You are on page 1of 239



Blur


Karya Dari Penulis Yang Sama

Warp Speed: American In the Age of Mixed Media


The Elements of Journalism: What Newspeople
Should Know and the Public Should Expect


Blur
Bagaimana Mengetahui Kebenaran Di Era Banjir Informasi

BILL KOVACH DAN


TOM ROSENTIEL


Copyright @ 2010 by Bill Kovach and Tom Rosenstiel

Penerjemahan ke Bahasa Indonesia dari buku ‘Blur How To Know What’s True
In The Age Of Information Overload’ dikerjakan Yayasan Pantau (www.pantau.
or.id). Diterjemahkan oleh Imam Shofwan dan Arif Gunawan Sulistiyono di bawah
supervisi Andreas Harsono

Design cover: Patti Ratchford

Layout: Abdurrahman Seblat

ISBN:

Dipublikasikan oleh Yayasan Pantau

Jalan Raya Kebayoran Lama 18 CD Jakarta Selatan 12220


Phone, +6221 7221031 Fax, +6221 7221055
Mobile, +6281392352986
Website: www.pantau.or.id

Juli 2012

Penerjemahan ini terlaksana berkat bantuan dana dari Dewan Pers.

Dewan Pers


Kata Pengantar Ketua Dewan Pers

Siapakah wartawan?
Dalam tiga tahun terakhir, di era media digital, pertanyaan di atas
muncul dalam berbagai diskusi seputar media. Dewan Pers menerima
pertanyaan yang sama dari akademisi, penggiat komunikasi, wakil
rakyat, pemerintah, dan bahkan insan pers sendiri. Ragam pertanyaan
mulai dari siapa saja yang bisa menjalankan fungsi wartawan? Siapa
yang mengawasi wartawan? Apakah Dewan Pers juga mengawasi
pewarta warga (citizen journalist)? Mengawasi blogger? Bagaimana
dengan pengguna media sosial seperti Twitter, atau Facebook? Apakah
mereka juga masuk domain Dewan Pers? Singkat kata, bagaimana De-
wan Pers merespon tumbuh pesatnya media baru?
Pertanyaan itu relevan mengingat peran media baru (new media)
sebagai sumber informasi kian menguat. Dalam sebuah diskusi Dewan
Pers tahun lalu, lembaga riset AC Nielsen memaparkan pola konsum-
si informasi di Indonesia, berdasarkan survei pada 2011 di sembilan
kota besar Indonesia. Hasilnya, 95% responden menjadikan televisi
sebagai sumber utama informasi. Radio di posisi kedua dengan angka
27%. Konsumsi informasi melalui internet mencatat angka 24%, koran
harian 13% dan majalah 7%. Media berbasis internet mencatat kenai-
kan rata-rata 20% dalam lima tahun terakhir, sebaliknya peran media
cetak sebagai sumber informasi terus merosot.
Fenomena ini bersifat global. Tak lama lagi akan ada medium pita
lebar (broadband) yang memungkinkan publik mengakses informasi
lebih cepat kapanpun, di manapun, melalui beragam alat komunikasi
yang kian personal. Nielsen juga mencatat orang Indonesia meng-
habiskan waktu di depan TV rata-rata 20,3 jam seminggu, sementara
konsumsi internet rata-rata 14 jam seminggu.
Tren konsumsi media di era digital ini jelas mempengaruhi cara
memproduksi konten berita, dengan melibatkan produsen informasi
lain yang tak jarang juga merupakan konsumen media. Interaktivitas
antara media dan wartawan—sebagai produsen informasi—dengan


konsumen informasi kian tinggi, sehingga nyaris terjadi kesetaraan


antara produsen dan konsumen dalam struktur produksi informasi.
Era digital mendemokratisasi penyebaran informasi. Tak ada lagi
monopoli kebenaran oleh lembaga media. Jutaan informasi men-
gisi ruang publik setiap menit. Pertanyaan yang kemudian muncul
adalah; siapa yang menjadi kurator, memilihkan informasi yang
benar bagi publik? Bagaimana tanggungjawab media dan wartawan
sebagai penjaga pintu (gate-keeper) di era digital? Pertanyaan lebih
lanjut adalah, apakah era digital melahirkan “jurnalisme baru”?
Duet pakar media Bill Kovach dan Tom Rosenstiel kembali me-
nyentak perhatian kita dengan menunjukkan tantangan dalam meme-
lihara esensi jurnalisme di era digital. Buku yang sedang Anda baca
ini adalah terjemahan buku Kovach dan Rosenstiel berjudul BLUR;
How To Know What’s True In The Era of Information Overload. Dewan
Pers memandang buku ini layak dibaca setiap wartawan, pelaku in-
dustri media dan komunikasi, pembuat kebijakan, dan terutama pub-
lik. BLUR menyegarkan pemahaman kita akan esensi dasar jurnal-
isme, yang juga telah mereka kupas sebelumnya dalam buku rujukan
wartawan dan pelaku media dunia; Sembilan Elemen Jurnalisme.
Dimulai dengan Bab yang membahas pertanyaan, “Bagaimana Kita
Tahu Mana Yang Bisa Dipercaya?” Kovach dan Rosenstiel mengantar-
kan kita pada kisah menarik, upaya wartawan memelihara prinsip
dasar jurnalistik, dan mengarungi perubahan teknologi yang begitu
cepat.
Konsumsi berita, sebagaimana dijelaskan dalam buku ini, tidak
lagi bersandar pada apa yang disediakan si “penjaga pintu” berita
dalam siaran berita atau artikel koran. Konsumsi berita telah men-
jadi sebuah pengalaman proaktif. Beberapa pihak menyebutnya se-
bagai pengalaman “berorientasi ke depan” di mana kita secara aktif
mencari sesuatu yang diperlukan untuk menjawab keingintahuan
kita. Konsumsi berita bukan lagi pengalaman “berorientasi ke be-
lakang”, di mana kita ongkang-ongkang kaki menunggu penyiar ber-
ita memberitahu apa yang terjadi atau cukup membolak-balik koran
(hal. 183, paragraf kedua). Situasi demikian menuntut respon baru
dari ruang redaksi dan pengelolanya. Produksi berita menjadi lebih
transparan.
Buku ini juga menggambarkan tantangan yang dihadapi Dewan
Pers hari ini, dan di masa mendatang. Kami sering berdiskusi tentang
perlunya Kode Etik Jurnalistik—yang selama ini diberlakukan se


bagai buah kesepakatan komunitas pers di Indonesia—ditinjau


secara terus-menerus untuk merespon perubahan cepat pola pem-
beritaan di era digital. Sebagai contoh; kiprah pewarta warga sejauh
ini bukan menjadi domain kerja Dewan Pers. Kendati demikian, De-
wan Pers tetap secara aktif menyelenggarakan seminar dan diskusi di
seluruh Indonesia terkait dengan pewarta warga dan literasi media.
Tujuannya untuk membantu publik mencerap kemampuan memilih
konten media sehat dan bermanfaat, seraya mengingatkan penggiat
pewarta warga bahwa ada etika dan aturan dalam mempublikasikan
informasi di ruang publik.
Kegiatan jurnalistik media siber pun menjadi perhatian utama
kami. Jumlahnya kian banyak, begitu pula pengaruhnya dalam mem-
bentuk opini publik. Atas inisiatif pengelola media siber dan organ-
isasi profesi wartawan, Dewan Pers memfasilitasi perumusan Pedo-
man Pemberitaan Media Siber. Saat meresmikan pedoman ini, yang
notabene adalah pedoman perilaku yang mengacu Kode Etik Jurnal-
istik, saya mengatakan bahwa produk ini bukan hanya perlu dipatuhi
pengelola dan wartawan media siber, melainkan layak diketahui
publik secara luas, termasuk pewarta warga.
Era serba cepat, serba instan, juga mendorong media berkom-
petisi kian ketat. Ekses yang timbul adalah berita yang tidak akurat,
tidak berimbang, cenderung dangkal dan sepotong-sepotong. Media
berlomba merespon isu dan menggulirkannya sebagai berita ke ma-
syarakat—yang kian gamang karena digempur berbagai informasi,
tapi sering kali gagal menggali akar permasalahan serta menawarkan
alternatif solusi. Tatkala kredibilitas media terpuruk, di situlah nilai
penting kemerdekaan pers yang profesional terancam.
Dalam peringatan Hari Pers Nasional 2012 di Jambi, saya telah
menyampaikan paling tidak ada tiga dasar untuk menjamin dan me-
lindungi kemerdekaan pers.
Pertama : bertalian dengan fungsi alamiah pers. Pers merdeka
merupakan hakikat atau sifat dasar pers. Untuk menjalankan fungsi
pers sebagai penyedia informasi, kemerdekaan mutlak diperlukan.
Hanya dengan kemerdekaan lah informasi kepada publik layak di-
percaya, akurat, dan tidak bias.
Kedua : bertalian dengan fungsi pers sebagai instrumen mewu-
judkan hak asasi manusia. Hak setiap orang untuk berkomunikasi,
menyatakan pikiran dan pendapat, hak atas kebebasan menyampai-
kan keluhan, sangat membutuhkan adanya pers yang merdeka. Me-


lalui pers yang merdeka, berbagai hal tersebut dapat disampaikan


kepada publik untuk dinilai dan didiskusikan secara terbuka. Kebe-
basan bertukar pendapat akan meningkatkan mutu kebenaran dan
mendorong perubahan dan kemajuan.
Ketiga : pers sebagai sarana demokrasi. Demokrasi dalam hal ini
ditinjau dari aspek penyelenggara negara atau pemerintahan. Arti-
nya, tidak sekadar ada pejabat publik yang dipilih rakyat, melainkan
pejabat yang benar-benar bertanggung jawab kepada rakyat. Peja-
bat publik yang dipilih rakyat, secara teratur sekalipun, belum tentu
menjadi pejabat yang bertanggungjawab terhadap rakyat.
Acapkali kita membaca atau mendengar ungkapan; “tidak ada
demokrasi tanpa tanggungjawab” (geen democratie zonder verant-
woordelijkheid, no democracy without responsibility and accountabi-
lity). Salah satu cara menegakkan prinsip tanggungjawab itu adalah
dengan menciptakan pengawas pemerintah, menjadi instrumen yang
mencegah, dan mengoreksi kesalahan. Pers yang merdeka, indepen-
den dan imparsial merupakan sarana efektif mengontrol pemerintah.
Dalam makna lebih luas, kontrol ini mencakup kegiatan bermasyara-
kat, berbangsa dan bernegara.
Dari perspektif internal, pertanggungjawaban pers tidak hanya
diwujudkan dengan menyajikan informasi atau memberitakan fakta
secara akurat, imparsial dan independen. Lebih dari itu, pers wajib
menyajikan berbagai perspektif dan penilaian demi kepentingan
publik (public directing function), bangsa dan negara. Konsekuensin-
ya, pers—seperti dikemukakan di atas—tidak cukup hanya menyam-
paikan berita, tapi juga harus menjalankan fungsi sosial mengaktual-
isasikan hati nurani dan harapan publik, misalnya harapan atas peri
kehidupan sejahtera, aman dan sentosa.
Dalam titik tertentu, upaya pengejawantahan harapan dan hati
nurani publik ini bisa saja membuat suara pers terdengar keras dan
tidak menenteramkan. Namun, semua itu harus diterima dengan
lapang dada sebagai bagian dari kedewasaan demokrasi dan kema-
tangan pers. Meski demikian, kepada insan pers, Dewan Pers juga
terus mengingatkan pentingnya memenuhi syarat dan kode etik jur-
nalistik, mematuhi hukum, dan berlaku profesional. Etika, keahlian,
kejujuran, dan sifat rendah hati juga harus terus dijadikan tatanan
hidup insan pers.
Berdasarkan mediasi Dewan Pers di lapangan, cukup banyak
ditemukan insan pers yang melaksanakan tugas jurnalistik dengan


tidak mengindahkan kode etik. Pada 2011, Dewan Pers menerima


514 pengaduan masyarakat. Dari situ, lebih dari 80% kesimpulan
Dewan Pers menunjukkan bahwa media melanggar kode etik jurnal-
istik, mulai dari tidak berimbang, tak akurat, tak melindungi identitas
korban kejahatan asusila, tak bersikap profesional menjalankan tu-
gas, hingga bentuk pelanggaran etika lain. Sikap menjunjung tinggi
kode etik ini diperlukan tidak semata demi kepentingan sumber be-
rita, melainkan demi menjaga esensi kemerdekaan pers sendiri.
Pengalaman Dewan Pers melayani pengaduan masyarakat atas
konten media, dan observasi mendalam atas berubahnya pola kon-
sumsi-produksi berita, membawa kami pada simpul yang sama
dengan kesimpulan buku BLUR. Wartawan perlu terus meningkat-
kan kompetensi, baik secara teknis sesuai dengan perkembangan
teknologi maupun secara kreatif dalam menyajikan informasi re-
levan bagi audiens. Perubahan dunia media, peran baru wartawan
dan organisasi media, justru mengukuhkan perlunya memelihara di-
siplin dasar jurnalisme, terutama disiplin verifikasi dalam menyaji-
kan kebenaran. BLUR menunjukkan bahwa disiplin dasar itu kini tak
hanya menjadi keterampilan wartawan. Publik pun perlu memiliki
keterampilan sama guna memilah informasi.
Publik yang kian terampil dan kritis menuntut wartawan lebih
profesional dan kompeten. Inilah esensi BLUR.
Dewan Pers mengucapkan terima kasih kepada Yayasan
Pantau yang telah bekerja sama dengan kami mentransliterasi
dan menerbitkan BLUR, sehingga bisa dinikmati secara luas oleh
warga Indonesia.

Jakarta, September 2012


Dewan Pers

Prof. Dr. Bagir Manan, SH., MCL


Ketua
10
11

ISI

BAB I Bagaimana Kita Tahu Mana Yang Bisa Dipercaya? 1



BAB II Kita Pernah Mengalami 13 `

BAB III Cara Berpengetahuan Skeptis: Ketrampilan Verifikasi 27

BAB IV Kelengkapan: Apa Yang Ada dan Apa Yang Kurang 60

BAB V Sumber: Darimana asalnya? 80

BAB VI Bukti dan Jurnalisme Verifikasi 102

BAB VII Pernyataan, Penegasan: Mana Buktinya? 130

BAB VIII Bagaimana Menemukan Hal yang Terpenting 157

BAB IX Apa Yang Kita Butuhkan Dari “Jurnalisme Era Baru” 182

Epilog 212

Catatan-Catatan 218

Ucapan Terima Kasih 226


12
12
Bagaimana Kita Tahu Mana yang Bisa Dipercaya 1

BAB 1
Bagaimana Kita Tahu
Mana Yang Bisa Dipercaya?

MELANIE Moyer merasa ada yang salah saat tiba di rumah sakit,
menjemput ayahnya.
Di ruang perawat, seorang dokter bercerita bahwa dia telah
mengirim istri dan anak-anaknya ke Utara, ke New England. “Jadi jika
kita harus menangani orang-orang ini, saya tak perlu khawatir soal
keluarga saya,” tuturnya.1
Menangani orang-orang dari apa, dia bertanya-tanya?
“Saya masuk ke mobil, memutar radio dan mendengar ada
‘insiden‘ di pembangkit listrik,” sebuah fasilitas pembangkit tenaga
nuklir terdekat, ingatnya kemudian.
Sementara itu di kota, Maureen Doherty melihat sesuatu di berita
TV. “Saya ingat sempat berpikir bahwa saya akan mati,” katanya.2
Setelah kabar itu menyebar, para pekerja di pembangkit listrik
mulai menghubungi keluarga dan teman untuk memperingatkan
soal kecelakaan serius. Banyak orang, seperti dokter yang tak sengaja
didengar oleh Moyer, menyarankan keluarga dan teman mereka
untuk antisipasi kemungkinan terburuk.
Mereka, pada gilirannya, mulai mengimel orang lain soal rencana
evakuasi. Foto-foto ponsel dan video mengenai ambulans, petugas
yang khawatir, dan pekerja pembangkit listrik yang panik mulai
muncul di TV lokal dan lantas di berita TV kabel. Para ahli, yang tak
terlibat tapi dianggap tahu, masuk di siaran langsung dan berandai-
andai tentang kemungkinan kebocoran nuklir. Klip-klip film The
China Syndrome diputar dan menyebar di YouTube.
 Blur

Pesannya, yang kadang disampaikan dramatis dan di lain waktu


lebih hati-hati, adalah tentang problem di inti reaktor, yang bisa
memuntahkan partikel radioaktif ke udara, mengubah pembangkit
listrik lokal menjadi mimpi buruk nuklir internasional. Seluruh
wilayah Atlantik-Tengah di Amerika Serikat terancam. Sepertiga
penduduk Amerika bisa terkontaminasi.
Jagad blog bahkan bergerak lebih gesit dari berita TV dan
YouTube. Dengan cepat, para blogger mengupas tentang keamanan
nuklir. Sontak, blog-blog baru, termasuk milik mantan pekerja
pembangkit, muncul dan dirujuk banyak orang. Dalam hitungan jam,
terjadi persaingan blog, beberapa di antaranya membela peranan
tenaga nuklir, dan memakai informasi orang dalam. Empunya
pembangkit juga membuat blog. Lantas tiga situs muncul, mengklaim
sebagai penyedia informasi independen, tapi ternyata dikontrol
oleh beberapa kelompok kepentingan, salah satunya industri tenaga
nuklir. Fungsinya, untuk menetralkan berbagai kritik. Penyokong
mereka merogoh ratusan ribu dolar AS untuk membayar biaya kata
kunci ke mesin pencarian guna memastikan situsnya masuk di Google
dan Yahoo, agar lebih sering dilihat warga Amerika.
Berita di situs-situs yang lebih konvensional cenderung tak leng-
kap dan seringkali bertentangan. Sulit untuk memilah informasi
yang silang-sengkarut itu, tergantung situs apa yang dikunjungi
dan kapan.
Di drive-time radio (siaran yang didengar orang ketika me-
nyetir mobil) sore itu, peristiwa nuklir, yang masih hanya sebuah
kemungkinan bencana, telah menjadi isu politik yang ramai me-
ngenai listrik, lingkungan, dan kebijakan federal lewat perang kata
antara penyiar bincang-bincang radio di kiri dan kanan. Obrolan
dengan gaya serupa juga berlangsung di acara bincang-bincang
TV kabel pada jam tayang utama malam itu. Pesan dalam berita-
berita TV kabel lebih membingungkan. Sebuah kanal berita con-
dong pada pendapat bahwa pemerintah menutupi kegentingan
bencana. Kanal pesaingnya, dengan cara yang sama sulitnya untuk
dijabarkan, tapi tanpa ragu, seolah menyimpulkan bahwa tak ada
insiden sama sekali dan semuanya mungkin rumor yang dirancang
untuk merusak industri pembangkit listrik nuklir AS, yang baru
saja bangkit setelah dihantam klaim menyesatkan dan dramatis
soal isu keamanan selama satu generasi terakhir. Kanal TV kabel
ketiga mengangkat kedua kecenderungan itu, mengundang tokoh
Bagaimana Kita Tahu Mana yang Bisa Dipercaya 

politik terkemuka bersama sejumlah pakar dari antah-berantah


untuk memperdebatkan makna di balik insiden tersebut.
Sementara itu, industri suratkabar (yang jumlah stafnya turun
sekitar 30% dalam 10 tahun terakhir) dan jaringan berita TV
(yang pemangkasan jumlah wartawannya bahkan lebih parah)
menawarkan liputan yang lebih hati-hati tetapi cenderung lambat
dan tertinggal–terbit telat hari itu atau esok paginya.
Warga di sekitar pembangkit nuklir berada di dunia sendiri.
Mereka kenyang dengan rumor elektronik dan isu dari mulut
ke mulut yang memecah komunitas informasi secara acak.
Seorang warga yakin malapetaka nuklir sedang berlangsung,
yang lain menyebutnya insiden kecil. Lainnya dengan cemas
mempertimbangkan pesan simpang-siur seputar evakuasi, tetapi
khawatir akan bahaya yang lebih mematikan dari ancaman nuklir
jika kemacetan jalan mengubah evakuasi menjadi histeria massa.
Inilah kecelakaan nuklir Three Mile Island yang tak lain hanyalah
khayalan era internet.
Bukan begitu berita yang sebenarnya. Inti reaktor pembang-
kit listrik tenaga nuklir dekat kota Hershey, Pennsylvania, me-
mang memanas pada 1979, tetapi kejadian itu berubah drastis di
jagad informasi.
Melani Moyer adalah tokoh nyata. Dia mendengar kecelakaan kali
pertama di rumah sakit dan lantas bergegas menyimak radio mo-
bil. Demikian pula Maureen Doherty, yang kali pertama mendengar
dari berita TV lokal. Sebagaimana warga di manapun menunggu dan
menyaksikan, hampir semua yang mereka dengar tentang seputar
insiden itu berasal dari berita media arus utama yang dikenal ber-
gengsi, terpercaya, dan mewarnai sejarah Amerika. Di televisi, sejum-
lah kecil penyedia berita, yang jaringannya tak berharap meraup laba
dari siaran atau divisi berita mereka, menyampaikan berita apa adan-
ya tanpa coba mendramatisasi demi rating. Koran, yang kebanyakan
meraup dana setelah menggilas pesaing dan menguasai pasar, men-
girim reporter untuk mendapat laporan akurat untuk edisi hari itu.
Merekalah industri yang hanya mengurusi berita, serius menjalankan
tanggung-jawab, dan sedikit-banyak tak membuat kesalahan. Dengan
begitu, koran cenderung berbicara pada publik dengan nada otoritatif
yang menentramkan, bukannya berteriak atau menjerit-jerit untuk me
narik perhatian.
 Blur

Tak banyak disadari, Three Mile Island menjadi salah satu daru-
rat sipil akbar terakhir yang diliput media, sebelum era berita TV ka-
bel, konsep “berita hari ini”, penemuan ulang kata “spin” (pintiran),
dan pandangan bahwa “media arus utama” bisa menjadi sebuah aib.
Yang terjadi saat itu menunjukkan bagaimana para juru kunci penge-
tahuan publik bisa memverifikasi berita mereka sebelum diterbitkan
atau disiarkan dan membantu menenangkan kepanikan masyarakat
dengan fakta.
Situasi krisis dimulai sekira pukul 04.00, Rabu 28 Maret 1979.
Sebuah klep di sistem pendingin reaktor nuklir macet pada posisi
terbuka, menyebabkan air pendingin reaktor merembes ke luar.
Tanpa pendingin, inti reaktor menjadi terlalu panas dan butir-
butir bahan bakar nuklir mulai bocor. Pukul 09.15, Gedung Putih
diberitahu. Pukul 11.00, pejabat pembangkit listrik memerintahkan
evakuasi semua karyawan yang tak berkepentingan. Dengan itu, kata
“sebuah insiden” di pembangkit listrik menyebar ke masyarakat. Di
tengah selentingan, para pekerja menelpon keluarga, kawan, dan
tetangga untuk mengabarkan kejadian itu, yang membesar karena
melalui cerita berantai. Menjelang tengah hari, helikopter yang
disewa General Public Utilities Nuclear, pemilik pembangkit listrik,
dan Departemen Energi AS terlihat berputar di atas pembangkit
listrik, mengambil sampel radioaktif di udara.
Yang terburuk, menurut saksi mata, adalah pergumulan dengan
ketidaktahuan. Ketakutan ekstra akibat rumor dan kekalutan itu justru
dirasakan oleh mereka yang di dekat lokasi, daripada yang lebih jauh.
“Situasi berubah setiap jam,” kata Maureen Doherty. “Tempat tinggal
saya berjarak 3 mil dari Hershey, PA. Kertas berisi rute evakuasi
diselipkan ke bawah pintu apartemen saya.” Namun informasi itu tak
banyak membantu. Selanjutnya, “bensin langka di SPBU. Jalan raya
macet dipenuhi warga yang mencoba menyelamatkan diri.”
Tak bisa kabur, Doherty mencoba berpikir rasional.“Saya sangat
takut, tapi menimbang lagi situasinya. Sekarat keracunan radiasi
bukanlah cara mati yang saya inginkan, tetapi saya merasa sudah
sangat terlambat; kami sudah terpapar. Saya ingat meletakkan seprai
putih di jendela–saya lupa kenapa.”3
Malam itu, pembawa berita terpopuler di Amerika membuka
siaran dengan nada serius, tetapi tak panik. “Ini adalah tahap pertama
dalam mimpi buruk nuklir. Sejauh yang kami tahu pada jam ini, tak
ada kejadian yang lebih buruk,” ujar pembawa berita CBS Walter
Bagaimana Kita Tahu Mana yang Bisa Dipercaya 

Cronkite dalam pembukaan siaran berita sore, “Namun seorang


pejabat pemerintah mengatakan kerusakan pada pembangkit listrik
tenaga atom di Pennsylvania hari ini mungkin merupakan kecelakaan
nuklir terburuk sampai sekarang.”
Laporan-laporan berita juga menampilkan adegan horor film The
China Syndrom, dibintangi Jane Fonda, Jack Lemmon, dan Michael
Douglas, yang baru dirilis secara nasional 11 hari sebelumnya. Dari film
itu, orang tahu kemungkinan dampak kebocoran pembangkit nuklir:
lelehan inti reaktor menembus baja penampungnya dan mengalir ke
Sungai Susquehanna, menimbulkan awan uap yang memproduksi
hujan radioaktif di seluruh negeri. Dengan mengerikan, film itu
menampilkan adegan di mana meteran ruang kontrol menunjukkan
tingkat air di inti reaktor naik drastis. Adegan itu sama persis dengan
kejadian yang dijelaskan dalam berita.
Dengan semua skenario itu di pikiran, dalam dua hari berikutnya
berita media arus utama tiba-tiba berbalik mehanan diri dan secara
hati-hati menyampaikan kesan bahwa situasi itu hanya kecelakaan
dan bukan bencana. Reaktor belum bocor. Wilayah itu belum
dikosongkan. “Kami akan tetap di sini,” kata Sue Showalker, ibu dua
anak yang sedang mengandung anak ketiga, kepada reporter. “Mereka
tak mungkin membiarkan kami membusuk di bawah matahari.”4
Lantas pada Jumat pagi, 30 Maret, para operator pembangkit
melepaskan radiasi kadar tinggi dari sebuah bangunan pembantu.
Manuver ini adalah sebuah pertaruhan. Ia mengurangi tekanan, yang
akan menjaga aliran pendingin ke inti reaktor. Namun, hidrogen yang
dilepas berpotensi membakar atau bahkan meledakkan dan memecah
bejana tekanan (pressure vessel). Jika itu terjadi, maka bencana
radiasi tak terhindarkan lagi. Gubernur Pennsylvania Richard L.
Thornburgh pada tahun pertamanya bertugas, berkonsultasi dengan
Komisi Regulasi Nuklir untuk mengevakuasi penduduk sekitar
pembangkit. Dia memutuskan mengevakuasi mereka yang paling
rentan kena radiasi dan secara terbuka menganjurkan perempuan
hamil serta anak pra-sekolah di radius lima mil dari pembangkit
untuk meninggalkan wilayah itu.
Di masyarakat bawah, isu berseliweran. Suatu malam, sekira jam
sembilan, seluruh lampu kota padam. “Kami belakangan mendapati
sebuah mobil menabrak tiang listrik, tetapi saat itu tak ada yang tahu
kejadian ini,” kata seorang saksi mata pada Washington Post. “Dalam
beberapa menit, banyak tetangga saya memasukkan kopor ke mobil,
 Blur

dan pergi. Rasa takut dan ketidakpastian malam itu luar biasa.”
Namun pers masih berhati-hati. “Jaringan berita TV menggelar
rapat untuk menentukan penggunaan kata ‘kecelakaan’, ‘insiden’,
atau ‘bencana’,” demikian menurut rekonstruksi perilaku media saat
itu. “ABC memutuskan tak memakai kata sifat yang belum digunakan
pemerintah. Warga Amerika rata-rata punya rujukan informasi kuat
soal energi nuklir dan radiasi. Termasuk laporan penting berguna:
daftar istilah nuklir, kisah medis soal dampak radiasi terhadap
manusia, nasehat untuk perempuan hamil, laporan mengenai reaktor
terdekat, studi analisis radiasi tingkat rendah, dan bahkan laporan
tentang cara menghilangkan atau mengurangi kontaminasi nuklir
(‘dengan sangat hati-hati”, saran New York Daily News).5
Akhirnya, pada Minggu, 1 April, para ahli menyimpulkan gelembung
hidrogen dalam pembangkit tak terbakar atau meledak. Tak ada oksigen
dalam bejana yang bisa membuatnya terbakar. Perusahaan pembangkit
listrik tersebut juga berhasil mengurangi volume gelembung. Untuk
mengirim sinyal bahwa para ahli menganggap krisis telah diatasi,
Presiden Jimmy Carter mengunjungi pembangkit, dan bersama
kamerawan dan reporter TV, berjalan melalui ruang kontrol di mana
insiden berawal.
Setelah empat hari diliputi ketakutan, ketika kebanyakan media
memberitakan kisah itu tanpa henti, stasiun radio dan TV pun berhenti
memberitakannya dan kembali ke program reguler, sebuah sinyal jelas
bagi warga Amerika bahwa hidup kembali berjalan normal. Headline
koran berisi peristiwa yang lebih penting dari tempat lain. Warga di
sekitar Three Mile Island mulai merajut hidup mereka.
Jika insiden Three Mile Island terjadi satu generasi setelah itu, bagaima-
na kisahnya akan berakhir? Apakah skenarionya bisa lebih jauh dari bay-
angan kita? Terlepas dari pertimbangan soal dampak perubahan teknolo-
gi, pasti sulit membayangkan proses penyebaran informasi akan relatif
rapi atau sama. Besar kemungkinan, kita akan melihat proses yang lebih
kacau. Pertanyaannya adalah bagaimana anda, sebagai konsumen berita
dan warga, memahami maksud informasi tentang krisis. Dan bagaimana
memahami kejadian yang bahkan kini diberitakan dari hari ke hari tan-
pa henti? Bagaimana memutuskan informasi mana yang bisa diyakini
dan sumber yang layak dipercaya? Lebih jauh lagi, apa peran pers lama?
Dengan kata lain, bagaimana masa depan kebenaran dan bagaimana
warga memandangnya?
Bagaimana Kita Tahu Mana yang Bisa Dipercaya 

Itulah isi buku ini.


Beberapa pengamat lanskap media hari ini mulai bertanya-tanya
apakah kebenaran masih punya arti. Sebab, mereka berspekulasi,
di era baru informasi realitas hanyalah masalah keyakinan, bukan
tentang sesuatu yang objektif atau terverifikasi; kini ada kebenaran
merah dan kebenaran biru, media merah dan media biru. Mungkin
juru kunci media macam Walter Cronkite telah diganti oleh peman-
du (sorak) talkshow macam Bill O’Reilly dan Keith Olbermann; alih-
alih coba mencari tahu apa yang terjadi, mereka telah memutus
kannya. Mungkin, bisa dibilang, kita beralih dari era informasi ke
era afirmasi.
Apa yang sebenarnya terjadi kini berbeda. Kebanyakan dari kita
belum terjebak ruang ideologis dalam mencerap informasi. Belum.
Paling tidak sejauh ini, ketika kita mengakhiri dekade pertama abad
baru serta pola dan norma jurnalisme lama yang diwakili, memasuki
ekosistem informasi baru. Persoalan yang dihadapi media adalah
internet memisahkan iklan dari berita. Para pengiklan, termasuk
individu yang terhubung satu sama lain melalui situs macam Craig-
slist, tak lagi perlu menempel berita untuk meraih konsumen. Problem
jurnalisme lama lebih pada hilangnya pendapatan karena teknologi,
dan bukannya hilangnya audiens.
Perubahan terdasar adalah porsi tanggung-jawab, untuk tahu apa
yang benar dan yang tidak, kini berada di tangan anda sebagai in-
dividu. Gagasan bahwa jaringan para juru kunci sosial di medialah
yang mengatakan pada kita bahwa sesuatu telah ditegakkan, atau di
buktikan, kini runtuh. Warga punya lebih banyak suara. Namun, mer-
eka yang ingin memanipulasi publik demi keuntungan politis atau
laba—baik korporasi maupun pemerintah—juga punya lebih banyak
akses langsung ke publik.
Kaum utopis menggemborkan ini sebagai akhir jurnalisme dan
monopoli kaum elit atas informasi, serta melihat budaya media warga
yang dengan segera mengoreksi diri–semacam demokrasi informasi
murni. Para pengritik melihat dunia tanpa editor, jejaring informasi
mandiri, di mana suara ternyaring atau terpopuler lah yang menang,
dan kebenaran menjadi korban pertamanya.
Kami menilai kedua pandangan ini terlalu berlebihan. Realita
perubahan itu bukanlah akhir dari media dan munculnya budaya
“media kita” yang baru, melainkan perpaduan yang cenderung menuju
ke skeptical way of knowing (cara skeptis untuk tahu).
 Blur

Cara ini bukan berupa kuliah dari otoritas profesional, melainkan


sebuah dialog, dengan segala kekuatan dan kelemahan. Ini adalah ke-
mitraan antara kita sebagai konsumen berita dan informasi, dengan
bekas juru-kunci yang pernah mewakili kita untuk memverifikasi
dan menyelia informasi.
Ini perubahan besar. Dalam banyak hal, ia bahkan mendefinisi
ulang apa yang dimaksud dengan gagasan mengenai kewargaan. Ide
lama itu, yang berlaku selama 300 tahun terakhir, adalah warga ter-
libat dalam momen tertentu. Mereka mungkin memberi suara dalam
pemilihan umum, sesekali hadir dalam rapat di balai kota, atau bekerja
melalui lembaga mediasi untuk memilih atau memantau pemerintah.
Gagasan lama itu memberi jalan menuju sesuatu yang baru. Daripada
bergantung pada pers, Kongres, komisi terhormat, atau otoritas sosial
lain yang menyaring informasi untuk mereka, warga kini menyaring
informasi untuk dirinya sendiri dari sekumpulan sumber yang saling
berdesakan. Meski kita relatif tahu bagaimana caranya, kita semua
mulai melakukan lebih banyak kontrol atas apa yang kita tahu soal
dunia. Kita menjadi editor, juru-kunci, dan pengumpul berita untuk
diri sendiri.
Persoalannya, banyak hal yang tersirat mengenai tanggung-jawab
kita sebagai warga yang belum terpecahkan di sini. Apa peran warga
di era baru ini–peran realistis, bukan yang utopis? Apa tanggung-
jawab yang diemban? Apa keahlian yang diperlukan untuk menjadi-
kan diri sendiri sebagai editor? Apa yang kita perlukan untuk mem-
praktikkan ‘cara baru untuk tahu’?
Tak ada aturan tertulis. Tak ada persamaan matematis untuk men-
jadi warga yang baik. Meski ketrampilan diperlukan, mereka sering-
kali diabaikan, dan anehnya tak dipahami, bahkan tak dipelajari. Se-
bagai masyarakat, kita diajari tentang kebajikan publik yang sadar
informasi. Korporasi yang meraup laba dari bisnis media mengklaim
memperjuangkan itu. Pemerintah dan banyak pemikir terbaik kita
secara blak-blakan memuji teknologi karena memberi banyak piranti
untuk dimanfaatkan di proses informasi. Namun secara umum, buda-
ya kita kurang mengajarkan ketrampilan yang mungkin diperlukan.
Sistem pendidikan kita umumnya tak mempertimbangkan mereka.
Banyak sekolah jurnalistik lebih menekankan pada pedoman, bah-
kan untuk mahasiswa mereka sendiri, bagaimana menguji ketelitian
berita yang mereka buat. Namun ketrampilan ini bisa dikenali. Jika
kita melihat mereka yang menggeluti disiplin ilmu empirisme–
Bagaimana Kita Tahu Mana yang Bisa Dipercaya 

jurnalisme, hukum, intelijen, ilmu pengetahuan, ilmu kedokteran,


dan sebagainya–kita akan menemukan seperangkat konsep dan
ketrampilan sama yang dikembangkan lintas generasi. Ada
disiplin pemikiran yang terukur. Ketrampilan dan disiplin itu
selanjutnya disebut sebagai tradecraft (ketrampilan berbasis
pengalaman) skeptisisme aktif. Buku ini adalah sebuah upaya untuk
menjabarkan tradecraft itu. Buku ini mengacu pada ketrampilan yang
dulu merupakan wilayah para ahli dalam membedah kebenaran soal
kehidupan publik dan menguraikan metode yang bisa dipakai warga–
sebuah peran baru bagi konsumen dalam dunia “swalayan informasi.”
Ketrampilan ini berfokus pada bagaimana menimbang informasi dari
pers dan sumber lain sehingga orang bisa menjadi peserta, bukan
korban, di era baru informasi.
Pertama-tama, penting diketahui bahwa badai perubahan tekno
logi semacam ini pernah terjadi sebelumnya. Kita bisa mengenali
setengah lusin kemajuan besar teknologi yang mengubah wajah
komunikasi dan pembelajaran manusia. Setiap perubahan, dalam
skala besar maupun kecil, turut mendefinisikan ulang peran warga.
Setiap perubahan itu menunjukkan beberapa pola yang berulang,
yang dapat disaksikan hari ini, termasuk terganggunya tatanan sosial,
terbentuknya otoritas baru, dan hidupnya kembali ketegangan yang
memuncak antara dua pendekatan utama dalam memaknai dunia.
Kini, ketika itu terjadi lagi, penting untuk tahu cara mengha-
dapi apa yang mungkin bisa menimbulkan perasaan kebingun-
gan, atau lebih buruk lagi, perasaan bahwa kebenaran menjadi tak
relevan, menjadi korban prasangka dan retorika pihak yang bersuara
paling nyaring atau kuat, atau pihak yang pemasaran dan rekayasanya
paling lihai. Ada enam langkah yang kami ajukan tentang skeptical
knowing, disiplin dan ketrampilan yang diperlukan warga dalam me-
nyelia informasi. Langkah pertama adalah mengenali jenis konten
yang dihadapi. Ada sejumlah model untuk memproduksi jurnalisme
dalam budaya kontemporer–yang berbeda-beda dan dalam banyak
hal saling bersaing. Kebanyakan bentuk baru penginformasian itu,
dari jejaring sosial, blog hingga jurnalisme warga, bisa melibatkan
salah satu di antaranya. Sebagai konsumen, kita musti mengenali
dulu apa yang sedang dihadapi.
Cara kedua adalah mengenali apakah laporan berita sudah
lengkap. Selanjutnya muncul pertanyaan bagaimana menilai
sumber, sesuatu yang bahkan dilakukan banyak wartawan secara kabur.
10 Blur

Konsumen cerdas seringkali mengetahui dan mempertanyakan


bagaimana wartawan bekerja. Para pengacara, dokter, polisi,
ilmuwan bidang sosial, dan mereka yang bekerja di bidang pengeta-
huan empiris biasanya punya ide lebih baik tentang cara menyaring
sumber, yang diadopsi para wartawan terbaik.
Langkah keempat adalah mengevaluasi berita yang menyang-
kut penilaian fakta. Buku ini akan menjelaskan perbedaan antara
mengamati dan memahami, dan perbedaan antara kesimpulan
(membuat hipotesis tentang arti sesuatu) dan bukti (membuktikan
dan mensahihkan kesimpulan itu). Selanjutnya kita akan menjela-
jahi bagaimana model berita terkini cenderung memakai atau ber-
interaksi dengan fakta, dan bagaimana itu bisa menjadi cara utama
menentukan jenis jurnalisme yang anda hadapi.
Langkah terakhir ada pada proses evaluasi berita, yakni meneliti
apakah kita mendapatkan apa yang kita perlukan dari berita pada
umumnya. Ada sejumlah tes dan tanda petunjuk yang dipakai atau
dikenal wartawan untuk mempertanyakan berita yang mereka
temui. Beberapa tradecraft terpendam ini bisa menjadi kunci untuk
menemukan dan menciptakan karya besar.
Akhirnya kita juga mesti bertanya bagaimana seharusnya
wartawan dan pers di era sekarang. Metafora yang banyak dipak-
ai untuk menjelaskan jurnalisme abad ke-20, yakni pers sebagai
juru kunci, tak lagi cocok dipakai ketika pers hanya menjadi satu di
antara banyak media penghubung antara pembuat berita dan publik.
Kita perlu metafora deskriptif baru. Apa itu? Apa peran jurnalisme
abad ke-21? Bagaimana jurnalis dan warga bekerja-sama di era baru
ini? Kami akan menguraikan apa yang kami sebut “jurnalisme era
baru.” Kami akan menjelaskan apa yang, menurut kami, diperlukan
warga dari wartawan. Kami menawarkan ide bagaimana ruang pem-
beritaan musti berubah untuk melayani itu. Dan kami akan memapar-
kan definisi baru lebih luas mengenai fungsi jurnalisme dalam komuni-
tas yang menawarkan jendela menuju model bisnis baru, dan jalan ke
arah penemuan kembali jurnalisme dalam kaca mata komersial.
Cara yang kami tawarkan di sini tentang bagaimana warga bisa ber-
fungsi sebagai editor untuk diri-sendiri, yang lebih cerewet dan arif,
bukanlah formula ketat. Sebaliknya, ia dimaksudkan untuk menjelas-
kan ide, membuka cara berpikir tentang informasi. Kami berharap
ini membuat orang menjadi lebih sadar atas konsumsi dan evaluasi
mereka terhadap berita, tak peduli apakah mereka wartawan atau
Bagaimana Kita Tahu Mana yang Bisa Dipercaya 11

bukan–dengan cara sama ketika belajar aljabar, kimia, atau bahasa


Inggris di sekolah membantu kita menjalani aktivitas keseharian, meski
kita tak menjadi matematikawan, ahli kimia, atau profesor bahasa
Inggris. Orang yang lebih sadar bagaimana berita dikumpulkan
akan bisa mengomentari berita TV, berhenti dan membaca ulang
paragraf pada teks berita, atau mengomentari kualitas dan isi
laporan berita kepada teman. Terhadap perilaku yang tampaknya
aneh ini, kami berkomentar: bravo.
Isu ini penting. Masa depan pengetahuan adalah per-
tanyaan utama pada abad baru kita, karena ada pergulatan lagi
antara modernisme dan medievalisme, informasi dan keyakinan,
serta empirisme dan keyakinan. Kedua kekuatan itu pada akhirnya
harus hidup berdampingan.
Mereka telah muncul berbarengan di masa lalu. Dengan ter-
tatih-tatih, seringkali bertentangan dengan kepentingan kuat status
quo, perjalanan keluarga manusia melewati sejarah telah menuju
pemahaman lebih akurat tentang dunia. Terkadang, dengan dua
langkah maju dan satu langkah mundur, dengan risiko dipenjarakan,
bahkan mati. Melalui pertarungan menuju kemajuan itu, kita belajar
bahwa bumi mengelilingi matahari, rahasia atom, dan bahwa orang
bisa mengatur diri sendiri daripada mempercayai penguasa mereka
adalah wakil Tuhan.
Kunci pergerakan ini terletak pada ahli yang bekerja di batas pen-
getahuan, yang menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompok
terlatih, belajar melalui metode dan teknik tertentu serta mendedi-
kasikan disiplin khusus demi pengetahuan tentang kebenaran. Di bi-
dang pengobatan, ada dokter yang memerangi penyakit. Untuk men-
getahui bintang, ada astrofisikawan yang mempelajari bagaimana
alam semesta terbentuk. Di biologi, ada ahli genetika yang mempe-
lajari sel dasar pembentuk kehidupan. Mereka belajar, membuat ke-
salahan, berbagi, dan berdebat, bekerja keras mencapai tujuan, yang
mereka sebut metode ilmiah. Jika teori berubah menjadi realitas yang
diterima, pengetahuan mereka pun dianut lebih banyak orang.
Ada akumulasi pengetahuan yang kian meningkat mengenai
dunia sekitar kita. Setiap generasi mengembangkan informasi yang
dikumpulkan generasi pendahulu, menghasilkan ledakan pengeta-
huan baru. Metode itu kini berlimpah. Pada awal abad 21 ini, ada
ramalan bahwa lebih banyak informasi baru tercipta dalam tiga tahun
ke depan, daripada yang muncul dalam 300.000 tahun sebelumnya. 6
12 Blur

Pertanyaan di abad baru ini adalah bagaimana proses itu akan ber-
jalan? Bagaimana kita sebagai warga mengerti apa yang benar?
Bagaimana kita bisa menemukan informasi yang bisa dipercayai
dalam era di mana kita adalah seorang ahli bagi diri sendiri dan
kuasa informasi telah diserahkan kepada publik?
Kita Pernah Mengalami Ini 13

BAB 2
Kita Pernah Mengalami Ini

Angkanya mengejutkan. Dalam 10 tahun pertama di abad 21, praktisi


koran menyaksikan hampir separuh pendapatan iklan mereka hi-
lang. Sekira sepertiga staf redaksi dipecat. Audiens dan penghasilan
jaringan berita berkurang separuh dari yang pernah dicapai 20 tahun
sebelumnya. Lebih dari US$20 miliar biaya liputan dipangkas setiap
tahun.
Meski dampak revolusi informasi ini terlihat mengejutkan dan
mengganggu, itu bukanlah yang pertama kali. Kita pernah mengala-
minya. Sepanjang sejarah peradaban manusia, terjadi delapan trans-
formasi penting dalam komunikasi yang, dalam skala masing-masing,
tak kalah besar dan transformatif dari yang kita alami sekarang: dari
lukisan gua ke bahasa lisan, dari kata-kata tertulis ke mesin cetak,
telegraf ke radio, siaran televisi ke TV kabel, dan sekarang internet.
Dan di tiap revolusi informasi, ada pola yang berulang dan kete-
gangan tertentu yang muncul. Setiap metode baru dalam komunikasi
membuat pertukaran informasi menjadi lebih mudah, lebih tersu-
sun, dan lebih berarti. Komunikasi untuk berbagi pengetahuan, serta
keingintahuan, membawa manusia ke dalam komunitas yang kian
membesar berdasarkan cara mereka untuk tahu. Setiap kemajuan
bentuk dan efisiensi juga memiliki efek demokratisasi: dengan lebih
banyak orang yang kian berpengetahuan. Mereka lebih pandai mem-
pertanyakan dunia mereka, perilaku orang dalam, dan institusi yang
mengatur hidup mereka. Tingkat kesadaran baru ini menyebabkan
14 Blur

perubahan dalam pengaturan kekuasaan, menumbangkan atau me-


ngubah otoritas lama dan menciptakan otoritas baru. Kita bergan-
ti dari pemimpin spiritual ke pemimpin suku, dari pemimpin suku
ke raja dan negara-kota, lalu ke negara. Setiap perubahan, pada
gilirannya, memaksa elit penguasa mencoba mengeksploitasi komu-
nikasi demi menata ulang dan mengarahkan energi demokratisasi
di tingkat akar rumput.
Dan karena ia mengatur ulang tatanan sosial, setiap perubahan
dalam komunikasi populer diikuti pembaruan ketegangan antara
dua ujung pengetahuan atau cara untuk mencoba memahami eksis-
tensi: ketegangan antara pengetahuan berlandaskan pengamatan
serta pengalaman versus pengetahuan berlandaskan kepercayaan
dan keyakinan–ketegangan antara fakta dan keyakinan.
Seluruh pola ini–pembentukan komunitas baru yang lebih besar
(komunitas dan demokratisasi), tumbangnya otoritas lama dan ter-
bentuknya otoritas baru (reorganisasi), dan meningkatnya jurang
pemisah (ketegangan) antara empirisme dan keyakinan–adalah bukti
revolusi teknologi abad 21. Bahkan para blogger, orator di TV kabel,
situs warga, dan gerakan politik populis di abad baru ini semuanya
memiliki hubungan paralel dengan momen perubahan teknologi dan
sosial-ekonomi sebelumnya. Tantangan kita sebagai warga saat ini
adalah memahami dan belajar, karena porsi kekuasaan lebih banyak
diberikan kepada diri kita masing-masing, bagaimana menggunakan
kekuasaan itu dan tak disia-siakan olehnya.

Kata Tertulis

Catatan pertama tentang komunikasi, di mana manusia berusaha


menjangkau pihak lain tanpa melalui komunikasi tatap muka, adalah
lukisan gua, bertarikh 15000 SM. Beberapa kasus paling awal yang
ditemui–di Altamira, Spanyol, dan Lascaux, Prancis– terbagi dalam
dua karakteristik mencolok: gambar perburuan dan, lebih sumir,
ilustrasi gugusan bintang yang memberi kesan semacam komunikasi
spiritual, sebuah pencarian jawaban tentang posisi manusia di alam
semesta. Dengan kata lain, mereka mengekspresikan dua jenis pe-
ngetahuan: yang temporal dan empirik, dan yang berlandaskan ke-
percayaan tentang sesuatu yang tak bisa dibuktikan.
Bahasa lisan dianggap muncul sekitar 6000 SM, dan para antro-
polog telah menelusuri terobosan ketiga dalam komunikasi, kata
Kita Pernah Mengalami Ini 15

tertulis, pada abad 5000 SM. Bahasa tertulis pertama kali menunjuk-
kan bentuk perkembangan simbol angka, yang bisa dipakai untuk me
ngukur, mencatat, dan membagi kekayaan yang dikumpulkan satu
pihak. Selanjutnya, segera diikuti penyusunan kata lisan ke simbol
tertulis. Komunikasi tertulis berbeda dari komunikasi lisan dalam
beberapa hal pokok. Tak seperti pengetahuan lisan, yang mungkin di-
lupakan atau berubah saat diceritakan kembali, pengetahuan tulisan
lebih terjaga. Simbolnya pasti, lebih tepercaya dan lebih tepat berkat
sifat permanennya. Komunikasi menjadi kian dalam, kompleks, dan
lebih empiris. Kata yang tertulis juga bergerak. Apa yang tercatat bisa
dibawa dari satu tempat ke tempat lain dan disimpan untuk ditengok
lagi berbulan-bulan atau bertahun-tahun kemudian. Seseorang bisa
menangkap ide dan pengamatan yang dibuat oleh pihak lain yang tak
dikenal dan tak terlihat.
Kualitas yang permanen, kompleksitas, dan mobilitas ini memicu
perubahan besar. Mereka membantu menggerakkan manusia dari
budaya berburu-pengumpul makanan suku primitif ke peradaban
komunitas terorganisir yang bersandar pada kehidupan agraris. Ad-
anya penyusunan catatan dan kebijakan memungkinkan komunikasi
tentang budidaya hewan dan tanaman serta pemukiman penduduk
berkapasitas lebih besar antar komunitas yang saling berjauhan.
Dalam kisah tulisan tertua yang pernah ditemukan, epos Sang Raja
Uruk, Gilgamesh, ditemukan semua pola ini. Kisah ini sangat detil
menceritakan tentang pembangunan dinding, organisasi komunitas,
diskusi politik, dan renungan tentang eksistensi manusia di dunia–
tema sama yang ditemukan dalam lukisan gua yang dibuat ribuan
tahun sebelumnya.
Ketegangan antara dua cara memahami dunia–fakta dan keya-
kinan–kian menguat ketika komunikasi tertulis mencapai tingkat
kepelikan yang baru di era Yunani kuno. Dalam dialognya, Socrates
mengajukan metode disiplin empiris dalam mempertanyakan dunia.
Dalam metode itu, setiap orang memakai pengamatan dan pertimban-
gan personal untuk menguji pernyataan atau keyakinan pihak lain.
Lalu secara bersama-sama, melalui dialog, orang memakai kesadaran
dan pengalaman untuk membandingkan pernyataan dengan realitas
yang diamati, guna membentuk pengetahuan. Ini adalah pendekatan
paling tersusun yang masih tercatat tentang konsep yang kita sebut,
dalam istilah modern, empirisme dan konsensus.
16 Blur

Plato, murid Socrates, lantas mengembangkan lebih jauh dialog


karya gurunya, tetapi Plato tak mempercayai arti pengalaman. Dalam,
“Allegory of the Cave,” dia berargumen bahwa apa yang dianggap se-
bagai dunia nyata adalah sekadar bayangan, ilusi, dari realitas ideal.
Bayangan ini bisa membantu kita memahami dunia, ujar Plato, tetapi
pengetahuan macam ini tak cukup untuk jadi pondamen kehidupan
moral. Dan jika dipaksa memilih, Plato berpendapat, kebenaran mo
ral lebih penting daripada kebenaran empiris.
Pendekatan Plato yang memakai keyakinan dan kesadaran secara
bersamaan sangat mempengaruhi konflik era selanjutnya antara dua
cara untuk tahu. Ia menginspirasi Santo Agustinus, misalnya, yang
mengembangkan sejarah pengetahuan dan membantu melapangkan
jalan bagi gereja dan negara untuk berkongsi berabad-abad. Namun,
ketegangan yang mendominasi Abad Pertengahan, dan munculnya
tindakan kekerasan inkuisisi, tak juga turun secara signifikan hingga
muncul perubahan besar dalam komunikasi 1.000 tahun kemudian.

Mesin Cetak

Jika seni adalah perkembangan besar pertama dalam komunikasi,


bahasa di posisi kedua, dan tulisan yang ketiga, transformasi penting
berikutnya menyentuh Eropa pada abad 15 ketika seorang tukang
bernama Johannes Gutenberg menyempurnakan mesin pemindah
tulisan. Mesin cetak Gutenberg memungkinkan produksi buku dan
pamflet secara cepat dalam jumlah besar. Pada waktu dia mengem-
bangkan mesin cetak, pada era 1450, pendeta perlu setahun untuk
menggandakan satu Alkitab. Dalam setahun penuh produksi per-
tamanya, mesin cetak Gutenberg menggandakan 180 Alkitab. Me-
sin cetak mewariskan perubahan, pencerahan, dan reformasi di
Eropa. Sebelum ada mesin cetak, Universitas Oxford memiliki 122
buku, masing-masing bernilai sama dengan perkebunan atau ladang
anggur.1 Pada 1501, 50 tahun setelah penemuannya, setidaknya
10 juta salinan dari sekitar 27.000 hingga 35.000 buku dicetak di
Eropa.2 Universitas yang terlepas dari afiliasi agama dibuka, dan
kaum pembaca perlahan meluas di publik.
Ledakan aktivitas baca-tulis mendorong pemikiran empiris. Para
cendekia mulai melihat dunia fisik lebih penting daripada argumen-
tasi otoritas Abad Pertengahan. Meluasnya melek huruf berujung
pada ide untuk menguji generalisasi lewat pengamatan dan pen-
Kita Pernah Mengalami Ini 17

ciptaan situasi, untuk dikaji secara eksperimental. 3 Oxford English


Dictionary mencatat bahwa kata “fact” (fakta) kali pertama muncul
dalam bahasa Inggris pada abad 16–atau 100 tahun setelah mesin
cetak Gutenberg muncul–dan didefinisikan sebagai “sesuatu yang
benar-benar terjadi atau kejadian sebenarnya; karena itu kebena-
ran tertentu diketahui lewat pengamatan sejati atau kesaksian yang
sahih, sebagai lawan dari sekadar dugaan.
Secara bersamaan, Alkitab yang dicetak Gutenberg melemahkan
monopoli Rohaniawan terhadap teks dan tafsir keagamaan. Orang
awam tak lagi mesti bersandar pada penafsir karena mereka bisa
membaca Alkitab sendiri dan menemukan jalan keselamatan sendiri.
Prinsip penting dalam Reformasi Protestan Martin Luther adalah ide
bahwa semua umat Kristen musti melek huruf sehingga bisa mem
baca Injil tiap hari pada usia 10 tahun. Pola komunitas, demokrati
sasi, dan reorganisasi sosial yang tertempa bahasa dan tulisan,
dengan demikian berulang sendiri.
Dan jurnalisme termasuk di dalamnya. Seabad setelah mesin
cetak Gutenberg muncul, sesuatu yang disebut “buku-berita”
(news books), laporan terkini atas peristiwa yang baru terjadi. Koran
pertama segera bermunculan di Jerman, Prancis, dan Inggris, sekira
1604. Meski sensor, larangan, dan pemenjaraan penggiatnya bermun
culan, dan seringkali pemerintah mengendalikan kegiatan
mereka sehari-hari, bibit pers tetap tumbuh. Berbagai informasi me
mungkinkan orang bertanya, menentang, dan mematahkan informasi
yang disodorkan otoritas mapan. Akibatnya penguasa tak lagi punya
kontrol atas informasi atau pemikiran orang tentang isu publik.
Pelan tapi pasti tumbuh ide bahwa orang terendah dalam suatu
komunitas sekalipun punya hak atas opini pribadi, dan opini tersebut
musti didengar dewan permerintah. Menjelang abad 19, muncul pers
politik yang menjamur dan didanai oposisi pemerintah, memakai
bentuk baru bahasa dan bahkan metafora politis demi menghindari
sensor dan mengritik penguasa. Keberanian dan corak baru pers poli-
tik itu menciptakan sensasi–kebanyakan seperti keterusterangan apa-
adanya seperti saat ini melalui blogging, popularitas YouTube, dan
kemudahan Twitter. Kritikus sosial Samuel Johnson menganggap
karya jurnalis politik baru ini sebagai bahan bacaan yang lebih baik
di antara publikasi lain saat itu.
Lewat jurnalisme juga, sesuatu yang lain terjadi. Apa yang selama
berabad-abad umum dianggap sebagai pendapat kasar menjelma
18 Blur

jadi konsep lebih terhormat: opini publik. Gagasan itu, yang absen
sejak peradaban Yunani dan Romawi, muncul kembali di Inggris dalam
tulisan filosof abad 17, John Locke, dan segera istilah itu sendiri di
pakai dalam pidato di parlemen dan esai politik. Dengan penyebaran
informasi, muncul konsep lebih kokoh: ide bahwa orang bisa menga-
tur diri sendiri. Buah terbesar peradaban Barat, demokrasi, tak lain
adalah produk evolusi komunikasi.

Telegraf dan Kelahiran Berita

Mesin cetak membantu lahirnya selebaran pada abad 17 dan 18


sebagai organ oposisi politik dan debat, membantu menempa ter-
bentuknya partai, dan pada abad ke-19 mengundang datangnya pe-
nemuan baru yang menciptakan apa yang kini disebut: berita. Pada
1844, John Morse memakai sinyal elektrik berbentuk titik-titik dan
strip untuk mengirim bahasa elektronik lewat kawat. Telegraf Morse
memungkinkan orang untuk pertama kalinya tahu sesuatu nyaris se-
cara seketika melewati jarak sangat jauh. Teknologi ini menciptakan
sesuatu yang belum ada sebelumnya berita sebagai produk faktual
independen oleh pengamat yang melaporkannya. Dalam dua tahun,
koran membangun kerja-sama nirlaba yang disebut Associated Press
untuk saling memasok berita melalui telegraf. Berita dari AP musti
layak muat bagi berbagai koran. Seketika itu juga, lahir bahasa baru
komunikasi. Berita ditulis dengan nada lebih netral dan tak berkai-
tan dengan seorang penulis. Ia juga cergas, karena terkena biaya per
kata ketika dikirim lewat kawat telegraf. Dan ia menemukan ben-
tuk baru dalam teknik pengorganisasian laporan berita dari fakta
terpenting hingga yang kurang penting, dan kemudian disebut pira
mida terbalik, dengan bagian terpenting berada di atas. 4 Sebelum-
nya, penulisan berita lebih subjektif dan seringkali dikisahkan kro-
nologis, dengan fakta paling dramatis dibeberkan dari awal ke akhir.
Berita personal yang lebih kuno dan biasanya disajikan dalam bahasa
surat ini mirip dengan posting blog sekarang ini.
Dengan lebih banyak berita untuk mengisi halaman, audiens yang
kian tumbuh sebagai penduduk perkotaan, dan harga koran yang
turun separuh per dekade, pers menjadi kian independen dari penga-
ruh partai politik pada tahun menjelang Perang Sipil. Independensi
ini lalu meraih momentum dari iklan komersial yang hadir seiring
dengan pertumbuhan industri Amerika. Dengan independensi poli-
Kita Pernah Mengalami Ini 19

tik, beberapa ruang pemberitaan membangun falsafah progresif


seputar reformasi, yang diakui dan dipakai politisi muda pembaharu
macam Theodore Roosevelt. Dan pada awal abad 20, praktik jurnal-
isme pembongkaran dan independensi keuangan mengangkat as-
pirasi profesional wartawan.

Radio, Peyakinan, dan Gangguan

Tantangan besar berikutnya dalam komunikasi tidaklah jauh. Ketika


penemuan telegraf pada 1840-an memungkinkan orang tahu kejadi-
an dalam hitungan menit atau jam dari tempat yang jauh, penemuan
radio pada 1920-an memungkinkan mereka mendengar sendiri
peristiwa tersebut. Bersamaan dengan itu, muncul pola yang beru-
lang seputar pembentukan komunitas baru, reorganisasi politik, dan
berlanjutnya ketegangan antara fakta dan keyakinan. Melalui cara
yang tak pernah bisa dilakukan koran lokal, radio mulai ikut mera-
jut bangsa yang penduduknya kian terkotak-kotak sebagai dampak
perubahan revolusi industri. Tiba-tiba setiap orang mendengar si-
aran berita dari radio nasional yang sama–sebuah perubahan men-
colok dari budaya membaca koran lokal pada era media cetak. Orang
tak perlu lagi melek huruf untuk menikmati berita. Media baru itu
juga mengubah jurnalisme cetak secara dramatis. Melaporkan ber-
ita saja tak lagi cukup. Koran harus lebih analitis, sebab orang bisa
mendapat fakta dari radio sebelum koran memuatnya. Beberapa ko-
ran menanggapi dengan menjadi lebih sensasional dan era “tabloid”
pun lahir, memanfaatkan teknologi lain—cetak foto lebih halus yang
bisa dipakai untuk mengolahnya—demi menciptakan efek dramatis.
Pengaruh radio terhadap politik juga tak kalah penting. Presiden
Franklin D. Roosevelt menemukan potensi media baru ini untuk
mendekatkan, menyatukan, dan mendemokratisasi. Melalui pida-
to radio dan “obrolan santai”, di mana dia berbicara kepada warga
Amerika seolah dia bersama mereka di ruang keluarga, Roosevelt
melompati pers dan langsung bicara pada rakyat, menjelaskan kom-
pleksitas Depresi Besar dalam istilah sederhana dan meyakinkan,
dan lantas, menjelaskan tentang perlunya perang.
Ketegangan antara fakta dan keyakinan juga terekspresi melalui
radio. Saat Roosevelt memanfaatkan siaran untuk membantu meng-
hilangkan kekhawatiran publik terhadap Depresi, modus peyakinan
baru datang dalam bentuk khotbah injili dari kanal radio baru laya
20 Blur

nan rohani yang jumlah audiensnya tak kalah banyak dari siaran Roo
sevelt. Salah satu yang paling digemari adalah Pater Charles Edward
Coughlin, seorang pendeta Katolik dengan sekitar 30 juta audiens per
minggu. Tak beda jauh dari buku yang ditawarkan pembawa acara
TV kabel saat ini, edisi pertama buku berisi khotbah radio Coughlin,
yang diterbitkan pada 1933, menjadi buku terlaris nasional. Dia pun
dianggap sebagai orang terkuat kedua di Amerika setelah presiden.

Televisi, Koran, dan Nasionalisasi Politik

Selang 20 tahun setelah radio membuat orang bisa mendengar-


kan berita sendiri, teknologi baru yang lebih kuat muncul. Televisi
menawarkan orang kemampuan melihat sekaligus mendengar ber-
ita. Terpengaruh gaya pemberitaan radio yang datar dan netral, ber-
ita TV membangun pengaruh yang benar-benar berbeda dari klip
berita mingguan penuh pengadeganan yang diputar dan ditonton di
bioskop tiap minggu, yang memanfaatkan narasi majasi dan nyaris
karikatural dengan sedikit audio atau bahkan bisu. Lebih dari itu,
divisi jaringan berita TV membawa adegan dan suara dari tem-
pat kejadian ke rumah warga tiap malam. Bahkan nama program
berita TV itu awalnya mempromosikan gagasan bahwa orang bisa
menyaksikan berita dengan mata kepala sendiri: Person to Person,
You Are There, dan See it Now.5 media ini pertama kali mendapat mo-
mentum pada 1950-an dengan hadirnya liputan TV seputar pembu-
kaan dan penutupan konvensi politik. Publik yang terpaku oleh proses
pemilihan presiden dan konvensi politik itu mempopulerkan kelom-
pok yang semula adalah wartawan jaringan berita TV kebanyakan–
Chet Huntley, David Brinkley, dan Walter Cronkite–menjadi “pem-
bawa acara berita” setelah mereka menjalankan tugas yang semula
dianggap menyebalkan; menarasikan hasil liputan. Jaringan berita
petang pun diperlama dari 15 menit menjadi 30 menit pada Sep-
tember 1963. Kurang dari setahun, warga Amerika mendapati televisi
sebagai media utama mencari berita.
Dan sekali lagi, pola umum terulang kembali–terbentuknya komu-
nitas yang lebih besar dan lebih demokratis, reorganisasi politik dan
sosial, dan ketegangan lama-tapi-baru. Di koran, pembaca bisa me-
ngambil dan memilih artikel mana yang diminati, melewatkan beri-
ta yang tak diminati. Radio membuat berita lebih intim dan menasi-
onal. Namun televisi menyatukannya. Warga Amerika sebagian be-
Kita Pernah Mengalami Ini 21

sar berkumpul di antara dua siaran berita tiap malam, NBC dan CBS
(ABC berada di urutan ketiga dengan rentang jauh). Tak kurang 70%
televisi dinyalakan–kadang ditonton lebih dari seperempat warga
Amerika tiap malam–untuk menyiarkan satu dari tiga program itu pada
jam makan malam. Dan tak seperti pembaca koran, pemirsa tak bisa
mengambil dan memilih mana yang ingin ditonton. Mereka harus
menonton program yang didesain bersambung dari awal sampai
akhir itu, atau mematikan televisi. Ini menimbulkan apa yang disebut
sebagai “akuisisi berita secara kebetulan” di kalangan ilmuwan sosial–
ketika orang mengetahui informasi yang mungkin tak disukai. Dan de-
ngan munculnya Uni Soviet sebagai musuh bersama serta diet berita
umum dari jaringan TV, konsensus sosial pun terbangun. Efek politis
warga Amerika yang melihat berita dengan mata kepala sendiri, dan dalam
tingkat yang signifikan melihat hal yang sama, ternyata sangat dahsyat.
Televisi pada gilirannya membantu menasionalkan isu politik
ke tingkat yang belum pernah tercapai sebelumnya. Berita harian
dari Washington, pertama dari penyiar NBC David Brinkley dan ke-
mudian dari generasi jaringan koresponden Gedung Putih, mem-
bantu tumbuhnya daya tarik berita politik. Koran memperbanyak
biro di Washington, dan keagresifan serta skeptisme baru terhadap
kuasa pemerintah pun bercampur dengan keraguan pada era Perang
Vietnam. Keseragaman pandangan Washington seputar isu dan
aktivitas politik berdampak pada menguatnya pemusatan kekuasaan.
Ini terutama terjadi pada kekuasaan presiden, satu-satunya pejabat
publik yang dipilih secara nasional, dan perlu memiliki kemampuan
tampil di TV sebagai modal besar kepemimpinan. Warga Amerika
yang dulu mendapatkan berita dalam istilah lokal, karena disajikan
oleh koran, radio, atau TV lokal, kini mulai fokus pada institusi dan
tokoh politik sama secara nasional. Mengiringi gerakan hak sipil,
tayangan berisi aksi brutal masyarakat dan polisi terhadap protes dam-
ai kaum kulit hitam di Selatan yang mengisi rumah warga Amerika me-
maksa politisi untuk tak lagi mengabaikan tuntutan warga kulit hitam
mengenai persamaan hak. Liputan TV tentang peristiwa dramatis, dan
kesan bahwa berita kian bebas campur-tangan perusahaan media,
juga memberi efek dramatis baru bagi warga biasa yang menghendaki
perubahan politik. Penginjil layar kaca, demonstran antiperang, dan
aktivis gerakan hak perempuan diberdayakan secara politik melalui
bentuk baru komunikasi tersebut dan mulai mengubah sifat dasar
perdebatan politik di Amerika.
22 Blur

Reorganisasi itu juga mengubah urutan komunikasi. Media cetak


pertama yang jadi korban keberadaan berita TV adalah koran sore,
yang umumnya ditujukan pada pekerja kantoran yang berangkat
kerja lebih pagi dan baru membaca berita di sore hari. Kebanyakan
berita televisi ditayangkan petang, dan dengan kecepatannya me-
nyisir berita memungkinkan berita utama muncul mendekati gaya
berita pendek dan santai a la koran sore. Kehadiran TV juga memaksa
koran bertahan dengan lebih dalam dan analitis, menargetkan pen-
duduk yang lebih kaya dan berpendidikan. Koran pagi dan mingguan
memasuki era keemasan. Penetrasi koran ke kaum elit ini memenga-
ruhi pengiklan. Koran pagi yang mulai menikmati status monopoli di
pasar mendapat lebih banyak iklan melampaui perkiraan mereka.
Koran menjadi bisnis gampang dan menggiurkan. Akibatnya, ke
banyakan suratkabar telat bereaksi dengan pemikiran kreatif
seputar konten, hingga akhirnya menghadapi risiko posisinya di
geser televisi, sebagaimana pernah dialami radio. Ketika koran ak
hirnya bertindak, kebingungan memahami sifat dasar tantangan yang
dihadapi tercermin dari fakta bahwa ada dua bentuk utama inovasi yang
menciptakan dua jalan berseberangan. USA Today, mulai 1981, banyak
mengadopsi tampilan TV, menampilkan halaman yang lebih berwarna,
tulisan ringkas nan “cerdas” dan menyajikan kotak di pinggir halaman
mirip tampilan TV. Koran nasional yang sudah mapan seperti New York
Times, di sisi lain, menawarkan format baru analisis mendalam yang
mengawinkan liputan berita keras faktual dengan detil analisis yang
dibangun berdasarkan pengalaman, pengamatan, dan kesimpulan re-
porternya. Los Angeles Times membuat pendekatan yang nyaris para-
doks: konsep majalah harian yang liputan dan tulisannya sangat dalam
sehingga menerabas batas koran harian.

TV Kabel dan Berita Berkesinambungan

Hanya 17 tahun setelah jaringan berita TV mengudarakan kabar pe-


tang 30 menit pertamanya, muncul perubahan besar dalam komuni-
kasi: kehadiran TV kabel. Jauh sebelum Fox dan MSNBC mengubah
norma berita TV, CNN yang diluncurkan pada 1980 menghancurkan
hubungan antara jaringan dengan afiliasi lokal mereka. Sebelum CNN,
tiga jaringan berita TV menguasai ketat berita nasional dan interna-
sional yang ditonton warga Amerika–dan mereka bahkan tak mau
berbagi gambar tayangan dengan stasiun TV afiliasi selama belum
Kita Pernah Mengalami Ini 23

disiarkan di jaringan sendiri. Pada 1986, materi berita yang dibagi


ketiga jaringan itu (jumlah gambar tayangan yang dibagi dengan TV
lokal) ke stasiun afiliasi pun dibatasi 30 menit per hari.
Jaringan CNN milik Ted Turner memiliki pengaruh besar terhadap
berita dengan mematahkan monopoli itu. Untuk mendapat lebih ba-
nyak gambar yang bisa mengudara di CNN, Turner mulai memberi
stasiun lokal tawaran yang tak pernah mereka nikmati sebelum-
nya. Jika mereka mau berbagi gambar tayangan lokal mereka, CNN
akan berbagi tayangan dengan mereka. Tawaran Turner, bersambut
dengan bibit kerjasama berita lokal, secara efektif mengakhiri
cengkeraman ketiga jaringan berita TV komersial itu terhadap berita
nasional dan internasional. Afiliasi jaringan, yang terjepit di tengah-
tengah, mulai mendesak ketiga jaringan itu untuk memberi lebih
banyak gambar tayangan. Pada 1990, tiap jaringan tersebut pun me-
nyuplai stasiun afiliasi dengan gambar tayangan berdurasi 8 jam per
hari. Efeknya langsung dirasakan audien jaringan berita TV. Orang ti-
dak hanya memiliki pilihan program lain yang bisa ditonton di TV ka-
bel. Mereka juga bisa menikmati berita utama nasional dan internasi-
onal pada siaran berita jam empat, lima, dan enam sore, bahkan jika
mereka tak berlangganan kabel atau tak menonton CNN.

Teknologi Digital dan Pilihan Konsumen

Berita menjadi sesuatu yang mulai bisa diakses konsumen ketika di-
perlukan, dan mereka jadi lebih terbiasa dengan pilihan. Evolusi TV
kabel bisa dibilang mewakili perintis era internet.
Efek domino pun melanda jauh lebih cepat. Pada 1994, Ya-
hoo memulai itu, dan Reuters memutuskan menggratiskan berita
di dunia maya. Tahun berikutnya, America Online menyediakan
akses internet, dengan feature suara real-time, dan 50% sekolah di
Amerika pun terhubung. Pada 1996, Microsoft dan MSNBC melun-
curkan MSNBC.com. Menjelang era 2000, pionir internet seperti
Pemimpin Redaksi MSNBC Merril Brown berbicara soal perubahan
besar pola konsumsi berita online. Sebelumnya, kecuali berita kilas
di TV kabel dan berita radio yang kadang muncul, orang mendapat
berita utama sembari sarapan di meja makan atau pada sore hingga
petang, plus beberapa berita lokal di TV pada larut malam. Kini, tidak
lagi. Situs web mulai menyodorkan daftar berita yang bisa dikonsum-
si sepanjang hari, dengan kenaikan lalu-lintas pengunjung pada jam
24 Blur

makan siang dan larut malam.


Dari tahun 2000 hingga 2008, pertumbuhan pengguna internet
cukup memusingkan.
• Tahun 2000, hanya 46% orang dewasa di Amerika yang meng
gunakan internet, naik menjadi 74% pada 2008.
• Tahun 2000, hanya 5% yang punya internet berkecepatan
tinggi di rumah, dan melejit menjadi 58% pada 2008.
• Tahun 2000, hanya 50% warga Amerika yang punya ponsel.
Pada 2008, mencapai 82%.
• Tahun 2000, tak satupun orang Amerika tersambung ke inter
net secara nirkabel (wireless fidelity/ wifi). Pada 2008, 62%
warga Amerika telah tersambung.

