You are on page 1of 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada makalah ini akan dijelaskan tentang Pertusis Pada Anak serta
bagaimana asuhan keperawatan Pertusis Pada Anak. Pertusis adalah
suatu infeksi akut saluran nafas yang mengenai setiap pejamu yang
rentan, tetapi paling sering dan serius pada anak-anak.
Penyakit ini ditandai dengan demam dan perkembangan batuk
semakin berat. Batuk adalah gejala khas dari batuk rejan atau pertusis.
Seranagn batuk terjadi tiba-tiba dan berlanjut terus tanpa henti hingga
seluruh udara di dalam paru-paru terbuang keluar.
Akibatnya saat napas berikutnya pasien pertusis telah kekurangan
udara sehingga bernapas dengan cepat, suara pernapasan berbunyi
separti pada bayi yang baru lahir berumur kurang dari 6 bulan dan pada
orang dewasa bunyi ini sering tidak terdengar. Batuk pada pertusis
biasanya sangat parah hingga muntah-muntah dan penderita sangat
kelelahan setelah serangan batuk.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah ini antara lain sebagai berikut :
1. Konsep Dasar Penyakit Pertusis
2. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pertusis
3. Contoh Kasus Asuhan Keperawatan Pertusis

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah agar kami dapat
memahami konsep dasar dari penyakit pertusis dan asuhan keperawatan
nya.

1
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Penyakit Pertusis


1. Definisi
Pertusis adalah suatu infeksi akut saluran nafas yang
mengenai setiap pejamu yang rentan, tetapi paling sering dan serius
pada anak-anak (Behrman, 1992). Definisi Pertusis lainnya adalah
penyakit infeksi akut pada saluran pernafasan yang sangat menular
dengan ditandai oleh suatu sindrom yang terdiri dari batuk yang
bersifat spasmodic dan paroksismal disertai nada yang meninggi
(Rampengan, 1993).
Penyakit ini ditandai dengan demam dan perkembangan
batuk semakin berat. Batuk adalah gejala khas dari batuk rejan
atau pertusis. Serangan batuk terjadi tiba-tiba dan berlanjut terus
tanpa henti hingga seluruh udara di dalam paru-paru terbuang
keluar. Akibatnya saat napas berikutnya pasien pertusis telah
kekurangan udara sehingga bernapas dengan cepat, suara
pernapasan berbunyi separti pada bayi yang baru lahir berumur
kurang dari 6 bulan dan pada orang dewasa bunyi ini sering tidak
terdengar. Batuk pada pertusis biasanya sangat parah hingga
muntah-muntah dan penderita sangat kelelahan setelah serangan
batuk.
2. Etiologi
Pertusis disebut juga sebagai tusis quinta, whooping cough,
batuk rejan. Penyebab pertusis adalah Bordetella pertusis atau
Haemophilus pertusis. Bordetella pertusis adalah suatu kuman
tidak bergerak, gram negatif, dan didapatkan dengan cara
melakukan pengambilan usapan pada daerah nasofaring pasien
pertusis kemudian ditanam pada agar media Bordet-Gangou. Basil
pertusis yang didapatkan secara langsung adalah tipe antigenetik

2
fase I, sedangkan yang diperoleh melalui embiakan dalam bentuk
lain ialah fase II, III dan IV.
Penyakit ini tersebar diseluruh dunia. Ditempat yang padat
penduduknya dapat berupa epidemi pada anak. Infeksi yang terjadi
pada satu keluarga akan cepat menjalar pada keluarga lainnya.
Pertusis dapat mengenai semua golongan umur, tidak ada
kekebalan pasif dari ibu. Penyakit ini terbanyak mengenai anak
usia 1-5 tahun dan lebih banyak mengenai anak laki-laki daripada
anak perempuan. Cara penularan melalui kontak dengan pasien
pertusis.Pemberian imunisasi dapat mengurangi angka kejadian
dan kematian yang disebabkan pertusis.
3. Patologi
Lesi biasanya terdapat pada bronkus dan bronkiolus, tetapi
terdapat perubahan-perubahan pada selaput lendir trakea, laring
dan nasofaring. Lesi berupa nekrosis bagian basal dan tengah sel
epitel torak, disertai infiltrat neurotrofil dan makrofag. Lendir yang
tersumbat dapat membentuk bronkus kecil hingga dapat
menimbulkan emfisema dan atelaktasis.
4. Komplikasi
Komplikasi dari pertusis adalah sebagai berikut :
a. Alat Pernapasan
Dapat terjadi otitis media (sering pada bayi), bronkitis,
bronkopneumonia, atelaktasis yang disebabkan sumbatan
mukus, emfisema (dapat terjadi emfisema mediastinum, leher,
kulit pada kasus yang berat), bronkiektasis, dan sedangkan
tuberculosis yang sudah ada sebelumnya dapat bertambah
berat.
b. Alat Pencernaan
Muntah-muntah yang berat dapat menimbulkan emasiasi
(anak menjadi kurus sekali), prolaps rektum atau hernia yang
mungkin timbul karena tingginya tekanan intraabdominal,

