auskultasi paru sebelum pengobatan 5
6. Masukkan obat ke dalam tempat obat pada alat 5
nebulizer
7. Hubungkan alat nebulizer dengan listrik 5
8. Hidupkan nebulizer, cek adanya uap yang keluar
5
9. Pasang masker pada daerah hidung dan mulut
dengan benar 5
10. Pegang masker hingga obat bronkodilator habis
11. Lepas masker 5
12. Cabut sambungan alat nebulizer 5
13. Periksa auskultasi paru setelah pemberian obat
nebulizer 5
14. Dokumentasikan sebelum dan sesudah tindakan 5 5
D. FASE TERMINASI 5
1. Berpamitan
2. Lakukan kebersihan tangan 5
3. Dokumentasikan tindakan yang dilakukan 5
Jumlah 117 8
Presentase 93,6% 6,4%
SOP pemberian inhalasi nebulizer RSUD Banyumas
Analisis:
Dari hasil pengkajian yang dilakukan dengan observasi sebanyak 5 kali kepada 3
perawat saat shift pagi, siang dan malam selama 2 hari pada dasarnya pelaksanaan
tindakan pemberian obat melalui nebulizer baik. Hal ini dapat disimpulkan dari nilai
hasil observasi yaitu 93,6% dalam katagori baik. Perawat tidak memperkenalkan diri
dan memeriksa auskultasi paru setelah pemberian obat nebulizer.
93
Tabel 32. Lembar Observasi Mengukur Suhu Badan Di Ketiak
No Prosedur Ya Tidak
A. FASE PRA INTERAKSI 5
1. Melakukan verifikasi data sebelumnya bila ada
2. Persiapan alat: 5
a. Termometer
b. Alkohol swab
c. Bengkok
d. Tissue
e. Buku catatan suhu badan
B. FASE ORIENTASI 5
1. Lakukan kebersihan tangan
2. Berikan salam/ Selamat pagi / siang / malam 5
3. Perkanalan diri 5
4. Pastikan identitas pasien
5. Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan 5
6. Pastikan kesiapan pasien 5
C. FASE KERJA 5
1. Kebersihan tangan
2. Ucapan salam, “Assalam’alaikum / Selamat pagi 5
/ Selamat siang / Selamat sore / Selamat malam” 5
3. Pastikan identitas pasien
4. Perkenalkan diri 5
5. Jelaskan prosedur tindakan 5
6. Buka baju pasien
7. Keringkan ketiak dengan tissue 2 3
8. Pastikan termometer
5
9. Jepitkan termometer tepat ditengah ketiak dan
lengan pasien diletakkan di dada 5
10. Biar selama 10 menit
11. Angkat termometer dan baca hasilnya, catat 5
dalam buku 5
12. Lap termometer dengan tissue
13. Bereskan alat 3 2
14. Pamitan dengan pasien 5
15. Kebersihan tangan sesuai prosedur
16. Dokumentasi hasil 5
D. Hal – hal yang perlu diperhatikan
5
 Perhatikan safety pasien
5
Jumlah 115 5

94
Presentasi 95,83% 4,17%
SOP mengukur suhu tubuh di ketiak RSUD Banyumas
Analisa:
Dari hasil pengkajian yang dilakukan dengan observasi sebanyak 3 kali kepada 3
perawat saat shift pagi, siang dan malam selama 2 hari pada dasarnya pelaksanaan
tindakan mengukur suhu badan di ketiak baik. Hal ini dapat disimpulkan dari nilai
hasil observasi yaitu 95,83 % dalam katagori baik. Perawat terkadang tidak
mengeringkan ketiak dengan tissue dan mengelap termometer dengan tissue.

Keselamatan Pasien (Patient Safety)


Kajian Teori
Keselamatan pasien (patient safety) rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah
sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Sistem tersebut meliputi: assessmen risiko,
identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan
dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta
implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko. Sistem tersebut
diharapkan dapat mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak melakukan tindakan yang seharusnya
dilakukan(DEPKES, 2006).
Tujuan :
1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di RS
2. Meningkatnya akutanbilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat
3. Menurunnya kejadian tidak diharapkan (KTD) di rumah sakit.
4. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan
kejadian tidak diharapkan.
Enam sasaran patient safety
1. Mengidentifikasi pasien dengan benar
Rumah sakit mengembangkan pendekatan untuk memperbaiki / meningkatkan
ketelitian dalam mengidentifikasi pasien. Kesalahan dalam mengidentifikasi
pasien bisa terjadi pada pasien yang dalam keadaan yang terbius/tersedasi,
disorientasi, tidak sadar, bertukar tempat tidur / kamar / lokasi di rumah sakit,
95
adanya kelainan sensori, atau akibat situasi yang lain. Adapun maksud dari
sasaran ini adalah untuk melakukan dua kali pengecekan dalam setiap kegiatan
pelayanan ke pasien. Pertama untuk identifikasi pasien sebagai individu yang
akan menerima pelayanan atau pengobatan dan kedua untuk kesesuaian
pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut. Kebijakan atau prosedur
yang dilakukan secara kolaboratif dikembangkan untuk memperbaiki proses
identifikasi khususnya pada proses pengidentifikasian pasien ketika pemberian
obat, darah, atau produk dan spesimen lain untuk pemeriksaan klinis atau
pemberian pengobatan serta tindakan lain. Kebijakan atau prosedur tersebut
memerlukan sedikitnya dua cara untuk mengidentifikasi seorang pasien seperti
nama pasien, nomor rekam medis, tanggal lahir, gelang identitas pasien
dengan bar-code, dan lainlain. Suatu proses kolaboratif digunakan untuk
mengembangkan kebijakan atau prosedur agar dapat memastikan semua
kemungkinan situasi untuk dapat diidentifikasi dengan tepat dan cepat.

Tabel 33. Pelaksanaan pasien safety : Identifikasi Pasien Di Ruang Paviliun


Wijaya Kusuma RSUD Banyumas Periode 11 – 13 Desember 2018
PILIHAN
No INDIKATOR YA TIDAK
1. Identitas gelang pasien sesuai dengan nama 1 2
pasien, No. RM pasien, tanggal lahir pasien
2. Identitas gelang pasien sesuai dengan label obat 3 0
pasien
3. Perawat menanyakan nama pasien dan 1 2
mencocokan di gelang identitas pasien saat
memberikan obat pasien
4. Perawat menanyakan nama pasien dan 2 1
mencocokan di gelang identitas pasien saat
melakukan tindakan, laboratorium, rongent dan
operasi
Jumlah 7 5
Presentase 58,3% 41,67%

Observasi Mahasiswa Stikes St. Elisabeth 2018

96
Analisa : Berdasarkan observasi dan pengisian ceklits yang di temukan di ruang
paviliun wijaya kusuma adalah 58,33% berdasarkan obsrvasi Identifikasi pasien di
ruang paviliun wijaya kusuma yang di observasi pada 3 perawat terdapat satu
perawat yang melupakan satu item penting saat mengidentifikasi pasien sehingga
presentase identifikasi pasien sebesar 58,33% termasuk dalam kategori tidak baik,
maka dari itu identifikasi pasien di ruang paviliun wijaya kusuma sudah diterapkan
namun ada beberapa item indikator yang tidak dilakukan oleh perawat.

2. Meningkatkan komunikasi yang efektif

Komunikasi merupakan aspek pentinya yang harus dimiliki oleh pemberian jasa
pelayanan keperawatan karena sumber daya manusia yang terbanyak di rumah sakit
adalah perawat dan selama 24 jam berkesinambungan selalu mendampingi pasien.
Komunikasi efektif dalam praktik keperawatan profesional merupakan unsur utama
bagi perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan dalam mencapai hasil yang
optimal. Salah satu kegiatan keperawatan yang memerlukan komunikasi efektif
adalah saat serah terima tugas (handover) dan komunikasi lewat telefon, komunikasi
kepada pasien, perawat, karu, ketua tim dan dokter. Menurut teori KARS (2013).

3. Meningkatkan keamanan obat-obatan yang harus diwaspadai


Rumah sakit perlu mengembangkan suatu pendekatan untuk memperbaiki
keamanan obat-obat yang perlu diwaspadai (high-alert). Bila obat-obatan menjadi
bagian dari rencana pengobatan pasien, manajemen rumah sakit harus berperan
secara kritis untuk memastikan keselamatan pasien agar terhindar dari risiko
kesalahan pemberian obat. Obat-obatan yang perlu diwaspadai (highalert
medications) adalah obat yang sering menyebabkan terjadi kesalahan serius
(sentinel event), obat yang berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak
diinginkan (adverse outcome) seperti obat-obat yang terlihat mirip dan
kedengarannya mirip. Rumah sakit secara kolaboratif mengembangkan suatu
kebijakan atau prosedur untuk membuat daftar obat-obat yang perlu diwaspadai
berdasarkan data yang ada di rumah sakit tersebut. Kebijakan atau prosedur
juga dapat mengidentifikasi area mana saja yang membutuhkan elektrolit
97
konsentrat, seperti di IGD atau kamar operasi, serta pemberian label secara benar
pada elektrolit dan bagaimana penyimpanannya di area tersebut, sehingga
membatasi akses, untuk mencegah pemberian yang tidak sengaja/kurang hati-
hati.

Tabel 34. Pelaksanaan Pasien safety : Keamanan Obat Higt Alert di Ruang
Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas Periode 11 – 13 Desember 2018

NO VARIABEL YA TIDAK
1 Tersedia loker pemisahan obat antar pasien 1 0
2 Pemisahan obat norum ( nama obat, rupa dan 1 0
ucapan mirip )
3 Penyimpanan obat sesuai indikasi tempat 1 0
penyimpanan
4 Tersedia obat emergency di troli emergency 1 0
5 Penyimpanan obat higt alert 1 0
1. Penyimpanan tempat terkunci
2. Jauh dari tempat pasien
3. Memiliki daftar obat dan jumlah obat- obat
higt alert
6 Tersedia 6 benar obat di buku injeksi: 0 1
- Benar nama
- Benar obat
- Benar dosis
- Benar waktu pemberian
- Benar cara pemberian
- Benar dokumentasi
Jumlah 5 1
Prosentase 83,33% 16,66%

Analisa :

Keamanan obat higt alert yang dilakukan oleh petugas di ruang Paviliun Wijaya
Kusuma sebesar 83,33% yaitu dalam kategori baik sehingga penerapan pasien
safety tentang keamanan obat sudah diterapkan secara maksimal walaupun ada satu
item yang tidak dilakukan secara optimal oleh perawat.

4. Memastikan lokasi pembedahan yang benar, prosedur yang benar,pembedahan


pada pasien yang benar.

98
Rumah sakit dapat mengembangkan suatu pendekatan untuk memastikan
pemberian pelayanan dilakukan dengan tepat lokasi, tepat-prosedur, dan tepat-
pasien. Salah lokasi, salah pasien, salah prosedur, pada operasi adalah sesuatu
yang menkhawatirkan dan kemungkinan terjadi di rumah sakit. Kesalahan ini
merupakan akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau yang tidak adekuat
antara anggota tim bedah, kurangnya melibatkan pasien di dalam penandaan
lokasi (site marking), dan tidak ada prosedur untuk verifikasi lokasi operasi.
Di samping itu, pemeriksaan pasien yang tidak adekuat, penelaahan ulang
catatan medis yang kurang tepat, budaya yang tidak mendukung komunikasi
terbuka antar anggota tim bedah atau operasi, permasalahan yang berhubungan
dengan tulisan tangan yang tidak terbaca (illegible handwritting) dan pemakaian
singkatan adalah faktor-faktor yang dapat menyebabkan kesalahan. Rumah sakit
perlu untuk secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan atau prosedur
yang efektif di dalam mengeliminasi masalah yang mengkhawatirkan ini.
Digunakan juga keadaan yang berbasis bukti, seperti yang digambarkan di
Surgical Safety Checklist dari WHO Patient Safety (2009), juga di The Joint
Commission’s Universal Protocol for Preventing Wrong Site, Wrong Procedure,
Wrong Person Surgery. Penandaan lokasi operasi perlu melibatkan pasien dan
dilakukan atas satu pada tanda yang dapat dikenali. Tanda itu harus digunakan
secara konsisten di rumah sakit dan harus dibuat oleh operator yang akan
melakukan tindakan, dilaksanakan saat pasien terjaga dan sadar jika
memungkinkan, dan harus terlihat sampai saat akan disayat. Penandaan lokasi
operasi dilakukan pada semua kasus termasuk sisi (laterality), multipel struktur
(jari tangan, jari kaki, lesi) atau multipel level (bagian tulang belakang). Proses
verifikasi praoperatif ditujukan untuk memverifikasi lokasi, prosedur, dan pasien
yang benar; memastikan bahwa semua dokumen, foto (imaging), hasil
pemeriksaan yang relevan tersedia dan diberi label dengan baik serta dipampang
dan melakukan verifikasi ketersediaan peralatan khusus dan/atau implant -
implant yang dibutuhkan. Tahapan “Sebelum insisi” (Time out) memungkinkan
semua pertanyaan atau kekeliruan diselesaikan dengan baik dan tepat. Time out

99
dilakukan di tempat dimana tindakan akan dilakukan, tepat sebelum tindakan
dimulai, dan melibatkan seluruh tim operasi. Rumah sakit menetapkan bagaimana
proses itu didokumentasikan secara ringkas, misalnya menggunakan checklist dan
sebagainya.
5. Mengurangi resiko infeksi akibat perawatan kesehatan
Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi risiko
infeksi yang terkait pelayanan kesehatan yang diberikan. Pencegahan dan
pengendalian infeksi merupakan tantangan terbesar dalam tatanan pelayanan
kesehatan dan peningkatan biaya untuk mengatasi infeksi yang berhubungan
dengan pelayanan kesehatan merupakan hal yang menjadi perhatian besar bagi
pasien maupun para profesional pelayanan kesehatan. Infeksi biasanya dijumpai
dalam semua bentuk pelayanan kesehatan termasuk infeksi saluran kemih,
infeksi pada aliran darah dan pneumonia. Pusat dari eliminasi infeksi ini
maupun infeksi-infeksi lain adalah kegiatan cuci tangan (hand hygiene) yang
tepat. Pedoman hand hygiene bisa dibaca di kepustakaan WHO, dan berbagai
organisasi nasional dan internasional. Rumah sakit mempunyai proseskolaboratif
untuk mengembangkan kebijakan atau prosedur yang menyesuaikan atau
mengadopsi petunjuk hand hygiene yang diterima secara umum dan untuk
implementasi petunjuk itu di rumah sakit.

