You are on page 1of 30

BAB I

LATAR BELAKANG

1.1 Latar Belakang


Banyak ilmuwan dan agama di dunia berpendapat bahwa manusia adalah makhluk
yang paling baik dan sempurna dibanding makhluk-makhluk lain di dunia. Anggapan para
ilmuwan ini disimpulkan berdasarkan dari hasil-hasil penelitian yang menemukan manusia
memiliki kesempurnaan dalam kualitas kemampuan otak dibandingkan dengan hewan.
Kesempurnaan itu dijelaskan bahwa otak manusia memiliki akal dan intelegensi yang tinggi
dan akan terus mengalami perkembangan. Kemudian dari sudut pandang agama, kita ketahui
bahwa manusia memiliki nurani yang digunakan untuk membedakan hal yang baik dan
buruk. Dari kedua sudut pandang itu dapat disimpulkan bahwa manusia dipandang lebih
sempurna dan memiliki posisi yang lebih tinggi dibanding makhluk lain di dunia. Oleh
karena itu, manusia cenderung beranggapan bahwa makhluk lain tidaklah lebih baik dari
manusia dan yang meyebabkan manusia berpikir seakan-akan dirinya seperti raja dari semua
makhluk hidup di dunia. Anggapan itu menyebabkan manusia terjerumus pada keegoisan dan
keserakahan. Hal itu membuat manusia berpikir bahwa apapun yang dilakukan pada makhluk
lain adalah wajar. Sikap tersebutlah yang dikenal sebagai spesiesisme.
Dalam spesiesisme, terdapat masalah etis terkait dengan percobaan terhadap hewan.
Percobaan hewan banyak digunakan dalam studi eksperimental berbagai cabang medis dan
ilmu pengetahuan dengan pertimbangan penelitian tidak dapat diaplikasikan langsung pada
manusia dikarenakan adanya alasan praktis dan etis. Pemakaian uji coba hewan untuk
penelitian klinis pada manusia telah memberikan kontribusi besar terhadap pemahaman
tentang berbagai proses fisiologis dan patologis yang mempengaruhi manusia (Ferreira et al.,
2008). Penelitian di bidang ilmu dasar dan biomedika dalam pelaksanaannya seringkali
menimbulkan berbagai masalah etika. Demikian juga penggunaan hewan dalam pendidikan
atau pengajaran seperti praktikum dan demonstrasi yang digunakan dalam ilmu dasar,
pertanian, perikanan, peternakan dan biomedik, harus memenuhi kaidah kesejahteraan
hewan. Suatu penelitian yang dilakukan pada obyek hewan, meskipun dirancang dengan
cermat dan teliti, akan tetap memiliki resiko terhadap hewan sebagai obyek yang diteliti.
Eksploitasi uji coba hewan dalam pelaksanaan penelitian telah menimbulkan
berbagai macam pandangan serta reaksi di dalam masyarakat khususnya kalangan peneliti
serta sekelompok masyarakat penyayang binatang. Hal ini dapat menimbulkan implikasi etik,
hukum dan sosial budaya. Banyak argumen yang diberikan, yang pada dasarnya manusia

1
tidak dibenarkan menggunakan hewan dalam percobaan yang dapat menimbulkan rasa nyeri,
perasaan tidak nyaman bagi hewan tersebut.
Kemudian jika dilihat lebih spesifik lagi yaitu dalam sudut pandang Buddhis, terdapat
perdebatan tentang pandangan Buddhisme terhadap spesiesisme. Ada beberapa sarjana yang
berpendapat bahwa Buddhisme setuju terhadap spesiesisme. Agama Buddha adalah agama
yang mengajarkan cinta kasih kepada semua makhluk. Apakah Buddhisme benar setuju
dengan paham spesiesisme? Dan bagaimanakah Buddhisme memandang spesiesisme dalam
bentuk percobaan hewan dalam bidang kedokteran? Untuk menjawab pertanyaan itu, penulis
akan membahas pandangan Buddhisme terhadap masalah-masalah tersebut dengan mengacu
pada landasan teori early Buddhism untuk menghindari interpretasi yang tidak koheren
dengan pandangan Buddhisme.

1.2 Rumusan Masalah


Berlandaskan pada latar belakang di atas, terdapat beberapa hal yang akan dikaji yaitu
adalah sebagai berikut:
1. Apakah yang dimaksud dengan spesiesisme?
2. Bagaimana sejarah perkembangan spesiesime dan percobaan hewan di dunia medis?
3. Bagaimanakah pandangan etis Buddhisme tentang spesiesisme dan percobaan pada
hewan?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan ini adalah:
1. Menjelaskan konsep spesiesisme
2. Menjelaskan sejarah perkembangan spesiesisme dan percobaan hewan di dunia medis
3. Menjelaskan pandangan etis Buddhisme tentang spesiesisme dan penggunaan hewan
sebagai subjek eksperimen

2
BAB II
LANDASAN TEORI

Menurut ajaran agama Buddha, makhluk hidup dapat terlahir di alam masing-masing
karena adanya hukum kamma dan punarbhava (kelahiran kembali). Untuk lebih memahami
konsep makhluk hidup menurut Buddhisme, maka ditinjau lebih lanjut mengenai hubungan
hukum kamma dan punarbhava.

2.1 Karma / Kamma


Kata “kamma” berasal dari bahasa Pali, dan kata “karma” berasal dari bahasa
Sanskerta. Karma adalah perbuatan manusia ketika hidup di dunia; hukum sebab akibat
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005: 509). Karma juga diartikan sebagai perbuatan yang
dilakukan oleh jasmani, perkataan, dan pikiran yang baik maupun yang jahat
(Abhidhammathasangaha, 2005: 277). Dalam Anggutara Nikaya, Sang Buddha juga
mengatakan bahwa “para bhikkhu, kehendak untuk berbuat itulah yang kunamakan karma.
Setelah timbul kehendak dalam batinnya, seseorang melakukan perbuatan melalui jasmani,
ucapan, dan pikiran”. Sehingga dapat disimpulkan bahwa karma meliputi semua kehendak
(cettana) dan maksud perbuatan, yang baik (kusala) maupun yang buruk (akusala), lahir atau
batin, dengan pikiran (mano kamma), kata-kata/ucapan (vaci kamma), dan badan jasmani
(kaya kamma).
Semua mahluk dapat melakukan karma kecuali telah mencapai tingkat kesucian
tertinggi (arahat). Seorang arahat tidak melakukan karma karena ia telah menghentikan
proses karma. Perbuatan yang ia lakukan disebut kiriya yang tidak akan menimbulkan akibat
apapun. Karma akan menimbulkan akibat atau hasil disebut vipaka atau akibat karma.
Dalam Anggutara Nikaya, III, 415 dijelaskan bahwa perbuatan (karma) seseorang
ditentukan oleh salah satu dari tiga faktor yaitu rangsangan luar, motif yang disadari dan
motif yang tidak disadari. Lebih lanjut dijelaskan bahwa kontak (phassa) merupakan
penyebab dari perilaku (karma). Rangsangan dari luar adalah gerakan refleks atau perilaku
yang mengikuti rangsangan indria. Motif yang disadari adalah dosa (kebencian), lobha
(keserakahan), moha (kebodohan), alobha (ketidak serakahan), adosa (tidak membenci), dan
amoha (ketidak bodohan). Sedangkan motif yang tidak disadari adalah keinginan untuk hidup
langgeng (jivitukama) dan keinginan untuk menghindar dari kematian (amaritukama). Ketiga
faktor tersebut merupakan sebab terjadinya suatu karma yang akan menimbulkan akibat.

3
Sedangkan dalam Paticcasamuppada, ketidak-tahuan (avijja) merupakan sebab utama yang
menimbulkan karma.
Dalam agama Buddha tidak ada pembuat kamma karena ajaran Buddha mengajarkan
anatta (tanpa inti). Dalam Visudhi-Magga, bhikkhu Budhagosa mengatakan bahwa “ Tak ada
pelaku yang menjalankan perbuatan (kamma), ataupun seseorang yang merasakan buahnya,
hanyalah suku cadang penunjang yang bergulir terus, inilah sesungguhnya yang betul”.
Semua perbuatan menimbulkan akibat dan akibat ini merupakan pula sebab yang akan
menghasilkan akibat yang lain, dan begitu pula seterusnya, sehingga karma juga sering
disebut sebagai 'Hukum Sebab Akibat'. Misalnya melempar batu merupakan suatu perbuatan.
Batu tadi mengenai jendela kaca dan kaca itu pecah. Pecahnya kaca sebagai akibat lemparan
batu. Tetapi peristiwa ini tidak selesai disini saja. Karena kaca pecah merupakan pula satu
sebab dari kesukaran-kesukaran lain. Misalnya sejumlah uang dari lemparan batu tadi harus
berpindah tangan untuk mengganti kaca yang pecah itu. Orang itu mungkin terpaksa
menggunakan uangnya untuk ganti rugi, yang sebenamya uang itu mungkin dicadangkan
untuk keperluan lain, sehingga menimbulkan suatu kekecewaan. Kekecewaan ini mungkin
akan menjadi sebab dari suatu perbuatan yang tidak baik dari seseorang, dan begitulah
seterusnya. Maka dengan demikian akibat karma tidak akan cepat berakhir.

