You are on page 1of 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perubahan Fisiologis Sistem Muskuloskeletal pada Lansia

2.1.1 Tulang
Perubahan pada sistem muskuloskeletal sebagai akibat dari proses penuaan
salah satunya terjadi pada tulang. Tulang memiliki fungsi yang penting bagi tubuh,
seperti memberi bentuk tubuh, memfasilitasi pergerakan tubuh, melindungi organ
dalam tubuh, sebagai tempat penyimpanan dan pelepasan mineral untuk menjaga
homeostatis, sebagai tempat produksi sel darah, dan sebagai tempat penyimpanan
trigliserida (Tortora & Derrickson, 2012). Tulang akan mencapai puncak
pertumbuhannya pada usia 30-35 tahun, lalu mengalami kemunduran (Tamtomo,
2016). Seiring bertambahnya usia, maka proses pembentukan tulang (remodeling)
akan terganggu.
Proses remodeling yaitu proses penggantian sel tulang lama oleh sel tulang
baru yang terjadi disepanjang hidup manusia (Tabloski, 2014). Pada proses ini,
terjadi 2 proses, yaitu resorpsi tulang dan pengerasan tulang. Resorpsi tulang ini
merupakan proses pelepasan mineral dan serat kolagen dari tulang oleh osteoklas,
sementara itu pengerasan tulang merupakan proses penambahan mineral dan serat
kolagen pada tulang oleh osteoblas (Tabloski, 2014). Proses menua akan
menyebabkan adanya ketidakseimbangan pada proses remodeling ini, seperti (1)
Peningkatan resorpsi tulang (contoh: kerusakan tulang yang diremodelling), (2)
Penurunan absorbsi kalsium, (3) Peningkatan serum hormon parathyroid, (4)
Ketidakseimbangan regulasi aktivitas osteoblast, (5) Ketidakseimbangan formasi
sekunder tulang untuk menurunakan produksi osteoblas pada matriks tulang, (6)
Penurunan fungsi sel sumsum tulang belakang karena pergantian sumsum dengan
sel lemak, dan (7) Penurunan estrogen dan testosteron (Miller, 2012).
Tulang yang hilang kurang lebih 0,5 sampai 1% per tahun dari berat tulang
pada wanita pasca menopouse dan pada pria diatas 80 tahun, pengurangan tulang
lebih mengenai bagian trabekula dibanding dengan kortek. Pada pemeriksaan
histologi wanita pasca menopouse dengan osteoporosis spinal hanya mempunyai
trabekula kurang dari 14%. Selama kehidupan laki-laki kehilangan 20-30% dan
wanita 30-40% dari puncak massa tulang (Tamtomo, 2016). Perubahan pada tulang
ini berdampak kepada tulang lansia yang menjadi rapuh dan mudah terkena fraktur.

2.1.2 Otot
Penuaan juga akan berdampak pada otot tubuh lansia. Otot berperan dalam
memfasilitasi pergerakan tubuh dan organ dengan cara berkontraksi (Tortora &
Derrickson, 2012). Kontraksi otot tersebut ada yang dilakukan secara sadar, ada
pula yang dilakukan secara tidak sadar. Proses penuaan yang terjadi akan
menyebabkan perubahan pada otot, seperti (1) Penurunan ukuran dan jumlah serat
otot, (2) Hilangnya neuron motorik, (3) Penggantian jaringan otot dengan jaringan
lemak, (4) Deterorientasi sel membran otot, dan (5) Hilangnya sintesis protein
(Miller, 2012). Perubahan umur, menyebabkan kondisi sarcopenia, dimana otot
kehilangan massa, kekuatan, dan ketahanan. Dampak yang ditimbulkan dari kondisi
ini berupa kelemahan otot pada lansia yang juga akan berdampak pada tingginya
resiko jatuh pada lansia.

