You are on page 1of 19

BAB III

TINJAUAN KHUSUS TEMA

III.1 Pengertian Arsitektur Neo - Vernakular


Arsitektur neo - vernakular, tidak hanya menerapkan elemen-elemen fisik
yang diterapkan dalam bentuk modern tapi juga elemen non fisik seperti
budaya, pola pikir, kepercayaan, tata letak, religi dan lain-lain.
Bangunan adalah sebuah kebudayaan seni yang terdiri dalam pengulangan dari
jumlah tipe-tipe yang terbatas dan dalam penyesuaiannya terhadap iklim lokal,
material dan adat istiadat. (Leon Krier, 1971)
Arsitektur Neo - Vernakular merupakan suatu paham dari aliran Arsitektur
Post-Modern yang lahir sebagai respon dan kritik atas modernisme yang
mengutamakan nilai rasionalisme dan fungsionalisme yang dipengaruhi
perkembangan teknologi industri. Arsitektur Neo-Vernakular merupakan
arsitektur yang konsep pada prinsipnya mempertimbangkan kaidah-kaidah
normative, kosmologis, peran serta budaya lokal dalam kehidupan masyarakat
serta keselarasan antara bangunan, alam, dan lingkungan.
Batu-bata dalam kutipan diatas ditujukan pada pengertian elemen-elemen
arsitektur lokal, baik budaya masyarakat maupun bahan-bahan material
lokal. Aliran Arsitektur Neo - Vernakular sangat mudah dikenal dan memiliki
kelengkapan seperti. hampir selalu beratap bubungan, detail terpotong, banyak
keindahan dan menggunakan material bata-bata.

III.1.1 Pengertian Neo - Vernakular


Kata NEO atau NEW berarti baru atau hal yang baru, sedangkan kata
vernacular berasal dari kata vernaculus (bahasa latin) yang berarti asli. Maka
arsitektur vernakular dapat diartikan sebagai arsitektur asli yang dibangun oleh
masyarakat setempat. (fazil, 2014)
Arsitektur Vernakular konteks dengan lingkungan sumberdaya setempat
yang dibangun oleh masyarakat dengan menggunakan teknologi sederhana
untuk memenuhi kebutuhan karakteristik yang mengakomodasi nilai ekonomi

42
dan tatanan budaya masyarakat dari masyarakat tersebut. Dalam pengertian
umum, arsitektur Vernacular merupakan istilah yang banyak digunakan untuk
menunjuk arsitektur indigenous kesukaan, tribal, arsitektur kaum petani atau
arsitektur tradisional.
Pengertian Arsitektur Vernakular sering disamakan dengan Arsitektur
Tradisional. Joseph Prijotomo berpendapat bahwa secara konotatif tradisi dapat
diartikan sebagai pewarisan atau penerusan norma-norma adat istiadat atau
pewarisan budaya yang turun-temurun dari generasi ke generasi.
Menurut Vitruvius di dalam bukunya De Architectura yang Diterjemahkan
pada tahun 1914. arsitektur adalah penyeimbang dan pengatur dari 3 unsur,
yaitu keindahan/estetika (vesunitas), kekuatan (firmitas), dan kegunaan/fungsi
(utilitas). Arsitektur dapat dikatakan sebagai keseimbangan dan koordinasi
antara ketiga unsur tersebut, dan tidak ada satu unsur yang melebihi unsur
lainnya. Dalam definisi modern, arsitektur harus mencakup pertimbangan
fungsi, estetika, dan psikologis. Namun dapat dikatakan pula bahwa unsur
fungsi itu sendiri di dalamnya sudah mencakup baik unsur estetika maupun
psikologis. (jalalarsitek, 2013)

III.1.2 Sejarah Arsitektur Neo - Vernacular


Arsitektur Neo - Vernakular adalah salah satu paham atau aliran yang
berkembang pada era Post Modern yaitu aliran arsitektur yang muncul pada
pertengahan tahun 1960-an, Post Modern lahir disebabkan pada era modern
timbul protes dari para arsitek terhadap pola-pola yang berkesan monoton
(bangunan berbentuk kotak-kotak). Oleh sebab itu, lahirlah aliran-aliran baru
yaitu Post Modern.
Menurut Charles A. Jenck tahun 1986, ada 6 (enam) aliran yang muncul
pada era Post Modern diantaranya, historiscism, straight revivalism, neo
vernakular, contextualism, methapor dan post modern space. Dimana
menurut Budi A Sukada, 1988 dari semua aliran yang berkembang pada Era
Post Modern ini memiliki 10 (sepuluh) ciri-ciri arsitektur sebagai berikut.
1. Mengandung unsur komunikatif yang bersikap lokal atau populer.