Dalam satu dekade, kita bergeser menjadi masyarakat yang me-


miliki akses berita dan informasi virtual di mana saja dan kapan saja.
Beberapa orang sempat menduga bahwa ini akan memencarkan au-
diens ke satu juta titik baru penyedia berita, termasuk blog dan ar-
tikel jurnalis warga, dan secara substansial menjauh dari nilai berita
tradisional seperti objektivitas jurnalistik, gagasan bahwa wartawan
adalah perantara independen pemverifikasi berita dan penyedia
berbagai sudut pandang. Dugaan berakhirnya oligarki berita disu-
arakan melalui beberapa konsep sederhana seperti “ekor panjang”
(long tail). Gagasan ini, dipopulerkan oleh editor Wired Chris Ander-
son, menilai bahwa pasar informasi dan barang berisi beragam topik
luas dari berbagai sumber berbeda dan berbagai bentuk–situs web,
blog, jejaring sosial, dan media bergerak–akhirnya menggusur pasar
dan informasi yang sebelumnya digarap media massa. Anderson ber-
pendapat bahwa budaya media massa pada abad 20 adalah anomali
khusus bentuk media yang lebih baru dan dominan sekarang: TV dan
radio. Internet memungkinkan konsumen lebih mudah tertarik pada
berita, informasi, barang, dan layanan yang disesuaikan dengan mi-
nat individu dan wilayah geografi seseorang (dengan sangat tepat).6
Namun, prediksi Anderson tak mencerminkan apa yang sebenarnya
terjadi dalam jurnalisme. Ketika masuk ke persoalan berita, realitas
yang ada—setidaknya sejauh ini—justru jauh lebih kompleks. Berita
online tradisional kian membesar, bukan mengecil. Contohnya, pada
tahun 2007 sepuluh besar koran di Amerika hanya menguasai 19%
pasar, tapi merangkul 29% audien melalui situs berita. Pada 2008,
700 situs berita dan informasi papan atas mencatat kenaikan lalu-lin-
Kita Pernah Mengalami Ini 25

tas kunjungan sebesar 7%. Namun 50 situs besar, hampir semuanya


dijalankan perusahaan koran atau stasiun TV tradisional, mencatat
pertumbuhan lalu-lintas 27%. 7 Pangkal ekor berita justru lebih be-
sar di online. Begitu juga di ujung ekornya. Justru yang di tengahlah
yang menderita.8
Lantas kenapa perusahaan media tradisional masih menderita?
Masalah mendasarnya bukan kehilangan audien. Ketika jumlah
audien platform berita lama dan baru digabung, kebanyakan me-
dia tradisional mencatat pertumbuhan audien. Krisis media tradi-
sional akibat perubahan teknologi lebih terkait dengan pendapatan.
Teknologi telah mengurangi iklan di media tradisional. Kebanyakan
pengiklan tak lagi butuh berita sebagai sarana mencapai audiens
mereka–tak peduli pengusaha grosir skala besar dengan situs Web
sendiri atau orang yang memposting iklan sewa apartemen atau
iklan jualan sepeda di Craiglist. Pada saat bersamaan, internet tak
bisa menjalankan sistem pemosisian iklan sebagai sumber pembiay-
aan proses pencarian berita pada abad 20. Penyampaian berita pada
abad sebelumnya justru kebagian berkah dari kebetulan yang meny-
enangkan, yakni sistem komersial (iklan) menyokong kepentingan
warga (jurnalisme profesional). Sistem ini, setahu kami, sudah bera-
khir. Dan belum jelas adanya hal baru yang menggantikan. Jikapun
ada, belum diketahui pada skala apa.
Namun penting bagi kita, ketika mencoba mengarungi dunia baru
ini, untuk tidak naif. Kita musti menghela nafas dan melihat ke be-
lakang, juga ke depan. Apapun struktur berita di masa depan, sejarah
komunikasi menunjukkan bahwa teknologi lama tak akan hilang.
Mereka hanya berubah, menjadi lebih kecil dan memainkan peran
berbeda. Sejarah komunikasi juga memperlihatkan bahwa teknologi
baru tak mengubah sifat dasar manusia. Mereka hanya memung-
kinkan kita mengeskpresikan dan memenuhi rasa ingin tahu tentang
dunia yang tidak kita alami langsung, dengan cara berbeda. Hari ini,
ketika ribuan bit informasi mengalir melalui dunia maya dalam hi-
tungan nanodetik dan warga di pojok terpencil dunia pun tak ket-
inggalan dengan informasi terbaru, sulit membayangkan betapa
lambatnya informasi 400 tahun lalu. Namun, jelas ada gema sejarah
yang memantul di sini. Kata tertulis atau mesin cetak dalam banyak
hal adalah perubahan besar seperti halnya internet. Kemunculan
koran pada abad 17 dan 18 dapat disamakan dengan embrio blog,
situs jejaring sosial, sarana berbagi video, dan forum online lain untuk
26 Blur

komunikasi warga abad 21. Dan kemunculan industri koran pada


abad awal tersebut punya dampak politik mendemokratisasi Ero-
pa dan Amerika Utara–tak sekadar mengunggah video untuk men-
dorong karir Barack Obama pada 2008 dan sebaliknya menolak
proposal jaminan kesehatan yang diajukannya pada 2009. Dalam isti-
lah paling sederhana, suratkabar membuat informasi yang sebelum-
nya dipegang segelintir orang menjadi lebih transparan bagi banyak
orang. Tingkat literasi pers pada 1730-an tentu tidak luas, tapi meski
begitu, informasi yang sebelumnya secara esensial hanya beredar
di ruang pengadilan bisa keluar dengan cara dramatis dan tak ter-
duga. Seabad kemudian kemunculan pers komersial di Amerika me-
ningkatkan penyebaran informasi dan membantu warga yang sebe-
lumnya terpinggirkan menjadi terlibat dalam persoalan publik dan
menjadi faktor penting yang menantang aturan mapan di masyarakat
Amerika, dan krisis perbudakan yang berakhir dengan Perang Sipil.
Munculnya penginjil radio yang politis seperti Pendeta Coughlin se-
lama masa Depresi dan New Deal beranalogi dengan situasi abad 21
di mana tokoh jaringan berita TV kabel seperti Glenn Beck digemari.
Mengikuti perkembangan tersebut, polanya juga berulang. Tiap
kemajuan teknologi komunikasi membuat kita lebih mudah mem-
pelajari dan terlibat di dunia sekitar, untuk menentang dan bahkan
mendongkel otoritas tua yang dulu mengontrol arus informasi, lalu
membentuk otoritas baru. Apa yang kini kita saksikan adalah berak-
hirnya otoritas lama, tapi ia juga akan tergantikan otoritas baru. Kete-
gangan antik antara pengamatan—dan ilmu pengetahuan berbasis
empirisme induktif yang membingungkan, versus kekuatan keyaki-
nan dan kepercayaan nyaman dan menyatukan, masih berlanjut tapi
melalui ekspresi dan letupan baru dalam mencari keseimbangan.
Dampak bagus dari langkah-langkah tersebut ke depan adalah
adanya lebih banyak informasi di tangan warga. Pada abad 21,
akses terhadap informasi telah mencapai puncak baru. Pertanyaan
yang kini kita hadapi adalah bagaimana menjalaninya: bagaimana
kita mengidentifikasi, dengan alat dan pilihan baru yang kini ada di
tangan kita, informasi mana yang bisa dipercaya?
Cara Berpengetahuan Skeptis: Ketrampilan Verifikasi 27

BAB 3
Cara Berpengetahuan Skeptis:
Keterampilan Verifikasi

Homer Bigart tiba di Vietnam pada Desember 1961.


Sebagai seseorang yang kenyang meliput Perang Dunia II dan Per-
ang Korea, Bigart tak hanya berpengalaman luas tapi juga bermetode
liputan yang luar biasa. Dengan metode ini, reporter New York Times
ini menyabet dua penghargaan Pulitzer dan menjadi legenda di
antara para wartawan.
Kehadiran Bigart di Saigon bertepatan dengan meningkatnya
keterlibatan Amerika Serikat di Vietnam. Secara politis, pemerintah
Amerika mengguyur program bantuan ke pedalaman Vietnam untuk
meraih hati dan pikiran penduduk. Secara militer, Amerika mengi-
rimkan armada helikopter sebagai bagian dari rencana yang takkan
dilakukan tentara Vietnam Selatan: menekan Vietnam Utara di peda-
laman. Seiring dengan menguatnya upaya ini, pemerintah Kennedy
dan pemimpin militer di lapangan kesulitan menjelaskan kejadian
di Vietnam melalui cara yang tidak mengganggu dukungan pub-
lik, mengingat kebutuhan finansial dan jumlah personil dipastikan
meningkat.
Di Amerika, editor koran dihadapkan pada dua versi kejadian. Dari
pejabat Washington dan Saigon, mereka mendengar situasi Vietnam
Selatan terus membaik. Dari beberapa koresponden di lapangan,
mereka mendapar laporan tentang korupsi dan kekalahan. Tak ya-
kin bagaimana mencocokkan cerita yang kadang saling bertentangan
itu, dalam banyak kasus para editor memilih menampilkan panda-
ngan pemerintah dalam laporan mereka. Bagaimanapun juga,
28 Blur

pejabat pemerintah lebih tahu ketimbang reporter. Mereka adalah


pihak yang berwenang.
Bigart menyebut laku demikian–praktik menelan mentah-men-
tah berita resmi– sebagai “paham tukang ketik (clerkism).” Para
wartawan haruslah bukan hanya seorang pencatat, ujarnya. Mereka
punya tanggung-jawab mengejar fakta untuk mereka sendiri, untuk
membangun bukti empiris, dan tak menerima perkataan orang lain
dari sumber kedua. Sepanjang karier jurnalistiknya, kecintaan Bigart
pada fakta berkembang menjadi sebuah metode liputan yang jauh me-
lewati praktik clerkism atau jurnalisme menduga-duga. Dalam waktu
peliputannya yang relatif singkat di Vietnam, dia memberi pengaruh
besar pada generasi baru reporter–termasuk David Halberstam, Neil
Sheehan, Malcolm Brown, dan Peter Arnett–dan pada praktik liputan
perang, memberi pengetahuan medan perang yang jauh lebih luas
kepada publik dibandingkan dengan informasi perang sebelumnya.
William Prochnau, seorang koresponden perang muda, meniru cara
bicara Biggart yang gagap, mengulang perkataanya, “Bagaimana bi-
bi-bi-bisa sebuah fakta dan sebuah kebohongan menjadi kebenaran?
Tidakkah kita musti memilih?’ Lalu, setelah terdiam sejenak, dia akan
menjawab sendiri pertanyaannya: ‘Iya.’”
Cara Bigart memilah versi mana yang dipercaya adalah dengan tak
mau gampang menelan apapun, dan tak mengambil perkataan ses-
eorang mentah-mentah. Dia memulainya dengan konsep tabula rasa.
Dia memulai reportase dengan seolah tak tahu apapun, tak berasumsi
apapun, dan dia meminta tiap orang menunjukkan bukti atas apapun
yang mereka katakan kepadanya. Halberstam, reporter muda Times
yang terjun di Vietnam tak lama setelah Bigart, menyebut metode
Bigart sebagai “ketaktahuan portabel” (portable ignorance). Dan ini
terbantu oleh cara bicara dan kegagapan Bigart ala Columbo, detektif
Amerika dalam sebuah film serial televisi, yang cenderung membuat
orang meremehkannya.
“Dia datang dengan pengetahuan sedikit tapi lantas menemukan
semuanya,” kata Prochnou.1
Neil Sheehan, seorang reporter muda United Press International
pada saat itu, dengan cepat mempelajari ketaktahuan portabel itu
saat bergabung dengan Bigart pada misi tentara Amerika di Viet-
nam Selatan. Selama empat pekan, para penasehat militer Amerika
membual soal kesuksesan bersama unit Tentara Republik Vietnam
(ARVN), milik Vietnam Selatan, yang terus dicapai. Sebuah program
Cara Berpengetahuan Skeptis: Ketrampilan Verifikasi 29

baru berlabel “dusun strategis” untuk membersihkan desa dari kon-


trol gerilyawan Vietkong berjalan efektif, klaim para penasehat mi-
liter. Mereka mengklaim para kepala desa memberi informasi lebih
baik di dusun ini dan panen mereka dibantu heli perang. Atas de-
sakan Bigart, militer memutuskan mengajak beberapa reporter ke
desa untuk menunjukkan kesuksesan program itu.
Kebanyakan reporter mempersiapkan diri ala kadarnya untuk
perjalanan itu. Namun, tidak dengan Bigart. “Sebelum kami turun ke
lapangan, Homer meneliti pertanyaan yang akan diajukan ke para
penasehat Amerika,” kenang Sheehan. “Dia akan bertanya, ‘Apa yang
ingin Anda temukan? Berapa unit di area? Dari kesatuan mana?’ Per-
tanyaan-pertanyaan yang tak ada habisnya.”2
Reporter lain, termasuk Sheehan, melewatkan semua itu. Mereka
tak sabar mengikuti kegiatan itu–yang pernah ditolak Pentagon, sam-
pai kemudian disetujui atas desakan Bigart. Lagi pula, para reporter
berpikir bahwa mengajukan semua pertanyaan yang sudah disiap-
kan sebelumnya akan membuat mereka terlihat lamban dan bodoh
di hadapan para pentolan pejabat militer, yang ingin mereka dekati
untuk membangun jaringan. Pastinya, ini menguji kesabaran para
pejabat tersebut, tapi itulah metode Bigart menjawab keraguan. Dia
menetapkan kriteria untuk mengetahui apa yang akan dikejar. De
ngan cara itu, dia bisa membandingkan antara fakta lapangan dengan
harapan para pejabat. Dia akan membuktikan apakah kebijakan itu
berjalan atau sekadar pertunjukan kehumasan. Dan setelah perjala-
nan ke lapangan, capek karena tekanan perang dan merencah lum-
pur sawah, Bigart melakukannya lagi, bertanya pada para pejabat:
“Unit apa yang sudah Anda temukan? Apakah Anda terkejut? Anda
bilang unit ini akan berada di sini. Benar kan? Berapa banyak yang
terbunuh? Berapa mayat yang ditemukan?” Lagi dan lagi, dengan elok
Bigart membedah janji yang diharapkan dengan hasil sesungguhnya.
Perjalanan itu terbukti jauh berbeda dari pernyataan militer ke-
pada reporter. Serangan helikopter memang mengejutkan Vietkong,
tetapi reaksi lambat pasukan Vietnam Selatan membuat keunggulan
itu sia-sia.
“Dalam perjalanan pulang ke Saigon setelah dua hari yang
meletihkan tapi minim aksi, selain perjalanan berjam-jam yang
menguras tenaga,” kenang Sheehan, “Saya mengeluh, ‘Demi Tuhan,
Homer, kita menghabiskan dua hari berjalan melewati persawahan
padi dan kita tak punya satupun cerita.” Homer memandang saya
30 Blur

dan bilang, “Kamu belum mengerti, ya? Mereka gagal. Program ini
tak berjalan.”
Sekembalinya ke Saigon, para koresponden diberi pengarahan
singkat oleh komandan lapangan yang menyuguhkan kisah yang
sangat menipu diri soal tentara Vietkong yang terkejut oleh bantuan
penuh pasukan ARVN melalui helikopter tempur terbaru dan me-
naklukkan desa persembunyian mereka, dengan lusinan dari mereka
terbunuh.
Berita Associated Press yang muncul pada 9 Maret dari Saigon:

Pesawat pengebom Vietnam hari ini menggempur delta


Sungai Mekong sementara pasukan darat menekan melalui
rawa dekat laut Cina Selatan memburu para gerilyawan.
Sumber militer mengatakan pasukan Vietnam membunuh
33 gerilyawan dan empat di antaranya tertangkap dalam se-
buah operasi pada Kamis, yang didukung helikopter Amerika
di Provinsi An Xuyen paling Selatan.

Catatan Bigart berbeda. Dia mampu membangun laporan lapis


demi lapis dari kejadian yang dia saksikan dan fakta lain yang dia
dapat langsung dari para tentara yang menyabung nyawa di medan
perang. Dia mampu menyodorkan konteks cerita lebih kaya dari
kisah yang diproduksi Saigon. Dia juga mampu menceritakan mana
serangan helikopter yang sukses dan yang gagal, hingga pertanda
kegagalan taktik baru yang akan mendominasi pendekatan militer
Amerika di Vietnam tersebut.
Artikel Bigart tentang aksi tersebut antara lain berbunyi:

Namun seperti biasa pasukan utama musuh lolos. Mereka


lepas dari perangkap meski pesawat-pesawat penggempur
memberi kejutan sempurna dengan mengurung mereka di
desa itu.
Pasukan pemerintah [Vietnam Selatan] gagal memanfaat-
kan keterkejutan Vietkong. Mereka malah berkumpul dan ber-
leha-leha di parit dan berteduh di bawah pohon kelapa hingga
seorang penasehat Amerika berteriak jengkel, “Ayo maju!”
Hingga akhir petang tampak bahwa pertempuran telah usai
dan sebagian besar dari 200 orang komunis yang diperkirakan
berada di desa itu berhasil kabur.3

Tak ada fakta tangan kedua. Bigart menyaksikan langsung semua


Cara Berpengetahuan Skeptis: Ketrampilan Verifikasi 31

itu, mencatat, dan dengan tegas menunjukkan bahwa klaim dalam


pengarahan pers di Saigon dibesar-besarkan dan keliru, atau di
tutup-tutupi. Poin utamanya adalah tentara Vietnam Selatan tak
mampu mengapitalisasi taktik dan teknologi Amerika.

“Bagi saya, itulah Homer,” kata Shennan. “Tak mau menerima apapun
begitu saja.”4

Laporan pandangan mata Bigart mencerahkan dengan cara unik,


bahkan hingga setengah abad kemudian. Tulisannya menjadi ruang
besar penjelasan valid mengenai cara dia mengetahui, apa yang dia
tahu, dan gambaran yang memperluas bagaimana dia sendiri me-
nyaksikan langsung serangan tersebut. Nada artikel tersebut polos
tapi mengejutkan. Bigart bertindak sebagai mata dan telinga pem-
baca, dan jika dia menceritakan apa yang terjadi, itulah yang terjadi–
dia menyaksikan sendiri.

Kini, ketika makin banyak berita yang bersumber dari tan-


gan kedua dan ketiga, dan wartawan terpisah dari sumber
pertama oleh “manajer” komunikasi humas, dan konsumen
menjadi editor dan terkadang wartawan untuk diri sendiri,
bagaimana kita memutuskan benar-tidaknya sebuah informa-
si? Bagaimana membedakan antara empirisme Homer Bigart
dan clerkism rekan-rekannya di Saigon? Bagaimana kita, seb-
agai konsumen, mengambil dan mengembangkan ketaktahuan
portable kita?

Salah satu kesulitan yang menghadang, bagi kebanyakan orang,


adalah kecakapan membangun kajian skeptis semacam itu tidak
tertulis dalam rumus sederhana; ia bukan persamaan universal.
Umumnya dan sebagian besar metode serta teknik ini, diasah
wartawan profesional dalam pekerjaannya melalui serangkaian per-
cobaan, seringkali secara pribadi. Wartawan-wartawan terbaik me-
minjam teknik dari guru-guru terbaik yang mereka temui di lapan-
gan, seperti halnya Sheehan belajar dari Bigart. Dan tak semuanya
bagus. “Pers yang manjur” dibangun kaum empiris yang tangguh dan
disiplin, seperti Bigart, tetapi banyak wartawan naif bermental
tukang ketik–yang memiliki koneksi orang penting lebih dihargai
ketimbang wartawan skeptis yang mengejar bukti.
Untuk mendeteksi karya liputan yang bagus, kita sebagai kon-
32 Blur

sumen kini musti belajar beberapa tradecraft jurnalisme untuk diri


sendiri–yakni pengetahuan jalanan yang didapat dari pengamatan
tajam di ruang publik, metode yang dipakai wartawan dan orang
dalam di lingkaran politik untuk mengetahui ketika sebuah berita di-
pelintir, dilebih-lebihkan, atau menipu. Dan kita juga harus tahu cara
membedakan antara tradecraft yang bagus dan yang jelek, ketak-
tahuan portabel dan clerkism, reportase dan kebohongan.
Wartawan terbaik, macam Bigart, berpikir independen. Mereka
belajar mengatasi keberpihakan emosi mereka terhadap salah satu
pihak atau pihak lain yang diliput. Mereka belajar mempraktikkan
apa yang kami sebut “cara berpengetahuan skeptis.”
Konsumen informasi bisa memakai tradecraft jurnalistik untuk
diri sendiri; mereka bisa belajar sendiri mengadopsi cara berpen-
getahuan skeptis. Perlu kedisiplinan mengadopsi sikap pemikiran
berorientasi fakta empiris–yang terbuka. Dan ini, dengan caranya
sendiri, akan memaksa orang tergerak belajar sesuatu yang lebih su-
lit, lebih skeptis, dan kurang nyaman. Ini juga akan membantu orang
terhindar dari perangkap fatamorgana yang nyaman, dan akhirnya
terbiasa mencapai perkembangan yang bisa dilihat dengan mudah
jika mereka tahu apa yang harus diperhatikan.
Bagaimanapun juga, jurnalisme bukan ilmu pasti. Mengurai peris-
tiwa publik tak bisa dilakukan melalui persamaan matematis. Dan
sebagaimana hendak kita diskusikan, kita jarang melibatkan diri se-
cara empiris dengan berita, sebagaimana halnya kita menjalani ke-
hidupan sehari-hari. Sama seperti kita mencoba mengambil makna
dari peristiwa publik, kita cenderung mencampur pemahaman fakta
dengan keyakinan subjektif kita. Apakah menurut kita pernyataan
presiden itu baik atau buruk? Apakah dia memimpin ke arah posi-
tif atau negatif? Sulit memisahkan nilai-nilai, acuan, ketakutan, dan
prasangka kita atas berbagai jawaban dari pertanyaan semacam itu.
Namun, kita bisa belajar mengambil makna melalui cara yang leb-
ih hati-hati, cakap, dan disiplin. Pemahaman kita atas berita musti
dibangun dari fondasi fakta–pemahaman akurat atas apa yang ter-
jadi. Dan proses peralihan dari memahami ke menentukan makna
lah yang musti datang melalui serangkaian sistem. Di ruang dokter,
kita awalnya bicara soal gejala, lantas diagnosis sebelum membahas
resep atau cara pengobatan. Demikian pula proses jurnalistik, yang
dijalani dengan kejernihan logika umum yang sama dan kecakapan
seperti di ruang dokter.
Cara Berpengetahuan Skeptis: Ketrampilan Verifikasi 33

Namun umumnya hingga kini kita belum merasa perlu melaku-


kan “diskusi gejala” awal, yang merupakan dasar pemilahan fakta
peristiwa, untuk diri sendiri. Kita bergantung pada otoritas peranta-
ra–yakni pers–untuk mengerjakan semua itu, tak peduli seburuk apa
mereka melakukannya. Kini, dengan banyaknya saluran berita yang
saling berkompetisi dan banyaknya laporan berat sebelah, kita ha-
rus memakai beberapa ketrampilan diagnosis ini untuk diri sendiri,
sehingga setidaknya bisa mengenali mana jurnalisme baik dan mana
yang buruk. Bagaimanapun juga, banyak dari kita yang bisa berbuat
lebih banyak: menjadi editor untuk diri sendiri, pengolah informasi
mandiri.
Berikut ini ketrampilan-ketrampilan kemasyarakatan yang diper-
lukan di era teknologi sekarang.

Cara Berpengetahuan Skeptis

Pada dasarnya, cara berpengetahuan skeptis adalah menanyakan–


dan tahu bagaimana menjawab– sejumlah pertanyaan sistematis.
Pertanyaan-pertanyaan ini, dan cara menjawabnya, merupakan di-
siplin verifikasi berita. Dalam beberapa tingkat, meski tak selalu di-
lakukan secara sadar dan jarang masuk daftar pertanyaan, pertan-
yaan-pertanyaan inilah yang diajukan para profesional, tak hanya
di jurnalisme tapi juga di semua bidang empirisme. Bisa saja per-
tanyaan itu diajukan berbeda, atau terpecah menjadi sejumlah per-
tanyaan berbeda, tapi kami mendaftarnya agar lebih sederhana.
Kami menyusunnya setelah memperhatikan cara para jurnalis men-
diskusikan karya mereka selama bertahun-tahun menjadi reporter
dan editor, dan baru-baru ini dalam pekerjaan kami sebagai kriti-
kus pers dan peneliti, serta dari analisis sistematis isi dan sifat dasar
media. Prosesnya melibatkan pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Jenis konten apa yang saya temui?


2. Apakah informasinya komplit; jika tidak, apa yang kurang?
3. Siapa dan apa sumbernya, dan kenapa saya harus memper
cayai mereka?
4. Apa bukti yang disuguhkan, dan bagaimana menguji atau
membuktikannya?
5. Apa yang bisa menjadi penjelasan atau pemahaman alterna
tif?
34 Blur

6. Apakah saya telah mempelajari apa yang perlu saya pelajari?


Kebanyakan bagian buku ini akan menjelajahi detail cara men-
jawab pertanyaan-pertanyaan itu untuk jenis berita dan informasi
berbeda, dan membicarakan contoh karya yang bagus dan yang
buruk.
Tak ayal, pertanyaan-pertanyaan ini saling terkait. Evaluasi buk-
ti dalam sebuah berita terkait dengan berapa banyak sumber kita
dan tingkat kepakaran mereka. Penilaian kita terhadap para sum-
ber ini mempengaruhi penilaian soal kelengkapan laporan kita.
Namun, perlu juga memisahkan pertanyaan-pertanyaan di atas untuk
menciptakan proses yang lebih terkendali. Meski proses ini dilalui
secara lebih simultan ketimbang bertahap, rangkaian sistem yang
tersaji adalah logis. Kita biasanya sudah punya kesan apakah sebuah
laporan itu lengkap, sebelum memutuskan apakah ia bisa dipercaya;
kita biasanya melihat sumber yang dipakai sebelum menguji bukti-
bukti yang mereka berikan.
Hanya ada satu konsep untuk memandu pencarian kebenaran.
Para ilmuwan, praktisi hukum, intelektual profesional, dan jurnalis
berbagi definisi dasar tentang arti “kebenaran”. Bagi mereka, ke-
benaran adalah tentatif, yang juga empiris.
Kebenaran adalah kesimpulan dari apa yang paling mungkin ter-
jadi, berdasarkan proporsi bukti yang tersedia saat itu.5
Kebenaran juga berevolusi sepanjang waktu terkait dengan
bukti baru. Kebenaran, dalam pengertian upaya memahami kehidu-
pan publik, juga merupakan proses yang kian bening dari waktu ke
waktu. Ini sama seperti pemahaman ilmu pengetahuan.
(Misalnya, Pluto pernah dianggap sebagai planet, tapi pada tahun
2006 para ilmuwan menyatakan dia sebagai planet kerdil, yang tak
mendominasi area sekitar orbitnya seperti layaknya planet.) Apa
yang seharusnya memandu cara berpengetahuan skeptis, penanda
sebuah karya bisa dipercaya atau tidaknya, adalah sejumlah upaya
yang bisa kita deteksi atas adatidaknya upaya wartawan dan pre-
senter menyisir sumber dan bukti, dan apakah mereka melakukan-
nya dengan pikiran terbuka dan skeptis.
Jika mereka melakukan semua itu, harapan bahwa kita bisa tahu
lebih banyak mengenai sumber, bukti, dan proses wartawan, pun
membesar. Selama bertahun-tahun, wartawan cenderung pelit me-
nyajikan informasi tentang sumber. Fakta bahwa kantor berita
terpercaya menganggap sebuah sumber layak dikutip, sering dini-
Cara Berpengetahuan Skeptis: Ketrampilan Verifikasi 35

lai cukup. “Hey, koran atau jaringan berita TV tak akan mengutip
seseorang jika mereka tak menganggap dia tahu apa yang dia katakan,
bukan?” Kita cenderung percaya. Ingat Walter Cronkite, yang dalam
jajak pendapat era 1970-an terpilih sebagai “orang terpercaya di
Amerika,” mengakhiri siaran berita dengan kalimat penutup “Dan
begitulah adanya.” Dan kita mempercayai kata-kata Walter.
Masa lalu yang sudah lewat itu mungkin lebih cocok disebut
sebagai era berita “percayalah kepada saya.”
Kini, ketika berita datang dari beragam sumber, dengan bermacam
gaya dan bentuk, dari wartawan dan non-wartawan, kita butuh
sesuatu yang lebih. Kita harus tahu kenapa kita layak mempercayai
sumber-sumber yang menawarkan atau mengomentari fakta. Kini
kita cenderung berpikir, “beri saya cukup informasi untuk menilai
sumber-sumber itu sendiri.”
Apa yang kita lakukan saat ini, dengan kata lain, bisa dianggap
sebagai era berita “tunjukkanlah kepada saya.”
Perhatikan bahwa “saya” dalam dua era itu sudah bergeser.
“Saya” dalam “percayalah kepada saya” merujuk pada wartawan.
“Saya” pada “tunjukkanlah kepada saya” merujuk pada audiens, kon-
sumen berita. Ini merefleksikan pergeseran kekuatan di era digital
dari wartawan sebagai penjaga gawang ke konsumen atau warga
sebagai editor untuk diri sendiri. Pergeseran itu memberi konsumen
atau warga tanggung-jawab lebih besar untuk mengadopsi dan
menyempurnakan cara skeptis untuk tahu.
Buku ini, dan tradecraft dari berpengetahuan skeptis yang di-
tekankan di dalamnya, bisa dianggap sebagai formula konsumen un-
tuk era “tunjukkanlah kepada saya” dalam kehidupan warga bangsa
dan publik.

Konten Macam Apa Ini?

Langkah pertama untuk upaya ini adalah orientasi: mengenali konten


macam apa yang anda cari. Dalam belantara kultur media yang ter-
buka dan campur-aduk, label informasi seringkali menipu ketimbang
mencerahkan. Dan tak semua yang ditemukan di media publik adalah
berita, meski ia dilabeli demikian. Begitu juga, tidak semua berita itu
sama. Kini, merek macam CNN atau NBC News bukanlah jaminan nor-
ma, nilai, atau pendekatan bermutu.
Kini, kita mungkin menemukan model penyampaian berita yang sa-
36 Blur

ling bersaing, dengan beragam nilai yang tersirat, meski dalam kanal
berita sama, di situs web sama, dan bahkan di satu program TV.
Ini menjadi tantangan nyata bagi siapapun yang ingin tahu apa
yang bisa dipercaya, tetapi juga mengawali proses untuk mengetahui
apa yang bisa dipercaya.

Konten macam apa yang saya temui?

Dalam sebuah kelas tentang melek berita mahasiswa State Uni-


versity of New York di Stony Brook, mantan editor koran Howie
Schneider menyebut evaluasi ini sebagai “kenali lingkunganmu.”
Schneider mengingatkan mahasiswa untuk terlebih dahulu mengi-
dentifikasi apakah yang mereka lihat dan dengar adalah berita, pro-
paganda, iklan, kehumasan, hiburan, atau informasi mentah.
Garis di antara tipe-tipe media ini kabur. Iklan menempel di film
melalui penempatan produk. Proyek jualan menempel dalam pro-
gram wawancara selebritas yang mengupas sebuah film atau buku.
Ekosistem berita terpecah ke model berita berbeda dengan nilai dan
tujuan berbeda. Dan sebagai konsumen, kita harus mengenali.
Kami mengidentifikasi ada empat model berbeda:

• Jurnalisme verifikasi, model tradisional yang menempatkan


nilai tertinggi pada akurasi dan konteks.
• Jurnalisme pernyataan, model lebih baru yang meletakkan
nilai tertinggi pada kecepatan dan volume, dan karenanya
cenderung jadi kanal informasi pasif.
• Jurnalisme pengukuhan, sebuah media politik baru yang
membangun loyalitas bukan pada akurasi, kelengkapan,
atau verifikasi melainkan mengafirmasi apa yang diyakini au-
diens, sehingga cenderung menjadi infomasi menjemput bola
demi tujuan itu.
• Jurnalisme kaum kepentingan, yang mencakup situs web atau
karya, seringkali investigasi, yang biasanya didanai pihak
khusus yang berkepentingan dan bukan oleh institusi media,
dan dikemas menyerupai berita.

Anda mungkin bertanya-tanya tentang format media baru sep-


erti pengepul berita (aggregation), blogging, jejaring sosial, tweet,
Cara Berpengetahuan Skeptis: Ketrampilan Verifikasi 37

dan SMS, yang juga akan kami singgung. Namun, semua itu adalah
bentuk atau kegiatan komunikasi–bukan model konten. Dan karena
bentuk dan kegiatan ini menyebarkan informasi instan lewat internet,
mereka mungkin masuk di empat model konten di atas.
Lebih jauh lagi, di mana pun kita menemukan berita, ia mungkin
berasal dari salah satu model ini sekarang–berita utama tradisional
di stasiun radio diikuti bincang-bincang politik yang tak lebih dari
afirmasi partisan. Kita mungkin menonton berita TV yang seolah dil-
aporkan mendalam tapi disambung propaganda politik yang menya-
ru berita. Beberapa media menyajikan model konten lebih dari satu.
Tugas kita, sebagai konsumen, adalah mengevaluasi tiap isi–tiap
kisah atau segmen wawancara–sendiri, walau kita mungkin meng-
hakimi sebuah saluran berita, acara, atau publikasi berdasarkan sifat
dasar mereka menyediakan tumpukan konten. Dan tentu ada bentuk
cangkokan di media baru–situs web yang mencampur konten parti-
san dan jasa penyedia berita online tradisional.
Semua ini membuat kita tahu cara membedakan kepingan isi yang
berbeda-beda secara lebih kritis, karena jenis dan kualitas informasi
yang kita temukan makin banyak menempel kepingan isi. Kita tak lagi
bisa sepenuhnya menggantungkan kepercayaan pada nama institusi
berita. Dengan memahami dan mengenali model-model berbeda ini-
lah kita bisa mengenali apa yang kita lihat. Langkah pertama yang
terpenting adalah memahami, membangun ulang, dan mengenali apa
yang kita bisa percayai.
Dalam beberapa kasus, orang yang memproduksi bahan-bahan
itu bahkan tak peduli model apa yang mereka pakai, karena mereka
menyesuaikan diri dengan teknologi baru, meraba-raba untuk mem-
pertahankan audiens, berupaya melakukan inovasi, dan tunduk pada
tekanan finansial.
Tak ada aturan media. Tak ada hukum yang mensyaratkan
label. Amandemen Pertama melindungi hak semua orang di Amerika
untuk bebas menulis dan menyiarkan. Apa yang kita hadapi dalam
budaya media adalah sebuah fungsi kebebasan arus informasi dan
sebuah pasar untuk audiens yang tenggelam dalam arus informasi
intens dengan sedikit norma umum. Di pasar ini, sebagaimana kita
memungut dan memilih menonton salah satu program TV kabel, on-
line, kotak email, dan di manapun, kita menciptakan paket berita kita
sendiri. Dan hampir semuanya mengklaim diri mereka benar.
Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa mengidentifikasi
38 Blur

jenis berita tidaklah relevan. Informasi bermanfaat bisa datang dari


mana saja dan kapan saja. Gagasan tentang kategori dan label adalah
aneh dan kuno. Siapa peduli asal informasi dan bagaimana ia dilapor-
kan? Jika bermanfaat, ia punya nilai.
Argumen tersebut sepintas tampak menarik. Definisikan ulang
parameter diskusi, dan ‘cling!’, masalah itu lenyap.
Namun dalam dunia nyata, konteks menjadi penting. Jika infor-
masi disajikan sesuai fakta dan tak memihak, anda memiliki satu set
harapan. Jika disajikan dengan analisis atau argumen, anda memiliki
ekspektasi lain. Ketika menemukan sebuah berita, anda akan ber-
harap ada gambaran independen atas apa yang terjadi, dengan fakta-
fakta dasar yang tersaji dengan cara yang bisa diterima umum. Jika
ada kontroversi, anda berharap mendapat uraian dasar dari sudut
pandang berbeda. Ketika mendapati analisis atau argumen, anda bisa
saja tak terlalu berharap pada kelengkapan deskripsi yang tersedia.
Namun, anda cenderung berharap argumen itu diuraikan lebih leng-
kap, dengan banyak bukti di belakangnya dan mungkin beberapa
antisipasi dan respon terhadap berbagai keberatan yang mungkin
muncul dari audiens.
Mari kita lihat dekati model-model berita ini sehingga bisa cepat
mengetahui pertanyaan apa yang diajukan untuk menaksir nilai dan
kebenaran informasi.

Jurnalisme Verifikasi

Apa dipikirkan kebanyakan orang tentang jurnalisme, atau berita


tradisional, adalah apa yang kami sebut jurnalisme verifikasi. Model
ini berakar pada jurnalisme profesional pertama pada abad 17, mulai
berkembang pada akhir abad 19, dan menjadi lebih baik pada abad
20. Ia menempatkan nilai tertinggi dalam mendapatkan sesuatu den-
gan benar–fakta di atas opini.
Mungkin ciri etos jurnalisme verifikasi terbaik hanya bisa dite-
mukan di City News Bureau di Chicago, yang diajarkan kepada para
reporter muda penuh cita-cita di mana mereka diasah untuk kuatir
jika mendapatkan sesuatu secara salah. CNS, agensi berita kerjasama
pertama di Amerika, meliput berita lokal. Ia jadi terkenal dengan ak-
sioma yang menangkap skeptisisme kuno dosen tua di sana, yang tak
menerima apapun begitu saja dan meneror tiap mahasiswa untuk
menguatkan dan memverifikasi tiap pernyataan yang bahkan sering
Cara Berpengetahuan Skeptis: Ketrampilan Verifikasi 39

ditemukan: “Nak, jika ibumu bilang dia mencintaimu, verifikasilah.”


Harapan akan situasi penuh kebenaran menjadi penanda awal
pers modern yang dibangun bersamaan dengan pemerintahan
demokratis. Suratkabar pertama yang teridentifikasi, diterbitkan
pada abad 19 di Inggris, berjanji akan bersandar “pada kecerdasan
paling pasti dan terbaik.”6 Di negeri seberang, editor suratkabar
pertama Prancis berjanji “tak tunduk kepada siapapun” dalam men-
cari “kebenaran” laporan mereka.7 Sebagaimana pers Amerika mu-
lai muncul dari partai politik pada abad 19, yang mengumbar sen-
sasionalisme untuk membangun audiens, “jurnalisme kuning” Joseph
Pulitzer dan William Randolph Hearst juga menjanjikan akurasi pada
pembacanya, bahkan terkadang lebih banyak menyodorkan impresi
ketimbang realitas.8 Ketika jurnalisme mulai menderita krisis keper-
cayaan diri, akibat terpecah-pecahnya teknologi dan turunnya keper-
cayaan pada awal abad 21, akurasi dan verifikasi menjadi upaya inti
masyarakat melek berita untuk mendapatkan kembali maksud dan
makna. Pada tahun 2000, misalnya, ketika Committee of Concerned
Journalists mensurvey wartawan tentang nilai apa yang menurut me-
reka terpenting dalam profesi, 100% menjawab, “mendapatkan fakta
yang benar.” Memilah informasi akurat di antara yang keliru men-
jadi tujuan jurnalisme tradisional sepanjang sejarah sehingga ketika
kami menyusun nilai-nilai profesi itu dalam buku kami The Elements
of Journalism, kewajiban wartawan pada kebenaran muncul sebagai
prinsip pertama.
Ketika kebenaran sedang dipertaruhkan, mereka yang mencita-
citakan jurnalisme verifikasi melakukan proses lebih keras untuk ber-
hati-hati dan menjelaskan proses verifikasi mereka. Pada tahun 1939,
ketika perang dunia II menyapu Eropa, New York Times meyakinkan
pembaca untuk mempercayai berita luar negeri yang membanjiri
suratkabar itu tiap hari. Times memasang iklan sehalaman penuh
dalam rubrik laporan luar negerinya, menjelaskan bagaimana sali-
nan berita luar negeri diterima dan diedit, lengkap dengan contoh
yang dimuat.
Selanjutnya di abad ini, ketika dasar intelektual jurnalisme kian
jelas, ide soal akurasi menjadi lebih baik. Hanya menerbitkan fakta
tidak ladi dianggap cukup. Konteks, jejak dari fakta yang diciptakan,
dan bagaimana jurnalistik menghadirkan mereka juga harus akurat.
Pada tingkatan tertentu, ketika orang menemukan berita, mereka
mengharapkan jurnalisme verifikasi. Ini adalah berita dalam ben-
40 Blur

tuk paling sederhana–mengabarkan apa yang baru–yang mereka ba


yangkan sedang mereka temui.
Jurnalisme verifikasi menempatkan nilai tertinggi pada
kelengkapan: menjawab pertanyaan bahwa fakta sebuah peris-
tiwa bisa membantu dan mencoba meletakkan fakta itu dalam
konteks lengkap sehingga mereka bisa memahami seperti apa
kejadiannya. Jurnalisme verifikasi berhasrat memenuhi syarat
pertama berita, sebagaimana diperkenalkan Commission on
Freedom of the Press, yang dikenal dengan Hutchins Commis-
sion, pada tahun 1947: memberikan “sebuah laporan yang
benar, komprehensif, dan cerdas mengenai kejadian sehari-hari
dalam konteks yang bermakna.” Laporan itu selanjutnya me-
ngatakan, “syarat pertama adalah media musti akurat. Me-
reka tak boleh bohong.” Dan, fakta harus disajikan dengan cara
“yang bisa dipahami. Tak lagi cukup melaporkan fakta sebenar-
benarnya, kini penting untuk melaporkan kebenaran soal fakta.”
(Cetak miring seperti dalam laporan asli.)
Bagaimana kita bisa mengenali jurnalisme verifikasi tradi-
sional ini? Tanda dasarnya yang bisa disebutkan adalah ini:
lihat upaya verifikasinya. Perangkat pengujian berita ini meli-
batkan keberagaman sumber dan skeptisisme atas apa yang me-
reka katakan, dan bukti para wartawan tak menelan semuanya
mentah-mentah, melainkan melalui proses penggalian untuk
masuk lebih dalam.
Cari sinyal-sinyal jelas kepada audiens ketika liputan cen-
derung spekulatif dan bukti-buktinya lemah.
Cari informasi yang tak mengklaim memiliki semua jawaban.
Cari berita yang jelas mengisyaratkan apa yang belum di
ketahui. Dan cari berita yang mempertahankan batas jelas an-
tara fakta dan analisis (atas fakta tersebut) menjadi makna.
Dengan kata lain, carilah empirisme dan kerendahan hati.
Pendek kata, jurnalisme verifikasi adalah jurnalisme yang
menyajikan jawaban terlengkap atas pertanyaan yang kita ajukan
melalui cara berpengetahuan skeptis. 9

Jurnalisme Pernyataan

Setahap demi setahap, hampir tak kentara , pada tahun 1980-an dan
tahun 1990-an jurnalisme verifikasi yang telah menjadi lebih baik
Cara Berpengetahuan Skeptis: Ketrampilan Verifikasi 41

pada awal abad 20 mulai kehilangan pijakan untuk beberapa model


berbeda.
Budaya berita selanjutnya, yang umumnya hidup dan diban-
gun di atas pengumpulan berita yang spontan dan bergerak cepat,
mulai terbentuk. Bias yang tak terhindarkan dari budaya berita
24 jam sehari dan 7 hari seminggu ini ialah bahwa ia mementingkan
aspek pengumpulan dan pengiriman informasi secepat mungkin. Itu
merupakan keunggulan kompetitif teknologi. Namun keunggulan ini
juga mengurangi aspek pemeriksaan informasi sebelum ia diberita-
kan. Dan ini membuat narasumber bisa dengan mudah menyatakan
apapun seenak udelnya, dengan pemeriksaan dan penyaringan
minim.
Benih pertama model baru itu, jurnalisme pernyataan, muncul di
saluran kabel yang berdiri di Atlanta, Georgia, yang awalnya kurang
diperhitungkan. Ironisnya, cita-cita Cable News Network, atau CNN,
adalah mereka-reka ulang gaya dan etos operasi jaringan berita TV
seperti yang dilakukan lembaga penyiaran tua CBS. Tanpa sadar dan
tanpa sengaja, CNN justru menciptakan sesuatu yang lain.
Sebagian perubahan itu terjadi pada peran teknologi dan kecepa-
tan. CNN terus mengudara dan siaran langsung; 1.440 menit setiap
hari, yang menyisakan sedikit waktu untuk memeriksa berita–
terutama untuk 22 menit berita petang di jaringan tersebut. Seba-
gian lain, model baru itu menjalankan peran ekonomis. Karena jum-
lah outlet berita yang ditawarkan meningkat dan berkembang men-
jadi program baru, sumber daya manusia yang dipakai sering kali
terbatas–makin sedikit orang memeriksa fakta. Faktor lain juga ber-
peran. Pada masa awal operasi, CNN (sering diplesetkan sebagai
“Chicken Noodle News”), ada kesan kuat bahwa teknologi adalah
bintangnya, bukan presenter berita atau wartawan. Tak pelak lagi,
para praktisi menggunakan teknologi untuk siaran langsung terus-
menerus untuk melihat apa yang bisa dilakukan. Di ruang kontrol,
Direktur CNN Bob Furnad gemar menayangkan gambar-gambar
beragam, yang seringkali belum diperiksa.
Tujuan salah seorang pendiri CNN Ted Turner adalah mencip-
takan kanal TV yang menyediakan berita eksklusif dari seluruh
dunia secara terus-menerus, begitu suatu peristiwa terjadi. Keung-
gulan teoritis konsep ini jelas. Audiens tak perlu lagi menunggu
berita malam atau koran besok untuk mendapat berita. Para wartawan
bisa mendapatkan kabar dan segera melaporkannya. Tiap wawan-
42 Blur

cara baru atau informasi mentah bisa menjadi berita utama. Setiap
beberapa menit muncul deadline baru. Ini adalah perpacuan
adrenalin. Berita tampak organik. Reese Schonfeld, salah seorang
pendiri CNN bersama Turner, menyebut dirinya sebagai “profesional
berita” jaringan, mengingat etos ini: “Berita siaran langsung tak per-
nah jadi tujuan jaringan. Siapa yang tahu bagaimana ia akan bekerja?
[Namun] siaran langsung adalah aset berharga kami. Jika kami tahu
di mana harus meletakkan kamera, jika kita memperkirakan dengan
benar, maka seluruh dunia akan menonton.”10 Teknologi, dengan
kata lain, bukan hanya alat; ia adalah sistem.
Pada 1990, Turner berkata, “Di CNN, kami menjadi satu-satunya
jaringan yang bisa menyorot seorang koresponden di depan kamera
dan bilang, ‘Kami berada di sini, dan tak ada apa-apa’.”11
Yang lolos dari catatan praktisi adalah mereka mengubah total
nilai dan kerangka berpikir, jika pada awalnya hanya sedikit. Tak di-
ragukan lagi mereka menjadi lebih baik ketika tumbuh besar dan ma-
pan. Namun menempatkan nilai tertinggi pada upaya mendapatkan
berita di luar sana berarti mengurangi nilai pemeriksaan dan proses
memperoleh berita secara benar.
Kebanyakan jaringan berita TV kabel merupakan siaran langsung.
The Project for Excellence in Journalism secara konsisten menemu-
kan sekitar 60% dari seluruh program berita TV kabel tidak memiliki
persiapan dan tak ditulis. Di sisi lain, kurang dari 10% siaran berita
petang yang merupakan siaran “langsung” atau tanpa persiapan, se-
mentara 92% diedit. Perbedaannya sangat besar. Dalam paket berita
yang direkam dan diedit, wartawan bisa memeriksa dan memveri-
fikasi fakta yang mereka persembahkan. Gambar dan narasi—dua
elemen yang menciptakan koherensi dan pemahaman—bisa diga-
bungkan untuk membuat makna yang jelas. Para koresponden dan
produser bisa memeriksa kata yang dipakai untuk mengontektual-
isasikan berita suara guna memastikan penyampaian arti yang benar.
Dalam berita TV kabel, secara virtual semua kapasitas itu bukan han-
ya kurang bukti, tapi juga tak ada, di tengah banyaknya jam tayang.
Bahkan sebelum era talk show opini, TV kabel memiliki semuanya
tetapi meninggalkan elemen utama berita TV: berita yang tertulis
dan diedit, di mana naskah disiapkan sebelum mengudara dan gam-
bar dicocokan dengan kata-kata dan artinya. 12
Dampak semua ini sangat besar. Dalam jurnalisme pernyataan,
apa yang semula merupakan bahan-bahan kasar jurnalisme—de-
Cara Berpengetahuan Skeptis: Ketrampilan Verifikasi 43

sas-desus, sindiran, dugaan, tuduhan, tuntutan, perkiraan, dan


hipotesis—disampaikan pada audien secara langsung. Bahan kasar
itu menjadi produk. Pelan-pelan, setahap demi setahap, dan sesegera
mungkin, aspek daya tarik dan provokatif pun menjadi poin utama.
Bagaimana seseorang bisa mengenali jurnalisme pernyataan?
Tandanya mudah dikenali. Jurnalisme jenis ini secara fundamental
sama seperti stenograf (teknik menulis cepat). Wartawan bertindak
sebagai penyalur berita, dan ketergantungan pada sumber dan pem-
buat berita adalah jantung persoalan. Ada kepasifan akut.
Di televisi, di media cetak, atau online, tanda utama jurnal-
isme pernyataan adalah para pembuat berita mengutip ulang inti
pembicaraan tanpa diuji.
Tengoklah klaim senator Arizona Jon Kyl di CNN pada awal
1999 yang mengatakan reformasi layanan kesehatan Obama “akan
berujung pada pemangkasan US$500 miliar anggaran kesehatan.”
Benarkah? Presenter berita John King tidak memeriksa, sebab CNN
ingin pindah ke segmen selanjutnya: “Kita kehabisan waktu hari ini,”
katanya.
Lihat juga moderator yang hanya bisa menonton para tamu
saling bicara dengan bergairah, tapi malah akhirnya membin-
gungkan atau bahkan menjadi perdebatan sengit tak berujung. Di
program Meet the Press NBC, ada acara bincang-bincang
liberal di mana mantan pemimpin Republican House Dick Armey
bertengkar dengan sang pemandu acara Rachel Maddow, tentang iklan
kelompok liberal MoveOn.org yang membandingkan George W. Bush
dengan Adolf Hitler.
“Mereka tak pernah melakukannya,” bantah Maddow.
“Mereka melakukannya,” ujar Armey sengit.
“Mereka tak melakukannya,” ulang Maddow.
Pembawa acara Meet the Press David Gregory membuka program
dengan janji, “pagi ini, diskusi khusus selama beberapa jam akan
menunjukkan pentingnya layanan kesehatan.. membedakan antara
fakta dengan fiksi dalam perdebatan itu.”
Mirip iklan bukan? Gregory tak pernah mensortirnya. Atau
apakah Armey benar saat dia bilang, “Para lansia kini ditanggung
Medicare—program kesehatan federal untuk orang jompo—Mereka
tak punya pilihan. Mereka tak bisa keluar dari situ tanpa dihukum
pemerintah.”13 Gregory tak memeriksa. Segera dia pindah ke
44 Blur

Maddow dan bilang, “Rachel?” yang melanjutkan diskusi tentang


hal lain. 14
Saksikan juga tingkah analis, terutama yang berlatar belakang
partisan, yang membuat generalisasi dalam menganalisis tan-
pa ditentang. Pada akhir Juli 2009, Lawrence O’Donnel, analis
Partai Demokrat muncul di Morning Joe, sebuah acara di MSNBS,
yang menaksir masa depan politik Sarah Palin pasca-pengunduran
diri dari posisi Gubernur Alaska.
“Tak ada misteri untuk masa depan politiknya,” kata O’Donnnell,
“Kita punya sejarah mapan soal ini. Saat anda kalah dari kandidat
wakil presiden Amerika, karir anda berakhir. Tamat. Di era TV, orang
yang kehilangan posisi wakil presiden tak memiliki tempat lagi dalam
politik. Tak ada satu pun.’
Benarkah? Tidak. Namun dalam perbincangan penuh ketergesaan
itu, tak seorang pun dari dua wartawan yang ada membongkar ke-
salahan mencolok O’Donnell. Bahkan tanpa perlu repot mempelajari
sejarah, cukup absurd mengatakan dua kandidat utama wakil pre
siden, satu baru saja menjabat dan lainnya sedang menjabat tak-
kan jadi “apapun lagi dalam politik.” Robert Dole asal Kansas, calon
wakil presiden 1976 yang kalah, selanjutnya jadi pemimpin may-
oritas dan lantas pemimpin minoritas Senat. Selama bertahun-ta-
hun, dia termasuk di antara pembuat undang-undang yang paling di
hormati dan disegani di Amerika. Mungkin tak ada legislator lain di
generasinya, selain Edward Kennedy, yang menandatangani begitu
banyak undang-undang atau mengubah begitu banyak kehidupan
warga Amerika. Pada 1996, Dole terpilih memimpin partainya menu-
ju kursi presiden.
Kini, Joe Lieberman dari Connecticut masih di Senat setelah kalah
dalam perebutan kursi wakil presiden di pemilu 2000 dan akhirnya
menjadi Ketua Homeland Security and Government Affairs Committe,
yang juga berpengaruh di kedua partai nasional. Dia jadi pembelok
suara terpenting dan kartu truff yang mengusung pemimpin senat
John McCain dari Partai Demokrat ke Partai Republik.
Budaya ketergesaan juga telah mengubah hubungan antara peli-
put dan pembuat berita. Kekuatan diserahkan dari wartawan yang
memproduksi isi, beralih ke sumber informasi tempat mereka ber-
gantung untuk mengisi jam siaran. Dalam jurnalisme pernyataan,
sumber menduduki posisi untuk mendikte terms of use pemberitaan.
Cara Berpengetahuan Skeptis: Ketrampilan Verifikasi 45

Itulah mengapa pejabat dan narasumber yang mencoba mengon-


trol pesan ke publik memilih tampil di siaran langsung. Mereka bisa
mengatakan apapun seenak udel, pidato panjang, memelintir, ber
bohong, menempatkan pembawa acara pada posisi takzim me-
nyimak kebohongan itu, tapi secara bersamaan berupaya seterampil
mungkin menunjukkan poin kebohongan itu secara elegan. Masalah
ini jauh lebih serius dari yang mungkin terlihat.
Jurnalisme pernyataan seperti ini minim saringan dan me
nyampaikan apa adanya. Orang yang mungkin memanipulasi
laporan (dalam hal ini, sumber) memiliki pengaruh lebih, kekuatan
lebih. Inilah beda antara wawancara langsung dengan yang telah
diedit. Tentu berbeda antara menyiarkan konferensi pers secara lang-
sung dan memeriksa ulang rekaman dan memilah kutipan yang aku-
rat. Bahkan jika seseorang meragukan kemampuan wartawan mem-
verifikasi atau menengahi fakta dari pernyataan, atau tak percaya
tugas ini dijalankan dengan baik sebelumnya, dan bahkan jika sebuah
organisasi berita tak lagi mau mencoba, kita perlu sadar bahwa tugas
ini diabaikan dan kita harus melakukannya sendiri. Organisasi berita
cenderung tidak mau mengakui ini.
Pada akhir 1990-an, jurnalisme pernyataan menikmati masa jaya,
meski saat itu hanya ada satu kanal berita TV kabel. Ia kian mendapat
tekanan dengan munculnya internet dan pertumbuhan kanal berita
TV kabel baru. Kecenderuangan siaran dulu dan belakangan melihat
reaksi audien sebagai acuan verifikasi pun menjadi standar, yang
bahkan diikuti website media senior.
Web menciptakan peluang organisasi kompetisi berita kilas
yang sebelumnya terbatas pada media cetak dan kurang banyak
ditampilkan. Lewat online, koran bisa menyaingi TV, radio dan TV
kabel sebagai sumber siaran langsung. Website New York Times
bisa menayangkan kisah besok di Timur Tengah di laman situs mer-
eka pada pukul 09.00 di East Coast. Karena ruang berita cetak me-
nyusut, di tengah berkurangnya staf, mereka mengurangi lagi editor.
Pada 2008, misalnya, Washington Post membuat “peraturan dua kali
pegang.” Tiap berita hanya dipegang dua pihak antara reporter
kepada editor untuk diturunkan di online dan cetak. Editing tamba-
han dinilai mahal dan memperlambat.
Kondisi baru di ruang berita itu disoroti editor Clark Hoyt, yang
kemudian menjadi editor umum New York Times, dalam kolom
46 Blur

opini seputar pertukarannya dengan Joe Sexton, editor desk metro,


soal posting Times yang memberitakan Edward Kennedy.
“Kupikir kita tidak seharusnya diarahkan untuk membuang
beberapa aturan atau standar demi ketergesaan,” kata Sexton, “dan
secara umum kupikir kita tidak melakukannya.” “Itu benar,” jawab
Hoyt. “..untuk sejauh ini. Namun koran memang punya deadline, dan
wartawan bekerja sepanjang hari mengejarnya. Web tak punya dead-
line, selain kekhawatiran bahwa seseorang di luar sana mengejarmu
untuk mendapatkan berita, dan kamu harus segera menyiarkannya.”15
Berita diangkat di media online, dan para blogger menulisnya den-
gan cepat untuk mengorganisasi berita mereka yang mungkin men-
jadi cerita lebih penuh hari berikutnya. Kebanyakan, laporan ini
tak diedit. Pada penelitian koran 2008, the Project of Excellence in
Journalism mencatat di antara blog milik wartawan sendiri, hanya
18% yang isinya diedit dulu sebelum dipublikasikan.
Bisa dipahami, bias mengejar kecepatan di atas akurasi ini terkait
dengan sifat dasar teknologi yang dipakai. Ini mirip dengan hukum
fisika dalam dunia berita dan informasi: kecepatan, dalam berita,
adalah musuh akurasi. Semakin sedikit waktu yang dimiliki untuk
memproduksi sesuatu, makin banyak pula kesalahan di dalamnya.
Platform semacam TV kabel dan blog realtime sangat berorientasi
pada pengiriman informasi secara instan hingga tak ada waktu untuk
memilah.
Praktisi jurnalisme pernyataan, pada taraf di mana mereka sadar
untuk itu, menilai ada pemilahan pascapenerbitan. Dengan lebih ban-
yak sumber, mereka mengklaim, kebenaran akan tersortir berkali-
kali—mungkin lebih akurat dari yang pernah terjadi di jurnalisme
verifikasi sebelumnya. Ini mungkin bisa disebut pandangan pasar
murni atas kebenaran dan akurasi. Dalam argumen ini, tersirat mak-
na bahwa kebenaran pada akhirnya bisa menemukan cara sendiri
untuk nongol. Dalam praktiknya, yang terjadi tidak demikian. Ke-
benaran pasar muncul jika ada penyelidikan sehat dan panjang atas
subyek berita. Faktanya dalam transaksi berita, perhatian pers dan
publik, mungkin secara mayoritas, cukup bergerak saja—dan di era
penuh klaim, pergerakan ini cenderung kian cepat.
Persoalan kedua di argumen soal perspektif kebenaran pasar ini
adalah misinformasi yang masuk ke pasar sering kali hanya cukup
digeser berkali-kali dalam konteks yang mungkin berguna di luar
ranah kejadian politik dan terkadang jurnalisme sendiri. Pemerin-
Cara Berpengetahuan Skeptis: Ketrampilan Verifikasi 47

tahan Bush pada 2002 dan 2003, misalnya, meyakini Irak mengem-
bangkan senjata pemusnah masal. Dalam suasana dukungan politik
untuk berperang melawan Irak, pers menulis besar-besaran tanpa
menguji pernyataan itu, meski beberapa reporter dan organisasi
berita melakukannya. Kebenaran soal senjata pemusnah massal itu
baru mengemuka bertahun-tahun kemudian, setelah makna politis
atas kebenaran itu bergeser. Dalam jurnalisme pernyataan, kesala-
han seperti itu kian jamak. Hal yang sama mungkin bisa dikatakan
berlaku perihal sebab-akibat resesi sekarang atau debat soal refor-
masi layanan kesehatan. Sumber berita berada di posisi mapan dan
otoritas resmi memiliki posisi tawar lebih kuat. Lebih mudah bagi
mereka memberi informasi keliru. Toh, para wartawan hanya me-
nyediakan sedikit waktu untuk mengecek fakta dari narasumber dan
mengalokasikan lebih banyak waktu untuk sekadar mengatur konten
sebelum disebarkan. Pers lebih berperan sebagai penyampai, corong
narasumber mereka. Karena jurnalisme pernyataan ini berkembang,
tendensi itu pun tumbuh bersamanya, menjadi lebih dari persoalam
tentang apa yang kita tahu dan bagaimana kita tahu itu.
Tantangan bagi mereka yang memproduksi berita, dan bagi kon-
sumen, adalah menggunakan nilai manusiawi untuk melawan bias
yang melekat dalam teknologi media sekarang. Orang-orang yang
terlibat musti menyatakan nilai akurasi dan verifikasi. Tak terelak-
kan lagi, jurnalisme verifikasi akan memudar. Dan teknologi cender-
ung berlari ke sana, kecuali ada tekanan untuk menekannya.
Memang, informasi instan memiliki nilai tersendiri. Ada bebera-
pa kejadian yang kita sekadar ingin lihat atau dengar, meski dalam
bentuk ringkas: Apa isi pidato presiden di Timur Tengah? Bagaima-
na bursa ditutup? Apa tim saya menang? Apakah juri menjatuhkan
sanksi di pengadilan itu? Apa yang terjadi dalam konferensi pers?
Apa rongsokan pesawat itu ditemukan? Apa headline terbaru?
Namun ini kategori cerita yang terbatas, dan penyebaran infor
masi demikian—siaran langsung pidato presiden atau konferensi
pers atau video kejar-kejaran polisi di jalan tol—lebih merupakan wu-
jud peranan teknologi ketimbang jurnalisme. Selanjutnya, kita butuh
informasi tambahan: kenapa tim saya kalah? Apakah tuduhan dalam
konferensi pers itu benar? Bagaimana audiens di Kairo merespons
pidato presiden?
Dalam jurnalisme pernyataan, para reporter, penyiar, dan koor-
dinator liputan TV jarang memberi jawaban. Mereka menyodorkan
48 Blur

diskusi, mengajukan pertanyaan. Namun alih-alih menemukan jawa-


ban, yang terjadi pada dasarnya adalah pergeseran mind-set men-
jadi perdebatan para sumber partisan. Poin pembicaraan dari kedua
belah pihak disajikan—meski sering kali hanya diwakili pihak yang sa-
ling bertentangan saja. Seringnya, tak ada uji akurasi atas poin
pembicaraan mereka.

Jurnalisme Pengukuhan

Seiring dengan terbukanya akses peliputan berita, sebuah mo-


del jurnalisme muncul. Meski sekilas punya akar di masa lalu, tapi
faktanya model jurnalisme ini—dalam berbagai hal—terbilang baru
dan berbeda dari model apapun sebelumnya.
Ia adalah berita neopartisan—dari bintang talk show yang di-
posisikan sebagai koordinator liputan TV, dari segmen siaran satu
sisi atau berat sebelah, dan fakta yang memihak. Kami menyebutnya
jurnalisme pengukuhan karena sifatnya mengejar penegasan atas
prasangka audien, meyakinkan mereka, meraih loyalitas mereka, dan
menjadikannya sebagai sumber iklan.
Berbeda dari pers partisan abad 18 dan 19 di Amerika, yang
dikontrol tokoh politik dan dioperasikan dengan sedikit atau tanpa
keinginan untuk balik modal. Tujuan mereka adalah mengerahkan
dukungan politik, melebarkan ide, dan mempengaruhi kotak suara.
Kini, jurnalisme jenis ini bahkan muncul dalam konteks komersial.
Pemilik gerai berita ini biasanya adalah korporasi, dan penyiar
serta penulis biasanya menjustifikasi produk mereka dalam konteks
ekonomi: sudut pandang siaran atau publikasi bisa mewakili pemilik
korporasi, tapi juga tak harus selalu begitu. Sulit, misalnya, menilai
eksekutif General Electric setuju dengan progresivisme Ed Schultz
atau Rachel Maddow.
Namun secara umum, ada tujuan politis di jurnalisme penguku-
han ini. Praktisi jurnalistik model ini–baik di radio, online ataupun
I
Istilah ‘jurnalisme pengukuhan’ kami gunakan untuk menerjemahkan ‘jour-
nalism of affirmation’ guna menonjolkan nilai rasa sinisme terhadap jurnal-
isme “tidak serius” ini, yang dijalankan bukan untuk mencapai kebenaran
faktual, melainkan hanya untuk mengkonfirmasi praduga buta sehingga ter-
dengar seperti kebenaran meski semu. Menurut hemat kami, ‘pengukuhan’
lebih punya sense of mocking daripada kosa kata lain untuk menerjemah-
kan kata ‘affirmation’ seperti misalnya; ‘penegasan.
Cara Berpengetahuan Skeptis: Ketrampilan Verifikasi 49

cetak—memiliki ideologi kuat, dan seringkali manipulatif. Apa yang


mereka sajikan pada audiens biasanya tak lebih dari arena propa-
ganda, persuasi, dan manipulasi. Verifikasi bukanlah tujuan utama,
tapi tak sepasif seperti jurnalisme pernyataan. Model ekonominya
berdasarkan pada pengiriman produk berita yang memperkeras
prasangka audiens.
Akar terdekat media partisan baru komersial ini terlihat pada
meroketnya program bincang radio pada akhir 1980-an dan awal
1990-an, serta munculnya figur Rush Limbaugh. Pada 1996, ketika
Fox News diluncurkan, presiden Fox News dan mantan konsultan
politik GOP Roger Ailes menemukan realitas penting di stasiun TV-
nya itu. Ailes tahu ia tak mungkin bersaing dengan CNN, karena jum-
lah biro dan stafnya lebih sedikit. Namun Ailes, yang memulai karir
pada 1960-an sebagai produser muda talkshow aneka tema The
Mike Douglas Show, di Clevelend, Ohio, adalah produser TV brilian.
Dia menemukan fakta bahwa pendengar talkshow siang di radio bisa
dibujuk menonton program bincang radio di TV pada malam harin-
ya. Ailes sempat mencoba tapi gagal menjadikan Limbaugh sebagai
bintang TV, sebelum ia ke Fox News. Program TV sindikasi Lim-
baugh berdurasi 30 menit dan tayang pada 1992-1996 itu tak begitu
sukses. Namun di Fox News, Ailes memilih pemandu acara baru dari
presenter tenar. Satu di antaranya adalah orang lama di TV, Bill
O’Reilly, mantan koresponden jaringan berita yang setelah keluar
dari CBS dan ABC membawakan dua acara sindikasi pertunjukan tab-
loid, A Current Affair dan Inside Edition. Selain itu juga dipilih Sean
Hannity, seorang pemandu bincang-bincang radio tak ternama. Ailes
memungutnya dari Atlanta untuk diadu dengan pembawa acara lib-
eral. Beberapa acara sebelumnya, seperti The Crier Report bersama
mantan hakim dan pembawa berita CNN dan ABC Catherine Crier,
tidak bertahan.
Kolom opini secara tradisional adalah bagian dari media cetak.
Jurnalisme opini dikuasai oleh pers intelek, seperti National Review,
American Spectator, Nation dan New York Review of Books. Lembar
opini redaksi banyak diliput, dan meski mereka tak menyampaikan
berita, mereka merenungkannya.
Dalam jurnalisme pengukuhan, bagaimanapun juga, pers opini
menyampaikan berita secara langsung, dan mengomentari saat itu
juga. Breaking news, opini, dicampur dengan wawancara baru nan
cepat.
50 Blur

Pada masanya, keberhasilan Fox membangun program hiburan


opini dalam bincang-bincang radio membuka jalan bagi MSNBC men-
emukan pemercepat ambisinya menjadi jaringan opini liberal den-
gan pembawa acara macam Keith Olbermann, Rachel Maddow, dan
Ed Schultz, yang kemudian menjadi pemandu bincang-bincang lib-
eral radio No.1 di Amerika. Dan sesuatu yang baru pun membentuk
dan memoles politik AS.
Pada 1998, ahli bahasa Deborah Tannen menciptakan istilah baru
untuk wacana yang dia lihat dalam jurnalisme pernyataan. Dia me-
nyebutnya “budaya argumen,” yang berangkat dari dugaan bahwa
keberadaan oposisi bisa menuntun kita pada kebenaran.

Dalam budaya argumentasi, kritik serangan atau oposisi


bisa dikatakan sebagai hal terpenting jika tak mau menyebut-
nya sebagai satu-satunya cara merespon orang atau ide... Bu-
kan sifat alamiah otomatis dari respon ini yang saya kira perlu
diperhatikan—dan dipertanyakan. Terkadang oposisi yang
ngotot, serangan lisan yang tajam adalah wajar dan dibutuh-
kan... Yang saya pertanyakan adalah spontanitas, sifat dasar
yang mengejek dalam merespons hampir semua isu, masalah,
atau tokoh publik dengan cara permusuhan. Salah satu baha-
ya kebiasaan pemakaian retorika permusuhan adalah inflasi
omongan—ibarat anak kecil yang berteriak-teriak melolong:
yang logis dan penting untuk disampaikan malah didiamkan,
dan tersesat dalam kegaduhan aksi bantah-bantahan... Alih-
alih memperluas informasi yang bisa kita dapatkan, budaya
argumen ini justru membatasinya. 16

Dalam jurnalisme pernyataan, budaya argumen telah memberi


jalan keluar untuk sesuatu yang lain: “Budaya Jawaban.” Dalam
penjelmaan baru ini, pemandu acara tidak menampilkan gaya debat
saling serang dan juga tidak netral. Perhatian mereka bukan pada
pertanyaan yang akan dilontarkan, melainkan pada jawaban yang
telah disiapkan sebelum pertunjukan dimulai. Mereka menyuapi
audien dengan ilusi seolah sedang meletakkan sesuatu pada tem-
patnya. Mereka tak memberi informasi, sesuatu yang sudah mem-
banjiri publik. Dalam budaya jawaban, keyakinan dan keburukan
talk show radio mengemuka di program tersebut. Mereka menawar-
kan jawaban.
Salah satu daya tarik jurnalisme pengukuhan adalah respon
Cara Berpengetahuan Skeptis: Ketrampilan Verifikasi 51

atas kebingungan yang muncul dari budaya berita 24 jam/7 hari.


Secara paradoks, jika informasi datang kian cepat dan berlimpah,
maka pengetahuan pun kian susah didapat, karena kita musti men-
gayak lebih banyak fakta, pernyataan, dan bahan untuk mendapat
pengetahuan di situasi demikian. Informasi yang melimpah justru
berarti lebih banyak ketidakcocokan dan kontradiksi. Jurnalisme
pengukuhan menciptakan kesan seolah ia duduk pada tempatnya,
membantu kita mencapai kebenaran dan memahami makna di balik
berita. Daya tarik jurnalisme model ini sama dengan keamanan dan
kenyamanan yang ditawarkan iman, meski bertentangan dengan
fakta dan empirisme.
Rush Limbaugh, tokoh populer di media pada 1990-an, semu-
la mungkin tidak merasa sebagai wartawan. “Saya bangga men-
jadi seorang penghibur. Ini bisnis pertunjukan. Secara bersamaan,
saya meyakini apapun yang saya katakan,” ujarnya, di antara ber-
bagai penjelasannya soal peran yang dia jalankan. 17 Namun para
pengikutnya kemudian, dari Hannity hingga Olbermann, kadang me-
ngaku sebagai wartawan. Dalam sebuah siaran TV kabel tentang
pemilu, kontroversi pun mengemuka tentang apakah karakter seperti
Olbermann, Lou Dobbs, dan Chris Matthews layak memandu
acara (CNN sempat memasang Dobbs tapi segera menariknya kem-
bali. Pada 2008, MSNBC memakai Olbermann dan Matthews, yang
menarik kecaman dari Republiken dan dari kru berita NBC 18).
Bagaimana kita mengenali jurnalisme pengukuhan? Cobalah
lihat apakah pembawa berita mengisyaratkan dukungan ke satu sisi
argumen ketimbang yang lain. Lihat juga grafik di bawah layar
yang menegaskan pandangan tertentu yang sedang diulas, meski
suara pembawa berita terdengar netral, seperti berita pita (news
ticker) “Tea Party AS Menumbuhkan Revolusi” di program
America’s Newsroom yang ditayangkan Fox pada 6 April siang.
Bukti lain terlihat ketika pemandu acara, macam Rachel Maddow,
mengundang tamu-tamu yang sepaham dengannya. Segmen ini se-
lalu membolehkan salah satu pihak berbicara menutup program,
ketika pewawancara mengundang tamu sebagai umpan atau target.
Bukti lain bisa dilihat ketika pemandu acara menjatuhkan pembi-
cara, dengan pertanyaan yang memicu antipati, seperti; “apakah
kamu masih suka memukuli istrimu?”
Pertanyaan seperti inilah yang dipakai, misalnya, oleh Bill
O’Reilly ketika membuka wawancara 2008 dengan anggota kong-
52 Blur

gres Barney Frank di Fox News. Kenapa, kata O’Reilly, Frank tak
mundur dari posisinya di House Finance Committee mengingat
ekonomi sudah ambruk?
Frank menolak saran itu dan mengatakan bahwa fakta O’Reilly
ngawur, bahwa dirinya tak pernah mendorong orang berinvestasi
di pasar modal. O’Reilly, mungkin memilih marah. Dan pembicara-
an pun beralih jadi aksi saling serang secara personal—perkelahian
menghibur, yang menarik audien partisan tapi sebenarnya jauh dari
prinsip jurnalistik.
“Oh, jadi ini sama sekali bukan salahmu! Gila. Orang-orang
kehilangan jutaan dolar, dan itu bukan salahmu. Ayolah, dasar
pengecut. Katakan yang sebenarnya,” teriak O’Reilly pada Frank.
Frank menjawab, “Apa maksudmu dengan pengecut?”
O’Reilly bilang, “Kamu pengecut. Kamu menyalahkan orang lain,
maka kamu seorang pengecut.”
Frank menjawab, “Bill, inilah jeleknya pertunjukanmu. Kamu mu-
lai menggonggong, dan satu-satunya cara meresponmu adalah men-
jadi sekasar dirimu.”
Perbincangan penuh nada tinggi itu berlangsung beberapa me-
nit, dengan naiknya tingkat frustasi kedua belah pihak. Pada satu
titik, O’Reilly menyebut Frank, yang seorang gay, “tak cukup jantan”
mengakui kesalahan.
Jurnalisme pengukuhan adalah jagad realitas semu. Kehidupan
nyata terlalu rumit dan semrawut untuk ditumpukan pada satu ke-
berpihakan.
Beberapa orang mungkin bertanya-tanya mengapa kami me-
makai istilah jurnalisme pengukuhan. Bukankah media neopartisan
ini adalah bagian dari jurnalisme opini, seperti di National Review
atau Nation, hanya saja kini muncul di televisi dan radio?
Menurut kami, mereka jelas berbeda. Satu perbedaannya adalah
jurnalisme opini tradisional, seperti di National Review, Nation,
Harper’s, dan Weekly Standard, bertaut pada perenungan berita,
bukan berdasarkan peliputan harian, bahkan jam-jaman. Majalah-
majalah itu berupaya merenungkan dan mencerminkan makna
kejadian. Mereka juga tak berusaha memposisikan diri sebagai plat-
form netral atau reporter jujur yang memotret kejadian dari tem-
pat pertama, melakukan wawancara, menyediakan berita harian
dari sumber pertama. Dalam jurnalisme pengukuhan, peran terse-
Cara Berpengetahuan Skeptis: Ketrampilan Verifikasi 53

but dicampur-adukkan, menyuplai berita setiap hari sembari mem-


bentuk basis audien dengan opini. Sebagaimana organisasi berita,
mereka memberi harapan akan adanya peliputan komprehensif,
proporsional, dan tanpa takut akan mengalienasi atau mendukung
salah satu pihak—elemen kunci dari organisasi berita. Namun, mer-
eka membangun jam tayang utama—halaman muka yang banyak
disimak orang—dengan daya tarik ideologi, dan dua aksi itu sering-
kali janggal.
Selain itu, tradisi jurnalisme opini di Amerika mendapat berkah
dari dunia jurnalisme verifikasi. Warisan itu, sekali lagi, dimulai di
atas segalanya dengan kesetiaan untuk meraih fakta secara benar
dan mengikutinya ke mana saja mereka mengarah. Karena jurnal-
isme opini tradisional terlibat dalam merenungkan makna kejadian
setelah ia terjadi, dan biasanya dalam beberapa perubahan, secara
khas memungkinkan adanya tambahan waktu dan perhatian diban-
dingkan jurnalisme harian tradisional yang memastikan ketepatan fakta.
Tentu saja, kesetiaan pada akurasi ini dikeramatkan para jurnalis opini
dan pers alternatif, yang keduanya beroperasi di luar konsep ketakber-
pihakan, terutama karena akurasi—bukannya netralitas—adalah basis
klaim mereka atas kejujuran.19
Cita-cita wartawan di model jurnalistik opini tradisional ini sama de
ngan mereka yang bekerja di jurnalisme verifikasi: menginspirasi warga
untuk berpikir. Pekerjaan mereka berakar dari fakta yang diorganisir
untuk membangun argumen dan menjadi alas dasar opini mereka. Ini
jauh berbeda dari tujuan dari aktivis atau propagandis yang mempopuler-
kan bincang-bincang radio dan TV kabel, demi mencapai tujuan politik
tertentu, atau “adik mereka” talk show, yang ingin mengumpulkan pengikut
dan meraup laba, terlepas sesuci apapun ideologi mereka. Tujuan jurnalis-
tik opini adalah membangun pemahaman publik dengan mengeksplorasi
fakta. Di sisi lain, media agitator mengeksploitasi fakta untuk kepenti-
ngan faksi politik atau rating komersial.
Dan perbedaan ini, sebagaimana akan kami bahas di bab 7, bisa terli-
hat jelas dari cara jurnalis pengukuhan memakai bukti dan berperilaku
terhadap pihak yang tak mereka setujui.

