You are on page 1of 28

BAB III

TIME STUDY
3.1 PENDAHULUAN
3.1.1 Latar Belakang
Pada dasarnya pengukuran waktu (motion study) adalah suatu teknik
untuk mencatat, mempelajari dan menganalisa tentang beberapa gerakan
bagian badan dari pekerja (operator ) pada saat menyelesaikan pekerjaan.
Dalam dunia industri, waktu kerja merupakan salah satu faktor penting yang
perlu diperhatikan dalam suatu sistem produksi. Waktu kerja berperan
penting dalam penentuan produktivitas kerja serta dapat menjadi tolak ukur
untuk menentukan metode kerja yang lebih baik dalam penyelesaian suatu
pekerjaan. Untuk mengkomunikasikan hasil dari pengukuran tersebut
dibutuhkan Peta Kerja. Peta Kerja adalah salah satu alat yang sistematis dan
jelas untuk mengkomunikasikan lantai produksi secara luas guna menganalisa
proses kerja dari tahap awal sampai tahap yang terakhir. Melalui peta-peta
kerja ini juga kita bisa mendapatkan informasi-informasi yang diperlukan
untuk memperbaiki suatu metode kerja seperti, jumlah benda yang harus
dibuat, waktu operasi mesin, kapasitas mesin, bahan-bahan khusus yang harus
disediakan dan alat-alat khusus yang harus disediakan.
Penelitian pengukuran waktu kerja ini dilakukan untuk mengetahui atau
menganalisa gerakan-gerakan pada saat proses perakitan, sehingga
didapatkan waktu tertentu dalam proses perakitan dari awal hingga akhir.
Dari waktu yang telah didapatkan maka kita bisa menganalisa seberapa
berpengaruhnya gerakan-gerakan pada proses perakitan terhadap waktu yang
telah didapatkan. Sehingga gerakan-gerakan yang kurang efisien bisa
diminimalisir dan kita bisa dapatkan waktu optimal untuk merakit benda
tersebut.
Peneliti melakukan penelitian di Laboraturium Rekayasa Sistem Kerja
& Ergonomi (RSK&E) dengan melakukan perakitan stop kontak lengkap
dengan steker dan kabel. Peneliti melakukan penelitian terhadap waktu baku
menggunakan 2 metode pengukuran waktu kerja langsung yaitu jam henti
(Stopwatch) maupun pengukuran waktu kerja tidak langsung yaitu MTM
(Method Time Measurement) yang kemudian data tersebut diolah dengan
menggunakan AC (Assembly Chart), PTKTK (Pengukuran Tangan Kanan
dan Tangan Kiri), PPM (Peta Pekerja dan Mesin).
3.1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini, sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui dan memahami penggunaan jam henti (Stop
Watch).
2. Untuk melengkapi pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam
penelitian time study sebagai pelengkap dan pendukung mata kuliah
Perancangan Sistem Kerja.
3.1.3 Alat Dan Bahan
3.1.3.1 Alat yang digunakan
1. Stop watch
2. Sepeda Statis
3. Work Station
4. Alat tulis
3.1.3.2 Bahan yang digunakan :
1. Rautan pensil
3.1.4 Prosedur Praktikum
1. Pelaksanaan praktikum dan pengumpulan data dilakukan bersamaan
pada waktu praktikum.
2. Melakukan perhitungan waktu perakitan rautan pensil secara
keseluruhan.
3. Mengurangi perhitungan waktu perakitan rautan pensil sebanyak
enam belas kali. Dengan cara normal dan cara fatique, untuk operasi
fatique dilaksanakan sesuai dengan prosedur berikut :
4. Operasi pria menggunakan alat Sepeda Statis :
5. Menggunakan alat tersebut sebanyak 100 kali yang dibuktikan
dengan angka pada panel alat tersebut.
6. Operasi wanita menggunakan teadmil :
7. Menggunakan alat treadmil selama 15 menit dengan kecepatan yang
telah ditentukan oleh Dosen/asisten.
8. Melakukan pengujian keseragaman data dari data-data yang terpakai
kemudian di plot ke dalam grafik. Jika terdapat data yang diluar
batas kontrol atas atau bawah, maka data itu dibuang dan lakukan
lagi uji keseragaman data. Hal tersebut dilakukan berulang-ulang
sampai dengan semua data berada dalam batas kontrol yang
menunjukkan bahwa data tersebut seragam.
9. Melakukan pengujian kecukupan data dari data-data yang terpakai.
Jika data tidak cukup, maka data harus ditambah dengan melakukan
penelitian lagi sampai dengan data yang dibutuhkan mencukupi.
10. Menghitung Waktu Siklus, Waktu Normal dan Waktu Baku dari
penelitian yang telah dilakukan.