2.2 Konsep Kelahiran Kembali (Punarbhava)


Menurut pemikiran Buddhis, kelahiran kembali (tumimbal-lahir atau Punarbhava)
akan terjadi pada akhir kehidupan saat ini. Buddhisme mengakui kelahiran kembali sebagai
suatu fakta. Kelahiran kembali (Punarbhava) merupakan suatu kenyataan dalam pengertian
Buddhisme walaupun kebanyakan orang mungkin tidak menyadari hal tersebut. Keberadaan
tentang adanya kehidupan masa sebelumnya dapat dikonfirmasikan kepada orang yang telah
melatih pikirannya melalui meditasi.
Sang Buddha pada malam pencapaian Pencerahan-Nya, memperoleh kemampuan
melihat beberapa kehidupan Beliau sebelumnya. Beliau juga melihat makhluk hidup mati
pada suatu tahapan keberadaan dan makhluk hidup lahir pada tahapan keberadaan lainnya,
sesuai dengan karma yang dilakukannya. Sehingga hal ini merupakan pengalaman pribadi
Beliau yang diajarkan kepada para murid-Nya, yaitu kebenaran tentang kelahiran kembali.
Sang Buddha bersabda, "Aku mengingat berjuta kali kelahiranKu dari kehidupan
yang lampau sebagai berikut: mula-mula 1 kehidupan, kemudian 2 kehidupan, kemudian 3,
4, 5, 10, 20 sampai 50 kehidupan, kemudian seratus, seribu, seratus ribu dan seterusnya"
(Majjhima Nikaya, Mahasaccaka Sutta No. 36, I.248). Buddhisme mengajarkan bahwa

4
kelahiran, kematian dan kelahiran kembali adalah merupakan suatu proses perubahan yang
berkelanjutan. Hal tersebut sama dengan proses berkelanjutan dari pertumbuhan, kerusakan
dan penggantian sel dalam tubuh seseorang. Menurut ilmu kedokteran, setiap tujuh tahun
semua sel di dalam tubuh seseorang akan diganti dengan yang baru.

2.3 Hubungan Karma dengan Punarbhava (Kelahiran Kembali)


Karma dan Punarbhava mempunyai hubungan yang saling bergantungan. Ada
hubungan sebab akibat antara karma dan punarbhava. Karma menyebabkan proses tumimbal
lahir suatu mahluk. Dalam Culakammavibhanga Sutta dijelaskan bahwa “setiap mahluk
adalah pemilik perbuatannya sendiri, terwarisi oleh perbuataannya sendiri, lahir dari
perbuatannya sendiri, berhubungan dengan perbuatannya sendiri, dan terlindung oleh
perbuatannya sendiri”. Hal tersebut menjelaskan bahwa suatu mahluk terlahir karena
perbuatannya sendiri. Karma yang menyebabkan suatu mahluk mengalami tumimbal lahir.
Tetapi yang perlu digaris bawahi adalah karma bukan satu-satunya sebab yang menimbulkan
suatu mahluk mengalami kelahiran kembali.
Karma dapat menjelaskan pertanyaan, mengapa suatu mahluk tidak ada yang sama
dan berbeda. Ada orang yang tinggi-pendek, kaya-miskin, cacat-normal, dll. Dalam
Culakammavibanga Sutta dijelaskan mengapa orang terlahir berbeda-beda. Salah satunya
dijelaskan bahwa seseorang yang membunuh makhluk hidup dan tidak mempunyai belas-
kasihan terhadapnya, akibat dari perilakunya tersebut, ia akan dilahirkan kembali di alam
yang buruk setelah meninggal. Dalam Mahakammavibhanga Sutta sang Buddha menjelaskan
bahwa beberapa petapa dan brahmana mempunyai kekuatan batin dapat melihat mahluk-
mahluk di alam lain. Kekuatan untuk dapat melihat mahluk-mahluk alam lain yang muncul
dan lenyap sesuai dengan karmanya masing-masing disebut Dibbacakkhu-nana. Ada juga
sesuatu kemampuan untuk mengingat kehidupan yang lampau disebut pubbenivasanussati-
nana. Dengan memiliki dua kekuatan batin tersebut kita bisa membuktikan adanya tuimbal
lahir atau kelahiran kembali.
Suatu mahluk yang melakukan karma maka ia akan menerima akibat dari karma yang
telah ia lakukan itu. Akibat karma tersebut dapat berakibat pada kehidupan sekarang dan
yang akan datang. Dalam Visuddhimagga, Buddhagosa menjelaskan ada pembagian karma
menurut waktunya. Ada empat jenis yaitu ditthadhammavedaniya kamma (karma yang
menghasilkan akibat pada kehidupan sekarang), Uppajjavedaniya Kamma (karma yang
menghasilkan akibat pada kehidupan setelah kehidupan sekarang ini), Aparaparavedaniya
kamma (karma yang menghasilkan akibat pada kehidupan selanjutnya), dan ahosi kamma

5
(kamma yang tidak memberikan akibat karena jangka waktunya telah habis). Karma
seseorang yang telah ia lakukan tidak hanya akan menimbulkan akibat pada kehidupan
sekarang ini tetapi juga pada kehidupan selanjutnya.

2.4 Enam Alam Kehidupan


Enam alam kehidupan yang dipertimbangkan relatif bahagia dan relatif sengsara bagi
berlangsungnya kehidupan suatu makhluk adalah:
1. Alam Neraka (Naraka). 4. Alam Binatang (Tiracchana)
2. Alam Setan Kelaparan (Peta) 5. Alam Manusia (Manussa)
3. Alam Raksasa (Asura) 6. Alam Dewa
Dalam makalah mengenai spesiesisme dan percobaan hewan ini, akan dibahas dua
alam makhluk yaitu manusia dan binatang.

2.4.1 Alam Manusia (Manussa)


'Manussa' terbentuk atas dua kosakata, yaitu 'mano' yang berarti 'pikiran, batin' dan
'ussa' yang berarti 'tinggi, luhur, meningkat, berkembang'. Manussa atau manusia adalah
suatu makhluk yang berkembang serta kukuh batinnya (mano ussanti etesanti = manussâ),
yang tahu serta memahami sebab yang layak (kâranâkaranam manatijânâtîti = manusso),
yang tahu serta memahami apa yang bermanfaat dan tak bermanfaat (atthânattam manati
jânâtîti = manusso), yang tahu serta memahami apa yang merupakan kebajikan dan
kejahatan(kusalâkusalam manati jânâtîti = manusso).
Dalam ajaran agama Buddha, manusia menempati kedudukan yang khusus dan
tampak memberi corak yang dominan pada hampir seluruh ajarannya. Kenyataan yang
dihadapi manusia dalam hidup sehari-hari merupakan titik tolak dan dasar dari seluruh
ajaran Buddha. Hal ini dibicarakan dalam ajaran yang disebut Tilakhana (Tiga corak
umum agama Buddha), Catur Arya Saccani (empat kesunyataan mulia), hukum karma
(hukum perbuatan), dan tumimbal lahir (kelahiran kembali).
Manusia, menurut ajaran Buddha, adalah kumpulan dari energi fisik dan mental
yang selalu dalam keadaan bergerak, yang disebut Pancakhanda atau lima kelompok
kegemaran yaitu rupakhanda (jasmani), vedanakhanda (pencerahan), sannakhandha
(pencerapan), sankharakhandha (bentuk-bentuk pikiran), dan vinnanakhandha
(kesadaran) . Kelima kelompok tersebut saling berkaitan dan bergantung satu sama lain
dalam proses berangkai, kesadaran ada karena adanya pikiran, pikiran timbul disebabkan
adanya penyerapan, penyerapan tercipta karena adanya perasaan, dan perasaan timbul

6
karena adanya wujud atau Rupa. Kelima khanda tersebut juga sering diringkas menjadi
dua yaitu: nama dan rupa. Nama adalah kumpulan dari perasaan, pikiran, penyerapan dan
perasaan yang dapat digolongkan sebagai unsur rohaniah, sedangkan Rupa adalah badan
jasmani yang terdiri dari empat unsur materi yaitu unsur tanah, air, api, dan udara atau
hawa.
Tujuan akhir manusia adalah mencapai pencerahan atau Nibbana, dengan
tercapainya nibbana tidak ada lagi keinginan yang diharapkan oleh manusia, tak ada
harapan apapun, tidak lagi memikirkan akan kelangsungan dirinya. Dengan mencapai
tahap ini manusia sudah tidak lagi memiliki keinginan, nafsu-nafsu kotor, sudah lepas dari
segala ikatan dunia dan ikatan karma itu sendiri.
Manusia memiliki potensi yang tak terbatas. Namun potensi tersebut tidak banyak
dipergunakan oleh manusia secara benar. Selama manusia tidak menyadari potensi yang
dimilikinya, maka akan sulit bagi manusia untuk mencapai tujuan akhir umat Buddha
yaitu Nibbana (kebahagian tertinggi). Nibbana adalah suatu “keadaan”, seperti diajarkan
oleh sang Buddha, Nibbana adalah keadaan yang pasti setelah keinginan lenyap. Api
menjadi padam karena kehabisan bahan bakar. Nibbana adalah padamnya keinginan,
ikatan-ikatan, nafsu-nafsu, kekotoran-kekotoran batin. Dengan demikian Nibbana adalah
kesunyataan abadi, tidak dilahirkan (na uppado-pannayati), tidak termusnah (na vayo-
pannayati), ada dan tidak berubah (nathitassannahattan-pannayati). Nibbana disebut juga
asankhata-dhamma (keadaan tanpa syarat, tidak berkondisi). Dalam Paramathadi panitika
disebutkan Natthi Vanam Etthani Nibbanam (keadaan yang tenang yang timbul dengan
terbebasnya dari tanha/keinginan rendah disebut Nibbana).
Cara untuk mencapai pecerahan adalah dengan menembus empat kesunyataan mulia
(catur arya saccani), tekun melakukan perenungan terhadap kelima skanda sebagai
sesuatu yang tidak kekal (anicca), tidak bebas dari derita (dukkha), dan tanpa aku (anatta).
Menyelami bahwa apa yang disebut makhluk atau diri tidak lain adalah proses atau arus
keadaan mental dan jasmani yang saling bergantung (Paticcasamuppada). Dengan
menganalisa, ia menyelami bahwa semua hanyalah sebuah arus dari sebab dan akibat.
Meneliti dengan cermat sifat sebab-akibat sehingga menembusi alam kesadaran yang lebih
tinggi. Seluruh alam semesta tidak lain adalah berisi bermacam arus dan getaran yang
tidak kekal. Dengan penembusan ini nafsu keinginan, kehausan akan penjelmaan akan
terhenti, dan muncul dalam jalan kesucian, sampai bersatu dengan Kesadaran Agung
Nirvana.

