You are on page 1of 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Jaringan saraf merupakan jaringan komunikasi yang terdiri dari jaringan


sel-sel khusus dan dibedakan menjadi dua, sel neuron dan sel neoroglia. Sel
neuron adalah sel saraf yang merupakan suatu unit dasar dari sistem saraf. Sel ini
bertugas melanjutkan informasi dari organ penerima rangsangan kepusat susunan
saraf dan sebaliknya.
Adapun Jaringan saraf terdiri dari 3 komponen yang mempunyai struktur
dan fungsi yang berbeda, yaitu sel saraf (neuron) yang mampu menghantarkan
impuls, sel Schwann yang merupakan pembungkus kebanyakan akson dari sistem
saraf perifir dan sel penyokong (neuroglia) yang merupakan sel yang terdapat
diantara neuron dari sistem saaf pusat. Oleh karena itu saraf dari sistem saraf
perifiritu di bangun oleh neuron dan sel schwann, sedangkan traktus yang terdapat
diotak dan susm-sum tulang belakang dibentuk oleh neuron dan neuroglia.
Untuk mengetahui perubahan-perubahan listrik didalam saraf, perlu
diketahui dulu sifat-sifat akson. Akson dari kebanyakan hewan mamalia
umumnya relatif kecil, untuk itu didalam percobaan digunakan akson raksasa
yang terdapat pada hewan invertebrat seperti cumi-cumi dan gurita. Berbagai
bangunan yang dapat ditemukan dalam sistem saraf hewan yaitu otak, serabut
saraf, plektus, dan ganglia. Serabut saraf yaitu kumpulan akson dari sejumlah sel
saraf baik sejenis maupun tidak sejenis. Contoh serabut yang sejenis adalah
serabut eferen, serabut campuran contohnya adalah campuran antara sejumlah
akson dari sel saraf motorik dan sensorik. Apabila rangsangan dengan kekuatan
tertentu diberikan kepada membran sel saraf, membran akan mengalami
perubahan elektrokimia dan perubahan fisiologis. Perubahan tersebut berkaitan
dengan adanya perubahan permeabilitas membran yang menyebabkan terjadinya
permiabel tehadap Na+ dan sangat kurang permiabel terhadap K+.

1
Depolarisasi yang timbul hanya pada bagian yang dirangsang dinamakan
depolarisasi lokal. Pada bagian tersebut terbentuk arus lokal. Apabila rangsangan
yang diberi cukup kuat, arus lokal yang timbul pada membran yang
terdepolarisasiakan merangsang membran disebelahnya yang masih dalam
keadaan istirahat, sehingga sebagian membran tersebut akan ikut terdepolarisasi.
Peristiwa ini menunjukkan penjalaran impuls. Depolarisasi adalah nilai potensial
aksi yang terjadi akibat adanya rangsangan. Bagian otak depan terakhir adalah
telensefalon, telah mengalami perubahan sangat besar selama evolusi vertebrata.
Pada ikan dan amphibi, telensefalon lebih dari sekedar suatu penciuman, tapi
dapat juga menerima input dari bulbus olfaktori. Suatu refleks adalah setiap
respon yang terjadi secara otomatis tanpa disadari. Oleh karena itu, penulis akan
memfokuskan pembahasan mengenai obat-obat gangguan neurologi (saraf).

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka
dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apa susunan sistem saraf ?
2. Apa obat perangsang sistem saraf ?
3. Bagaimana klasifikasi sistem saraf ?
4. Bagaimana jenis obat-obat sistem saraf pusat & mekanisme kerjanya
?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Menjelaskan tentang susunan sistem saraf
2. Menjelaskan tentang obat perangsang sistem saraf
3. Menjelaskan tentang klasifikasi sistem saraf
4. Menjelaskan tentang jenis obat-obat sistem saraf pusat &
mekanisme kerjanya

2
1.4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui tentang susunan sistem saraf
2. Mengetahui tentang obat perangsang sistem saraf
3. Mengetahui tentang klasifikasi sistem saraf
4. Mengetahui tentang jenis obat-obat sistem saraf & mekanisme
kerjanya

3
BAB II
PEMBAHASAN

Obat sistem persyarafan


A. Pengertian susunan saraf
Susunan saraf pusat berkaitan dengan sistem saraf manusia yang
merupakan suatu jaringan saraf yang kompleks, sangat khusus dan saling
berhubungan satu dengan yang lain. Fungsi sistem saraf antara lain :
mengkoordinasi, menafsirkan dan mengontrol interaksi antaraindividu
dengan lingkungan sekitarnya.
Stimulan sistem saraf pusat (SSP) adalah obat yang dapat
merangsang serebrum medulla dan sumsum tulang belakang. Stimulasi
daerah korteks otak-depan oleh se-nyawa stimulant SSP akan
meningkatkan kewaspadaan, pengurangan kelelahan pikiran dan
semangat bertambah. Contoh senyawa stimulan SSP yaitu kafein dan
amfetamin
Sistem saraf dapat dibagi menjadi sistem saraf pusat atau sentral
(SPP) adalah pusat pengolahan pada system saraf dan sistem saraf tepi
(SST) adalah bagian dari system saraf manusia yang tediri dari system
saraf somatik(system saraf sadar) dan system saraf otonom(system saraf
tak sadar). Sistem saraf sadar berfungsi untuk mengontrol segala aktivitas
yang kerjanya dikendalikan oleh otak, dan system syaraf tak sadar
berfungsi untuk mengontrol segala aktivitas yang tidak dapat diatur oleh
otak seperti denyut jantung, gerakan saluran pencernaan, dan sekresi
keringat. Pada sistem syaraf pusat, rangsang seperti sakit, panas, rasa,
cahaya, dan suara mula-mula diterima oleh reseptor, kemudian dilanjutkan
ke otak dan sumsum tulang belakang. Rasa sakit disebabkan oleh
perangsangan rasa sakit diotak besar. Sedangkan analgetik
narkotik menekan reaksi emosional yang ditimbulkan rasa sakit tersebut.
Sistem syaraf pusat dapat ditekan seluruhnya oleh penekan saraf pusat
yang tidak spesifik, misalnya sedatif hipnotik.Obat yang dapat merangsang
SSP disebut analeptika.