Table 1
Summary of age-related changes in skeletal muscle
Muscle strength Lower
Muscle mass Lower
Muscle quality Increase in fat and connective tissue
Fiber number Lower (particularly type II)
Fiber type distribution Increase type I and reduced type II
Fiber specific force Lower
Excitation-contraction coupling Impaired (uncoupling and fragmentation of cellular elements)
Energy release Reduced oxidative capacity
Muscle proteins (myosin) Altered because of biochemical changes
Satellite cells Decline in those associated with type II fibers
(Frontera, 2017)

2.1.3 Sendi dan jaringan konektif


Penuaan juga sangat memengaruhi perubahan pada sendi. Perubahan yang
terjadi pada sendi diakibatkan oleh penggunaan sendi diarea tertentu yang berulang
dan dalam jangka waktu yang lama. Proses degeneratif memengaruhi tendon,
ligamen, dan cairan synovial semenjak dewasa awal dan sebelum skeletal maturity
terbentuk (Miller, 2012). Ligamen dan jaringan periartikuler mengalami degenerasi
(Tamtomo, 2016). Beberapa perubahan yang terjadi pada sendi dan jaringan ikat
yang terjadi pada lansia meliputi (1) Penurunan viskositas cairan synovial, (2)
Degenerasi kolagen dan sel elastin, (3) Fragmentasi struktur serat dalam jaringan
konektif, (4) Formasi jaringan luka dan area kalsifikasi dalam sendi membeku,
penurunan perubahan kartilago artikular sehingga terjadi kracking, dan lain
sebagainya (Miller, 2012). Kondisi ini, menyebabkan lansia mengalami
keterbatasan mobilitas dan rentan mendapatkan cedera karena terjadinya perubahan
pada sendi akan menurunkan perlindungan terhadap sendi itu sendiri dari kuatnya
gerakan tubuh. Hal ini berdampak pada lansia yang sulit untuk menggerakkan
tubuhnya karena timbulnya kekakuan dan nyeri sendi saat digerakkan dan
menimbulkan resiko jatuh yang cukup tinggi.

2.1.4 Saraf
Sistem saraf memiliki peranan dalam sistem muskuloskeletal untuk dapat
menjalankan fungsinya dengan baik. Sistem saraf memiliki 2 kemampuan khusus,
yaitu iritabilitas: sensitif terhadap stimulus dan konduktivitas: kemampuan dalam
mentransmisi suatu respons terhadap stimulus (Tortora & Derrickson, 2012).
Kemampuan ini, memungkinkan individu untuk melakukan mobilisasi dan
berespon terhadap stimulus yang didapatkan. Sistem saraf juga akan membantu
menjaga keseimbangan tubuh dengan mengintegrasikan berbagai fungsi tubuh yang
lain, seperti penglihatan serta kemampuan untuk merasakan rangsangan mengenai
posisi, gerak, dan keseimbangan atau yang disebut dengan proprioception. Proses
penuaan akan memengaruhi (1) Kemampuan penglihatan lansia, (2) Penurunan
reflek, (3) Adanya gangguan pada proprioception, dan (4) Terjadinya penurunan
kemampuan dalam merasakan sensasi getaran di ekstremitas bawah (Miller, 2012).
Berbagai perubahan tersebut membuat lansia lambat dalam beraksi dan berespon
terhadap stimulus dari lingkungan, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan pada
lansia.
2.2 Faktor yang Mempengaruhi Sistem Muskuloskeletal pada Lansia
2.2.1 Gangguan Keseimbangan Hormon
Pada usia lansia, hormon-hormon yang berperan dalam memacu osteoblast
(sel tulang yang berperan dalam pembentukan sel-sel tulang) seperti sirtuin, protein
mTOR dan Forkhead mengalami penurunan, sedangkan osteoclast (sel tulang yang
berperan untuk mengabsorpsi sel-sel tulang yang sudah tua) mengalami stimulasi
yang kuat, sehingga keseimbangan dalam bone remodeling mengalami gangguan
dan massa tulang secara keseluruhan menjadi berkurang.
Selain itu, hormon yang memacu penyerapan kalsium, fosfor dan vitamin D
(semua merupakan mikto-nutrien untuk tulang) juga mengalami penurunan
produksi, sehingga penyerapan material yang dibutuhkan dalam pembentukan
tulang semakin lama semakin berkurang.

