You are on page 1of 8

Hubungan Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) Dini dengan Diare

pada Bayi Usia 2-6 Bulan di Puskesmas dan Posyandu di Wilayah Sekip
Palembang

Kms. Virhan Dwi Firondy1, Hasri Salwan2, Nyayu Fauziah Zen3

1. Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya


2. Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya, RSMH Palembang
3. Departemen Biologi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya, RSMH Palembang
Jl. Jendral Sudirman Km. 3,5, Palembang, Indonesia

E-mail: virhandwi@gmail.com

Abstrak

Pendahuluan: Diare masih menjadi masalah kesehatan utama karena morbiditas dan mortalitasnya yang cukup tinggi
terutama pada bayi. Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) dini berperan terhadap terjadinya diare karena bayi
mengonsumsi ASI lebih sedikit dari biasanya dan menyebabkan bayi kekurangan faktor imunitas. Perlu dilakukan
penelitian untuk melihat hubungan antara pemberian MPASI dini dan diare pada bayi.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Populasi penelitian
adalah semua bayi berusia 2-6 bulan yang datang ke puskesmas dan posyandu di wilayah Sekip Palembang pada bulan
November sampai Desember 2015. Metode consecutive sampling digunakan untuk memilih ibu yang akan mengisi
kuesioner. Kriteria inklusi penelitian adalah bayi berusia 2-6 bulan, orang tua bayi mengingat riwayat diare dalam dua
bulan terakhir, dan bersedia mengisi kuesioner. Kriteria eksklusi penelitian adalah bayi mendapatkan susu formula dini
dan memiliki riwayat operasi pada saluran pencernaan. Data dianalisis dengan menggunakan Uji Chi Square untuk
melihat hubungan pemberian MPASI dini dengan diare.
Hasil: Dari 110 bayi, didapatkan 23 bayi (20,9%) telah mendapatkan MPASI dini. Dari 23 bayi yang mendapat MPASI
dini, 15 bayi (65,2%) memiliki riwayat diare. Dari analisis bivariat dengan Uji Chi Square didapatkan hubungan yang
bermakna antara MPASI dini dan diare (p=0,000; OR=18,516; CI 95%=6,013-37,019).
Simpulan: Bayi yang mendapatkan MPASI dini beresiko 18 kali untuk mengalami diare daripada bayi yang tidak
mendapatkan MPASI dini.

Kata Kunci: MPASI, diare, bayi

Abstract

Background: Diarrhea is still a major health problem due to its high morbidity and mortality, especially in infants.
Early introduction of complementary foods contribute to the occurence of diarrhea because the infants consumed less
breast milk and had immunity factor deficiency. Based on the fact, it’s necessary to conducted a study about the
relationship between early introduction of complementary foods and diarrhea in infants.
Method: This is an analytic observational study with cross sectional design. The population is all infants aged 2-6
months who come to the public health centers (puskesmas) and posyandu at Sekip Region in November and December
2015. Consecutive sampling method is used to choose the mother who will fill the questionnaire. Inclusion criteria for
the study are infants aged 2-6 months, parents knows the history of diarrhea in the last two months, and willing to fill
out a questionnaire. Exclusion criteria for the study are infants receive infant formula early and had a history of surgery
on the digestive tract. Data were analyzed using Chi Square Test to see the relationship between early introduction of
complementary foods and diarrhea in infants.
Result: Among 110 infants, obtained 23 infants (20.9%) who got complementary foods early. Among the 23 infants
who received complementary foods early, 15 of them (65.2%) had a history of diarrhea. Bivariate analysis using chi
square test shows that there is a significant relationship between early introduction of complementary foods and
diarrhea (p=0,000; OR=18,516; CI 95%=6,013-37,019).
Conclusion: Infants who got complementary food early has 18 greater risk to have diarrhea than infants who didn’t.

