You are on page 1of 23

MANAJEMEN PENDIDIKAN

TUGAS PENGGANTI UTS


Dosen Pengampu : Drs. Kir Haryana, M.Pd

Di susun oleh :
Jamaludin Winarhadi Kusumo 14504241056

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK OTOMOTIF


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2016
PERENCANAAN PENDIDIKAN
Dalam sebuah sistem pendidikan perlu adanya sebuah perencanaan, ibaratkan sebuah
peperangan dibutuhkan adanya strategi dan taktik untuk mengalahkan musuh. Di dalam
pendidikan strategi dan taktik merupakan sebuah perencanaannya sedangkan mengalahkan
musuh adalah tujuannya. Ada banyak sudut pandang yang harus dilihat untuk membuat sebuah
perencanaan pendidikan. Perencanaan pendidikan juga merupakan kajian yang ada pada
manajemen pendidikan. Perencanaan pendidikan merupakan fungsi dan unsur yang paling
utama dari sebuah manajemen pendidikan.
Makana dari sebuah perencanaan sangatlah luas tergantung dari mana sudut pandang
yang dilihat dan untuk apa sebuah perencanaan itu dibuat. Sebelum melihat definisi dari
perencanaan pendidikan mari pahami dulu mengenai definisi dari perencanaan itu sendiri.
Berikut definisi perencanaan dari beberapa ahli;
 Abin, “Menurut Prajudi Atmusudirdjo perencanaan adalah perhitungan dan
penentuan tentang sesuatu yang akan dijalankan dalam mencapai tujuan tertentu, oleh
siapa, dan bagaimana.”
 Bintoro Tjokroamidjojo, “Perencanaan dalam arti seluas-luasnya tidak lain adalah
proses mempersiapkan kegiatan-kegiatan secara sistematis yang akan dilakukan untuk
mencapai tujuan tertentu.”
 M. Fakry, “Perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan berbagai
keputusan yang akan dilaksanakan pada masa yang akan datang untuk mencapai
tujuan yang telah ditentukan. Perencanaan itu dapat pula diberi arti sebagai suatu
proses pembuatan serangkaian kebijakan untuk mengendalikan masa depan sesuai
yang ditentukan. Perencanaandapat pula diartikan sebagai upaya untuk memadukan
antara cita-cita nasional dan resources yang tersedia yang diperlukan untuk
mewujudkan cita-cita tersebut.”
Dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa, perencanaan terdiri dari
beberapa poin yaitu (1) untuk mencapai suatu tujuan, (2) pelaksanaan kehiatan, dan (3)
berkaitan dengan masa depan yang akan berkelanjutan. Dengan poin-poin diatas kita
dapat menyimpulkan bahwa fungsi dari sebuah perencanaan adalah; (1) sebagai sebuah
pedoman dan pengendalian, (2) sebuah upaya yang ditujukan untuk pengembangan, (3)
sebuah usaha memanfaatkan sumber daya yang ada semaksimal mungkin.
Beralih dari definisi perencanaan, mari kita lihat arti dari perencanaan
pendidikan dari beberapa ahli sebagai berikut;
 Definisi perencanaan pendidikan menurut Guruge (1972).
“A simple definition of educational planning is the process of preparing
decisions for action in the future in the field of educational development is the function
by educationa planning.”
Menurut Guruge perencanaan pendidikan merupakan sebuah proses
menyiapkan penentuan untuk kegiatan dimasa depan yang menyangkut hal
pengembangan pendidikan dan hal ini merupakan fungsi dari perencanaan pendidikan.
 Definisi perencanaan pendidikan menurut Don Adams (1975).
“Functional planning involves the application of a rational system of choices
among feasibel cources of educational invesmen and the other development actions
based on a consideration of economic and social cost and benefits.”
Menurut Don Adams perencanaan fungsional termasuk juga pilihan-pilihan
yang dapat dilakukan dalam rencana investasi pendidikan dan usaha lainnya dalam
pengenbangan pendidikan yang berdasarkan pada ekonomi dan biaya yang dikeluarkan
dan pendapatan masyarkat.
 Definisi perencanaan pendidikan menurut Coombs (1982).
“Educational planning is ideologically neutral. Its methodologies are
sufficiently flexible and adaptable to fit situations that differ widely in ideology, level
of development, and governmental form.”
Menurut Coombs dalam bukunya What is edicational planning menyatakan
bahwa perencanaan pendidikan adalah ideologi yang netral. Metodolonginya bisa
diterapkan dimana saja (fleksibel) dan bisa disesuaikan berdasarkan situasinya
berdasarkan ideologi, level pengembangannya, dan juga bentuk dari pemerintahan.

Dari beberapa definisi dari para ahli diatas bisa kitarik sebuah garis kesimpulan bahwa
perencanaan pendidikan merupakan sebuah proses untuk mencapai tujuan dari pendidikan itu
sendiri melalui kegiatan-kegiatan serta metodologinya. Perencanaan ini juga merupakan
sebuah strategi dalam pengembangan pendidikan dengan melihat berbagai sudut pandang yaitu
kondisi ekonomi masyarakat, kebutuhan dunia pekerjaan, hal-hal apa saja yang akan
menggangu kegiatan pengembangan pendidikan dan juga ketersedian dan pemanfaatan sumber
daya yang ada. Dengan kata lain perencanaan pendidikan harus bersifat adaptif dan juga
fleksibel.
Telah disebutkan bahwa perencanaan pendidikan memiliki tujuan tertentu dan tentunya
untuk pengembangan pendidikan itu sendiri. Sementara itu, dalam bukunya Sagala (2009)
menjelaskan beberapa tujuan dalam penyusunan perencanaan pendidikan, antara lain:
1. Untuk standar pengawasan pola perilaku pelaksana pendidikan, yaitu untuk mencocokkan
antara pelaksanaan atau tindakan pemimpin dan anggota organisasi pendidikan dengan
program atau perencanaan yang telah disusun;
2. Untuk mengetahui kapan pelaksanaan perencanaan pendidikan itu diberlakukan dan
bagaimana proses penyelesaian suatu kegiatan layanan pendidikan;
3. Untuk mengetahui siapa saja yang terlibat (struktur organisasinya) dalam pelaksanaan
program atau perencanaan pendidikan, baik aspek kualitas maupun kuantitasnya, dan baik
menyangkut aspek akademik-nonakademik;
4. Untuk mewujudkan proses kegiatan dalam pencapaian tujuan pendidikan secara efektif
dan sistematis termasuk biaya dan kualitas pekerjaan;
5. Untuk meminimalkan terjadinya beragam kegiatan yang tidak produktif dan tidak efisien,
baik dari segi biaya, tenaga dan waktu selama proses layanan pendidikan;
6. Untuk memberikan gambaran secara menyeluruh (integral) dan khusus (spefisik) tentang
jenis kegiatan atau pekerjaan bidang pendidikan yang harus dilakukan;
7. Untuk menyerasikan atau memadukan beberapa sub pekerjaan dalam suatu organisasi
pendidikan sebagai ‘suatu sistem’;
8. Untuk mengetahui beragam peluang, hambatan, tantangan dan kesulitan yang dihadapi
organisasi pendidikan; dan
9. Untuk mengarahkan proses pencapaikan tujuan pendidikan.

