You are on page 1of 15

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang selalu melimpahkan rahmat, taufik, dan
hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Hikmah
Al-Qur’an Diturunkan Secara Berangsur-Angsur”.Makalah ini disusun untuk
memenuhi tugas matakuliah Studi Al-Qur’an dengan tujuan meningkatkan
pengetahuan, wawasan, dan keterampilan mahasiswa.
Dalam penulisan makalah ini tidak terlepas dari petunjuk dan bimbingan serta
masukan dari semua pihak. Oleh karena itu, kami mengucapkan terimakasih kepada
Dr. Hj. Sulalah, M.Ag selaku dosen matakuliah ini yang telah membantu dan memberi
pengarahan kepada kami dalam belajar dan mengerjakan tugas dan juga semua
pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini sehingga dapat selesai
tepat waktu.
Makalah ini kami susun selengkap-lengkapnya. Akan tetapi, kami menyadari
bahwa makalah ini jauh dari sempurna karena keterbatasan dan kekurangan
pengetahuan serta minimnya pengalaman yang dimiliki. Oleh karena itu, kritik dan
saran dari pembaca kami harapkan.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penyusun dan pembaca
pada umumnya. Amin.

Jombang, 15 Maret 2017

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Turunnya Al-Qur’an ialah peristiwa besar yang sekaligus merupakan
pernyataan kedudukan Al-Qur’an itu sendiri bagi langit dan penghuni bumi yang
mana penyampaian wahyu dengan perantara Malaikat Jibril as. kepada Nabi akhir
zaman berdasarkan peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian.
Turunnya Al-Qur’an yang pertama kali pada malam lailatul qodar merupakan
pemberitahuan kepada alam tingkat tinggi (samawi) yang dihuni oleh para malaikat
tentang kemuliaan umat nabi Muhammad, sedangkan turunnya Al-Qur’an yang
kedua kali secara bertahap berbeda dengan kitab-kitab yang turun sebelumnya.
Al-Qur’am diturukan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW adalah
dengan perantaraan Malaikat Jibril, dan caranya tidak sekali turun, tetapi berangsur-
angsur dari se-ayat, dua ayat dan tempo-tempo sampai sepuluh ayat. Bahkan
kadang-kadang diturunkan hanya tiga perkataan, kadang-kadang hanya setengah
ayat dan demikian selanjutnya, menurut kepentingannya sebagaimana yang
dikehendaki oleh Allah.[1]
Lantas apa hikmahnya? Dalam makalah ini kita akan membahas tentang
hikmah Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur agar kita tidak hanya
mengerti proses turunnya saja. Dan kita juga akan membahas tentang faedah
turunnya Alqur’an secara bertahap dalam pendidikan dan pengajaran.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam
makalah ini adalah:
1.Bagaimana proses turunnya Al-Qur’an?
2.Apa hikmah Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur?
3.Apa faedah turunnya Al-Qur’an secara bertahap dalam pendidikan dan
pengajaran?

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan ditulisnya makalah ini
adalah untuk:
1.Memahami proses turunnya Al-Qur’an
2.Memahami hikmah Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur
3.Memahami faedah turunnya Al-Qur’an secara bertahap dalam pendidikan dan
pengajaran
BAB III
PEMBAHASAN

A. Proses Turunnya Al-Qur’an


Dalam pembahasan proses turunnya Al-Qur’an kali ini, kita hanya akan
mengulas sedikit materi sebelumnya, karena telah dibahas oleh kelompok
sebelumnya.
Proses turunnya ada 2 tahap, yaitu:
Dari Lauhil Mahfuz ke sama’ (langit) dunia secara sekaligus pada malam
Lailatul Qadar.
...       
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya
diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan
mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).... Al-Baqarah 185

2. Dari sama’ dunia ke bumi secara bertahap


Al-Qur’an dalam satu riwayat diturunkan dalam tempo 22 tahun 2 bulan 22
hari, yaitu dari malam 17 Ramadhan tahun 41 Nabi, sampai 9 Dzulhijjah Haji Wada’
tahun 63 dari kelahiran Nabi atau tahun 10 H.
Firman Allah dalam surat Al Isra’:
         
106. dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu
membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi
bagian. Al-Isra' Ayat 106

B. Hikmah Al-Qur’an Diturunkan Secara Berangsur-Angsur


Turunnya Al-Qur’an secara bertahap, tidak hanya disebabkan karena Al-
Qur’an itu lebih besar dari kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah sebelumnya,
melainkan ada beberapa hikmah lainnya.
Turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur itu mengandung hikmah yang
nyata serta rahasia mendalam yang hanya diketahui oleh orang-orang yang alim atau
pandai.[3] Dari penjelasan sebelumnya, kita dapat menyimpulkan hikmah turunnya
Al-Qur’an secara berangsur-angsur, diantaranya:
1. Meneguhkan hati Nabi Muhammad SAW
Ketika berdakwah, Nabi kerap kali berhadapan dengan para penentang yang
memiliki sikap dan watak begitu keras. Meraka senantiasa mengganggu dengan
berbagai macam gangguan dan kekerasan. Mereka senantiasa melemparkan
berbagai ancaman dan gangguan kepada Nabi.
Wahyu turun kepada Rasulullah dari waktu ke waktu sehingga dapat
meneguhkan hatinya terhadap kebenaran dan memperkokoh zamannya untuk tetap
melangkahkan kaki dijalan dakwahnya tanpa ambil peduli akan perlakuan jahiliyah
yang beliau hadapinya dari masyarakatnya sendiri, karena yang demikian itu
hanyalah kabut dimusim panas yang segera lenyap.[4]

Dalam surat Al-An’am Allah berfirman:


          
    
          
           
 

33. Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan
hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan
kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah[469].
34. dan Sesungguhnya telah didustakan (pula) Rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka
sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai
datang pertolongan Allah kepada mereka. tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-
kalimat (janji-janji) Allah. dan Sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita
Rasul-rasul itu.

Allah menjelaskan kepada Rasulullah tentang sunnah-Nya yang terjadi kepada


para nabi terdahulu yang didustakan dan dianiaya oleh kaum mereka, tetapi mereka
tetap bersabar sehingga datang pertolongan Allah. Kaum Rasulullah itu pada
dasarnya, mendustakannya hanya karena kesombongan mereka. Disini beliau
menemukan suatu “Sunnah Ilahi” dalam perjalanan para nabi sepanjang sejarah,
yang dapat menjadi hiburan dan penerang baginya dalam menghadapi gangguan,
cobaan, dan sikap mereka yang selalu mendustakan dan menolaknya.
Al-Qur’an juga memerintahkan Nabi Muhammad agar bersabar seperti para
rasul sebelumnya,
           
             
    

35. Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-
rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. pada hari
mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di
dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (inilah) suatu pelajaran yang cukup, Maka tidak
dibinasakan melainkan kaum yang fasik.

Hati beliau menjadi tenang, sebab Allah telah menjamin akan melindunginya
dari gangguan orang-orang yang mendustakannya, dan setiap kali penderitaan
Rasulullah bertambah karena didustakan oleh kaumnya dan merasa sedih karena
penganiayaan mereka, maka Al-Qur’an turun untuk melepaskan derita dan
menghiburnya serta mengancam orang-orang yang mendustakan bahwa Allah
mengetahui dan akan membalas apa yang mereka lakukan itu.
Contoh lain ayat-ayat Al-Qur’an yang turun sebagai penenang dan penghibur
Rasulullah misalnya:
             
            
 
67. Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak
kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.
Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia[430]. Sesungguhnya Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

    


3. dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).

          
21. Allah telah menetapkan: "Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang". Sesungguhnya Allah Maha
kuat lagi Maha Perkasa.

