You are on page 1of 7

Mekanisme Koping

Reaksi berduka rumit dapat menjadi berkabung normal atau berkabung sederhana. Berkabung
mencakup semua proses psikologis yang digerakkan oleh kehilangan. Berkabung dimulai dengan
introjeksi dari objek yang hilang. Dalam berduka, perasaan seseorang diarahkan ke gambaran
kejiwaan dari orang yang dicintai. Dengan demikian mekanisme introjeksi berfungsi sebagai
mekanisme penyangga.
Melalui pengujian realitas seseorang menyadari bahwa orang atau objek yang dicintai tidak ada
lagi, dan kemudian investasi emosional ditarik. Hasil akhir adalah bahwa realitas menang,
namun proses dilakukan secara perlahan-lahan dari waktu ke waktu. Ketika tugas berkabung
selesai, ego menjadi bebas untuk berinvestasi kepada objek baru.
Reaksi kesedihan tertunda menggunakan mekanisme pertahanan menyangkal dan supresi untuk
menghindari kesulitan yang berat. Pertahanan khusus yang digunakan untuk menghambat
perasaan berkabung adalah represi, regresi, supresi, mengingkari,
intelektualisasi/rasionalisasi, dan proyeksi. Pengingkaran terhadap kehilangan menyebabkan
perasaan bersalah, kemarahan, dan keputusasaan mendalam yang berfokus pada ketidaklayakan
orang itu sendiri.
- Represi : Secara tidak sadar menekan pikiran yang berbahaya dan menyedihkan dari alam
sadar ke alam tidak sadar, semacam penyingkiran. Contoh : Melihat temannya
meninggal. Perilaku seolah-olah lupa kejadian tersebut.

- Supresi : Individu secara sadar menolak pikirannya keluar dari alam sadarnya dan
memikirkan hal yang lain.

- Regresi : Mundur ke tingkat perkembangan yang lebih rendah, dengan respons yang
kurang matang dan biasanya dengan aspirasi yang kurang. Contoh : seorang anak yng
tidak manja menjadi lebih manja ketika memiliki adik agar perhatian ibunya terfokus
pada dia dan dia meminta meminta ibunya untuk menyuapi atau menggendong dia.

- Mengingkari/denial : Melindungi diri terhadap kenyataan yang tak menyenangkan


dengan menolak menghadapi hal itu, yang sering dilakukan dengan cara melarikan diri
seperti menjadi “sakit” atau kesibukan lain. Tidak berani melihat dan mengakui
kenyataan yang menakutkan. Contoh : seorang ibu diberi tahu bahwa anaknya
meninggal, ia masuk ke kamar dan ketika melihat dan memeriksa jenazah anaknya, ia
menceritakan kepada tetangganya bahwa anaknya sedang tidur.

- Intelektualisasi : Penalaran yang berlebihan atau logika yang digunakan untuk


menghindari pengalaman peran yang mengganggu. Contoh : seseorang kehilangan harta
benda dan keluarganya, namun karena tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihannya
maka dia menenangkan dirinya dan selalu menekankan bahwa bencana yang
menimpanya adalah berasal dari Allah dan itu merupakan ujian untuknya.

- Rasionalisasi : Berusaha membuktikan bahwa perbuatannya (yang sebenarnya tidak baik)


rasional adanya, sehingga dapat disetujui dan diterima oleh diri sendiri dan masyarakat.

- Proyeksi : Menyalahkan orang lain mengenai kesulitannya sendiri atau melemparkan


kepada orang lain keinginannya yang tidak baik.