43
2. Membangkitkan kembali kenangan historik.
3. Berkonteks urban.
4. Menerapkan kembali teknik ornamentasi.
5. Bersifat representasional (mewakili seluruhnya).
6. Berwujud metaforik (dapat berarti bentuk lain).
7. Dihasilkan dari partisipasi.
8. Mencerminkan aspirasi umum.
9. Bersifat plural.
10. Bersifat ekletik.
Untuk dapat dikategorikan sebagai arsitektur post modern tidak harus
memenuhi kesepuluh dari ciri-ciri diatas. Sebuah karya arsitektur yang
memiliki enam atau tujuh dari ciri-ciri diatas sudah dapat dikategorikan
ke dalam arsitektur post modern.
Charles Jenks seorang tokoh pencetus lahirnya post modern menyebutkan
tiga alasan yang mendasari timbulnya era post modern, yaitu.
1. Kehidupan sudah berkembang dari dunia serba terbatas ke dunia tanpa
batas, ini disebabkan oleh cepatnya komunikasi dan tingginya daya tiru
manusia.
2. Canggihnya teknologi menghasilkan produk-produk yang bersifat pribadi.
3. Adanya kecenderungan untuk kembali kepada nilai-nilai tradisional atau
daerah, sebuah kecenderungan manusia untuk menoleh ke belakang.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa arsitektur post modern dan
aliran-alirannya merupakan arsitektur yang menggabungkan antara tradisional
dengan non tradisinal, modern dengan setengah nonmodern, perpaduan yang
lama dengan yang baru. Dalam timeline arsitektur modern, vernakular berada
pada posisi arsitektur modern awal dan berkembang menjadi Neo Vernakular
pada masa modern akhir setelah terjadi eklektisme dan kritikan-kritikan
terhadap arsitektur modern.
Kriteria-kriteria yang mempengaruhi arsitektur Neo Vernakular adalah
sebagai berikut.

44
1. Bentuk-bentuk menerapkan unsur budaya, lingkungan termasuk iklim
setempat diungkapkan dalam bentuk fisik arsitektural (tata letak denah,
detail, struktur dan ornamen)
2. Tidak hanya elemen fisik yang diterapkan dalam bentuk modern, tetapi
juga elemen nonfisik yaitu budaya pola pikir, kepercayaan, tata letak yang
mengacu pada makro kosmos dan lainnya menjadi konsep dan kriteria
perancangan.
3. Produk pada bangunan ini tidak murni menerapkan prinsip-prinsip
bangunan vernakular melainkan karya baru (mengutamakan penampilan
visualnya).

III.1.3 Ciri Ciri Neo - Vernakular


Dari pernyataan Charles Jencks dalam bukunya “language of Post-Modern
Architecture (1990)” maka dapat dipaparkan ciri-ciri Arsitektur Neo -
Vernakular sebagai berikut.
1. Selalu menggunakan atap bumbungan. Atap bumbungan menutupi tingkat
bagian tembok sampai hampir ke tanah sehingga lebih banyak atap yang
diibaratkan sebagai elemen pelidung dan penyambut dari pada tembok
yang digambarkan sebagai elemen pertahanan yang menyimbolkan
permusuhan.
2. Batu bata (dalam hal ini merupakan elemen konstruksi lokal). Bangunan
didominasi penggunaan batu bata abad 19 gaya Victorian yang merupakan
budaya dari arsitektur barat.
3. Mengembalikan bentuk-bentuk tradisional yang ramah lingkungan dengan
proporsi yang lebih vertikal.
4. Kesatuan antara interior yang terbuka melalui elemen yang modern dengan
ruang terbuka di luar bangunan.
5. Warna-warna yang kuat dan kontras.
Dari ciri-ciri di atas dapat dilihat bahwa Arsitektur Neo - Vernakular tidak
ditujukan pada arsitektur modern atau arsitektur tradisional tetapi lelbih pada
keduanya. Hubungan antara kedua bentuk arsitektur diatas ditunjukkan dengan

