You are on page 1of 44

Case Report Session

PEMERIKSAAN KESEHATAN BERKALA PADA ANAK SEKOLAH

Oleh :

Intan Ekaverta 1740312424

Pembimbing:
dr. Hardisman, MHID, Dr.PH (Med)

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2019

1
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anak usia sekolah merupakan sasaran strategis untuk pelaksanaan program

kesehatan, anak-anak juga merupakan sasaran yang mudah dijangkau karena

terorganisir dengan baik. Menurut data ikhtisar pendidikan tahun 2016/2017

jumlah anak sekolah di Indonesia mencapai 49.833.002 jiwa. Di antara anak usia

sekolah tersebut terdapat anak disabilitas yang juga memiliki hak yang sama untuk

memperoleh layanan kesehatan.1

Masalah kesehatan yang dialami peserta pendidik sangat kompleks dan

bervariasi. Pada usia sekolah dasar, permasalahan kesehatan peserta didik

umumnya berhubungan dengan ketidakseimbangan gizi, kesehatan gigi, kelainan

refraksi, kecacingan, dan penyakit menular terkait perilaku hidup bersih dan sehat.

Pada peserta didik di tingkat lanjutan Sekolah Menengah Pertama (SMP),

Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Umum (SMU) biasanya terkait

perilaku berisiko di antaranya kebiasaan merokok dan melakukan hubungan

seksual di luar nikah.1

Berdasarkan data Riskesdas 2007 disebutkan bahwa untuk masalah

kesehatan mata, sebesar 1,1% anakusia 6-14 tahun mengalami kelainan refraksi

dan 0,2% anak usia 6-14 tahun mengalami kebutaan.3 Berdasarkan hasil Riskesdas

2010 masalah status gizi anak usia sekolah dan remaja menunjukan bahwa anak

usia 6-12 tahun 15,1% sangat pendekdan 20,5% pendek,4,6% sangat kurus dan

7,6% kurus ,serta 9,2 % mengalami kegemukan.2 Hasil riskesdas tahun 2013

menyatakan bahwa karies untuk anak diatas usia 12 tahun 72,6% ,karies aktif umur

12 tahun 53,7%. Dan 73,6% dari anak usia 12 tahun memerlukan penambalan gigi,

2
sedangan yang sudah dilakukanpenambalan gigi baru 3,2%. Sampai tahun 2013,

hasil survey pada anak Sekolah Dasar menunjukan prevalensi kecacingan antara 0-

85,9 %( survey di 175 kab/kota) dengan rata rata prevalensi 28,12%.1

Melihat permasalahan yang ada, pelayanan kesehatan di sekolah melalui

Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), UKS berdiri dengan kerjasama puskesmas

dengan sekolah yang berada di wilayah kerja puskesmas. Trias UKS terdiri dari

pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan dan pembinaan lingkungan sekolah

sehat. Pendidikan kesehatan melalui pelatihan kepada kader sekolah (dokter kecil /

kader kesehatan remaja). Program UKS diutamakan pada upaya peningkatan

kesehatan dalam bentuk promotif dan preventif. Upaya Promotif dengan

pendidikasn kesehatan melalui pembinaan dokter kecil pada anak SD dan pelatihan

kader kesehatan remaja pada SMP dan SMA. Upaya preventif melalui kegiatan

penjaringan kesehatan (skrining kesehatan) dan pemeriksaan kesehatan berkala

yang rutin pada peserta didik.1

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana pemeriksaan kesehatan berkala pada anak sekolah di wilayah

kerja Puskesmas Ambacang?

1.3 Tujuan Penulisan

Mengetahui pemeriksaan kesehatan berkala pada anak sekolah di wilayah

kerja Puskesmas Ambacang.

1.4 Metode Penulisan

Metode penulisan makalah ini berupa tinjauan pustaka yang merujuk pada

berbagai literatur, serta laporan tahunan Puskesmas Ambacang tahun 2018.

3
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)

UKS adalah usaha kesehatan masyarakat yang dijalankan di sekolah-

sekolah dengan anak didik beserta lingkungan hidupnya sebagai sasaran utama.

UKS merupakan wahana untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat dan

selanjutnya membentuk perilaku hidup sehat, yang pada gilirannya menghasilkan

derajat kesehatan yang optimal.

2.1.1 Tujuan UKS

a. Tujuan Umum UKS

Tujuan Usaha Kesehatan Sekolah/madrasah adalah untuk meningkatkan

mutu pendidikan dan prestasi belajar peserta didik dengan meningkatkan perilaku

hidup bersih dan sehat serta derajat kesehatan peserta didik dan menciptakan

lingkungan yang sehat, sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan

yang harmonis dan optimal dalam rangka pembentukan manusia Indonesia

seutuhnya.

b. Tujuan Khusus UKS

Memupuk kebiasaan hidup sehat dan meningkatkan derajat kesehatan

peserta didik yang di dalamnya mencakup:

1. Memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk melaksanakan prinsip

hidup sehat serta berpartisipasi aktif di dalam usaha peningkatan kesehatan;

2. Sehat, baik dalam arti fisik, mental maupun sosial dan;

4
3. Memiliki daya hayat dan daya tangkal terhadap Pengaruh buruk

penyalahgunaan narkotika, Obat-obatan dan bahan bebahaya, alkohol

(minuman keras), rokok dan sebagainya.

c. Sasaran UKS

Sasaran pembinaan dan pengembangan UKS meliputi:

a. Sasaran Primer : peserta didik

b. Sasaran Sekunder : guru, pamong belajar/ tutor, komite sekolah/orang tua,

pengelola pendidikan dan pengelola kesehatan, serta TP UKS disetiap

jenjang

c. Sasaran Tertier : Lembaga pendidikan mulai dari tingkat prasekolah sampai

pada sekolah dan perguruan agama beserta lingkungannya.

d. Ruang Lingkup Program UKS

Ruang lingkup UKS adalah ruang lingkup yang tercermin dalam Tiga

Program Pokok Usaha Kesehatan Sekolah (TRIAS UKS), yaitu sebagai berikut:

a. Penyelenggaraan Pendidikan Kesehatan, yang meliputi aspek:

1. Pemberian pengetahuan dan keterampilan tentang prinsip-prinsip hidup

sehat;

2. Penanaman perilaku/kebiasaan hidup sehat dan daya tangkal pengaruh

buruk dari luar;

3. Pelatihan dan penanaman pola hidup sehat agar dapat diimplementasikan

dalam kehidupan sehari-hari.

b. Penyelenggaraan pelayanan Kesehatan di sekolah antara lain dalam bentuk:

1. Pelayanan kesehatan;

2. Penjaringan kesehatan peserta didik

3. Pengobatan ringan dan P3K maupun P3P;

5
4. Pencegahan penyakit (imunisasi, PSN, PHBS, PKHS);

5. Penyuluhan kesehatan;

6. Pengawasan warung sekolah dan perbaikan gizi;

7. Pencatatan dan pelaporan tentang keadaan penyakit dan status gizi dan hal

lainnya yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan;

8. Rujukan kesehatan ke puskesmas;

9. UKGS;

10. Pemeriksaan berkala.

c. Pembinaan Lingkungan Kehidupan Sekolah Sehat, baik fisik, mental, sosial

maupun lingkungan yang meliputi:

1. Pelaksanaan 7K (kebersihan, keindahan, kenyamanan, ketertiban, keamanan,

kerindangan, kekeluargaan );

2. Pembinaan dan pemeliharaan kesehatan lingkungan;

3. Pembinaan kerjasama antar masyarakat sekolah (guru, peserta didik, pegawai

sekolah, komite sekolah dan masyarakat sekitar).

