Вы находитесь на странице: 1из 7

Ludfiani, A., et al.

, Krisis Kemanusiaan dan Upaya Thailand Mengatasi Gelombang Pengungsi Rohingya

Krisis Kemanusiaan dan Upaya Thailand Mengatasi Gelombang Pengungsi Rohingya


(Humanitarian Crisis and Thailand's Effort in Overcoming the Wave of Rohingya Refugees )

Anifa Ludfiani, Abubakar Eby Hara, dan Bagus Sigit Sunarko


Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jember (UNEJ)
Jln. Kalimantan 37, Jember 68121
E-mail: ebyhara@yahoo,com.

Abstract
Myanmar is a country which is highly vulnerable to ethnic conflict. It is a risk for Myanmar as a multi-
ethnic country which has 135 ethnics. In 2012 and 2015, the worst intensity of the conflict was in Rakhine
region. There was conflict between Rakhine Buddhist ethnic and Rohingya minority ethnic. This conflict
caused 140,000 Rohingya people had to flee in 2012, and the number continued to increase as the
continuation of the uprising, slaughter and expulsion carried out by Rakhine Buddhists ethnic. As a result,
in 2012 to 2015, there was a wave of Rohingya refugees from Myanmar towards neighboring countries.
The wave itself was out of control. One of the destination countries of Rohingya refugees was Thailand.
This caused Thailand has the responsibility to provide humanitarian assistance in accordance with the
principle of "responsibility to protect". However, Thailand efforts to overcome the wave of Rohingya
refugees turned out not to be realized maximally as evidenced by the continuing Rohingya humanitarian
crisis. Therefore, this study aims to determine what factors that caused Thailand could not realize the
principle of Responsibility to Protect optimally. This study used qualitative descriptive and library
research. The results showed that the realization of the responsibility to protect as an effort of Thailand to
overcome the wave of Rohingya refugees Thailand could not be done optimally because Thailand as part of
the international community was only responsible to encourage Myanmar to protect the Rohingya people,
but the full sovereignty in this case belonged to Myanmar. On the other hand, Myanmar even was
uncooperative and refused to take responsibility over cases of humanitarian crisis suffered by the Rohingya
people.

Keywords: humanitarian crisis, Thailand, Myanmar, Rohingya

Pendahuluan Kebijakan tersebut menyatakan bahwa pemerintah


mengeluarkan Rohingya dan beberapa etnis minoritas
Myanmar merupakan negara yang terkenal dengan
lainnya dari daftar etnis asli Myanmar, undang-undang
keberagaman etnisnya. Sejumlah 135 etnis berada di
tersebut juga menyatakan bahwa etnis yang akan diakui
Myanmar (HRW, 2012). Hal tersebut memiliki dampak
sebagai etnis asli Myanmar adalah etnis yang mampu
positif yakni menjadikan Myanmar sebagai negara yang
membuktikan bahwa mereka mampu membuktikan
kaya akan budaya. Namun, terdapat pula dampak
memiliki nenek moyang yang sudah tinggal di
negatif yang ditimbulkan yaitu menjadikan Myanmar
Myanmar sejak tahun 1823 (Purwanto, 2015). Namun,
sebagai negara yang sangat rentan terhadap konflik
meskipun sejarah menyatakan bahwa etnis Rohingya
antar etnis. Salah satunya ialah konflik di negara bagian
sudah ada di Myanmar sejak abad 7 Masehi, pemerintah
Rakhine antara etnis Rohingya dengan etnis Buddha
Myanmar tetap meyakini etnis Rohingya sebagai
Rakhine. Rohingya merupakan salah satu etnis
imigran ilegal asal Bangladesh yang tidak berhak atas
minoritas yang menempati wilayah Rakhine. Mereka
kewarganegaraan Myanmar.
sudah hidup di Myanmar sejak abad 7 Masehi dan
Kejahatan kemanusiaan dan diskriminasi terhadap
mendirikan sebuah kerajaan Muslim yang dikenal
etnis Rohingya terus berlanjut dan memuncak pada
dengan kerajaan Muslim Arakan sejak tahun 1430
tahun 2012. Pada Juni 2012, etnis Buddha Rakhine
Masehi (Sarnia, 2015). Sebaliknya, etnis Buddha
melakukan serangan dan pembantaian terhadap etnis
Rakhine adalah kelompok etnis yang mendominasi di
Rohingya dikarenakan adanya tuduhan bahwa seorang
Rakhine.
wanita Buddha telah diperkosa oleh warga etnis
Konflik antara etnis Rohingya dengan etnis Buddha
Rohingya. Pemberontakan tersebut mengakibatkan
Rakhine tentu mengakibatkan kekalahan bagi etnis
puluhan warga Muslim Rohingya tewas terbunuh.
Rohingya sebagai kelompok minoritas. Tindakan
Konflik ini juga mengakibatkan Muslim Rohingya
kejahatan kemanusiaan dan diskriminasi terhadap etnis
kehilangan tempat tinggalnya karena rusak dan terbakar
Rohingya bahkan sudah berlangsung sejak Myanmar
saat konflik berlangsung. Konflik ini menyebabkan
belum merdeka. Kejahatan kemanusiaan dan
sekitar 75 ribu rakyat etnis Muslim Rohingya
diskriminasi terhadap etnis Rohingya terus berlanjut
mengungsi karena merasa terancam dengan adanya
hingga Myanmar merdeka bahkan hingga saat ini. Hal
kekerasan antar dua kelompok etnis di wilayah Rakhine
tersebut dikarenakan dibentuknya Undang-undang
tersebut (Hindra, 2012).
Kewarganegaraan Myanmar pada tahun 1982.