Demikianlah, ayat-ayat Al-Qur’an itu turun kepada Rasulullah secara


berkesinambungan sebagai penghibur dan pendukung sehingga beliau tidak
dirundung kesedihan dan dihinggapi rasa putus asa. Didalam kisah para Nabi itu
terdapat teladan baginya. Dalam nasib yang menimpa orang-orang yang
mendustakan terdapat hiburan baginya. Dan dalam janji akan memperoleh
pertolongan Allah terdapat berita gembira baginya. Setiap kali ia merasa sedih
sesuai dengan sifat-sifat kemanusiaannya, ayat-ayat penghibur pun datang berulang
kali, sehingga hatinya mantap untuk melanjutkan dakwah, dan merasa tentram
dengan pertolongan Allah.
2. Menentang dan melemahkan para penentang Al-Qur’an
Dalam dakwahnya nabi seringkali menerima pertanyaan-pertanyaan sulit dari
orang-orang kafir dengan tujuan melemahkan dan menguji kenabian Rasullullah.
Maka turunlah Al-Qur’an yang menjelaskan kebenaran dan jawaban yang amat tegas.
        
33. tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil,
melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.
Turunnya wahyu secara berangsur-angsur tidak hanya menjawab pertanyaan
bahkan menentang mereka untuk membuat satu surat saja yang sebanding
dengannya. Dan ternyata mereka tidak sanggup membuat satu surat saja yang
seperti Qur’an, apalagi membuat langsung satu kitab.
3. Meringankan Nabi dalam menerima wahyu
Hal ini karena kedalaman dan kehebatan Al-Qur’an sebagaimana firman Allah:
     
5. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu Perkataan yang berat.

Al-Qur’an sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah merupakan sabda Allah


yang mempunyai keagungan dan keluhuran. Ia adalah sebuah kitab yang andaikata
diturunkan kepada gunung niscaya gunung tersebut akan hancur dan merata karena
begitu hebat dan agungnya kitab tersebut. Bagaimana dengan hati Nabi yang begitu
lembut, mampukah beliau menerima Al-Qur’an secara langsung tanpa merasakan
kebingungan dan keberatan.
4. Mempermudah dalam menghafal Al-Qur’an dan memberi pemahaman bagi
kaum muslimin
Al-Qur’an pertama kali turun ditengah-tengah masyarakat yang ummi yakni
yang tidak memiliki pengetahuan tentang bacaan dan tulisan. Turunnya wahyu
secara berangsur-angsur memudahkan mereka untuk memahami dan
menghapalkannya.
         
         
 
2. Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang
membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka
kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam
kesesatan yang nyata,

Umat yang ummi akan kesulitan menghafal jika Al-Qur’an diturukan sekaligus
dan tidak mudah bagi mereka untuk memahami maknanya. Jadi dengan
diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur itu merupakan bantuan yang
terbaik bagi mereka untuk menghafal dan memahaminya. Setiap turun satu atau
beberapa ayat, para sahabat segera menghafalkannya, merenungkan maknanya dan
mempelajari hukum-hukumnya.
5. Tadarruj (selangkah demi selangkah) dalam menetapkan hukum samawi
Hikmah yang selanjutnya adalah tadarruj (berangsur-angsur) dalam
penetapan hukum. Hikmah Allah memutuskan demikian ini dengan tujuan
mengalihkan dari beberapa aqidah menjadi satu aqidah, mengeluarkan mereka dari
berhala kepada agama, dari sangkaan dan dugaan kepada kebenaran serta dari tidak
iman menjadi keimanan.
Setelah itu langkah pemantapan dan pelestarian iman diteruskan dengan
ibadah. Ibadah yang mula-mula ditekankan adalah shalat, yaitu pada masa sebelum
hijrah, kemudian diikuti dengan puasa dan zakat, yaitu pada tahun yang kedua hijrah
dan yang terakhir adalah ibadah haji yaitu pada tahun keenam hijrah.
Demikian pula halnya dengan kebiasaan yang sudah membudaya dikalangan
mereka, Al-Qur’an pun menggunakan metode yang sama. Pertama-tama dititik
beratkan kepada masalah dosa-dosa besar, kemudian menyusul dosa-dosa kecil (hal-
hal yang disepelehkan). Selanjutnya selangkah demi selangkah, mengharamkan
perbuatan yang sudah mendarah daging bagi mereka seperti : khamar, judi, dan riba.
Sebagai contoh yaitu dalam penetapan dalam kasus pengharaman minuman
keras,
a. Tahap pertama
          