B. Klasifikasi obat system saraf pusat


Obat yang bekerja terhadap SPP dapat dibagi dalam beberapa golongan
besar yaitu :
a. Perangsang system saraf pusat, seperti amfetamin
b. Penekan system saraf pusat seperti sedatif hipnotik dan anestesi
c. Analgenik-Antipiretik, termasuk Analgenik Narkotik dan
Nonnarkotika

4
d. Anti konvulsi
e. Psikofarmaka

1. Obat perangsang sistem saraf

a. Amfetamin

Amfetamin adalah obat yang bisa digunakan untuk mengobati


gangguan hiperaktif atau disebut juga dengan attention deficit
hyperactivity disorder (ADHD). Obat yang masuk ke dalam
kelompok stimulan sistem saraf pusat ini mampu menurunkan
tingkat kegelisahan dan meningkatkan daya konsentrasi pada
pasien yang terlalu aktif, impulsif, mudah terganggu
konsentrasinya, atau sulit untuk fokus dalam waktu yang lama.
Amfetamin juga bisa digunakan untuk mengobati narkolepsi atau
gangguan tidur yang mengakibatkan penderita tidur secara tiba-tiba
tanpa mengenal waktu dan tempat. Selain gangguan hiperaktif dan
narkolepsi, obat ini juga bisa digunakan oleh penderita obesitas
dalam menurunkan berat badan.

Dosis Amfetamin
Berikut ini dosis amfetamin yang telah disesuaikan dengan umur
(penggunaan dilarang bagi usia yang tidak disebutkan):

Dosis dalam satuan


Kondisi Usia Pasien miligram (mg)

Dimulai dari 2,5 mg per


Anak usia 3-5 tahun hari.

5-10 mg per hari. Jika


diperlukan, dosis dapat
dinaikkan sampai 40 mg per
ADHD Usia 6 tahun hingga dewasa hari.

Harus disesuaikan oleh


Anak usia 6 tahun ke bawah resep dokter.

Anak usia 6-11 tahun Dimulai dari 5 mg per hari.

10 mg per hari. Jika


diperlukan, dosis dapat
dinaikkan sampai 60 mg per
Narkolepsi Anak usia 12 tahun hingga dewasa hari.

5
5-10 mg per hari. Jika
diperlukan, dosis dapat
Menurunkan berat badan dinaikkan sampai 30 mg per
pada obesitas Anak usia 12 tahun hingga dewasa hari.

Efek samping :
gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, perubahan kondisi
mental, dan berhalusinasi.

b. Metilfenidat
Indikasi : pengobatan depresi mental, pengobatan keracunan
depresan SSP, syndrom hiperkinetik pada anak.

Efek samping : insomnia, mual, iritabilitas, nyeri abdomen, nyeri


kepala, Tachicardia.

Kontraindikasi : hipertiroidisme, penyakit ginjal.

Farmakokinetik : diabsorbsikan melalui saluran cerna dan


diekskresikan melalui urin, dan waktu paruh plasma antara 1-2 jam.

Farmakodinamik : mula- mula :0,5 – 1 jam P : 1 – 3 jam, L : 4-8


jam.

Reaksi yang merugikan : takikardia, palpitasi, meningkatkan


hiperaktivitas.

Dosis pemberian :
Anak : 0.25 mg/kgBB/hr
Dewasa : 10 mg 3x/hr

c. Doksapram
Indikasi : perangsang pernafasan
Efek samping : hipertensi, tachicardia, aritmia, otot kaku, muntah.
Farmakokinetik : mempunyai masa kerja singkat dalam SSP.
Dosis : 0.5-1.5 mg/kgBB secara IV.

6
d. Kafein
Indikasi : menghilangkan rasa kantuk, menimbulkan daya pikir
yang cepat, perangsang pusat pernafasan dan fasomotor, untuk
merangsang pernafasan pada apnea bayi premature.

Efek samping : sukar tidur, gelisah, tremor, tachicardia, pernafasan


lebih cepat.

Kontraindikasi : diabetes, kegemukan, hiperlipidemia, gangguan


migren, sering gelisah (anxious).

Farmakokinetik : kafein didistribusikan keseluruh tubuh dan


diabsorbsikan dengan cepat setelah pemberian, waktu paruh 3-7
jam, diekskresikan melalui urin.

Reaksi yang merugikan : dalam jumlah yang lebih dari 500 mg akan
mempengaruhi SSP dan jantung.