3
ulkus pada ujung lidah karena tergosok pada gigi atau tergigit
pada waktu serangan batuk, dan juga somatis.
c. Susunan Saraf
Kejang dapat timbul karena gangguan keseimbangan
elektrolit akibat muntah. Muntah. Kadang-kadang terdapat
kongesti dan edema pada otak, mungkin pula terjadi pedarahan
otak.
d. Lain-lain
Dapat juga terjadi perdarahan lain seperti epitaksis,
hemoptitis dan perdarahan subkonjungtiva.
5. Pencegahan

Tidak ada imunitas terhadap pertusis. Pencegahan dapat


dilakukan dengan secara aktif dan pasif. Secara aktif dengan
memberikan vaksin pertusis dalam jumlah 12 unit dibagi dalam
dosis interval 8 minggu. Menurut penyelidikan imunologis
membuktikan bahwa bayi berumur 1-15 hari telah dapat
membentuk antibodi. Sebaiknya di negara dimana pertusis terdapat
secara endemik dipertimbangkan pemberian vaksin pertusis pada
neonatus.

Tetapi didapatkannya komplikasi seperti kejang, renjatan,


maningismus dan didapatkannya gejala sisa setelah kejang
pascavaksinasi pertusis seperti terjadinya retardasi mental, epilepsi,
hemiparesis, maka dianjurkan untuk tidak memberikan vaksinasi
pertusis bila dalam anamnesis didapatkan riwayat kejang, iritasi
serebral selama masa neonatus, epilepsi dlam keluarga atau
penyakit susunan saraf pusat, adanya defek neurologis atau anak
sedang menderita sakit khususnya penyakit traktus respiraorius
yang disertai demam, reaksi lokal atau umum yang gawat setelah
mendapat vaksinasi pertusis yang lalu.

Pemberian vaksinasi pertusis hanya dilakukan sampai 6 tahun


dengan pembagian mordibitas pertusis yang menurun dengan

4
bertambahnya umur, sedangkan kemungkinan komplikasi
neurologis pasca vaksinasi bertambah. Secara pasif pencegahan
dapat dilakukan dengan memberikan kemoprofilaksis.

6. Manifestasi Klinis
Masa tunas 7-14 hari, penyakit dapat berlangsung 6 minggu
atau lebih dan terbagi dalam 3 stadium yaitu :
a. Stadium Kataralis
Lamanya 1-2 minggu. Pada permulaannya hanya berupa
batuk-batuk ringan terutama pada malam hari. Batuk-batuk ini
makin lama makin bertambah berat dan terjadi siang dan
malam. Gejala lain ialah pilek, serak dan anoreksia. Stadium
ini meneybabkan influenza biasa.
b. Stadium plasmodik
Lamanya 2-4 minggu. Pada akhir minggu batuk makin
bertambah berat dan terjadi paroksismal berupa batuk-batuk
khas. Pasien nampak berkeringat, pembuluh darah leher dan
muka melebar. Batuk sedemikian beratnya hingga pasien
nampak gelisah dengan muka merah dan sianotik. Serangan
batuk panjang, tidak ada insirium diantaranya dan diakhiri
dengan whoop (tarikan nafas panjang dan dalam berbunyi
melengking). Sering disertai muntah dan banyak sputum yang
kental. Anak dapat terberak-berak dan terkencing-kencing.
Pada penyakit yang berat dapat terjadi perdarahan
subkonjungtiva dan epistaksis karena meningkatnya tekanan
pada waktu serangan batuk. Aktivitas seperti tertawa dan
menangis dapat menimbulkan serangan batuk.
c. Stadium konvalesensi
Lamanya kira-kira 2 minggu sampai sembuh. Pada
minggu keempat jumlah dan beratnya serangan batuk
berkurang, juga muntah berkurang pula, nafsu makan timbul
kembali. Ronki difus yang terdapat pada stadium spasmodik
mulai menghilang. Infeksi semacam commoncold dapat