2.2.2 Penyakit yang bersifat Sistemik


Penyakit yang menganggu sistem kardiovaskular atau proses metabolisme
dapat menyebabkan masalah yang mirip dengan kekurangan hormon; penyakit
terkait kardiovaskular (contoh: arterosklerosis/atherosclerosis) dapat menyebabkan
penurunan laju pengiriman nutrisi yang dibutuhkan untuk proses remodeling
tulang, sedangkan penyakit terkait metabolik (contoh: diabetes) dapat menganggu
penyerapan mikronutrien tulang.
Penyakit sistemik mengalami risiko yang lebih tinggi untuk terjadi pada
lansia, sehingga risiko gangguan sistem musculoskeletal yang disebabkan secara
tidak langsung oleh penyakit sistemik memiliki kategori sendiri.

2.2.3 Kurangnya Aktivitas Fisik


Dikarenakan degenerasi, banyak lansia membatasi atau tidak mendapatkan
banyak kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik sebanyak yang seharusnya
dilakukan. Kekurangan aktivitas fisik, ditambah dengan degenerasi yang
disebabkan proses penuaan, dapat mempercepat proses atrofi (pengecilan suatu
jaringan karena kurang penggunaan) pada otot dan kerapuhan pada tulang.

2.2.4 Perubahan Komposisi Tulang


Untuk mengkompensasi degenerasi pada tulang, tubuh secara perlahan
mengganti komposisi tulang dalam kerangka, terutama pada persendian dan tulang-
tulang rawan. Komposisi air di dalam tulang berkurang, ada fragmentasi pada
ikatan protein yang ada di bagian rongga dalam tulang, dan komposisi kolagen
pelan-pelan bertambah menggantikan mineral.

2.3 Gangguan Patologis Sistem Muskuloskeletal pada Lansia

2.3.1 Osteoporosis
Osteoporosis merupakan penyakit kronik yang umum terjadi pada lansia.
Osteoporosis ditandai dengan massa tulang yang rendah dan kerusakan jaringan
tulang yang menyebabkan kekuatan tulang menjadi lemah sehingga meningkatkan
risiko patah tulang (Tabloski, 2014). Penyebab terjadinya osteoporosis pada lansia
diakibatkan oleh penurunan sintesis vitamin C akibat adanya pertambahan usia
yang menyebabkan penurunan absorbsi kalsium pada lansia (Wallace, 2008).
Faktor resiko terjadinya osteoporosis pada lansia terbagi atas faktor resiko yang
bersifat dapat diubah dan tidak dapat diubah. Faktor resiko yang tidak dapat diubah
seperti gender wanita dikarenakan wanita memiliki tulang yang lebih ringan
daripada pria, bentuk badan yang kecil dan kurus yang memiliki risiko terhadap
osteoporosis, dan riwayat osteoporosis dalam keluarga.
Sementara itu, faktor risiko osteoporosis yang dapat diubah seperti
kebiasaan merokok, mengonsumsi alcohol, kurangnya konsumsi kalsium,
kurangnya latihan fisik, dan penurunan berat badan (Ramadani, 2010). Area yang
umum terjadi osteoporosis yaitu pada tulang belakang, jari-jari distal, dan tulang
paha proksimal. Kondisi tersebut menyebabkan lansia memiliki risiko tinggi jatuh
yang menyebabkan patah tulang atau fraktur. Fraktur tersebut mampu
meningkatkan risiko gangguan mobilitas, decubitus ulcer, dan inkontinesia pada
lansia (Wallace, 2008). Hal tersebut dikarenakan adanya hambatan mobilitas yang
menyebabkan munculnya gangguan tersebut.