E-SOSPOL Volume IV Edisi 2, Mei – Agustus 2017; hal 82 - 88 Hal - 82


Ludfiani, A., et al., Krisis Kemanusiaan dan Upaya Thailand Mengatasi Gelombang Pengungsi Rohingya

Selanjutnya, pemberontakan besar-besaran terhadap merealisasikan prinsip responsibility to protect yakni


etnis Muslim Rohingya kembali terjadi pada Oktober terkait upaya dalam membantu Myanmar yang telah
2012 di beberapa tempat di kawasan Rakhine. Jumlah gagal memberikan perlindungan kepada
korban dalam tragedi tersebut semakin meningkat yakni penduduknya. Namun, upaya Thailand dalam
mencapai 140 orang tewas, dan lebih dari 110 ribu mengatasi gelombang pengungsi Rohingya ini
orang Muslim Rohingya memutuskan untuk pergi ternyata tidak dapat terealisasi dengan optimal. Hal
mengungsi (IHRC, 2015:21). Mayoritas masyarakat tersebut dapat dilihat dari terus berlanjutnya krisis
Buddha mendukung kedaulatan negara yang tidak kemanusiaan etnis Rohingya di Rakhine hingga saat
mengakui Rohingya sebagai etnis asli Myanmar. Krisis ini (tahun 2016). Oleh karena itu, penelitian ini
kemanusiaan yang dialami etnis Rohingya di Myanmar bertujuan untuk memahami mengapa pemerintah
ini kemudian menyebabkan etnis Rohingya bertekad Thailand tidak dapat memaksimalkan realisasi prinsip
untuk pergi meninggalkan Myanmar dan mengungsi ke responsibility to protect dalam upayanya mengatasi
negara lain dengan harapan mendapat bantuan gelombang pengungsi Rohingya.
kemanusiaan dan kehidupan yang lebih layak.
Salah satu negara yang menjadi tujuan bagi para Kerangka Pemikiran
pengungsi Rohingya adalah Thailand. Hal tersebut
dikarenakan faktor geografis, dimana Thailand Dalam menganalisa penelitian ini, kerangka
merupakan negara tetangga Myanmar dan berbatasan pemikiran yang digunakan adalah konsep krisis
langsung dengan Myanmar. Kedekatan wilayah antara kemanusiaan dan responsibility to protect.
Thailand dan Myanmar ini dianggap lebih efektif bagi Konsep Krisis Kemanusiaan
para pengungsi Rohingya untuk dapat segera Krisis kemanusiaan merupakan sebuah situasi
memperoleh bantuan kemanusiaan. Selain itu, tingkat dengan penderitaan manusia yang berada pada tingkat
pertumbuhan ekonomi Thailand yang terus meningkat tinggi, dasar-dasar kesejahteraan manusia yang berada
juga menjadi daya tarik bagi pengungsi Rohingya dalam bahaya, dan mencakup skala yang besar
dengan harapan bahwa Thailand akan mampu (Internews, 2014). Secara umum, terdapat tiga kategori
memberikan bantuan dan fasilitas yang layak bagi penyebab krisis kemanusiaan. Pertama, faktor bencana
mereka. Namun, gelombang pengungsi Rohingya ke alam yaitu adanya bencana alam seperti banjir, gempa
Thailand terjadi secara terus menerus pada tahun 2012 bumi dan sebagainya sebagai penyebab krisis
hingga 2015 tanpa ada upaya dari Myanmar untuk kemanusiaan. Contoh dari krisis kemanusiaan ini ialah
menyelesaikan kasus krisis kemanusiaan etnis Rohingya banjir di Pakistan tahun 2010, tsunami di kawasan Asia
di Rakhine dan mengurangi arus keluar orang-orang pada tahun 2004 dan 2005, dan lain sebagainya. Faktor
Rohingya dari Myanmar. kedua ialah complex emergencies, yaitu adanya konflik
Hal tersebut tentu menjadi beban tersendiri bagi yang memicu krisis kemanusiaan. Contoh dari krisis
Thailand, terutama dalam hal sosial dan ekonomi. kemanusiaan dalam kategori ini adalah genosida di
Gelombang pengungsi Rohingya di Thailand berpotensi Rwanda tahun 1994; dan sebagainya. Ketiga, adalah
menimbulkan masalah sosial mengingat pada tahun 2015 masalah krisis lainnya yakni menyangkut masalah
telah terjadi konflik dan pembantaian di Thailand Selatan. kesehatan, industri dan finansial. Contohnya adalah
Sehingga, dengan adanya ketegangan antar umat Bhopal gas tragedy tahun 1984, krisis harga pangan
beragama di Thailand tersebut dikhawatirkan gelombang yang melanda berbagai negara tahun 2008 dan
pengungsi Rohingya akan menambah keresahan sebagainya (Internews, 2014).
masyarakat Thailand yang mayoritas beragama Buddha. Berdasarkan klasifikasi penyebab krisis kemanusiaan
Masalah sosial juga terlihat ketika pada tahun 2015 di atas, kasus krisis kemanusiaan etnis muslim Rohingya
masyarakat desa Cha-UAD, Thailand melakukan unjuk termasuk dalam kategori complex emergencies. Hal
rasa dan menolak rencana pemerintah untuk membangun tersebut dikarenakan krisis kemanusiaan etnis muslim
kamp pengungsi Rohingya di desa mereka. Rohingya merupakan tindakan diskriminatif terhadap
Sedangkan dalam hal ekonomi, sejak tahun 2012 etnis minoritas yang dilakukan oleh etnis mayoritas di
hingga 2015 pengeluaran pemerintah Thailand untuk Myanmar yakni etnis Burma atau Buddha. Konflik antara
pengungsi terus mengalami peningkatan. Permasalahan etnis muslim Rohingya dengan etnis Burma berujung
sosial ekonomi tersebut mendorong Thailand untuk pada kekalahan etnis muslim Rohingya, dan merujuk
mengupayakan penyelesaian krisis kemanusiaan etnis pada tindak kejahatan kemanusiaan serta genosida atau
Rohingya di Myanmar. Oleh karena itu, Thailand pembersihan etnis.
melakukan tanggung jawabnya sebagai bagian dari
komunitas internasional (PBB) untuk membantu negara Konsep Responsibility to Protect
lain (dalam hal ini Myanmar) yang telah gagal Konsep ini secara sederhana dapat diartikan sebagai
melindungi penduduknya dari krisis kemanusiaan tanggung jawab melindungi hak-hak asasi manusia
sebagaimana prinsip responsibility to protect. tanpa mengganggu atau menentang kedaulatan negara
Dalam hal ini, upaya Thailand dalam mengatasi yang bersangkutan (Marelda, 2011). Oleh karena itu,
gelombang pengungsi Rohingya terbagi dalam dua konsep responsibility to protect sangat relevan untuk
fokus pembahasan. Pertama, terkait upaya menangani diterapkan serta mudah diterima oleh masyarakat
pengungsi Rohingya yang ada di Thailand yaitu internasional dibandingkan intervensi kemanusiaan.
menyangkut pemberian fasilitas pengungsi dan Dewan Keamanan PBB pun turut mendukung dan
bantuan-bantuan kemanusiaan lainnya. Kedua, upaya mengakui relevansi responsibility to protect.