Jurnalisme Kaum Kepentingan

Sejak ruang redaksi tradisional menyusut, kaum politis menemukan


jalan baru memengaruhi dialog politik. Kelompok ini tahu bahwa
54 Blur
mereka bisa membuat jurnalisme sendiri, mengontrol operasinya,
dan menyiarkannya untuk diteruskan ke arus utama pers yang lebih
luas. Kunci utamanya adalah mengubah pemikiran ruang redaksi
tradisional. Karena penurunan pendapatan berujung pada pemang-
kasan anggaran, ruang redaksi tak lagi bisa meliput semua kisah de-
ngan stafnya sendiri. Teknologi WEB juga membuat agregasi (gabu-
ngan berita) menjadi gerbang menuju pekerjaan orang lain—sesuatu
yang diharapkan konsumen dan yang lebih mungkin tersedia untuk
pengorganisasian berita. Secara bersamaan, teknologi memungkin-
kan siapapun masuk ladang berita, dengan harga relatif rendah, dan
memproduksi sendiri isinya.
Dalam pergeseran ini, lanskap baru muncul baik dari warga yang
punya blog pribadi maupun dari komunitas melalui situs berita
yang biasa disebut jurnalisme warga. Namun demikian, lingkungan
baru ini juga menarik kaum politis, yang tujuan utamanya bukan
memproduksi berita tetapi meraih kepentingan politik. Memoles
diskursus publik adalah elemen penting menuju ke sana. Tim peru-
mus, kaum politis, yang sering mengklaim kaum kepentingan publik,
umumnya punya pendanaan kuat, semakin banyak membuat website
dan memproduksi liputan sendiri.
BigGovernment.com, yang memproduksi pembongkaran kelom-
pok liberal ACORN, adalah salah satu contohnya. Di sisi lain, aktivis
politik liberal yang meyakini pemerintahan besar adalah penggang-
gu kebebasan dan perdagangan menciptakan Watchdog.org, jarin-
gan situs web yang didanai kelompok bernama Aliansi Sam Adams
dan membuat liputan tentang keborosan, penipuan, dan kecura-
ngan pemerintah. Namun, cukup sulit menelusuri asal Watchdog.org:
situs resminya mengatakan ia adalah “kumpulan wartawan inde-
penden yang meliput aktivitas negara bagian tertentu dan pemerin-
tahan lokal.” Ia juga mengungkapkan bahwa proyeknya adalah, “anak
ide dari Franklin Center for Government & Public Integrity, sebuah
organisasi nirlaba 501(c)3 yang didedikasikan untuk mempromosi-
kan jurnalisme media baru.” Dengan cukup mencari tahu di situs
Franklin Center, seseorang bisa menyebut Aliansi Sam Adam, sebuah
kelompok liberal, berada di baliknya. Tetapi, status nirlaba kelompok
ini memungkinkan mereka menutup informasi mengenai sumber
dana. Dan tujuan asli Watchdog.org, praktis tersembunyi.
Karya kelompok ini pada hakikatnya mempengaruhi media.
Berita ACORN dipromosikan Fox secara masif, menjadi berita utama,
dan akhirnya memengaruhi pemilihan di Kongges. Berita Watchdog.
Cara Berpengetahuan Skeptis: Ketrampilan Verifikasi 55

org, yang menemukan masalah akuntansi mengenai berapa banyak


pekerjaan yang diciptakan atau diselamatkan lewat paket stimulus
Presiden Obama, dikutip Associated Press dan media lainnya.
Di satu sisi hasil liputan tiap individu bisa saja kuat, tapi di sisi
lain konsumen musti sadar niat di balik pekerjaan mereka, yang pada
hakikatnya bisa mempengaruhi pemilihan apa yang diliput dan yang
tidak. Jika sub teks tiap berita di Web menuju pada satu titik yang
sama—bahwa pemerintah buruk dan tidak efisien, atau kaum kon-
sevatif tidak peduli dengan keadilan sosial—itu menandakan adanya
sesuatu yang penting di balik agenda tersebut, bahkan meski ma-
sing-masing kisah dibuat seolah bernada netral sebagaimana layan-
an kawat berita konvensional. Seringkali liputan di situs ini, seperti
ekspos ACORN, memiliki beberapa atau bahkan banyak karakteris-
tik investigasi klasik pengawasan pemerintahan. Petunjuk besarnya
adalah totalitas liputan yang disampaikan. Di buku kami The
Elements of Journalism, kami menulis prinsip utama verifikasi dalam
jurnalisme tradisional adalah, “berita harus komprehensif dan pro-
porsional.” Artinya, jika sebuah organisasi berita benar-benar ber-
maksud meliput sebuah isu, maka ia musti melakukannya secara
penuh, sehingga audiens bisa mendapat gambaran adil dan lengkap
mengenai apa yang dipotret, baik dan buruk. Sebagaimana disaran
kan Komisi Hutchins, organisasi berita harus melaporkan tidak han-
ya fakta tapi juga kebenaran di balik fakta itu dalam konteks lebih
besar. Kegagalan menjalankan ini bisa diibaratkan seorang penggam-
bar peta, yang meninggalkan detil mengganggu. Meski terlihat indah,
peta buatan yang mengira-ngira Dunia Baru atau memotret geografi
berdasarkan pandangan politik tentu kurang berguna untuk navigasi
di dunia nyata. Genre baru jurnalisme kaum kepentingan ini sering-
kali gagal memenuhi standar liputan-lengkap ini secara tepat, karena
mereka memang tidak bertujuan membuat peta komprehensif dan
akurat. Persuasi politik adalah tujuannya.
Apa tanda yang bisa ditemukan dari media kaum kepentingan
politik yang tengah menyaru sebagai organisasi berita? Salah satu-
nya adalah sumber pembiayaan yang tidak benar-benar transparan.
Tanda lainnya adalah berita yang disajikan bermuara pada satu titik
atau kesimpulan sama yang diulang-ulang. Jika semua beritanya me-
ngatakan hal yang sama, maka hati-hatilah. Lihat latar belakang orang-
orang di dalamnya, di mana mereka pernah bekerja, dan sejauh mana
mereka terlibat dalam aktivisme politik. Cobalah juga mempelajari
56 Blur

totalitas pekerjaan para pendiri dan kelompok yang terlibat, apakah


beberapa darinya memiliki sifat dasar politis.
Jika pendanaan tidak benar-benar transparan, jika orang dan bah-
kan wartawan di dalamnya punya sejarah politik, jika semua beri-
tanya mengarah pada satu kesimpulan, dan koneksi organisasi yang
terlibat (sejauh bisa dideteksi) lebih terkait dengan politik ketimbang
berita, semua ini menjadi sinyal jelas bahwa anda sedang berada
di wilayah jurnalisme kaum berkepentingan.

Jurnalisme Agregasi

Perlu ada satu istilah untuk menyebut jenis media lain—untuk


mengklarifikasi apa yang mereka wakili dan bagaimana mereka
bisa didiskusikan. Satu bentuk media baru terpenting dibangun bu-
kan untuk memproduksi berita, tapi mengumpulkan dan mengelola
informasi yang ada. Ia adalah agregasi.
Menurut kami, agregasi adalah bentuk jurnalisme. Dia tak mewaki-
li satu model, seperti empat jenis jurnalisme sebelumnya yang telah
didiskusikan, sebab ia bisa saja mencampur beberapa jenis konten.
Namun bagaimanapun juga, ia sangat relevan karena apa yang dipilih
untuk dikumpulkan, diteruskan, direkomendasikan, dipilah, melibat-
kan evaluasi konten yang normatif. Untuk bisa mengagregasi dengan
baik, seseorang musti tahu model-model konten lainnya.
Beberapa dari kita, mungkin kurang sepakat dengan ide menga-
tegorikan agregasi sebagai model baru jurnalisme, karena ia hanya
melibatkan mesin dan algoritme pencari kata kunci. Namun agregasi
adalah penyuntingan, yang membuat pilihan soal keterkaitan, nilai
dan signifikansi. Lama-kelamaan, masing-masing dari kita bertin-
dak sebagai editor dan pengumpul untuk diri sendiri, yang mene-
tapkan diet berita kita tiap hari. Kita juga terus berinteraksi dengan
orang lain soal berita tersebut, soal apa yang kita suka dan yang kita
rekomendasikan. Diskusi yang dulu berlangsung di meja makan de-
ngan keluarga kini terjadi sepanjang hari dengan kawan dan bahkan de-
ngan orang asing, baik lewat e-mail yang kita kirim pada kawan,
ringkasan yang kita unggah di tempat kerja, rekomendasi yang kita
pasang di situs pengguna seperti Reddit, atau materi yang kita
pasang atau ikuti di jejaring sosial.
Organisasi berita pun telah mengubah pandangan terhadap
agregasi. Pada tahun pertama di abad baru, organisasi berita tradi-
Cara Berpengetahuan Skeptis: Ketrampilan Verifikasi 57

sional cenderung menolak agregasi, menganggapnya beroperasi di


tataran mekanis saja. Kenyataannya, agregasi telah dan selalu men-
jadi bagian penting dari pekerjaan wartawan; mengumpulkan apa
yang dibuat orang lain, mengelola dan membuatnya lebih mudah
tersedia—baik statistik olahraga dari liga olahraga profesional,
maupun tabel saham dari berbagai bursa, atau laporan kriminal di
wilayah lokal. Beberapa wartawan, dengan cenderung ngotot dan se-
enaknya, melupakan ini. Mereka jatuh di perangkap sama, mencam-
puradukkan teknik yang cenderung sering dipakai—memakai telepon,
wawancara langsung, mendatangi acara dan pertemuan, menemui
saksi mata pertama—dengan tujuan lebih besar yang mereka tuju:
mengumpulkan informasi dalam bentuk apapun dan membuatnya
komprehensif serta berguna bagi audiens.
Belakangan—melalui beberapa tahapan proses selanjutnya—
organisasi berita sampai pada kenyataan yang tak bisa dihindari
bahwa dengan informasi yang melimpah seperti sekarang, mengor
ganisir berita adalah bentuk jurnalisme juga. Bahkan situs berita
paling tradisional pun mulai menyuguhi audiens dengan garis besar
isi situs orang lain, dan tidak hanya isi asli. Merujuk pada penelitian
2006 yang menemukan bahwa dari 42 situs organisasi berita tradi
sional utama, hanya ada tiga situs yang menyajikan pranala keluar. Se-
tahun kemudian, separuh darinya menyajikan itu. Pada tahun 2009,
pembaca artikel New York Times online bisa menemukan tautan ke
artikel Washington Post yang membicarakan isu sama. Perubahan ini
terjadi salah satunya karena pergeseran pemahaman. Alasan lainnya
adalah kebutuhan ekonomi. Karena sumber daya organisasi berita
tradisional menyusut akibat berkurangnya pendapatan, agregasi
kian menjadi bagian yang tak kalah penting dari kerja wartawan. Di
tengah keterbatasan untuk bisa melakukan segalanya—mengutip
bahasa klasik pers; “mengulas semua bagian”—organisasi berita
tradisional fokus pada apa yang bisa dilakukan sendiri, dan sisanya
meminjam atau mengagregasi. Isu lebih besar yang dihadapi insan
pemberitaan bukan pada perlu-tidaknya mengagregasi, melain-
kan bagaimana. Apakah alogaritme komputer yang mengagregasi
segalanya—akibat efek model Google News—adalah cara yang
efektif? Ataukah melibatkan kepekaan manusiawi, menyaring hal-hal
yang meragukan dan hanya merekomendasikan yang paling bisa di-
percaya merupakan pendekatan yang lebih baik?
Sebagai konsumen, kita semua adalah agregator. Pertanyaan
58 Blur

dalam menyaring adalah mengenai persoalan nilai. Konten macam


apa yang kita pilih atau tolak? Apa yang kita masukkan dalam
campuran kita? Apa yang kita tolak? Semuanya bisa jadi campuran
dari model-model jurnalistik berbeda yang kita masukkan dalam
membuat “My News.” Sebagian dari kita mungkin mengagregasi
elemen dari keempat model jurnalisme yang disebut satu persatu
sebelumnya. Jadi, ketika kita mengagregasi, bagaimana kita mem-
bedakan satu model dari yang lain? Mau tak mau kita musti mem-
bedakan. Jika tidak, nilai pers akan kian membingungkan, dan ke-
mampuan kita untuk mengetahui apa yang bisa dipercaya menjadi
kian terbatas. Kini, pada akhirnya, semua tergantung pada diri kita,
sebagai konsumen, untuk mempraktikkan jurnalisme agregasi.
Poin kami di sini adalah agregasi punya dimensi subyektif dan
etis. Di samping berupaya membantu anda mengidetifikasi berita
apa yang layak dipercaya dan memisahkan ragam motif serta norma
dari model-model jurnalisme yang berbeda, kami juga ingin anda
mengenali bahwa pilihan kualitatif dan normatif berperan penting
pada cara dan sumber anda mengagregasi berita.

Blog dan Media Sosial

Di mana blog dan media sosial masuk di antara model-model


jurnalisme?
Berbeda dari apa yang dipikirkan banyak orang. Blog tidak ter-
golong pada model manapun. Menyusul kegairahan hubungan inter-
aktif di dalamnya, blogging bisa dikatakan sebagai bentuk komunika-
si baru terunik. Hanya saja, blogging tidak menjelaskan seperangkat
norma jurnalistik tertentu; ia hanya sebuah bentuk. Banyak blog pada
situs berita tradisional beroperasi dengan norma jurnalistik sama
dengan platform situs lain, meski bahasanya mungkin lebih informal.
Namun beberapa blog di situs lain mungkin tidak demikian. Ada blog
yang isi editorialnya mendukung advokasi, seperti blog milik aktivis
Daily Kos. Ada blog-blog, seperti yang dibuat oleh Brian Williams di
NBC, yang banyak mengupas soal pembuatan keputusan jurnalistik.
Beberapa blog lebih dekat dengan kolom opini, seperti milik An-
drew Sullivan. Lainnya sangat dekat dengan pelayanan jurnalisme
jasa-warga-komunitas tradisional, semacam Baltimore Grows, yang
mengikuti perkembangan dan pembiayaan beberapa proyek real
estate di Baltimore, Maryland. Di Myreporter.com, wartawan profe-
Cara Berpengetahuan Skeptis: Ketrampilan Verifikasi 59

sional menjawab pertanyaan-pertanyaan pembaca tentang daerah


pesisir North Carolina, seperti “berapa ukuran tiang telepon yang
berjarak sekitar 1 mil dari selatan Jalan Midway di rute 211?”
Dan ada blog unik seperti Techcrunch (www.techcrunch.com),
sebuah situs tentang seluk-beluk teknologi yang sangat sukses, ter-
masuk berita bisnis kilas (situs ini pernah memberitakan telepon
baru yang didesain Google), isu publik macam netralitas internet,
dan tinjauan gadget. Lalu, ada beberapa blog yang susah dikat-
egorikan, seperti Boing Boing (http://boingboing.net), sebuah blog
populer yang menyajikan beragam berita dan informasi mulai dari
teknologi, selebritas, seni, hingga budaya. Yang membuat Boing
Boing menarik adalah apa yang digali dan ditulis. Ia memiliki suara
unik yang membuat pembaca selalu balik lagi. This Week in Education
(www.thisweekineducation.com) adalah contoh bagus blog unik yang
fokus pada isu publik, meliput kebijakan pendidikan, baik federal
maupun lokal, dan berita pendidikan secara umum. Ribuan blog yang
mengangkat isu publik seperti itu bermunculan, meliput kebijakan
pajak, pemborosan anggaran pemerintah, militer, dll.
Bisa dikatakan, blog itu seperti kue muffin. Hanya ada sepotong,
tetapi yang dikandung beragam, dari kue coklat hingga serat. Sama
halnya dengan bentuk media sosial seperti Twitter atau situs jejaring
sosial, mereka adalah jalan untuk menyampaikan informasi, tetapi
tidak mendikte sifat dasar konten yang disampaikan.

Hibrida Baru

Beberapa gerai berita kini semakin meningkatkan penyampuran


jenis konten. Huffington Post awalnya adalah salon berisi blogger
berbeda dan telah masuk agregasi berita, dan bahkan sedikit eks-
pose asli, meski media ini memiliki satu orientasi politik. Lihat juga
Points Memo, blog liberal yang bergerak menuju jurnalisme sin-
tesis dan analisis (tidak hanya liputan permukaan), dan kini telah
mengadopsi agregasi. Ketika anda menemukan gerai berita yang
susah dikategorisasikan, ceklah totalitas karyanya dan tariklah kesan
umum dari upaya yang dilakukan dan tujuannya. Bisa jadi ada karya
jurnalisme verifikasi di sana. Bisa jadi juga ada contoh jurnalisme
pernyataan yang bergerak cepat. Mungkin juga ada blog ideologis
dan komentar yang dekat dengan jurnalisme pengukuhan. Periksalah
konten untuk mendapat kesan jelas tentang siapa penulisnya dan apa
60 Blur

motifnya. Untuk situs dan gerai media hibrida, anda perlu meng-
ajukan pertanyaan tambahan: Upaya terbesar apa yang dilakukan se-
jauh ini? Apakah ini hanya situs agregasi berita dengan sedikit repor-
tase? Apakah ini lebih merupakan blog ideologis, dengan beberapa
salinan headline yang disisipkan?
Mengidentifikasi apa yang anda baca bukanlah sekadar soal
kehati-hatian konsumen. Anda musti belajar membedakan, untuk
mengenali jenis jurnalisme apa yang mereka perankan, untuk
menguak norma dan motif tersembunyi dalam karya mereka—apa
yang coba dilakukan si wartawan. Ini adalah langkah pertama,
dan yang terutama untuk mengetahui apa yang hendak di
percaya. Jika anda sudah melakukan ini, maka tibalah saatnya tugas
mengetahui cara mengarahkan, menjalani langkah lain dari cara
berpengetahuan skeptis.
Kelengkapan: Apa Yang Ada dan Apa Yang Kurang? 61

BAB 4
Kelengkapan: Apa Yang Ada
dan Apa Yang Kurang?

Di konferensi penulis ilmiah pada era 1990-an, reporter Jhon


Crewdson sedikit berulah dengan menyampaikan jenis jurnal-
isme yang dia hindari. Dia tak mau menjadi “tukang ketik yang me
wawancarai orang dan dengan patuh menulis apa yang mereka
katakan.”
Pastinya tidak. Crewdson meniti karir dengan memproduk-
si karya yang mengguncang pemahaman konvensional dan
membongkar mitos tentang berbagai soal, mulai dari ilmu pengetahuan
hingga transportasi. Pada 1989, di Chicago Tribune, dia menulis sejarah
penemuan virus AIDS sepanjang 15.000 kata. Butuh riset berbulan-
bulan untuk itu, yang akhirnya membuat dia meraih penghargaan
penulisan ilmu pengetahuan dari American Association for the
Advancement of Science. Tapi, karya itu juga mengundang permu-
suhan dari sebagian besar komunitas ilmuwan Amerika termasuk
para penulis ilmu pengetahuan. Penelitian Crewdson yang tekun
berujung pada runtuhnya klaim pribadi Dr. Robert Gallo, seorang
ilmuwan National Institutes of Health di Washington D.C., yang
mengaku sebagai penemu virus AIDS. Mengacu pada fakta soal
adanya ilmuwan lain yang meragukan Gallo, Crewdson menggali data di
antara tumpukan dokumen riset dan jurnal medis dan mewawancarai
para peneliti guna memahami seluk-beluk persoalan ini. Dia menemu-
kan kasus meyakinkan perihal dua ilmuwan Perancis, Luc Montagni-
er dan Françoise Barré-Sinoussi di Pasteur Institute Paris, yang per-
62 Blur

tama mengisolasi dan mengidentifikasi virus tersebut. Lalu 20 tahun


berikutnya, pada 2008, Montagnier dan Barré-Sinoussi pun mendapat
Nobel, dengan titel “kedua orang inilah yang menemukan. Mereka
menyodorkan keberadaan virus AIDS.”
Saat menyusuri kisah Gallo, Crewdson sering terbang bolak-
balik ke Paris. Dalam satu penerbangan, ada pengumuman dari sistem
PA menanyakan apakah ada dokter di atas pesawat. Crewdson mulai
berpikir tentang risiko membawa penumpang berpenyakit serius
puluhan ribu kaki di awan melintasi lautan, dan tindakan
pencegahan apa yang diambil maskapai penerbangan. Setelah
menyelesaikan kisah Gallo, Crewdson mencari kru penerbangan
yang mencantumkan profil pribadi di AOL dan men-
girim email menanyakan apa yang terjadi bila ada
orang sakit di pesawat. Seorang kru menjawab
bahwa dia pernah di suatu penerbangan di mana seorang penumpang
meninggal, dan kisah tersebut membawa Crewdson menyusuri
jalan menuju area liputan menarik yang lain.
Penumpang tersebut, Steven Paul Somes, Wakil Presiden
State Street Research and Management di Boston, meninggal pada 18
Oktober 1995, setelah mengidap gagal jantung di pener-
bangan menuju California. Beberapa detil soal insiden itu bagi
Crewdson menjadi momen pembelajaran risiko dan penghargaan.1
Crewdson menyusun rekonstruksi kejadian. Somes berbaring di
lantai United Airlines Flight 32 yang tengah melintasi pegunungan
Rocky dengan dikelilingi tiga dokter, seorang perawat, dan seorang
paramedis, yang juga ada di penerbangan. Kenapa seseorang bisa
meninggal ketika di sekitarnya ada tim medis yang cukup lengkap
seperti di ruang gawat darurat rumah sakit? Crewdson heran. Dia
menilai usaha dramatis dan kalut untuk menyelamatkan hidup
Somes sia-sia karena di pesawat tak ada obat penyakit jantung atau
alat pacu jantung.
“Secara harfiah mereka punya orang yang tepat di sana,” kata
dokter pribadi Somes menanggapi situasi ketika pasiennya itu
meninggal, “mengalami itu di pesawat masih lebih baik daripada di
ruang tamunya. Persoalannya, mereka tak bisa mengubah hasil,
sebab tak punya perlengkapan memadai.”
Baik Federal Aviation Administration maupun pihak penerba-
ngan, tulis Crewdson, tak bisa mengatakan berapa banyak orang
yang sakit di penerbangan Amerika atau bahkan berapa yang me-
Kelengkapan: Apa Yang Ada dan Apa Yang Kurang? 63

ninggal. Mereka tak tahu sebab pihak penerbangan tak mensyaratkan


pelaporan informasi semacam itu. Sebagaimana seorang pejabat
bilang padanya, FAA adalah agensi “Penerbangan”. “Kami tertarik
dengan kecelakaan bukan serangan jantung.”
Crewdson menggali data bahwa maskapai dan regulator pener-
bangan tak pernah mengumpulkan data itu di kalangan maskapai
domestik dan asing. Yang dia temukan justru menunjukkan ada
lebih dari 700 pendaratan darurat karena faktor medis tiap tahun di
Amerika, lebih dari 12.000 penerbangan darurat, dan setidaknya 114
hingga 360 orang meninggal per tahun di penerbangan. Ada lebih
banyak penumpang, menurut temuannya, yang mati karena seran-
gan jantung atau sakit di penerbangan ketimbang karena kecelakaan
pesawat.
“Dalam kasus gagal jantung, harapan terbaik untuk bertahan,
dan sering satu-satunya harapan, adalah alat pacu jantung darurat,”
dia melaporkan. “Namun meski kemampuan pengadaan alat pacu
jantung elektronik jinjing kian tinggi, hanya dua penerbangan
internasional yang saat ini menyediakan mesin penyelamat nyawa
ini di pesawat.”
Perusahaan penerbangan telah lama memilih posisi terbaik
untuk dilakukan ketika ada penumpang sakit, yakni melakukan
pendaratan darurat di bandara terdekat. Masalahnya adalah, tulis
Crewdson, kebanyakan pendaratan darurat karena faktor medis
tidak berujung pada pendaratan di luar jadwal. Asosiasi Trans-
portasi Amerika, mewakili industri penerbangan, secara agresif
melancarkan lobi untuk menolak tuntutan tambahan alat dan
pelatihan darurat medis yang lebih canggih. Alasannya: pesawat
“tak bisa jadi rumah sakit terbang.”
Dia menelusuri lebih jauh. Dia menyelidiki bagaimana negara lain
menarik kesimpulan berbeda soal layanan medis di penerbangan.
Doktor yang pertama kali bekerja memasang alat pacu jantung di
penerbangan Inggris, misalnya, menampik kekhawatiran maskapai
Amerika soal sulitnya melatih personil non medis mengoperasikan
alat tersebut: “Anda bisa mengajari tukang susu bagaimana meng-
gunakan alat pacu jantung dalam 20 menit.”
Crewdson membandingkan kasus darurat yang mengancam nyawa
di dua maskapai negara berbeda: penerbangan United Airlines yang
penumpangnya meninggal dan penerbangan British Airways yang
penumpangnya selamat. Doktor yang merawat penumpang British
64 Blur

Airways mengatakan bahwa peralatan medis di penerbangan Ameri-


ka begitu terbatas hingga dia tak mungkin berani mencoba melaku-
kan prosedur penyelamatan nyawa di situ. Kontras dari penerbangan
Amerika, kotak P3K di banyak penerbangan internasional berukuran
lebih kecil dari kopor kebanyakan dan berisi obat jantung yang bisa
ditemui di ruang darurat rumah sakit, termasuk obat serangan men-
dadak, peringan rasa sakit, overdosis narkotik, dan kejiwaan. Kotak
seperti itu ada di British Airways, Lufthansa, Air France, Qantas,
Alitalia, dan penerbangan internasional lain yang menyelamatkan
banyak nyawa.
“Mungkin terlihat gegabah mengajukan kebijaksanaan memasang
kotak P3K senilai US$1.100 atau bahkan alat pacu jantung seharga
US$3.000 di pesawat terbang senilai US$170 juta, harga Boeing 747
terbaru,” tulis Crewdson membuka cerita sepanjang 10 halaman yang
menyuguhkan analisis biaya item per item untuk menyediakan kotak
P3K dan perlengkapan penyelamat nyawa, serta pelatihan staf untuk
penggunaannya di tiap maskapai Amerika. “Total kebutuhan dana
untuk melengkapi tiap jet komersial Amerika dengan kotak P3K dan
alat pacu jantung—sekitar US$56 juta untuk 10 tahun ke depan—bisa
diambil dari penambahan 2 sen dari penjualan tiket penerbangan.”
Laporan, yang dimuat di Chicago Tribune edisi 30 Juni 1996,
ditutup dengan analisis biaya dan manfaat: “kotak medis dan alat
pacu jantung sudah bisa diterima secara ekonomis jika mereka hanya
menyelamatkan tiga nyawa per tahun.”
Tulisan itu pun menjadi isu nasional. Seiring dengan nai-
knya kepedulian publik akan risiko kesehatan akibat kurangnya
penyebaran peralatan medis, industri yang agresif menolak peruba-
han itu mulai melunak. Kurang dari setahun, American Airline me-
masang alat pacu jantung di pesawat. Pengacara penerbangan lain
menyarankan klien mereka mengambil dua pilihan; mengikuti atau
menghadapi tuntutan kelalaian. Pejabat bandara internasional O’Hare
Chicago, di mana beberapa orang meninggal ketika berlari menge-
jar penerbangan, memasang alat pacu jantung di terminal. Bandara
lain mengikuti jejak O’Hare, dan alat pacu jantung pun segera ber-
munculan di tempat umum di seluruh negeri.
Dengan cara sederhana tapi dramatis, jurnalisme Crewdson
mendemonstrasikan nilai fakta yang dikumpulkan dari berbagai
sumber, didokumentasikan secara jelas, menuju kesimpulan yang
sama. Pertanyaan yang timbul di benaknya ketika terbang melint-
Kelengkapan: Apa Yang Ada dan Apa Yang Kurang? 65

asi samudera adalah jenis pertanyaan yang kita miliki di satu atau
lain waktu. Sebagai seorang wartawan, dia bisa menindaklanjutinya
lebih jauh, mengumpulkan data dan mewawancarai para ahli dan
pejabat. Pendekatannya dalam bertanya sangat menyeluruh, lapo-
rannya sangat lengkap, dan kasusnya didokumentasikan dengan
begitu baik hingga analisisnya tak terbantahkan. Sepuluh tahun sejak
pemasangan pertama alat pacu jantung di pesawatnya, American Air-
lines dilaporkan menyelamatkan 80 nyawa dengan alat tersebut.
Pertanyaan pertama yang musti kita ajukan ketika menemui
berita dan informasi adalah konten jenis apa ini. Pertanyaan selanjut-
nya terkait pada isu besar lain:

Apakah informasinya komplit: dan jika tidak, apa yang kurang?

Kebanyakan jurnalisme, temasuk informasi yang kita temui


sebagai konsumen tidak beroperasi sedalam penyelidikan
Crewdson terhadap alat medis penerbangan atau penemuan virus AIDS.
Banyak di antaranya ditulis cepat dan bisa ditambahi—tergantung
kebutuhan. Apa yang terjadi sekarang di Gedung Putih? Apakah bursa
naik atau turun?
Kini kita musti menanyakan soal kelengkapan berbagai konten
berita yang kita temui. Apakah yang kita dapat sesuai dengan apa
yang seharusnya kita harapkan secara realistis?
Pada hari pertama kelas pengenalan jurnalisme—pendekatan
pengajaran tradisional dalam mengajari bekal jurnalistik—para
siswa biasanya diperkenalkan dengan tanya-jawab mendasar soal
ketelitian. Konsep ini sering diseut dengan “5W+1H”: ide bahwa
semua cerita harus menjelaskan aspek Siapa, Apa, Kapan, Di mana,
Kenapa, dan Bagaimana dari cerita. Sederhananya, berita musti
menerangkan kita siapa melakukan apa, kapan dan di mana, kena-
pa dan bagaimana dia melakukan itu. Meski bersifat dasar, tetapi
pertanyaan-pertanyaan itu menjadi langkah awal yang bagus.
Mari terapkan konsep ini pada jenis paling dasar dari artikel.

Laporan Straight News: Fakta Kejadian

Artikel paling sederhana yang biasa ditemui adalah laporan “straight


news” tentang kejadian. Straight news adalah konten berita yang
66 Blur

menyodorkan fakta baru tentang apa yang terjadi, apa yang dipe-
lajari kemarin, atau apa yang dijadwalkan terjadi hari ini. Ia adalah
pembacaan fakta secara sederhana, seperti yang kita dapati di kilas
berita radio atau ringkasan headline TV. “Presiden mengatakannya
hari ini.” “The Pirates menang 4:2.” “Senat mengesahkan undang-un-
dang yang mereka perdebatkan kemarin malam bersamaan dengan
penghitungan suara.” Seringkali ia menjadi laporan pertama dari se-
suatu, yang detilnya belum atau telah muncul semua. “Walikota men-
janjikan rencana baru pembangunan jalan, yang akan diungkapkan
minggu depan.”
Straight news seringkali adalah “komoditas” yang ada di mana-
mana hingga kita tak perlu mencarinya. Ia mendatangi kita layaknya
peresapan. Sesekali anda mendengar potongan berita dari kawan,
dari radio mobil, atau bacaan sekilas dari situs Web, anda mungkin
tak terganggu untuk belajar lebih soal ini. Ia adalah tipe berita yang
kemungkinan kita lihat di situs agregasi berita online.
Ekspektasi kita atas kelengkapan cerita di jenis berita ini adalah
kesederhanaan dan kemudahan mencernanya. Ambil contoh head-
line ini di rubrik Metro dari Washington Post, 7 Mei 2009:
“Kebocoran Pipa Banjiri Rumah Sedistrik,” “Kerusakan Pipa Induk
di Adams Morgan Ganggu Lalu Lintas.”
Berita itu diawali dengan paragraf: “Sebuah pipa induk berdiam-
eter 20 inci di kawasan Adams Morgan rusak kemarin saat jam macet
pagi hari, membanjiri rumah dan kawasan bisnis serta memicu
kemacetan yang terjadi hingga sore.” 2
Paragraf pembuka itu berisi tiga dari lima W—Apa yang terjadi
(pipa rusak), di mana (lingkungan Adams Morgan di D.C.), kapan (6
Mei 2009). Siapa dalam cerita (pemadam kebakaran dan korban ban-
jir) dikutip berikutnya, mulai di paragraf dua. Aspek ‘Kenapa’ muncul
di paragraf empat (pemadam kebakaran tak yakin dengan penyebab
kerusakan pipa, tetapi ia menduga ada kombinasi penyebab yakni
usia, suhu yang bergejolak, dan karat tanah). Aspek ‘Bagaimana’
ditunjukkan dengan pembuktian mandiri: pipa rusak, air menyem-
bur, jalan dan bangunan kebanjiran. Tak perlu ada H. Selengkap apa
berita itu? Lumayan.
Lima W satu H bermanfaat sejauh ini. Namun ada pertanyaan lain
soal kerusakan pipa induk yang bagi banyak orang mungkin perlu
diketahui. Sebulan sebelum berita ini muncul, pipa-pipa di seluruh
Washington D.C. dan provinsi sekitarnya telah rusak. Kenapa tiba-
Kelengkapan: Apa Yang Ada dan Apa Yang Kurang? 67

tiba ada begitu banyak yang rusak? Apa yang dilakukan pihak ber-
wenang merespon ini? Apa yang, dalam kasus ini, bisa dilakukan?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak terjawab di berita keras. 3

Tambahkan P-Pertanyaan Yang Muncul

Dalam mencoba mengenali seberapa lengkap sebuah laporan atau


berita atau beberapa bagian kontennya, kita akan menambahkan
satu elemen pada 5W+1H. Sebut saja P dari cerita: pertanyaan yang
bisa muncul di benak pembaca. Dan apakah pertanyaan itu dising-
gung dalam beberapa cara?
Sebagaimana akan kita diskusikan, P cerita bisa jadi bagian pe-
mikiran terpenting dari kelengkapan berita. Pertanyaan yang bisa
muncul dari sebuah berita bagi kita adalah sepenting jawaban yang
bisa disediakan berita tersebut. Pertanyaan membuka penyelidikan.
Namun, ada poin penting lain soal P. Bertahun-tahun para
wartawan diajari cara menulis berita solid, bahkan serba tahu. Ban-
yak yang mungkin diajari pepatah, “jangan sampai beritamu men-
gundang pertanyaan yang tak bisa kamu jawab.” Maksudnya adalah
membuat berita yang otoritatif dan kurang spekulatif. Faktanya, na-
sihat ini keliru, bahkan mungkin menipu. Kami menyebutnya ‘serba
tahu yang keliru.’ Pertanyaan akan muncul di benak audien. Tiap
fakta memunculkan pertanyaan sendiri, dan pembaca atau pemirsa
yang kritis pasti bertanya-tanya.
Berita yang gagal menjelaskan pertanyaan selanjutnya tak lebih
lengkap dari berita yang setengah-setengah. Jurnalisme musti mem-
buka penyelidikan. Tujuannya, pada akhirnya, adalah perhatian pub-
lik. Dan jurnalisme modern, yang lebih dialogis dari kuliah, musti
lebih banyak melakukan ini.
Karena itu, coba pertimbangkan ketika Anda menemukan berita
paling dasar sekalipun, apa pertanyaan yang muncul. Lihatlah jurnal-
isme yang punya kerendahan hati untuk menanyakan apa yang belum
bisa dijawab sekarang, yang mengakui apa yang ia tidak tahu, dan ti-
dak membuat kesimpulan yang tak bisa dibuktikan. Cerita semacam
itu bisa dibilang lebih lengkap, tidak kurang.
68 Blur

Pentingnya Fakta

Isu kelengkapan, straight news, dan 5W+1H menimbulkan titik lain


yang perlu diperhatikan. Berita dan pertanyaan kita sebagai warga,
musti dibangun berdasarkan fakta.
Karenanya, dalam menguji satu berita, laporan, atau artikel dalam
berbagai bentuk, kita musti mulai dari fakta yang disajikan. Berdasar-
kan daftar pertanyaan yang membangun ketrampilan verifikasi dan
skeptisisme aktif, pasti ada fakta tumpang-tindih. Memeriksa apakah
sesuatu sudah lengkap meliputi pemeriksaan narasumber, bukti, po-
tensi bias, dan lainnya. Namun semua pertanyaan itu kembali pada
apakah kontennya membawa fakta lanjutan yang didokumentasikan.
Jika tidak, ia secara definitif beranjak menuju sesuatu yang kurang
terpercaya.
Menyusul kecepatan dan lompatan jurnalisme pernyataan, lapo-
ran straight news pun sering tak lengkap dan terpisah-pisah. Itulah
kelemahan jurnalisme model ini. Jika anda hanya melihat fragmen
fakta tanpa gambaran utuh, berarti anda sedang melihat jurnalisme
pernyataan dan bukan verifikasi.
Dalam jurnalisme pengukuhan, tandanya sedikit berbeda.
Sebagaimana akan kita diskusikan lebih detil di Bab 7, alur berita
bergerak terlalu cepat menuju spekulasi dan opini, dan di sana tidak
ada fakta atau kehati-hatian memilah fakta, demi menyederhanakan
kasus. Dan pertanyaan yang muncul seringkali hanyalah retorika:
“Menariknya, kita belum diberi tahu A.” Atau, “Kini saya sangat ingin
tahu apa yang dikatakan dalam pertemuan itu ketika mereka memu-
tuskan B.” Atau, “bagaimana bisa parpol itu dengan mudah menen-
tang rancangan undang-undang ini tanpa mengajukan alternatif ber-
guna.” Ini sama sekali bukan pertanyaan.

Straight news merepresentasikan penyusutan bagian yang dicari


konsumen dalam budaya informasi modern, bahkan dari penyedia
konten tradisional.
Lebih lanjut, kebanyakan berita melaporkan sesuatu yang lebih
rumit dari sekada kerusakan pipa air dan dengan cepat menguji ba-
tas tujuh elemen kelengkapan di atas, 5W+1H+1P. Pada 7 Mei 2009
ketika pipa induk bocor di Washington, misalnya, New York Times
menampilkan 39 berita pada bagian pertama, 16 di antaranya adalah
laporan straight news tentang kejadian sehari sebelumnya. Sisan-
Kelengkapan: Apa Yang Ada dan Apa Yang Kurang? 69

ya adalah berita yang secara konseptual lebih rumit, berita tren,


feature, dan profil. Yang menarik, tak satupun dari 16 straight news ini
ditampilkan di halaman utama (yang semuanya diisi artikel lebih ru-
mit), dan hanya lima yang memberitakan kejadian di luar banjir pipa
induk (bom mobil di Irak; senat mengesahkan rancangan undang-
undang; kerusuhan di Tblisi, Georgia; Rusia mengusir dua diplomat
NATO; dan Centers for Disease Control and Prevention mengumum-
kan temuan baru varian flu babi). Straight news lainnya merupakan
artikel prosedural lebih rumit tentang aktivitas atau pengumuman
pemerintah—yang disebut para ilmuwan sosial sebagai “mencip-
takan kejadian bernilai berita”—yang signifikansinya musti diurai-
kan dan dijelaskan.
Laporan koran yang berumur sehari ini menunjukkan keberadaan
sesuatu yang lain, yakni tentang keraguan konsumen akan informasi
dan berita yang perlu diperhitungkan. Sebagaimana ada beberapa
model penyampaian berita, ada pula beberapa tipe kisah berita. Dan
cara kita menjawab pertanyaan kunci seputar reliabilitas model yang
berbeda itu tentunya juga berbeda, tergantung jenis berita dan isi.
Bahkan dalam batas-batas yang relatif sempit dari penyedia berita
tradisional macam New York Times, ide tentang “berita” meliputi
beberapa tingkatan.
Kebanyakan orang mungkin punya definisi tunggal untuk kata
‘berita.’ Yang klasik, di pelajaran tata bahasa di sekolah, mungkin
“berita adalah apapun yang terjadi yang tidak kita ketahui.” Kata
‘berita’ mengacu pada sesuatu yang baru dan dari berbagai tempat—
Utara, Timur, Barat, dan Selatan: arah jarum di kompas dipakai untuk
menerangkan kata ‘berita.’
Namun, dalam kehidupan nyata, khususnya di media modern,
definisi tunggal ini tak cukup, seperti terlihat dari bagian berita di
New York Times dalam sehari di atas. Untuk mengevaluasi apakah
sesuatu bisa diandalkan atau dipercaya, penting untuk mengetahui
jenis berita apa yang anda cari.
70 Blur

Berita Penuntun Akal: Makna Fakta

Ketika berita radio menyebar pada 1930-an dan berita televisi men-
dominasi pada 1960-an, wartawan media lain mulai mengubah cara
penyajian berita. Koran pagi tak lagi cukup untuk mengulang apa
yang sudah disiarkan berita TV malam sebelumnya. Eksekutif koran
pun berstrategi dengan menaruh berita koran pagi dalam konteks
lebih besar atau membuatnya lebih maju ke depan, demi menam-
bah nilai berita dan menunjukkan ke arah mana berita itu bergerak.
Dengan kehadiran TV kabel pada era 1980-an, dan awal stasiun TV
berita 24 jam non-stop, tekanan analitis pun kian kuat. Berita ma-
kin interpretatif, analitis, dan lebih kaya konteks. Ini benar untuk
berita cetak, namun lain halnya dengan eksekutif berita malam di
TV kabel yang nekad menaruh berita kilas 2 menit di jam makan
malam.
Secara umum, kategori baru untuk ‘berita’ telah muncul.
Kami menyebutnya ‘berita penuntun akal’ yakni berita yang tak
hanya melaporkan apa yang dikatakan walikota kemarin, tapi
juga memberitahu bagaimana pidatonya melengkapi apa yang
dia katakan sebelumnya, dan mungkin menyajikan beberapa lapo-
ran mengenai alasan walikota memilih kata-kata tersebut atau
mengubah pandangannya.
Pada akhirnya, berita penuntun akal memasukan beberapa
elemen baru dan membantu menciptakan berita dan fakta lain pada
makna yang lebih besar dan dalam. Ia memberi reporter kesempatan
berbagi beberapa wawasan yang dimiliki waktu itu. Berita penun-
tun akal menciptakan klik perangsang di otak audien dan membagi
pengetahuan atau pemahaman baru. Ia tidak mesti analitis. Ia bisa
saja berupa pemaparan, menyodorkan latar belakang di balik berita,
dan lekat dengan sang reporter. Ia mungkin saja hanya memasuk-
kan satu atau dua fakta penting baru, satu atau dua bagian yang hi-
lang dari teka-teki berita. Namun ia, secara umum, setingkat di atas
straight news karena mengontektualisasikan fakta sehingga audien
bisa mulai mengambil beberapa makna darinya.

Istilah ‘penuntun akal’ dipakai untuk menerjemahkan ‘sense-maker’, kare-


II

na konteks makna aktivitas ‘sense-making’ adalah menyodorkan narasi yang


dibangun dengan fakta dan bukti kuat. Begitu kuatnya, hingga cukup relia-
bel untuk menuntun pikiran atau akal kita menuju informasi yang benar,
berterima dengan logika, masuk akal.
Kelengkapan: Apa Yang Ada dan Apa Yang Kurang? 71

Berita pendek Washington Post pada tahun 2005, misalnya,


menjelaskan kenapa orang mungkin tak mampu mengenali nama
anggota kabinet periode kedua Presiden George W. Bush: Agenda
presiden telah dibatasi dan kebanyakan keputusan kunci dibuat di
Sayap Barat. Contoh lainnya adalah artikel New York Times tentang
seorang perempuan yang mendukung aborsi tetapi setelah melalui
tes genetika, memutuskan untuk melahirkan bayinya yang menga
lami keterbelakangan mental. Ia menjelaskan bagaimana tes genetik
bisa membalik ekspektasi.4
Selama perang Irak pada tahun 2003, kisah dramatis seputar
perang , luka, penangkapan, dan akhir pembebasan tentara asal West
Virginia bernama Jessica Lynch membuatnya menjadi pahlawan
perang perempuan paling tenar di sejarah Amerika. Sebulan kemu-
dian, pada 11 November 2003, Wall Street Journal mempublikasi-
kan artikel di halaman muka yang menempatkan ketenaran Lynch
dalam konteks lebih besar. Kisahnya, ditulis Jonathan Eig, muncul
dengan judul besar “Kisah Sang Serdadu: Kenapa Anda Mendengar
Jessica Lynch, bukan Zan Hornbuckle: Dengan Meningkatnya Sentimen
Perang, Para Korban dan Bukannya Pejuang Merebut Perhatian.
Tak Selalu Demikian.”
Artikel dimulai dengan kisah serangan terhadap delapan
tentara Amerika di luar Baghdad oleh 300 pejuang Irak dan Syiria.
Peperangan berlangsung 8 jam.

Serangan balik Amerika membunuh sekira 200 pejuang


musuh, menurut perwira komando yang memantau per-
tempuran. Tentara Amerika tak pernah dilatih atau ber-
perang bersama, tapi semuanya keluar dengan selamat.
Tim itu dipimpin Kapten Harry Alexander Hornbuckle,
staf perwira berusia 29 tahun yang belum pernah berpe-
rang sebelumnya. Dia lantas dianugerahi Bintang Perunggu,
dengan V untuk valor (keberanian) atas perjuangannya hari
itu.

Namun, demikian tertulis di artikel itu, “nama Kapt. Hornbuckle


tak pernah muncul di koran atau di TV. Dia tak menerima tawaran
penulisan buku dan main film, tak ada jalan-jalan ke Disneyland.

Sebagai pembanding, Lynch, yang tak membunuh satupun


lawan malah jadi selebritas. Penerbit Alfred A. Knopf meminta
72 Blur

dia menandatangani kontrak buku senilai sejuta dolar. Saving


Jessica Lynch, sebuah film TV tentang kesusahannya, dibikin.
Kenapa dia menjadi tokoh yang dirayakan di budaya po-
puler dan bukan salah satu lelaki atau perempuan lain yang
membuat dirinya unik melalui pertempuran?

Jawabannya, menurut cerita Eig, terletak pada perubahan budaya


Amerika.

Dalam Perang Dunia I, Kopral Alvin York mendapatkan kemas


yhuran karena membunuh 25 tentara Jerman dan menangkap
132 lain. Dalam Perang Dunia II, Letda Audie Murphy dipuji
karena membunuh 240 orang dan menjadi bintang di bioskop
“To Hell and Back” yang menceritakan kisah keberaniannya.
Budaya militer merayakan ser-
dadu yang memenangkan pertum
pahan darah. Namun sejak perang Vietnam, banyak negara
yang cenderung menghargai korban ketimbang agresor, yang
terluka lebih diperhatikan daripada mereka yang melukai.

Artikel ini menyusuri alur sejarah pahlawan perang Amerika dan


melaporkan pandangan para ahli tentang perubahan psikologi war-
ga Amerika, dan bagaimana mereka menghargai orang lain. Ia menja
wab apa yang mungkin dipertanyakan banyak pembaca, jika mereka
memandang persoalan dari sudut pandang berbeda. Kenapa Lynch
jadi pahlawan? Apa yang diungkap artikel itu tentang kita?
Begitu cerita berpindah dari straight news menuju hal yang lebih
kompleks, seperti cerita Lynch, ide kelengkapan menjadi lebih terli-
bat. Ini terutama dipicu elemen baru berita ketujuh yakni 1P—per-
tanyaan yang dimunculkan oleh cerita, menjadi elemen yang lebih
besar untuk diakses. Ketika penyedia berita berubah menjadi kian
interpretatif—ketika ia mencoba membantu audiens mengontek-
stualisasikan atau membuat sesuatu masuk akal—ia menstimulasi
respon audien menjadi lebih rumit dari sebelumnya yang hanya
menginformasikan kejadian.
Pada 7 Mei 2009, hari yang sama ketika pipa induk di Washing-
ton, D.C. rusak, paragraf pembuka di New York Times adalah berita
penuntun akal, bukan straight news. Sehari sebelumnya, laporan
Afghanistan menyebutkan serangan udara Amerika telah memban-
tai lebih dari 100 warga sipil. Times mencoba menaikkan persoalan
Kelengkapan: Apa Yang Ada dan Apa Yang Kurang? 73

dengan mengupas implikasi politik kematian warga sipil.


Lead artikel ini berbunyi: “Serangan udara Amerika, seperti
dilaporkan pejabat dan warga Afganistan pada Rabu yang membunuh
lebih dari 100 warga sipil Afganistan Barat, berisiko memperkuat
perlawanan rakyat Afgan tepat setelah Obama mengirim 20.000 ten-
tara tambahan ke negara ini.”
Pembaca musti tahu lebih dulu bahwa ini bukan berita biasa.
Ia mengajak kita memikirkan kejadian tersebut. Lead tersebut ter-
golong rumit, jauh dari 5W+1H dan lebih dekat pada 1P. Ia tak hanya
memberi kita berita tentang warga sipil yang terbunuh akibat bom
Amerika. Namun, ia juga mencoba menaksir efek politik insiden
tersebut dan secara bersamaan menggarisbawahi fakta dasar yang
menjadi akarnya. Ini adalah taksiran yang melampaui berita.
Paragraf kedua memang mengenalkan elemen lain: Kebetulan,
ada pertemuan di Washington tentang masa depan Afganistan yang
dihadiri Presiden Afganistan, Presiden Iraq, dan Presiden Ameri-
ka tepat pada hari pengeboman itu. “Laporan itu sontak memper-
suram suasana diskusi di Washington pada Rabu sore itu,” tulis
artikel tersebut.
Persoalannya adalah tesis berita itu—pengeboman akan mence-
derai kebijakan Amerika—didasarkan pada variabel yang belum
pasti. Efek insiden pengeboman itu tergantung pada berapa ban-
yak warga sipil yang terbunuh. Dan jumlahnya tak diketahui dan
mungkin tak pernah diketahui.
Sisa berita itu, memang, mencoba memilah kemungkinan jumlah
angka korban, tetapi angka pasti malah sulit disajikan. Upaya me-
nuju ke sana kian berat karena sulitnya menghindari ketergantu-
ngan pada sumber berita kedua dalam memastikan jumlah warga
sipil yang tewas.
Di 26 paragraf selanjutnya, hanya ada sembilan paragraf
berisi paparan mengenai situasi yang mungkin memicu perlawanan
kebijakan Amerika—kebanyakan ditaruh di akhir artikel.
Laporan Times soal pengeboman ini lebih-kurang sama seperti di
banyak koran hari itu. Sebulan setelah itu, perkiraan artikel terse-
but bahwa perlawanan warga Afgan kian menguat dan kebijakan
Amerika kian rumit, terbukti benar. Namun artikel itu mencoba
menyelesaikan hal sebanyak itu dengan terburu-buru dan dalam ko-
lom yang sempit. Ia mencoba memberi tahu kita soal pengeboman,
menaksir jumlah korban yang terbunuh, dan memprediksi penga-
74 Blur

ruhnya pada pertemuan di Gedung Putih. Ia mungkin terlalu ngotot


mencoba melaporkan banyak hal ketika faktanya masih sumir.
Kami mengutip artikel itu bukan karena ia salah—ia terbukti
benar, melainkan karena ia menjadi contoh bagus untuk menunjuk-
kan lemahnya data pendukung yang menuntun akal, atau semesti-
nya tidak dalam sekali penulisan. Ia menunjukkan perbedaan antara
keputusan dalam berita penuntun akal dengan keputusan dalam
artikel berita sederhana. Kini penentuan kriteria ‘bisa dipercaya
atau tidaknya sesuatu’ berubah menjadi persoalan penentuan logis-
tidaknya analisis dan bukti pendukung.
Jika sebuah Web atau TV benar-benar memverifikasi berita, kita
musti berharap ada bukti yang banyak. Jika media itu menjalankan
jurnalisme pengukuhan, dalam praktiknya, bangun analisis yang
didesain hanya sekadar menguatkan prasangka audien dan tidak
perlu repot-repot mencari bukti kuat.

Berita Pembuktian: Apa Yang Bisa Saya Percaya?

Berita penuntun akal mulai marak dan berkembang luas sejak 1960-
an, sementara kategori berita ketiga, “Berita Pembuktian,” jauh lebih
baru. Berita pembuktian coba membantu audiens memilah apa yang
bisa dan tak bisa dipercaya dari sebuah kejadian. Kisah demikian
bisa disebut pemilahan penuntun akal. Namun tujuan utamanya bu-
kan memberi fakta baru atau menaruh yang sudah familiar dalam
konteks membantu audien memperoleh makna baru. Justru, cerita
ini mencoba memverifikasi fakta sehingga audien bisa menentukan
mana fakta atau klaim yang bisa dipercaya. Kisah ini lebih pada bukti:
bagian mana dari sesuatu yang saya dengar dan baca bisa dipercaya?
Di sini, kriteria penentuannya lebih condong pada bukti dan simpu-
lan ketimbang kualitas penafsiran mereka.
Contoh paling tepat soal berita pembuktian mungkin adalah
karya PolitiFact, milik biro perwakilan St. Petersburg Times di Wash-
ington yang dipimpin sang Kepala Biro Bill Adair. Proyek tersebut,
yang memenangi Pulitzer pada 2009, diluncurkan untuk mengawasi
akurasi retorika kandidat pemilihan presiden 2008, yang kemudian
berlanjut menjadi pemeriksa fakta di debat politik secara umum.
Ia menilai akurasi pernyataan para pemain politik nasional, terma-
suk Barack Obama, pemimpin Kongres kedua partai dan komite
nasional keduanya, hingga pembuat film independen Michael Moore dan
berbagai intelek TV dari berbagai warna politik. Ia juga memo
Kelengkapan: Apa Yang Ada dan Apa Yang Kurang? 75

nitor kemajuan Gedung Putih memenuhi janji kampanye presiden.


Semuanya dilakukan dengan cara nonpartisan dan nonideologis,
bercita-cita untuk menjadi broker jujur di antara wartawan
tradisional Amerika.
PoliticFact membangun gerakan pemeriksa fakta iklan politik yang
dimulai awal 1990-an dan secara khusus pada pekerjaaan FactCheck.
org, proyek yang digawangi mantan reporter Wall Street Journal dan
CNN Brook Jackson dan yang terafiliasi dengan Annenberg School for
Communication and Journalism di University of Pennsylvania.
Banyak juga berita yang difungsikan dengan cara sama, dengan
lebih detail, pada subyek tertentu. Pada 23 Januari 2007, misalnya,
CNN menyiarkan sebuah berita yang dipilih dan akhirnya dibongkar
kebohongannya mengenai tuduhan bahwa Barack Obama pernah
belajar di sekolah muslim radikal antara 1969 dan 1971 ketika ting-
gal di Indonesia. Insight on the News, majalah milik penerbit Wash-
ington Times, melaporkan di situs Webnya bahwa pendukung lawan
Obama di pemilihan bakal calon presiden, yakni pendukung Senator
Hillary Clinton, telah menemukan bukti dugaan itu. Berbagai sumber
berita pun mengutip klaim Insight, termasuk beberapa pembawa
acara Fox News, New York Post, dan Glenn Beck (yang kemudian
menjadi berita utama CNN) dan sejumlah blog politisi. Di situ, Obama
tak hanya dituduh telah berbohong dalam dua biografinya, tapi juga
secara implisit menudingnya semacam “kandidat Manchu,” muslim
rahasia yang coba mengambil-alih Amerika. (Istilah “kandidat Man-
chu,” berasal dari buku yang terbit pada 1959 dan dua film tentang
pembunuhan politik rahasia oleh agen yang dicuci otak komunis Ko-
rea).
CNN mengirim reporter ke sekolah itu, memawancarai pejabat
sekolah, mengamati para siswa dan guru, dan mewawancarai bekas
teman sekolah Obama. Secara umum, berita itu menyuguhkan bukti
yang ditemukan reporter, sehingga pemirsa, pada gilirannya, bisa
ikut melongok melalui pundaknya bagaimana ia mengumpulkan
fakta. “Saya pernah ke madrasah itu di Pakistan,” kata koresponden
John Vause, merujuk pada sekolah yang mengajarkan teologi politik
Islam ekstrim. “Sekolah ini tak seperti itu sama sekali.”
Berita pembuktian bahkan bisa jadi lebih ambisius, dan men-
jadi proses yang terus berjalan. Pada 2009, misalnya, proyek media
watchdog Pro Publica memproduksi serial berjudul Eye on the Stim-
ulus. Proyek itu menunjukkan reportase pembuktian yang mengin-
vestigasi efek paket belanja pemerintah yang didesain untuk men-
76 Blur

stimulasi ekonomi dan mengatasi resesi. Liputannya dimulai pada


Februari 2009, tak lama setelah undang-undang stimulus disahkan,
melibatkan empat reporter plus seorang reporter lokal independen
dan warga negara bagian untuk memantau proyek lokal yang dibi-
ayai dengan dana stimulus. Liputan difokuskan pada penciptaan la-
pangan kerja, pembelanjaan, dan transparansi di tingkat pemerintah
pusat, negara bagian, dan lokal. Setelah pemerintah Obama berjanji
program itu akan menyelamatkan atau menciptakan 3,5 juta peker-
jaan, laporan ProPublica justru meragukan dasar estimasi tersebut.
Pemerintahan Obama pun beralih memakai metode penghitungan
berbeda, merevisi hitungan mereka menjadi 1 juta pekerjaan, dan
ProPublica menelusuri dan membandingkan keduanya yang beru-
jung pada estimasi lebih rendah di tingkat negara. 5 Alih-alih mem-
buat berita satu-waktu yang statis, ProPublica menciptakan proyek
yang hidup dengan berbagai elemen yang membangun bukti dan
bereaksi terhadap klaim pemerintah.
Organisasi berita juga bisa membuktikan keaslian liputan mer-
eka sebelumnya. Pada Juni 2009, misalnya, New York Times mem-
publikasikan berita yang mengatakan hitungan mereka di berita
sebelumnya soal jumlah kasus flu babi di Amerika keliru. Artikel
di musim panas sebelumnya melaporkan bahwa kemungkinan ada
2.500 kasus flu babi di Amerika per akhir Mei. Namun Pusat Kon-
trol dan Pencegahan Penyakit mengestimasi angka yang tepat adalah
melampaui 100.000. Artikel selanjutnya muncul dan menjelaskan
bagaimana dan kenapa kesalahan model komputer yang dipakai be-
gitu parah; ia pada dasarnya adalah program untuk melacak bagaima-
na uang, dan bukannya kuman, menyebar di Amerika.
Namun tugas mencapai kelengkapan dalam berita pembuktian
ini lebih berat. “Anda menyusun bukti, dan berusaha membuktikan
sebuah kasus,” kata Brooks Jackson. Artinya, musti ada cukup bukti,
dan di mana ada lubang pembuktian, di situ dibutuhkan kesabaran
ekstra.

Reportase Paradigma Baru

Yang terkait erat dengan berita pembuktian adalah artikel atau


konten yang coba membangun pemahaman baru tentang fenomena
lebih besar, yang menantang pemikiran konvensional. Reportase
paradigma baru ini beroperasi di atas satu situasi atau kejadian. Ia
Kelengkapan: Apa Yang Ada dan Apa Yang Kurang? 77

melibatkan perubahan melalui bongkahan data yang lebih besar dan


menemukan pola lebih besar dari kejadian, lembaga, atau tempat
dan waktu. Ini adalah jenis pekerjaan yang ditekuni John Crewdson.
Karya Malcolm Gladwell di New Yorker adalah contoh lain. Reportase
Gladwell tentang penelitian gegar otak dan sepak bola, misalnya, mu-
lai mengubah cara penanganan luka kepala di dunia olah raga. Seri
aneka artikel berjudul “Driven to Distraction,” dibuat reporter New
York Times Matt Ritchtel yang secara empiris mendokumentasikan
bahaya pemakaian telepon seluler dan SMS saat berkendara, adalah
contoh lain. Dalam beberapa minggu pemuatannya, negara bagian
merespon dengan mengubah aturan tentang itu.
Kami berharap jenis baru reportase dengan paradigma yang ber-
gulir ini masih tinggi. Berita penuntun akal memasukkan fakta untuk
memperluas pemahaman terhadap beberapa kejadian, dan berita
pembuktian juga membuktikan kasus, tetapi reportase dengan para-
digma bergulit ini melakukan lebih dari itu. Ia membuktikan kasus
yang lebih luas, menyusun lebih banyak bukti. Seringkali, ia begitu
persuasif hingga berdampak langsung pada hidup kita.

Reportase Watchdog: Jurnalisme Jaksawi

Selanjutnya muncul gagasan klasik jurnalisme investigatif, di


mana organisasi berita menjadi anjing penjaga institusi yang kuat
dan membongkar aksi kriminal.6
Ia adalah berita tentang penyalahgunaan jabatan oleh pejabat
atau lembaga publik yang memengaruhi hajat hidup rakyat. Jurnal-
isme watchdog bukanlah elemen baru dalam pers modern. Ia lekat
dengan sejarah jurnalisme, dan dengan ekspektasi publik paling
awal terhadap produk jurnalisme, serta fungsinya di masyarakat. Se-
jak dahulu ketika koran berkala muncul di Inggris pertama kali pada
abad 17 sampai sekarang, jurnalisme dikenal mampu membongkar
kejahatan. Jurnalisme watchdog memisahkan nilai pekerjaan ini dari
bentuk informasi lain.
Karena kebanyakan berita penyidikan menyiratkan bahwa ses-
uatu tak seperti yang seharusnya, jenis liputan ini membutuhkan
transparansi tingkat tinggi serta detail sumber dan metode yang leb-
ih banyak untuk menunjukan independensinya. Artikel tersebut juga
mensyaratkan standar pembuktian lebih tinggi karena sifat dasarnya
78 Blur

yang jaksawi, menyeret seseorang ke meja hijau. Dan semua kebutu-


han keterbukaan dan dokumentasi ini membuat jenis liputan ini kian
menantang karena kerumitan reportase dan sifat sumbernya yang
sering kali sensitif.
Reportase yang mengarah pada jurnalisme watchdog, yang mem-
bongkar pelanggaran seringkali menyakitkan dan memerlukan
proses penyusunan kasus secara perlahan selama berbulan-bulan
atau bahkan bertahun-tahun. Tak jarang, liputan investigasi berawal
dari informasi dan kecurigaan kecil, atau sekadar pertanyaan remeh
yang tak terjawab atau terkonfirmasi. “Informasi kecil yang buat saya
berarti adalah yang bisa saya dokumentasikan,” dan “informasi ke-
cil yang benar-benar berarti yang saya dapatkan adalah tentang
dokumen atau pengadilan,” kata Marton Mintz, yang 30 tahun beker-
ja di Washington Post dan membongkar kisah seperti hubungan an-
tara obat penenang thalidomide dan cacat kelahiran; kontrasepsi tak
aman; dan General Motor yang memata-matai pengritik industri oto-
motif Ralph Nader. “Saya mengasumsikan bahwa apapun yang saya
tulis akan diperkarakan di meja hijau. Dan itu membuat saya me-
miliki disiplin tersendiri.”
Jim Risen, yang beberapa kali memenangi Pulitzer, sering ber-
bicara tentang pentingnya “memiliki kesabaran,” untuk “hanya
bicara pada sumber dan bukan memojokkan mereka,” dan untuk
“menemukan orang yang mengerti benar apa yang terjadi dan men-
genal mereka dengan baik.” Risen merekomendasikan para reporter
untuk belajar, “mengenali siapa yang bisa dipercaya dan siapa yang
tidak” dan untuk “mengetahui subkultur tertutup.” Tugas yang tak
mudah itu merupakan perkakas liputan investigatif.
Reporter Washington Post Dana Priest dan Anne Hull, bersama
fotografer Michel duCille, mengumpulkan bukti berupa daftar fakta
dan pernyataan tentang kesalahan penanganan veteran di Walter
Reed Army Medical Center pada 2008. Artikel mereka dibangun
berdasarkan kumpulan wawancara, foto dramatis tentara yang ter-
luka, dan dokumen resmi. Begitu seksamanya detil artikel Walter
Reed hingga memicu kegaduhan nasional, dan pejabat federal segera
mengimplementasikan reformasi besar di rumah sakit tersebut.
Ada akumulasi catatan yang dikejar melalui pernyataan on the
record, dalam jumlah tertentu yang menunjukkan kesamaan pola.
Ada penyisiran basis data untuk membangun pola bukti kuantitatif.
Kelengkapan: Apa Yang Ada dan Apa Yang Kurang? 79

Lantas, riset itu ditambah wawancara yang mengontekstualkannya


dengan kasus yang dikejar. Ada tindaklanjut terhadap informasi tips
yang diberikan sumber anonim, dengan mencari konfirmasi dari
saksi mata independen.
Apapun metode yang dipakai, berita musti menyajikan cukup bukti
untuk membuat konsumen melihat kasus itu sendiri dan memahami
alasan mengapa bukti yang tersaji layak dipercaya. Memegang infor-
masi semacam itu menjadi standar tingkat tinggi yang membantu
kita membedakan antara jurnalisme penyelidikan (yang dilakukan
dengan pikiran terbuka dan tak bias, berdedikasi terhadap akurasi
dan konteks besar) dengan jurnalisme penyidikan yang bias. Lapo-
ran penyidikan yang dibuat politisi atau kelompok kepentingan cen-
derung berkonteks lemah, berfokus sempit, dan mengabaikan atau
meremehkan informasi yang bertentangan dengan maksud mereka.
Liputan penyidikan terbaik, sebagaimana akan kita lihat, adalah yang
terskeptis di antara kepastian mereka sendiri.
Di dalam bab ini kita telah mendiskusikan cara-cara untuk berpikir
tentang kelengkapan berbagai jenis cerita yang berbeda. Selanjutnya
kita musti mulai mengiris elemen lain, dan proses tersebut dimulai
dengan melihat narasumber.
80 Blur

BAB 5
Sumber: Darimana Asalnya?

Pada musim semi 2009 berita yang timbul-tenggelam soal kesehatan


Steve Jobs, CEO dan pendiri Apple Computer Co., mulai menunjukkan
titik terang. Selama hampir lima tahun, berita rumor dan spekulatif
tentang penyihir teknologi ini secara periodik menyambangi Lem-
bah Silikon, menghantui bursa saham. Semua bermula pada 2004,
ketika Jobs pertama kali mengungkapkan fakta bahwa ia menjalani
perawatan kanker pankreas. Awalnya ia menenangkan bursa dengan
mengumumkan keberhasilan perawatan medis yang dilalui. Namun
ketika muncul di TV, dengan berat badan menyusut drastis, tatkala
memperkenalkan iPhone baru 3G di Apple Worldwide Develop-
ers Conference pada 9 Juni 2008, spekulasi seputar kesehatannya
terpantik lagi.
Selang 2 bulan setelah itu, saham Apple terpental dan terbanting.
Lantas pada Januari 2009, Job mengeluarkan surat pernyataan yang
menyebutkan terapi hormon yang dia jalani ternyata lebih sulit dari
perkiraan semula, sehingga dia cuti berobat selama 6 bulan. Bulan
berganti bulan, rentetan peluncuran produk Apple dan rilis neraca
keuangan berjalan normal. iPhone baru, 3GS, diluncurkan; disusul
laporan penjualan iPhone yang melampaui estimasi. Pertanyaan
masih mengemuka soal proyeksi jangka panjang Jobs, dan pasar baru
tenang ketika dia muncul lagi pada awal Juni.

Lalu, pada 19 Juni, Wall Street Journal menurunkan laporan di


halaman utama:
Sumber: Darimana asalnya? 81

Steve Jobs, yang cuti dari Apple Inc. sejak Januari untuk
mengobati gangguan medis rahasia, menjalani transplantasi
hati di Tennesee sekitar dua bulan lalu. CEO Apple itu pulih
dan diharapkan kembali bekerja sesuai jadwal bulan ini, meski
paruh waktu terlebih dahulu.
Job tak menjawab email konfirmasi. “Steve masih berupaya
bisa kerja lagi pada akhir Juni, dan belum ada lagi yang bisa
saya sampaikan,” tutur juru bicara Apple Katie Cotton.
Artikel sepanjang 18 paragraf di Journal itu membakar rasa
penasaran pelaku industri seputar detil kesehatan Jobs, tokoh
kunci ekonomi global abad 21; pencipta iPhone, iPod, dan Mac;
gambaran awal remaja jenius penemu hal besar berikutnya
(komputer rumah pertama, untuk kasus Job) di garasi rumah;
model pecandu komputer tulen.

Namun berita Journal miskin petunjuk soal sumber. Tak ada sum-
ber informasi yang dikutip di berita itu. Hanya ada petunjuk samar-
samar tentang satu sumber di satu paragraf: “Setidaknya beberapa
direktur Apple mengetahui bedah yang dijalani CEO mereka. Sebagai
bagian kesepakatan yang dibuat Jobs sebelum cuti, beberapa anggota
dewan direksi tiap minggu mendapat penjelasan singkat soal kondisi
CEO mereka dari dokter Jobs.”
Bahkan, Journal memakai apa yang disebut wartawan sebagai
pendekatan “suara Tuhan” sebagai sumber berita. Perusahaan pers,
akibatnya, mengambil alih peran sebagai sumber. Journal memberi
tahu kita secara langsung, seolah-olah informasi itu berasal dari dir-
inya sendiri.
Mungkin ada banyak alasan kenapa Journal memakai pendekatan
itu. Reporter dan editornya mungkin melindungi narasumber dengan
harapan hubungan tetap lancar sehingga bisa mendapat info dan ber-
ita selanjutnya. Apple adalah perusahaan yang beroperasi di industri
penuh kompetisi ganas dan sangat terkenal di antara wartawan seb-
agai perusahaan yang menjaga kerahasiaan. Mereka memecat pega-
wai hanya karena membuka informasi soal produk yang akan dilun-
curkan. Anggota dewan direksi Apple mungkin khawatir dipecat jika
membuka informasi semacam itu. Atau mereka mungkin ingin men-
jaga nilai saham agar tak anjlok. Sungguh menarik untuk mengetahui
mengapa berita di koran ini minim sumber.
Namun pendekatan suara Tuhan sangat tak biasa, dan jauh dari
82 Blur

karakter Journal, yang menekankan pentingnya peran narasumber


dalam evaluasi kelayakan berita mereka. Jika anda mengidentifikasi
konten jenis apa yang anda temui, langkah kritis selanjutnya adalah
menimbang sumbernya.

Siapa dan apa sumbernya, dan kenapa musti dipercayai?

Ada banyak komponen untuk mengevaluasi nilai sebuah sum-


ber di berita. Prosesnya dimulai dari mengidentifikasi siapa dan apa
sumber tersebut. Namun karena ada banyak jenis sumber berbeda,
penting untuk membedah tipe mereka setepat-tepatnya.