2.1.2 Pemeriksaan Kesehatan Berkala

a. Definisi

Pemeriksaan Kesehatan Berkala adalah pemeriksaan kesehatan yang

dilaksanakan secara berkala dengan jarak waktu yang disesuaikan dengan besarnya

risiko kesehatan yang dihadapi. Pemeriksaan ini berfungsi untuk memantau,

memelihara serta meningkatkan status kesehatan siswa dengan tujuan untuk

memperoleh data atau informasi untuk menilai perkembangan kesehatan anak

sekolah maupun untuk dijadikan pertimbangan dalam menyusun program

pembinaan kesehatan sekolah.

6
Dari pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pemeriksaan

kesehatan berkala merupakan usaha-usaha dalam pelayanan kesehatan yang

terprogram dan dilakukan secara rutin oleh pelaksana pelayanan kesehatan untuk

mengetahui tingkat kesehatan badan peserta didik dan mengenal kelainan-kelainan

kesehatan sedini mungkin sedangkan penjaringan merupakan langkah awal untuk

skrining pada siswa tahun ajaran baru dimana kedua pemeriksaan ini mefokuskan

untuk deteksi dini dalam upaya preventif.

b. Tujuan Umum

Meningkatkan derajat kesehatan peserta didik secara optimal dalam

mendukung proses belajar

c. Tujuan Khusus

1. Terdeteksinya secara dini masalah kesehatan peserta didik, sehingga bila

terdapat masalah dapat segera ditindak lanjuti

2. Tersedianya data atau informasi untuk menilai perkembangan kesehatan

peserta didik, maupun untuk dijadikan pertimbangan dalam menyusun

program pembinaan kesehatan sekolah.

3. Termanfaatkannya data untuk perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan

evaluasi program pembinaan peserta didik.

d. Landasan Hukum

1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang

Cacat

2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 79

(Kesehatan Sekolah)

3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 80-81

(Kesehatan Olahraga)

7
4. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2017 tentang

Pengesahan Convention on the Rights of Persons with Disabilities (Konvensi

Mengenai Hak-hak Penyandang Disabilitas).

5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah

6. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan Undang-Undang

Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

7. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan

Standar Pelayanan Minimal

8. Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan

Pemerintahan

9. Peraturan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Kesehatan,

Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 6/X/PB Tahun 2014,

Nomor 73 Tahun 2014, Nomor 41 Tahun 2014, Nomor 81 Tahun 2014 tentang

Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah

10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 741 Tahun 2008 tentang Standar

Pelayanan Minimal Bidang Pelayanan Kesehatan Kabupaten/Kota

e. Pelaksanaan Pemeriksaan Kesehatan Berkala

Pelaksanaan Pemeriksaan Berkala dilakukan dengan 2 (dua) rangkaian

kegiatan yaitu pengisian kuesioner oleh peserta didik/orangtua/wali peserta didik

dan pemeriksaan fisik oleh tenaga Kesehatan, guru atau kader kesehatan.

1. Pengisian Kuesioner Oleh Peserta Didik/Orang Tua/Wali Peserta

Didik

a) Pemeriksaan riwayat kesehatan peserta didik

Pemeriksaan riwayat kesehatan peserta didik meliputi pengisian kuesioner

terkait jenis gejala/kejadian terkait kesehatan yang pernah diderita oleh peserta

8
didik seperti alergi makanan tertentu, alergi obat tertentu, cedera serius akibat

kecelakaan, kejang berulang, pingsan, tranfusi darah berulang dan ataupun

penyakit lainnya. Peserta didik yang memiliki riwayat kesehatan tertentu memiliki

kemungkinan memiliki penyakit tertentu yang dapat mempengaruhi kondisi

kesehatan peserta didik mengakibatkan kesakitan dan mengganggu proses belajar

pada masa yang akan datang. Keterangan riwayat kesehatan peserta didik dapat

digunakan oleh petugas kesehatan untuk membantu petugas kesehatan dalam

menentukan diagnose penyakit maupun pengobatan bagi peserta didik.

Pemeriksaan riwayat kesehatan peserta didik dilakukan pada peserta didik SD/MI,

SMP/MTs, SMA/SMK/MA dan sederajat.

Tujuan: Untuk mendeteksi risiko masalah kesehatan peserta didik

berdasarkan gejala/kejadian terkait kesehatan yang pernah dialami oleh peserta

didik.3

b) Penilaian status imunisasi

Penilaian status imunisasi meliputi jenis imunisasi yang diberikan melalui

program imunisasi lanjutan yaitu Bulan Imunisasi Anak Sekolah, salah satu

vaksinnya terkait program TT 5 dosis (long life). Pemeriksaan status imunisasi

dilakukan pada peserta didik SD/MI. 3

Tujuan: Untuk mengetahui status imunisasi peserta didik atas imunisasi

DT, Campak, dan TT

c) Riwayat kesehatan keluarga

Pemeriksaan riwayat kesehatan keluarga peserta didik meliputi pengisian

kuesioner terkait penyakit yang pernah diderita oleh keluarga peserta didik (ayah,

ibu, kakek, nenek) seperti Tuberkulosis, diabetes mellitus, hepatitis, asma,

penyakit jantung, stroke, obesitas, tekanan darah tinggi, kanker/tumor ganas,

9
anemia, thalasemia dan hemofilia. Peserta didik yang memiliki riwayat kesehatan

keluarga tertentu memiliki kemungkinan diturunkan penyakit tertentuatau

dipengaruhi oleh gaya hidup/kebiasaan/kondisi kesehatan tertentu dalam keluarga

yang dapat mempengaruhi kondisi kesehatan peserta didik / mengakibatkan

kesakitan dan mengganggu proses belajar. Keterangan riwayat kesehatan keluarga

peserta didik dapat digunakan oleh petugas kesehatan untuk membantu petugas

kesehatan dalam menentukan diagnose penyakit maupun pengobatan bagi peserta

didik. Pemeriksaan riwayat kesehatan keluarga peserta didik dilakukan pada

peserta didik SD/MI , SMP/MTs, SMA/SMK/MA dan sederajat. 3

Tujuan: Untuk mendeteksi risiko masalah kesehatan peserta didik

berdasarkan penyakit yang mungkin diturunkan / terkait kebiasaan/gaya hidup di

keluarga / penyakit menular yang diderita keluarga.

d) Pemeriksaan gaya hidup

Pemeriksaan gaya hidup meliputi pengisian kuesioner terkait pubertas pola

sarapan, jajan di sekolah, risiko merokok dan risiko minum minuman beralkohol.

Peserta didik yang memiliki gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok/terpapar

rokok di keluarga/rumah dan minum minuman beralkohol) dapat mengakibatkan

peserta didik lebih berisiko menderita penyakit pada saluran pernapasan atau ikut

melakukan perilaku berisiko tersebut sehingga pada akhirnya dapat mengakibatkan

kesakitan dan mengganggu proses belajar. Pemeriksaan kesehatan reproduksi

dapat dilakukan pada peserta didik mulai dari kelas 4 SD/MI, SMP/MTs,

SMA/SMK/MA dan sederajat. 1

Tujuan: Untuk mendeteksi perilaku dan masalah kesehatan terkait gaya hidup

10
e) Pemeriksaan kesehatan reproduksi

Pemeriksaan risiko kesehatan reproduksi meliputi pengisian kuesioner

terkait pubertas dan masalah kesehatan terkait. Peserta didik yang mengalami

masalah kesehatan pada organ reproduksi berisiko mengalami kehamilan yang

seringkali mengakibatkan peserta didik dikeluarkan dari sekolah, atau penyakit

menular seksual yang mengakibatkan kesakitan sehingga mengganggu proses

belajar. Pemeriksaan kesehatan reproduksi dapat dilakukan pada peserta didik

mulai dari kelas 4 SD/MI , SMP/MTs, SMA/SMK/MA dan sederajat.1

Tujuan: Untuk mendeteksi perilaku dan masalah kesehatan terkait

kesehatan reproduksi.

