You are on page 1of 18

LAPORAN KASUS

ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


DERMATITIS KONTAK IRITAN

Pembimbing
dr. Lukman A.,Sp. KK.

Oleh:
Irsyan Baginda M.
1522316069

SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


RSAL Dr. RAMELAN SURABAYA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA
SURABAYA
2018
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Kasus Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin

Oleh

Irsyan Baginda M. 1522316069

Responsi ini telah diperiksa dan disetujui sebagai salah satu tugas dalam rangka menyelesaikan
studi kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin RSAL Dr. Ramelan Fakultas
Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

Surabaya, 23 April 2018

Mengesahkan,

Dokter Pembimbing

dr. Lukman A., Sp.KK


BAB I

STATUS PASIEN

1.1 IDENTITAS PASIEN


 Nama : Ny. R.
 Usia : 33 tahun
 Pekerjaan : Analis Laborat
 Tempat Tinggal : Surabaya
 Agama : Islam
 Suku : Jawa
 Status Pernikahan : Sudah menikah
 Tanggal Pemeriksaan : Selasa/10 April 2018
1.2 ANAMNESIS
 Keluhan Utama : Bercak kemerahan meninggi
 Keluhan Tambahan : Gatal dan nyeri pada bercak tersebut
 Riwayat Penyakit Sekarang:

Pasien mengeluhkan muncul bercak kemerahan meninggi disertai sisik yang terasa gatal
dan terasa sedikit nyeri di leher bagian kiri. Keluhan tersebut muncul sejak 4 hari yang lalu.
Awalnya keluhan tersebut muncul saat pasien berjalan di bawah pohon di rumahnya, kemudian
pasien mengeluhkan seperti ada yang jatuh dari pohon dan terasa seperti mengigit leher pasien.
Pasien mengira bahwa itu serangga dan saat diusap terasa nyeri seperti mengigit. Pada
keesokan harinya pasien merasa bercak kemerahan tersebut bertambah besar sehingga oleh
pasien dibawa ke Dokter Umum. Disana pasien dijelaskan bahwa itu adalah infeksi virus
(herpes) sehingga diberi antivirus oleh Dokter Umum disana. Pada hari senin pasien merasa
bahwa lukanya tidak kunjung membaik sehingga pasien membawanya ke poli kulit di RSAL.
Selama perjalanan penyakitnya bercak tersebut juga terasa gatal sehingga digaruk oleh pasien
dan terdapat beberapa sisik bekas garukan pasien.

 Riwayat Penyakit Dahulu:

Riwayat alergi terhadap makanan dan obat (-), asma (-). Riwayat diabetes mellitus (-),
riwayat penyakit tiroid (-), hipertensi (-).
 Riwayat Penyakit Keluarga:

Pasien mengatakan bahwa adik pasien juga mengalami hal serupa dengan bentuk bercak
kemerahan yang meninggi. Bercak tersebut juga dirasakan gatal dan sedikit nyeri. Pasien
mengatakan bahwa bercak tersebut timbul setelah pasien mengalaminya terlebih dahulu.

 Riwayat Pengobatan:

Pasien mendapatkan obat antinyeri dan antivirus (acyclovir) yang didapatkan dari Dokter
Umum namun lupa dosis obat yang diberikan berapa.

 Riwayat Psikososial:

Pasien bekerja sebagai Analis Laborat di salah satu Rumah Sakit di Surabaya. Pasien
mengatakan selalu menggunakan sarung tangan apabila akan mengambil bahan-bahan untuk
pemeriksaan lab. Pasien juga mengatakan setelah melakukan pemeriksaan selalu mencuci
tangannya. Selain itu pasien setiap hari menggunakan angkutan umum atau sepeda motor
sehingga sering terpapar sinar matahari selain itu di rumah pasien juga terdapat pohon besar
yang rindang.