2.3.2 Osteomalacia
Osteomalacia merupakan gangguan metabolik akibat mineralisasi yang
tidak adekuat dari matriks tulang yang terbentuk, dikarenakan kekurangan vitamin
D (Tabloski, 2014). Penyebab lain dari gangguan osteomalacia adalah metabolisme
abnormal pada vitamin D dan penipisan fosfat. Pada osteomalacia, volume tulang
tetap normal, namun penggantian tulang baru terdiri atas jaringan tulang lunak
dibandingkan jaringan tulang keras. Hal ini dapat dikatakan, osteomalacia adalah
kondisi dimana tulang tidak dapat mengeras, sehingga rentan untuk bengkok atau
bahkan patah.
Osteomalacia dapat menyebabkan kelainan bentuk pada tulang panjang,
tulang belakang, panggul, dan tengkorak sehingga mengakibatkan terjadinya nyeri
pada tulang, yang terletak pada pinggul, panggul, kaki, tulang rusuk, tulang
belakang, kelemahan otot, gaya berjalan tidak stabil, perubahan postur dan tinggi
badan, serta mudah lelah (Wallace, 2008). Faktor risiko terjadinya osteomalacia
pada lansia adalah kurangnya vitamin D akibat kurangnya paparan sinar matahari,
diet asupan susu yang terbatas, kurangnya produksi vitamin D akibat adanya
penuaan yang terjadi pada kulit (Wallace, 2008). Adanya fraktur atau kerapuhan
pada tulang membuat osteomalacia sulit dibedakan dengan osteoporosis. Akan
tetapi, perbedaan antara kedua gangguan tersebut terletak pada perbedaan penyebab
terjadinya gangguan.

2.3.3 Paget’s Disease


Paget’s disease merupakan kondisi tidak normal yang mengganggu proses
regenerasi tulang, sehingga menyebabkan tulang menjadi rapuh dan deformitas atau
kelainan bentuk (Tabloski, 2014). Penyebab terjadinya paget’s disease diawali
dengan adanya peningkatan aktivitas osteoklas yang terjadi pada lokasi tertentu.
Pembentukan tulang yang dihasilkan terlalu cepat, menyebabkan struktur tulang
baru kurang kompak, lebih vaskular, dan rentan terhadap kelainan bentuk
struktural, kelemahan, dan patah tulang (Tabloski, 2014).
Penyebab terjadinya keabnormalan regenerasi tulang tersebut, sampai saat
ini belum diketahui secara pasti, akan tetapi adanya pertambahan usia, genetic, dan
jenis kelamin seperti pria lebih banyak mengalami paget’s disease dibandingkan
wanita, mampu meningkatkan resiko terjadinya gangguan tersebut. Lokasi
terjadinya paget’s disease pada umumnya terletak di tulang belakang, tulang
panggul, tengkorak, dan tulang paha. Gangguan ini menyebabkan lansia cenderung
mengeluh nyeri pada persendian, tulang, otot, atau sistem saraf karena kerusakan
atau tekanan yang disebabkan oleh penyakit, membungkuknya tulang paha atau
tulang kering, kifosis, hingga kelumpuhan (Tabloski, 2014).
2.3.4 Gangguan Sendi
Gangguan ini dikategorikan atas inflammatory dan noninflammatory.
Gangguan sendi kategori non inflammatory yaitu osteoarthritis. Osteoarthritis
merupakan gangguan yang muncul akibat erosi progresif pada sendi kartilago
articular (Tabloski, 2014). Sendi yang sering terlibat dalam gangguan ini adalah
sendi tangan, sendi bantalan lutut dan pinggul, dan sendi sentral tulang belakang
leher dan lumbar. Osteoarthritis terjadi akibat adanya penipisan pada tulang rawan
sehingga tulang subkondrial menjadi teriritasi dan mengakibatkan degenerasi sendi,
efusi sendi, serta gerakan yang terbatas. Gejala umum yang dialami lansia dengan
gangguan osteoarthritis adalah kekakuan pada pagi hari dan nyeri sendi (Tabloski,
2014). Kekakuan tersebut akan membaik dalam waktu sekitar 30 menit, dan nyeri
sendi terjadi saat beraktivitas namun membaik saat beristirahat.
Sementara itu, gangguan sendi kategori inflammatory yaitu rheumatid
arthritis. Rheumatid arthritis adalah sindrom kronik yang ditandai dengan adanya
inflamasi dari sendi perifer akibat adanya faktor lingkungan yang tidak diketahui
seperti agen infeksius atau paparan kimia yang memicu respon autoimun terhadap
antigen yang tidak dikenal (Tabloski, 2014). Gangguan ini biasa terjadi pada
persendian tangan, siku, bahu, lutut, pergelangan kaki, dan kaki. Rheumatid
arthtritis akan menyebabkan kekakuan sendi di pagi hari, kemerahan, bengkak,
nyeri, dan hangat pada jaringan lunak. Lansia juga mengalami rasa sakit yang parah
saat bergerak dan pola tidur yang terganggu (Tabloski, 2014).

