You are on page 1of 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Biodiesel merupakan sumber energi terbarukan yang penting dan telah
menarik perhatian para peneliti dan praktisi di seluruh dunia karena menunjukkan
prospek ekonomi yang cerah, ramah lingkungan, dan keberlanjutan. Secara umum,
biodiesel diproduksi melalui proses esterifikasi dan/atau transesterifikasi minyak
nabati, lemak hewani, atau minyak goreng bekas dengan alkohol rendah (metanol,
etanol, dan lain-lain), dan dengan menggunakan katalis basa, asam, ataupun enzim
(Xiao et al., 2013). Biodiesel adalah bahan bakar diesel alternatif yang mengandung
campuran mono-alkil ester dari asam lemak rantai panjang yang berasal dari minyak
nabati atau lemak hewani (Ardi et al., 2015).
Pada produksi biodiesel dihasilkan dua lapisan produk setelah proses
transesterifikasi. Lapisan yang terletak diatas mengandung biodiesel sebagai produk
utama, sedangkan lapisan bawah terdiri dari gliserol serta zat-zat kimia lainnya
(pengotor) (Hajek dan Frantisek, 2010). Gliserol dengan kandungan pengotor yang
dihasilkan saat proses transesterifikasi biasanya disebut dengan crude glycerol atau
gliserol kasar (Xiao et al., 2013). Secara global, crude glycerol merupakan produk
samping utama dari produksi biodiesel. Kenaikan kapasitas produksi biodiesel telah
menyebabkan situasi dimana terjadi surplus crude glycerol di pasar sehingga
menyebabkan harga gliserol yang lebih murah. Crude glycerol yang melimpah akan
semakin menurunkan nilai ekonominya. Jumlah crude glycerol yang dihasilkan
adalah sekitar 1 kg untuk setiap 10 kg biodiesel yang dihasilkan (Ardi et al., 2015).
Antara 2008 dan 2012, produksi gliserol dunia meningkat 9,3% per tahun,
terutama didorong oleh peningkatan produksi biodiesel. Pada tahun 2025
pertumbuhan ini akan menjadi 3,5% per tahun. Pada tahun 2012, di pasar global
untuk oleochemicals, gliserol menyumbang sekitar 26% dari volume yang dijual di
segmen bahan kimia yang berasal dari minyak nabati dan lemak hewani. Gliserol
memiliki berbagai macam aplikasi, terutama sebagai bahan mentah untuk produk
farmasi, kosmetik, dan makanan (Monteiro et al., 2018), sebagai solven ramah
lingkungan (Gu dan Francois, 2010) dan juga dapat dikonversi menjadi produk yang
bernilai tinggi, seperti biosintesis 1,3 propanadiol, asam sitrat, hidrogen, poly
(hydroxyalkanoates), dan asam docosahexaenoic (Yang et al., 2012).
Meskipun memiliki aplikasi yang luas, penggunaan crude glycerol dibatasi
oleh tingkat kemurniannya, karena pengotor mempengaruhi sifat fisik, kimia, dan
biologisnya (Monteiro et al., 2018). Pengotor yang terkandung dalam crude glycerol
seperti sabun, metanol, air, garam dan material organik non gliserol (MONG)
memberikan pengaruh signifikan pada konsentrasi gliserol (Ardi et al., 2015). Crude
glycerol hasil samping biodiesel memiliki karakteristik berwarna coklat gelap, pH
tinggi, viskositas dan densitas yang rendah dengan kandungan kontaminan yang
tinggi (Aziati dan Sakinah, 2012). Crude glycerol membutuhkan serangkaian
langkah pemurnian sebelum diubah menjadi produk berharga yaitu dengan
menghilangkan pengotor yang terkandung didalamnya (Isahak et al., 2016).
Proses pemurnian gliserol secara umum dapat dilakukan dengan distilasi,
