You are on page 1of 2

Kebudayaan yang Ditutupi Malu

Menjadikan Hari Kamis sebagai Hari berbahasa Bali di sekolah merupakan


salah satu bentuk cara untuk melestarikan bahasa daerah sendiri. Tetapi, hal
tersebut sedikit demi sedikit tidak dilaksanakan oleh semua siswa di Denpasar
Setiap orang tentunya memiliki potensi untuk bisa berbagai macam bahasa. Ada yang
dibawa sejak lahir dan ada pula yang tumbuh berkat kerja kerasnya untuk mau mempelajari salah
satu bahasa sehingga orang tersebut pintar berbahasa asing. Mayoritas kemampuan berbahasa
kita tumbuh sejak dini dan berkembang seiring berjalannya waktu. Kemampuan bawaan sejak
lahir misalnya kecerdasan yang sudah
mulai terlihat saat memasuki bangku
sekolah. Biasanya, orang yang memiliki
prestasi di bidang berbahasa akan aktif
saat mengikuti pembelajaran di sekolah.
Orang tersebut juga akan mengikuti
organisasi-organisasi atau ekstra kulikuler
yang berbau bahasa yang dapat
mengembangkan potensinya tersebut.
Seperti halnya penggunaan Bahasa Bali di
sekolah. Sebagian masyarakat di sekolah mungkin sudah mengenal adanya Bahasa Bali dan tidak
sedikit lagi yang bisa berbicara menggunakan Bahasa Bali.

Di BaliBahasa Bali kerap menjadi bahasa sehari-hari oleh beberapa masyarakat terutama
guru-guru. Tetapi, sebagian siswa yang menggunakan Bahasa Bali apalagi menggunakannya
secara baik dan benar di sekolah. Penetapan hari Kamis sebagai hari berbahasa Bali membuat
siswanya lebih gemar mempelajari Bahasa Bali dan diharapkan setiap Hari Kamis, seluruh siswa
dan guru khususnya di SMA Negeri 7 Denpasar menggunakan Bahasa Bali dari pagi hingga
siang sepulang sekolah. Tetapi, aturan tersebut hanya berlaku beberapa kali saja. Pasalnya,
siswa-siswa hanya beberapa yang mengikuti aturan tersebut. Rasa percaya diri untuk
menggunakan bahasa daerah tersebut sedikit demi sedikit menipis dan siswa yang masih ingin
mempelajari tentang hal-hal yang berbau Bahasa Bali pun sedikit demi sedikit mengurang. Para
siswa yang menggunakan Bahasa Bali sebagai bahasa sehari-harinya juga menggunakan Bahasa
Bali yang tidak sesuai aturan. Seperti menggunakan bahasa kasar untuk merendahkan seseorang.

Rasa percaya diri untuk menggunakan bahasa daerah sendiri kebanyakan muncul ketika
mendapat perlakuan yang baik dengan lawan bicaranya, misalnya bila seorang anak
menggunakan Bahasa Bali yang baik dan benar untuk berbicara dengan lawan bicaranya,
pastinya lawan bicaranya tersebut juga menggunakan Bahasa Bali yang baik dan benar untuk
berbicara atau berkomunikasi. Hal itupun dilakukan sebaliknya. Dampak yang lebih spesifik dari
tidak diteruskannya hari berbahasa Bali di sekolah adalah para siswa kurang mengetahui
kebudayaan dahulu yang menggunakan Bahasa Bali sebagai ‘Bahasa Ibu’. Selain itu, para siswa
juga kurang percaya diri jika diajak berbicara menggunakan Bahasa Bali dengan lawan
bicaranya.