Вы находитесь на странице: 1из 14

Tekno-Pedagogi Vol. 7 No. 2. September 2017 : 1-14

ISSN 2088-205X

STUDI PERBANDINGAN PROMOSI KESEHATAN ANTARA LEAFLET DENGAN VIDEO TERHADAP PENGETAHUAN TENTANG KANKER PAYUDARA DAN KETERAMPILAN DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA (SADARI) PADA REMAJA PUTRI DI JURUSAN KEBIDANAN POLTEKKES JAMBI TAHUN 2016

Netti Herawati 1 , Damris M 2 , Jefri Marshal 2

1 Poltekkes Jambi, 2 Universitas Jambi

ABSTRACT

Cancer is a disease that is feared by society because it often causes death. Every 11 minutes there is one person in the world who died of cancer, every 3 minutes there is one new cancer patients. While in women, the order of the top five are cervical cancer, breast cancer, ovarian cancer / ovary, skin cancer and rectal cancer. Breast cancer is a malignant tumor that grows in the breast tissue. information of cancer cases with the highest incidence in women with breast cancer, it is necessary to early detection of breast cancer / tumor in the Midwifery students, because at this level students are young women who are at risk of developing breast cancer. This study aims to determine the ratio of health promotion to knowledge about breast cancer and breast cancer early detection skill (SADARI) in adolescent girls at Jatiling Poltekkes Jambi Year 2016. This type of research is quasi experimental with non-randomized pre- test-post-test group design.Instruments used are Instruments test knowledge about breast cancer and test instruments BSE skills. Data analysis was performed multivariate (MANOVA) and paired sample T-Test and independet sample T-Test. The results of the study were (1) there was a difference of knowledge about breast cancer between the groups that were given health promotion using leaflet with the group that was given health promotion using video, video media better and gave more dominant influence to the knowledge aspect of breast cancer. Differences in breast cancer early detection skills (BSE) between health-promoted groups used leaflets with health-promoted groups using better video video media and more dominant influence on aspect of girls' breast self- examination. Based on the results of the study, it was concluded that the use of video as a media of health promotion is better than the use of leaflets to increase knowledge about breast cancer and girls skills in early detection of breast cancer, so educators can make the video as an alternative tool in providing learning to students, especially for motor skills.

Keywords : Health Promotion, Knowledge, Skills.

PENDAHULUAN

Kanker payudara adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara. Kanker tersebut bisa mulai tumbuh didalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak maupun jaringan ikat payudara (Azis et al., 2013:16).

Tekno-Pedagogi Vol. 7 No. 2. September 2017 : 1-14

ISSN 2088-205X

Kanker adalah penyakit yang sangat ditakuti masyarakat karena sering menyebabkan kematian. Setiap 11 menit ada satu orang penduduk dunia yang meninggal karena kanker, setiap 3 menit ada satu penderita kanker baru. Satu dari sembilan wanita dinegara-negara maju menderita kanker. Data pemeriksaan histopatologi di Indonesia tahun 1999 menyatakan urutan lima besar kanker adalah kanker leher rahim, kanker payudara, kanker kelenjar getah bening, kanker kulit dan kanker rektum. Sedangkan pada wanita, urutan lima besar adalah kanker leher rahim, kanker payudara, kanker indung telur/ovarium, kanker kulit dan kanker rektum (Rasyidi, 2009: 1). Berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) 2005 urutan penderita kanker 1 di Indonesia adalah kanker payudara (28,4%) dan urutan ke-2 adalah kanker leher rahim (18%) sedangkan SIRS 2007 urutan penderita kanker 1 masih kanker payudara (21,69%) dan urutan ke-2 adalah kanker leher rahim (17%) (Rasyidi, 2009: 2).

Tingginya tingkat kematian akibat kanker /tumor payudara terutama diIndonesia disebabkan antara antara lain rendahnya pengetahuan masyarakat tentang bahaya kanker, tanda-tanda dini dari kanker, faktor-faktor resiko terkena kanker, cara penanggulangannya secara benar serta membiasakan diri dengan pola hidup sehat. Tidak sedikit dari mereka yang terkena kanker, datang berobat ke tempat yang salah dan baru memeriksakan diri ke sarana pelayanan kesehatan ketika stadiumnya sudah lanjut sehingga biaya pengobatan lebih mahal. Melihat data tersebut, maka tatalaksana yang kompehensif termasuk pencegahan primer dan deteksi dini harus dilaksanakan dengan baik maka perlu upaya pendeteksian dini tumor/kanker payudara.