Dosis pemberian : apnea pada bayi : 2.5-5 mg/kgBB/hr, keracunan


obat depresan : 0.5-1 gr kafein Na-Benzoat (Intramuskuler)

e. Barbiturat
Pertama kali diperkenalkan tahun 1963. Tiopental sekarang lebih
dikenal dengan nama sodium Penthotal, Thiopenal, Thiopenton
Sodium atau Trapanal yang merupakan obat anestesi umum
barbiturat short acting, tiopentol dapat mencapai otak dengan cepat
dan memiliki onset yang cepat (30-45 detik). Dalam waktu 1 menit
tiopenton sudah mencapai puncak konsentrasi dan setelah 5 – 10
menit konsentrasi mulai menurun di otak dan kesadaran kembali
seperti semula.9 Dosis yang banyak atau dengan menggunakan
infus akan menghasilkan efek sedasi dan hilangnya kesadaran.

Mekanisme kerja
Barbiturat terutama bekerja pada reseptor GABA dimana barbiturat
akan menyebabkan hambatan pada reseptor GABA pada sistem
saraf pusat, barbiturat menekan sistem aktivasi retikuler, suatu
jaringan polisinap komplek dari saraf dan pusat regulasi, yang
beberapa terletak dibatang otak yang mampu mengontrol beberapa
fungsi vital termasuk kesadaran. Pada konsentrasi klinis, barbiturat
secara khusus lebih berpengaruh pada sinaps saraf dari pada akson.
Barbiturat menekan transmisi neurotransmitter inhibitor seperti
asam gamma aminobutirik (GABA). Mekanisme spesifik

7
diantaranya dengan pelepasan transmitter (presinap) dan interaksi
selektif dengan reseptor (postsinap).

Dosis
Dosis yang biasanya diberikan berkisar antara 3-5 mg/kg. Untuk
menghindarkan efek negatif dari tiopental tadi sering diberikan
dosis kecil dulu 50-75 mg sambil menunggu reaksi pasien.

Efek samping
Efek samping yang dapat ditimbulkan seperti alergi, sehingga
jangan memberikan obat ini kepada pasien yang memiliki riwayat
alergi terhadap barbiturat, sebab hal ini dapat menyebabkan
terjadinya reaksi anafilaksis yang jarang terjadi, barbiturat juga
kontraindikasi pada pasien dengan porfiria akut, karena barbiturat
akan menginduksi enzim d-aminoleuvulinic acid sintetase, dan
dapat memicu terjadinya serangan akut. Iritasi vena dan kerusakan
jaringan akan menyebakan nyeri pada saat pemberian melalui I.V,
hal ini dapat diatasi dengan pemberian heparin dan dilakukan blok
regional simpatis.

2. Obat penekan sistem saraf


A. Obat Anestetik :
Obat anestetik adalah obat yang digunakan untuk menghilangkan
rasa sakit dalam bermacan-macam tindakan operasi.
a. Anestetik Lokal : Obat yang merintangi secara reversible
penerusan impuls-impuls syaraf ke SSP (susunan syaraf pusat)
pada kegunaan lokal dengan demikian dapat menghilangkan
rasa nyeri, gatal-gatal, panas atau dingin.
Penggunaan : Anestetik lokal umumnya digunakan secara
parenteral misalnya pembedahan kecil dimana pemakaian
anestetik umum tidak dibutuhkan. Anestetik lokal dibagi
menjadi 3 jenis :
1) anestetik permukaan, digunakan secara local untu
melawan rasa nyeri dan gatal, misalnya larutan atau
tablet hisap untuk menghilangkan rasa nyeri di mulut
atau leher, tetes mata untuk mengukur tekana okuler
mata atau mengeluarkan benda asing di mata, salep

8
untuk menghilangkan rasa nyeri akibat luka baka1r dan
suppositoria untuk penderita ambient/ wasir.
2) Anestetik filtrasi yaitu suntikan yang diberikan
ditempat yang dibius ujung-ujung sarafnya, misalnya
pada daerah kulit dan gusi.
3) Anestetik blok atau penyaluran saraf yaitu dengan
penyuntikan disuatu tempat dimana banyak saraf
terkumpul sehingga mencapai daerah anestesi yang luas
misalnya pada pergelangan tangan atau kaki.
Obat – obat anestetik local umumnya yang dipakai adalah garam
kloridanya yang mudah larut dalam air.
 Persyaratan anestetik lokal :
Anestetik local dikatakan ideal apabila memiliki beberapa
persyaratan sebagai berikut:
a. tidak merangsang jaringan
b. tidak mengakibatkan kerusakan permanen terhadap
susunan saraf sentral
c. toksisitas sistemis rendah
d. efektif pada penyuntikan dan penggunaan local
e. mula kerja dan daya kerjanya singkat untuk jangka
waktu cukup lama
f. larut dalam air dengan menghasilakan larutan yang
stabil dan tahan pemanasan
 Efek samping : Efek samping dari pengguna anestetik local
terjadi akibat khasiat dari kardiodepresifnya ( menekan fungsi
jantung ), mengakibatkan hipersensitasi berupa dermatitis alergi.
 Penggolongan :
Secara kimiawi anestetik lokal dibagi 3 kelompok yaitu :
a. Senyawa ester, contohnya prokain, benzokain, buvakain,
tetrakain, dan oksibuprokain