1.3 PEMERIKSAAN FISIK


1.3.1 Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
1.3.2 Tanda-tanda Vital
 Tekanan Darah : 120/80 mmHg
 Nadi : 88x/menit, reguler, kuat angkat.
 Suhu : 36,5oC
 Respiration Rate : 20x/menit, regular
1.3.3 GCS : 4-5-6
1.3.4 Pemeriksaan Intrinsik
 Kepala : Dalam batas normal
 Thoraks : Dalam batas normal
 Abdomen : Dalam batas normal
 Ekstremitas : Dalam batas normal
1.3.5 Status Dermatologis :
 Lokasi : Colli Sinistra
 Efloresensi : Tampak papula eritematosa disertai skuama batas tegas pada
daerah colli sinistra hingga ke bagian medial. Terasa gatal, nyeri, namun tidak
kebas tidak berdarah, dengan ukuran ± 3,5 x 1 x 0,5 cm. \

1.4 RESUME
1.4.1 Subjektif
 Pasien datang dengan keluhan bercak kemerahan meninggi pada daerah leher
bagian kanan
 Ada keluhan gatal dan nyeri pada bagian tersebut.
 Gejala timbul sejak 4 hari yang lalu, awal hanya bercak kecil seperti habis digigit
serangga
 Pasien telah berobat ke Dokter Umum dan diberikan obat antinyeri dan antivirus
karena dianggap sebagai infeksi (herpes).

1.4.2 Objektif
 Tampak papula eritematosa disertai skuama batas tegas pada daerah colli sinistra
hingga ke bagian medial. Terasa gatal, nyeri, namun tidak kebas tidak berdarah,
dengan ukuran ± 3,5 x 1 x 0,5 cm.
1.4.3 DIAGNOSIS
 Diagnosis Utama : Dermatitis Kontak Iritan
 Diagnosis Banding :
- Dermatitis Kontak Alergi
- Dermatitis atopik
- Herpes Simpleks

1.5 PLANNING
 Diagnostik :-
 Terapi :
1. Medikamentosa :
- Prednisone 5mg sehari 2 kali selama 3 hari
- Cetirizine 5 mg sehari 2 kali selama 5 hari
- Salep Betamethasone Valerat 0,1% oleskan di tempat luka setiap
6 jam
2. Non-medikamentosa : Jangan digaruk apabila gatal, jangan
menggunakan obat kortikosteroid dalam waktu yang lama karena efek
sampingnya , pada saat mengoleskan krim betamethasone diharapkan
pasien cuci tangan sebelum dan sesudah untuk menghindari kontamnasi.
1.6 Evaluasi :
a. 1 minggu setelah diterapi diharapkan datang kembali untuk evaluasi bercak tersebut
b. Diperiksa apakah ada muncul efek samping dari obat pada pasien.
RUMAH SAKIT ABC

Jl. Medokan Semampir No. 1

dr. Irsyan Baginda M.

SIP. 1522316069

Surabaya, 12 April 2018

R/ Prednisone 5mg No. VI

∫ 2 dd I.

R/ Cetirizine 5mg No. VI

∫ 2 dd I.

R/ Betamethasone Valerat 0,1% No. I

∫ u.e (bercak leher) a.n

Pro : Ny. R.

Usia : 33 tahun

Alamat : Surabaya
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dermatitis Kontak

2.1.1 Definisi

Dermatitis Kontak adalah dermatitis yang disebabkan terpaparnya kulit dengan


bahan dari luar yang bersifat iritan atau alergen. Kontak suatu bahan dibagi menjadi dua
yaitu kontak dengan bahan iritan yang disebut sebagai dermatitis kontak iritan dan kontak
dengan bahan yang bersifat sebagai alergen yang disebut sebagai dermatitis kontak alergik.
Dermatitis kontak iritan merupakan suatu reaksi inflamasi non-imunologis yang
disebabkan oleh kontak dengan bahan kimia, fisik atau bahan biologi. Sedangkan
dermatitis kontak alergi melibatkan proses imunologi tipe IV yaitu cell-mediated
hypersensitivity reaction.(1,2)

Gambar 1. Dermatitis Kontak Iritan Gambar 2. Dermatitis Kontak Alergi


Sumber : http://www.medthical.com/dermatitis.html Sumber : http://www.medthical.com/dermatitis.html