Data yang dihimpun Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta menyebutkan banyak penderita kanker payudara pada usia relatif muda dan tumor payudara menyerang tidak sedikit remaja putri usia empat belas tahun (Sistem Informasi Rumah Sakit,

2007).

Menurut Aziz et al. (2009:19) mengatakan pada dasarnya, kanker payudara dapat ditemukan secara dini dengan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri). SADARI merupakan pemeriksaan yang dilakukan pada payudara untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada payudara itu sendiri. Tujuan dari pemeriksaan payudara sendiri adalah mendeteksi dini apabila terdapat benjolan pada payudara, terutama yang dicurigai ganas, sehingga dapat menurunkan angka kematian. SADARI sangat penting dianjurkan kepada masyarakat karena hampir 86% benjolan di payudara ditemukan oleh penderita sendiri.

Cara ini perlu dikuasai dan dilakukan oleh remaja putri agar dapat melakukan deteksi dini kanker payudara. Salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan SADARI remaja adalah melalui latihan SADARI, dalam hal ini pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) efektif untuk dilakukan pada tahap remaja, karena pada batasan usia tersebut merupakan saat yang tepat untuk memulai melakukan usaha preventif deteksi dini terjadinya penyakit Fibroadenoma Mammae (FAM) dan Cancer Mammae. Promosi kesehatan di sekolah ditambah dengan

Tekno-Pedagogi Vol. 7 No. 2. September 2017 : 1-14

ISSN 2088-205X

metode promosi yang tepat dalam pelaksanaan dan penyerapannya merupakan langkah yang strategis dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat hal ini didasari pemikiran bahwa sekolah merupakan lembaga yang sengaja didirikan untuk membina dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia baik fisik mental maupun spiritual.

Terbatasnya akses informasi yang akurat diyakini menjadi salah satu penyebab tingginya kasus kanker payudara di Indonesia. Penyebab lain tingginya kasus kanker payudara adalah karena minimnya kesadaran untuk melakukan deteksi dini. Akibatnya, sebagian besar kasus kanker payudara yang ditemukan sudah masuk pada stadium lanjut dan dapat menyebabkan kematian.

Hal ini didukung pula oleh studi pendahuluan yang dilakukan penulis pada tanggal 19 Maret 2015. Penulis mendapatkan hasil dari tanya jawab terhadap 10 orang mahasiswi semester 2 yaitu 7 diantaranya mengatakan belum pernah mendengar tentang SADARI, 3 orang lagi mengatakan pernah mendengar tapi tidak mengetahui bagaimana cara yang benar dalam melakukan SADARI tersebut, dan saat diwawancarai tidak seorangpun dari 10 mahasiswi pernah mendapatkan penyuluhan tentang kanker payudara dan SADARI sebagai deteksi dini kanker payudara sebelumnya.

Oleh karena itu, perlu adanya suatu usaha untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran wanita agar lebih berperan aktif mengikuti program skrining kanker payudara. Salah satunya adalah dengan pemberian informasi dengan promosi kesehatan tentang bahaya kanker payudara dan pentingnya skrining bagi wanita khususnya remaja putri dalam upaya deteksi dini kanker payudara. Dengan adanya upaya tersebut diharapkan pengetahuan dan kesadaran remaja putri dapat meningkat dan dapat berpartisipasi aktif dalam program skrining kanker payudara untuk diri sendiri dan juga untuk masyarakat luas.

Berdasarkan informasi kasus kanker dengan insiden tertinggi pada perempuan dengan kanker payudara, maka perlu adanya upaya pendeteksian dini kanker/tumor payudara pada mahasiswa Jurusan Kebidanan. Pada tingkatan ini mahasiswa merupakan remaja putri yang beresiko terkena kanker payudara.

Promosi kesehatan pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan atau usaha menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok, atau individu, dengan harapan bahwa dengan adanya pesan tersebut, maka masyarakat, kelompok atau individu dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik. Pengetahuan tersebut pada akhirnya diharapkan dapat berpengaruh terhadap perilaku. Dengan kata lain dengan adanya promosi kesehatan tersebut, diharapkan dapat membawa akibat terhadap perubahan perilaku dari sasaran. Promosi kesehatan juga sebagai suatu proses dimana proses tersebut mempunyai masukan (input) dan keluaran (output). Dalam suatu proses pendidikan kesehatan yang menuju tercapainya tujuan promosi, yakni perubahan perilaku, dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor yang mempengaruhi suatu proses pendidikan disamping faktor masukannya sendiri juga faktor metode, faktor materi atau pesannya,

Tekno-Pedagogi Vol. 7 No. 2. September 2017 : 1-14

ISSN 2088-205X

pendidik atau petugas yang melakukannya, dan alat bantu atau media yang digunakan untuk menyampaikan pesan (Notoatmodjo, 2010:284).