Diagnosa Keperawatan
Lynda Capernito (1995), dalam Nursing Diagnostic Application to Clinical Practic, menjelaskan
3 diagnosis keperawatan untuk proses berduka yang berdasarkan pada tipe kehilangan. NANDA
2018 diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan asuhan keperawatan kehilangan dan
berduka adalah :
a) Duka cita
b) Duka cita terganggu
c) Risiko duka cita terganggu

Kemungkinan Etiologi
 Kehilangan yang nyata atau dirasakan dari beberapa konsep nilai untuk individu
 Kehilangan yang terlalu berat (penumpukan rasa berduka dari kehilangan multiple yang
belum terselesaikan)
 Menghalangi respon berduka terhadap suatu kehilangan
 Tidak adanya antisipasi proses berduka
 Perasaan bersalah yang disebabkan oleh hubungan ambivalen dengan konsep kehilangan

Batasan Karakteristik

 Idealisasi kehilangan (konsep)


 Mengingkari kehilangan
 Kemarahan yang berlebihan, diekspresikan secara tidak tepat
 Obsesi pengalaman masa lampau
 Merenungkan perasaan bersalah secara berlebihan dan dibesar-besarkan tidak sesuai
dengan ukuran situasi
 Regresi perkembangan
 Gangguan dalam konsentrasi
 Kesulitan dalam mengekspresikan kehilangan
 Afek yang labil
 Kelainan dalan kebiasaan makan, pola tidur, pola mimpi, tingkat aktivitas, dan libido

Kasus
Seorang perempuan berusia 40 tahun datang ke poli Psikiatri RSJ dengan keluhan sering
menangis, tidak bisa tidur, tidak mau makan. Hasil pengkajian didapat bahwa pasien selalu
teringat anaknya yang meinggal 1 bulan lalu akibat kecelakaan, jantung berdebar-debar. Pasien
mengatakan “Kenapa saya mengijinkan dia pergi, kalau saja dia di rumah tentu masih hidup”

Masalah Keperawatan
1. Dukacita terganggu b.d kematian orang terdekat
2. Ketidakefektifan koping b.d ketidakadekuatan kesempatan untuk bersiap terhadap stressor

Intervensi Keperawatan

Prinsip Intervensi

1. Prinsip intervensi keperawatan pada tahap penyangkalan (denial) adalah memberi kesempatan
pasien untuk mengungkapkan perasaannya dengan cara berikut.
a. Dorong pasien mengungkapkan perasaan kehilangan.
b. Tingkatkan kesadaran pasien secara bertahap tentang kenyataan kehilangan pasien secara
emosional.
c. Dengarkan pasien dengan penuh pengertian. Jangan menghukum dan menghakimi.
d. Jelaskan bahwa sikap pasien sebagai suatu kewajaran pada individu yang mengalami
kehilangan.
e. Beri dukungan secara nonverbal seperti memegang tangan, menepuk bahu, dan
merangkul.
f. Jawab pertanyaan pasien dengan bahasan yang sederhana, jelas, dan singkat.
g. Amati dengan cermat respons pasien selama bicara.

2. Prinsip intervensi keperawatan pada tahap marah (anger) adalah dengan memberikan
dorongan dan memberi kesempatan pasien untuk mengungkapkan marahnya secara verbal
tanpa melawan kemarahannya. Perawat harus menyadari bahwa perasaan marah adalah
ekspresi frustasi dan ketidakberdayaan.
a. Terima semua perilaku keluarga akibat kesedihan (marah, menangis).
b. Dengarkan dengan empati. Jangan mencela.
c. Bantu pasien memanfaatkan sistem pendukung.

3. Prinsip intervensi keperawatan pada tahap tawar-menawar (bargaining) adalah membantu


pasien mengidentifikasi perasaan bersalah dan perasaan takutnya.
a. Amati perilaku pasien.
b. Diskusikan bersama pasien tentang perasaan pasien.
c. Tingkatkan harga diri pasien.
d. Cegah tindakan merusak diri.

4. Prinsip intervensi keperawatan pada tahap depresi adalah mengidentifikasi tingkat depresi,
risiko merusak diri, dan membantu pasien mengurangi rasa bersalah.
a. Observasi perilaku pasien.
b. Diskusikan perasaan pasien.
c. Cegah tindakan merusak diri.
d. Hargai perasaan pasien.
e. Bantu pasien mengidentifikasi dukungan positif.
f. Beri kesempatan pasien mengungkapkan perasaan.
g. Bahas pikiran yang timbul bersama pasien.

