You are on page 1of 13

Menyelami Aplikasi Layanan Transfer Uang

Gratis Antar-Bank

Flip, salah satu aplikasi transfer bank gratis untuk smartphone. FOTO/Flip

Oleh: Aditya Widya Putri - 14 Mei 2018


Dibaca Normal 3 menit
Kini ada aplikasi yang mengakomodir kegiatan transfer uang gratis antarbank dari
memanfaatkan celah tarif gratis transfer sesama bank.
tirto.id - Dita Anggraeni sudah dua tahun ini memakai salah satu aplikasi transfer antarbank
gratis. Sebagai pemilik dari dua jenis bisnis jual beli online, Dita mengaku sangat terbantu
dengan kehadiran startup model ini. Konsumen yang punya jenis rekening berbeda bisa
menggunakan Flip tanpa harus dikenakan biaya transfer. Aktivitas perbankan seperti refund dana
konsumen juga tak perlu memotong keuntungannya sebagai penjual toko daring.

“Selama ini aman-aman saja, dulu pernah kena debet dua kali dan langsung dikembalikan.”

Ketika melakukan transaksi transfer antarbank, nasabah bank umumnya akan dikenakan biaya
administrasi sebesar Rp5.000-6.500 per transaksi. Bank BCA, Mandiri, BNI termasuk contoh
perbankan yang memungut tarif Rp6.500 untuk transaksi transfer antar bank. Sementara Bank
seperti CIMB Niaga menerapkan tarif Rp6.500 untuk transfer melalui ATM Bersama dan Prima
dan Rp5.000 untuk transfer kliring.

Jumlah yang cukup besar apabila transaksi dilakukan berkali-kali. Keresahan ini kemudian
ditangkap sebagai peluang bisnis oleh beberapa orang dengan membuat platform transfer
antarbank gratis. Biasanya proses transfernya memakan waktu 20 menit.

Indonesia sudah memiliki beberapa startup yang menaungi aktivitas tersebut. Salah satu adalah
Flip.id. Flip saat ini telah mengakomodir transfer antar sepuluh bank besar Indonesia, yakni
BCA, BNI, BNI Syariah, BRI, CIMB, CIMB Syariah, Mandiri, Mandiri Syariah, dan Muamalat,
dan BTPN Jenius.

Pengguna perorangan Flip bisa melakukan transfer gratis antarbank dengan limit maksimal Rp5
juta per hari. Namun, bila melebihi batas tersebut akan dikenakan biaya Rp2.500 per transaksi.
Sementara itu, untuk pengguna dari perusahaan, Flip membebankan biaya sebesar Rp3.500 per
transaksi. Di sini lah celah keuntungan dari pengelola aplikasi semacam ini.

“Kalaupun ada biaya itu masih jauh lebih murah dibanding administrasi transfer pada umumnya.
Kita ambil untungnya dari sana,” jelas Rafi Putra Arriyan, Co Founder Flip.id kepada Tirto.

Baca juga:

 Fitur Baru WhatsApp Bisa untuk Transfer Dana


 BI Sebut Pertumbuhan Kredit Perbankan Turun Jadi 75,9 Persen

Di jajaran platform kedua ada layanan mode web bernama Shiv. Ia memiliki limit transfer lebih
kecil dari Flip, yakni Rp2 juta per hari. Namun, cara kerjanya serupa dengan Flip.id. Setiap
transaksi dari pengirim akan melewati rekening perantara baru diteruskan ke rekening penerima.

Sebelum melakukan transfer, pengguna terlebih dulu harus mengisi informasi mengenai jenis
bank pengirim dan bank tujuan serta nomor rekening tujuan. Selanjutnya mereka akan diberi
balasan rekening bank milik perantara yang sejenis dengan rekening milik pengirim.

Setelah pengirim melakukan transfer ke bank sejenis milik perantara. Lalu transfer dilakukan
oleh perantara menggunakan uang talangan di rekening bank sejenis milik penerima. Singkatnya,
sebagai platform perantara, Flip atau Shiv harus punya banyak rekening untuk “dipinjam”
penggunanya. Ini lah yang menjadi dasar mengapa biaya transfer antarbank bisa tak dikenai
biaya, dengan memanfaatkan pengiriman transfer sesama bank.

Selain itu ada Payfazz, IPOTPAY, dan bebasbayar.com sebagai platform keuangan dengan
sistem kerja layaknya dompet elektronik. Mereka memfasilitasi kegiatan pembayaran pihak
ketiga yang menghubungkan transaksi bussiness to customers sampai dengan bussiness to
bussiness.