3.2 LANDASAN TEORI


3.2.1 Definisi Time Study
Yang dimaksud dengan pengukuran kerja di sini adalah pengukuran
waktu kerja (time study) suatu aktivitas untuk menentukan waktu yang
dibutuhkan oleh seorang operator (yang memiliki skill rata-rata dan terlatih
baik) dalam melaksanakan sebauh kegiatan kerja dalam kondisi dan tempo
normal. (Sritomo Wignjosoebroto, 2003, p130).
Tujuan dari sistem pengukuran kerja adalah untuk menentukan waktu
rata-rata yang dibutuhkan untuk melakukan sebuah pekerjaan oleh operator
terlatih untuk melakukan suatu pekerjaan jika ia harus melakukannya selama 8
jam dalam sehari, pada kondisi kerja yang biasa, dan bekerja dalam kecepatan
normal. Waktu ini disebut dengan waktu standar. Penelitian kerja dan analisis
metode kerja pada dasarnya akan memusatkan perhatian pada bagaimana
suatu macam pekerjaan akan diselesaikan. Dengan menerapkan prinsip dan
teknik pengaturan tata cara kerja yang optimal dalam sistem kerja tersebut,
maka akan diperoleh alternatif pelaksanaan kerja yang dapat memberikan hasil
yang terbaik.
Suatu pekerjaan yang diselesaikan secara efisien apabila waktu
penyelesaiannya berlangsung paling singkat. Untuk menghitung waktu baku
(standard time) penyelesaian pekerjaan guna memilih alternatif metode kerja
yang terbaik, maka perlu menerapkan prinsip-prinsip dan teknik-teknik
pengukuran kerja (work measurement atau time study).
Pengukuran waktu kerja ini akan berhubungan dengan usaha-usaha
untuk menetapkan waktu baku yang dibutuhkan dalam penyelesaian suatu
pekerjaan. Secara singkat pengukuran kerja adalah metode penetapan
keseimbangan antara aktivitas manusia yang disumbangkan dengan unit yang
dihasilkan. Waktu baku ini sangat diperlukan terutama untuk :
a. Man power planning (perencanaan kebutuhan tenaga kerja)
b. Estimasi biaya-biaya upah karywan/pekerja
c. Penjadwalan produksi dan pembuatan anggaran
d. Perencanaan sistem pemberian bonus dan insentif bagi karyawan /
pekerja yang berprestasi
e. Indikasi keluaran (output) yang mampu dihasilkan oleh seorang
pekerja.
(Sritomo Wingjosoebroto, 2003, p170).
Waktu baku ini merupakan waktu yang dibutuhkan oleh seorang
pekerja yang memiliki tingkat kemampuan rata-rata untuk menyelesaikan
suatu pekerjaan. Di sini sudah meliputi kelonggaran waktu yang diberikan
dengan memperhatikan situasi dan kondisi pekerjaan yang harus diselesaikan
tersebut. Waktu baku merupakan waktu yang dibutuhkan oleh seorang
operator yang memiliki tingkat kemampuan rata-rata untuk menyelesaikan
pekerjaan. Waktu baku di sini sudah memperhitungkan adanya kelonggaran
waktu yang diberikan dengan memperhatikan situasi kondisi pekerjaan yang
harus diselesaikan tersebut. (Sritomo Wingjosoebroto, 2003, p170).
Waktu baku yang dihasilkan dalam aktivitas pengukuran kerja ini
digunakan sebagai alat untuk membuat rencana penjadwalan kerja yang
menyatakan berapa lama suatu kegiatan itu harus berlangsung dan berapa
output yang akan dihasilkan serta berapa jumlah tenaga kerja yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Teknik-teknik
pengukuran waktu dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu :
a. Pengukuran kerja secara langsung
Pengukuran dilakukan secara langsung pada tempat dimana
pekerjaan yang diukur dijalankan. 2 cara yang digunakan di dalamnya
adalah dengan menggunakan jam henti (stopwatch time-study) dan
sampling kerja (work sampling).
b. Pengukuran kerja secara tidak langsung.
Pengukuran dilakukan secara tidak langsung oleh pengamat.
Pengamat melakukan pengukuran dengan membagi elemen-elemen
kerja yang ada kemudian membaca waktu berdasarkan tabel waktu.
Pengukuran waktu kerja dilakukan dengan melakukan analisis
berdasarkan perumusan serta berdasarkan data-data waktu yang tersedia.
Pengukuran waktu secara tidak langsung dapat dilakukan dengan
menggunakan data waktu baku dan dengan menggunakan data waktu gerakan
seperti The Work Factor System, Method Time Measurement, Basic Motion
Time Study dan sebagainya.
Pemilihan pengukuran waktu kerja ini harus disesuaikan dengan
kebutuhan dan kondisi yang berjalan, karena masing-masing pengukuran
waktu kerja ini memiliki tujuan dan karakteristik yang harus dimengerti.
Pemilihan metode yang kurang tepat dapat menyebabkan kehilangan waktu,
sehingga diperlukan pengukuran tambahan atau pengukuran ulang dengan
metode yang lebih tepat.
3.2.2 Pembagian Operasi Menjadi Elemen-Elemen Kerja
Pembagian operasi menjadi elemen-elemen kerja dilakukan agar setiap
elemen kerja yang ada dapat dengan mudah diukur. Pembagian ini tidak
hanya pada elemen saja namun juga memisahkan antara elemen kerja yang
bersifat berulang dan tidak berulang dalam suatu siklus operasi. Pemisahan
ini bertujuan untuk menganalisa apakah waktu tiap elemen kerja yang ada
berlebihan atau tidak. Dengan demikian analisa yang dihasilkan lebih tepat
dan adanya varian dalam pengukuran dalam diketahui.
Aturan dalam pembagian operasi kerja ke dalam elemen-elemen kerja
adalah sebagai berikut :
a. Elemen-elemen kerja yang ada dibuat sedetail mungkin dan
sependek mungkin akan tetapi masih mudah untuk diukur waktunya
dengan teliti.
b. Handling time seperti loading dan unloading harus dipisahkan dari
machining time. Handling ini merupakan aktivitas pekerjaan-
pekerjaan yang dilakukan secara manual oleh operator dan aktivitas
pengukuran kerja harus dalam kondisi berkonsentrasi. Karena hal ini
nantinya berhubungan dengan performance rating.
c. Elemen-elemen kerja yang konstan harus dipisahkan dengan elemen
kerja yang variabel. Elemen kerja yang konstan disini adalah
elemen-elemen yang bebas dari pengaruh ukuran, berat, panjang,
ataupun bentuk dari benda kerja yang dibuat.
3.2.3 Melakukan Pengukuran Waktu
Pengukuran waktu adalah aktivitas mengamati dan mencatat waktu-
waktu kerja baik setiap elemen maupun siklus dengan menggunakan alat-alat
yang telah disiapkan. Pengukuran pendahuluan dilakukan dengan mengukur
waktu-waktu dengan jumlah yang ditentukan oleh pengukur.
a. Cara Pengukuran dan Pencatatan Waktu Kerja
Beberapa metode umum yang digunakan untuk mengukur waktu
pada elemen-elemen kerja dengan menggunakan stopwatch yaitu :
1) Pengukuran waktu secara terus menerus (continious timing)
Pengukuran waktu ini dilakukan ketika elemen kerja pertama
dimulai dan dan berakhir ketika suatu siklus kerja berakhir.
2) Pengukuran waktu secara berulang-ulang (repetitive timing)
Pengukuran waktu ini dilakukan dengan secara berulang-ulang
dimana setelah setiap elemen kerja selesai diamati maka jarum
penunjuk stopwatchdikembalikan ke angka nol.
3) Pengukuran waktu secara penjumlahan (accumulative timing)
Pengukuran waktu ini dilakukan dengan menggunakan dua atau
lebih stopwatch yang akan bekerja secara bergantian. Waktu yang
dihasilkan dari pengukuran ini lebih dari satu sehingga setiap
elemen kerja yang berurutan dapat diukur sekaligus.
3.2.4 Langkah-Langkah dalam Melakukan Perhitungan Time study
Menentukan jumlah pengukuran waktu awal. Pada umumnya untuk
pengukuran awala adalah 10-30 pengukuran. Hasil pengukuran yang
didapatkan dapat dibagi ke dalam sub grup, setelah itu menghitung rata-
rata sub grup dengan rumus :
∑𝑛
𝑖=1 𝑋𝑖 ∑𝑋
𝑥̅ = atau 𝑥̅ =
𝑘 𝑘