     

67. dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan
rezki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda
(kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.
Dalam ayat ini, menyebutkan tentang nikmat atau karunia Allah. Allah
menjelaskan bahwa Dia telah memberi kaunia dua jenis pohon kepada manusia,
yaitu anggur dan kurma. Dan dari keduanya dapat diperoleh minuman keras
dan rezeki yang baik bagi manusia yaitu berupa makanan dan minuman. Para
Ulama sepakat bahwa pemberian predikat baik adalah pada rezeki bukan pada
mabuknya. Dengan demikian, pujian Allah hanya ditujukan pada rezeki bukan
pada mabuknya. Dari perbandingan diatas, orang-orang yang befikir akan
mengetahui perbedaannya dengan jelas.
b. Tahap kedua
Turun firman Allah.
         
         
        
219. mereka bertanya kepadamu tentang khamar[136] dan judi. Katakanlah: "Pada
keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa
keduanya lebih besar dari manfaatnya". dan mereka bertanya kepadamu apa yang
mereka nafkahkan. Katakanlah: " yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir. Q.S. Al-Baqarah: 219
Dalam ayat ini, membadingkan antara manfaat khamr seperti kesenangan ,
kegairahan, atau keuntungan karena memperdagangkannya, dengan bahaya
yang berupa dosa, bahaya kesehatan tubuh, merusak akal, menghabiskan
harta dan membangkitkan dorongan untuk berbuat dosa. Ayat ini merupakan
cara halus untuk menjauhkan khamr dengan menonjolkan bahayanya.
c. Tahap ketiga
Dalam tahap ini terdapat larangan tegas berupa diharamkannya khamr
terhadap mereka dalam waktu shalat saja agar mereka sadar dari mabuknya.
        
           
           
       
         
43. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam Keadaan
mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid)
sedang kamu dalam Keadaan junub[301], terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu
mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang
air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, Maka
bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu.
Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun.

Dengan demikian sempurnalah pengharaman Khamr secara berangsur-angsur.


Itulah langkah-langkah dalam penanggulangan penyelewengan masyarakat
yang ditempuh oleh Islam.

6. Sejalan dengan kisah-kisah yang terjadi dan mengingatkan atas kejadian-


kejadian itu
Al-Qur’an turun berangsur-angsur sesuai dengan keadaan saat itu sekaligus
memperingatkan kesalahan yang dilakukan tepat pada waktunya. Dengan demikian
turunnya Al-Qur’an lebih mudah tertanam dalam hatidan mendorong orang-orang
Islam untuk mengambil pelajaran secara praktis. Bila ada peersoalan baru, maka
turunlah ayat yang sesuai. Bila terjadi kesalahan dan penyelewengan maka turunlah
ayat yang memberi batasan serta pemberitahuan kepada mereka tentang masalah
mana yang harus ditinggalkan dan patut dikerjakan. Contohnya ketika Perang
Hunain, orang Islam bersikan sombong dan optimis karena jumlah pasukan mereka
berlipat ganda melebihi pasukan kafir. Mereka merasa yakin dapat mengalahkan
orang kafir. Namun kenyataan yang terjadi mereka justru berantakan dan mundur
kocar-kacir. Pada peristiwa terbebut Allah menegaskan:
           
          
  
25. Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai Para mukminin) di medan peperangan
yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, Yaitu diwaktu kamu menjadi congkak
karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat
kepadamu sedikitpun, dan bumi yang Luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian
kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Q.S. At-Taubah:25

Contoh lain dalam permasalahan pengambilan harta tebusan tawanan dalam


perang badar, turunlah ayat pengarahan dari Allah yang begitu tajam.
            
         
67. tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan
musuhnya di muka bumi. kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah
menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dari dua kisah diatas, kita dapat menyimpulkan, jika Al-Qur’an diturunkan
sekaligus, maka umat Islam tidak akan mengetahui kesalahan dan menemukan
jawaban yang tepat akan permasalahannya.