7
2.4.2 Alam Binatang (Tiracchana)
Tiracchâna terbentuk atas dua kosakata, yaitu 'tiro' yang berarti 'melintang,
membujur', dan 'acchâna' yang berarti 'pergi, berjalan'. Tiracchâna atau binatang adalah
suatu makhluk yang umumnya berjalan dengan melintang atau membujur, bukan berdiri
tegak seperti manusia. Dengan pengertian lain, binatang disebut Tiracchâna karena
merintangi jalan menuju pencapaian Jalan dan Pahala. Makhluk-makhluk dilahirkan
sebagai binatang-binatang karena kamma buruk mereka. Setelah masa hidupnya habis,
binatang-binatang ini akan lahir dialam-alam lain (tumimbal lahir), misalnya di alam
manusia, jika mereka mempunyai kamma yang cukup untuk itu.
Binatang sesungguhnya tidak mempunyai alam khusus milik mereka sendiri
melainkan hidup di alam manusia. Binatang memiliki hasrat untuk menikmati kesenangan
inderawi serta berkembang-biak; naluri untuk mencari makan, bersarang, dan sebagainya;
dan perasaan takut mati, mencintai kehidupannya. Binatang tidak mempunyai kemampuan
untuk membedakan kebajikan dari kejahatan, kebenaran dari kesesatan, dan sebagainya
(dhammasaññâ, conscience) kecuali kalau terlahirkan sebagai calon Buddha (Bodhisatta)
yang sedang memupuk kesempurnaan. Bodhisatta tidak akan terlahirkan sebagai binatang
yang lebih kecil dari burung puyuh atau lebih besar dari gajah.

Binatang mempunyai banyak jenis yang tak terhitung jumlahnya, namun secara
garis besarnya dapat dibedakan menjadi Empat Macam, yakni:

1. Yang tak berkaki seperti ular, ikan, cacing dan lain-lain (apada),

2. Yang berkaki dua seperti ayam, bebek, burung dan lain-lain (dvipada),

3. Yang berkaki empat seperti gajah, kuda, kerbau dan lain-lain (catuppada),

4. Yang berkaki banyak seperti kelabang, udang, kepiting dan lain-lain (bahuppada).

Makhluk bisa terlahir di alam ini karena melakukan perbuatan yang didasarkan
pada Moha (kebodohan batin) dan juga Dosa (kebencian).

Umat Buddha percaya bahwa makhluk-makhluk dilahirkan sebagai binatang


karena kamma buruk. Bagaimanapun, ada kemungkinan bagi binatang-binatang dilahirkan
sebagai manusia akibat kamma baik yang ditimbun dimasa lampau. Namun kadang-
kadang binatang tertentu seperti anjing dan kucing, hidup dalam kehidupan yang lebih
menyenangkan jika dibandingkan dengan beberapa manusia dikarenakan kamma baik
mereka di masa lampau. Kamma seseoranglah yang menentukan sifat dari bentuk wujud
seseorang yang berbeda-beda menurut kebajikan atau ketidakbajikan tindakan seseorang.

8
BAB III
KAJIAN MASALAH

Di dunia ini, ada berbagai macam diskriminasi. Diskriminasi terjadi ketika seseorang
diberi pertimbangan moral yang kurang dari orang lain atau diperlakukan lebih buruk
daripada yang lain karena alasan yang tidak dapat dibenarkan. Ada diskriminasi terhadap
manusia tertentu berdasarkan jenis kelamin (sexism), warna kulit (racism), dan preferensi
seksual mereka. Namun, diskriminasi terjadi tidak hanya diantara manusia, tetapi juga
diantara manusia dengan spesies lainnya, contohnya hewan. Istilah diskriminasi antar spesies
ini dikenal sebagai spesiesisme.

3.1 Pengertian Spesiesisme


Spesiesisme adalah suatu istilah pelecehan (dan pengutukan) terhadap pandangan bahwa
kehidupan manusia lebih bernilai dan lebih pantas dihormati daripada kehidupan binatang.
(Diterjemahkan dari buku Jenny Teichman, SOCIAL ETHICS (Etika Sosial): A Student’s
Guide, Blackwell Publishers Ltd Oxford, 1996, oleh A. Sudiarja,S. Pustaka Filsafat). Salah
satu ulasan moral yang sangat berpengaruh yang diajukan oleh mereka ialah agar kita
meninggalkan ide bahwa makhluk manusia itu mempunyai hak-hak kodrati ataupun sesuatu
yang istimewa.
Istilah spesiesisme pertama kali muncul pada tahun 1970 dalam sebuah pamflet
pribadi yang ditulis oleh psikolog Inggris Richard D. Ryder. Ryder adalah anggota
sekelompok intelektual di Oxford, Inggris, komunitas hak binatang yang baru lahir, sekarang
dikenal sebagai Kelompok Oxford. Salah satu kegiatan kelompok tersebut adalah
membagikan pamflet tentang bidang-bidang yang menjadi perhatian; pamflet berjudul
"Speciesism" ditulis untuk memprotes percobaan hewan.
Ryder mengemukakan dalam pamflet bahwa sejak era Darwin sejak tahun 1880, para
ilmuwan telah sepakat bahwa tidak ada perbedaan mendasar antara manusia dan hewan
lainnya secara biologis. Mengapa kita membuat perbedaan yang hampir total secara moral?
Jika semua organisme memiliki satu rangkaian fisik, kita juga harus mengikuti rangkaian
moral yang sama. Dia menulis bahwa, pada waktu itu di Inggris, sekitar 5.000.000 hewan
digunakan setiap tahun dalam eksperimen, dan bahwa mencoba untuk mendapatkan
keuntungan bagi manusia sendiri melalui penganiayaan spesies lain adalah spesiesisme.
Ryder menggunakan istilah ini lagi dalam sebuah esai, "Experiments on Animals", dalam
Animals, Men and Morals (1971), kumpulan esai tentang hak hewan.

9
3.1.1 Percobaan Hewan dalam Bidang Kedokteran
Animal testing atau percobaan terhadap hewan adalah penelitian dengan
menggunakan hewan sebagai objek penderita. Beberapa istilah yang berkaitan dengan
percobaan terhadap hewan antara lain animal experimentation, animal research, in vivo
testing, dan vivisection. Semua istilah tersebut mengacu pada penggunaan hewan dalam
proses penelitian. Tujuan percobaan terhadap hewan yang banyak dikemukakan adalah
untuk kesehatan, pangan, dan kosmetik. Dalam proses penelitian tak jarang ada hewan
yang mati dan setelah penelitian banyak hewan yang dibunuh untuk mencegah interaksi
dengan hewan lain.
Hewan yang umum digunakan dalam percobaan adalah bangsa pengerat, seperti
mencit, tikus, atau rodensia lain. Pada tahun 2001 di Inggris, tercatat ada sekitar 1.655.766
ekor mencit yang digunakan dalam percobaan terhadap hewan. Selain itu, ada sekitar
8.273 ekor karnivora, termasuk anjing yang digunakan daam animal testing tersebut.
Selain hewan kelompok rodensia dan carnivore, hewan yang juga banyak digunakan untuk
percobaan adalah primata. Mencit, tikus, dan rodensia lain yg digunakan untuk percobaan
biasanya berasal dari pembiakan atau penangkaran. Sedangkan untuk primata pada
umumnya masih banyak berasal dari alam liar.

3.1.1.1 Sejarah Perkembangan Percobaan terhadap Hewan


Hewan telah digunakan sebagai subjek uji coba sejak dahulu. Sejarah
pengujian hewan dapat ditelusuri hingga abad ke-4 SM saat Aristoteles menggunakan
binatang hidup untuk melakukan penelitian. Hasil penelitiannya didokumentasikan
dalam bentuk tulisan yang berjudul ‘Sejarah Hewan’, ‘Generasi Hewan’, dan ‘Bagian
Hewan’. Meskipun tidak semua, sejumlah besar pengamatan dan interpretasi yang
didokumentasikannya adalah kebenaran. Abad ke-3 M merupakan waktu munculnya
karya-karya anatomis Erasistratus dari Yunani. Erasistratus yang melakukan
penelitian pada hewan menegaskan bahwa limpa dan empedu tidak berguna bagi
hewan. Aelius Galenus, seorang dokter bedah Romawi dan filsuf dari etnis Yunani,
dikenal sebagai ahli anatomi manusia. Karena pada abad ke-2 SM hukum Romawi
tidak mengizinkan pembedahan tubuh manusia, dia terpaksa melakukan pembedahan
pada hewan yang masih hidup maupun yang sudah mati untuk studi anatominya.
Galen paling sering menggunakan babi dan hewan primata untuk penelitiannya.
Sebagian besar pengamatannya ternyata benar karena beberapa anatomi hewan
tersebut menyerupai anatomi manusia. Melakukan percobaan pada hewan hidup

10
membuat Galen mendapat julukan sebagai bapak pembedahan makhluk hidup (father
of vivisection). Selama abad ke-12, Ibnu Zuhr seorang dokter Arab, menyeleksi
hewan yang akan digunakan untuk pengujian prosedur ilmiah sebelum melakukannya
pada manusia. Dia berlatih prosedur pembedahan dengan melakukan percobaan pada
kambing. Seiring berjalannya waktu, penggunaan hewan untuk penelitian menjadi
lebih umum dan mencapai puncaknya pada abad ke-18 dan ke-19. Menggunakan
hewan sebagai eksperimen tetap dilakukan hingga sekarang.
Motif manusia dalam mengeksploitasi hewan ada banyak hal. Manusia telah
memanfaatkan hewan sebagai peliharaan, bahan makanan, bahan pakaian, hiburan
dan subjek percobaan penelitian. Manusia tidak pernah membayangkan bagaimana
jika hal itu terjadi pada dirinya. Manusia cenderung egois dan mementingkan
kepuasan dirinya sendiri. Seandainya hewan-hewan mampu bertindak seperti
manusia, pembunuhan dan pelanggaran hak tentu hewan-hewan akan melakukan
berbagai protes terhadap tindakan keji manusia. Jika hewan mampu bertindak
demikian pastinya umat manusia akan mendapat banyak serangan dari hewan-hewan.
Dengan dasar bahwa pertumbuhan hewan cenderung lebih besar daripada
pertumbuhan manusia maka dapat dipastikan bahwa manusia juga ada kemungkinan
tidak mampu menghadapi aksi balasan dari para hewan.