5
menimbulkan serangan batuk lagi. Bila menjumpai pasien
dengan batuk sudah lama dan telah diberi obat tidak ada
perbaikan, apalagi terdapat keluhan batuk makin panjang
disertai muntah pada akhir batuk dan suara melengking, dapat
diduga bahwa pasien menderita pertusis.
7. Pathways

8. Pemeriksaan Diagnostik
Pada stadium kataralis dan permulaan stadium spasmodik
jumlah leukosit meninggi kadang sampai 15.000 – 45.000 per mm3
dengan limfositosis, diagnosis dapat diperkuat dengan mengisolasi
kuman dari sekresi jalan napas yang dikeluarkan pada waktu batuk.
Secara laboratorium diagnosa pertusis dapat ditentukan

6
berdasarkan adanya kuman dalam biakan atau dengan pemeriksaan
imunofluoresen.
9. Penatalaksanaan Medis
a. Antibiotik
1) Eritromisin dengan dosis 50 mm/kgBB/hari dibagi dalam 4
dosis. Obat ini menghilangkan B. Pertusis dari nasofaring
dalam 2-6 hari (rata-rata 3-6 hari); dengan demikian
memperpendek kemungkinan penyebaran infeksi.
Eritromisin juga “menggugurkan” atau menyembuhkan
pneumonia. Oleh karena itu, sangat penting dalam
pengobatan pertusis khususnya pada bayi muda.
2) Ampisilin dengan dosis 100 mm/kgBB/hari dibagi dalam 4
dosis.
3) Lain-lain; kloramfenikol; tetrasiklin, kotrimoksazol dan
lainnya.
b. Imunoglobulin: belum ada persesuaian paham.
c. Ekspektoransia dan mukolitik.
d. Kodein diberikan bila terdapat batuk-batuk yang berat.
e. Luminal sebagai sedativa.
10. Diagnosa Keperawatan
Anak yang menderita pertusis tidak dirawat di rumah sakit
walaupun anak menjadi sangat kurus (bahaya penularan lebih
besar) kecuali ada sebab lain. Masalah yang perlu diperhatikan
adalah gangguan kebutuhan nutrisi, gangguan rasa aman dan
nyaman, risiko terjadi komplikasi, dan kurangnya pengetahuan
orangtua mengenai penyakit.
a. Gangguan kebutuhan nutrisi
Gangguan kebutuhan nutrisi pada pasien batuk rejan
terutama akibat selalu muntah setiap serangan batuk.
Serangan batuk yang berulang-ulang yang terjadi siang dan
malam akan sangat melelahkan dan menimbulkan anoreksia.
Keadaan tersebut menyebabkan pasien batuk rejan menjadi