9
b. Senyawa amida, contohnya lidokain, mepivikain,
bupivikain,, cinchokain dll.
c. Semua kokain, semua obat tersebut diatas dibuat sintesis.
 Sediaan, indikasi, kontra indikasi dan efek samping:
1. Bupivikain
Indikasi : anestetik lokal
2. Etil klorida
Indikasi : anestetik local
Efek samping : menekan pernafasan, gelisah dan mual
3. Lidokain
Indikasi :anestesi filtrasi dan anestesi permukaan,
antiaritmia
Efek samping : mengantuk
4. Benzokain
Indikasi : anestesi permukaan dan menghilangkan rasa
nyeri dan gatal
5. Prokain ( novokain )
Indikasi : anestesi filtrasi dan permukaan
Efek samping : hipersensitasi
6. Tetrakain
Indikasi : anestesi filtrasi
7. Benzilalkohol
Indikasi :menghilangkan rasa gatal, sengatan
matahari, gigi
Kontra indikasi : insufiensi sirkulasi jantung dan hipertensi
Efek samping : menekan pernafasan

10
b. Anestetika Umum : Obat yang dapat menimbulkan suatu
keadaan depresi pada pusat-pusat syaraf tertentu yang bersifat
reversible, dimana seluruh perasaan dan kesadaran ditiadakan.
Beberapa syarat penting yang harus dipenuhi oleh suatu
anestetik umum :
1) berbau enak dan tidak merangsang selaput lender
2) mula kerja cepat tanpa efek samping
3) sadar kembalinya tanpa kejang
4) berkhasiat analgetik baik dengan melemaskan otot-otot
seluruhnya
5) Tidak menambah pendarahan kapiler selama waktu
pembedahan
Efek samping :
Hampir semua anestetik inhalasi mengakibatkan sejumlah efek
samping yang terpenting diantaranya adalah :
 Menekan pernafasa, paling kecil pada N2O, eter dan
trikloretiken
 Mengurangi kontraksi jantung, terutama haloten dan
metoksifluran yang paling ringan pada eter
 Merusak hati, oleh karena sudah tidak digunakan lagi
seperti senyawa klor
 Merusak ginjal, khususnya metoksifluran
Penggolongan :
Menurut penggunaannya anestetik umum digolongkan
menjadi 2 yaitu:
1. Anestetik injeksi, contohnya diazepam, barbital ultra
short acting ( thiopental dan heksobarbital )
2. Anestetik inhalasi diberikan sebagai uap melalui saluran
pernafasan. Contohnya eter, dll.

11
B. Obat Hipnotik dan Sedatif
Hipnotik atau obat tidur berasal dari kata hynops yang berarti
tidur, adalah obat yang diberikan malam hari dalam dosis terapi dapat
mempertinggi keinginan tubuh normal untuk tidur, mempermudah atau
menyebabkan tidur. Sedangkan sedative adalah obat obat yang
menimbulkan depresi ringan pada SSP tanpa menyebabkan tidur,
dengan efek menenangkan dan mencegah kejang-kejang. Golongan
obat sedative-hipnotik adalah: Ethanol (alcohol), Barbiturate,
fenobarbital, Benzodiazepam, methaqualon.
 Insomnia dan pengobatannya
Insomnia atau tidak bisa tidur dapat disebabkan oleh factor-faktor
seperti : batuk,rasa nyeri, sesak nafas, gangguan emosi,
ketegangan, kecemasan, ataupun depresi. Factor penyebab ini
harus dihilangkan dengan obat-obatan yang sesuai
seperti:Antussiva, anelgetik, obat-obat vasilidator, anti depresiva,
sedative atau tranquilizer.
 Persyaratan obat tidur yang ideal
1. Menimbulkan suatu keadaan yang sama dengan tidur
normal
2. Jika terjadi kelebihan dosis, pengaruh terhadap fungsi lain
dari system saraf pusat maupun organ lainnya yang kecil.
3. Tidak tertimbun dalam tubuh
4. Tidak menyebabkan kerja ikutan yang negative pada
keesokan harinya
5. Tidak kehilangan khasiatnya pada penggunaan jangka
panjang
 Efek samping
Kebanyakan obat tidur memberikan efek samping umum yng
mirip dengan morfin antara lain :
a. Depresi pernafasan, terutama pada dosis tinggi, contihnya
flurazepam, kloralhidrat, dan paraldehida.

12
b. Tekanan darah menurun, contohnya golongan barbiturate.
c. Hang-over, yaitu efek sisa pada keesokan harinya seperti
mual, perasaan ringan di kepala dan pikiran kacau,
contohnya golongan benzodiazepine dan barbiturat.
d. Berakumulasi di jaringan lemak karena umumnya hipnotik
bersifat lipofil.
 Penggolongan
Secara kimiawi, obat-obat hipnotik digolongkan sebagai berikut :
1. Golongan barbiturate, seperti fenobarbital, butobarbital,
siklobarbital, heksobarbital,dll.
2. Golongan benzodiazepine, seperti flurazepam, nitrazepam,
flunitrazepam dan triazolam.
3. Golongan alcohol dan aldehida, seperti klralhidrat dan
turunannya serta paraldehida.
4. Golongan bromide, seperti garam bromide ( kalium,
natrium, dan ammonium ) dan turunan ure seperti
karbromal dan bromisoval.
5. Golongan lain, seperti senyawa piperindindion (glutetimida
) dan metaqualon.

 Obat generik, indikasi, kontra indikasi, dan efek samping


1. Diazepam
Indikasi : hipnotika dan sedative, anti konvulsi, relaksasi,
relaksasi otot dan anti ansietas (obat epilepsi).
2. Nitrazepam
Indikasi : seperti indikasi diazepam
Efek samping : pada pengguanaan lama terjadi kumulasi
dengan efek sisa (hang over ), gangguan koordinasi dan
melantur.
3. Flunitrazepam
Indikasi : hipnotik, sedatif, anestetik premedikasi operasi.