2.2 Dermatitis Kontak Iritan

2.2.1 Epidemiologi

Dermatitis kontak iritan atau yang dulu dikenal sebagai dermatitis venenata (iritasi
karena racun) merupakan bentuk tersering dari penyakit kulit karena pekerjaan yaitu dengan
prevalensi sebanyak 80%. Pada penelitian di Eropa pada beberapa pekerja, ditemukan bahwa
3 pekerjaan dengan angka kejadian terbanyak terjadinya dermatitis kontak iritan yaitu penata
rambut, tenaga medis dan pekerja di bagian besi yaitu dengan prevalensi antara 20-30%.
Insiden rerata terhadap dermatitis kontak iritan di German yaitu sebanyaj 4,5 kasus per
10.000 pekerja. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan Insiden rerata dermatitis
kontak alergi yaitu sebanyak 4,1 kasus per 10.000 pekerja. (3)

Pada studi epidemiologi yang dilakukan oleh Hudyono pada tahun 2002 di
Indonesia memperlihatkan dari 389 kasus sebanyak 97% adalah dermatitis kontak, dimana
66,3% diantaranya adalah dermatitis kontak iritan dan 33,7% adalah dermatitis kontak alergi.
(4)
Sedangkan berdasarkan data dari Dinas Kesehatan pada tahun 2012 yaitu di Bandar
Lampung sekitar 63% kejadian dermatitis kontak menurut survailence tahunan dan menjadi
peringkat pertama penyakit kulit yang paling sering dialami.(5)

2.2.2 Etiologi
Etiologi dari dermatitis kontak iritan dapat digolongkan antara lain bahan pelarut,
deterjen, minyak pelumas, asam alkali, serbuk akyu, bahan abrasive, enzim, minyak, larutan
garam konsentrat, plastik dengan berat molekul rendah, bahan kimia higroskopik hingga
toksin dari serangga (paederus dermatitis). Beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu ada
faktor iritan, faktor lingkungan dan faktor individu (penderita). (3)

Iritan adalah substansi yang akan menginduksi dermatitis pada setiap orang jika terpapar
pada kulit dalam konsentrasi yang cukup. Setiap individu memiliki predisposisi yang berbeda
terhadap berbagai iritan. Riwayat atopic, personal hygiene dan luas paparan menentukan
kerentanan seorang indvidu untuk terkenda dermatitis kontak irritant. Efek dari iritan yaitu
bersidat concentration-dependent dan biasanya hanya terjadi pada daerah primer dari kontak
tersebut. (6)

Gambar 3. Dermatitis Kontak Iritan Akut akibat krim yang


mengandung nonvlyanillamid dan nicotinic acid butoxyethyl ester
(krim untuk nyeri punggung)
Sumber : Fitzpatrick Color Atltas 7th
Gambar 4. Paederus Dermatitis (Dermatitis Kontak Iritan) Akibat serangga Rove Beetles (Tomcat)
Sumber : http://www.eskin.com.tw/Article.asp?BlockName=ArtView&AC_ID=148

2.2.3 Patofisiologi

Patofisiologi dari terjadinya dermatitis kontak iritan yaitu dimulai dari adanya
kerusakan barrier kulit, kerusakan seluler epidermis dan pengeluaran sitokin. Pengeluaran
sitokin pro inflamasi dari sel-sel kulit terutama keratinosit, menyebabkan inflmasi sebagai
respon terhadap pajanan bahan-bahan iritan. Penetrasi dari bahan iritan akan menyebabkan
kerusakan membran lipid keratinosit dalam beberapa menit-jam sehingga akan terjadi difusi
bahan iritan melalui membrane dan akan merusak lisosom, mitokondria dan komponen inti
sel. Adanya kerusakan dari bagian sel tersebut akan mengaktifkan fosfolipase yang akan
menghasilkan asam arakidonat. Asam arakidonat akan membebaskan prostaglandin dan
leukotrin yang nantinya akan merangskan sitokin inflamasi seperti IL-1, TNF-α. Salah satu
sitokin ICAM 1 (Intercellular Adhesion Molecule 1) menyebabkan infiltrasi leukosit ke
epidermis, sehingga menyebabkan reaksi inflamasi di kulit. (3)