45
jelas dan tepat oleh Neo - Vernacular melalui trend akan rehabilitasi dan
pemakaian kembali. Pemakaian atap miring, Batu bata sebagai elemen lokal
dan Susunan masa yang indah.
Mendapatkan unsur-unsur baru dapat dicapai dengan pencampuran antara
unsur setempat dengan teknologi modern, tapi masih mempertimbangkan unsur
setempat, dengan ciri-ciri sebagai berikut.
1. Bentuk-bentuk menerapkan unsur budaya, lingkungan termasuk iklim
setempat diungkapkan dalam bentuk fisik arsitektural (tata letak denah,
detail, struktur dan ornamen).
2. Tidak hanya elemen fisik yang diterapkan dalam bentuk modern, tetapi
juga elemen non-fisik yaitu budaya, pola pikir, kepercayaan, tata letak
yang mengacu pada makro kosmos, religi dan lainnya menjadi konsep dan
kriteria perancangan.
3. Produk pada bangunan ini tidak murni menerapkan prinsip-prinsip
bangunan vernakular melainkan karya baru (mangutamakan penampilan
visualnya).

III.1.4 Prinsip – Prinsip Desain Arsitektur Neo - Vernakular


Adapun beberapa prinsip-prinsip desain arsitektur Neo - Vernakular secara
terperinci adalah sebagai berikut.
1. Hubungan Langsung, merupakan pembangunan yang kreatif dan adaptif
terhadap arsitektur setempat disesuaikan dengan nilai-nilai/fungsi dari
bangunan sekarang.
2. Hubungan Abstrak, meliputi interprestasi ke dalam bentuk bangunan yang
dapat dipakai melalui analisa tradisi budaya dan peninggalan arsitektur.
3. Hubungan Lansekap, mencerminkan dan menginterprestasikan lingkungan
seperti kondisi fisik termasuk topografi dan iklim.
4. Hubungan Kontemporer, meliputi pemilihan penggunaan teknologi,
bentuk ide yang relevan dengan program konsep arsitektur.
5. Hubungan Masa Depan, merupakan pertimbangan mengantisipasi kondisi
yang akan datang.

46
III.1.5 Tinjauan Arsitektur Neo - Vernakular
Tabel III.1 Perbandingan Arsitektur Ttradisional, Vernakular dan
Neo - Vernakular.
Perbandingan Ideologi Prinsip Ide Desain
Tradisional Terbentuk oleh Tertutup dari Lebih
tradisi yang perubahan zaman, mementingkan
diwariskan terpaut pada satu fasat atau
secara turun kultur kedaerahan, dan bentuk,
temurun,berdasa mempunyai peraturan ornamen
rkan kultur dan dan norma-norma sebagai suatu
kondisi lokal keagamaan yang keharusan.
kental
Vernakular Terbentuk oleh Berkembang setiap Ornamen
tradisi turun waktu untuk sebagai
temurun tetapi merefleksikan pelengkap,
terdapat lingkungan, budaya tidak
pengaruh dari dan sejarah dari meninggalkan
luar baik fisik daerah dimana nilai- nilai
maupun arsitektur tersebut setempat tetapi
nonfisik, bentuk berada. Transformasi dapat melayani
perkembangan dari situasi kultur aktifitas
arsitektur homogen ke situasi masyarakat
tradisional. yang lebih heterogen. didalam.
Neo - Penerapan Arsitektur yang Bentuk desain
Vernakular elemen bertujuan melestarikan lebih modern.
arsitektur yang unsur-unsur lokal
sudah ada dan yang telah terbentuk
kemudian secara empiris oleh
sedikit atau tradisi dan
banyaknya mengembang-kannya