7
sangat kurus. Untuk mengurangi hal itu perlu diusahakan
agar masukan makanannya tidak terlalu kurang dengan cara
setiap habis batuk dan muntah setelah beberapa saat berikan
anak makanan atau minuman susu.
Karena anak dalam keadaan anoreksia pemberian susu
akan lebih baik disamping sari buah-buahan. Usahakan pada
setiap keadaan tenang memberikan manfaat apa saja yang
bergizi misalnya makanan kecil yang dapat dimasukkan susu.
Perlu diingat bahwa susu tidak boleh terlalu manis atau
makanan yang digoreng atau terlalu asin karena dapat
merangsang batuk. Bila pasien pertusis tersebut bayi, setiap
habis serangan batuk dan muntah setelah tenang berikan
menetek lagi/beri susu lagi. Dengan demikian frekuensi
minum bayi lebih sering dari pada hari-hari biasa.
b. Gangguan rasa aman dan nyaman
Pasien yang menderita batuk rejan akan sangat menderita
gangguan aman dan nyaman karena adanya serangan batuk
yang panjang dan berulang-ulang, siang dan malam serta
diakhirinya dengan muntah terutama pada stadium
spasmodik. Dengan demikian anak akan sangat kelelahan dan
tidak cukup isitrahat. Pada saat batuk anak menderita
kesukaran bernapas sehingga sangat gelisah maka harus ada
yang menemani dan membantu bila anak muntah. Setelah
serangan reda, bukalah bajunya dan seka keringatnya dan
ganti baju serta celananya yang kotor.
Berikan minuman serta usahakan agar anak dapat istirahat,
setelah tenang bujuklah agar anak mau minum susu atau sari
buah. Untuk mengurangkan gangguan aman dan nyaman
selain menolong ketika sedang serangan batuk, yang penting
menghindarkan adanya penyebab serangan batuk misalnya
agar diperhatikan anak tidak terlalu banyak menangis atau
tertawa-tawa/bercanda yang berlebihan. Obat harus diberikan

8
dengan benar dan jika dimuntahkan usahakan agar setelah
tenang diberikan lagi. Sebaiknya obat diberikan setelah anak
mendapat serangan batuk dan sudah reda agar obat tidak
terbuang sia-sia (mungkin mula-mula belum terlihat hasilnya
tetapi setelah 2-3 hari akan berbeda). Untuk yang terakhir
berikan sebelum tidur agar anak tidak terbangun dan
mendapat serangan batuk. Bila terjadi anak sampaiterberak-
berak/terkencing-kencing hindarkan sikap yang menunjukkan
kekesalan karena anak akan sangat ketakutan.
c. Resiko terjadi komplikasi
Penyakit batuk rejan menyebabkan daya tahan tubuh
pasien sangat menurun sehingga mudah terjadi komplikasi
yang kadang-kadang bahayanya lebih besar dari pada
penyakit batuk rejan itu sendiri, misalnya penyakit
tuberkulosis yang telah ada akan menjadi makin parah, dan
jika terjadi perdarahan pada otak setelah sembuh akan
meninggalkan gejala sisa berupa kelumpuhan atau bahkan
retardasi mental. Keadaan ini akan menyebabkan penderitaan
yang berkepanjangan. Oleh karena itu, penyakit batuk rejan
perlu dicegah. Cara yang paling mudah ialah dengan
pemberian imunisasi bersama dengan vaksin lain yang biasa
disebut DPT dan polio. Selain vaksinasi juga jika anak sakit
batuk segera dibawa berobat agar dapat didiagnosa dini.
d. Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit
Pada umumnya orang awam tidak mengerti bahwa
anaknya menderita penyakit batuk rejan yang dapat
menyebabkan penderitaan lama bagi anaknya jika tidak
segera mendapatkan pengobatan yang tepat. Mereka hanya
mengira batuk yang lama dan berat (pada waktu sebelum
pengobatan dengan antibiotika batuk ini sering disebut “batuk
seratus hari” karena batuk ini memang berlangsung lama).