Gambar 5. Patofisiologi Atopik Dermatitis, Dermatitis Kontak Iritan dan Alergi


Sumber :
https://www.researchgate.net/publication/256541100_Mechanisms_of_Contact_Sensitization_Offer_Insights_in
to_the_Role_of_Barrier_Defects_vs_Intrinsic_Immune_Abnormalities_as_Drivers_of_Atopic_Dermatitis
2.2.4 Faktor Predisposisi dan Risiko

Faktor predisposisi lainnya yang menyebabkan orang cenderung terkena dermatitis


kontak iritan adalah riwayat atopic .Pengaruh genetik juga berperan sebagai faktor
predisposisi. Polimorfisme pada FLG gen (Filagrin) menyebabkan terhentinya produksi FLG
dan pada akhirnya terjadi perubahan barier kulit. Tingkat keparahan dermatitis ini sangat
bervariasi dan tergantung pada banyak faktor, termasuk diantaranya:
 Jumlah dan intensitas iritan
 Durasi dan frekuensi pajanan
 Kerentanan kulit
 Lingkungan (misalnya suhu tinggi atau rendah atau kelembaban)

2.2.5 Manifestasi Klinis dan Tipe Dermatitis Kontak Iritan

Keluhan subjektif seperti rasa terbakar, rasa nyeri seperti disengat yang muncul
dalam waktu beberapa detik setelah paparan misalnya dengan bahan asam, chloroform ,
methanol maupun toksin yang dikeluarkan dari serangga. Tipe nyeri seperti disengat disebut
tipe lambat apabila muncul dalam waktu 1-2 menit dan mencapai puncaknya setelah 5-10
menit dan menghilang rasa nyeri tersebut kurang lebih sekitar 30 menit misalnya pada bahan
aluminum klorida, phenol , propylene glycol dan toksin lain misalnya dari serangga (.
Sedangkan pada dermatitis kontak iritan tipe lambat keluhan tidak muncul bisa hingga 8-24
jam setelah paparan (anthralin, ethylene oxide dan benzalkonium chloride dan biasanya
diikuti oleh rasa terbakar disbanding dengan rasa gatal. (2)

Hasil pemeriksaan yang ditemukan yaitu baik setelah beberapa menit atau > 24 jam paska
paparan, lesi yang ditimbulkan mulai dari eritema hingga timbul vesikulasi dan bisa disertai
nekrosis jaringan akibat bahan kimia yang merusak jaringan tersebut. Mulai dari erythema
dengan atas tegas hingga superfisial edema akibat reaksi pada tempat yang terpapar dengan
bahan toksik dan biasanya tidak menyebar dan hanya mengenai bagian yang terpapar toksin
tersebut. Namun ada beberapa bentuk khusus dari dermatitis kontak irritant yang bisa
menyebar sesuai daerah yang disentuh (kissing/ mirror image) yaitu dermatitis yang
diakibatkan oleh serangga yang termasuk dalam genus Paederus (Rove Beetles/Tomcat).
Serangga tersebut pada saat kontak dengan kulit manusia tidak menggigit namun akan
mengeluarkan cairan yang mengandung paederin yaitu cairan kimia yang apabila tidak dicuci
segera akan menyebabkan lesi berbentuk erythematobullous. (2,7)
Gambar 6. Kissing Lession pada Dermatitis Paederus
Sumber : https://dokumen.tips/documents/dermatitis-
venenata.html

Berikut ini adalah beberapa tipe dari dermatitis kontak iritan(8)

