You are on page 1of 20

Akulaku merupakan perusahaan Aplikasi kredit virtual finansial online

terbesar di pasar Asia Tenggara; Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan


Filipina.

Aplikasi Akulaku merupakan aplikasi bidang usaha portal web dan/atau


platform digital dengan tujuan komersial (marketplace) yang telah terdaftar
sebagi penyelenggara sistem elektronik di Kementrian Komunikasi dan
Informatika Republik Indonesia melalui Tanda Daftar Sistem Elektronik
No.00262/DJAI.PSE/04/2017 tertanggal 28 April 2017 atas nama PT.
Akulaku Silvrr Indonesia dan juga tertera pada surat pendaftaran
penanaman modal yang disahkan oleh BKPM (Badan Koordinasi
Penanaman Modal) dengan nomor surat 1293/1/IU/PMA/2018.

Dalam menjalankan kegiatan pembiayaan/kredit, kami menggunakan salah


satu perusahaan kami yang terafiliasi, yaitu PT. Akulaku Finance
Indonesia, perusahaan pembiayaan yang telah terdaftar serta memiliki izin
usaha resmi dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dengan Tanda Bukti
Terdaftar No.KEP-436/NB.11/2018.

Kami di sini untuk mempermudah pembelanjaan konsumen dengan cara


kredit, memungkinkan konsumen berbelanja apa saja di mana saja tanpa
kekhawatiran cash flow. Visi kami adalah mewujudkan masyarakat
cashless dengan cara kredit di pasar Asia Tenggara
Akulaku didirikan oleh PT. Artha Silvrr Indonesia dengan Mr William Li sebagai foundernya. Sejarah

Akulaku dimulai ketika pertama kali didirikan di Malaysia yang kemudian mulai melebarkan sayapnya ke

Indonesia.

Akulaku beralamatkan di PT Silvrr Artha Indonesia, Gedung Graha Lestari Lantai 11 Zona 5, Jl

Kesehatan Raya 48 / Jl. Petojo Sabangan No. 2A Cideng, Jakarta Pusat 10160.

Akulaku juga menyediakan customer serice yang memberikan layanan bagi para pelanggan terkait

perbelanjaan hingga transaksi pembayaran.

Awal berdiri Akulaku di Indonesia sendiri mendapat sambutan yang cukup baik oleh masyarakat. Hal ini

tidak lepas dari sistem pembayaran dari bisa dilakukan dengan cara dicicil. Dan ini yang menjadi ciri khas

akulaku.

Kelebihan dan Kekurangan Belanja di


Akulaku

Ada beberapa kelebihan yang bisa didapatkan dengan berbelanja di Akulaku seperti yang berikut ini:
1. Hampir semua barang yang ada di situs Akulaku bisa dikredit
2. Membantu mendapatkan barang tanpa harus bayar secara tunai karena bisa dicicil. Prosesnya juga
cukup mudah karena tanpa survey
3. Mudah untuk melakukan pendaftaran pada situs
4. Memiliki limit kredit yang cukup tinggi. Hal ini memudahkan anda bagi yang ingin membeli barang
dengan harga yang lumayan
5. Memiliki kerjasama dengan banyak toko online sehingga ada banyak barang yang bisa dibeli. Anda
bisa mencari banyak jenis barang dimanapun dan kapanpun.
6. Transaksi bisa dilakukan dengan banyak cara mulai dari Debit Card Online, kartu kredit hingga
transfer antar bank.
Terlepas dari kelebihan yang ditawarkan, Akulaku juga memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut:

1. Pengiriman barang yang relatif lambat sehingga kurang memuaskan.


2. Terkadang tidak disertakannya nomor resi sehingga akan menyulitkan pihak pembeli
3. Kesulitan dalam berkordinasi dengan pihak penjual terlebih jika barang yang diinginkan stoknya
kosong, kecuali jika penjual menghubungi pihak pembeli terlebih dahulu.
4. Ada beberapa keluhan dari pihak pembeli yang chatnya tidak pernah dibalas Pihak penjual
5. Tidak dicantumkannya jenis ekspedisi yang digunakan dalam mengirim barang kecuali jika pihak
penjual menghubungi pembeli untuk pemberitahuan terkait dengan ekspedisinya.