9
Jika diagnosis telah ditentukan oleh dokter, perlu
dijelaskan kepada orangtua pasien bahwa penyakit ini mudah
menular sehingga anak-anak disekitarnya dapat ketularan,
penyakit ini juga berlangsung lama dan dapat menyebabkan
anak menjadi kurus sekali sebagai akibat selalu muntah
setelah batuk dan dapat menimbulkan luka pada lidahnya
karena tergigit. Untuk menghindarkan penularan, jika di
rumah masih ada anak lain sebaiknya dipisahkan dahulu
misalnya dititipkan ke tempat lain (kalau mungkin) dan anak
dimintakan imunisasi. Pada pasien sendiri supaya diberi tahu
agar tidak bermain-main dengan temannya dahulu.
Karena pasien setiap habis batuk selalu muntah maka
harus disediakan tempat muntahan dan muntahan tersebut
dibuang di WC disiram air sebanyak-banyaknya. Jika anak
muntah dilantai hendaknya bekas muntahan dibersihkan
dengan desinfektan karena itu merupakan sumber penularan.
Untuk menghindarkan anak muntah dimana-mana maka
setiap batuk sebaiknya selalu ada yang mendampinginya.
Untuk mencegah anak menjadi kurus sekali karena selalu
muntah dan tidak adanya nafsu makan orangtua harus dengan
telaten memberikan makanan yang bergizi. Anjurkan agar
setelah reda serangan batuknya anak diberikan makan/susu.
Jika serangan batuk sering sekali boleh diberi ekstra obat
penenang/obat batuknya (tetapi sebaiknya minta petunjuk
dokter dahulu sampai berapa kali boleh diberikan). Penting
menghindarkan penyebab serangan batuk.
Hal yang penting dalam penyuluhan ini ialah manfaat
imunisasi dan imunisasi baru berdaya-guna jika diambil
lengkap (jelaskan mengenai imunisasi sesuai dengan
program). Selain hal tersebut jelaskan kepada orangtua jika
anak pernah kejang, atau ada saudaranya yang pernah
kejang/menderita penyakit saraf agar memberitahukan

10
kepada petugas imunisasi karena pada anak tersebut tidak
boleh diberikan suntikan pertusis.

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pertusis


1. Pengkajian
a. Data Subjektif
1) Paling banyak terdapat pada tempat yang padat
penduduknya Usia yang paling rentan terkena penyakit
pertusis adalah anak dibawah usia 5 tahun
2) Cara penularanya yang sangat cepat
3) Imunisasi dapat mengurangi angka kejadian dan kematian
yang disebabkan oleh pertusis
4) Batuk ini disebabkan karena bordetella pertusis
5) Disalah satu Negara yang belum melaksanakan prosedur
imunisasi rutin, masih banyak terdapat penyakit pertussis
b. Data Objektif
1) Anak tiba-tiba batuk keras secara terus menerus
2) Batuk yang sukar berhenti
3) Muka menjadi merah
4) Batuk yang sampai keluar air mata
5) Kadang sampai muntah disertai keluarnya sedikit darah,
karna batuk yang sangat keras.
6) Biasanya terjadi pada malam hari
2. Diagnosa Keperawatan
a. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d banyaknya mucus
b. Pola napas tidak efektif b/d dispnea
c. Resiko tinggi infeksi terhadap (penyebaran). Factor resiko
ketidak adekuatan pertahanan utama
d. Nyeri
e. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
3. Intervensi Keperawatan
a. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d banyaknya mucus.

11
Tujuan : Status ventilasi saluran pernafasan baik, dengan cara
mampu membersihkan secret yang menghambat dan
menjaga kebersihan jalan nafas.
Kriteria hasil :
1) Rata-rata pernafasan normal
2) Sputum keluar dari jalan nafas
3) Pernafasan menjadi mudah
4) Bunyi nafas normal
5) Sesak nafas tidak terjadi lagi
Intervensi :
1) Kaji frekuensi/ kedalamn pernafasan dan gerakan dada .
Rasional : takipnea, pernapasan dangkal,dan gerakan dada
tak simetriks sering terjadi karena ketidak nyamanan
gerakan dinding dada dan/ cairan paru
2) Auskultasi area paru,catat area penurunan/tak ada aliran
udara dan bunyi napas atventisius misalnya krekes,mengi.
Rasional : penurunan aliran udara terjadi pada area
konsulidasi dengan cairan. Bunyi napas bronchial (normal
pada bronkus) dapat juga terjadi pada area konsulodasi.
Krekes,ronki,dan mengi terdengar pada inspirasi dan/
ekspirasi pada respon terhadap pengumoulan cairan, secret
.
3) Bantu pasien latihan napas sering. Tunjukkan/ bantu
pasien melakukan batuk, misalnya menekan dada dan
batuk efektif.
Rasional : napas dalam memudahkan ekspansi maksimum
paru-paru/jalan napas lebih kecil. Batuk adalah
mekanisme pembersihan jalan napas alami, membantu
silia untuk mempertahankan jalan napas paten. Penekanan
menurunkan ketidaknyamanan dada dan posisi duduk
memungkinkan upaya napas lebih dalam dan kuat.
4) Pengisapan sesuai indikasi