Berita Tanpa Sumber: Audiens Sebagai Saksi Mata

Kejadian umum yang disaksikan banyak orang mungkin tak perlu


sumber khusus sama sekali. Laporan soal pidato kepresidenan, yang
biasanya bersifat umum dan masuk siaran langsung TV, mungkin tak
perlu atribusi. Presiden menjadi sumber berita. Jika kita menyaksi-
kan beritanya di TV, tentu, kita bisa menjadi saksi mata langsung.
Namun tidak semua berita bisa kita saksikan langsung. Jika kita
ingin tahu apa yang dikatakan presiden secara pribadi, kenapa ia me-
nyampaikan pidatonya itu, atau apa yang ketinggalan, kita musti ber-
sandar pada otoritas dan keandalan orang lain untuk menjadi mata
dan telinga kita. Dalam kasus ini kita musti mengidentifikasi sumber
tempat kita bergantung itu tergolong jenis sumber apa.

Wartawan sebagai Sumber

Seringkali karya terbaik yang kita temui, semacam laporan Vietn-


amnya Homer Bigart, melibatkan sang reporter, yang melihat ke-
jadian langsung , sebagai mata dan telinga kita di lapangan. Di sini,
wartawan menjadi saksi mata personal. Simak laporan reporter New
York Times Dexter Filkins pada 7 Mei 2009 berikut:

MARDAN, PAKISTAN—Bangsal rumah sakit TBC Mardan


yang lembab dan gelap, relik yang mulai lapuk dimakan usia,
pada Rabu diubah jadi klinik bernuansa agak modern, tempat
para pengungsi perang di sekitarnya berdatangan sepanjang
hari.
Sumber: Darimana asalnya? 83

Awalnya ratusan, lalu ribuan; yang compang-camping,


sedih, rapi, semuanya berkumpul di halaman, lalu di dalam
rumah sakit, hingga ke aula, duduk di lantai. Kebanyakan
adalah pria tapi juga ada wanita, nyaris semuanya tersesat,
bingung, dan tak tahu akan nasib ke depan.

“Reza Mohammed, ibu lima anak,” tutur seorang perempuan di


balik burqa; dia duduk di lantai. Ia memberikan kartu pengenalnya
pada seorang petugas di kursi. Aula di situ gelap tanpa listrik. “Kami
datang enam hari lalu. Tolong daftarkan nama saya.”
Cerita tentang perang di 17 paragraf selanjutnya dibangun den-
gan menyodorkan detil untuk disimpulkan pembaca: “Pak Khan, dua
kali mengungsi dari Swat, mengakhiri pembicaraan panjang dengan
menerima 20 rupee dan memasukkannya ke dompet. Nilainya seki-
tar 25 sen, satu-satunya uang yang ia miliki.
“’Tuhan tak akan membiarkan saya kelaparan,’ katanya. ‘Namun
saya akan berkata apa-adanya.’”
Filkins adalah saksi mata untuk kita, sumber kita, menulis kisah
yang seolah berkata “Datang dan lihatlah apa yang saya lihat, dengar-
lah apa yang saya dengar.” Dan dia meyakinkan kita dengan perhatian
teliti yang terlihat dari uraian detil tentang tempat dan orang-orang
di sana, beberapa di antaranya dibiarkan bercerita dengan kata-kata
mereka sendiri.
Laporan Filkins merepresentasikan tingginya berita terpercaya.
Reporter menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan bisa mem-
beri jaminan. Fakta adanya reporter yang mendapat akses demikian
biasanya menjadi tanda tingginya kredibilitas seseorang, penghor-
matan narasumber hingga bisa masuk lebih dalam. Reporter semacam
ini tidak berada di belakang garis tanda “dilarang melintas” atau
duduk di ruang konferensi pers. Menyaksikan laporan semacam itu,
dan jika anda melihat nama sama sering berada di atas karya artikel
demikian, berarti reporter yang mendapat akses seperti itu, kembali
mendapat akses serupa. Bisa dibilang, standarnya sudah emas.
Jika reporter telah menyaksikan, dia bisa menunjukkan pada kita,
dan kita bisa mendekat untuk menyaksikannya sendiri dan menarik
kesimpulan sendiri.
84 Blur

Wartawan sebagai Pakar Teruji

Dalam beberapa kasus, wartawan memiliki kepakaran nyata yang


membuatnya layak disebut reporter sekaligus sumber. Ini seringkali
mengemuka di antara jurnalis medis, terutama yang karyanya sudah
kita kenal dekat. Dr. Tim Johnson dari ABC News, misalnya, meraih
kepercayaan permirsa dalam beberapa dekade dan dihormati di ka-
langan dunia medis sebagai dokter, praktisi, reporter, dan dosen di
Harvard Medical School. Seringkali dia cuma menyajikan pendapat
medis pribadi atau menanggapi satu kejadian berita dalam laporan-
nya, persis dengan dokter pribadi yang memberi penilaian medis
pada pasien. Meski demikian, wartawan sekaligus pakar seperti itu
umumnya melampaui kewenangan pakar biasa. Dan keterkenalan di
sini penting. Reporter yang tak pernah terdengar sebelumnya meski
juga seorang dokter, atau reporter tak terkenal yang tak dilatih atau
diuji secara khusus, mungkin sulit memuaskan keinginan kita untuk
mendapat sesuatu dari sumber yang “diakui.”
Lebih sering lagi, wartawan membangun kredibilitas laporan
melalui sumber rujukan informasi mereka. Jika demikian, pertanyaan
yang musti diajukan adalah, “siapa sumber itu dan mengapa mereka
layak dipercayai?” Ini berimplikasi tak hanya pada kebutuhan untuk
mengetahui sumber dan keahlian mereka seperti yang diharapkan,
tapi juga pada basis pengetahuan yang dimiliki untuk kasus terten-
tu. Keterujian saja tak cukup. Dalam berita tentang penyakit infeksi,
misalnya, tak cukup bagi kita untuk tahu nama dokter yang diwawa-
ncarai dan tempat dia bekerja. Mungkin juga tak cukup sekadar tahu
bahwa dia dokter spesialis penyakit infeksi. Lebih penting bagi kita
untuk tahu apakah dia pernah bekerja di bidang penyakit tertentu
yang dipertanyakan. Dengan kata lain, makin kita memiliki kekhu
susan sumber, semakin baik.
Proses ini, secara alamiah, dimulai dengan mengetahui nama
narasumber. Namun perlu dicatat, itu hanyalah langkah pertama.
Sebagaimana yang akan kita diskusikan selanjutnya soal sumber
anonim, nama bisa saja menjadi elemen yang paling kurang penting
dalam mengenali nilai sumber. Yang lebih penting adalah menentu-
kan seberapa otoritatif dan seberapa tinggi pengetahuan orang itu
dalam konteks berita. Bagaimana sumber ini tahu apa yang mereka
bicarakan pada kita?
Sumber: Darimana asalnya? 85

Sumber sebagai Saksi Mata: Laporan Lingkaran Pertama

Laporan Washington Post tentang kerusakan pipa induk di


Washington, D.C., yang dikutip di Bab 4, kaya akan sumber. Beberapa
di antaranya adalah deputi pemadam kebakaran dan dua pejabat kota
bidang saluran limbah, serta otoritas pengelola air yang menyediakan
apa, kapan, di mana, kenapa dan bagaimana kecelakaan terjadi. Ada
juga detil dari dua saksi mata di lingkungan itu, yang menceritakan
bagaimana banjir mengganggu rumah mereka. Semua ini menempel
bersama deskripsi banjir dan kerusakan jalan aspal yang ditulis oleh
dua reporter.
Dalam kasus demikian, sumber yang mau menjadi saksi mata (pen-
duduk yang rumahnya kebanjiran) sangat penting bagi wartawan,
sama pentingnya untuk pengacara dan polisi penyidik, untuk ditelisik
apakah saksi itu berada di lingkaran pertama. Apakah sumber berada
di sana secara personal? Jika iya, apa dia melihat sendiri apa yang
dia jelaskan ataukah berasal dari perkataan orang lain kepadanya?
Apakah dia benar-benar saksi mata?
Gradasi jarak pengetahuan antara orang lingkaran pertama ke
orang kedua semacam itu dari bisa jadi tipis dan mudah terlewat
ketika kita membaca artikel atau melihat laporan yang kaya akan
detil dramatis dan emosional.
Dalam diskusi di Bab 4 tentang berita penuntun akal, kami
menjelaskan sebuah artikel di New York Times yang berusaha
menyediakan konteks lebih luas soal berita kematian warga sipil
akibat serangan udara Amerika di Afghanistan. Judul artikel itu,
“Kematian Warga Sipil Ancam Dukungan Terhadap Perang Afgha-
nistan,” memperjelas konteks. Ia menjadi headline Times hari itu
sebab editor menganggap kisah tersebut merupakan berita terkuat
untuk disajikan pada pembaca.
Para pejabat militer Amerika mengonfirmasi serangan di
daerah itu, tetapi mempertanyakan laporan soal “lebih dari 100
warga sipil” tewas. Dua reporter yang menulis berita itu, meski tak
di lapangan, punya kontak luas di lokasi dan mampu menghubungi
setidaknya dua orang di desa yang menyaksikan dan memberi
gambaran jelas soal potongan tubuh yang bertebaran di tanah.
Satu-satunya sumber lain yang bisa membangun magnitude keru-
sakan itu berasal dari anggota parlemen Afghanistan. Dia menjelas-
86 Blur

kan ada dua kontak telepon yang dia lakukan, sekali dengan walikota
setempat dan satunya lagi dengan kenalannya di situ. Detil yang di-
simpulkan anggota parlemen melalui kontak telepon itu terhitung
mundur dua langkah: walikota cuma mengulang laporan warga
yang datang ke kantornya; penelpon lain mengaku menyaksikan pe-
makaman warga yang disebut-sebut terbunuh dalam serangan udara
itu. Namun sumber ini sendiri adalah lingkaran kedua, yang kemu-
dian meneruskan informasi yang dia terima kepada anggota
parlemen yang ditelpon reporter. Artinya, reporter mendapat
sumber informasi dari lingkaran ketiga, dan hanya ada satu sum-
ber lingkaran ketiga, yakni anggota parlemen, yang kemungkinan
mengubah keterangan agar lebih konsisten. Jadi bagaimana kita me-
nilai sumber yang jaraknya jauh dari kejadian seperti itu? Kita tak
perlu mengabaikan semuanya. Mereka mungkin menjadi satu-satu-
nya sumber yang kita punya. Pada kasus seperti itu, kita perlu men-
cari beberapa sumber yang independen satu sama lain dan melihat
apakah cerita mereka saling mendukung konsistensi dan membuat
mereka kredibel. Inilah cara reporter cakap bekerja. Mereka, pada
prinsipnya, mencoba, “menghubungkan” beberapa laporan untuk
melihat apakah berujung pada satu pola yang bisa dipercaya, sama
seperti cara yang digunakan ilmuwan dan peneliti menghimpun data
dalam jumlah besar untuk melihat bentuk pola kesimpulan yang bisa
dipercaya. Jika tidak banyak sumber yang tersedia, dan organ buk-
tinya terbatas, kita musti menilai laporan tersebut kurang bisa di-
andalkan—sugestif mungkin, tapi tak berbukti.
Pada akhirnya, investigasi lebih lanjut tentang pengeboman
hari itu di Afghanistan memang sulit dibuktikan. Selang dua bulan,
detil utama dalam berita, berapa korban warga sipil dan berapa yang
tewas karena pengeboman (bukan akibat kontak senjata sebelum-
nya), belum bisa ditetapkan. Komisi Independen Hak Asasi Manusia
Afghanistan melaporkan 86 orang terbunuh dalam pengeboman.
Pemerintah Amerika melaporkan 26 warga sipil meninggal akibat
pengeboman itu.1
Dalam hukum, ada aturan ketat mengenai derajat keterangan
saksi mata. Mereka bisa saja memberi pernyataan atas apa yang
mereka lihat langsung—fakta fisik eksternal, apa yang dikatakan,
apa yang dilihat. Namun mereka tak bisa memberi kesaksian, secara
umum, tentang dugaan mereka atas pikiran atau perasaan lawan
bicara, kecuali yang terlontar eksplisit. Dan sumber laporan lingkaran
kedua–keterangan yang didengar saksi mata dari pihak yang
Sumber: Darimana asalnya? 87

mengaku melihat kejadian—juga biasanya tak bisa diterima. Dalam


hukum, derajat keterangan demikian hanyalah “desas-desus”, yang
muncul pada situasi khusus. Wartawan tak punya batasan dan aturan
tentang bukti. Namun sebagai konsumen, kita musti tahu bahwa
mereka tak bebas dari persoalan sama yang dihadapi di ranah
hukum.

Sumber Lingkaran Pertama dan Masalah Waktu

Jikapun seseorang adalah saksi lingkaran pertama, pengacara dan


polisi tahu bahwa keterangannya tak serta-merta sahih. Untuk
sementara, abaikan dulu kecurigaan bahwa seseorang coba me-
nyesatkan atau berbohong. Bahkan orang yang melihat kejadian
langsung, dan ingin menjadi saksi mata yang akurat dan adil, masih
bisa punya cacat ingatan. Mereka mungkin tak melihat beberapa hal.
Mereka mungkin ingin terlihat lebih mengetahui duduk persoalan
ketimbang fakta sebenarnya yang diketahui. Dan penelitian psiko-
log secara konsisten menyimpulkan bahwa memori sangat bisa di
sugesti. Orang dengan mudah mengingat kejadian yang tak pernah
terjadi, dan setelah diingatkan, tetap saja ngotot mempertahankan
ingatan yang salah sebagai yang benar.2 Konsekuensinya, pengacara
sekarang menanyai para saksi mata secara lebih dekat terkait dengan
akurasi ingatan mereka dan tentang kemungkinan adanya masukan
dari orang lain dalam pembentukan memori itu.
Faktor utama, menurut literatur psikologi, adalah sifat ingatan
yang serba tergesa. Jarak waktu berdampak sangat mendistorsi
ingatan.3 Karenanya, salah satu elemen untuk menaksir sumber
yang dapat dipercaya bahkan dari seorang sumber saksi mata adalah
sedekat apa waktu kejadiannya.
Contoh kasus ini adalah korban perkosaan di North Carolina yang
tak bisa mengenali sang pemerkosa 11 tahun sejak peristiwa itu
terjadi. Meski dia tak pernah ragu menunjuk pria yang dia anggap
sebagai pelaku, tapi sang tertuduh dibebaskan 11 tahun kemudian
karena bukti DNA berkata lain.
“Ini benar-benar mengejutkan,” kata detektif kasus ini saat
menerangkan reaksi korban di depan koresponden CBS Lesley Stahl
dalam segmen 60 Minutes seputar testimoni saksi mata. “Tidak, tak
mungkin seperti itu. Itu tak mungkin ... Tak ada keraguan dalam
pikiranku,” kata korban.
“Kini DNA telah membebaskan lebih dari 230 laki-laki dalam
88 Blur

kebanyakan kasus kejahatan seks dan pembunuhan,” kata Stahl,


“kriminolog telah mampu untuk kembali dan mempelajari apa yang
salah dalam investigasi demikian.”
“Apa yang telah mereka asah dalam hal ini,” kata Stahl, “adalah
testimoni cacat para saksi mata. Lebih dari 75% pria tak bersalah ini
dihukum sebab saksi mata menunjuk orang yang keliru.”4
Elemen kedua dalam menaksir kesahihan sumber yang mengklaim
sebagai saksi mata adalah ada-tidaknya keterangan pendukung dari
pihak lain. Ini sudah memasuki persoalan tentang jumlah sumber.
Sebuah berita atau laporan yang berisi deskripsi kejadian sama oleh
lebih dari satu sumber kemungkinan besar lebih sahih dari laporan
yang hanya berdasar pada satu sumber. Dalam program kami soal
analisis konten berita di Project for Excellence in Journalism, kami
memposisikan jumlah sumber kutipan sebagai salah satu tanda bukti
kewibawaan berita.
Sumber beragam itu penting sebab keterangan bisa berbeda,
khususnya jika kejadian berlangsung cukup lama. Kini meski ada
banyak keterangan, masih ada keterbatasan soal apa yang bisa di-
pastikan. Banyak peristiwa yang kontroversial dan bermuatan poli-
tik, hingga memperumit proses ingatan.
Satu kasus yang demikian terjadi pada tahun 2009, saat juru
bicara Gedung Putih Nancy Pelosi terjebak dalam sebuah debat
dengan CIA seputar perintah apa yang pernah atau tak pernah dia
terima dalam pengarahan tujuh tahun sebelumnya.
Argumen tentang sejauh mana pimpinan kongres tahu bah-
wa pemerintah AS memakai waterboarding dan cara interogasi
brutal lain, berdasarkan satu laporan CIA ke Capitol Hill yang ber-
bunyi: Para Pimpinan Kongres telah diberi pengarahan 40 kali se-
jak 4 September 2002. Pelosi mengatakan ia hanya menghadiri satu
pertemuan pada 4 September 2002 dan tak pernah diberi tahu soal
waterboarding dan praktik interogasi brutal yang dipraktikkan ter-
hadap para tahanan. Dia, menurut pengakuannya, “diberi pengara-
han soal teknik interogasi yang dipertimbangkan untuk dipakai di-
nas tersebut di masa mendatang dan teknik-teknik itu dianggap
legal.” Dalam dua minggu setelah laporan CIA keluar, para wartawan
mendapati anggota kongres berada di posisi berseberangan dalam
menanggapi apa yang mereka terima dan yang tak mereka terima
pada pengarahan itu. Reporter dan konsumen berita yang teliti akan
berhati-hati melihat sumber yang banyak dan beragam seputar infor-
Sumber: Darimana asalnya? 89

masi bertentangan. Mereka tahu tengah berurusan dengan kejadian


tujuh tahun silam dan yang masih, pada taraf tertentu, secara legal
digolongkan sebagai rahasia.
Kasus ini menunjukkan bahwa di samping memori yang
ringkih, suasana panas Gedung Putih—berupa rekoleksi yang bersi-
fat membela diri dan disesuaikan dengan keinginan—yang mel-
ingkupi sumber-sumber para reporter. Bahkan Direktur CIA mem-
peringatkan soal ingatan berdasarkan keterangan yang dicatat se-
tahun sebelumnya. “Pada akhirnya, komite dan anda musti menen-
tukan apakah informasi ini merupakan ringkasan akurat tentang
kejadian sebenarnya.”

Bukti Pendukung Sumber Saksi Mata: Aturan Dua Sumber

Pada 1970-an, banyak warga AS mendengar dengan jelas


Benjamin C. Bradlee, Direktur Eksekutif Washington Post, berkata
soal “aturan dua sumber” ketika skandal Watergate terkuak. Kon-
sepnya, seperti dimaksudkan Bradlee, bahwa, Post tak akan memun-
culkan informasi sumber anonim kecuali ada bukti pendukung dari
sumber kedua.
Namun konsep bukti pendukung ini tidaklah sesederhana
seperti yang terlihat. Untuk satu hal, sumber bukti pendukung harus
independen satu sama lain. Ini berarti mereka tak bisa membebek
keterangan sama dari lingkaran kedua yang bersumber dari orang
yang sama pula.
Kejadian yang mengundang perhatian banyak orang seputar bukti
pendukung saksi mata lingkaran kedua mengemuka dalam skandal
asmara Presiden Bill Clinton dengan Monica Lewinsky, seorang pe-
kerja magang berusia 22 tahun di White House.
Satu episode jurnalistik yang lebih kontroversial melibatkan apa
yang disebut berita “saksi mata lingkaran ketiga.” Berbagai kan-
tor berita melaporkan ada orang ketiga yang diduga memergoki
Clinton bermesraan dengan Lewinsky. Ini akan menjadi bukti bahwa
presiden berbohong ketika bersaksi di bawah sumpah. Spekulasi
menyeruak seputar apakah kisah itu tak berdasar, atau hanya bersum-
ber anonim, ataukah hanya satu atau beberapa saksi yang tertukar
di media. Satu laporan menyebut petugas kebersihan Gedung Putih
disebutkan bersaksi di depan dewan juri bahwa dia melihat Clinton
dan Lewinsky bersama di situasi mencurigakan. Berita lain melapor-
90 Blur

kan adanya agen rahasia yang akan membeberkan kesaksian serupa.


Pada akhirnya, kisah itu terbukti tak akurat—dan akar penyebab-
nya adalah sumber lingkaran kedua ternyata memberi keterangan
mendukung keterangan sama yang juga salah dipahami. Petugas ke-
bersihan Gedung Putih memang menemukan handuk kotor, dia men-
gadu pada agen rahasia, yang lalu bercerita pada temannya, yang
kemudian bilang ke pengacara. Perusahaan pers yang melaporkan
berita itu—beberapa di antaranya lantas mengoreksi—setidaknya
mendapat beberapa informasi dari pengacara yang mewakili agen
rahasia Gedung Putih. Namun sang petugas kebersihan tak pernah
bicara pada reporter. Dan kenyataannya, berlawanan dengan lapo-
ran itu, tak seorang pun benar-benar menyaksikan presiden dan Le-
winsky bersama.
Seperti dilaporkan Project for Excellence in Journalism dalam
studi kasus tentang ini, “beberapa wartawan secara pribadi
mengakui setidaknya beberapa sumber dari laporan itu bukanlah
sumber yang terlibat langsung dan melihat presiden dan Lewinsky
atau bahkan investigator dan jaksa penuntut yang secara langsung
terlibat. Sementara kantor berita bisa memiliki dua sumber pada se-
buah kisah, perlu dipertanyakan sedalam apa pengetahuan langsung
yang perlu dimiliki para sumber itu sebelum kisah itu bisa dinilai
sudah terverifikasi?”5
New York Times, pada ujung liputan cerita ini, mencabut naskah
berita pada menit terakhir, saat para awak redaksi mempertanyakan
apakah sumber mereka memiliki pengetahuan langsung ataukah itu
lingkaran kedua-atau malah lingkaran ketiga. Artikelnya terlihat sol-
id dengan beberapa sumber. Ia layak menjadi calon berita di halaman
muka. Deadline edisi pagi kian mendekat. Dua wartawan yang meng-
garap artikel itu terus bekerja, mencoba menentukan seberapa solid
sumber mereka.
Pada jam enam sore mereka berjalan ke kantor Mike Oreskes—
yang kemudian menjadi kepala Biro Washington—dan bilang, “Mike,
kami telah memikirkan ini, dan menyadari bahwa sumber kami
adalah lingkaran kedua. Mereka tak menyaksikan sendiri presiden
dan Lewinsky bersama. Mereka mendengarnya dari orang yang
berkata bahwa mereka melihat sendiri. Kami betul-betul tak yakin
bahwa itu cukup untuk menyebut presiden sebagai pembohong.”6
Oreskes menelpon editor New York dan menyarankan mereka
menahan artikel itu. Para editor New York berargumentasi bah-
Sumber: Darimana asalnya? 91

wa bagaimanapun juga ia akan keluar—Dallas Morning News dan


Wall Street Journal telah mempublikasikan cerita serupa di Web
mereka—namun Oreskes berkeras. Itu adalah saat yang menentu-
kan. Morning News dan Journal mencabut kembali berita mereka,
tapi kantor berita lain tidak.
Terkadang sumber kedua memang berada di lingkaran kedua,
sementara sumber pertama adalah saksi mata. Namun persoalan
yang berpotensi muncul adalah sumber pemberi bukti pendukung
bisa mengulang apa yang dikatakan sumber pertama padanya. Ini
jelas bukan bukti pendukung. Kita musti memperhatikan kesalahan
ini, dan bila mereka tak terdeteksi lagi maka kita perlu waspada.

Peserta tapi Bukan Saksi

Level selanjutnya pemilahan sumber, setelah saksi mata, adalah sum-


ber yang ikut langsung dalam kejadian, tetapi bukan saksi. Contohnya
adalah polisi yang ikut menginvestigasi pembunuhan, pemadam ke-
bakaran yang menginvestigasi bagaimana api bermula, paramedis
yang meluncur ke lokasi kecelakaan.
Satu hal yang musti dikecualikan dari level ini adalah juru bicara
kepolisian, yang pandai bicara dan sigap diketika ditelepon wartawan,
atau sekretaris pers Gedung Putih, yang tak berada di ruangan saat
pertemuan berlangsung tapi mendapat pengarahan soal itu hingga
bisa menjelaskannya kepada wartawan. Ada beberapa alasan bagus
kenapa lembaga mempekerjakan jubir, di luar fakta bahwa orang sep-
erti ini bisa membantu mengontrol pesan. Kita jelas tak ingin pejabat
kepolisian yang menginvestigasi pembunuhan, misalnya, menghabis-
kan waktu bicara dengan reporter, hingga petunjuk atas kasus yang
ditangani menjadi basi. Namun sebagai konsumen berita dan infor-
masi, kita perlu tahu bahwa jubir biasanya tak menginvestigasi lang-
sung kejadian, melainkan sudah diberi pengarahan. Apakah ia bicara
langsung dengan petugas investigator, atau hanya diberi pengarahan
oleh orang lain? Apakah ini lingkaran kedua, ketiga, atau keempat?
Meski reporter jarang menanyakan ini dan meneruskannya pada kita
sebagai konsumen, pertanyaan demikian masih relevan.

Sumber Pakar dan Analis

Pertanyaan itu membawa kita ke level berikutnya soal pemilahan


92 Blur

sumber: mereka yang tak terlibat langsung dengan kejadian tapi di-
kategorikan sebagai pakar untuk memberi kita konteks atau anali-
sis. Pada masa ketika media yang berorientasi diskusi tumbuh, dan
elemen pelaporan media menyusut, kita mendengar kian banyak
“para pakar” ketimbang sumber yang terlibat langsung. Dan keba-
nyakan yang ditawarkan pakar ini adalah analisis—bukan fakta yang
menjelaskan kejadian sebenarnya. Analisis, pada dasarnya, lebih
spekulatif. Karenanya, kita musti hati-hati. Dalam membuat berita
penuntun akal, yang mencoba membangun konteks, atau memi-
lah fakta yang berjejal untuk membuktikan kesimpulan, kita musti
punya lebih banyak sumber dan bukti, sebab pekerjaan ini tidak
mudah. Ironisnya, hal yang sebaliknya sering terjadi. Karena banyak
yang menawarkan opini, wartawan dan bahkan konsumen tak bisa
berharap banyak.
Dari berbagai berita model ini, yang memoles banyak omongan
opini sebagai sajian berita, kita setidaknya perlu informasi lebih soal
latar belakang pakar tersebut dan apa peran nyata mereka terkait
dengan kejadian yang dianalisis. Apakah mereka benar-benar pakar
netral di tengah kejadian yang ditaksir? Atau apakah dia pemain yang
berkepentingan—mantan jaksa, ahli strategi politik, kolumnis—yang
berpose sebagai pakar netral atau otoritas yang sedang membangun
kredibilitas? Sering sekali, mereka yang mengaku pakar sebena-
rnya hanyalah aktivis partai, faksi, atau kelompok kepentingan yang
berpose sebagai pakar independen sehingga bisa memengaruhi dan
memanipulasi audien. Ini adalah jenis pengukuhan keliru yang musti
diwaspadai.
Pakar cum aktivis macam itu muncul hampir tiap hari di talk show
politis di TV kabel, bahkan yang pembawa acaranya tak ideologis. Mari
lihat program CNN pada 6 Mei 2008 di malam ketika Obama menga-
lahkan Hillary Clinton pada pemilihan bakal calon presiden di North
Carolina. Kemenangan Obama cukup kritis karena membuktikan dia
bisa menang di negara bagian Selatan, dan terbukti menjadi titik balik
jalan Obama menuju Gedung Putih. Namun menarik bagaimana me-
dia memaknai kemenangan itu. CNN membuat dua program di jam
utama untuk menganalisis hasil pemilihan. Satu ditayangkan pukul
20.00 setelah pemilihan usai dan satunya lagi pada 22.00 saat hasil-
nya kian jelas. Anggota panel dan cara mereka diperkenalkan terma-
suk ahli strategi Partai Demokrat Jamal Simmons, mantan penasehat
Gedung Putih Lanny Davis, analis khusus politik CNN David Gergen,
Sumber: Darimana asalnya? 93

analis politik CNN Paul Begala, ahli strategi Partai Republik Alex Cas-
tellanos, kontributor CNN Bill Bennett, dan analis politik CNN Donna
Brazile. Anderson Cooper bertindak sebagai moderator.
Deskripsi pengenalan panelis sangatlah khas untuk program beri-
ta di TV kabel. Selain jabatan atau asal lembaga mereka, biasanya tak
banyak yang diperkenalkan. Sering kali, itu tidak cukup.
Misalnya, pada malam itu Jamal Simmons diperkenalkan sebagai
seorang Demokrat dan Alex Castellanos sebagai Republiken dan
keduanya diberi gelar ahli strategi politik. Penting diketahui bahwa
Simmons terlibat di tiga kampanye calon presiden dari Demokrat,
termasuk suami Hillary, dan sulit menjadi seorang Demokrat yang
bebas kepentingan. Posisi Lenny Davis yang pernah menjadi penas-
ehat Gedung Putih semasa Bill Clinton juga tak disinggung. Perlu
diketahui juga, Castellanos pernah menjadi penasehat kampanye
George W. Bush dan pernah dijuluki “biang iklan memojokkan di era
modern.” Agenda tersembunyi analis CNN juga terbaca samar-samar.
Paul Begala pernah menjadi tim strategi utama pada kampanye Bill
Clinton dan pendukung Hillary. Donna Brazile, yang berbicara di dua
panel itu, ditetapkan sebagai delegasi super di Democratic National
Convention, dan beberapa bulan sesudah itu diketahui sempat men-
dukung Obama. Penilaian mereka tentu bias. David Gergen adalah
tokoh politik langka yang pernah menjadi penasehat Gedung Putih
untuk pemerintahan Republik dan Demokrat, dan Bill Bennett adalah
konservatif kolot dan kini menjadi pembawa acara provokatif. Semua
informasi tambahan ini akan membantu audiens lebih mewaspadai
bias dan agenda yang dipertontonkan. Faktanya, tak satu pun dari
mereka yang murni analis, dengan pengecualian yang bisa diberi-
kan untuk Gergen. Masing-masing adalah pemain yang saling-sikut
menuju Gedung Putih dan, dalam beberapa kasus, turun langsung
dalam pertempuran Obama versus Hillary, meski mereka mengaku
sebagai pengamat independen. Loyalitas spesifik mereka tak disebut
jelas.
Selain mempertanyakan apakah identifikasi sumber sudah jelas
dan lengkap, ada satu pertanyaan lain yang layak diajukan pada sum-
ber yang disebut pakar itu: informasi jenis apa yang dicari moderator
atau reporter dari pakar tersebut? Jika sang pakar dicecar seputar
fakta, ini tanda bahwa proses jurnalisme verifikasi sedang berlang-
sung. Jika mereka dimintai opininya saja, itu tanda bahwa kita berada
di alam lain. Jika pertanyaan diarahkan untuk memancing respons
94 Blur

tertentu, itu tanda bahwa narasumber tamu itu cuma kedok, kita tak
sedang disuguhi penyidikan, melainkan persuasi—yang biasa mun-
cul di jurnalisme pengukuhan.
Terkadang absurditas tamu yang dipakai pemandu acara—
sebagai kedok untuk membidik tujuan tertentu di luar penyidikan—
bisa terlihat jelas. Lihatlah pertemuan antara mantan sekretaris
pers pemerintahan Bush Ari Fleischer dan pembawa acara Chris
Matthews—mantan sekretaris pers Senat kubu Demokrat—dalam
program MSNBC Hardball yang digawangi Chris sendiri selang 4
bulan setelah pemilu 2008. Segmen dibuka dengan layar berisi
wajah tersenyum Matthews dan Fleischer.
“Ari Fleischer!” Matthew berteriak, seolah terkejut menyaksi-
kan tamunya. “Apa yang kau lakukan di sini? Apakah ini 100 hari
kepulangan Napoleon dari Crawford? Kenapa mantan jaringan
Bushies—Bushies yang sekarang, tentu saja—mendendangkan lagu
lama...”
“Chris, aku di sini karena kau mengundangku ke sini.”
Jawaban itu membuat Matthews tercekat sesaat, tapi kemudian
melanjutkan pembicaraan. Dalam lima menit sesudahnya, Matthews
dengan sengit mencecar pertanyaan, memotong Fleischer atau terus
berbicara ketika sang mantan sekretaris pers mencoba memberi per-
nyataan.
Delapan menit menjelang akhir acara, Fleischer protes: “Chris,
kamu seharusnya tak menginterupsi tamumu. Atau apakah ini
yang biasa kamu lakukan?” Barulah setelah itu Fleischer mendapat
kesempatan berbicara satu menit di layar penuh untuk menyampai-
kan maksudnya.

Merunut Sumber Anonim

Apa yang bisa kita lakukan jika sebuah berita tak mencantumkan
nama narasumber, hanya mengutip anonim? Bagaimana, sebagai
konsumen, kita berharap bisa mengevaluasi berita seperti itu?
Ada beberapa alasan bagus kenapa wartawan rkadang memil-
ih sumber anonim. Seringkali materi yang paling sensitif datang
dari sumber yang musti tetap menjadi anonim untuk melindungi
identitas. Pembocor rahasia yang menyebut walikota mencuri uang
rakyat bisa dipecat atau dihukum karena dinilai tak loyal. Sumber
anonim bisa jadi jenis PNS terbaik, dan informasi yang dibocorkan
Sumber: Darimana asalnya? 95

bisa jadi merupakan aksi patriotisme. Kongres pun telah mengesah-


kan hukum yang melindungi pembocor rahasia untuk alasan ini.
Namun ada bukti juga, yang jadi rahasia umum wartawan, bahwa
praktiknya di lapangan kadang berlebihan. Banyak sekretaris pers
di Capitol Hill, misalnya, meminta dikutip sebagai “informasi back-
ground,” istilah wartawan untuk menjelaskan keterangan seseorang
yang tak mau dikutip. Alasan khas yang mereka sodorkan untuk di
lindungi identitasnya, meski dibayar dengan uang rakyat, adalah agar
tak terlihat menjatuhkan sang bos di media. Wartawan yang menga-
bulkan permintaan ini demi mendapat akses bisa dibilang secara
pasif tengah merampok akuntabilitas publik di PNS.
Sebagai konsumen, kita musti mampu membedakan antara
penggunaan sumber anonim yang bisa dibenarkan dengan yang tak
perlu digunakan. Jadi bagaimana kita mengevaluasi sumber anonim
dalam berita?
Pertama, kita berhak mendapat alasan kenapa sumber di-
anonimkan. Jika jawaban atas pertanyaan “siapa sumber ini?” adalah
“kami tak bisa bilang padamu,” sebagai warga kita musti berharap
ada alasan bagus di balik itu. Setelah itu, kita musti bertanya kenapa
informasi sumber itu layak dianggap kredibel. Kecuali kita diberi
informasi tambahan, bagaimana kita bisa tahu sumber tersebut dalam
posisi mengetahui apa yang dia katakan? Perusahaan pers musti
menyajikan petunjuk yang menunjukkan kredibilitas sumber pada
kita, tanpa harus menguak identitas sumber. Kini mereka tak lagi
cukup hanya mengatakan, “CBS mendapat info,” atau “ada sumber
memberi tahu Bugle.” Dalam lingkungan berita sekarang, kita ingin tahu
kenapa Bugle mempercayai sumber itu, sehingga kita bisa memutus-
kan apakah kita perlu mempercayai mereka. Laporan berita musti
sebisa mungkin menjawab pertanyaan ini tanpa mengorbankan sum-
ber yang layak dilindungi. Bagi wartawan, mungkin ini tak praktis.
Mereka mungkin memilih menulis kalimat pendek yang biasa dipa
kai, seperti “seorang sumber yang minta namanya dirahasiakan.”
Baik. Kita tahu itu diminta. Namun, kenapa dikabulkan? “Seorang
sumber yang menjadi lingkaran pertama, tapi mempertaruhkan
pekerjaannya dengan membagi informasi itu pada Bugle” memberi
tahu kita lebih banyak lagi. Wartawan mungkin menganggap bahasa
demikian cenderung menjadi klaim. Namun bagi publik, ini menjelas-
kan sesuatu.
Jika alasan mengutip sumber anonim itu tak disertakan, anda se-
96 Blur

baiknya menunda kesimpulan hingga ada bukti lanjutan yang mendu-


kung keterangan sang sumber anonim. Jika tak ada, berhati-hatilah.
Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan pers menetapkan
aturan internal yang lebih ketat soal kapan mengizinkan sumber
anonim. Clark Hoyt, yang kemudian jadi editor publik New York
Times, berbagi beberapa aturan baru yang diterapkan di koran itu
pada Februari 2009. Di antara faktor yang musti dipertimbangkan
reporter dan editor, jelas Hoyt, adalah apakah sang sumber berada
di posisi yang benar-benar mengetahui informasi yang dia sebut-
kan, apakah informasi itu benar-benar bernilai berita, apakah infor-
masi itu bisa diperoleh dengan cara lain, dan apakah sumber punya
catatan soal reliabilitas. Semua itu adalah kriteria layak yang patut
dipertimbangkan. Namun sebagai konsumen, kita akan menganggap
laporan semacam itu lebih kredibel ketika informasi soal alasan me-
makai sumber anonim itu bisa ditunjukkan atau disodorkan kepada
kita lewat cara tertentu.
Ada satu faktor lain yang patut disebut. Memakai sumber anon-
im untuk materi faktual yang bisa didukung dengan fakta tambahan
jauh lebih bernilai daripada sumber anonim yang menawarkan opini.
Ketika masih menjadi editor Washington untuk koran Newhouse,
Deborah Howell mensyaratkan sumber rahasis hanya dipakai untuk
fakta, bukan opini. Jika wartawan mengutip sumber anonim yang
memberi kritik personal kepada seseorang, anda musti waspada.
“Seorang konsultan politik Partai Demokrat mengatakan seorang
anggota Kongres, Republiken dari Alabama, memiliki sifat sulit dia-
jak bekerja-sama dan orang-orang tak menyukainya. Akibatnya, dia
mungkin tak akan menangguk suara pada akhirnya.” Kenapa perusa-
haan pers mengizinkan seorang Demokrat mengkritisi kepribadian
seorang Republikan secara anonim? Ini adalah pendapat, bukan fakta
empiris. Informasi itu hanya bermanfaat untuk sang sumber dan tak
relevan dengan pemahaman publik. Perusahaan pers benar-benar
tak layak memikul sanksi demi melindungi sumber macam itu. Max
Frankel, mantan editor New York Times, menyebut kutipan jenis ini
“anonim rendahan.” Wartawan dengan gampang membiarkan dan
melindungi seorang sumber menghina pihak lain di korannya.

Sumber dan Manipulasi Poin Pengarahan

Tak lengkap diskusi soal sumber, bukti pendukung, propaganda


Sumber: Darimana asalnya? 97

dan berita terselubung tanpa menyebut fenomena poin pengarahan


dan konsep pesan terkoordinasi yang ditelan media modern. Poin
pengarahan adalah pedoman ungkapan dan omong-kosong mar-
keting politik yang disiapkan oleh tim komunikasi untuk memanip-
ulasi persepsi publik yang didesain memberi penjelasan seragam
seputar program, ide, keyakinan, atau produk. Ia adalah senjata yang
menghujani jurnalisme pernyataan yang pasif, dan dimanfaatkan ju-
rnalisme pengukuhan sebagai pentung.
Berdasarkan asumsi bahwa pengulangan intens akan mengubah
pernyataan menjadi keyakinan, jika tak mau menyebutnya mendeka-
ti kebenaran, penggunaan poin pengarahan menjadi prosedur stan-
dar di Washington, di mana pusat pemerintahan dan persaingan ke-
pentingan politik tiap hari berjuang memoles bahasa melalui debat
berkepanjangan atas ide dan isu. Mereka memproduksi memo harian
yang meringkas poin-poin untuk dipakai dalam perbincangan publik
atau pertemuan pribadi. Gedung Putih seringkali membagikan “pesan
hari ini” kepada semua departemen pemerintahan untuk mengarah-
kan perbincangan publik soal kebijakan atau program tertentu. Pen-
tagon bahkan memiliki pejabat informasi publik dengan kartu poin
pengarahan tersimpan di dompet mereka. Seringkali ia dilengkapi
dengan bantuan data survei seputar poin di dalamnya yang perlu di-
gemakan ke publik dan penelitian soal dampak emosional dari baha-
sa tertentu. Penyusunnya ingin menaruh pesan atau produk mereka
dalam konteks yang mempromosikan opini publik yang positif.
Istilah “poin pengarahan” menjadi begitu umum hingga kehilan-
gan konotasinya sebagai sesuatu yang didesain untuk memanipulasi.
Situs Web Bill O’Reilly di Fox News punya arsip berisi poin pengarah-
an miliknya; intisari argumen pada hari tertentu. Situs Web American
for The Art punya sederet poin pengarahan soal isu seputar penda-
naan seni, dampak ekonomi terhadap seni, seni dan pariwisata yang
bisa diunduh untuk menggali dukungan publik dan pembiayaan seni.
Situs Web liberal Memo Poin adalah campuran blog partisan, agrega-
si berita, dan bahkan beberapa liputan interpretatif, yang biasanya
mensintesis atau menganalisis liputan yang dilakukan pihak lain.

Marketing dan Kata-kata Kode

Sebagai konsumen yang mawas, kita musti memperhatikan tanda


yang menandakan informasi sedang dipoles: salah satu tandanya
98 Blur

adalah penggunaan kata dengan cara baru dan tak biasa. Kunci poin
pengarahan era modern adalah pemakaian frasa unik dan mudah di-
ingat untuk memanipulasi audien.
Contohnya adalah kata-kata berkode. Istilah “batu bara bersih”
didesain untuk menghapus citra batu bara berasap hitam di depan
publik yang kian sensitif akan bahaya peningkatan level karbon dio-
ksida di atmosfir. Ketika negara jatuh dalam resesi, KPR macet dise-
but secara netral sebagai “KPR kelas dua”atau secara agresif sebagai
“aset beracun” tergantung reaksi publik bagaimana yang diharapkan
oleh pembuat frasa itu.
Bagaimana kita berhati-hati dengan bahasa yang demikian? Per-
tama, perhatikan kata langka yang digabung-gabungkan. Sebut saja
“pajak kematian,” “pro-kehidupan” atau “pro-pilihan,” “ibu kes-
ejahteraan.” Ini adalah label yang secara efektif tak berarti apapun,
tapi jika diulang-ulang bisa menumbuhkan makna yang didesain un-
tuk memengaruhi dan bukannya untuk komunikasi. Tak ada orang
yang dikenai pajak karena meninggal, bukan? Namun pajak kema-
tian juga disebut “pajak warisan.” Haruskah orang kaya dibiarkan
meninggalkan warisan tanpa dipajaki negara? “Pro-kehidupan” juga
berarti anti-aborsi. Dan “pro-pilihan” juga berarti pro-aborsi. Kita
musti berharap wartawan mengedepankan kejelasan dan mening-
galkan omong kosong. Dan kita musti berharap insan pers takkan
memakainya. Namun kita tak boleh membiarkan kegagalan pers
menumpulkan tanggungjawab kita untuk peka terhadap bahasa Or-
wellian—berkait dengan sistem politik di mana pemerintah mengon-
trol semua aspek kehidupan manusia. Kita musti berharap wartawan
siap menghadapi, demikian juga dengan kita.

Pengulangan Bahasa Bermuatan

Ketika beberapa sumber memakai bahasa sama untuk menjelaskan


sebuah isu atau kejadian, kita musti siaga terhadap kemungkinan
manipulasi. Bahasa deskriptif yang diseragamkan adalah tanda ad-
anya sesuatu yang lain di luar bukti pendukung.
Bagi wartawan dan konsumen berita berpengalaman, ketika sum-
ber memakai bahasa sama, ini menandakan mereka tengah menden-
garkan poin pengarahan yang dicekokkan ahli komunikasi.
Salah satu program yang memonitor pembicaraan politik terkon-
trol ini secara lebih baik bukanlah perusahaan pers, tetapi program
Sumber: Darimana asalnya? 99

komedi The Daily Show with Jon Stewart. Lihatlah bagaimana ia


menelanjangi poin pengarahan yang dibuat pemerintah George W.
Bush untuk membungkam kritik terhadap kebijakan perang Irak.
Dewan Perwakilan, yang dikontrol Partai Demokrat, mendiskusi-
kan jadwal untuk menarik tentara Amerika dan bahkan resolusi yang
menganggap kebijakan Bush soal Irak tak lagi menjadi kepentingan
nasional terbaik.
Kaum Republiken selama berbulan-bulan menjawabnya dengan
poin pengarahan berkalimat sama; “embolden (memperteguh)” un-
tuk mencela debat itu. Tak ada yang memakai kata seperti encourage
(menyemangati), animate (menggelorakan), atau inspire (mengin-
spirasi) di antara lusinan kata lain berarti sama yang bisa dipakai.
Semuanya memakai konstruksi sama: kritik atas presiden “mem-
perteguh” musuh.
“Semua opsi yang dibicarakan di Capitol Hill memperteguh tero-
ris di berbagai belahan dunia,” kata pemimpin majelis rendah John
Boehner pada 23 Januari 2007.
“Penarikan tentara dari Irak akan memperteguh teroris,” kata juru
bicara White House Tony Snow di hadapan reporter pada 12 Septem-
ber 2006.
“Mundur dari Irak sebelum kerjaan selesai hanya akan mem-
perteguh musuh,” kata Presiden Bush pada 6 November 2006. Dan,
“seluruh jadwal dengar pendapat itu hanya memperteguh musuh,”
kata Presiden pada 17 Januari 2007, “Anda bisa memperteguh musuh
dengan mengirim pesan berbeda,” katanya pada awal 22 Juli 2005.
Media arus utama telah menyiarkan poin pengarahan, dan pada
gilirannya membuatnya efektif. Bagi Stewart di acara komedinya, dia
menyambungkan contoh-contoh yang ada dan menaruhnya bersama
dalam satu acara yang meyakinkan, dan membongkar semua itu.

Sumber, Motif, dan Bias

Anonim atau tidak, tiap sumber memiliki motif yang mungkin tersim-
pan baik, atau setidaknya tak berbentuk klaim. Kita perlu memper-
tanyakan kenapa sumber menyajikan informasi itu dan stempel apa
yang mungkin coba mereka sematkan melalui itu.
Fakta bahwa sumber punya motif—tak bebas kepentingan—bu-
kan dengan sendirinya menjadi alasan untuk tak mempercaya infor-
masi mereka. Namun juga tak berarti membuat upaya evaluasi men-
100 Blur

jadi tak relevan.


Reporter investigatif mencoba membangun cara kerja yang bisa
mengurangi bias dalam laporan mereka. Jim Risen, yang menulis
artikel penting soal komunitas intelijen untuk Los Angeles Times
dan New York Times, menyiapkan diri meliput komunitas itu dengan
mewawancarai mantan agen untuk mengetahui bagaimana intel ber-
pikir dan bicara.
Risen, seperti reporter Seymour Hersh, memilih mendekati bi-
rokrat kelas menengah, bukannya mereka yang di posisi puncak.
“Saya selalu memikirkannya saat berurusan dengan Rosencranz dan
Guildenstern—orang yang secara sinis bicara soal kebijakan publik
di belakang layar,” katanya. “Pendekatan yang saya ambil hanya ber-
bicara pada sumber, ngobrol, dan tak menekan mereka... Kebanyakan
orang yang berurusan dengan saya, sumber saya, adalah orang yang
bicara tentang orang penting yang berkuasa; dan mereka sendiri bu-
kan orang penting.”
Pendekatan ini cukup membanti munculnya sumber pembisik
informasi yang seringkali mempertaruhkan posisi dan bukannya
menguntungkan diri sendiri. Dari sumber macam itu, Risen mengum-
pulkan bukti pendukung dan penentang. Dengan bekerja menggali
sumber dari bawah ke atas seperti itu, dia memulainya dari sumber
yang tak berkepentingan atas kebijakan tertentu sehingga cenderung
menyajikan pendapat berlainan dari atasan mereka. Menggabungkan
informasi dari berbagai tingkat seperti itu menciptakan kesempatan
lebih untuk mengenali bias personal atau politik.
Pendekatan Risen berbeda dari reporter macam Bob Woodward,
yang cenderung fokus pada tokoh pembuat kebijakan dan lingkaran
kabinet. Keunggulan Woodward adalah memperoleh informasi
eksklusif, yang mungkin hanya diketahui sedikit orang. Risikonya,
orang-orang ini sangat mungkin berkepentingan menjaga kebijakan,
pintar memutar kenyataan, dan berkepentingan menjatuhkan lawan.
Dan di lingkaran itu, hanya ada sedikit sumber yang bisa memberi
bukti pendukung. Ini memicu kekhawatiran seputar sumber Wood-
ward. Salah satu dari mereka menyatakan keprihatinan melalui
latar belakang berita, dan mendapat perlindungan identitas agar
bisa menjaga hubungan baik dengan Woodward dan reporter lain
di masa mendatang. Namun kita mendapati informasinya memang
layak dibagi. Mereka memicu pertanyaan tentang sejauh mana pem-
baca bisa mengevaluasi teknik Woorward. Mereka tak menyerang
Sumber: Darimana asalnya? 101

personal. “Saya menyukai Bob, dan saya menghormatinya, dan saya


pikir dia adalah reporter bagus. Namun saya khawatir, dalam buku
yang saya menjadi salah satu sumber, versi kejadian dengan mudah
bergantung pada orang yang mau bicara padanya, atau yang tak mau.
Kadang buku ini punya kualitas Rashomon. Kejadian terlihat bukan
karena sebenarnya seperti itu, tetapi karena salah satu sumber bi-
cara dan sumber lainnya tidak. Namun karena semuanya tak disen-
sor, pembaca tak bisa tahu mana yang kurang, dan versi mana yang
tak ada di sana.”
Kita tak seharusnya berharap bahwa sumber di berita, meski
anonim, bisa bersikap tak bias. Itu tak mungkin. Sebaliknya, kita se-
harusnya berharap wartawan atau penyedia berita membagi bias
yang mungkin dimiliki narasumber mereka, dan memberi alasan
kepada kita kenapa informasi itu masih layak dipercaya. Salah satu
tolak ukur keandalan wartawan adalah sejauh mana dia membantu
kita mengakses sumber yang disajikan dan bukannya memakai mer-
eka untuk tujuan mereka sendiri.
Sifat dasar sumber adalah satu hal. Bukti yang ditawarkan sum-
ber, dan bagaimana wartawan menyajikan informasi berita yang
telah diperiksa dan diuji adalah hal lain yang jauh lebih penting. Ini
membawa kita pada persoalan selanjutnya: bukti.
102 Blur

BAB 6
Bukti dan Jurnalisme Verifikasi

Seymour Hersh harus menunggu sesaat sebelum teleponnya di


jawab. Dan ia tersambung. Pria di ujung telepon itu adalah seorang
profesional di komunitas intelijen yang telah menjadi sumber ter-
percaya Hersh selama perang dingin. Menurut dia, pria itu keras dan
dapat dipercaya, moralis yang ada kalanya diam-diam bicara ke pers
demi mengawal kejujuran pemerintah. Ketika kemudian keduanya
bertemu di kantor Hersh, sumber itu membeberkan cerita mengeri-
kan bagaimana CIA memakai teknik penyiksaan ‘perang melawan
teror’ dengan cara yang melampaui akal publik.
Penyidikan heboh bukanlah hal baru bagi Hersh. Mungkin tak
ada wartawan lain di sejarah Amerika yang bisa mengungguli dalam
hal intensitas membongkar pelanggaran pemerintah atau memicu
kontroversi dengan mengungkap rahasia pemerintah. Aksi pertama
terjadi pada 1969, ketika Hersh menemukan bahwa militer Amerika
menutupi tuduhan pembantaian tentara terhadap sekitar 500 war-
ga sipil Vietnam di desa My Lai. Dari penelusuran, militer diketahui
melakukan investigasi rahasia atas pembunuhan itu dan mendakwa
seorang pria, Letnan William Calley, sebagai pihak yang bertang-
gung jawab, dan demikianlah kasus ini dirahasiakan. Hersh segera
menemui Calley dan memintanya bicara. Laporan itu memicu ke-
hebohan nasional yang berujung pada dakwaan terhadap 25 orang
pejabat militer dan calon perwira lain serta memicu kemerosotan
dukungan publik terhadap perang Vietnam. Laporan Hersh itu mem-
buat dia menggondol Pulitzer.
Bukti dan Jurnalisme Verifikasi 103

Itu baru permulaan. Hersh kembali membongkar pengeboman ra-


hasia di Kamboja, dukungan rahasia Amerika terhadap kudeta Pino-
chet di Chile, rahasia Amerika membantu pembuatan bom atom Isra-
el, aksi mata-mata rahasia FBI dan CIA terhadap warga, keterlibatan
Presiden Ronald Reagan dalam melanggar larangan kongres ketika
diam-diam mengirim tentara melawan pemberontak Nikaragua,
latar belakang dukungan Amerika terhadap bisnis narkoba diktator
Panama Manuel Noriega, dll. Ketika Watergate ramai, Bob Woodward
dan Carl Bernstein menilai berita Watergate yang dibongkar Hersh di
New York Times sebagai “kompetitor.”1
Hersh juga menjadi rujukan karena liputannya soal perang dan
teror. Ketika Pentagon pertama kali memberi penjelasan soal operasi
lapangan di Afganistan sebagai “sukses menyeluruh,” Hersh menulis
kritik sangat detil di majalah New Yorker yang menyebut operasi itu
sebagai “ambang bencana” dan menyoal klaim bahwa Taliban sudah
takluk. Dia juga sempat menyuarakan “keraguan ekstrim” soal klaim
senjata pemusnah massal Irak dan kaitannya dengan Al-Qaeda. Dia
sigap mengutuk dua kesimpulan itu. Kolumnis Slate.com Jack Shafer
sempat mengejek Hersh soal Afghanistan sebagai “kesalahan dungu
yang keras kepala” dan berani menyatakan bahwa setelah laporan
Hersh tentang Irak muncul, dia yakin melihat senjata pemusnah ma-
sal Irak dan kaitannya langsung dengan al-Qaeda “dalam dua minggu
ke depan.” Waktu membuktikan bahwa Hersh benar dalam dua kasus
itu.
Pendekatan Hersh dalam reportase, yang tertanam selama berta-
hun-tahun, cukup sederhana: akumulasi detil dan fakta yang mem-
butuhkan kesabaran ekstra. Ini adalah filosofi empirisme yang dita-
namkan editor City News Bureau di Chicago tempat Hersh bekerja
sebagai reporter muda pada 1950-an. Meliput dugaan bunuh diri,
Hersh berulang-kali dikirim ke kantor polisi untuk mencari detil tam-
bahan soal baju korban, lantas disuruh balik karena tak cukup bisa
menjelaskan dasi korban, lalu dikirim lagi untuk mencari tanda-tanda
korban menenggak alkohol. Tiap kali mencari fakta tambahan, Hersh
merasa kian malu dan polisi kian jengkel. Pada kunjungan terakhir,
kenang Hersh, sang kapten memanggil dan “merenggut baju saya dan
menarik saya ke mukanya dan bilang, ‘Nak! Aku tak bekerja dengan
mengendus wajah tiap korban bunuh diri.”
104 Blur

Hersh mengedepankan detil, sesuatu yang baginya setara dengan


kehormatan, dan mengubahnya menjadi metode yang melibatkan
rantai liputan sistematis. “Ini mengajariku bekerja dari bawah ke
atas,” jelasnya. “Jangan pernah melompati rantai itu. Pelajari semua
yang bisa anda dapat dari orang-orang di bawah atau di sekitar ceri-
ta. Setiap langkah, comot dokumen yang bisa ditelusuri. Lalu kembali,
dan periksa apa yang telah anda dapat sebelum melanjutkan. Kem-
balilah pada sumber lebih awal untuk memeriksa apa yang mereka
katakan terhadap apa yang telah anda pelajari dari wawancara dan
dokumen selanjutnya.”2
Di kantornya, tatkala Hersh menyimak lelaki di depannya yang
membeberkan penyiksaan CIA, sekali lagi dia waspada. Salah satu
yang diduga jadi korban penyiksaan adalah tersangka teroris pal-
ing dicari di Asia Tenggara dan tertangkap di Thailand pada Agustus
2003. Namanya adalah Riduan Isamuddin, dikenal sebagai Hambali
yang memimpin pernyerangan terhadap kepentingan Amerika. Pres-
iden Bush menyebutnya “salah satu teroris paling mematikan di du-
nia.” Agen pemerintah Amerika dikirim ke Thailand untuk ikut-serta
dalam interogasi. Beberapa bulan berikutnya, perca-perca bocoran
informasi berujung pada kabar bahwa interogasi itu membuahkan
informasi intelijen penting. Hambali pun dipindah ke Yordania dan
secepatnya ke Guantanamo, di mana ia ditahan pada 2005. Namanya
baru muncul di berita berkat percakapan telepon Hersh tersebut,
pada Januari 2006.
Informasi sang sumber pada Hersh sebelumnya selalu benar. Pria
itu tak gila. Dia seorang idealis. Dan di sela ceritanya, Hers belaka-
ngan menyebutkan, “dia sangat kecewa. Gusar melihat tindakan yang
menurutnya tak bermoral.”
Dia juga bilang pada Hersh bagaimana agen CIA yang di
kirim ke Thailand untuk memimpin interogasi Hambali terang-
terangan berkoar di kantor pusat CIA. Salah satu di antaranya, agen
itu mengaku mengikat helm berisi semut api ke kepala Hambali,
teknik “yang dipakai suku Apache,” kata agen itu. “Dalam lima menit
mereka mengigit matanya dan masuk hidung, dan dia berteriak dan
menangis mirip anak kecil,” ujar sumber itu mengutip kisah si agen
kepada koleganya. “Namun,” tambah sumber itu, “mereka tak tahu
apakah informasi intelijen yang didapat bagus atau jelek.”
Hersh mengisi kertas catatan dengan tulisan: nama orang lain
yang juga mendengar cerita itu; detil aduan tertulis yang telah diaju-
Bukti dan Jurnalisme Verifikasi 105

kan atas kelakuan tersebut, yang belakangan tampaknya memang tak


berujung pada tindakan apapun.
Dalam tiga bulan berikutnya, Hersh kesulitan memverifikasi dan
mendokumentasikan dugaan itu. Dia mewawancarai lebih dari 50
orang dan menimbun tiap dokumen yang dia dapati seputar pena-
hanan dan interogasi Hambali. Hasil liputannya disimpan dalam
koleksi map dan dokumen yang bertumpuk setinggi satu kaki di kan-
tor Hersh. “Fakta, fakta, lebih banyak fakta. Itu yang saya pelajari.”
Kata Hersh. “Dan dalam tiap langkah, cobalah mendapat dokumen
untuk menguatkan fakta. Saya telepon polisi yang semula menang-
kap Hambali dan mendokumentasikan semua, dan saya mendapat
beberapa file dari intel.”
Lima bulan sejak telepon pertama sang sumber, Hersh memveri-
fikasi 20 titik penting tentang apa yang dikatakan sang sumber, dan
dia mengonfrontasikan informasi tersebut dengan orang CIA. “Saya
bilang pada mereka tentang apa saja yang saya dapat, dan mereka
menolak mentah-mentah,” kata Hersh. “Hambali memang mengalami
water boarding, tapi tidak dengan yang lain.”Bantahan kategorikal.
Semua yang saya dapat memberi tahu saya bahwa ini benar terjadi.
Namun persoalannya, saya tak bisa mendapat sumber kedua.”
Hersh bisa mengkonfirmasi beberapa hal. “Saya mendapati tiga
orang lain di CIA yang mengonfirmasi semua omongan si agen yang
diceritakan sumber saya kepada saya waktu itu,” kata Hersh. Sumber
pendukung mengonfirmasi bahwa sumber Hersh telah melapor pada
inspektur jendral soal hal yang sama seperti yang dikatakan pada
Hersh. Beberapa orang juga mengonfirmasi bahwa interogator telah
berkata pada mereka soal pemakaian teknik yang dimaksud. Namun,
Hersh masih belum mendapat seseorang yang menyaksikan lang-
sung siksaan serangga itu. Yang dia dapatkan, dengan kata lain, masih
informasi tangan kedua. Dan dia mendapat penolakan mentah-men-
tah dari para pejabat. Akhirnya, dia memilih memutuskan, “saya tak
bisa memuat artikel ini.”
Selang tiga tahun kemudian, pada April 2009, beberapa catatan
resmi pemerintahan Bush soal metode interogasi dipublikasikan.
Memo itu termasuk persetujuan penggunaan “serangga,” tapi tak
eksplisit menyebut jenis serangga dan tak menyinggung semut api.
Namun ini tak membuat Hersh lega.
“Setelah laporan keluar,” kata Hersh dengan menyesal, “bebe
rapa orang internal CIA yang pernah berbicara dengan saya berpikir
106 Blur

penyebutan ‘serangga’ itu menggelikan. Mereka bilang pada saya


bahwa mereka sedang minum-minum dan menertawakan kegagalan
saya mengejar ‘ketiadaan, selain soal waterboarding.’ Namun, anda
tahu, satu hal yang mereka ajarkan pada saya di City News Bureau,
ketika saya pertama bekerja, adalah ‘Jangan menulis sesuatu yang
tak kau ketahui betul.’”3
Sekilas, ide ini memang sederhana, tapi tak mudah dijalankan.
Tulislah apa yang bisa anda buktikan, bukan yang anda yakini benar.
Jadilah skeptis, bahkan tentang apa yang anda kira paham dan ke
mana bukti mengarah. Mendekati benar saja belum cukup. Untuk
“mengetahui” sesuatu, haruslah benar. Anda harus bisa menunjuk-
kan, menyusun, mempertahankan, dan membuktikannya, termasuk
pada publik yang skeptis dan pandangan sinis para pejabat.
Kisah tentang batalnya artikel Seymour Hersh itu menjadi jendela
menuju pertanyaan keempat sebagai usaha memastikan apa yang
bisa dipercaya sebagai informasi sahih.

Bukti apa yang tersaji, bagaimana ia diuji dan diperiksa?

Pertanyaan tentang bukti, tak pelak lagi, memang paling rumit,


menantang dan menjadi elemen penting untuk menyaring berita
di sekitar kita. Diperlukan kedisiplinan dan kesabaran. Di sinilah
pengujian dan pemeriksaaan informasi memainkan peran penting,
seperti halnya persoalan yang lebih rumit dalam mengupas
makna dari bukti, dan bukan sekadar menyusun fakta. Wartawan
novelis Gabriel Gracia Marquez menyebutnya begini: “Rute kita satu-
satunya menuju kebenaran adalah dengan alat bukti ... dan konsep
kebenaran berlaku pada hasil penyelidikan ... dan tugas kita sebagai
jurnalis adalah menjalankan prosedur yang benar.”4
Bukti, tak bisa dihindari lagi, pasti berhubungan dengan sumber,
subyek yang didiskusikan di bab sebelumnya. Kualitas, keahlian, ke-
pentingan, kelangsungan pengetahuan sumber di berita merupak-
an bentuk bukti. Namun mengetahui sumber saja tak cukup untuk
menentukan apakah yang mereka katakan benar-benar sahih. Kita
harus tahu cara mengidentifikasi dan mengevaluasi bukti yang di-
berikan para sumber menanggapi pertanyaan kita. Sumber kuat,
yang terbukti layak dan bisa diandalkan pada masa lalu, tetap saja
bisa salah. Demikian juga dokumen. Dalam beberapa kasus, orang
terhormat pun bisa berbohong. Reputasi sumber, catatan masa lalu
Bukti dan Jurnalisme Verifikasi 107

mereka, bisa menjadi dasar buat kita menilai apakah mereka layak
diwawancarai, dan bukan berarti penuturan mereka pasti benar. Bagi
penulis atau penikmat berita, sekadar mengutip orang untuk sesuatu
yang bisa dikonfirmasi sendiri jelas masih kurang. Jika sesuatu bisa
dibuktikan, maka bukti itu musti terlihat.
Pada masa kini, ketika kita menjadi editor untuk diri sendiri, di
era informasi “tunjukkan pada saya” versus “percayailah saya,”
porsi evaluasi bukti cenderung jatuh ke tangan konsumen. Mencari
dan mengetahui cara memahami bukti adalah persoalan bagaima-
na membedakan penyedia informasi yang lebih dapat dipercaya, di
antara yang kurang bisa dipercaya. Ini menjadi pemisah antara sikap
mengetahui apa yang bisa dipercaya dan sikap asal percaya. Dan kita
musti berharap ada lebih banyak bukti di sini, ketimbang bukti yang
mungkin kita dapat dari kantor berita dan sumber lain yang meng-
klaim melayani publik.
Dalam memilah bukti, intuisi dan akal sehat terlibat untuk men-
cari mana yang berarti dan dalam konteks apa. Di bidang lain—sains,
hukum, jurnalisme, peradilan—kita bisa jumpai serangkaian langkah
atau ide yang sama soal cara menguji dan mengevaluasi bukti, meski
istilahnya berbeda:

• Kenali bukti yang ditawarkan dan pahami sifat dasar bukti


tersebut (banyak ditemukan ketika kita mengurai dasar ten
tang cara seorang sumber kemungkinan mengetahui se
suatu).
• Ketahuilah cara memeriksa atau menguji bukti tersebut dan
apakah bukti yang mendukung kemungkinan sebaliknya juga
telah ditelusuri.
• Identifikasi kesimpulan yang bisa ditarik dari bukti tersebut
(eksplisit dan implisit), ada- tidaknya bukti pendukung lain.
• Tanyakan apakah bukti ini bisa dipakai untuk menarik ke-
simpulan lain.

Dengan cara itulah anda bisa membedakan antara bukti dan


asumsi. Bukti membangun sesuatu yang benar. Asumsi meyakini
sesuatu akan seperti itu, sebelum benar-benar terbukti demikian.
Elemen penting untuk dicari di sini adalah pemakaian
kesimpulan implisit. Wartawan biasanya memilih memakai suara
jurnalisme netral atau independen sebagai jubah untuk melindungi
108 Blur

maksud tak langsung atau tersembunyi—mengarahkan audien ke


kesimpulan tertentu. Mereka biasaya melakukan ini dengan memilih
kutipan tertentu, sumber yang diwawancarai, dan frasa yang dipakai.
Penting untuk mengetahui tanda penyalahgunaan ini dalam berita,
dan cara mendekonstruksinya.
Di bab ini dan seterusnya, kita beranjak menuju cara menjalani
proses ini sebagai konsumen berita, menjadi seorang editor skeptis.
Pada bab ini kita menguji evaluasi bukti dalam jurnalisme verifika-
si, sebuah jenis berita yang paling fokus menyusun ulang peristiwa,
dengan mengumpulkan fakta secara benar—jenis berita yang lebih
repertorial (melaporkan). Di bab selanjutnya, kami akan menunjuk-
kan bagaimana ketiadaan pemeriksaan proses pengujian ini men-
jadi penanda jurnalisme pasif, yang kita sebut sebagai jurnalisme
pernyataan. Lalu kita akan menunjukkan kecenderungan lain yang
melampaui kepasifan, penjumputan fakta dan manipulasi bukti, seb-
agai penanda jurnalisme yang mengukuhkan, bukannya benar-benar
menelusuri, yang kami sebut sebagai jurnalisme pengukuhan.
Dari beberapa konten berita yang kami temukan, proses evaluasi
bukti ini musti dimulai dengan mengenali jenis berita dan konten-
nya. Apakah straight news, yang hanya mengutamakan penyajian
kejadian? Jika iya, kita mencari bukti bahwa faktanya benar, untuk
membuktikan kejadian itu. Jika kita melihat jenis berita yang lebih ru-
mit—berita penuntun akal, atau peralihan paradigma yang lebih am-
bisius, atau bahkan liputan investigatif—kita akan perlu bukti yang
tak hanya berisi fakta akurat tapi juga interpretasi benar sehingga
kita bisa menyaksikan bukti itu sendiri dan memutuskan sikap.
Merunut fakta pun melibatkan beberapa lapis kompleksitas. Kita
bisa saja puas dengan bukti terbatas, misalnya, jika informasi yang
ditanyakan sederhana dan tak kontroversial. Jika kita coba mempe-
lajari apa yang dikatakan presiden dalam pertemuan besar, dengan
banyak saksi dan tak menyiratkan banyak kontroversi tentang apa
yang terjadi, kita bisa saja menerima sumber tunggal juru bicara Ge-
dung Putih, meski dia tak secara langsung ada di sana. Tak ada alasan
baginya untuk menutupi kebenaran, dan kita bisa mudah memergoki
pernyataan yang salah soal pertemuan itu sekecil apapun. Sifat dasar
informasi dan konteks, dengan kata lain, memengaruhi level skepti-
sisme kita. Jika pernyataannya lebih ngaco, kita musti mencari lebih
banyak bukti. Jika pertanyaannya bukan soal apa yang dikatakan
tapi mengapa, motifnya, kita perlu lebih banyak bukti. Merunut mo-
Bukti dan Jurnalisme Verifikasi 109

tif, sebuah “kebenaran interior,” akan lebih rumit. Merunut alasan


mengapa pemerintah melunak terkait dengan kebijakan penting
sebelumnya, mungkin akan memerlukan lebih dari dua narasum-
ber. Dan juru bicara Gedung Putih tentu saja jauh dari layak sebagai
sumber untuk mendapatkan cerita yang benar.

Bukti dan Straight News

Untuk mengurai proses ini, mari kita mulai dengan contoh berita
paling sederhana: kerusakan pipa air di Washington, D.C. Beberapa
bukti (air luber di jalan) ada di depan kita. Bagi kebanyakan orang,
kecepatan informasi tak begitu penting—bisa ditunggu kemudian
hari, atau besok. Tak ada yang terancam: problem terbesarnya adalah
genangan banjir. Akibatnya, kita berharap laporan yang lengkap atas
kejadian yang relatif sederhana ini.
Bukti apa yang ditawarkan Washington Post? Jika kisahnya di-
baca lekat-lekat, terlihat bahwa reporter Post bukanlah saksi mata.
Deskripsi peristiwa merujuk pada sumber resmi. “Banyak rumah
menderita cukup parah karena terjangan air,” demikian deputi pem-
adam kebakaran dikutip. Namun reporter memberi liputan menge-
sankan untuk berita sepanjang ratusan kata. Lima sumber berbeda
dikutip—jumlah sumber yang sangat kaya untuk laporan yang begitu
pendek—tiga pejabat resmi dan dua penduduk sekitar kejadian. Pe-
jabat yang dikutip adalah penanggung jawab langsung masalah itu,
bukan juru bicara—yang sangat layak dipotong jika masuk di artikel
itu. Penduduk yang dikutip menguatkan informasi pejabat itu dan
memberi detil tambahan. Dalam laporan yang saling melengkapi ini,
disuguhkan pemahaman tentang apa yang terjadi, kenapa dan apa
rasanya. Sifat dasar kejadian itu, sesuatu yang relatif kecil, memben-
tuk apa yang kami sebuat sebagai bukti memadai.
Sekarang, mari periksa liputan tentang peristiwa jenis lain, satu
kecelakaan lain, yang terjadi di jam lalu-lalang sibuk dan mengan-
cam nyawa ratusan orang. Ini adalah jenis kejadian yang ingin kita
ketahui segera saat peristiwa masih terjadi, dan dengan begitu, kita
mungkin memaklumi jika ada sedikit ketakpastian dan kesimpang-
siuran informasi.
Ini adalah berita soal dua kereta bawah tanah Washington,
D.C., yang bertabrakan saat jam sibuk pada musim panas 2009.
110 Blur

Berapa banyak yang meninggal dan terluka? Laporan pertama, dalam


program berita TV lokal, menyebut tiga orang tewas. Berita online
Washington Post beberapa jam berikutnya menyebut enam
orang tewas. Ketika petang, angka bertambah menjadi sembilan.
Bagaimana kecelakaan itu terjadi? Belum jelas.
Sebagai konsumen, kita paham bahwa beritanya mungkin tak lengkap.
Kejadiannya berubah-ubah, detilnya kacau. Lokasinya pasti disterilkan
tim penyelamat. Kita mengerti para wartawan mungkin menjaga jarak.
Kita paham tak semua orang tahu apa yang sedang terjadi dan bahwa, ke-
tika para korban dibawa ke rumah sakit berbeda, jumlah yang terluka dan
meninggal masih tak jelas.
Namun kita juga lebih ingin tahu cerita ini ketimbang cerita tentang
kerusakan pipa air, karena ini merupakan sesuatu yang lebih serius. Kita
mungkin memiliki orang dekat di kereta itu atau di kereta lain yang ter-
paksa berhenti di suatu tempat di lorong kereta bawah tanah. Karena
nya, kita ingin tahu apa saja yang bisa kita dapat segera, mengingat ada
banyak yang tak bisa diketahui. Kejadiannya—dan kebutuhan men-
desak atas informasi—mengubah ekspektasi kita soal kelengkapan dan
akurasi.
Kini kita mencari tanda kepastian dalam situasi tak pasti. Kita
ingin tahu informasi yang solid dan, yang terpenting, informasi apa yang
tak solid. Kita bahkan lebih menerima sumber penyedia bukti—apakah
dia pihak berwenang, saksi mata, sumber lingkaran kedua? Seberapa
hati-hati penyedia berita membedakan antara rumor, desas-desus, dan
sumber lingkatan pertama, serta sejauh mana dia mensortir keterangan
beragam dan bukannya sekadar menyeberangkan apapun yang di
dengar? Dalam situasi tak menentu, kita perlu tahu apa yang tak bisa
diketahui, supaya tak tersesat atau ikut panik.
Media andalan warga Amerika untuk berita adalah TV lokal. Satu sta-
siun TV pada hari itu menampilkan pembawa berita mereka menelepon
juru bicara otoritas kereta bawah tanah. Stasiun TV lain mewawanca-
rai seorang penumpang salah satu kereta yang bertabrakan via telepon
seluler. Stasiun TV ketiga menunjukkan reporternya di tempat kejadian,
yang awalnya berada cukup dekat dengan lokasi tapi kemudian diminta
menjauh oleh pihak berwenang.
Sekilas, ketiganya mungkin terlihat sama dalam hal nilai. Toh, stasiun
TV yang terhubung via telepon dengan juru bicara pihak berwenang me-
nyiarkannya langsung. Stasiun TV kedua punya saksi mata kecelakaan, dan
stasiun TV ketiga punya seseorang yang juga siaran langsung di lokasi.
Bukti dan Jurnalisme Verifikasi 111

Namun kenyataannya, laporan yang mereka siarkan itu berasal


dari tiga hal yang bernilai beda. Pada stasiun TV pertama, juru bicara
otoritas resmi tak ada di lokasi. Dia mendapat informasi lingkaran
kedua, dan tak cukup banyak. Dia tahu betul apa yang diketahui dan
yang tidak, tapi setelah mengulang saran kepada pemirsa untuk tak
buru-buru ke lokasi dan mengatakan penyebab kecelakaan masih be-
lum jelas, dia tak punya banyak informasi untuk dibagikan. Namun
dia adalah sumber terbaik yang didapat stasiun TV tersebut saat itu,
sehingga tetap menyiarkannya.
Di sisi lain, stasiun TV kedua punya saksi mata di ujung telepon
seluler yang coba membantu. Dia berada di kereta yang bertabrakan.
Dia menjelaskan seperti apa rasanya ketika kecelakaan itu terjadi.
Penjelasan dia menarik secara emosional. Ia melihat seseorang yang
terlihat luka parah. Namun, ia hanya bisa menjelaskan apa yang bisa
dilihat. Ini adalah satu pandangan, satu saksi mata, meski stasiun TV
itu mewawancarainya lama sekali karena situasi emosi itu.
Stasiun TV ketiga menyajikan sesuatu yang secara substansial
unggul. Di satu sisi wartawannya datang ke lokasi setelah kecelakaan,
berbicara dengan beberapa sumber, termasuk lebih dari satu saksi
mata. Jadi, meski ia bukan partisipan langsung, bukan pejabat ber-
wenang, pun bukan saksi mata kejadian, tapi dia punya informasi
dari semua sumber ini. Dia juga punya akses ke tim penolong per-
tama. Dan dia melaporkan apa yang mereka katakan padanya. Dia
berlaku tepat soal keterangan saksi mata versus keterangan para pe-
jabat. Dan dia menjelaskan apa yang dia saksikan langsung. Dan yang
penting, dia menyuguhkan batasan tentang apa yang solid dan yang
tidak—apa informasi yang kemungkinan berubah—dan dengan me-
nyajikan berbagai bentuk bukti, dia mampu mengombinasikan ber-
bagai keterangan berbeda tersebut.
Keberagaman bukti dan transparansi reporter, tentang kekuatan
dan kelemahannya, seperti inilah yang membuat laporannya paling
unggul. Ia memiliki cakupan terluas dan menyajikan keunggulan
dibandingkan dengan laporan dua stasiun TV lain.
Semuanya menyentuh dua elemen pertama yang biasa kita ta-
nyakan: berapa banyak bukti yang disuguhkan dan dari kondisi dasar
yang seperti apa?
Selain itu, cara berpengetahuan skeptis, ide ketaktahuan portabel
a la Homer Bigart, menuntut kita bertanya lebih jauh dan menguji
bukti yang tersaji. Bagaimana kita menaksir apakah sesuatu yang ter-
112 Blur

saji itu benar-benar bukti? Apakah fakta yang ada membuktikan apa
yang mereka isyaratkan? Apakah melihat saja sudah bisa dikatakan
mengetahui? Apakah ini bukti atau asumsi?