filtrasi, perlakuan kimia, adsorpsi, resin penukar ion, ekstraksi, filtrasi, dekantasi dan
kristalisasi, dimana berbagai metode yang digunakan tergantung pada karakteristik
crude glycerol yang akan dimurnikan (Tan et al., 2013). Juga terdapat meningkatkan
kemurnian pada crude glycerol dengan mengombinasikan beberapa proses diatas,
seperti pemurnian dengan proses asidifikasi dan adsorpsi (Hunsom dan Chaowat,
2015; Aziz et al., 2018) dan proses asidifikasi, ekstraksi, dan adsorpsi (Manosak et
al., 2011). Adsorpsi merupakan proses yang ekonomis untuk menghilangkan
senyawa organik dari suatu larutan berair karena konsumsi energi yang rendah,
kemampuan untuk beroperasi pada suhu dan tekanan ambient, dan dapat
meregenerasi adsorben yang digunakan, ditambah ketersediaan adsorben yang luas
(Hunsom dan Chaowat, 2015).
Abu layang batubara (Coal Fly Ash) yang mengandung Si dan Al adalah
contoh dari adsorben yang murah. Coal fly ash sebenarnya adalah produk samping
dari pembangkit listrik, yang diperoleh dari pembakaran batubara (Attari et al.,
2016). Di antara berbagai sumber energi, batubara adalah salah satu yang paling
banyak digunakan. Batubara memenuhi sekitar 25% dari kebutuhan energi primer
global. Pembangkit listrik berbasis batu bara memiliki peran dominan dalam
memenuhi permintaan energi yang luas (Dash et al., 2018).
Coal fly ash yang dihasilkan selama pembakaran batubara dapat,
menyebabkan beberapa masalah lingkungan dan kesehatan. Pembuangan coal fly ash
dalam jumlah besar dapat menyebabkan polusi udara dan degradasi tanah unsur-
unsur beracun yang terkandung di dalamnya. Unsur beracun coal fly ash (Pb, Hg, Cd,
Ba, Th, Ge, Ce, U ...) dapat merembes ke dalam air, kemudian mencemari akuatik
bawah tanah dan air permukaan, dan menimbulkan ancaman serius bagi spesies
akuatik yang hidup di perairan tersebut (Missengue, 2016). Coal fly ash juga
berbahaya pada sistem pernafasan dan kulit. Oleh sebab itu menurut peraturan
PP85/1999, limbah abu ini dikategorikan sebagai limbah B3 (Bahan Beracun dan
Berbahaya) (Lasryza dan Dyah, 2012). Sekitar 750 juta ton coal fly ash dihasilkan
per tahun karena pembakaran batubara di pembangkit listrik termal. Namun, kurang
dari 25% coal fly ash yang dihasilkan telah digunakan pada berbagai pemanfaatan
seperti produksi semen, konstruksi jalan, pembuatan batu bata, landfill, adsorpsi,
katalisasi, desain dan persiapan silika mesopori dan zeolit. Coal fly ash memiliki
kapasitas penyerapan yang baik, hidrofilisitas, non-toksisitas, kerentanan terhadap
biodegradasi (Dash et al., 2018) serta adsorben yang memiliki biaya murah (Attari et
al., 2016). Pembuatan adsorben dari coal fly ash oleh peneliti-peneliti sebelumnya
disajikan pada Tabel 1.1.
Pemurnian crude glycerol dengan metode adsorpsi telah banyak dilakukan
oleh peneliti- peneliti sebelumnya yang disajikan pada Tabel 1.2. Peneliti terdahulu
menunjukkan bahwa pemurnian dengan menggunakan adsorben dapat
menghilangkan pengotor sehingga meningkatkan kadar gliserol. Coal fly ash dapat
dimanfaatkan sebagai adsorben yang memiliki biaya murah. Isu dalam penelitian ini
ialah mereduksi limbah coal fly ash dalam pemurnian gliserol. Namun masih perlu
dikaji hubungan pretreatment coal fly ash pada proses pemurnian untuk mendapatkan
kadar gliserol yang tinggi.