47
mengalami menjadi suatu
pembaruan langgam yang
menuju suatu modern. Kelanjutan
karya yang dari arsitektur
modern. vernakular
(Ahlul, Zikri, 2012)
Dalam prinsip perancangan Henri M.P, yang mencoba memadukan
kekuatan-kekuatan lokal berupa arsitektur, budaya, masyarakat dan
alam, dimana pada bangunan yang dirancangnya. Tidak pernah
menemukan suatu karya arsitektur yang dapat mewakili ciri khas budaya san
sosial daerah masing-masing, serta mengetahui permasalahan yang dihadapi
oleh lingkungan di sekitarnya. Dengan teori-teorinya, Henri Maclaine Pont
berusaha untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang ada. Dalam
membangun suatu bangunan, Henri M.P, memegang teguh beberapa
filsafat arsitektur yang menginginkan agar keberadaan bangunan dapat menjadi
bagian dari lingkungan sekitar bangunan tersebut dengan sangat
memperhatikan tentang iklim dan masyarakat sekitar bangunannya. Sehingga
dapat memperhatikan adat istiadat dan kepercayaan masyarakat
setempat.
Teori Henri M.P, kaidah arsitektur yang pernah ditampilkan pada karya-
karyanya adalah sebagai berikut.
1. Pendekatan pada faktor budaya dan alam dimana ia membangun sehingga
karya arsitektural merupakan jawaban dari kebutuhan sosial.
2. Pada setiap karya arsitektural harus dapat tercermin adanya
hubungan yang logis antara bangunan dengan lingkungannya.
3. Menggali akar budaya arsitektur klasik, dikaji dan kemudian dipadukan
dengan arsitektur modern.
Falsafah adaptasi regionalisme yaitu adanya dialog antara
tradisional dan modern. Struktur bangunan dapat berkembang mengikuti
teknik dan metode baru, namun ungkapan arsitektural tetap dalam semangat

48
tempat dan budaya lokal. Henri M.P, memberikan penekanan pada kesatuan
antara bentuk, fungsi dan kontruksi. Sebagai ungkapan spiritual dari
suatu kelompok masyarakat, maka gaya arsitektur harus mempunyai jawaban
dari kebutuhan social masyarakat tersebut. Menurut pandangan Henri M.P
adalah penting dalam arsitektur adanya hubungan logis antara bangunan
dengan lingkungannya. Kesadaran bahwa lingkungan secara
keseluruhan menjadi bagian yang menyatu dengan bangunan sehingga dalam
merancang, Henri M.P, selalu memperhatikan adat dan budaya setempat.

III.2 Studi Banding Arsitektur Neo - Vernakular


Pada sub ini Menjelaskan tentang beberapa bangunan yang menerapkan
tema yang sama atau sejenis dengan tema yang akan diterapkan pada proyek
di rancang.

III.2.1 Bandara Soekarno - Hatta, Indonesia


Data Proyek (Zaina K N F, 2015)
Nama Proyek : Perluasan gedung Terminal 3 Ultimate Bandara
Internasional Soekarno-Hatta
Lokasi : Jalan Raya Bandara Soekarno-Hatta,
KotaTangerang, Banten
Arsitek : Paul Andreu
Pemilik Proyek : PT. Angkasa putra II (Persero)
Konsultan perencna : Lapi d ITB
Konsultan Pengawas : - PT. MANGGILINGAN JAYA
- ARKONIN
Kontraktor Pelaksana : - PT. Kawahapejaya
- PT. Wijaya Karya
- PT. Waskita
- PT. Hyundai
- Teknik jaya
Luas lahan : 1740 Ha

49
Waktu rencana : 850 hari kalender
Nilai kontrak : Rp. 4.702.500.000.000,-
Sumber dana : PT. Angkasa Pura II
Jenis konrak : Design And Build Contract

Gambar III.1 Bandara Soekarno - Hatta (Zaina K N F, 2015)


