You are on page 1of 7

PERAN PERKEMBANGAN TEKNOLOGI UNTUK MENGURANGI

PENCEMARAN LINGKUNGAN

Rezdy Juliani Rapa’, Sherin Kinanthining Ratri


Universitas Brawijaya
rezdyjuliani@student.ub.ac.id

Abstrak
Lingkungan merupakan suatu komponen penting dalam kehidupan makhluk
hidup yang ada di dalamnya. Mulai dari individu masing-masing sampai
dengan pada komunitas dan populasi yang ada di dalamnya. Ini bukan hanya
menyangkut tentang manusia saja sebagai makhluk hidup di dalamnya,
melainkan ada pula hewan dan juga tumbuhan dalam lingkungan tersebut.
Kehancuran dan pencemaran lingkungan hidup yang diakibatkan manusia
berakibat sangat fatal bagi lingkungan dan makhluk hidup termasuk diri
mereka sendiri. Semakin modern lingkungan, semakin rusak pula alam. Tapi,
bukan berarti semua teknologi itu merusak. Berbagai macam cara dilakukan
oleh ilmuan demi memperbaiki dan mengurangi dampak yang terjadi ada pula
teknologi yang digunakan untuk mencegah kerusakan yang lebih besar
kedepannya lagi. Hal ini dilakukan agar manusia tidak merusak ekosistem yang
telah ada di lingkungan dan tidak terjadinya kepunahan kanekaragaman hayati
yang disebabkan oleh keserakahan manusia.
Kata Kunci : Pencemaran Lingkungan, Perbaikan Lingkungan Hidup

Pendahuluan
Lingkungan hidup adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia dan
mempengaruhi kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung.
Lingkungan hidup dibagi menjadi 2 yaitu lingkungan biotik dan lingkungan abiotik.
Lingkungan biotik adalah lingkungan yang hidup atau terdiri dari komponen-komponen
makhluk hidup seperti pepohonan, hewan dan masyarakat di sekitar kita. Sementara itu
untuk lingkungan tidak hidup atau yang dikenal sebagai lingkungan abiotik contohnya adalah
tanah, udara, air, iklim, kelembaban, cahaya, bunyi, dan lain sebagainya. Jadi, bisa dikatakan
lingkungan hidup itu mencakup ekosistem, perilaku sosial dan pengaruh budaya yang ada.
Beberapa tahun belakangan ini sangat banyak kasus tentang pencemaran lingkungan
yang terjadi yang dampak buruknya tidak dirasakan secara langsung oleh manusia tapi
memberi dampak buruk bagi lingkungan, khususnya bagi hewan dan tumbuhan. Berdasarkan
UU Lingkungan Hidup, pengertian pencemaran adalah masuk atau dimasukannya makhluk
hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan dan atau berubahnya
tatanan-tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam, sehingga kualitas
lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang
atau tidak dapat berfungsi lagi dengan peruntukannya. Pencemaran lingkungan sendiri
merupakan masalah yang sudah ada sejak dahulu dan bukan hanya dimiliki oleh negara-
negara berkembang saja. Beberapa contoh pencemaran lingkungan yang terjadi diantaranya
yaitu tumpahnya solar ke laut pada tanggal 10 Januari 2019 di Pare-pare, Sulawesi Selatan
yang menyebabkan ekosistem laut menjadi terganggu. Kasus serupa juga terjadi di Teluk
Balikpapan dimana terjadi pencemaran lingkungan akibat kebocoran pipa minyak milik
Pertamina. Selain itu, masih ada pula kasus pencemaran lingkungan seperti pencemaran
industri tekstil di Rancaekek, Kabupaten Bandung. Kasus-kasus tersebut telah menunjukkan
bahwa pencemaran lingkungan yang banyak terjadi hingga saat ini merupakan permasalahan
yang harus segera diatasi dan dicari jalan keluarnya.
Di era yang semakin modern ini tentunya semakin banyak teknologi baru yang
bermunculan. Manusia mulai berupaya membuat alat-alat yang dapat digunakan untuk
mengurangi maupun mencegah timbulnya pencemaran lingkungan hidup yang lebih parah
lagi. Contoh teknologi yang telah dibuat untuk mengurangi sampah plastik adalah kantong
plastik yang terbuat dari minyak nabati yang mudah larut dalam air dan mudah terurai serta
aman jika tertelan. Selain kantong plastik berbahan dasar minyak nabati, ada pula micro-
bubble generator untuk pengolahan limbah. Dengan ditemukannya teknologi seperti ini
diharapkan kedepannya kualitas lingkungan hidup dapat lebih baik lagi.
Teknologi yang semakin berkembang di era modern ini dapat dimanfaatkan untuk
mengurangi pencemaran lingkungan dengan cara menciptakan inovasi-inovasi baru yang
memungkinkan manusia untuk mengurangi pencemaran lingkungan yang terjadi. Dewasa
ini, teknologi telah diterapkan di berbagai bidang kehidupan manusia. Salah satu bentuk
pemanfaatan teknologi tersebut yaitu di bidang lingkungan hidup dimana manusia berusaha
untuk mengurangi pencemaran lingkungan dengan memanfaatkan teknologi yang sudah ada
maupun mengembangkan teknologi yang baru. Dengan pesatnya perkembangan teknologi
ini diharapkan kedepannya kualitas lingkungan hidup dapat lebih baik lagi.