Dimana :

∑X= Jumlah semua nilai X1, X2, X3,..., Xn (detik)


k = Jumlah data
a. Menentukan Standar Deviasi
Setelah harga rata-rata sub grup diketahui, kemudian mencari nilai
standar deviasi. Dengan demikian, standar deviasi dirumuskan
sebagai berikut :

∑(x − 𝑥̅̅ ) 2
𝑆=√
𝑛−1
Dimana :
S = Standar deviasi
n = jumlah sub grup
X = waktu rata-rata sub grup (detik)
X = Waktu rata-rata dari waktu rata-rata sub grup (detik)
b. Hitung harga rata-rata dari harga rata-rata sub grup :
∑ 𝑋𝑖
𝑋̿ =
𝑘
Keterangan :
𝑥̅𝑖 = harga rata-rata subgrup
k = banyaknya sub grup yang terbentuk
c. Menghitung Standar Devisi sebenarnya dari waktu penyelesaian :

∑( 𝑋𝑖 − 𝑋̿)2
𝜎= √
𝑁
Keterangan :
𝜎 = Standar Deviasi
𝑋𝑖 = Nilai X Ke i
𝑋̿ = Nilai Rata-Rata
𝑁 = Ukuran Banyaknya Data
d. Hitung Standar Deviasi dari distribusi harga rata-rata sub grup :
𝜎
𝜎𝑥 =
√𝑛
Keterangan :
𝜎𝑥 = standar deviasi dari distribusi harga rata-rata sub grup
𝜎 = standar deviasi
𝑛 = ukuran banyaknya sub grup
e. Tentukan batas kontrol atas dan batas kontrol bawah untuk uji
keseragaman data
𝐵𝐾𝐴 = 𝑋̿ + 3 . 𝜎𝑋 𝐵𝐾𝐵 = 𝑋̿ − 3 . 𝜎𝑥
Keterangan :
BKA = batas kontrol atas
BKB = batas kontrol bawah
𝑋̿ = nilai data rata-rata
𝜎𝑥 = standar deviasi sub grup
f. Lakukan tes kecukupan data
Ketelitian 5 %
2
2
40 √𝑁 ∑ 𝑋𝑖 − (∑ 𝑋𝑖)2
𝑁′ =
∑ 𝑋𝑖
[ ]
Ketelitian 10%
2
2
20 √𝑁 ∑ 𝑋𝑖 − (∑ 𝑋𝑖)2
𝑁′ =
∑ 𝑋𝑖
[ ]
Keterangan :
𝑁 ′ = Jumlah Data Teoritis
𝑁 = Jumlah Data Pengamatan
𝑋𝑖 = Data Pengamatan Ke i
Catatan : ketelitian 5 % kecukupan datanya 5 % dan ketelitian 10 %
kecukupan datannya sebanyak 10 %.
g. Menghitung Waktu Siklus
Merupakan waktu yang dibutuhkan oleh seorang pekerja dalam
menyelesaikan rata-rata siklus pekerjaan.Rumusnya :