Dari keterangan sebelumnya yang telah dijelaskan dapat dilihat bahawa sebuah
perencanaan pendidikan bisa dikatakan perencanaan pendidika jika memiliki unsur-unsur atau
yang mencirikan bahwa sesuatu itu merupakan perencanaan pendidikan. Untuk lebih jelasnya
berikut merupakan ciri-ciri dari perencanaan pendidikan;
1. Perencanaan pendidikan harus mengutamakan nilai-nilai manusiawi, karena pendidikan
itu membangun manusia yang harus mampu membangun dirinya dan masyarakatnya.
2. Perencanaan pendidikan harus memberikan kesempatan untuk mengembangkan segala
potensi peserta didik seoptimal mungkin.
3. Perencanaan pendidikan harus memberikan kesempatan yang sama bagi setiap peserta
didik.
4. Perencanaan pendidikan harus komprehensif dan sistematis dalam arti tidak praktikal atau
segmentaris tapi menyeluruh dan terpadu serta disusun secara logis dan rasional serta
mencakup berbagai jalur, jenis dan jenjang pendidikan.
5. Perencanaan pendidikan harus diorientasi pada pembangunan, dalam arti bahwa program
pendidikan haruslah ditujukan untuk membantu mempersiapkan man power (SDM) yang
dibutuhkan oleh berbagai sektor pembangunan.
6. Perencanaan pendidikan harus dikembangkan dengan memperhatikan keterkaitannya
dengan berbagai komponen pendidikan secara sistematis.
7. Perencanaan pendidikan harus menggunakan resources secermat mungkin karena
resources yang tersedia adalah langkah.
8. Perencanaan pendidikan haruslah berorientasi kepada masa datang, karena pendidikan
adalah proses jangka panjang dan jauh untuk menghadapi masa depan.
9. Perencanaan pendidikan haruslah kenyal dan responsi terhadap kebutuhan yang
berkembang di masyarakat tidak statis tapi dinamis.
10. Perencanaan pendidikan haruslah merupakan sarana untuk mengembangkan inovasi
pendidikan hingga pembaharuan terus-menerus berlangsung.

Tahapan Perencanaan Pendidikan

Mengidentifikasi Masalah

Analisis Bidang

Rencana

Evaluasi Rencan

Tentukan Rencana

Implementasi

Evaluasi Implementasi

Tahapan-tahapan dalam perencanaan pendidikan pada prinsipnya pada semua tataran


sistemnya (operasional, institusional, dan struktural) dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Mendefinisikan permasalahan perencanaan pendidikan.
2. Analisis bidang telaah permasalahan perencanaan.
3. Mengkonsepsikan dan merancang rencana.
4. Evaluasi rencana.
5. Menentukan rencana.
6. Implementasi rencana.
7. Evaluasi implementasi rencana dan umpan baliknya.