1.2 PERUMUSAN MASALAH


Coal fly ash merupakan limbah industri yang memerlukan upaya penanganan
lebih lanjut. Disamping jumlahnya yang cukup besar, coal fly ash juga mengandung
komponen yang sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai adsorben dalam
pemurnian crude glycerol. Dengan landasan tersebut pada penelitian ini akan
dipelajari bagaimana pemanfaatan coal fly ash sebagai adsorben dalam proses
pemurnian crude glycerol dan bagaimana karakterisasi gliserol yang dihasilkan.
Tabel 1.1 Penelitian-penelitian Terdahulu tentang Pembuatan Adsorben dari Coal Fly Ash
No. Nama Judul Kondisi Operasi Hasil
1. Bada dan Sanja, Evaluation and Fly ash dibagi menjadi dua bagian untuk treatment yang  Dengan treatment fisika
2008 Treatment of Coal berbeda, yaitu: maupun kimia-fisika, fly
Fly Ash for  Treatment fisika dengan pemanasan fly ash selama 12 jam ash memiliki kapasitas
Adsorption di oven pada suhu 105 °C . adorpsi yang tinggi.
Application  Treatment kimia-fisika dengan mencampur fly ash dan  Treatment kimia-fisika
HCl 1 M pada rasio fly ash : HCl sebesar 1 : 2 (g/ml). meningkatkan luas
Kemudian campuran disaring dan dipanaskan selama 12 permukaan spesifik pada
jam di oven pada suhu 105 °C. fly ash dari 2,9969 m2/g
menjadi 5,4116 m2/g.
2. Taufiq et al., Modified Coal  Pretreatment fly ash dengan dikeringkan pada suhu 300  Luas permukaan spesifik
2018 Fly Ash as Low °C dan penyeragaman ukuran. pada adsorben fly ash
Cost Adsorbent  Fly ash dicampur dengan HCl pekat dengan rasio fly ash : meningkat dari 4,975 m2/g
for Removal HCl sebesar 1 : 5 (g/ml) pada suhu 70 °C selama 1 jam. menjadi 45,716 m2/g.
Reactive Dyes  Campuran disaring dan dinetralkan kemudian dikeringkan  Adsorben fly ash efektif
from Batik di oven ada suhu 105 °C selama 4 jam. dalam menjerap pewarna.
Industry  Adsorben fly ash diaplikasikan pada larutan pewarna  Persentase penjerapan
dengan variasi konsentrasi. pewarna dengan adsorben
fly ash adalah 94%.
Tabel 1.2 Penelitian-penelitian Terdahulu tentang Pemurnian Crude Glycerol dengan Metode Adsorpsi
No. Nama Judul Kondisi Operasi Hasil
1. Manosak et al., Sequential-  Menggunakan 3 tahap proses pemurnian:  Kondisi optimum
2011 Refining of Crude  Proses asidifikasi dengan penambahan H2SO4 98%, H3PO4 dihasilkan pada:
Glycerol Derived 85%, dan CH3COOH 99,9% hingga rentang pH 1-6. - Penambahan H3PO4 85%
from Waste Used  Proses ekstraksi dengan tiga jenis pelarut polar yaitu hingga pH 2,5
Oil Methyl Ester metanol, etanol, dan propanol pada rentang rasio 3:1 – 1:3 - Ekstraksi dengan pelarut
Plant Via A (v/v). propanol pada rasio 2:1
Combined  Proses adsorpsi dengan karbon aktif komersial. Karbon (v/v)
Process of aktif dipanaskan hingga suhu 105 °C selama 30 menit. - Adsorpsi dengan karbon
Chemical and Satu gram karbon aktif dicampur dengan gliserol pada aktif pada 200 g/l gliserol
Adsorption rentang 40-200 g/l gliserol dengan kecepatan pengadukan  Kadar gliserol akhir yang
200 rpm dan waktu adsorpsi 3 jam. diperoleh adalah 95,74 %.
 Kadar gliserol awal (sebelum pemurnian) adalah 36,7 ±
0,49 %.
2. Nadir dan Peningkatan  Pretreatment fly ash dengan penyeragaman ukuran,  Kondisi optimum
Marlinda, 2013 Kadar Gliserol aktivasi dengan KOH, dan kalsinasi. dihasilkan pada:
Hasil Samping  Menggunakan 3 tahap proses pemurnian: - Massa adsorben = 10
Pembuatan  Proses distilasi untuk menghilangkan sisa metanol. gram
Biodiesel dengan  Proses asidifikasi dengan mengunakan larutan H3PO4 5% - Waktu adsorpsi = 60
Metode Adsorpsi hingga pH 7. menit
Asam Lemak  Proses adsorpsi dengan:  Kadar gliserol akhir yang
Bebas (ALB) -Massa gliserol = 20 gram diperoleh adalah 89,02 %.
Menggunakan -Kecepatan pengadukan = 486 rpm  Kapasitas maksimum
Fly Ash -Massa adsorben = 2; 4; 6; 8; 10 gram adsorpsi sebesar 5,186 x
-Waktu adsorpsi = 20; 40; 60; 80; 100 menit 10-4 mmol/g.
 Kadar gliserol awal (sebelum pemurnian) adalah 37,96 %.
Tabel 1.2 (Lanjutan)
No. Nama Judul Kondisi Operasi Hasil
3. Hunsom dan Preparation of  Karbon aktif berasal dari lumpur pengolahan air limbah  Kondisi optimum
Chaowat, 2015 Sludge-Derived yang diaktivasi dengan KOH. dihasilkan pada:
KOH-Activated  Menggunakan 2 tahap proses pemunian: -Kecepatan pengadukan =
Carbon for Crude  Proses asidifikasi dengan H3PO4 85% hingga pH 2,5. 250 rpm
Glycerol  Proses adsorpsi dengan: -Waktu adsorpsi = 2 jam
Purification - Gliserol = 15 mL (~67 g/L)  Kadar gliserol yang
- Massa adsorben = 1 gram diperoleh adalah 93,0 %.
- Suhu adsorpsi = Suhu ruangan (~30 °C)
- Kecepatan pengadukan = 150, 200, 250, 300 rpm
- Waktu adsorpsi = 1; 1,5; 2; 2,5; 3 jam
 Kadar gliserol awal (sebelum pemurnian) adalah 27,2 ±
0,84 %.
4. Aziz et al., Purification of  Menggunakan biosorben dari limbah teh yang diaktivasi  Kondisi optimum
2018 Crude Glycerol dengan NaOH. dihasilkan pada:
from  Menggunakan 2 tahap proses pemunian: - Waktu adsorpsi = 90
Acidification  Proses asidifikasi dengan H3PO4 85% hingga pH ± 2,5. menit
Using Tea Waste  Proses adsorpsi dengan: - Suhu adsorpsi = 60°C
- Massa gliserol = 10 gram - Ukuran partikel
- Konsentrasi adsorben = 6, 9, 12, 15, 18 % biosorben = 180 µm
- Waktu adsorpsi = 30, 60, 75, 90, 120 menit - Konsentrasi adsorben =
- Suhu adsorpsi = 30, 45, 60, 75°C 12%
- Ukuran partikel adsorben = 180, 250, 630 µm  Kadar gliserol yang
 Kadar gliserol awal (sebelum pemurnian) adalah 67 %. diperoleh adalah 95,9544
%.
1.3 TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kadar gliserol dan
mengkarakterisasi gliserol hasil dari pemurnian dengan memanfaatkan limbah
coal fly ash sebagai adsorben dalam pemurnian crude glycerol dengan variasi
waktu pengadukan.