Bukti, Skeptisisme, dan Pengecekan:


Melihat vs Mengetahui

Untuk menggapai ide soal ekspektasi lebih tinggi atas bukti,


perhatikan breaking news yang diangkat dalam periode lebih pan-
jang, dan dilaporkan oleh kantor berita nasional kepada audiens
lebih besar.
Pada pagi buta Senin, 2 Januari 2006, di bagian kosong tambang
Sago dekat Bukhannon di negara produsen batu bara West Virginia,
terjadi ledakan metan bawah tanah. Hingga kini, penyebabnya tak
jelas, tapi angin cukup kencang untuk merobohkan dinding tambang
dan mengirim asap, debu, serta karbon monoksida ke lokasi pekerja.
Ledakan itu terjadi pukul 06:30 pagi, sehari setelah libur Tahun
Baru. Sebanyak 29 orang baru masuk tambang untuk mulai beker-
ja, 16 orang segera menyelamatkan diri. Beberapa saat berikutnya,
berita tentang 13 pekerja yang tertinggal di bawah tanah pun menye-
bar—terjebak atau mati, tak ada yang tahu. Dalam hitungan menit,
kota sekitar Sago dan seluruh negara bagian, berkat liputan media
nasional, diliputi kecemasan.
Kecemasan dan harapan cukup beralasan di sini. Kerusakan fisik
tambang memang terbatas. Tak ada longsoran atau puing meng-
gunung. Sayangnya, beberapa dinding beton untuk menjaga aliran
udara ke bawah tanah rusak, termasuk saluran buang karbon
monoksida. Gas tak berwarna dan tak berbau itu bisa membunuh
orang kurang dari 15 menit jika tersebar dalam konsentrasi tinggi.
Para penambang telah dilatih untuk mencari kantong udara dan
mengunci diri, serta membawa tangki “penolong,” yang menyuplai
oksigen selama sejam.
Di atas permukaan tanah, media nasional berkumpul, negara dan
dunia menunggu, menyaksikan, membaca, dan mendengarkan TV,
internet, dan radio. Perkembangan berjalan lamban. Berjam-jam
berlalu hingga regu penyelamat resmi yang terlatih memasuki tam-
bang. Perlu sehari untuk mencapai seperenam jalan menuju titik le-
dakan, sejauh 2.000 kaki. Mereka musti bekerja susah-payah, men-
guji udara dan memperbaiki ventilasi sepanjang perjalanan. Mereka
Bukti dan Jurnalisme Verifikasi 113

harus menghindari lepasnya gas metan yang terjebak, yang bisa me-
micu ledakan lanjutan. Mereka juga musti mengantisipasi lemahnya
atap yang digali, yang bisa memicu longsor. Hingga Selasa malam,
kadar gas naik, hingga sempat mencapai 10 kali lipat dari ambang
batas aman—kabar buruk. Dengan suplay hanya satu jam oksigen,
para penambang tak mungkin bertahan kecuali menemukan kan-
tong udara dan mengunci diri. Seiring dengan perjalanan waktu dan
media memberi latar belakang, muncul berita tentang pelanggaran
keamanan tambang, kerusakan di tambang yang tak segera diberes-
kan, dan lemahnya pengawasan industri tambang secara umum,
khususnya beberapa tahun terakhir.
Akhirnya, pada Selasa sore, penyelamat menemukan satu jenazah
penambang, tergeletak sendiri di kedalaman 11.200 kaki dari pintu
masuk. Penyebab kematian tak jelas. Mayatnya hanya beberapa kaki
dari kendaraan yang membawa tim memasuki tambang pada Senin
pagi, grup pertama yang masuk setelah libur tahun baru. Tes menun-
jukkan ada karbon monoksida berkadar tinggi di tubuh jenazah.
Kemana 12 penambang lain?
Setelah semalaman, muncul jawaban, dan media bergegas
mengabarkannya. Pada 4 Januari, halaman utama Washington
Post terbit dengan berita tipikal. Headline-nya berbunyi “12 Orang
Selamat di Tambang W.Va.)

Selusin penambang yang terjebak 12.000 kaki di lereng


pegunungan sejak Senin dini hari ditemukan selamat pada
Selasa malam, sejam setelah tim SAR menemukan jenazah
pria ke-13.. Lonceng Gereja Baptis Sago berdentang, dan para
keluarga yang bersuka-cita menghambur ke luar rumah
untuk merayakan mukjizat itu: para penambang keluar
setelah terjebak kedinginan di tambang Sago yang lembab se-
lama 41 jam. Gubernur Joe Manchin III mengatakan beberapa
orang perlu perawatan medis. “Semua orang lari keluar gereja
berteriak, “Mereka hidup! Mereka akan pulang!’” kata Loretta
Ables, tunangan salah satu penambang yang hilang Fred Ware.
Harapannya sempat pupus saat mengetahui bahaya kadar
karbon monoksida yang tinggi di tambang, tapi dia kini sangat
bahagia menunggu di luar gereja. “Saya merasa senang,
sangat senang.”
114 Blur

Kelihatannya begitu. Kecuali satu hal. Semua itu keliru.


Hanya satu penambang yang selamat.
Laporan resmi pada gubernur tentang tragedi ini yang muncul
6 bulan kemudian, dan rekonstruksi pers, secara umum setuju bah-
wa ada yang salah, yakni proses komunikasi yang didorong harapan,
bukannya skeptisisme. Setelah hampir 40 jam, perusahaan tambang
cemas menanti kabar baik dari regu penyelamat. Mereka meyakini
menerima kabar baik itu pada 11:45 malam, ketika penyelamat
menemukan para penambang yang terjebak. Di pusat komando di
atas permukaan tanah, para pejabat meyakini mendengar anggota
tim penyelamat, yang mengenakan topeng oksigen dan melapor via
telepon seluler dan walkie-talkie, memberi tahu mereka bahwa para
penambang masih hidup. Tanpa menunggu konfirmasi para teknisi
medis darurat atau menunggu orang-orang selamat itu sampai ke
permukaan tanah, orang-orang di pusat komando merayakan ke-
gembiraan. Dalam beberapa detik, seseorang di pusat komando me-
ngirim pesan kepada anggota keluarga yang menunggu di dekat ge-
reja Baptis Sago: Rupanya para pekerja secara ajaib selamat. Mereka
sedang naik. Bel gereja berdentang, air mata bahagia, dan sorakan
syukur segera menghapus ekspresi sedih di seluruh kota. Para re-
porter, yang berkumpul dengan keluarga di gereja, sibuk merekam
kegembiraan dan sorakan syukur keluarga dan kerabat itu, berasum-
si bahwa berita itu benar.
Namun, berbagai elemen penting dalam konfirmasi hilang. Tak
ada pernyataan resmi dari satu-satunya pihak berwenang di lapa-
ngan yang secara formal berwenang memberi informasi. Secara vir-
tual, semua fakta yang mendasari perayaan itu mengacu pada realitas
bahwa para penambang telah tewas. Wartawan melaporkan komen-
tar pejabat negara bagian yang sedang berada di gereja, tapi gagal
mengenali bahwa mereka tak mendapat informasi resmi soal ini; dia
hanya pihak yang bereaksi. Jika para wartawan berkumpul di rumah
sakit, mereka akan melihat cerita lain. Kalau saja mereka mengontak
langsung pejabat di pusat komando, mereka akan mendapati kisah
berbeda. Jika mereka menunggu di dekat pintu masuk tambang, dan
bukannya di gereja bersama keluarga, mereka akan punya cerita lain.
Akhirnya, semua yang mereka tahu adalah desas-desus, dari sumber
lingkaran kedua atau ketiga. Pesan yang diterima pusat komando tak
jelas benar.
Bukti dan Jurnalisme Verifikasi 115

Pada tengah malam, hanya 15 menit setelah mereka menemu-


kan penambang, regu penyelamat mendapati hanya satu orang yang
selamat. Pada pukul 00:30, regu penyelamat membawa keluar satu
korban selamat itu, yang segera dibawa ambulan ke rumah sakit—
satu orang, satu ambulan. Laporan pemerintah seputar kejadian se-
lanjutnya kian samar. Pada 01:45 pagi, malu dan mungkin takut, para
pejabat pertambangan “coba mengirim pesan ke keluarga di gereja
lewat polisi, meminta seorang pejabat menyampaikan pesan ke pe-
ngurus gereja bahwa pusat komando menerima laporan sebaliknya
soal korban, dan laporan awal mungkin terlalu optimistis,” demikian
laporan itu menjelaskan secara kikuk. “Kabarnya, pesan telah di-
sampaikan tapi tak sampai pada keluarga.” Ini berlangsung beberapa
jam sebelum keluarga di gereja, dan para reporter di situ, mendapat
pengumuman resmi.
Pada kenyataannya, informasi yang keluar perlahan-lahan itu
mengonfirmasi sinyal yang coba disuarakan oleh bukti-bukti berjam-
jam sebelumnya, yang lebih pasti terjadi. Kadar karbon monoksida
di tambang sangat tinggi. Oksigen satu jam yang dibawa tiap penam-
bang telah terpakai satu setengah hari sebelumnya. Goresan tangan
yang ditemukan penyelamat dari dua tangan penambang menunjuk-
kan kesaksian suram. Kebanyakan penambang kemungkinan telah
mati pada Senin sore, bahkan sebelum regu penyelamat masuk tam-
bang dan lebih dari sehari sebelum lokasi mereka ditemukan. Para
wartawan yang meliput ini tahu, atau seharusnya tahu. Fakta bahwa
ada satu penambang muda selamat itulah yang menjadi keajaiban.
Kami memakai kasus Sago sebagai contoh karena cukup menan-
tang. Orang-orang di gereja meyakini bahwa para penambang hidup.
Mereka merayakan. Dan ada pejabat pemerintah bersama mereka.
Faktor inilah yang dikutip wartawan, yang belakangan membela ke-
salahan liputan mereka. “Kami harus bergantung pada fakta yang bisa
kami kumpulkan, semua sumber yang bisa diakses,” ujar wartawan
CNN Anderson Cooper pada hari berikutnya. “Kami secara fisik di-
batasi... tak ada pejabat yang datang dan berbicara pada kami. Tak
banyak yang bisa dilakukan.”
Argumen Cooper rasanya masuk akal—sepintas. Dia melaporkan
apa yang bisa dia lihat dan yang diyakini orang-orang di sekitarnya.
Namun Cooper dan reporter lain—tak semua di lokasi—juga gagal
mencatat apa yang kurang: bahwa tak banyak konfirmasi resmi yang
116 Blur

didapat, tak ada konfirmasi dari pihak rumah sakit, bahwa mereka
tak melihat sendiri. Para wartawan yang salah di kasus Sago, dengan
kata lain, menjadi korban dengan meyakini apa yang mereka lihat,
mengabaikan apa yang telah mereka tahu, dan gagal mencatat apa
yang kurang.
Memang sangat menggiurkan, di era televisi dan khususnya
TV kabel siaran langsung, untuk terjebak dalam penyederhanaan
dengan berimajinasi bahwa melihat sepadan dengan meyakini, dan
meletakkan kepercayaan itu setara dengan kebenaran. Ini adalah
efek lanjutan jurnalisme pernyataan yang intens di budaya kita.
Namun metode berpengetahuan skeptis menuntut lebih. Meli-
hat bukan berarti mengetahui. Memilah apa yang benar bukanlah
sekadar menerima satu-dua fakta dan memberitakannya. Membe-
dakan antara fakta dan kebenaran memerlukan pemahaman tentang
bagaimana menimbang nilai dari fakta berbeda—dengan kata lain,
tahu untuk memilah dan mengevaluasi bukti.
Jarak terhadap kejadian juga memengaruhi ekspektasi kita dan
sejauh mana kita mungkin bisa memaafkan kesalahan jurnalis. Jika
kita penduduk Sago, yang terjaga sepanjang malam dan menyaksikan
berita TV lokal, kita mungkin memaafkan para reporter yang pada
setengah jam pertama memberitakan luapan kegembiraan di jalan,
tapi juga akan lebih berterima kasih jika saja reporter memperha-
tikan ketiadaan konfirmasi resmi, dan jika stasiun berita mengirim
seseorang ke rumah sakit untuk melaporkan kondisi para penam-
bang. Ketika dekat pada kejadian, kita kemungkinan besar memberi
perhatian lebih intens.
Namun untuk kantor berita nasional, yang jarak audiensnya lebih
jauh dan perhatiannya kurang konstan, kesalahan liputan itu benar-
benar buruk. Penonton CNN atau MSNBC kemungkinan besar mema-
tikan TV dengan menyimpan kesimpulan bahwa para penambang
itu selamat, lalu beranjak tidur. Para pembaca Washinton Post ke-
mungkinan besar tak akan membaca kisah sehari setelahnya. Makin
berjarak audiens, smakin tak tertarik mereka, dan pers semakin
diharapkan menyajikan berita yang tuntas diperiksa, karena mereka
kemungkinan besar tak terdorong mengkonsumsi berita lanjutan.
Di satu sisi Sago menjadi kasus berat, dan salah satu yang parah,
kesalahan demikian kian banyak terjadi. Di era ketika berita lang-
sung terus membombardir, kita sering melihat laporan “fakta” yang
kelihatannya menyarankan sesuatu tapi belum terverifikasi. Pada
Bukti dan Jurnalisme Verifikasi 117

11 September 2009, Presiden Obama berada di Pentagon, baru saja


melintasi Sungai Potomoc dari Washington untuk menghadiri upa-
cara mengenang mereka yang gugur dalam serangan delapan tahun
sebelumnya. Segera setelah Obama meninggalkan upacara, seorang
staff CNN yang memonitor frekuensi radio penjaga pantai men-
dengar tim penjaga pantai lokal melakukan latihan penyergapan,
yang biasa dilakukan empat kali seminggu. Dia mengira itu sebagai
operasi betulan. Dia menelepon staf penjaga pantai untuk konfirmasi,
tapi sebelum kesalahpahaman itu terjawab CNN membuat berita ini:
“Kami telah menyaksikan setidaknya satu perahu mendatangi
Potomoc dan menantang penjaga pantai,” koresponden CNN Jeanne
Meserve melaporkan, seraya menambahkan bahwa penjaga pantai
“mengirim pesan yang mengatakan mereka melepas 10 tembakan.
Kutipan di layar berbunyi, “Penjaga pantai menembak perahu di
Sungai Potomac.” Selang tujuh menit kemudian, Reuters mengutip
CNN, mengirim buletin berita di internet yang ditandai PENTING:
“Penjaga Pantai Menembaki Perahu Mencurigakan di Sungai Potomac
di pusat Washington, D.C.—CNN.” Beberapa menit kemudian, Fox
News mengulang kisah itu, mengutip Reuters sebagai sumbernya.
Setelah jelas bahwa laporan itu tidak benar, kepala biro CNN
Washington David Bohrman dalam wawancaranya kepada Was
hington Post berkata, “Kami tak sekadar menyiarkannya.” Keputusan
untuk meloloskan laporan itu, katanya, datang “setelah 20 menit
mencoba mendapat konfirmasi dari penjaga pantai dan dijawab
bahwa tak ada kejadian apa-apa. Salah jika kami tak memberita-
kan ini.” Pernyataan tertulis CNN berbunyi hampir sama: “Memper-
timbangkan situasinya, akan tak bertanggung-jawab jika kami tak
melaporkan apa yang kami dengar dan lihat,”
Selanjutnya, CNN berargumen memberitakan informasi keliru
dan belum terkonfirmasi tak hanya bisa dibenarkan dan dimaklumi,
tapi juga sudah menjadi tugasnya.
Buntutnya, pers pun berada dalam posisi canggung karena
diceramahi soal etika jurnalistik oleh sekretaris pers Gedung Putih.
“Perhatian saya hanya satu; sebelum kita memberitakan sesuatu
seperti ini, sebaiknya mengecek lebih dulu,” ujar Robert Gibbs
kepada reporter.
Di era berita berkelindan, ketika informasi datang dari ba-
nyak sumber, akan lebih baik mengeceknya. Dan sebagai konsumen
berita, kita musti mencari tanda petunjuk bahwa proses pengecekan
118 Blur

ini telah dijalankan. Apa yang diketahui? Apa yang telah diverifikasi?
Apa yang belum? Apakah ia cocok dengan yang telah kita tahu? Apa
yang kurang?

Bukti, Analisis, dan Makna

Kasus-kasus di atas semuanya melibatkan breaking news dan meng-


gambarkan tantangan penyusunan bukti bahkan di wilayah yang pal-
ing mendasar: Apa fakta-faktanya dan apa yang sebenarnya tengah
mereka bangun seputar peristiwa yang telah terjadi?
Isu penentuan bukti secara umum adalah persoalan bukti pendu-
kung dan konfirmasi dari sumber-sumber yang mengetahui. Dan ini
cukup menantang.
Namun mengingat begitu banyak media bergerak sekadar menyu-
sun fakta dan memasuki wilayah analisis dan interpretasi, kita musti
bergerak lebih jauh. Jenis bukti apa yang kita butuhkan dalam contoh
itu, ketika berita disiarkan langsung dan media memberi kita rajutan
berita untuk memintal fakta-fakta itu dan menyediakan pengertian
makna lebih dalam? Bagaimana kita mengenali apakah bukti yang
ada benar-benar mendukung kesimpulan di cerita, dan apakah berita
yang menganalisis dan menginterpretasi kejadian itu sudah menye-
diakan cukup bukti atau hanya menyimpulkan. Itu adalah pertan-
yaan-pertanyaan yang musti kita ajukan selanjutnya.
Pada 21 Febuari 2007, di tengah gegap-gempita kampanye,
senator Arizona John McCain bangkit dari krisis. McCain berada di
ambang perolehan nominasi presiden partai Republik. Saat itu, em-
pat dari lima lawannya gugur dalam pencalonan, dan McCain mem-
peroleh tiga perempat dukungan yang diperlukan untuk memenangi
nominasi. Kemenangan di depan mata itu terlihat menakjubkan
mengingat beberapa bulan sebelumnya McCain dilempar dari kursi
kandidat, kehabisan uang, terpaksa memecat stafnya, dan kampa
nyenya diperkirakan berakhir.
Kebangkitannya itu menjadi salah satu karir mempesona lain
yang ditandai dengan rangkaian kebangkitan politik—dan ke-
teguhan yang dia miliki selama penangkapan dan penyiksaan di
penjara Vietnam dan kejayaan kehidupan dia pascaperang di du-
nia politik. Pada awal karirnya di Senat, McCain lolos dari skandal
yang hampir menyudahi karir politiknya saat dia dan istrinya, Cindy,
menjadi teman dekat pengembang dan investor Phoenix Real Estate
Bukti dan Jurnalisme Verifikasi 119

bernama Charles Keating. Keating dan teman-temannya banyak me-


nyumbang pemilihan McCain ke Senat, dan Cindy McCain berinvesta-
si bersama Keating di Arizona Shopping Mall. Namun sebagai pemilik
Lincoln Saving dan Loan Association, Keating juga memakai simpan-
an yang dijamin pemerintah federal untuk membuat investasi riskan
tapi menguntungkan. Selama putaran pertama pemilihan McCain ke
Senat, investasi di Lincoln Saving mulai bermasalah. Pemerintah
mulai mempersoalkan. Bersama empat senator lain yang kemudian
dikenal sebagai Keating Five, McCain mengadakan dua rapat tertutup
dengan regulator, mencoba melobi mereka agar melunak terhadap
perusahaan pembiayaan dan bank, termasuk Keating. Pada 1989,
bank Keating runtuh akibat investasi berisiko tersebut. Dana negara
senilai US$3,4 miliar terpakai untuk menalangi Lincoln Saving.
Di Senat, McCain dihujat karena “pertimbangan buruk” yang dia
ajukan dalam pertemuan dengan pemerintah. Episode ini, belaka-
ngan disebut McChain, membuatnya menanggung “sesuatu yang sa-
ngat berharga”—yakni reputasi dan citra integritas dirinya.
Setelah itu, McCain menjadi kritikus getol terkait dengan penda-
naan di kongres. Dia menyerang pengaruh buruk penggalangan dana
politik dan membantu mendorong undang-undang pembiayaan kam-
panye, yakni McCain-Feingold Act. Upaya McCain meloloskan refor-
masi pendanaan kampanye, kata Feingold, “terkait dengan panda-
ngannya soal kehormatan. Praktik ini dinilainya curang.”
Ketika kaum Republiken kian dekat dengan posisi McCain sebagai
calon presiden dari partai Republik, sebuah berita di New York Times,
media yang sebulan sebelumnya mendukung pencalonan McCain di
pemilihan bakal calon presiden putaran pertama partai ini—menjadi
ancaman. Berita itu mengusung headline; “Bagi McCain, Kepercayaan
Diri pada Etika Mengundang Risikonya Sendiri.”

Ketika Senator John McCain maju pertama kali ke Gedung


Putih delapan tahun silam, gelombang kegelisahan menyapu
lingkaran inti penasehatnya.
Seorang pelobi perempuan ikut dalam penggalangan dana
bersamanya, mengunjungi kantor klien dan menemani dia di
jet perusahaan sang klien. Meyakini hubungan itu telah men-
jadi romantis, beberapa penasehat tinggi turun-tangan men-
jaga sang kandidat agar tak berbuat konyol—memerintahkan
para anggota staf menutup akses sang perempuan, secara
pribadi memperingatkannya untuk menjauh dan berkali-kali
120 Blur

berkonfrontasi dengan McCain, ujar beberapa orang yang


terlibat dalam kampanye tersebut dan meminta identitasnya
dilindungi.

Baik McCain dan pelobi yang dimaksud, Vicki Iseman, menampik


kabar soal hubungan romantis itu. “Namun bagi penasehatnya,” tulis
artikel tersebut, “bahkan jika keduanya terlihat bersama, meski klien
sang wanita pelobi itu sering berbisnis dengan McCain sebelum ia
menjadi anggota Senat, itu sudah cukup mengancam penyelamatan
dan kejujuran yang menjadi gambaran identitas politiknya.”
Artikel di Times panjang, 60 paragraf, kira-kira sehalaman penuh
koran, dan dilanjutkan dengan artikel panjang soal konflik etika
McCain sebelumnya dengan Lincoln Saving and Loan sebelum
balik lagi menyorot hubungan McCain dengan Iseman. Ketika kem-
bali pada persoalan awal, artikel itu menyebutkan bahwa, “Keyaki-
nan McCain atas kemampuannya membedakan pertemanan pribadi
dan hubungan mencurigakan menjadi titik pertanyaan para pe-
nasehat soal Iseman.”
Setelah menjelaskan bagaimana klien Iseman dalam industri
telekomunikasi menyumbang “puluhan ribu” dolar untuk kam-
panye McCain dan Commerce Committee yang dia bentuk, artikel
tersebut menyebutkan keprihatinan stafnya satu-persatu. “Kenapa dia
[Iseman] selalu ikut?” tulis Times mengutip salah satu staf. Staf lain
mengatakan, ia “diperintahkan untuk menjauhkan Iseman dari ke-
giatan publik sang senator”: “Seorang pimpinan ajudan McCain me-
nemui Iseman di Stasiun Union, Washington, untuk meminta dia
menjauh dari sang senator.”
“Tak jelas peringatan itu berbuntut seperti apa,” ujar artikel terse-
but menyimpulkan, “dan para koleganya mengatakan kekhawatiran
mereka berkurang dalam perpacuan kampanye (sebelumnya).”
Dua paragraf terakhir artikel itu mengutip sebuah pernyataan
dari markas besar kampanye McCain:

Sungguh memalukan bagi New York Times menurunkan


standar dengan terlibat dalam kampanye negatif tabrak-lari.
John McCain memiliki catatan 24 tahun melayani negara ini
dengan kehormatan dan integritas. Dia tak pernah melanggar
kepercayaan publik, tak pernah melakukan usaha tertentu demi
melayani keinginan atau lobi tertentu, dan takkan membiar-
Bukti dan Jurnalisme Verifikasi 121

kan kampanye fitnah mengalihkan perhatiannya dari isu pent-


ing dalam pemilihan.
Warga Amerika bosan dan capek dengan jenis politik mu-
rahan semacam ini, dan tidak ada satupun kisah dalam cerita
ini yang mengindikasikan bahwa John McCain pernah melang-
gar prinsip yang dia pegang sepanjang karirnya.

Artikel itu juga memicu tudingan bahwa Times memiliki motif bias
politik untuk menjegal McCain. Tudingan itu, kata editor Times Bill
Keller dalam tajuk sehari berikutnya, “mengejutkan saya dari sisi
volumenya” dan dari sisi “bagimana jauhnya opini tersebut dari
[keputusan saya] menerbitkannya.” Keller tak semestinya terkejut.
Pada masa George W. Bush berkantor di Gedung Putih, New York
Times telah menjadi pentungan bagi kaum konservatif. Kini, dalam
kampanye presiden terlama sepanjang sejarah Amerika, kritik
bahwa koran ini menjadi corong Partai Demokrat telah berkembang
luas, sehingga berita yang merugikan kaum konservatif pun ber-
buntut reaksi kasar.
Merespon kritik yang muncul, Keller bersikeras bahwa artikel
itu tak pernah menyiratkan hubungan romantis antara McCain
dan Iseman. Berita itu, ujarnya, adalah tentang kelemahan hubu-
ngan personalnya dengan kepentingan khusus. Setahun kemudian,
sebagai bagian dari disposisi langkah hukum Iseman, Times bahkan
mempublikasikan satu “Catatan untuk Pembaca” yang mengumum-
kan bahwa artikel itu “tak menyatakan, dan Times tak bermaksud
menyimpulkan, bahwa Iseman menjalin hubungan romantis dengan
Senator McCain atau hubungan tak etis demi kepentingan kliennya
yang melanggar kepercayaan publik.”
Kisah McCain membagi pelajaran seputar bukti, makna, dan
audiens. Terlepas dari pesan apa yang “[sudah] disampaikan” Times,
para pembaca bisa melihat dengan jelas bahwa artikel itu menuduh
McCain selingkuh. Itulah lead-nya, dan ketika hal menarik dari ma-
teri lain disampaikan, kebanyakan pembaca—yang juga kita rasakan
ketika pertama membaca artikel itu—dengan cepat melewati bagian
panjang berisi berita latar belakang McCain agar bisa kembali me-
ngacu pada lead berita dan membuktikan apa yang telah disiratkan.
Kebanyakan media lain juga menilai berita itu menyiratkan
perselingkuhan. “Kandidat Presiden John McCain Dituduh Berseling-
kuh dengan Pelobi,” tulis judul berita Daily Mail di Inggris. Berdasar-
122 Blur

kan penelusuran panjang New Republic, muncul artikel yang lebih


behati-hati, “artikel itu... menelusuri kemungkinan bahwa kandidat
presiden Partai Republik mungkin punya skandal dengan seorang
pelobi industri telekomunikasi berambut pirang, berusia 40 tahun.”
Boston Globe milik New York Times, yang menolak menindaklanjuti
artikel Times, dan lebih memilih menindaklanjuti berita dari
pesaingnya yakni Washington Post tentang fakta bahwa McCain,
seperti kandidat presiden lain, punya beberapa pelobi yang men-
danai kampanyenya.
Artikel Times bergantung pada “kegelisahan” dan “keprihatinan”
sumber anonim yang khawatir bosnya, John McCain, terlibat hubu-
ngan romantis. Sayangnya, Times tak bisa memverifikasi apakah ke-
gelisahan itu berdasar, setidaknya dia tak bisa mencari fakta terse-
but hingga artikel itu dicetak. Sebagaimana disimpulkan ombudsman
Times sendiri, editor umum Clark Hoyt, setelah melihat keluhan pem-
baca soal keberimbangan artikel tersebut, “adalah keliru melaporkan
perkiraan atau perhatian ajudan anonim tentang apakah bosnya me-
masuki kamar yang salah.”
Kesalahan terletak pada pembedaan antara fakta dan makna. Apa
yang dikatakan Times pada pembaca melalui artikel itu? Di balik fak-
ta yang disajikan, apa yang sebenarnya dikatakan Times?
Di bidang semiotik—studi tentang pemahaman bahasa dan sim-
bol—para ahli berbicara tentang tiga tingkat makna dalam informasi.
Tiga tingkat itu penting untuk disinggung, karena mereka bisa dite-
rapkan untuk memahami bagaimana kita menghadapi berita.
Tingkat paling dasar adalah definisi paling harfiah, “signifikasi”
informasi. Ini adalah makna yang bisa diperoleh dari kamus soal
definisi kata, tanpa banyak konteks atau kesimpulan. Makna tingkat
dasar ini disebut “denotatif.” Dalam pembelaannya, Keller mem-
batasi diri pada tataran makna ini. Secara harfiah, Times tak menye-
butkan bahwa McCain punya selingkuhan tapi hanya menyebutkan
beberapa sfafnya “yakin dengan hal itu”, mengalami “gelombang
kegelisahan” soal itu, dan turun tangan untuk memisahkan si pelobi
dari McCain. Ia tidak pergi lebih jauh. Namun apakah benar hanya itu
yang dilaporkan Times? Jika kita mengacu pada makna tingkat dasar
ini, ada sebentuk kenaifan yang disengaja di argumen itu, yang juga
menampar legalitas pemakaian makna harfiah.
Tingkat kedua adalah arti “konotasi.” Konotasi dalam semiotika
merupakan makna yang diperluas: apa yang disarankan oleh sebuah
kata dalam pikiran kita terkait dengan konteks yang mereka tulis
Bukti dan Jurnalisme Verifikasi 123

atau katakan. Bagi yang mempelajari semiotika bisa melihatnya,


manusia mengurai makna banyak teks melalui konotasi kata dan
gambar, dan ini menjadi titik pusat bagaimana kita menjaring makna
dari upaya penciptaan makna yang paling kreatif. Bagaimana keban-
yakan media lain bereaksi pada laporan Times? Mereka mengenali
apa yang dikatakan Times di artikel itu—ini konotasi, implikasi dari
kata dan kisah yang ditempatkan dalam sebuah konteks. Ini adalah
makna yang kurang bisa dihitam-putihkan, tapi dalam banyak hal
justru lebih nyata. Inilah yang membuat cerita meledak, yang menja-
dikannya kontroversial, menarik orang untuk membaca.
Tingkat ketiga disebut ahli semiotika sebagai emotif, “atau
anotasi.” Dalam istilah sederhana, makna anotasi adalah nilai yang
kita tempatkan pada apa yang kita pelajari, apakah kita mengang-
gap itu baik atau buruk. Bagaimana kita bereaksi terhadap implikasi
perselingkuhan John McCain, atau bahkan dia punya kelemahan
ketika menyangkut kelakuan pribadinya? Ataukah kita terkejut
saat Times memasuki ruang pribadi ini? Atau sadarkah kita bahwa
posisi kandidat dan tokoh publik yang terhormat bisa jadi rentan
karenanya (sebagaimana halnya sang pembantu anonim dilaporkan
demikian)? Atau apakah kita berpikir berita itu membongkar kemu-
nafikan McCain? Apakah kita berpikir Times terburu-buru memuat
berita yang tak bisa dia buktikan? Dan selanjutnya, apa kita pikir
media itu melakukannya terlepas dari semangat ideologi liberal atau
blunder jurnalistik?
Dalam berita, arti anotasi terkait dengan nada artikel, pada sub-
teks, apakah ia mengisyaratkan sesuatu yang positif atau negatif
pada pikiran kita. Untuk lebih memahami, bayangkan seseorang
lagi bicara. Pikirkan bagaimana nada suara yang dipakai untuk me-
nyatakan maksud pembicara. Kata “Kau pasti bercanda,” misalnya,
bisa diucapkan untuk menyampaikan keheranan. Kata yang sama,
dengan nada berbeda, bisa menyiratkan sindiran kasar. Atau, kata itu
bisa diucapkan untuk mengomunikasikan kemarahan, atau kekece-
waan. Maknanya tergantung pada perubahan nada pembicara.
Sebagai konsumen berita, kita memahami arti anotasi hampir
secara intuitif. Kita mengetahuinya berdasarkan fakta yang dipub-
likasikan pertama kali, misalnya, yang mengindikasikan sang pem-
buat berita pasti berpikir ia penting. Kita bisa merasakan sikap
media terhadap sebuah berita dari penempatan berita itu di bagian atas
koran atau halaman Web atau di bawah, dari ukuran judul atau pe-
nempatan dalam siaran berita. Kita juga menerima makna ber-
124 Blur

dasarkan cara berita dituliskan. Makna anotatif berita adalah ting


katan makna yang dipikirkan ketika kita bertanya pada diri sendiri,
apa yang sebenarnya mereka pikirkan saat mereka memberitahu
kita? Apa yang ada di pikiran mereka? Apa motif mereka? Di balik
penyajian berita yang kering tanpa nada, apa yang dipikirkan oleh
orang yang memproduksi berita ini? Pertanyaan-pertanyaan ini tak
dapat dielakkan dan menjadi bagian tak terpisahkan dari makna ber-
bagai jenis komunikasi.
Sebagaimana kita bergerak berusaha untuk tahu apa yang bisa di-
yakini, yang bisa dipercaya, tak bisa tidak kita harus menentukan apa
yang kita temukan dari ketiga tingkat makna tersebut.
Artikel Times gagal membuktikan makna yang disampaikan se-
cara konotatif, yang tersirat, dan apa yang dipikirkan kebanyakan
orang dalam memahami pesan berita itu—ini makna anotasi. Apa-
kah berita ini hanya soal kelemahan pribadi McCain dalam integri-
tasnya, sebagaimana klaim Keller? Jika iya, maka kegagalan media itu
mengupasnya dalam artikel menjadi kegagalan besar. Atau apakah
artikel itu benar-benar bercerita tentang senator selingkuh, yang be-
gitu blak-blakan hingga para stafnya bertindak? Jika iya, maka artikel
itu gagal membuktikannya dengan fakta.
Untuk benar-benar bisa dipercaya, artikel berita musti lolos di tiga
tingkat pemaknaan. Kata dan gambar musti dengan jelas menyampai-
kan arti. Implikasi fakta-fakta itu musti dibangun dengan sederhana.
Dan kita musti memahami secara eksplisit apa yang ada di pikiran
para penyampai berita. Singkatnya, makna berita musti nyata dan
termanifestasi supaya konsumen bisa mempercayainya.

Menjaga Pikiran Terbuka:


Bagaimana Meraih Makna Berita

Mungkin kelihatannya tak adil menaruh semua tanggung jawab


memperjelas bukti dan makna di pundak wartawan. Bagaimana
dengan audiens? Bagaimana kita, sebagai konsumen, menggapai
makna dalam berita? Sebagus apa kita mengarungi batas antara fakta
dan keyakinan, antara empirisme dan prasangka kita sendiri?
Data survei menyebutkan konsumen kian menilai menilai bu-
ruk motif pers, terutama bias politik. Dan sebagai konsumen, kita
tentu mampu melompat pada kesimpulan berdasarkan bukti terba-
Bukti dan Jurnalisme Verifikasi 125

tas. Kutipan politisi yang tak kita sukai dalam artikel berita mungkin
menginspirasi kita meneruskannya ke email teman dengan komen-
tar tentang betapa udiknya orang itu, meski tak ada banyak bukti di
berita itu sendiri. Tentunya wartawan siapapun yang menerima
email demikian bisa menceritakan contoh audiens yang melewatkan
inti cerita, membuat kesimpulan keliru berdasarkan bukti terbatas,
atau mengritik hilangnya bagian yang mustinya dimuat di berita itu.
Sebagai konsumen di era baru informasi, kita musti membawa se-
jenis kesangsian dalam menyeberangi arus informasi yang dulunya
kita harapkan dimiliki para wartawan. Dan itu bisa berarti menuntut
untuk tahu, meski ketika kita melihat statistik dari pihak berwenang,
bukti data itu berasal.
Sejauh yang kami ketahui, wartawan terbaik punya semacam
disiplin kerendahan hati tentang apa yang dilihat. Mereka melatih diri
sendiri untuk tak membiarkan prasangka mendistorsi pengawasan
mereka dan tak melompat pada kesimpulan soal makna atau maksud
dari apapun yang mereka lihat. Mereka tak buru-buru menyimpul-
kan atau terburu-buru membangun makna. Mereka bertanya pada
diri sendiri apakah mereka benar-benar tahu dan paham apa yang
menurut mereka terlihat. Pengarang dan wartawan David Shipler,
yang menghabiskan berpuluh-puluh tahun menggali fakta dan mak-
na di zona perang untuk New York Times, menjelaskan ini sebagai,
“membawa pikiran saya pada kondisi di mana saya menikmati
asumsi saya ditantang sebab ada banyak kebenaran.”
Jenis kerendah hatian yang disiplin ini juga bisa menjadi atribut
penting bagi konsumen skeptis. Untuk mengembangkannya, kita per-
lu mempertahankan skeptisisme tentang pengetahuan dan pemaha-
man kita sendiri. Ketika kita melatih disiplin semacam itu, kita mulai
membawa mentalitas yang lebih ilmiah dalam observasi kita atas
peristiwa dan kehidupan publik. Kita jadi lebih baik dalam memaha-
mi fakta dan tak menyimpulkannya berdasarkan keyakinan belaka.
Ia memicu keingintahuan lebih, dan menuntut keingintahuan kita
dituntun oleh empirisme. Tak semua wartawan memilikinya, meski
mereka seharusnya punya. Sebagai konsumen, kita kurang-lebih juga
harus menerapkannya.
Bagaimana, sebagai konsumen berita dan informasi, kita bisa
membangun disiplin ini dan menerapkan formula “tunjukkan pada
saya,” atau “buktikan,” atau “kenapa saya harus percaya,” pada bukti-
126 Blur

bukti—terutama yang menentang keyakinan kita sendiri?


Dalam ilmu pengetahuan, cara paling dasar untuk membangun
disiplin ini adalah metode ilmiah—atau proses membentuk eksperi-
men yang didesain untuk menguji hipotesis. Dalam pengetahuan so-
sial, di mana metode ilmiah mungkin lebih susah dieksekusi, para
peneliti memakai berbagai prosedur untuk menguji apakah bukti
yang ada benar-benar mengesahkan hipotesis mereka, atau malah
mengindikasikan sesuatu yang lain. Pengujian paling umum dalam
tes demikian, untuk menentukan signifikansi observasi atau temuan,
disebut hipotesis null. Dalam istilah orang awam, ini adalah metode
formal untuk memelihara pikiran tetap terbuka.
Proses kerjanya seperti ini: peneliti mulai dengan hipotesis yang
hendak diuji. Mereka lantas menyusun eksperimen, atau mengum-
pulkan bukti, untuk menguji apakah mereka bisa membuktikan dalil
mereka. Namun proses ini melibatkan pemahaman bahwa mereka
juga bisa keliru, yang tentu saja berlawanan dari yang mereka pikir
benar. Proposisi lawan ini adalah hipotesis null.
Kita menggunakan pemikiran jenis ini dalam kehidupan sehari-
hari sepanjang waktu. Bayangkan pipa di rumah anda rusak—air
menggenangi dapur melalui langit-langit. Anda langsung mengena-
li ada tiga kemungkinan sumber air dari kamar di atas; dua kamar
mandi—satu di atas dapur—dan pipa yang mengalirkan air ke atas
dari lantai dasar. Anda memeriksa kamar mandi di atas dapur dulu,
dan jika tak mendapati kebocoran di sana, anda masih punya dua ke-
mungkinan sumber untuk diperiksa. Dalam istilah ilmu pengetahuan,
hipotesis anda adalah air berasal dari kamar mandi di atas. Namun
anda juga punya hipotesis null—bahwa anda keliru, dan air itu datang
dari tempat lain. Dan anda terus mengujinya hingga menemukan asal
kebocoran, dan mendapatkan bukti bahwa anda telah menemukan-
nya. Kita terlibat dalam metode berpikir sama ketika pergi ke dokter
untuk menjalani serangkaian tes—mengurangi potensi kekeliruan
hingga problem teridentifikasi.
Intinya, jenis pengujian hipotesis ini menciptakan disiplin mental,
dan disiplin itu memaksa kita untuk berpikiran terbuka. Ia mengha-
ruskan kita mempertimbangkan kemungkinan lain, sebuah hipote-
sis null. Dan ia menuntut kita mempertanyakan apakah sesuatu me-
miliki cukup bukti untuk menantang kebijaksanaan atau keyakinan
konvensional.
Bukti dan Jurnalisme Verifikasi 127

Ia juga menjadi pertanyaan kelima dalam daftar pengukuran


apakah sebuah informasi benar dan dapat dipercaya.

Apa yang mungkin jadi alternatif penjelasan atau pemahaman?

Sebagai konsumen, kita musti menanyai diri sendiri. Dan dalam


berita yang kita konsumsi, kita juga musti melihat tanda yang juga di-
pertanyakan oleh penulis atau pembuat berita. Apakah mereka telah
menjelajahi hipotesis null? Dan apakah mereka cukup menunjukkan
alasan hingga meninggalkannya?
Hanya dengan menerapkan kerendahan hati dalam berpikiran ter-
buka, atau memasang hipotesis null lebih dalam ke wilayah tertentu
hidup kita, kita yakin orang-orang cenderung membawa disiplin jen-
is ini untuk jenis berita tertentu dibandingkan dengan jenis lain. Kita
yakin orang cenderung lebih membedakan ketika mereka mendapati
cerita yang di dalamnya ada pengalaman dan pengetahuan priba-
di—kisah-kisah, misalnya, di mana perusahaan, profesi, atau sekolah
anak-anak mereka terlibat. Lebih mudah juga membawa jenis mata
dingin atau disiplin cerita yang mengaspirasi tingkat pembuktian
lebih tinggi—cerita pembuktian keaslian, pergeseran paradigma, dan
investigasi. Tipe cerita ini cenderung lebih teliti mengorganisir bukti,
sebab mereka lebih eksplisit dalam ikhtiar membuktikan kasus.
Dan konsumen berita harus punya harapan lebih tinggi, atau per-
tanyaan yang lebih matang, untuk cerita dan konten yang jatuh pada
wilayah penyahihan, penuntunan akal, atau investigasi.
Pertama, kita musti berharap akan ada cukup bukti untuk mem-
perkuat kasus secara beralasan. Itu berarti kita harus berharap me-
lihat bukti dengan mata kepala sendiri, yang disajikan pada kita. Kita
tak perlu mempercayai berita. Jika informasi disajikan tepat sep-
erti cara mereka menjelaskannya ke kita, dan setelah kita periksa
ternyata cerita sebenarnya adalah X,” ini bukan pensahihan. Ini
hanyalah suara dari sisi lain. Pada masa lebih awal, mungkin ada
yang mengeluh sulit mengimbangi penyajian narasi sederhana dan
jelas dan secara bersamaan menyajikan bukti, karena sebuah berita
bukanlah risalah akademis. Namun di era internet ketika hyperlink
berfungsi sebagai catatan kaki dan akses langsung ke dokumen asli,
dan ruang tidak terbatas, argumen tersebut pun lapuk.
Kedua, terhadap berita yang berupaya membuktikan sesuatu, kita
128 Blur

musti berharap bahwa obyek yang hendak dibuktikan itu diberi ke-
sempatan cukup untuk bicara. Kita musti, dengan kata lain, melihat
bukti hipotesis null atau pemahaman alternatif atas obyek tersebut
telah dieksplorasi. Eksplorasi atas argumen alternatif ini juga tak
boleh hanya di mulut. Jika penjelasan alternatifnya adalah sebuah
argumen, misalnya, kita harus mendengar kasus terkuat. Jika kita
mendengar dari orang berbeda, beberapa di antaranya lebih bisa di-
percaya dari yang lain, kita musti mendengar kedua versi kuat dan
juga yang lemah, sehingga tak semuanya ditolak. Sebagai pihak yang
menyahihkan, kita tak boleh mengambil satu versi terlemah sebagai
perwakilan sisi tersebut.
Ketiga, kita musti berharap bahwa elemen yang tak terjawab atau
tak jelas disebutkan terang-terangan. Apa yang tak diketahui, masih
dicari, atau belum dibuktikan keasliannya berkedudukan sama pent-
ing dengan yang diketahui dan telah terbukti keasliannya. Dan men-
gakui terang-terangan apa yang tak diketahui itu akan memperkuat
otoritas kelompok yang mencoba memupus keraguan.
Keempat, kita musti berharap liputan tentang satu persoalan akan
dilanjutkan dalam beberapa bentuk untuk membuat kita tetap tahu
efek selanjutnya yang mengemuka, jika ada. Ini, pada akhirnya, men-
jadi pengujian terbaik atas kualitas informasi. Anjing penjaga sering
menggonggongi suara yang tak sengaja muncul pada malam hari.
Demikian halnya dengan jurnalisme investigasi sembrono atau salah
pandu yang merasa menemukan jalannya hanya karena tak ada re-
spon yang muncul. Kita musti berharap melihat respon dari sebuah
investasi. Dan jika ia tak ada, kita musti mengharap adanya lanjutan
cerita yang menjelaskan mengapa kurang ada reaksi.
Akhirnya, mungkin juga penting—mengingat kerumitan isu ini—
untuk memeriksa ulang apa yang telah kita diskusikan tentang bukti
dan jurnalisme verifikasi.
Mengetahui sumber informasi tidaklah cukup. Kita butuh tahu
bukti apa yang diberikan—pembuktiannya. Ketika mengevaluasi
bukti tersebut, persoalan konteks: fakta yang tak dapat dibantah dan
tak kontroversial mungkin tak perlu banyak bukti untuk memuaskan
kita.
Kita mungkin memaklumi lebih banyak ketakpastian seputar
berita di depan mata kita—breaking news yang kacau balau itu—tapi
kita musti mengharapkan transparansi dan bukti kerendahan hati
dan pengakuan wartawan tentang berbagai informasi yang mungkin
Bukti dan Jurnalisme Verifikasi 129

meragukan.
Dan sebagaimana peristiwa lekang oleh waktu, atau kebutuhan
informasi kita menjadi kurang penting, kita musti berharap ada
kepastian lebih besar tentang informasi yang kita dapat dan usaha
ekstra para wartawan dalam mengonfirmasikan fakta. Secara alami
kita juga kurang bisa menolerir sesuatu yang sekadar dinyatakan.
Kita musti berharap beberapa berita, yang mungkin menciptakan
kepanikan, diperlakukan lebih hati-hati oleh penyedia berita.
Ketika berita beralih ada tahap menuntun akal dan mencoba sam-
pai pada makna, beban pembuktian dan harapan kita atas bukti musti
meningkat lebih jauh. Ironisnya, yang terjadi justru sebaliknya. Harga
yang harus dibayar karena buruknya analisis dan interpretasi berita
cenderung lebih rendah. Secara umum, tak seorang pun menuntut
koreksi ketika ada analisis keliru. Pengakuan kesalahan cender-
ung muncul hanya dalam kesalahan yang lebih hitam-putih, bahkan
untuk kesalahan yang lebih wajar—salah ejaan, salah mengenali,
salah ketik, dan sejenisnya.
Berbagai pernyataan dalam berita musti didukung bukti, dan
kapanpun dimungkinkan, bukti-bukti musti saling menguatkan.
Berita musti memenuhi ujian penyampaian arti harfiah fakta-
fakta dan juga mendukung arti konotatif serta anotatif.
Dan kita musti mencari tanda bahwa makna alternatif, atau hipo-
tesis null, telah ditelusuri. Ada berbagai peluang kebenaran dan mak-
na cerita. Sudahkah kita diberi tahu soal alternatif yang perlu diper-
timbangkan itu?
Semua itu adalah ekspektasi beralasan ketika menemui jenis
berita paling tradisional—jurnalisme verifikasi, berita yang menco-
ba membangun dan memeriksa fakta. Namun karena ruang redaksi
tradisional menyempit, dan audiens terpecah menjadi berbagai
platform dan saluran berita, materi pemberitaan yang dilaporkan
hati-hati itu berkompetisi dengan jenis materi jurnalistik yang bisa
diproduksi lebih murah. Bukti cenderung beroperasi berbeda di are-
na berita lain—dunia jurnalisme pernyataan yang kian marak dan
jurnalisme pengukuhan dari media yang lebih ideologis.
Itu adalah pertanyaan yang musti kita jawab selanjutnya.
130

BAB 7
Pernyataan, Pengukuhan:
Mana Buktinya?

Bukti bisa melakukan lebih dari sekadar menguak nuansa berita dan
mengonfirmasi kasus. Bagaimana sebuah gerai berita menangani
bukti juga menjadi cara paling berguna mengenali jurnalisme jenis
apa yang anda hadapi, yang merupakan langkah pertama dalam me-
nentukan reliabilitasnya.
Apakah konten berita benar-benar bertaut dengan penyelidikan
yang dijalankan dengan pikiran terbuka untuk mencapai dasar ses-
uatu? Ataukah sekadar menyeberangkan informasi begitu saja, tak
diteliti dan tak diperiksa? Atau apakah ia mengerjakan sesuatu yang
lain bersama-sama, seperti memakai bukti untuk tujuan politik atau
bahkan propagandis?
Di bab sebelumnya, kita mendiskusikan bukti dalam wilayah ber-
ita di mana wartawan dengan jelas mencoba memeriksa fakta dan
membangun akurasi. Mereka mungkin tak selalu berhasil, tapi usaha
mereka itu menjadi penanda upaya mereka.
Kini kita beranjak pada bagaimana bukti dipakai dalam model
jurnalisme lebih baru yang kini frekuensinya terus meningkat, jur-
nalisme pernyataan dan jurnalisme pengukuhan, bersama varian tu-
lisan berbeda, media partisan watchdog. Dalam model ini, kelakuan
wartawan dalam hubungannya dengan bukti sangat berbeda jauh.
Dan mengenali ini menjadi salah satu kunci untuk membedakan isi
media mana yang kita jumpai.
Pernyataan, Pengukuhan: Mana Buktinya? 131
131
131

Bukti dan Jurnalisme Pernyataan

Pada musim panas 2009, politik Amerika seolah mencapai po-


larisasi tingkat baru, di pertemuan antara anggota parlemen dan
warga, di rapat publik seluruh negeri. Warga yang marah bentrok de-
ngan legislator Washington dalam situasi emosional dan kemarahan
yang mengisyaratkan diskusi demokratis mendalam kemungkinan
sulit dilakukan. Perubahan paling berwarna sekaligus ganjil, seba-
gian direncanakan dan sebagian lain spontan, direkam video oleh
seorang warga dan aktivis, lalu diunggah di YouTube dan lantas dire-
lai TV kabel. Akibatnya, politik menjadi program realita baru di mana
orang-orang memainkan adegan kemarahan dan lantas merekamnya
untuk membuat berita. Di salah satu pertemuan seperti itu, anggota
kongres Barney Frank, dari Partai Demokrat Massachusett, jadi begi-
tu geram dengan seorang perempuan yang marah hingga dia bilang,
“Mencoba berbicara denganmu akan seperti berbicara dengan meja
makan. Saya tak berminat melakukannya.”
Beberapa stasiun TV merespon itu dengan membuat debat antar
para ahli untuk membandingkan pertemuan publik dan debat leg-
islatif. Salah satu debat ini muncul di acara NewsHour PBS pada 13
Agustus. Di satu sisi meja ada Dick Armey, pemimpin organisasi
penentang rencana reformasi layanan kesehatan di pertemuan pub-
lik. Di sisi lain ada Richard Kirsch, manajer nasional kelompok pem-
bela reformasi layanan kesehatan di pertemuan itu. Moderatornya
adalah Judy Woodruff, salah seorang jurnalis berita TV yang paling
serius dan disegani.
Untuk beberapa menit pemirsa disodori aksi saling lempar per-
nyataan membingungkan dan detil bertentangan. Armey memper-
ingatkan “kesia-siaan belaka yang hina.” Kirsh khawatir tentang “ke
gelisahan luar biasa” pada sistem pelayanan kesehatan.
Lantas Armey mengatakan sesuatu yang nantinya memicu banjir
protes dari pemirsa PBS:

Namun fakta persoalannya adalah ada sekelompok besar


warga Amerika dan kian bertambah yang… melihat ini sebagai
pengambilalihan culas pemerintah atas layanan kesehatan, di
mana mereka akan dipaksa masuk program pemerintah… Jika
anda berusia di atas 65 tahun di Amerika sekarang, anda tak
132 Blur

punya pilihan selain Medicare. Bahkan jika anda ingin keluar


dari Medicare, anda harus menebusnya dengan Jaminan Sosial.
Meski jika anda ilmuwan Kristen, anda harus melepas Jaminan
Sosial anda. Itu cukup berat, dan warga mengkhawatirkannya.

Woodruff meminta Kirsch menanggapi: “Bagaiman dengan


tudingan ini?”
Kirsch mengacuhkan pertanyaan itu dan malah menuding Armey
menyampaikan tuduhan yang tak pernah dikatakan Partai Repub-
lik. “Dick Armey… berpikir Medicare tidak perlu ada. Pada dasarnya,
Medicare adalah sistem penyedia jaminan asuransi yang baik untuk
lansia di negeri ini. Inilah maksud sebenarnya—di masa tua anda tak
perlu kuatir soal tak mendapatkan layanan kesehatan yang diperlu-
kan. Ini juga perlu diberikan kepada semua orang di negeri ini, tapi
kita perlu melakukannya dalam sistem yang menyediakan pilihan
antara asuransi swasta yang diregulasi atau asuransi umum. Dan in-
tinya adalah kita memerlukan jaminan kesehatan dengan harga ter-
jangkau untuk semua orang.”
Tuduhan dan tuduhan-balik dari pokok pembicaraan terus ber-
gulir, begitu cepat hingga sulit dipilih. Pertengkaran berlanjut hingga
masing-masing mengklaim kelompok mereka akhirnya akan menang.
Woodruff pun mengumumkan, “kami telah mendengar anda berdua,
keras dan jelas.”
Setelah itu, Michael Getler, ombudsman PBS, kebanjiran keluhan
dari kaum liberal yang kecewa karena Woodruff tak mempersoalkan
pernyataan Armey tentang Layanan Kesehatan, setelah Kirsh gagal
melakukannya.
“Woodruff mengizinkan Armey berbohong tentang fakta yang sa-
ngat penting ini,” tulis seorang pemirsa.
“Saya paham bahwa tiap individu yang muncul di program itu ber-
hak membela pendapat mereka, tapi tak lantas memberi mereka hak
untuk bohong dan pastinya tak memberi PBS cek kosong untuk me-
nerima semua yang mereka katakan sebagai benar secara faktual,” tu-
lis yang lain.
Linda Winslow, produser eksekutif program tersebut, mengatakan
pada Getler bahwa para pemirsa meminta hal tak terduga yang bisa
disediakan oleh Woodruff: “Judy adalah moderator, bukan hakim.” Pe-
mirsa juga tak kecewa saat Krisch, juga, berbohong dan berlebihan.
Namun bagi Getler, ada isu lebih besar di situ. Intinya adalah “bu-
Pernyataan, Pengukuhan: Mana Buktinya? 133

kan pada Woodruff, secara personal, yang memang mencari celah


untuk mendapat bantahan atau tantangan pada titik ini,” dia menulis.
“Melainkan pada kebutuhan lebih luas bagi wartawan untuk mem-
pertanyakan dan menantang poin yang mereka tahu atau curigai,
menjadi salah secara faktual.”
Getler memeriksa akurasi perkataan Armey ke pegawai Jaminan
Sosial. Dia mendapat informasi bahwa Medicare adalah program su-
karela, yang membuat sebagian perkataan Armey salah. Namun jika
seseorang mendaftar Medicare dan Jaminan Sosial, keduanya jadi
saling terkait. Jika Medicare dibatalkan, jaminan sosial pun hilang,
yang menjadikan sebagian pernyataan Armey lain jadi benar.
Lantas Getler memasang penilaian sendiri sebagai tanggungjawab
PBS, yang memilih wawancara, atau format debat, dengan mengam-
bil pendapat pemirsa lain, Tom Tonon, dari Princeton, New Jersey.
“Dalam kasus seperti ini,” Tonon menulis, “ketika pewawancara ga-
gal menantang pernyataan tak akurat dan menyesatkan, maka timbul
satu pertanyaan penting soal fungsinya di TV publik: untuk cerdas,
apakah perannya hanya membolehkan orang yang diwawancarai bi-
cara apapun, tanpa memperhatikan kebenaran, validitas, atau ketepa-
tan pernyataan mereka? Menurut saya, tidak. Sebaliknya, pewawan-
cara musti berusaha memastikan benar-salahnya pernyataan diukur
atau ditunjukkan melalui berbagai cara.”
Keprihatinan pemirsa tersebut menjadi tanda awal jurnalisme
pernyataan, terkait dengan persoalan bukti: ketiadaan pemerik-
saan—kegagalan menantang pernyataan, meminta, dan menguji
bukti.
Contoh ini penting bukan karena ia tak biasa atau berlebihan, tapi
lebih karena ia menjadi begitu umum. Kita bisa menyaksikan contoh
lebih parah soal ini tiap hari di budaya berita kita, utamanya di TV.
Wooddruff setidaknya bisa mempersilahkan tamunya saling menan-
tang klaim pihak lawan. Dia tak berhasil. Namun banyak pewawan-
cara televisi sekarang yang bahkan tak mencoba. Segmen NewsHour
juga makin panjang dan jauh lebih detil dari kebanyakan program
TV. Dan ombudsman NewsHours, yang bertugas menangani persoa-
lan tersebut, jarang dimiliki TV berita.
“Hampir semua orang setuju bahwa kita bisa menghemat antara
US$100 miliar-US$200 miliar jika berhasil mereformasi malpraktik
ini,” kata senator Partai Republik Jon Kyl dari Arizona dalam wawan-
cara CNN oleh John King pada 2 Oktober 2009.
134 Blur

Pernyataan Kyl jelas konyol. Sangat tak akurat mengatakan “ham-


pir semua orang setuju” dengan hitungan ini. Besarnya biaya asur-
ansi yang bisa dihemat dengan membatasi pertanggungan asuransi
menjadi pokok perselisihan besar, yang pasti diketahui King. Dan hi-
tungan Kyl adalah pokok pembicaraan umum kaum konservatif, bu-
kan sesuatu yang perlu disergap wartawan. Namun King tak menagih
Kyl bukti untuk mendukung klaim itu, atau menunjukkan bahwa ang-
ka itu masih dipertanyakan. Dia menutup segmen acara begitu saja,
berkata bahwa mereka kehabisan waktu. Selang tujuh hari berikut-
nya, Kantor Budget Kongres merilis laporan yang mengatakan angka
sebenarnya mendekati US$11 miliar di tahun pertama, dan US$54
miliar setelah 10 tahun.
Tak perlulah jauh-jauh ke angka. Pada 29 September 2009,
senator Republikan Orrin Hatch menuding tujuan Presiden Obama
mereformasi layanan kesehatan adalah men-sosialis-kan sistem
layanan kesehatan Amerika: “Apa yang mereka lakukan adalah, men-
coba melakukannya dengan bertahap… hingga akhirnya menyeret
kita pada titik di mana anda akan mempunyai obat-obatan sosialis,”
yang akan merusak sistem layanan kesehatan Amerika, yang ter-
besar di dunia.
Ide bahwa presiden diam-diam berniat mensosialiskan sistem
kesehatan Amerika secara perlahan dan bertahap adalah pokok
pembicaraan utama di antara musuh-musuh reformasi layanan kes-
ehatan yang bisa ditemui berulang-ulang di berbagai situs Web yang
menolak rencana itu, termasuk situs Komite Nasional Republikan.
Partai Demokrat mengejek langkah itu. Demi tujuan praktis, pada
ujungnya, Senator Hatch menuduh presiden berbohong pada rakyat.
Apa tanggapan pembawa berita CNN Tony Harris? Apakah dia
menagih Hatch bukti atas tuduhan semacam itu? Apakah dia menun-
jukkan bahwa senator Utah secara efektif sedang menuduh presiden
berbohong? Apakah dia berusaha memeriksa topik pembicaraan ini,
atau bahkan menunjukkan skeptisisme dengan jelas tentang per-
nyataan yang dikeluarkan tanpa bukti tersebut?
Harris, seperti King, sekedar mengucap salam CNN untuk menyu-
dahi diskusi: “Baiklah, mari kita rehat dulu.”
Jika anda menyaksikan kepasifan ini, waspadalah. Bawa skep-
tisisme anda sendiri pada politisi tersebut atau pada wartawannya.
Para wartawan, baik penyiar, pewawancara, blogger, tak menjalan-
kan verifikasi atau bahkan penyidikan tingkat tinggi. Sebaliknya, me
reka lebih berperan sebagai saluran dan pengaktif.
Pernyataan, Pengukuhan: Mana Buktinya? 135

Yang paling parah, jurnalisme pernyataan terjadi dalam format


panggung, seperti segmen talk show di mana para tamu dipesan un-
tuk sekadar berpendapat tentang sesuatu. Apa yang mungkin men-
jadi segmen analitis diberi porsi lebih sedikit oleh moderator atau
pembawa acara, kalah banyak dari segmen tamu yang mengoceh
ngalor-ngidul, dengan upaya minim untuk memeriksa apa yang mer-
eka katakan atau meminta bukti atau banyak hal lain, selain hanya
membiarkan sesuatu berjalan.
Masalahnya, perbincangan demikian kian banyak terjadi tanpa
pemeriksaan fakta (fact-checking). Percakapan itu membangun fon-
dasi pemahaman publik yang mungkin dibangun dari beberapa pen-
getahuan tentang yang benar dan yang tidak. Fakta, oleh struktur bu-
daya ini, kehilangan nilai. Mereka tak terposisi sebagai fondasi, tapi
kejadian sesaat. Ketika semuanya tak diperiksa, semua pendapat jadi
sama—baik yang akurat maupun yang tidak. Berita, dan jurnalisme,
menjadi sekadar argumen dan bukannya gambaran kejadian akurat
yang menjadi dasar argumen, debat, dan kompromi.
Namun, kebanyakan perbincangan tanpa tantangan ini berlalu
tanpa diperhatikan, mengisi layar TV kita berjam-jam, diterima seb-
agai bentuk jurnalisme seperti lainnya. Sejumlah besar program dan
berita TV kini memakai format wawancara langsung.1
Satu alasan mengapa wartawan televisi menjadi lebih pasif, dan
jurnalisme pernyataan meraih momentum, terkait dengan struktur.
Meski banyak yang tak peduli dengan itu, wawancara “langsung” TV
modern punya batasan akut yang membuat kontrol kejadian men-
jauh dari tangan pewawancara dan lebih banyak dipegang tamu yang
diwawancarai.
Pertama, dengan melepaskan kemampuan mengedit, organisa-
si berita tak mampu memeriksa akurasi dan konteks fakta yang di
sampaikan—setidaknya selama wawancara. Pada pratiknya, kita
juga jarang melihat mereka mengoreksi pernyataan keliru para
tamu di sesi sebelumnya. Kedua, setting siaran langsung membuat
narasumber mudah mengontrol waktu—memaparkan pokok pem-
bicaraan yang disiapkan, menyembunyikan, mengelakkan, memu-
tar-balik angka atau pernyataan yang meragukan, atau orasi panjang.
Ini menjelaskan kenapa kebanyakan konsultan politik dan humas
memilih wawancara langsung untuk kliennya. “Kita selalu memilih
melakukan interview langsung, terutama di TV kabel,” kata wakil
presiden komunikasi salah satu korporasi yang masuk di sepuluh
besar daftar Amerika secara blak-blakan, meski dia meminta identi-
136 Blur

tasnya disembunyikan agar tak dimusuhi media. “Karena ia tak diedit,


kita benar-benar bisa menyampaikan pesan dengan cara yang kita
inginkan.” Bahkan Mike Wallace, koresponden CBS news yang mung-
kin dianggap investigator TV paling menakutkan, bilang pada kami,
“Wawancara langsung, seperti konferensi pers langsung, adalah cara
termudah seorang politisi mengontrol.” 2
Dua batasan struktural yang mendasar itu kini diperburuk sesuatu
yang lain: kebanyakan interview langsung di era televisi 24/7 diatur
buru-buru, dengan sedikitnya keterlibatan wartawan dalam persia-
pan. Struktur dasar operasi TV kini adalah sebuah kelompok peneliti
muda yang disebut “booker” (pemesan) mencari tamu, melakukan
beberapa level “wawancara pendahuluan” untuk mengidentifika-
si apa yang akan dikatakan tamu, dan menulis kemungkinan perta
nyaan dan jawaban untuk pembawa acara. Ada juga elemen yang
disebut praktisi televisi sebagai “casting”—ungkapan yang dipin-
jam dari Hollywood. Para bookers, diperintahkan produser, mencari
tamu yang menempati peran atau posisi tertentu. Seringkali mereka
membuat casting debat semi panggung, meski perbedaan sudut pan-
dang di TV kabel membuatnya disajikan berseri, dengan pejabat dan
pembuat berita diwawancarai terpisah dan bukannya berbagi jam
tayang dengan lawan mereka.
Memperparah faktor persiapan minim itu, pembawa acara pro-
gram ini sering melakukan siaran berjam-jam dan loncat dari satu
wawancara ke wawancara lain, topik ke topik, sepanjang program.
Mereka berperan laiknya reporter aneka rupa, meliput semua topik
plus membawakan berita. Tamu yang mereka wawancarai, seba-
liknya, kebanyakan adalah ahli di bidangnya, memiliki kesiapan le-
bih baik untuk pertemuan singkat itu ketimbang pewawancara, dan
seringkali lulus pelatihan kehumasan.
Pada 2008, misalnya, David Barstow di New York Times mem-
buat investigasi panjang soal sejauh mana Pentagon memengaruhi
kebijakan Bush dalam mengorganisir, menyiapkan, dan mengontrol
legiun purnawirawan militer yang diwawancarai media tentang ‘
perang melawan teror’.
Di mata publik, mereka adalah anggota kelompok per-
saudaraan terkenal, tampil puluhan ribu kali di televisi dan
radio sebagai “analis militer” yang memiliki pengabdian cukup
panjang untuk memperkuat penilaian dan otoritas mereka
soal isu terpanas pasca 11 September.
Meski demikian, tersembunyi di balik penampilan obyektif
Pernyataan, Pengukuhan: Mana Buktinya? 137

itu, para analis itu dipakai aparat Pentagon untuk kampanye


agar mendapat liputan media yang menguntungkan mereka
seputar kinerja perang di masa pemerintahan Bush.