Media promosi kesehatan adalah semua sarana atau upaya untuk menampilkan pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh komunikator. Promosi kesehatan tidak dapat lepas dari media karena melalui media, pesan-pesan yang disampaikan dapat lebih menarik dan dipahami, sehingga sasaran dapat lebih mempelajari pesan tersebut sehingga sampai memutuskan untuk mengadopsi perilaku yang positif. Banyak media promosi kesehatan yang dapat digunakan, salah satunya audio visual. Media audio visual merupakan jenis media yang selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang dapat dilihat, seperti rekaman video, berbagai ukuran film, slide suara dan lain sebagainya (Notoatmodjo, 2010:70). Salah satu media promosi kesehatan lainnya adalah leaflet. Leaflet adalah bentuk penyampaian informasi atau pesan pesan kesehatan melalui lembaran yang dilipat. Isi informasi dapat dalam bentuk kalimat maupun gambar atau kombinasi (Notoatmodjo, 2007:69). Informasi melalui media leaflet merupakan bagian dari media pendidikan kesehatan yaitu suatu usaha untuk membantu individu, kelompok atau masyarakat dalam meningkatkan kemampuan (perilaku) nya untuk mencapai kesehatan optimal.

Promosi kesehatan di sekolah atau institusi pendidikan ditambah dengan metode promosi yang tepat dalam pelaksanaan dan penyerapannya merupakan langkah yang strategis dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat hal ini didasari pemikiran bahwa sekolah merupakan lembaga yang sengaja didirikan untuk membina dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia baik fisik mental maupun spiritual. Sekolah atau institusi pendidikan juga merupakan wadah untuk mendapatkan informasi dan konseling tentang Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR).

METODE

Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi experimental) dengan rancangan non-randomized pre-test-post-test group design (Creswel.JW: 242).

Pada penelitian ini komposisi remaja putri atau mahasiswa pada kedua kelompok yang telah dipilih dalam penelitian tidak memungkinkan untuk dirubah, dimana peneliti menggunakan kelas yang telah ada, sehingga penelitian ini disebut sebagai penelitian eksperimen semu (quasi) atau disebut juga Quasi-experiments.

Model rancangan penelitian ini adalah:

Kelompok / Kelas I (leaflet ) 01 -------X1------02-------03

Kelompok /Kelas II (video )

Keterangan:

04 -------X2------05-------06

Tekno-Pedagogi Vol. 7 No. 2. September 2017 : 1-14

ISSN 2088-205X

01

:Pengukuran pengetahuan remaja putri tentang kanker payudara

X1

sebelum perlakukan (pre-test) pada kelompok yang diberi promosi kesehatan dengan leaflet. :Perlakuan dengan memberikan pomosi kesehatan m e n g gunakan

02

media leaflet tentang kanker payudara. :Pengukuran pengetahuan remaja putri tentang kanker payudara

03

dua minggu setelah pre-test (post-test) pada kelompok yang diberi promosi kesehatan dengan leaflet. :Penilaian keterampilan SADARI pada kelompok yang diberi

04

promosi kesehatan dengan leaflet. :Pengukuran pengetahuan remaja putri tentang kanker payudara

X2

sebelum promosi kesehatan dengan video. : Perlakuan dengan memberikan promosi kesehatan dengan video tentang kanker payudara

05

:Pengukuran pengetahuan remaja putri tentang kanker payudara dua minggu setelah pre-test (post-test) pada kelompok yang diberi promosi kesehatan dengan video.

06

:Penilaian keterampilan SADARI pada kelompok yang diberi promosi kesehatan dengan video.

Metode pemilihan sampling dalam penelitian menggunakan total sampling yaitu metode pemilihan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampling. Terdapat dua kelas mahasiswa semester II di Poltekkes Kemenkes Jambi Jurusan Kebidanan. Kedua kelas tersebut dipilih sebagai sampel penelitian tanpa melihat apakah jumlahnya sama atau berbeda. Adapun yang menjadi sampel ini adalah seluruh mahasiswa semester II Poltekkes Kemenkes Jurusan Kebidanan tahun ajaran 2015/2016 yang berjumlah 60 orang.