2. Pemeriksaan Fisik Oleh Tenaga Kesehatan, Guru atau Kader

Kesehatan Sekolah

a) Pemeriksaan Tanda Vital

Pemeriksaan tanda vital dilakukan melelui pengukuran suhu tubuh ketiak,

tekanan darah (sistolik dan diastolik), denyut nadi per menit, frekuensi napas per

menit serta auskultasi jantung dan paru. Peserta didik yang mengalami masalah

dengan tanda vital dapat mengindikasikan masalah infeksi, hipertensi, penyakit

paru (Asma, Tuberkulosis), jantung, yang jika tidak segera diobati berisiko

mengganggu proses belajar mengajar, karena malaise (lemah), sakit kepala, sesak

napas, napsu makan menurun. Tuberkulosis dapat menularkan peserta didik

lainnya. Pemeriksaan tanda vital dapat dilakukan pada peserta didik SD/MI,

SMP/MTs, SMA/SMK/MA dan sederajat. 1

Tujuan : Mengetahui kelainan suhu tubuh, tekanan darah, kelainan denyut

nadi dan kelainan paru dan jantung.

11
b) Pemeriksaan Status Gizi

Untuk menilai status gizi peserta didik melalui penjaringan kesehatan

dilakukan melalui:

 pengukuran antropometri dengan menggunakan Indeks berat badan dan tinggi

badan(BB/TB), indeks tinggi badan berdasarkan umur (TB/U),

 pemeriksaan kelopak mata bawah dalam, bibir, lidah dan telapak tangan untuk

mendeteksi dugaan anemia gizi besi.1

Masalah gizi kurang, khususnya gizi buruk dapat terjadi karena keadaan

kurang zat gizi tingkat berat yang disebabkan rendahnya konsumsi energi

(karbohidrat, protein dan lemak) dalam makanan sehari-hari dan atau disertai

penyakit infeksi, sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG), juga

sering disertai dengan kekurangan zat gizi mikro (vitamin dan mineral). Anak yang

menderita gizi kurang tidak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal

sehingga dapat menurunkan kecerdasan anak. Demikian juga pada anak yang

menderita gizi lebih yaitu kegemukan dan obesitas dapat menyebabkan penyakit

degeneratif seperti diabetes, jantung koroner, hipertensi, osteoporosis dan kanker.

Pada anak yang menderita Anemia Gizi Besi dapat menyebabkan rendahnya

kemampuan belajar dan produktivitas kerja serta menurunnya antibodi sehingga

mudah terserang penyakit infeksi. Anak dengan anemia memiliki indeks

perkembangan psikomotor dan prestasi yang lebih rendah daripada anak yang

normal. Pemeriksaan status gizi dapat dilakukan pada peserta didik SD/MI,

SMP/MTs, SMA/SMK/MA dan sederajat. 1

Tujuan: Untuk mendeteksi secara dini masalah gizi kurang, gizi lebih dan

kekurangan zat gizi mikro antara lain Anemia Gizi Besi (AGB).

12
c) Pemeriksaan Kebersihan Diri

Kebersihan diri adalah penampilan diri dalam hal ini rambut, kulit dan

kuku yang bersih yang mencerminkan kesehatan. Peserta didik yang mengalami

kelainan/ penyakit dari kebersihan rambut, kulit dan kuku dapat mengganggu

kenyamanan/ kelancaran proses belajar peserta didik. Rambut, kulit dan kuku yang

tidak dijaga kebersihannya dapat menimbulkan kutu rambut, dermatitis, jamur,

yang menimbulkan gejala gatal dan dapat menular ke peserta didik lainnya

sehingga akan mengganggu proses belajar-mengajar. Melalui kebersihan diri dapat

menghindarkan diri dari penyakit diare, infeksi saluran pernapasan, pneumonia

(radang paru), infeksi cacing, infeksi mata dan penyakit kulit. Salah satu cara

sederhana yang dapat dilakukan adalah cuci tangan pakai sabun (setelah

bermain/beraktivitas, sebelum makan dan sesudah makan dan setelah buang air

besar/kecil), mandi sehari 2 kali dengan sabun mandi dan cuci rambut minimal 2

kali seminggu. Pemeriksaan kebersihan diri dapat dilakukan pada peserta didik

SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA dan sederajat.2

Tujuan: Untuk mendeteksi kelainan/ penyakit dari kebersihan rambut, kulit

dan kuku serta mengetahui cara menjaga kebersihan diri meliputi rambut, kulit dan

kuku.

d) Pemeriksaan Kesehatan Indera Penglihatan

Pemeriksaan kesehatan indera penglihatan dilakukan melalui pemeriksaan

mata luar, tajam penglihatan dan pemeriksaan buta warna Peserta didik yang

mengalami gangguan tajam penglihatan atau radang mata dapat menimbulkan

keluhan sakit kepala, kesulitan membaca sehingga mengganggu proses belajar

mengajar. Radang Mata dapat ditularkan ke peserta didik lain. Pemeriksaan

13
kesehatan indera penglihatan dapat dilakukan pada peserta didik SD/MI,

SMP/MTs, SMA/SMK/MA dan sederajat.1,2

Tujuan: Mendeteksi adanya penyakit pada mata, gangguan penglihatan

seperti kelainan refraksi/gangguan tajam penglihatan dan buta warna pada peserta

didik serta menindaklanjuti hasil pemeriksaan (bila terdapat ada kelainan).

e) Pemeriksaan Kesehatan Indera Pendengaran

Pemeriksaan telinga dilakukan melalui pemeriksaan telinga luar dan fungsi

pendengaran dengan tes berbisik dan tes penala.. Peserta didik yang mengalami

gangguan pendengaran mengakibatkan gangguan bicara yang berdampak pada

gangguan komunikasi, emosional, hubungan sosial dan juga mempengaruhi nilai

akademik/ prestasi belajar. Pemeriksaan telinga dapat dilakukan pada peserta didik

SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA dan sederajat. 3

Tujuan: Mendeteksi adanya gangguan fungsi pendengaran pada peserta

didik serta menindaklanjuti hasil pemeriksaan (bila terdapat ada kelainan).

f) Pemeriksaan Pemakaian Alat Bantu

Pemeriksaan pemakaian alat bantu yang dilaksanakan di sekolah dilakukan

kepada peserta didik dengan disabilitas yang meliputi pemeriksaan penggunaan

alat bantu penglihatan, pendengaran, tongkat/kurk, kursi roda, kaki/tangan/mata

prostesa. Peserta didik dengan disabilitas yang menggunakan alat bantu yang

sesuai dengan disabiltasnya akan membantu aktifitas dan proses belajar serta

meningkatkan kemandirian peserta didik. Pemeriksaan pemakaian alat bantu dapat

dilakukan pada peserta didik di sekolah inklusi dan Sekolah Luar Biasa (SLB).1,2

Tujuan: Mengetahui dan menindaklanjuti penggunaan alat bantu pada

bantu peserta didik dengan disabilitas

14
g) Pemeriksaan Kebugaran Jasmani

Kebugaran jasmani adalah kemampuan tubuh seseorang untuk melakukan

kegiatan sehari-hari secara efektif dan efisien dalam jangka waktu relatif lama

tanpa menimbulkan kelelahan yang berlebihan. Kebugaran jasmani tidak sama

dengan kesehatan. Peserta didik yang sehat belum tentu bugar, tetapi anak yang

bugar pasti sehat. Peserta didik yang bugar tidak mudah lelah, sehingga dapat

mengerjakan tugas atau pekerjaan di sekolah lebih lama dan lebih baik. Makin

tinggi tingkat kebugaran jasmani peserta didik, makin baik kemampuan fisik yang

dapat mendukung prestasi belajarnya. Peserta didik yang bugar setelah pulang dari

sekolah masih mampu melakukan kegiatan lain seperti bermain, bersosialisasi

dengan teman sebaya, menambah keterampilan mengikuti kursus-kursus tambahan

dan kegiatan lain sesuai kesenangannya tanpa merasa kelelahan yang berlebihan.

