You are on page 1of 8

Hubungan Usia dan Jenis Kelamin dengan Penyakit

Pulpa dan Jaringan periapikal (K0.4)


Prita Sari Mustika Dewi, Hanif Nugroho, Gita Putri Kencana, Kiswaluyo
Bagian Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember
Jl. Kalimantan 37, Jember 68121
e-mail korespondensi : pritalways92@gmail.com

Abstrak
Presentase penduduk Indonesia yang mempunyai masalah gigi dan mulut
menurut Riskesdas tahun 2007 dan 2013 meningkat dari 23,2% menjadi 25,9%
dengan Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan angka
peningkatan masalah gigi dan mulut tertinggi di Indonesia. Penyakit pulpa gigi
menduduki urutan ketujuh dari sepuluh penyakit terbanyak pasien rawat jalan di
rumah sakit di Indonesia. Penyakit pulpa yang tidak terawat dan bertambah parah
akan mengakibatkan infeksi yang berlanjut sampai ke daerah periapikal bahkan
menyebabkan komplikasi penyakit lain seperti gangguan jantung, infeksi paru,
infeksi saluran kemih, infeksi kandung empedu, dan abses hati. Jenis penelitian ini
adalah penelitian observasional analitik. Teknik pengambilan sampel
menggunakan metode purposive sampling yaitu pasien yang datang ke
Puskesmas Tanggul, Puskesmas Gumukmas dan RSD Balung di Kabupaten
Jember dengan diagnosa K0.4 dari tanggal 20 November – 30 Desember 2017
sejumlah 301 pasien. Uji yang dilakukan pada penelitian ini dalah Spearman-
Correlation test, dimana terdapat dua kali uji yang dilakukan yakni uji hubungan
usia dengan penyakit pulpa dan jaringan periapikal. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa tidak ditemukan adanya hubungan (α,0,5) dan uji hubungan jenis kelamin
dengan penyakit pulpa dan jaringan periapikal yang juga tidak ditemukan
hubungan yang signifikan (α<0,05).
Kata kunci: usia, jenis kelamin, penyakit pulpa, penyakit periapikal

Abstract
The percentage of Indonesian population with dental and oral problems according
to Riskesdas in 2007 and 2013 increased from 23.2% to 25.9% with East Java
Province being one of the provinces with the highest rates of dental and mouth
problems in Indonesia. Pulp tooth disease ranks seventh of the top ten diseases of
outpatients in hospitals in Indonesia. Untreated and worsening pulp disease will
lead to continued infection to the periapical area and even lead to complications of
other diseases such as heart problems, lung infections, urinary tract infections,
gallbladder infections, and liver abscess. The type of this research is observational
analytic research. The sampling technique used purposive sampling method that is
the patient who came to Puskesmas Tanggul, Puskesmas Gumukmas and RSD
Balung in Jember Regency with the diagnosis K0.4 from November 20 to
December 30, 2017 amounting to 301 patients. Test performed in this study is
Spearman-Correlation test, where there are two tests performed namely the test of
age relationship with pulp disease and periapical tissue. The results showed no
association (α, 0,5) and sex relationship test with pulp and periapical tissue were
not found significant (α <0,05).

Keywords : age, gender, pulp disease, periapical disease


Dewi, et al, Hubungan Usia dan...