Ws 
 Xi
N
Dimana :
Ws : Waktu Siklus
Xi : Jumlah Pengamatan/Pengukuran
N : Banyaknya Pengamatan
h. Menghitung Waktu Normal
Waktu yang diperlukan oleh pekerja untuk menormalkan pekerja yang
tidak wajar sehingga mendapatkan waktu siklus rata-rata yang wajar.
Rumus : Wn = Ws x p
Dimana :
Wn : Waktu Normal
p : Faktor Penyesuaian
i. Menghitung Waktu Baku
Waktu yang dibutuhkan secara wajar oleh seorang pekerja normal
untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang dijalankan dalam sistem kerja
terbaik.
𝑊𝑏 = 𝑊𝑛 + 𝑖
Dimana :
Wb : Waktu Baku
i : Faktor Kelonggaran
3.2.2 Langkah-Langkah Sebelum Melakukan Pengukuran
Untuk mendapatkan hasil yang baik, yaitu yang dapat di pertanggung
jawabkan maka tidaklah cukup sekedar melakukan beberapa kali pengukuran
dengan menggunakan jam henti.Banyak faktor yang harus diperhatikan agar pada
akhirnya dapat diperoleh waktu yang pantas untuk pekerjaan yang bersangkutan.
a. Penetapan Tujuan Pengukuran, Sebagaimana halnya dengan berbagai
kegiatan lain, tujuan melakukan kegiatan harus ditetapkan terlebih dahulu.
Dalam pengukuran waktu, hal-hal penting yang harus diketahui dan
ditetapkan adalah untuk apa hasil pengukuran digunakan, berapa tingkat
ketelitian dan tingkat keyakinan yang diinginkan dari hasil pengukuran
tersebut.
b. Melakukan Penelitian Pendahuluan, Untuk mendapatkan waktu
penyelesaian yang singkat, maka perbaikan cara-cara kerja perlu juga
dilakukan. Memepelajari kondisi kerja dan cara kerja kemudian
memperbaikinya, adalah apa yang dilakukan dalam langkah penelitian
pendahuluan. Tentunya ini berlaku jika pengukuran dilakukan atas
pekerjaan yang telah ada dan bukan pekerjaan yang baru.
c. Memilih Operator, Operator yang akan melakukan pekerjaan yang diukur
bukanlah orang yang begitu saja diambil dari pabrik. Orang ini harus
memenuhi persyaratan tertentu agar pengukuran dapat berjalan baik dan
dapat diandalkan hasilnya. Syarat-syarat tersebut adalah berkemampuan
normal dan dapat diajak bekerja sama. Disamping itu, operator yang
dipilih adalah orang yang pada saat pengukuran dilakukan mau bekerja
secara wajar.
d. Melatih Operator, Walaupun operator yang baik telah didapat, kadang-
kadang masih diperlukan adanya latihan bagi operator tersebut terutama
bila kondisi dan cara kerja yang dipakai tidak sama dengan yang biasa
dijalankan operator.Hal ini terjadi jika pada saat penelitian pendahuluan
kondisi kerja atau cara kerja sudah mengalami perubahan. Dalam keadaan
ini, operator harus dilatih terlebih dahulu karena sebelum diukur operator
harus sudah terbiasa dengan kondisi dan cara kerja yang telah ditetapkan.
e. Mengurai Pekerjaan atas Elemen-Elemen Pekerjaan, Disini pekerjaan
dipecah menjadi elemen-elemen pekerjaan yang merupakan gerakan
bagian dari pekerjaan yang bersangkutan. Elemen - elemen inilah yang
diukur waktunya.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan pentingnya melakukan
penguraian pekerjaan atas elemen - elemennya yaitu :
1) Untuk memperjelas catatan tentang cara kerja yang dilakukan.
2) Untuk memungkinkan melakukan penyesuaian bagi setiap elemen karena
keterampilan bekerjanya operator belum tentu sama untuk semua bagian
dari gerakan-gerakan kerjanya.
3) Untuk memudahkan mengamati terjadinya elemen yang tidak baku yang
mungkin saja dilakukan pekerja.
4) Untuk memungkinkan dikembangkannya Data Waktu Standar di pabrik
atau tempat kerja yang bersangkutan.
5) Menyiapkan Alat - Alat Pengukuran
Setelah kelima langkah di atas dijalankan dengan baik, langkah terakhir
sebelum melakukan pengukuran yaitu menyiapkan alat - alat yang diperlukan.
Alat - alat tersebut adalah
1) Jam henti (stopwatch).
2) Lemabaran-lembaran pengamatan.
3) Pena atau pensil.
4) Papan pengamatan
5) Work station + rautan pensil

3.2.3 MetodePenyesuaiandan Allowance


Dalam time study harus dilakukan perhitungan penyesuaian dan
kelonggaran. Penyesuaian ini dilakukan untuk mengamati kewajaran operator
dalam bekerja pada saat dilakukan pengukuran waktu kerja. Beberapa cara dalam
menentukan faktor penyesuaian ialah :
a. Cara Presentase
Cara pertama adalah cara presentase yang merupakan cara yang paling
awal digunakan dalam melakukan penyesuaian. Disini besarnya faktor
penyesuaian sepenuhnya ditentukan oleh pengukur melalui pengamatannya
selama melakukan pengukuran.
b. Cara Shumard
Cara Shumard memberikan patokan-patokan penilaian melalui kelas-
kelas performance kerja dimana setiap kelas mempunyai nilai sendiri-sendiri.