Peserta didik yang kekurangan aktivitas fisik berisiko obesitas, pendek, penyakit

kardiovaskuler dan metabolik. Pemeriksaan kebugaran jasmani dapat dilakukan

pada peserta didik SD/MI (kelas 4-6), SMP/MTs, SMA/SMK/MA dan sederajat.1

Tujuan :

 Mengetahui tingkat kebugaran jasmani peserta didik.

 Meningkatkan kebugaran jasmani peserta didik dengan menyusun latihan fisik

terprogram sesuai dengan hasil pengukuran kebugaran jasmani.

 Memotivasi peserta didik untuk meningkatkan aktivitas fisik, latihan fisik, dan

olahraga.

Pengukuran kebugaran tidak bermanfaat bila tidak ditindak lanjuti dengan

latihan fisik terprogram. Peserta didik perlu mendapat latihan fisik terprogram

dalam bentuk kurikulum maupun ekstrakurikuler pelajaran olahraga yang disusun

setelah mengetahui tingkat kebugaran jasmaninya. Jenis latihan fisik yang

15
diberikan disesuaikan dengan umur dan kemampuan fisiknya, sehingga dapat

memaksimalkan tumbuh kembang anak, mencegah kegemukan dan faktor risiko

penyakit yang menyertainya.1

h) Cara Pemeriksaan

Pengukuran kebugaran jasmani peserta didik menggunakan instrumen Tes

Kesegaran Jasmani Indonesia (TKJI) yang telah disepakati dan ditetapkan menjadi

suatu instrumen yang sesuai dengan kondisi anak Indonesia dan berlaku di

Indonesia. Instrumen yang digunakan dalam penjaringan kesehatan peserta didik

adalah Single test. Single Test yaitu Tes lari jarak menengah dapat menjadi pilihan

yang disesuaikan dengan kelompok usia dan jenis kelamin. Single test lari 1000

meter untuk usia 10-12 tahun putera/puteri, 1600 meter untuk usia 13-19 tahun

putera/puteri.1

i) Persiapan Pemeriksaan

Kepala puskesmas berkoordinasi dengan seluruh kepala sekolah/guru UKS

di wilayah kerja untuk menentukan pembagian tugas tim pelaksana, waktu dan

tempat pelaksanaan pemeriksaan.

1. Tim Pelaksana

Dalam melaksanakan penjaringan kesehatan, petugas kesehatan dibantu oleh

guru dan kader kesehatan sekolah (dokter kecil/ kader kesehatan remaja). Dalam

rangka mengatasi keterbatasan sumber daya kesehatan, kepala puskesmas dapat

meminta bantuan dinas kesehatan dan institusi pendidikan, organisasi profesi atau

mitra potensial bidang kesehatan lainnya. Sebelum melaksanakan

penjaringan/pemeriksaan berkala, pihak puskesmas dan pihak sekolah

berkoordinasi untuk mengidentifikasi kegiatan, pembagian tugas dan tanggung

jawab.

16
Tabel 2.1. Pembagian Tugas Tim Pelaksana Penjaringan Kesehatan Berdasarkan
Kegiatan
Dokter

Kepala Kepala Tim jaga Guru Kecil/ Kader Orang Penanggung


Kegiatan
Puskesmas sekolah kesehatan UKS kesehatan tua jawab

remaja

1 2 3 4 5 6 7 8

Data peserta
√ Sekolah
didik

Koordinasi

pelaksanaan

menyepakat

i tempat,

waktu

dan
√ √ √ √ √ √ Sekolah
penyediaan

form

informed

consent,kue

sioner dan

form

pemeriksaan

Koordinasi √ √ √ √ √ Puskesmas

17
teknis

pelaksanaan

penjaringan/

pemeriksaan

berkala

Menyediaka

n alat
√ √ Puskesmas
Pemeriksaa

Informed

Consent

peserta

didik dan √ √ √ Sekolah

orangtua

peserta

didik

Pelaksanaan

Penjaringan √ √ √ Puskesmas

Kesehatan

Umpan
√ √
balik hasil
Puskesmas
pemeriksaan

ke sekolah

Umpan √ √ √ Sekolah

18
balik hasil

pemeriksaan

ke orang tua

Tatalaksana
√ √ √ √ √ Puskesmas
rujukan

j) Sasaran Penjaringan Kesehatan Dan Pemeriksaan Berkala

Sasaran kegiatan penjaringan kesehatan adalah seluruh peserta didik baru

pada tahun ajaran baru kelas 1, 7 dan 10 di sekolah/madrasah, baik negeri atau

swasta termasuk Sekolah Luar Biasa (SLB) Sasaran kegiatan pemeriksaan Berkala

adalah peserta didik selain kelas 1, 7 dan 10 (kelas 2 - 6 di SD/MI, kelas 8 dan 9 di

SMP/MTs serta kelas 11 dan 12 di SMA/SMK/MA) termasuk Sekolah Luar Biasa

(SLB).

k) Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Tempat penjaringan kesehatan/ permeriksaan berkala dilaksanakan di

sekolah. Pelaksanaan di luar sekolah adalah di Puskesmas, yang mungkin

dilakukan bila disepakati dengan sekolah untuk peserta didik yang tidak hadir pada

waktu pelaksanaan penjaringan kesehatan/ pemeriksaan berkala di sekolah. Waktu

pelaksanaan penjaringan kesehatan yang terbaik adalah pada tahun ajaran baru

yaitu antara bulan Juli sampai Desember, tetapi dalam menghadapi keterbatasan

tenaga kesehatan di puskesmas maka diberikan kesempatan sepanjang satu tahun

ajaran untuk menjangkau seluruh SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA.

Tahun ajaran dalam pelaksanaan penjaringan kesehatan yang dimaksud yaitu

dapat dilakukan sepanjang satu tahun ajaran (Juli sampai dengan Juni) :

19
 Bulan Juli sampai dengan Desember untuk peserta didik baru kelas 1, 7, dan

10

 Bulan Januari sampai dengan Juni untuk peserta didik baru kelas 1, 7, dan 10

yang belum dilakukan penjaringan pada tahun sebelumnya.

Pemeriksaan berkala dilakukan 1 kali dalam setahun bagi peserta didik, yang

waktu pelaksanaannya dapat dilakukan sepanjang satu tahun ajaran ( Juli sampai

dengan Juni).1

l) Sarana dan Prasarana

Sebelum melaksanakan penjaringan kesehatan dan pemeriksaan berkala

perlu didukung dengan sarana dan prasarana seperti yang dapat digambarkan pada

tabel berikut :

Tabel 2.2. Sarana dan Pra sarana Penjaringan dan Pemeriksaan Kesehatan
Sarana Fungsi

Ruangan untuk pemeriksaan Tempat pemeriksaan

Meja dan kursi pemeriksaan Tempat pemeriksaan

Formulir lembar persetujuan Bukti persetujuan pemeriksaan

Dokumentasi riwayat kesehatan,

Kuesioner status imunisasi, kesehatan mental,

intelegensia, perilaku berisiko

Formulir Pencatatan Hasil Penjaringan/


Dokumentasi hasil pemeriksaan untuk
pemeriksaan berkala/ Buku rapor
peserta didik
kesehatanku