Pendahuluan
Presentase penduduk Indonesia yang mempunyai masalah gigi dan
mulut menurut Riskesdas tahun 2007 dan 2013 meningkat dari 23,2% menjadi
25,9% dengan Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan
angka peningkatan masalah gigi dan mulut tertinggi di Indonesia [1]. Penyakit
pulpa gigi menduduki urutan ketujuh dari sepuluh penyakit terbanyak pasien
rawat jalan di rumah sakit di Indonesia dimana proporsi penduduk dengan
masalah gigi dan mulut tertinggi berada pada kelompok usia produktif 35-44
tahun dan 45-55 tahun [1,2].
Dari data tersebut diketahui bahwa penyakit pulpa gigi dan jaringan
periapikal gigi merupakan penyakit yang sering diderita oleh penduduk
Indonesia. Peningkatan peringkat penyakit pulpa dan periapikal menandakan
pengetahuan, kesadaran dan perilaku masyarakat terhadap pemeliharaan
kesehatan gigi dan mulut masih kurang. Banyak masyarakat yang beranggapan
bahwa gigi yang berlubang dan sudah tidak sakit tidak perlu dilakukan perawatan
sehingga lebih dari 50% masyarakat yang datang berobat ke dokter gigi sudah
dalam kondisi yang parah [3].
Penyakit pulpa yang tidak terawat dan bertambah parah akan
mengakibatkan infeksi yang berlanjut sampai ke daerah periapikal. Penyakit
periapikal dapat menjalar ke daerah wajah dan leher bahkan dapat
menyebabkan komplikasi penyakit lain seperti gangguan jantung, infeksi paru,
infeksi saluran kemih, infeksi kandung empedu, dan abses hati. Studi
kepustakaan juga menyebutkan streptococcus viridans dapat menyebar ke otak
dan menyebabkan radang selaput otak yang berakhir pada kematian. Hal ini
akan mengakibatkan biaya berobat yang lebih mahal serta perawatan yang
kompleks, lama, dan berulang kali [1].
Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai
hubungan usia dan jenis kelamin dengan penyakit pupa yang dapat digunakan
sebagai inforrmasi kepada masyarakat untuk meningkatkan kesehatan gigi dan
mulutnya serta sebagai informasi untuk melakukan tindakan pencegahan yang
diperlukan.
.
Tinjauan Pustaka
Menurut Dorland, endodontik meliputi penyakit–penyakit yang mengenai
pulpa gigi, akar gigi, dan jaringan periapikal [4].
Klasifikasi penyakit pulpa menurut Walton dan Torabinejad [5] dibagi
menjadi 4:
1. Pulpitis reversibel
Inflamasi pulpa yang tidak parah dimana jika penyebabnya dilenyapkan,
inflamasi akan menghilang dan pulpa akan kembali normal.
2. Pulpitis irreversibel
Pulpitis irreversibel seringkali merupakan akibat atau perkembangan dari
pulpitis reversibel. Pulpitis ireversibel merupakan inflamasi yang parah
yang tidak akan bisa pulih walaupun penyebabnya dihilangkan. Lambat
atau cepat pulpa akan menjadi nekrosis.
3. Degenerasi pulpa
Degenerasi pulpa jarang terjadi. Penyebabnya adalah iritasi ringan yang
persisten sewaktu muda. Macam degenerasi pulpa meliputi degenerasi
hialin, degenerasi amiloid, degenerasi kapur, dan resorpsi internal [6].

e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. (no), bulan, tahun


Dewi, et al, Hubungan Usia dan...