E-SOSPOL Volume IV Edisi 2, Mei – Agustus 2017; hal 82 - 88 Hal - 83


Ludfiani, A., et al., Krisis Kemanusiaan dan Upaya Thailand Mengatasi Gelombang Pengungsi Rohingya

PBB juga telah menghasilkan rumusan prinsip- seiring dengangelombang pengungsi Rohingya. Pada
prinsip responsibility to protect ke dalam tiga prinsip tahun 2012 jumlah pengeluaran senilai 22.339.140
utama. Pertama, prinsip bahwa negara-negara memiliki USD. Tahun 2013 sejumlah 23.697.653 USD. Tahun
tanggung jawab untuk melindungi warga negaranya dari 2014 sejumlah 32.803.303 USD, dan tahun 2015
genosida, kejahatan perang, penghapusan etnis, dan sejumlah 37.233.459 USD (UNHCR Thailand, 2015 a).
kejahatan terhadap kemanusiaan. Kedua, prinsip Jumlah anggaran untuk pengungsi yang terus meningkat
menyatakan komitmen komunitas internasional menandakan adanya jumlah pengungsi yang semakin
(anggota PBB) untuk membantu negara-negara dalam meningkat pula. Kondisi tersebut merupakan suatu
melindungi warga negaranya dari kejahatan kondisi dilematik bagi Thailand di mana ia harus
kemanusiaan. Ketiga, prinsip atas tanggung jawab setiap menerapkan prinsip-prinsip kemanusiaan dengan cara
warga negara anggota PBB untuk merespon atau membantu para pengungsi, namun di sisi lain Thailand
mengambil tindakan yang tepat untuk mencegah dan merasa sangat terbebani dengan anggaran pengeluaran
menghentikan kejahatan kemanusiaan ketika suatu yang besar dan terus mengalami peningkatan ini.
negara gagal memberikan perlindungan kemanusiaan Sedangkan, masalah sosial yang juga timbul akibat
yang dimaksud (Marelda, 2011). gelombang pengungsi Rohingya di Thailand dapat
dilihat dari adanya respon negatif dari masyarakat lokal
Metode Penelitian Thailand terhadap pengungsi. Respon negatif
masyarakat Thailand terhadap pengungsi Rohingya
Metode penelitian pada dasarnya menyangkut dua
tersebut nampak ketika pada tahun 2013 pemerintah
hal yaitu metode pengumpulan data dan metode analisis
Thailand berencana melakukan pembangunan kamp
data. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini
pengungsian sementara yang nantinya akan ditinggali
menggunakan metode library research atau
oleh pengungsi Rohingya. Warga setempat dengan tegas
kepustakaan yakni dengan cara mengumpulkan data-
menolak rencana pemerintah tersebut. Pemerintah saat
data sekunder berupa buku, jurnal, berita, yang berupa
itu berencana membangun kamp sementara untuk
media cetak maupun media online. Pengumpulan data-
menampung pengungsi Rohingya di kawasan desa Cha-
data sekunder tersebut diperoleh penulis dari berbagai
UAD, Provinsi Thammarat. Merespon rencana
sumber, diantaranya Perpustakaan Pusat Universitas
pemerintah tersebut, sekitar 5.000 orang warga desa
Jember, Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Cha-UAD mengajukan petisi protes keberatan akan
Politik UNEJ, buku koleksi pribadi, jurnal, surat kabar
rencana pembangunan kamp pengungsi Rohingya di
dan media internet.
desa mereka (Sindo News, 2013).
Penelitian ini juga menggunakan metode analisis
Adanya berbagai permasalahan yang dialami
deskriptif kualitatif, karena penelitian ini menyajikan