Bandara Soekarno-Hatta berada di daerah sub urban yaitu daerah
Tangerang, Banten merupakan hasil karya arsitek kenamaan perancis yaitu
Paul Andreu. Awal pembangunannya yang dimulai dari tahun 1980-an sudah
dapat menoreh sejarah karena desainnya disejajarkan dengan bandara di Paris
yang terkenal, Charles de Gaulle Airport, yang juga di desain oleh arsitek
Prancis yang sama, yaitu Paul Andreu. Namun, didalam mendesain Bandara
Soekarno-Hatta, Paul Andreu lebih menekankan budaya Indonesia yang
dikolaborasikan dengan prinsip-prinsip modern, dengan kata lain beliau
menerapkan paham Neo Vernakular (post modern) pada desainnya. Berdiri di
atas tanah seluas 1740 Ha, bandara ini memiliki empat terminal penerbangan,
dua diantaranya memberdayakan bangunan pendopo sebagai ruang tunggu
yang menghubungkan antar selasar.

50
Gambar III.2 Perspektif Bandara Soekarno - Hatta (Indonesiaraya, 2017)
Sebagian besar dari bangunan di bandara mempergunakan sistem
konstruksi baja berupa tiang dan balok-balok yang diekspose. Unit-unit dalam
terminal dihubungkan oleh selasar yang terbuka sehingga penghawaan dan
pencahayaan alami bekerja optimal. Ruang tunggu menggunakan arsitektur
Joglo dengan dimensi yang lebih besar, namun sistem konstruksi dan
bentuknya tetap sama. Untuk material kolom-kolomnya menggunakan bahan
modern namun tampilan yang dipilih tetap tampilan material kayu sehingga
kesan modern yang ditimbulkan tetap alami. Berdasarkan atas deskripsi yang
telah dipaparkan mengenai Bandara Soekarno-Hatta di atas dapat dipahami
bahwa konsep yang digunakan oleh Paul Andreu , sang arsitek ialah aliran Neo
Vernakular di Era Post Modern karena menggabungkan konsep modern di
dalam konsep arsitektur tradisional khususnya adat Jawa. Konsep tersebut
dapat dilihat pada ruang tunggu yang menggunakan arsitektur Joglo yang
dipadukan dengan material modern dan konsep selasar sebagai ruang terbuka
yang memanfaatkan pencahayaan dan penghawaan alami di lingkungan sekitar
Bandara yang berupa lingkungan hijau. Dari segi fungsi, bangunan pendopo
pada hunian berfungsi sebagai ruang publik yang digunakan sewaktuwaktu
sebagai ruang penyambutan, sebagai sarana jika ada upacara adat, atau dapat

51
juga digunakan sebagai ruang untuk bersantai, mengobrol dan menunggu
bersama keluarga. Sedangkan pada bandara, bangunan pendopo difungsikan
sebagai ruang publik, untuk menunggu jam keberangkatan penumpang. Fungsi
upacara pada bangunan ini dihilangkan.

Gambar III.3 Arsitektur Tradisional Rumah Joglo untuk Hunian (Pidas81,


2018)

Gambar III.4 Bangunan Pendopo pada Bandara Soekarno - Hatta berfungsi


sebagai Ruang Tunggu (Aeronusantara, 2013)

52
Ideologi dari arsitektur Neo Vernakular adalah penerapan elemen
arsitektur yang sudah ada dan kemudian sedikit atau banyaknya mengalami
pembaruan menuju suatu karya yang modern. Contoh bangunan yang
menggunakan prinsip arsitektur Neo Vernakular adalah Bandara Soekarno
Hatta. Pada Bandara Soekarno Hatta, prinsip arsitektur neo vernakular dapat
dilihat langsung pada bangunan-bangunan pendopo yang berfungsi sebagai
ruang tunggu dan penghubung antar selasar terbuka. Bangunan pendopo
menggunakan arsitektur Joglo yang sistem struktur dan konstruksinya masih
sama, hanya dimensi ruangnya yang mengalami perluasan. Material yang
digunakan merupakan material modern namun tampilannya tetap
menggunakan material alami.