3.1.1.2 Alasan Percobaan terhadap Hewan


Rustiawan (1990) menguraikan beberapa alasan mengapa hewan percobaan
tetap diperlukan dalam penelitian khususnya di bidang kesehatan, pangan dan gizi
antara lain:
a. Keragaman dari subjek penelitian dapat diminimalisasi,
b. Variabel penelitian lebih mudah dikontrol,
c. Daur hidup relatif pendek sehingga dapat dilakukan penelitian yang bersifat
multigenerasi,
d. Pemilihan jenis hewan dapat disesuaikan dengan kepekaan hewan terhadap
materi penelitian yang dilakukan,
e. Biaya relatif murah,
f. Dapat dilakukan pada penelitian yang berisiko tinggi,
g. Mendapatkan informasi lebih mendalam dari penelitian yang
dilakukan karena kita dapat membuat sediaan biologi dari organ hewan yang
digunakan,

11
h. Memperoleh data maksimum untuk keperluan penelitian simulasi, dan
i. Dapat digunakan untuk uji keamanan, diagnostik dan toksisitas.

3.1.1.3 Dasar Hukum Penelitian pada Hewan Coba


UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan pasal 69 ayat 1 yang berbunyi:
“Penelitian dan pengembangan kesehatan dilaksanakan untuk memilih dan
menetapkan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna yang diperlukan dalam
rangka meningkatkan derajat kesehatan”. UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
pasal 44 ayat 4 yang berbunyi: “Penelitian terhadap hewan harus dijamin untuk
melindungi kelestarian hewan tersebut serta mencegah dampak buruk yang tidak
langsung bagi kesehatan manusia.”
Dari undang-undang tersebut dapat disimpulkan bahwa hewan percobaan
harus dipilih dengan mengutamakan hewan dengan sensitivitas neurofisiologik yang
paling rendah (nonsentient organism) dan hewan yang paling rendah pada skala
evolusi. Keberhati-hatian (caution) yang wajar harus diterapkan pada penelitian yang
dapat mempengaruhi lingkungan dan kesehatan hewan yang digunakan dalam
penelitian harus dihormati.

3.1.1.4 Percobaan Hewan yang Telah Dilakukan


Berbagai contoh penggunaan hewan untuk uji coba adalah sebagai berikut:
1. Pemaparan dosis radiasi yang fatal terhadap seekor babi di Armed Forces
Radiobiology Research Institute, sebuah fasilitas militer Amerika Serikat,
untuk tujuan riset dan studi. Sang babi mengalami kegagalan fungsi organ,
pendarahan kronis, kehilangan nafsu makan, dan depresi. Melihat efek
sampingnya, tim riset mendiskusikan untuk menyuntik mati dia secara
manusiawi, namun sang babi sudah mati terlebih dahulu keesokan harinya.
2. Dalam sebuah studi tentang malaria di Universitas Emory, monyet berusia
empat tahun dipaparkan dengan virus malaria dan ia tidak mau bergerak
selama sembilan hari. Sang monyet memiliki gejala berat malaria, seperti
anemia, gangrene, kehilangan nafsu makan, detak jantung lemah, bintik ungu
disekujur tubuhnya, dan denyut nadi yang cepat. 14 hari setelah infeksi, ia
baru di-eutanasia.

12
3. Pada tahun 1880, Louis Pasteur meyakinkan orang-orang terhadap teori nya
dengan menginfeksi sapi dengan anthraks.
4. Di tahun yang sama pada 1880, Robert Koch menginfeksi tikus dan guinea pig
dengan anthraks dan tuberkulosis untuk kepentingan studinya.
5. Ivan Pavlov, yang terkenal dengan teori classical conditioning-nya,
menggunakan anjing sebagai subjek penelitiannya. Anjing-anjing tersebut
diberikan implan tube pada mulut mereka yang berfungsi menampung air liur.

3.1.1.5 Etika Percobaan Pada Hewan


Hewan percobaan yang digunakan pada penelitian akan mengalami
penderitaan, yaitu: ketidaknyamanan, ketidaksenangan, kesusahan, rasa nyeri, dan
terkadang berakhir dengan kematian. Berdasarkan hal tersebut, hewan yang
dikorbankan dalam penelitian yang hasilnya dapat dimanfaatkan oleh manusia patut
dihormati, mendapat perlakuan yang manusiawi, dipelihara dengan baik, dan
diusahakan agar bisa disesuaikan pola kehidupannya seperti di alam. Peneliti yang
akan memanfaatkan hewan percobaan pada penelitian kesehatan harus mengkaji
kelayakan dan alasan pemanfaatan hewan dengan mempertimbangkan penderitaan
yang akan dialami oleh hewan percobaan dan manfaat yang akan diperoleh untuk
manusia.

3.1.1.6 Kontroversi Percobaan pada Hewan dalam Bidang Medis


Penggunaan hewan untuk subjek uji coba dalam bidang medis terus meluas,
hingga akhirnya menimbulkan berbagai macam kontroversi. Pada tahun 1655,
seorang advokat dari penganut ilmu fisiologi Galen bernama Edmund O’Meara
mengatakan bahwa percobaan hewan dengan penyiksaan membuat tubuh hewan
tersebut berada dalam keadaan yang tidak normal, sehingga ia dan timnya
berargumen bahwa menggunakan hewan untuk percobaan akan menghasilkan hasil
yang tidak valid. Banyak juga yang menentang percobaan pada hewan dengan
landasan etika dan moral. Kubu kontra mengatakan bahwa walaupun percobaan
hewan menguntungkan manusia, bukan berarti kita dapat memutuskan untuk uji coba
dengan menggunakan hewan. Ada kubu lainnya yang juga mengatakan bahwa
terdapat perbedaan fisiologis dan anatomi secara mendasar pada tubuh manusia dan
hewan, sehingga hasil uji coba pada hewan tidak dapat dijadikan sandaran untuk
manusia.

13
Namun, ada juga kubu pro uji coba terhadap hewan. Claude Bernard, yang
dikenal sebagai ‘Pangeran Vivisektor’ dan ‘Bapak Fisiologi’, menulis di tahun 1865
bahwa “ilmu pengetahuan adalah sebuah aula makan yang indah dan terang dan
hanya dapat dicapai jika kita melewati dapur yang keji, panjang, dan kelam.” Bernard
menetapkan uji coba hewan sebagai bagian dari metode saintifik standar. Tahun 1822,
hukum perlindungan hewan pertama kali disahkan di parlemen Inggris. Pengesahan
ini didukung oleh Charles Darwin, yang menyetujui uji coba hewan untuk keperluan
investigasi dalam bidang fisiologi dan bukan untuk memuaskan hipotesis dan rasa
penasaran yang keji. Oposisi untuk uji coba hewan dalam riset medis di Amerika
Serikat pertama kali muncul di tahun 1860, ketika Henry Bergh mendirikan American
Society for the Prevention of Cruelty to Animals (ASPCA).
Hingga saat ini, masih ada organisasi yang terus bergerak untuk
memperjuangkan hak hewan. Beberapa diantaranya adalah:
1. Animal Justice Project, sebuah organisasi yang berasal dari Inggris. Didirikan
tahun 2015 oleh Julia Orr dan Claire Palmer.
2. Animal Liberation Front (ALF) yang didirikan tahun 1976 oleh aktivis
berkewarganegaraan Inggris bernama Ronnie Lee.
3. Cruelty Free International, organisasi Inggris yang didirikan 100 tahun yang
lalu dan masih aktif berkampanye menentang penggunaan hewan untuk riset
hingga saat ini.
4. People for the Ethical Treatment of Animal (PETA), organisasi global yang
bermarkas di Amerika Serikat dan bergerak untuk memperjuangkan hak
hewan Didirikan oleh Ingrid Newkirk, PETA memiliki cabang di 10 negara.
5. Coexistence of Animal Rights on Earth (CARE), organisasi Buddha terbesar
di Korea Selatan yang bergerak untuk memperjuangkan hak hewan. CARE
aktif melakukan kampanye menentang segala jenis eksploitasi hewan untuk
kepentingan riset. CARE baru saja mengadakan Asian Buddhist Animal Rights
Conference di Seoul, Korea Selatan pada tanggal 30 September 2016.
6. Dharma Voices for Animals (DVA), didirikan lima tahun yang lalu dan
memiliki 25 chapter di sembilan negara. Misinya adalah untuk mengajarkan
ajaran inti sang Buddha, salah satunya adalah untuk memberikan suara mereka
terhadap penderitaan hewan dan melakukan tindakan untuk mengurangi
penderitaan hewan.