pemerintah Thailand tersebut akhirnya mendorong
data eksplanatif yang menjelaskan suatu permasalahan
adanya inisiatif pemerintah Thailand untuk terlibat
meliputi keseluruhan setting yakni tempat, aktor dan
secara aktif dalam membantu mengatasi gelombang
aktivitasnya, tidak menggunakan data berupa angka atau
pengungsi Rohingya. Dalam upayanya mengatasi
statistik. Selain itu penulis juga menggunakan cara
gelombang pengungsi Rohingya, terdapat dua hal utama
berpikir deduktif. Dimana penyajian data dimulai
yang dilakukan oleh Thailand. Pertama, upaya
dengan data-data yang bersifat umum diantaranya
penanganan terhadap pengungsi Rohingya yang ada di
meliputi diskriminasi etnis di Myanmar, dilanjutkan
Thailand. Kedua, upaya membantu Myanmar dalam
dengan penyajian data terkait kasus yang lebih khusus
mencari langkah solutif guna menyelesaikan krisis
seperti upaya Thailand mengatasi gelombang pengungsi
kemanusiaan etnis Rohingya sebagaimana prinsip
Rohingya, hambatan-hambatannya dan sebagainya.
responsibility to protect.
Upaya penanganan terhadap pengungsi Rohingya
Hasil Penelitian
yang ada di Thailand telah dilakukan oleh Thailand
Krisis kemanusiaan yang dialami etnis Rohingya melalui tiga cara. Pertama, menyediakan tempat
akibat pembantaian dan upaya pembersihan etnis yang penampungan sementara. Thailand telah berkomitmen
dilakukan etnis Buddha Rakhine, telah menyebabkan untuk menerima pengungsi Rohingya dan menyediakan
tidak terkendalinya arus keluar orang-orang etnis tempat penampungan sementara bagi mereka (NET
Rohingya dari Myanmar. Sebagian besar warga etnis News, 2015). Thailand memiliki sembilan kamp
Rohingya di Myanmar memutuskan untuk pergi pengungsian yang telah dibangun sejak tahun 1984,
meninggalkan Myanmar dan mengungsi ke negara lain terletak di sepanjang perbatasan antara Thailand dan
dengan harapan akan mendapat bantuan kemanusiaan Myanmar. Sejak dibangun pada tahun 1984, kamp
dan kehidupan yang layak. Salah satu negara yang pengungsian ini terus dioperasikan oleh pemerintah
menjadi tujuan pengungsi Rohingya adalah Thailand. Thailand hingga saat ini. Usia kamp yang mencapai
Jumlah kedatangan pengungsi Rohingya yang terus sekitar 32 tahun, menyebabkan kondisi fasilitas kamp
meningkat sejak tahun 2012 menjadi beban tersendiri tersebut semakin tidak layak.
bagi Thailand terutama dalam hal ekonomi dan sosial. Langkah yang kedua ialah dengan mengembalikan
Beban ekonomi yang dimaksud, dapat dilihat dari pengungsi Rohingya ke negara asal, yaitu Myanmar.
meningkatnya anggaran pengeluaran negara Thailand eportasi atau mengembalikan pengungsi Rohingya ke
untuk pengungsi sejak tahun 2012 hingga 2015. negara asal (Myanmar), kini merupakan prioritas
Anggaran pengeluaran Thailand untuk pengungsi pemerintah Thailand dalam menangani gelombang
mengalami peningkatan sejak tahun 2012 hingga 2015 pengungsi Rohingya. Hal ini dinyatakan pada tahun

E-SOSPOL Volume IV Edisi 2, Mei – Agustus 2017; hal 82 - 88 Hal - 84


Ludfiani, A., et al., Krisis Kemanusiaan dan Upaya Thailand Mengatasi Gelombang Pengungsi Rohingya