7. Petunjuk terhadap asal (sumber) Al-Qur’an bahwasanyan Al-Qur’an


diturunkan dari zat yang maha bijaksana lagi terpuji
Al-Qur’an yang turun secara berangsur-angsur kepada Rasulullah dalam
waktu yang lebih dari dua puluh tahun ini, ayat-ayatnya turun dalam waktu-waktu
tertentu, orang-orang membacanya dan mengkajinya surat demi surat. Ketika itu
mereka mendapati rangkaiannya yang tersusun cermat sekali dengan makna yang
saling bertaut, dengan gaya redaksi yang begitu teliti, ayat demi ayat, surat demi
surat, yang saling terjalin bagaikan untaian mutiara yang indah yang belum pernah
ada bandingannya dalam perkataan manusia.
           
1. Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta
dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi
Maha tahu, Q.S. Huud: 1
Hadist-hadist Rasulullah SAW sendiri yang merupakan puncak kefasihan
sesudah Al-Qur’an, tidak mampu membandingi keindahan bahasa Al-Qur’an, apalagi
ucapan dan perkataan manusia biasa.
          
        
88. Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang
serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia,
Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain". Al-Israa’: 88

Seperti yang telah dikemukakan oleh oleh Syekh Muhammad Abdul Azhim Az-
Zarqani dalam kitabnya Manahilul Irfan, beliau mengemukakan secara tegas
”memberi petunjuk terhadap sumber Al-Qur’an bahwa Al-Qur’an adalah kalm Allah
semata, dan bukan merupakan kata-kata nabi Muhammad atau makhluk lainnya”
beliau menjelaskan bahwa: “Kami telah membaca Al-Qur’an hingga tamat ternyata
rangkaian kata-katanya begitu teratur jalinannya, lembut susunan bahasanya, begitu
kuat kaitannya. Satu sama lainnya saling berhubungan, baik antara satu surat
dengan yang lainnya, ayat-ayat yang satu dengan yang lainnya mampu dilihat dari
secara keseluruhan dari mulai alif sampai dengan ya’ mengalir darah
kemukjizatannya, seolah-olah Al-Qur’an merupakan suatu gumpalan yang tidak
dapat terpisahkan. Di antara bagian-bagiannya tidak terpisah-pisah, Al-Qur’an tidak
ubahnya bagaikan untaian mutiara atau sepasang kalung yang menarik perhatian.
Huruf-huruf dan kata-kata kalimatnya, dan ayat-ayatnya tersusun secara sistematis.
Semua makhluk termasuk Nabi Muhammad pun tidak akan dapat membuat
sebuah kitab yang baik dan rapi antara satu dengan yang lainnya, kokoh rangkaian
kalimatnya, saling berkaitan dari awal hingga akhir serta sesuai susunannya dengan
berbagai faktor di luar Kemampuan manusia, yaitu beberapa peristiwa dan kejadian,
yang masing-masing dari uraian kitab ini bisa mengiringi dan menceritakan kejadian
tersebut, sebab demi sebab, faktor demi faktor sejalan dengan berbagai faktor yang
berbeda latar belakangnya padahal masa penyusunan ini berjauhan dan masa
turunya cukup lama.
Usaha untuk menyamai kerapian dan keserasian susunan Al-Qur’an tidak
mungkin dapat berhasil dan bahkan sedikitpun tidak dapat mendekati pola ini, baik
sabda Rasulullah sendiri ataupun perkataan para sastrawan maupun lainnya. Hal itu
tidak mungkin terjadi dan tidak akan terjadi. Siapa saja yang berusaha ke arah itu, ia
akan sia-sia belaka. Oleh karena itu Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur
karena merupakan Kalam Allah yang Maha Esa. Itulah hikmah yang sungguh agung
yang secara tegas menunjukkan kepada makhluk-Nya tentang sumber Al-Qur’an.