Keywords: complementary foods, diarrhea, infants


Pendahuluan dibawah 6 bulan. Menurut data Riskesdas
2013, persentase cakupan pemberian ASI
Definisi diare menurut WHO adalah eksklusif pada bayi 0-6 bulan secara nasional
kondisi bertambahnya frekuensi buang air sebesar 54,3%, sedangkan yang tidak
besar hingga tiga kali bahkan lebih perharinya mendapat ASI eksklusif sebanyak 45,7%. Di
dan diikuti dengan perubahan konsistensi tinja Sumatera Selatan, cakupan pemberian ASI
menjadi lebih cair. Diare biasanya merupakan eksklusif sebesar 63,9%, sedangkan yang
gejala dari terjadinya infeksi pada saluran tidak mendapat ASI eksklusif sebesar 36,1%6.
pencernaan disebabkan oleh berbagai Pemberian MPASI yang terlalu cepat
patogen, yakni bakteri, virus, dan protozoa1. bisa menimbulkan kerugian karena membuat
Kasus diare pada anak-anak bawah usia bayi mengonsumsi ASI lebih sedikit sehingga
5 tahun secara global diperkirakan sekitar 1,7 bayi kekurangan faktor imunitas yang
milyar dan sekitar 760.000 anak meninggal terdapat dalam ASI. Hal ini ditambah dengan
akibat diare setiap tahunnya2. Di Indonesia, kemungkinan MPASI sebagai sumber
diare masih menjadi permasalahan kesehatan kontaminasi bagi bayi. Pengenalan dini
yang utama karena morbiditas dan makanan yang dalam penyiapannya yang
mortalitasnya yang cukup tinggi. Hasil survey kurang higienis menyebabkan bayi mudah
mortalitas Riskesdas 2007 menunjukkan diare terinfeksi organisme asing, terutama pada
menjadi penyebab pertama kematian pada bayi yang mendapatkan MPASI dini,
bayi usia 29 hari sampai 11 bulan yaitu sehingga bisa memicu terjadinya diare7.
sebesar 31,4% dan diikuti oleh pneumonia Berdasarkan fakta tingginya angka
sebesar 23,8%3. kejadian diare pada balita dan pemberian
Banyak faktor resiko yang dapat MPASI dini sebagai salah satu faktor resiko
menyebabkan seorang balita mengalami diare, terjadinya diare, perlu dilakukan penelitian
seperti sanitasi lingkungan yang buruk, untuk melihat adakah hubungan pemberian
kurangnya kesadaran keluarga terhadap MPASI dini dan kejadian diare pada anak.
perilaku hidup bersih dan sehat, kurangnya
persediaan air bersih, dan pemberian nutrisi Metode Penelitian
yang salah pada anak4. Nutrisi merupakan
faktor penting yang menentukan kesehatan Jenis penelitian yang dilakukan adalah
seorang anak. Dalam rangka menurunkan penelitian observasional analitik dengan
angka kesakitan dan kematian anak, WHO pendekatan cross sectional. Penelitian
merekomendasikan pemberian ASI eksklusif dilakukan pada bulan November-Desember
yang diberikan selama 6 bulan pertama 2015 di Puskesmas Sekip dan posyandu di
kehidupan bayi. ASI mengandung banyak zat wilayah kerja Puskesmas Sekip Palembang.
gizi yang dibutuhkan bayi, terutama dalam 6 Populasi penelitian adalah seluruh bayi usia