A. Perencanaan Pendidikan Setiap Level Manajemen Pendidikan


Agar tercapainya tujuan dari pendidikan maka setiap level mulai dari pemerintah
pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kota/kabupaten, serta sekolah itu sendiri harus ikut
andil dalam proses penyelenggaraan pendidikan dengan maksud agar proses perencanaan
pendidikan dapat terlaksana dengan maksimal dan seperti halnya prinsip perencanaan
pendidikan, bahwa setiap level harus ikut andil dalam memperbaiki hasil pendidikan,
membawa pendidikan ke-era yang lebih baik atau pengembangan pendidikan sesuai
dengan apa yang diinginkan.
 Pemerintah Pusat
Sebagai sudut pandang saja bahwa sejalan dengan berlakunya UU 22 Tahun
1999, pendekatan pengaturan serta penyelenggaraan pendidikan berubah yang
pada awalnya bersifat sentral menjadi bersifat desentral. Sebagian besar
kewenangan untuk mengurus penyelenggaraan pendidikan diserahkan kepada
pemerintah kabupaten/kota dan sekolah itu sendiri.
Disini pemerintah pusat memiliki tugas lebih pada pengembangan serta
penetapan standar-standar yang menjamin pemerataan kualitas pendidikan secara
menyeluruh/nasional.
Seperti yang telah dijelaskan bahwa pemerintah pusat mengemban
kewajiban dalam perencanaan pendidikan seperti penetapan standarisasi
pendidikan serta pemerataan. Dibawah ini merupakan beberapa program-program
atau aksi pemerintah dalam perencanaan pendidikan secara nasional.
a. Penerapan Kurikulum
Pemerintah pusat menentukan program pendidikan apa yang
akan diselenggarakan oleh sebuah lembaga pendidikan dan itu berisi
tentang rancangan pendidikan yang akan diberikan kepada peserta didik
dalam satu periode pendidikan.
Pada tahun 2014 dan 2015 sedang maraknya perbincangan
mengenai pendidikan mengenai perubahan kurikulum dari KTSP
menjadi Kurikulum 2013. Ada banyak propaganda mengenai hal ini ada
banya alasan dan kritikan yang dilontarkan. Seperti pada website
kemendikbud .(http://www.membumikanpendidikan.com) disana
dijelaskan “Kurikulum ini didesain untuk menyiapkan anak didik
menjadi manusia-manusia yang kompeten dalam menjawab tantangan
abad 21. Organisasi The Partnership for 21st Century Skills (P21)
menjelaskan kemampuan yang dibutuhkan untuk mencetak peserta didik
yang menguasai bidangnya secara profesional dan kompeten. Ketiga
elemen itu adalah Life and Career Skills, Learning and Innovation Skills,
and Information, Media and Technology Skills.”. Namun pada akhirnya
karena terjadi ketidak merataan pendidikan dilihat dari penerapan
Kurikulum 2013 maka Kurikulum 2013 akhirnya dikembangkan lagi hal
itu dijelaskan oleh Kepala Kementrian Kebudayaan dan Pendidikan, “K-
13 dirasa belum cukup matang untuk diterapkan, selanjutnya akan
dibenahi dan dikembangkan lagi.”.
Hal diatas dibuktikan oleh data yang didapat mengenai sekolah
SMK yang menerapkan Kurikulum 2013, yaitu hanya berkisar 1,021
SMK (datapokok.ditpsmk.net) di seluruh Indonesia dari 11,738 SMK
yang ada di Indonesia. Berarti hanya 11,5% SMK yang menerapkan
Kurikulum 2013 di Indonesia. Pada dasarnya 11,5% SMK tersebut
merupakan SMK percontohan untuk percobaan Kurikulum 2013 dan hal
itu harus diadakan evaluasi kembali menyangkut output dan juga yang
paling penting adalah prosesnya.
b. BOS (Bantuan Operasional Sekolah)
Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) adalah program
pemerintah untuk penyediaan biaya nonpersonalia bagi satuan
pendidikan dasar dan menengah pertama sebagai wujud pelaksanaan
program wajib belajar 9 tahun. Dengan tujuan Mengurangi beban
masyarakat terhadap pembiayaan pendidikan dalam rangka wajib belajar
sembilan tahun yang bermutu.
Menurut Peraturan Mendiknas Nomor 69 Tahun 2009, standar
biaya operasi nonpersonalia adalah standar biaya yang diperlukan untuk
membiayai kegiatan operasi nonpersonalia selama 1 (satu) tahun sebagai
bagian dari keseluruhan dana pendidikan agar satuan pendidikan dapat
melakukan kegiatan pendidikan secara teratur dan berkelanjutan sesuai
Standar Nasional Pendidikan. BOS adalah program pemerintah yang
pada dasarnya adalah untuk penyediaan pendanaan biaya operasi
nonpersonalia bagi satuan pendidikan dasar sebagai pelaksana program
wajib belajar. Namun demikian, ada beberapa jenis pembiayaan
investasi dan personalia yang diperbolehkan dibiayai dengan dana BOS.
sesuai petunjuk teknis Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
 Pemerintah Provinsi
Perencanaan pendidikan regional adalah perencanaan pada tingkat daerah
provinsi atau untuk daerah kabupaten/kota yang mencakup seluruh jenis dan
jenjang untuk daerah atau provinsi itu. Pada sistem penyelenggaraan pendidikan di
Indonesia mungkin ini dikenal dengan sistem wilayah, bilamana wilayah itu secara
operasional mencakup suatu daerah atau provinsi tertentu.
Menurut http://disdik.kaltimprov.go.id/read/news/2015/887/rakor-
perencanaan-pendidikan-2015.html pihak Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur melaksanakan Rapat Koosrdinasi untuk
menentukan strategi apa yang akan dilakukan kedepannya dalam perencanaan
pendidikan. Dijelaskan ada tiga hal yang akan dibahas yaitu; “Yang pertama
program kegiatan Disdik khususnya berkaitan tentang Beasiswa Kaltim Cemerlang
mengingat pada tahun 2014 kuota telah dibagikan melalui Disdik Kab/Kota,
kegiatan-kegiatan lain yang berkaitan dengan kualifikasi guru dan pemerataan
pendidikan."
"Kedua, berkaitan dengan Ujian Nasional yang dalam Permen 114
menyatakan bahwa tidak ada perubahan yang mendasar. Untuk soal tahun ini
dicetak di Daerah masing-masing namun untuk tender nasional disahkan pada 12
Januari nanti."
"Ketiga yaitu Pelaksanaan Kurikulum 2013 yang kita ketahui bersama