Penggunanya dapat melakukan isi ulang secara tunai dan memakai dompetnya untuk melakukan
transfer antarbank, membayar ragam tagihan seperti listrik, PAM, telepon dan lainnya. Beberapa
bank konvensional seperti BTPN jenius dan Digibank juga sudah memberikan layanan serupa.

Baca juga:

 Tarif Listrik Tidak Naik Hingga 2019, PLN Berfokus Dorong Efisiensi
Bagaimana keamanannya?

Ada satu pertanyaan yang muncul saat mengetahui platform-platform tersebut bertindak sebagai
pihak ketiga yang meneruskan aktivitas transfer dana nasabah, yaitu ihwal keamanan data dan
jaminan uang nasabah tetap aman. Rafi Putra Arriyan atau Arri dari Flip mengklaim platform
aplikasinya aman dari kebocoran data.

Setiap enam bulan sekali, Flip khusus menyewa hacker-hacker unggul untuk menguji ketahanan
sistemnya. Mereka akan memberi informasi mengenai celah-celah potensial kebocoran data.
Selain itu mereka juga secara rutin melaporkan sistem dan operasional kepada Bank Indonesia.
Seluruh perpindahan uang, terjadi dalam sistem bank.

Sementara data personal mereka menggunakan enkripsi AES-128 sehingga tak dapat dibaca oleh
pihak luar. AES merupakan salah satu alogaritma terpopuler yang digunakan dalam kriptografi
kunci simetrik. Sementara komunikasi antar server pun dienkripsi dengan SSL, protokol
keamanan yang biasa digunakan oleh browser ketika mengirim informasi rahasia seperti data
kartu kredit, username, dan password. Keduanya memiliki kekuatan proses enkripsi sangat kuat.

Flip menjadi satu-satunya platform transfer antar bank gratis yang sudah mendapat lisensi Bank
Indonesia sejak 4 Oktober 2016 dengan nomor izin 18/189/DKSP/68. Sebelumnya, pada April
2016, mereka sudah berkedudukan sebagai Perusahaan Terbatas (PT) Fliptech Lentera Inspirasi
Pertiwi.

Baca juga:

 BI Wajibkan Fintech Daftar dan Menghindari Penggunaan Uang Virtual

Proses perusahaan perantara transfer uang seperti Flip tidaklah mudah untuk mendapatkan izin
dari Bank Indonesia (BI).
Apalagi saat pertama mengajukan pendaftaran di BI. Mereka harus membuat semacam “skripsi”
mengenai Flip sebagai syarat izin BI.

Layanan aplikasi ini mengalami kesulitan karena dikategorikan sebagai perusahaan transfer
dana/emiten. Kantor Pos dan Western Union adalah contoh perusahaan yang masuk kategori
tersebut. Dalam peraturan BI terdahulu, sebelum melakukan transfer perusahaan wajib
memverifikasi pengirim secara langsung (tatap muka).

Untuk mendapat izin, platform semacam Flip harus mengikuti aturan main BI, memverifikasi
penggunanya yang banyak berasal dari luar kota dan pulau. Pada 2017 BI mengeluarkan
peraturan verifikasi online bagi startup sejenis. Peraturan tersebut sekaligus menjadi pedoman BI
dalam mengawasi startup-startup seperti Flip.

“Kami memang minta setelah Flip, proses verifikasi kepada yang lain harus tetap dilakukan
dengan standar yang sama.”

Ketua Indonesia e-Commerce Association (idEA) bidang Ekonomi Bisnis, Ignatius Untung
memberikan pandangan cara bertransaksi yang aman meski menggunakan jasa pihak ketiga.
Intinya, pengguna cukup bisa mempercayai jasa tersebut selagi terdaftar di OJK atau BI.

“Sesederhana itu, karena kan laporan keuangannya pasti juga diawasi. Kalau tidak terdaftar, dia
bisa wanprestasi, bisa jadi uangnya tidak diteruskan ke penerima,” katanya kepada Tirto.