bulan pertama kehidupan dengan tujuan untuk 2-6 bulan yang datang ke tempat penelitian.
mencapai pertumbuhan dan perkembangan Penelitian menggunakan 110 sampel bayi
yang optimal. Selain itu, ASI tidak yang dipilih melalui teknik consecutive
mengalami kontaminasi dan mengandung sampling. Kriteria inklusi penelitian adalah
berbagai faktor proteksi terhadap penyakit. bayi berusia 2-6 bulan, orang tua bayi
Setelah melewati 6 bulan, ASI tidak bisa lagi mengingat riwayat diare dalam dua bulan
mencukupi kebutuhan bayi sehingga perlu terakhir, dan bersedia mengisi kuesioner.
diberikan Makanan Pendamping ASI Kriteria eksklusi penelitian adalah bayi
(MPASI) bersamaan dengan pemberian ASI mendapatkan susu formula dini dan memiliki
yang tetap dilakukan hingga usia 2 tahun5. riwayat operasi pada saluran pencernaan.
Di Indonesia, MPASI sering diberikan Pengumpulan data dilakukan melalui
terlalu cepat yaitu ketika usia bayi masih wawancara dan pengisian kuesioner.
Data yang diperoleh dari hasil pengisian kelamin laki-laki (62,7%), dan berstatus gizi
kuisioner diolah dan ditampilkan dalam baik (75,5%).
bentuk tabel. Variabel yang diteliti adalah
riwayat pemberian MPASI dini dan riwayat Tabel 2. Karakteristik Ibu/Wali Subjek Penelitian
diare pada bayi. Data dianalisis dengan
Persentase
menggunakan Uji Chi Square untuk melihat Variabel Frekuensi
(%)
apakah terdapat hubungan antara pemberian Usia ibu/wali
MPASI dini dan diare pada bayi. Setelah 20-22 tahun 1 0,9
menganalisis hubungan diantara kedua 23-25 tahun 17 15,5
variabel, dilakukan pula penghitungan odd 26-28 tahun 25 22,7
29-31 tahun
ratio. 34 30,9
32-34 tahun 19 17,3
Peneliti juga menganalisis beberapa 35-37 tahun 6 5,5
faktor lain yang bisa berpengaruh terhadap 38-40 tahun 7 6,4
terjadinya diare, seperti pendapatan perbulan 41-43 tahun 1 0,9
orang tua dan status gizi bayi. Analisis Pekerjaan Ibu
Ibu Rumah Tangga
multivariate dilakukan dengan uji regresi 64 58,2%
Swasta 26 23,6%
logistik biner untuk mengetahui variabel PNS 20 18,2%
mana yang paling berpengaruh terhadap Pendapatan Perbulan
terjadinya diare pada bayi. Rendah 35 31,8%
Cukup 75 68,2%
Hasil Penelitian
Tabel 2 menunjukkan dari 110 ibu
Karakteristik Responden bayi yang mengunjungi Puskesmas Sekip dan
Setelah dilakukan pengumpulan data, posyandu di wilayah kerja Puskesmas Sekip
didapatkan 110 subjek penelitian yang Palembang pada bulan November-Desember
memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi 2015, paling banyak berusia 29 sampai 31
sebagai sampel penelitian. Karakteristik tahun (30,9%), bekerja sebagai ibu rumah
responden dapat dilihat pada tabel dibawah. tangga (58,2%), dan berpendapatan perbulan
cukup (68,2%).
Tabel 1. Karakteristik Bayi Subjek Penelitian