Teknik dan alat pengumpulan data yang digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan remaja putri /mahasiswa dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dengan melakukan pembagian koesioner, sedangkan instrumen atau alat ukur untuk mengukur keterampilan remaja putri/mahasiswa dalam pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) digunakan instrumen /alat ukur yang berupa check list untuk menilai sikap dan unjuk kerja mahasiswa. Dilakukan analisis multivariat (MANOVA) dan uji paired sample T-Test serta independet sample T-Test untuk mengetahui perbedaan promosi kesehatan dengan menggunakan media video dan leaflet serta perubahan terhadap pengetahuan tentang kanker payudara dan keterampilan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Sebelumnya dilakukan asumsi klasik dengan cara melakukan uji normalitas dan homogenitas dengan bantuan SPSS.

Tekno-Pedagogi Vol. 7 No. 2. September 2017 : 1-14

ISSN 2088-205X

HASIL

A. Deskripsi Data Hasil Penelitian Hasil pre-test dan postest dari kelas I dan kelas II untuk aspek pengetahuan

dapat dilihat seperti pada Tabel.1. Tabel 1 Rata-Rata Pretest dan Postest Pengetahuan terhadap Kanker Payudara

Kelas

Media

Jumlah

Rata-rata

Mahasiswa

Pretest

Postest

 

I Leaflet

30

56,0

66,7

 

II Video

30

54,0

75,7

Hasil rata-rata pretest dan postest untuk keterampilan SADARI dapat dilihat seperti pada tabel 2. Tabel 2. Rata-Rata Pretest dan Postest Keterampilan SADARI

Kelas

Media

Jumlah

Rata-rata

Mahasiswa

Pretest

Postest

 

I Leaflet

30

6,9

67,0

 

II Video

30

6,6

74,7

1. Uji Normalitas Hasil penelitian

Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji 1 Sample Kolmogorov- Smirnov dengan bantuan SPSS 21. Adapun hasil uji normalitas dapat dilihat pada Tabel 3 berikut:

Tabel 3 Normalitas Data Pengetahuan dan Keterampilan SADARI

       

Nilai Signifikansi

 

Kelas

Media

Jumlah

Pengetahuan

Keterampilan

Mahasiswa

SADARI

Pretest

Postest

Pretest

Postest

 

I Leaflet

30

0,187

0,774

0,280

0,165

 

II Video

30

0,565

0,580

0,080

0,653

Dari Tabel 4.3 diketahui bahwa baik dikelas I maupun II memiliki nilai signifikansi penilaian pengetahuan dan keterampilan SADARI yang > 0,05. Artinya, seluruh data yang diambil sudah berdistribusi normal dan bisa digunakan untuk keperluan uji statistik

2. Uji Homogenitas

Uji homogenitas pada penelitian ini menggunakan uji Levene’s Test of Equality of Error Variances dengan bantuan SPSS 21. Adapun hasil uji homogenitas dapat dilihat pada Tabel 4.

Tekno-Pedagogi Vol. 7 No. 2. September 2017 : 1-14

ISSN 2088-205X

Tabel 4. Uji Homogenitas

F tabel

(df1 = 1; df2 = 58)

Variabel F

hitung

Signifikansi

Pengetahuan

2,883

4,007

0,095

Keterampilan SADARI

2,563

0,115

Diketahui bahwa F hitung untuk kedua variabel < F tabel sehingga variabel pengetahuan dan keterampilan SADARI adalah homogen. Hal ini juga terlihat dari nilai signifikansi kedua variabel yang lebih besar dari 0,05 (sig. > 0,05) sehingga kedua variabel homogen.

3. Uji Paired Samples T-Test (Uji Perbedaan Rata-Rata Pretest-Postest)

Uji perbedaan rata-rata pretest-postest dalam penelitian ini menggunakan uji Paired Samples T-Test dengan bantuan SPSS 21. Adapun hasil uji perbedaan rata- rata pretest-postest untuk kelas I dan Kelas II dari aspek pengetahuan dan keterampilan SADARI dapat dilihat seperti pada Tabel 5. Tabel 5 Uji Perbedaan Rata-Rata Pretest-Postest

Variabel/Media

t

hitung

t tabel (df = 29)

Signifikansi

Pengetahuan/Leaflet

2,936

 

0,006

Pengetahuan/Video

8,344

2,045

0,000

Keterampilan SADARI/Leaflet

21,465

0,000

Keterampilan SADARI/Video

24,737

 

0,000

Berdasarkan uji perbedaan rata-rata pretest-postest diketahui bahwa terdapat perbedaan rata-rata antara sebelum dan sesudah penggunaan media leaflet dan video terhadap pengetahuan dan keterampilan SADARI. Hal ini terlihat dari nilai t hitung masing-masing variabel dan kelas yang lebih besar dari nilai t tabel (df = 30-1 = 29) yaitu sebesar 2,045. Adanya perbedaan ini juga dapat dilihat dari nilai signifikansi masing-masing variabel dan kelas yang kurang dari 0,05 (sig. < 0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada masing-masing kelas, terdapat pengaruh penggunaan media baik leaflet dan video terhadap hasil belajar mahasiswa (pengetahuan dan keterampilan SADARI).