Kemunculan berbagai startup dengan segala layanannya menunjukkan bahwa segala layanan
bank yang dianggap sudah mapan nyatanya masih memberi peluang bagi pengembang aplikasi
mendapatkan peluang dari jasa perantara pengiriman uang.
https://tirto.id/menyelami-aplikasi-layanan-transfer-uang-gratis-antar-bank-cJ9z

Startup

Pasang Surut Flip, Startup yang Sempat


Ditutup oleh Bank Indonesia

 Aditya Hadi Pratama9:05 AM on Jan 31, 2017
o

Sempat tersesat selama beberapa saat, saya akhirnya sampai di depan sebuah rumah bertingkat
dua yang berada di daerah Depok, Jawa Barat. Rumah tersebut terlihat sangat sederhana, jauh
berbeda dengan kantor startup besar seperti Tokopedia dan Lazada yang penuh dengan pernak-
pernik menarik.

Siapa sangka kalau rumah tersebut merupakan kantor dari sebuah startup yang memfasilitasi
transaksi senilai belasan miliar rupiah dalam sebulan.

Setelah menunggu beberapa saat, saya pun disambut oleh Rafi Putra Arriyan (Ari), CEO
dari Flip. Ia menjelaskan kalau terdapat tiga kamar di dalam rumah tersebut, yang masing-
masing diisi oleh tiga startup berbeda, yaitu Flip, TemanJalan, dan Cozora.

Flip sendiri merupakan sebuah layanan yang memungkinkan kamu untuk melakukan transfer
antarbank tanpa harus membayar biaya administrasi sekitar Rp6.500. Untuk menghadirkan
layanan tersebut, Flip pun membuat rekening dan menyimpan sejumlah uang di setiap bank.

Sebagai contoh ketika kamu akan mengirimkan uang dari BCA ke Bank Mandiri, maka kamu
hanya perlu mentransfer ke rekening milik Flip yang ada di BCA. Setelah itu, Flip akan
melakukan transfer dengan nominal yang sama dari rekening Bank Mandiri mereka ke rekening
penerima. Dengan begitu, kamu tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun untuk biaya transfer.
Sayangnya, perjalanan Flip tidak selalu berjalan mulus. Mereka sempat mengalami beberapa
kendala seperti kekurangan uang untuk dikirim ke rekening bank tertentu, hingga dipaksa
menutup layanan oleh Bank Indonesia di saat layanan mereka sebenarnya tengah digandrungi
oleh para pengguna.

Lalu bagaimana Ari, sebagai sang Founder, bisa mengatasi semua masalah tersebut di usianya
yang masih begitu muda?

Membuat layanan awal dengan Google Forms

Menurut Ari, semuanya bermula dari persahabatan yang ia jalin dengan dua Co-Founder lain dari
Flip, yaitu Ginanjar Ibnu Solikhin (Anjar) dan Luqman Sungkar (Luqman). “Sebagai sesama
mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, kami sering mengerjakan berbagai
proyek bersama-sama. Dan sejak saat itu, kami pun menjadi tim yang klop,” jelas Ari.

Perjalanan membangun startup bahkan telah mereka mulai sebelum lulus sebagai sarjana
pada bulan Agustus 2015. Meski masih berstatus mahasiswa, mereka telah berhasil membuat
sebuah aplikasi pemberian donasi dengan metode potong pulsa yang bernama Pushla. Sempat
cukup terkenal karena publikasi dari berbagai media, tak lama kemudian aplikasi tersebut pun
kehilangan pengguna.
“Kami akhirnya sadar kalau tidak banyak orang yang mau memberikan donasi dengan pulsa.”

Setelah wisuda, barulah tiga sahabat tersebut mulai menjalankan ide pembuatan layanan transfer
antar bank. Ide tersebut mereka dapat dari masalah yang sering mereka alami saat masih menjadi
mahasiswa. Saat itu, mereka sering merasa rugi harus membayar biaya transfer Rp6.500 hanya
untuk membayar utang dengan nominal yang sebenarnya tidak seberapa.

Ari dan rekan-rekannya pun memulai Flip dengan memanfaatkan sistem penerimaan uang yang
telah mereka buat ketika membangun Pushla. Sebagai modal, mereka memanfaatkan dana
pribadi yang didapat dari berbagai proyek pembuatan software yang pernah mereka kerjakan.

BACA JUGA

Ingin membuat aplikasi yang sukses? Simak tip dari Google berikut ini

Di awal kemunculannya, Flip hadir dengan layanan yang sangat sederhana. Jika membuka situs
mereka (Goflip.me) pada saat itu, maka kamu akan diarahkan ke sebuah formulir Google Forms.
Setelah kamu mengisi formulir tersebut dan melakukan transfer, Flip akan meneruskan uang
tersebut ke rekening yang dituju secara manual, dengan memanfaatkan internet banking.