Lingkungan Hidup
Lingkungan adalah kombinasi antara lingkungan fisik yang mencakup keadaan
sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh
di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia
seperti bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut. Sedangkan, Lingkungan hidup
adalah perpaduan banyak sekali komponen dari lingkungan biotik dan abiotik. Seperti yang
kita ketahui lingkungan hidup abiotik itu terdiri dari makhluk-makhluk hidup seperti
tumbuhan, hewan dan juga manusia. Sedangkan, untuk lingkungan abiotik adalah benda-
benda tidak hidup atau biasa dikenal dengan benda mati, contohnya meja, kursi, bangunan
dan masih banyak lagi contoh konkret dari lingkungan abiotik. Dari gabungan keduanya
(biotik dan abiotik) terbentuklah lingkungan hidup yang membentuk ekosistem, social dan
juga budaya serta perilaku masyarakat disekitarnya.

Pengaruh lingkungan hidup terhadap manusia sangat berdampak besar begitu pun
sebaliknya, pengaruh manusia terhadap lingkungan hidup juga sangat besar dampaknya.
Contoh peranan lingkungan hidup terhadap manusai adalah pada saat kita bernapas, kita
memerlukan udara di sekitar kita. Pada saat kita makan dan minum, kita butuh hasil alam
yaitu pangan dan begitupun pada saat menjaga kesehatan kita memerlukan lingkungan.
Berdasarkan sifatnya, kebutuhan hidup manusia dapat dilihat dan dibagi menjadi dua bagian,
yaitu :

1. Kebutuhan hidup materil antara lain adalah air, udara, sandang, pangan, papan,
transportasi serta perlengkapan fisik lainnya.
2. Kebutuhan hidup non materil seperti rasa aman, kasih sayang, pengakuan atas
eksistensinya dan sistem penilaian dalam masyarakat.