4. Nekrosis pulpa
Nekrosis adalah matinya pulpa. Dapat sebagian atau seluruhnya,
tergantung apakah sebagian atau seluruh pulpa terlibat. Nekrosis ada dua
jenis yakni koagulasi dan likuefaksi pengentalan dan pencairan [7].
Penyakit periapikal merupakan suatu keadaan patologis yang terlokalisir
pada daerah apeks atau ujung akar gigi. Penyakit periapikal dapat berawal dari
infeksi pulpa. Konsekuensi dari perubahan patologis pada pulpa adalah saluran
akar menjadi sumber berbagai macam iritan. Iritan-iritan yang masuk ke dalam
jaringan periapikal kemudian akan menginisiasi timbulnya lesi periapikal [6].
Abses periapikal merupakan salah satu contoh penyakit periapikal yang
sering terjadi. Abses periapikal merupakan kumpulan pus yang terlokalisir
dibatasi oleh jaringan tulang yang disebabkan oleh infeksi dari pulpa dan atau
periodontal. Sebagian besar kasus abses periapikal biasanya diawali oleh invasi
dari bakteri yang ada pada karies [7]
Ketika lesi karies mencapai dentin, tubulus dentin menjadi jalan masuk
untuk bakteri, produk bakteri, sisa-sisa jaringan, dan iritan dari saliva. Jika
keadaan ini dibiarkan dan tidak dirawat, lama kelamaan gigi akan menjadi
nekrosis [8].
Nekrosis pulpa dapat berlanjut menjadi infeksi aktif karena merupakan
jalan bagi bakteri masuk ke jaringan periapikal. Infeksi dapat menyebar ke segala
arah terutama daerah yang memiliki resistensi yang rendah. Adanya infeksi pada
daerah periapikal selanjutnya dapat menyebar menembus tulang sampai di
bawah periosteum dan menimbulkan periostitis, dan jika terjadi peristiwa
supuratif dibawah periosteum maka terbentuklah abses subperiosteum. Abses ini
dapat berlanjut sampai ke bawah mukosa menjadi abses submukus dan juga
dapat menyebar ke spasia tertentu, karena lokasi dari asal infeksi atau tempat
perforasi, ketebalan struktur tulang dari sumber infeksi serta letak otot yang
membatasi spasia. Spasia bukal dapat terlibat akibat adanya perluasan infeksi
gigi pada maksila atau mandibula, terutama berasal dari gigi molar dan premolar
[9].
Abses rongga mulut adalah suatu infeksi pada mulut, wajah, rahang, atau
tenggorokan yang dimulai sebagai infeksi gigi atau karies gigi. Jumlah dan
penyebaran infeksi tergantung pada lokasi gigi yang terkena serta virulensi
organisme. Pada saat tekanan di dalam rongga meningkat, maka nanah
mengambil jalur pada daya tahan terendah dan dapat keluar melalui kulit [10].
Abses pada umumnya disebabkan karena patologi, trauma atau
perawatan gigi dan jaringan pendukungnya. Infeksi biasanya dimulai dengan
terjadinya nekrosis pulpa, invasi bakteri dan adanya perluasan proses infeksi
kearah periapikal [11].

Metode Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik. Pengambilan
data dilakukan dengan pendekatan cross sectional yaitu penelusuran sesaat,
artinya sampel diamati hanya sesaat dengan cara dilakukan observasi atau
pengumpulan data sekaligus pada satu waktu. Populasi penelitian ini adalah
pasien yang datang ke Puskesmas Gumukmas, Puskesmas Tanggul dan RSD
Balung. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling
yakni pengambilan sampel dengan kriteria sampel berupa, pasien yang datang
ke Puskesmas Tanggul, Puskesmas Gumukmas dan RSD Balung di Kabupaten
Jember dengan diagnosa K0.4 dari tanggal 20 November – 30 Desember 2017

e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. (no), bulan, tahun


Dewi, et al, Hubungan Usia dan...

dan didapatkan jumlah sampel sebanyak 301 pasien. Variabel dalam penelitian
ini adalah penyakit pulpa dan jaringan periapikal, usia dan jenis kelamin.

Analisis Data
Data yang diperoleh adalah diagnosis setiap kelainan gigi dan mulut yang
dikelompokkan dan diberi kode. Distribusi masing – masing kelompok kelainan,
kemudian dihubungkan dengan jenis kelamin dan usia untuk selanjutnya
dilakukan uji korelasi dengan menggunakan uji Spearman-Correlation Test.

Hasil Penelitian
Setelah dilakukan observasi dan pencatatan selama 6 minggu yaitu pada
tanggal 20 November – 30 November 2017 di Puskesmas Tanggul, Puskesmas
Gumukmas dan Rumah Sakit Daerah Balung, didapatkan jumlah sampel
sebanyak 301 pasien, dengan rincian 116 pasien dengan jenis kelamin laki-laki
dan 185 pasien dengan jenis kelamin perempuan. Data kunjungan pasien
berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Data Kunjungan Pasien Berdasarkan Jenis


