You are on page 1of 5

Nama Kelompok :

1. Dian Pratiwi (4315164402)


2. Mentari Ramadhanti (4315165379)
3. Muhammad Abid Qabus. K. (
4. Syifa Revita Arfa (4315164792)
Mata Kuliah : Geografi Pertanian
Prodi : Pend. Geografi/B/2016

Komoditas Beras
Komoditas beras memang hampir sepanjang sejarah sering diperbincangkan karena
beras merupakan komoditas paling penting di Indonesia karena perannya sebagai makanan
pokok yang mayoritas setiap penduduk Indonesia mengkonsumsinya setiap hari sebagai
asupan karbohidrat. Tidak hanya itu beras juga merupakan komoditas strategis yang dominan
dalam ekonomi Indonesia karena berkaitan erat dengan kebijakan moneter dan menyangkut
masalah sosial politik (Adiratma, 2004).
Pada era Presiden Soeharto, demi memenuhi hasrat swasembada beras diluncurkan
“Revolusi Hijau” dan Indonesia memang sudah berhasil mencapai swasembada beras pada
tahun 1984. Lantaran pencapaian tersebut, Soeharto diundang oleh Direktur Jenderal FAO Dr.
Eduard Saoma untuk menyampaikan pidato dalam acara Konferensi ke-23 Food and
Agriculture Organization (FAO) yang dihelat di Roma, Italia, pada 14 November 1985 untuk
mewakili negara-negara berkembang. Indonesia menyerahkan bantuan berupa 100.000 ton
padi yang merupakan sumbangan dari kaum petani untuk korban kelaparan di sejumlah
daerah di Afrika. Namun, memang benar seperti yang dikatakan oleh penulis artikel ini,
masih ada impor beras yang dilakukan pada tahun 1984. Hal ini dikatakan oleh FAO,
Indonesia ternyata masih mengimpor beras pada 1984 yakni 414 ribu ton, kendati jauh lebih
kecil daripada tahun 1977 atau 1980 yang sampai mencapai angka 2 juta ton. Tahun 1984 itu,
produksi beras nasional mencapai angka sekitar 27 juta ton, sementara konsumsi beras dalam
negeri sedikit di bawah 25 juta ton. Jadi, masih ada kurang lebih 2 juta ton stok beras
cadangan kendati masih harus melakukan sedikit impor demi menjaga stabilitas ketahanan
pangan.
Indikator ketahanan pangan, dikutip dari C.P. Timmer dan W.P. Falcon dalam Food
Security in Indonesia (1991), oleh pemerintah Orde Baru dimaknai pada stabilitas harga beras.
Artinya, ketahanan pangan dinilai aman selama harga beras dapat dijangkau masyarakat.
Namun, ketahanan pangan di bawah pengelolaan Orde Baru ternyata rapuh. Swasembada
yang dibanggakan itu, sebut Pantjar Simatupang dan I Wayan Rusastra dalam Kebijakan
Pembangunan Agribisnis Padi (2004), hanya bertahan lima tahun. Pemerintah salah
perhitungan karena mengartikan ketahanan pangan terlalu sempit. Hingga medio 1980-an,
pembangunan terfokus pada stabilitas harga beras saja. Harapannya, pemerataan akan muncul
dengan sendirinya. Namun, ketahanan pangan yang benar-benar kokoh ternyata tidak
sesederhana itu.
Memasuki tahun 1990-an, Indonesia terpaksa kembali mengimpor beras dari negara
lain. Bahkan, pada tahun 1995, ketergantungan terhadap impor beras naik hingga mencapai
angka sekitar 3 juta ton. Situasi semakin parah lantaran kala itu krisis ekonomi mulai
memasuki kawasan Asia, yang kemudian benar-benar melanda Indonesia pada 1997 dan
1998. Data BPS dan Kementerian Pertanian menyebutkan, produksi beras nasional tahun
1998 hanya sekitar 33 juta ton, sedangkan konsumsinya mencapai lebih dari 36 juta ton. rekor
impor beras Indonesia tertinggi sepanjang zaman terjadi pada 1998 dengan jumlah sekitar 6
juta ton. Perpaduan krisis ekonomi, pangan, juga politik, membuat Soeharto jatuh dari kursi
kepresidenan.
Kesulitan pangan di Indonesia selanjutnya mulai relatif membaik pada era Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sejak 2004. Pada 2005, menurut data BPS, Indonesia
hanya mengimpor kurang dari 190 ribu ton beras meskipun sedikit naik menjadi 438 ribu ton
pada 2006. Tahun 2007, untuk mengatasi kenaikan harga di pasar domestik, terjadi
peningkatan impor beras yang cukup besar, yakni 208 persen atau mencapai lebih dari
1.406.000 ton (Astuti, 2011: 43). Namun, dua tahun selanjutnya, impor beras kembali stabil,
di bawah 260 ribu ton. Dilihat dari hal tersebut, memang kami setuju pernyataan penulis
artikel bahwa intervensi pemerintah terhadap pasar beras tidak bisa dihindari karena beras
bukan semata-mata komoditas pertanian tetapi beras juga komoditas politik yang bisa
menentukan kelanggengan dari suatu rezim. yang patut diperhatikan adalah persoalan definisi
swasembada, seperti yang pernah ditanyakan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman. Ia
mempertanyakan hal itu sebagai jawaban balik atas pertanyaan tentang kebijakan pemerintah
yang mengimpor 500 ribu ton beras pada awal 2018. Apabila ukuran swasembada adalah
sama sekali tidak mengimpor beras, maka, kata Amran, Indonesia sudah meraih pencapaian
itu pada 2016 dan 2017 lalu. Namun, jika hanya berdasarkan stabilitas harga beras seperti
versi Orde Baru dulu dan masih mengimpor beras dari negara lain, swasembada kala itu
boleh dibilang hanya nikmat sesaat.