4. Uji Multivariat (MANOVA)

Uji

ini

dilakukan

dengan

MANOVA

(Multivariate

Analysis

of

Variance)

menggunakan SPSS 21. Adapun hasil uji multivariat dipaparkan dalam Tabel 6.

Tabel 6 Uji Multivariat

Variabel

Nilai Signifikansi

Pengetahuan

0,008

Keterampilan SADARI

0,037

Berdasarkan uji Multivariat pada Tabel 6, diketahui bahwa terdapat

media terhadap pengetahuan dan keterampilan

pengaruh

antara

penggunaan

Tekno-Pedagogi Vol. 7 No. 2. September 2017 : 1-14

ISSN 2088-205X

SADARI yang dibuktikan dengan nilai signifikansi variabel pengetahuan (Y 1 ) sebesar 0,008 dan variabel keterampilan SADARI (Y 2 ) sebesar 0,037. Karena kedua nilai signifikansi < 0,05 maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat pengaruh penggunaan media terhadap pengetahuan kanker dan keterampilan SADARI pada remaja putri di Poltekkes Kemenkes Jambi Jurusan Kebidanan.

5. Uji-t Sampel Independen

Untuk mengetahui jenis media yang mana yang memliliki pengaruh yang lebih baik terhadap pengetahuan dan keterampilan SADARI, maka perlu dilakukan uji t untuk sampel independen (kelas I dan II). Adapun hasil uji t untuk sampel

independen dapat dilihat seperti pada Tabel 7 berikut. Tabel 7 Uji-t Sampel Independen

Rata-rata

Video

(Kelas II)

Leaflet

(Kelas I)

t tabel (df =

58)

Variabel

t

hitung

Signifikansi

0,037

Pengetahuan

75,7

66,7

2,730

2,002

0,008

Keterampilan

SADARI

74,7

67,0

2,133

Sumber: Data primer yang diolah, 2016 Dari Tabel 4.7 tampak bahwa terdapat perbedaan rata-rata antara kelas II yang menggunakan video dan kelas I yang menggunakan leaflet dari masing-masing variabel, baik pengetahuan dan keterampilan SADARI dimana rata-rata untuk kelas II adalah 75,7 sedangkan kelas I hanya 66,7 (variabel pengetahuan) serta rata-rata 74,7 untuk kelas II dan 67,0 untuk kelas I (variabel keterampilan SADARI). Taraf signifikansi dari aspek pengetahuan dan keterampilan yaitu berturut-turut 0,008 dan 0,037 (signifikansi < 0,05) yang membuktikan bahwa kedua perlakuan media memberikan perbedaan yang signifikan terhadap pengetahuan dan keterampilan mahasiswa. Dari tabel di atas, membuktikan bahwa rata-rata pengetahuan dan keterampilan mahasiswa jauh lebih tinggi jika menggunakan media video sebagai alat bantu belajar. Selain itu, dari nilai t hitung yang diperoleh untuk variabel pengetahuan 2,730 dan keterampilan 2,133 (t hitung > t tabel ) yang membuktikan bahwa media video memiliki pengaruh yang lebih baik terhadap pengetahuan dan keterampilan SADARI.

PEMBAHASAN

1. Perbedaan Pengetahuan tentang Kanker Payudara antara Mahasiswa yang Menggunakan Media Leaflet dengan Video.

Adanya perbedaan antara pemberian promosi kesehatan dengan menggunakan media leaflet dengan yang menggunakan media video diketahui melalui uji t untuk kelas I dan II (independent sample t test) setelah sebelumnya dilakukan uji Manova dan terlihat bahwa media mempengaruhi pengetahuan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Jambi Jurusan Kebidanan. Dari hasil uji t sampel independen diketahui

Tekno-Pedagogi Vol. 7 No. 2. September 2017 : 1-14

ISSN 2088-205X

bahwa terdapat perbedaan rata-rata pengetahuan mahasiswa yang diajar menggunakan media leaflet dengan yang menggunakan media video dengan signifikansi sebesar 0,008 (< 0,05). Dari rata-rata diketahui bahwa postest yang dilakukan untuk kelas I (menggunakan media leaflet) memiliki rata-rata 66,7 untuk aspek pengetahuan terhadap kanker payudara. Sementara itu, untuk kelas II (menggunakan media video) memiliki rata-rata 75,7. Secara langsung dapat diketahui bahwa rata-rata kelas II jauh lebih tinggi dibanding kelas I, yaitu untuk aspek pengetahuan tentang kanker payudara dengan selisih rata-rata kelas II terhadap kelas I sebesar 9 atau naik sebesar 13,5%.