Untuk meneruskan uang tersebut, mereka pun masih menggunakan rekening dengan nama
pribadi. Namun tak disangka, layanan yang masih sangat konvensional tersebut justru menjadi
sangat terkenal di kalangan mahasiswa Universitas Indonesia.

Setiap harinya, Flip bisa menerima sekitar tiga puluh permintaan transfer. Dengan jumlah tim
yang hanya tiga orang, mereka pun harus pintar-pintar membagi waktu antara menjalankan
transaksi, membalas email pengguna, serta melanjutkan pengembangan web.

“Pada hari keempat, kami tidak sanggup lagi melayani semua permintaan transfer. Kami pun
menutup layanan untuk sementara dengan alasan harus melakukan maintenance.” Ari kemudian
memutuskan untuk merekrut beberapa orang tim operasional, agar ia dan para founder lain bisa
fokus mengembangkan situs mereka.
Mereka akhirnya berhasil meluncurkan situs baru pada awal November 2015. Berbeda dengan
situs mereka sebelumnya, kali ini Flip telah bisa memproses transfer dana secara otomatis.
Mereka hanya perlu melakukan satu kali otorisasi di akhir demi memastikan kalau semua
transaksi berjalan sesuai permintaan.

Bermodal promosi lewat email dan WhatsApp, Flip pun menjadi viral. “Kami pun terpaksa
membuat waiting list dan memasukkan para calon pengguna secara bertahap, agar semua
permintaan bisa kami layani dengan kemampuan kami pada saat itu.”

Flip baru bisa menghilangkan sistem waiting list tersebut pada bulan Februari 2016. Mereka pun
terus berkembang, hingga jumlah transaksi yang berjalan di platform mereka pada bulan Juni
2016 mencapai angka tiga belas miliar rupiah, dengan jumlah pengguna yang mencapai puluhan
ribu.

Namun prestasi tersebut berhasil mereka capai dengan proses yang tidak mudah. Mereka pernah
kehabisan uang di salah satu rekening bank, sehingga harus meminjam uang kepada rekan
mereka di startup lain. Namun hal ini membuat para remaja yang sebenarnya tidak mempunyai
latar belakang di bidang keuangan tersebut, akhirnya bisa terus belajar.

“Saat ini, kami telah bisa memperhitungkan bagaimana seharusnya komposisi saldo di setiap
rekening yang kami miliki di awal hari, agar kejadian tersebut tidak berulang.”
Perintah untuk menutup layanan dari Bank Indonesia

Kian terkenalnya layanan Flip, membuat mereka akhirnya mendapat perhatian dari Bank
Indonesia (BI). Pada bulan Juli 2016, mereka pun mendapat telepon dari bank sentral di tanah air
tersebut, dan diminta untuk datang ke kantor BI guna mempresentasikan layanan mereka.

“Sebelum menerima telepon tersebut, kami sebenarnya telah mencoba datang ke BI untuk
melakukan konsultasi. Namun mungkin saat itu mereka menganggap kami sebagai layanan baru
yang belum berkembang, sehingga cukup lama kami tidak menerima tanggapan.”

Setelah hari raya Idul Fitri tahun 2016, Ari dan rekan-rekannya pun memenuhi panggilan BI. Di
sana, mereka membeberkan mekanisme layanan yang mereka hadirkan, serta jumlah transaksi
yang mereka layani hingga saat ini.

“Mereka kaget transaksi kami sudah sebesar itu. Karena layanan pengiriman uang seperti ini
harus mempunyai izin, mereka pun meminta kami untuk langsung menutup layanan saat itu juga,
dan mulai mengurus izin ke Direktorat Kebijakan Sistem Pembayaran (DKSP).”

Menurut Ari, pengalaman tersebut benar-benar membuatnya down, hingga ia sempat berpikir
untuk tidak lagi melanjutkan Flip. Namun ia akhirnya mengabaikan pikiran tersebut, dan
memutuskan untuk mengikuti prosedur yang diminta BI. Untungnya, BI memberikan seorang
pendamping yang bisa mereka beri pertanyaan setiap saat.

Setelah melalui proses yang berliku, Flip akhirnya mendapat izin resmi dari BI sepuluh minggu
kemudian. Menurut Ari, proses tersebut terhitung cepat, karena sebelumnya pernah ada sebuah
layanan pengiriman uang internasional yang telah menghabiskan biaya miliaran rupiah untuk
jasa konsultan, namun baru mengantongi izin BI setahun setelah mengajukan izin.

