You are on page 1of 3

Etiologi dan Faktor Resiko

Kurang kalori protein yang dapat terjadi karena diet yang tidak cukup serta kebiasaan
makan yang tidak tepat seperti yang hubungan dengan orangtua-anak terganggu, karena
kelainan metabolik, atau malformasi congenital. Pada bayi dapat terjadi karena tidak mendapat
cukup ASI dan tidak diberi makanan penggantinya atau sering diserang diare.

Secara umum, masalah KKP disebabkan oleh beberapa faktor, yang paling dominan
adalah tanggung jawab negara terhadap rakyatnya karena bagaimana pun KKP tidak akan
terjadi bila kesejahteraan rakyat terpenuhi.

Berikut beberapa faktor penyebabnya :

1. Faktor sosial.

Yang dimaksud faktor sosial adalah rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya
makana bergizi bagi pertumbuhan anak, sehingga banyak balita tidak mendapatkan makanan
yang bergizi seimbang hanya diberi makan seadanya atau asal kenyang. Selain itu, hidup di
negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi sosial dan politik tidak stabil,
ataupun adanya pantangan untuk menggunakan makanan tertentu dan berlangsung turun-
temurun dapat menjad hal yang menyebabkan terjadinya kwashiorkor.

2. Kemiskinan.

Kemiskinan sering dituding sebagai biang keladi munculnya penyakit ini di negara-negara
berkembang. Rendahnya pendapatan masyarakat menyababkan kebutuhan paling mendasar,
yaitu pangan pun sering kali tidak biasa terpenuhi apalagi tidak dapat mencukupi kebutuhan
proteinnya.

3. Laju pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan bertambahnya ketersedian bahan
pangan akan menyebabkan krisis pangan.

4. Infeksi.

Tak dapat dipungkiri memang ada hubungan erat antara infeksi dengan malnutrisi. Infeksi
sekecil apa pun berpengaruh pada tubuh. Sedangkan kondisi malnutrisi akan semakin
memperlemah daya tahan tubuh yang pada gilirannya akan mempermudah masuknya
beragam penyakit. Tindakan pencegahan otomatis sudah dilakukan bila faktor-faktor
penyebabnya dapat dihindari. Misalnya, ketersediaan pangan yang tercukupi, daya beli
masyarakat untuk dapat membeli bahan pangan, dan pentingnya sosialisasi makanan bergizi
bagi balita serta faktor infeksi dan penyakit lain.

5. Pola makan.

Protein adalah zat yang sangat dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang.
Meskipun intake makanan mengandung kalori yang cukup, tidak semua makanan
mengandung protein atau asam amino yang memadai. Bayi yang masih menyusui umumnya
mendapatkan protein dari Air Susu Ibu (ASI) yang diberikan ibunya. Namun, bayi yang
tidak memperoleh ASI protein dari suber-sumber lain (susu, telur, keju, tahu, dan lain-lain)
sangatlah dibutuhkan. Kurangnya pengetahuan ibu mengenai keseimbangan nutrisi anak
berperan penting terhadap terjadinya kwashiorkor terutama pada masa peralihan ASI ke
makanan pengganti ASI.

6. Tingkat pendidikan orang tua khususnya ibu mempengaruhi pola pengasuhan balita. Para ibu
kurang mengerti makanan apa saja yang seharusnya menjadi asupan untuk anak-anak mereka.

7. Kurangnya pelayanan kesehatan, terutama imunisasi. Imunisasi yang merupakan bagian dari
system imun mempengaruhi tingkat kesehatan bayi dan anak-anak.

Patofisiologi KKP(Kekurangan Kalori-Protein)

Gangguan perkembangan,
Tidak adekuatnya intake Penyakit kronis, seperti penyakit hati
gangguan kognitif atau
makanan dan gastrointestinal memberikan
gangguan psikologis,
dampak yang merugikan pada status
perubahan respons imun Tidak adekuatnya sanitasi nutrisi oleh karena gangguan pada
lingkungan fungsi pencernaan

Ketidakseimbangan antara asupan


Beban peningkatan respons nutrien dan kalori dengan kebutuhan
inflamasi dan peningkatan tubuh untuk pertumbuhan,
kebutuhan metabolik dengan pemeliharaan, dan fungsi-fungsi
meningkatnya penggunaan spesifik
kalori-protein

Malnutrisi
Salah Penurunan Ketidakseimbangan Penurunan Gangguan elastisitas
persepsi, intake nutrisi kurang dari kekuatan, kulit. Gangguan
sumber makanan kebutuhan tubuh cepat letih, sirkulasi integritas
informasi, tinggi serat, perubahan kulit, keterlambatan
penurunan imobilitas tingkat penyembuhan luka,
motivasi Gangguan kesadaran dan iritasi integritas
pertumbuhan dan
Konstipasi jaringan
Ketidakadek perkembangan Defisit
uatan anak aktivitas Risiko gangguan
program integritas jaringan kulit
pengobatan
Asupan Risiko ketidak- Gangguan
cairan tidak seimbangan cairan tidak Syok hipovolemik
Peningkatan seimbang cairan dapat irreversibel
risiko infeksi kebutuhan dikoreksi
gastrointestin tubuh
al Kematian

Diare