14
BAB IV
TINJAUAN ETIS PERSPEKTIF AGAMA

4.1 Pandangan Buddhisme terhadap Spesiesisme


Dalam definisi spesiesisme menurut pandangan umum, moral menjadi aspek penting
yang menentukan. Contoh, Paul Waldau dalam bukunya The Specter of Speciesism; Buddhist
and Christian Views of Animals, berpendapat bahwa Buddhisme memandang manusia
sebagai makhluk yang memiliki nilai-nilai kehidupan yang lebih tinggi dibandingkan dengan
binatang, “values humans and human life more highly than other animals and their lives”.
Menurut Waldau, nilai moral yang membedakan manusia dengan makhluk lain diantaranya
adalah dalam penggunaan bahasa, interaksi dan komunikasi; hubungan kekeluargaan dan
kelompok sosial, norma-norma sosial dan harapan; kompleksitas dalam individu; kecerdasan
kesadaran diri; intensionalitas, dan kemampuan menciptakan alat. Manusia dianggap di
dalam golongan yang bermoral sedangkan hewan tidak termasuk. Untuk itu, kehidupan
manusia harus dilindungi dari penangkaran, pemanfaatan sebagai media percobaan dan
melindunginya dari bahaya. Pendapat dari Waldau tersebut tidak sesuai dengan pandangan
Buddhisme yang sebenarnya.
Berbeda dengan Waldau, Colette Sciberras berhasil menginterpretrasikan pandangan
Buddhisme terhadap spesiesisme dengan benar. Dalam jurnalnya yang berjudul “Buddhism
and Speciesism: on the Misapplication of Western Concepts to Buddhist Beliefs”, Sciberras
menyoroti definisi spesiesime oleh Waldau. Sciberras menemukan adanya ketidaksesuaian
definisi spesiesisme menurut Buddhis. Waldau berpendapat bahwa dalam teks Pali yang
terdapat pada kitab suci agama buddha, tidak terdapat larangan mengenai pemanfaatan hewan
bagi manusia, tetapi Waldau menyatakan ada konsep spesiesisme dalam Buddhisme.
Meskipun dalam teks Pali tidak ada sebuah larangan akan pemanfaatan hewan, namun hal itu
sebenarnya tetap bertentangan dengan ajaran Buddhisme, dimana semua makhluk dipandang
memiliki hak yang sama yaitu hak untuk memperoleh kebahagiaan hidup hingga mencapai
pembebasan agung. Teks Pali lebih banyak berisi tentang saran dan anjuran bukan sebagai
sebuah kitab yang berisi perintah dan larangan. Dalam Karaṇiya Metta Sutta disebutkan
makhluk hidup apa pun yang ada, tanpa kecuali, lemah atau kuat, panjang, besar atau ukuran
menengah, atau pendek, apakah terlihat atau tidak terlihat, dan mereka yang tinggal jauh atau
dekat, yang lahir dan mereka yang mencari kelahiran, semoga semua makhluk bahagia
(Samyutta Nikaya 1.8, terj. Buddharakkhita). Sutta ini mengungkapkan bahwa Buddhisme
mengajarkan kepedulian terhadap kesejahteraan makhluk lain tidak terbatas hanya kepada

15
anggota spesies tertentu, juga tidak tergantung pada karakteristik mereka. Sebaliknya,
lingkaran moral diperpanjang jauh untuk "makhluk apa pun yang mungkin ada tanpa
kecuali," dengan kata lain, untuk semua makhluk.
Pandangan spesiesisme dalam Buddhisme yang lebih dapat diterima adalah mengenai
kemampuan manusia lebih tinggi dalam mengikuti ajaran Buddha. Dalam hal ini, manusia
berharga bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk pencapaian yang lebih tinggi yaitu
Nibbana. Pencapaian itu adalah cita-cita yang harus dikondisikan tidak hanya dalam
kehidupan sebagai manusia, namun juga dalam kehidupan-kehidupan yang lain termasuk
hewan.
Namun, pada masa lalu, pandangan umat Buddha terhadap hewan tidak selalu positif.
Doktrin karma menyiratkan bahwa jiwa dilahirkan kembali sebagai hewan karena kelakuan
buruk di masa lalu. Terlahir kembali sebagai hewan adalah kemunduran spiritual yang serius.
Karena hewan tidak dapat melakukan tindakan penyempurnaan diri secara sadar, mereka
tidak dapat memperbaiki status karma mereka, dan jiwa mereka harus terus terlahir kembali
sebagai hewan sampai karma buruk mereka habis. Hanya ketika mereka terlahir kembali
sebagai manusia, mereka dapat melanjutkan pencarian nibbana. Karma buruk ini, dan
ketidakmampuan hewan untuk berbuat banyak untuk memperbaikinya, membuat umat
Buddha di masa lalu berpikir bahwa hewan lebih rendah daripada manusia dan tentunya
mendapatkan hak yang lebih sedikit daripada manusia. Umat Buddha awal menggunakan
gagasan bahwa hewan secara spiritual dan moral lebih rendah sebagai pembenaran untuk
eksploitasi dan penganiayaan terhadap hewan.
Dalam kitab Jataka, Buddhisme justru menampilkan bahwa hewan-hewan bukanlah
sebagai makhluk yang spiritual dan moralnya rendah. Dari berbagai cerita nampak bahwa
hewan-hewan itu justru memiliki kebijaksaan dan moralitas yang lebih unggul daripada
manusia. Hewan-hewan yang dimaksud adalah Boddhisatva. Seorang Buddha dalam
kehidupan lampaunya juga terlahir sebagai binatang untuk menyempurnakan parami (sifat-
sifat luhur). Jadi, hidup sebagai manusia ataupun hewan merupakan bagian dari proses
makhluk hidup untuk mencapai pembebasan. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa
Buddhisme tidak setuju dengan paham spesiesisme.

16
4.1.1 Pandangan Buddhisme terhadap Percobaan pada Hewan
Apabila kita meninjau masalah spesiesisme dalam bidang kedokteran, seperti
percobaan hewan, memang tidak ada sutta atau hukum yang jelas mengenai peraturan atau
larangannya. Tetapi perbuatan dari percobaan itulah yang telah melanggar hukum yang
ada di dalam agama Buddha. Walaupun pada dasarnya, penelitian yang dilakukan pada
hewan-hewan itu adalah untuk kepentingan kesehatan manusia, yang kemudian dapat juga
membantu dalam kemajuan ilmu kedokteran. Sebagai agama yang mengajarkan cinta
kasih terhadap semua makhluk, maka segala tindakan yang melanggar hak asasi makhluk
hidup ditentang Buddhisme. Hal ini dapat dijumpai dalam Vinaya Pitaka bahwa seorang
bhikkhu dikenakan pelanggaran pacittiya jika melakukan pembunuhan terhadap binatang.
Maka seorang bhikkhu akan dikenakan dandakammam (menderita adanya kamma).
Tindakan yang tidak beradab ini bukan hanya berlaku bagi pabbajita (bhikkhu/bhikkhuni
atau samanera/samaneri), akan tetapi juga berlaku bagi garavasa (umat awam).
Dalam hukum kamma, dijelaskan bahwa apabila seseorang melakukan perbuatan
jahat, maka ia akan memperoleh karma buruk. Maka dengan itu, Buddha juga menyatakan
bahwa akibat dari tindakan penyiksaan terhadap hewan akan menyebabkan umur
seseorang menjadi pendek. Tidak hanya itu, menurut punarbhava (kelahiran kembali),
seseorang yang melakukan karma buruk juga dapat terlahir di alam yang menderita,
seperti alam binatang, setan, raksasa atau neraka. Dalam Culakammavibanga Sutta
dijelaskan bahwa seseorang yang membunuh makhluk hidup dan tidak mempunyai belas-
kasihan terhadapnya akan dilahirkan kembali di alam yang buruk setelah meninggal
sebagai akibat dari perbuatan buruknya.
Agama Buddha merupakan agama yang mengajarkan cinta kasih. Pengembangan
cinta kasih ditujukan kepada semua makhluk, misalnya kepada binatang, dan juga kepada
makhluk yang tidak tampak. Keharmonisan yang ditimbulkan dari pengembangan cinta
kasih tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi keharmonisan manusia dengan binatang,
dan keharmonisan manusia dengan makhluk halus atau makhluk tidak nampak. Contoh
dari pengembangan cinta kasih antara manusia dengan binatang dan makhluk halus, yaitu
tidak mengganggu antara makhluk yang satu dengan makhluk yang lain. Dengan tidak
mengganggu sesama makhluk, maka keharmonisan akan tercipta. Pengembangan cinta
kasih tidak memandang makhluk apa pun, baik yang dikenal atau tidak, apakah makhluk
tersebut tampak atau tidak, apakah makhluk tersebut adalah seorang musuh, atau
seseorang yang sangat dicintai, atau bahkan makhluk tersebut adalah binatang. Kesemua

17
jenis makhluk diberikan pancaran cinta kasih. Seperti yang terdapat dalam Metta Sutta
(Norman, 2001: 19) bahwa:
“ Whatever living creatures there are, moving or still without exception, whichever are
long or large, or middle-sized or short, small or great, whichever are seen or unseen,
whichever live far or near, whichever they already exist or are going to be, let all
creatures be happy minded.”
Kita sebagai manusia seharusnya lebih bijaksana dalam memutuskan untuk tidak
melakukan percobaan pada hewan. Menurut Buddhisme, manusia adalah suatu makhluk
yang berkembang serta kukuh batinnya, yang tahu serta memahami sebab yang layak,
yang tahu serta memahami apa yang bermanfaat dan tak bermanfaat, yang tahu serta
memahami apa yang merupakan kebajikan dan kejahatan. Pada proses percobaan, banyak
sekali hewan yang disakiti dan dibunuh. Tindakan tersebut mestinya dapat dipahami oleh
manusia sebagai tindakan yang jahat, sehingga manusia harus menghindari percobaan
yang dapat membahayakan hewan.
Selain itu, untuk melakukan eksperimen, para ilmuwan harus membeli hewan-
hewan dari para pedagang. Perdagangan hewan merupakan perbuatan yang harus dihindari
oleh umat Buddha. Sang Buddha pernah menyatakan bahwa ada lima macam
micchâvanijja yang perlu dihindari oleh umat Buddha, dan salah satunya adalah
perdagangan hewan (Anguttara Nikâya III, 208). Jelas terlihat bahwa perdagangan yang
dilarang tersebut sesuai dan sejalan dengan aturan Pancasila Buddhis terutama sila
pertama, yaitu menghindari diri dari pembunuhan dan penyiksaan makhluk hidup.
Dalam UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan pasal 69 ayat 1 yang berbunyi:
“Penelitian dan pengembangan kesehatan dilaksanakan untuk memilih dan menetapkan
ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna yang diperlukan dalam rangka meningkatkan
derajat kesehatan”, tidak ditemukan adanya pertentangan dengan ajaran Buddha. Namun
pada UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 44 ayat 4 yang berbunyi: “Penelitian
terhadap hewan harus dijamin untuk melindungi kelestarian hewan tersebut serta
mencegah dampak buruk yang tidak langsung bagi kesehatan manusia.”, terdapat
pertentangan dengan Buddhisme. Dalam UU No.36 tahun 2009 tersebut, hanya dinyatakan
agar melindungi kelestarian hewan percobaan, sedangkan masalah sakit yang ditimbulkan
pada hewan dan pembunuhan itu tidak disebutkan. Hewan yang umum digunakan dalam
percobaan adalah bangsa pengerat, seperti mencit, tikus, atau rodensia lain. Hewan
tersebut biasanya diperoleh dari pembiakan atau penangkaran, sehingga tidak akan ada
masalah kelestarian dari hewan tersebut. Maka hal penting yang harus diperhatikan adalah