 DKI akut
Iritan kuat seperti asam sulfat dan HCl menghasilkan reaksi yang cepat begitu
kontak terjadi. Kulit terasa pedih, panas, lesi tampak berupa eritema, edema, bula,
dan nekrosis dengan pinggir berbatas tegas dan asimetris.
 DKI akut lambat
Gambaran sama dengan DKI akut namun baru muncul 8-24 jam atau lebih setelah
kontak. Dermatitis venenata merupakan salah satu contoh tipe ini.
 DKI kumulatif
DKI ini termasuk tipe kronis. Hal ini didasarkan pada kontak berulang-ulang
dengan iritan lemah. Kelainan tampak setelah bermingu-minggu hingga bertahun-
tahun. gambaran berupa kulit kering, eritema, skuama, dan hyperkeratosis. DKI
tipe ini yang sering berhubungan dengan dermatitis akibat kerja.
 DKI iritan
Bentuk subklinik pada seseorang yang terpajan pekerjaan basah, seperti penata
rambut, kelainan juga cenderung monomorf seperti skuama, vesikel, pustul, dan
erosi.
 DKI traumatik
Kelainan kulit setelah trauma panas atau laserasi. Bentuknya dermatitis numularis
dengan masa penyembuhan kira-kira 6 minggu.
 DKI subyektif
Kelainan kulit tidak terlihat, namun penderita merasa perih atau seperti terbakar.
Disebut juga DKI sensori.
 DKI noneritematosa (suberythematous)
DKI dengan fungsi sawar stratum korneum tanpa kelainan secara klinis.
2.2.6 Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis sebagai dermatitis kontak iritan maka kita harus
menggali informasi melalui :

1. Anamnesis

Anamnesis secara terarah untuk mengetahui riwayat pajanan terhadap bahan atau
substansi kimia tertentu. Kemudian setelah itu menanyakan onset penyakit untuk megenai
tipe dermatitis kontak iritan. Onset penyakit sampai timbulnya gejala klinis dalam hitungan
menit sampai jam tergolong tipe simpel akut. Tipe akut lambat biasanya dalam hitungan 8-
24 jam. Tipe kumulatif cenderung merupakan konsekuensi dari pajanan berulang dengan
konsentrasi substansi yang rendah. Penting juga menyertai riwayat keluarga atau orang di
sekitar yang juga mengalami gejala yang sama. Riwayat atopik dan alergi juga ditanyakan.(3)

2. Pemeriksaan Klinis

Pemeriksaan klinis sangat penting untuk mengeksklusi pernyakit lain. Menentukan


lokasi dan efloresensi dengan jelas. Biasanya tempat predileksi DKI adalah pada tangan dan
lengan, dan pada kasus tertentu bisa terjadi pada bagian leher. Pemeriksaan tubuh secara
menyeluruh sangat dianjurkan untuk melihat lesi di tempat-tempat tertentu.(3)

3. Pemeriksaan Penunjang

Penunjang diagnostik yang akurat salah satunya adalah histopatologis dan tes
tempel (patch test). Pada pemeriksaan histopatologis idapatkan gambaran intraselular edema
atau spongiosis. Spongiosis tidak begitu tampak jelas pada dermatitis kontak alergi.
Gambaran parakeratosis juga bisa muncul pada dermatitis kontak iritan kronik disertai
hiperplasia sedang sampai berat, dan pemanjangan rete ridges. Pada pemeriksaan tes tempel
maka akan terjadi reaksi saat ditempel dengan bahan yang bersifat iritan, dan reaksi akan
berkurang setelah bahan tersebut dilepas. Hal ini berkebalikan dari tes tempel yang dilakukan
pada dermatitis kontak alergi dimana reaksi setelah ditempel tetap/ lebih berat (1,3)

Gambar 7. Pemeriksaan Uji tempel (Patch Test) Gambar 8. Pemeriksaan Uji tempel hasil positf (Patch Test
Sumber : http://www.medthical.com/dermatitis.html Positive Reaction)
Sumber : http://www.medthical.com/dermatitis.html
2.2.7 Diagnosis Banding

Diagnosis banding dari dermatitis kontak irritant salah satunya yaitu dermatitis
kontak alergi, dimana perbedaanya adalah sebagai berikut : (1)

DKI DKA
(Dermatitis Kontak Iritan) (Dermatitis Kontak Alergi)
Etiologi Iritan Primer Sensitiser
Permulaan Paparan Pertama Paparan Ulang
Penyakit
Penderita Semua orang Penderita yang sensitive/ alergi
Efloresensi Batas jelas Batas tak jelas
Uji Tempel Eritema batas jelas, reaksi Batas tak jelas, reaksi tetap/
menurun setelah uji tempel dilepas bertambah setelah uji tempel
dilepas.