Variabel Frekuensi (n) Persentase (%) Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan


Usia Riwayat Pemberian MPASI
2 bulan 24 21,8
3 bulan Riwayat MPASI Frekuensi Persentase (%)
28 25,5
4 bulan 19 17,3 Tidak MPASI dini 87 79,1
5 bulan 23 20,9 MPASI dini 23 20,9
6 bulan 16 14,5 Total 110 100.0
Jenis Kelamin
Laki-laki 69 62,7%
Perempuan 41 37,3% Tabel 3 menunjukkan sebagian besar bayi
Status Gizi 79,1% belum pernah mendapatkan MPASI
Gizi Kurang 27 24,5% dini.
Gizi Baik 83 75,5%
Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan
Tabel 1 menunjukkan dari 110 bayi yang Riwayat Diare
mengunjungi Puskesmas Sekip dan posyandu
di wilayah kerja Puskesmas Sekip Palembang Riwayat Diare Frekuensi (n) Persentase (%)
pada bulan November-Desember 2015, paling Tidak diare 87 79,1
banyak berusia 3 bulan (25,5%), bayi berjenis Diare 23 20,9
Total 110 100.0
Tabel 4 menunjukkan sebagian besar Tabel 6. Analisis Faktor-Faktor Lain yang
bayi (79,1%) belum pernah mengalami diare Mempengaruhi Kejadian Diare
dalam dua bulan terakhir.
Diare
Hubungan Pemberian MPASI Dini dan P
Ya Tidak Jumlah
Diare value
Analisis untuk mengetahui adakah Rendah 10 25 35
Pendapatan
hubungan antara pemberian MPASI dini dan 0,177
perbulan
diare pada bayi dilakukan dengan Uji Chi Cukup 13 62 75
Square. Hasil analisis bivariat dapat dilihat Kurang 12 15 27
pada tabel 5. Status Gizi 0,001
Baik 11 72 83
Tabel 5. Hubungan Pemberian MPASI Dini dan
Diare pada Bayi
Berdasarkan hasil analisis bivariat
mengenai hubungan pendapatan perbulan
Diare
orang tua dan diare pada bayi, didapatkan
P nilai p=0,177. Nilai p yang didapat memiliki
Ya Tidak Jumlah
value angka lebih dari p=0,05. Hal ini menunjukkan
MPASI Ya 15 8 23 bahwa secara statistik tidak ada hubungan
0,000
Dini Tidak 8 79 87 antara pendapatan perbulan orang tua dan
Jumlah 23 87 110 diare pada bayi usia 2-6 bulan.
Keterangan: Berdasarkan hasil analisis bivariat
OR=18,519 mengenai hubungan status gizi bayi dan diare,
CI 95%=6,013-37,019 didapatkan nilai p=0,001. Nilai p yang
didapat memiliki angka kurang dari p=0,05.
Berdasarkan hasil analisis bivariat
Hal ini menunjukkan berarti secara statistik
dengan uji chi square, didapatkan nilai
ada hubungan antara status gizi bayi dan diare
p=0,000. Nilai p yang didapat memiliki angka
pada bayi usia 2-6 bulan. Hasil analisis juga
kurang dari p=0,05. Hal ini menunjukkan
menunjukkan angka Odd Ratio sebesar 5,236
bahwa hipotesis 0 ditolak, yang berarti secara
(CI 95%: 1,947-14,083). Hal ini berarti bahwa
statistik ada hubungan antara pemberian
bayi dengan status gizi kurang mempunyai
MPASI dini dan diare pada bayi usia 2-6
resiko 5,236 kali lebih besar untuk mengalami
bulan.
diare dibandingkan dengan bayi dengan status
Hasil analisis juga menunjukkan
gizi baik/lebih.
angka Odd Ratio (OR) sebesar 18,516. Hal ini
berarti bahwa bayi yang mendapatkan MPASI
Analisis Multivariat
dini mempunyai resiko 18,516 kali lebih besar
Analisis multivariat dilakukan untuk
untuk mengalami diare dibandingkan dengan
mengetahui variabel yang paling berpengaruh
bayi yang tidak mendapatkan MPASI dini.
terhadap terjadinya diare pada bayi usia 2-6
Faktor-Faktor Lain yang Mempengaruhi bulan di Puskesmas Sekip dan posyandu di