Formulir rekapitulasi hasil penjaringan Dokumentasi hasil pemeriksaan untuk

kesehatan untuk Puskesmas puskesmas

20
Formulir Pelaporan Penjaringan Dokumentasi hasil kegiatan

Kesehatan dari Puskesmas ke Dinas penjaringan kesehatan yang dilakukan

Kesehatan Kab/Kota oleh Puskesmas

Formulir Rujukan Surat pengantar rujukan peserta didik

Form umpan balik hasil penjaringan Dokumentasi hasil pemeriksaan untuk

kesehatan untuk sekolah sekolah

Pemeriksaan status gizi, tanda vital,

UKS Kit pemeriksaan penglihatan,

pemeriksaan pendengaran

UKGS Kit Pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No 75 Tahun 2014 tentang

Puskesmas, daftar peralatan untuk kegiatan luar gedung (UKS dan UKGS),

sebagai berikut:

Tabel 2.3. Daftar UKS Kit


Sarana Fungsi

1 2

Timbangan dewasa Pemeriksaan berat badan

Pengukur tinggi badan Pemeriksaan tinggi badan

Tabel Indeks Massa Tubuh Pemeriksaan status gizi

Stetoskop Pemeriksaan Auskultasi Jantung

paru

Sphygmomanometer dengan manset Pemeriksaan Tekanan darah

anak dan dewasa

Torniket Karet Pemeriksaan Tekanan darah

21
Thermometer klinis Pemeriksaan Suhu Tubuh

Timer Pemeriksaan frekuensi napas dan

denyut nadi

Garpu Tala 512 HZ/ 1024 HZ / 2084 Pemeriksaan Tajam Pendengaran

HZ

Pengait serumen Tindakan membersihkan serumen

Speculum hidung (Lempert) Pemeriksaan Rongga Hidung

Speculum telinga dengan ukuran kecil, Pemeriksaan Liang Telinga

sedang, besar

Sudip lidah, logam panjang 12 cm Pemeriksaan Tenggorok

Snellen, alat untuk pemeriksaan visus Pemeriksaan Tajam Penglihatan

1 2

Tes buta warna (ISHIHARA) Pemeriksaan Buta Warna

Pinhole Pemeriksaan Refraksi

Tas Kanvas tempat kit Tempat Kit

Tabel 2.4. Daftar UKGS Kit


Sarana Fungsi

Alat

Kaca Mulut + Tangkai Kaca Mulut Pemeriksaan Gigi

Sonde Lengkung Pemeriksaan Gigi

ekskavator berujung dua Pemeriksaan Gigi

Pinset Gigi Pemeriksaan Gigi

Perlengkapan

Head lamp / Senter Pemeriksaan Gigi

22
Baki Logam tempat alat steril Pemeriksaan Gigi

tertutup

Toples pembuangan kapas Pemeriksaan Gigi

Baskom tempat cairan steril Pemeriksaan Gigi

Handuk Pemeriksaan Gigi

Tas alat tempat KIT Pemeriksaan Gigi

Bahan Habis Pakai

Kapas Pemeriksaan Gigi

Masker Pemeriksaan Gigi

Sarung tangan Pemeriksaan Gigi

Cairan disinfekta (Klorin 0,5%) Pemeriksaan Gigi

Sabun tangan atau antiseptik Pemeriksaan Gigi

1. Lembar Persetujuan (Informed Consent)

Lembar persetujuan (Informed consent) merupakan sebuah kesepakatan

atas tindakan/pelayanan kesehatan yang akan dilakukan oleh tenaga kesehatan

kepada masyarakat, setelah sebelumnya tenaga kesehatan memberikan informasi,

komunikasi kepada masyarakat tersebut. Dalam kegiatan penjaringan kesehatan,

yang akan diperiksa adalah peserta didik yang termasuk dalam kategori anak.

Seorang anak berada dalam kuasa asuh dari orang tua. Orang tua memiliki

kewajiban untuk mengasuh, mendidik, membina, memelihara, melindungi dan

menumbuhkembangkan anak. Maka pada lembar persetujuan untuk penjaringan

kesehatan peserta didik, informasi dan kesepakatan harus diberikan oleh orang

tua/wali. Formulir lembar persetujuan, dibagikan oleh guru kepada peserta didik

sebelum pelaksanaan penjaringan kesehatan. Formulir lembar persetujuan direkap

23
dan disimpan oleh sekolah. Bagi orang tua peserta didik yang menolak penjaringan

kesehatan/pemeriksaan berkala di sekolah, wajib melampirkan hasil pemeriksaan

kesehatan siswa di luar sekolah yang dibuktikan dengan formulir penjaringan

kesehatan yang berisi hasil pemeriksaan yang disahkan oleh fasilitas kesehatan.

m) Alur Persiapan dan Pelaksanaan

Dalam melakukan penjaringan kesehatan dan pemeriksaan berkala

diperlukan persiapan dan dilanjutkan dengan tahapan proses pelaksanaan

penjaringan kesehatan dan pemeriksaan berkala. Persiapan penjaringan dapat

dilakukan minimal satu minggu sebelum pelaksanaan Penjaringan dan

Pemeriksaan Berkala. Berikut digambarkan dalam Gambar alur dibawah ini:

Gambar 2.1 Alur Penjaringan Kesehatan dan Pemeriksaan Berkala.

24
BAB 3

ANALISIS SITUASI

3.1 Kondisi Geografis

Secara geografis Wilayah Kerja Puskesmas Ambacang berbatasan dengan

kecamatan dan kelurahan yang menjadi tanggung jawab selain Puskesmas

Ambacang, antara lain:

Utara : Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji

Timur : Wilayah Kerja Puskesmas Pauh

Selatan : Wilayah Kerja Puskesmas Ambacang

Barat : Wilayah Kerja Puskesmas Nanggalo

Puskesmas Ambacang terletak pada 0° 55' 25.15" Lintang Selatan dan

+100° 23' 50.14" Lintang Utara, dan terletak pada ketinggian 57 m dari permukaan

laut. Luas wilayah kerja Puskesmas Ambacang adalah sekitar 12 km2 meliputi

empat kelurahan, yaitu: Kelurahan Pasar Ambacang, Kelurahan Anduring,

Kelurahan Ampang, dan Kelurahan Lubuk Lintah

Dilihat dari segi topografis dan geografis Puskesmas Ambacang yang

terletak di Jalan Raya By Pass KM 8,5 Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan

Kuranji, Kota Padang (± 8 km dari pusat kota) dapat terjangkau dengan kendaraan

roda dua atau roda empat pribadi maupun sarana angkutan umum berupa angkutan

kota, ojek, dan becak sehingga akses masyarakat ke puskesmas mudah.

25
Gambar 3.1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Ambacang

3.2 Kondisi Demografis wilayah kerja Puskesmas Ambacang

Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Ambacang yang menjadi

sasaran kegiatan Puskesmas selama tahun 2018 adalah sebanyak 52.032 jiwa

dengan luas wilayah kerja sekitar 12 km2. Distribusi kependudukan menurut

kelurahan adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1 Data Distribusi Penduduk menurut Kelurahan di Wilayah Kerja

Puskesmas Ambacang tahun 2018

Jenis Kelamin
Kelurahan Jumlah
Laki-laki Perempuan
Ps. Ambacang 9.322 9.337 18.659
Anduring 7.434 7.445 14.879
Lubuk Lintah 5.394 5.406 10.800
Ampang 3.876 3.818 7.694
Jumlah 26.026 26.006 52.032
Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang tahun 2018
Berdasarkan data tersebut dapat kita lihat bahwa kepadatan penduduk di

wilayah kerja Puskesmas Ambacang adalah sekitar 4.224 penduduk/km2.

Berdasarkan UU No.50 tahun 1960, angka ini menunjukkan bahwa wilayah kerja

Puskesmas Ambacang termasuk kategori kependudukan sangat padat. Selain itu

26
pertambahan jumlah penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Ambacang selama 7

tahun terakhir dari tahun 2010 (43.114 orang) s/d tahun 2018 dalah sebanyak 8.247

orang. Dengan pertambahan jumlah penduduk yang cukup pesat maka berbagai

masalah dapat bermunculan, seperti masalah kesehatan terutama penyakit infeksi.