Tabel 35. Pelaksanaan Pasien safety : Mengurangi resiko infeksi akibat


perawatan kesehatan di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas
Periode 11-13 Desember 2018

MENCUCI
5 MOMEN CUCI TANGAN TANGAN
NO
YA TIDAK
1. Sebelum kontak dengan pasien 2 2
2. Sebelum melakukan tindakan aseptic 3 1
3. Setelah kontak dengan pasien 0 4
4. Setelah terkena cairan tubuh pasien 4 0

100
5. Setelah kontak dengan lingkungan pasien 3 1
Jumlah 12 8
Presentasi 60% 40%

Sumber: Observasi mahasiswa Stikes St. Elisabeth Semarang 2018

Analisa : Hasil obsevasi selama 3 hari didapatkan hasil bahawa dari 4 orang perawat
yang di observasi didapatkan hasil bahwa rata-rata kebersihan tangan sebesar kategori
buruk. Padahal, kategori untuk cuci tangan hendaknya mutlak 100%.

6. Mengurangi resiko cedera pasien akibat terjatuh


Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi risiko
pasien dari cedera karena jatuh. Jumlah kasus jatuh cukup bermakna sebagai
penyebab cedera bagi pasien rawat inap. Dalam konteks masyarakat yang
dilayani, pelayanan yang disediakan, dan fasilitasnya rumah sakit perlu
mengevaluasi risiko pasien jatuh dan mengambil tindakan untuk mengurangi
risiko cedera bila sampai jatuh. Evaluasi bisa termasuk riwayat jatuh, obat dan
telaah pasien yang bermkemungkinan mengkonsumsi alkohol, gaya jalan dan
keseimbangan, serta alat bantu berjalan yang digunakan oleh pasien.
Tabel 36. Ketentuan Skala Morse
TINGKATAN NILAI MPS TINDAKAN
RESIKO
Tidak Beresiko 0 – 24 Perawatan Dasar
Resiko Rendah 25 – 50 Pelaksanaan Intervensi Pencegahan
Jatuh Standar.
Resiko Tinggi ≥51 Pelaksanaan Intervensi Pencegahan
Jatuh resiko tinggi

101
Tabel 37. Pelaksanaan Pasien safety : Mengurangi resiko cidera pasien
akibat jatuh di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas
Periode 11-13 Desember 2018

TOTAL
NO PERNYATAAN
YA TdK
1. Perawat melakukan pengidentifikasian resiko 4 0
jatuh
2. Perawat mengaplikasikan pengidentifikasian 4 0
resiko jatuh pada setiap pagi harinya
3. Perawat sudah menjelaskan tentang resiko 2 2
jatuh kepada pasien/keluarga
4. Terdapat label atau tanda resiko jatuh pada 0 4
pasien yang beresiko
5. Perawat mendokumentasikan resiko jatuh 0 4
dengan lembar penilaian resiko jatuh “Morse
Fall Scale”
Jumlah 10 10
Presentase 50% 50%
Sumber: data primer ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas 2018
Analisia :
Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa penatalaksanaan pasien resiko
jatuh di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma sebesar 50% dengan kategori kurang.
Setelah dilakukan wawancara dengan 4 perawat di ruang Ruang Paviliun Wijaya
Kusuma mengatakan mengetahui tentang resiko jatuh, tetapi belum dapat
mengaplikasikan karena belum tersedianya lembar penilaian resiko jatuh
menurut Morse Fall Scale, tetapi perawat sebelumnya sudah mengkonfirmasi
dengan anggota keluarga pasien untuk menjaga keamanan pasien dengan
memasang pengaman tempat tidur. Namun perlu ditingkatkan untuk indikator
yang masih kurang seperti menuliskan tanda risiko jatuh pasien di white board
pada nurse stasion agar pasien tetap selalu terpantau keselamatannya dan
perawat selalu waspada, Mengatur tinggi rendahnya tempat tidur sesuai dengan
prosedur pencegahan pasien jatuh, dan Memastikan pagar pengaman tempat
tidur dalam keadaan terpasang saat pasien sendirian. Dari hasil observasi tidak

102
dipasangnya tanda risiko jatuh dikarenakan kurangnya ketersediaan gelang dan
tanda segitiga risiko jatuh.

Pencegahan danPengendalian Infeksi (PPI )

Kajian Teori

HAIS (Healthcare Associated Infections) / Infeksi Nosokomial


Infeksi nosokomial atau infeksi yang diperoleh dari rumah sakit adalah infeksi yang
tidak diderita pasien saat masuk ke rumah sakit melainkan setelah kurang lebih 72
jam berada di tempat tersebut).
APP (Alat Perawatan Peralatan)
1) Tangani peralatan yang tercemar dengan benar untuk mencegah kontak
langsung dengan kulit atau membran mukosa/selaput lendir.
2) Cegah terjadinya kontaminasi pada pakaian atau lingkungan.
3) Cuci dan desinfeksi (pembasmian hama penyakit) peralatan bekas pakai
sebelum digunakan kembali.
Linen (perlak)
1) Tangani linen (perlak) kotor dengan menjaga jangan terkena kulit atau
membrane mukosa jangan merendam/membilas linen kotor diwilayah ruang
perawatan.
2) Jangan mengibaskan linen dan melekatkan linen kotor di lantai
3) Segera ganti linen yang tercemar/terkena darah/ cairan tubuh.
4) Penggantian plastik linen terbagi atas 3 warna :
a) Putih : linen non infeksius
b) Kuning : linen infeksius
c) Hitam : limbah non infeksius
Cuci tangan 6 langkah dan 5 moment
Cuci tangan adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan
dan jari dengan menggunakan air ataupun cairan lainnya oleh manusia dengan
tujuan untuk menjadi bersih.

103
6 langkah cuci tangan dengan benar :
a) Basahi tangan dengan air di bawah air yang mengalir
b) Ambil sabun cair secukupnya untuk seluruh tangan
c) Gosokkan kedua telapak tangan
d) Gosokkan sampai ke ujung jari
e) Telapak tangan kanan menggosok punggung tangan kiri atau sebaliknya
dengan jari-jari saling mengunci antara tangan kanan dan kiri, gosok
sela-sela jari tersebut lakukan sebaliknya
f) Lakukan punggung jari satu dengan punggung jari lainnya dan saling
mengunci
g) Usapkan ibu jari tangan kanan dengan telapak tangan kiri dengan gerakan
memutar. Lakukan hal yang sama dengan ibu jari tangan kiri
h) Bersihkan sabun dari kedua tangan dengan air mengalir
i) Keringkan tangan dengan tissue
5 moment cuci tangan
a) Sebelum bersentuhan dengan pasien
b) Sebelum melakukan prosedur bersih atau steril
c) Setelah bersentuhan dengan cairan tubuh pasien yang beresiko tinggi
d) Setelah bersentuhan dengan pasien
e) Setelah bersentuhan dengan lingkungan sekitar pasien

Kajian Data

Observasi yang kami lakukan untuk mengetahui Pencegahan dan


pengendalian Infeksi di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas
Periode 11 – 13 Desember 2018 dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 38. Kebersihan Tangan di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma
RSUD Banyumas Periode 11-13 Desember 2018

Indikator Ya Tidak
a. Sarana Kebersihan Tangan Handrub

104
1. Tersedia Handrub disetiap troly 1
tindakan

2. Tersedia Handrub disetiap pintu masuk 1

3. Handrub tertera tanggal dibuka 1

4. Terseia poster Handrub 1

b. Sarana Kebersihan Tangan Handwash

1. Wastafel bersih bebas dari peralatan 1


lain

2. Tersedia sabun cuci tangan 1

3. Tersedia tissu / handuk sekali pakian 1


dalam tempatnya

4. Tersedia tempat sampah non infeksius / 1


tempat handuk kotor

Jumlah 8 1
Presentase 88,9% 11,11%
Sumber: Data primer Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas
Analisa :

Hasil obsevasi selama 3 hari didapatkan hasil bahwa dari 5 orang perawat
yang di observasi rata-rata kebersihan tangan sebesar 88% kategori baik.
Padahal, kategori untuk cuci tangan hendaknya mutlak 100%.

Tabel 39. Alat Perlindungan Diri di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma


RSUD Banyumas Periode 11-13 Desember 2018

Indikator Ya Tidak
a. Sarana Alat Perlindungan Diri

1. Topi tersedia dalam tempatnya 1

5. Apron tersedia dalam tempatnya 1

105
6. Sarung tangan tersedia dalam 1
tempatnya

7. Masker tersedia dalam tempatnya 1

8. Sepatu tersedia dalam tempatnya 1

b.kepatuhan penggunaan APD


1. Pemakaian topi sesuai indikasi 1

2. Pemakaian apron sesuai indikasi 1

3. Pemakaian sarung tangan sesuai 1


indikasi

4. Pemakaian masker sesuai indikasi 1


5.Pemakaian sepatu sesuai indikasi 1
Jumlah 5 5
Presentase 50 % 50 %
Sumber: Data primer Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas

Analisa:
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma
dapat disimpulkan bahwa pencegahan infeksi nosokomial tentang alat pelindung
diri, yang diobservasi selama 3 hari dari periode 11-13 Desember 2018 temasuk
dalam kriteria baik yaitu sebesar 100%.
Tabel 40. Pengendalian Lingkungan di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma
RSUD Banyumas Periode 11-13 Desember 2018

Indikator Ya Tidak
1. Lantai dalam keadaan bersih 1

2. Kaca dalam keadaan bersih 1

3. Meja dalam keadaan bersih 1

4. Lemari pasien bersih dan rapi 1

5. Meja tindakan dalam keadaan bersih dan 1


rapi

106
6. Botol infus yang tidak terpakai tidak 1
tergantung

7. Selang oksigen yang tidak terpakai tetap 1


masih digunakan tersimpan dalam plastik

Jumlah 7 0
Presentase 100% 0%
Sumber: Data primer Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas

Analisa:
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma
dapat disimpulkan bahwa pencegahan infeksi nosokomial tentang kebersihan
lingkungan, yang diobservasi selama 3 hari dari periode 11-13 Desember 2018
temasuk dalam kriteria baik yaitu sebesar 100%.
Tabel 41. Manajemen Limbah di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma
RSUD Banyumas Periode 11-13 Desember 2018

No Jenis monitoring Indikator Ya Tidak


1 Manajemen limbah 1. Tersedia tempat sampah 1
infeksiusberwarna kuning
2. Tersedia tempat sampah 1
non infeksius berwarna
hitam
3. Tersedia savety box di 1
troly menyuntik

4. Membuang sampah 1
infeksius (kassa, blood
set, selang infus, kateter
urin, dll) ke tempat
sampah infeksius /
kantong kuning

5. Membuang sampah non 1


infeksius (kassa, blood
set, selang infus, kateter
urin, dll) ke tempat
sampah infeksius /
kantong hitam

107
6. Membuang sampah 1
infeksius (diapers,
pembalut, kasa, blood
set, sarung tangan, dll)
dibuang pada kantong
infeksius (kantong
kuning)

7. Membuang sampah 1
sitotoksik / sampah
kemotrapi kedalam
kantong ungu

8. Semua tempat sampah ¾ 1


dibuang
Jumlah 7 1
Presentase 85,7% 12,5
Sumber: Data primer Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas
Analisis:

Dari hasil observasi periode 11-13 Desember 2018 di Ruang Paviliun


Wijaya Kusuma, dapat disimpulkan bahwa pencegahan infeksi nosokomial
tentang manajemen limbah memiliki prosentase 85,7% dengan kategori sangat
baik, meskipun standar pencegahan infeksi nosokomial adalah 100%.
Pengelolaan limbah sudah dilaksanakan dengan baik, dan ada prasarana yang
memadahi untuk mengatasi pengelolaan limbah tersebut.
Tabel 42. Manajemen Linen di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma
RSUD Banyumas Periode 11-13 Desember 2018
Jenis Indikator Ya Tidak
Monitoring
Manajemen a. Lemari penyimpanan linen 1
Linen bersih bebas dari debu tertutup
b. Linen diganti setiap hari 1
c. Pengambilan linen bersih
dengan sistem FIFO 1
d. Membebaskan linen dari benda
padat dan benda tajam ketika 1
memasukan linen dalam kantong
plastik
e. Tidak meletakan linen di lantai 1

108
f. Linen infeksius dimasukan ke
kantong plastik kuning 1
g. Linen non infeksius ke kantong 1
plastik putih
h. Tidak menghitung ulang linen 1
yang sudah dikantong
i. Pengiriman linen kotor 1
dimasukan dalam troly
kotor(infeksius dan non
infeksius dipisahkan)
j. Penerimaan linen bersih
ditempatkan pada troly bersih 1
dan tertutup.
Jumlah 10 0
Presentase 100% 0%

Sumber: Data primer Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumass


Analisa :
Dari tabel di atas dapat di analisa bahwa pelaksanaan pencegahan dan
pengendalian infeksi yaitu manajemen linen terlaksana dengan baik, dapat di lihat
dari angka persentase hasil pengkajian yaitu 100% yang masuk dalam kategori
mutlak.