5. Prinsip intervensi keperawatan pada tahap penerimaan (acceptance) adalah membantu pasien
menerima kehilangan yang tidak dapat dihindari dengan cara berikut.
a. Menyediakan waktu secara teratur untuk mengunjungi pasien.
b. Bantu pasien dan keluarga untuk berbagi rasa.

Intervensi Keperawatan pada Pasien :


1. Tujuan
a. Pasien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
b. Pasien dapat mengenali peristiwa kehilangan yang dialami pasien.
c. Pasien dapat memahami hubungan antara kehilangan yang dialami dengan keadaan dirinya.
d. Pasien dapat mengidentifikasi cara-cara mengatasi berduka yang dialaminya.
e. Pasien dapat memanfaatkan faktor pendukung.

2. Tindakan
a. Membina hubungan saling percaya dengan pasien.
b. Berdiskusi mengenai kondisi pasien saat ini (kondisi pikiran, perasaan, fisik, sosial, dan
spiritual sebelum/sesudah mengalami peristiwa kehilangan serta hubungan antara kondisi saat ini
dengan peristiwa kehilangan yang terjadi).
c. Berdiskusi cara mengatasi berduka yang dialami.
1) Cara verbal (mengungkapkan perasaan).
2) Cara fisik (memberi kesempatan aktivitas fisik).
3) Cara sosial (sharing melalui self help group).
4) Cara spiritual (berdoa, berserah diri).
d. Memberi informasi tentang sumber-sumber komunitas yang tersedia untuk saling memberikan
pengalaman dengan saksama.
e. Membantu pasien memasukkan kegiatan dalam jadwal harian.
f. Kolaborasi dengan tim kesehatan jiwa di puskesmas.

Tindakan Keperawatan untuk Keluarga :


1. Tujuan
a. Keluarga mengenal masalah kehilangan dan berduka.
b. Keluarga memahami cara merawat pasien berduka berkepanjangan.
c. Keluarga dapat mempraktikkan cara merawat pasien berduka disfungsional.
d. Keluarga dapat memanfaatkan sumber yang tersedia di masyarakat.

2. Tindakan
a. Berdiskusi dengan keluarga tentang masalah kehilangan dan berduka dan dampaknya pada
pasien.
b. Berdiskusi dengan keluarga cara-cara mengatasi berduka yang dialami oleh pasien.
c. Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat pasien dengan berduka disfungsional.
d. Berdiskusi dengan keluarga sumber-sumber bantuan yang dapat dimanfaatkan oleh keluarga
untuk mengatasi kehilangan yang dialami oleh pasien.

Hasil Penelitian Jurnal

1. Judul jurnal : Gambaran Tahapan Kehilangan Dan Berduka Pasca Banjir Pada
Masyarakat Di Kelurahan Perkamil Kota Manado

2. Penulis Jurnal : Mega Maria Laluyan, Esrom Kanine, Ferdinand Wowiling (Unversitas
Sam Ratulangi Manado)

3. Tahun terbit jurnal : 2014


4. Metode penelitian jurnal :

Desain penelitian ini menggunakan metode survey deskriptif dengan pendekatan cross
sectional artinya yaitu penelitian yang variabel bebas dan variabel terikatnya diukur
secara bersamaan dan dilakukan sesaat atau sekali.

Populasi dalam penelitian ini adalah warga kelurahan Perkamil kota Manado. Dengan
teknik Purposive Sampling diperoleh sampel berjumlah 93 responden.

Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner.
Dalam kuesioner tersebut mengandung 10 pertanyaan dengan tingkatan angka di tiap
jawaban yang diberikan oleh responden. Hasil positif apabila jumlah skor rata-rata 26-50,
sedangkan hasil negatif apabila jumlah skor rata-rata 10-25.