Jumlah distribusi sasaran penduduk di wilayah kerja Puskesmas Ambacang

selama tahun 2018 adalah sebagai berikut:

Total
Kelurahan Bayi Balita Bumil Bulin Bufas WUS PUS Lansia penduduk
Ps.Ambacang 336 1.615 363 347 349 4.216 3.637 1.245 18.659
Anduring 264 1.216 290 277 278 3.361 2.899 993 15.879
Lubuk Lintah 195 940 210 200 201 2.440 2.105 721 10.800
Ampang 141 743 150 142 143 1.740 1.502 513 7.694
Jumlah 936 4.514 1.013 966 966 11.75710.143 3.633 52.032
Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang tahun 2018
Dari tabel diatas setiap puskesmas idealnya menangani maksiamal 30.000

penduduk di wilayah kerjanya, sedangkan di wilayah puskesmas Ambacang

terdapat 52.032 penduduk. Kapasitas rasio puskesmas terhadapa penduduk di

Puskesmas Ambacang lebih besar dari yang seharusnya. Hal tersebut

menyebabkan kurang maksimalnya cakupan pelayanan tenaga kesehatan.

3.3 Sarana dan Prasarana


Puskesmas Ambacang telah memiliki sarana dan prasarana yang

mendukung pelaksanaan kegiatan di Puskesmas. Puskesamas ini telah memiliki

gedung permanen dua lantai yang dapat dimanfaatkan dalam melaksanakan

kegiatan pelayanan kesehatan dan kegiatan administrasi puskesmas. Selain itu juga

terdapat kendaraan operasional puskesmas yang dapat digunakan unuk

menjangkau sarana kesehatan lain dan tempat-tempat pelaksanaan program-

program puskesmas, seperti posyandu, posbindu, poskeskel, dan sebagainya.

Sarana kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Ambacang antara lain

sebagai berikut:

27
a. Puskesmas : 1 buah
b. Puskesmas Pembantu : 1 buah
c. Pos Kesehatan Kelurahan : 1 perkelurahan (total 4)
d. Roda 2/roda 4 : 3/1
Data UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat) di Puskesmas

Ambacang :

a) Posyandu Balita : 29 Pos

b) Posyandu lansia : 12 Pos

c) Posbindu : 12 Pos

d) Batra : 73 batra

e) Poskestren : 1 Pos

f) Toga : 722 KK

g) UKK : 83 UKK

h) Poskeskel : 4 unit

Persebaran posyandu di empat kelurahan wilayh kerja puskesmas

Ambacang, yaitu di Kelurahan Ampang terdapat 5 posyandu, di Kelurahan Lubuk

Lintah terdapat 6 Posyandu, Kelurahan Anduriang sebanyak 8 Posyandu, dan

Kelurahan Pasar Ambacang sebanyak 10 Posyandu.

Jumlah posyandu ideal menurut Departemen Kesehatan RI, yaitu 1

posyandu untuk 100 balita atau lansia. Dengan jumlah posyandu sebanyak 29 pos

se-wilayah kerja Puskesmas Ambacang dan jumlah bayi dan balita sebanyak 4.515

orang, maka 1 posyandu diasumsikan melayani 155 orang bayi/balita. Begitu juga

untuk posyandu lansia yang berjumlah 12 buah untuk total lansia sebanyak

3.472orang, artinya satu posyandu lansia untuk 385 orang. Dari data tersebut dapat

disimpulkan bahwa jumlah posyandu masih belum ideal.

28
Puskesmas Ambacang memiliki 12 pos Posbindu diwilayah kerjanya.

Penyebaran Posbindu ini adalah sebagai berikut, 3 pos di Kelurahan Pasar

Ambacang yang terletak di Daerah Kayu Gadang, Simpang Koto Tingga,

Ketaping, 3 pos di Kelurahan Anduring yang terletak di R3R, sarang gagak, parak

jigarang,3 pos di Kelurahan Lubuk Lintah terletak di Karang Ganting, Cubadak

Air dan Kampung Sikumbang, 3 pos di Kelurahan Ampang terletak di Daerah

Karang Ganting, Kampung Jambak, dan Panti. Berdasarkan observasi yang telah

dilakukan tidak ada satu pun Posbindu yang memiliki pos mandiri, kegiatan

posbindu dilakukan di rumah warga dengan fasilitas seperti meja, kursi, media

promosi kesehatan yang sangat minimal.

Tabel 3.3 Fasilitas Pendidikan Wilayah Kerja Puskesmas Ambacang


Jenis Sekolah Jumlah
TK 8
SD 22
SMP 5
SMA 3
PT 1
Jumlah 39
Sumber :Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Tahun 2018

3.4 Data Sumber Daya Manusia


Sumber daya manusia dalam sistem kesehatan terdiri atas tenaga kesehatan

dan non kesehatan. Tenaga kesehatan merupakan orang yang mengabdikan diri

dalam bidang kesehatan. Tenaga kesehatan dan non kesehatan dalam memberikan

pelayanan kepada pasien yang berobat di Puskesmas Ambacang berjumlah 55

orang. Hal ini dapat dilihat pada tabel 3.2.

Secara kuantitatif, sumber daya tenaga kesehatan yang bertugas di

Puskesmas Ambacang sudah memenuhi standar rata-rata, dimana berdasarkan

lampiran Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 dijelaskan bahwa

jumlah minimal tenaga kesehatan untuk puskesmas nonrawat inap kawasan

29
perkotaan adalah 22 orang. Meskipun demikian, secara kualitatif tetap diperlukan

upaya peningkatan kualitas SDM di Puskesmas Ambacang melalui pendidikan dan

pelatihan, demi terwujudnya pengembangan upaya kesehatan yang lebih baik.

Tabel 3. 4 Tenaga Kesehatan dan Non Kesehatan di Puskesmas Ambacang


Status Pegawai Pendidikan Terakhir Jumlah
PNS PTT Suka S2 S1 D D D Sederajat
Jenis Petugas Rela/ IV III I SLTA
Honor
Dokter Umum 2 - 1 - 3 - - - - 3
Dokter Gigi 2 - - - 2 - - - - 2
Sarjana 2 - - - 2 - - - - 2
Kesmas
Bidan 13 1 3 - - 2 15 - - 17
Perawat 7 - 2 - 1 - 7 - 1 9
Perawat Gigi 1 - - - - - - - 1 1
Kesling 2 - - - - 1 1 - - 2
Analis - - 1 - - - 1 - - 1
Fungsional 1 - - - - - - - 1 1
Analis
Epidemiologi 1 - - - 1 - - - - 1
(SKM)
Apoteker 1 - - 1 - - - - 1
Asisten 2 - - - - - - - 2 2
Apoteker
Nutrition 2 - - - 1 - 1 - - 2
(AKZI/
SKM)
RR 3 - 2 - - - 2 - 3 5
Sopir/cleaning - - 3 - - - - - 2 3
Service
Jumlah 39 1 15 1 11 3 27 0 10 55
Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang 2018
Dari segi rasio tenaga dengan penduduk, sumber daya manusia di

Puskesmas Ambacang relatif kurang memadai. Tenaga medis dokter umum

sebanyak 3 orang dengan rasio 1:52.032 jiwa, artinya 1 dokter melayani 17.344

orang. Angka tersebut sangat jauh dari ideal apabila dikaitkan dengan sistem

pelayanan kesehatan terpadu dimana satu dokter melayani maksimal 2500

penduduk. Menurut Standar Pelayanan Minimal (SPM), satu orang bidan

maksimal menangani 3.000 penduduk saja. Di Puskesmas Ambacang terdapat

30
17 bidan yang menangani 52.032 penduduk dengan rasio 1 : 3.060. Hal ini

memperlihatkan bahwa di Puskesmas Ambacang jumlah bidannya sudah

mencukupi.