2.4 Pengkajian Sistem Muskuloskeletal pada Lansia


2.4.1 Anamnesis
Anamnesis diperlukan untuk mengetahui kondisi sabelumnya dan kondisi
yang dialami lansia saat ini. pertanyaan yang biasanya muncul saat anamnesis ialah
sebagai berikut:

Pertanyaan untuk mengkaji kemampuan musculoskeletal secara keseluruhan


- Apakah nenek/kakek memiliki masalah saat melakukan aktivitas sehari-hari karena
nyeri sendi?
- Apakah nenek/kakek merasaka ketidaknyamanan di area sendi?
- Apakah nenek/kakek merasa kehilangan keseimbangan?
- Apakah nenek/kakek memiliki masalah untuk berjalan atau berpindah?
- Apakah nenek/kakek menggunakan alat bantu (seperti alat bantu jalan, tongkat) untuk
melakukan kegiatan?
Pertanyaan pengajian risiko osteoporosis
Untuk ditanyakan kesemua lansia
- Apakah ada keluarga nenek/kakek yang memiliki riwayat penyakit osteoporosis atau
mengalami fraktur berkelanjutan di akhir hayatnya?
- Pernahkah nenek/kakek mengalami fraktur berkelanjutan saat masih muda? (jika iya
tanyakan terjadi pada usia berapa, jenisnya, lokasi, keadaan, pengobatan, dll.)
- Apakah nenek/kakek mengonsumsi suplemen kalsium atau vit D?
- Pernahkah nenek/kakek melakukan pengukuran kekuatan tulang?
- Pernahkah nenek/kakek diberikan edukasi mengenai osteoporosis dan cara
pencegahannya?
- Apakah nenek/kakek sedang melakukan pengobatan osteoporosis?
Pertanyaan untuk lansia wanita
- Kapan nenek mengalami menopause?
- Pernahkah nenek melakukan terapi estrogen atau terapi hormonal lainnya? (jika pernah
tanyakan jenisnya, dosis, durasi, dll.)
Pertanyaan pengkajian risiko jatuh
- Pernahkah nenek/kakek mengalami jatuh pada beberapa tahun yang lalu?
- Apakah nenek/kakek takut terjatuh? (jika iya, tanyakan ketakutannya secara spesifik,
dan apa yang akan dilakukan jika nenek/kakek terjatuh)
- Apakah ada kegiatan yang nenek/kakek ingin lakukan tetapi tidak bisa karena
disebabkan oleh kesulitan untuk bergerak?
- Adakah kegiatan yang ingin nenek/kakek lakukan tetapi tidak bisa dilakukan karena
takut terjatuh?
(Miller, 2012)
2.4.2 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik sistem musculoskeletal pada lansia dimulai dari
mengobservasi kemampuan lansia dalam bergerak dan beraktivitas. Untuk
mengetahui kemampuan berjalan lansia perlu dilihat bagaimana cara lansia bangun
dari tempat duduk tanpa pegangan (Miller, 2012). Selain itu, kekuatan otot,
kemampuan lansia dalam memenuhi kebutuhannya secara mandiri, pemantauan
keseimbangan lansia, dan pegkajian risiko jatuh bisa dilakukan untuk mengetahui
kekuatan atau adanya masalah pada sistem muskulo skeletal pada lansia.
a. Pengkajian kekuatan otot
Kebanyakan lansia mengalami kelemahan pada bagian ototnya
sehingga perlu dilakukan pengkajian mengenai kekuatan ototnya.
Pengukuran kekuatan otot lansia dapat diukur dengan menggunakan
tabel 1. Pasien yang memiliki kekuatan otot yang baik akan mendapat