13
Efek samping : amnesia (hilang ingatan )
4. Kloral hidrat
Indikasi :hipnotika dan sedatif
Efek samping : merusak mukosa lambung usus dan
ketagihan
5. Luminal
Indikasi : sedative, epilepsy, tetanus, dan keracunan
strikhnin.

3. Obat Syaraf Otonom

Obat saraf otonom adalah obat yang dapat mempengaruhi


penerusan impuls dalam sistem saraf otonom dengan jalan mengganggu
sintesa, penimbunan, pembebasan, atau penguraian neurotransmiter atau
mempengaruhi kerjanya atas reseptor khusus.Sistem saraf otonom atau
sistem saraf tidak sadar mengatur kerja otot yang terdapat peda organ dan
kelenjar. Contohnya fungsi vital seperti denyut jantung, salivasi dan
pencernaan yang berlangsung terus-menerus diluar kesadaran baik waktu
bangun maupun waktu tidur. Sistem saraf otonom dapat dibagi kedalam
dua kelompok besar yang umumnya satu sama lain saling
menyeimbangkan. Kedua sestem saraf tersebut adalah :

a. Sistem saraf simpatik dan sistem parasimpatik. Pada syaraf


simpatik mempunyai sel syaraf preganglion lebih pendek daripada
sel syaraf postganglionnya. Selain itu pada sistem syaraf simpatik
ini neurotransmitter yang dilepaskan adalah nor-epinefrin atau nor-
adrenalin yang akan bereaksi dengan reseptor adrenergik, maka
sistem syaraf sipatik ini disebut juga dengan sistem syaraf
adrenergik.
b. Pada sistem syaraf parasimpatik memiliki sel syaraf preganglion
lebih panjang daripada sel syaraf postganglionnya. Pada sistem
syaraf ini neurotransmitter yang dilepaskan oleh ujung sel syaraf

14
adalah asetilkolin yang akan bereaksi dengan reseptor asetilkolin
muskarinik ataupun pada reseptor asetilkolin nikotinik. Reseptor
nikotinik terdapat pada semua ganglia syaraf otonom (celah antara
sel syaraf preganglion dan postganglion), pada neuromuscular
junction (celah antara sel syaraf somatik dan sel otot skeletal), dan
pada sel kromafin medula adrenal. Sedangkan reseptor muskarinik
terdapat pada sel organ efektor syaraf kolinergik, misalnya sel
parietal lambung, jantung, saluran pencernaan, dll.
Penggolongan obat-obatan syaraf otonom ini dibedakan
berdasarkan berdasarkan apakah suatu obat tersebut “memacu”
atau bahkan “menghambat” syaraf tersebut. Obat yang memacu
disebut dengan “Agonis”, sedangkan yang menghambat dinamakan
“Antagonis”.
Berikut contoh obat syaraf otonom :
a. Atropin
Atropin adalah suatu obat anticholinergic atau antidot untuk
menangani zat kimia yang menyerang sistem saraf, keracunan
pestisida, beberapa tipe dari detak jantung yang melambat, dan
untuk menurunkan produksi air liur saat operasi.
Pengertian atropine selanjutnya dalam tulisan di bawah ini adalah
khusus yang digunakan dalam bentuk obat tetes mata. Atropin tetes
mata adalah salah satu obat antimuskarinik yang berfungsi
membuat pupil mata terbuka lebih lebar dan melemaskan otot-otot
pada mata. Obat ini biasa diberikan pada pasien yang akan
menjalani pemeriksaan mata, umumnya pasien anak-anak. Fungsi
lain atropin adalah untuk meredakan rasa nyeri yang disebabkan
pembengkakan dan peradangan pada mata (anterior uveitis).
Melemasnya otot-otot mata setelah diberikan obat ini bisa
mengurangi nyeri dan membantu proses pemulihan bagian mata
yang meradang.

15
Peringatan penggunaan:
 Wanita yang sedang merencanakan kehamilan, sedang hamil,
atau menyusui, dianjurkan berkonsultasi dengan dokter
sebelum menggunakan atropin.

 Harap berhati-hati bagi yang sedang menderita glaukoma,


sindrom down, kerusakan otak, atau paralisis spastik.

 Disarankan tidak mengemudikan kendaraan atau


mengoperasikan alat berat, karena atropin bisa mengganggu
indera penglihatan.

 Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.

Dosis Atropin
Dosis atropin yang biasanya diberikan oleh dokter pada pasien
dewasa adalah satu sampai dua tetes pada tiap bola mata, satu jam
sebelum pemeriksaan refraksi. Untuk menangani peradangan atau
pembengkakan pada mata pasien dewasa (uveitis/iritis), biasanya
dokter akan menyarankan pemberian atropin satu atau dua tetes
pada bola mata yang sakit, maksimal empat kali dalam sehari.

Berkonsultasilah dengan dokter untuk menentukan dosis bagi anak-


anak. Namun, biasanya dokter akan menyarankan satu tetes tiap
bola mata, dua kali dalam sehari, selama satu sampai tiga hari
sebelum menjalani pemeriksaan refraksi mata. Untuk mengatasi
peradangan atau pembengkakan pada pasien anak-anak, dokter
umumnya meresepkan satu tetes tiap bola mata, maksimal tiga kali
sehari.

Pengunaan Atropin

Pastikan untuk membaca petunjuk pada kemasan obat dan


mengikuti anjuran dokter dalam menggunakan atropin. Jangan
menambahkan atau mengurangi dosis tanpa izin dokter.