Tak hanya “analis militer” ini yang dapat pengarahan khusus dan
poin arahan dari Pentagon, mereka juga punya hubungan dengan
kontraktor militer yang memiliki kepentingan vital dalam aktivitas
dan kebijakan yang mereka nilai sesuai pesanan. Sayangnya, seba-
gian besar media yang mewawancarai mereka tak tahu dan tak sem-
pat bertanya soal konflik kepentingan dan koneksi itu.
Persiapan terburu-buru oleh pemesan pihak ketiga yang umum
ditemui hari ini jauh berseberangan dengan jenis liputan jurnalis TV
prawawancara yang pernah dilakukan. Sebelum mewawancarai ter-
dakwa komplotan Watergate H.R. Haldeman di depan kamera pada
pertengahan 1970-an, misalnya, Mike Wallace menghabiskan 55
jam percakapan pendahuluan dengan Haldeman untuk mendengar
kisahnya, memeriksa fakta, dan menyiapkan diri untuk menantang
mereka. Itu terjadi pada masa ketika berita TV tak beroperasi 24 jam
dan ruang redaksi punya staf lebih besar, memberi waktu lebih bagi
wartawan melakukan riset. TV di era itu juga mencoba membukti-
kan bahwa bentuk program ini bisa berkompetisi dengan wawancara
paling dihormati di media cetak.
Pada 1950-an dan 1960-an, di halaman publikasi macam Paris
Review, Playboy, dan New Yorker, wawancara menjadi sebentuk seni
untuk menjelajahi kepribadian selebritas sastra, sosial dan politik.
Wawancara format panjang ini biasanya merupakan buah dari per-
siapan dan riset mendalam, dan wawancara menjadi sebuah proses,
bukan presentasi tunggal. Alex Haley, penulis cum wartawan kon-
tributor Playboy, biasanya mengunjungi kota asal calon narasumber
dan mewawancarai orang-orang yang mengenalnya di masa kecil,
sebelum dia bertemu muka dengan narasumber. Eric Norden, yang
mewawancarai mantan menteri Nazi Albert Speer untuk Playboy,
menghabiskan waktu enam minggu mempelajari temanya sebelum
wawancara dimulai, dan wawancara itu sendiri berlangsung 10 hari.
Wartawan Robert Scheer dalam wawancara terkenalnya dengan Jim-
my Carter yang kemudian menjadi calon presiden pada 1976 terlibat
lima pertemuan terpisah selama tiga bulan.
Di awal era televisi, beberapa analis membayangkan kamera
sebagai bentuk “sinar X” batin yang hampir menyamai alat sihir,
yang sifat “tembus pandangnya” bisa mengekspos kebenaran tentang
138 Blur

orang yang diwawancarai. Ini jenis perumpamaan yang menginspi-


rasi logo mata tak berkedip CBS. Interview langsung hari ini di TV ka-
bel atau berita lokal pagi mungkin menyandang nama sama dengan
pendahulunya—keduanya disebut wawancara—tapi sedikit sekali
yang mau terlibat atau menyamai proses persiapan yang membuat
wawancara meraih reputasi setinggi era sebelumnya.
Batasan lain wawancara TV modern adalah pembuat berita
kini bisa menjemput dan memilih media yang bersahabat, atau se-
tidaknya menghindari yang tak bersahabat. Ini benar terjadi, bahkan un-
tuk orang yang mungkin ingin memublikasikan karya mereka—analis,
pengarang, atau mereka yang ingin nama atau produknya harum di luar
sana. Ini benar-benar terjadi untuk pembuat berita yang ingin menyam-
paikan pesan, tapi tak ingin membuat siaran radio/TV mereka kebanji-
ran. Ada banyak media sekarang yang wartawannya sering barter dan
bernegosisasi dengan para pembuat berita. Banyak subyek wawancara
mempunyai pengacara yang mewakili mereka, menegosiasikan pa-
rameter apa yang bisa ditanyakan dan apa yang tidak. Memesan orang
penting untuk wawancara di TV kini disebut “The Get,” (Sabet) dan ko-
responden serta pembawa berita TV bisa memoles reputasi mereka jika
sukses pada seni “The Get,” meski itu berarti mereka harus menunduk
dan menjilat.
Pertimbangkan apa yang terjadi, misalnya, pada Gubernur California
Selatan Mark Sanford, setelah hilang secara misterus selama tujuh hari
dari tempat kerjanya, lalu muncul lagi di negerinya dan menjadi sorotan
pers nasional. Gubernur berusia 49 tahun ini, seorang ahli sosial dan fis-
kal konservatif dan ketua Asosiasi Gubernur Republiken, masuk ke daf-
tar orang yang diharapkan menjadi calon presiden 2012. Namun ketika
ayah berputera empat ini mengadakan konferensi pers berisi pengakuan
bahwa dia menghabiskan “Lima hari terakhir dari hidupnya menangis di
Argentina,” mencoba memutus hubungan gelap dengan selingkuhannya
di sana, peluangnya masuk ke kantor nasional seolah menguap, dan dia
menjadi “get” terpanas di bisnis wawancara TV. Begitu kuat kisahnya
hingga kompetisi meraih wawancara eksklusif tak dipercayakan pada
booker muda. Joel Sawyer, sekretaris pers gubernur, kebanjiran email dari
pembawa berita dan koresponden top, beberapa di antaranya menawari
Sanford kesepakatan eksplisit dan implisit yang mengkhianati keberim-
bangan kekuatan baru berita TV demi kepentingan pembuat berita dan
bukannya jurnalis.
Pada 15 Juli 2009, Koran Post and Courier di Charleston, Carolina
Pernyataan, Pengukuhan: Mana Buktinya? 139

Selatan, memperoleh email ini melalui permohonan yang diajukan


berdasarkan Undang-Undang Kebebasan Informasi. Satu email ko-
responden TV berisi bujukan kepada gubernur dengan sesuatu yang
menampar keras jurnalisme.
E-mail Griff Jenkins dari Fox News mengirim gejala kontroversi
yang menjijikkan: “Jika gubernur mau diwawancarai dan eksklusif
[sic], ia akan disiarkan di saluran TV dan kantor berita radio kami di
seluruh negeri… Saya banyak bekerja untuk liputan jam tayang uta-
ma [sic] Oreilly, Hannity, Greta, Beck—sehingga ada kemungkinan ini
akan jadi liputan jam tayang utama juga untuk beberapa pernyataan
gubernur yang menjadi penutup keributan ini.”
David Gregory dari NBC Meet the Press menyarankan gubernur
menerima kerangka pembicaraan sebagaimana dia inginkan: “Begini,
anda semua banyak dilempari… Saya mengerti itu dan saya tahu ini
adalah situasi buruk … Maka, muncul di Meet the Press memung-
kinkan anda merancang percakapan seperti yang benar-benar anda
inginkan … dan lantas melanjutkan hidup. Anda bisa melihat anda
menyelesaikan wawancara, lantas pergi.”
Bahkan Comedy Central-nya Stephen Colbert mengirimi Sanford
e-mail, tapi dia memparodikan peran wartawan: “ Sebagaimana yang
mungkin anda tahu, saya mendeklarasikan diri sebagai warga Caro-
lina Selatan malam kemarin. Saya sempat gila kekuasaan sekitar 40
detik sebelum mendapat berita bahwa Gubernur Sanford telah kem-
bali hari itu. Jika Gubernur mencari tempat bersahabat untuk mem-
beri klarifikasi atas cerita kecil yang menurut saya dibesar-besarkan
sedemikian rupa, saya akan senang mewawancari beliau di program
saya. Baik secara pribadi di sini, lewat telepon, atau di Carolina
Selatan. Tetaplah kuat. Stephen.”
Publikasi email tersebut menciptakan skandal tersendiri, satu
yang mengungkapkan bagaimana operasi berita modern kadang tak
berdaya di hadapan pembuat berita dan secara eksplisit menawar-
kan wawancara langsung sebagai umpan.
Mungkin yang terpenting, ada batasan ketat di interview lang-
sung yang tak bisa seenaknya dilanggar wartawan dan mempersulit
penggalian lebih dalam. Dari 1980-an hingga abad 21, wartawan Ted
Koppel, pembawa acara ABC Nightline, dianggap sebagai pewawa-
ncara tercakap di TV. Di puncak popularitasnya pada 1990-an,
Koppel bicara tentang garis yang tak boleh dilewati para pewa
wancara. Ada daya tarik-menarik alami antara pemirsa dan pembawa
140 Blur

acara, jelasnya, sebuah ikatan yang tak mau anda putus. “ Aturan pa-
ling mendasar adalah menjaga pemirsa tetap mengenali anda. Iden-
titas pengenal itu bisa hilang dengan mudah ketika anda melepas
kendali interview, atau menjadi terlalu agresif atau kasar atau tak
mengajukan tipe pertanyaan yang benar,” jelas Koppel. Untuk men-
jaga hubungan subtil itu, Koppel menilai narasumber perlu dibiarkan
mengutarakan isi hatinya pada pertanyaan pertama atau kedua.
Lantas, pada titik tertentu, jika narasumber terlalu bertele-tele atau
menghindari pertanyaan, dan “semua orang di rumah tahu itu,”
pewawancara mendapat izin dari pemirsa untuk lebih agresif. Koppel
menggambarkan seolah-olah alarm telah mati dan para pemirsa bi-
lang, “Ted, hajar.” Meski, bagaimanapun juga, Koppel membayangkan
batasan ketat. Jika subyek tetap mengelak, dia bilang “hal terbaik yang
bisa anda lakukan adalah beri audien kesan bahwa orang itu benar-
benar tak ingin menjawab pertanyaan.” Anda bisa ulang sebuah per-
tanyaan dua-tiga kali yang “menekankan itu, menggarisbawahi ini,”
ujar Kopel, tapi sedikit lebih maju. Membayangkan bahwa “tak realistis
anda memerah kebenaran dari seseorang yang tak mau
memberikannya.”4
Meski ini dipraktikkan dalam interview langsung, pewawancara
harus punya pengetahuan seputar subyek dan kemampuan mengedit
wawancara di pikiran mereka di tengah wawancara, tak sekadar
membiarkan wawancara menggelinding begitu saja menjadi poin
pengarahan sang narasumber. “Inti jurnalisme adalah editing,” kata
Koppel. “Dan mengedit saat siaran langsung sangatlah sulit. Ia berarti
menyaring ucapan tambahan dari yang relevan, yang baru dari yang
lama—di kepala anda, sewaktu mendengarkan orang bicara, dan
secara bersamaan memikirkan pertanyaan selanjutnya.”
Anggaplah pewawancara berpengetahuan cukup untuk tahu ka-
pan subyek berpura-pura. Anggap juga pewawancara cukup cakap
melakukan editing mental selama interview langsung, saat mende-
ngarkan orang yang diwawancara dan mungkin seseorang di ruang
kontrol melalui headset. Tetap saja, wawancara tersebut perlu wak-
tu cukup lama untuk mendapat lebih dari sekadar poin pengarahan
sang narasumber. Namun rata-rata wawancara di berita siang TV
kabel hari ini, menurut penelitian kami di Project for Excellence in
Journalism, adalah sepanjang 3,5 menit. Rata-rata interview di
jaringan berita pagi adalah dua menit 40 detik. Yang melampaui rata-
rata ini adalah News Hour di PBS, dengan rerata panjang wawancara
Pernyataan, Pengukuhan: Mana Buktinya? 141

hampir tujuh menit.


Dengan batasan besar ini—kesulitan dalam editing, keterba-
tasan mengontrol narasumber, kurangnya persiapan, minimnya jam
siaran, kebanyakan wawancara langsung cenderung jadi sejenis upa-
cara ritual ketimbang temuan informasi baru, menyulitkan wartawan
mengumpulkan berita dan mempermudah pembuat berita menampil-
kan diri dan menyampaikan pesan. Lebih dari sedekade lalu, Diana
Sawyer dari ABC berkata pada kami, “Suami saya (Direktur Mike
Nichols) menyebut interview langsung sebagai ‘pentas yang diselubungi
percakapan.’” Ini terlihat kian jelas sekarang.5
Kenapa sebuah format yang punya banyak keterbatasan men-
jadi begitu umum? Salah satu alasannya adalah ekonomi. Bicara itu
murah—atau setidaknya lebih murah dari liputan. Dengan begi-
tu banyak jam program yang harus diisi tiap hari, format ini lebih
murah bagi operator berita TV untuk menyusun segmen interview
langsung bersamaan ketimbang mengirim koresponden dan meliput
berita di mana mereka bisa memeriksa fakta. Tamu cukup duduk di
kursi, pembawa acara membaca cepat beberapa pertanyaan yang
disiapkan bookers muda, dan jadilah segmen itu.
Faktor lain, yang mungkin lebih dari sekadar rasionalisasi
ekonomi ketimbang efek bagi pembaca yang sudah terbukti, adalah
kuatnya pandangan yang berkembang di antara programer TV
bahwa audiens lebih memilih liputan langsung ketimbang yang
direkam. Faktanya, program rekaman punya audien lebih besar.
Feature TV terpopuler misalnya, adalah 60 minutes, tayangan yang
dibuat dengan segmen rekaman yang disiapkan hati-hati. Tiga siaran
berita malam komersil, yang meliputi 70% segmen rekaman, pu-
nya audien lebih besar dari program berita individual di TV kabel.
Mengacu pada Nielsen Media Research per 2010, siaran berita malam
dengan rating terburuk, CBS, punya tujuh juta pemirsa, dua kali lipat
dari program berita TV kabel terpopular, Bill O’Reilly. Tiga siaran
berita petang memiliki rata-rata 21 juta pemirsa, empat kali lipat
gabungan pemirsa berita TV kabel.
Namun tetap saja, segmen live interview jadi tayangan utama
di berita TV, berkat kemudahan produksi berbiaya murah—dan
dengan audiens yang terpecah, ia berpotensi besar tumbuh.
Itulah mengapa begitu penting bagi konsumen untuk mengenali
apa yang terjadi di segmen ini.
Di manapun anda menemukan penyampai, wartawan, atau pe-
142 Blur

nyedia konten yang cuma membiarkan orang bicara, tanpa banyak


usaha memeriksa fakta, menyanggah ucapan, atau menagih pembuk-
tian, anda memasuki daerah lain yang jarang diakui para pelakunya.
Anda telah memasuki wilayah jurnalisme pernyataan, dan konten
yang anda dapati bukanlah produk jadi, bukan informasi yang lolos
pemeriksaan. Dan fakta bahwa wartawan membiarkan sesuatu lolos,
tak berarti menjamin itu benar.

Bukti dan Jurnalisme Pengukuhan

Ketika minimnya pemeriksaan bukti menjadi karakteristik jurnal-


isme pernyataan, di dunia jurnalisme pengukuhan yang kian berkem-
bang, bukti diperlakukan lebih hati-hati: Ia cenderung dipilih untuk
membuktikan sebuah titik. Bukannya memilah sesuatu melalui pe-
nyidikan pikiran terbuka, ia menjadi satu senjata, satu cara, dalam
sebuah argumen persuasi.
Konsumen cerdas bisa mendeteksi proses seleksi ini jika mereka
cermat mengamati sajian berita, pemilihan kisah dan topik, daftar
narasumber, dan bahkan kumpulan segmen atau interview terpisah.
Perlakuan bukti itu menjadi satu di antara gambaran karakteristik
media partisan gaya baru nan komersil ini, dan terkadang melalui
cara paling halus. Berita tipe ini biasanya dirajut dengan hati-hati.
Berbicara soal presentasi bukti, ada banyak cara menjalankan pe-
milahan, tapi ada empat metode yang muncul paling sering. Jika anda
mendeteksi mereka, anda akan tahu bahwa apa yang anda temukan,
meski tampak seperti dan menyebut diri sebagai liputan, ia adalah
spesies yang benar-benar berbeda.

Menjumput Fakta: Penggunaan dan Penyalahgunaan Anekdot

Metode pertama adalah menjumput fakta yang kelihatannya mem-


buktikan kasus. Kutipan, anekdot, dan statistik mungkin bisa
disajikan secara lempeng dan netral. Pembawa acara, modera-
tor, atau reporter mungkin saja tak pernah eksplisit mengatakan
mereka membuktikan beberapa poin lebih besar. Atau dalam konteks
lebih bombastis, katakanlah, di tangan Glenn Beck atau Rachel Mad-
dow, pembawa acara mungkin menyambung titik dengan baik dan
meneriakkan maksud jahatnya—bahwa mereka menunjukkan apa
yang selama ini telah diketahui audien. Dalam penjumputan berita
Pernyataan, Pengukuhan: Mana Buktinya? 143

seperti ini, tak ada upaya melihat lebih luas guna menemukan apakah
anekdot itu benar-benar mewakili atau statistik benar-benar berarti
seperti yang mungkin terlihat. Tak ada upaya untuk mewawancarai
korban atau pendukungnya. Tak ada usaha berarti untuk menggali
hipotesis alternatif/ null. Penyidikan macam ini bisa saja membelok-
kan sasaran penyimpulan.
Pada September 2009, debat nasional tentang RUU jaminan kese-
hatan yang diajukan Presiden Obama mengemuka setelah poin pokok
dalam draf RUU itu diurai lebih detil. Republiken yang solid menen-
tang legislasi itu, dan terbantu kebimbangan Demokrat konservatif,
menjadi subyek The Ed Show MSNBS, yang dipandu Ed Schultz, pada
24 September.
Schultz mengawali segmen pembuka dengan video klip pendek
tentang seorang perempuan dalam pertemuan publik soal layanan
kesehatan yang diinisiasi tokoh politik kaum Republiken Eric Can-
tor di Virginia Utara. Perempuan itu menceritakan kisah kawannya
di awal usia 40-an yang kehilangan pekerjaan dan lantas mengi-
dap tumor yang perlu dioperasi. Tanpa pekerjaan—dan asuransi—
kawannya berada dalam situasi keuangan dan emosional sulit.
Cantor bilang pada perempuan itu bahwa dia ingin tahu lebih lan-
jut tentang keadaan kawannya, “dalam hal pemenuhan pendapatan
dan program yang ada di luar saat ini, sebab, jika anda melihat mer-
eka yang tak dilindungi asuransi, mungkin ada sekitar 23% atau 24%
hak pengangguran saat ini yang mungkin telah memenuhi syarat
dari program pemerintah yang ada. Di samping itu, ada program, ada
organisasi amal, ada rumah sakit yang menyediakan pelayanan ke-
sehatan gratis.”
Video dihentikan, Ed Schultz bilang, “itu klasik, Bung. Apakah ka-
lian mengalami semua itu? Perempuan itu mengalaminya. Dia kena
kanker. Dia perlu operasi sekarang juga! Ini klasik… Sebab jika anda
menyodorkan Republiken dan gangguan skenario nyata, mereka tak
III
Istilah ‘anekdot’ di buku ini dipakai untuk menyebutkan praktik peng-
gunaan data statistik secara parsial (amputasi data). Dalam bahasa Inggris,
istilah ‘anecdote’ tidak serta-merta berarti cerita lucu, melainkan kisah
menarik yang tidak banyak diungkap. Kata ini berasal dari kata ‘anekdo-
tos’ (Bahasa Yunani), yang berarti tak tersiar. Tidak ada padanan kata ini
di bahasa Indonesia, sehingga kami memakai istilah ‘anekdot’, meski kata
ini di budaya tutur kita mengalami penyempitan makna (peyorasi) menjadi
‘cerita jenaka.’ Dalam KBBI, ‘anekdot’ dimaknai sebagai ‘cerita singkat yang
144 Blur

punya jawaban.”
Lantas Schultz jadi lebih semangat: “Mereka masih membincang-
kan persentase. Bagaimana jika Anda masuk dalam persentase yang
ditinggalkan? Anda hanya sial. Ini reformasi mereka. Ini jawaban
mereka. Anda tahu mereka bagus dalam memegang sosialisme, ko-
munisme, Marxisme, semua jenis ‘isme.’ Namun anda tak punya satu
jawaban untuk perempuan itu. Dia hanya berada di tempat yang
salah di waktu yang salah, dan kita perlu bicara tentang pendistri-
busian ulang kekayaan.”
Schultz, bagaimanapun juga, telah berhati-hati memilah fakta-fak-
tanya dari video. Cantor bilang ia perlu fakta lebih untuk benar-benar
mengenali keprihatinan sang perempuan. Untuk membantu, anggota
kongres itu menambahkan ada beberapa cara yang bisa ditempuh
dalam keadaan darurat seperti itu. Bahkan segmen terbatas video
itu membuka berbagai wilayah yang bisa digali Schultz untuk mem-
bagi pengetahuan nyata kepada pemirsa. Program apa yang diperun-
tukkan bagi 23%-24% pengangguran? Pada kondisi apa? Seberapa
efektif perlindungan itu? Scultz dengan gampangnya menampik ke-
mungkinan itu dan kembali pada satu pernyataan yang memperkuat
pendapatnya.
Penjumputan fakta dalam media partisan mungkin juga mema-
sukkan angka dan statistik. Dalam kasus itu, ketika bukti disajikan
dalam bentuk data, dengan aura obyektivitas yang tersirat, ia mung-
kin tetap saja media partisan, lebih banyak pernyataan yang disaji-
kan sebagai fakta, ketimbang fakta itu sendiri, lebih banyak angka
ngawur ketimbang data yang mungkin lolos ujian kelayakan pemak-
naan statistik.
Pada Mei 2009, ketika Chrysler, yang kemudian diawasi tim kecil
restrukturisasi otomotif Presiden Obama, mengumumkan rencana
menutup seperempat diler otomotif nasional, situs Webnya pun di-
penuhi blogger yang mencari politik partisan kejam di balik keputu-
san tersebut.
Seorang blogger, pria bernama Joey Smith, mendapat banyak
perhatian. Smith menaruh lima dari 40 halaman berisi daftar diler
yang akan ditutup, dan mengumumkan akan menciptakan situs
Web baru “untuk menentukan apakah diler yang dipertahankan
akan mendapat hadiah atas donasinya dalam kampanye Demokrat
dan/atau Obama sejak 2004.” Dia menemukan fakta bahwa daftar
diler yang ditutup dalam lima halaman pertama itu telah mem-
Pernyataan, Pengukuhan: Mana Buktinya? 145

beri lebih dari US$130.000 pada kampanye Republiken dan hanya


US$37.800 untuk Demokrat. Dalam pemilihan Presiden 2008, diler yang
sama menyumbang US$7.150 untuk John McCain dan US$0 kepada
Barack Obama.
Kerja Smith secara cepat menjadi rujukan blogger lain. Di antara
mereka adalah Doug Ross, yang menyebut pekerjaan Smith sebagai
“Dealergate¬-nya Obama” dan secara retoris menanyakan betapa
anehnya jika anda kehilangan diler setelah menjadi penyumbang
besar Demokrat. “Cari di antara daftar sumbangan minim dan nol,”
adalah jawaban dia.
Kesibukan blogger menuduh, termasuk klaim bahwa Presiden
Obama punya “daftar tembak” diler, segera mengganggu Gedung
Putih, di mana sekretaris pers Robert Gibbs menyangkal keterli-
batan pemerintah dalam keputusan itu. “Tim kecil industri mobil
yang dibentuk Presiden tak memilih-milih diler,” kata Gibbs. “Ia tak
terlibat dalam menentukan mana pabrik yang mungkin ditutup atau
dipertahankan… itu adalah tugas dari perusahaan-perusahaan mobil
sendiri.”
Lantas bagaimana sebenarnya? Brooks Jackson, kepala Annenberg
Political Fact Check Project (FactCheck.org), memutuskan meme-
riksa tuduhan itu. Sebagai wartawan yang meliput politik nasional
lebih dari 30 tahun untuk Associated Press, the Wall Street Journal,
dan CNN, Jackson selalu mencurigai penilaian instan dan kesimpu-
lan terburu-buru. Dia tahu, misalnya, bahwa selama bertahun-tahun
dia meliput politik, diler mobil lewat konsorsium lama menyumbang
lebih banyak dana untuk Republiken ketimbang Demokrat. Jackson
pun mempelajari catatan sumbangan kampanye 2008 oleh seluruh
diler mobil bermerek Chrysler, termasuk yang sudah tutup. Ber-
dasarkan temuannya, kontribusi diler tersebut rata-rata US$10-US$1
untuk membantu Senator McCain: US$26.200 untuk McCain dan
US$2.700 untuk Obama.
“Ia mengajak kita berpikir bahwa pilihan menutup diler Chrysler
semata-mata berjalan acak, tanpa campur-tangan politik sama sekali,
kita musti melihat ada US$10 donasi untuk McCain dari tiap US$1
sumbangan untuk Obama, keduanya dari diler yang tutup maupun
yang tidak.”
Anekdot (seperti dipakai Smith) itu penting. Mereka adalah kisah
yang jadi daging, tulang dan penghubung pemahaman kita terhadap
realitas. Mereka membuat angka jadi hidup. Namun ketika mereka
146 Blur

muncul sendirian sebagai fondasi argumen, mereka harus dilihat se-


bagai sinyal peringatan, tanda bahwa sebuah rumah dibangun di atas
satu tembok pendukung. Hati-hati dengan anekdot yang terkung-
kung dalam isolasi atau bahkan tampak sebagai analisis rumit dari
satu angka statistik.
Ini semua bukanlah bukti. Bukti musti dikelilingi konteks dan
bukti pendukung.
Wartawan yang serius seringkali mengungkapkan keprihatinan
soal keping keteledoran ruang redaksi: anda bisa mencari contoh
untuk menggambarkan apa saja. Itu mengingatkan mereka soal ak-
sioma jurnalistik sinis: Jika kamu bisa menemukan tiga anekdot yang
menunjukkan hal yang sama, kamu bisa menulis “kisah tren”—artikel
yang diharapkan menggambarkan fenomena lebih besar—meski
kamu tak akan tahu apakah ia benar. Sebagai hasilnya, wartawan ter-
baik berhati-hati untuk tak memakai anekdot sebagai bukti tunggal.
Dalam era baru informasi dan editing mandiri, kita musti sewaspa-
da wartawan yang baik. Anekdot menggambarkan; tapi tak mem-
buktikan. Statistik tunggal menunjukkan, tapi tak membangun fakta.
Contoh atau angka tunggal yang disuguhkan sebagai bukti adalah
bendera merah. Ketika melihat mereka, berhati-hatilah. Itu adalah
penjumputan fakta, tanda jurnalisme pengukuhan.

Waspadai Kesesatan Berpikir

Kutipan saran paling berguna yang kami pelajari dalam karir jur-
nalisme bisa diringkas dalam kalimat “hati-hati dengan falasi (sesat
pikir) orang jahat.” Ia merujuk pada ide ketika anda coba memahami
situasi di kehidupan publik, ketika orang berbuat salah karena sifat
asli mereka jahat, atau punya motif buruk—sebab, pada dasarnya,
mereka jahat—ini bisa dipastikan keliru dan bahkan lebih mencu-
rigakan ketika dipakai untuk menjelaskan kelompok lebih besar. Me-
makai penjelasan bahwa tiap orang terlahir jahat adalah cara mema-
tikan penyidikan dan mengubah informasi jadi dongeng. Misalnya,
CEO Acme Widget Company menerima suap sebab dia adalah pria
jahat, atau politisi A mengambil keputusan X karena dia jahat.
Alasan melakukan sesuatu, motif, selalu kompleks—dan menarik.
Kisah CEO yang menerima suap sebab perusahaannya, pekerjaan
hidupnya, dan visi penemuan yang bermanfaat di dunia—tapi tak-
kan bertahan tanpa suap—adalah lebih manusiawi penuh keaslian,
Pernyataan, Pengukuhan: Mana Buktinya? 147

ketimbang tudingan soal sifat jahat. Apalagi, solusi persoalan, poin


kompromi dan kesepakatan, nyaris selalu ditemukan dalam nuan-
sa itu. Ide bahwa dia melakukan itu hanya karena tamak dan jahat
adalah ide kartun datar pada satu dimensi.
Menyalahkan motif jahat seperti di atas mengandung masalah
lain. Seperti kita catat sebelumnya, jurnalisme yang fokus pada
elemen berita—seperti apa yang dipikirkan seseorang atau motifnya—
memang lebih sulit mencari bukti ketimbang jurnalisme yang beruru-
san dengan fakta eksternal seperti pernyataan seseorang atau kesak-
sian orang lain. Karenanya, laporan yang berupaya mengejar infor-
masi interior ini perlu lebih banyak bukti, tak boleh kurang. Namun,
justru karena motif sangat sulit dibuktikan, jurnalisme yang lebih le-
mah sering kali nekad meluncur dengan bukti minim. Lagi pula, siapa
yang bisa membuktikan sebaliknya bahwa ia keliru?
Jurnalisme pengukuhan dipenuhi falasi orang jahat. Dalam me-
negaskan dan mengonfirmasikan prasangka audien yang biasanya
emosional, pembawa acara talk show sering menyelaraskan sikap
ini dalam kerjanya hingga kami menemukan praktik itu di hampir
semua transkrip yang kami tinjau.
“Yang membuat negeri ini besar adalah piagam para pendiri kita
bahwa semua orang diciptakan sama, diberkahi hak azasi, kehidu-
pan, kebebasan, mengejar kebahagiaan,” tutur Rush Limbaugh pada
rekannya pembawa acara Sean Hannity pada 22 Januari 2009. “Jika
anda melihat Partai Demokrat, apakah mereka mendukung kehidu-
pan? Bung, mereka itu partai aborsi. Kebebasan? Ini adalah sekum-
pulan orang yang coba mengesahkan beberapa hukum sebisa mereka
untuk membatasi ke mana anda bisa pergi, apa yang bisa anda laku-
kan sesampainya di sana, di mana dan apa yang bisa anda makan, apa
yang bisa anda rokok, kapan anda tak boleh merokok, bayi jenis apa
yang bisa anda punyai—hal-hal seperti itu. Mengejar kebahagiaan?
Saya belum pernah melihat kebahagiaan liberal.”
Ed Schultz mengakhiri diskusi soal UU Layanan Kesehatan dan
Eric Cantor dengan kutukan sama. “Republiken bohong! Mereka in-
gin melihat anda mati! Mereka lebih suka menghasilkan uang dari
bangkai anda. Mereka cenderung gembira ketika perempuan itu kena
kanker dan mereka tak punya apapun untuknya. Itulah cara perusa-
haan asuransi meraup untung—menolak membayar klaim.”6
Pendapat yang berasal dari motif buruk itu, dan kurangnya dialog
terhormat yang hendak dituju, menyajikan tujuan yang, lagi-lagi, tak
148 Blur

terkait dengan pemahaman atau bahkan analisis kancah politik. Ini


tak terkait dengan fakta. Ia lebih terkait pada penegasan keyakinan
prasangka audiens.
Waspadailah falasi orang jahat. Saat anda menemukannya, ia men-
jadi tanda bahwa ia bukan jurnalisme investigasi, melainkan media
persuasi yang dibangun dari prasangka dan ketakpercayaan.

Serangan Ad Hominem

Mungkin tak ada alat jurnalisme pengukuhan seawam pembawa


acara talk show yang berusaha mengacaukan argumen tamunya de-
ngan menyerang pribadi, dan bukannya isu argumen pembicara. Apa
yang mungkin kita lewatkan, dalam suasana panas penuh teriakan
yang berujung pada—sensasi perang, keterkejutan samar-samar
karena melihat kemarahan di program yang disebut berita—adalah
contoh klasik cacat logika. Ini adalah falasi ad hominem, terkenal luas
di berbagai kelas retorika mahasiswa S1. Ia merupakan bentuk pe-
ngalihan, seringnya penghinaan, yang menjauhkan kekritisan disku-
si. “Argumen ad hominem sangat mudah diletakkan sebagai tuduhan,
sulit dibantah, dan seringkali berefek sangat kuat hingga memenga-
ruhi audien menolak argumen seseorang… meski minim atau tanpa
bukti pendukung,” jelas pengarang Douglas Walton, dalam makalah
soal logika.7
Dalam jurnalisme pengukuhan, serangan ad hominem seringkali
dilakukan secara agresif, memojokkan argumen yang bahkan belum
disodorkan. Namun, anda mungkin menjumpainya ketika pembawa
acara yang partisan menjumpai tamu yang tak mudah mengalah dan
diskusi telah mentok. Contohnya adalah pembawa acara Fox Bill
O’Reilly, ketika mewawancarai editor Salon.com Joan Walsh pada
15 Juni 2009, tentang aborsi janin matang. Segmen dimulai dengan
tanya-jawab substantif. O’Reilly menanyai Walsh, yang mendukung
legalisasi aborsi, apakah dia merasa “janin matang berhak mendapat
perlindungan menyeluruh?” Porsi aborsi janin matang mencapai 1%
dari total aborsi, jawab Walsh, dan kebanyakan adalah untuk me-
nyelamatkan sang ibu ketika bayi hampir meninggal, O’Reilly setuju.
Namun percakapan dengan cepat beralih saat keduanya mulai
berdebat soal fakta dasar aborsi yang jadi persoalan utama. Walsh
dan O’Reilly berulang-kali saling interupsi. “Baik, anda membual,
Nona Walsh. Nona Walsh, berhentilah bicara,” kata O’Reilly. Pertem-
Pernyataan, Pengukuhan: Mana Buktinya? 149

puran berlanjut, dengan Walsh menolak mengakui satu pendapat


yang dia anggap sebagai jebakan.
O’Reilly akhirnya menyerah dalam debat dan sekadar me-
nyerang.
“Anda tahu siapa punya darah di tangannya. Anda. Anda tak peduli
dengan bayi ini,” kata O’Reilly.
“Itu menggelikan, Bill,” kata Walsh.
“Ini serius. Andalah kaum ekstrimis itu,” kata O’Reilly.
“Anda menyebalkan,” jawab Walsh.
Segmen ditutup, untungnya, dengan iklan tanpa menyajikan
banyak pemahaman.
Serangan ad hominem seperti ini tak perlu terjadi. Melontarkan
hinaan personal di tengah persaingan pembawa acara talk show juga
merupakan bahan pokok jurnalisme pengukuhan. Inilah perkataan
Ed Schultz tentang Rush Limbaugh: “Rupanya, pecundang pecandu
obat Rush Limbaugh, karena berpikir punya banyak duit dan stasi-
un TV bikin dia sukses dalam hidup. Pria yang tak bisa mendengar
karena menenggak terlalu banyak obat, yang tak punya disiplin dan
karakter pribadi kini telah melakukan tembakan pertamanya pada
saya… Ayolah, babi gendut. Mari kita lanjutkan.”8
Dan inilah Limbaugh, saat 8 Oktober 2009, berbicara tentang
anggota Republiken Joe Scarborough: dia adalah seorang “moderat
pengecut yang dikebiri.”
Scaborough menghujat balik Limbaugh hari berikutnya: “Saya
akan berhati-hati mempertaruhkan kejantanan saya dalam keper-
cayaan buta kepada George W. Bush selama delapan tahun.”
Asam belerang macam itu mungkin bentuk sikap jantan palsu dan
diamini audiens yang emosi. Namun jika anda mendengar seseorang
di media terlibat dalam demonisasi dan aksi macho a la anak TK
seperti ini, ingatlah bahwa hinaan itu adalah bentuk pengalihan,
bukan sebuah argumen.

Realitas Pengganti

Etos talk show ideologis adalah sejenis dunia ether, salon TV di mana
pembawa acara, dan seringkali narasumber, dipilih karena kesamaan
sikap, menjelaskan lanskap peristiwa publik seperti yang dilihat,
atau yang diharapkan, dan mereka anggap diperlukan masyarakat.
Etosnya menegaskan, dan secara bersamaan, mendorong pendengar
150 Blur

melawan oposisi, seringkali memakai teknik di atas. Di radio, formu-


lanya seringkali ekstrim, dengan pembawa acara sebagai juara di an-
tara orang kebanyakan, membangkitkan luka, beberapa di antaranya
mengganggu, dan mengidentifikasi musuh. Di TV, elemen sama dari
formula itu adalah bukti, tapi biasanya sukar ditangkap. Mereka ja-
rang muncul dari teriakan atau ejekan sarkasme ketimbang dalam
perbincangan antara pembawa acara dan narasumber yang saling
memperkuat dan membesarkan hati dalam pandangan dunia sama,
yang paling dipegang pemirsa. Mereka meyakinkan pemirsa bahwa
pandangan dunia mereka sudah benar dan tepat.
Kami melihatnya malam demi malam di pertunjukan TV kabel.
Misalnya, Sean Hannity pada 5 Febuari 2009—pekan ketiga pemer-
intahan Obama—berbincang dengan salah satu narasumber langga-
nannya, ahli komunikasi politik profesional Mary Matalin. Dia mencari
suara lain untuk mendukung pandangannya bahwa Presiden Obama
memperburuk keadaan dengan mengatakan bahwa ekonomi lemah
dan mendorong Kongres meloloskan paket stimulus. “Bukankah ber-
bahaya menjelekkan ekonomi? Apa kata dunia?” ujar Hannity.
Benar, Matalin langsung sepakat: “Ada banyak persoalan ekonomi
yang terkait dengan psikologi. Dan … Saya dengar anda bicara soal ini
tiap hari, Sean. Anda harus memberi publik pengertian lebih baik soal
kepercayaan. Ini benar-benar keliru, secara substantif dan psikologi.
Ini bukan kepemimpinan.”
Saksikan saluran lain pada malam yang sama dan seseorang bisa
mendapat pengertian keliru dari realitas pengganti yang sulit dida-
maikan.
Beginilah pernyataan pembawa acara liberal Rachel Maddow pada
9 November 2009: “Sejak Barack Obama menjabat 10 bulan lalu, ja-
tah Partai Demokrat di Senat Amerika berubah dari 58 menjadi 60
kursi. Partai Demokrat juga menaikkan perolehan kursi di Kongres
dari 257 menjadi 258 kursi. Dan pekan ini, Kongres meraih medali
yang gagal dicapai dari presiden ke presiden dan Kongres ke Kon-
gres—reformasi kesehatan, akhirnya.”
Inilah komentar seorang konservatif Sean Hannity pada waktu
bersamaan di malam itu: “Dan kaum liberal mengambil alih sistem
kesehatan anda menjadi liburan. Ketika malam menyelimuti hala-
man rumah Nancy dan Rahm, Amerika selangkah lebih dekat den-
gan mimpi buruk universal, begitu kan?… beberapa Senator telah
mengatakan RUU itu tewas saat diajukan. Namun lebih penting lagi,
Pernyataan, Pengukuhan: Mana Buktinya? 151

tampak bahwa perubahan sikap (Ketua Parlemen) Pelosi menginten-


sifkan perang internal di tubuh Partai Demokrat.”
Pada akhirnya, bukan Hannity dan Maddow yang mendekati ke-
benaran, melainkan realitas pengganti. Negara itu terbukti makin tak
yakin target presiden pada 2009 tercapai, dan proposal layanan ke-
sehatan nyaris kandas karena Partai Republik memenangkan suara,
setelah kematian senator Demokrat Edward Kennedy di Massachu-
setts. Namun, proposal itu secara umum bangkit karena Ketua Par-
lemen Nancy Pelosi memegang kaukus Demokrat di Parlemen.
Problem penentuan peraba realitas itu adalah bahwa ia dimulai
dengan pandangan dunia yang sudah ditentukan sebelumnya, lantas
mencomot bukti untuk mendukung pandangan itu. Ia pada dasarnya
tak tertarik pada bukti, kecuali yang bisa digunakan sebagai tembok
atau alat pembangun pandangan dunia, dan ia kebal dari bukti seba-
liknya.
Semua teknik ini saling terkait dengan caranya sendiri. Mereka
semua adalah bukti dari sistem tertutup dalam memikirkan tentang
berita.

Teknik Lain

Pemilahan fakta, menyalahkan kartun motif jahat terhadap orang,


melakukan serangan terhadap seseorang, dan membangun penen-
traman hati, realitas terdekat, dan hanya empat yang paling umum
digunakan dalam jurnalisme pernyataan. Namun kita musti memper-
hatikan metode lain. Catat siapa yang mendapat kesempatan bicara
terakhir dalam segmen. Jika ia secara konsisten diberikan pada satu
pihak dalam sebuah debat, mungkin tak ada kecelakaan. Catat daftar
para tamu. Rachel Maddow dan Sean Hannity tak secara teratur men-
gundang tamu yang berpandangan berbeda.
Dan ada elemen tak kentara dari “casting.” Di TV, bicara tentang
siapa tokoh yang dipilih dalam drama atau segmen. Jika seorang
pendukung di satu sisi dan seorang wartawan mencoba membelah
netralitas dan analisis lain, segmen telah dipilih dengan cara ini dan
efek susah ditebak yang menarik pers ke dalam penjara ideologi. Jika
advokat di satu sisi kuat dan layak masuk TV (telegenik) dan pendu-
kung pihak lain bicara pelan dan kurang layak masuk TV, ia sering
dipilih dengan cara ini.
152 Blur

Poin lebih penting di sini adalah bahwa jurnalisme pernyataan adalah


bentuk persuasi, atau tampil pada audien berdasarkan loyalitas ideologis
dan bukannya penyelidikan jurnalistik. Ikatan seperti itu secara hati-hati
dibangun. Pada tingkat lebih besar yang benar dalam langkah cepat dan
lingkungan sembrono jurnalisme pengumpul, produser media yang lebih
ideologis punya kontrol lebih besar atas apa yang mereka lakukan.

Bagaimana Bukti Membedakan Jurnalisme Opini dan


Jurnalisme Pengukuhan

Pemakaian bukti juga membedakan antara pelaku jurnalisme pengu-


kuhan dari jenis lain jurnalis yang beroperasi dengan memakai sudut
pandang, tapi tetap mengedepankan tradisi akurasi, verifikasi, ke-
berimbangan, dan pikiran terbuka. Penulis demikian, yang karyanya
sering muncul di jurnal seperti Atlantic, National Review, the Nation,
atau yang menulis kolom koran, secara tradisional disebut sebagai
wartawan opini. Dan sebagaimana yang kami catat di Bab 3, karena
kesetiaannya pada nilai tradisional jurnalistik, mereka beroperasi di
wilayah jurnalisme verifikasi. Mereka bertaut dengan penyelidikan,
meski tak memposisikan diri netral atau tanpa sudut pandang. Wilayah
ini, di mana jurnalisme verifikasi tak menyiratkan netralitas, dibahas
panjang-lebar dalam buku kami, The Elements of Journalism.
Tengoklah tulisan kolumnis konservatif New York Times David
Brooks, sejak Barack Obama bertugas, dalam menjelaskan pandangan-
nya soal agenda presiden baru. “Sejarah politik pada abad 20 adalah se-
jarah rekayasa sosial yang dijalankan oleh orang-orang beritikad baik,
yang dimulai dengan baik tapi berakhir buruk. Ada kesalahan besar
seperti komunisme, tapi juga ada yang lebih kecil seperti perang Viet-
nam yang dirancang oleh orang-orang terbaik dan paling cemerlang.”
Selanjutnya, Brooks menulis, “Saya khawatir dalam upaya melakukan
segalanya dalam sekali waktu, mereka (pemerintahan Obama) takkan
melakukan sesuatu yang baik … Saya khawatir kita beroperasi jauh di
luar pengetahuan ekonomi kita.” Brooks tak menyalahkan motif buruk
Obama. Malah dia menilai motif tersebut baik, hanya saja salah pandu.
Dia khawatir presiden keliru, tapi mengakui dirinya tak sepenuhnya
yakin dengan itu. Sebagai bukti, dia mengutip usaha masa lalu kes-
ombongan pemerintah, dari komunisme hingga Vietnam. Dia juga tak
mencela Obama, yang baru masuk kantor, sebagai tak kompeten dan
berbahaya, seperti yang dilakukan Hannity dan Matalin.
Pernyataan, Pengukuhan: Mana Buktinya? 153

Bandingkan itu dengan pembawa acara radio sayap kanan Alex


Jones pada tema penggunaan kekuatan militer Amerika untuk menjaga
pemimpin G-20 selama KTT Pittsburg. “Militer kita telah diambil-alih.
Ini adalah akhir negara kita… mereka senang membunuh 10.000 orang
Amerika… Republik kini telah jatuh.” Atau Glenn Beck pada malam pe-
milihan presiden 2008, dalam tulisan di websitenya yang menduduki
posisi teratas dalam daftar “terpopuler”: “Kawan, ini adalah peringatan
terakhir. Aku serius… jika itu terjadi dan pria ini terpilih, sama artinya
kalian memilih Marxis tersombong, yang tak akan berhenti, sebab dia
bertugas tanpa membuka kedok. Jangan pura-pura kaget jika kita mu-
lai melihat Marxis, yang aku yakin, akan jadi presiden fasis. Dia akan
jadi fasis, sebab dia tak akan mengerti bagaimana kalian tiba-tiba me-
nolak berubah jadi Marxis.”
Ini adalah perang abadi antara bukti dan keyakinan. Brooks
menawarkan bukti untuk membantu anda paham kenapa dia menilai
agenda Obama keliru. Jones dan Beck tak menyodorkan bukti apa-
pun, selain keyakinan bahwa kesimpulan mereka benar.
Ketika William Safire meninggal pada 2009, kawannya seorang
mantan kolumnis New York Times Les Gelb, seorang liberal, menulis
kekagumannya pada lawan ideologisnya ini: “Dia selalu siap dan in-
gin berdebat dan melakukannya tanpa dendam. Dia selalu ingin ber-
pendapat dan mengakui pendapat pihak lain jika fakta dan argumen
lawan memang kuat. Tak ada kepura-puraan atau kebencian dalam
sikap penolakan dan penerimaan itu.” Apalagi, tulis Gelb, “Dia selalu
jadi seorang reporter. Dia benar-benar bekerja sangat keras meng-
umpulkan informasi aktual. Kolomnya tak sekadar berada di puncak
kepala, yang membuat semua opininya lebih berbobot.”9
Safire, dalam kolom perpisahan di New York Times, pada 24 Janu-
ari 2005, menyuguhkan 12 tips tentang cara membaca kolom politik.
Tips pamungkasnya membahas perbedaan antara wartawan, yang
coba menyelidiki ide dan argumen, dan mereka yang cuma jadi agita-
tor tukang ngoceh. “Jatuhkan pilihan di antara para kolumnis,” saran
Safira. “Para pengamat membayangkan dirinya terlibat dalam debat,
singkirkan pembaca dari realitas kontroversi: perdebatan mereka tak
lebih dari foto berisi lukisan atau patung, atau kontes lempar-handuk
antar manajer tinju. Upayakan memilih kolumnis yang benar-benar
kuat, lalu tinggalkan mereka jika mereka sudah loyo.”
Pada Bab 3, kita bicara bagaimana jurnalisme pengukuhan men-
154 Blur

jadi bagian dari sesuatu yang kami sebut sebagai jurnalisme “budaya
jawaban,” di mana penampilan pembawa acara talk show yang memo-
pulerkan wilayah baru ini memposisikan diri sebagai pejuang budaya,
pahlawan bagi yang tertindas dan terlupakan, serdadu perang bersen-
jata jawaban. Dengan kurangnya sikap seperti itu, anda menyaksikan
pengabaian bukti, padahal pengujian bukti memerlukan kemungkinan
keraguan.
Itulah mengapa jurnalisme pengukuhan hampir selalu gagal me-
menuhi ujian kelima di daftar kami dalam menguji keotentikan se-
suatu: menjelajahi penjelasan alternatif. Penjelasan alternatif satu-
satunya yang digemari para pemandu talk show sok tahu adalah ke-
cenderungan menjadi pengumpan argumen yang mereka angkat agar
dijatuhkan.
Dalam pembedaan antara dua bentuk sudut pandang media–opini
versus pengukuhan—anda bisa melihat perbedaan antara empirisme
dan propaganda, antara jurnalisme dan aktivisme. Dalam hubungan
mereka dengan masing-masing audiens, perbedaannya terletak pada
keinginan untuk memahami dan menyelidiki versus keinginan untuk
meyakini.

Bukti dan Jurnalisme Kaum Kepentingan

Banyak karakteristik dalam pembuktian jurnalisme pengukuhan juga


digunakan pada jurnalisme kaum kepentingan yang muncul di selu-
ruh negeri—kategori penyedia berita yang dibiayai kaum kepentin-
gan politik dan aktivis. Kebanyakan media yang terkategori di jenis ini
beroperasi online, dan banyak di antaranya di ibukota. Mereka baru
muncul, dan jujur saja, terdiri atas beberapa pendekatan. Beberapa di
antaranya meliput subyek secara komprehensif dan dengan pendeka-
tan straight news. Namun banyak juga, seperti media lain yang mem-
praktikkan jurnalisme pengukuhan, pada dasarnya politis dan parti-
san dan tujuannya lebih ke persuasi ketimbang penyelidikan. Seperti
yang kami tunjukkan di Bab 3, ada perbedaan penting antara sumber
jurnalisme jenis ini yang jelas-jelas politis, dan jurnalisme pengukuhan
seperti yang telah kita diskusikan. Para pelaku jurnalisme pengukuhan
biasanya membangun audien untuk mengeruk uang. Situs jurnalisme
kaum kepentingan yang jelas bersifat politis umumnya tak menjadikan
untung sebagai motif utama. Akibatnya, semakin komersil media ber-
Pernyataan, Pengukuhan: Mana Buktinya? 155

genre pegukuhan biasanya punya dimensi hiburan, bahkan megah atau


disajikan besar-besaran. Glenn Beck, Ed Schultz, Rush Limbaugh, dan
bahkan sering juga blogger retoris keji macam Michelle Malkin adalah
tokoh utama jurnalisme pengukuhan. Namun sepertinya tak ada tokoh
situs seperti Old Dominion Watchdog. Peran demikian tentu saja akan
kontraproduktif. Karenanya, banyak pelaku jurnalisme kaum kepent-
ingan berupaya terlihat netral dan sekredibel mungkin, agar liputan-
nya diperhatikan dan dikutip lebih banyak media pers tradisional.
Hasilnya, situs berita yang jelas menunjukkan kepentingan politik
kelompoknya cenderung memakai satu bukti seperti yang terjadi di
jurnalisme pengukuhan. Mereka menjumput kisah dan sumber yang
mendukung tujuan politik mereka. Kebanyakan isinya cenderung me-
nyampaikan pesan konsisten. Ini adalah jenis subteks atau narasi be-
sar yang terlacak melalui berita, headline, dan pemilihan sumber serta
menciptakan kesan realitas terbatas. Narasi besar demikian adalah
tujuan sebenarnya dari situs berita milik kaum kepentingan politik.
Pada watchdog.org, misalnya, semua berita cenderung ditujukan pada
pelanggaran pemerintah, inefisiensi, membuktikan bahaya pajak, atau
ide lain yang mengedepankan pesan kepentingan kaum libertarian-
isme konservatif Sam Adams Alliance. The Pennsylvania Independent,
didanai kaum konservatif Commonwealth Foundation di Pensylvania,
membagi banyak karakteristik seperti itu.
Kesimpulan seterang itu, menurut kami, sulit ditemukan untuk
Idaho Reporter pada awal 2010, yang didirikan Idaho Freedom Foun-
dation dan menawarkan pandangan luas soal perpolitikan Amerika.
Demikian juga dengan karakter Fiscal Times, situs berita yang fokus
pada anggaran federal yang didirikan Peter G. Peterson Foundation,
yang menyorot isu ini secara komprehensif.
Menguji bagaimana situs mereka menggunakan bukti, khususnya cara
memilih kisah dan sumber, adalah salah satu faktor kunci untuk menge-
tahui kantor berita yang didirikan kaum kepentingan itu benar-benar
tertarik meliput suatu subyek atau hanya ingin memanipulasi pema-
haman publik atas subyek itu. Wilayah berita ini sekarang begitu baru
hingga hampir tak ada regulasi yang mengatur. Kantor berita tradisional
masih belajar bagaimana menyikapi situs semacam itu, bagaimana, dan
jika, memasang tautan mereka. Sebagai konsumen, kita secara umum tak
bisa menggantungkan siapapun di wilayah ini, dan kewaspadaan sangat
diperlukan. Dalam hal nada dan presentasi, kisah di situs-situs tersebut
156 Blur

dalam berbagai hal mungkin terlihat menyerupai berita kawat paling


konvensional. Namun pada kenyataannya, ia cukup berbeda dalam hal
pemberi dana, tujuan, dan pemikiran di belakangnya.

Ini membawa kita pada poin final daftar periksa yang diperlukan
untuk menjadi konsumen berita yang mawas dan hati-hati. Bagaimana
cara mengetahui apakah diet berita kita sudah sehat, dan apakah kita
sudah mempelajari apa yang kita butuhkan, merupakan hal yang musti
kita perhatikan selanjutnya.
Bagaimana Menemukan
Pernyataan, Hal yang
Pengukuhan: ManaTerpenting
Buktinya? 157

BAB 8
Bagaimana Menemukan Hal yang Terpenting

Loretta Tofani berpikir karirnya sebagai wartawan usai sudah.


Setelah 23 tahun, memenangkan Pulitzer atas dokumentasi soal
pemerkosaan geng di penjara Maryland, peliputan di Cina dan di
segani kawan-kawannya, semua berubah dan Tofani ingin alih pro-
fesi. Ia mengambil tawaran pensiun dini yang saat itu lagi marak di
Philadelphia Inquirer, dan pindah bersama keluarganya ke Salt Lake
City, Utah, untuk memulai karir baru berdagang furnitur etnik impor
dari Cina.
Di karir baru ini, Tofani mengunjungi Cina lagi untuk mendatangi
perusahaan calon pemasok. Sebagai calon pembeli potensial, ia bisa
mengunjungi pabrik tanpa kawalan pemerintah, yang tak mungkin
ia dapati jika menjadi wartawan. Dari situ, ia melihat sisi lain kapi-
talisme Cina. Para buruh menyemprotkan cat berbahan dasar timah
di ruangan tak berventilasi, tanpa perlindungan pernafasan. Pekerja
lain menghirup uap dan menenteng material kimia beracun yang
membuat tubuhnya terpapar langsung.
Curiga dan kaget, dia mengunjungi perpustakaan rumah sakit, di
mana ia menemukan jurnal medis yang dipenuhi artikel tentang ke-
celakaan dan kematian buruh pabrik Cina akibat buruknya tempat
kerja. Pengalaman itu mengubahnya. Dia merasa menemukan ses-
uatu yang terlalu penting untuk diabaikan. Akhirnya, seiring dengan
makin berkembangnya bukti tentang bahaya yang dihadapi para bu-
ruh yang furniturnya dia jual, Tofani menutup kembali toko di Utah.
158

Wartawan profesional yang banting stir jadi pebisnis perempuan


itu pun jadi jurnalis warga. Dia menemukan cerita yang musti di
kabarkan. Memang bukan pekerjaannya, tapi dia merasa terpanggil.
Dengan bantuan pendanaan Center for Investigative Reporting, dia
mengumpulkan dokumen pengapalan seperti yang dia miliki saat
mengimpor. Mereka mengizinkannya terlibat dalam proses pengiri-
man barang ke perusahaan tertentu di Amerika. Dengan begitu, dia
bisa menemukan buruh-buruh mandiri yang produknya bisa dia buk-
tikan telah dibeli konsumen Amerika, yang secara bersamaan meng-
hubungkan kehidupan warga Amerika dengan dilema buruh di be-
berapa perusahaan Cina.
Tofani pun kembali ke Cina, dan dibantu serikat buruh menemui
para korban. Sama seperti ketika dia mendekati korban pemerkosaan,
dan bahkan pemerkosa mereka, untuk membagi kisah dan mem-
bawanya menjadi wartawan profesional, dia kini membujuk para
buruh Cina yang ketakutan untuk cerita tentang penyakit-penyakit
yang diderita akibat kondisi tempat kerja. Dia mendokumentasikan
tempat mereka bekerja, zat kimia yang mereka temui, dan kondisi
pabrik. Dia bicara pada dokter yang merawat mereka, mengumpul-
kan dokumen sepanjang jalan untuk membuktikan klaimnya. Tak ada
yang sekadar pernyataan. Dia tak cuma menggali klaim sepihak, tapi
mengimbanginya dengan pernyataan pejabat resmi pemerintah dan
direktur perusahaan bersangkutan, dan menunjukkan bahwa ada
persoalan di situ yang musti diperiksa pemerintah resmi.
Hasilnya dipublikasikan pada 2007 di Salt Lake Tribune dengan
judul American Imports, Chinese Deaths.

Menyusul berita-berita tentang kandungan timah di main-


an produk Cina, warga Amerika marah: mainan-mainan ini
bisa meracuni anak-anak. Namun buruh Cina yang membuat
mainan itu—dan produk lain yang tak terhitung jumlahnya
untuk Amerika—menyentuh dan menghirup zat kimia bera-
cun tiap hari, sepanjang hari: Benzena. Timah. Kadmium. Tolu-
ene. Nikel. Merkuri.
Banyak yang sekarat. Mereka mengidap penyakit fatal yang
berhubungan dengan pekerjaan.
Mereka kebanyakan berusia muda, antara 20-an, 30-an dan
40-an. Namun mereka sekarat dengan kematian menyakitkan
pelan-pelan, akibat zat berbahaya yang dipakai untuk menya-
jikan produk itu ke dunia—dan ke Amerika. Beberapa di anta-
Bagaimana Menemukan Hal yang Terpenting 159

ranya berkata inilah harga barang murah asal Cina di Amerika


sebenarnya.
“Dalam kaitannya dengan tanggung-jawab pada masyara-
kat Cina, ini adalah masalah besar untuk Amerika,” kata Zhou
Litai, seorang pengacara Chongqing yang telah membela pulu-
han ribu buruh sekarat di pengadilan-pengadilan Cina.
Toksin dan bahaya mengintai di hampir tiap industri, ter-
masuk furnitur, sepatu, suku cadang mobil, barang-barang
elektronik, perhiasan, pakaian, mainan dan baterai, berdasar-
kan konfirmasi para buruh. Wawancara ini didukung dokumen
legal, artikel-artikel di jurnal medis, catatan medis, dokumen-
dokumen impor, dan laporan resmi pemerintah Cina.

Kantor media lain pun menyambut kisah ini, hingga segera me-
nyapa audiens dunia. Capitol Hill bereaksi dengan membuat perjan-
jian dagang baru yang dirancang melindungi para buruh pembuat
produk impor.
Sulit untuk menolak fakta betapa kuat dan pentingnya produk
asal Cina menjadi bagian hidup Amerika dan dunia. Tiap konsumen
Amerika turut andil dalam persoalan keselamatan buruh Cina. Dan
keamanan produk ini memengaruhi tiap warga Amerika. Merujuk
pada laporan Federal Trade Commission pada 2009, impor produk
Cina di Amerika mencapai US$24 miliar, dengan nilai ekspor ke Cina
US$4 miliar.
Cerita ini begitu penting hingga Tofani merasa perlu mengubah
hidupnya untuk memberitakan ini.
Kebanyakan warga, ketika menemukan beberapa ketidakadilan,
tidak langsung menjadi reporter investigatif. Sedikit dari kita, bah-
kan sedikit sekali wartawan, punya kecakapan atau kesempatan
untuk melakukan jenis liputan mendalam skala global yang dijalani
Tofani. Namun masing-masing dari kita, tiap hari mengalokasikan
waktu menghadapi apa yang perlu disimak dari media yang kian
berkembang, musti memakai hitungan sama—jika tak bisa dibilang
lebih rendah—dari hitungan Tofani. Kita musti memutuskan sebera-
pa penting sebuah kejadian. Dengan kata lain, ketika mendapat infor-
masi, kita musti tak hanya mempertanyakan kebenarannya, tapi juga
sebesar apa persoalannya. Dari berita-berita itu, kita musti bertanya
apakah kita sudah mempelajari apa yang diperlukan untuk mengeta-
hui subyek tersebut.
160

Pertanyaan soal navigasi dan seleksi ini adalah pokok terakhir


dalam daftar periksa kita soal apa yang perlu dipertanyakan oleh
warga yang sadar, mawas, dan aktif ketika menemukan dan me-
ngonsumsi berita tentang dunia. Dalam beberapa hal, ini juga
menjadi yang terpenting.

Apakah Saya Mempelajari yang Perlu Diketahui?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu menempatkan bersa-


ma kecakapan yang kita pelajari dalam menjawab lima elemen di daf-
tar periksa sebelumnya. Di sinilah kita menanyai diri sendiri, apakah
kita benar-benar menemukan apa yang seharusnya ditemukan—ten-
tang komunitas kita, sekolah anak-anak kita, perdebatan tentang la-
yanan kesehatan, kodisi lingkungan atau ekonomi, atau perang di
luar sana? Jika tidak, apa yang kita lewatkan? Di mana dan bagaimana
kita mendapat informasi yang hilang itu?
Di era sebelumnya, kita tak perlu memikirkan pertanyaan terse-
but. Para editorlah yang melakukannya untuk kita. Mereka memesan
dan memilih berita mewakili kita, memutuskan enam atau tujuh ber-
ita untuk ditaruh di halaman muka atau 10 berita yang musti mengisi
daftar siaran hari itu. Pemilihan dan pengurutan itu adalah fungsi
penting jurnalisme sebagai penjaga pintu informasi, tiap keping dini-
lai penting, dan dalam beberapa hal lebih penting ketimbang editing
dan verifikasi berita.
Para wartawan tentu saja masih menyeleksi, tapi kurang menyen-
tuh kita. Di era digital, halaman utama Web dengan mudah bisa punya
100 headline, bukan enam. Kebanyakan dikelompokkan berdasarkan
topik untuk kita pilih. Kita bisa saja mengatur sendiri halaman utama
Web berita sesuai selera.1 Namun, kebanyakan waktu terbuang untuk
melayari berita bukan karena ikut pilihan perusahaan media terse-
but, melainkan berkat mesin pencari untuk menuju berita yang kita
minati, atau cukup mengklik tautan yang dikirim kawan, atau yang
kita dengar dari jejaring sosial. Kita mengonsumsi berita berdasar-
kan topik dan isu, dan cenderung tak bergantung pada penilaian pe-
rusahaan media yang memilihnya untuk kita.2
Kita tentu saja selalu memiliki beberapa elemen pilihan dalam
konsumsi berita. Sebuah koran punya beberapa berita tiap hari, lebih
banyak dari jumlah yang kita baca. TV mengurangi pilihan itu ketika
menjadi media massa terpopuler di paruh terakhir abad 20. Penel-
Bagaimana Menemukan Hal yang Terpenting 161

iti sosial mencatat TV juga mendongkrak tingkat konsensus sosial.


Tiba-tiba saja jutaan orang Amerika menonton bareng siaran berita
tiga TV nasional sama tiap malam, dengan menu terbatas sekitar 10-
12 berita. Di era digital, kita kembali punya banyak pilihan—jauh
lebih banyak.
Semua ini membuat kita makin perlu mencari tahu apakah
kita mendapatkan apa yang kita butuhkan. Apa yang menurut
kebanyakan dari kita perlu untuk diketahui?
Pada umumnya, kita tak sepenuhnya menyadari pilihan yang
kita buat dalam memilah berita, atau bahkan bagaimana membuat
pilihan itu. Kita cenderung mengikuti apa yang bagi kita menarik.
Apa artinya ini? Survey mengatakan alasan pertama orang membaca
berita (72% dari orang Amerika dewasa yang jadi responden) adalah
menikmati obrolan tentang itu bersama teman, keluarga, dan rekan
kerja—berita sebagai pasal sosial. Artinya, mereka akan mengikuti
berita yang diperbincangkan kelompok sosialnya, baik olah-raga,
politik, sekolah, film, dsb. Persentase yang hampir sama (69%) orang
mengatakan mengikuti berita karena punya tanggung-jawab sipil
untuk itu. Artinya, mereka akan mencari kabar yang dinilai
memengaruhi kelangsungan komunitasnya dalam beberapa hal.
Alasan ketiga di daftar itu (sebanyak 61%) adalah membantu hidup
mereka—berita yang bermanfaat praktis. Kurang dari separuh (44%)
mengatakan berita itu sendiri mengasyikkan dan menghibur; dan 19%
mengikuti berita karena pekerjaan. Untuk TV lokal, yang merupakan
sumber utama berita di Amerika, cuaca adalah topik nomor satu,
menurut mayoritas responden. Di pagi hari, berita lalu-lintas dinilai
penting. Dan di daftar soal keterangan seseorang yang paling diikuti se-
cara online, berita cuaca kembali jadi nomor satu, diikuti berita nasional,
kesehatan, bisnis, internasional, dan berita ilmu pengetahuan-
teknologi.3 Ada gejala di sini bahwa Internet, yang mempermudah
akses Web nasional dan internasional semacam Yahoo atau New
York Times, atau situs khusus seperti ESPN.com, juga membuat
minat membaca berita lokal terpangkas. Tak heran, dalam survei
tersebut, berita komunitas lokal berada di peringkat sembilan.
Pertanyaan yang kian mendesak untuk diajukan adalah bagai
mana memutuskan apa yang perlu kita ketahui tentang subyek berita
yang tersaji? Atau dengan kata lain, bagaimana menentukan bahwa
yang kita pelajari itu memang penting?
Keraguan warga terhadap metode pemberitaan media tradisional
162

memengaruhi signifikansi berita dari sisi mereka. Ini terlihat dari


penurunan tingkat kepercayaan pada media dan kenaikan literatur
di antara para akademisi, dan kewaspadaan harian para konsumen
terhadap cara media “membingkai” berita—selera media dalam
membangun berita seputar konflik, negativitas, drama, atau melalui
lensa politik.4 Di sejumlah headline beberapa dekade lalu, muncul
keraguan serius seputar peran media sebagai sistem peringatan dini.
Pertanyaan penting, misalnya, muncul pada 1980-an soal apakah
pers telah cukup mengingatkan kita soal krisis keuangan dan utang,
dan soal ledakan gelembung saham teknologi pada 1990-an, dan di
2001 pada perang Irak, atau pada 2008 tentang krisis ekonomi. Dan
karena ruang redaksi menyusut drastis akibat penurunan pendapa-
tan, kita layak bertanya masih adakah perusahaan berita yang punya
cukup sumber daya memonitor itu semua untuk kita, untuk jadi pen-
jaga pintu serba-guna bagi kita.
Karena koran dan media lain mulai kehilangan audiens, banyak
perusahaan berita yang secara ketat menghentikan pengorganisa-
sian dan penyajian berita berdasarkan signifikansi. Di rapat New
York Times pada tahun 1960-an, di mana pucuk manajemen duduk
bersama selama 1 jam untuk menentukan berita apa yang musti di-
taruh di halaman muka, hanya satu pertanyaan penting yang berarti:
dari ribuan kata yang masuk ke koran hari itu, mana tujuh atau dela-
pan berita terpenting untuk diketahui banyak orang? Sikap itu—ter-
utama untuk kebanyakan orang—hanya pertanyaan di atas meja. Be-
gitu TV mencaplok audiens koran, dan bermunculan jajak-pendapat
yang mengungkapkan bahwa publik lebih percaya pada berita TV
ketimbang koran, semua itu mulai berubah. Untuk bersaing dengan
berita TV, editor koran Times dan media cetak lain mulai menekan
kan tulisan cerdas. Halaman dibuka lebar untuk ilustrasi gambar.
Gaya penulisan, tak hanya isi berita, mulai lebih ditekankan secara
ekstra—dengan lebih kuat. Karena audiens punya lebih banyak pili-
han berita, wartawan mulai bertanya-tanya, apakah kita punya berita
menarik bagi wanita? Apakah ada cukup keragaman subyek di sana?
Apakah ada “pencinta literatur,” berita yang ditulis dengan nilai seni?
Apakah ada emosi kuat yang muncul? Meski tak banyak disadari, sta-
tus halaman muka koran sebagai indeks pentingnya peristiwa sudah
usang sejak dua generasi lalu. Ini bagus juga dari sudut pandang ma-
syarakat. Ide keseragaman publik yang mungkin setuju soal daftar
Bagaimana Menemukan Hal yang Terpenting 163

tunggal signifikansi bisa diperdebatkan. Meski demikian, ironisnya,


setelah pers mulai lebih khawatir soal bagaimana menyenangkan
pembaca, audiens mulai meragukan profesionalisme pers.
Konsep yang makin mempengaruhi pilihan perusahaan media
atas liputan dan penekanan isu berita di abad 21 adalah “merek,”
atau membangun wilayah toserba yang tak bisa ditemukan audi-
ens di tempat lain. Akibatnya, ketika audien dan sumber daya beri-
ta berkurang, hampir tiap perusahaan media jadi organisasi berita
berorientasi laba. Perkembangan itu memicu orientasi ekonomi, tapi
juga mengubah peran pengaturan pers yang kian mendorong kita,
konsumen, menentukan sendiri berita yang diperlukan.5
Di tingkatan tersebut, berita menjadi begitu terpecah-belah ke
dalam begitu banyak paket informasi, atau dengan kata lain, kita
semakin ditinggal untuk menentukan nilai penting berita bagi diri
sendiri.
Jadi, pertanyaan yang perlu diajukan adalah bagaimana kita
melakukannya sendiri.

Untuk Menemukan Berita yang Reliabel, Lihat Metodenya

Bahkan di era agregasi berita, ketika kita bisa memindai informasi


global dalam hitungan detik, banyak dari kita yang tak memantau
media yang dikumpulkan. Malahan, kita terbiasa bergantung pada si-
tus agregasi dan berharap mereka memonitornya untuk kita. Dalam
surveynya, Jeff Cole, Direktur Center for Digital Future di University
of Southern California’s Annenberg School for Communication and
Journalism, menemukan bahwa kebanyakan orang Amerika di era
TV kabel dan Internet menonton enam saluran TV dan mengunjungi
15 Web—termasuk situs transaksi perbankan dan belanja.6 Riset
Project for Excellence in Journalism dan Pew Internet and American
Life Project menemukan bahwa kebanyakan orang secara reguler
mengunjungi kurang dari enam situs Web berita. Dalam studi ming-
guan yang terus berjalan terhadap lebih dari sejuta blog dan media
sosial, kami juga menemukan bahwa media di alam baru ini cend-
erung bergantung dan terkait dengan sejumlah kecil sumber media
tradisional yang terbatas. New York Times, Asociated Press, BBC,
Reuters, dan sejenisnya mendominasi daftar tersangka. Dalam prak-
tiknya, dengan kata lain, di abad 21 ini kita tetap mencari otoritas
yang bisa jadi tempat bergantung—mengingat jumlah pilihan dan
164

penyedia berita yang ada bertambah tiap hari.


Di sini, inti mencari berita penting secara efisien sama artinya
menemukan outlet berita atau reporter yang bekerja dengan baik
secara konsisten—jaringan berita atau merek terpercaya yang bisa
kita temui secara reguler. Bagaimana melakukannya? Tak ada rumus
magis. Namun ada cara membangun metodologi dan penyelidikan
anda sendiri, untuk mengidentifikasi siapa yang konsisten dengan
kerja luar biasa.
Dalam pengalaman kami, karya wartawan terbaik cenderung me-
miliki tanda yang halus. Ia adalah produk kesadaran, plus metode
atau pendekatan personal tingkat tinggi yang diterapkan wartawan
jempolan dalam meliput. Para wartawan luar biasa ini memba-
ngun metode tersebut sebagai cara mendisiplinkan keingintahuan
mereka. Itu menjadi cara mereka menggali semua pertanyaan yang
ada secara lebih dalam, mengasah penyelidikan, dan memastikan
tak ada fakta yang terlewat. Hasilnya, mereka melihat lebih banyak
fakta, mengajukan pertanyaan lain, mencari pola, dan lebih unggul
dalam menulis sebuah kejadian ketimbang wartawan lain. Mereka
cenderung tak cuma jadi tukang ketik supet cepat yang hanya mere-
produksi fakta yang ada. Berkat metode tersebut, tingkat verifikasi
mereka cenderung lebih dalam. Mereka lebih ingin melihat konteks
dan memahami penyebab yang pada gilirannya menghasilkan kisah
yang sungguh-sungguh masuk akal, yang mempertontonkan pengeta-
huan riil berdasarkan bukti, tak cuma berdasarkan kesimpulan atau
peralihan kesan-mirip-firasat yang banyak muncul pada apa yang
kami sebut sebagai jurnalisme interpretatif. Semua itu adalah buah
skeptical knowing.
Bahkan jika anda tak tahu metode yang dipakai wartawan, anda
masih bisa melihat jejak metode itu dalam karyanya. Semua terlihat
dari nuansa, detil, dan bukti adanya perhatian khusus. Elemen itu
adalah tanda adanya pendekatan sadar. Temukan mereka. Ini akan
jadi langkah pertama membangun metodologi anda sendiri untuk
menemukan kebenaran di dunia informasi yang saling bersaing.
Untuk memperjelas maksud kami, kami menyajikan contoh se-
dikit wartawan luar biasa, dan menjelaskan metode khusus mereka.
Intinya di sini bukan untuk mencari metode spesifik, tapi mencari
karya yang mengandung beberapa metode tersebut, karya yang tak
sekadar memaparkan kejadian, tapi juga masuk lebih dalam, yang
menyajikan nilai lebih dengan begitu menakjubkan.
Bagaimana Menemukan Hal yang Terpenting 165

Sosiolog di Tubuh Wartawan

Mungkin tak ada reporter lain di sejarah Amerika yang menan-


tang ide bagaimana meliput “pos” –istilah jurnalistik untuk wilayah
liputan—lebih lengkap, atau lebih berefek dramatis, ketimbang Da-
vid Burnham. Dia bekerja di New York Times dari 1968 hingga 1989,
dan liputannya soal polisi memicu berdirinya Komisi Knapp yang
melegenda untuk mengatasi korupsi polisi New York, dan berbuntut
pada reformasi penting di pemerintahan seperti yang digambarkan
dalam film Serpico dan Prince of the City. Saat Burnham pindah ke
biro Washington koran tersebut, ia meliput komisi Atomic Energy
and Nuclear Regulatory. Ini menjadi pintu baginya menuju kisah ten-
tang batang reaktor cacat yang diproduksi Kerr-McGee Corporation,
yang membuat sang pembocor informasi, Karen Silkwood, terbunuh
dalam kecelakaan mobil; kasus kontroversial ini diangkat di film
Silkwood. Reportase Burnham untuk organisasi jurnalisme investi-
gasif yang dia dirikan, Transactional Record Access Clearinghouse
(TRAC), juga menguji apakah kita, sebagai warga, telah mendapatkan
apa yang musti kita harapkan dari FBI, Internal Revenue Service, dan
bahkan Departemen Kehakiman.
Semua karya itu adalah dampak dari ikhtiar Burnham meliput
“pos”nya dengan sejumlah pertanyaan sistemik yang dia pelajari dari
para sosiolog terkemuka. Burnham, tentu saja, benar-benar “seorang
sosiolog di tubuh wartawan.”
Sebelum bergabung di New York Times, Burnham bekerja di komi-
si penegakan hukum yang dibentuk presiden selama 2 tahun. “Rasa
nya seperti meraih gelar master sosiologi,” jelas Burnham. Dengan
apa yang telah dia pelajari di situ, dia tak bisa serius meliput pen-
egakan hukum di Times. “Semuanya lelucon,” kenang Burnham. Dit-
anya tentang apa yang dia lakukan setelah itu, Burnham kembali den-
gan daftar 20 artikel yang sangat dipengaruhi aspek sosiologi yang
pernah dia dapatkan saat bekerja di pemerintah. “Daftarnya cuma
berisi sistem dan prosedur.” Setelah diterima di Times, dia menemui
para ahli dan akademisi yang pernah ditemuinya di pemerintahan
dan bertanya bagaimana ia musti menangani pekerjaan barunya.
Salah satu dari mereka, Alfred Blumstein dari Carnegie Mellon Uni-
versity, memberi nasihat yang selalu terngiang di telinganya. “Dia
bilang padaku, ‘tanyakan pada dirimu sendiri apakah lembaga-lem-
166

baga itu… tujuannya tercapai. Jika tidak, apa alasannya?’”


“Bagaimana saya melakukan itu?” sergah Burnham.
“Jika kamu pelajari hasilnya,” jawab Blumstein, “Ia akan menun-
jukkan sendiri padamu.”
Sudut pendekatan tersebut menjadi fokus penting dalam
pekerjaan Burnham selama 40 tahun berikutnya. Ia mencakup lima
langkah unik:

• Identifikasi tujuan yang dinyatakan lembaga yang anda liput


• Kenali informasi yang akan membantu anda menunjukkan
lembaga tersebut mencapai tujuan tadi (misalnya
program-programnya).
• Ikuti apa kata data, yang merupakan produk lembaga terse-
but, kepada anda.
• Ukur apakah hasilnya menunjukkan bahwa lembaga tersebut
telah melaksanakan tugasnya, dan jika tidak, tanyakan kena
pa dan apa yang selama ini mereka lakukan.
• Tanyai pihak yang terlibat untuk tahu tanggapan mereka ter-
hadap apa yang ditunjukkan bukti.

Meski liputannya tak pernah secara terbuka menyebut lima lang-


kah ini, pendekatannya yang sistemik segera berujung pada liputan
revolusioner tentang penegakan hukum di New York.
Liputan perdananya, dan yang terampuh, adalah berita tentang
“cooping,” istilah populer untuk polisi yang tidur saat bertugas. Is-
tilah ini tercetus saat Burnham mewawancarai Jim Curran, seorang
polisi New York, yang merujuk pada seseorang yang “in the coop
[dalam sangkar],” kenang Burnham.
“Seseorang, salah satu sumber, menyebutkan istilah itu pa-
damu. Dan awalnya kamu cuma mengangguk, agar terlihat mengerti,
seperti orang yang sudah tahu. Ungkapan itu adalah “coop-ing.”
Namun kamu lantas mengakui. Jangan pura-pura sok tahu. Itu bisa
membuatmu kelewatan sesuatu,” tutur Burnham.
“Apa itu ‘the coop’?” Burnham bertanya pada Curran.
“Itu lho… ketika seseorang tidur saat tugas, dari tengah malam
hingga jam delapan pagi.”
Setelah bertanya lebih jauh, Burnham mendengar bahwa tiap hari
ribuan di antara ribuan polisi New York yang mustinya bekerja di
shift malam malah asyik molor, diistilahkan sebagai ‘bersangkar’
di seluruh kota, hanya terbangun ketika ada laporan kejahatan.
Bagaimana Menemukan Hal yang Terpenting 167

Awalnya, editor Times bilang padanya bahwa itu bukanlah


jenis berita korannya. Lantas Burnham mengajak tukang foto-kopi
kantornya ikut dan mengambil foto selama jam istirahat. Di tengah
malam mereka berkeliling kota—ke taman, dermaga, kolong jem-
batan layang, dan tempat-tempat yang mungkin cocok untuk coo-
ping—memotret mobil patroli dengan polisi yang tertidur di dalam-
nya.
Burnham lalu mewawancarai polisi, untuk mendapatkan sisi
manusiawi dari bukti yang dia temukan. Banyak dari mereka
mengatakan pada Burnham bahwa “ini adalah tradisi lama dan san-
gat dihormati,” ulangnya. Seorang polisi berkata bahwa dia memba-
wa jam alarm untuk membangunkan dia dan rekannya ketika tiba
saatnya patroli lagi. Burnham juga menemukan bahwa Patrolmen’s
Benevolent Association bahkan mengajukan peraturan “selimut
bulu” melalui legislator Albania untuk meminta NYPD menyetujui
sepertiga opsirnya ditugaskan di tiap shift. Itu berarti akan ada ter-
lalu banyak polisi bekerja di tengah malam hingga jam delapan pagi,
ketika kebanyakan orang New York tertidur, dan tak cukup ada polisi
yang aktif pada jam-jam ketika kejahatan kemungkinan besar ber-
langsung. Cooping adalah efek alami dan contoh dramatis tentang
lembaga pemerintahan yang salah memanfaatkan sumber dayanya.
Ketika berita itu diturunkan, dan berefek besar, komisaris polisi
menggelar konferensi pers untuk mengatakan berita Times terlalu
membesar-besarkan kelakuan sedikit “apel busuk.” Reporter pesa-
ing dari New York Daily News, yang mungkin diomeli editor karena
ketinggalan berita ini, dengan marah menyerang Burnham. “Dasar
tolol. Ini bukan berita. Semua orang sudah tahu itu,” ujarnya. “Dan dia
benar,” kata Burnham. Maksudnya, justru itu persoalannya. Orang
sudah tahu tentang cooping dan membiarkannya. Itu yang membuat
nilai berita tersebut semakin besar.
Pelajaran dari kisah cooping menjadi basis metode Burnham
mendekati pos liputannya. Sehari setelah berita itu diturunkan,
seorang sumber menelpon Burnham dan menantangnya melakukan
variasi berita cooping, hanya saja bukan di kepolisian tapi di kala-
ngan orang yang lebih kuat—para hakim. “Baik, Burnham, aku tahu
New York Times cuma bisa menyorot kelas rendahan macam polisi
keturunan Irlandia. Namun tidak untuk Yahudi di kelas elit hakim,”
tutur Burnham mengulang perkataan sang sumber. Banyak hakim di
New York bekerja tiga hari seminggu, libur pada Senin dan Jum’at.
Ketika Burnham bertanya bagaimana dia bisa membuktikan itu, sang
168

sumber bilang padanya itu mudah: rata-rata keputusan kasus diba-


cakan pada Senin dan Jum’at ketimbang pada Selasa hingga Kamis.
Pelajari, lagi, hasilnya. Sumber tersebut benar. Banyak hakim bekerja
hanya tiga hari seminggu, memperlambat sistem pengadilan, semen-
tara ribuan pengacara menunggu persidangan di Rikers Island.
Burnham menghabiskan enam bulan untuk berjuang membawa
berita itu ke Times. Analisis kuantitatif yang menantang kebiasaan
buruk para hakim, setidaknya untuk jurnalisme saat itu, terlalu
sistemik, terlalu banyak tantangan yang menghadang, untuk me-
nguak pola dasar institusi tersebut beroperasi. Dan ketika berita itu
diturunkan, editor banyak memotongnya. Namun Burnham tetap di
jalur, dan liputannya membantu perubahan kebijakan di New York.
Pada waktunya, Burnham mengaplikasikan pendekatan sistemik
sama untuk meneliti Departemen Kehakiman, Internal Revenue Ser-
vice, dan Atomic Energy Commission. Dia melakukan hal serupa ter-
hadap TRAC, yang mengadili hasil kerja pemerintah Amerika di bi-
dang hukum dan lembaga lain berdasarkan basis data yang bisa di-
cari dan diakses publik.
Liputannya unggul karena dikerjakan bukan berdasarkan pada
kejadian, melainkan pada pertanyaan.