III.2.2 National Theatre Malaysia


Data projek
Nama : National Theatre Malaysia
Lokasi : Jalan Tun Razak, Titiwangsa, 50694 Kuala Lumpur,
Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Malaysia
Fungsi : Teater Daerah Dan Gedung Pertunjukan
Tahun : 1995
Architect : Muhammad Kamar Ya'akub

Gambar III.5 Gedung National Theatre Malaysia (ahlul zikri, 2012)

53
Istana Budaya berfungsi sebagai sarana kebudayaan salah satunya terdapat
auditorium dan panggung pertunjukan. Bangunan yang didesain oleh arsitek
lokal yaitu Muhammad Kamar Ya'akub dengan struktur ‘lipatan’ pada atap
yang bertumpang-tumpang berhasil menarik perhatian pengamat dunia
arsitektur. Terlebih lagi dengan penggunaan material atap yang berwarna biru
kehijauan, bangunan ini sukses terlihat mencolok. Berbeda dengan bandara
Soekarno Hatta yang paham Neo - Vernakularnya dapat langsung terlihat pada
tampilan fisiknya, bangunan istana budaya ini lebih menitikberatkan pada nilai-
nilai non fisiknya seperti bahasa ‘makna’ rumah tradisional adat Melayu yang
ditransformasikan ke dalam wujud bangunan modern.

Gambar III.6 Fasade Gedung National Theatre Malaysia (Simdos, 2017)


Nilai-nilai non fisik yang dapat dilihat pada bangunan ini adalah, penataan
ruang dalamnya menyesuaikan dengan tata ruang rumah tradisional Melayu.
Susunan ruangnya sebagai berikut: : serambi (lobi dan foyer), 'rumah ibu'
(auditorium) dan 'rumah dapur' (panggung atau ruang latihan). Bangunan
utamanya mengadopsi bentuk ‘sireh junjung’, yaitu pengaturan daun sirih
secara tradisional yang digunakan saat pernikahan Melayu dan Upacara
Penyambutan. Maka dengan adanya konsep nilai-nilai non fisik tersebut
bangunan istana budaya dapat dikategorikan sebagai salah satu contoh karya
arsitektur Neo - Vernakular yang mana merupakan hasil penggabungan nilai
tradisional dengan bentuk dan teknologi yang modern.

54
Gambar III.7 Interior Gedung National Theatre Malaysia (Simdos, 2017)
Bangunan teater daerah Malaysia ini merupakan salah satu bangunan neo-
vernakular di Malaysia. Terletak di Kuala Lumpur, dengan fungsi sebagai
teater daerah dan juga gedung pertunjukan, dengan kapasitas 2000 orang yang
menggunakan tiga tingkat balkon. Gedung Teater Nasional Malaysia ini
merupakan salah satu ciri Malaysia sehingga terlihat sangat lekat sekali kesan
budaya Malaysianya. Gedung ini didesain dengan mengikuti konsep bangunan
tradisional melayu Malaysia yang menggunakan atap pelana yang tinggi.
Dengan mengambil bentuk vernakular yang jelas sekali dipadu dengan material
yang modern menjadikan Gedung Teater Nasional Malaysia ini terlihat modern
namun tetap memiliki ciri khas Malaysia.

III.3 Kesimpulan Studi Banding Arsitektur Neo - Vernakular


Pada sub ini membahas beberapa kesimpulan dari studi banding tema yang
sebelumnya sudah dibahas.
Tabel III.2 Kesimpulan Studi Banding
Bandara Soekarno-Hatta, Indonesia
Lokasi/site Kriteria Keunggula/
kekurangan
• Lokasi bandara • Dalam desain bandara ini Paul Keunggula:
ini berada di Anderu mengkolaborasikan prinsip • Terlepas dari