Bagi pasien pengguna lensa kontak, jangan mengenakan lensa


kontak selama menjalani pengobatan, sampai dokter mengizinkan

16
kembali. Cucilah tangan hingga bersih sebelum menggunakan
atropin. Dongakkan kepala hingga wajah menghadap ke atas, tarik
kelopak bawah mata kemudian teteskan atropin ke dalamnya,
lakukan pada mata sebelahnya. Setelah meneteskan atropin pada
kedua bola mata, tutuplah mata dua sampai tiga menit. Setelah
selesai meneteskan atropin, cucilah kedua tangan kembali.

Jangan memperpanjang atau mengurangi durasi pengobatan tanpa


izin dokter. Pastikan ada jarak waktu yang cukup antara satu dosis
dengan dosis berikutnya. Bagi pasien yang lupa meneteskan
atropin, disarankan untuk segera meneteskannya begitu teringat
jika jadwal penetesan berikutnya tidak terlalu dekat. Jangan
menggandakan jumlah tetesan atropin pada jadwal berikutnya
untuk menggantikan penetesan yang terlewat.

Kenali Efek Samping dan Bahaya Atropin


Reaksi orang terhadap sebuah obat berbeda-beda. Beberapa efek
samping atropin yang umumnya terjadi adalah:

 Kesulitan memfokuskan pandangan.

 Detak jantung lebih cepat.

 Pandangan kabur.

 Iritasi mata.

 Mulut dan kulit kering.

 Sembelit.

b. Skopolamin/scopolamine

Scopolamine adalah obat golongan antikolinergik yang digunakan


untuk mencegah rasa mual dan muntah yang biasanya muncul
setelah efek pemberian anestesi pada prosedur operasi. Obat ini
juga bisa digunakan untuk mencegah rasa mual yang muncul akibat
mabuk perjalanan, mengobati spasme saluran pencernaan, dan
mengobati kondisi-kondisi dengan gejala menyerupai penyakit

17
Parkinson. Scopolamine bekerja langsung pada sistem saraf pusat
untuk menciptakan efek menenangkan di dalam lambung dan usus.

Peringatan:
 Wanita yang merencanakan kehamilan, wanita yang sedang hamil,
atau wanita menyusui harus berkonsultasi dengan dokter sebelum
menggunakan obat ini.

 Bayi yang berusia di bawah 6 bulan tidak boleh diberikan obat ini.

 Penderita glaukoma sudut tertutup, gangguan saluran pernapasan


yang parah, penyumbatan pada usus, dan gangguan berkemih tidak
disarankan untuk menggunakan obat ini.
 Penderita yang memiliki gangguan pada ginjal, hati, jantung,
tekanan darah, pembuluh koroner, kelenjar tiroid, dan yang memiliki
riwayat cedera otak atau kepala harus berkonsultasi dengan dokter
sebelum menggunakan obat ini.

 Konsultasikan dengan dokter tentang penggunaan scopolamine jika


Anda sedang menjalani terapi pengobatan lain pada waktu yang
sama, termasuk terapi suplemen, pengobatan herba, atau pengobatan
pelengkap lainnya (misalnya kalium, donepezil, dan oxymorphone)
disarankan.
 Segera temui dokter jika terjadi reaksi alergi atau overdosis saat
menggunakan scopolamine atau obat-obatan lain yang serupa,
seperti hyoscyamine dan methscopolamine.

Dosis Scopolamine
Bentuk Obat Tujuan Penggunaan Usia Dosis

300 mcg (mikrogram)


setengah jam sebelum
perjalanan. Jika masih
mengalami mabuk,
konsumsi obat bisa
dilakukan kembali 6 jam
kemudian. Dosis
Tablet Mencegah mabuk perjalanan Dewasa maksimal perhari adalah
900 mcg yang dibagi ke

18
dalam tiga jadwal
konsumsi.

75 mcg dua puluh menit


sebelum perjalanan. Jika
diperlukan, konsumsi
dapat diulang dua puluh
menit kemudian. Dosis
Anak-anakusia 3-4 maksimal perhari adalah
tahun 150 mcg.

Anak-anakusia 4-10
tahun 75-150 mcg.

Anak-anak usia 10
tahun ke atas 150-300 mcg.

20 mg (miligram) empat
Dewasa kali sehari.

Mengobati spasme saluran Anak-anak usia 6-12


pencernaan tahun 10 mg tiga kali sehari.

Gunakan 1 patch yang


mengandung 1 mg
scopolamine di belakang
telinga setidaknya 4 jam
sebelum melakukan
perjalanan. Efek 1 patch
bisa bertahan sampai tiga
Patch Mencegah mabuk perjalanan Dewasa hari.

0,6 mg tiga sampai empat


Sebelum pemberian sedasi Dewasa kali sehari.

Dewasa 0,3-0,6 mg.

Suntik Mencegah mabuk perjalanan Anak-anak 0,006 mg/kg.

19
Scopolamine juga dapat digunakan untuk mengobati beberapa
kondisi yang gejalanya menyerupai penyakit Parkinson, antara
lain progressive supranuclear palsy (gangguan di otak yang
mengganggu keseimbangan seseorang), multiple system atrophy
(gangguan saraf yang menyebabkan gangguan bicara,
keseimbangan, bahkan pernafasan), atau essential tremor (tremor
yang tidak disebabkan oleh penyakit Parkinson). Dosis
penggunaan scopolamine untuk berbagai kondisi tersebut harus
disesuaikan dengan anjuran dokter dan dapat berbeda dari satu
orang ke orang lainnya.

penggunaan Scopolamine
Ikuti petunjuk penggunaan yang diberikan dokter dan perhatikan
takaran serta informasi yang tertera pada kemasan sebelum
menggunakan scopolamine.