Kejadian Diare pada Bayi wilayah Sekip Palembang.
Selain menganalisis hubungan Analisis menggunakan uji logistic
pemberian MPASI dini dan diare, peneliti biner dengan metode backward:LR
juga menganalisis beberapa faktor lain yang membuang secara otomatis variable yang
bisa berpengaruh terhadap terjadinya diare, tidak bermakna. Hasil analisis multivariate
seperti pendapatan perbulan orang tua dan dapat dilihat pada Tabel 7.
status gizi bayi.
Tabel 7. Analisis Multivariat Kementerian Kesehatan RI bahwa cakupan
ASI eksklusif di Sumatera Selatan cukup
Variabel Sig. Exp(B) B
tinggi6. Penyuluhan masih tetap harus
Langkah MPASI Dini 0,000 23,292 3,148 dilakukan dengan tujuan untuk menurunkan
1 frekuensi pemberian MPASI dini dan untuk
Status Gizi 0,019 4,445 1,492
meningkatkan cakupan ASI eksklusif.
Pendapatan 0,051 3,768 1,327
Hasil analisis univariat pada tabel 4
orang tua
Konstanta 0,002 0,004 -5,460
menunjukkan dari 110 responden, sebagian
besar bayi belum pernah mengalami diare
Tabel di atas menunjukkan hasil dalam dua bulan terakhir, namun sebanyak 23
analisis multivariat regresi logistik. Pada bayi sudah pernah mengalami diare. Diare
langkah 1 terdapat variabel pendapatan memang rentan terjadi terutama dalam 2
perbulan, status gizi bayi, dan pemberian tahun pertama kehidupan. Hal ini disebabkan
MPASI dini yang secara statistik berpengaruh oleh masih kurangnya sistem imun pada bayi.
terhadap diare pada bayi. Beberapa enteropatogen merangsang sistem
Hasil analisis menunjukkan bahwa kekebalan untuk melawan infeksi berulang
pemberian MPASI dini merupakan variabel sehingga insidensi penyakit diare semakin
yang paling berpengaruh terhadap terjadinya menurun seiring usia8.
diare pada bayi usia 2-6 bulan di Puskesmas
Sekip dan posyandu di wilayah Sekip Hubungan Pemberian MPASI Dini dan
Palembang. Diare
Hasil analisis multivariat dapat Hasil pengolahan data pada tabel 5
disimpulkan dalam model berikut. menunjukkan nilai p yang didapat sebesar 0,000
yang berarti terdapat hubungan antara pemberian
Y= -5,460 + 3,148 Riwayat MPASI dini + 1,492
MPASI dini dan diare pada bayi. Hal ini sejalan
Status Gizi + 1,327 Pendapatan dengan penelitian Zulfikar (2014)9.
Pemberian MPASI dini berperan
orang tua terhadap terjadinya penyakit infeksi pada
Keterangan:
Y= kejadian diare bayi, seperti diare10. Banyak faktor yang
Riwayat MPASI dini, dengan nilai: menyebabkan diare pada bayi yang mendapat
1 untuk MPASI dini MPASI dini. MPASI sering terkontaminasi
0 utnuk tidak MPASI dini saat diberikan pada bayi sehingga bisa
Status Gizi, dengan nilai: menjadi sumber masuknya patogen. Terlebih
1 untuk status gizi kurang lagi, bayi yang berusia dibawah 6 bulan
0 untuk status gizi baik sistem pencernaannya bersifat lebih
Pendapatan orang tua, dengan nilai: permeabel sehingga lebih mudah dimasukki
1 untuk pendapatan orang tua rendah patogen asing. Selain itu, pemberian MPASI
0 untuk pendapatan orang tua cukup sebelum waktunya dapat membuat bayi
mengonsumsi ASI lebih sedikit. Konsumsi
Pembahasan ASI yang kurang menyebabkan bayi tidak
mendapatkan faktor imunitas yang terdapat
Distribusi Responden berdasarkan dalam ASI sehingga bayi mudah terpapar
Riwayat MPASI dan Diare infeksi yang dapat menyebabkan diare7.