Tabel 3.1 Kelas Performance Kerja

Kelas Penyesuaian
Superfast 100
+
Fast 95
Fast 90
Fast - 85
Excellent 80
Good + 75
Good 70
-
Good 65
Normal 60
Fair + 50
Fair - 45
Poor 40

Disini pengukur diberi patokan untuk menilai performace kerja operator


menurut kelas-kelas Superfast,fast+,fast-, Excellent dan seterusnya.
c. Cara Westinghouse
Berbeda dengan cara Shumard diatas, cara Westinghouse mengarahkan
penilaian pada 4 faktor yang dapat menentukan kewajaran dan
ketidakwajaran dalam bekerja:
1) Keterampilan
2) Usaha
3) Kondisi kerja
4) Konsistensi
Keterampilan atau skill didefenisikan sebagai kemampuan mengikuti
cara kerja yang ditetapkan. Latihan dapat meningkatkan keterampilan, tetapi
hanya sapai ketingkat tertentu saja, tingkat mana merupakan kemampuan
meksimal yang dapat diberikan pekerja yang bersangkutan .keterampilan
dapat juga menurun yaitu bila telah terlampau lama tidak menangani
pekerjaan tersebut, atau karena sebab-sebab lain seperti karena kesehatan
yang terganggu, rasa fatique yang berlebihan, pengaruh lingkungan social dan
sebagainya.
d. Cara Objektif
Cara penyelesaian yang terakhir adalah cara objektif yaitu cara yang
memperhatikan 2 faktor yaitu kecepatan kerja dan tingkat kesulitan pekerjaan
sehingga menghasilkan harga P dengan waktu normal.
Pengukuran harus melakukan penilaian tentang kewajaran kecepatan
kerja. Jika operator bekerja denga kecepatan wajar maka akan mendapatkan
nilai satu atau p = 1. Notasi p adalah bagian dari factor penyesuaian yaitu
untuk kecepatan kerjanya. Jika penyeseuain dianggap terlalu tinggi maka p1
> 1 dan sebaliknya p1 < jika terlalu lambat.
e. Cara Berdaux dan Sintesa
Cara Berdaux dinyatakan dalam “B” ( huruf pertama Berdaux) sperti
misalnya 60 B atau 70 B. Sedangkan cara Sintesa membandingkan setiap
elemen gerkan dengan harga-harga yang diperoleh dari table-tabel data waktu
gerakan untuk kemudian dihitung harga rata-ratanya. Misalnya waktu-waktu
penyelesaian untuk elemen-elemen pekerjaan pertama, kedua dan ketiga bagi
suatu siklus perkerjaan 17, 10 dan 32 detik. Dari tabel-tabel data waktu
gerakan didapat elemen-elemen yang sama masing-masing 12,12, dan 29
detik. Pada elemen kedua dan ketiga terdapat perbedaan sehingga
perbandingannya adalah 12/10 dan 19/32 maka rata-ratanya yaitu 1,05 adalah
factor penyesuian untuk ketiga elemen pekerjaan tersebut atau seluruh siklus
yang bersangkutan.
Kelongaran diberikan untuk tiga hal yaitu untuk kebutuhan pribadi,
menghilangkan rasa fatique dan hambatan-hambatan yang
terhindarkan.Ketiga ini merupakan hal-hal yang secara nyata dibutuhkan oleh
pekerja dan yang selama pengukuran tidak diamati diukur, dicatat maupun
dihitung.
3.2.4 Kelonggaran
Salah satu hal yang paling penting di perhatikan dalam pengukuran waktu
adalah faktor kelonggaran. Faktor kelonggaran ini ditambahkan pada waktu
normal yang telah didapatkan.
Kelonggaran diberikan untuk tiga hal yaitu : untuk kebutuhan pribadi,
menghilangkan rasa fattique, dan hambatan hambatan yang tidak dapat
dihindarkan.
a. Kelonggran untuk kebutuhan pribadi
Yang termasuk dalam kebutuhan pribadi disini adalah hal hal seperti
minum sekedarnya untuk menghlangkan haus, ke kamar kecil, bercakap dengan
teman sekerja sekedarnya. Kebutuhan ini terlihat sebagai suatu kebutuhan yang
mutlak. Besarnya kelonggaran yang diberikan untuk kebutuhan pribadi seperti itu
berbeda dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya karena setiap pekerjaan berbeda
karakteristiknya. Berdasarkan penelitian ternyata besarnya kelonggaran ini bagi
pria dan wanita berbeda. Bagi pria kelonggarannya 2%-2,5%, sedangkan untuk
wanita 2,5%-5%.
b. Kelonggaran untuk menghilangkan rasa fatique
Rasa fatique biasanya terlihat saat hasil produksi menurunbaik kuantitas
maupun kualitas. Jika rasa fatiquetelah datang dan pekerja dituntut untuk
menghasilkan performansi normalnya, maka usaha yang dikeluarkan pekerja lebih
besar dan dari normal dan ini menambah rasa fatique.besarnya kelonggaran inidi
perlihat kan pada tabel nantinya
c. Kelonggaran untuk hambatan hambatan yang tak terhindarkan
Hambatan dalam hidup ini selalu ada, itulah yang dinamakan hidup jika
tidak ada hambatan maka bukan hidup namanya. Tapi bukan hambatan dalam
kajian itu kita bahas sekarang. Hambatan dalam melaksakan pekerjaan itu ada dua
jenisnya, yang pertama hambatan yang dapat dihindarkan dan yang kedua
hambatan yang tidak dapat dihindarkan. Nah yang menjadi fokus kita adalah
hambatan yang tidak dapat dihindarkan. Beberapa contoh dari hambatan yang
tidak dapat dihinarkan adalah : menerima atau meminta petunjuk dari pengawas,
melakukan penyesuaian mesin, memperbaiki kemacetan kemacetan singkat,
mengasah peralatan potong, mengambil alat alat khusus, hambatan hambatan
karena kesalahan pemakaian, mesin mati karena mati listrik.
(Sumber : Basri,Muhammad,Dkk. Modul III Praktikum Analisis Perancangan
Kerja )