Cara Belanja di Akulaku

Untuk bisa mendapatkan barang yang diinginkan melalui situs Akulaku, anda bisa melakukan beberapa

langkah yang berikut ini:


1. Cara pertama adalah dengan menginstal aplikasi Akulaku di ponsel pintar
2. Buka aplikasi lalu carilah produk yang diinginkan
3. Ada fitus search yang bisa digunakan dalam pencarian produk
4. Pilih jenis barang yang diinginkan lalu tentukan metode belanja yang bisa dipilih tunai atau dengan
kredit (ada jangka waktu mulai dari 3 bulan, 6 bulan dan maksimalnya adalah 12 bulan)
5. Klik tombol beli lalu data sesuai dengan permintaan. Anda juga perlu melampirkan beberapa
dokumen seperti KTP serta slip gaji. Tidak perlu discan, namun bisa pula dengan difoto melalui
ponsel
6. Trannsfer DP lalu tunggu barang yang diinginkan dikirim
Demikian sejarah Akulaku berikut dengan cara belanja disana. Anda bisa membeli barang dengan cara

bayar tunai atau jika belum bisa bayar tunai, anda bisa mengajukan cicilan.

Perjalanan Panjang William Li Membangun Akulaku dan Gaet Jutaan


Pengguna di Indonesia

 Aditya Hadi Pratama3:00 PM on Sep 25, 2018





o
0
o
o
o
o
Sejak pertengahan 2016, sebuah layanan
pinjaman online bernama Akulakuhadir di tanah air. Layanan yang
memiliki aplikasi mobile tersebut memungkinkan kamu membeli
berbagai barang, mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga alat
elektronik, serta membayarnya dengan cicilan tanpa memerlukan
kartu kredit.
Dua tahun berselang, Akulaku mengklaim telah memberikan pinjaman
kepada 2 juta orang di tanah air, serta melayani sekitar 2 juta transaksi per
bulan dengan nilai transaksi rata-rata berkisar Rp50.000-500.000. Mereka
pun kini telah mengembangkan layanan ke beberapa negara lain, seperti
Filipina dan Vietnam.

Bagaimana sebenarnya perjalanan Akulaku hingga menjadi sebesar


sekarang? Simak perbincangan kami dengan sang CEO William Li berikut
ini.
Berawal dari sebuah layanan pengiriman uang di Hong Kong

Akulaku didirikan oleh dua orang asal Cina, yaitu William Li dan Gordon
Hu. Li merupakan mantan Investment Manager di perusahaan asuransi
Ping An Insurance Company dengan latar belakang pendidikan bidang
hukum. Sedangkan Hu merupakan Software Engineer yang pernah bekerja
di berbagai perusahaan besar, seperti Oracle, Tencent, HuaTai Securities,
dan CITIC Securities.

Kami sama-sama bekerja di Kota Shenzhen. Karena


komunitas teknologi di sana cukup kecil dan dekat, kami
pun bisa bertemu.
William Li, Co-founder Akulaku

Dari pengalaman bekerja di Ping An, Li kemudian mempunyai ide untuk


membuat layanan finansial pada negara berkembang di luar Cina.
Memadukan latar belakang di bidang hukum dan keuangan, serta keahlian
Hu di bidang teknis, mereka berdua membangun sebuah layanan
pengiriman uang (remittance) lintas negara di Hong Kong pada awal 2015.

Sebelumnya, di akhir tahun 2014, Li berhasil mendapat pendanaan tahap


awal (seed funding) sebesar US$1 juta (sekitar Rp12,4 miliar) dari IDG
Capital untuk bisnis tersebut. Dana itu kemudian mereka gunakan untuk
biaya operasional dan merekrut karyawan.

Lewat layanan pengiriman uang buatannya, Li bisa bertemu dengan para


nasabah yang merupakan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Indonesia dan
Filipina. Dari pertemuan itu, Li pun mulai mempelajari gaya hidup dan
latar belakang mereka.

“Ini adalah pengalaman pertama saya bertemu dengan orang-orang


seperti itu. Saya pun mulai mempelajari apa kebutuhan mereka?
Mengapa mereka secara rutin mengirim uang ke negara asal masing-
masing?”

Berdasarkan pengalaman tersebut, Li mendapat ide untuk membuat


layanan finansial berbasis internet di Indonesia. Karena bisnisnya yang
bergerak di bidang pengiriman uang lintas negara, Li pun mempunyai
akses untuk berbincang dengan bank-bank besar di tanah air, mulai dari
BRI, BNI, hingga Bank Mandiri.

“Saya kemudian memahami bahwa ada banyak individu yang tidak


terlayani oleh bank di Indonesia. Model bisnis bank memang mengincar
sektor yang menjanjikan keuntungan dalam jumlah yang besar, seperti
properti, agar mereka punya selisih keuntungan yang aman,” ujar Li.

Sedangkan pinjaman untuk individu membutuhkan lebih banyak


orang, lebih banyak kantor cabang, dan proses yang lebih rumit.
Mayoritas individu yang mencari pinjaman tersebut pun sebenarnya
memang tidak layak untuk diberikan pinjaman.