C. Faedah Turunnya Al-Qur’an Secara Bertahap dalam Pendidikan dan


Pengajaran
Proses belajar mengajar itu berlandaskan dua asas: perhatian terhadap
tingkat pemikiran sisiwa dan pengembangan potensi akal, jiwa, dan jasmaninya
dengan apa yang dapat membawanya kearah kebaikan dan kebenaran.[10]
Dalam hikmah turunnya Al-Qur’an secara bertahap itu kita melihat adanya
suatu metode yang berfaedah bagi kita dalam mengaplikasikan perhatian terhadap
tingkat pemikiran siswa dan pengembangan potensi akal, sebab turunnya Al-Qur’an
itu telah meningkatkan pendidikan umat islam secara bertahap dan bersifat alami
untuk memperbaiki jiwa manusia, meluruskan perilakunya, membentuk
kepribadian dan menyempurnakan eksistensinya, sehingga jiwa itu tumbuh dengan
tegak di atas pilar-pilar yang kokoh dan mendatangkan buah yang baik bagi
kebaikan umat manusia seluruhnya dengan izin Tuhan.
Pentahapan turunnya Al-Qur’an itu merupakan bantuan yang paling baik bagi
jiwa manusia dalam upaya mengahafal Al-Qur’an, memahami, mempelajari,
memikirkan makna-maknanya da mengamalkan apa yang dikandungnya. Petunjuk
ilahi tentang huikmah turunnya Al-Qur’an secara bertahap merupakan contoh yang
baik dalam menyusun kurikulum pengajaran, memilih metode yang baik dan
menyusun buku pelajaran.
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
1. Al-Qur’an diturunkan dalam 2 tahap, yaitu :
a. Dari Lauhil Mahfuz ke sama’ (langit) dunia secara sekaligus pada malam
Lailatul Qadar.
b. Dari sama’ dunia ke bumi secara bertahap
2. Ada banyak hikmah Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur,
diantaranya: Meneguhkan hati Nabi Muhammad SAW, menentang dan
melemahkan para penentang Al-Qur’an, meringankan Nabi dalam menerima
wahyu, mempermudah dalam menghafal Al-Qur’an dan memberi pemahaman
bagi kaum muslimin, Tadarruj (selangkah demi selangkah) dalam menetapkan
hukum samawi, sejalan dengan kisah-kisah yang terjadi dan mengingatkan atas
kejadian-kejadian itu, dan petunjuk terhadap asal (sumber) Al-Qur’an
bahwasanyan Al-Qur’an diturunkan dari zat yang maha bijaksana lagi terpuji.
3. Dengan mempelajari cara turunnya Al-Qur’an kita dapat mengetahui
hikmah dan kita dapat menerapkan cara tersebut dalam proses pembelajaran.

B. Saran
Kita sudah mengetahui, betapa banyak dan luar biasanya hikmah
diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur. Maka tidak perlu diragukan lagi
tentang kebijaksanaan Allah. Dan alangkah baiknya jika kita juga menerapkan cara-
cara tersebut dalam pembelajaran. Karena dengan proses bertahap maka akan
mempermudah kita dan juga anak didik kita.
DAFTAR PUSTAKA

Khalil, Manna al-Qattan. 2012. Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka
Al-Kautsar
Khalil, Manna al-Qattan. 2011. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. Bogor: Halim Jaya
Anwar, Rosihon. 2010. Ulum Al-Quran. Bandung: CV. Pustaka Setia
__________. 2009. Pengantar Ulumul Quran. Bandung: CV. Pustaka Setia
Ash-Shaabuuniy, M. Ali. 2008. Studi Ilmu Al-Qur’an. Bandung: CV. Pustaka Setia
Syadali, Ahmad dan Ahmad Rofi’i. 2000. Ulumul Quran I. Bandung: CV. Pustaka
Setia
Al-Abyari, Ibrahim. 1993. Sejarah Al-Qur’an. Semarang: Dina Utama
Chalil, Moenawar. 1952. Al-Qur’an dari Masa ke Masa. Semarang: C.V.
Ramadhani
http://makalahstudialquran.blogspot.co.id/2012/10/hikmah-turunnya-al-
quran-secara.html