18
tindakan dari proses percobaan pada hewan. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya,
Buddhisme tidak setuju dengan tindakan menyakiti atau menyiksa makhluk hidup apapun,
termasuk hewan.
Buddhisme mengakui nilai yang mungkin dimiliki dari percobaan hewan untuk
kesehatan manusia. Sampai saat ini penelitian dengan menggunakan hewan coba, telah
menghasilkan kontribusi yang sangat banyak dalam pemahaman konsep biologis, dan juga
terhadap kepentingan manusia itu sendiri, misalnya untuk perlakuan terhadap pencegahan
penyakit, pengobatan penyakit. Namun, masih ada pertanyaan yang patut mendapat
perhatian dalam penanganan obyek yakni penggunaan hewan coba. Misalnya adakah
tindakan yang menyakiti atau menyebabkan rasa sakit dan nyeri pada hewan? Apakah
dalam memperlakukan objek telah dilakukan persiapan dan pemahaman penanganannya
dengan baik dan benar? Dalam proses penelitian tak jarang ada hewan yang disakiti dan
mengalami kematian. Kemudian setelah penelitian, banyak hewan dibunuh untuk
mencegah interaksi yang dapat menyebabkan penularan penyakit kepada hewan lain.
Tindakan-tindakan tersebut sudah jelas bertentangan dengan ajaran agama Buddha. Tetapi
apabila tidak ada alternatif lain, disarankan sebaiknya uji coba pada hewan dilakukan
hanya untuk tujuan yang baik. Percobaan juga harus dirancang dengan meminimalisasi
penyiksaan terhadap hewan dan menghindari pembunuhan hewan kecuali jika benar-benar
diperlukan. Dan perlakukan hewan yang bersangkutan dengan baik dan hormat. Namun,
bagaimanapun bentuk percobaannya, selama menimbulkan kesakitan atau penyiksaan
terhadap hewan, maka pelaku eksperimen akan memperoleh karma buruk. Sehingga
bagaimanapun juga, menurut Buddhisme, percobaan hewan salah secara moral jika hewan
yang bersangkutan dibahayakan.

19
BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Terlahir menjadi manusia merupakan suatu keuntungan dibanding terlahir di alam
lain. Lahir sebagai manusia adalah berpotensi untuk mencapai pencerahan dibandingkan
makhluk lain. Manusia memiliki kesempatan belajar Dhamma lebih banyak dari pada
makhluk alam Dugati bahkan makhluk alam dewa. Manusia tidak terganggu oleh kegiatan
yang menyenangkan seperti dewa-dewa, bukan juga mereka kewalahan oleh kehidupan
siksaan, seperti dalam alam bawah (Samyutta Nikaya 35,135). Meskipun kehidupan manusia
lebih baik daripada kehidupan binatang dan hidup sebagai dewa, tapi kelahiran kembali di
alam yang lebih tinggi dilihat sebagai hasil tindakan moral sebelumnya. Dan untuk mencapai
"puncak eksistensi" terlahir di alam bahagia, seseorang perlu memperlakukan semua makhluk
lain dengan baik, tak peduli seberapa "rendah" makhluk itu (Anguttara Nikaya 8,39). Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa Buddhisme tidak setuju dengan paham spesiesisme.
Buddhisme juga tidak setuju terhadap percobaan hewan. Dalam pelaksanaan
percobaan pada hewan, manusia akan menerima karma buruk sebagai hasil perlakuan buruk
terhadap hewan. Agama Buddha mengajarkan kita untuk memberikan perhatian dan rasa
belas kasihan yang sama bagi setiap dan semua makhluk di dunia, termasuk hewan.
Penganiayaan terhadap makhluk hidup apapun menggambarkan gangguan pada ketenangan
dunia. Dan kekejaman manusia terhadap hewan adalah perwujudan lain dari keserakahan
yang tidak terkendalikan.
Dari hasil tinjauan etis diatas, kelompok kami juga menentang pelaksanaan percobaan
pada hewan. Kami tidak setuju karena mengeksploitasi hewan untuk penelitian dalam
kepentingan manusia sangatlah tidak etis. Tidak etis dalam arti percobaan pada hewan
dilakukan secara kejam dan tidak manusiawi. Hewan juga memiliki hak untuk hidup selayak
manusia hidup di dunia ini tanpa harus mengalami penderitaan dan penyiksaan dalam
penelitian. Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan tidak selalu berujung kepada hasil yang
diinginkan, tetapi terkadang percobaan dapat berujung kepada timbulnya penyakit yang baru.
Hewan yang digunakan untuk penelitian dipaksa untuk memakan dan menghirup obat-obatan
yang sedang diteliti dengan ketidaktahuan akan efek samping dari obat tersebut dan sebagian
dilukai secara paksa untuk melihat proses atau kinerja dari obat tertentu seperti obat luka.

20
DAFTAR PUSTAKA

Horner. I.B. 2004. The Book of Discipline Vol III (Sutta Vibhanga). Oxford: The Pali Text
Society.
Horner. I.B. 2001. The Book of Discipline Vol V (Cullavagga). Oxford: The Pali Text
Society.
Sciberras. C. Buddhism and Speciesism: on the Misapplication of Western Concepts to
Buddhist Beliefs. Durham: Buddhist Ethics.
Waldau. P. 2001. The Specter of Speciesism; Buddhist and Christian Views of Animals.
Oxford University Press.
Amazine. Animal Testing: Menelusuri Sejarah Pengujian pada Hewan. 2017. Available from:
https://www.amazine.co/22225/animal-testing-menelusuri-sejarah-pengujian-pada-
hewan
Animal Testing. Wikipedia. 20 November 2017 [cited 2017]. Available from:
https://en.wikipedia.org/wiki/Animal_testing#History
Buddhist Ethics. Available from:
http://www.buddhistethics.org/
Elahmadie, Suudi. Konsep Manusia Dalam Agama Budha. 22 Juli 2010[cited 2010].
Available from:
http://s-moc.blogspot.co.id/2010/07/konsep-manusia-dalam-agama-budha.html
Hajar, Rachel. Animal Testing and Medicine. 2011 Jan-Mar[cited 2011]. Available from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3123518/
HUKUM KARMA & PUNARBHAVA [Internet]. 2017 [cited October 2017]. Available
from:
http://bhadramegha.blogspot.co.id/2014/01/hukum-karma-punarbhava.html
Kelahiran Kembali dalam Agama Buddha. 18 Juni 2009[cited 2009]. Available from:
http://myratana.blogspot.co.id/2009/06/kelahiran-kembali-dalam-agama-buddha.html
LASINO. Media Pembelajaran. Pembagian Alam Menurut Agama Buddha. 27 November
2011 [cited 2011]. Available from:
http://kkgpab.blogspot.co.id/2011/11/pembagian-alam-menurut-agama-buddha.html
ProFauna Indonesia. Tander. Animal Testing: Layakkah untuk Satwa?. 30 November 2008.
[cited 2008] Available from:
http://www.profauna.org/content/aware/animal_testing_layakkah_untuk_satwa.html
Rahman, Abdu. Makalah Penelitian Hewan Coba. DocSlide. 2015 [cited October 12, 2015].

21
Available from:
https://dokumen.tips/documents/makalah-penelitian-hewan-coba.html
Speciesism. Wikipedia. 14 November 2017 [cited 2017]. Available from:
https://en.wikipedia.org/wiki/Speciesism
The Humane Society Of The United State. Examples of Severe Animal Suffering in
Laboratories 2017. Available from:
http://www.humanesociety.org/issues/pain_distress/tips/campus_policy_suffering_ex
amples.html
The Sacred Text of the Universal White Brotherhood: Blossoming of the Human Soul.
Supreme Master: Animal World. [Streaming INTERNET]. Available from:
http://suprememastertv.com
Wibowo, Eko Mukti. Hubungan Karma dengan Punarbhava. Karma dan Punarbhava. 08
Februari 2009[cited 2009]. Available from:
http://manggalacellkeprimall.blogspot.co.id/2009/02/karma-dan-punarbhava.html

22
LAMPIRAN
TINJAUAN PERSONAL TERHADAP TOPIK MAKALAH

 Anderson Cenweikiawan (Buddhis)


Pada zaman yang sudah berkembang ini, teknologi sangatlah diandalkan untuk
memecahkan segala permasalahan di bidang mana pun. Salah satu bidang yang banyak
menggunakan teknologi baru yaitu bidang kesehatan manusia. Banyak sekali teknik baru
yang ditemukan oleh manusia dalam bidang kesehatan medis. Contohnya yaitu percobaan
pada hewan. Penemuan berbagai macam obat dan teknik medis dengan menggunakan
percobaan hewan terjadi banyak kontroversi yang beredar di dunia. Tentunya ada
beberapa orang yang pro terhadap percobaan pada hewan karena hasil dari percobaan
tersebut berdampak sangat besar terhadap manusia tetapi ada juga orang yang kontra
terhadap topik tersebut. Mereka bersifat kontra karena hewan adalah makhluk hidup yang
sama seperti manusia yang berhak untuk mendapatkan kehidupan yang layak seperti kita
manusia.
Menurut pendapat saya, saya tidak setuju dengan percobaan memakai hewan karena
hewan juga memiliki perasaan, hak hidup dan dipandang sangat tidak etis untuk
melakukan percobaan dengan hewan. Dalam percobaan, hewan dipaksa untuk memakan
obat dan formula penemuan baru yang masih dalam tahap testing yang dampak negatif
dari obat tersebut masih belom diketahui, Dilukai secara paksa untuk mendapatkan cara
pengobatan atau proses kerja dari beberapa obat yang diteliti dan jika percobaan tersebut
selesai dengan hasil yang diinginkan maupun tidak, hewan tersebut akan tetap dibunuh
tanpa menggunakan obat bius atau dibunuh secara manusiawi. Percobaan pada hewan
merupakan langkah awal untuk memprediksi hasil yang akan didapat ketika obat atau
teknik kesehatan tertentu diapplikasikan kepada manusia, walaupun beberapa hewan
seperti tikus dan simpanse memiliki sifat yang mirip dengan manusia, mereka tetap
mempunyai metoblisme tubuh yang sedikit berbeda dengan manusia. Oleh karena itu,
setelah percobaan tersebut berhasil dilakukan pada hewan, percobaan itu tetap harus
dilakukan kepada manusia untuk memastikan 100% bahwa hasil yang didapatkan adalah
benar. Bayangkan jika hewan tersebut adalah kita manusia, pasti akan sangatlah sengsara
dan sakit menjadi bahan percobaan seperti hewan tersebut.
Menurut orang yang memiliki sifat pro terhadap percobaan dengan menggunakan
hewan, mereka hanya dapat berpikir hasil dari percobaan tersebut memiliki dampak yang
sangat besar terhadap peningkatan kesehatan manusia tanpa mempertimbangkan proses