bahwa dalam Permendikbud untuk siswa Semester 1 kembali menggunakan
Kurikulum 2006 dan siswa Semester 3 lanjut melaksanakan Kurikulum 2013. Kita
bisa rundingkan bersama apakah Kaltim secara merata dapat melaksanakan
Kurikulum 2013 atau tidak, mengingat untuk daerah Kutim sudah melaksanakan
Kurikulum 2013 secara merata mulai tahun lalu."
Berdasarkan Permendikbud nomor 160 tahun 2014 tentang Pemberlakuan
Kurikulum 2013 Bahwa Satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang
melaksanakan Kurikulum 2013 sejak Semester 1 tahun pembelajaran 2014/ 2015
kembali melaksanakan Kurikulum 2006 / KTSP mulai semester kedua tahun
pembelajaran 2014/ 2015 sampai ada ketetapan dari Kementerian untuk
melaksanakan Kurikulum 2013.
Asisten Sekda III Prov. Kaltim menjelaskan bahawa; “Kalau kita berbicara
tentang perencanaan, perencanaan adalah faktor evaluasi yang memiliki peran
strategis. Faktor yang terpenting selain evaluasi dalam pelaksanaan perencanaan
adalah kita juga harus berdiri pada data dan informasi yang tepat, akurat dan
obyektif. Perencanaan menjamin 50% keberhasilan dalam pelaksanaan program."
"Selain itu, tokoh sentral yang ada dan paling terdepan untuk meningkatkan
Sumber Daya Manusia khususnya di Kaltim dalam rangka penyiapan manusia-
manusia berkualitas setelah nanti dihadapkan pasca kejayaan Sumber Daya Alam
yang tidak dapat diperbaharui. Menurut pemaparan Gubernur adalah bahwa ada
pada institusi Dinas Pendidikan Prov. Kaltim dan Kab/Kota, Kantor Wilayah
Agama Provinsi dan Kab/Kota yang secara operasional dilaksanakan pada
pendidikan dasar dan menengah."
 Pemerintah Kabupaten/Kota
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah, urusan Pendidikan Menengah menjadi urusan Provinsi. Namun
Kabupaten/Kota dapat melakukan hal-hal yang dapat membantu Pemerintah
Provinsi atau ikut andil dalam mensukseskan penyelenggaraan pendidikan di
daerahnya. Pada tahun ini, Bappeda Kabupaten Sleman melaksanakan kegiatan
Penyusunan Rencana Induk Pendidikan Menengah Kabupaten Sleman Tahun
2016-2020. Hal ini dilatarbelakangi beberapa permasalahan terkait dengan kondisi
pendidikan Menengah di Kabupaten Sleman, diantaranya APK dan APM
SMA/SMK lebih rendah dengan APK dan APM SMP, dimana APK SMP tahun
2014 mencapai 111,41% dan APK SMA/SMK sebesar 86,39% serta APM SMP
tahun 2014 81,63% dan APK SMA/SMK hanya 57,7%. Permasalahan yang lain
adalah masih terdapatnya anak putus sekolah pada jenjang SMA, kualifikasi guru
SMA/SMK belum optimal, penempatan guru tidak merata, dari 1.358 ruang SMA
masih ada 765 ruang sekolah rusak ringan dan 5 rusak berat dan masih banyaknya
anak-anak Sleman yang bersekolah diluar Kabupaten Sleman.
Berdasarkan latar belakang tersebut, akan disusun rencana induk yang
meliputi kebijakan dan program-program yang relevan dengan dengan 8 standar
nasional, proyeksi dan prediksi kondisi pendidikan menengah, dan juga menyusun
rekomendasi implementasi program pendidikan dalam bentuk rencana jangka
pendek dan jangka menengah di Kabupaten Sleman Tahun 2016-2020.
http://bappeda.slemankab.go.id/penyusunan-rencana-induk-pendidikan-
menengah-kabupaten-sleman-tahun-2016-2020.slm
 Sekolah (SMK)
Pada era otonomi daerah dengan seiring berkembangnya wacana
desentralisasi pemerintahan dan school based management ini, perencanaan
pendidikan di sekolah sepatutnya menggunakan pendekatan yang bersifat
bottom up, atau perencanaan pendidikan berbasis sekolah. Proses perencanaan
pendidikan berbasis sekolah mengggunakan langkah-langkah perencanaan
pendidikan yang selama ini ditempuh. Hanya saja dalam setiap proses tersebut,
hendaknya melibatkan seluruh komponen sekolah, komite sekolah/dewan
sekolah/majelis madarasah dan stake holders sekolah yang lainnya.
Langkah-langkah perencanaan sekolah adalah: forecasting, objective,
policy, programming, procedure, schedule dan budgeting. Sedangkan langkah-
langkah operasionalnya dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah,
yaitu: identifikasi masalah, identifikasi alternatif pemecahan masalah, identifikasi
faktor pendukung dan faktor penghambat, dan penentuan alternatif terbaik. Setelah
pendekatan pemecahan masalah ini ditempuh, dilanjutkan dengan pembahasaan
alternatif terpilih ke dalam bahasa program. Selanjutnya, ditentukan kapan waktu
pelaksanaannya, berapa anggarannya, dan siapa yang menjadi pelaksanaannya.
Agar seluruh komponen sekolah, komite sekolah/ dewan sekolah/ majelis
madarasah dan stake holders lainnya terlibat secara aktif, patut disediakan arena
yang bernama rapat kerja dengan agenda tunggal penyusunan rencana sekolah.
Agar data yang digali tersebut memberikan nuansa bottom up, desentralisasi, maka
teknik eksploratory hendaknya dipilih; dan jangan sampai menggunakan teknik
konfirmatory. Begitu juga pengesahan akhirnya bukanlah hanya oleh kepala
sekolah melainkan yang lebih utama adalah oleh komite sekolah/ dewan sekolah/
majelis madarasah.
KOMPETENSI LULUSAN SMK
SESUAI DENGAN KURIKULUM 2013
Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah digunakan sebagai
acuan utama pengembangan standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan, standar
pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan
standar pembiayaan.
Adapun Pengertian Standar Kompetensi Lulusan adalah kriteria mengenai kualifikasi
kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Ruang Lingkup
Standar Kompetensi Lulusan terdiri atas kriteria kualifikasi kemampuan peserta didik yang
diharapkan dapat dicapai setelah menyelesaikan masa belajarnya di satuan pendidikan pada
jenjang pendidikan dasar dan menengah.

