You are on page 1of 5

Science, Technology & Art in Society

Artikel E-Waste, Limbah Elektronik

Santi Febri Arianti, S.Si, M.Sc

Kelompok 3 Prodi Teknik Elektro

1. Jony Nainggolan, 14S18008 , Ketua


2. Sella Simangungsong 14S18005
3. Lasjones Silalahi 14S18011
4. Fajar Hutabarat 14S18019
5. Reinhard Tambunan 14S18020
6. Basa Simanjuntak 14S18024
7. Joy Damanik, 14S18027
8. Roma Ulina Manalu 14S18036
9. Sahat Hutahean 14S18047
10. Albert Siahaan 14S18048

Institut Teknologi Del

2018
E-Waste atau limbah elektronik dan peralatan elektronik di definisikan secara
umum sebagai semua benda yang mempunyai kabel atau baterai. E-Waste bias dipakai
ulang (reuse), didaur ulang (recycle), atau di buang (disposal), sehingga e-waste bukan
hanya sebuah limbah, tetapi bias menjadi barang berharga.
Afica telah mengidentifikasi pencemaran tanah oleh bahan kimia beracun dan
limbah elektronik diberbagai negara maju,telah mencapai 80% kategori sampah
elektronik.Limbah elektronik sering disebut E-Waste ini adalah suatu bentuk
pembuangan alat elektronik yang sudah tua dan kadaluwarsa seperti peralatan
laptop,komputertelevisi,telepon seluler,MP3 player,keyboard ,mouse.Sebagian besar
limbah mengandung itenm yang dapat dipulihkan dan digunakan untuk produk baru
meskipun peralatan elektronik mengandung bahan berbahaya yang dapat mempengaruhi
kesehatan manusia.Karakteristik dari limbah elektronik adalah bersifat korosif,reaktif,dan
beracun.Secara umum limbah-limbah ini adalah merkuri pada barang elektronik dan
baterai. Limbah ini mengandung bahan kimia berbahaya dan bersifat radioaktif dan ini
membahayakan objek-objek yang berada di radius ini.

Dampak buruk e-waste

Universitas Jinan menemukan hal baru tentang resiko kanker pada warga
permukiman di sekitar tempat pembuangan limbah elektronik (e- Waste), menurut berita
yang disampaikan oleh News Rx di Guang Dong, Tiongkok , hasil penelitian menyatakan
bahwa resiko kesehatan warga di sekitar tempat pendauran ulang limbah elektronik sudah
menjadi kekhawatiran publik, tetapu hal tersebut masih belum diteliti lebih dalam. Studi
yang dilakukan sekarang ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi resiko kesehatan
warga karena menghirup partikel-partikel yang mengandung logam berat dari limbah
elektronik.
Jurnalis berita New Rx mendapatkan kutipan dari penelitian yang dilakukan oleh
Universitas Jinan. “….meskipun logam berat yang terhirup sehari-hari lebih besar
daripada jumlah logam berat yang masuk melalui makanan dan melalui debu rumah,
jumlah logam berat tersebut sudah melebihi batas aman. Resiko orang dewasa dan anak-
anak terkena kanker juga semakin besar karena adanya logam-logam karsiogenetik
(penyebab kanker) dalam udara yang di hirup. Kesimpulan dari penelitian ini adalah
resiko kesehatan warga di sekitar tempat daur ulang sangat tinggi karena menghirup
udara yang tercemar partake-partikel yang mengendung logam berat.
Pengolahan e-waste
Limbah elektronik harus dikelola dengan baik dengan pemisahan komponen
selektif sepenuhnya.seperti plastik khususnya jenis PVC,karena mengandung klorin yang
cukup berbahaya bagi kesehatan dan sanngat sulit terurai.Kedua Tv dan layar komputer
tipe CRT yang mengandung tabung mengandung timah.Diera ini telah diganti menjadi
LED ,tetapi masalah terbesar menjadi konten merkuri yang juga berbahaya.Kemudian
adalah arsenik yang digunakan dalam industri elektronik antara lain pembuatan
transistor,semikonduktor,gelas,tekstil,keramik,lem hingga baterai.Arsenik beresiko
menyebabkan gangguan metabolisme pada tubuh dan menyebabkan keracunan bahkan
kematian.Selain memisahkan barang-barang tersebut penanggulangan ini dapat
dilakukan dengan recycling atau daur ulang.Kita bisa mendapat kembali logam-logam
tersebut untuk dibuat komponen baru.Plastik bisa dikonversi menjadi bahan bakar cair
serta bensin dan solar.Kandungan klorin dapat diolah menjadi HCL untuk berbagai
keperluan industri.Untuk mengatasi masalah E-Waste ini harus melibatkan semua pihak
dan bukan hanya tanggung jawab pemerintah tetapi juga tanggung jawab
produsen,penjual,dan publik.

Manajemen e-waste sekarang ini beralih kepada reuse dan recyle, berbeda dengan
manajemen e-waste pada jaman dahulu hanya mempunyai pilihan dibuang (dispol).
Hanya memberikan dampak positif kepada bidang komersil, social , dan lingkungan .