nilai lebih dari 3. Jika nilai dari hasil pengkajian kekuatan otot ini
kurang dari 3 hal ini menunjukan bahwa kekuatan otot lansia tidak
terlalu baik
b. Pengkajian kemampuan lansia memenuhi kebutuhan harian
Pada aktivitas berjalan atau bergerak bisa dilihat melalui alat bantu
yang digunakan lansia untuk membantunya melakukan aktivitas
sehari-hari. Perawat perlu mengkaji tingkat pengetahuan lansia
mengenai kesediaan alat bantu yang diperlukan, cara menggunakan
alat tersebut, dan sikap lansia saat menggunakan alat bantu.
Kemampuan lansia dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya dapat
dilihat melalui Tabel 2. Setiap aktivitas yang bisa dilakukan pasien
secara mendiri akan memperoleh nilai 1 dan aktivitas yang tidak bisa
dilakukan secara mandiri atau memerluka bantuan akan mendapat
nilai 0. Jika pasien mampu memenuhi kebutuhannya maka total
nilainya akan 6. Sedangkan jika pasien membutuhkan bantuan secara
total dalam memenuhi kebutuhan hariannya total nilainya 0. Dengan
score yang kecil dan kekuatan otot yang kurang maka lansia memiliki
risiko tinggi untuk terjatuh.
c. Pengkajian keseimbangan
Keseimbangan tubuh merupakan kemampuan untuk bisa
mempertahankan masa tengah tubuh dengan menggunakan support
dasar. Dengan demikian, penyebaran masa tubuh dapat terkoodinasi.
Pengkajian keseimbangan tubuh data dilakukan dengan beberapa
pengkajian seperti pengkajian klinis, skala, maupun kuantitatif. Jenis
pengkajian yang bisa dilakukan untuk mengetahui keseimbangan
tubuh pada lansia bisa dilihat melalui tabel 3 (Alonso, et al., 2014).
d. Pengkajian Risiko Jatuh
Jatuh merupakan masalah kesehatan yang sering ditemukan pada
lansia. Dari kebanyakan kasus lansia yang jatuh rata-rata kejadian
jatuh terjadi saat lansia sedang melakukan aktivitas hariannya di
rumah (Tabloski, 2014). Untuk itulah diperlukan pengkajian risiko
jatuh pada lansia untuk mengurangi kemungkinan terjadinya jatuh
pada lansia. Pengkajian jatuh biasanya menggunakan Tabel 4. Saat
nilai instrument pada lansia mencapai lebih dari sama dengan 5 maka
lansia memiliki risiko yang tinggi untuk jatuh. Lansia dengan tingkat
risiko jatuh yang tinggi pun biasa ditemukan pada lansia dengan hasil
pengkajian dimana denyut nadinya aritmia atau bradikardi, tekanan
darah hipertensi postural, pernapasan dengan saturasi rendah,
pengelihatan yang menurun, kekuatan otot yang melemah, range of
motion yang terbatasi, rasa nyeri yang melewati batas normal,
keadaan status mental yang menurun, dan keadaan ingatan yang
menurun sehingga sulit mengingat instruksi keselamatan (Mauk,
2014).
2.4.3 Pemeriksaan Penunjang
Pengkajian penunjang pada lansia meliputi berbagai tes labratorium
(seperti tes urin, darah dan cairan synovial), x-ray, tes serum alkalin fosfat
(ALP), tes kekuatan tulang, pengukuran masa tulang, dan lain-lain.