3.5. Kondisi Sosial, Budaya, dan Ekonomi Penduduk

Penduduk di wilayah kerja Puskesmas Ambacang sebagian besar

beragama Islam. Walaupun terdapat perbedaaan suku, agama dan budaya,

aktivitas sosial serta peribadatan penduduk berjalan dengan baik. Suku

terbanyak di Kecamatan suku Minang. Adapun mata pencarian penduduk

antara lain :

a. Wiraswasta : 16,98%
b. Pegawai Negeri Sipil : 15,8%
c. Tani : 13,4%
d. Buruh : 12,7%
e. Lain-lain : 34,2%
f. Pengangguran : 6,9%

Tingkat pendidikan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Ambacang

dapat dilihat pada Tabel 3.5.

Tabel 3.5 Tingkat Pendidikan Masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Ambacang

Jumlah
N Lubu
Jenis Pendidikan Pasar
o k Andurian Ampan Puskesma
Ambacan
Linta g g s
g
h
Belum/Tidak
1 sekolah/Tidak tamat 0 998 1445 1031 6073
SD
Tamatan SD
2 1933 878 1131 799 4741
sederajat
Tamatan SMP
3 2057 1218 1335 864 5474
sederajat
Tamatan
4 SMA/SMK 6616 2607 6680 2099 18002
sederajat

31
5 Tamatan DI/DII 120 100 130 61 411
6 Tamatan DIII 339 203 352 172 1066
7 Tamatan DIV/S1 779 703 871 426 2778
8 Tamatan S2/S3 67 70 103 43 283
Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Tahun 2018

32
3.7 Data sekolah dan jumlah siswa di wilayah kerja Puskesmas Ambacang

Data sekolah di wilayah kerja Puskesmas Ambacang, terdapat sebanyak 30

sekolah yang terdiri dari 21 SD, 4 SMP/MTs, dan 5 SMA/SMK. Jumlah siswa

pada masing- masing sekolah tahun ajaran 2018/2019 dapat dilihat pada tabel

berikut:

Tabel 3.2 Jumlah Anak Sekolah Dasar Wilayah Kerja Puskesmas Ambacang
Tahun ajaran 2018/2019.3

NO. SEKOLAH JUMLAH

SD/MIN
1 SD. 01 150
2 SD. 03 138
3 SD. 04 120
4 SD. 06 162
5 SD. 07 164
6 SD. 08 162
7 SD. 11 98
8 SD. 15 121
9 SD. 16 110

10 SD. 17 156

11 SD. 18 47
12 SD. 19 95
13 SD. 21 480
14 SD. 23 142
15 SD. 25 136
16 SD. 26 97
17 SD. 30 98

33
18 SD. 31 162
19 SD. 37 297
20 SD. 39 199
21 SD Muhammadiyah 60
JUMLAH 3.194

Tabel 3.3 Jumlah Anak Sekolah Menengah Pertama Wilayah Kerja Puskesmas
Ambacang Tahun Ajaran 2018/2019.3

NO. SEKOLAH JUMLAH

SMP/MTsN
1 SMP Muhammadiyah 231
2 PGRI 314
3 MTSN Cubadak Aie 79
4 MTSN Durian Tarung 462
5 SMP 10 494
JUMLAH 1.580

Tabel 3.4 Jumlah Anak Sekolah Menengah Atas Wilayah Kerja Puskesmas
Ambacang Tahun Ajaran 2018/2019.3

NO. SEKOLAH JUMLAH

SMA/K/MAN
1 SMK 1 104
2 SMK Sumbar 285
3 MAN Durian Tarung 413
4 SMA Muhammadiyah 91
JUMLAH 893

34
Dari tabel di atas dapat dilihat keseluruhan jumlah anak sekolah di wilayah

kerja Puskesmas Ambacang, dengan total anak SD sebanyak 3.194 anak, anak

SMP sebanya 1.580 anak, dan total anak SMA sebanyak 893 anak.3

3.4 Data Pemeriksaan Berkala pada Anak Sekolah di Wilayah Kerja

Puskesmas Ambacang Tahun Ajaran 2018/2019

Pemeriksaan Kesehatan berkala yang dilakukan 1 kali setahun dengan

sasaran hanya pada anak kelas 2-6 SD, 2-3 SMP, 2-3 SMA. Berikut tabel data

pemeriksaan kesehatan berkala pada tahun 2019.

Tabel 3.5 Data Pemeriksaan Berkala pada Anak SD di Wilayah Kerja


Puskesmas Ambacang Tahun Ajaran 2018/2019.3
BERKALA
NO SEKOLAH %
SASARAN DIPERIKSA
1 SD. 01 150 116 77,33%
2 SD. 03 138 131 94,93%
3 SD. 04 120 117 97,50%
4 SD. 06 162 161 99,38%
5 SD. 07 164 161 98,17%
6 SD. 08 162 152 93,83%
7 SD. 11 98 81 82,65%
8 SD. 15 121 121 100,00%
9 SD. 16 110 105 95,45%
10 SD. 17 156 155 99,36%
11 SD. 18 47 47 100,00%
12 SD. 19 95 93 97,89%
13 SD. 21 480 461 96,04%
14 SD. 23 142 136 95,77%
15 SD. 25 136 130 95,59%
16 SD. 26 97 95 97,94%
17 SD. 30 98 68 69,39%
18 SD. 31 162 153 94,44%
19 SD. 37 297 273 91,92%
20 SD. 39 199 194 97,49%
21 SD Muhammadiyah 60 41 68,33%

Tabel 3.6 Data Pemeriksaan Berkala pada Anak SMP di Wilayah Kerja
Puskesmas Ambacang Tahun Ajaran 2018/2019.3
BERKALA
NO SEKOLAH %
SASARAN DIPERIKSA
1 SMP Muhammadiyah 231 195 84,42%

35
2 PGRI 314 258 82,17%
3 MTSN Cubadak Aie 79 75 94,94%
4 MTSN Durian Tarung 462 424 91,77%
5 SMP 10 494 466 94,33%

Tabel 3.7 Data Pemeriksaan Berkala pada Anak SMA di Wilayah Kerja
Puskesmas Ambacang Tahun Ajaran 2018/2019.3
BERKALA
NO SEKOLAH %
SASARAN DIPERIKSA
1 SMK 1 104 76 73,08%
2 SMK Sumbar 285 270 94,74%
3 MAN Durian Tarung 413 377 91,28%
4 SMA Muhammadiyah 91 66 72,53%

3.5 Laporan Hasil Pemeriksaan Kesehatan Berkala Anak Sekolah di

Wilayah Kerja Puskesmas Ambacang Tahun Ajaran 2018/2019

Pemeriksaan berkala kesehatan anak sekolah dengan sasaran kelas 2-6 SD,

kelas 2-3 SMP, dan 2-3 SMA dilakukan pada bulan Februari 2019, berikut hasil

laporan dari pemeriksaan kesehatan berkala tahun ajaran 2018/2019 di wilayah

kerja Puskesmas Ambacang:

Status Gizi SD
60
50
40
30
20
10
0
Gizi kurus Gizi sangat kurus Stunting

Gambar 3.2 Pemeriksaan Status Gizi pada siswa SD di Wilayah Kerja Ambacang
Tahun 2019

36
Masalah Kesehatan SD
1200

1000

800

600

400

200

0
Gigi karies Pengelihatan Telinga serumen Penyakit kulit
kurang

Gambar 3.3 Pemeriksaan Berkala pada siswa SD di Wilayah Kerja Ambacang


Tahun 2019

Pada bagan di atas tampak permasalahan pada anak SD di wilayah kerja

Puskesmas Ambacang adalah karies gigi dan penyakit kulit.