Peranan manusia dalam lingkungan ada bersifat positif dan ada pula yang bersifat negatif.
Peranan manusia yang bersifat positif adalah peranan yang berakibat menguntungkan
lingkungan karena dapat menjaga dan melestarikan daya dukung lingkungan. Banyak contoh
peranan manusia yang berdampak positif bagi lingkungann, contohnya melakukan
eksploitasi SDA (Sumber Daya Alam) secara bijaksana khususnya pada SDA yang tidak
dapat diperbaharui lagi, mengadakan penghijauan atau yang lebih dikenal dengan istilah
reboisasi, melakukan proses daur ulang serta pengolahan limbah agar kadar bahan pencemar
tidak mencapai batasnya dan melakukan sistem pertanian secara tumpang sari atau multi
kultur untuk menjaga kesuburan tanah. Untuk dampak negatif, kerugiannya bisa dirasakan
secara langsung maupun tidak langsug yang timbul akibat kegiatan manusia dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa peduli dengan lingkungan sekitar. Banyak sekali
contoh yang dapat kita lihat dalam kehidupan nyata diantaranya adalah eksploitasi yang
melampaui batas, manusia yang tidak bertanggung jawab membuang sampah dan limbah
(baik rumah tangga maupun pabrik) secara sembarangan tanpa diolah terlebih dahulu, dan
akibat perburuan liar binatang langkah menyebabkan merosotnya jumlah keanekaan jenis
biota dan parahnya ada yang sampai dinyatakan punah.
Perubahan lingkungan pun terjadi, ada yang terjadi secara alami dari waktu ke waktu,
ada pula yang terjadi akibat hal-hal yang dikerjakan oleh manusia. Sesuatu yang berlaku
umum dalam bidang ekologi, bahwa lingkungan berubah secara alami sepanjang waktu,
sedangkan organisme, populasi dan komunitas merespon terhadap perubahan tersebut.
(Machdar, 2018 : 10). Perubahan lingkungan alami biasanya terjadi secara bertahap dan
memakan waktu yang berbulan-bulan bahkan ada yang sampai menahun oleh karena itu
perubahan ekosistem terjadi secara perlahan dan spesies mampu mengikuti dan beradaptasi
mengikuti perubahan lingkungan baik dengan berpindah tempat atau perubahan pada tingkat
toleransinya (adaptasi). Perubahan yang tiba-tiba (drastis) dapat mempengaruhi area secara
serius akan mempengaruhi sistem kehidupan dan pada kondisi seperti ini manusialah yang
terlibat di dalamnya karena aktivitas manusia yang mengeksploitasi alam dan
mencemarkannya. Machdar (2018 : 11) mengatakan, “Saat ini di mana industri,
pembangunan, penggunaan sumber daya alam, dan intensifikasi pertanian meningkat begitu
pesat semua ini menyebabkan perubahan yang terlalu cepat terhadap lingkungan lokal atau
regional dan sering pada tingkat biosfer. Perubahan-perubahan lingkungan ini sering lebih
cepat daripada kemampuan organisme populasi, komunitas dan proses-proses ekosistem
dalam merespon akan perubahan tersebut… Konsekuensi dari perubahan tersebut adalah
menurunnya sumber-sumber biologi dan atau pelayanan lingkungan.”

Peran Teknologi untuk Mengurangi Pencemaran Lingkungan Hidup


Hari ke hari, semakin banyak pencemaran lingkungan yang terjadi dimana-mana.
Semakin marak pemberitaan melalui media-media baik secara cetak maupun online tentang
bagaimana manusia merusak lingkungan hidup. Banyak sekali jenis pencemaran yang terjadi
di sekitar kita seperti pencemaran air, pencemaran udara, pencemaran tanah dan juga
kebisingan.Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa seperempat dari kematian
anak di bawah usia 5 tahun di dunia disebabkan oleh lingkungan yang tidak sehat atau
tercemar, termasuk air dan udara kotor, perokok pasif dan kebersihan yang kurang memadai.
Lingkungan yang tidak sehat dan tercemar tersebut dapat menyebabkan diare parah, malaria
dan radang paru-paru, serta setidaknya membunuh 1,7 juta anak setiap tahunnya. Tapi, bukan
berarti semua manusia sama, tidak sedikit pula yang mencoba memperbaiki atau setidaknya
mengurangi dampak buruk yang terjadi pada lingkungan hidup yang diakibatkan oleh
manusia. Semakin berkembangnya teknologi di era yang maju ini, tidak sedikit orang
mencoba mengembangkan berbagai jenis teknologi demi memperbaiki kerusakan
lingkungan hidup yang ada.

Pencemaran air, merupakan pencemaran yang sudah sangat lumrah diberitakan oleh
media massa. Dimana pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat
penampungan air seperti danau, sungai, dan laut yang diakibatkan oleh manusia. Seperti yang
diketahui air merupakan komponen yang sangat penting bagi makhluk hidup dan komponen
utama dari tubuh manusia terdiri atas 60% air dari keseluruhan berat tubuhnya serta air
merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Untuk kualitas air sendiri mempunyai
standard dan parameter-parameternya tersendiri. Standar kualitas air yang ditetapkan
pemerintah Indonesia diatur melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82
Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air dan
klasifikasinya ditetapkan menjadi IV kelas.