3.3 HASIL PERCOBAAN


3.3.1 Pengumpulan Data
Tabel 3.2Data hasil pengukuran operasi normal dan operasi fatique
No. Waktu hasil pengukuran (xi) Waktu hasil pengukuran (xi)
Operasi normal (detik) Operas fatique (detik)
1. 45,11 71,56
2. 35,45 59,34
3. 56,68 55,68
4. 40,55 62,49
5. 53,02 65,51
6. 55,27 54,28
7. 42,54 66,81
8. 41,27 75
9. 42,58 68,84
10. 48,74 69,02
11. 49,02 67,18
12. 30,54 57,88
13. 38,71 67,61
14. 37,79 59,08
15. 38,07 62,41
16. 45,86 69,00

3.3.2 Pengolahan Data


3.3.2.1 Operasi normal
Tabel 3.3 Menghitungharga rata-rata dari harga rata-rata sub
grup :
Sub grup Waktu penyelesaian berturut-turut Harga rata-rata
1. 45,11 35,45 56,68 40,55 44,4475
2. 53,02 55,27 42,54 41,27 48,025
3. 45,58 48,74 49,02 30,54 42,72
4. 38,21 57,79 38,07 45,86 39,9825
Σ 175,175

∑ 𝑥̅𝑖
𝑥̅ =
𝑘
175,175
𝑥̅ =
4

𝑥̅ = 43, 79 detik

a. Menghitung Standar Deviasi sebenarnya dari waktu penyelesaian :


Tabel 3.4 Data Standar Deviasi sebenarnya dari operasi
normal
No. Waktu penyelesaian (xi) (detik) xi2 (detik) (xi-x)2 (detik)
1. 45,11 2034,912 1,732514
2. 35,45 1256,703 69,61816
3. 56,68 3212,622 166,0554
4. 40,55 1644,303 10,52191
5. 53,02 2811,12 85,12369
6. 55,27 3054,773 131,7043
7. 42,54 1809,652 1,571889
8. 41,27 1703,213 6,369314
9. 42,58 1813,056 1,473189
10. 48,74 2375,588 24,46539
11. 49,02 2462,96 27,31369
12. 30,54 932,6916 175,6619
13. 38,71 1466,004 31,17826
14. 37,79 1928,084 36,04501
15. 38,07 1449,325 32,76131
16. 45,86 2103,14 4,269389
Σ 700,7 31492,15 805,8654

∑(𝑥̅𝑖 − 𝑥̅)2
𝜎𝑥 = √
𝑁−1

805,8654
𝜎𝑥 = √
16 − 1

805,8654
𝜎𝑥 = √
15

𝜎𝑥 = √53,72436
𝜎𝑥 = 7,329 detik
b. Menghitung standar deviasi dari distribusi harga rata-rata sub grup
(sebelum fatique) :
𝜎𝑥
𝜎𝑥 =
√𝑛
7,329
𝜎𝑥 =
√4
7,329
𝜎𝑥 =
2
𝜎𝑥 = 3,66 detik
c. Menentukan batas control atas (BKA) dan batas control bawah
(BKB) untuk uji keseragaman data (sebelum fatique) :
1) BKA
𝐵𝐾𝐴 = 𝑥̅ + 3 × 𝜎𝑥
𝐵𝐾𝐴 = 43,79 + 3 × 3,66
𝐵𝐾𝐴 = 43,79 + 10,98
𝐵𝐾𝐴 = 54,77

2) BKB
𝐵𝐾𝐵 = 𝑥̅ − 3 × 𝜎𝑥
𝐵𝐾𝐵 = 43,79 − 3 × 3,66
𝐵𝐾𝐵 = 43,79 − 10,98
𝐵𝐾𝐵 = 32,81

60
55
50
Waktu Penyelesaian

45
40 BKA

35 BKB

30 Waktu Normal

25
20
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
Banyak Percobaan

Grafik distribusi data hasil pengukuran normal


d. Melakukan tes kecukupan data dengan tingkat ketelitian 5% dan
10% (sebelum fatique) :
1) N’ untuk 5%
2
40√𝑁(∑ 𝑥̅𝑖 2 ) − (∑ 𝑥̅𝑖)2
𝑁′ = [ ]
∑ 𝑥̅𝑖
2
40√16(31492,15) − (700,7)2
𝑁′ = [ ]
700,7
2

40√503874,4 − 490980,5
𝑁 = [ ]
700,7
2
40√12893,9
𝑁′ = [ ]
700,7


40 × 113,55131 2
𝑁 = [ ]
700,7
4542,0524 2
𝑁′ = [ ]
700,7
𝑁 ′ = [6,48216]2
𝑁 ′ = 42,018
N’ > N maka data percobaan belum cukup dan harus
menambah data/mengulangi praktikum sebelumnya.
2) N’ untuk 10% :
2