Selain itu dermatitis kontak iritan harus dibedakan dengan dermatitis atopik, dimana
dermatitis atopik memiliki karakteristik sebagai berikut :
 Pada gambaran klinis terdapat vesikel-vesikel dan papul-papul serta eritem, untuk
membedakan dengan dermatitis kontak iritan, pada dermatitis atopik mempunyai tiga
tanda khas yaitu :
- Pruritus.
- Morfologi dan distribusi khas pada wajah (khusus pada anak) dan daerah lipatan
kulit (fosa kubiti, fosa poplitea, leher, dan pergelangan tangan).
- Cenderung menjadi kronis kambuh.
 Pada dermatitis atopik juga didapatkan riwayat atopik (rhinitis alergi, asma
bronkial),dan pada pemeriksaan penunjang di temukan eosinofilia dan peningkatan
kadar IgE, sedangkan pada dermatitis kontak iritan tidak terdapat riwayat atopik.

Gambar 9. Dermatitis Atopik


Sumber : https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/eczema/atopic-dermatitis
Diagnosis banding selain kedua penyakit diatas yaitu salah satunya adalah Herpes Zozter .
Pada fase awal dermatitis kontak iritan memiliki gambaran yang cukup mirip dengan herpes
zozter namun herpes zozter memiliki ciri khas antara lain : (9)
 Biasanya terkena secara unilateral dan mengenai tepat pada suatu bagian dermatom
saraf tertentu.
 Memiliki gejala prodromal yaitu bisa terjadi hyperesthesia atau nyeri pada dermatom
saraf yang terinfeksi.
 Efloresensi yang timbulkan yaitu berupa eritema papula disertai dengan vesikel yang
bergerombol.
 Predileksi yang tersering yaitu pada saraf trigeminal cabang ophtalmica dan pada
saraf spinal T3-L2.
 Herpes zozter diawali dengan riwayat pernah mengalami infeksi varicella zozter yang
kemudian menetap secara latent di dermatom saraf dan pada saat sistem imun tubuh
menurun maka akan muncul gejala dari herpes zozter.

Gambar 10. Herpes Zozter


Sumber : Fitzpatrick Color Atltas 7th

2.2.8 Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan pada Dermatitis Kontak Iritan yaitu ada 3 penghentian
terhadap pajanan bahan iritan yang dicurigai, perlindungan bagian tubuh yang terpapar dan
penggantian bahan iritan dengan bahan yang tidak bersifat iritan.
Pengobatan medikamentosa terdiri dari :
Pengobatan Sistemik
1. Kortikosteroid,
hanya untuk kasus yang berat dan digunakan dalam waktu yang singkat.
 Prednisone
Dosis Dewasa : 5-10mg/dosis, sehari 2-3 kali per oral
Dosis Anak : 1mg/KgBB/hari
 Dexamethasone
Dosis Dewasa : 0,5-1mg/dosis, sehari 2-3 kali per oral
Dosis Anak : 0,1 mg/KgBB/hari
 Triamcinolone
Dosis Dewasa : 4-8mg/dosis, sehari 2-3 kali per oral
Dosis Anak : 1mg/KgBB/hari
2. Antihistamin
 Chlorpheniramine maleat
Dosis Dewasa : 3-4mg/dosis, sehari 2-3 kali per oral
Dosis Anak : 0,09 mg/KgBB/Dosis, sehari 3 kali
 Diphenhydraime HCl
Dosis Dewasa : 10-20mg/dosis, i.m sehari 1-2 kali
Dosis Anak : 0,5mg/KgBB/dosis , sehari 1-2 kali
 Loratadine
Dosis dewasa : 1 tablet sehari 1 kali
Pengobatan Topikal
 Bentuk akut dan eksudatif diberi kompres larutan garam faali (NacL 0,9%)
 Bentuk kronis dan kering diberi krim hydrocortisone 1% atau diflucortolone
valerat 0,1 % atau krim betamethasone valerat 0,005-0,1%. (1)

Edukasi pada pasien dengan dermatitis kontak iritan yaitu :