23
dan subyek yang mereka gunakan. Tetapi di dunia ini, teknologi sudah semakin maju,
banyak teknologi yang dapat membantu dalam bidang kesehatan manusia tanpa
menggunakan percobaan dengan hewan. Dari teknologi itulah para ilmuwan dapat
menekan perkembangan kesehatan manusia yang lebih unggul dibandingkan percobaan
dengan hewan yang tidak etis.
Saya sebagai penganut agama buddhis juga tidak setuju dengan penelitian
menggunakan hewan. Dari sudut pandang agama buddhis, kami diajarkan untuk berbelas
kasih terhadap semua makhluk hidup di dunia ini termasuk hewan, adanya hukum karma
yang akan dikenakan kepada kita di kehidupan selanjutnya jika kita banyak melakukan hal
yang buruk di kehidupan sebelumnya. Dengan berbelas kasih terhadap hewan, kita dapat
menghindari hukum karma melainkan menjalani satu dari delapan roda agama buddhis.

 Angeline Tancherla (Buddhis)


Percobaan pada hewan banyak menimbulkan kontroversi. Orang-orang yang
kontra dengan animal testing ini berpegang pada prinsip bahwa hewan juga merupakan
makhluk seperti manusia dan berhak untuk memperoleh kehidupan yang layak. Manusia
tidak berhak untuk mengeksploitasi hewan untuk melakukan penelitian demi
kepentingannya. Namun, bagi orang yang pro dengan animal testing, mereka lebih fokus
terhadap hasil dari percobaan pada hewan. Percobaan pada hewan telah membantu
perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan manusia. Berbagai macam obat dan
perawatan yang dapat menyembuhkan penyakit manusia ditemukan melalui percobaan
pada hewan.
Menurut saya, percobaan hewan itu sangat tidak etis. Karena percobaan
terhadap hewan itu dilakukan secara kejam dan tidak manusiawi. Menurut International
Humane Society, hewan yang digunakan dalam eksperimen biasanya dilakukan
pemaksaan untuk memakan atau menginhalasi zat tertentu, ditahan dan dilukai,
contohnya mengalami luka bakar dan luka lainnya untuk dipelajari proses
penyembuhannya, efek dan pengobatannya, dan akhirnya dibunuh dengan asfiksia karbon
dioksida, pemecah leher, pemenggalan kepala, dan lain-lain. Para peneliti juga tidak
menggunakan bius pada hewan percobaan dengan tujuan untuk menghemat biaya.
Bayangkan apabila kita yang diperlakukan hal seperti itu, maka kita akan memahami
betapa sakitnya penderitaan yang dialami oleh hewan-hewan percobaan.
Kemudian, orang yang kontra dengan percobaan hewan sering menyebut
bahwa hasil dari percobaan dapat memberi banyak keuntungan dan kemajuan bagi

24
manusia. Tetapi sebenarnya, terdapat beberapa contoh kasus dimana penemuan obat hasil
percobaan hewan malah menyebabkan penyakit. Contohnya obat thalidomide yang
menyebabkan deformitas pada 10,000 bayi dan obat artritis Vioxx yang menyebabkan
27,000 kasus penyakit jantung. Menurut Understanding Animal Research, 94% obat hasil
percobaan hewan itu gagal pada saat uji klinis pada manusia. Hal tersebut dapat terjadi
karena sebenarnya hewan percobaan itu berbeda dari manusia secara anatomis, seluler
dan metabolik. Meskipun hewan percobaan seperti simpanse atau tikus mempunyai DNA
yang mirip dengan manusia, tetapi cara kerja dan metabolisme tubuh hewan dan manusia
itu tentu berbeda. Sehingga dapat menyebabkan perbedaan hasil percobaan yang bahkan
dapat merugikan manusia.
Sebenarnya terdapat banyak alternatif lain selain menggunakan hewan sebagai
subjek percobaan. Pada zaman yang modern ini, para peneliti seharusnya bisa melakukan
percobaan dengan menggunakan teknologi terkini tanpa melibatkan hewan. Contohnya,
perusahaan bioteknologi Empiriko berhasil menciptakan hati sintetis yang dapat
memprediksi reaksi metabolik hati terhadap obat dalam proses yang lebih cepat, lebih
murah, dan lebih akurat daripada percobaan hewan (yang sebelumnya memerlukan
pengujian pada 1.000 tikus dan 100 anjing).
Dari sudut pandang agama, saya sebagai umat Buddha tentu menentang
percobaan pada hewan. Kita diajarkan untuk memberikan cinta kasih kepada semua
makhluk. Hewan bukanlah makhluk yang lebih rendah dari manusia dan mereka berhak
untuk berkehidupan layak. Dengan mengakui hak hewan, maka kita juga akan
menghindari perlakuan yang tidak baik terhadap hewan. Penyiksaan dan pembunuhan
makhluk hidup itu bertentangan dengan pancasila Buddhis sila pertama dan juga delapan
jalan mulia.

 Kenisha Aprina Lukita (Buddhis)


Percobaan menggunakan hewan sudah lama menjadi perdebatan. Banyak masyarakat
yang merasa bahwa hal ini sebaiknya di hentikan, namun sebaliknya banyak peneliti yang
merasa bahwa percobaan menggunakan hewan ini tidak masalah jika dilakukan. Terus
terang, bagi saya sendiri yang beragama Buddha, saya merasa kurang setuju dengan
adanya percobaan dengan menggunakan hewan. Sebab, menurut saya hewan juga
merupakan makhluk hidup yang di ciptakan oleh Tuhan, yang dapat merasakan sakit sama
seperti yang manusia rasakan. Dalam agama Buddha, para umat Buddhis juga diajarkan
mengenai Metta, yaitu cinta kasih yang niat suci yang mengharapkan kesejahteraan dan

25
kebahagiaan makhluk- makhluk lain, dan juga ajaran karma, apa yang kita perbuat dapat
bertolak kembali kepada kita.
Berdasarkan data yang saya temukan, 92 dari 100 percobaan obat yang dilakukan
berhasil pada hewan, membuahkan hasil yang buruk ketika digunakan pada manusia. Hal
ini dapat disebabkan karena adanya faktor-faktor metabolisme tubuh yang berbeda antara
hewan dan manusia. Maka dari itu, tidak sepatutnya percobaan dengan menggunakan
hewan sebagai objek penelitian diteruskan lagi. Pada era modern ini, para peneliti sudah
mengembangkan penelitian tanpa menggunakan hewan. Contohnya adalah human-based
micro-dosing, in vitro technology, human-patient simulators, dan computer modelling
yang hasilnya juga lebih akurat. Jika memang alternatif ini tidak bisa digunakan, maka
percobaan menggunakan hewan dapat d gunakan sebagai opsi terakhir namun dengan
syarat bahwa peneliti meminimalisir rasa sakit dan stress yang akan diberikan kepada
hewan, peneliti juga tidak diperbolehkan untuk menggunakan hewan sebagai objek
apabila tidak diperlukan.

 Halimah Regita Permata (Islam)


Ilmu pengetahuan terus berkembang, begitu pula dengan perkembangan dalam
dunia medis. Salah satu perkembangan dari dunia medis adalah percobaan pada hewan.
Hal tersebut dilakukan karena hewan memiliki gen yang relatif sama dengan manusia dan
mudah dijadikan sebagai bahan percobaan.
Percobaan pada hewan atau yang biasa dikenal dengan Animal Testing telah
terbukti memberikan manfaat terhadap manusia untuk mencegah efek racun atau obat.
Namun, dari sisi positif yang ditimbulkan dari animal testing, terdapat banyak sisi negatif
yang dirasakan oleh para hewan. Terdapat beberapa kasus hewan yang dijadikan bahan
percobaan diikuti dengan penyiksaan terhadap hewan tersebut. Tidak hanya itu, hewan
dipaksa untuk menelan berbagai macam obat-obatan, bahkan hewan tersebut tidak mati
dalam proses tersebut untuk mengetahui efek dari obat yang diberikan. Hewan-hewan ini
juga seringkali dibunuh, walaupun hewan tersebut tidak merasakan sakit yang dilakukan
dengan suntik mati.
Menurut saya, saya tidak setuju dengan Animal Testing ini. Sama seperti manusia,
hewan juga memiliki hak untuk hidup. Pengujian terhadap hewan merupakan perbuatan
yang tidak manusiawi dan melanggar hak hewan karena mereka tidak memiliki
kemampuan untuk membela diri. Nilai dari percobaan pada hewan menjadi tidak penting,
karena sesungguhnya hewan dan manusia sama-sama makhluk hidup yang harus

26
dilindungi dan Allah SWT telah menetapkan hewan mana sajakah yang dapat
dimanfaatkan oleh manusia beserta cara memanfaatkannya dengan baik.
Terdapat fakta bahwa penelitian mengungkapkan hanya 5% - 25% dari obat yang
diujikan pada hewan, hasilnya cocok dengan manusia. Oleh karena itu, banyak hewan
yang mati dengan sia-sia karena percobaan ini. Selain itu, alternatif lain telah ditemukan,
seperti teknologi chip silikon, pemeliharaan sel, teknologi analitik, Quantitative
Structure/Activity Relationship Programmes (QSARs), dan sebagainya untuk mendapatkan
hasil yang lebih baik tanpa harus menyakiti makhluk hidup lain.