Tabel 43. Pemprosesan Peralalatan Pasien di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma


RSUD Banyumas Periode 11-13 Desember 2018

No. Indikator Ya Tidak


Fasilitas Pemprosesan Peralalatan Pasien
1 Tersedia enzimatik dalam tempatnya 1
2 Teredia klorin pada tempatnya 1
3 Tersedia spill kid siap pakai 1
4 Penempatan cairan B3 tersendiri disertai MSDS nya 1
5 Tersedia enzimatik dalam tempatnya 1
Kepatuhan Pemprosesan PeralalatanPasien
6 Tempat tidur dibersihkan setiap hari dengan 1
desinfectan atau detergen sesuai indikasi

109
7 Meja pasien dibersihkan dibersihkan dengan 1
desinfectan atau detergen sesuai indikasi
8 Dinding dibersihkan dengan desinfectan atau 1
detergen sesuai indikasi
9 Manset dicuci seminggu sekali atau bila kotor 1
10 Stetoskop dibersihkan dengan desinfectan atau 1
detergen sesuai indikasi
11 Termometer dibersihkan setiap kali dipakai dengan 1
alkohol 70 %
12 Proses Pre-Cleaning: alat semikritikal dan kritikal : 1
Rendam dengan enzimatik selama 5-15 menit (sesuai
indikasi)
13 Proses Cleaning : cuci dengan air mengalir sesuai 1
dengan alatnya dan dikeringkan
14 DTT dengan kimiawi : rendam dalam cairan kimiawi 1
5-15 menit sesuai indikasi
15 Alat semikritikal dilakukan DTT atau sterilisasi suhu 1
rendah
16 Sterilisasi dilakukan di CSSD 1
17 Alat steril tersimpaan dalam tempat bersih, tertera 1
label ED
18 Alat-alat semikritikal tersimpan dalam pouches dan 1
siap pakai
19 Penanganan tumpahan dengan menggunakan spill kid 1
infeksi
Jumlah 14 5
Presentase 73,7% 26,3%
Sumber: Data primer Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas
Analisa :
Pemrosesan alat kesehatan bekas pakai sudah dilaksanakan dengan baik
dibuktikan dengan perolehan presentase sebesar 73,7% yaitu dalam kategori baik.
Beberapa item yang tidak dilaksanakan dengan kurang baik yaitu penyimpanan alat
yang sudah diproses dibungkus dan di simpan di lemari dan alat steril disimpan di
110
lemari terutup yang akan menimbulkan kerugian yaitu pada alat yang akan rusak
akibat terjadinya korosi oleh efek cairan enzimetic.

Tabel 44. Etika Batuk di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma


RSUD Banyumas Periode 11-13 Desember 2018

Aspek yang dinilai Ya Tidak


No.
1. Menutup mulut dan hidung dengan tissue saat 1
batuk
2. Menutup mulut dan hidung dengan tangan dan 1
lengan baju bila tidak ada tissue
3. Mencuci tangan setelah batuk dengan air 1
mengalir atau dengan larutan mengandung
alcohol/ handrub
4. Membuang tissue pada tempat sampah yang 1
tersedia
5. Terdapat poster tentang etika batuk 1
6. Terdapat leaflet tentang etika batuk 1
Jumlah 6 1
Persentase 83,3 16,7
% %

Sumber: Data primer Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas

Analisa :
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan selama 3 hari disimpulkan bahwa
pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial tentang etika batuk pada pasien
dari 6 item pasien sebesar 83,3% kategori baik.
Tabel 45. Kesehatan Karyawan di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma
RSUD Banyumas Periode 11-13 Desember 2018
No. Indikator Ya Tidak
1. Petugas tidak berkuku panjang, 1
tidak terpasang cincin, tidak
menggunakan kutek
2. Terpasang jalur terpajan 1
3. Eyerwhaser tersedia 1

111
4. Petugas paham alur terpajan 1
Jumlah 2 2
Presentase 50% 50%
Sumber: Data primer Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas
Analisa :
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan selama 3 hari disimpulkan bahwa
kesehatan karyawan di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma dikategorikan dalam
kategori kurang yaitu 50 %.

Tabel 46. Praktek Menyuntik Aman di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD
Banyumas Periode 11-13 Desember 2018
Indikator Ya Tidak
1. Troli bersih 1

2. Hand rub 1

3. Safety box 1

4. Alcohol swab 1

5. Sarung tangan 1

6. Bak spuit 1

7. Kebersihan tangan 1

8. Obat suntik dalam bak spuit 1


9. Desinfeksi 1

10. Tidak menyarungkan jarum / 1 1


tangan

11. Jarum dibuang ke safety box 1

Jumlah 11 0
Presentase 100% 0%
Sumber: Data primer Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas

112
Analisa:

Tindakan menyuntik aman yang telah dilakukan oleh perawat dari 5


perawat yang diobservasi yaitu 100% perawat sudah melakukan
penyuntikan secara aman walaupun ada beberapa item yang tidak dilakukan
oleh perawat sehingga kategori untuk menyuntik aman diruang Paviliun
Wijaya Kusuma dalam kategori sangat baik.

E. OUTPUT
Instrumen B
a. Kepuasaan pasien
Kajian Data
Observasi dilakukan selama 2 hari dari tanggal 11-13 Desember 2018,
penilaian kepuasan pasien terhadap mutu pelayanan diruang Paviliun Wijaya
Kusuma dapat dilihat dari table berikut :
Tabel 47. Penilaian Kepuasan Pasien Terhadap Mutu Pelayanan Di Ruang
Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas Tanggal 11 – 13 Desember 2018

Total
No Kriteria
Ya Tdk
1 Apakah perawat memperkenalkan diri / menyapa? 5
2 Apakah perawat selalu memanggil nama anda dengan
5
benar?
3 Apakah perawat melarang anda / pengunjung merokok
5
diruangan?
4 Apakah perawat selalu menanyakan bagaimana nafsu
3 2
makan anda?
5 Apakah perawat pernah menanyakan pantangan dalam
hal makanan anda? 1 4
6 Apakah perawat menanyakan atau memperhatikan
berapa jumlah makan dan minum yang biasa anda 2 3
habiskan?
7 Apabila anda tidak nafsu makan apakah perawat
4 1
memotivasi anda?

113
8 Pada saat anda dipasang infus, apakah perawat selalu
memeriksa cairan / tetesannya dan area sekitar 5
pemasangan infuse?
9 Pada saat anda masuk RS, apakah perawat memberikan
penjelasan tentang fasilitas yang tersedia dan cara 5
penggunaanya?
10 Pada saat anda masuk RS, apakah perawat memberikan
penjelasan tentang peraturan / tata tertib yang berlaku di 5
RS?
11 Apakah ruang tidur anda selalu dijaga kebersihannya
dengan disapu atau dipel setiap hari? 5
12 Apakah lantai kamar mandi/wc selalu bersih? 5
13 Apakah lantai kamar mandi/wc tidak licin? 5
14 Apakah lantai kamar mandi/wc tidak berbau? 5
15 Apakah lantai kamar mandi/wc selalu cukup terang? 5
16 Selama anda dalam perawatan, apakah perawat siap
membantu ketika anda / keluarga meminta bantuan / 5
pertolongan?
17 Apakah alat-alat tenun seperti: seprei, selimut diganti
5
setiap kotor?
18 Selama anda dalam perawatan, apakah perawat
mengawasi keadaan anda secara teratur, pada pagi, sore 5
maupun malam hari?
19 Apakah anda tahu waktu pergantian jaga perawat? 5
20 Apakah anda mengetahui nama perawat yang
bertanggung jawab setiap kali pergantian dinas? 1 4
21 Apakah perawat bersikap sopan dan ramah? 5
22 Apakah perawat selalu memberi penjelasan, sebelum
melakukan tindakan keperawatan atau pengobatan? 5
23 Apakah perawat selalu bersedia mendengarkan dan
memperhatikan setiap keluhan dari anda / keluarga ? 5
24 Dalam hal memberikan obat, apakah perawat membantu
menyiapakan / meminumkan obat? 3 2
25 Apakah penampilan perawat, tambah rapi atau
5
menarik/menyenangkan?
Jumlah 104 21
Presentase 83,2% 16,8%
Observasi mahasiswa Stikes St. Elisabeth 2018

114
Analisa:
Berdasarkan hasil pengkajian didapatkan hasil 83,2% rasa kepuasan yang
dirasakan pasien selama berada di ruang Paviliun Wijaya Kusuma. Namun dapat
dilihat juga, berdasrkan hasil pangamatan juga, tidak semua pasien merasa puas, hal
ini dapat dilihat dari hasil pendapat pasien yang dirasakannya sealam dirawat di
ruangan ini.
b. Kepuasan keluarga pasien
Kajian Data
Hasil wawancara yang dilakukan selama 3 hari selama 11-13 Desember 2018
kepuasan keluarga pasien di ruang Paviliun Wijaya Kusuma dapat dilihat dari
tabel berikut:
Tabel 48. Kepuasan Keluarga Pasien di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD
Banyumas Periode 11 – 13 Desember 2018

TOTAL
No. Pertanyaan Ya Tdk

1 Perawat bersikap sopan dan berpenampilan


5
rapi
2 Perawat menggali informasi dari keluarga 5
3 Perawat memberikan informasi mengenai
4 1
masalah yang dihadapi pasien
4 Perawat memberikan informasi mengenai
tindakan yang akan dilakukan kepada pasien 5
(inform consent)
5 Perawat menjelaskan perkembangan pasien 2 3
6 Perawat melakukan penyuluhan kepada
keluarga mengenai cara perawatan yang harus 2 3
dilakukan keluarga dirumah
7 Perawat menyiapkan keperluan pulang pasien
yang meliputi jadwal kegiatan harian dan sisa 2 3
obat
8 Perawat menjelaskan waktu control 5
9 Perawat memberikan pesanan pulang yang
2 3
mudah dimengerti
10 Perawat memberikan penjelasan rujukan yang
bisa digunakan bila ada yang perlu dikonsulkan 5

115
11 Perawat membantu keluarga untuk konsul
5
dokter
Total 42 13
76,3% 23,7%
Observasi Mahasiswa Stikes St Eliasabeth 2018

Analisa
Dari hasil pengkajian yang dilakukan hasil baik dengan presentase 76,3%

c. Kepuasan kerja karyawan


Hasil kuisioner yang dilakukan selama 3 hari dari tanggal 11-13 Desember 2018,
kepuasan kerja perawat di ruang Paviliun Wijaya Kusuma dapat dilihat dari tabel
berikut:
Tabel 49. Kepuasan Kerja Karyawan Di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma
RSUD Banyumas periode 11 – 13 Desember 2018
Observasi
No Pernyataan
Ya Tidak
1. Gaji Salary
Saya puas dengan sistem pemberian gaji di 2 3
tempat saya bekerja
Gaji yang diterima sesuai dengan 1 4
pendidikan saya
2. Kondisi kerja
Saya merasa puas dengan kondisi 4 1
lingkungan kerja saya
Kondisi kerja sangat menyenangkan dan 3 2
nyaman
3. Kebijakan Rumah Sakit
Saya merasa tidak puas dengan cara rumah
5
sakit menerapkan kebijakan yang berlaku
Sanksi yang diterapkan oleh rumah sakit
5
tidak merugikan karyawan
4. Hubungan Antar Pribadi
Tingkat kebersamaan di antara rekan kerja 2 3
lebih memuaskan saya
Rekan kerja saya di rumah sakit ini
menyenangkan 3 2
5. Supervisi
Komunikasi dengan atasan sangat baik 5

116
Atasan membantu dalam permasalahan
5
yang menyangkut pekerjaan
6. Prestasi
Saya puas dengan prestasi kerja saya saat 5
ini
Saya mendapatkan pengakuan yang 3 2
selayaknya atas prestasi saya
7. Pengakuan
Saya sangat dihargai ditempat kerja 5
Atasan saya sangat menghargai hasil kerja
5
saya
8. Pekerjaan itu sendiri
Pekerjaan yang saya lakukan tidak sesuai -
5
dengan job 2 description
Saya bisa menyelesaikan tugas-tugas saya 3
2
selama jam kerja
9 Tanggung jawab
Saya merasa puas dengan tingkat tanggung 5
jawab dalam pekerjaan yang saya emban
Sebagai perawat saya bertanggung jawab 5
atas pekerjaan yang diberikan kepada saya
10. Promosi / pengembangan karier
Saya puas karena mendapat pelatihan yang 5
sesuai untuk mendukung pelaksanaan saya
Sebagai perawat saya bertanggung jawab 5
atas pekerjaan yang diberikan kepada saya
Kenaikan posisi / promosi gaji ditandai 5
dengan adil dengan memperhatikan masa
kerja, kinerja dan kemampuan
Jumlah 70 35
Presentase 66,6 33,33%
7%
Observasi mahasiswa Stikes St. Elisabeth 2018

Analisa :
Dari hasil pengkajian yang telah dilakukan didapatkan angka kepuasan dari
pada karyawan yaitu 66,67% dimana angka tersebut dapat dikatakan cukup dan
perlu dilakukan penanganan untuk mengatasi masalah kepegawaian ini.