Prosedur pengolahan data yang dilakukan melalui tahap editing, koding, skoring dan
tabulating, kemudian data dianalisis melalui prosedur analisis univariat.

5. Hasil penelitian jurnal :

Dari hasil penelitian peneliti diketahui bahwa responden yang paling besar menggalami
kehilangan dan berduka yaitu responden yang berusia 45 tahun. Jumlah responden yang
berumur 45 tahun yaitu 17 orang dan sebanyak 13 orang memberikan tanggapan positif
(kecenderungan masih dalam tahapan kehilangan dan berduka). sedangkan responden
yang paling banyak memberikan respon negatif (kecenderungan sudah tidak dalam
tahapan kehilangan dan berduka) yaitu responden yang berumur 40 tahun sebanyak 8
orang dari 15 orang responden.

Berdasarkan jenis kelamin dari penelitian ini, responden laki-laki merupakan responden
terbanyak yang mengalami kehilangan dan berduka. Sebanyak 39 orang dari 54 orang
responden laki-laki memberikan tanggapan positif (kecenderungan masih dalam tahapan
kehilangan dan berduka), sedangkan responden perempuan yang memberikan tanggapan
positif yaitu sebanyak 24 orang dari 39 orang responden yang telah diteliti. Lebih
besarnya responden laki-laki mengalami kehilangan dan berduka karena responden laki-
laki merupakan tulang punggung dalam suatu keluarga.

Dari hasil penelitian pada jenis pekerjaan diketahui responden yang paling banyak
memberikan tanggapan positif (kecenderungan masih dalam tahapan kehilangan dan
berduka) yaitu responden yang bekerja sebagai buruh, sebanyak 23 dari 25 orang
responden memberikan tanggapan positif. Sedangkan yang paling banyak memberikan
tanggapan negatif (kecenderungan sudah tidak dalam tahapan kehilangan dan berduka)
yaitu responden yang bekerja sebagai PNS, sebanyak 13 dari 18 orang responden
memberikan tanggapan negatif. Berdasarkan hasil tersebut dapat dilihat tingkat pekerjaan
seseorang dapat mempengaruhi tanggapan kehilangan dan berduka seseorang. Semakin
tinggi tingkat pekerjaan seseorang maka semakin kecil juga kecenderungan orang
tersebut akan mengalami kehilangan dan berduka.

6. Kesimpulan hasil jurnal :

Kesimpulannya, data yang diperoleh berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa,


responden di Kelurahan Perkamil terbanyak memiliki tanggapan positif (kecenderungan
masih dalam tahapan kehilangan dan berduka) berjumlah 63 orang (67,7%) dan
responden memiliki tanggapan negatif (kecenderungan sudah tidak dalam tahapan
kehilangan dan berduka) yaitu 30 orang (32,3%). Hasil penelitian di Kelurahan Perkamil
menggambarkan responden terbanyak memiliki tanggapan positif (kecenderungan masih
dalam tahapan kehilangan dan berduka). Tanggapan positif dalam penelitian ini yaitu
kecenderungan masih dalam tahapan kehilangan dan berduka serta belum bisa menerima
kehilangan dan berduka yang dialami.

Saran dari peneliti ini bagi responden yaitu dapat meningkatkan pemahaman dan
kemampuan tentang gambaran tahapan kehilangan dan berduka dengan mencari
informasi yang baik dan akurat, sehingga nantinya lebih tahu cara tahapan kehilangan
dan berduka.

Saran bagi petugas kesehatan agar lebih meningkatkan perhatian dalam memberikan
pemahanam tentang gambaran tahapan kehilangan dan berduka pasca banjir.

Saran bagi peneliti selanjutnya untuk meneliti lebih pada fase-fase kehilangan yang lebih
kompleks, yaitu fase denial, fase anger, fase bargaining, fase depression dan fase
acceptance.