Kelamin
No Diagnosa Jenis Kelamin

Laki-laki Perempuan

N % N %

1 K0.4.0 65 21.6% 97 32.2%

2 K0.4.1 32 10.6% 59 19.6%

3 K0.4.5 14 4.7% 11 3.7%

4 K0.4.6 2 0.7% 1 0.3%

5 K0.4.7 3 1% 16 5.3%

6 K0.4.8 0 0% 1 0.3%

Total 116 38.6% 185 61.4%

Pada Tabel 1 menunjukkan bahwa pasien perempuan lebih banyak


daripada pasien laki-laki dengan persentase sebesar 61,4%. Data pada tabel
juga menunjukkan bahwa diagnosa paling banyak adalah K0.4.0 baik pada
pasien perempuan maupun laki-laki, pada pasien perempuan didapatkan
persentase sebesar 32,2%dan pada pasien laki-laki sebesar 21.6%. Diagnosa
yang paling sedikit didapatkan adalah K0.4.8 dengan pesentase sebesar 0.3%.
Data Kunjungan pasien berdasarkan kelompok usia dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Data Kunjungan Pasien Berdasarkan Kelompok Usia


No Diagnosa Anak- Remaja Dewasa Lansia Total
anak
(12-25 (26-45 ( >46
(5-11 tahun) tahun tahun)
tahun)

1 K00.4.0 21 30 82 44 177

e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. (no), bulan, tahun


Dewi, et al, Hubungan Usia dan...

2 K00.4.1 5 24 39 21 89

3 K00.4.5 0 1 4 11 16

4 K00.4.6 1 0 3 6 9

5 K00.4.7 0 2 3 6 9

6 K00.4.8 0 0 1 0 1

Tabel 2 menunjukkan bahwa berdasarkan kelompok usia, diagnosa yang


paling banyak ditemukan adalah K0.4.0 pada kelompok usia dewasa (26-45
tahun) dengan pasien sebanyak 82 orang. Diikuti juga dengan diagnosa yang
sama yakni K0.4.0 pada lansia (>46 tahun) dengan jumlah pasien sebanyak 44
orang. Hasil Uji Spearman Correlation Diagnosa dan Jenis Kelamin dapat dilihat
pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Uji Spearman Correlation antara penyakit Pulpa dan Jaringan Periapikal dengan Jenis Kelamin
Diagnosa Jenis
Responden Kelamin
Responden

Diagnosa Correlation 1.000 0.013


Responden Coefficient

Sig. (2-tailed) 0.828

N 301 301

Jenis Correlation 0.013 1.000


Kelamin Coefficient
Responden

Sig. (2-tailed) 0.828

N 301 301

Pada Tabel 3 dapat diketahui bahwa tidak didapatkan hubungan antara


Diagnosa Kelainan Pulpa dan Jaringan Periapikal dengan jenis kelamin pada
sampel penelitian dengan nilai signifikansi sebesar 0.013 (p>α). Hasil uji
Spearman Correlation antara Diagnosa dan usia dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 3. Hasil Uji Spearman Correlation antara penyakit Pulpa dan Jaringan Periapikal dengan Usia
Diagnosa Jenis
Responden Kelamin
Responden

Diagnosa Correlation 1.000 0.269


Responden Coefficient

Sig. (2-tailed) 0.000

N 301 301

Usia Correlation 0.269 1.000


Responden Coefficient

e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. (no), bulan, tahun


Dewi, et al, Hubungan Usia dan...