 Kelas I, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum dan
atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan
kegunaan tersebut.
 Kelas II, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana atau sarana
rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi
tanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama
dengan kegunaan tersebut.
 Kelas III, air yang peruntukannya dapat digunaan untuk pembudidayaan ikan air
tawar, peternakan, air untuk mengairi tanaman dan atau peruntukan yang lain
yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
 Kelas IV, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman
dana tau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan
kegunaan tersebut.

Teknologi yang telah dikembangkan untuk membersihkan pencemaran air laut adalah
bioremedial. Teknologi bioremedial sendiri adalah teknologi yang dikembangkan oleh para
peneliti Indonesia dimana merupakan kultur bakteri yang akan menyerap bahan pencemar.
Selain bisa diterapkan di laut teknologi ini rupanya bisa diterapkan di daerah lumpur lapindo.
Bakteri-bakteri yang dibudidayakan bisa memisahkan lumpur dan air sehingga dapat
menjernihkan dan menetralkan genangan lumpur. Bioremedial terdiri dari 100 macam
bakteri dan mikroorganisme yang berbentuk seperti serbuk geregaji yang disebar untuk
menyerap limbah minyak yang ada dipermukaan laut. Setelah menyerap ampas minyak,
mikroorganisme ini bisa digunakan sebagai makanan ikan laut dan udang. Proses dari
ditaburkan hingga menyerap minyak dengan sempurna memakan waktu kurang lebih 1
minggu.

Pengertian pencemaran lingkungan menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2007 yaitu


pencemaran yang disebabkan oleh aktivitas manusia seperti pencemaran yang berasal dari
pabrik, kendaraan bermotor, pembakaran sampah, sisa pertanian, dan peristiwa alam yang
lain seperti kebakaran hutan, letusan gunung api yang mengeluarkan debu, gas, dan awan
panas. Pencemaran udara dapat diartikan pula sebagai adanya bahan-bahan atau zat-zat asing
di dalam udara yang menyebabkan terjadinya perubahan susunan komposisi udara dari
susunan atau keadaan normalnya. Kehadiran bahan atau zat asing tersebut di dalam udara
dalam jumlah dan jangka waktu tertentu akan dapat menimbulkan gangguan pada kehidupan
manusia, hewan, maupun tumbuhan. (Wardhana, 2004).

Pencemaran udara sendiri telah menjadi perhatian umat manusia sejak bertahun-
tahun yang lalu. Di Indonesia sendiri, pengendalian pencemaran lingkungan diatur dalam
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 yang terdiri dari 59 pasal.
Selain pembuatan peraturan untuk mengendalikan pencemaran lingkungan, di era modern ini
manusia telah mengembangkan berbagai teknologi untuk mengatasi pencemaran udara.
Seperti yang telah diketahui, pencemaran udara disebabkan oleh berbagai faktor seperti
industri, transportasi, perkantoran, perumahan, dan berbagai aktivitas alam seperti kebakaran
hutan, gunung meletus, dan gas alam beracun. Saat ini, salah satu teknologi yang telah
dikembangkan untuk mengatasi pencemaran udara adalah instalasi Insinerator. Insinerator
adalah instalasi yang digunakan untuk pengolahan limbah padat dengan proses pembakaran.
Pada insinerator tersebut dipasang fasilitas penanganan gas buang. Instalasi yang sering
dijumpai adalah scrubber dan Hazard Particle Pervade. Scrubber merupakan salah satu dari
beberapa alat pengendali polusi udara atau emisi pada suatu instalasi yang kontribusinya
secara umum adalah untuk mengendalikan partikel-partikel berupa padatan maupun gas yang
sifatnya dapat larut dalam air. Scrubber sendiri diklasifikasikan menjadi dua yaitu dry
scrubber dan wet scrubber. Dry scrubber, sesuai dengan sebutannya merupakan alat
pengendali polusi yang dalam pengunaannya berlangsung dalam proses kering. Penggunaan
ini lebih dominan hanya untuk pengendali partikel-partikel dalam bentuk padat seperti fly
ash (partikel padat). Sementara itu, wet scrubber adalah alat pengendali polusi yang pada
aplikasi kerjanya menggunakan fluida cair.