117
1. Efisiensi Ruang Rawat (BOR, LOS, TOI, BTO)
a. BOR (Bed Occupancy Ratio = Angka penggunaan tempat tidur)
Menurut Depkes RI (2015), l,dari tempat tidur rumah sakit. Nilai parameter
dari BOR ini idealnya antara 60-85%.
BOR sering disebut juga :

1. Percent of Occupancy
2. Occupancy Percent
3. Occupancy Ratio
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐻𝑎𝑟𝑖 𝑃𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡𝑎𝑛
Rumus : 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑇𝑒𝑚𝑝𝑎𝑡 𝑇𝑖𝑑𝑢𝑟 𝑥 𝑃𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 x 100%

Kajian Data di ruang Paviliun Wijaya Kusuma :


1) BOR bulan September2018
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐻𝑎𝑟𝑖 𝑃𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡𝑎𝑛
Rumus : 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑇𝑒𝑚𝑝𝑎𝑡 𝑇𝑖𝑑𝑢𝑟 𝑥 𝑃𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 x 100%
58
= 16 𝑥 30 x 100%
58
= 480 x 100%

= 12,08 %
2) BOR bulan Oktober 2018
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐻𝑎𝑟𝑖 𝑃𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡𝑎𝑛
Rumus : 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑇𝑒𝑚𝑝𝑎𝑡 𝑇𝑖𝑑𝑢𝑟 𝑥 𝑃𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 x 100%
49
= 16 𝑥 31 x 100%
49
= 496 x 100%

= 9,88 %
3) BOR bulan November 2018
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐻𝑎𝑟𝑖 𝑃𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡𝑎𝑛
Rumus : 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑇𝑒𝑚𝑝𝑎𝑡 𝑇𝑖𝑑𝑢𝑟 𝑥 𝑃𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 x 100%
55
= 16𝑛𝑥 30 x 100%
55
= 480 x 100%

118
= 11,45 %
b. Average Length of Stay (Av LOS)
ALOS menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata lama rawat seorang
pasien. Indikator ini disamping memberikan gambaran tingkat efisiensi,juga
dapat memberikan gambaran mutu pelayanan, apabila diterapkan pada
diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih lanjut.
Secara umum nilai ALOS yang ideal antara 6-9 hari (Depkes, 2005).
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑙𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟
Rumus : 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 (ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝+𝑚𝑎𝑡𝑖)

Kajian data di ruang Paviliun Wijaya Kusuma :


1) Av LOS bulan September2018
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑙𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟
Rumus : 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 (ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝+𝑚𝑎𝑡𝑖)
422
= 74

= 5,702 hari > 6 hari]


2) Av LOS bulan Oktober 2018
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑙𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟
Rumus : 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 (ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝+𝑚𝑎𝑡𝑖)
345
=
61

= 5,655 hari > 6 hari


3) Av LOS bulan November 2018
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑙𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟
Rumus : 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 (ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝+𝑚𝑎𝑡𝑖)
362
= 62

= 5,838
c. Bed Turn Over (BTO)
Menurut Depkes RI (2015), BTO yaitu frekuensi pemakaian tempat tidur,
berapa kali dalam satu satuan waktu tertentu (biasanya 1 tahun) tempat tidur
rumah sakit dipakai. Indikator ini memberikan gambaran tingkat efisiensi dari

119
pada pemakaian tempat tidur. Idealnya selama satu tahun, 1 tempat tidur rata-
rata dipakai 40-50 kali.
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 (ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝+𝑚𝑎𝑡𝑖)
Rumus : 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑎𝑡 𝑡𝑖𝑑𝑢𝑟

Kajian data di ruang Paviliu Wijaya Kusuma :


1) BTO bulan September2018
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 (ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝+𝑚𝑎𝑡𝑖)
Rumus :
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑎𝑡 𝑡𝑖𝑑𝑢𝑟
74
= 16

= 4,62x > 5x
2) BTO bulan Oktober 2018
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 (ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝+𝑚𝑎𝑡𝑖)
Rumus : 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑎𝑡 𝑡𝑖𝑑𝑢𝑟
61
= 16

= 3,81x > 4x
3) BTO bulan November 2018
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 (ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝+𝑚𝑎𝑡𝑖)
Rumus : 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑎𝑡 𝑡𝑖𝑑𝑢𝑟
62
= 16

= 3,87x > 4x
d. Turn Over Interval (TOI)
Yaitu rata-rata hari, tempat tidur tidak ditempati dari saat terisi ke saat
terisi berikutnya. Indikator ini juga memberikan gambaran tingkat efisiensi
dari pada penggunaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur kosong hanya
dalam waktu 1 - 3 hari.
(𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑇𝑇 𝑥 ℎ𝑎𝑟𝑖)−𝐻𝑎𝑟𝑖 𝑃𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑅𝑢𝑚𝑎ℎ 𝑆𝑎𝑘𝑖𝑡
Rumus :
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 (ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝+𝑚𝑎𝑡𝑖)

Kajian data di ruang Paviliun Wijaya Kusuma :


1) TOI bulan September2018

120
(𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑇𝑇 𝑥 ℎ𝑎𝑟𝑖)−𝐻𝑎𝑟𝑖 𝑃𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑅𝑢𝑚𝑎ℎ 𝑆𝑎𝑘𝑖𝑡
Rumus : 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 (ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝+𝑚𝑎𝑡𝑖)
(30 𝑥 30)−58
= 74
900−58
= 74
842
= 74

= 11,378 hari > 11 hari


2) TOI bulan Oktober 2018
(𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑇𝑇 𝑥 ℎ𝑎𝑟𝑖)−𝐻𝑎𝑟𝑖 𝑃𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑅𝑢𝑚𝑎ℎ 𝑆𝑎𝑘𝑖𝑡
Rumus : 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 (ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝+𝑚𝑎𝑡𝑖)
(30 𝑥 31)−49
= 61
930−49
= 61
881
= 61

= 14,442 hari > 14 hari


3) TOI bulan November 2018
(𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑇𝑇 𝑥 ℎ𝑎𝑟𝑖)−𝐻𝑎𝑟𝑖 𝑃𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑅𝑢𝑚𝑎ℎ 𝑆𝑎𝑘𝑖𝑡
Rumus : 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 (ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝+𝑚𝑎𝑡𝑖)
(30 𝑥 30)−55
= 62
900−55
= 62
845
= 62

= 13,629 hari > 14 hari


.
Tabel 50. Efisiensi Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas
September - Oktober-November Tahun 2018
No. Bulan BOR LOSS TOI BTO
1. September 13,08 % 6 hari 11 hari 5x
2. Oktober 9,88 % 6 hari 14 hari 4x
3. November 11,45 % 6 hari 14 hari 4x
Jumlah 34,41% 18 hari 39 hari 13x
Rata-rata 26,77% 6 hari 13 hari 4,3x
Standar 60 – 85% 6 hari 1 – 3 hari 10 – 12,5x
Keterangan Kurang Kurang Kurang
Ideal
ideal ideal ideal
121
Analisa :

1. BOR (Bed Occupancy Ratio) di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD

Banyumas mulai dari bulan September – November 2018 adalah 34,41% yang

artinya parameterya kurang ideal. Di ruang Paviliun Wijaya Kusuma penggunaan

tempat tidur tidak sesuai dengan standart yaitu kurang ideal dimana banyaknya

jumlah bed yang dimiliki tidak sesuai dengan kebutuhan pasien yang ada

2. LOS (Average Length of Stay = Rata-rata lamanya pasien dirawat) di Ruang

Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas mulai dari bulan September –

November 2018 adalah 6 hari yang artinya sesuai dengan standart yaitu ideal,

dimana perawat dan tenaga kesehatan lainnya memberikan asuhan keperawatan

yang sesuai dengan masalah yang di alami pasien dan meningkatkan kesembuhan

pasien serta dapat meningkatkan tingkat kepuasan dari pasien.

3. BTO (Bed Turn Over = Angka perputaran tempat tidur) di Ruang Paviliun Wijaya

Kusuma RSUD Banyumas mulai dari bulan September – November 2018 adalah

4x merupakan kurang dari standar ideal selama 3 bulan dengan rata-rata pemutaran

pemakaian tempat tidur. Hal tersebut dikarenakan jumlah bed yang terlalu banyak

dan kurang minatnya para pasien yang dikaitkan dari segi ekonomi atau biaya tarif

yang ada pada Ruang Paviliun Wijaya Kusuma.

4. TOI (Turn Over Interval = Tenggang perputaran) di Ruang Paviliun Wijaya

Kusuma RSUD Banyumas mulai dari bulan September – November 2018 adalah

13 hari yang artinya tidak sesuai dengan standart yang berarti semakin tinggi nilai

TOI semakin tidak efisiensi pelayanan rumah sakit tersebut.


122
 Rentang Kendali

Berdasarkan observasi yang kami lakukan, rentang kendali di Ruang Paviliun


Wijaya Kusuma dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 51. Hasil Penilaian Mutu Pelayanan (Instrumen A, B, C)


di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas
Periode 11 – 13 Desember 2018
No Aspek Tercapai Rata-rata
(%)
1. Instrumen A 85
2. Instrumen B 85 84,55%
3. Instrumen C 83,64
Sumber: data primer Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas

Analisa
Berdasarkan hasil tersebut, pada dasarnya hasil dari Istrumen A dan B sudah
sangat baik. Instrumen C memiliki hasil evaluasi yang paling rendah yaitu 83,
64%.

123
BAB 3
HASIL PENGKAJIAN

Identifikasi Masalah
Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut :
Tabel 52. Identifikasi Masalah
Komponen Kode Keterangan Total
Input
Pelaksanaan Tugas Kepala Ruang 87,5%
Pelaksanaan Tugas Ketua Tim 90,9%
Pelaksanaan Tugas Perawat
Pelaksana 92,3%

Pelaksanaan Meeting Morning 92,85%


SP2KP
Penilaian Buku Timbang Terima
Pelaksanaan Timbang Terima Tugas
Jaga 88,89%

Pelaksanaan Pre-Conference 58,4%


Pelaksanaan Post-Conference 30%
Proses Penilaian Asuhan Keperawatan 90%
INS. A Penerapan Discharge planing 65%
Admission care 84,2%
Penilaian Kepuasan Keluarga Pasien 76,3%
INS. B Penilaian Kepuasan Pasien 83,2%
Penilaian Kepuasan Karyawan 66,67%
Standar prosedur injeksi IV Bolus
Standar prosedur mengukur tekanan
INS. C darah

Standar prosedur memasang infus


dewasa

124
Standar prosedur memberikan
inhalasi nebulizer
Standar proedur mengukur suhu di
ketiak
Mengidentifikasi pasien dengan
benar 58,3%

Meningkatksn komunikasi efektif -


Meningkatkan keamanan obat-obatan
yang harus diwaspadai 83,33%
Patient
Memastikan lokasi pembedahan yang
Safety
benar pembedahan pada pasien yang -
benar
Mengurangi resiko infeksi akibat
perawatan kesehatan 60%

Mengurangi resiko cedera pasien


akibat terjatuh 50%

Kebersihan tangan 88,9%


Alat Perlindungan Diri 50%
Pengendalian lingkungan 100%
Manajemen Limbah 85,3%
Manajemen Linen 100%
PPI Pemprosesan peralatan pasien 73,7%
Pnempatan pasien -
Etika Batuk 83,3%
Kesehatan karyawan 50%
Praktek menyuntik aman 100%
Praktek lumbal pungsi -
OUTPUT

Prioritas Masalah

Berdasarkan hasil fungsi pengkajian dan maka ditemukan 6 masalah, sehingga


dilakukan penyusunan prioritas masalah dilanjutkan dengan planning of action dan
dapat dilihat pada tabel.

125
Prioritas masalah dilakukan dengan metode C.A.R.L (Capability, Accesbility,
Readness, Leverage) dengan menggunakan skor nilai 1-5. Kriteria C.A.R.L tersebut
mempunyai arti.