 Pendidikan kepada pekerja suatu perusahaan tentang penggunaan alat dan akibat
buruk yang mungkin terjadi kalo terpajan.
 Jika pasien adalah pekerja yang sering kontak dengan bahan-bahan iritan, dapat
memberikan edukasi ke pasien dan perusahaan tempatnya bekerja berupa
pencegahan seperti pemakaian masker, sarung tangan, perawatan kulit sehari-hari
terutama yang mempunyai kulit sensitif.
 Penggunaan bahan-bahan iritan di dalam rumah tangga sehari-hari seperti
detergent, larutan pembersih, kosmetik, dan obat-obatan topikal tertentu juga harus
dipantau, jika terjadi reaksi akut, maka penghentian pemakaian substansi tersebut
harus segera dilakukan dan segera menghubungi pelayanan kesehatan setempat.
 Pelaksanaan uji tempel pada calon pekerja, sehingga dapat menempatkan pekerja
di bagian yang tidak kontak dengan bahan iritan.
 Pemeriksaan kesehatan secara rutin dan berkala kepada para pekerja.
 Dalam penggunaan bahan-bahan tertentu di dalam keseharian di rumah dan jangan
menggunakan bahan yang sensitif terhadap kulit. (3)
2.2.9 Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi yaitu :

 Peningkatan risiko sensitisasi terhadap terapi topical


 Lesi pada kulit dapat dikolonisasi oleh bakteri Staphylococcus aureus.
Hal ini dipermudah jika terjadi lesi sekunder, seperti fissure akibat
manipulasi yang dilakukan penderita.
 Secondary neurodermatitis (lichen simplex chronicus) akibat penderita
dermatitis kontak iritan yang mengalami stress psikis.
 Pada fase post inflamasi dapat terjadi hiperpigmentasi atau
hipopigmentasi.
 Scar, biasanya setelah terkena agen korosif.(3)

2.2.10 Prognosis

Prognosis untuk penderita dengan dermatitis kontak iritan umumnya baik


tanpa riwayat atopik tipe akut dan dilakukan diagnosis dan penatalaksanaan
secara tepat.(3)
DAFTAR PUSTAKA

1. Pohan, Saut S.,dkk. 2015.Dermatitis Kontak. In: Pedoman Diagnosis dan Terapi BAG/SMF
Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi III . Fakultas Kedokteran UNAIR/RS Umum Dokter
Sutomo: Surabaya. (p. 5-8)

2. Wolff, K., Saavedra, A. P., Fitzpatrick, T. B. 1., & Johnson, R. A. 2013.Irritant Contact
Dermatitis. In: Fitzpatrick's color atlas and synopsis of clinical dermatology (7th ed.). New
York, N.Y.: McGraw-Hill Education LLC. (p. 18-23)

3. Aneja, Savina, dkk. 2017. Irritant Contact Dermatitis. Available at:


https://emedicine.medscape.com/article/1049353-overview#a5 (Diakses 15 April 2018).

4. Hudyono J. 2002. Dermatosis akibat kerja. Majalah Kedokteran Indonesia, November 2002.

5. Dinkes. 2012. Laporan Bulanan Data Kesehatan ICDX. Dinas Kesehatan Kota Bandar
Lampung. Lampung.

6. Siregar RS. Dermatosis Akibat Kerja. Cermin Dunia Kedokteran Vol. 107; 1996. Available at:
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/15DermatitisAkibatKerja107.pdf/15DermatitisAkibatKe
rja107.html. (Diakses 15 April 2018).

7. Mammino, Jere J. 2011. Paederus Dermatitis : An Outbreak on a Medical Mission Boat in the
Amazon. Available at : https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3225135/ (Diakses 15
April 2018).

8. Sularsito SA, Djuanda A. 2007.Dermatitis. In: Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi kelima.
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Jakarta. (p. 129-153)

9. Schmader, K.E., Oxman, M.N. 2012. Herpes Zozter. In: Goldsmith, L.A., Katz, S.I., Gilchrest,
B.A., Paller, A.S., Leffell, D.J., 64 Wolff, K. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine.
8 th ed. New York:Mc Graw Hill co.(p. 2383-2388)