A. Pengembangan Standar Kompetensi Lulusan SMK


Sebelum ke-arah pengembangannya lebih baik kita ketahui dulu Standar Kompetensi
apa saja yang harus dimiliki lulusan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Pada penjelasan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional (sisdiknas)
Pasal 35 disebutkan bahwa standar kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan
lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik yang harus
dipenuhinya atau dicapainya dari suatu satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar
dan menengah.
 Dimensi Sikap
Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlak mulia, berilmu,
percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa
dalam pergaulan dunia.
 Dimensi Pengetahuan
Memiliki pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalam ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian.
 Dimensi Keterampilan
Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan
konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri.
Dalam rangka meningkatkan mutu lulusan SMK atau pengembangan Standar
Kompetensi lulusan SMK ada beberapa cara yang dapat dilakukan mengenai hal di atas,
antara lain yaitu;
 Meningkatkan cara belajar sisiwa.
Masalah cara belajar dewasa ini perlu mendapat perhatian karena kualitas cara
belajar siswa SMK cukup memprihatinkan. Sukir (1995) mengemukan bahwa
masih cukup banyak siswa yang mempunyai cara belajar kurang baik seperti
belajar dengan waktu yang tidak teratur (tidak memiliki jadwal), belajar sambil
menonton TV atau mendengarkan radio, melakukan belajar dengan berpindah-
pindah, sering terlambat masuk sekolah, dan hanya belajar pada waktu menghadapi
ujian saja.
Berikut beberapa cara belajar yang efektif dan efisien;
a) Belajar bersama, dengan belajar bersama siswa akan lebih satai dan lebih
mengerti karena belajar dengan sesama teman.
b) Buatlah rangkuman dari mata pelajaran, ini akan membantu dalam
memahami mata pelajaran.
c) Kembangkan materi dan coba berfikirlah menjadi ilmuan dan fikirkan
penerapan ilmunya.
d) Disiplin dalam belajar dan belajar dengan giat dan jangan lupa istirahat.
 Menjalin hubungan kerja sama dengan pihak lain.
Untuk meningkatkan kualitasnya, SMK perlu bekerjasama dengan berbagai pihak
antara lain dunia usaha/industri, perguruan tinggi, dan masyarakat lainnya.
Kerjasama tersebut dilakukan atas dasar saling menguntungkan. Bidang-bidang
kerjasama yang akan dilakukan terlebih dahulu harus diidentifikasi dan
disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi kedua belah pihak agar bermanfaat.
 Meningkatkan sarana dan prasarana sekolah.
Kurikulum pendidikan kejuruan dalam implementasi kegiatan pembelajaran perlu
didukung oleh fasilitas beajar yang memadai, karena untuk mewujudkan situasi
belajar yangdapat mencerminkan situasi dunia kerja secara realistis dan edukatif,
diperlukan banyak perlengkapan, sarana dan perbekalan logistik. Bengkel kerja
dan laboratorium adalah kelengkapan utama dalam sekolah kejuruan yang harus
ada sebagai fasilitas bagi peserta didik di dalam mengembangkan kemampuan
kerja sesuai dengan tuntutan dunia usaha dan industri.
 Menekankan pembelajaran berbasis IPTEK.
Kita tahu bahwa era globalisasi tidak lepas dari perkembangan IPTEK, oleh karen
itu SMK yang akan dikelola akan di titik beratkan pada pengembangan
pembelajaran berbasis IPTEk yang siap dipakai di dunia kerja. Tentu hal ini tidak
lepas dari kelengkapan prasarana yang sudah di singgung pada pembahsana
sebelumnya. Di samping dari itu, dibutuhkan tenaga pendidik yang berkompeten
pula. Oleh karena itu pihak sekolah juga akan bekerjasama dalam mewujudkan hal
itu, diantaranya menjaring tanaga pengajar yang berkompeten, serta melakukan
pengawasan dan pengontrolan terhadap proses proses yangakan dilakukan dalam
penanganan PBM berbasis IPTEk tersebut di ramu atau dipadukan 10 dengan pola
pengelolaan yang sudah di bahas sebelumnya di atas. Tentu hal ini bertujuan untuk
menciptakan output yang berkompeten dalam IPTEk yaitu lulusan yang siap terjun
ke dunia kerja era globalisasi sekarang ini.
 Menerapkan praktek industri (PraKerin).
Pelaksanaan praktek kerja industri bagi siswa memperoleh banyak keuntungan.
Produk lulusan/siswa akan lebih bermakna, karena setelah tamat akan akan betul-
betul memiliki bekal keahlian (life skills) profesional untuk terjun ke lapangan
kerja sehingga dapat meningkatkan taraf kehidupannya dan untuk bekal
pengembangan dirinya secara berkelanjutan. Keahlian (life skills) yang diperoleh
dapat mengangkat harga dan rasa percaya diri tamatan.
 Pelatihan berbasis industri.
Pembelajaran di dunia kerja adalah suatu strategi dimana setiap peserta mengalami
proses belajar melalui bekerja langsung (learning by doing) pada pekerjaan yang
sesungguhnya. Pelaksanaannya dinamakan Pendidikan Sistem Ganda
(PSG)/Praktek Industri sesuai dengan bidang keahlian yang dikembangkan. PSG
adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan keahlian kejuruan
yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dan
program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui bekerja langsung di dunia
kerja, terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu.
 Pembelajaran ahklak, keimanan, dan kedisiplinan.
Kompetensi yang akan di tembak sasarannya pada pengelolaan SMK yaitu
terwujudnya lulusan yang berkompeten di dunia kerja akan tidak ada gunanya jika
tidak di bekali dengan akhlak dan keimana yang kuat. Oleh karena itu ujung akhir
dalam pengelolaan pendidikan pada SMK yaitu kepada pembentukan moral yang
beriman dan berakhlak, hal ini bisa dilakukan dengan penambahan mata pelajaran
agama serta mata pelajaran akhlak yang dicontohkan melalui PBM dan teladan –
teladan para guru dan elemen terkait.