Hasil analisis univariat pada tabel 3
menunjukkan dari 110 responden, sebagian Hubungan Pendapatan Perbulan dan
besar bayi masih mendapatkan ASI eksklusif, Diare
namun sebanyak 23 bayi sudah mendapatkan Hasil pengolahan data pada tabel 6
MPASI dini. Hal ini sesuai dengan data menunjukkan nilai p yang didapat sebesar
0,177 yang berarti tidak ada hubungan antara 1. Dari 110 bayi yang menjadi subjek
pendapatan perbulan dan diare pada bayi. penelitian, sebanyak 87 bayi (79,1%)
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian tidak mendapatkan MPASI dini dan 23
yang dilakukan Hajar, Pajeriaty, dan bayi (20,9%) sudah mendapatkan MPASI
Darmawan (2011) yang juga menyatakan dini.
tidak ada hubungan antara pendapatan 2. Dari 110 bayi yang menjadi subjek
perbulan dan kejadian diare pada bayi11. penelitian, sebanyak 87 bayi (79,1%)
Namun, hasil penelitian ini berbeda dengan belum pernah mengalami diare dalam dua
hasil penelitian Atussoleha (2012) yang bulan terakhir dan 23 bayi (20,9%) sudah
menyatakan ada hubungan terbalik antara pernah diare.
status ekonomi dan diare pada bayi12. 3. Terdapat hubungan antara pemberian
Orang tua yang memiliki pendapatan MPASI dini dan diare pada bayi usia 2-6
perbulan yang cukup mudah untuk memenuhi bulan dengan nilai p=0,000 pada uji chi
kebutuhan sandang, pangan, papan, dan square. Hasil analisis juga menunjukkan
pelayanan kesehatan yang baik. Status nilai Odd Ratio sebesar 18,516 yang
ekonomi keluarga berdampak pada berarti bahwa bayi yang mendapatkan
pemenuhan kebutuhan kehidupan seperti air MPASI dini lebih beresiko 18,516 kali
bersih dan kondisi lingkungan rumah12. untuk menderita diare daripada bayi yang
Perbedaan hasil penelitian bisa terjadi karena tidak mendapatkan MPASI dini
mungkin keluarga dengan pendapatan 4. Hasil analisis multivariat menunjukkan
perbulan yang cukup memiliki pemenuhan bahwa pemberian MPASI dini
kebutuhan yang lebih banyak daripada merupakan faktor yang paling
keluarga yang memiliki penghasilan rendah. berpengaruh terhadap terjadinya diare
pada bayi dibandingkan dengan status
Hubungan Status Gizi Bayi dan Diare gizi bayi kurang dan pendapatan perbulan
Hasil pengolahan data pada tabel 6 orang tua rendah.
menunjukkan nilai p yang didapat sebesar
0,001 yang berarti terdapat hubungan antara Daftar Acuan
status gizi bayi dan diare pada bayi. Hasil
penelitian ini sejalan dengan penelitian 1. Alnawajha SK, Bakry GA, and
Shintamurniwaty (2006)13. Penelitian Aljeesh YI. Predictor of Acute
Atussoleha (2012) juga menunjukkan adanya Diarrhoea among Hospitalized
hubungan terbalik antara status gizi bayi dan Children in Gaza Governorates: A
diare dengan nilai Odd Ratio sebesar 5,812. Case-Control Study. Journal of
Pada bayi yang mengalami kurang Health, Population, and Nutrition.
gizi, serangan diare terjadi lebih sering. Hal (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed
ini dikarenakan penurunan daya tahan tubuh. ). 2015. 33(1): 1-8
Keadaan gizi kurang juga dapat menimbulkan
2. Shahnawaz K, Kumar S, Choudhary,
efek buruk terhadap struktur usus halus
Sarker G, Kumar L. Diarrhoea and
berupa menipisnya dinding usus dan atrofi
mukosa12. Sanitation Practices in Children: a
