You are on page 1of 4

Otak Youtube

Awan hitam pekat menyerbu kota Ambarawa. Hamparan pegunungan menjadi medan yang aku
tempuh untuk sampai tujuan. Hondaku melaju cepat ibarat Valentino Rossi yang sedang berada
di sirkuit Moto GP. Aku takut dengan lajunya Honda bututku, tetapi rasa takut ini masih kalah
dengan mendung yang ingin menangis di setiap putaran roda yang sebentar lagi sampai ban
dalam. Spedometer mencapai angka 90 ku genjot secara stabil, menurutku itu hal biasa bagi anak
muda.

Aku berhenti di lampu apill Banyu Biru. Langit mulai meneteskan butiran air pertanda rasa sedih
awan hampir puncak. Tangan kananku mulai menarik gas di saat lampu merah berganti hijau.
Ribuan meter sampai jutaan meter jarak tempuh aku lalui bersama si Honda. Bahkan puluhan
pengendara lainnya ku lalui tanpa belas kasian.

Sampai di sebuah tikungan sebelum pertigaan jalan arah Semarang aku melihat orang berompi
hijau sedang menujuk saya. Rasa bingung sedang aku alami. Kenapa orang tadi menujukku
sambil berbicara di HT.
“Apakah aku bermasalah ya, ah mana mungkin akukan warga yang taat aturan.” Gumanku.

Tepat di pertigaan aku diberhentikan grombolan orang berompi hijau bersama pengendara
lainnya. Satu orang menghentikanku sambil melucuti dompetku. Isi dompet identitas si Honda
kuberikan dengan spontan.

“Dengan Mas Semprol dari Tegalwarung?”


“Betul”
“Maaf Mas Semprol surat anda harus saya minta.” Tegurnya dan langsung membawa ke gubuk
kecil di seberang jalan.

Hewan yang dilindungi bermunculan dari mulutku.


“Asuuuu....”
Honda ku matikan dan menghampiri gubuk yang menjadi markas orang-orang berompi hijau.
Ada tiga eksekutor yang sedang duduk. Aku menghampiri yang memanggilku.

“Mas Semprol anda pilih yang mana untuk diberikan kepada saya.”
“Haduh, ini gimana sih tanpa kejelasan kok tiba-tiba minta isi dompetku.”
“Begini, Mas Semprol telah melanggar aturan.”
“Aturan apa, isi dompet lengkap dan si Hondapun taat aturan”
“Mas Semprol yang punya motor itukan?”
“Ya, emang kenapa si Honda, dia kan sudah sesui aturan.”

Tudingan eksekutor terhadap si Honda terus ku tanggapi. Eksekutor kebingungan


Dan mencari temannya yang menghentikanku.

“Woy, ini Mas Semprol masalahnya Apa?”


“Ini Honda milik Mas Semprol lampunya tidak terang.”

"Nah Masnya dengar sendiri kan sekarang saya minta salah satu isi dompetnya. Masnya bisa
ambil pada tanggal yang sudah tertera pada surat lampiran ini, Mas semprol tinggal tanda tangan
saja dan dapat melanjutkan perjalanan.”

Rasa mangkel menggebu gebu di hati ku. Aku menolak menandatangani surat lampiran karena
orang berompi hijau tidak jelas tindakannya.

“Maaf, Hondaku itu menyala, pada intinya menyala itu memancarkan cahaya. Dan satu lagi saya
ingin tau aturan yang menjelaskan tentang redupnya lampu itu pasal berapa?”
“Mas semprol bisa buka youtube pasalnya.”

Tiba tiba eksekutor sebelahnya membentak dengan ancaman ingin menyita Hondaku. Aku
menjadi ketakutan bukan karena bentakan, tapi karena tujuanku masih jauh. Lampiran Surat aku
terima dengan rasa kesal ingin rasanya berantem satu lawan satu karena tubuhku tidak kalah
besar dari orang berompi hijau.
Di tengah berlangsungnya sidang eksekusiku Aku melihat pengendara lain menyerahkan sebuah
bukti pembayaran dan isi dompetnya dikembalikan. Aku menjadi curiga dengan pemandangan
tersebut. Kuberanikan meyinggung tindakan pengendara lain.
“Maaf, kok Mas yang tadi dikembalikan isi dompetnya dengan mudah sekali. Apa yang salah
dengan ku?”
“Mas Semprol kalo mau kembali isi dompetnya harus membayar uang ditransfer lewat Atm. Mas
Semprol harus bayar Rp 50.000. Nomer rekening sudah ada di surat lampiran.”
“Brati ditranfer lewat atm?”
“Ya.”

Si Honda langsung aku kendalikan untuk mencari Atm BRI. Perjalanan yang asalnya sudah
melewati Banyu Biru ku arungi lagi. Sekitar 5 km dari gubuk ada Atm. Proses transfer aku
lakukan ternyata hasilnya gagal. Maaf no rek anda tidak terdaftar selalu muncul di ujung
transferku. Aku menelfon salah satu orang berompi hijau.
“Mas paham tidak sih, seharusnya itu di pembayaran briva bukan transfer.”
“Yang salah kok aku. Kan anda yang nyaranin transfer.”

Proses pembayaran briva sukses aku lakukan. Aku lihat sejenak waktu menginjak jam 5.
Perjalanan masih sekitar 4 jam untuk sampai Pati. Bergegas aku mengambil isi dompetku di
gubuk rompi hijau.

Terlihat gerombolan rompi hijau tengah bersiap-siap untuk pergi. Aku hampiri salah satu rompi
hijau.
“Pak ini bukti pembayaran brivaku”
“Siapa namanya?”
“Mas Semprol”
“Oh yang mbantahan yang tak tau diri tadi”
Secuil kata yang sakit di hatiku. Isi dompet telah kembali, tetapi rasa perih tak bisa di obati.
“Maaf, sebelum kalian pergi saya ingin bertanya tentang pasal yang mengatur lampu kendaraan
apa?”
“Bisa buka di youtube Mas.”
“Udah tidak usah diladeni Mas Semprol”

Gerimis yang lama sudah ingin berubah menjadi hujan. Gerombolan berjalan menuju kendaran
masing masing. Diriku dalam keadaan panas di siram jarang.

“Saya akui saya tadi salah, tetapi lebih salah kalian. Merampok tanpa bukti, masak ditanya pasal
berapa yang mengatur kesalahanku tidak tau. Malah disuruh lihat di youtube. Emang yang jadi
polisi youtube. Kalian itu alat negara yang tugasnya mengayomi rakyat bukan meresahkannya.
Apakah gajimu kurang sehingga engkau memanfaatkan jabatan. Rusak-rusak negara kita kalo
alat negaranya berotak youtube.”

Sekejab gerombolan rompi hijau berhenti dan berjalan menghampiriku. Aku dan si Honda
bergegas melanjutkan perjalanan dan menghindari serbuan gerombolan rompi hijau sialan itu.