Status Gizi SMP


14

12

10

0
Gizi kurus Gizi sangat kurus Stunting

Gambar 3.4 Pemeriksaan Status Gizi pada siswa SMP di Wilayah Kerja
Ambacang Tahun 2019

37
Masalah Kesehatan SMP
350

300

250

200

150

100

50

0
Gigi karies Pengelihatan kurang Telinga serumen Penyakit kulit

Gambar 3.5 Pemeriksaan Berkala Pada Siswa SMP di Wilayah Kerja Ambacang
Tahun 2019

Status Gizi SMA


12

10

0
Gizi kurus Gizi sangat kurus Stunting

Gambar 3.6 Pemeriksaan Status Gizi pada siswa SMA di Wilayah Kerja
Ambacang Tahun 2019

38
Masalah kesehatan SMA
350

300

250

200

150

100

50

0
Gigi karies Pengelihatan kurang Telinga serumen Penyakit kulit

Gambar 3.7 Pemeriksaan Berkala Anak SMA/SMK di Wilayah Kerja Ambacang


Tahun 2019

Pada bagan di atas tampak permasalahan pada anak SMP secara garis

besar hampir sama dengan siswa SD yaitu karies gigi dan kuku panjang/penyakit

kulit. Sedangkan pada anak SMA permasalahan paling besar adalah karies gigi

dan telinga serumen.

39
BAB 4

PEMBAHASAN

Pemeriksaan kesehatan berkala pada anak sekolah merupakan salah satu

dari trias UKS. UKS meningkatkan kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan

peserta didik dilakukan melalui trias UKS yaitu pendidikan kesehatan, pelayanan

kesehatan, dan pembinaan lingkungan sekolah sehat. Pemeriksaan kesehatan

berkala termasuk dalam pelayanan kesehatan oleh UKS. UKS menitikberatkan

pada promotif dan preventif, penjaringan kesehatan dan pemeriksaan berkala

bertujuan dalam preventif untuk mendeteksi dini masalah kesehatan pada peserta

didik agar dapat ditindaklanjuti segera bila terdeteksi masalah kesehatan pada

peserta didik.

Puskesmas Ambacang telah melaksanakan program UKS dalam upaya

preventif yaitu penjaringan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan berkala pada

sekolah di wilayah kerja Puskesmas Ambacang. Pada laporan pemeriksaan

berkala Puskesmas Ambacang yang telah dilakukan pemeriksaan sebanyak 30

sekolah terdiri dari 21 SD, 5 SMP, dan 4 SMA.

Pemeriksaan berkala telah dilakukan oleh Puskesmas Ambacang pada

bulan Februari 2019. Pemeriksaan yang dilakukan berupa pemeriksaan tinggi

badan, berat badan, status gizi, kebersihan diri, pemeriksaan gigi dan mulut, serta

pemeriksaan pengelihatan dan pendengaran. Pemeriksaan berkala sudah mencapai

standar, pemeriksaan berkala sedikitnya 1 kali dalam setahun dengan sasaran

kelas 2-6 bagi SD, kelas 2-3 SMP, kelas 2-3 SMA. Pelaksanaannya sudah tepat

yaitu dilakukan sekali setahun.

40
Pemeriksaan Berkala pada SD, SMP dan SMA dari 30 sekolah, dengan

pencapaian terendah pada SMA Muhammadiyah dan SMK 1, yaitu 72,53% dan

73,08%. Kendala dalam pelaksanaan ini hingga angka pencapaian pelaksanaan

pemeriksaaan berkala pada anak SMA Muhammadiyah dikarenakan adanya siswa

yang tidak datang saat dilakukan pemeriksaan. Sedangkan pada siswa SMK 1,

kendalanya adalah, sebagian besar siswa sedang magang saat dilakukan

pemeriksaan, sehingga siswa tidak seluruhnya ada disekolah.

Hasil pemeriksaan berkala dari SD, SMP dan SMA ditemukan data

terbanyak pada gigi karies dan kuku panjang/penyakit kulit. Setelah terdeteksi

masalah kesehatan terbanyak pada siswa sekolah di wilayah kerja Puskesmas

Ambacang, masalah-masalah ini bisa ditindaklanjuti oleh tenaga kesehatan di

puskesmas. Untuk promotif dari UKS maka dilakukanlah penyuluhan tentang

kebersihan diri, edukasi tentang kebersihan gigi dan gizi.

Selain pemeriksaan berkala, pada siswa sekolah dilakukan pula kegiatan

pembentukan dokter kecil untuk siswa SD dan pembentukan kader kesehatan

remaja untuk siswa SMP dan SMA yang merupakan bagian dari Upaya Kesehatan

Sekolah (UKS). Pada program ini, siswa diberikan pelatihan sekali setahun,

kemudian siswa yang menjadi perwakilan membentuk piket-piket untuk

menggalakan hidup sehat dalam lingkungan sekolah.

41
BAB 5

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diperoleh pada penulisan makalah ini yaitu:

1. UKS (Unit Kesehatan Sekolah) terdiri dari tiga kegiatan, salah satunya

pelayanan kesehatan yaitu penjaringan dan pemeriksaan berkala pada anak

sekolah yang merupakan upaya preventif pada anak sekolah.

2. Pemeriksaan berkala pada anak sekolah baik di tingkat SD, SMP, maupun

SMA pada tahun 2019 belum ada yang mencapai 100%.

3. Pemeriksaan berkala pada anak sekolah di wilayah kerja Puskesmas Ambacang

dilakukan 2 kali dalam setahun, berupa pemeriksaan berkala pada bulan

Februari, dan skrining pada bulan Juni (tahun ajaran baru). Pemeriksaan

berkala ini sudah mencukupi standar sesuai petunjuk teknis.

4. Masalah yang ditemukan pada pemeriksaan berkala anak sekolah untuk adalah

waktu dilakukan pemeriksaan bertepatan dengan waktu PKL bagi anak-anak

SMK, sehingga anak yang sedang PKL tidak dapat diperiksa. Selain itu siswa

yang absen pada hari pemeriksaan juga tidak dapat diperiksa.

5.2 Saran

1. Saran yang dapat diberikan adalah perlunya koordinasi baik dengan

pihak guru SMK untuk menindak lanjutkan permasalahan dalam

penentuan jadwal pemeriksaan berkala pada murid SMK, sehingga

tenaga kesehatan tidak kewalahan untuk memeriksa murid. Sebaiknya

42
dipilih satu hari dimana semua murid dikumpulkan untuk diperiksa

mengingat kesusahan tenaga kesehatan untuk memeriksa murid SMK

yang dalam metode pembelajarannya terdapat aktivitas di luar sekolah.

Selain itu perlu juga koordinasi pada pihak sekolah untuk

meningkatkan kedisiplinan siswa agar tidak absen pada hari

pemeriksaan.

2. Pada laporan kegiatan seharusnya dilaporkan juga status gizi dari

siswa yang obesitas, bukan hanya yang gizi kurang.

43
DAFTAR PUSTAKA

1. Kemenkes RI. Petunjuk teknis penjaringan kesehatan dan pemeriksaan

berkala di satuan dasar dan menengah. DIPA TA. 2015

2. Tim Esensi. Mengenal UKS. Jakarta: Esensi Erlangga Group.2012

3. Puskesmas Ambacang. Laporan tahunan unit kesehatan sekolah 2019.

Padang: Puskesmas Ambacang. 2019.

4. Puskesmas Ambacang. Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Tahun 2018.

Padang: Puskesmas Ambacang; 2018.

5. Ahmad S. Usaha kesehatan sekolah. Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka.

2009

44