Menyimak yang Tak Terungkap

Diana K. Sugg, dalam penilaian kami, adalah satu di antara wartawan


ngepos (beat) terbaik di negeri ini. Dia tak menyebut dirinya spesi-
alis, atau penulis kesehatan, meski dia memenangkan Pulitzer. Dia
malah bicara penuh inspirasi khas pejuang jurnalisme sejati, tentang
bagaimana meliput pos berita—semua pos.
Meski dia tak menggunakan istilah ini, tapi berdasarkan pemba-
caan kami terhadap karyanya, dan penjelasan dia tentang ini dalam
perbincangan, kami melihat ada metode yang dipakai Sugg yang kami
sebut “menyimak kisah yang tak terungkap.”
Pertama, Sugg coba memastikan dia tak terpengaruh oleh semua
berita breaking news reporter lain. “Saya bertanya-tanya apakah
sudah adil dalam meliput pos saya,” tulisnya. Maksudnya, meliput
subyek secara layak.8 Untuk melakukannya, dia mencatat “perlu
mengartikulasikan visi untuk pos anda”—ide pertanyaan yang lebih
besar terkait dengan subyek, suatu penjelasan yang anda kejar se-
hingga membuat berita kecil itu tak berarti.”
Bagaimana Menemukan Hal yang Terpenting 169

Dia juga mencoba mengejar berita yang dia yakini tak akan di-
tulis orang lain, yang sulit, dan seolah “memanggilnya.” Seorang
pengajar di kelas penulisan, dia mengenang, pernah menasehatin-
ya untuk “hanya kerjakan berita yang bisa kau kerjakan… perhati-
kan wilayah emosionalmu sendiri.”9 Sugg juga menulis berita yang
memberi tahu orang sesuatu yang tak mereka ketahui. Berita
demikian bukanlah berita yang ditentukan pandangannya sendiri
lebih dulu, atau dari arahan editor di ruang redaksi.
Sugg mengatakan keahlian khususnya adalah mendengarkan, ber-
sabar dengan orang lain dan menjadi dirinya sendiri ketika bersama
mereka, sehingga mereka pun mempercayainya. Dari sini ia mendapat
akses luar biasa ke orang-orang sakit yang berada di kondisi terbu-
ruk mereka, yang mau menceritakan kisah mereka karena mungkin
bisa membantu orang lain, meski sama artinya dia harus mengung-
kapkan deritanya ke publik. Kelebihan Sugg ini termasuk dalam hal
menulis beberapa seri berita tentang orang sakit yang membeberkan
kisah lebih besar dan lebih penting, dari hati ke hati.
Untuk mendapatkan berita ini dan memperoleh kepercayaan
orang, Sugg berpikir bahwa seorang wartawan, yang membawa
sesuatu ke publik, beraksi di ranah publik dengan sendirinya. “Cara
anda bersikap akan berujung pada seberapa bagus kerja anda,” tu-
lis Sugg. 10 “Sadari bahwa anda adalah produk anda sendiri, merek
anda sendiri. Ketika anda seorang reporter, nama anda adalah segala
nya… Apakah anda reporter yang merasa tahu berita masa depan,
yang memaksakan detil yang didasarkan praduga, atau apakah anda
memperhatikan perkataan narasumber anda? Apakah anda reporter
yang mengonfirmasi pandangan buruk orang terhadap jurnalisme,
atau apakah anda mengejutkan mereka dengan kejujuran, integritas,
dan cita-cita besar anda? Jangan pernah pikir bahwa publik tak bisa
cepat menilai anda masuk kategori wartawan apa, dan akan mem-
perlakukan anda sesuai dengan itu.”
Belum ada karya yang lebih tepat mewakili ide jurnalisme
sebagai aksi publik, yang sarat moralitas dan nilai, selain karya
berseri Sugg bersama fotografer Monica Lopposay berjudul
“The Angels Are Coming,” tentang remaja Baltimore berusia
2 tahun bernama R.J. Voight yang berada di ambang kematian. Kisah
ini, menghenyakkan dan sedih, mengungkap isu profesionalisme
medis dan keluarga yang merawat anaknya yang tengah sekarat.
Dalam esai selanjutnya terkait dengan artikel itu, Sugg berkata
170

bahwa dia berjuang untuk tak melampaui batas antara meliput dan
mengeksploitasi orang. Kami pikir menjaga garis itu, dan menapaki-
nya hati-hati, menjadi pembeda antara berita yang bermakna—dari
berita yang menelanjangi—yang dibaca orang dan mengubah hidup
mereka, membantu keluarga dan tenaga medis profesional membuat
pilihan lebih baik.
“Untuk mendapat berita besar, sejauh mana saya memanfaatkan
R.J. dan keluarganya?” tulis Sugg. “Akankah berita ini menyakiti ibu-
nya yang telah hancur? Bagaimana dengan ibu-ibu lain yang berjuang
untuk menyelamatkan anak-anak mereka? Apakah saya telah cukup
berani mengungkap kebenaran? Bahkan, apakah saya tahu kebena-
ran? Dan akhirnya, seberapa jauh ia benar-benar bermakna?”
Setelah itu, dia ingat berdiri di auditorium rumah sakit Johns Hop-
kins, yang dipenuhi kaso dengan para dokter, perawat, kepala-kepala
divisi, terdiam dalam baju putih mereka, saat dia bicara tentang apa
yang telah dia pelajari, dan ketika dia bicara pada CEO perusahan
asuransi terbesar di Amerika. “Mulai sekarang, dalam tiap berita
yang saya tulis, R.J. akan bersama saya,” tulisnya. “Sebuah pengingat
tentang sejauh mana saya bisa menjalankan tugas sebagai wartawan
dan sehati-hati apa saya harus melangkah.”
Pembaca artikel Sugg bisa dengan mudah merasakan sesuatu yang
luar biasa di situ. Ia benar-benar produk kerendah-hatian, perhatian
dan kepedulian yang luar biasa dan mengena. Dia memandang jauh
lebih dalam. Anda mungkin tak mengenali apa metodenya, tapi anda
bisa merasakan kehadirannya.

Liputan Penuh

David Halberstam, yang bukunya The Best and the Brightest meng-
gambarkan masa perang Vietnam, sering berkata pada kolega
yuniornya bahwa penghargaan tertinggi yang paling dia inginkan
adalah dinilai sebagai seseorang yang terlihat masih nol, sebab ma-
sih terus bertanya. Dia menyebutnya “liputan penuh,” yakni proses
membangun dunia yang anda coba jelaskan dari bawah ke atas.
Dan ketika Halberstam selesai melakukan itu, liputannya memiliki
semacam otoritas dan begitu dalam hingga narasinya jauh dari seka-
dar deskriptif; ia bersifat menjelaskan. Dia punya gema narasi yang
tak diragukan lagi, dan kedalaman liputannya begitu jelas terlihat,
pemahamannya pada akar dan alasan serta implikasi bahan tulisan-
Bagaimana Menemukan Hal yang Terpenting 171

nya begitu lengkap hingga dia bisa dengan sederhana menjelaskan


apa yang dia ketahui, apa yang terjadi dan kenapa, kaitannya dengan
sejarah, dan dengan aspek kemanusiaan. Dia memakai suara sumber
sebagai bukti. Namun akurasi dan buktinya tak pernah diragukan.
Dalam buku mahakarya yang mengangkat reputasinya sebagai
penulis itu, Halberstam memulai dengan sebuah pertanyaan yang
muncul ketika dia liputan di Vietnam: Bagaimana bisa orang yang
dianggap paling mampu di pemerintahan berakhir dengan tragedi
terburuk sejak perang sipil?
Di depan peserta Nieman Foundation di Harvard University pada
1996, dia menjelaskan proses liputannya seperti ini:

Kenali siapa yang menurut anda bisa membantu menguak


(jawabannya). Keluar, kejar apa yang ingin anda ketahui…
Dan saya ingat seseorang di kampus yang pernah saya brie-
fing saat dia pertama pergi ke Vietnam… Seseorang bernama
Daniel Ellsberg, dan saya pergi dan menghabiskan tiga hari
bersamanya di California. Saya pulang… Saya punya laporan
22 halaman berspasi tunggal.
Dan saya pun mencari orang lain, menemui orang yang pa-
ling pas bicara soal itu pertama kali, menghabiskan waktu ber-
samanya, selalu bertanya di akhir wawancara, “siapa lagi yang
musti saya temui? Apa lagi yang musti saya lihat? Siapa lagi
yang pakar soal ini? Siapa lagi yang tahu?”

Wawancaranya luar biasa teliti:

Saya mencoba membuat biografi orang yang saya wawanca-


rai. Menanyai dia, bagaimana anda bisa di posisi itu? Apa latar
belakang anda, filosofi anda. Seperti apa minggu dan bulan
saat anda di sana? Siapa yang memimpin, siapa yang takut, apa
yang rentan? Selalu bangun fondasi informasi …
Narasumber berkata, “Sepertinya dia bimbang.” Anda, re-
porter bilang, “apa yang anda maksud, ‘bimbang’?” Jelaskan itu.
Masukkan dalam cerita. Buat mereka menjelaskan tiap ungka-
pan. Buat mereka mengungkapkan cerita. Beberapa orang tak
bisa mengungkapkan diri mereka secara lucu. Namun keban-
yakan orang bisa, khususnya ketika mereka bicara tentang diri
sendiri…
Ada bahaya di diri seorang reporter yang ingin tampil
pintar, yang ingin orang lain menilai anda pintar. Namun tu-
172

gas anda adalah membuat orang bicara. Buat mereka meng-


ingat. Buat mereka menjelaskan. Tak masalah jika berjalan
sangat lambat.” 11

Halberstam tak kenal lelah untuk urusan riset pustaka, buku


catatannya menumpuk kian tinggi dan wawancaranya jauh lebih
dalam dari yang dibayangkan kebanyakan wartawan. Ketika dia di-
makamkan pada tahun 2007, sebagian orang yang memberi peng-
hormatan terakhir adalah sumber yang pernah dia wawancarai—
tentara di bukunya tentang Perang Korea, pemadam kebakaran di
bukunya soal pemadam kebakaran di kota. Dia mengenal mereka
dengan baik.
Pembaca Halberstam mungkin tak tahu istilah “liputan penuh,”
tetapi mereka merasakan kehadirannya.

Menemukan Suara yang Bercerita

Krisis finansial dunia yang berawal pada 2008 menguji kemampuan


wartawan dan jurnalisme konvensional. Tantangannya adalah mem-
beri pemahaman seputar kisah yang kompleks dan bergerak cepat
sesuai dengan kepentingan publik yang mendalam, tapi dengan cara
yang mudah dipahami oleh mereka yang tak tahu dunia pasar modal,
hedge fund, dan sekuritisasi piutang hipotek.
This American Life, yang muncul di Chicago Public Radio, adalah
siaran mingguan unik berdurasi 1 jam yang dipandu Ira Glass. Ia
membahas satu topik melalui cerita personal yang dikisahkan ber-
bagai orang. Pendekatan ini–menemukan seseorang yang mengisah-
kan ceritanya sendiri dengan cara mereka—membutuhkan kedis-
iplinan tersendiri: pada siapa kisah ini berefek? Bagaimana? Siapa
yang bisa mengatakannya? Ia selalu menarik. Terkadang, efeknya
begitu dalam.
Salah satu episode berjudul “The Giant Pool of Money” adalah kisah
nonfiksi yang dikumpulkan Alex Blumberg dan Adam Davidson pada
April 2008, sebelum ekonomi global jatuh. Mencuplik pengalaman
pribadi mereka yang dicekam kepanikan, keduanya membagi penge-
tahuan dasar soal krisis subprime mortgage kepada audiens. Kisah
seorang pemegang efek, bankir Wall Street, dan penjual hipotek yang
cemas—semuanya dipakai untuk menyederhanakan bahasa teknis di
dunia bursa. Produk derivatif, seri obligasi, credit swap, short selling
Bagaimana Menemukan Hal yang Terpenting 173

dijelaskan dengan cara yang bisa dipahami orang awam.


Siaran tersebut kian menyebar setelah podcast, NPR menjelaskan
tanggapan publik terhadap program itu adalah yang paling positif
yang pernah terlihat. Kesuksesan program itu dicapai berkat cara
unik yang dipilih Blumberg dan Davidson dalam menjelaskan kisah
rumit tersebut di radio. Mereka membangun laporan dengan memil-
ih karakter yang menjelaskan posisi mereka dalam krisis, membuat
persoalan yang rumit bisa dipahami karena diletakkan pada istilah
manusiawi yang personal—karakternya nyata, bukan sampel jurnal-
istik atau karikatur. Mengutip Jay Rosen, seorang profesor jurnalisme
di New York University dan pembuat blog PressThink, “melalui pro-
gram itu, saya memahami persoalan secara menyeluruh: apa yang
terjadi, kenapa bisa begitu, dan kenapa saya musti peduli. Saya punya
kesan bagus tentang motivasi dan situasi pelaku yang semuanya be-
rasal dari berbagai garis dan tingkat.” Pengetahuan sipil tergali dari
kisah yang rumit, bertumpuk, penuh dengan istilah teknis. Itu adalah
buah dari kerja keras para produser dalam mencari cara menerang-
kan kisah kompleks dengan metode baru.

Peristiwa dalam Konteks

Selama lebih dari 40 tahun, John Kifner membangun reputasi sebagai


salah seorang wartawan “parasut” terbaik di bidangnya—seseorang
yang dengan segera bisa dikirim untuk “loncat” ke hampir semua
tempat di dunia untuk membawakan breaking news. Ketika butuh
reporter untuk meliput kerusuhan pada 1960-an hingga revolusi
Timur Tengah atau Balkan pada 1990-an, editor New York Times re-
fleks menelponnya.
Dia jeli melihat tekstur dan detil yang bagus. Setelah polisi
membekuk pemimpin gerakan Black Panther di apartemennya di
Chicago, Kifner menghitung lubang peluru di kamar dan memban-
tah laporan polisi tentang bagaimana penembakan itu terjadi. Ketika
pasukan National Guard mengklaim bahwa mereka menembak—
yang kemudian membunuh para mahasiswa yang demo di Kent State
University—karena merespon serangan penembak jitu, Kifner lah
yang menyusun detil dan menyangkal klaim itu.
Namun yang membuat pekerjaan Kifner begitu istimewa adalah
keinginan besarnya untuk menemukan konteks dan makna, bahkan
174

ketika dia dikirim untuk meliput kejadian secara mendadak. “Tak


masuk akal, dalam pengertian sebenarnya, jika anda tak bisa mel-
aporkan sebuah peristiwa dalam konteks lebih besar dari yang ada.
Konteks adalah sesuatu yang selalu saya cari,” katanya.
Pada 1973, dia menemukan konteks ini di Pine Ridge Oglala Sioux
Reservation saat meliput kontak senjata antara polisi federal dengan
anggota American Indian Movement (AIM) yang menduduki kota
Wounded Knee. Konflik itu, berujung pembantaian Indian oleh polisi
federal, menarik perhatian dunia.
Saat dia setor berita harian, Kifner tetap menyoal, “Kenapa
mereka melakukan ini? Tentang apa ini semua? Dari apa yang dia
pelajari, saat dia terus mencari makna dan informasi lebih dalam
maka lahirlah artikel berjudul, “At Wounded Knee: Two World
Collide. (Pada Lutut Terluka: Dua Dunia Bertubrukan).
“Di balik itu semua,” Kifner menyimpulkan “adalah cerita frustasi,
keterkungkungan karena otoritas demokratik memaksa semua orang
membuat pilihan yang menentang dan ditolak otoritas suku. Otori-
tas suku berjalan atas dasar konsensus. Kewenangan itu dipecah di
antara sekelompok ketua suku yang khusus menjaga konsensus…
Wounded Knee tak cuma kisah baku-tembak polisi federal dan In-
dian AIM, melainkan tentang demoralisasi penguasa suku. Kisah itu
tak bisa membagi nilai apapun tanpa konteks.”12
Untuk menemukan konteks dan mendasari tema tersembunyi
di balik kejadian—yang seringkali belum pernah dia liput, Kifner
mengembangkan metode untuk menyiapkan diri. Dia melahap koran,
buku, dan majalah, mengumpulkan informasi terbaru dari peristiwa
yang ada. Dia membuat perpustakaan pribadi berisi buku sejarah
dan kejadian terkini dari wilayah-wilayah konflik, seperti Timur
Tengah, di mana ia bisa dikirim sewaktu-waktu. Dia selalu siap kare-
na sudah menyimpan pertanyaan di benaknya. Ketika naik pesawat
secara mendadak pada tugas liputan ke Iran, misalnya, dia membawa
sejarah negara itu di tangan dan buku-buku lain di tas punggung. Saat
mendarat, dia siap bertemu pakar lokal dan otoritas yang bisa mem-
bantu menempatkan kejadian yang tengah berlangsung dalam kon-
teks budaya dan sejarah.
Para pembaca bisa merasakan ini dalam karya Kifner. Ambil con-
toh berita ini, diturunkan pada akhir pekan 26 Febuari 2006, yang
mencoba memahami jam malam di Irak sehari sebelumnya.
Bagaimana Menemukan Hal yang Terpenting 175

Irak berada di ambang perang sipil minggu lalu. Namun


pada Jum’at, terlihat, kondisi ini setidaknya untuk sesaat, su-
rut [dengan jam malam sehari, yang mengakhiri 48 jam ke-
kerasan]…
Rangkaian peristiwa itu membangkitkan krisis lama terkait
dengan konflik antara kelompok agama atau suku yang ber-
seberangan—sekam untuk perang sipil. Mereka punya irama
sendiri. Seringkali ketegangan memuncak hingga mendekati
level ekstrim, lantas tiba-tiba reda.
Terkadang sesuatu yang begitu mengerikan terjadi dan
menjadi titik balik. Ini sama seperti ketika Serbia mengepung
Sarajevo. Pada awal Febuari 1994, satu mortir dilemparkan di
luar pasar tempat warga Bosnia membeli barang-barang ke-
butuhan. Ia jatuh di meja yang penuh dengan perangkat keras
bekas, mengubah baut, palu dan obeng menjadi seperti peca-
han meriam, yang menciptakan tablo berdarah di mana 68
orang tewas dan kepala berserakan di antara sepatu bekas.
Perhatian internasional tiba-tiba terfokus pada perjuangan
bekas negara Yugoslavia. Seorang Jenderal Inggris yang ber-
tanggung jawab, Sir Michael Rose, dikirim untuk memimpin
pasukan PBB yang ogah-ogahan. Di tengah tradisi perang yang
menggunung dan diperparah sentimen agama dan nasional-
isme, dia mengetok genjatan senjata yang akhirnya berujung
persetujuan damai.
Namun pada waktu lain, nampaknya, ketegangan memun-
cak, surut, lalu naik lagi, mempertinggi eskalasi selanjutnya.
Peristiwa—pengeboman, baku tembak, bahkan pemban-
taian—yang tak terbayangkan sebelumnya menjadi hal lum-
rah. Ini terjadi di perang sipil Libanon selama 15 tahun.

Bahkan di paragraf yang terbatas itu, pembaca bisa melihat poin


kuat dalam penilaian Kifner soal jam malam, terdengar seperti per-
cakapan biasa tapi bernada otoritatif. Detil bom yang menabrak meja
penuh barang-barang bekas, gambaran potongan kepala, pujian ke-
pada jenderal PBB yang kini terlupakan, deskripsi singkat tentang
pemicu perang sipil—semua ini adalah elemen yang hanya bisa di-
hasilkan oleh orang yang paham dan berpengalaman. Kita tak han-
ya melihat kebijaksanaan di paragraf itu, tapi juga bisa merasakan
bahwa Kifner melakukan lebih. Dia mencari pola, membaca sejarah,
mencari pelajaran. Ia tidak terlihat seperti jurnalisme konvensional.
Ia terbaca sebagai sesuatu yang lebih dalam.
176

Pendekatan yang kami sebut di sini hanyalah sebagian kecil


metode yang dibangun para wartawan yang karyanya kami anggap
luar biasa. Banyak reporter bagus membicarakan metode lain dalam
pekerjaan mereka sendiri. Meski anda mungkin tak menemukan-
nya di satu karya mereka, anda bisa merasakan metode dan ide misi
model baru di banyak eksperimen media baru saat ini seperti Global-
Post, GroundReport, dan Globalvision. Situs ini dan beberapa lainnya
memelopori bagaimana memadukan potensi teknologi baru dengan
nilai berita yang terpercaya. Dan terutama sebagai pendatang baru,
mereka umumnya lebih sadar dengan misi mereka, lebih tertarik
dengan metode, dan lebih transparan daripada media yang sudah
duluan ada. Dari waktu ke waktu, yang terbaik kian hati-hati dalam
verifikasi.
Intinya di sini bukan soal adanya model pasti dalam jumlah ter-
tentu untuk menghasilkan liputan signifikan atas satu topik, atau soal
perlunya mencari pendekatan sosiologis atau teknik bertutur untuk
menilai “pentingnya” sebuah kisah. Justru, karya penting cenderung
memuat bukti yang dihasilkan oleh orang yang membangun metode,
pendekatan sadar atas sudut pandang, yang memberi kedalaman
dan bobot luar biasa di karya mereka. Ia mungkin tak kentara. Anda
mungkin tak melihat sendiri metodenya. Namun seperti halusnya
warna nada musisi jenius atau keistimewaan hidangan koki berbakat,
ada sesuatu yang bisa dikenali dalam karya istimewa. Tanda itu, yang
menunjukkan metode, adalah indikasi kuat seorang wartawan yang
karyanya layak diikuti selama anda menempati posisi sebagai kon-
sumen berita.
Kelebihan karya seperti ini adalah reporter membawa dunia
kepada kita, tak melulu koleksi berita. Selalu ada konteks lebih be-
sar. Dan berita ini cenderung hidup dengan detil yang benar-benar
nyata, diamati dengan hati-hati, benar-benar asli—tak pernah klise
atau memaksa. Liputan yang bernilai memiliki gema, gaung, dan
implikasi. Dan gaung itu dibangun melalui observasi dan informasi
detil yang cukup untuk menjadi bukti, dan dipilah untuk menjamin
bahwa pesannya sesuai dengan maknanya. Ia bahkan bisa muncul
dalam breaking news, jika reporternya berhati-hati. Kita hanya perlu
mengetahui bagaimana mencarinya.
Bagaimana Menemukan Hal yang Terpenting 177

Bagaimana Kita Sebagai Konsumen Memenuhi


Tanggung Jawab Lebih Besar

Mencari wartawan yang konsisten memproduksi karya bernilai


adalah salah satu trik memastikan kita bisa efisien meluangkan wak-
tu sebagai konsumen berita. Namun ia tak menjawab pertanyaan
lebih besar tentang bagaimana kita tahu bahwa kita telah benar-
benar menjalani diet berita secara ketat guna menjalani hidup sehat,
mendapat informasi, dan terlibat. Bagaimana kita memanfaatkan
berita seperti yang banyak orang inginkan—berita sebagai aktivitas
sosial, aktivitas sipil, sebagai sesuatu yang bisa memperbaiki tingkat
hidup kita?
Di sini juga tak ada formula. Namun, ada berbagai teknik un-
tuk memastikan kita mendapat informasi yang kita perlukan.
Kita menyaringnya melalui kritikus pers, wartawan berbagai me-
dia, konsumen berita yang pintar, dan penggiat media baru. Pem-
baca bisa memutuskan sendiri mana yang berguna. Atau bisa
juga menyulingnya melalui beberapa teknik yang dibuat sendiri.
Inti dari daftar dan tips keterampilan berikut bukan agar diikuti
semua orang secara persis. Tapi lebih pada menawarkan bantuan
untuk membuat orang kian menyadari pola konsumsi berita me-
reka, seperti halnya kita kian sadar dengan konsumsi makanan kita.
Langkah pertama cukup mengajukan pertanyaan: Apakah saya
mendapatkan yang saya perlukan dari berita itu? Selanjutnya,
diikuti cara-cara untuk menjawab pertanyaan itu.

Bisakah Saya Menjelaskan Isu Tersebut pada Orang Lain?

Salah satu tekniknya adalah mengambil tema berita, apapun, dan


tanyakan tiga hal pada diri anda sendiri:

• Bisakah saya menjelaskan tema ini pada seseorang–anak,


orang tua saya, teman—yang tak mengikutinya?
• Jika tidak, informasi apa yang perlu saya tahu untuk bisa se-
perti itu—atau dengan kata lain, apa yang masih belum saya
pahami?
• Lalu di mana saya menemukan informasi itu?

Cobalah. Ambil satu tema berita dan cari jawaban atas perta-
178

nyaan-pertanyaan yang mungkin anda punya tentang tema itu di In-


ternet selama 20 menit. Lalu ingatlah ingat situs Web yang memberi
jawaban terbaik. Setelah meriset beberapa isu, anda akan mulai meli-
hat pola yang membawa anda menemukan informasi paling berguna
dan bertanggung jawab.
Kuncinya adalah variasi yang dipakai wartawan dalam menulis
berita secara lebih sederhana dan jelas. Hampir semua wartawan
muda, dalam titik tertentu, mendapat nasehat seperti ini dari edi-
tornya: “Jika kujelaskan ini pada ibuku melalui surat, apa yang akan
kutulis?” Mereka yang belajar bagaimana menjelaskan sesuatu, akan
menjadi penulis yang lebih baik.

Membuat Daftar Berisi Hal Penting

Teknik di atas bisa membantu anda memahami apa yang perlu anda
ketahui seputar isu yang diberitakan. Namun isu mana yang musti
anda diselidiki? Berita apa yang penting diketahui?
Salah satu cara menjawabnya adalah dengan mendaftar 10 isu
atau topik yang paling anda prioritaskan.
Membuat daftar demikian mungkin membuat anda malas. Sepuluh
itu banyak. Sulit diurutkan. Namun tidak akan begitu ceritanya jika
kita sadar: sesering apa kita mengonsumsi informasi tentang ini?
Latihan ini akan memaksa anda berpikir tentang persoalan apa
yang ada di berita. Bisa jadi mereka adalah berita yang berkelanju-
tan, seperti liputan konflik Israel-Palestina, atau tim olah raga fa-
vorit seseorang. Atau mungkin topik lebih umum, seperti teknologi
komputer.
Manfaatnya, membiasakan daftar tersebut bisa secara permanen
membantu anda memikirkan berita. Daftar itu hanya perlu dibuat 10
menit. Namun, ia bisa membantu anda bertahun-tahun.

Pertanyaan untuk Menguji Apakah Anda Memperoleh


Berita yang Diperlukan

Teknik lain berfokus pada bagaimana anda menghabiskan waktu


mengonsumsi berita. Pikirkan kembali tentang berita yang anda baca
hari ini dan tanyailah diri anda:

• Berita apa dan soal apa yang saya dapatkan? Di mana saya
Bagaimana Menemukan Hal yang Terpenting 179

mendapatkannya? Apakah ia penting? Apakah karenanya


saya jadi melewatkan berita lain yang sebenarnya ingin saya
pelajari?
• Apakah berita itu menambah penge­­ta­hu­­­an saya tentang se -
suatu isu den­gan cara signifikan ataukah ia hanya
merekam perubahan tambahan atau tentatif yang se-
benar nya tak banyak berarti?
Apakah liputannya tipe stenograf, sekadar mencatat dan mem-
beritakan begitu saja, ataukah mengungkap detil penting?
• Apakah beritanya menginformasikan sesuatu yang penting,
benar-benar baru, yang memberi saya pemahaman baru,
ataukah hanya memberi detil yang menguatkan apa yang
telah saya pahami?
• Apakah saya mendapat pelajaran tentang satu dari beberapa
hal yang paling saya pedulikan atau saya anggap penting?

Jika informasi yang kita dapat benar-benar memiliki kebaruan,


lebih dari sekadar tambahan dan stenografik, itu menandakan kita
akan mendapati sebuah nilai. Jika kita belajar sesuatu, meski secara
mendasar hal baru, tentang persoalan yang kita anggap penting, itu
sudah cukup informatif. Menurut kami, lagi-lagi, kembali pada identi-
fikasi jenis berita yang kita dapati. Apakah ia berita keras yang meny-
ajikan fakta baru? Apakah ia berita yang mengajak kita berpikir, dan
jika benar, apakah ia hanya memaparkan sesuatu, atau membangun-
nya, seperti seri dokumen lengkap Tofani soal impor China? Tak pelak
lagi, kita perlu sintesa . Jika berita yang kita konsumsi hanya bersifat
menambahi, maka kemungkinan besar kita tak akan mendapat in-
formasi yang membantu memahami kejadian atau isu penting. Jika
berita yang kita dapat bersifat analitis, dan kita setuju dengan semua
itu, maka bisa jadi kita takkan keluar jauh dari zona aman kita. Jika
tak ada berita yang mengungkapkan, atau mengubah pandangan kita
dengan cara apapun, maka kita perlu melangkah lebih jauh.
Teknik ini kami dapatkan dari seorang konsumen berita cerdas,
seorang senator Amerika, yang mengaku menggunakan latihan se-
rupa untuk meninjau kinerjanya, melihat apakah dia telah melaku-
kan semua yang dia bisa dalam tiap agenda hari itu. Cara tersebut,
menurut dia, adalah kunci kesuksesan karirnya.
180

Kisah-Kisah yang Anda Ingat

Akhirnya, ada alat lain yang telah kami pakai sebagai kritikus pers un-
tuk mengenali reporter luar biasa berkarya hebat. Coba ingat-ingatlah
beberapa tahun lalu. Adakah berita yang anda temukan yang masih
bisa anda ingat? Di mana anda mendapatinya? Siapa yang bikin? Apa
yang membuatnya istimewa?
Dalam pengalaman kami, ada berita yang tetap hidup dalam ingatan;
kami telah mendaftar beberapa di antaranya di buku ini. Mengingat
kembali apa yang anda suka tentang mereka bisa membantu memberi
tahu anda apa yang anda sukai dari berita, apa yang anda anggap ber-
nilai.

Kami tak berharap siapa pun akan mengikuti semua teknik ini,
atau beberapa di antaranya. Teknik tersebut dsodorkan, lebih kepa-
da, membuat kita sadar bagaimana mengonsumsi berita, dengan cara
yang sama kita mencoba lebih sadar menjaga kebugaran dan pola
makan. Pada abad 21, kita menjadi warga baru, bertanggung jawab un-
tuk diri sendiri dengan cara baru. Kita memiliki akses ke lebih banyak
informasi, dari lebih banyak sumber, dengan kemampuan lebih besar
untuk mentriangulasi semua yang kita lihat, dan menjadi lebih tahu.
Beberapa dari kita yang ingin mendapat manfaat dari teknik tersebut
akan kian bersemangat untuk belajar dan berkembang. Yang tidak in-
gin, akan ketinggalan lebih jauh di belakang. Pada masa awal perkem-
bangan Internet, kritikus sosial sering mencemaskan jurang informasi
antara orang yang memiliki akses terhadap komputer dan sambungan.
Sebagian kecemasan itu ditekan dengan kehadiran teknologi mobile
smart, yang punya penetrasi lebih tinggi. Gap informasi riil, yang tak
bisa diatasi dengan kebijakan sosial dan teknologi baru, adalah antara
konsumen berita yang cerdas dan mereka yang lebih memilih santai,
atau menyerahkan diri mengikuti arus dan kesenangan.
Ini membawa kita pada daftar yang kami perkenalkan di Bab 3, un-
tuk menjadi konsumen berita yang lebih mawas di era sekarang. Lang-
kah-langkah itu meliputi enam pertanyaan mendasar.

1. Konten berita jenis apa yang saya temui?


2. Apakah informasinya lengkap; jika tidak, apa yang kurang?
3. Siapa dan apa sumbernya, dan kenapa kita musti memper-
cayainya?
Bagaimana Menemukan Hal yang Terpenting 181

4. Bukti apa yang disajikan, dan bagaimana ia diuji atau dipi-


lah?
5. Penjelasan atau pemahaman alternatif apa yang mungkin
muncul?
6. Apakah saya mendapat pelajaran tentang apa yang saya perlu
ketahui?

Melihat daftar tersebut, setelah meninggalkan bab yang menjelas-


kannya, anda perlu mencoba objektif pada diri sendiri. Era agregasi
memberi kita kemampuan mengajukan pertanyaan sendiri dan men-
cari jawabannya sendiri. Untuk itu, kita musti menanyai diri sendiri
apakah kita benar-benar mengajukan pertanyaan. Apakah kita benar-
benar coba mengembangkan pengetahuan? Apakah kita mau mem-
buka kemungkinan yang bisa kita pelajari, yang bahkan bisa men-
gubah pikiran, atau setidaknya pemahaman kita? Apakah kita mau
menerima fakta yang bertentangan dengan prasangka kita? Apakah
pertanyaan kita hanya retoris belaka yang didesain untuk membuat
diri sendiri kian yakin dengan kebenaran yang kita pegang? Apak-
ah kita hanya tertarik dengan pernyataan yang cocok dengan nilai
moral kita? Apakah kita memandang berita sebagai bukti tentang
bagaimana sesuatu terjadi? Atau apakah kita hanya mencari bukti
atas bagaimana kita ingin sesuatu terjadi?
Dengan kata lain, seberapa terbuka kita pada kemungkinan yang
tak kita ketahui? Di mana kita duduk di spektrum pengetahuan yang
membawa kita kembali pada pertanyaan yang muncul di lukisan
kuno gua Prancis dan Spanyol–fakta apa dan keyakinan apa?
Nilai yang kita dapat dari berita akan berkurang jika kita jatuh ke
ketertutupan pikiran. Kita takkan belajar banyak jika menghabiskan
terlalu banyak waktu mendengar jurnalisme yang Cuma menegaskan
atau menghibur. Jika kita selalu sampai di titik awal, maka kita tak
pergi ke manapun.
Semua ini memunculkan satu pertanyaan tambahan. Jika kita ber-
hasil menjadi konsumen berita yang lebih cerdas, selanjutnya seperti
apa kita musti berharap wartawan akan berubah? Iti menjadi persoa-
lan selanjutnya yang perlu diperhatikan.
182

BAB 9
Apa Yang Kita Perlukan
Dari “Jurnalisme Era Baru”

Mungkin gambaran paling ambisius dan ideal tentang bagaimana


wartawan menunjukkan perannya pada abad 20 bisa ditemukan
pada Walter Lippmann, kolumnis koran dan pengarang.
Pada 1920 Lipmann, salah seorang pendiri majalah New Repub-
lic dan mantan ajudan Woodrow Wilson, khawatir dengan prospek
demokrasi. Dunia seolah akan terbelah. Di Rusia, dia baru saja me-
nyaksikan lahirnya Bolshevisme, filsafat yang bersumpah memer-
angi kapitalisme dan meramalkan runtuhnya republik demokratik.
Dalam Perang Eropa, dia menyaksikan propaganda modern, penggu-
naan media untuk menyebar pengaruh politik. Melalui karya ilmiah
Freud dan lainnya, Lipmann mengenali ide baru tentang subyektivi-
tas, bawah sadar, bias, dan relativitas persepsi yang menumbuhkan
keraguan atas kemampuan wartawan mengenali fakta. Jika ingin de-
mokrasi bertahan, menurut dia, jurnalisme perlu menemukan pema-
haman lebih jelas atas perannya dan menjalankan peran tersebut.
Dia mengasingkan diri ke hutan menulis sebuah buku kecil,
Liberty and The News, menggarisbawahi bagaimana profesinya bisa
mengatasi ini. “Berita hari ini yang dikabarkan koran tak lain adalah
campuran fakta, propaganda, rumor, kecurigaan, gelagat, harapan
dan ketakutan,” tulis Lipmann. “Dan tugas memilah serta mengurut-
kan berita adalah salah satu tugas suci dan mulia dalam demokrasi.
Mengingat koran adalah kitab demokrasi secara harfiah, yang men-
jadi acuan orang memutuskan tingkah lakunya.”
Apa Yang Kita Perlukan Dari “Jurnalisme Era Baru” 183

Pernyataan itu mengangkat ide tentang posisi pers sebagai


“penjaga pintu” atas nama publik. Wartawan memilah dan mengu-
rutkan fakta, propaganda, rumor, dan kecurigaan dan mengubah
nya menjadi berita yang benar dan dapat dipercaya. Ide soal penjaga
pintu ini memenuhi ruang redaksi selama abad 20 dan memperke-
nalkan konsep tanggung-jawab sipil wartawan. Lagi pula, siapa yang
bisa berdiri mengawal pintu pengetahuan publik? Ruang redaksi
adalah satu-satunya penyambung berita dan warga. Siapapun yang
ingin mengirim informasi ke publik harus lewat “pekerja pers.” Ide ini
tentunya ideal, dan bahkan Lipmann segera meragukan kemampuan
pers memenuhi tugasnya dan kompetensi publik secara intelektual
untuk memahami berita.1 Meski demikian, Lipmann terus mengabdi
di dunia pers, menjadi wartawan hingga sisa hidupnya, dan visi opti-
misnya membantu mendefinisikan cita-cita pers.
Meski demikian, metafora penjaga pintu tunggal yang meme-
diasi fakta atas nama publik kini kian problematik—atau bahkan
usang. Ada banyak kanal penghubung sumber berita dan publik. Pers
hanya salah satu di antaranya. Pada pemilihan presiden 2008,
video yang dibuat staf kampanye Obama disaksikan lebih dari 1 mili-
ar kali di YouTube milik sang kandidat, tanpa melibatkan pers. Seper-
tiga orang Amerika kini membaca berita berkat rekomendasi sosok
nonwartawan yang mereka ikuti di jejaring sosial. Hampir separuh
dari seluruh orang Amerika menyaksikan atau membaca berita yang
email teman. Enam dari 10 orang yang online memperoleh berita
dari mesin agregator. Sepertiga dari yang online membaca blog dan
enam dari 10 orang menyaksikan video dari situs seperti YouTube.
Dan teknologi sama yang mempermudah warga memproduksi
konten mereka sendiri juga dimanfaatkan pemerintah, swasta
atau entitas lain untuk berkomunikasi langsung. Di tengah kondisi
ini, wartawan pun menjadi penjaga pintu untuk ruangan yang tak
lagi berdinding.
Lantas, peran apa yang mesti dimainkan wartawan? Jika kini war-
ga menjadi editor, kadang bahkan reporter untuk diri sendiri, lalu apa
yang mereka perlukan dari pers? Bagaimana pencarian dan penye-
baran berita berjalan, siapa yang akan memproduksi, dan bagaimana
ia akan dikonsumsi? Dengan kata lain, apa yang kita perlukan dari
sesuatu yang kami sebut sebagai, “jurnalisme era baru”?
Bab ini akan menunjukkan visi kami tentang itu, apa yang perlu
disediakan jurnalisme—lama dan baru—kepada masyarakat sipil di
era digital dan bagaimana pers perlu berubah untuk itu.
184

Para ahli telah menawarkan berbagai respon. Banyak dari mer-


eka menilai jurnalisme mesti menjadi sebuah dialog, bukan ceramah.
Yang lain berpendapat lebih jauh dengan menganggap bahwa kita tak
lagi perlu wartawan, karena kita kini hidup di era yang semua orang
bisa menjadi wartawan dan kebenaran bisa ditemukan lebih efektif
bukan dari beberapa tapi 1.000 suara—dalam pandangan ini, berita
menjadi sejenis akun Wikipedia yang selalu berubah bersamaan den-
gan kejadian hari itu. Masih ada juga yang menilai bahwa kita mesti
membuang ide usang nan gagal soal obyektivitas, di mana wartawan
menipu diri dengan berpikir mereka bukanlah mahluk tanpa bias.
Akui sajalah.
Kami yakin jawabannya adalah kombinasi jurnalisme lama dan
baru: fungsi pers sebagai penjaga pintu tak menghilang sepenuhnya,
melainkan cuma mengecil dimensinya tentang apa yang mesti dise-
diakan pers, dan dengan sendirinya tak cukup menjelaskan peran
pers. Pers harus menampilkan seperangkat fungsi yang lebih kom-
pleks dari sekadar penjaga pintu, dan mengadopsi format baru gaya
bertutur, penyebaran dan pelibatan publik dalam berita. Pers masih
menjadi mediator, tetapi dengan peran mediasi yang lebih beragam
dan kompleks, dan menjalankannya di dunia komunikasi tanpa batas
seperti sekarang akan lebih sulit. Pada abad 20, jurnalisme menjadi
apapun sesuai keputusan wartawan. Kini, konsumen punya peran
lebih besar dalam keputusan itu, dan wujud jurnalisme selanjutnya
mesti mencakup dan melayani warga yang kian aktif itu. Dalam hal
ini, jurnalisme tak lagi berupa ceramah. Ia lebih dialogis—berpotensi
lebih kaya dari yang sebelumnya ada.
Namun seiring dengan perubahan pers, kami meyakini masih ada
standar dan nilai tertentu dari visi jurnalisme tradisional yang masih
bertahan. Dalam titik tertentu, tentu saja, keberadaan mereka jadi
lebih mendesak, karena nilai itu menjadi jalan utama bagi konsumen
membedakan informasi yang bisa dipercaya dari jenis informasi
media pesaing lain. Dalam The Elements of Journalism, kami meng-
garisbawahi norma yang dicita-citakan jurnalisme profesional.2 Nilai
itu meliputi independensi, verifikasi, kesetiaan utama pada warga
ketimbang pada kepentingan politik atau korporasi, berdedikasi un-
tuk menimbang kejadian ketimbang komitmen untuk memaksakan
hasil spesifik atau solusi kebijakan. Di buku itu, kami juga menilai
bahwa menjadi obyektif tak berarti netral. Maksud sebenarnya adalah
pers mesti melakukan metode obyektif dan transparan dalam me-
Apa Yang Kita Perlukan Dari “Jurnalisme Era Baru” 185

ngumpulkan dan memverifikasi berita, definisi ini lebih dekat pada


“obyektivitas” dalam pengetahuan. Kami tak menganggap nilai-nilai
itu mesti hilang. Lagipula, mereka tak muncul pada abad lalu demi
kepentingan ekonomi pers. Tidak juga lahir dari para filosof atau pe-
mikir etis jurnalistik di kalangan akademisi. Justru, norma-norma ini
muncul dari proses coba-coba berdasarkan apa yang diperlukan war-
ga dari berita. Di satu sisi sejarahnya berantakan, dan banyak pener-
bit jahat tumbuh subur bersama yang baik, jurnalisme dan norma-
normanya muncul dari lapangan, dari mereka yang bekerja dalam
periode lama, dari yang dicari warga sepanjang waktu. Kini, seiring
dengan konsumen yang makin kuat dan pemilih, elemen-elemen itu
tetap relevan. Teknologi mungkin mengubah cara pengiriman dan
bentuk berita, dan menciptakan dorongan ekonomi berbeda di an-
tara orang atau perusahaan yang menggeluti dunia pers, tapi ia tak
akan mengubah sifat dasar manusia dan nilai penting atas apa yang
perlu diketahui orang. Isu yang lebih mendesak adalah bagaimana
jurnalisme berubah untuk menjaga nilai-nilai itu di era baru.

Ungkapan Baru: Penjaga Pintu Plus

Langkah pertama adalah memahami cara baru memperoleh ber-


ita. Kita kini bersandar pada beberapa otoritas baru untuk memberi
tahu apa yang penting. Kita mendapat email dari teman; mendapat
berita dari sumber non-berita di jejaring sosial; membaca blog,
memilah melalui agregator, dll. Perilaku baru ini hanyalah satu di
antara banyak perubahan besar. Jarang sekali kita bersandar
pada sumber utama berita, institusi tunggal, untuk mendapat infor-
masi. Justru, kita menjadi “pemburu berita,” yang memperoleh informa-
si dari berbagai bentuk pada waktu berbeda. Hanya 7% warga Ameri-
ka yang mengandalkan satu media—katakanlah TV atau internet—
untuk kebanyakan berita mereka, atau kadang satu perusahaan
media. 3 Separuh dari warga Amerika mendapat berita dari 4-5 plat-
form beda tiap hari.4 Dan kini kita mendapat berita sepanjang hari,
dalam kepingan dan potongan, bukan dalam sekali waktu seperti
pada generasi lalu. Dua perubahan ini, ketergantungan pada sum-
ber beragam dan konsumsi berita berkelanjutan, merepresentasikan
pergeseran drastis yang berimplikasi besar terhadap pembelajaran
publik. Alih-alih mendapat satu berita menyeluruh dalam sekali
waktu dan berurutan, memindai koran atau menonton siaran berita,
186

kita kini memperoleh satu berita satu waktu, subyek demi subyek,
pada waktu berbeda dan dalam bentuk pecahan. Konsumsi berita
online, misalnya, melonjak selepas jam makan siang, setelah orang
mendengar sesuatu pada istirahat siang dan lantas balik kantor untuk
membacanya dan membaca berita lain. Ini menunjukkan berita tak lagi
terbendel oleh perusahaan media. Kita tak lagi membolak-balik koran
pagi favorit kita atau menunggu siaran berita petang untuk mendapat
informasi. Kita terus memeriksa berita untuk mencari berita yang
ingin diketahui. Artinya, kini kita mencari berita berdasarkan kisah
dan bukan berdasarkan perusahaan media.
Saat kita berburu berita, alih-alih bersandar pada yang disediakan
“penjaga pintu” berita dalam satu siaran berita atau koran, konsum-
si berita telah menjadi pengalaman yang lebih proaktif. Beberapa
pihak menyebutnya pengalaman “berorientasi ke depan,” di mana
kita mencari sesuatu yang kita minati—untuk menjawab pertanyaan
kita. Ia bukan lagi pengalaman “berorientasi ke belakang,” di mana
kita ongkang-ongkang kaki dan menunggu penyiar berita memberi-
tahu apa yang terjadi, atau membolik-balik koran.
Bergesernya ketergantungan pada satu perusahaan media se-
bagai penyedia berita utama adalah makna penting berubahnya
peran pers sebagai penjaga pintu. Kita belum meninggalkan nilai
sebagai produsen berita. Sumber berita tradisional versi online me-
mang mendominasi lalu-lintas informasi hingga ke level yang semula
tak diperkirakan banyak orang. (Dari 200 situs berita besar Amerika
pada 2010, sekitar 80% adalah sumber berita atau agregator berita
“warisan”—yang terafiliasi dengan media cetak atau TV, dan mereka
menarik 83% lalu-lintas internet. 5) Namun cara publik mengakses
situs ini berbeda dari yang pernah mereka lakukan terhadap media
saudaranya di cetak atau TV. Mereka bergerak di antara berbagai
sumber ini dengan frekuensi tinggi dan dalam waktu singkat. Yang
menduduki puncak daftar tujuan berita online adalah agregator (se-
perti Yahoo dan AOL) dan semi-agregator (macam CNN dan MSNBC)
yang memberi konsumen lebih banyak pilihan. 6 Publik, seperti yang
diprediksi sebagian orang, juga tak membatasi visi mereka dalam
mencari berita, menuju situs yang fokus hanya pada subyek favorit
mereka, atau yang membuat berita berdasarkan perspektif parti-
san. Ceruk atau situs berita khusus kurang populer dibandingkan
dengan situs dengan topik umum, dan rata-rata orang mengunjungi
Apa Yang Kita Perlukan Dari “Jurnalisme Era Baru” 187

situs khusus separuh dari biasanya dan waktu kunjungannya juga


separuh lebih sedikit. 7 Dengan kata lain, berbalik dari perkiraan ba-
nyak orang, analisis lebih dekat atas data keras itu menunjukkan
bahwa konsumen masih menginginkan nilai dan sumber berita tradi-
sional. Dan mereka masih menginginkan etalase berisi berbagai
subyek berita. Perbedaannya hanya pada cara mereka menuju sum-
ber berita. Kita berada di budaya konsumen berita berbasis per-
mintaan, yang mengakses apa yang diinginkan kapanpun.
Yang harus dipahami praktisi media adalah konsumen berita era
baru yang berorientasi ke depan ini mensyaratkan jenis jurnalisme
baru.
Dalam istilah lebih luas, jurnalisme mesti berubah dari sekadang
sebuah produk—berita atau agenda perusahaan media—men-
jadi pelayanan yang lebih bisa menjawab pertanyaan konsumen,
menawarkan sumber daya, menyediakan alat. Pada tingkat ini, jur-
nalisme harus berubah dari sekadar menggurui—mengatakan pub-
lik apa yang ia perlu tahu—menjadi dialog publik, dengan wartawan
menginformasikan dan membantu memfasilitasi diskusi. Terkadang
ia bisa berkembang menjadi konser berita yang melibatkan ang-
gota publik. Namun, bukan berarti profesionalisme dalam berita kini
usang, atau bahwa berita bertutur tak lagi relevan. Mereka, dengan
sendirinya, bagaimanapun juga, tak lagi cukup.
Ide pentingnya adalah: pers ke depan akan memperoleh integritas
berdasarkan jenis konten yang disampaikan dan kualitas pekerjaan,
bukan dari fungi eksklusifnya sebagai penyedia informasi tunggal
atau perantara antara sumber berita dan publik.
Untuk itu, pekerja pers harus mengganti ide tunggal dari pers
sebagai penjaga pintu satu-satunya, menjadi ide variatif yang lebih
baik berdasarkan keperluan konsumen akan berita—khususnya ber-
ita mendalam, ketimbang sekadar komentar dan diskusi. Kami menilai
ada delapan ukuran dan fungsi penting jurnalisme yang dibutuhkan
konsumen berita sekarang. Delapan fungsi ini, dengan kata lain, meng-
gambarkan ide jurnalisme sebagai layanan atau dialog. Beberapa di
antaranya tidaklah baru. Mereka menempel, atau mungkin tersembu-
nyi di balik ide ‘penjaga pintu.’ Beberapa di antaranya, berkat teknologi
baru, bisa dijalankan dengan bantuan warga atau media baru tempat
wartawan bekerja di luar institusi media besar. Kami berharap pem-
baca akan memodifikasi delapan hal ini, mengurangi atau menambah-
188

kan. Jurnalisme masa depan—yang lama dan yang baru—harus me-


ngacu pada bagaimana orang menggunakan berita dan apa yang me-
reka butuhkan dari wartawan.
Berikut ini delapan hal tersebut:

Otentikator (Pensahih): kita akan membutuhkan pers untuk


membantu mensahihkan fakta yang benar dan dapat dipercaya.
Meski kita tak melihat wartawan sebagai penyedia informasi tung-
gal, tapi kita tetap perlu beberapa cara untuk membedakan infor-
masi mana yang bisa dipercaya, dan beberapa bukti mendasar
kenapa demikian. Dengan banyaknya sumber yang memberi in-
formasi hari ini, peran ini mungkin akan kian penting ketimbang
sebelumnya. Kita perlu beberapa cara untuk memilah antara yang
bisa dipercaya dan akurat (di tengah belantara argumen yang kian
lebat), antara pokok pembicaraan dan plintiran, realitas alterna-
tif sumber partisan yang kini bicara terlalu bebas melalui jurnal-
isme pernyataan dan pengukuhan, dan dari media korporasi dan
partisan yang terus bertambah. Mereka yang bekerja di ruang re-
daksi yang lebih tradisional lebih independen, dan nonideologis
memiliki posisi lebih baik untuk membantu menjalankan fungsi
penyahih ini untuk kita. Institusi ini bercita-cita membangun oto-
ritas berdasakan akurasi dan verifikasi penilaian informasi yang
tak memihak, bukan dari hubungan ideologis dengan audien atau
sekadar sisi kecepatan dan cakupan yang luas. Untuk menjalankan
peran penyahih ini, tetap diperlukan tingkat keahlian lebih tinggi
di ruang redaksi, khususnya di cabang wilayah subyek mereka. Ia
juga akan memerlukan wartawan yang menyediakan informasi
dengan dokumentasi dan transparansi ekstra mengenai sumber
dan metode. Kita tak lagi bisa menganggap bahwa sesuatu bisa
dipercaya hanya karena ada di koran atau dari media. Peran pe-
nyahih akan jadi yang utama dalam ruh pembangunan otoritas
perusahaan media, dan juga elemen kunci yang masih relevan ke-
IV
Istilah ‘penyahih’ berasal dari kata ‘sahih’, yang berarti ‘benar, sempurna,
tiada cela’ (Kamus Besar Bahasa Indonesia/ KBBI edisi IV, 2008). Kami me-
makainya untuk menerjemahkan kata ‘authenticator’ yang dipakai Bill Kovach,
karena authenticator menguji fakta-fakta di lapangan menjadi sebuah kebena-
ran, yang tak lain adalah tindakan ‘menyahihkan.’ Dalam KBBI, ‘menyahihkan’
bermakna ‘menjadikan sesuatu dapat diterima karena dapat dipertanggung
jawabkan kebenarannya.’
Apa Yang Kita Perlukan Dari “Jurnalisme Era Baru” 189

tika mereka tak lagi memonopoli arus informasi atau perhatian


publik.

Sense Maker (Penuntun Akal): Jurnalisme juga sangat cocok me-


mainkan peran penuntun akal—untuk meletakkan informasi pada
konteks dan mencari kaitannya hingga konsumen bisa memutus-
kan apa makna berita itu bagi kita. Kami telah mendiskusikan di
buku ini, dan bicara panjang-lebar tentang berita yang memban-
gun makna. Kini perannya mesti dikembangkan. Peran ini benar-
benar menjadi lebih penting di tengah informasi yang kian melim-
pah. Berjibunnya suplai informasi membuat upaya membangun
pengetahuan menjadi kian sulit. Ini perlu dipahami. Ketika suplai
informasi membesar, pengetahun pun kian sulit diciptakan, sebab
kita harus melewati lebih banyak data untuk menuju ke sana. Ke-
bingungan dan ketakpastian membayangi. Dalam satu titik terten-
tu, ini menjelaskan kenapa jurnalisme pengukuhan kian populer.
Namun menguatkan prasangka, balik ke zona nyaman, adalah
cara keliru membangun makna, langkah mundur pembelajaran.
Untuk sampai pada pemahaman yang lebih bermakna, kita mesti
membuka, dan bukannya membatasi, pikiran terhadap informasi.
Wartawan verifikasi mesti membantu kita melakukan ini. Mereka
harus mencari informasi bernilai, tak hanya baru, dan menyajik-
annya dengan cara yang bisa dipahami sendiri oleh pembaca.
Membangun makna tidaklah sama dengan menginter-
pretasi berita. Kita semua bisa saja memaknai sendiri. Namun
upaya membangun makna mensyaratkan pencarian keterkaitan
antar fakta untuk membantu menjawab pertanyaan kita. Terma-
suk, mencari informasi yang menjelaskan kenapa dan bagaima-
na sesuatu terjadi. Perlu penjelasan tentang implikasi berita
dan mengenali pertanyaan yang tak terjawab—elemen ketujuh
dari 5W+1H yang kita bahas di Bab 3—dan membantu kita me-
nemukan pertanyaan apa yang lebih penting selanjutnya.
Peran penuntun akal, dengan kata lain, bukanlah sekadar peran
komentator. Ia bersifat mendalam, dengan pencarian fakta dan
informasi yang, sebagaimana tujuan penuntunan akal, men-
jadikan semua saling terkait.

Investigator: Wartawan juga harus melanjutkan fungsi sebagai


investigator publik, yang banyak diistilahkan sebagai peran anjing
190

penjaga. Jurnalisme yang mengekspos apa yang disembunyikan


atau dirahasiakan menjadi begitu penting dan esensial di pemer-
intahan demokratik, hingga nilai pentingnya begitu fundamental
bagi jurnalisme baru dan lama. Dan beberapa elemen di budaya
media kita kini kurang muncul sebab pada dasarnya ia adalah
fungsi investigasi yang berdasarkan verifikasi. Kita tak banyak
melihatnya dalam ketergesaan jurnalisme pernyataan atau jur-
nalisme pegukuhan yang interpretatif, propagandis, dan menem-
patkan audien sebagai kaki tangan partisan. Kecil kemungkinan ia
akan datang dari seorang blogger yang banyak menyajikan opini.
Pers berposisi sebagai jaksa independen yang menyortir, dan
dengan kekuatan lampu senternya, ia membentuk, tak sekadar
mengikuti, agenda baik dalam konteks membongkar pelanggaran
hak publik atau mengubah paradigma.

Witness Bearer (Penyaksi): Tak semua cahaya yang disorotkan


pers mengekspos pelanggaran, ada sesuatu yang kuat dan esensi-
al, tapi kurang diperhatikan, dalam pers dengan sekadar mengada
dan jadi saksi kejadian. Ini adalah fungsi pengawasan jurnalisme,
di tingkat yang lebih ramah dari fungsi anjing penjaga atau inves-
tigator. Ada hal tertentu di komunitas yang harus diamati, diawasi,
diteliti. Jika tidak, pemerintah dan pihak yang ingin mengeksploi-
tasi akan mengedepankan kepentingan pribadi daripada kebaikan
publik. Penyalahgunaan dan pelanggaran lebih mungkin terjadi.
Ini sejalan dengan aksioma yang berbunyi; kekuasaan cender-
ung korup, atau komunitas tanpa polisi akan lebih mengundang
kejahatan. Hal yang sama berlaku untuk lembaga non-pemer-
intah di komunitas kita. Di sini, pers memainkan peran penting
hanya dengan muncul, mengada di sana. Keberadaannya menjadi
cahaya yang memastikan demokrasi tetap hidup. Di era baru se

V
Alih-alih memakai kata ‘pembawa saksi’, kami memilih ‘penyaksi’ untuk
mentransliterasikan ‘witness bearer,’ karena istilah ‘pembawa saksi’ saja
tidak cukup mewakili makna yang dimaksud Bill Kovach. Melalui frasa ‘wit-
ness bearer,’ dia mengusung konsep peran jurnalisme sebagai ‘pembawa
saksi’ dan juga ‘saksi’ itu sendiri. Perlu diketahui, kata ‘penyaksi’ tidak ada
dalam KBBI, tetapi masih bisa dikorelasikan dengan kata ‘penyaksian’ yang
dalam KBBI bermakna ‘pemberian kesaksian.’ Dari situlah kata ‘penyaksi’
bisa dipahami sebagai ‘pemberi kesaksian’ baik dengan membawa saksi,
maupun menjadi saksi itu sendiri.
Apa Yang Kita Perlukan Dari “Jurnalisme Era Baru” 191

karang, pers yang lemah tak boleh merajalela. Langkah penting di


sini, minimal, adalah mengenali tempat yang mesti diawasi dalam
komunitas demi keutuhan dasar masyarakat sipil, dan hadir yang
dengan kehadirannya itu mengisyaratkan pesan kepada penguasa
bahwa mereka diawasi. Jika sumber dayanya tak ada, maka pers
juga harus menemukan cara untuk menciptakan dan mengorga-
nisir jaringan teknologi dan penjaga publik baru untuk memas-
tikan pengawasan berjalan. Di titik ini ada potensi dibentuknya
kemitraan baru dengan warga, ikatan baru yang bisa memperkuat
komunitas. Jika pers tak membantu menciptakannya, besar ke-
mungkinan kaum berkepentingan akan mengisi ruang ini dan
mengontrol arus informasi penting. Karena itu, penting dicamkan,
ketika mengalokasikan sumber daya, kita tak sekadar menghadir-
kan saksi lain atas kejadian yang sedang hangat diperdebatkan, di
mana pers tak sekadar menumpuk komoditas omongan yang bisa
didapat di mana saja. Pada kenyataannya, ini lebih menggoda. Ju-
rnalisme lebih mudah menggarap berita yang sudah dibicarakan
banyak orang, ketimbang fokus pada persoalan yang terlupakan.
Lebih mudah menambahi percakapan yang ada ketimbang men-
ciptakan yang baru. Namun untuk menghadirkan saksi, kita perlu
jurnalisme untuk melakukan upaya khusus mengumpulkan berita
yang tak dihiraukan orang lain, dan tak cuma meramaikan koor
yang sudah ada demi menggenjot lalu-lintas Web berita. Di titik
ini, media baru sangatlah kuat.

Pemberdaya: pers juga harus memberi alat yang me-


mungkinkan kita sebagai warga menemukan cara baru untuk
mengetahui. Salah satunya adalah menempatkan publik sebagai
bagian dari proses berita dan bukan cuma audiens. Ini adalah
pemberdayaan timbal balik. Warga diberdayakan untuk mem-
bagi pengalaman dan pengetahuan yang informatif pada pihak
lain—termasuk wartawan. Para wartawan diberdayakan de-
ngan mengejar pengalaman dan keahlian di luar sumber
formal dan resmi mereka. Kemitraan ini menguntungkan bagi
warga dan wartawan dengan mengeluarkan berita dari pola
ketergantungan pada sumber informasi dan ide terbatas dalam
membingkai dan menarik kesimpulan. Dialog dikembangkan,
membuat kita memahami proses, dan bukannya produk. Dan
ini semua diawali dengan kesadaran bahwa konsumen atau
192

warga adalah mitra penting, yang didengar dan dibantu, bukan


diceramahi. Proses kemitraan ini juga membantu jurnalisme
jadi lebih baik dengan memaksa mereka berpikir lebih keras
meletakkan informasi dalam konteks berguna, lengkap de-
ngan cara menyikapinya, dan memberi tahu bagaimana mereka
bisa melakukan itu, dan ke mana mereka bisa dapat informasi
lebih, bahkan ketika peristiwa masih berlangsung, tak hanya setelah
selesai. Hasil akhir dari semua itu adalah dialog berkesinambu
ngan.
Di sinilah titik di mana fakta dan keyakinan, dua ujung
spektrum pemahaman, akan bertemu. Anda harus percaya pada
kekuatan dan manfaat informasi. Wartawan harus memper-
cayainya agar bisa menjalankan jurnalisme jenis ini. Dan kon-
sumen harus meyakininya untuk belajar dan mengembangkan
pemahaman mereka. Wartawan dan konsumen juga harus saling
menghormati. Konsumen harus mengakui bahwa jurnalis berde-
dikasi mengejar fakta dan coba menyajikannya untuk membantu
konsumen menyimpulkan sendiri. Dan wartawan, baik di ruang
redaksi lama ataupun baru, harus menghormati kapasitas warga
memahami informasi dan menyikapinya.
Teman kami yang hebat, pakar jurnalisme dan profesor
Columbia University Jim Carey pernah menulis bahwa komu-
nikasi adalah percakapan. Dan produk percakapan ini adalah
terbentuknya komunitas. Esensi dan tujuan buku ini menentu-
kan “bagaimana mengetahui mana yang bisa dipercaya,” adalah
bentuk keyakinan atas proposisi tersebut.

Agregator Cerdas: Kita juga perlu bantuan memanfaatkan


kekuatan Web. Kita butuh agregator pintar yang menyisir Web
untuk kita dan bekerja melampaui kemampuan algoritma kom-
puter dan aggregator umum. Organisasi berita masa depan
mesti menyisir lanskap informasi, mewakili audien melaku-
kan pengawasan atas informasi lain yang mungkin membantu.
Ide dari “ruang berpintu,” di mana cuma perusahan media
yang menyajikan liputan, sudah mati. Agar perusahaan media
bisa benar-benar membantu, melayani konsumen berita yang
berorientasi ke depan, ia mesti juga mengarahkan audien ke
sumber Web lain yang dinilai penting. Inilah yang membuat
Web kuat. Kita akan menghargai sumber berita yang mem-
Apa Yang Kita Perlukan Dari “Jurnalisme Era Baru” 193

bantu kita memanfaatkan Web, tak cuma menambahkan balok


piranti Google di situsnya. Agregator cerdas seharusnya membagi
sumber yang dirujuk, kisah yang menurut mereka mencerah-
kan, berita informatif. Dan kami memakai istilah “agregator
cerdas” bukan tanpa alasan. Dengan cara sama yang dipakai
pers menjalankan fungsi penyahih dan penuntun akal, agrega-
si di sini harus bisa mengefisienkan waktu pembaca dan
mengarahkan mereka ke sumber terpercaya. Algoritma kom-
puter mungkin memberi kita pilihan tanpa batas dalam satu
daftar. Namun, jurnalisme agregasi pintar menyajikan setengah
lusin rekomendasi yang menurut pelaku media, sebagai sum-
ber pengetahuan, paling bernilai. Penulis individu dan blog-
ger telah melakukan ini. Ini adalah fungsi jurnalistik. Namun
mereka cenderung mengutip kisah yang hanya berisi infor-
masi yang ingin dibicarakan atau yang mendukung ide tulisan
mereka. Perusahaan media besar bisa melayani audiens sebaik-
baiknya dengan berbasis pada rekomendasi agregasi lebih luas,
mewakili audiens mengidentifikasi konten yang menyaji-
kan fungsi jurnalistik secara penuh. Redaksi menyisir Web
secara konstan agar bisa menginformasikan berita mereka
sendiri, dan lalu meneruskannya ke audiens. Kurasi adalah
pengetahuan.

Penyedia Forum: Para wartawan, khususnya yang lokal, juga


mesti membantu terbentuknya diskusi dan wacana yang melibat-
kan warga secara aktif. Koran cetak membantu menciptakan model
ini ketika menemukan konsep surat-pembaca pada abad 19, juga
halaman op-ed yang ditulis kontributor luar. Istilah “op-ed” adalah
kependekan dari opposite the editorials (bantahan editorial) yang
merujuk pada kolom yang ditulis warga komunitas, sebagai ban-
tahan terhadap suara dewan editorial koran, dan secara khas
muncul di balik halaman berisi editorial resmi koran. Kami meni-
lai akan berbahaya bagi masyarakat sipil, dan mungkin merugikan
perusahaan berita secara finansial, jika lembaga berita tradisional
membuang peran ini atau menyerahkannya pada pihak lain. Lem-
baga berita milik komunitas, baik baru maupun lama, bisa menjadi
ruang terbuka bagi warga untuk memonitor suara dari berbagai
sisi, bukan hanya dari mereka yang berideologi sama dengan kita.
Sebagai warga, kita semua punya hak mempunyai ruang publik
194

yang terbuka bagi siapapun. Jika praktisi media membayangkan


bahwa tujuan mereka adalah menginspirasi dan menginformasi-
kan wacana publik, maka membantu mengorganisir wacana terse-
but adalah fungsi logis dan layak. Kita semua pasti punya kepen-
tingan primer, di forum publik ini, yang dibangun dengan dasar
akurasi. Argumen yang dibangun berdasarkan fakta gadungan
dan rumor pasti dilihat sebelah mata di situ. Institusi berita men-
dalam adalah yang paling pas mengorganisir forum publik yang
berdasarkan informasi terpercaya.

Panutan: Pers era baru, khususnya yang terkait dengan pe-


rusahaan media lama, jika masih bertahan, tak bisa mengelak
dari fungsi sebagai role model (panutan) bagi warga yang
ingin membawa kesaksiannya sendiri dan sekaligus bertindak se-
bagai wartawan warga. Tak pelak lagi mereka akan berkaca pada
wartawan untuk melihat bagaimana pekerjaan ini dilakukan, me-
niru apa yang mereka lihat dan sukai, dan meninggalkan yang tak
mereka sukai. Beberapa perusahaan media telah melangkah jauh
dengan menyediakan pelatihan jurnalisme warga dan mengun-
dang mereka dalam rapat redaksi. Kita tentu menghargai itu. Na-
mun perlu ada sesuatu yang lebih. Wartawan mesti paham bahwa
tingkah-laku mereka, bukan cuma berita mereka, dilihat publik.
Dan pada satu titik yang tak mungkin dipahami konsultan pema-
saran dan merek, publik telah menangkap sinisme dan keburukan
di balik slogan “memihak anda,” untuk “mengabdi pada anda,”
dsb. Penurunan rasa hormat publik itu tercermin dari penggam-
baran media di banyak program hiburan atau bioskop, atau dari
turunnya tingkat kepercayaan publik terhadap pers dalam 30 ta-
hun terakhir. Di era digital yang kian terbuka, pers yang tak men-
jaga klaim konstitusionalnya hanya akan makin mengecewakan,
karena publik mengukur kinerja mereka berdasarkan harapan
yang terbaik, dan bukannya yang terburuk, pada jurnalisme.

Hampir semua fungsi ini telah ada sebelumnya. Namun kini


mereka jadi lebih dinamis. Jika kita ingin berita lebih berguna di
tengah perubahan cara kita mengonsumsinya, praktisi media mesti
secara profesional memikirkan fungsi tiap berita atau cuplikan kon-
ten bagi warga. Kini mereka tak cukup lagi hanya menyajikan berita
tiap hari tentang subyek yang dianggap terpenting. Mereka mesti pa-
Apa Yang Kita Perlukan Dari “Jurnalisme Era Baru” 195

ham tujuan yang dimiliki masing-masing berita untuk audien, pela-


yanan apa yang disediakan atau pertanyaan yang dijawab. Jika tak
menyajikan pelayanan apapun, ia hanya menyia-nyiakan waktu dan
sumber daya konsumen berita yang kian proaktif dan penuntut.
Berita dengan nilai terbatas atau sepotong-potong adalah tanda
bahwa sebuah media tak memberi cukup pelayanan.
Jurnalisme, dengan kata lain, tak menjadi usang. Ia hanya menjadi
lebih rumit.

Jurnalisme yang Lebih Baik

Di balik visi jurnalisme sebagai pelayan yang kian kompleks dan


berkembang, ada teknologi baru, yang sangat membantu pers, dan
perlu dikembangkan. Teknologi secara drastis memberi tanggung-
jawab dan kapasitas lebih bagi peliput dan pencari berita. Internet
tak hanya menciptakan jurnalisme baru; tapi membuat jurnalisme
lebih baik, yang menggali dan bersinggungan dengan publik lebih
dalam.
Untuk mendapat pengertian kongkrit tentang bagaimana teknolo-
gi memperkaya produk jurnalisme, lihatlah bagaimana media yang
lebih tua bereaksi terhadap berita, versus platform media digital.
Dalam sebuah berita suratkabar, wartawan mungkin mampu me-
nyajikan enam elemen dalam liputannya:

1. Narasi utama atau kisah berita


2. Feature sisi lain atau kolom analisis
3. Fotografi
4. Headline
5. Grafik atau boks informasi latar belakang
6. Sebuah “kutipan pemancing,” kutipan atau potongan
dramatis dari artikel yang dicetak lebih besar untuk menarik
perhatian pembaca terhadap isi berita.