2013, ketika pemerintah secara resmi menerima bersama dengan cara yang tepat dan tegas sebagaimana
masuknya 2000 orang Rohingya dan ditampung di yang diperlukan guna membantu negara-negara
beberapa kamp pengungsian di Thailand. Perlindungan membangun kapasitas untuk melindungi penduduknya
dan bantuan tersebut disebut sebagai “perlindungan dari kejahatan kemanusiaan.
sementara”. Disebut sementara karena pemerintah Dalam merealisasikan prinsip responsibility to
Thailand menetapkan masa tenggang pemberian protect ini, Thailand banyak melibatkan Malaysia dan
bantuan dan perlindungan hanya selama enam bulan dan Indonesia untuk bekerjasama. Kerjasama ini ditujukan
selanjutnya para pengungsi akan dideportasi (IRIN, untuk membentuk upaya solutif merespon krisis
2016). kemanusiaan etnis Rohingya di Myanmar yang berlanjut
Ketika ribuan orang Rohingya melarikan diri untuk pada lonjakan gelombang pengungsi Rohingya.
keluar dari Myanmar, Thailand justru mengupayakan Thailand, Malaysia dan Indonesia merupaka tiga negara
langkah deportasi ini. Pada tahun 2014, orang-orang yang banyak dituju oleh para pengungsi Rohingya dari
Rohingya masih terus mendatangi berbagai negara di Myanmar, sehingga ketiga negara tersebut tentu secara
Asia Tenggara, sedangkan Thailand kembali melakukan langsung terkena dampaknya baik dampak ekonomi,
deportasi terhadap 1300 pengungsi Rohingya. Thailand sosial dan sebagainya. Kondisi inilah yang mendorong
menyebutkan bahwa deportasi tersebut ialah deportasi ketiga negara tersebut untuk beraliansi mengatasi krisis
“sukarela”, dimana pengungsi dengan sendirinya kemanusiaan etnis Rohingya melalui cara diplomatik
meminta untuk kembali ke Myanmar karena merasa sebagaimana prinsip responsibility to protect.
lebih kesulitan hidup di kamp pengungsian di Thailand Pada 20 Mei 2015, Menteri Luar Negeri Thailand
(Campbell, 2014). Jenderal Tanasak Patimapragon, Menteri Luar Negeri
Langkah selanjutnya yang dilakukan Thailand Malaysia Anifah Aman danMenteri Luar Negeri
dalam menangani pengungsi Rohingya di Thailand ialah Indonesia Retno Marsudi, mengadakan pertemuan di
dengan mengupayakan adanya negara ketiga. Menteri Putrajaya Malaysia. Pertemuan tersebut ditujukan untuk
Luar Negeri Thailand, Surapong Tovichakchaikul, membahas bagaimana ketiga negara tersebut akan
menyatakan bahwa pengungsi diberi jangka waktu mengatasi persoalan gelombang pengungsi Rohingya
untuk tinggal selama enam bulan di kamp pengungsian, yang menimpa negara mereka (CNN, 2015). Pertemuan
dan dalam jangka waktu enam bulan tersebut ini kemudian menghasilkan kesepakatan bahwa ketiga
pemerintah Thailand akan mengupayakan solusi baik itu negara akan terus memberikan bantuan kemanusiaan
deportasi atau pun mengupayakan pemukiman negara bagi para pengungsi Rohingya dengan syarat proses
ketiga (IRIN, 2016). Terdapat beberapa negara yang penempatan negara ketiga maupun pemulangan
telah berkomitmen bersedia menjadi negara ketiga bagi pengungsi dapat diselesaikan bersama dalam komunitas
pengungsi dari Thailand, yaitu Amerika Serikat, internasional dalam jangka waktu satu tahun.
Kanada, Australia, Finlandia, Inggris, Irlandia, Belanda, Selanjutnya, pada 29 Mei 2015 Thailand
Selandia Baru, Norwegia dan Swedia (UNHCR mengundang 17 perwakilan negara-negara ASEAN
Thailand, 2015 b). termasuk Myanmar, perwakilan PBB, Amerika Serikat
Negara ketiga berhak menentukan batas jumlah dan Jepang untuk hadir di Bangkok dalam rangka
yang diinginkan terkait berapa banyak pengungsi yang membahas permasalahan krisis pengungsI (Fredickson,
akan diterima masuk ke negaranya. Negara ketiga juga 2015). Hal tersebut tentu tidak lepas dari permasalahan
berhak menentukan syarat-syarat lebih khusus lainnya. gelombang pengungsi Rohingya yang saat itu tengah
Hal tersebut sepenuhnya ialah kedaulatan negara yang memuncak. Namun, Thailand dan seluruh anggota
bersangkutan, kedaulatan negara ketiga untuk menerima dalam pertemuan tersebut telah dihimbau agar tidak
atau menolak pengungsi tersebut menyebabkan upaya menyebut “Rohingya” selama diskusi berlangsung, hal
ini tidak selalu efektif. tersebut merupakan permintaan Myanmar yang telah
Selanjutnya, selain menangani pengungsi Rohingya jauh hari mengancam akan memboikot keikutsertaannya
di Thailand, sebagai bagian dari komunitas internasional jika terdapat penggunaan kata “Rohingya” dalam
maka Thailand juga memiliki tanggung jawab pertemuan tersebut. Oleh karena itu, pertemuan tersebut
membantu Myanmar mengatasi krisis kemanusiaan tidak secara spesifik menyebutkan krisis “Rohingya”
etnis Rohingya sebagaimana prinsip responsibility to demi kelancaran pertemuan internasional tersebut.
protect. Hal tersebut dikarenakan Myanmar dapat Pertemuan internasional di Bangkok pada Mei 2015
dinyatakan gagal atau tidak mampu memaksimalkan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk melakukan
perannya dalam melindungi etnis Rohingya dari intensifikasi pencarian dan penyelamatan guna
kejahatan kemanusiaan di Myanmar. Oleh karena itu, membantu para imigran atas dasar kemanusiaan.
diperlukan adanya bantuan dari komunitas internasional Menurut Sekretaris Kementerian Luar Negeri Thailand,
untuk mendorong perlindungan bagi etnis Rohingya Norachit Sinhaseni, poin utama dalam hasil pertemuan
sebagai korban krisis dan kejahatan kemanusiaan. tersebut ialah pembentukan satuan tugas (Satgas),
Sebagaimana tercantum dalam laporan hasil seruan untuk mengatasi permasalahan di tempat asal
Konferensi Tingkat Tinggi Dunia tahun 2005 tentang imigran, serta penghormatan terhadap hak asasi
responsibility to protect, bahwa komunitas internasional manusia. Myanmar pun juga telah menyetujui dokumen
memiliki tanggung jawab menggunakan langkah tersebut. Meski telah menyetujui penghormatan
diplomatik, humaniter dan cara-cara damai lainnya terhadap hak asasi manusia, bukan berarti Myanmar
untuk melindungi korban kejahatan kemanusiaan. bersedia bertanggung jawab mengatasi krisis
Komunitas internasional dapat mengambil keputusan kemanusiaan yang dialami etnis Rohingya. Melalui