Peningkatan produksi padi terbesar terjadi pada tahun 2009 dengan peningkatan
produksi hingga mencapai 6,8% atau setara dengan peningkatan 4.072.965 ton dari tahun
sebelumnya tahun 2018 Namun Indonesia juga pernah mengalami penurunan tingkat
produksi yaitu pada tahun 2011 dengan tingkat penurunan produksi sebesar 1,1% atau setara
dengan 712.490 ton beras. Penurunan produksi terjadi karena adanya fenomena El Nino atau
terjadinya musim kemarau yang berkepanjangan yang menyebabkan produktivitas hasil
panen padi menurun sebesar 0,71 kuintal/ hektar (1,42%), selain itu BPS menyatakan bahwa
pada tahun 2011 penurunan produksi diperkirakan terjadi karena penurunan luas panen seluas
29,07 ribu hektar (0,22%). Tidak hanya di tahun 2011, pada tahun 2014 produksi padi
mengalami penurunan dengan tingkat penurunan produksi 0,6% atau setara dengan 433.244
ton, penurunan produksi padi tahun 2014 terjadi di Pulau Jawa sebesar 0,83 juta ton,
sedangkan produksi padi di luar Pulau Jawa mengalami kenaikan sebanyak 0,39 juta ton.
Penurunan produksi diperkirakan terjadi karena penurunan luas panen seluas 41,61 ribu
hektar (0,30%) dan penurunan produktivitas sebesar 0,17 kuintal/hektar atau turun sebesar
0,33%.
Istilah swasembada sendiri sebetulnya tidak ada dalam UU Nomor 18 Tahun 2012
tentang Pangan. Di sana hanya ada kedaulatan, kemandirian, dan ketahanan pangan.
Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia, Khudori, mengatakan
swasembada lebih dekat ke konsep kedaulatan dan kemandirian pangan dan swasembada
lebih merujuk ke surplus produksi, sedangkan ketahanan pangan lebih kepada tersedianya
pangan dengan harga terjangkau, terlepas dari mana sumbernya, tak peduli apa itu diproduksi
di dalam negeri atau didatangkan dari luar. Jadi, yang dimaksud ketahanan menurut Khudori
itu mengacu ke terpenuhinya kebutuhan pangan sampai level individu. Beliau tidak
mengatakan mengenai terpenuhinya dari impor atau produksi. Contohnya seperti Singapura
tidak punya lahan padi, tetapi ketahanan pangannya tinggi. Bila mengacu pada penjelasan
Rommy, maka kebijakan impor lebih cocok disebut untuk mengejar ketahanan pangan, bukan
swasembada atau kemandirian pangan.