Tabel 1. Pengukuran kekuatan otot


Tabel 2. Indeks Kemandirian dalam Aktivitas Harian Katz

(Elsawy & Higgins, 2011)

Tabel 3 Kumpulan Metode yang Bisa Digunakan untuk Pengkajian


Keseimbangan

(Alonso, et al., 2014)


Tabel 4 Model Risiko Jatuh Hendrich II

(Tabloski, 2014)

2.5 Peran Perawat terkait Risiko Jatuh dalam Perubahan Fisiologis Sistem
Muskuloskeletal Lansia
Peran perawat terhadap mempromosikan kesehatan fungsi otot yang sehat
dapat mengajarkan lansia strategi latihan secara rutin untuk peningkatan kekuatan
tulang, peningkatan kalsium total kebutuhan tubuh, peningkatan koordinasi dan
fungsi tubuh secara keseluruhan (Treat-Jacobson, Bronas, & Mark, 2010 dalam
Miller, 2012). Latihan fleksibilitas dapat meningkatkan rentang gerak, dan olahraga
menahan beban merupakan intervensi penting untuk osteoporosis. Latihan aerobik
sedang dapat mencegah hilangnya massa otot pada orang dewasa yang lebih tua dan
sangat penting bagi mereka yang sengaja mencoba menurunkan berat badan
(Chomentowski et al., 2009, dalam Miller, 2012). Latihan tai chi merupakan seni
bela diri tradisional Tiongkok dan latihan pikiran-tubuh yang melibatkan perhatian
terfokus dan serangkaian gerakan terus-menerus dan lancar. Latihan tai chi
berfungsi untuk mengurangi hal yang terkait dengan risiko jatuh, patah tulang,
peningkatan koordinasi neuromuskular, dan kekuatan daya tahan fleksibilitas
(Rendah, Ang, Goh, & Chew, 2009; Lui, Qin, & Chan, 2008 dalam Miller, 2012).
Tai chi merupakan salah satu intervensi yang paling hemat biaya untuk mengurangi
hal yang terkait dengan jatuh dan patah tulang pinggul (Frick, Kung, Parrish, &
Narrett, 2010 dalam Miller, 2012). Latihan yoga cara yang efektif untuk
membangun kepadatan mineral tulang setelah menopause (Fishman, 2009 dalam
Miller, 2012).
Peran perawat dalam pendidikan kesehatan sebagai pencegahan risiko
osteoporosis pada dewasa muda seperti mengurangi aktivitas menahan beban
harian, berhenti merokok, dan membatasi meminum alkohol, mengajarkan
pentingnya asupan kalsium dan vitamin D yang memadai dengan melibatkan ahli
gizi (Tabloski, 2014). Peran perawat dalam pencegahan risiko jatuh pada pasien
lansia yang mengalami masalah pada muskuloskeletal dapat meningakatkan
kesadaran sebagai pengingat dengan menggunakan poster dan brosur secara
berkala. Faktor risiko jatuh dan cidera pada lansia dapat diukur pada risiko intrinsik
dan ekstrinsik. Peran perawat dalam gangguan keseimbangan meningkatkan risiko
jatuh intrintik, dapat menggunakan alat bantu mobilitas dan memfasilitasi untuk
rujukan ke ahli terapi fisik terkait program pencegahan jatuh.
Pencegahan alat bantu mobilitas dapat menggunakan perangkat penstabil
gaya berjalan sederhana, seperti Yaktrax Walker yang dapat membantu mencegah
jatuh saat berjalan untuk diterapkan dan dipakai dengan benar oleh lansia. Peran
perawat dalam pencegahan faktor ekstrinsik risiko jatuh yang dapat digunakan
dengan memodifikasi kondisi lingkungan dan penggunaan pad sebagai perangkat
pemantau. Personal Emergency Response System (PERS) dapat menjadi pad
perangkat yang efektif bagi lansia yang hidup sendiri karena dapat memberikan
bantuan tepat waktu. Perangkat ini melibatkan penggunaan pemancar portabel kecil
yang dikenakan tubuh atau pakaian lansia. Perangkat tipe beeper dapat digunakan
pada ikat pinggang atau liontin yang dikenakan pada kalung atau gelang. Ketika
lansia jatuh dapat memanggil bantuan dengan menggunakan pemancar untuk
memberi sinyal unit penerima yang terpasang pada telepon (Miller, 2012).
Peran perawat dalam pencegahan faktor ekstrinsik risiko jatuh yang dapat
digunakan dengan modifikasi lingkungan sebagai pencegahan cidera jatuh pada
lansia yang dapat menyebabkan kematian lansia dengan menggunakan dua strategi
pencegahan. Perawat dapat menjelaskan untuk mencegah cedera untuk mengurangi
risiko dengan memodifikasi lingkungan dengan properti yang berat dapat
dipindahkan keluar dan melapisi tepi properti rumah yang keras dengan bahan yang
lembut. Tempat tidur yang rendah untuk mengatasi risiko jatuh dan tikar lembut
yang dapat ditempatkan dekat tempat tidur dan di lokasi lain di mana lansia dapat
memiliki kecenderungan risiko jatuh. Pencegahan perawat mengatasi risiko jatuh
pada lansia untuk mengatasi rasa takut lansia untuk jatuh. Peran perawat dapat
dilakukan dengan cara dorong ekspresi perasaan dan berikan pendidikan dan
jaminan tentang promosi kesehatan dan strategi intervensi yang sedang dilakukan
sebagai perawatan pencegahan jatuh (Miller, 2012).
Daftar Pustaka