55
Jl.Raya Bandara -prinsip modrn dengan budaya kecanggihan
Soekarno-Hatta, lokal terlihat bangunan pendopo teknologi dan
KotaTangerang, digunakan sebagai ruang tunggu fasilitas yang
Banten dan yang menghubungkan antar terintegrasi,
bandara ini selasar. Pendopo sendiri pada Bandara ini tetap
dibangun atas di hunian berfungsi sebagai ruang mengupayakan
lahan seluas 1740 publik yang digunakan sewaktu efisiensi energi
Ha. waktu sebagai ruang penyambutan, dalam
sebagai sarana jika ada upacara pengoperasian.
adat, atau dapat juga digunakan Kekurangan:
sebagai ruang untuk bersantai,
mengobrol dan menunggu bersama
keluarga.
National Theatre Malaysia
Lokasi/site Kriteria Keunggula/kekurang
an
• Jalan Tun Razak, • Prinsip arsitektur neo vernakular Keunggulan:
Titiwangsa, dapat dilihat dan diamati dari nilai- • Bangunan ini
50694 Kuala nilai non fisik yang mendasari memiliki lokasi
Lumpur, Wilayah desain fisiknya. Nilai-nilai non yang cukup luas &
Persekutuan fisik tersebut adalah susunan ruang memiliki banyak
Kuala Lumpur, yang terdiri atas 3 ruang seperti tempat untuk parkir,
Malaysia pada rumah adat Melayu yaitu santai dan kegiatan
serambi (lobi dan foyer), 'rumah lain di luar serta
ibu' (auditorium) dan 'rumah dapur' menyediakan
(panggung atau ruang latihan). hidangan lokal.
Bangunan utamanya mengadopsi Kekurangan:
bentuk ‘sireh junjung’.
Kesimpulan & Penerapan Dalam Perancangan Terminal Bolu Torut
Lokasi/site Kriteria Saran

56
• Lokasi • Upaya menerapkan penekanan • Material utama
perancangan ini arsitektur tradisional baik dari pada bangunan
berada di bentuk fisik maupun dari segi non tradisional suku
kecamatan fisik. Toaja adalah dari
Tallunglipu kab. kayu atau banbu.
Toraja Utara dan Untuk menghindai
memiliki lahan kebakaran maka di
seluas ±3 Ha. sarankan
menggunakan
material modern
yang yang tidak
mudah terbakar.
(Data penulis, 2018)

III.4 Arsitektur Suku Toraja

III.4.1 Zona Pemukiman Suku Toraja


Deretan sejumlah tongkonan mengikuti arah matahari terbit dan arah
matahari tenggelam, yang menghadap ke sebuah halaman luas memanjang
terbentuk oleh deretan tongkonan tersebut dengan deretan lumbung atau alang.
Halaman ini berupa ruang luar terbuka terbentuk oleh dua dinding berhadapan,
bila tongkonan dan lumbung dipandang sebagai dinding.

Gambar III.8 Zona Pemukiman Suku Toraja (Yulianto Sumalyo, 2001)

57
Bila dereten tongkonan dipandang sebagai unsur pertama dalam kompleks
rumah adat Toraja, deretan lumbung atau alang sebagai unsur ke dua, halaman di
antara kedua deretan sebagai unsur ke tiga, maka unsur ke empat adalah kuburan
atau tempat pemakaman di lobang-lobang dipahat di tebing biasanya batu karang.
Kuburan berada di belakang dari deretan tongkonan, berupa tebing. Bila dalam
tata-letak bangunan adat jika ditarik garis melebar sejajar dengan deretan
tongkonan, lumbung dan halaman di antaranya, maka akan terbentuk garis sumbu
arah matahari terbit-tenggelam atau arah timur barat. Bila ditarik garis tegak lurus
dari sumbu timur-barat tersebut maka akan terbentuk sumbu lainnya melintang
utara-selatan.
Halaman tengah di antara deretan alang dan tongkonan, mempunyai
funsgi majemuk, antara lain tempat bekerja, menjemur padi, bermain anak-
anak selain pula menjadi "ruang pengikat" dan penyatu dalam kompleks. Yang
terpenting dalam kaitan dengan Aluk Todolo, halaman ini menjadi tempat
melangsungkan berbagai kegiatan ritual terutama dalam upacara kematian atau
pe-makaman jenasah. Kenyataan ini membuktikan adanya fungsi mejemuk dari
unsur-unsur ada di dalam arsitektur tradisional termasuk fungsi sosial. Dalam
kosmologi dari Aluk Todolo arah matahari tenggelam (barat) dipandang tempat
bersemayam arwah leluhur, sebagai arah kematian dan masa lampau. Ke-
mungkinan besar pandangan ini terbentuk karena selama puluhan tahun,
ratusan bahkan beberapa ribu tahun masyarakat Toraja tradisional selalu
"menyaksikan" tenggelamnya matahari yang berarti perubahan dari terang ke
gelap malam. Sebaliknya arah matahari tenggelam dipandang sebagai arah
kelahiran, masa datang karena terjadi perubahan dari gelap menjadi terang.
Arah matahari terbit dalam Aluk Todolo dipandang sebagai tempat
bersemayam tiga Dewa (Deata) yang ketiganya berkaitan dengan kehidupan
dan pemelihara bumi.