E-SOSPOL Volume IV Edisi 2, Mei – Agustus 2017; hal 82 - 88 Hal - 85


Ludfiani, A., et al., Krisis Kemanusiaan dan Upaya Thailand Mengatasi Gelombang Pengungsi Rohingya

Direktur Jenderal Luar Negeri Myanmar, Htein Lynn, Menanggapi tudingan dari berbagai pihak yang
Myanmar menyatakan bahwa permasalahan Rohingya menuntut pertanggungjawaban Myanmar, otoritas
bukan menjadi tanggung jawab Myanmar saja, Myanmar dengan tegas menolak disebut sebagai satu-
melainkan sudah menjadi tanggung jawab komunitas satunya pihak yang harus bertanggung jawab dalam
internasional (VIVA News, 2015). krisis kemanusiaan dan permasalahan arus imigran yang
Dalam upaya mengatasi krisis kemanusiaan etnis tidak terkendali tersebut. Delegasi Myanmar, Htein
Rohingya, berdasarkan prinsip responsibility to protect, Lynn membantah dan menolak pernyataan asisten
posisi Thailand ialah sebagai komunitas internasional UNHCR untuk mengakui Rohingya sebagai warga
yang memiliki tanggung jawab membantu negara lain negara Myanmar dan mengatasi penderitaan sekitar 1,3
membangun kapasitas untuk melindungi penduduknya juta orang Rohingya yang tinggal di negara bagian
dari kejahatan kemanusiaan. Thailand memiliki Arakan atau Rakhine bagian barat tersebut (Murdoch,
tanggung jawab untuk mengupayakan langkah 2015).
diplomatis, humaniter, dan cara-cara damai lainnya Hingga saat ini, pemerintah Myanmar bahkan
untuk membantu Myanmar yang nampak telah gagal menolak penggunaan kata “Rohingya”, melainkan
melindungi etnis Rohingya dari kejahatan kemanusiaan. menyebutnya sebagai “komunitas Muslim di negara
Dalam hal krisis kemanusiaan etnis Rohingya, akar bagian Rakhine”. Hal tersebut dikarenakan pemerintah
permasalahannya ialah terjadinya konflik di Myanmar Myanmar tetap menganggap etnis Rohingya sebagai
antara Buddha Rakhine dan etnis Rohingya. imigran ilegal asal Bangladesh, meskipun pada
Pemerintah Myanmar tidak mampu menangani kenyataannya etnis Rohingya sudah tinggal beberapa
ketegangan antara etnis Rohingya dengan mayoritas generasi di Myanmar bahkan sebelum Myanmar
Buddha di Myanmar yang kemudian menyebabkan merdeka. Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB,
terusirnya Rohingya sebagai kelompok minoritas. Hal Zeid Ra’ad Al Hussein menyatakan dalam laporannya
tersebut menyebabkan arus keluar etnis Rohingya dari bahwa pemerintah telah mewarisi situasi di mana
Myanmar tidak terkendali. Thailand tidak dapat secara undang-undang dan kebijakan-kebijakan di Myanmar
langsung menangani akar permasalahan serta dirancang untuk menolak hak-hak kaum minoritas,
penyelesaian menyeluruh terhadap kasus tersebut salah satu dari kaum minoritas itu ialah etnis Rohingya
dikarenakan berada di luar kedaulatan Thailand, (CNN, 2016). Oleh karena itu, sering kali ditemui etnis
melainkan sepenuhnya ialah kedaulatan Myanmar. Rohingya menjadi kelompok etnis yang diabaikan hak-
Thailand telah banyak memanfaatkan forum haknya di Myanmar.
internasional guna membahas gelombang pengungsi Penolakan Myanmar untuk bertanggung jawab
Rohingya dan menuntut tanggung jawab Myanmar penuh atas penyelesaian krisis kemanusiaan etnis
sebagai negara asal orang-orang Rohingya (Gacad, Rohingya tersebut merupakan faktor yang menghambat
2015). Bahkan, tidak hanya Thailand yang upaya Thailand sebagai bagian dari komunitas
mengupayakan negosiasi dengan Myanmar untuk internasional untuk mengatasi krisis kemanusiaan etnis
meminta pertanggung-jawabannya terhadap krisis Rohingya. Pada dasarnya, Myanmar adalah pihak yang
kemanusiaan yang dialami Rohingya, PBB dan banyak menjadi kunci keberhasilan upaya penyelesaian krisis
negara lainnya juga turut mengupayakan hal serupa. pengungsi Rohingya. Myanmar adalah pihak yang
Namun, dalam realisasinya, Myanmar secara tegas seharusnya melakukan upaya pencegahan dan
menolak untuk bertanggung jawab atas krisis penanganan krisis kemanusiaan sebagaimana prinsip-
kemanusiaan etnis Rohingya dengan alasan bahwa etnis prinsip responsibility to protect. Pencegahan dan
Rohingya bukan merupakan warga negara Myanmar. penanganan krisis kemanusiaan yang dialami etnis
Dalam pertemuan internasional di Bangkok, Thailand Rohingya ini sepenuhnya berada di bawah kedaulatan
pada 29 Mei 2015, Volker Turk, Asisten Komisioner Myanmar, sedangkan Thailand dalam hal ini
Tinggi untuk Perlindungan Pengungsi dalam UNHCR, kedaulatannya terbatas hanya sebagai komunitas
mendorong Myanmar untuk bertanggung jawab penuh intenasional yang bertanggung jawab mendorong
dengan memberikan perlindungan terhadap etnis Myanmar untuk melindungi etnis Rohingya dari krisis
Rohingya dan memutus aliran imigran Rohingya keluar dan kejahatan kemanusiaan.
dari Myanmar (Murdoch, 2015).
Namun, upaya mengatasi gelombang pengungsi dan Kesimpulan
krisis kemanusiaan etnis Rohingya melalui realisasi
responsibility to protect ini tidak dapat terealisasi Tidak optimalnya realisasi responsibility to protect
dengan optimal. Hal tersebut dibuktikan dengan masih dalam upaya Thailand mengatasi gelombang pengungsi
terus terjadinya krisis kemanusiaan yang dialami etnis Rohingya dikarenakan Thailand sebagai bagian dari
Rohingya hingga saat ini. Hingga tahun 2016, komunitas internasional hanya bertanggung jawab
pengungsi Rohingya bahkan masih terus berdatangan di mendorong Myanmar untuk melindungi etnis Rohingya.
berbagai negara tetangga Myanmar. Tidak optimalnya Namun, kedaulatan sepenuhnya dalam kasus ini adalah
realisasi responsibility to protect tersebut dikarenakan milik Myanmar, sedangkan Myanmar justru tidak
Myanmar secara tegas menolak untuk bertanggung kooperatif dan menolak bertanggung jawab atas kasus
jawab atas krisis kemanusiaan etnis Rohingya dengan krisis kemanusiaan yang dialami etnis Rohingya.
alasan bahwa etnis Rohingya bukan merupakan warga Dengan demikian, belajar dari kasus krisis
negara Myanmar (Gacad, 2015). kemanusiaan dan upaya Thailand mengatasi gelombang
pengungsi Rohingya, dapat disimpulkan bahwa suatu