B. Pembelajaran Kurikulum 2013


Pelaksanaan pembelajaran pada pelaksanaan kurikulum 2013 memiliki karakteristik
yang berbeda dari pelaksanaan kurikulum 2006. Berdasarkan hasil analisis terhadap kondisi
yang diharapkan terdapat maka dipeloleh 14 prinsip utama pembelajaran yang perlu guru
terapkan. Berikut dibawah ini ke-14 belas prinsip pembelajaran dalam menerapkan proses
belajar mengajar di Kurikulim 2013;
1. Dari siswa diberi tahu menuju siswa mencari tahu; pembelajaran mendorong siswa
menjadi pembelajar aktif, pada awal pembelajaran guru tidak berusaha untuk
meberitahu siswa karena itu materi pembelajaran tidak disajikan dalam bentuk final.
Pada awal pembelajaran guru membangkitkan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu
fenomena atau fakta lalu mereka merumuskan ketidaktahuannya dalam bentuk
pertanyaan. Jika biasanya kegiatan pembelajaran dimulai dengan penyampaian
informasi dari guru sebagai sumber belajar, maka dalam pelaksanaan kurikulum 2013
kegiatan inti dimulai dengan siswa mengamati fenomena atau fakta tertentu. Oleh
karena itu guru selalu memulai dengan menyajikan alat bantu pembelajaran untuk
mengembangkan rasa ingin tahu siswa dan dengan alat bantu itu guru membangkitkan
rasa ingin tahu siswa dengan bertanya.
2. Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber;
pembelajaran berbasis sistem lingkungan. Dalam kegiatan pembelajaran membuka
peluang kepada siswa sumber belajar seperti informasi dari buku siswa, internet,
koran, majalah, referensi dari perpustakaan yang telah disiapkan. Pada metode proyek,
pemecahan masalah, atau inkuiri siswa dapat memanfaatkan sumber belajar di luar
kelas. Dianjurkan pula untuk materi tertentu siswa memanfaatkan sumber belajar di
sekitar lingkungan masyarakat. Tentu dengan pendekatan ini pembelajaran tidak cukup
dengan pelaksanaan tatap muka dalam kelas.
3. Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan
ilmiah; pergeseran ini membuat guru tidak hanya menggunakan sumber belajar tertulis
sebagai satu-satunya sumber belajar siswa dan hasil belajar siswa hanya dalam bentuk
teks. Hasil belajar dapat diperluas dalam bentuk teks, disain program, mind maping,
gambar, diagram, tabel, kemampuan berkomunikasi, kemampuan mempraktikan
sesuatu yang dapat dilihat dari lisannya, tulisannya, geraknya, atau karyanya.
4. Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi;
pembelajaran tidak hanya dilihat dari hasil belajar, tetapi dari aktivitas dalam proses
belajar. Yang dikembangkan dan dinilai adalah sikap, pengetahuan, dan
keterampilannya.
5. Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu; mata pelajaran dalam
pelaksanaan kurikulum 2013 menjadi komponen sistem yang terpadu. Semua materi
pelajaran perlu diletakkan dalam sistem yang terpadu untuk menghasilkan kompetensi
lulusan. Oleh karena itu guru perlu merancang pembelajaran bersama-sama,
menentukan karya siswa bersama-sama, serta menentukan karya utama pada tiap mata
pelajaran bersama-sama, agar beban belajar siswa dapat diatur sehingga tugas yang
banyak, aktivitas yang banyak, serta penggunaan waktu yang banyak tidak menjadi
beban belajar berlebih yang kontraproduktif terhadap perkembangan siswa.
6. Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan
jawaban yang kebenarannya multi dimensi; di sini siswa belajar menerima kebenaran
tidak tunggul.
7. Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif; pada waktu lalu
pembelajaran berlangsung ceramah. Segala sesuatu diungkapkan dalam bentuk lisan
guru, fakta disajikan dalam bentuk informasi verbal, sekarang siswa harus lihat
faktanya, gambarnya, videonya, diagaramnya, teksnya yang membuat siswa melihat,
meraba, merasa dengan panca indranya. Siswa belajar tidak hanya dengan mendengar,
namun dengan menggunakan panca indra lainnya.
8. Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan
keterampilan mental (softskills); hasil belajar pada rapot tidak hanya melaporkan angka
dalam bentuk pengetahuannya, tetapi menyajikan informasi menyangku perkembangan
sikapnya dan keterampilannya. Keterampilan yang dimaksud bisa keterampilan
membacan, menulis, berbicara, mendengar yang mencerminkan keterampilan
berpikirnya. Keterampilan bisa juga dalam bentuk aktivitas dalam menghasilkan karya,
sampai pada keterampilan berkomunikasi yang santun, keterampilan menghargai
pendapat dan yang lainnya.
9. Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan siswa sebagai
pembelajar sepanjang hayat; ini memerlukan guru untuk mengembangkan pembiasaan
sejak dini untuk melaksanakan norma yang baik sesuai dengan budaya masyarakat
setempat, dalam ruang lingkup yang lebih luas siswa perlu mengembangkan kecakapan
berpikir, bertindak, berbudi sebagai bangsa, bahkan memiliki kemampuan untuk
menyesusaikan dengan dengan kebutuhan beradaptasi pada lingkungan global.
Kebiasaan membaca, menulis, menggunakan teknologi, bicara yang santun merupakan
aktivitas yang tidak hanya diperlukan dalam budaya lokal, namun bermanfaat untuk
berkompetisi dalam ruang lingkup global.
10. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso
sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan
kreativitas siswa dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani); di sini guru perlu
menempatkan diri sebagai fasilitator yang dapat menjadi teladan, meberi contoh
bagaimana hidup selalu belajar, hidup patuh menjalankan agama dan prilaku baik lain.
Guru di depan jadi teladan, di tengah siswa menjadi teman belajar, di belakang selalu
mendorong semangat siswa tumbuh mengembangkan pontensi dirinya secara optimal.
11. Pembelajaran berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat; karena itu
pembelajaran dalam kurikulum 2013 memerlukan waktu yang lebih banyak dan
memanfaatkan ruang dan waktu secara integratif. Pembelajaran tidak hanya
memanfaatkan waktu dalam kelas.
12. Pembelajaran menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah
siswa, dan di mana saja adalah kelas. Prinsip ini menadakan bahwa ruang belajar siswa
tidak hanya dibatasi dengan dinding ruang kelas. Sekolah dan lingkungan sekitar adalah
kelas besar untuk siswa belajar. Lingkungan sekolah sebagai ruang belajar yang sangat
ideal untuk mengembangkan kompetensi siswa. Oleh karena itu pembelajaran
hendaknya dapat mengembangkan sistem yang terbuka.
13. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk meningkatkan efisiensi
dan efektivitas pembelajaran; di sini sekolah perlu meningkatkan daya guru dan siswa
untuk memanfaatkan TIK. Jika guru belum memiliki kapasitas yang mumpuni siswa
dapat belajar dari siapa pun. Yang paling penting mereka harus dapat menguasai TIK
sebabab mendapatkan pelajaran dengan dukungan TIK atau tidak siswa tetap akan
menghadapi tantangan dalam hidupnya menjadi pengguna TIK. Jika sekolah tidak
memfasilitasi pasti daya kompetisi siswa akan jomplang daripada siswa yang
memeroleh pelajaran menggunakannya.
14. Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya siswa; cita-cita, latar
belakang keluarga, cara mendapat pendidikan di rumah, cara pandang, cara belajar, cara
berpikir, keyakinan siswa berbeda-beda. Oleh karena itu pembelajaran harus melihat
perbedaan itu sebagai kekayaan yang potensial dan indah jika dikembangkan menjadi
kesatuan yang memiliki unsur keragaman. Hargai semua siswa, kembangkan
kolaborasi, dan biarkan siswa tumbuh menurut potensinya masing-masing dalam
kolobarasi kelompoknya.

C. Penilaian Hasil Belajar


1. Penilaian Sikap
a. Pengertian Penilaian Sikap
Penilaian sikap adalah kegiatan untuk mengetahui kecendrungan perilaku
spiritual dan sosial siswa dalam kehidupan sehari-hari di dalam dan di luar kelas
sebagai hasil pendidikan. Penilaian sikap memiliki karakteristik yang berbeda
dengan penilaian pengetahuan dan keterampilan, sehingga teknik penilaian yang
dilakukan juga berbeda.
b. Teknik Penilaian Sikap
Penilaian sikap terutama dilakukan oleh wali kelas dan guru mata pelajaran
khususnya guru Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, dan PPKn melalai observasi
dalam bentuk catatan guru selama proses pembelajaran. Hasil observasi guru mata
pelajaran diserahkan kepada wali kelas untuk ditindakanjuti. Penilaian diri atau
penilaian antar teman dilakukan oleh siswa sebagai penunjang yang sifatnya alat
kominikasi. Hasil akhir penilaian sikap diolah menjadi deskripsi sikap yang
dituliskan di dalam rapor. Skema penilaian sikap dapat dilihat pada gambar berikut.
2. Penilaian Kompetensi Pengetahuan
a. Pengertian Penilaian Komptensi Pengetahuan
Penilaian kompetensi pengetahuan dimaksudkan untuk mengukur ketercapaian
aspek kemampuan pada Taksonomi Bloom. Kemampuan yang dimaksudkan
adalah mulai dari pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan
evaluasi/mencipta yang terdapat pada setiap KD. Penilaian pengetahuan
dilakukandengan menggunakan berbagai teknik penilaian. Guru diharapkan
mampu pengidentifikasi setiap KD dan/atau materi pembelajaran untuk selanjutnya
memilih teknik penilaian yang sesuai dengan karakteristik kompetensi yang akan
dinilai.
b. Teknik Penilaian
Berbagai tekni penilaian pada kompetensi pengetahuan dapat digunakan sesuai
dengan karakteristik masing-masing KD. Teknik yang biasa dilakukan adalah tes
liasan, tes tertulis, dan penugasan. Namun tidak menutup kemungkinan digunakan
teknik lain yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Selain itu dapat pula
digunakan portofolio sebagai masukan dalam merencanakan remedial, pengayaan
(assesment for learning) dan penyusunan deskripsi kompetensi pengetahuan pada
rapor (assesment of learning). Skema penilaian pengetahuan dapat dilihat pada
bagan dibawah ini.