Web bisa memberi elemen jauh lebih beragam dalam memberi-


takan peristiwa sama. Daftarnya terus bertambah—dari hitungan
kami sekarang, item lampiran, semuanya. Selain tambahan narasi
utama, grafik, dan foto, situs berita bisa menggunakan dokumen asli,
biografi pembuat berita, tokoh di latar-belakang, arsip berita terkait,
daftar komentar pembaca yang terus bertambah, dan lain-lain. Kami
196

menyajikan daftar pendek elemen tersebut, dan pembaca mungkin


bisa menambahkan yang lain:

1. Grafik yang bisa diatur atau diubah pengguna


2. Galeri foto (yang dibuat oleh staf ataupun warga)
3. Tautan yang menempel di kata kunci berita yang mengarah
kan pembaca ke definisi atau elaborasi
4. Tautan menuju pembuat berita dan organisasi yang disebut
di berita dengan biografi dan detil lain
5. Tautan yang mendukung fakta kunci dalam berita, termasuk
dokumen atau materi utama
6. Transkrip lengkap wawancara
7. Wawancara video atau audio
8. Biografi penulis berita
9. Jadwal interaktif berisi peristiwa kunci yang menjadi latar
belakang kejadian berita sekarang
10. Basis data yang relevan dengan berita dan bisa dilayari, be
berapa ada di situs media tersebut, beberapa diarahkan ke
situs lain, termasuk situs pemerintah
11. Daftar pertanyaan yang sering diajukan soal isu yang terkait
dengan berita
12. Tautan menuju blog yang juga mengupas atau bereaksi terha-
dap berita tersebut
13. Undangan masuk ke materi “sumber khalayak” di berita atau
pertanyaan yang muncul dari berita itu—saat media minta
informasi pada pengunjung tentang elemen berita yang be
lum lengkap
14. Kesempatan bagi warga untuk memberi tahu media tentang
informasi yang ingin mereka ketahui
15. Latar belakang tentang apa yang bisa dikerjakan pembaca
terkait dengan isu yang diberitakan
16. Tombol untuk “membagi berita ini” ke situs sosial media se-
perti Digg dan Reddit
17. Koreksi dan update berita, dengan crossout dan ad-denda
yang dimasukkan langsung ke teks asli

Dibandingkan dengan kondisi yang melingkupi media cetak, data


yang melingkupi jejaring informasi di Web kian padat, luas, dan dalam.
Web menyajikan potensi liputan lebih kaya dan karenanya pemaha-
Apa Yang Kita Perlukan Dari “Jurnalisme Era Baru” 197

man yang lebih baik. Namun memproduksi liputan seperti itu jauh
lebih menantang. Sulit bagi satu media memproduksi semua elemen
ini, bahkan untuk berita yang terpenting. Audien juga tak bisa me-
nyerap semuanya. Karenanya, mereka yang meliput berita demikian
harus jauh lebih pandai, dan berlatih cara menilai secara jauh lebih
tajam, tentang elemen mana yang paling cocok dengan jenis berita
tertentu.
Pemimpin media besar yang menjalankan ruang redaksi pada
abad 21 mungkin bukanlah koresponden termasyhur dalam operasi
ini. Jurnalis yang terjaring tim pencari bakat, mungkin, malah menjadi
orang yang punya intuisi merasakan perangkat tambahan mana dari
daftar di atas yang paling cocok dengan berita tertentu. Dan proses
“liputan” berita harus diubah untuk bisa mengoptimalkan perangkat
itu. Di ruang redaksi media lama, reporter secara tradisional dikirim
pada pagi hari untuk “menggarap berita.” Mereka semua lalu bersa-
ing mendapat spot di siaran berita atau halaman muka, dan lantas
keputusan dibuat tentang di mana dan berapa panjang masing-mas-
ing berita akan diterbitkan. Kini prosesnya berbeda. Alasannya, ber-
ita masuk terus-menerus, dan editor serta produser secara konstan
harus memutuskan mana gambar interaktif, database, biografi, berita
warga, atau elemen lain yang layak muat.
Pada tingkat tertentu, elemen berita dipecah menjadi komponen
terpisah. Di tingkat lain, berita diberi konteks lebih lengkap karena
ada hal lain yang bisa dikaitkan. Intinya, format digital dengan tau-
tan mengajak pembaca menjelajah dan membaca secara horizontal,
ketimbang secara linier dan “vertikal” dari awal hingga akhir beri-
ta. Informasi berjaringan juga mengajak partisipasi. Internet penuh
dengan aplikasi dan kesempatan yang mendorong orang berbagi
informasi, bereaksi, dan menambahkannya. Perkawinan antara
media cetak dan media lain memungkinkan berita muncul dalam
berbagai bentuk.
Di situasi ini, wartawan yang dulu ibaratnya membangun rumah
dengan hanya bermodal palu, gergaji, obeng, dan tangga, kini bisa
memanfaatkan semua alat yang dijual di toko bangunan.
198

Ruang Redaksi Baru

Untuk menjawab peran baru yang diperluas ini, untuk memakai ke-
mampuan ini, perubahan lain mesti dilakukan. Ruang redaksi masa
depan harus diatur dan dijalankan secara berbeda, baik ruang reda-
ksi media lama yang mencoba beradaptasi atau ruang redaksi online
yang baru lahir. Singkatnya, ia mesti membangun budaya jeli dan
beragam.
Bagaimana ruang redaksi mesti berubah?

Level Pembuktian Harus Lebih Tinggi

Pertama, jika publik ingin wartawan membantu mereka menyahih-


kan dan membangun makna atas sesuatu yang mungkin sudah dipe-
lajari di tempat lain, level pembuktian yang disajikan pers harus lebih
tinggi dari sebelumnya. Dulu mungkin jurnalis medis butuh seminggu
untuk menulis perkembangan baru perawatan kanker payudara dan
bisa menyediakan informasi baru kepada kebanyakan pembaca yang
peduli dengan penyakit ini, dan juga kepada beberapa pengidapnya.
Kini, orang yang memiliki ibu penderita kanker mungkin telah ber-
tahun-tahun mencari info tersebut di Internet tentang riset terbaru.
Sepekan yang dihabiskan wartawan untuk menulis berita itu tak lagi
sepadan. Wartawan kini mesti melakukan sesuatu yang benar-benar
beda. Menyajikan level baru pembuktian akan menjelaskan bagaima-
na itu bisa terjadi. Artinya, semua yang telah didiskusikan di buku
ini—bukti, verifikasi, pemilahan sumber, dan item lain yang menam-
bah kelengkapan cerita—jadi kian penting, dan menantang.

Jurnalisme Harus Kian Transparan

Pers harus lebih transparan tentang bagaimana dia memverifikasi


berita, sehingga publik bisa tahu mengapa pers mesti dipercaya dan
mereka bisa membangun proses verifikasinya sendiri. Suara narator
yang sok tahu dalam berita, yang hanya meyakinkan audien, tak lagi
cukup. Karena pers bukan lagi satu-satunya sumber berita, otoritas-
nya mesti dibangun melalui cara pengumpulan dan penyahihan fak-
ta. “Bagaimana kamu bisa tahu? Kenapa aku harus percaya?” adalah
pertanyaan yang kini diajukan audien, dan wajib dijawab wartawan.
Transparansi baru seperti itu mengubah dinamika pers.
Apa Yang Kita Perlukan Dari “Jurnalisme Era Baru” 199

Transparansi kian mendekat untuk menyampaikan makna asli dari


apa yang kemudian disebut ‘obyektivitas dalam berita.’8
Kami telah menyebut ide transparansi tersebut di sepanjang
buku ini dan mengulasnya lebih luas di The Elements of Journalism.
Transparansi adalah alat ukur kepercayaan terbaik di dalam infor-
masi yang disediakan perusahaan pers. Transparansi adalah cara
mereka menciptakan kredibilitas. Ia menunjukkan berapa banyak
pemikiran kritis telah dibuat sebelum pernyataan apapun tentang
apa yang benar dan tidak benar muncul, yang nyata dan tidak nya-
ta—melingkupi apakah perusahaan pers menghargai nilai hubungan
yang lebih bermakna dengan audien yang lebih terpelajar.
Ide dasar transparansi cukup sederhana: jangan pernah menipu
audien. Katakan pada mereka apa yang anda tahu dan apa yang anda
tidak tahu. Katakan pada mereka siapa sumber anda, dan jika anda
tak bisa menyebut sumber, katakan pada mereka di posisi seperti apa
sumber tersebut sehingga dia bisa tahu dan bias apa yang mungkin
dia miliki. Dengan kata lain, sediakan informasi itu sehingga orang
bisa melihat bagaimana ia dibangun dan bisa membentuk sikap ten-
tang apa yang dipikirkan.
Di dunia yang kompleks dan riuh ini, kami yakin para wartawan
perlu tetap berpikiran terbuka—tak hanya terhadap apa yang mereka
dengar tapi juga tentang kemampuan mereka memahami. Wartawan
tak boleh berasumsi. Mereka mesti menghindari sikap arogansi ter-
kait dengan pengetahuan dan harus memastikan telah memasukkan
asumsi mereka ke dalam proses verifikasi.

Pers Harus Membangun atau Mengasah Keahlian

Pers era baru juga harus membangun keahlian lebih, khususnya di


wilayah yang sudah diputuskan akan digarap oleh perusahaan pers
dan menjadi tempat untuk membangun merek. Dalam era baru jur-
nalisme, masing-masing media tak bisa bagus secara merata di se-
gala bidang. Era spesialisasi telah dimulai. Pada era di mana pers tak
lagi memonopoli, ia mesti membangun otoritas dengan menyediakan
pengetahuan.
Jejaring yang disediakan oleh teknologi baru telah secara drama-
tis meningkatkan kemampuan kita untuk menemukan banyak ahli,
sudut pandang, data, dan banyak cerita dalam proses mencari dan
membagi informasi faktual dan terpercaya.
200

Salah satunya, bernama Public Insight Jurnalism, membantu Min-


nesota Public Radio mengumpulkan jaringan e-mail dari ribuan pen-
dengar dan kontributornya. Jaringan itu berisikan orang yang setuju
menyediakan beberapa latar-belakang detil dan informasi personal.
Mereka dikelompokkan berdasarkan profesi, lokasi, umur, agama, et-
nis dan minat. Perusahaan pers mengirim pertanyaan seputar berita,
memindai dan memilih respon yang mengandung perspektif atau
wawasan khusus atas subyek berita.
Database ini diaktifkan untuk berita tertentu oleh tim analis dan
reporter, yang memilih orang di jaringan mereka yang memiliki pelu-
ang terbesar untuk membantu. Reporter lantas bekerja dengan orang
yang terpilih itu untuk memproduksi laporan. Penggunaan “sumber
khalayak” ini sering menghasilkan kisah personal yang menggigit
dan memiliki pendapat ahli luas, dan sering berujung pada peluang
munculnya berita baru yang tak terduga.
Ketika harga bensin mulai naik pada 2008, media seluruh
Amerika fokus pada dampaknya terhadap perjalanan akhir pekan
dan rencana liburan. Jaringan Public Insight Journalism memilih me-
nyuruh reporternya mengejar fakta bahwa kenaikan harga bensin
membuat penyedia layanan kesehatan pedesaan sulit mendatangi
pasien mereka, sehingga melahirkan berita tentang kesehatan pub-
lik yang jauh lebih penting untuk dikupas.9 Setelah itu, media lain
mengekor.The Guardian di Inggris mempekerjakan publik dalam
pengumpulan berita melalui berbagai cara berbeda dari selu-
ruh pendekatan berita yang pernah diterapkan sebelumnya, yang
kemudian disebutnya “mutualisasi.” Inilah masa depan.

Ruang Redaksi Harus Ditata Ulang dan Perangkat Kecakapan


Baru Ditambahkan

Hal terpenting dari banyaknya piranti baru yang kini tersedia bagi
wartawan, adalah jurnalisme seharusnya bisa berbuat lebih dari
sekadar bertutur. Informasi mesti hadir dalam lebih banyak bentuk—
statistik, grafik, suara, video, gambar. Teknologi yang memungkink-
an interaksi antara konsumen dan wartawan, untuk bersama-sama
menganalisa usulan bujet, misalnya, harus menjadi bagian lebih be-
sar dari jurnalisme. Untuk memanfaatkan piranti baru ini wartawan
harus menata ulang ruang redaksi.
Ruang redaksi biasanya telah menjadi organisasi yang san-
gat sederhana, khususnya di media cetak dan radio. Ada penutur
Apa Yang Kita Perlukan Dari “Jurnalisme Era Baru” 201

cerita dan mantan penutur cerita yang mensupervisi mereka. Ruang


redaksi ini juga mengakomodasi fotografer dan beberapa seniman
grafis dan, yang terbaru, beberapa staf teknologi informasi. Budaya
ruang redaksi cetak dan radio, bagaimanapun juga, didominasi penu-
tur cerita naratif. Sangat jarang seorang fotografer atau seniman
grafis naik posisi dan menggeser peran penting kelompok narasi
tersebut. Di sisi lain, ruang redaksi televisi selalu lebih kompleks,
menyusul kekuatan dan peran sentral gambar. Ia diorganisir dalam
tim, dan, pada level elit jaringan TV, produser yang tak pernah mun-
cul di kamera maupun mengoperasikan kamera bisa sangat berpen-
garuh. Akhirnya, kekuasaan dipegang produser program dan ekse-
kutif jaringan di atas mereka. Bahkan budaya ini pun masih relatif
sederhana, dan secara tradisional anchor, koresponden dan produser
mendominasi.
Ruang berita modern di semua media tersebut harus menjadi jauh
lebih rumit dan akomodatif, menghormati lebih banyak perangkat
keahlian dari yang ada sekarang. Pemilik perangkat keahlian yang
perlu dihormati termasuk programmer, manajer database, manajer
informasi (dulu disebut pustakawan), dan periset data yang tak men-
ulis. Ruang redaksi modern bahkan bisa jadi perlu staf metodologis,
seseorang yang mencari data dan membantu reporter tahu statistik
seperti apa yang masuk akal dan yang tidak, analisis data macam apa
yang logis dan yang cacat. Ruang redaksi modern mungkin perlu ak-
ses khusus ke beberapa sejarawan lokal yang bisa dilibatkan dalam
rapat atau perencanaan berita yang diliput. CBS News secara sing-
kat bereksperimentasi dengan melibatkan publik dalam rapat reda-
ksi berita pagi secara online. Di Sacramento Bee, kawan dekat kami
yang juga editor eksekutif Gregory Favre membuat program di mana
warga ikut rapat redaksi untuk memutuskan apa yang akan muncul
di halaman muka tiap seksi koran. Tiap warga akan berpartisipasi
dalam proses dua arah itu selama seminggu. Mereka biasanya diam
pada hari pertama, lalu benar-benar terlibat aktif dalam seminggu
itu. “Saya selalu berpikir bahwa, jika kita takut berbicara dengan
pembaca dan takut mendengar apa yang mereka katakan, tak peduli
bagaimana penyampaiannya, kita pun menjadi picik dan arogan. Jika
kita takut pada audien kita, kita tak akan sukses,” kata Favre.
Semula, definisi kecakapan ruang redaksi sangat terbatas,
dan turut andil membuat budaya jurnalistik terlalu ketat. Namun
kemajuan teknologi dekade lalu meruntuhkan budaya dan model
bisnis demikian.
202

Salah satu hal yang mengembalikan media lama, dan tentu saja
membuktikan kelemahan manusiawinya, adalah ia tak paham kekua-
tan esensial Web dalam hal agregasi. Pemahaman ini menempel di
mentalitas para penulis kode komputer, yang memprogram, mem-
bayangkan pemanfaatan kekuatan Web itu sendiri ketimbang seka-
dar menggunakannya sebagai platform untuk mendistribusikan
beberapa konten asli. Perusahaan media lama punya kesempatan
menciptakan (dan kemudian, dalam beberapa kasus, membeli) situs
yang datang untuk merusak dasar ekonomi mereka, seperti eBay,
Craiglist, Google, Realtor.com, dan Monster.com. Namun, mereka
membuang kesempatan ini begitu saja karena tak secara mendasar
memahami nilai yang bisa dimainkan teknologi ini. Mereka tak me-
nambah bisnis dadakan yang menghasilkan pemasukan untuk media
lama. Mereka tampak seperti bisnis berbeda, dan memang begitu.
Namun yang gagal dipahami perusahaan pers adalah fungsi mereka
secara esensial sama. Organisasi berita masa depan perlu memikir-
kan dan mengidentifikasi ulang tujuan utama mereka.
Jurnalisme lebih dari sekadar bercerita. Ia bisa berbuat lebih jauh
dari sekadar memproduksi narasi. Dan ia seharusnya juga tak cuma
menyalurkan iklan di sela narasi tersebut. Pengetahuan publik jauh
lebih luas dari itu. Dan jika perusahaan pers terus mendefinisikan
diri mereka sendiri secara tradisional, dengan cara terbatas—seb-
agai deskripsi produk yang dihasilkan ketimbang fungsi melayani
kehidupan publik—peluang jurnalisme dan nilai yang dikandungnya
untuk bertahan pun kian tebatas.
Media lama selalu saja mengklaim meliput isu yang menjadi
perdebatan publik. Dalam realitas, ia lebih banyak meliput debat res-
mi, di gedung kantor publik antar para ahli yang mapan. Bagaimana-
pun juga, ia jauh lebih terbatas dalam meliput debat antar orang di
meja makan. Kebangkitan media baru jauh lebih unggul dalam hal
memperluas diskusi publik ini. Ia telah membuat publik menjadi leb-
ih nyata dan sehat. Ini, dalam banyak cara, menjadi jembatan antara
media lama dengan yang baru.

Peran Editor Akan Lebih Penting, Bukannya Berkurang

Meski terlihat berseberangan dengan logika sederhana banyak orang,


di tengah jurnalisme yang kian rumit, peran editor justru makin pent-
ing. Pertama-tama, editor tak bisa lagi cuma mengedit naskah. Mer-
Apa Yang Kita Perlukan Dari “Jurnalisme Era Baru” 203

eka harus memahami mana di antara daftar piranti baru jurnalisme


yang mesti digunakan untuk berkomunikasi. Dan yang terpenting,
mungkin, mereka harus mengkurasi dialog yang berkembang dengan
audien, demikian juga dengan materi di Web. Pelopor media baru
memahami ini. Jay Rosen dari New York University, ketika mem-
buat NewAssignment.Net, eksperimen liputan open source pertama,
menjelaskan begini: “Media yang membuka diri terhadap kebijaksa-
naan khalayak rentan terhadap aksi gerombolan. Bermaksud mem-
bantu, relawan malah bisa mengarahkan laporan dengan tanpa sa-
dar. Melalui portal yang dilabeli “warga,” penyusup yang dibayar juga
bisa masuk.”10 Untuk mencegah itu terjadi, Rosen menyarankan, be-
berapa elemen mulai dari kebijakan pribadi pengguna, mempermu-
dah verifikasi sebuah bagian Web, dan menjadikan verifikasi sebagai
bagian kritis dari kerja editor. Pada model lama, editor bergantung
sepenuhnya pada reporter untuk mendapat fakta yang benar. Di era
baru, dengan keterlibatan audien dalam pembuatan berita sebagai
bagian dari proses liputan atau menyempurnakan pascapublikasinya,
verifikasi menjadi tugas lebih besar bagi editor, dan bukannya lebih
kecil. “Kita kini berada di era volume,” tulis wartawan Gary Kamiya di
Slate.com. “Editing adalah tentang penyempurnaan.. Di dunia online
baru yang karut-marut, sistem pemilahan informasi kuno, elitis, dan
tak demokratis menjadi penting karena ia melakukan pengurangan
yang sehat terhadap pilihan di antara jejalan pemikiran yang mem-
banjir.”11

Definisi Berita Harus Berubah


Pada akhirnya, makna tersirat di balik dikembangkannya peran baru
pers adalah berita menjadi jauh lebih kompleks dari yang dipikirkan
banyak orang. Kita telah mendiskusikan itu di sepanjang buku ini, men-
genai tipe berita dan model pencarian berita yang berbeda-beda, dari
fakta baru berita kilas hingga laporan singkat tegas oleh jurnalisme
anjing penjaga. Namun pers harus jauh lebih sadar mengenai fungsi
yang dijalankan masing-masing artikel atau konten berita kilas yang
diproduksi. Pers harus bertanya, Bagaimana orang memakai konten
ini? Bagaimana ini membantu mereka? Apa nilainya? Apalagi yang bisa
dikerjakan selain itu?
Perusahaan pers yang bisa bertahan adalah mereka yang bisa
menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.
Yang tak bisa, siap-siaplah binasa.
204

Perusahaan Pers sebagai Pembuat dan Penyebar


Pengetahuan

Semua yang telah kita diskusikan sejauh ini berpusar pada ide bahwa
perusahaan pers, lama ataupun baru, harus memahami dan menetap-
kan fungsi yang mereka jalankan dalam kehidupan keseharian pub-
lik agar bisa bertahan dan diterima. Kami ingin memanfaatkan me-
nit selanjutnya untuk membahas pertanyaan tentang tujuan esensial
jurnalisme. Jika perusahaan lokomotif dan kereta disebut membuat
kesalahan fatal hanya karena tak paham dirinya bermain di bisnis
transportasi, lalu bagaimana dengan perusahaan pers?
Lupakan dulu soal bentuk. Lupakan juga tentang teknik. Dan
budaya. Mari kembali ke pertanyaan; fungsi apa yang diperankan
ruang redaksi dalam komunitasnya? Apa tujuan esensialnya, selain
beroleh laba.12
Menuturkan cerita bukanlah jawabannya. Demikian juga dengan
menyampaikan berita, atau bahkan memonitor pemerintah. Semua
itu sudah menjadi bagian tak terpisahkan sepanjang sejarah jurnal-
isme. Menurut kami, fungsi esensial jurnalisme terkait dengan ses-
uatu yang lebih luas dan konseptual, dan masa depan jurnalisme ber-
gantung pada peran untuk merangkul gagasan yang lebih luas ini.
Organisasi pemberitaan adalah tempat yang mengakumulasi dan
menyintesis pengetahuan seputar komunitas, baik komunitas secara
geopolitik maupun komunitas yang dialasdasari kesamaan topik
atau minat, dan lantas menyodorkan pengetahuan secara interaktif
melalui berbagai cara.
Iklan tradisional adalah salah satu bentuk pengetahuan itu—
iklan penjualan peralatan dan layanan, terutama yang baru keluar.
Daftar dan papan pengumuman adalah bentuk lain. Begitu juga dengan
komunitas pakar dan pihak berwenang. Secara logis, tiap pengala-
man atau daftar sumber reporter adalah jenis pengetahuan yang
diakumulasi dalam ruang redaksi, yang disaring dan dikontrol tiap
reporter tapi pada akhirnya bisa dinikmati audien berkat kerja re-
porter.
Di luar itu, ada jenis pengetahuan lebih abstrak yang diakumulasi
dan disediakan ruang redaksi, yakni jawaban pertanyaan seperti;
bagaimana sebenarnya kinerja kantor walikota? Siapa yang bisa di-
percayai dan tidak dipercayai di kota? Siapa yang layak didengar keti-
Apa Yang Kita Perlukan Dari “Jurnalisme Era Baru” 205

ka ngomong soal ekonomi lokal? Siapa saja badut kota, yang memper-
mainkan diri sendiri tanpa menyadarinya? Siapa orang di kota yang
patut dikasihani karena jadi korban nasib buruk? Siapa yang patut
dihormati? Di mana warung sate terenak? Semua itu adalah contoh
pengetahuan yang dikumpulkan ruang redaksi, jenis pengetahuan
institusional di memori publik. Pengetahuan yang tertinggal dan tak
terpublikasikan di ruang redaksi masih lebih banyak ketimbang yang
dipublikasikan. Ruang redaksi, sebagai abstraksi, menyebarkan pen-
getahuan dalam bentuk yang sangat terbatas—yakni kisah individu.
Persoalannya, perusahaan media tak pernah merasa perlu benar-
benar mengerti peran ini secara konseptual seperti itu. Mereka
mengejar aspek finansial. Mereka hanya dituntut membuat produk
yang sama seperti sebelumnya, memolesnya di beberapa tempat,
menemukan cara baru membuat berita atau topik untuk diliput. Hasil-
nya, kebanyakan pengetahuan yang selama ini ada di ruang redaksi
tak sampai ke publik. Mereka tertinggal di file, atau di kepala reporter
dan editor. Perusahaan media umumnya tak berpikir tentang produk
baru atau cara baru menyebarkan pengetahuan. Dan cara pandang
sempit nan saklek dalam menyampaikan pengetahuan ke publik
menjadi salah satu alasan industri ini kehilangan kesempatan bisnis
baru, baik itu kegagalan untuk beralih menjalankan fungsi pencarian
dan agregasi, atau berpangku tangan ketika pihak lain membangun
media online superior yang memenuhi klasifikasi di atas.
Dalam memahami definisi yang lebih luas ini—fungsi yang di-
jalankan ruang redaksi dalam komunitas, peran yang dimainkan,
ketimbang produk yang sibuk dibuat—menurut kami organisasi
pemberitaan bisa menemukan beberapa jawaban yang dibutuhkan
untuk maju. Salah satunya adalah menemukan bisnis baru yang
bisa diuangkan.
Jenis pengetahuan apa yang telah dikumpulkan perusahaan me-
dia dan belum dieksploitasi? Jenis pengetahuan lain apa yang bisa
mereka kumpulkan? Pasar mana yang bisa disasar pengetahuan itu?
Bagaimana cara menyebarkan? Dan bagaimana ia bisa diuangkan?
Pertanyaan seperti itulah yang dipakai Silicon Valley ketika menguji
potensi pasar negara berkembang sebelum membuka perusahaan
di sana. Tantangan perusahaan pers adalah mereka memiliki bis-
nis yang tenggelam di satu sisi, tapi merekah di sisi lain. Sayangnya,
sebagian besar berpikir dengan pola bisnis lama. Mereka bekerja
seperti Wall Street, bekerja melalui horizon jangka pendek di industri
206

tua tersebut, dan diawaki orang-orang yang dibesarkan budaya lama.


Di sisi lain, daftar model bisnis baru bermunculan: komunitas jual-
beli dan biaya transaksi virtual; koleksi data yang dijual ke audien;
layanan riset dan pencarian berbayar; situs khusus untuk audien
profesional; riset dan konsultasi audien; iklan real time berdasarkan
kedekatan lokasi; dlsb.
Satu-satunya cara organisasi pemberitaan bisa menyongsong
masa depan adalah dengan memahami fungsi yang dimainkan dalam
kehidupan manusia. Inilah perbedaan cara berpikir eksekutif peru-
sahaan kereta yang menganggap dirinya bermain di bisnis rel, dan
cara berpikir mereka yang menganggap dirinya menjalankan bisnis
transportasi.
Orang lain akan memperbaiki definisi yang telah kami sajikan di
sini. Dan pastinya kami berharap ada orang lain yang menemukan
cara lain bagi organisasi pemberitaan untuk menciptakan dan men-
guangkan pengetahuan sipil. Namun, masa depan jurnalisme terletak
pada fungsi yang dimainkan berita dalam keseharian publik, bukan
pada teknik dan praktik ruang redaksi abad 20 yang sudah lewat.

Unit Atomik Baru Dalam Berita

Jika persoalannya adalah nilai berita dalam kehidupan kita, dan


bukannya soal bentuk atau format yang dipakai berita pada masa
lalu, maka kita harus memakai cara berpikir baru tentang bagaimana
berita disajikan. Bercerita dan berkata-kata, yang meski bukan lagi
elemen berita satu-satunya, masih menjadi pusatnya. Namun bukan
berarti kita harus terpaku pada bentuk tradisional penuturan kisah.
Dalam banyak hal, berita harian merupakan artefak abad 19,
ketika berita disampaikan melalui koran dan seluruh versi baru di-
produksi tiap hari.
Di era internet, ide mengenai berita yang tak tahan lama, atau
berita harus segar tiap hari, adalah usang. Berita kini bisa menjadi hidup,
tumbuh, tiap hari. Di sini, kita mendapati ide yang menghantam secara
telak, meski juga ada ide lain. Ide ini salah satunya muncul dari eksekutif
Silicon Valley, Marissa Mayer dari Google, bukan dari ruang redaksi.
Idenya tak mengubah bentuk naratif berita. Namun, ia menambahi berita
harian, menciptakan “unit atomik” baru dalam berita. Unit atomik ini bisa
menjadi sesuatu yang lebih mirip laman Wikipedia ketimbang berita har-
ian. Sebut saja ia “laman pengetahuan.” Ia memiliki akun berjalan tentang
Apa Yang Kita Perlukan Dari “Jurnalisme Era Baru” 207

segala hal yang dalam organisasi pemberitaan disebut sebagai subyek,


dan ia tak diganti melainkan dibangun, sejalur dengan entri ensiklopedia
yang hidup, sesuatu yang bahkan lebih kaya dan dinamis dari entri Wiki-
pedia, yang lebih lengkap dari berita terbaru hari ini. Ia akan meliputi
seluruh materi yang dikumpulkan organisasi pemberitaan, diorganisir
dengan cara yang memudahkannya ditemukan dan dipindai. Di kerang-
kanya akan ada sumber ringkasan atau narasi topik yang beriringan. Ia
akan jadi cara baru nan ampuh untuk “menuturkan” berita plus mengum-
pulkan dan mengorganisir pengetahuan sipil. Untuk mempelajari sesuatu,
konsumen tak perlu lagi memburu arsip berita masa lalu, atau “klip,” atau
mengumpulkan narasi lebih besar dengan membaca tiap akun atau berita
terpisah satu persatu. Laman pengetahuan bisa memiliki seksi ‘Apa Yang
Baru’ berisikan berita-berita terbaru. Dan tak cuma itu. Termasuk pusat
sinopsis, dan tabel isi, yang bisa mengarahkan orang langsung ke sumber
dan piranti yang dikumpulkan organisasi pemberitaan. Dari aspek komer-
sial, ada keuntungan lain. Daripada mengarahkan orang pada URL berbe-
da atau halaman Web berisi tiap kejadian tambahan, organisasi pemberi-
taan akan punya laman utama dengan satu URL yang menghasilkan lalu
lintas jauh lebih padat dan karenanya bisa diamortisasi atau diuangkan
lebih jauh.
Pada akhir 2009, Google bekerja sama dengan Washington Post dan
New York Times menjajal versi ide ini, yang disebut “The Living Story.”
Dibangun bersama wartawan dua koran itu, ia didesain memakai teknolo-
gi baru untuk menyajikan halaman yang berdiri sendiri, atau hidup, yang
memberitakan kisah kejadian utama yang berlangsung, seperti reformasi
layanan kesehatan atau politik pemanasan global. Uji coba berlangsung
Desember 2009 hingga Febuari 2010. Ia punya banyak kebaikan, tapi juga
persoalan. Salah satunya adalah ia berada di Google. Ia tak secara funda-
mental dibangun seperti halnya berita bersambung yang coba dibangun
Post atau Times di situs mereka. Problem lainnya, ia sangat bergantung
pada penggunaan gambar dan teknologi untuk mengilustrasikan cerita. Ia
bukanlah, sebagaimana kita lihat dari kejauhan, sebuah cara untuk secara
fundamental memikirkan ulang bagaimana cara menulis kisah yang tak
berakhir seperti berita harian yang langsung hilang, melainkan jadi akun
berita tunggal berjalan yang lebih padu, komplit, dan berguna. Eksperi-
men itu gagal, tapi ide di balik itu, menurut kami, cukup penting. Ia mesti
dicoba lagi dalam bentuk yang dimiliki organisasi pemberitaan dan dilihat
sebagai upaya untuk menulis berita dengan cara baru, bukan menciptakan
eksperimen desain dan gambar.
208

Perlukah Kita Memperhatikan Institusi Berita Lama?

Akhirnya, satu pertanyaan yang masih mengemuka adalah sampai tingkat apa
keberlangsungan institusi berita di masa lalu itu kita masih perlu diperhati-
kan.
Mungkin kita tak perlu repot memikirkan itu. Tulisan bagus datang dan
pergi. Demikian juga dengan alat tulisnya. Banyak koran besar kini tinggal
sejarah. Era kompetisi koran kota besar secara umum berakhir, dan dibarengi
profesionalisme dan tanggung-jawab etika ekstra, menyusul monopoli koran
yang bertahan, meski juga memunculkan pertanyaan soal bias. Tak ada alasan
melepas ketakutan atau bernostalgia dengan yang sudah akrab, hanya karena
ia punya kebaikan tertentu.
Sejarah berulang kali menyajikan bukti bahwa inovasi kemungkinan besar
muncul di tempat kecil dan bukannya besar, di garasi (Apple dan Hewlett-
Packard), kolong sekolah (Google), dan di dalam visi unik seorang pendiri dan
bukannya dari tim khusus milik perusahaan yang masuk daftar Fortune 500.
Semua ini memberi kita alasan untuk memperhatikan dan menggali
potensi orang luar.
Namun kami juga menilai masyarakat dan warga turut andil me-
nentukan apakah beberapa nilai inti jurnalistik di institusi lama bisa
bertahan. Jika ingin jurnalisme baru muncul, kami menilai kehidupan
sipil juga berkepentingan agar nilai ini ditransfer ke media dan ruang
redaksi baru. Nilai-nilai itulah yang ingin dikejar dan dipelajari wartawan
seluruh dunia.
Pertanyaan adalah apakah, dan seberapa besar, nilai-nilai jurnalisme
independen dan terpercaya bisa berpindah ke institusi baru. Penting di-
perhatikan, terkait dengan subyek, untuk tak bernostalgia. Penting juga
bagi kita untuk memahami sejarah. Tak semua organisasi pemberitaan
memegang nilai ini sama baiknya. Banyak di antaranya telah lebih di-
perhalus di paruh terakhir abad 20. Namun fakta bahwa beberapa dari
mereka terlambat datang, atau lebih menonjol di beberapa bagian di
tempat lain, tak serta-merta menghapus fakta lain bahwa ruang redak-
si terbaiklah yang paling kuat mencita-citakannya. Pengamatan sejarah
media secara lebih lekat menunjukkan bahwa tak ada jaminan semua ru-
ang redaksi baru akan mengadopsi nilai ini—bahkan mereka yang terafi-
liasi dengan media lama atau yang dibuat tokoh pers lama. Berita televisi
di Amerika dimulai dengan nilai tradisional radio dan secara berangsur-
angsur, selama lebih dari satu generasi, menyisihkan banyak dari mer-
Apa Yang Kita Perlukan Dari “Jurnalisme Era Baru” 209

eka. Berita kabel diawali (dari CNN) dengan meniru siaran berita petang
tradisional dan secara bersamaan mengubah bingkainya.
Secara taktis, mungkin, peluang terbaik bertahannya nilai fundamen-
tal yang kita hormati terletak pada kemampuan bertahan institusi yang
menjaga mereka, tapi ini juga tak ada jaminan. Fokus kita terletak pada
prinsip fundamental ini dan cara mengartikulasikannya sehingga mereka
bisa dipahami dan dimanifestasikan pada teknologi baru, dalam bentuk
baru, dan melalui alat baru.
Secara berimbang, perusahaan pers yang menghidupkan nilai-nilai ini
telah memenangkan pertarungan jurnalisme sepanjang waktu, sedangkan
perusahaan yang menyimpang dari mereka telah lenyap. Dengan pem-
bongkaran kreatif yang dibawa era digital, nilai saja tak lagi cukup. Agar
jurnalisme mendalam dan nilai di dalamnya bertahan, organisasi pem-
beritaan perlu mencari sumber penghasilan dengan tak hanya memind-
ahkan gaya iklan abad 20 ke Web. Perlu penciptaan iklan jenis baru den-
gan kode komputer yang disetel menyesuaikan profil pengiklan, konten,
dan pembaca. Ia bisa melibatkan penciptaan “produk pengetahuan” baru
yang bisa dijual atau diuangkan—ditujukan ke audien khusus ketimbang
umum. Ia juga bisa melibatkan solusi kebijakan publik, mungkin mem-
bungkus berita dengan akses internet, atau memakai jasa agregator dan
produsen berita. Kami percaya ia akan menuntut adanya penciptaan
ulang ruang redaksi dan pengembangan definisi berita. Siapa yang akan
melakukan itu, dan apakah ia kemungkinan besar melibatkan beberapa
perusahan pers besar hari ini, tidaklah penting. Yang terpenting adalah
apakah mereka yang melakukannya akan memegang nilai itu. Tebakan
kami, meski ini hanya tebakan, adalah bahwa penciptaan ulang ini akan
datang dari tempat baru, kaum muda yang memahami teknologi, tetapi
setia pada nilai lama atau setidaknya gaya lama.
Itu mungkin bisa lebih dianggap sebagai harapan besar kami
ketimbang prediksi.
Seperti yang kami katakan pada permulaan buku ini, kami telah me-
lihat perubahan buruk sebelumnya di media. Perubahan yang kami sa-
rankan di sini tak lebih besar dari perubahan menuju kemunculan pers
independen di awal abad 19. Perubahan itu dipicu penemuan telegraf,
penurunan drastis harga kertas setelah Perang Sipil, gerakan reformasi,
dll. Perubahan yang kami ajukan ditujukan untuk memodernisasi jurnal-
isme dan secara bersamaan memelihara nilai pers abad 20 yang memang
layak dipertahankan.
210

Nilai itu berdasarkan pada empirisme dan pehamanan yang bera-


las dasar realitas kehidupan publik. Mereka, tak terhindarkan lagi, akan
bertabrakan dengan nilai pelintiran dan propaganda. Dan meski hid-
up berbarengan dengan perenungan kejadian dalam jurnalisme opini,
mereka akan selalu bersitegang dengan jurnalisme pengukuhan, yang ter-
sesat jauh dari fakta menuju propaganda dan sikap partisan dalam rang-
ka mempengaruhi hasil akhir, ketimbang membangkitkan pertimbangan
publik terhadap isu.
Beberapa hal tentang masa depan jurnalisme bersifat pasti. Audien
media elektronik akan terus terpecah. Individu warga menciptakan diet
berita mereka sendiri dan bahkan konten mereka sendiri. Yang lebih
penting, dalam atmosfer baru ini, jurnalisme kepentingan-publik mesti
berkompetisi dengan informasi berorientasi kepentingan pribadi dari
sumber-sumber berikut:

• Lembaga pemerintah yang memasukkan informasi ke publik


untuk menciptakan respon yang “terkondisikan” terhadap aksi
dan rencana pemerintah–informasi yang dibentuk dengan kom
puter tercanggih dan terdalam mengenai detil lekuk-lekuk
kelakuan kita guna disajikan dalam bentuk yang paling menarik.
• Institusi sosial yang makin terpolitisasi karena memakai kekua
tan komunikasi untuk menciptakan realitas baru yang tak ber
dasarkan pada toleransi komunitas, tetapi pada upaya memanas
kan konflik antar keyakinan dan pencarian pengetahuan secara
bebas.
• Kepentingan hiburan yang mengalahkan kepentingan lain guna men
ciptakan budaya populer publik yang pasif, dan bukannya publik ma
was yang keberadaannya penting dalam demokrasi.
• Media yang ingin menggunakan daya tarik politik untuk mengumpul
kan audien.

Dalam kompetisi baru ini, teknologi komunikasi yang tengah berkem-


bang perlu dimanfaatkan untuk menciptakan jurnalisme yang menyatu-
kan wartawan dan warga, secara saling menguntungkan.
Jurnalisme era baru, yang kami usulkan di sini, membutuhkan itu
untuk memastikan prinsip jurnalisme tradisional tak lenyap, wartawan
harus menyesuaikan prinsip yang tak lagi bisa diubah oleh teknologi
dalam pendistribusian dan organisasi pemberitaan. Distribusi baru ter-
sebut ditentukan oleh portabilitas teknologi dan pengguna akhir:
Apa Yang Kita Perlukan Dari “Jurnalisme Era Baru” 211

pengaturan materinya disesuaikan untuk melayani audien yang beragam;


dan interaktivitasnya dipakai untuk menciptakan hubungan baru dengan
publik untuk membawa mereka pada proses yang bisa membantu mencip-
takan komunitas kepentingan.
Namun satu hal masih bertahan. Dialog berkelanjutan oleh warga
yang mawas adalah segalanya bagi demokrasi. Dan dialog itu mengalami
tarik-ulur antara diskusi yang didasarkan pada propaganda dan penyesa-
tan, dengan yang didasarkan pada fakta dan verifikasi oleh pikiran yang
terbuka untuk belajar.
212

EPILOG
Cara Baru untuk Mengetahui

Apakah masyarakat benar-benar bisa diajak menjalankan tugas


sebagai mitra membangun berita mereka sendiri? Apakah pers
mampu menciptakan “jurnalisme era baru”?
Jawabannya tidaklah serumit persoalan filosofi atau keinginta-
huan akademis. Jika publik dan pers tak bisa memenuhi tugas itu,
maka semua pertanyaan tentang berjalannya fungsi demokrasi akan
berujung pada keraguan.
Filosof Inggris John Stuard Mill menyodorkan kasus fundamental
tentang hubungan antara kebenaran dan kemerdekaan. Di tengah
pasar kebenaran dan kepalsuan, tulis Mill, kebenaran akan menang.
Jika Mill salah, dan kebenaran tak bisa lagi menang, karena pertem-
purannya sudah tak adil, maka dia juga harus mengakui bahwa ke-
merdekaan sudah kalah. Ataukah perangnya kini lebih adil dari se-
belumnya, seperti yang dikemukakan kaum yang optimistis dengan
teknologi baru?
Walter Lipmann berpendapat kunci demokrasi adalah pers men-
dalam yang agresif. “Ketika semua berita datang dari sumber ling-
karan kedua, orang berhenti merespon kebenaran, dan hanya mere-
spon pendapat,” tulisnya pada 1920. “Lingkungan tempat mereka
beraksi bukanlah realitas, melainkan lingkungan semu berisi lapo-
ran, rumor dan tebakan. Seluruh referensi pemikiran berasal dari
pernyataan orang, bukan dari fakta.” Pelopor berita radio dan TV Ed-
ward R. Murrow khawatir liputan akurat sering tidak menguntung-
kan karena memakan waktu: “Kebohongan telah menyebar ke selu-
EPILOG 213

ruh dunia, sedangkan kebenaran baru bersiap-siap memakai celana.”


Namun, persepsi tentang teknologi dan sifat dasar manusia itu tak
membuat Murrow, yang mengabdi pada kebenaran, merasa kerjanya
sia-sia. Justru sikapnya makin kuat mengedepankan nilai moral kem-
anusiaan di tiap pengejarannya.
Ide yang kian populer akhir-akhir ini adalah: mungkin tak ma-
salah jika kebanyakan orang tak bisa membedakan informasi yang
dapat dipercaya dan yang tidak. Kaum elit bisa. Itu sudah cukup.
Kaum elit selalu punya akses informasi. Jurnalis profesional pertama,
seperti yang ditulis Jay Rosen, adalah orang-orang yang disewa untuk
menulis surat pribadi pedagang kaya tentang kondisi pasar di kota
negara lain. Korporasi yang membeli konten berita Bloomberg—dan
untuk itulah Bloomberg dibuat—baik-baik saja. Kini kaum elit terse-
but yang sepenuhnya memanfaatkan teknologi komunikasi baru pun
kian melek informasi. Dan warga yang, diberdayakan dengan piranti
sama, memilih mencari berita lain di saluran media lain atau me-
milih menyedot informasi lain seperti kehidupan selebriti ketimbang
kehidupan sipil, memiliki pilihan. Tak ada yang bisa dilakukan me-
ngenai itu. Teknologi telah secara radikal mempercepat stratifikasi.
Tak ada tekanan yang akan mengubah sifat manusia.
Ini, bagaimanapun juga, bukanlah kehidupan sipil yang benar.
Tak peduli tingkat keterlibatan atau kualitas media, mereka yang
kurang tertarik dan yang nyaris tak terlibat sama sekali berada di
posisi sama. Mereka tetap menjadi faktor penentu kehidupan sipil,
membantu mengatur parameter kebijakan publik melalui voting (dan
riset menunjukkan pemilih serta mereka yang abstain terus bercer-
min satu sama lain dalam hal sikap) dan melalui kenaikan jumlah
data polling melalui sampel warga Amerika tentang semua isu secara
realtime. Richard Nixon menjuluki publik luas yang terlupakan ini;
“mayoritas yang bisu (silent majority)” pada masa kepresidenannya.
Franklin Roosevelt cenderung menyasar kelompok besar ini me-
lalui siaran radio, perlahan-lahan mengembalikan warga Amerika
memikirkan kebutuhan internasionalisme yang tak terelakkan demi
menyelamatkan demokrasi di seluruh dunia. Korporasi, kaum kaya
berkepentingan, agen pemasaran, pemerintah, dan kekuatan besar
akan selalu mencoba mempengaruhi dan menggoyang kelompok
warga yang mungkin kurang peduli beberapa isu tersebut, karena
mereka memang alat efektif untuk mengubah lanskap. Inti demo-
krasi bukanlah pemerintah yang sempurna, melainkan pemerintah-
214 EPILOG

an mandiri. Karenanya, jurnalisme dan berita tak pelak lagi saling


terkait. Pers yang bisa menyentuh lebih banyak orang secara lebih
penuh tak akan menjadi pers bodoh dengan menjadi kian populis.
Ia justru akan jadi pers yang mampu, dengan lebih banyak sumber
daya, lebih banyak orang untuk mengumpulkan berita, dan lebih
banyak kecakapan. Pers yang hanya menyasar kaum elit, karena lebih
mudah, adalah pers yang tak hanya menjatuhkan tugas dan tanggung
jawab konstitusionalnya yang lebih luas. Ia juga bisa dikatakan men-
cari jalan pintas. Ia berhenti mencita-citakan jurnalisme yang lebih
baik.
Dalam tulisan kami yang lebih awal, kami telah berargumentasi
bahwa ide jurnalisme terkait dengan elit itu tak lebih dari mitos. Pe-
mikiran bahwa sebagian orang memang lalai terhadap semua hal,
sementara sebagian lain berpengetahuan dan tertarik mengetahui
banyak hal, tidaklah mencerminkan kehidupan nyata. Menurut kami,
ada gambaran yang lebih realistis menggambarkan interaksi orang
dengan berita. Kami melihat publik sebagai campuran kelompok ber-
beda yang saling menggantikan di mana anggota kaum elit pada satu
subyek bercampur dengan yang non elit. Beberapa orang memang
lebih tahu dan lebih tertarik dengan subyek tertentu, sementara
orang lain tertarik dengan subyek lain. Kita semua punya wilayah ke-
ahlian, terlepas dari posisi, pendidikan, atau faktor lain. Pekerja per-
lindungan anak imigran mungkin ahli di bidang tertentu di pemerin-
tahan. Buruh berpendidikan sekolah menengah atas bisa jadi adalah
seorang nelayan totok yang tahu banyak tentang danau dan sungai
lokal, kealamiannya, habitatnya, dan binatang di dalamnya. Hakim
terdidik—jebolan Ivy League mungkin tak peduli tentang itu tetapi
gemar berkebun. Kami telah menyebutkan ada sesuatu yang kami
sebut “publik yang saling-ikat (interlocking public)” yang di dalam-
nya, seperti kami sebutkan, terdiri dari tiga kategori luas berdasar-
kan keterlibatan, minat, dan pengetahuan publik. Dalam segala hal,
kita mungkin saja bagian dari publik yang terlibat aktif (involved
public) dengan kepentingan pribadi terhadap isu tertentu secara
langsung dan pemahaman kuat; atau publik yang peduli (interested
public), dengan tanpa aturan langsung kecuali kesadaran bahwa kita
memang terpengaruh dan kita kadang memberi perhatian; dan pub-
lik yang acuh (uninterested public), yang hanya memberi sedikit per-
hatian. Tiga kelompok ini, dan gradasinya yang tak jelas, membentuk
masyarakat yang sangat beragam, mengalir, dan saling berinteraksi,
EPILOG 215

di mana anggotanya saling memengaruhi. Dan komunitas publik


bisa dibilang lebih bijak ketika tiga kelompok berbeda ini bercam-
pur, menawarkan level pengetahuan dan minat yang variatif. Tak ada
kebijakan yang dikhususkan untuk mereka yang paling peduli—atau
sebaliknya. Pluralisme tak hanya berarti menyeimbangkan faksi dan
agenda berbeda dalam kebijakan publik kita. Ia juga mengedepan-
kan penyeimbangan perhatian antara mereka yang peduli, terlibat,
dan juga paling acuh.
Bagaimana gagasan tentang publik yang saling ikat, berubah,
dinamis, dan berbeda ini memengaruhi ide tentang kewarganegara-
an jenis baru yang dipersyaratkan teknologi baru untuk mewujudkan
era baru? Kami membayangkan adanya proses yang lebih merakyat
dan sinergis dari yang pernah kita tahu. Keberadaan jurnalistik pro-
fesional dan jejaring sosial akan dibangun bersama-sama, seringkali
secara terstruktur. Bayangkan cara seseorang menikmati koran di
akhir pekan bersama keluarga, membaca berita, seringkali dengan
suara keras, berhenti pada kalimat tertentu untuk menekankan dan
mendiskusikannya dengan anggota keluarga di ruang makan. Kisah
berita menjadi tulang punggung diskusi tersebut, titik tolak. Namun
pemrosesan informasi—dan kritik terhadap penyajian dan penyeli-
dikan jurnalistik —jadi lebih dinamis. Proses itu kini menjadi milik
publik. Meja makannya adalah Web. Dan wartawan harus berada
di tengah orang-orang, membedah perkerjaan yang dulu tak bisa
diakses warga, kadang panen pujian dan kadang kecurigaan.
Masa depan pers dan demokrasi, aula publik baru, ditemukan
ketika perbincangan dinamis tersebut kuat dan juga ketika mereka
bertemu pada kunci kejadian subyek tertentu—pemilihan umum,
layanan kesehatan, perang, harapan kita di skala nasional dan global.
Hanya pers kuat dan tertarik dengan pelibatan, bukannya pengecua-
lian, publik lah yang akan berkembang.
Jika kini tahu bahwa kehidupan publik berubah jadi lebih dekat
pada diskusi kelompok dan bukannya ceramah, yang selanjutnya kita
pegang adalah diskusi baru ini menambah dan mengurangi sesuatu.
Elemen baru, lebih dalam dan beragam, ditambahkan. Demikian
juga dengan prasangka, kebohongan, manipulasi. Seperti halnya dis-
kusi publik, beberapa mencerahkan dan beberapa tidak. Namun ini
akan menjadi, cara belajar yang baru. Dan dialektika antara dua cara
mempelajari dunia—yakni ketegangan antara empirisme fakta dan
pengaruh keyakinan terhadap cara kita menerima fakta menjadi
216

makna anotatif—akan jadi kian intens, khususnya dalam waktu


dekat, karena proses pemilahan sumber yang baru belum selesai
dan tak pasti.
Jurang informasi abad 21 bukanlah antara siapa yang punya ak-
ses internet dan yang tidak, melainkan antara yang bisa menciptakan
pengetahuan dan mereka yang sekadar menjalankan proses mengi-
yakan prasangka, tanpa mau berkembang dan belajar. Ia adalah ju-
rang pemisah antara alasan dan tahayul.
Bagi warga, ini berarti tanggung-jawab dan risiko baru karena
mereka tenggelam dalam proses penentuan “apa yang bisa saya
percaya di luar sana?” Bagi mereka yang berpartisipasi dalam pe-
ngumpulan dan penyajian berita, jurnalisme era baru berarti peran
baru untuk menjadi pengajar a la Socrates, di mana sajian berita
dibarengi materi, bahkan mungkin tutorial, untuk membantu
membangun kecakapan yang diperlukan untuk mengubah sebuah
materi jadi pengetahuan.
Kami juga menilai ujung kerusakan dan kekacauan yang kita
lihat hari ini sudah tak bisa dielakkan. Semuanya bergerak berpen-
dar. Kita hanya berada di permulaan kerusakan sekarang. Sejarah
pembelajaran adalah kisah kepintaran manusia dalam bereaksi ter-
hadap teknologi, dan hasilnya beda tergantung bagaimana kebuda-
yaan merespon, sebagaimana mereka berubah bentuk jadi beragam
di beberapa bagian dunia terpisah, dan bahkan lenyap beberapa saat.
Seperti yang kami katakan di awal buku ini, ini adalah kisah tentang
dorongan dan tarikan, struktur lama yang berjuang untuk bertahan
di era baru, dua langkah ke depan dan selangkah ke belakang, dan
berjalan bersamaan di luar jalur resmi.
Jika sebagian besar perjalanan kini tergantung pada kecakapan
warga sendiri, satu langkah kritis, yang telah dikenali warga, adalah
kebutuhan mengenalkan kembali kemelekan sipil—dan kemelekan
berita—pada kurikulum sekolah menengah dan tinggi. Kemelekan
sipil, dalam pandangan kami, adalah kurikulum yang mengajarkan
apa yang kita perlukan agar bisa mengetahui fungsi warga dalam ko-
munitas. Ini menyangkut sesuatu di luar sipil, sesuatu yang lebih ber-
taut, lebih mendekati gaya Socrates dan lebih personal. Kemelekan
berita adalah bagian darinya. Dan dengan “kemelekan berita,” dalam
hal ini kami bedakan dari “kemelekan media,” dikembangkanlah
kurikulum yang terutama dibangun dari perspektif kecenderungan
217

kiri bahwa media dalam segala bentuknya memanipulasi kita demi


kepentingan komersial dan kekuasaan. Dengan memakai istilah “ke-
melekan berita,” yang kami artikan sebagai kecakapan untuk tahu
cara “membaca” berita—disiplin bepengetahuan skeptis. Kami ber-
harap garis besar ide di buku ini membantu menginformasikan upaya
semacam itu. Namun kami tak menganggap diri kami telah mencip-
takan kurikulum, dan memang bukan itu maksud kami. Justru, kami
mencoba menggarisbawahi bahwa ada kecakapan yang bisa disebut
kemelekan berita. Kami berharap membantu mengidentifikasi ide
utama di situ. Dan kami berharap telah mengidentifikasi beberapa
contoh bagaimana ia dikerjakan oleh para profesional pada tingkat
tinggi, dan bagaimana ia bisa diterjemahkan secara umum.
Seabad lalu, wartawan Walter Lippmann dan filosof John Dewey
terlibat dalam perdebatan publik tentang apakah orang bisa bebas.
Lipmann membuktikan pembentukan sifat dasar media komersial di
abad 20 kian persuasif. Dia menganggap publik kurang perlengkapan
menjalankan fungsi sebagai warga yang melek informasi. Namun ia
menilai pers lebih parah dari audiennya dalam hal itu, dan dia me-
nyeru kaum elit memperbaiki informasi bagi kedua belah pihak. Se-
cara logika, pers di paruh terakhir abad 20 mencoba melakukan per-
an itu sendiri, dengan menjadi lebih interpretatif dan analitis. Dewey
senada dengan kritik Lippmann tentang publik dan pers, tetapi dia
menilai saran Lippmann untuk elitisme itu kehilangan ruh. Satu-sa-
tunya peran pers yang dapat dibenarkan, kata Dewey, adalah mem-
bantu mendidik publik, membuat mereka lebih mampu berpartisi-
pasi dalam masyarakat demokratis. Pers tak punya tugas lain di luar
itu. Tidak juga dengan pendidikan, secara insidental. Demokrasi tak
bisa diselamatkan dengan hilangnya harapan ke arah sana.
Seabad kemudian, teknologi telah memenuhi visi Dewey. Saatnya
untuk pendidikan telah tiba.
218

CATATAN-CATATAN

1.��������������������������������������������
Bagaimana Kita Tahu Mana yang Bisa Dipercaya
1
Direkam di the Center for History and New Media, George Mason University
website, http://echo.gmu.edu/tmi
2
Ibid
3
Ibid
4
Peter Goldman et al., “In the Shadow of the Tower,” Newsweek, April 9,
1979, p.29
5
Arlie Schard et al. “Covering Three Mile Island,” Newsweek, April 16, 1979,
p.93
6
Walter Truett Anderson, All Connected Now: Life in the First Global Civiliza-
tion. Westview Press, Boulder, 2001.

2. Kita Pernah Mengalami Ini

1
Philip B. Meggs, A History of Grapich Design. John Wiley & Sons, 1998, hal.
58-69
2
Lester Faigley, “Print and Cultural Change,” www.cwrl.utexas.edu/-faig-
ley/work/material_literacy/print.html.
3
Morris Bishop, The Middle Age, Houghton Mifflin, Boston, 1996, hal.252
4
Beberapa kalangan terpelajar menyebut penulis karya tersebut sebagai
politisi, ketimbang wartawan. Dalam rangka mengumumkan kematian
Abraham Lincoln melalui secara lebih tepercaya dan menciptakan ketenan-
gan di negara yang tengah panik, Sekretaris Urusan Perang Edwin Stanton
mendiktekan materi berita koran seluruh dunia. Pengumumannya, ditu-
lis sebagai nota kepada pejabat pemerintah lain, mengandung nada dan
strukur fakta kuat, mulai dari kematian Lincoln, dilanjutkan dengan bukti
219

pendukung dan detil tambahan seputar apa yang akan terjadi selanjutnya.
David T.Z. Mindich, Just the Fact, New York University Press, 1998, p.73.
5
See It Now adalah program CBS yang diciptakan Edward R. Murrow dan
Fred W. Friendly6 Chris Anderson, “The Long Tail,” http://www.adtech-
blog.com/blog/detail/the-long-tail-has-destroyed-mass-media.
7
Project for Excellence in Journalism, State of the News Media, 2009, www.
journalism.org.
8
Matthew Hindman berpendapat sama dalam Mythof Digital Democracy,
Princeton University Press, 2008.

3. Cara Berpengetahuan Skeptis: Ketrampilan Verifikasi

1
William Prochnau, “The Wary Cronicler who Inspired a Rebellion,” http://
www.aliciapatterson.org/APF1201/Prochnou/prochnau.rtf.
2
Wawancara dengan penulis, 29 April 2007.
3
Homer Bigart, Forward Positions: The War Correspondence of Homer Big-
art. University of Arkansas Press, 1991, pp. 192-195. Kisah aslinya, berjudul
“U.S. Copters Help in Vietnam Raid,” muncul di halaman muka New York
Times, 9 Maret 1962.
4
Wawancara dengan penulis, 29 April 2007.
5
Definisi kebenaran ini muncul di karya Howie Schneider pada program me-
lek berita di State University of New York di Stony Brook.
6
C. John Sommmerville, The News Revolution in England. Oxford University
Press, New York, 1996, hal.14.
7
John Lloyd, What the Media Are Doing to Our Politics, Constable & Robinson,
London, 2004. Hal. 144.
8
Bill Kovach and Tom Rosenstiel, The Elements of Journalism: What the
Newspeople Should Know and Public Should Expect. Three Rivers Press, New
York, 2007, hal. 38-39.
9
Ibid., hal. 36.
10
Reese Schonfeld, Me and Ted Against the World: The Unauthorized Story
of the Founding of CNN. HarperCollins, New York, 2001, hal. 5.
11
Wawancara dengan Tom Rosenstiel, 1990.
12
The Project for Excellence in Journalism pertama mengumumkan temuan
ini dan implikasinya di laporan tahunan State of the News Media, 2005, www.
journalism.org.
13
Meet the Press, 16 Agustus 2009.
14
Jawabannya, berdasarkan temuan ombudsman PBS Michael Getler, Armey
keliru. Medicare adalah program sukarela, dan seseorang bisa mundur tanpa
kena pinalti dalam kondisi yang sama. Namun Armey benar dalam kondisi
lain; mundur dari program ini bisa menyebabkan seseorang kehilangan hak
mendapat manfaat bulanan Jaring Pengaman Sosial.
220

15
Clark Hoyt, “The Public Editor: Reporting in Real Time,” New York Times,
8 Febuari 2009, hal.10
16
Deborah Tannen, The Argument Culture: Moving From Debate to Dialogue,
Random House, New York, 1998, hal 7, 20.
17
Kety Bachman, “Radio Head Rush,” Mediaweek, 11 Agustus 2003. Http://
www.mediaweek.com/mw/esearch/article_display.jsp?vnu_content_
id=1953833
18
Felix Gillette, “Hard Fall: What Happened to NBC?” New York Observer, 9
September 2008.
19
Committee of Concerned Journalists and the Pew Research Center for the
People and the Press, “Striking the Balance: Audience Interests, Bussiness
Pressure and Journalists’ Values,” Maret 1999, hal. 79. www.journalisme.org
and http://people-press.org.

4. Kelengkapan: Apa Yang Ada dan Apa Yang Kurang?


1
John Crewdson, “Code Blue: Survival in the Sky,” laporan khusus Chicago
Tribune, 30 Juni 1996.
2
Debbie Wilgoren dan Hamil R Harris, “Kerusakan Pipa Membanjiri Rumah
Sedistrik; Kerusakan Pipa Induk di Adams Morgan Ganggu Lalu Lintas,”
Washington Post, 7 Mei 2009, hal. B1.
3
Detil itu ada di artikel tentang berita yang muncul pada halaman muka di
koran pada hari yang sama.
4
Amy Harmon, “Genetic Testing + Abortion =???” New York Times, 13 Mei
2007.
5
http://www.propublica.org/feature/economic-guesswork-drives-stimulus-job-
targets-090203; http://www.propublica.org/ion/stimulus/item/sorting-those-job-
creation-numbers-0916; Http://www.propublica.org/ion/stimulus/item/tracking-
highway-stimulus-jobs-is-no-easy-job-724.
6
Di The Element of Journalism, kami mencatat ada empat kategori laporan
penyidikan: investigasi asli, investigasi interpretatif, reportase atas investi-
gasi, dan penyidikan semu (faux expose). Investigasi asli melibatkan report-
er melakukan pekerjaan investigatif dengan sumber asli. Liputan interpre-
tatif membongkar informasi yang melibatkan isu lebih kompleks dan butuh
analisa tambahan hati-hati demi menyuguhkan pemahaman lebih dalam.
Reportase atas investigasi melibatkan cerita tentang investigasi yang telah
dilakukan orang lain, biasanya pemerintah. Faux expose menyerupai jurnal-
isme penyidikan yang asli, tapi tentang persoalan yang umum diketahui,
seperti seprai hotel yang kotor atau jasa pembersih karpet murahan. Faux
expose didesain untuk membangun audiens tetapi dengan nilai marginal
dalam menambah pengetahuan publik; ia mengubah peran watchdog men-
jadi sebentuk hiburan saja.
221

5. Sumber: Darimana Asalnya?


1
Pemeriksaan sumber berita perang termasuk pekerjaan tersulit di jurnal-
isme. Baik wartawan maupun konsumen harus ekstra hati-hati agar tak ters-
esat. Kontrol militer di medan perang menjauhkan wartawan dari situasi
perang sebenarnya, termasuk reporter Carlotta Gall dan Taimoor Shah, yang
menulis cerita mereka dari Afghanistan. Para reporter coba mengatasi pem-
batasan ini dengan membangun jaringan ke orang-orang di kampung dan
dusun, yang bisa dihubungi untuk menginformasikan apa yang mereka tahu
atau lihat. Mencari detil akurat dalam kekacauan perang cukup menyulitkan
saksi mata. Penambahan warna berita secara halus bisa terjadi perlahan,
dan detil bisa hilang karena informasi itu melewati beberapa orang. Ini mus-
ti menjadi pengingat bagi wartawan dan juga konsumen ketika menentukan
tokoh dan tingkat pemilihan sumber yang bisa diterima. Untuk wartawan
dan konsumen, transparansi adalah yang terpenting. Transparansi seputar
sifat dasar sumber dan pengetahuan kita atas mereka, serta pemilahan in-
formasi mana yang tak jelas atau tak dikenal adalah sekutu alami untuk me-
nyusuri kebenaran dan pemahaman atas fakta.
2
Krist. V. Eli Lilly and Co., 897 F.293 (7th Cr. 1990) membuat daftar temuan
berbagai studi psikologi tentang daya ingat saksi mata.
3
Ibid.
4
60 Minutes, “Saksi Mata: Seberapa Akuratkah Memori Visual?” CBS, 8 Maret
2009.
5
Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, Warp Speed: Amerika in the Age of Mixed
Media. Century Press, New York, 1999, Hal. 29.
6
Wawancara dengan John Broder, salah satu reporter yang terlibat, pada
1998.
6. Bukti dan Jurnalisme Verifikasi
1
Perbincangan dengan penulis pada 1981.
2
Meski susah, metode Hersh tidak sembarangan. Hersh bertumpu pada do-
kumen yang belakangan terbukti direkayasa untuk menuding John F. Ken-
nedy memliki hubungan gelap seperti tertulis di sebuah artikel yang dibung-
arampaikan dalam buku The Dark Side of Camelot. Sifat dasar dokumen yang
menipu ini terkuak menjelang publikasi, dan informasinya dikeluarkan dari
buku. Namun peristiwa ini membuat Hersh ketakutan dan merusak reputa-
sinya. “Terkadang saya keliru,” kata Hersh, “tetapi saya segera mengoreksi
kesalahan.”
3
Wawancara dengan penulis, 29 Juli 2009.
4
Gabriel Garcia Marquez, One Hundred Years of Solitude. HarperCollins, New
York, 1970.
5
J. Davittt McAteer and Associates, The Sago Mine Disaster: A Preliminary
222

Report to Governor Joe Manchin III, Juli 2006.


6
Pew Research Center for the People and the Press, 13 September 2009.
“Press Accuracy Rating Hits Two Decade Low: Public Evaluation of the News
Media, 1985-2009.” http://people-press.org/report/543/.

7. Pernyataan, Pengukuhan: Mana Buktinya?


1
Sebanyak 45% waktu kita di berita kabel berbentuk interview langsung—
dan kebanyakan di siang hari, ketika ada lebih banyak jam siaran untuk diisi.
Total 53% dari jam siaran NewsHour di PBS merupakan interview langsung.
Pada program jaringan pagi, bahkan dalam berita yang lebih hard news—
berorientasi 30 menit pertama tiap pertunjukan, sekitar 30% merupakan
interview langsung. Pew Project for Excellence in Journalism, State of the
News Media, 2008,”Cable News, Content Analysis,” http://www.stateofthe-
media.org/2005/narrative_cabletv_contentanalysis.asp?cat=2&media=5.
2
Tom Rosenstiel, “Yakety-Yak: The Lost Art of Interviewing,” Columbia Jur-
nalism Review, Januari-Febuari 1995.
3
Sig Mickelson, The Electric Mirror: Politic in an Age of Televison. Dodd, Mead
& Company, New York, 1972, hal. 16-44
4
Rosentiel, “Yakety-Yak.”
5
Ibid
6
The Ed Show, MSNBC, 24 September, 2009.
7
Douglas Walton, Ad Hominem Argument, University of Alabama Press,
1998, hal. xii
8
The Ed Show, MSNBC, 17 Juli, 2009
9
Les Gelb, “Bill Safire,” Forbes.com, 27 September, 2009, http://www.forbes.
com/2009/09/27/william-safire-conservative-new-york-times-obituary-
opinions-contributors-leslie-h-gelb.html

8. Bagaimana Menemukan Hal yang Terpenting

1
Pada 2010, 28% media online menciptakan halaman berita yang biasa.
Project for Excellence in Journalism dan the Pew Internet and American
Life Project, “Understanding the Participatory News Consumer,” 1 Maret,
2010, http://www.journalism.org/analysis_report/how_people_use_news_and_
feel_about_news.
2
Dengan melayari situs berita sendiri, pilihan kita untuk mempelajari
sesuatu memiliki signifikansi besar terhadap persoalan apakah kita akan
terus-terusan memiliki pusat, meski virtual, ruang publik di komunitas
kita—dan organ pengetahuan yang sama. Ini menjadi salah satu yang kami
catat dalam buku The Elements of Journalism, bahwa berita secara tradis-
ional disediakan pada masyarakat. Ia membantu membentuk kosa-kata
umum, perangkat kepedulian dan pemahaman umum atas fakta dasar.
223

Pemahaman umum ini vital untuk mengatasi persoalan, menemukan kom-


promi, mengenali titik konsensus—untuk menjalankan peran masyarakat
demokratis. Isu penting masyarakat abad 21, ketika teknologi secara lebih
mudah mengelompokan komunitas berdasarkan kepentingan dan bukan-
nya berdasarkan geografi, adalah bagaimana kita akan membuat pilihan-
pilihan tersebut.
3
Project for Excellence in Journalism dan the Pew Internet and American
Life Project, “Understanding the Participatory News Consumer.”
4
Pew Research Center for the People and the Press, “Press Accuracy Rating
Hits Two Decade Low: Public Evaluations of the News Media, 1985-2009.”
12 September 2009.
5
Pada 2009, the Knight Commission on the Information Needs of Commu-
nities in a Democracy mengupas pertanyaan itu selama lebih dari setahun
melalui pertemuan publik dan konsultasi dengan para ahli tentang apa
yang perlu diketahui seseorang sebagai warga. Kesimpulannya, tak pelak
lagi, cenderung abstrak dan tak cukup jelas membantu warga memutus-
kan informasi apa yang penting. Orang butuh informasi yang “relevan dan
kredibel,” tulis mereka. Mereka butuh “kemampuan” untuk terlibat dengan
informasi. Dan para individu harus bisa dilibatkan dengan informasi, baik
dalam konteks peluang maupun motivasi untuk terlibat.
6
Cole menyajikan ringkasan tentang ini pada simposiun bertajuk “Masa
Depan Berita” yang dipandu Minnesota Public Radio di Menneapolis pada
6 November 2009.
7
Wawancara dengan penulis, pada Juli 2008 dan Oktober 2009.
8
Diana K. Sugg, “Turn the Beat Around,” Poynter Online, 5 Oktober 2001,
www.poynter.org/content/content_priny.asp?id=85367.
9
Sugg, “Angel and Ghosts, Anatomy of a Story,” Poynter Online, 15 Juli
2005, www.poynter.org/content/content_print.asp?id=85199.
10
Sugg, “Turn the Beat Around.”
11
Sambutan dalam beasiswa Nieman Foundation, 1996. Transkrip dari
arsip Nieman Foundation.
12
Wawancara dengan penulis, Oktober 2009.

9. Apa Yang Kita Perlukan Dari “Jurnalisme Era Baru”


1
Dalam bukunya Public Opinion yang terbit pada 1922, Lippmann mengu-
sulkan pemerintah membentuk tim berisi para ahli yang obyektif memilih
berita; pers kemudian mengomunikasikan pilihan mereka.
2
Prinsip-prinsip jurnalisme profesional:

1. Tugas utama jurnalisme adalah menggapai kebenaran


2. Loyalitas pertamanya kepada warga
3. Esensinya adalah disiplin verifikasi
224

4. Pelakunya harus menjaga independensi terhadap obyek yang diliput


5. Ia harus bertindak sebagai pengawas independen kekuasaan
6. Ia harus menyediakan forum kritik dan kompromi publik
7. Ia harus berjuang membuat hal yang signifikan menjadi penting dan
relevan
8. Ia harus menjaga berita tetap komprehensif dan proporsional
9. Pelakunya wajib mendengarkan hati nurani
10. Warga, juga, memiliki hak dan tanggung-jawab ketika menyangkut
berita

3
Project for Excellence in Journalism dan the Pew Internet dan American Life
Project, “Understanding the Participatory News Consumer,” 1 Maret 2010,
http://www.journalism.org/analisis_report/understanding_participatory_
news_consumer.
4
Kita bisa melihat pola sama ketika menanyakan berapa banyak situs berita
berbeda yang dikunjungi seseorang secara rutin. Kebanyakan orang (ham-
pir dua-pertiganya) tak mempunyai Web berita “favorit.” Namun, mereka
hanya mengunjungi sedikit situs yang dipercaya. Kebanyakan, jumlah situs
yang rutin dikunjungi kurang dari enam, dan hanya 3% yang secara reguler
mengunjungi lebih dari 10 situs.
5
Project for Excellence in Journalism, State of the News Media, 2010. “Nielsen
Analysis,” 15 Maret 2010, http://www.stateofthemedia.org/2010/special-
reports_nielsen.php.
6
Ibid. Rata-rata lama kunjungan pada situs ini hanya 2 menit.
7
Ibid.
8
Untuk diskusi lebih lengkap soal transparansi, lihat edisi kedua The Ele-
ments of Journalism.
9
Wawancara penulis dengan Michael Skoler, 23 Juli 2009.
10
Jay Rosen, “Citizen Journalism Expert Jay Rosen Answers Your
Questions,” 3 Oktober 2006, http://interviews.slashdot.org/article.
pl?sid=06/10/03/1427254.
11
Gary Kamiya, “Let Us Now Praise Editors,” 24 Juli, 2007, Salon.com, www.
salon.com/print/html?URL=opinion/kamiya/2007/07/24.
12
Pertanyaan tentang apa yang dilakukan ruang redaksi di buku ini berbeda
dari pertanyaan yang kami ajukan dalam The Elements of Journalisme ten-
tang tujuan jurnalisme. Di sana, kami mendefinisikan tujuan jurnalisme se-
bagai penyedia informasi yang diperlukan publik untuk bisa merdeka dan
mengatur diri sendiri.
225
226

Ucapan Terima Kasih

Kami musti banyak berterimakasih. Kita berhutang khusus pada


Josh Appelbaum, yang bertindak sebagai peneliti, menelusuri sega-
la sesuatu, mendebat ide-ide, dan secara umum menaikkan pembi-
caraan kami. Kami juga berhutang lebih dari yang bisa kami ucapkan
pada kolega-kolega di Project for Excellence in Journalism, yang lalu
dan yang sekarang, yang pekerjaannya tiap hari memberi informasi
pemikiran kami selama hampir lima belas tahun. Ide-ide kami soal
berita dan konsumsi berita berubah dan diperkaya secara khusus
oleh laporan tahuanan State of News Media, di mana banyak kontrib-
utor terlibat, di antara mereka, Tom Avila, Dante Chinni, Erica Felder,
Emily Guskin, Jesse Holcomb, Jon Morgan, Kenny Olmstead, Dana
Page, Atiba Pertilla, David Vaina, dan Niki Woodard. Kami juga be-
lajar banyak dari percakapan yang tak pernah berujung dengan be-
berapa teman dan kolega, dan daftarnya akan terlalu panjang untuk
dimasukkan semua. Kita akan lalai jika tak menyebut Clark Aldrich,
Rick Edmonds, Michel Dimock, Wally Dean, Carroll Dougherty, Paul
Hitlin, Hong Ji, Mahvish Kahn, Scott Keeter, Dean Mills, Mike Oresk-
es, Nora Paul, Lee Rainie, Charles Stamm, Tricia Sartor, Paul Taylor,
dan Esther Thorson. John Gomperts, Jon Haber, dan Mark Jurkowitz
adalah para board yang selalu bersuara. Kami berterimakasih pada
John Carroll, Jack Fuller, Don Kimelman, dan Jack Rosenthal untuk
227

membaca naskah. Terima kasih kami selanjutnya untuk Rebecca


Rimel dan dan the Pew Charitable Trusts yang mengizinkan kami me-
renungkan revolusi ini pada siang hari hingga kami bisa menuliskan
pemikiran-pemikiran ini di kertas pada malam hari. Terima kasih un-
tuk Annik LaFarge atas kepercayaannya terhadap buku ini dan pada
Kathy Belden untuk pengembangan manuskrip. Terima kasih, juga,
untuk David Black, pria di sudut kami.
Dua orang lainnya yang berhak disebut secara khusus: Pada
hakekatnya seluruh ide di buku ini mendapat materai dari Amy
Mitchell, seorang kolega yang luar biasa. Dan kami tak akan bisa
membayar kembali hutang-hutang kami pada Andy Kohut, seorang
kawan sekaligus mentor.
Dan tak ada jumlah terima kasih yang cukup untuk Rima dan anak-
anak gadisnya, yang menderita bermalam-malam dan akhir pekan
tanpa suami dan ayah karena tenggelam dalam pekerjaanya.
Akhirnya, kami ingin berterimakasih pada orang-orang yang
bekerja sebagai wartawan dan mereka yang menginspirasi untuk
melakukan hal yang sama, di media baru dan lama. Menjadi gaya
untuk mencemooh orang yang mencoba melaporkan dan memveri-
fikasi berita demi kepentingan kami semua. Kami mengenal mereka
sebagai pahlawan.