Tanah adalah bagian penting dalam menunjang kehidupan manusia dan makhluk
hidup lainnya di muka bumi ini. Sebagian besar makanan yang dimakan manusia dan hewan
berasal dari permukaan tanah. Pencemaran tanah adalah keadaan dimana bahan-bahan kimia
buatan manusia masuk dan mengubah lingkungan tanah alami. Ada banyak hal yang
menyebabkan pencemaran tanah. Diantara faktor-faktor penyebab pencemaran tersebut yaitu
kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri, penggunaan pestisida, serta limbah industry
yang dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).

Bahan-bahan sumber pencemaran tanah memiliki kaitan yang erat dengan


pencemaran udara dan pencemaran air. Maka dari itu, sumber pencemaran air dan sumber
pencemaran udara pada umumnya juga sumber pencemaran tanah. Sebagai contoh, gas-gas
oksida karbon, oksida nitrogen, oksida belerang yang menjadi bahan pencemar udara larut
ke dalam air hujan dan turun ke tanah yang dapat menjadi penyebab pencemaran tanah.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, teknologi yang telah berkembang di era
modern ini dapat dimanfaatkan untuk mengatasi pencemaran lingkungan, dalam hal ini untuk
mengatasi pencemaran tanah. Salah satu peran teknologi dalam mengatasi pencemaran tanah
yaitu dikembangkannya teknologi bioremediasi dan fitoremediasi. Bioremediasi adalah
pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme seperti jamur dan
bakteri dengan tujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang
kurang beracun atau bahkan tidak beracun. Sementara itu, fitoremediasi adalah teknologi
pembersihan, penghilangan, atau pengurangan polutan berbahaya seperti logam berat, sisa
pestisida, dan senyawa organic beracun dalam tanah atau air dengan bantuan tanaman
(hiperakumulator plant). Fitoremediasi memiliki beberapa proses diantaranya
phytoacumulation,rhizofiltration, phytostabilization, rhyzodegradation, phytodegradation,
dan phytovolatization.

Kesimpulan
Pencemaran lingkungan hidup itu sangat beragam jenisnya, 3 pencemaran lingkungan
yang seringkali berkaitan dan berdampak besar bagi makhluk hidup adalah pencemaran air,
pencemaran udara, dan juga pencemaran tanah. Sudah banyak teknologi yang dikembangkan
untuk mencegah, mengurangi dan bahkan memperbaiki dampak dari pencemaran lingkungan
hidup yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Untuk pencemaran
air, kita bisa menggunakan teknologi bioremedial untuk menjernihkan air yang telah
tercemar. Untuk pencemaran udara, ada teknologi scrubber yang merupakan pengendali
partikel-partikel pencemar udara. Lalu, pada pencemaran tanah ada fitoremediasi yang
merupakan teknologi pembersihan, penghilangan, dan pengurangan polutan berbahaya yang
berada dalam tanah dengan bantuan tanaman. Tapi, semua usaha teknologi yang
dikembangkan akan sia-sia jika tidak ada kesadaran dari diri sendiri untuk melakukan
tindakan pencegahan dan memperbaiki kembali apa yang sudah tercemar.

Daftar Rujukan
Herlambang, Arie. 2010. Peran Teknologi dalam Pengendalian Lingkungan Hidup. Jurnal Rekayasa
Lingkungan. Volume 6. Dikutip 7 April 2019 dari :
http://ejurnal.bppt.go.id/index.php/JRL/article/view/1923/1622

Herlambang, Arie. 2006. Pencemaran Air dan Strategi Penanggulangannya. Jurnal Air
Indonesia. Volume 2. Dikutip 7 April 2019 dari :
http://ejurnal.bppt.go.id/index.php/JAI/article/view/2280/1899

Machdar, Izarul. (2018, Januari). Pengantar Pengendalian Pencemaran: Pencemaran Air,


Pencemaran Udara, dan Kebisingan. Dikutip 8 April 2019 dari
https://books.google.co.id/books?id=Y4hJDwAAQBAJ&printsec=frontcover#v=onepage&
q&f=false