3. Penilaian Keterampilan
a. Pengertian Penilaian Keterampilan
Penilaian keterampilan adalah suatu penilaian yang dilakukan untuk
mengetahui kemampuan siswa dalam mengaplikasikan pengetahuan untuk
melakukan tugas tertentu dalam berbagai macam konteks sesuai dengan indikator
pencapaian kompetensi. Dalam pelaksanaannya, penilaian keterampilan dapat
dilakukan dengan berbagai teknik, seperti penilaian proyek, dan penilaian
portofolio.
b. Teknik Penilaian
Penilaian kerja digunakan untuk mengatur capaian pembelajaran yang berupa
keterampilan proses dan/atau hasil produk. Aspek yang dinilai dalam penilaian
kinerja adalah proses pengerjaannya atau kualitas produknya atau kedua-duanya.
Sebagai contoh; (1) keterampilan untuk menggunakan alat dan/atau bahan serta
prosedur kerja dalam menghasilkan suatu produk; (2) kualitas produk yang
dihasilkan berdasarkan kriteria teknis dan estentik. Instrumen yang digunakan
berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik. Skema
penilaian keterampilan dapat dilihat dibawah ini.

PENGEMBANGAN SDM SEKOLAH


Salah satu bidang penting dalam Administrasi/Manajemen Pendidikan adalah berkaitan
dengan Personil/Sumberdaya manusia yang terlibat dalam proses pendidikan, baik itu Pendidik
seperti guru maupun tenaga Kependidikan seperti tenaga Administratif. Intensitas dunia
pendidikan berhubungan dengan manusia dapat dipandang sebagai suatu perbedaan penting
antara lembaga pendidikan/organisasi sekolah dengan organisasi lainnya.
Disini akan dibahas mengenai cara atau prosedur pengembangan SDM di sekolah
termasuk sisiwa, guru, kepala sekolah, dan juga tenaga administratif sekolah. Sebagai panduan
pengembangan SDM sekolah akan diambil landasan dan sudut pandang dari PP Nomor 10
Tahun 1979. Pengembangan SDM itu sendiri memiliki pengertian yang telah disebutkan
beberapa ahli, berikut ini pengertian pengembangan SDM menurut para ahli;
1. Menurut Werther, 1993.”The activities undertaken to atrract, developed, and maintain
a high performing workforce within organisation.”.
Menurut Werther pengembangan SDM adalah sebuah aktivitas dimana mampu
menggerakkan, mengembangkan, dan juga menjaga performa yang maksimal dalam
lingkup kerja didalam organisasi.
2. Menurut Handoko 1998, menjelaskan mengenai pengembangan SDM. Pengembangan
sumberdaya adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengembangan,
pemberian konpensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pelepasan sumber daya
manusia agar tercapai tujuan organisasi dan masyarakat.

Pada pengembangan SDM pada tingkat sekolah setidak-tidaknya dapat memenuhi


beberapa aspek berikut ini menurut Aspek Prilaku Kerja Dalam SKP PP Nomor 10 Tahun
1979;
1. Penilaian perilaku kerja meliputi aspek : orientasi pelayanan, integritas, komitmen,
disiplin, kerjasama; dan kepemimpinan. Hal di atas sesuai dengan kompetensi yang
harus dimiliki oleh seorang Guru yaitu pedagogik, profesional, sosial, dan juga
kompetensi kepribadian. Termasuk juga Tenaga Administrasi sekolah yang tertera pada
Permen Nomor 24 Tahun 2008 menjelaskan bahwa ada 4 kompetensi yang harus
dimiliki tenaga administrasi sekolah yaitu; kompetensi kepribadian, sosial, teknis, dan
managerial. Termasuk juga didalamnya ada kepala sekolah.
2. Penilaian kepemimpinan hanya dilakukan bagi PNS yang menduduki jabatan struktural
(ini seperti Kepala Sekolah sebagai pemimpin). Penilaian kepemimpinan juga termasuk
Kepala Tenaga Administrasi yang harus memiliki kompetensi managerial.
Dengan diberlakukannya Undang-undang No. 22 /1999 tentang Otonomi Daerah, dan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) kedepan secara bertahap sekolah itu
diupayakan otonom. Ini artinya sekolah bukan hanya dapat melaksanakan tetapi juga dapat
mengembangkan program-program yang dianggap cocok bagi anak didik dan masyarakat
Otonomi sekolah mempunyai ciri-ciri : Yang pertama, sekolah itu memiliki lingkungan
yang kondusif untuk menyelenggarakan pendidikan. Yang kedua sekolah memiliki visi, misi,
dan strategi yang jelas. Yang ketiga, sekolah itu mempunyai mekanisme yang berani
melakukan evaluasi terhadap program-programnya untuk perbaikan. Yang keempat sekolah itu
dapat memberikan harapan yang jelas kepada anak didik dan program-program apa yang akan
dilaksanakan, menuju kepada satu situasi sekolah yang efektif dan bertanggungjawab. Jadi
dengan otonomi sekolah, sekolah diharapkan mandiri dan efektif.
Tuntutan pendidikan di era globalisasi menuntut guru memiliki kemampuan dan
kompetensi yang bersifat global. Arus informasi yang tak mengenal batas wilayah geografis
menjadikan guru harus mampu menyerap informasi baik yang berasal dari dalam maupun luar
negeri. Arus informasi global menjadikan siswa bisa jauh lebih dahulu menerima informasi
daripada guru, sehingga tidak bisa ditawar, guru wajib menguasai teknologi komunikasi dan
informasi demi meningkatkan kemampuan dan penguasaan bahan ajar dan dapat mengarahkan
anak didik kepada hal-hal yang baik dan benar.