20√𝑁(∑ 𝑥̅𝑖 2 ) − (∑ 𝑥̅𝑖)2
𝑁 = [ ]
∑ 𝑥̅𝑖
2

20√16(31492,15) − (700,7)2
𝑁 = [ ]
700,7
2
20√503874,4 − 490980,5
𝑁′ = [ ]
700,7
2

20√12893,9
𝑁 = [ ]
700,7


20 × 113,55131 2
𝑁 = [ ]
700,7
2271,026 2
𝑁′ = [ ]
700,7
𝑁 ′ = [3,241]2
𝑁 ′ = 10,504
N’ < N maka data percobaan telah cukup.
e. Menghitung waktu siklus (WS) (Sebelum fatique)
∑ 𝑥̅𝑖
𝑊𝑠 =
𝑁
700,7
𝑊𝑠 =
16
𝑊𝑠 = 43,793 detik
f. Menghitung waktu normal (WN) sebelum fatique
1) Penyesuaian metode Shumard (P1)
- Operator Good+ = 75
- Normal = 60
2) Penyesuaian dengan metode Objektif (P2)
- Angka yang terpakai : lengan atas/bawah (D) : 5 %
- Pedal kaki : Tanpa pedal (F) : 0%
- Penggunaan tangan : saling bergantian : 0%
- Koordinasi mata dan tangan : konstan, dekat (K) : 4%
- Peralataan : perlu hati-hati : 3%
- Berat badan : 0,90 (B-2) : 5 %+
Total (P2): 17 %

70
P1=
60
= 1,25
P2= (1 + 17%) P2 = 1,17
P = P1 x P2
P = 1,25 x (1,17)
P = 1,4625
3) Waktu Normal :
𝑊𝑛 = 𝑊𝑠 × 𝑃
𝑊𝑛 = 43,79 × 1,4625
𝑊𝑛 = 64,0428 detik
g. Menghitung Waktu Baku (WB) dengan kelonggaran (i) = 15 %
1) Kelonggaran (Allowence):
- Kebutuhan Pribadi :2%
- Tak terhindarkan :2%
- Fatique:
- Tenaga yang dikeluarkan :2%
- Sikap kerja : 0,5 %
- Gerakan kerja :0%
- Kelelahan mata : 6,5 %
- Temperature tempat kerja :2%
- Atmosfer :0%
- Lingkungan : 0% +
Total (i) : 15 %
2) Waktu baku (WB)
WB= WN + i (WN)
WB= 64,0428 + 0,15 (64,0428 )
WB = 64,0428 + 9,60642
WB = 73,64922 detik

3.3.2.2 Operasi fatique


a. Menghitung harga rata-rata dari harga rata-rata sub grup :
Tabel 3.5 Data harga Rata-rata dari harga sub grup operasi
fatique
Sub grup Waktu penyelesaian berturut-turut Harga rata-rata
1. 71,56 59,34 55,68 62,49 62,2675
2. 65,51 54,28 66,81 75 65,4
3. 68,84 69,02 67,18 57,88 65,73
4. 67,61 59,08 62,41 69,66 64,87
Σ 258,2675
∑ 𝑥𝑖
𝑥̅ = 𝑘

258,2675
𝑥̅ =
4

𝑥̅ = 64,566 detik

b. Menghitung Standar Deviasi sebenarnya dari waktu penyelesaian :


Tabel 3.6 Data Standar Deviasi sebenarnya dari operasi
fatique

No Waktu penyelesaian (xi) (detik) xi2 (detik) (xi-x)2 (detik)


1. 71,56 5120,834 48,9038
2. 59,34 3521,336 37,3722
3. 55,68 3100,262 78,97655
4. 62,49 3905 4,31341
5. 65,51 4291,56 0,889455
6. 54,28 2946,318 105,8198
7. 66,81 4463,576 5,02161
8. 75 5625 108,8501
9. 68,84 4738,946 18,2596
10. 69,02 4763,76 19,83032
11. 67,18 4513,152 6,878422
12. 57,88 3350,694 44,07143
13. 67,61 4571,112 9,26061
14. 59,08 3576,04 22,7231
15. 62,41 3895,008 4,65211
16. 69,00 4852,516 25,93992
Σ 1033,07 67234,41 532,3133

∑(𝑥̅𝑖 − 𝑥̅)2
𝜎𝑥 = √
𝑁−1

532,3133
𝜎𝑥 = √
16 − 1
532,3133
𝜎𝑥 = √
15
𝜎𝑥 = √35,4875533

𝜎𝑥 = 5,957 detik
c. Menghitung standar deviasi dari distribusi harga rata-rata sub grup
(sesudah fatique) :
𝜎𝑥
𝜎𝑥 =
√𝑛
5,957
𝜎𝑥 =
√4
5,957
𝜎𝑥 =
2
𝜎𝑥 = 2,9785 detik
d. Menentukan batas control atas (BKA) dan batas control bawah (BKB)
untuk uji keseragaman data (sebelum fatique) :
1) BKA
𝐵𝐾𝐴 = 𝑥̅ + 3 × 𝜎𝑥
𝐵𝐾𝐴 = 64,566 + 3 × 2,9785
𝐵𝐾𝐴 = 64,566 + 8,9355
𝐵𝐾𝐴 = 73,5015
2) BKB
𝐵𝐾𝐵 = 𝑥̅ − 3 × 𝜎𝑥
𝐵𝐾𝐵 = 64,566 − 3 × 2,9785
𝐵𝐾𝐵 = 64,566 − 8,9355
𝐵𝐾𝐵 = 55,6305
80