Li justru melihat masalah tersebut sebagai kesempatan. Ia memutuskan


untuk menghentikan bisnis pengiriman uang lintas negara yang ia jalankan
di Hong Kong, dan langsung terbang ke Indonesia untuk mendirikan
layanan pinjaman online bernama Akulaku.
Kehidupan menantang di dekat perbatasan Rusia dan Korea Utara
Saat ini William Li dan Gordon Hu telah memimpin sebuah perusahaan
dengan seribu karyawan di Indonesia. Selain itu, mereka juga telah
memiliki kantor di Filipina dan Vietnam yang masing-masing berisi
seratus karyawan, serta sebuah pusat pengembangan teknologi di
Shenzhen, Cina.

Namun enam tahun lalu, saat Li masih bekerja di Ping An, ia mengaku
tidak pernah berpikir akan menjalankan bisnis seperti sekarang. Yang ia
pikirkan saat itu adalah ia tidak bisa bertahan selama puluhan tahun di
perusahaan tersebut seperti rekan-rekannya yang lain.

“Ping An adalah sebuah perusahaan yang besar, dengan jenjang karier


yang berlapis-lapis. Semua orang berkompetisi untuk bisa dipromosikan ke
posisi yang lebih baik. Saya sendiri tidak takut akan kompetisi, tapi saya
merasa bahwa banyak pemikiran saya yang sebenarnya potensial, namun
tidak bisa diimplementasikan di dalam perusahaan besar seperti Ping An,”
jelas Li.

Ia pun makin yakin untuk beralih menjadi entrepreneur ketika melihat


kondisi rekan-rekannya di perusahaan tersebut.

“Saya melihat rekan-rekan kerja saya yang usianya sepuluh atau dua
puluh tahun lebih tua. Saya memahami kondisi dan masalah yang
mereka hadapi. Dan saya berpikir apabila saya tidak pindah, maka saya
akan menjadi seperti mereka dalam waktu sepuluh atau dua puluh
tahun ke depan.”

Li akhirnya memutuskan untuk keluar. Ketika mengambil keputusan


tersebut, ia sebenarnya belum tahu akan membuat apa. Namun ia
memahami bahwa jalan yang ia ambil tidak akan mudah, dan ia pun siap
untuk bekerja keras agar bisa sukses.

“Saya lahir dan besar di Cina bagian utara, di daerah yang dekat dengan
perbatasan Rusia dan Korea Utara. Pengalaman tersebut membuat saya
menjadi lebih adaptif terhadap berbagai situasi, termasuk di posisi sebagai
pekerja imigran di Indonesia seperti sekarang.”
Mendapat banyak “rahasia” dari para senior di Cina

The Old Gate di Tsinghua University, tempat founder Akulaku menimba ilmu

Mulai awal 2016, Li mulai mengembangkan aplikasi Akulaku dan berhasil


meluncurkannya di tanah air pada pertengahan tahun. Enam bulan
beroperasi, aplikasi tersebut telah diunduh sebanyak satu juta kali. Mereka
kemudian berhasil mendapatkan satu juta pengguna terdaftar sekitar
Februari 2017.
Pada akhir 2017, jumlah pengguna yang mendapatkan pinjaman di
platform mereka berhasil menembus angka satu juta orang. Kini angka
tersebut telah berlipat ganda menjadi dua juta orang.

Ketika kami bertanya apa yang sebenarnya ia lakukan saat itu hingga
berhasil tumbuh secara cepat, Li mengaku tidak mempunyai trik khusus.
Ia hanya berusaha menjalankan bisnis sesuai dengan pengalamannya
bekerja di berbagai perusahaan dan apa yang ia pahami dari industri
teknologi di Cina.

Saat itu pun belum ada startup fintech besar asal Cina yang beroperasi di
Indonesia.

“Saat itu Alibaba baru mengakuisisi Lazada, JD.com baru membuka


operasional mereka di tanah air, dan Bigo LIVE pun baru hadir.
Namun belum ada startup fintech yang hadir di sini, yang bisa kami
jadikan acuan.”

Menurut Li, ada beberapa hal yang ia lakukan untuk bisa berkembang
di tanah air, antara lain:

 Gandeng karyawan lokal. Saat ini, 96 persen karyawan Akulaku di


tanah air merupakan orang Indonesia.
 Pastikan kamu mempunyai karyawan yang bisa dan mau bekerja
keras.
 Iklan merupakan sesuatu yang penting, namun apabila terlalu
mengandalkan iklan kamu tidak akan bisa mendapat pertumbuhan
yang organik. Padukan dengan cara-cara pemasaran lain,
baik online maupun offline.
 Investasi yang besar di bidang teknologi. Itulah mengapa Akulaku
membangun pusat pengembangan teknologi di Cina, yang mereka
anggap mempunyai ekosistem teknologi yang lebih baik.

