You are on page 1of 2

Merajut Benang Waktu

Ma, Aku Ingin…

“Dimana Andin?” Tanya guru kepada para siswa dikelas.

“Ngga tahu, Bu.” jawab siswa serentak.

“Baik. Waktu ujian 60 menit. Jumlah soal ada 40 buah. Silakan dikerjakan dengan
tertib dan tenang.” Ibu Lasmi, sapaan akrab itu guru paruh baya yang mengajar mata
pelajaran Bahasa Inggris itu membagikan paket soal kepada siswa. setelah selesai
membagikan soal, Bu Lasmi meninggalkan ruang ujian menuju kantor.

“Di mana Bu Sri ya Pak Anjas?” Mata Bu Lasmi menyusuri setiap sudut ruangan
mencari sosok Bu Sri.

“Bu Sri mengawas ujian di ruang kelas 1B, Bu. Ada apa?” jawab pria berbaju
olahraga di samping pintu.

“Andin, dia tidak masuk ujian hari ini. Tumben sekali. Biasanya dia rajin masuk
sekolah. Apalagi ini sedang ujian.”

“Andin, Bu? Mungkin dia terlambat.”

“Mungkin juga, Pak” Bu Lasmi berlalu kembali menuju ruang ujian.

Setelah ujian berakhir. Bu Lasmi kembali menuju ruang kantor. tampak para guru
telah kembali dari ruang ujian masing-masing. Bu Lasmi segera menemui Bu Sri untuk
mengatakan ketidakhadiran Andin pada ujian hari itu. Sayangnya, Bu Sri yang merupakan
tante dari Andin tidak mengetahu apa yang terjadi dengan Andin sehingga ia tidak masuk
sekolah hari itu.

“Nanti saya tanyakan pada Ibunya, Bu.”

“Iya, Bu. Semoga besok dia sudah masuk lagi. Karena dia akan ketinggalan ujian.
akan sangat disayangkan, Bu.”

“Iya.”

***

Ditempat lain, Andin sedang tergugu menangis didepan jendela. Sejak semalam ia
tidak keluar dari kamar. Tidak juga mengizinkan seorangpun memasuki kamarnya. Andin
masih terisak-isak. Terlihat bengkak pada kedua matanya. Kamar Andin berantakan. Tampak
barang-barang berserakan dan pecahan kaca disudut kamar.
Andin berdiri mendekati cermin disebelah tempat tidurnya. melihat bayangan wajah
yang terus saja mengeluarkan mata sejam malam tadi. seperti tidak ada habisnya. Andin akan
berhenti menangis hanya ketika ia tertidur.

“Kenapa? Kenapa kamu menangis? Berhentilah. Aku capek. Berhentilah menangis.


Untuk apa menangisi orang jahat seperti itu?” Andin memukuli cermin.