75
Waktu Penyelesaian
70

65 BKA
BKB
60
Waktu Normal
55

50
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
Banyak Percobaan

Grafik distribusi data hasil pengukuran setelah fatique


e. Melakukan tes kecukupan data dengan tingkat ketelitian 5% dan
10% (sesudah fatique) :
1) N’ untuk 5%
2
40√𝑁(∑ 𝑥̅𝑖 2 ) − (∑ 𝑥̅𝑖)2
𝑁′ = [ ]
∑ 𝑥̅𝑖
2

40√16(67234,41) − (1033,07)2
𝑁 = [ ]
1033,07
2
40√1075750,56 − 1067233,62
𝑁′ = [ ]
1033,07
2
40√8516,94
𝑁′ = [ ]
1033,07

40 × 92,287 2
𝑁′ = [ ]
1033,07


3691,48 2
𝑁 = [ ]
1033,07
𝑁 ′ = [3,573]2
𝑁 ′ = 12,766
N’ < N maka data percobaan telah cukup.
2) N’ untuk 10%
2

20√𝑁(∑ 𝑥̅𝑖 2 ) − (∑ 𝑥̅𝑖)2
𝑁 = [ ]
∑ 𝑥̅𝑖
2
20√16(67234,41) − (1033,07)2
𝑁′ = [ ]
1033,07
2
20√1075750,56 − 1067233,62
𝑁′ = [ ]
1033,07
2

20√8516,94
𝑁 = [ ]
1033,07


20 × 92,287 2
𝑁 =[ ]
1033,07
1845,74 2
𝑁′ = [ ]
1033,07
𝑁 ′ = [1,7866]2
𝑁 ′ = 3,19
N’ < N maka data percobaan telah cukup.

f. Menghitung waktu siklus (WS) (Sesudah fatique)


∑ 𝑥̅𝑖
𝑊𝑠 =
𝑁
1033,07
𝑊𝑠 =
16
𝑊𝑠 = 64,566 detik

g. Menghitung waktu normal (WN) setelah fatique


1) Penyesuaian metode Shumard (P1)
- Operator Good+ = 75
- Normal = 60
2) Penyesuaian dengan metode Objektif (P2)
- Angka yang terpakai : lengan atas/bawah (D) : 5%
- Pedal kaki : Tanpa pedal (F) : 0%
- Penggunaan tangan : saling bergantian : 0%
- Koordinasi mata dan tangan : konstan, dekat (K) : 4%
- Peralataan : perlu hati-hati : 3%
- Berat badan : 0,90 (B-2) : 5% +
Total (P2) : 17 %
70
P1 =
60
P1 = 1,25
P2 = (1 + 17%)
P2 = 1,17
P = P1 x P2
P = 1,25 x (1,17)
P = 1,4625
3) Waktu Normal :
𝑊𝑛 = 𝑊𝑠 × 𝑃
𝑊𝑛 = 64,566 × 1,4625
𝑊𝑛 = 94,4277 detik

h. Menghitung Waktu Baku (WB) dengan kelonggaran (i) = 15 %


1) Kelonggaran (Allowence):
- Kebutuhan Pribadi :2%
- Tak terhindarkan :2%
- Fatique:
- Tenaga yang dikeluarkan :2%
- Sikap kerja : 0,5 %
- Gerakan kerja :0%
- Kelelahan mata : 6,5 %
- Temperature tempat kerja :2%
- Atmosfer :0%
- Lingkungan : 0% +
Total (i) : 15 %
2) Waktu baku (WB)
WB= WN + i (WN)
WB= 94,4277 + 0,15 (94,4277)
WB = 94,4277 + 14,164
WB = 108,5917 detik

3.4 PEMBAHASAN
Pada pengukuran time study mulai dari pengamatan yang dilakukan sebanyak
16 kali di laboratorium adalah suatu tujuan untuk mengetahui berapa waktu yang
digunakan oleh praktikan dalam merakit rautan pensil, dengan memperhatikan
kestabilan waktu setiap perakitan, sehingga data yang diperoleh berada antara
batas kontrol atas dan batas kontrol bawah. Demikian juga untuk mengetahui tes
kecukupan data, maka perlu di analisa datanya untuk mengetahui apakah datanya
cukup.
Dari hasil pengukuran yang dilakukan diperoleh data – data yang akan diolah
untuk mengetahui apakah data tersebut sudah cukup atau masih harus ditambah
lagi. Dari hasil pengolahan data (Normal) diperoleh nilai kecukupan data yakni
43,79 detik untuk tingkat ketelitian 5%, diperoleh hasil 42,018 detik dimana N’ >
N maka percobaan data belum cukup dan harus menambah data/mengulangi
praktikum sebelumnya, dan tingkat ketelitian 10% diperoleh hasil 10,504 detik,
dimana N’ < N maka data percobaan telah cukup.
Untuk hasil pengolahan data (Fatique) diperoleh nilai kecukupan data yakni
64,566 detik untuk tingkat ketelitian 5 %, dan dengan tingkat ketelitian 10%
diperoleh hasil 15,956 detik, dimana N’ < N maka data percobaan telah cukup.
Pada analisa diatas membuktikan bahwa operator bekerja dalam batas kontrol
waktu yang baik, karena data waktu yang diperoleh berada diantara batas kontrol
atas dan bawah, serta mempunyai kecukupan data yang baik dengan
menggunakan tingkat ketelitian 5% maupun 10%.
https://www.academia.edu/8433840/BAB_I_Pengukuran_Waktu_Kerja