Sig. (2-tailed) 0.000

N 301 301

Tabel 1.4 juga menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara Diagnosa
Kelainan Pulpa dan Periapikal dengan usia sampel dengan nilai signifikansi
sebesar 0.629 (p>α).
Pembahasan
Data kunjungan pasien Poli Gigi di puskesmas Tanggul, Puskesmas
Gumukmas dan RSD Balung menunjukkan bahwa kasus tertinggi yang muncul
adalah kasus dengan diagnosis K0.4 (Kelainan pulpa dan jaringan periapikal).
Pada Tabel 1 diketahui bahwa distribusi penyakit lebih tinggi pada pasien
perempuan dengan jumlah kasus sebanyak 186 dengan persentase 61.4%.
Tingginya angka kejadian penyakit gigi pada pasien perempuan dapat
disebabkan oleh karena erupsi gigi perempuan lebih cepat daripada yang
menjadikan gigi geligi pada pasien perempuan akan lebih lama berada
dalamrongga mulut sehingga akan lebih lama pula terpapar oleh faktor resiko
penyebab penyakit gigi dan mulut utamanya kelainan pulpa dan jaringan
periapikal [12].
Tingkat kecemasan juga dapat menjadi faktor tingginya angka kunjungan
pasien perempuan dalam melakukan pemeriksaan giginya karena perempuan
memiliki tingkat kecemasan yang jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki sehingga
pasien perempuan lebih berusaha untuk mengurangi rasa takutnya dengan
mencari dan melakukan tindakan preventif dan kuratif yang dianjurkan oleh
praktisi kesehatan dibandingkan laki-laki [13].
Tingginya penyakit pulpa dan jaringan periapikal pada perempuan juga
berbanding lurus dengan kunjungan pasien perempuan pada setiap layanan
kesehatan. Wanita menyadari kesehatan gigi karena ada kaitannya dengan
keindahan gigi dan mulut. Selain itu pasien perempuan juga kebanyakan
berprofesi sebagai ibu rumah tangga sehingga punya banyak waktu luang untuk
melakukan perawatan di puskesmas ataupun rumah sakit [14].
Pada Tabel 2 didapatkan penyakit pulpa dan jaringan periapikal (K0.4.0)
merupakan penyakit yang paling banyak terjadi pada usia dewasa (26-45 tahun)
dengan jumlah kasus sebanyak 82 dan diikuti pada lansia dengan jumlah kasus
44. Terdapat hubungan antara prevalensi karies dengan bertambahnya usia. Hal
ini berhubungan dengan waktu erupsi gigi, yaitu gigi yang erupsi lebih awal akan
beresiko terhadap penyakit gigi oleh karena lebih lama terpapar faktor resiko
penyebab karies gigi [15].
Berdasarkan teori Blum, status kesehatan gigi dan mulut seseorang atau
masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor penting yaitu keturunan, lingkungan
(fisik maupun sosial budaya), prilaku dan pelayanan kesehatan. Dari keempat
faktor tersebut, faktor lingkungan baik itu lingkungan fisik maupun sosial budaya
yang diantaranya ialah tingkat pendidikan , tingkat pengetahuan dan penghasilan
memegang peranan penting dalam mepengaruhi status kesehatan gigi dan mulut
seseorang [15].
Usia (26-45 tahun) merupakan masa dewasa awal dan akhir. Pada usia
ini umumnya adalah para pekerja baik itu pekerjaan tetap atau tidak sehingga
setiap harinya mereka hanya memikirkan pekerjaan mereka. Mereka tidak
memiliki waktu untuk melakukan pemeriksaan di layanan kesehatan sehingga

e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. (no), bulan, tahun


Dewi, et al, Hubungan Usia dan...

mereka tidak peduli dengan kesehatan rongga mulutnya dan hanya pada saat
kondisi sakit mereka akan periksa ke layanan kesehatan.
Uji yang dilakukan pada penelitian ini dalah Spearman-Correlation test,
dimana terdapat dua kali uji yang dilakukan yakni uji hubungan usia dengan
penyakit pulpa dan jaringan periapikal yang hasilnya tidak ditemukan adanya
hubungan 0,269>α(Tabel 3) dan uji hubungan jenis kelamin dengan penyakit
pulpa dan jaringan periapikal yang juga tidak ditemukan hubungan yang
signifikan 0,013> α (Tabel 4). Hal ini dikarenakan penyakit pulpa dan jaringan
periapikal tidak dapat diukur menurut jenis kelamin.
Tingginya prevalensi dan derajat keparahan karies gigi disebabkan oleh
berbagai faktor. Karies dapat terjadi akibat interaksi 4 faktor pencetus yakni host
atau gigi, substrat, mikroorganisme dan frekuensi mengkonsumsi karbohidrat
serta lamanya perlekatan karbohidrat pada gigi [16].