III.4.2 Bentuk Dan Konsturksi Tongkonan


Tongkonan merupakan unit untuk tidur, istirahat, memasak dan makan
atau, yang berbentuk segi empat panjang dengan sisi panjang berada pada arah

58
matahari terbit dan tenggelam. Dalam lingkungan Desa adat dibahas di sini sisi
terpendek yang berada di depan dan belakang, berukuran bervariasi antara 3-4
M. Lebar dibanding panjang bervariasi antara 1 : 2 hingga satu dibanding 2, 5,
jadi panjang sekitar 8 M hingga 10 M.

Gambar III.9 Bentuk Dan Konsturksi Tongkonan (Yulianto Sumalyo, 2001)


Tongkonan selalu berbentuk kolong, hanya bervariasi pada tinggi rendah.
Konstruksi kolom dan balok dari kayu mem-bentuk elemen horizontal dan
vertikal, merupakan ciri umum dari arsitektur tradisional lambang dari ikatan
antara manusia dan alam. Dari segi konstruksi, jumlah dan besaran kolom dapat
disebut over design, artinya terlalu kuat untuk menyangga bagian di atasnya.
Seperti terdapat dalam banyak hal rumah tradisional, secara jelas tongkonan
terbagi tiga di mana terlihat sebagai menifestasi dari kosmologi adanya dunia atas,
dunia tengah dan dunia bawah. Selain itu terlihat jelas adanya personifikasi rumah
terdiri dari kepala, badan dan kaki. Bagian-bagian dari konstruksi hingga detail
dan kecil mempunyai sebutan baku, juga sebagai ungkapan adanya personifikasi di
mana rumah seperti manusia juga mempunyai bagianbagian dengan sebut-an dan
fungsi masingmasing belakang ada yang disebut a'riri (tonggak) posi (pusat)
dihias dan diukir berbeda dengan lainnya. A'riri posi yang artinya adalah
tonggakpusat, dalam adat Toraja lambang dari menyatunya manusia dengan
bumi. Biasanya berukuran 22x22 Cm, dibagian atas sedikit mengecil sekitar
20x20 Cm.

59
DAFTAR PUSTAKA
Amirrudin, A. (2013) : Laporan Tugas Akhir Perancangan Kembali Terminal
Patria. (2018), https://anzdoc.com/bab-i-pendahuluan-llaporan-tugas-akhir-
perancangan-kembali-t.html, 10 – 13

Badan Pusat Statistik. (2018) : Toraja Utara Dalam Angka 2018, BPS Toraja
Utara.

Badan Pusat Statistik. (2018) : Kecamatan Tallunglipu Dalam Angka 2018, BPS
Kec, Tallunglipu.

Neufert Ernst, (2002) : Data Arsitek Jilid 2/Neufert Ernst, ahlibahasa sunarto
tjahjadi,ferryantochaidir,editor.Wibihardani--cet.1.--jakarta:erlangga.

Ratihsalain. (2017) : Paham Arsitektur Neo Vernakular Di Era Post Modern,


(2017), https://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:qz-Cj4-
YnuUJ:https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_penelitian_1_dir/fc8ed1bfd28
4a5f60d0c2f989863ebb8.pdf+&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id.

Isma, F. (2012) : Makalah transportasi darat,


https://www.slideshare.net/FaizIsma1/makalah-transportasi-darat

Sumalyo, Y. (2001) : KOSMOLOGI DALAM ARSITEKTUR TORAJA,


http://ahluldesigners.blogspot.com/2012/08/arsitektur-neo-vernakular-
a.html.

Zikri, A. (2012) : Arsitektur Neo-vernakular,


http://ahluldesigners.blogspot.com/2012/08/arsitektur-neo-vernakular-
a.html.

60