E-SOSPOL Volume IV Edisi 2, Mei – Agustus 2017; hal 82 - 88 Hal - 86


Ludfiani, A., et al., Krisis Kemanusiaan dan Upaya Thailand Mengatasi Gelombang Pengungsi Rohingya

negara sebagai anggota komunitas internasional, "http://m.cnnindonesia.com/inter"ional/2016062105


memiliki berbagai kendala dalam upayanya mengatasi 5604-10613967 1/suu-kyi-tegaskanmyanmar-tak-
krisis kemanusiaan yang terjadi di negara lain. Hal ini akan- gunakan-istilah-rohingya/ [diaksespada 23
dikarenakan upaya yang dilakukan tergantung pada November 2016]
sejauh mana komitmen negara yang dibantu dalam Hindra. 2012. Kasus Rohingya Mengancam Reformasi
menegakkan kewajibannya melaksanakan prinsip- Myanmar. Dalam http://w wwHYPERLINK
prinsip responsibility to protect. "http://www/".crisHYPERLINK
"http://www/"isgroup.org/en/regions/asia/so uth-
Daftar Pustaka east-asia/myanmar/Op-eds/arbour- kasusrohingya-
mengancam-reformasi- myanmar.aspx [diakses
Buku pada 19 April 2016]
International Human Rights Clinic, Yale Law School Human Rights Watch (HRW). 2012. Untold Miseries:
(IHRC). 2015. Persecution of The Rohingya War time Abuses and Forced Displace ment in
Muslims: Is Genocide Occurring in Myanmar’s Burma’s Kachin State. Dalam http://www.hrw.o
Rakhine State?. Dalam: http://www.fortifyrigh rg/siteHYPERLINK
ts.oHYPERLINK "http://www.hrw.org/site"s/default/files/reports/bur
"http://www.fortifyrights.o/"rg/downloads/Yale_Pe ma031 2For Upload 1_0.pdf [diakses pada 1 Maret
rsecution_of the_Rohingya_October_2015.pdf 2016]
[diunduh pada 1 Juli 2016] Internews. 2014. Manual Handouts: Reporting on
Humanitarian Crises. Dalam http://www.iHYPERLINK
Jurnal
"http://www.internews/"nternewsHYPERLINK
Marelda, Santa. 2011. Responsibility to Protect: Suatu
"http://www.internews/".
Tanggung Jawab dalam Kedaulatan Negara. Jurnal
Hubungan Internasional .Vol 2. No.1 Dalam org/sites/default/files/resources/IN140
http://pustakaHYPERLINK 220_HumanitarianReportingHANDO UTS_WEB.pdf
"http://pustakahpi.kemlu.go.id/app/Vol"hpi.kemlu.g [diakses pada 16 Juni 2016]
Integrated Regional Information Networks (IRIN).
o.id/app/Vol ume%202%20Mei- 2016. Rohingya in Thailand: Safe for Now. Dalam
Agustus%202011_ 35_45.PDF[diakses pada 5 Juni
http://wwHYPERLINK
2016]
"http://www.irinnews.org/fr/node/2531"w.irinnews.
Internet org/fr/node/2531 36 [diakses pada 30 September
Purwanto, Antonius. 2015. Menelisik Akar Persoalan 2016]
Rohingya. Dalam http:// prHYPERLINK Murdoch, Lindsay. 2015. Asian Migrant Crisis:
"http://pr/"inHYPERLINK Myanmar Rejects Responsibility for Rohingya
"http://pr/"tHYPERLINK Refugees. Dalam http://www.sHYPERLINK
"http://pr/".kompas.com/baca/2015/06/03/M "http://www.smh.com.au/world/"mHYPERLINK
enelisik-Akar-Persoalan-Rohingya [diakses pada 19 "http://www.smh.com.au/world/"hHYPERLINK
April 2016] "http://www.smh.com.au/world/".com.au/world/
Campbell, Charlie . 2014. Thailand Sends 1300 asianmigrant-crisis-myanmar-rejects-
Rohingya Back to Hell. Dalam responsibility-for-rohingya-refugees- 20150529-
http://times.com/7335/thailandHYPERLINK ghcajn.html [diakses pada 30 November 2016]