Tablet scopolamine dapat dikonsumsi dengan segelas air putih


dan dengan atau tanpa bantuan makanan. Hindari mengonsumsi
obat ini dengan alkohol karena dapat menyebabkan efek samping.

Hindari melakukan aktivitas berat seperti mengemudikan


kendaraan dan beraktivitas pada cuaca yang panas karena dapat
mengganggu penglihatan dan reaksi. Gunakan kacamata hitam
bahkan di dalam ruangan untuk melindungi mata yang sensitif.

Scopolamine juga dapat menurunkan jumlah keringat sehingga


penderita akan rentan dengan serangan panas (heat stroke).

Efek Samping dan Bahaya Scopolamine


Sama seperti obat-obat lain, scopolamine juga bisa menyebabkan
efek samping.

 Sulit menelan

 Jumlah urine yang sedikit atau tidak ada sama sekali

 Sakit ketika berkemih

 Mengantuk

20
 Gelisah

 Bingung atau paranoia

 Detak jantung yang cepat

 Mulut kering yang bisa meningkatkan rasa haus

 Penglihatan mengabur dan pupil membesar

 Mata menjadi sensitif terhadap cahaya

 Kulit kering

Overdosis scopolamine bisa berakibat fatal, terlebih lagi jika dialami


oleh anak-anak. Berikut adalah gejala overdosis scopolamine yang
patut diwaspadai:

 Merasa gelisah atau bersemangat

 Bingung

 Demam

 Muntah

 Berhalusinasi

 Sulit bernapas

 Lelah

 Kejang

21
4. Obat yang bekerja terhadap syaraf otonom
1. Cara kerja obat otonom
Obat otonom mempengaruhi transmisi neuro humonal dengan cara
menghambat atau mengintensifkannya. Terhadap beberapa
kemungkinan pengaruh obat pada transmisi sistem kolinergik dan
adrenergik, yaitu :
1. Menghambat sintesis (pelepasan transmitor)
2. Menyebabkan pelepasan transmitor
3. Berikatan denagn reseptor
4. Menghambat destuksi transmitor
2. Penggolongan obat berdasarkan efek utamanya
a. Kolinergik atau parasimpatomimetik
Efek obat golongan ini menyerupai efek yang ditimbulkan oleh
aktivitas susunan saraf para simpatis.Ada dua macam reseptor
kolinergik:
 Reseptor muskarinik : merangsang otot polos dan
memperlambat otot jantung.
 Reseptor nikontinik/ neuromuskular yang
mempengaruhi otot rangka penggolongan kolinergik
 Esterkolin(asetilkolin,metakolin, karbakol, betanekol)
 Antikolinestrase(eserin,prostigemin,dilsopropil
fluorofosfat)
 Alkaloid tumbuhan( muskarin, pilokarpin, arekolin)
 Oabat kolinergik lain( metoklopramid, sisaprid)
Farmakodinamik kolinergik
 Meningkatkan TD
 Meningkatkan denyut nadi
 Meningkatkan kontraksi saluran kemih
 Meningkatkan peristaltik
 Konstriksi bronkiolus( kontra indikasi asma bronkiolus)
 Konstriksi pupil mata ( miosis)
 Antikolinesterase : meningkatkan tonus otot

Efek samping

 Asma bronkial dan ulcus peptkum ( kontraindikasi)


 Iskemia jantung, fibrilasi atrium
 Toksin ; anti dotum = atropin dan epineprin

22
Indikasi

 Esterkolin : tidak digunakan pengobatan( efek luas dan


singkat), meteorismus(kembung), retensia urine,
glaukoma, paralitik ileus, intoksikasi atropin/ alkaloid
beladona, faeokoromositoma.
 Anti kolinesterase : atonia otot polos ( paska bedah,
toksik), miotika(setelah pemberian atropin pada
funduskopi), diknososi dan pengobatan niastemia
gravis( defisiensi kolinergik sinaf), penyakit alzheimer
(defisiensi kolinergik sentral)
 Alkolid tumbuhan : untuk midriasis (pilokarpin)
 Obat kolinergik lain, mencegah dan mengurangi
muntah ( metoklopramid)

Intoksikasi

 Efik muskarinik : matahiperemis, miosis kuat,


bronkostriksi, laringgospasme, rinitis alergika, salivasi,
muntah, diare, keringat berlebih.
 Efek nikotinik : otot rangka lumpuh
 Efek kelainan sentral : ataksia, hilangnya reflek,
bingung, sukar bicara, konvulsi, koma, nafas cheyne
stokes, lumpuh nafas.