Alonso, A. C., Luna, N. M., Dionisio, F. N., Speciali, D. S., Leme, L. E., & Greve,
J. M. (2014). Functional balance assessment: review. Medicalexpress, 1(16),
298-301. doi: 10.5935/MedicalExpress.2014.06.03

Elsawy, B., & Higgins, K. E. (2011). The geriatric assessment. American Family
Physician, 48-56.

Mauk, K. L. (2014). Gerontological nursing competence for care (3 ed.).


Burlington: Jones & Harlett Learning.

Candela M. E.; Yasuhara R.; Iwamoto M.. (2014). Resident mesenchymal


progenitors of articular cartilage. USA: National Library of Medicine.

Frontera, Walter R. (2017). Physiologic changes of the musculoskeletal system with


aging: A brief review. Physical Med Rehabilitation Clinical N Am 28 (2017)
705–711. http://dx.doi.org/10.1016/j.pmr.2017.06.004. Elsevier Inc.

Miller, C.A. (2012). Nursing for wellness in older adults: Ttheory and practice (6th
ed.). Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkin.

Ramadani, M. (2010). Faktor-faktor resiko osteoporosis dan upaya


pencegahannya. Jurnal Kesehatan Masyarakat: Vol 4, No. 2. Retrieved from:
http://jurnal.fkm.unand.ac.id/index.php/jkma/article/view/78/84

Tabloski, P. (2014). Gerontological nursing (3rd ed.). New Jersey: Pearson


Education, Inc.

Tamtomo, D. (2016). Perubahan Anatomik Organ Tubuh pada Penuaan. Lecture,


Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Tortora, Gerard J & Derrickson, Bryan. (2012). Principles of anatomy and


physiology (13th ed.). United States of America: John Wiley and Sons.

Wallace, M. (2008). Essentials of gerontological nursing. New York: Springer


Publishing Company