Proses mendaur ulang dan menggunakan kembali limbah elektronik sudah


menjadi kebiasaan warga di seluruh dunia. Hal ini di sebabkan oleh kebutuhan kita akan
alat-alat elektronik dalam kehidupan kita sehari-hari. Alasan yang lain adalah karena
kekhwatiran akan lungkungan unsur langkah bumi (rare earth element) yangb di pakai
untuk memproduksi alat-alat elektronik.

Unsur langkah bumi terdiri atas 5 unsur yang terdapat dalam golongan lantanida
dari table periodic unsur. Unsur-unsur tersebut, misalnya neodymium , europium ,
terbium , dan dysprosium, dipakai unytuk memproduksi alat elektronik seperti
smartphone yang kita pakai sekarang ini. Unsur-unsur tersebut mempunyai fungsi-fungsi
khusus dalam produk elektronik seperti membuat getaran, dan optimalisasi resolusi layar
televisi yang kita pakai.

Pemanfaatan unsur langkah bumi membutuhkan biaya yang sangat besar, karena
mengekstrak, memproduksi, memproses. Unsur langkah bumi memberikan dampak
negative yang besar pada lingkungan. Meskipun unsur langkah bumi terdapat pada kerak
bumi, unsur-unsur tersebut sangat jarang ditemukan dalam wujud terkonsentrasi.

Pada umumnya, proses daur ulang e-waste dilakukan dengan cara


mengumpulkanya dalam suatu lokasi daur ulang yang di kelola swasta. Kemudian
limbah-limbah tersebut dibawa ke tempat penyortiran. Di tempat penyortiran, limbah-
limbah elektronik dikelompokan dalam kelompoknya masing-masing misalnya, limbah
smartphone ke limbah smartphone. Setelah itu, limbah-limbah tersebut di hancurkan
hingga menjadi komponen-komponen berharga yang bias di gunakn kembali atau di jual.
Bentuk lain dari proses mendaur ulang adalah extended produser responsibility
(EPR). EPR membuat produsen produk elektronik bertanggung jawab atas siklus hidup
produk-produknya, termasuk penerikan kembali , pendauran ulang, dan tahap
pembuangan akhir. Meskipun EPR tedengar sederhana tetapi penerapannya sangatlah
sulit. Hal ini dipengeruhi oleh ketat atau tidaknya hokum di negeri tersebut.
Barang-barang elektronik seperti smartphone dapat terganti dalam waktu yang
sangat cepat. Smartphone yang terbaru berpotensi menjadi e-waste. Penggunaan ulang
alat elektronik pada jaman ini tidak hanya berfokus pada alat elektronik yang sudah
ketinggalan jaman, tetapi alat elektronik yang masih baru juga bias digunakan ulang.
Masyarakat juga lebih suka menggunakan alat yang masih bisa berfungsi dari pada yang
baru.
Manajemen e-waste sudah beralih dari pembuangan (disposal) kearah pendauran
ulang dan penggunaan ulang. Memperhatikan keadaan sekarang ini, manajemen e-waste
dengan cara pembuangan akan semakin ditinggalkan. Tantangan yang harus kita lalui
dalam mendaur ulang atau menggunakan ulang e-waste adalah
1. Membentuk dan memperbesar lokasi pengumpulan e-waste yang terisah dari
pengumpulan dari limbah biasa.
2. Bantuan dana dan infrastruktur untuk system pendauran ulang limbah
elektronik.
3. Pengembangan teknologi untuk menaikkan jumlah komponen yang bisa
diambil dari e-waste, termasuk unsur langkah bumi.
4. Mengurangi bahan-bahan berbahaya dalam limbah elektronik.
Daftar Pustaka
Ewuim, S. C. et al. (2014). Challenge of e-waste pollution to soil environments in nigeria – a
review. Animal Research International (2014) 11 (2) : 1976-1981.
Lin S, Huo X, Zhang Q, Fan X, Du L, et al. (2013). Short placental telomere was associated with
cadmium pollution in an electronic waste recycling town in china. PLoS One 8(4) :
e60815. doi:10.13731/journal.pone.0060815
Smith, Christopher. “The economics of e-waste and the cost to the environment.” Natural
Resources & Environment, Fall 2015, p.38+. General OneFile,
http://link.galegroup.com/apps/doc/A433386002/GPS?u=dikti&sid=GPS&xid=8f532426.
Accessed 17 Nov. 2018.
“New Findings Reported from University of Jinan Describe Advances in Cancer Risk (Potential
Health risk for residents around a typical e-waste recycling zone via inhalation of size-
fractionated particle-bound heavy metals). “Obesity, Fitness & Wellness Week, 8 Oct.
2016, p.2193. General OneFile, http://link.galegroup.com/apps/doc/A465237322/
http://link.galegroup.com/apps/doc/A433386002/GPS?u=dikti&sid=GPS&xid=bee4461f.
Accessed 17 Nov. 2018.