1.4 MANFAAT PENELITIAN


Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah:
1. Memberikan solusi masalah penanganan limbah coal fly ash dengan
memanfaatkannya sebagai adsorben dalam pemurnian gliserol.
2. Memberikan informasi dari karakterisasi gliserol hasil pemurnian
menggunakan limbah coal fly ash dengan metode adsorpsi.

1.5 RUANG LINGKUP PENELITIAN


Penelitian ini akan dilakukan di Laboratorium Penelitian dan
Laboratorium Proses Industri Kimia Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik
Universitas Sumatera Utara, Medan. Adapun ruang lingkup dan batasan dari
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Pretreatment Coal Fly Ash
a) Variabel Tetap:
 Ukuran molekul 180/200 mesh.
b) Variabel Bebas:
 Tanpa Pretreatment
 Dengan Pretreatment
- Pretreatment Fisika : Pemanasan pada suhu 105 °C selama 12
jam
- Pretreatment Kimia : Pencampuran dengan HCl pada suhu 70
°C selama 1 jam dengan rasio coal fly
ash : HCl sebesar 1 : 5 (g/ml)
2. Proses Adsorpsi
a) Variabel Tetap:
 Massa gliserol = 20 gram
 Konsentrasi adsorben = 12% (w/w)
 Kecepatan pengadukan = 250 rpm
b) Variabel Bebas:
 Waktu pengadukan = 30, 40, 60, 90, 120 menit
 Suhu adsorpsi = 30, 45, 60, 75°C

3. Analisis yang dilakukan adalah :


a) Coal fly ash:
 Analisis morfologi dan komposisi unsur menggunakan SEM-EDX.
b) Bahan baku crude glycerol dan gliserol hasil pemurnian:
 Analisis komposisi menggunakan GC-MS.
 Analisis kadar gliserol dengan menggunakan metode SNI 06-1564-
1995.
 Analisis kadar air dengan menggunakan metode SNI 01-3555-
1998.
 Analisis kadar abu dengan menggunakan metode SNI 06-1564-
1995.