Study from Kishanganj District, Bihar.
Kesimpulan International Journal of Scientific
Study. (http://www.ijss-sn.com). 2014
Berdasarkan penelitan yang dilakukan 3. Agtini MD. Morbiditas dan Mortalitas
pada bayi usia 2-6 bulan di Puskesmas Sekip Diare pada Balita di Indonesia Tahun
dan posyandu di wilayah kerja Puskesmas 2000-2007. Dalam: Muliadi, M.,
Sekip Palembang, dapat disimpulkan: E.V.Manullang., Khairani,
W.Widiantini, dan N.J. Mulyanto dengan Angka Kejadian Diare pada
(Editor). Situasi Diare di Indonesia. Bayi usia 0-6 Bulan di Kabupaten
Kementerian Kesehatan Republik Merauke. Skripsi Sarjana. Fakultas
Indonesia, Jakarta, Indonesia. 2011. Kedokteran Universitas
Hal.26-33 Muhammadiyah, Yogyakarta,
4. Agustina R, Sari TP, Sastoamidjojo S, Indonesia. 2014.
Bovee-Oudenhoven IMJ, Feskens 10. Santos FS, Santos FCS, Santos LHD,
EJM, Kok FJ. Association of Food Leite AM, Mello DFD. Breastfeeding
Hygiene Practices and Diarrhea and Protection Against Diarrhea: an
Prevalence Among Indonesian Young Integrative Review of Literature.
Children from Low Socioeconomic (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed
Urban Areas. BMC Public ). 2014.
Health.(http://www.ncbi.nlm.nih.gov/ 11. Hajar I, Pajeriaty, Darmawan S.
pubmed)2013. Analisis Faktor-Faktor yang
5. Monte CHG, Giugliani ERJ. Berhubungan Dengan Kejadian Diare
Recommendations for The pada Balita di Desa Mattiro
Complementary Feeding of The Dolangeng Wilayah Puskesmas
Breastfed Child. Jornal de Liukang Tupabbiring Kabupaten
Pediatria.(http://www.ncbi.nlm.nih.go Pangkep. Universitas Hasanuddin,
v/pubmed). 2004. 80(5). Makassar, Indonesia. 2013.
6. Kementerian Kesehatan Republik 12. Atussoleha MI. Hubungan Antara
Indonesia. Situasi dan Analisis ASI Status Gizi, ASI Eksklusif, dan Faktor
Eksklusif. 2014. Hal. 1-6. Lain Terhadap Frekuensi Diare pada
7. Turin CG, Ochoa TJ. The Role of Anak Usia 10-23 Bulan di Puskesmas
Maternal Breast Milk in Preventing Tugu, Depok Tahun 2012. Skripsi
Infantile Diarrhea in the Developing Sarjana. Fakultas Kesehatan
World. NIH Public Access., Masyarakat, Universitas Indonesia,
(http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed Indonesia. 2012.
). 2014. 1(2): 97-105 13. Shintamurniwaty. Faktor-Faktor
8. Subagyo B, Santoso NB. Diare Akut.
Resiko Kejadian Diare Akut pada
Dalam: Juffrie, M (Editor). Buku Ajar
Balita (Studi Kasus di Kabupaten
Gastoenterologi-Hepatologi. IDAI,
Semarang). Tesis. Magister
Jakarta, Republik Indonesia. 2009.
Epidemiologi, Universitas
9. Zulfikar, R. Hubungan Pemberian
Diponegoro, Semarang,
Makanan Pendamping ASI (MPASI)
Indonesia.2006.
BIODATA PENULIS

Penulis I
Nama : Kms. Virhan Dwi Firondy
NIM : 04121001011
Tempat tanggal Lahir : Palembang, 22 September 1995
Jenis kelamin : Laki-laki
No Telepon/ Hp : 089680943420
E-mail : virhandwi@gmail.com
Jurusan : Pendidikan Dokter Umum

Penulis II
Nama : dr. Hasri Salwan, Sp.A (K)
NIP : 196701231996031003
Jenis Kelamin : Laki-laki
No Telepon/ Hp : 08153841607
E-Mail :-
Departemen : Ilmu Kesehatan Anak

Penulis III
Nama : dr. Nyayu Fauziah Zen, M.Kes
NIP : 195101281983032001
Jenis Kelamin : Laki-laki
No Telepon/ Hp : 085382268765
E-Mail :-
Departemen : Biologi Kedokteran