Selain dilihat dari selisih rata-rata, perbedaan juga dapat dilihat melalui nilai thitung untuk aspek pengetahuan, yaitu nilai thitung adalah 2,730. Nilai tersebut lebih besar dari nilai ttabel untuk df = 30 + 30 2 = 58 yaitu 2,002 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat perbedaan rata-rata antara penggunaan media video dengan penggunaan media leaflet. Karena nilai thitung positif, maka pengaruh lebih mengarah ke media video, atau dengan kata lain media video lebih baik dan memberikan pengaruh yang lebih dominan terhadap aspek pengetahuan terhadap kanker payudara mahasiswa Poltekkes Kemenkes Jambi Jurusan Kebidanan.

Hal ini sejalan dengan penelitian Kanayana (2001) yang menyatakan bahwa promosi kesehatan menggunakan media video (VCD) dapat mempengaruhi pengetahuan terhadap gejala penyakit dan cara mendeteksinya. Media video dikarenakan media video dapat memberikan pemahaman yang lebih baik kepada penontonnya (mahasiswa) karena menyajikan hal-hal yang tidak bisa kita lihat pada umumnya.

Media promosi melalui video merupakan cara pemberian informasi yang sangat baik karena media video mampu diakses lebih dari satu indera manusia, khususnya pendengaran dan penglihatan. Karena semakin banyak indera yang berperan dalam proses penerimaan pesan, maka penerimaan pesan semakin cepat dan mudah ditangkap. Selain itu menurut Susilana & Riyana (2011:9) media seperti video dapat mengatasi keterbatasan ruang dan waktu. Melalui media video, mahasiswa dapat diajak melihat pergerakan sel kanker, atau mendengar penjelasan dari narasumber secara langsung mengenai pengetahuan tentang kanker payudara. Efek gambar yang bergerak tentu saja akan memberikan pengalaman belajar yang lebih kaya dibanding hanya melalui gambar diam seperti pada leaflet. Dengan adanya media video dalam promosi kesehatan, maka mahasiswa akan cepat memahami tentang kanker payudara. Selain itu, media video juga bisa membuat mahasiswa fokus dengan materi promosi karena adanya gerakan yang membuat mata menjadi fokus untuk melihat ke arah gerakan dibanding hanya gambar diam yang cenderung monoton.

2. Perbedaan Keterampilan dalam Deteksi Dini Kanker Payudara antara Mahasiswa yang Menggunakan Media Leaflet dengan Video

Perbedaan keterampilan terlihat dari rata-rata postest yang dilakukan untuk kelas I (menggunakan media leaflet) memiliki rata-rata 67,0 untuk aspek keterampilan

Tekno-Pedagogi Vol. 7 No. 2. September 2017 : 1-14

ISSN 2088-205X

SADARI. Sementara itu, untuk kelas II (menggunakan media video) memiliki rata- rata 74,7. Secara langsung dapat diketahui bahwa rata-rata kelas II jauh lebih tinggi dibanding kelas I, yaitu untuk aspek keterampilan remaja putri mengenai SADARI, diperoleh selisih rata-rata kelas II terhadap kelas I sebesar 7,7 atau naik sebesar

11,5%.

Selain dilihat dari selisih rata-rata, perbedaan juga dapat dilihat melalui nilai thitung pada aspek keterampilan SADARI saat uji t sampel independen dengan nilai thitung sebesar 2,133. Nilai tersebut lebih besar dari nilai ttabel untuk df = 30 + 30 2 = 58 yaitu 2,002 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat perbedaan rata-rata antara penggunaan media video dengan penggunaan media leaflet dari aspek keterampilan. Karena nilai thitung positif, maka pengaruh lebih mengarah ke media video dibanding media leaflet, atau dengan kata lain media video lebih baik dan memberikan pengaruh yang lebih dominan terhadap aspek keterampilan SADARI mahasiswa Poltekkes Kemenkes Jambi Jurusan Kebidanan.