Li mengaku sedikit terbantu dengan pengalamannya mengenyam


pendidikan di Tsinghua University. Saat ini, banyak lulusan universitas
tersebut yang telah sukses membangun perusahaan fintech di Cina. Ia pun
mempunyai akses untuk langsung berbincang dengan mereka.

“Posisi saya cukup unik, karena saya membuat startup fintech yang
beroperasi di Indonesia. Senior-senior saya pun tidak ragu untuk
berbagi rahasia kepada saya, selama saya tidak bersaing dengan mereka
di Cina.”
Berniat mencari pendanaan lagi

Pada Juni 2018 lalu, Akulaku baru saja mengumumkan telah mendapat
pendanaan Seri C dengan total hampir mencapai US$100 juta (sekitar
Rp1,4 triliun). Pendanaan tersebut mereka terima dari beberapa investor,
termasuk Sequoia Capital Southeast Asia dan Finup.
Li berencana untuk kembali mencari pendanaan baru dalam waktu
dekat. Uang tersebut rencananya akan mereka gunakan untuk
berekspansi ke kota-kota lain di Indonesia, serta ke negara lain.

Saat ini, mereka mendapatkan keuntungan dengan beberapa metode:

 Bunga pinjaman, saat ini berkisar antara 30-35 persen setiap tahun.
 Lead generation kepada mitra perbankan.
 Keuntungan dari penjualan barang milik mitra mereka.

Namun saat ini, Li mengaku tidak mau terlalu fokus pada peningkatan
keuntungan. Ia ingin lebih fokus pada akuisisi pengguna baru, serta
bagaimana membuat para pengguna lama tetap setia menggunakan layanan
Akulaku.

“Kami kini tengah berusaha menyeimbangkan antara bunga pinjaman


dan Non Performing Loan (NPL), rasio pertumbuhan, dan rasio
pengguna yang bertahan. Bagaimana kami bisa memberikan promo
yang sesuai kepada setiap pengguna, bagaimana kami bisa
meningkatkan nominal pinjaman untuk setiap transaksi, dan lainnya.”

Hingga saat ini, Akulaku mengaku bahwa tingkat NPL mereka masih
sesuai aturan, yaitu di bawah lima persen.
Tidak akan ada satu startup fintech yang menguasai segalanya

Menurut Li, tantangan terberat yang ia hadapi saat ini adalah bagaimana
menghadapi berbagai orang dengan karakter yang berbeda-beda, mulai dari
pengguna, regulator, hingga para karyawan.
“Menangani manusia jauh lebih sulit dibanding menangani hal teknis.
Yang terpenting bagi saya adalah mereka harus menunjukkan sikap
yang baik ketika bekerja.”

Di Indonesia sendiri, Akulaku harus bersaing dengan beberapa startup lain,


seperti Kredivo dan Cicil. Namun Li mengaku bahwa mereka tidak
sepenuhnya bersaing satu sama lain.

BACA JUGA
Apa saja startup fintechyang telah beroperasi di tanah air?

Bisnis di bidang keuangan menurutnya tidaklah eksklusif seperti bisnis


retail, yang apabila kamu telah membeli sebuah barang dari produsen
tertentu, maka kamu tidak akan membeli barang dari produsen lain selama
jangka waktu tertentu.
“Bisnis kami adalah memfasilitasi pengguna yang ingin membeli barang,
namun tidak bisa membayar secara langsung. Apabila ada satu perusahaan
yang ingin memonopoli bisnis ini, maka mereka harus mempunyai banyak
sekali uang untuk memenuhi semua kebutuhan transaksi seluruh orang di
Indonesia,” tutur Li.

Sepanjang sejarah, baik di negara maju maupun negara berkembang,


tidak ada satu perusahaan tunggal yang menguasai sebuah bisnis
keuangan.

Perbedaan lain antara industri keuangan dan industri retail bisa dirasakan
ketika ada pemain yang tutup. Di industri retail, apabila ada satu pemain
tutup, maka pemain lain justru mendapat keuntungan. Namun di industri
keuangan, apabila ada satu pemain yang tutup, maka kepercayaan
pengguna akan menurun dan bisa berdampak pada pemain-pemain yang
lain.

Itulah mengapa sepanjang sejarah, baik di negara maju maupun negara


berkembang, tidak ada satu perusahaan tunggal yang menguasai sebuah
bisnis keuangan. Karena itu, Li merasa setiap pemain di Indonesia masih
bisa mempunyai pasar masing-masing, serta saling membantu untuk
mengedukasi masyarakat.

“Apabila kita bersaing untuk mendapatkan satu pengguna yang sama,


maka yang terjadi adalah kita saling beradu memberikan bunga yang lebih
murah, jumlah pinjaman yang lebih besar, dan membuat kita melupakan
faktor risiko yang ada,” pungkas Li