Nama obat kolinergik Dosis Pemakaian dan


pertimbangan pemakaian

Betanekol (urecholine) 10-50 mg Untuk meningkatkan


urin, dapat merangsang
motilitas lambung

Karbakol (charcoline, 0,75-3% 1 tetes Untuk menurunkan


misotat) tekanan intraoukuler,
miosis

Pilokarpin (pilocar) 0,5-4% 1 tetes Untuk menurunkan


tekanan intraoukuler,
miosis

Fisotigmin (eserine) 0,25-0,5% 1 tetes Untuk menurunkan

23
tekanan intraoukuler,
miosis, masa kerja
singkat

Neostigmin (prostigmin) Mula-mula 15mg, Untuk menambah


dosis Max : 50mg kekuatan otot pada
miastenia gravis, masa
kerja singkat

a. Simpatomimetik atau adrenergik


Yakni obat-obat yang merangsang system syaraf simpatis, karena
obat-obat ini menyerupai neurotransmitter ( norepinafrin dan
epinephrine). Obat-obat ini bekerja pada suatu reseptor adrenergic.
Yang terdapat pada sel-sel otot polos, seperti pada jantung dinding
bronkilus saluran gastrointestinal, kandug kemih dan otot siliaris
pada mata. Reseptor adrenergic meliputi alfa1, alfa2, alfa3

Kerja obat adrenergic dapat dibagi dalam 7 jenis:


1) Perangsang perifer terhadap otot polos pembuluh darah
kulit dan mukosa, dan terhadap kelenjar liur dan keringat
2) Penghambatan perifer terhadap otot polos usus, bronkus
dan pembulu darah otot rangka
3) Perangsangan jantung dengan akibat peninggkatan denyut
jantung dan kekuatan kontraksi
4) Perangsangan SSP, misalnya perangsangan pernafasan,
aksivitas psikomotor dan pengurangan nafsu makan
5) Efek metabolik, misalnya peningkatan glikogenesis dihati
dan otot, lipolisis dan perlepasan asam lemak bebas dari
jaringan lemak
6) Efek endokrin, misalnya mempengaruhi efek insulin, renin
dan hormone hipofisis
7) Efek prasinaptik, dengan akibat hambatan atau peningkatan
penglepasan neurotransmitter NE dan Ach.

` Pergolongan Adrenergik

24
 Katekolamin (endogen : epineprin, norepineprin dan
dopamine sintetik : isoprotenol hidroklorida dan
dobutamine)
 Non katekolamin ( fenileprin, meteprotenol dan albuterol)

Farmakodinamik Adrenergic

 Bersifat intropik
 Bronkodilator
 Hipertensi
 Tremor dan gelisah

Efek samping

Efek samping sering kali muncul apabila dosis ditingkatkan atau


obat bekerja non selektif (bekerja pada beberapa reseptor). Efek
samping yang sering timbul pada obat-obat adrenergic adalah,
hipertensi, takikardi, palpitasi, artimia , tremor, pusing,kesulitan
berkemih, mual dan muntah.

Kontra indikasi

 Tidak boleh digunakan pada ibu hamil


 Sesuaikan dosis pada penderita yang mendapat antidepresi
trisiklik.
 Tidak boleh digunakan pada penderita stenorsis, subaorta,
anoreksia,insomnia dan ekstenia

Adrenergic Resptor Dosis Pemakaian


dalam klinik

Epinefrin(adrenalin) Alfa1, 0,2-1 ml dari Syok


beta1,beta 2 1:1000 nonhipovalemik,
henti jantung,
anafilaksis akut,
asma akut

Fenilefrin Alfa1 Larutan 0,123- Kongesti hidung


(neosynephrine) 1% (dekongestan)

Metaprotenol Beta 1 2-3 Bronkospasmes,


(alupent, metaprel) (beberapa) beta semprotan,kurang blok jantung

25
2 lebih 12 akut (hanya
semprotan/hari dipakai pada
bradikardi yang
refrakter
terhadap
atropine)

Albuterol Beta 2 Inhal: 1-2 Bronkospasme


semprotan
Ritodrin Beta1 120mg/hari Relaksasi usus

b. Simpatolik atau Antiadrenergik


Obat-obat antiadrenergic umumnya menghambat efek
neurotransmitter adrenergic dengan menempati reseptor alfa dan
beta baik secara langsung maupun tidak langsung.

Berdasarkan tempat kerjanya, golongan obat ini dibagi atas


antagonis adrenoreseptor (adrenoreseptor bloker) dan penghambat
saraf adrenergic.Antagonis reseptor atau adrenoreseptor bloker
ialah obat yang menduduki adrenoreseptor sehingga
menghalanginya untuk berinteraksi dengan obat adrenergic, dengan
demikian menghalangi kerja obat adrenergic pada sel elektornya.

Untuk masing-masing adrenoreseptor alfa dan beta


memiliki penghambat yang efektif yakni alfa-blocker dan beta-
blocker.Penghambat saraf adrenergic adalah obat yang mengurangi
respon sel efektor terhadap perangsangan saraf adrenergic, tetapi
tidak terhadap obat adrenergic eksogen

26
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Jadi, Bermacam-macam penyakit memerlukan obat yang berbeda-beda,
begitu pula dengan obatnya selain mempunyai fungsi masing-masing obat juga
mempunyai efek sampingnya masing-masing, dan sebagai perawat kita semua
harus bisa memahami tentang obat dan jenisnya.

3.1 Saran
Selesainya makalah ini tidak terlepas dari banyaknya kekurangan-
kekurangan pembahasannya dikarenakan oleh berbagai macam faktor
keterbatasan waktu, pemikiran dan pengetahuan penulis yang terbatas, oleh karena
itu untuk kesempernuan makalah ini penulis sangat membutuhkan saran-saran dan
masukan yang bersifat membangun kepada semua pembaca.
Tidak terlepas dari semua itu penulis juga menyarankan bahwa sebaiknya
gunakanlah obat sesuai anjuran dokter, dan pergunakanlah obat tersebut sesuai
dengan penyakit yang diderita , jangan menggunakan obat kurang atau melebihi
batasnya.

27