Hal ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan Siburian (2015) yang mengatakan bahwa terdapat perbedaan keterampilan mendeteksi kanker payudara antara yang diberi media promosi berupa leaflet dengan yang diberi media promosi video. Dalam penelitiannya Siburian memaparkan bahwa media video lebih efektif dalam mempengaruhi aspek keterampilan remaja putri daripada media leaflet. Siburian (2015:43) mengatakan bahwa penggunaan media leaflet tidak mampu mengoptimalkan keterampilan remaja putri dalam deteksi kanker payudara karena keterbatasan informasi dan hanya dapat diakses oleh satu indera, yaitu penglihatan. Sedangkan pada media video memuat informasi yang lebih detail dan dijelaskan dengan contoh dalam bentuk gambar bergerak yang bisa dipahami mahasiswa yang mengikuti promosi.

Media promosi kesehatan memiliki keunggulan dalam mengajak dan memberi informasi kepada responden (mahasiswa/remaja putri) mengenai kanker payudara dan cara mendeteksinya sejak dini. Media seperti leaflet dan video bisa mempengaruhi pengetahuan dan keterampilan mendeteksi kanker payudara karena media-media tersebut berfungsi memperlancar pesan yang disampaikan guru/promotor kesehatan agar tersampaikan dengan lebih jelas. Tanpa penggunaan media, maka promosi kesehatan menjadi membosankan dan berakibat audiens tidak fokus sehingga tidak bisa mendapatkan informasi secara menyeluruh jika hanya disampaikan secara verbal. Susilana & Riyana (2011:9) memaparkan bahwa kegunaan media adalah sebagai alat bantu untuk menyampaikan informasi sehingga lebih jelas dipahami, mengatasi keterbatasan indera manusia, serta menyajikan informasi dengan lebih menarik dibandingkan hanya melalui bahasa verbal saja sehingga diharapkan audiens lebih fokus dan tertarik dengan pemaparan informasi yang diberikan.

Tekno-Pedagogi Vol. 7 No. 2. September 2017 : 1-14

ISSN 2088-205X

Media leaflet memiliki beberapa kekurangan jika dibandingkan dengan media video, salah satunya adalah media leaflet hanya memuat gambar sedangkan pada video memuat gambar bergerak. Perbedaan ini bisa memberikan informasi yang berbeda pula bagi sebagian orang terlebih pada bagian pemaparan langkah-langkah deteksi dini/SADARI. Pada gambar di leaflet, hanya ditunjukkan langkah dengan panduan berupa gambar yang terkadang sulit untuk dipahami audiens. Namun hal ini menjadi mudah dipahami jika menggunakan media video karena dalam video dicontohkan secara langsung sehingga audiens langsung mengerti. Susilana & Riyana (2011:10) mengatakan bahwa fungsi media lainnya adalah sebagai alat realisasi suatu fenomena/peristiwa yang tidak bisa dilihat secara langsung karena keterbatasan tertentu. Kegiatan seperti pemeriksaan dini payudara/SADARI lebih mudah dipahami jika langsung melihat prakteknya dibanding hanya melihat potongan-potongan gambar saja.

Media video juga lebih fleksibel dalam memberikan penjelasan mengenai konsep materi dan detail keterampilan tertentu karena video biasanya langsung menggambarkan informasi melalui ilustrasi. Selain itu media video juga bisa menghadirkan narasumber yang memang mengerti tentang materi dan keterampilan tertentu sehingga penjelasan dari narasumber bisa langsung dipahami oleh audiens. Penjelasan yang disajikan di video lebih berisi dan lengkap dibanding pada leaflet mengingat pada leaflet terdapat keterbatasan ruang dan banyaknya gambar yang membuat teks/tulisan menjadi lebih sedikit. Secara keseluruhan media video bisa memberikan pengalaman belajar yang lebih baik daripada media leaflet. Namun bukan berarti media leaflet tidak bisa memberikan pengaruh terhadap pengetahuan dan keterampilan SADARI. Berbagai media memiliki kelebihan- kelebihannya sendiri sehingga baik untuk digunakan selama sesuai dengan konteks dan kondisi di lapangan.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan secara umum bahwa:

1. Terdapat perbedaan pengetahuan tentang kanker payudara pada mahasiswa yang diberi promosi kesehatan menggunakan media leaflet dibandingkan dengan yang menggunakan media video dimana rata- rata nilai mahasiswa yang menggunakan media video lebih tinggi. Dengan demikian dapat diinterpretasikan, bahwa media video memberikan pengaruh yang lebih dominan dan lebih baik terhadap aspek pengetahuan terhadap kanker payudara pada remaja putri di Poltekkes Kemenkes Jambi Jurusan Kebidanan.