C : Ketersediaan sumber daya (Dana dan Sarana/ peralatan)

A : Kemudahan, masalah yang diatasi atau tidak diatasi. Kemudahan dapat


didasarkan pada ketersediaan metode/ cara/ teknologi serta penunjang
pelaksanaan seperti peraturan.
R : Kesiapan dari tenaga kesehatan maupun kesiapan sasaran seperti keahlian/
kemampuan dan motivasi.
L : Seberapa besar pengaruh kriteria yang satu dengan yang lain dalam pemecahan
yang dibahas.
Nilai total merupakan hasil perkalian C x A x R x L, urutan ranking atau prioritas
adalah nilai tertinggi sampai dengan nilai terendah. Dalam pengambilan masalah,
ditentukan pula masalah yang menurut kebutuhan harus segera di carian solusinya.
Tabel 53. Prioritas Masalah berdasarkan Masalah-masalahyang
Ditemukan

Masalah C A R L Total Prioritas


Cuci tangan (60%) 4 4 5 1 80 2
Dischart planing (65%) 3 4 3 1 36 5
Identifikasi pasien (60%) 4 4 5 3 240 1
Resiko jatuh (50%) 3 2 3 1 18 7
Post conference (0%) 1 5 5 3 75 3

Pre Conference (50%) 1 5 4 2 40 4

Kelengkapan alat (%) 1 1 3 1 3 8


Kepuasan karyawan (66,67%) 1 5 4 1 20 6

126
N MASALAH S W O T
o
1. Identifikasi 1. Tersedianya form 1. Perawat belum maksimal 1. Meningkatkan 1. Peningkatan resiko aman
Pasien identifikasi pasien dalam melakukan verifikasi keamanan pasien pasien, yang kurang
2. Pasien menggunakan data dengan meliht gelang 2. Mencegah resiko 2. Adanya akreditasi rumah
gelang identitas pasien saat melakukan terjadinya salah sakit
tindakan pemberian obat da
tindakan kepada pasien
2. Kebersihan 1. Telah tersedia handrub 1. Kegiatan edukasi tentang 1. Pemberdayaan peserta 1. Peningkatan resiko
tangan disetiap pintu kamar langkah cuci tangan yang benar didik untuk terlibat dalam aman pasien, yang
pasien, dan di dalam kepada pasien belum dilakukan pelayanan kurang
kamar pasien. 2. Peningkatan mutu 2. Adanya akreditasi
2. Telah tersedia poster 6 sebagai bukti kualitas rumah sakit
langkah cuci tangan dan 5 pelayanan rumah sakit
moment 3. Dukungan dari
manajemen dalam
pelaksanaan dischart
planning
3. Pre dan Post 1. Kegiatan preconference dan 1. Kegiatan pre conference yang 1. Dukungan dari Pembenahan jam visit dokter
conference post conference yang dilakukan sesuai dengan manajemen dalam
4. dilakukan di ruang Paviliun prosedur, namun dalam pelaksanaan pre
Wijaya Kusuma dilakukan kejadian dilapangan beberapa conference
tepat waktu dan tertata. kali, dokter visit yang datang 2. Adanya mahasiswa
2. Kegiatan Preconference dan terlalu awal dan secara praktek manajemen yang
post conference juga selalu bersamaan sehingga perawat ada diruangan.
dihadiri oleh kepala ruang yang mengikuti preconference 3. Kemauan perawat untuk
dan anggota secara lengkap sibuk untuk mendapingi visit meningkatkan mutu
sesuai dengan shift yang dokter. dilakukannya pre
ada.

127
2. Kegiatan Pre conference conference dan post
diantara tim satu dan tim dua conference
dilakukan secara sendiri-
sendiri.
3. Kegiatan Pre conference dan
post conference dari shift siang
ke shift malam terkadang tidak
dilakukan verifikasi keluhan
dan tindakan yang telah
diterima secara langsung ke
pasien.
5. Penerapan 1. Tersedianya form discharge 1. Dalam pengisian form 1. Pemberdayaan peserta 1. Adanya akreditasi rumah
Discharge planing yang lengkap discharge planning, tidak didik untuk terlibat sakit
planning 2. Dengan adanya form dilakukan pengisian secaara dalam pelayanan 2. Banyaknya kompetitor
discharge planing, maka lengkap. 2. Peningkatan mutu rumah sakit lain di sekitar
hak pasien terpenuhi. 2. Dalam penulisan discharge sebagai bukti kualitas RSUD Banyumas
planing, perawat sering kali pelayanan rumah sakit
lupa untuk menuliskan data 3. Dukungan dari
pasien. manajemen dalam
pelaksanaan dischart
planning

121
6. Kepuasan 1.Tingkat kebersamaan dalam 1. Pengangkatan kepegawaian 1.Adanya tuntutan1. 1 sistem
karyawan melakukan pekerjaan di ruang yang sesuai dengan Depkes Meningkatkan dan pengangkatan kepegawaian
paviliun cukup baik dilakukan 2- 3 tahun sekali, memperbaiki sistem yang telah di tetapkan
1. Komunikasi antara atasan dan namun di ruangan pengangkatan kepegawaian
pegawai di ruang paviliun 2. Adanya kebijakan rumah
mengalami jeda waktu
wijaya kusuma sangat baik. sakit dalam sistem
yang panjang dalam
kepegawaian
pengangkatan kepegawaian

7. Resiko jatuh 2. Adanya filosofi RSUD 1. Tidak optimalnya 1. Meningkatnya 1. Tuntutan masyarakat
Banyumas “keselamatan, pemantauan resiko jatuh dan kepercayaan masyarakat untuk pelayanan yang
kesembuhan, dan kepuasan pemanfaatan instrument terhadap pelayanan meningkat
pelanggan adalah tanda resiko jatuh. rumah sakit 2. Adanya peningkatan
kebahagiaan kami” 2. Perawat belum 2. Dukungan dari angka resiko jatuh.
3. Terdapat 30 bed dengan mengaplikasikan manajemen dalam
safety rail pengidentifikasian resiko pelaksanaan pasien
4. Perawat melakukan jatuh pada pasien yang safety.
pemantauan look resiko beresiko secara continue.
jatuh 3. Tidak terdapat tanda segitiga 3. Mengurangi angka
tanda resiko jatuh. kejadian cidera pada
pasien.

121
8. Kelengkapan 1. Kebersihan alat di ruangan 1. Alat untuk penaganan code 1. Meningkatkan mutu 1. Tuntutan masyarakat
alat bersih dan terjaga blue seperti ambubag ketersediaan fasilitas untuk pelayanan
sterilitasnya alat ganti balut. belum tersedia dengan dan alat-alat di ruagan menggunakan alat-
2. Alat yang tersedia di ruangan maksimal 2. Dukungan dari alat medis yang
rata-rata sudah mengalami managemen rumah memadai
kalibrasi. 2. Ketersediaan kasur
decubitus hanya terdapat sakit untuk
dua buah, namun satu ketersediaan alat
diantaranya mengalami
kerusakan.
SO: WO: ST: WT:
1. Mereview para perawat 1. Mereview cara pengisian 1. Mendemonstrasikan 1. Selalu mengingatkan
tentang pentingnya identifikasi pasien kembali bagaimana cara perawat ntuk melengkapi
identifikasi pasien 2. Mereview dan mengingatkan mengidentifikasi pasien identifikasi pasien
2. Mereview kembali tentang kembali mengenai 5 moment yang benar sesuai standar 2. Selalu mengingatkan
5 moment dan 6 langkah cuci tangan dan 6 langkah cuci SPO perawat untuk cuci tangan
cuci tangan. tangan 2. Sosialisasi cara cuci tangan sesuai 5 moment dan 6
3. Mereview para perawat 3. Melakukan simulai cara dan didepan perawat serta 5 langkah
tentang alur post conference langkah post conference moment cuci tangan 3. Memotivasi perawat untuk
yang benar dan lengkap. dengan lengkap 3. Melakukan post conference melakukan post
4. Mereview para perawat 4. Melakukan simulai cara dan dengan alur yang tepat conference secara tepat
tentang alur pre conference langkah pre conference 4. Melakukan pre conference dan lengkap demi
yang benar dan lengkap. dengan lengkap dengan alur yang tepat peningkatan mutu
5. Meriview kembali tentang 5. Membuat leaflet tenteng 5. Sosialisasi pemberian 4. Memotivasi perawat untuk
pelaksanaan discharge dischart planning dischart planning sesuai melakukan pre conference
planning 6. Peningkatan mutu alur dan sop secara tepat dan lengkap
6. Mencoba memperbaiki pengangkatan kepegawaian 6. Menyesuaikan sistem sesuai demi peningkatan mutu
sitem kepegawaian yang 7. Menekankan pemasangan dan dengan peraturan yang
ada di rumah sakit penerapan poster segitiga berlaku

121
7. Mengulas kembali pada tentang pasien safety serta 7. Mensosialisasikan 5. Mendampingi perawat
perawat tentang identifikasi pasien beresiko pemasangan poster segitiga saat memberikan dischart
pentingnya pasien safety 8. Peningkatan mutu pelayanan fall risk pada bed pasien planning
khususnya mengenai dan fasilitas alat-alat ruangan yang beresiko 6. Menggunakan sistem
penanda yang dipakai. 8. Menyediakan alat-alat yang pengangkatan
8. Memperbaiki alat-alat dibutuhkan oleh pasien di kepegawaian yang telah
yang rusak demi ruangan sesuai dengan disepakati
meningkatkan mutu penyakit pasien. 7. Mengobservasi pasien
pelayanan dan fasilitas resiko jatuh apakah sudah
ruangan. terpasang penanda dengan
lengkap
8. Memperbarui alat-alat
yang rusak dan mengganti
dengan yang baru untuk
meningkatkan mutu
fasilitas di rumah sakit.

Planning Of Action Ruang Paviliun Wijaya Kusuma

No. Kategori Masalah Target Rencana Waktu Sasaran PJ Dana

1. Pasient Belum Pelaksanaan manajemen pasient safety dapat 1. Koordinasi dengan 17-12-18 Perawat di Clara Rp.20.000
safety optimalnya meningkat 40% dari 60% menjadi 100% karu ruang
pelaksanaan dengan indikator: 1. Mencari literature 17-12-18 Paviliun
identifikasi 2. Sosialisasi tentang Wijaya
pasien (60%) 1. Perawat menanyakan nama pasien dan managemen pasien 18-12-18 Kusuma
mencocokkan digelang identitas pasien safety RSUD
saat akan melakukan tindakan 3. Melakukan roleplay Banyumas
keperawatan. identifikasi pasien 18-12-18

121
2. Perawat memiliki pengetahuan tentang 4. Memberi kesempatan 19-01-18
pasient safety petugas untuk
mengaplikasikan
identifikasi pasien.
5. Melakukan evaluasi 20-01-18
6. Dokumentasi 20-01-18
2. PPI Belum Pelaksanaan lima moment cuci tangan dapat 1. Koordinasi dengan 17-12-18 Perawat, Susan Poster
optimalnya 5 meningkat 25% dari 60% menjadi 85% Kepala Ruang mahasiwa Rp15.000
momen cuci dengan indikator: 2. Sosialisasi diruang
tangan (60%) mengajarkan perawat 17-12-18 Paviliun
1. Perawat, mahasiswa, melakukan 5 dn mahasiswa 5 Wijaya
moment cuci tangan dengan benar moment cuci tangan 17-12-18 Kusuma
2. Terdapat poster 5 moment cuci tangn pada waktu meeting
di setiap depan pintu masuk kamar morning
pasien. 3. Mengobservasi
3. Perawat konsisten terhadap 5 momen perawat dan
cuci tangan mahasiswa dalam
melakukan 5 momen 18-12-18
cuci tangan 18-12-18
4. Mengevaluasi
perawat dan
mahasiwa dalam
melakukan 5 moment
cuci tangan. 19-12-18
5. Melakukan
pendokumentasi.

121
3. SP2KP Post Pelaksanaan post conference di ruang melati 1. Koordinasi dengan 17-12-18 Semua Ambar Rp 20.000
conference meningkat 34,5% dari 30% menjadi 80% KA ruangan tentang perawat di
45,5% dengan kriteria hasil: masalah yang ruang
ditemukan Paviliun
1. Perawat melakukan post conference 2. Mencari literature 17-12-18 Wijaya
secara konsisten shif pagi,siang dan tentang SOP post Kusuma
malam conference
2. Katim menjelaskan tujuan post 3. Mempersiapkan SOP 17-12-18
conference post conference yang
3. Katim dan PA mendiskusikan disesuaikan ruangan
masalah yng telah ditemukan dalam 4. Mensosialisasikan
memberikan askep pada pasien dan SOP post conference 18-12-18
mencari upaya penyelesaian masalah ke perawat ruangan
4. Katim memberi reinforcement 5. Meroleplaykan
kepada PA pelaksanaan SOP 19-12-18
5. Katim menyampaikan hasil post post conference ke
conference perawat ruangan
6. Memotivasi untuk memberikan dalam melakukan
tanggapan dan penyelesaian masalah tujuan post
yang sedang didiskusikan conference, anggota
menjelaskan hasil
tindakan, memberi
reinforcemen, dan
menyimpulkan hasil
post conference
6. Memberikan
kesempatan pada 20-12-18
perawat ruangan
untuk melaksanakan
SOP post conference
121
dalam tujuan post
conference, anggota
menjelaskan hasil
tindakan, memberi
reinfocemen, dan 20-12-18
menyimpulkan hasil
post conference
7. Mengevaluasi
kegiatan Post 21-12-18
Conferen ce