"http://time.com/7335/thailand-sen"- sends1300- NET News. 2015. Pemerintah Thailand Tolak
Pengungsi Rohingya. Dalam
rohingya- back-to-hell [diakses pada 30 September
https://mHYPERLINK
2016]
"https://m.youtube.com/watchv=L_MK".youtube.c
CNN News. 2015. Indonesia, Malaysia dan Thailand
om/watchv=L_MK FU5XhZ0 [diakses pada 10
Bertemu Bahas Arus Migran. Dalam
September 2016]
http://m.cnnindonesiaHYPERLINK
Sarnia, Pamela. 2015. Mengenal Imigran Rohingya dari
"http://m.cnnindonesia/". coHYPERLINK
Myanmar. Dalam http://news.okezoHYPERLINK
"http://m.cnnindonesia.co/"m/HYPERLINK
"http://news.okezone.com/read/2015/0"neHYPERL
"http://m.cnnindonesia.co/"internasional/20150519
INK
094756- 106-54116/indonesia-malaysiadanthai
"http://news.okezone.com/read/2015/0".com/read/2
land-bertemu- bahas-arus-imigran/ [diakses pada 23
November 2016] 015/0 5/15/18/1150247/mengenal-imigran-
CNN. 2016. Suu Kyi Tegaskan Myanmar Tak Akan rohingya-dari-myanmar [diakses pada 22 Maret
Gunakan Istilah Rohingya. Dalam 2016]
http://m.cnnindonesia.cHYPERLINK Gacad, Romeo. 2015. Myanmar Tolak Bahas Rohingya.
"http://m.cnnindonesia.com/inte"om/HYPERLINK Dalam http://www.mediain dHYPERLINK
"http://m.cnnindonesia.com/inte"inte "http://www.mediaind/"onHYPERLINK
rHYPERLINK "http://www.mediaind/"esHYPERLINK
"http://m.cnnindonesia.com/inter"naHYPERLINK "http://www.mediaind/"iaHYPERLINK
"http://m.cnnindonesia.com/inter"sHYPERLINK "http://www.mediaind/".com/news/read/3551/myan

E-SOSPOL Volume IV Edisi 2, Mei – Agustus 2017; hal 82 - 88 Hal - 87


Ludfiani, A., et al., Krisis Kemanusiaan dan Upaya Thailand Mengatasi Gelombang Pengungsi Rohingya

ma r-tolak-bahas-rohingya/2015-05-18 [diakses "http://www.unhcr.org/528a0a"33HYPERLINK


pada 10 September 2016] "http://www.unhcr.org/528a0a"0.pHYPERLINK
Fredickson, Terry. 2015. Boat People Meet: Immediate "http://www.unhcr.org/528a0a"dHYPERLINK
Help But Long- Term Problems Unsolved. Dalam "http://www.unhcr.org/528a0a"f [diakses pada 9
http:// wHYPERLINK September 2016]
"http://www.bangkokpost.com/learning/adv"ww.ba UNHCR Thailand. 2015 b. We have been Working
ngkokpost.com/learning/adv Continously with the Government and NGO. Dalam
anced/576619/thailandhosts-boat-peop le- http://www.unhcr.or.th/en/aHYPERLINK
conference-today [diakses pada 23 November "http://www.unhcr.or.th/en/about/thaila"bout/thaila
2016] nd [diakses pada 1 September 2016]
Sindo News. 2013. Warga Thailand Protes VIVA News. 2015. Atasi Pengungsi Rohingya, ASEAN
Pembangunan Kamp Rohingya. Dalam Sepakat Bentuk Satgas. Dalam
http://international.sindonews.c http://dunia.news.viva .cHYPERLINK
om/read/751654/40/warga-thailandpro tes- "http://dunia.news.viva.c/"o.iHYPERLINK
pembangunan-kamp-rohingya-13 71636879 "http://dunia.news.viva.c/"d/news/read/632142-
[diakses pada 23 November 2016] atasi-pengun gsi-rohingya-asean-sepakat-bentuksat
UNHCR Thailand. 2015 a. Thailand's Budget. Dalam gas [diakses pada 23 November 2016]
http://www.unhcr.org/ 528a0aHYPERLINK

E-SOSPOL Volume IV Edisi 2, Mei – Agustus 2017; hal 82 - 88 Hal - 88