Namun ketahanan pangan saja tidak cukup. Pantjar Simatupang dan I Wayan Rusastra
dalam Kebijakan Pembangunan Agribisnis Padi (2004) mengatakan bahwa ketahanan pangan
yang diartikan semata sebagai stabilitas harga saja itu rapuh. Contohnya pada swasembada
Orde Baru yang dibanggakan itu, hanya bertahan lima tahun. Maka perlu ada upaya untuk
benar-benar memenuhi kebutuhan pangan dari dalam negeri. Dan prasyarat untuk itu, seperti
yang pernah dikatakan dosen dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santoso,
adalah ketersediaan lahan. Masalahnya selanjutnya adalah yang terjadi sekarang lahan
pertanian terus menyusut. Pada Oktober 2018, BPS mencatat luas sawah tinggal 7,1 juta
hektare, menyusut 0,65 juta hektare dibanding 2017. Sementara dalam empat tahun (hingga
awal November), pemerintahan Jokowi hanya mampu mencetak sawah seluas 215.811
hektare. Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengaku itu terjadi
salah satunya karena masifnya proyek infrastruktur yang justru dilakukan pemerintah.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang
Brodjonegoro membenarkan bila pemenuhan pangan Indonesia masih bertumpu pada beras.
Akibatnya, upaya kebutuhan memenuhi pangan dan menekan angka kekurangan gizi atau
stunting menjadi persoalan. Pada 2018, misalnya, riset Kementerian Kesehatan menunjukkan
angka stunting Indonesia masih mencapai 30 persen dari bayi berumur 5 tahun. Sementara
WHO mengharuskan agar paling tidak angka itu berada di bawah 20 persen.
Bambang mengatakan untuk menekan angka itu serendah-rendahnya, maka
pemerintah akan menekankan pada program diversifikasi pangan. Sehingga ketergantungan
masyarakat pada beras dapat dikurangi karbohidrat lain. Ia memastikan hal itu akan
dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku konsumsi masyarakat setempat. Jadi akan
disesuaikan kebiasaan makan masyarakat dengan daerahnya. Sehingga bisa mengganti beras
sebagai makanan kerbohidrat yang pokok dengan bahan yang lainnya.
Khudori mencontohkan kasus gizi buruk di Asmat, Papua yang sempat ramai
beberapa waktu lalu. Menurut dia, kasus gizi buruk yang sampai menimbulkan korban jiwa
itu disebabkan karena warga tak lagi menanam umbi-umbian yang menjadi basis pangan
mereka sejak dulu. Sebaliknya, kata Khudori, warga malah menunggu penyaluran beras yang
distribusinya tidak mudah dilakukan. Hal ini merupakan konsekuensi ketika konsumsi beras
yang tinggi. Warga tidak lagi menanam pangan lokalnya, tapi malah menunggu distribusi
beras. Khudori mengatakan beras memang tak dapat selalu diandalkan dalam memenuhi
kebutuhan pangan. Sebab, provinsi yang menjadi produsen beras hanya belasan dan tidak
semua produksinya selalu surplus. Menurut Khudori, dengan kondisi geografis Indonesia
yang cukup luas, bisa dipastikan distribusi beras mengalami kesulitan. Belum lagi, bila
daerah penghasil beras mengalami gagal panen. ini memang benar ada kesalahan pemerintah
yang terus menjadikan beras sebagai makanan pokok.
Sumber
https:/ews.kemendag.go.id
https://tirto.id/swasembada-beras-ala-soeharto-rapuh-dan-cuma-fatamorgana-c2eV
https://tirto.id/apakah-saat-swasembada-tak-boleh-impor-pangan-dg61
https://tirto.id/pentinsgnya-diversifikasi-pangan-untuk-cegah-ketergantungan-beras-dhrP