4. SP2KP Pre Pelaksanaan pre conference di ruang melati 1. Koordinasi dengan 17-12-18 Semua Viola Rp20.000
conference meningkat 38,34% dari 58,4% menjadi Kepala ruangan perawat di
58,4% 96.8% dengan kriteria hasil: tentang masalah yang Rung
ditemukan Paviliun
1. Katim melakukan pre conference 2. Mencari literature 17-12-18 Wijaya
secara konsisten shif pagi,siang dan tentang SOP pre Kusuma
malam. conference
2. Perawat menjelaskan tujuan pre 3. Mempersiapkan SOP 18-12-18
conference pre conference yang
3. Katim menjelaskan masalah pasien disesuaikan ruangan
selama dalam perawatan dan rencana 4. Mensosialisasikan 18-12-18
keperawatan yang menjadi tanggung SOP pre conference
jawabnya ke perawat ruangan
4. Membagi tugas pada PA sesuai 5. Meroleplaykan 19-12-18
kemampuan yang dimiliki dengan pelaksanaan SOP pre
memperhatikan keseimbangan kerja conference ke
perawat ruangan
dalam melakukan
121
5. Mendiskusikan cara dan strategi tujuan pre
pelaksanaan asuhan keperawatan conference, anggota
pasien tindakan menjelaskan hasil
6. Memotivasi untuk memberikan tindakan, memberi
tanggapan dan penyelesaian masalah reinforcemen, dan
yang sedang didiskusikan menyimpulkan hasil
7. Mengklarifikasi kesiapan PA untuk pre conference
melaksanakan asuhan keperawatan 6. Memberikan 20-12-18
pada pasien yang menjadi tanggung kesempatan pada
jawabnya perawat ruangan
8. Memberikan reinforcement positif untuk melaksanakan
pada PA mengkarifikasi pre
9. Menyimpulkan hasil pre conference conference
10. Menutup pre conference 7. Mengevaluasi 20-12-18
kegiatan Pre
Conference

121
5. SP2KP Belum Pelaksanaan SP2KP dokumentasi dapat 1. Koordinasi dengan 17-12-18 Perawat di Clara Leaflet
optimalnya meningkat 37,5% dari 62.5%menjadi 100% Kepala Ruang dan ruang Rp 25.000
pelaksanaan dengan indikator : Katim Paviliun
Dischart 1. Setiap RM pasien memiliki blangko 2. Mencari literatur 17-12-18 Wijaya
planing discharge planning Kusuma
(62.5%) 2. Dokumentasi Discharge planning terisi 17-12-18 RSUD
lengkap mulai dari pasien masuk ruangan 3. Membuat untuk Banyumas
sampai pasien pulang. media pendukung
3. Perawat memberikan informasi tentang pelaksanaan
discharge planning kepada pasien. discharge planing 18-12-18
4. Terdapat leaflet 4. Sosialisasi discharge
planing. 19-12-18
5. Roleplay pelaksanaan
discharge planning 20-12-18
6. Memberi kesempatan
ruangan untuk
melakukan simulasi 20-12-18
7. Mengobservasi dan
mengontrol aktivitas
pelaksanaan 21-01-18
discharge planing
8. Mengevaluasi
kegiatan discharge 22-01-18
planning
9. Dokumentasi
6. Instrumen Kepuasan Pelaksanan manajemen instrumen A dapat 1. Kordinasi dengan 17-12-2018 Perawat di Rara Rp. 10.000
A kariayawan karu ruang
meningkatkan 18,3% dari 66,67% menjadi
2. Mencari literatur 18-12-2018 paviliun
85% dengan indikator: Membuat surat wijaya
permohonan ke 20-12-2018 kusuma
121
1. pegawai RS khususnya kebijakan RS dapat bidang keperawatan RSUD
RSUD Banyumas Banyumas
meningkatkan kesejahtraan kariyawan
tentang kesejahtraan
pegawai.
7. Pasien Belum Pelaksanaan resiko jatuh dapat meningkat 1. Koordinasi Ketua 17-12-18 Semua Rara Rp 20.000
safety optimalnya 50% dari 50% menjadi 100% pasien safety Ruang dan Katim perawat di
pengendalian dengan indikator: 2. Mencari literatur 18-12-18 ruang
Resiko jatuh 3. Membuat tanda risiko Paviliun
(50%) 1. Perawat mengaplikasikan penulisan jatuh. 18-12-18 Wijaya
resiko jatuh dengan lembar penilaian 4. Sosialisasi tentang Kusuma
resiko jatuh “Morse Fall Scale” pasien safety : resiko 18-12-18
2. Perawat mengaplikasikan jatuh kepada perawat. 20-12-18
pengidentifikasian resiko jatuh pada 5. Roleplay pelaksanaan
pasien setiap harinya resiko jatuh.
3. Memberikan tanda resiko jatuh di tempat 6. Memberi kesempatan 20-12-18
tidur ruangan untuk
4. Seluruh safety rail bed terpasang dengan melakukan simulasi 20-12-18
baik. resiko jatuh.
5. Perawat mendokumentasikan resiko 7. Mengobservasi dan
jatuh dengan lembar penilaian resiko mengontrol perawat
jatuh “Morse Fall Scale” dalam pelaksanaan 21-12-18
pencegahan resiko
jatuh.
8. Mengevaluasi
perawat dalam
pelaksanaan 21-12-18
pencegahan resiko
jatuh.
9. Dokumentasi 21-12-18

121
8. PPI Belum Pelaksanan manajeman PPI dapat 3. Kordinasi dengan 17-12-2018 Perawat di Rara Rp. 10.000
optimalnya karu ruang
mengingkatkan 20% dari 50% menjadi 85%
Kelengkapan 4. Mencari literatur 18-12-2018 paviliun
alat kotak dengan indikator: 5. Membuat surat wijaya
sampah permohonan ke 20-12-2018 kusuma
infeksius (%) 1. Ruangan mendapatakan tambahan tempat bidang keperawatan RSUD
RSUD Banyumas Banyumas
sampah infeksi dan noninfeksius tentang kurangnya
alat medis.

121
BAB 4
PELAKSANAAN DAN EVALUASI

Berdasarkan hasil observasi yang telah kami lakukan selama kurang lebih 1
minggu, didapatkan hasil :
A. Identifikasi Pasien (60%)
Implementasi
Dari data pengkajian didapatkan hasil mengenai pasien safety sebesar 60%.
Oleh sebab itu, kelompok kami melakukan implementasai untuk mengatasi
masalah tersebut dengan capaian target sebesar 80%. Uraian kegiatan yang telah
terlaksana selama 5 hari, dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 53. Pelaksanaan Peningkatan Identifikasi Pasien di Ruang Paviliun


Wijaya Kusuma RSUD Banyumas Periode 17 – 22 Desember 2018

No Kegiatan Tanggal pelaksanaan


17 18 19 20 21 22
1. Mengkooroordinasika 
n dengan karu.
2. Mencari literature. X

3. Mensosialisasikan
dengan perawat X
ruangan tentang
managemen pasien
safety 
4. Melakukan roleplay x
pasien safety 
5. Memberi kesempatan x
petugas untuk
mengaplikasikan
kepada pasien

6. Melakukan evaluasi.
 
7. Mendokumentasikan  

121
Keterangan :
X : Rencana
 : Implementasi (dilaksanakan)

Berdasarkan tabel di atas, rencana kegiatan sudah dilakukan


seluruhnya (100%). Pelaksanaan kegiatan, baik waktu maupun
kegiatannya, sesuai dengan rencana yang di buat.
Evaluasi
Dari hasil implementasi yang telah dilakukan terdapt perubahan yang
significan tentang managemen pengelolaan pasien safety. Hal tersebut di
dukung dengan data
Tabel 54. Evaluasi terhadap pelaksanaan masalah Identitas Pasien

Pilihan
NO INDIKATOR
Ya Tdk
1. Pemberian gelang identitas pasien 5 0

2 Identitas gelang pasien sesuai dengan nama 5 0


pasien, no. RM pasien, tempat tanggal lahir
pasien
3 Identitas gelang pasien sesuai dengan label 5 0
obat pasien

4 Perawat menanyakan nama pasien dan 5 0


mencocokan di gelang identitas pasien saat
memberikan obat pasien
5 Perawat menanyakan nama pasien dan 4 1
mencocokan di gelang identitas pasien saat
melakukan tindakan, laboratorium, rongent
dan operasi
Jumlah 24 1
Presentase 96% 4%

Analisa :
Dalam tindakan yang dilakukan perawat setelah mendapat implementasi,
data yang didapatkan sebesar 96%. Hal tersebut merupakan perubahan yang
121
baik bagi ruangan karena dapat berubah dan mengikuti prosedurr yang telah
tersedia untuk pengelolaan identifikasi pasien. Namun masih ada beberapa
perawat yang sering lupa untuk melakukan identifikasi pasien dengan benar

Faktor Pendukung Dan Kendala


a) Faktor Pendukung
- Dukungan kepala ruangan dan perawat Ruang Paviliun Wijaya Kusuma
dalam melakukan identifikasi psien
- Respon dan penerimaan yang baik dari perawat pada saat sosialisasi tentang
identifikasi pasien
b) Kendala
- Ada beberapa perawat yang masih lupa tentang melakukan identifikasi
pasien saat melakukan tindakan.
Kesinambungan
- Pemasangan dan pemantauan penggunaan gelang di ruang Paviliun Wijaya
Kusuma

B. Pelaksanaan Cuci Tangan (60%)


Implementasi
Dari hasil observasi selama seminggu yang dilakukan di ruang Paviliun Wijaya
Kusuma mengenai kebersihan tangan yaitu 5 moment cuci tangan yang
dilakukan perawat ruangan perlu ditingkatkan untuk mencegah terjadinya
infeksi nosokomial dan melindungi perawat dari kuman.
Tabel 55. Uraian Pelaksanaan Peningkatan Pemantauan Kebersihan
Tangan di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas

No. Kegiatan Tanggal pelaksanaan


17 18 19 20 21 22
1. Mengkooroordinasikan 
dengan karu.

2. Mencari literature. X

121

3. Mensosialisasikan
dengan perawat X
ruangan tentang
managemen pasien
safety 5 momen cuci 
tangan
4. Melakukan roleplay 5 x
momen cuci tangan

5. Memberi kesempatan x
petugas untuk
mengaplikasikan 5
momen cuci tangan

6. Melakukan evaluasi.
 
7. Mendokumentasikan
 

Keterangan :
X : Rencana
 : Implementasi (dilaksanakan)

Berdasarkan tabel di atas, rencana kegiatan sudah dilakukan


seluruhnya (100%). Pelaksanaan kegiatan, baik waktu maupun
kegiatannya, sesuai dengan rencana yang di buat.
Evaluasi

No 5 Momen cuci tangan Mencuci tangan


Ya Tidak
1. Sebelum kontak dengan pasien 3 2
2. Sebelum melakukan tindakan aseptik 3 2
3. Setelah kontak dengan pasien 5 0
4. Setelah terkena cairan tubuh pasien 5 0

121
5. Setelah kontak dengan lingkungan pasien 5 0
Jumlah 21 4
Presentasi 84% 16%

Analisa:
Dari hasil implementasi didapatkan data bahwa sebanyak 84% perawat telah
melakukan cuci tangan, namun dalam realitasnya masih ada juga perawat di
ruangan yang lupa melakukan cuci tangan sebelum melakukan tindakan aseptik dan
sebelum kontak dengan pasien.

Faktor Pendukung Dan Kendala


a. Faktor Pendukung
 Dukungan kepala ruangan dan perawat Ruang Paviliun Wijaya Kusuma
dalam melakukan 5 moment cuci tangan.
 Respon dan penerimaan yang baik dari perawat pada saat sosialisasi
tentang kebersihan tangan.
b. Kendala
 Ada beberapa perawat yang masih lupa tentang 5 momen cuci tangan.

Kesinambungan
 Terdapat poster 5 momen cuci tangan dan langkah – langkah cuci tangan di
setiap pintu masuk kamar pasien.

C. Pelaksanaan Post Conference (30%)


Implementasi
Untuk menyelesaikan masalah peningkatan post conference
berdasarkan POA yang kami susun, target yang kami harapkan dalam masalah
peningkatan post conference dari 8,3% meningkat menjadi 25%. Adapun uraian
kegiatan yang kami rencanakan dan yang sudah terealisasi dapat dilihat pada
tabel di bawah ini

121
Tabel 4.Pelaksanaan Peningkatan SPO Post Conference
Di Ruangan Paviliun Wijaya Kusuma
Periode 17-22 Desember 2018

No Kegiatan Waktu
17 18 19 20 21 22
1. Melakukan koordinasi awal dengan X
Karu dan Katim 
2. Menyiapkan literature post conference X

3. Sosialisasi dengan perawat ruangan X
tentang post conference 
4. Mahasiwa mendemonsrasikan post X X X X X
conference 10 – 15 menit     
5. Implementasi perawat ruangan X

6. Observasi dan evaluasi pelaksanaan X
oleh perawat 
7. Dokumentasi X

Keterangan: X : Rencana
: Realisasi
Analisa
Berdasarkan table diatas 100% kegiatan sudah terlaksana semuanya.Semua
kegiatan sudah di realisasikan sesuai rencana pada tanggal 17 Desember 2018
sampai 22 Desember 2018. 7 aspek kegiatan yang dilaksanakan sudah
terlaksana semuanya (100%) di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma.
Evaluasi
Setelah dilaksanakan Implementasi Post conference oleh rekan – rekan
perawat Ruang Paviliun Wijaya Kusuma selama 6 hari, Maka kami
melakukan evaluasi selama 6 hari. Penanggung jawab evaluasi dilakukan
oleh Tia dan rekan – rekan Profesi Ners Elisabeth lainnya. Hasil evaluasi
kegiatan post conference yang dilakukan perawat Ruang Paviliun Wijaya
Kusuma selama 6 hari, dapat dilihat dari table di bawah ini.