2. Terdapat perbedaan keterampilan deteksi dini kanker payudara (SADARI) pada mahasiswa yang diberi promosi kesehatan menggunakan media leaflet dibandingkan dengan yang menggunakan media video dimana rata- rata nilai mahasiswa yang menggunakan media video lebih tinggi. Dengan demikian dapat diinterpretasikan, bahwa media video memberikan pengaruh yang lebih

Tekno-Pedagogi Vol. 7 No. 2. September 2017 : 1-14

ISSN 2088-205X

dominan dan lebih baik terhadap aspek keterampilan deteksi dini kanker payudara (SADARI) remaja putri di Poltekkes Kemenkes Jambi Jurusan Kebidanan.

REFERENSI

Andrews. G, 2010. Kesehatan Reproduksi Wanita, Jakarta: EGC

Arikunto. S, 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta

Asyar. R, 2012. Kreatif Mengembangkan Media Pembelajaran, Jakarta: Referensi Jakarta

Azis, M. Farid et al, 2013. Buku Acuan Untuk Dokter dan Bidan Untuk Gerakan Nasional

Peduli dan Cegah Kanker Serviks, Jakarta

Bensley. RJ & Fisher. JB, 2009. Metode Pendidikan Kesehatan Masyarakat, Jakarta:

EGC

Dalimartha, S. 2005. Deteksi Dini Kanker dan Simplisia Anti Kanker, Jakarta: Penebar

Swadaya.

Fimela 2012, Video Step By Step Pemeriksaan Payudara Sendiri (Rekaman Video)

http://www.fimela.com (diunduh 25 Maret 2015)

Fuad,Toha , 2010,Periksa Payudara Sendiri By Kelompok Tutorial 2 FK UNRAM (Rekaman

Video) https://www.youtube.com/watch?v=tY4IFEEHyMw (diunduh 25 Maret 2015)

Mangan. Y, 2009. Solusi Sehat Mencegah Dan Mengatasi Kanker, Jakarta: Agro Media Pustaka

Maulana, HDJ, 2009. Promosi Kesehatan, Jakarta: EGC

Mubarak, IM, et.al. 2007. Promosi Kesehatan Sebuah Pengantar Proses Belajar

Mengajar

dalam Pendidikan, Yogyakarta: Graha Ilmu

Tekno-Pedagogi Vol. 7 No. 2. September 2017 : 1-14

ISSN 2088-205X

Notoatmodjo, S. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Jakarta: Rineka Cipta

2010. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi, Jakarta: Rineka Cipta

Norwitz.E & Schorge.J, 2007.At a Glance Obstetri & Ginekologi, Jakarta: Erlangga

Rasyidi. I, 2009. Deteksi Dini dam Pencegahan Kanker pada Wanita, Jakarta: Sagung Seto

¬¬

2010. Epidemiologi Kanker Pada Wanita, Jakarta: Sagung Seto

Rekam Medik RSUD Raden Mattaher 2014

Setiati, E., 2009. Waspadai Empat Kanker Ganas Pembunuh Wanita, Yogyakarta :

Andi

Offset.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif dan R &D, Bandung: CV Alfabeta

Sukardja. I. DG, 2006. Onkologi Klinik, Surabaya: Airlangga University Press

Syafrudin, Fratidhita.Y, 2009. Promosi Kesehatan Untuk Mahasiswa Kebidanan,

Jakarta:

Trans Info Medika

Syafrudin et.al . 2011. Himpunan Penyuluhan Kesehatan pada Renaja, Keluarga,

Lansia dan

Masyarakat, Jakarta: Trans Info Medika

Shorea.R,Agrina,Woferst.R, 2013.Efektifitas Promosi Kesehatan Melalui Audio Visual Tentang Pemeriksaan Payudara Sendiri (Sadari) Terhadap

PeningkatanPengetahuan

http://download.portalgaruda.org/article. ( diunduh 25 Maret 2015)

Remaja Putri,

Siburian, U.D. 2015. Pengaruh Media Leaflet dan Media Video terhadap Pengetahuan dan Sikap Mahasiswa dalam Upaya Deteksi Dini Kanker Payudara di Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara tahun 2015. Tesis. Medan: Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Sulastri ,Thaha.RM ,Russeng.SS,2012. Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Menggunakan Video Dalam Pemeriksaan Payudara Sendiri (Sadari) Terhadap Perubahan

Tekno-Pedagogi Vol. 7 No. 2. September 2017 : 1-14

ISSN 2088-205X

Pengetahuan Dan Sikap Remaja Putri Di Sman 9 Balikpapan Tahun 2012,

http://pasca.unhas.ac.id/jurnal/files/97d470addf806c90c1ec6e04d850297f.

pdf

( diunduh 23 Maret 2015)

Susilana, R., Riyana, C. 2011. Media Pembelajaran. Hakikat, Pegembangan, Pemanfaatan dan Penilaian. Bandung: Wacana Prima.