Kesimpulan

Penyakit pulpa dan jaringan periapikal (K0.4) merupakan penyakit yang


paling banyak ditemukan pada penelitian ini. Pada penelitian ini tidak ditemukan
adanya hubungan usia, jenis kelamin dengan penyakit pulpa dan jaringan
periapikal. Tingginya prevalensi dan derajat keparahan karies gigi disebabkan
oleh berbagai faktor. Menurut newburn karies dapat terjadi akibat interaksi 4
faktor pencetus yakni host atau gigi, substrat, mikroorganisme dan frekuensi
mengkonsumsi karbohidrat serta lamanya perlekatan karbohidrat pada gigi
sehingga usia dan jenis kelamin tidak mempunyai hubungan dengan kejadian
penyakit pulpa dan jaringan periapikal [16].

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu selama proses
pembuatan artikel ini, terutama kepada dokter pembimbing Puskesmas Tanggul
drg. Arie Werdingsih, dokter pembimbing Puskesmas Gumukmas drg. Wendie
Sinang Dria serta dokter pembimbing RSD Balung drg. Gandhi Rijantho, Sp. Ort
dan drg. Ella Fajar Asih.
Daftar Pustaka
[1] Depkes. 2014. Infodatin Situasi Kesehatan Gigi dan Mulut. Jakarta: Depkes
RI
[2] Matriani, AA., Kamizar, MU. 2014. Distribusi Penyakit Periapikal Berdasarkan
Etiologi dan Klasifikasi di RSKGM Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Indonesia Tahun 2009-2013. Jakarta: UI
[3] Depkes. 2012. Profil Kesehatan Indonesia 2011. Jakarta: Kementrian
Kesehatan RI
[4] Dorland. 1998. Kamus Saku Kedokteran Dorland.Jakarta: EGC
[5] Walton RE., Torabinejad, M. 2008. Prinsip dan Praktek Ilmu Endodonsi.
Jakarta: EGC
[6] Tarigan, R. 2002. Perawtan Pulpa Gigi. Jakarta: EGC
[7] Bence, R. 2005. Buku pedoman endodontik klinik. Terjemahan Sundoro
Jakarta: Universitas Indonesia.
[8] Tronstad, L. 2009. Clinical Endodontics: A Textbook. Oslo: University of Oslo
[9] Fragiskos, F.D. 2007. Oral Surgery. Heidelberg: Springer

e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. (no), bulan, tahun


Dewi, et al, Hubungan Usia dan...

[10] Soemartono. 2008. Infeksi Odontogenik dan Penyebarannya. Jakarta: EGC


[11] Roelianto. 2003. Diagnosis dan Perawatan Saluran Akar. Penerbit Buku
Kedokteran EGC Jakarta.
[12] Fejerskov, O dan Kidd, Edwina. A. M. 2008. Dental Caries: The Disease and
Its Clinical Management Second Edition. UK: Blackwell Publishing Ltd. Hal :
138, 194-195.
[13] Ningsih, Setya Diana. 2015. Hubungan Jenis Kelamin Terhadap Kebersihan
Rongga Mulut Anak Panti Asuhan. ODONTO Dental Journal. Volume 2.
Nomer 1. Juli 2015. Hal : 16-18
[14] Mintjelungan, et. al. Status Kebersihan Gigi Dan Mulut Pada Nelayan Di
Kelurahan Bahu Kecamatan Malalayang Kota Manado Sulawesi Utara.
Jurnal e-GiGi (eG), Volume 3, Nomor 2, Juli-Desember 2015
[15] Widyastuti,Tri. 2010. Kejadian Karies Aktif pada Anak Usia 3-5 Tahun yang
Tercatat di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Mohammad Ramdan Kota
Bandung Tahun 2010 dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Depok :
Universitan Indonesia
[16] Warni, linda. 2010. Hubungan Prilaku Murid SD Kelas V dan VI Pada
Kesehatan Gigi dan Mulut Terhadap Status Karies Gigi Di Wilayah
Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009.

e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. (no), bulan, tahun