121
Berdasarkan observasi dan evaluasi dapat disimpulkan bahwa
pelaksanaan peningkatan post conference dalam penilaian sudah dilakukan
adalah sebagai berikut :
Pelaksanaan Post Conference dalam melaksanakan SP2KP
Di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas
17 -22 Desember 2018
No. Aktivitas Ya Tidak
Persiapan
1. Kepala ruang/ PJ mempersiapkan perawat 5
(Karu, Ketua Tim dan Anggota Tim)
2. Ketua Tim menyiapkan tempat untuk post 5
conference
3. Ketua Tim menyiapkan rekam medik 5
pasien dalam tanggung jawabnya
Pelaksanaan
1. Ketua Tim / PJ membuka post conference 5
2. Ketua Tim / PJ menjelaskan tujuan 5
dilaksanakannya post conference
3. Anggota Tim menjelaskan tentang hasil 5
tindakan / hasil asuhan keperawatan yang
telah dilakukan
4. Mendiskusikan masalah yang telah 5
ditemukan dalam memberikan ASKEP
pada pasien dan mencari upaya
penyelesaian
5. Ketua Tim / PJ memberi reinforcement 5
pada Anggota Tim
6. Ketua Tim / PJ menyimpulkan hasil post 5
conference
7. Ketua Tim / PJ mengklarifikasi informasi 5
pasien sebelum melakukan operan tugas
jaga shift jaga berikutnya
Penutup
1. Mengakhiri post conference dengan doa 5

2. Mendokumentasikan post conference 5

Total 25% 75
%
Sumber: Hasil Observasi di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas

121
Analisa
Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi yang kami lakukan pada perawat di
Ruang Paviliun Wijaya Kusuma didapatkan hasil presentase post conference
sebesar 25% yang termasuk dalam kategori kurang. Hasil evaluasi post
conference yang dilakukan oleh perawat di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma,
kami dapatkan mengalami peningkatan sebesar 25%. Peningkatan yang kami
harapkan yaitu dari 70% - 100% . Sedangkan peningkatan di Ruang Paviliun
Wijaya Kusuma sebesar 25%. Hasil tersebut kurang karena tidak sesuai dari
yang kami harapkan.
Faktor Pendukung dan Penghambat

a) Faktor Pendukung
(1)Adanya dukungan dari karu, ka.tim dan perawat pelaksana kepada
mahasiswa dalam pelaksanaan role play post conference.
(2)Adanya keinginan dari ka.tim dan perawat pelaksana dalam pelaksanaan
post conference.
(3)RS menerapkan program SP2KP yang harus diselenggarakan disetiap
ruangan.
(4)Perawat mendukung adanya progran penerapan SP2KP yang di lakukan
oleh mahasiswa praktek manajemen keperawatan.
b) Faktor Penghambat
(1)Kurang dapatnya perawat ruangan untuk membagi waktu dalam
melaksanakan post conference dikarenakan program ruangan yang
banyak sehingga akan berdampak pada post conference yang akhirnya
tidak terlaksana.

Kesinambungan

Diharapkan dengan adanya review dan poster pengingat post


conference serta dukungan dari kepala ruang diruangan Paviliun Wijaya
Kusuma. Kegiatan post conference dapat terus terlaksana sebelum akhir
shift di ruangan Paviliun Wijaya Kusuma, guna membicarakan masalah
yang tidak bisa diselesaikan oleh perawat pelaksana, pada pasien
121
kelolaannya. Diharapkan juga saat meeting morning disampaikan akan
dilakukannya post conference dan dijadwalkan atau ditetapkan untuk waktu
akan dilaksanan post conference agar selalu diingat dan tetap terlaksananya
post conference diruangan Paviliun Wijaya Kusuma karena jika terus
menerus diingatkan mampu menimbulkan kesadaran diri dari perawat
tersebut.
D. Pelaksanaan Pre-Conference (50%)
Berdasarkan hasil yang didapatkan kelompok mengenai kegiatan pre
conference di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma Kami berencana menaikan
kegiatan pre conference dari 58,4% menjadi 70 % - 100 % dengan kenaikan
sebesar 83,3 %. Penanggung Jawab dalam kegiatan ini adalah Klara Anggela,
namun untuk pengaplikasianya atau pelaksanaannya dilakukan oleh seluruh
rekan profesi Ners yang dinas di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma
Adapun uraian kegitan yang telah terlaksana selama 6 hari kami
mengobservasi di Ruang Permata Hati, dapat dilihat dari table berikut:

Pelaksanaan Pre Conference dalam melaksanakan SP2KP


Di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas

Waktu ( Bulan Desember 2018)


No Kegiatan 17 18 19 20 21 22

1 Melakukan persiapan dengan X X


mensosialisasikan kepada
 
perawat ruangan.

2 Melakukan pelaksanaan X X X X
dengan meroleplaykan
   
pelaksanaan SOP pre
conference ke perawat
ruangan dalam melakukan
tujuan pre conference,
memberi reinforcemen, dan
pembagian tugas

121
3 Mengevaluasi hasil dari
tindakan perawat dalam
melakukan SOP pre
conference

Keterangan: X: Rencana
 : Realisasi
Analisa
Berdasarkan table diatas 100% kegiatan sudah terlaksana semuanya.Semua kegiatan
sudah di realisasikan sesuai rencana.
Evaluasi
Setelah dilaksanakan Implementasi Pre conference oleh rekan – rekan perawat
Ruang Paviliun Wijaya Kusuma selama 6 hari, Maka kami melakukan evaluasi
selama 6 hari. Penanggung jawab evaluasi dilakukan oleh Klara Anggela dan
rekan – rekan Profesi Ners Elisabeth lainnya. Hasil evaluasi kegiatan pre
conference yang dilakukan perawat Ruang Paviliun Wijaya Kusuma selama 6
hari, dapat dilihat dari table di bawah ini.

Pelaksanaan Pre Conference dalam melaksanakan SP2KP


Di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas
17-22 Desember 2018
NO VARIABEL YANG DINILAI
YA TIDAK
1 Katim/Pj shift menyiapkan tempat untuk pre 5
conference
2 Katim/Pj shift menyiapkan buku laporan tugas 5
jaga pasien
3 Katim/Pj shift menjelaskan tujuan dilakukan pre 5
conference
4 Katim/Pj shift memandu pelaksanaan pre 5
conference
5 Membagi tugas pada PA sesuai kempuan yang 5
dimiliki dengan memperhatikan keseimbangan
kerja
6 Katim/Pj shift Menjelaskan masalah pasien 5
selama dalam perawatan dan rencana
keperawatan yang menjadi tanggung jawabnya
7 Mendiskusikan cara dan strategi pelaksanaan 5
asuhan keperawatan pasien/tindakan

121
8 Memotivasi untuk memberikan tanggapan dan 5
penyelesaian masalah yang sedang didiskusikan
9 Mengklarifikasi kesiapan PA untuk 5
melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien
yang menjadi tanggungjawabnya
10 Memberikan reinforcement positif pada PA 5
11 Menyimpulkan hasil pre conference 5
12 Menutup pre conference 5

13. Jumlah 10 2
14 Presentase 83,3% 17%

Sumber: Hasil Observasi di Ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas

Analisa
Berdasarkan hasil observasi didaptkan nilai sebesar 83,3% dengan kategori
kurang baik. Hasil ini menunjukan bahwa pelaksanaan pre conference
berjalan dengan kurang baik. Pada kegiatan pre conference Dari obeservasi
yang telah dilakukan selama 6 hari terhadap pelaksanaan pre conference di
RSUD Banyumas, didapatkan dari point cek list pembagian tugas pada
anggota tim jarang dilakukan hal tersebut sangat penting karena perawat
pelaksana yang bertugas harus sudah siap dengan tugas dan tanggung
jawabnya pada saat shift tersebut, serta menjelaskan masalah pasien selama
perawatan, mendiskusikan cara dan strategi keperawatan juga jarang
dilakukan hal ini dilakukan agar dapat membantu memecahkan masalah
yang ada di saat shif, dan memberikan reinforcement dan memotivasi juga
perlu dilakukan supaya perawat semangat dalam menjalankan tugas.

Faktor Pendukung dan Penghambat


a) Faktor Pendukung
(1) Adanya dukungan dari KaRu, Ka.Tim dan perawat pelaksana kepada
mahasiswa dalam pelaksanaan pre conference.
(2) Adanya keinginan dari Ka.Tim dan perawat pelaksana dalam
pelaksanaan pre conference.
(3) RS menerapkan program SP2KP yang harus diselenggarakan disetiap
ruangan.
121
(4) Perawat mendukung adanya program penerapan SP2KP yang di lakukan
oleh mahasiswa praktek Manajemen Keperawatan.
(5) Mahasiswa yang shif pagi datang tepat waktu sehingga pre conference
dapat dilaksanakan pukul 07.30 WIB
b) Faktor Penghambat
(1) Kurangnya pengalaman mahasiswa dalam melakukan pre conference
(2) Perawat Ruang Paviliun Wijaya Kusuma biasanaya lupa pada point
keempat yaitu Perawat Ruang Paviliun Wijaya Kusuma lupa menjelaskan
tujuan diselenggarakannya pre conference, Hal ini dikarenakan disetiap
pre conference tidak menjelaskan tujuan diselenggarakannya pre
conference.
(3) Perawat Ruang Permata Hati biasanaya lupa pada point kesepuluh yaitu:
mengklarifikasi kesiapan PP untuk melaksanakan asuhan keperawatan
kepada klien yang menjadi tanggung jawabnya, mengklarifikasi hasil pre
conference. Hal itu dikarenakan Ketua TIM berasumsi bahwa perawat
Ruang Paviliun Wijaya Kusuma sudah menguasai kasus dan tindakan
keperawatan yang perlu dilakukan di Ruangan.
Kesinambungan
Diharapkan dengan adanya Role Play, Sosialisasi pre conference dan
Penerapan pre conference sesuai protap ini mampu untuk memotivasi semua
perawat Ruang Paviliun Wijaya Kusuma dalam pelaksanaan pre conference
sebelum melakukan tindakan keperawatan. Dengan begitu tujuan dari pre
conference dapat tercapai dan dapat berjalan lebih optimal lagi pelaksanaannya.
Adanya pelaksanaan Pre conference diharapkan nanti Ruang Paviliun Wijaya
Kusuma mampu memberikan contoh kepada ruangan yang lain yang belum
melakukan Pre conference. Oleh karena itu, sangat diperlukan sekali dukungan
dari KaRu, Ka.Tim dan perawat pelaksana yang ada di Ruang Paviliun Wijaya
Kusuma untuk lebih memaksimalkan lagi kegiatan keperawatan yang sudah
direncanakan

121
E. Pelaksanaan Discharge Planning (65%)
Implementasi
Berdasarkan hasil obeservasi yang dilakukan oleh kelompok 5 di
ruang Paviliun Wijaya Kusuma, didapatkan hasil bahwa sebanyak 65%.
Hal ini menjadi masalah dalam pelayanan pasien di ruangan mengingat
bahwa pasien di ruang Paviliun Wijaya Kusuma berhak mendapatkan
penjelasan tentang kesehatan dan terapi obat yang dikonsumsi dirumah.
Pelaksanaan Discharge Planning di Ruang Paviliun Wijaya Kusumu
RSUD Banyumas Periode 17-22 Desember 2018

No. Kegiatan Tanggal pelaksanaan


17 18 19 20 21 22
1. Mengkooroordinasikan

dengan karu.
3. Mensosialisasikan dengan
perawat ruangan tentang

pelaksanaan discharge
planning.
4. Melakukan pelaksanaan
discharge planning  

5. Memberi kesempatan

petugas untuk
mengaplikasikan

pelaksanaan discharge
planning

6. Melakukan evaluasi.
Mendokumentasikan

Keterangan :
 : Implementasi (dilaksanakan)

121
Berdasarkan tabel di atas, rencana kegiatan sudah dilakukan
seluruhnya (100%). Pelaksanaan kegiatan, baik waktu maupun
kegiatannya, sesuai dengan rencana yang di buat.