 Jessica Anastasia Setiawan (Katholik)


Dalam menjawab isu ini, dari kacamata agama Katholik, kita harus memiliki dasar
moral terlebih dahulu. Dalam kitab Kejadian, kita mengetahui bahwa Tuhan menciptakan
segala sesuatunya dan apa yang Ia ciptakan adalah baik. Namun, Tuhan menegaskan
bahwa makhluk paling sempurna yang ia ciptakan adalah manusia, yang menurut gambar
dan rupa Allah. Derajat hewan sebagai makhluk memang tak akan pernah bisa menyaingi
derajat manusia sebagai gambar dan rupa Allah, namun bukan berarti kita dapat
memperlakukan hewan semena-mena. Tuhan mempercayai manusia untuk menguasai
bumi beserta seluruh isinya, tetapi kita juga harus menjaganya. Sebagai orang Katholik,
kita wajib menghargai dan menghormati lingkungan hidup sebagai sebuah anugerah yang
diberikan Tuhan kepada kita. Kita tidak boleh merusak, menyiksa, apalagi membunuh.
Saya secara pribadi tidak terlalu menyetujui penggunaan hewan untuk riset
ataupun percobaan karena menurut saya tidak manusiawi. Banyak uji coba hewan yang
secara sengaja memaparkan hewan terhadap reagen tertentu atau menyuntikkan dosis
berlebih hanya untuk melihat reaksinya. Ada pula yang diamputasi, dimodifikasi untuk
penelitian, dan sebagainya. Namun tak dapat dipungkiri bahwa terkadang ada beberapa uji
coba yang harus dilakukan terhadap makhluk hidup dan sangat besar resikonya apabila
langsung diujikan pada manusia. Tuhan memberikan seluruh bumi dan isinya agar, selain
untuk dirawat dan dijaga, juga untuk keberlangsungan hidup manusia. Penggunaan hewan
untuk uji coba seharusnya di regulasi secara ketat dan betul-betul dipilah eksperimen mana
yang harus dilakukan uji coba pada makhluk hidup dan mana yang tidak perlu, sehingga
hewan tidak perlu mati sia-sia dan menderita hanya karena rasa penasaran manusia.
Uji coba hewan, kalaupun dilakukan, juga harus dengan metode yang manusiawi dan tidak
bertujuan untuk menyiksa hewan tersebut. Hewan juga makhluk yang diciptakan Tuhan
dan baik adanya, dan merupakan tanggung jawab manusia untuk menjaga dan merawatnya

27
walaupun kita diperbolehkan menggunakannya untuk keberlangsungan hidup.
Penggunaannya pun harus bermoral, tidak boleh menyiksa ataupun menyakiti karena itu
adalah dosa.
Dari sudut pandang agama saya, agama Katholik tidak melarang penggunaan
hewan untuk keberlangsungan hidup manusia, namun wajib dipahami bahwa Tuhan
melarang segala bentuk tindakan penyiksaan ataupun menyakiti makhluk ciptaannya,
sehingga apapun yang kita ingin lakukan, harus dipikirkan matang-matang dan harus
dilakukan dengan kesadaran moral yang penuh dan semanusiawi mungkin. Jadi,
penggunaan hewan untuk uji coba harus dilimitasi sebisa mungkin, regulasi diperketat dan
kalau bisa tidak perlu uji coba terhadap hewan.

 Mutiara Marsha Ramadhanti (Islam)


Makalah agama ini adalah tugas wajib sebagai ujian pada matakuliah Agama-
Agama Dunia. Saya dan teman-teman sekelompok saya memilih mengambil tema
Spesiesisme yang menjuru ke percobaan pada hewan yang ditinjau dalam agama Buddha.
Pada makalah ini memberikan saya wawasan terbaru tentang spesiesisme: percobaan pada
hewan dan terlebih lagi makalah ini ditinjau di luar dari agama saya yaitu agama islam,
dalam makalah ini dalam agama Buddha. Saya sebelumnya tidak terlalu mengerti tentang
spesiesisme. Saya hanya tau tentang pro kontra percobaan pada hewan yang masih
menjadi perbincangan di tiap negara. Alasan kami memilih ditinjau dari agama Buddha
adalah seperti yang kita tahu bahwa agama Buddha itu agama yang menjunjung tinggi
kerukunan hidup umat bahkan seluruh makhluk hidup. Jadi, dengan pembahasan tentang
percobaan hewan ini kami mengharapkan untuk mengetahui bagaimana cara pandangnya.
Dalam makalah kami dijelaskan tentang sudut pandang di bidang medis dan juga agama
Buddha.
Dalam bidang medis, percobaan pada hewan bertujuan untuk mengetahui efek dari
sesuatu yang baru ditemukan dan yang akan digunakan untuk manusia. Memang terdengar
sangat kejam dan egois tetapi ibaratnya seperti 1 binatang yang berkorban dapat
menyelamatkan banyak jiwa walaupun manusia. Saya pernah membaca pula tidak
sembarangan bisa memakai hewan apa saja semua ada aturannya. Rata-rata mereka
melakukan percobaan menggunakan hewan yang populasinya banyak. Hewan yang
tinggal sedikit atau hampir punah itu tidak akan digunakan karena selain hewan itu tinggal
sedikit, hewan itu juga dilindungi oleh hukum negara. Hewan yang dicari pun yang

28
memiliki kesamaan dengan manusia. Terdapat pula manfaat untuk hewan dari percobaan
hewan lainnya, seperti vaksin yang ditujukan untuk hewan. Kalau tidak dites pada hewan
maka hewan lain bisa banyak yang mati karena penyakit mereka. Maka, selain dari
membantu manusia, hewan tersebut membantu pula sesamanya.
Dalam agama Buddha yang telah disajikan dalam makalah, terdapat beberapa
pendapat menyatakan bahwa tidak mengapa melakukan percobaan pada hewan karena
pada hakikatnya manusia ialah makhluk yang paling tinggi derajatnya disbanding dengan
hewan. Percobaan hewan inipun memiliki tujuan mulia dibidang kesehatan. Selain itu,
terdapat kepercayaan bahwa hewan itu memiliki hubungan dengan kehidupan buruk
manusia di kehidupan sebelumnya. Lalu, terdapat pendapat lain bahwa Buddha adalah
agama cinta kasih untuk seluruh makhluk. Jadi, sangat tidak mencerminkan beragama
Buddha jika tega melakukan percobaan pada hewan. Jika manusia melakukan hal tersebut
maka, manusia itu akan terkena kamma. Pada intinya adalah Buddha tidak melarang
maupun menganjurkan hal tersebut karena jika melakukan penganiayaan pada makhluk
hidup itu menjadi tanda gangguan ketenangan dunia dan keserakahan manusia.
Akhirnya kami menjadi tahu dan menyelesaikan tentang spesiesisme ditinjau dari
agama Buddha yang dibuat untuk tugas makalah ini. Dalam kelompok kami pun tidak
menyetujui hal ini. Jika menurut saya, percobaan hewan ini sangat menyakitkan untuk
saya seorang manusia yang mendengarnya apalagi hewan yang merasakan. Orang-orang
selalu berbicara tentang kemanusiaan tetapi saya merasa saat percobaan hewan tersebut
sejenak manusia melepas rasa kemanusiaannya itu. Karena tidak semua manusia
mengikuti aturan saat melakukan percobaan, pasti selalu ada oknum yang melakukannya
atas dasar nafsu tidak memikirkan efek pada hewan tersebut. Dalam agama saya, kami
harus mencintai musuh kami apalagi ini hanya seekor binatang. Hewan yang disembelih
pun harus sesuai dengan yang tertera pada Al-quran. Saya tidak ingat pasti apa yang
tertera tetapi saat menyembelih pun harus menggunakan pisau yang sangat tajam sehingga
tidak akan menyiksa hewan tersebut lebih lama. Saya sendiri pun belajar dari yang paling
terdekat dengan kehidupan sehari-hari adalah memilih kosmetik yang bebas dari
percobaan hewan.

 Nabila Puspa Irianti (Islam)


Perkembangan ilmu dalam bidang medis sudah berkembang pesat dari tahun ke
tahun. Banyaknya penemuan cemerlang untuk menjamin kesehatan manusia dan
memberikan kualitas hidup yang lebih bagus untuk manusia sudah bermunculan. Mulai

29
dari obat obatan, vaksin dan juga terapi untuk segala jenis penyakit sudah ditemukan dari
proses penelitian dan eksperimen. Akan tetapi, penemuan penemuan cemerlang tersebut
tidak lepas oleh adanya Animal Testing dan tikus seringkali digunakan sebagai subjek
percobaan dalam sebuah eksperimen karena memiliki rangkaian genetika yang hampir
sama dengan manusia. Perihal penggunaan hewan sebagai subjek percobaan sudah sering
sekali memunculkan kontroversi karena banyak dari kita berpikir bahwa tindakan Animal
Testing sangatlah tidak etis dan juga tidak adil untuk para hewan hewan yang dijadikan
subjek dari penelitian tersebut.
Saya secara personal menolak adanya Animal Testing dalam sebuah eksperimen
karena pada dasarnya, proses tersebut sangatlah tidak etis karena secara tidak langsung
proses tersebut juga menyiksa hewan-hewan yang dijadikan sebagai subjek. Walaupun
hasil dari eksperimen yang menggunakan hewan sebagai subjek akan berdampak baik
untuk manusia kedepannya, saya tetap tidak setuju adanya percobaan terhadap hewan
karena hewan juga memiliki hak hidup yang sama dengan manusia. Hanya karena mereka
tidak dapat mengutarakan protesnya kepada manusia, bukan berarti mereka tidak
merasakan sakit pada saat di jadikan subjek uji coba.
Nyawa manusia tidaklah lebih penting dibandingkan nyawa hewan, mereka juga
mempunyai hak hidup yang sama seperti manusia. Tuhan menciptakan makhluk hidup
memiliki tujuan masing-masing, makhluk hidup tersebut diciptakan karena mempunyai
peran sendiri sendiri yang tentunya penting dalam kehidupan ini. Akal manusia sangtlah
tinggi dibandingkan dengan makhluk Tuhan lainnya di bumi, maka dari itu manusia
memiliki kewajiban untuk memelihara bumi beserta isinya.

30