A. Peningkatan SDM Guru di Sekolah


Guru sebagai pengajar sekaligus orang tua siswa yang berada di sekolah dituntut harus
mampu meningkatkan kompetensinya sebagai seorang guru. Ada banyak hal yang bisa
dilakukan oleh seorang guru bai secara individu atau pun berkelompok. Hal ini juga dapat
berdampak baik bagi siswa yang berada di lingkungan guru tersebut. Berikut dibawah ini
yang dapat dilakukan seorang guru dalam pengembangan SDM di sekolah;
1. Guru Siaga
Guru siaga adalah guru yang sewaktu-waktu bisa masuk kelas dan
menggantikan tugas guru yang tidak hadir ataupun berhalangan hadir. Ada dua macam
tugas yang harus dilakukan oleh seorang guru siaga. Pertama, sebagai guru yang harus
berdiri di depan kelas dalam artian mengajar. Jadi, kalau seharusnya materi yang
diajarkan oleh guru yang tidak hadir adalah Matematika, maka oleh guru jaga bisa saja
diisi dengan pelajaran Bahasa Inggris. Kedua, meliputi tugas-tugas lain misalnya
mengamankan lingkungan dan melakukan pendekatan kepada murid ketika sedang
istirahat.
Berikut syarat-syarat guru siaga agar lebih efisien dalam menjalankan tugasnya;
a. Guru siaga diusahakan guru yang pada hari itu tidak mengajar dan tidak bertugas
piket.
b. Guru siaga diserahi penuh oleh sekolah untuk mengisi jam pelajaran guru yang
pada waktu itu tidak bisa hadir.
c. Guru siaga mempunyai peran yang fleksibel. Tidak mustahil seorang guru siaga
mengantar siswanya mengikuti lomba, mengawasi anak-anak di lingkungan
sekolah, di kantin, antau ditempat-tempat dimana siswa dapat melakukan kegiatan
yang merugikan.
d. Guru siaga ibarat pemain cadangan dalam sebuah tim. Oleh karena itu, guru siaga
harus siap penuh untuk mengajar di kelas.
2. Pengaktivan MGMP Sekolah
MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) umumnya tergabung dalam tingkat
se-Kota/Kabupaten atau sekolah-sekolah yang berada disekitar atau pun bisa lebih luas
lagi. MGMP ini sangat bermanfaat dikarenakan mendukung penuh dari penguasaan
materi seorang guru agar dapat membeli anak didik. Di samping bersifat wilayah yang
luas MGMP bisa juga dilakukan di tingkat se-Sekolah. Asumsinya bila dalam satu SMK
terdapat tiga orang guru yang mengajar Sistem AC. Dan satu orang guru tersebut sakit,
ketimbang sisiwa di kelas tersebut tidak belajar maka salah satu dari guru yang
mengajar Sistem AC bisa menggantikan guru yan tidak dapat mengajar sementara
waktu tersebut. Oleh karena itu, setiap guru harus siap mengajar setiap tingkatan kelas
agar tidak mengalami kendala dalm mengajar.

B. Pengembangan SDM Kepala Sekolah Sesuai dengan Kultur Sekolah


Kepala Sekolah harus memahami kultur sekolah yang ada sekarang ini, dan menyadari
bahwa hal itu tidak lepas dari struktur dan pola kepemimpinannya. Perubahan kultur yang
lebih sehat dan baik harus dimulai dari kepemimpinan Kepala Sekolah. Kepala Sekolah
harus mengembangkan kepemimpinan berdasarkan dialog, saling perhatian dan pengertian
satu dengan yang lain. Biarlah guru, staf administrasi bahkan siswa ,emya,paikan
pandangannya tentang kultur sekolah yang dewasa ini, mana yang positif dan negatif,
khususnya berkaitan dengan kepemimpinan Kepala Sekolah, struktur organisasi, nilai-nilai
dan norma-norma, kepuasan terhadap kelas, dan produktifitas sekolah.
Kepala sekolah dalam mengembangkan kultur sekolah yang kondusif perlu
mendasarkan langkah-langkah kegiatan pada hal-hal berikut;
1. Biasakan berkerja dalam tim.
2. Mengembangkan hubungan baik dengan guru, staf administrasi, dan orang tua siswa.
3. Menerima dan mengembangkan ide-ide baru dari manapun datangnya.
4. Selalau melakukan identifikasi problem-problem utama.
5. Menyusun agenda kerja.
6. Mendorong gur dan staf administrasi bekerja dengan penuh semangat.
7. Keberhasilan memerlukan pengalaman.
8. Belajar dari guru, staf dan bahkan dari siswa.
9. Harus realistis, bahwa tidak semua program akan terlaksana.
10. Selalu melibatkan guru dan orang tua siswa dalam mengambil keputusan.
11. Dalam pengambilan keputusan senantiasa membandingkan dengan pendapat kedua dan
kesatu.
12. Selalu meghargai siapapun yang sudah memberikan saran dan peran.

Kultur sekolah ini berkaitan erat denga visi dan misi sekolah itu sendiri dan Kepala
Sekolah itu sendiri yang berkaitan dengan masa depan sekolah. Kepala Sekolah yang
memiliki visi untuk menghadapi tantangan sekolah di masa depan akan lebih suksesdalam
membangun kultur sekolah. Untuk membangun kultur sekolah perlu adanya kerja sama
yang koorperatif dari guru, kepala sekolah, siswa, dan juga orang tua siswa, serta staf
administrasi dan tenaga profesional.

DAFTAR PUSTAKA
 Module I “Educational Planning: approaches, challenges and international frameworks”
by UNESCO.pdf
 “What is educational planning?” by Philip H. Coomb.pdf
 http://www.tnp2k.go.id/id/tanya-jawab/klaster-i/program-bantuan-operasional-sekolah-
bos/
 PANDUAN PENILAIAN PADA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN –
KEMENDIKBUD, DIRJEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH, DIRJEN
PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH KEJUARUAN.
 Spektrum Pengalaman Lapangan Dalam Dunia Pendidikan oleh Nursisto.