Evaluasi
Pelaksanaan Discharge Planning di Ruang Paviliun Wijaya Kusumu
RSUD Banyumas Periode 17-22 Desember 2018
Analisa :

Discharge Planning yang telah di observasi

Terlaksana
No Variabel yang dinilai
Ya Tdk
1 Perawat Memberikan salam 5
2 Mengenalkan nama 3 2
Memberikan penyuluhan terkait dengan cara
3 5
diskusi , tanya jawab, demonstrasi
4 Menggunakan alat peraga (leaflet, flip chart) 5
5 Melakukan evaluasi 5
6 Memberikan umpan balik 5
7 Mengakhiri dengan salam 5
8 Pendokumentasian 5
Jumlah 26 14
Persentase 82,5 % 35%

Analisa:
Dari tabel diatas hasil observasi kepada 5 perawat di ruang Paviliun Wijaya Kusuma
tentang pelaksanaan discharge planning didapatkan hasil awal sebelum dilakukan
implemantasi sebesar 65% dan setelah dilakukan implementasi naik sebesar 82,5%

F. Kepuasan Karyawan (66,67%)

Berdasarkan hasil observasi yang telah kami lakukan selama kurang lebih 1
minggu, didapatkan hasil :
121
1. Kepuasan Karyawan
a. Implementasi
Berdasarkan hasil observasi kami mengenai tingkat kepuasan karyawan
di ruang Paviliun Wijaya Kusuma, dari tabel observasi kepada 5 orang
perawat yang di berikan quesioner terdapat 66,67% perawat yang puas
terhadap sistematika tentang ketenagakerjaan. Hasil dari koordinasi
bersama ruangan dan mencari informasi tentang pengangkatan
ketenagakerjaan karyawan di ruang Paviliun Wijaya Kusuma,
pengangkatan tersebut akan diadakan pada tahun 2019.
b. Evaluasi
Pengangkatan ketenagakerjaan di RSUD Banyumas meliputi beberapa
tahap seleksi, mulai dari tes tertulis maupun tidak tertulis. Hal
tersebutlah yang mendasari lulus atau tidaknya seorang karyawan untuk
mengalami pengangkatan ketenagakerjaan di ruangan.
c. Faktor Pendukung dan Kendala
Dalam pengangkatan ketenagakerjaan tentunya juga memilki faktor
pendukung dan kendala yang akan dihadapi. Faktor pendukung dan
kendala yang dapat mempengaruhi pengangkatan ketenagakerjaan
karyawan adalah
- Lamanya seseorang dalam bekerja
- Tingkat pendidikan
- Pengalaman dalam hal bekerja
- Pelatihan yang selama ini di dapatkan

G. Pelaksanaan Resiko Jatuh (50%)


Implementasi
Berdasarkan hasil obeservasi yang dilakukan oleh kelompok 5 di ruang
Paviliun Wijaya Kusuma, didapatkan hasil bahwa sebanyak 36,7 %. Hal ini
menjadi masalah serius dalam pelayanan pasien di ruangan mengingat bahwa
pasien di ruang Paviliun Wijaya Kusuma menerima berbagai usia termasuk
usia lanjut. Sehingga masalah resiko jatuh di ruangan perlu di atasi.
121
Uraian Pelaksanaan Peningkatan Pelaksanaan Resiko Jatuh di
Ruang Paviliun Wijaya Kusuma Periode 17-22 Desember 2018
RSUD Banyumas

No. Kegiatan Tanggal pelaksanaan


17 18 19 20 21 22
1. Mengkooroordinasikan
dengan karu. 

3. Mensosialisasikan
dengan perawat
ruangan tentang 
managemen resiko
jatuh.

4. Melakukan screening
pasien dengan resiko 
jatuh

5. Memberi kesempatan
petugas untuk 
mengaplikasikan
screening dan
penanganan resiko
jatuh


6. Melakukan evaluasi.
Mendokumentasikan

Keterangan :
 : Implementasi (dilaksanakan)

Berdasarkan tabel di atas, rencana kegiatan sudah dilakukan


seluruhnya (100%). Pelaksanaan kegiatan, baik waktu maupun
kegiatannya, sesuai dengan rencana yang di buat.

121
Evaluasi
Pengukuran Instrumen Patient Safety Resiko Jatuh di Ruang Paviliun
Wijaya Kusuma periode 11 – 13 Desember 2018 RSUD Banyumas
Analisa :

Kebersihan tangan yang telah di observasi

TOTAL
No Pernyataan
Ya Tidak
1. Perawat mengerti tentang pengkajian resiko 5 0
jatuh (Morse Fall Scale)

2. Perawat melakukan pengidentifikasian resiko 4 1


jatuh
3. Perawat mengaplikasikan pengidentifikasian 0 5
resiko jatuh pada setiap pagi harinya

4. Perawat sudah menjelaskan tentang resiko jatuh 5 0


kepada pasien/keluarga
5. Terdapat label atau tanda resiko jatuh pada 3 2
pasien yang beresiko
6. Perawat mendokumentasikan resiko jatuh 4 1
dengan lembar penilaian resiko jatuh “Morse
Fall Scale”
Jumlah 21 9
Prosentase 70% 30%

Analisa:
Dari tabel diatas hasil observasi kepada 5 perawat di ruang Paviliun Wijaya Kusuma
didapatkan hasil perawat yang mengerti tentang management resiko jatuh awal
sebelum dilakukan implemantasi sebesar 36,7% dan setelah dilakukan
implementasi naik sebesar 70%
Faktor Pendukung Dan Kendala
c) Faktor Pendukung
- Dukungan kepala ruangan dan perawat Ruang Melati dalam melakukan
managemen resiko jatuh.

121
d) Respon dan penerimaan yang baik dari perawat pada saat sosialisasi
tentang managemen resiko jatuh.
e) Kendala
- Ada beberapa perawat yang masih belum melakukan managemen
resiko jatuh.
Kesinambungan
 Terdapat format resiko jatuh di rekam medik serta label resiko jatuh
yang tertempel di gelang identitas pasien.

H. Kelengkapan Alat
Implementasi
Berdasarkan hasil observasi dan penghitungan alat di ruang Paviliun
Wijaya Kusuma, di dapatkan data bahwa masih ada beberapa kebutuhan
ruangan yang perlu di sediakan.
No. Kegiatan Tanggal pelaksanaan
17 18 19 20 21 22
1. Mengkooroordinasikan 
dengan karu.

2. Mensosialisasikan X
kebutuhan alat dengan
perawat ruangan 

3. Melakukan komunikasi x
kepada bagiaan
penggandaan alat melalui 
karu

6. Melakukan evaluasi.
 
7. Mendokumentasikan  

121
Tabel Kelengkapan Alat yang di Butuhkan Oleh Ruang Paviliun Wijaya
Kusuma
No Nama Alat Yang Yang di Kondisi
Terssedia Butuhkan
1 Tensi Meter 16 30 Baik
2 Tempat sampah Non 16 30 Baik
Infeksius
3 Tempat Sampah 3 30 Bik
Infeksius

Dari tabel diatas, ruang Paviliun Wijaya Kusuma membutuhkan


beberapa alat tambahan untuk menunjang fasilitas ruangan. Seperti
sampah infeksius maupun non infeksius yang harus tersedia pada setiap
kamar pasien. Hal tersebut akan berdampak pada penanggulangan dan
pengelolaan limbah di RSUD Banyumas. Ketidaktersediaannya sampah
non infeksius dan infeksius juga dapat memicu terjadinya infeksi
nosokomial. Oleh sebab itu, kelompok kami berkoordinasi dengan
kepala ruang dan staff bagian penggandaan alat RSUD Banyumas untuk
menyediakan tempat sampah infeksius dan non infeksius sesuai jumlah
yang dibutuhkan.
a. Evaluasi
Koordinasi antara ruangan Paviliun Wijaya Kusuma dengan Staff
penggandaan alat RSUD Banyumas telah dilakukan mengingat bahwa
alat tersebut memang di butuhkan oleh ruangan. Penyediaan alat
tersebut dalam proses untuk disediakan oleh bagian penggandaan alat.
Diharapkan peralatan yang dibutuhkan oleh ruangan paviliun Wijaya
Kusuma akan tersedia awal tahun 2019 agar fasilitas di ruangan paviliun
RSUD Banyumas dapat memenuhi standart kriteria ketersediaan alat.
b. Faktor Pendukung dan Kendala
1. Faktor Pendukung

121
- Bagian penggandaan alat telah menyetujui untuk
menyediakan alat yang dibutuhkan oleh ruangan Paviliun
Wijaya Kusuma
- Adanya dukungan dari pihak kepala ruangan dan bagian
penggandaan alat
2. Kendala
- Pengiriman dari bagian penggandaan alat belum diketahui
tanggal berapa alat-alat yang dibutuhkan oleh ruangan
Paviliun Wijaya Kusuma akan tersosialisasi.
c. Kesinambungan
Dalam proses mengatasi ketidak tersedianya tempat sampah infeksius
maupun non infeksius, keluarga pasien maupun penunggu pasien yang
ada di ruangan Paviliun Wijaya Kusuma telah mendapat informasi
tentang tempat membuang sampah limbah pasien ( infeksius ) untuk
membuangnya di tempat sampah kuning didekat kantor perawat, dan
terkhusus sampah pampers dan pembalut dapat di buang di tempat
sampah kuning yang berada di tengah-tengah ruangan Paviliun Wijaya
Kusuma.

121
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN
1. Pembelajaran Konsep keperawatan menejemen sudah dilaksanakan
sesuai dengan target yang diberikan oleh bagian pendidikan dan selama
ini kami sudah diberikan bimbingan dengan sangat baik dari Kepala
ruangan, Perseptor, maupun pembimbing klinik.
2. Dari hasil pengkajian didapatkan 8 masalah yang ditemukan diruang
Paviliun Wijaya Kusuma yaitu Identifikasi pasien, Cuci tanggan,
Pelaksanaan post conference, pre conference,Dischart planning,
Kepuasan karyawan, Risiko Jatuh, Kelengkapan alat.
3. Dari kedelapan permasalahan tersebut, telah disusun program kegiatan
dan program tersebut telah dilaksanakan sesuai plan of action dengan
melibatkan Kepala Ruang, fasilitator, perceptor, perawat, pasien,
keluarga pasien, dan mahasiswa praktikan.
4. Hasil kegiatan yang telah dicapai antara lain;
a. Identifikasi pasien mengalami peningkatan yang didapatkan data
sebesar 96%. Hal tersebut merupakan perubahan yang baik bagi
ruangan karena dapat berubah dan mengikuti prosedurr yang telah
tersedia untuk pengelolaan identifikasi pasien. Namun masih ada
beberapa perawat yang sering lupa untuk melakukan identifikasi pasien
dengan benar .
b. Cuci tanggan mengalami peningkatan didapatkan data bahwa sebanyak
84% perawat telah melakukan cuci tangan, namun dalam realitasnya
masih ada juga perawat di ruangan yang lupa melakukan cuci tangan
sebelum melakukan tindakan aseptik dan sebelum kontak dengan
pasien.
c. Pelaksanaan post conference mengalami peningkatan 25% dari 8,3%
yang artinya target tidak tercapai dengan kategori kurang. Beberapa
kegiatan yang telah kami lakukan untuk meningkatkan pelaksanaan

121
post conference yaitu dengan dilakukannya role play post conference
di ruang Paviliun Wijaya Kusuma RSUD Banyumas.
d. Pre conference mengalami peningkatan 83,3% dari 58,4% yang artinya
target tercapai dengan kategori baik. Beberapa kegiatan yang telah
kami lakukan untuk meningkatkan pelaksanaan pret conference yaitu
dengan dilakukannya role play post conference di ruang Paviliun
Wijaya Kusuma RSUD Banyumas.
e. Dischart planning mengalami peningkatan didapatkan hasil awal
sebelum dilakukan implemantasi sebesar 65% dan setelah dilakukan
implementasi naik sebesar 82,5%

f. Kepuasan kerja mengalami peningkatan

Berdasarkan hasil observasi kami mengenai tingkat kepuasan


karyawan di ruang Paviliun Wijaya Kusuma, dari tabel observasi
kepada 5 orang perawat yang di berikan quesioner terdapat 66,67%
perawat yang puas terhadap sistematika tentang ketenagakerjaan.
Hasil dari koordinasi bersama ruangan dan mencari informasi tentang
pengangkatan ketenagakerjaan karyawan di ruang Paviliun Wijaya
Kusuma, pengangkatan tersebut akan diadakan pada tahun 2019.
g. Risiko Jatuh mengalami peningkatan didapatkan hasil perawat yang
mengerti tentang management resiko jatuh awal sebelum dilakukan
implemantasi sebesar 36,7% dan setelah dilakukan implementasi naik
sebesar 70%
h. Kelengkapan Alat mengalami peningkatan
5. Selama melaksanakan praktik menejemen kami memang mengalami
berbagai kendala terkait dengan pengadaan printer, tetapi semua sudah
teratasi dengan bantuan berbagai pihak.
6. Proses bimbingan yang intensif dari para pembimbing klinik, sehingga
kami benar-benar mengerti tentang alur dari proses pratek manajemen,
dan dapat mengaplikasikannya.

121
SARAN
1. Bagi perawatan ruang Paviliun Wijaya Kusuma diharapkan melakukan
kegiatan post conference sesuai protap.
2. Bagi perawatan ruang Paviliun Wijaya Kusuma diharapkan memberikan
sosialisasi dini kepada pasien dan keluarga yang akan masuk ke Ruang
Paviliun Wijaya Kusuma tentang cuci tangan yang benar.

121
DAFTAR PUSTAKA

1. Nursalam. (2007). Manajemen keperawatan: Aplikasi dalam praktek


keperawatan profesional. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.
2. Suarli, S & Bahtiar, Y. (2012). Manajemen keperawatan. Jakarta: Erlangga
3. Depkes RI. (2009). Pedoman Hari Cuci Tangan Pakai Sabun
Sedunia(CTPS) 15 oktober 2009. Jakarta : Bakti Husada
4. Nursalam (2011). Manajemen Keperawatan Aplikasi dalam praktik
keperawatan
5. Subea D. (2010). Raih Hidup Sehat Dengan Cuci Tangan Pakai Sabun - Hari
Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPS). from
http://www.depkes.go.id. (15 Desember 2011).
6. Nursalam. (2007). Manajemen keperawatan: Aplikasi dalam praktek
keperawatan profesional. Edisi 2. Jakarta: SalembaMedika.
7. Suarli, S & Bahtiar, Y. (2012). Manajemen keperawatan. Jakarta: Erlangga.
8. Yoder-Wise, P.S.(Eds). (2011). Leading and managingin nursing. St
Louise: Elsevier Mosby

121