Setelah mendapat izin, masalah Flip ternyata belum juga selesai. Demi memenuhi aturan BI, Flip
harus melakukan verifikasi tatap muka kepada setiap pengguna mereka. Hal ini menjadi kendala
karena pengguna Flip berada di lokasi yang berbeda-beda, sedangkan jumlah karyawan Flip
hingga saat ini bahkan tidak mencapai sepuluh orang.

Flip pernah coba meminta izin untuk melakukan verifikasi dengan video call, namun BI menolak
mentah-mentah ide tersebut.
Suasana aktivitas verifikasi tatap muka Flip

Ari akhirnya mendapat sebuah ide yang cemerlang. Ia berusaha mengirim email kepada para
pengguna Flip yang telah mendaftar sebelum layanan mereka ditutup oleh BI, dan meminta
mereka untuk hadir di lokasi-lokasi tertentu, seperti stasiun kereta, demi melakukan verifikasi.

Dalam proses verifikasi, mereka hanya perlu menemui pegawai Flip yang hadir di tempat
tersebut, menunjukkan KTP asli, dan setelah itu akun Flip mereka pun akan langsung aktif.
Untuk para pengguna yang lokasinya jauh dengan stasiun kereta, Flip membuatkan sebuah grup
WhatsApp agar mereka dan para pengguna lain yang lokasinya dekat dengan mereka bisa
menentukan tempat untuk melakukan verifikasi.

“Kami awalnya mengira kalau setelah verifikasi para pengguna tersebut akan langsung pergi.
Namun mereka ternyata justru memilih untuk tetap berkumpul, sehingga proses verifikasi
tersebut berubah menjadi seperti aktivitas gathering.”

Ari mengakui kalau proses verifikasi tatap muka ini masih menyulitkan untuk beberapa
pengguna. Itulah mengapa dari puluhan ribu pengguna yang ia miliki sebelum ditutup oleh BI,
sejauh ini ia baru bisa mengaktifkan sekitar tujuh ribu akun pengguna. Ke depannya, Ari
bertekad untuk menghadirkan proses verifikasi yang jauh lebih mudah.
Para pengguna yang menjadi sumber semangat

Seiring berjalannya waktu, Ari melihat kalau mayoritas penggunanya menggunakan layanan
tersebut dengan perangkat mobile. Hal tersebut kemudian mendorongnya untuk mulai membuat
aplikasi mobile pada bulan Desember 2016. Langkah tersebut terbukti sukses karena Flip
kemudian sempat menempati posisi teratas di Google Play, melampaui aplikasi Jenius milik
BTPN.

Menurut Ari, Flip telah mendapat pendanaan tahap awal (seed funding) dari seorang angel
investor pada bulan Desember 2015. Dan hingga saat ini, uang tersebut masih cukup untuk
membiayai operasional Flip dalam waktu yang cukup lama. Meski begitu, ia tetap berniat untuk
segera melakukan monetisasi demi menjaga keberlangsungan bisnis Flip.

“Ada dua metode monetisasi yang kami rencanakan. Yang pertama adalah dengan membebankan
biaya transfer antar bank yang lebih murah bagi perusahaan yang sering melakukan transaksi.
Dan yang kedua adalah membebankan biaya untuk pengguna yang ingin melakukan transfer
dengan nominal lebih dari batas maksimal Rp5 juta yang saat ini kami tetapkan.”

Di Indonesia sebenarnya telah ada Shivapp, layanan transfer antar bank bebas biaya dengan
mekanisme yang serupa dengan Flip. Namun menurut Ari, hingga saat ini baru startup miliknya
yang telah mendapat izin resmi dari BI.
Telah lebih dari setahun menjalankan Flip, Ari mengaku kalau ia berkali-kali merasa khawatir
kalau startup yang ia pimpin akan mengalami kegagalan. Ketika Flip ditutup oleh BI, ia sempat
berpikir kalau ia tidak akan pernah mendapat izin, dan harus beralih ke ide bisnis lain.

“Namun ketika saya melihat begitu banyak orang yang masih menggunakan layanan ini, dan
merasakan manfaatnya, saya pun berusaha untuk tetap bertahan,” pungkas Ari.

https://id.techinasia.com/flip-layanan-yang-terus-bertahan-meski-sempat-ditutup-bank-indonesia

Pemanfaatan aplikasi fintech dalam mengatasi keterbatasan layanan perbankan syariah

(studi kasus penggunaan layanan flip dalam transfer antar bank )