12
Rasional : merangsang batuk atau pembersihan jalan napas
secara mekanik pada pasien yang tak mampu melakukan
karena
5) Berikan cairan sedikitnya 2500 ml/hari (kecuali
kontraindikasi). Tawarkan air hangat daripada dingin.
Rasional : cairan (khususnya yang hangat) memobilisasi
dan mengeluarkan secret.
6) Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi
Rasional : untuk menurunkan sekresi secret dijalan napas
dan menurunkan resiko keparahan
b. Pola napas tidak efektif b/d dispnea
Tujuan : Menunjukkan pola napas efektif dengan frekuensi dan
kedalaman dalam rentang normal dan paru jelas atau
bersih
Kriteria hasil:
1) Frekuensi pernapasan normal
2) Bunyi paru jelas/bersih
3) Kedalaman paru dalam rentang normal
4) Bunyi napas normal
5) Pengembangan dada normal antara inspirasi dan ekspirasi
Intervensi :
1) Kaji frekuensi,kedalaman pernafasan, ekspansi dada. Catat
upaya pernafasan, termasuk penggunaan otot bantu/
pelebaran masal.
Rasional : kecepatan biasanya meningkat. Dispnea dan
terjadi peningkatan kerja napas Kedalaman pernafasan
biasanya bervariasi tergantung derajat gagal napas.
Ekspansi dada terbatas yang berhubungan dengan
atelektasis dan/ nyeri dada pleuritik.
2) Auskultasi bunyi napas dan catat adanya bunyi napas
adventisius, seperti krekels, mengi, gesekan pleural.

13
Rasional : bunyi napas menurun/ tak ada bila jalan napas
obstruksi sekunder terhadap perdarahan,bekuan atau
kolaps jalan napas kecil (atelaktasis). Ronki dan mengi
menyertai obstruksi jalan napas/kegagalan pernafasan
3) Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi. Bangunkan
pasien turun tempat tidur dan ambulasi sesegera mungkin
Rasional : duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru
memudahkan pernafasan. Pengubahan posisi dan ambulasi
meningkatkan pengisian udara segmen paru berbeda
sehingga memperbaiki difusi gas
4) Observasi pola batuk dan karakter secret
Rasional : kongesti alveolar mengakibatkan batuk
kering/iritasi. Sputu berdarah dapat diakibatkan oleh
kerusakan jaringan (infark paru) atau antikoagulan
berlebihan
5) Dorong/bantu pasien dalam napas dalam dan latihan
batuk. Pengisapan peroral atau naso trakeal bila
diindikasikan.
Rasional : dapat meningkatkan/banyaknya sputum dimana
gangguan ventilasi dan ditambah ketidak nyamanan upaya
bernafas.
6) Kolaborasi dalam pemberian oksigen tambahan bila
diindikasikan.
Rasional : memaksimalkan bernapas dan menurunkan
kerja napas
c. Resiko tinggi infeksi terhadap (penyebaran). Faktor resiko
ketidak adekuatan pertahanan utama (penurunan kerja silia)
Tujuan : Tidak terjadi resiko infeksi
Kriteria hasil :
1) Mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa
komplikasi

14
2) Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan
resiko infeksi
Intervensi :
1) Pantau tanda vital dengan ketat,khususnya selama awal
terapi.
Rasional : selama periode waktu ini, potensial terjadi
komplikasi
2) Anjurkan klien untuk memperhatikan pengeluaran secret
(misalnya meningkatkan pengeluaran daripada
menelannya) dan melaporkan perubahan warna, jumlah
dan secret.
Rasional : meskipun pasien dapat menemukan
pengeluaran dan upaya infeksi atau menghindarinya,
penting bahwa sputum harus dikeluarkan dengan cara
aman. Perubahan karakteristik sputum menunjukkan
terjadinya infeksi sekunder.
3) Dorong teknik mencuci tangan baik
Rasional : menurunkan resiko penyebaran infeksi
4) Batasi pengunjung sesuai indikasi.
Rasional : menurunkan pajanan terhadap pathogen infeksi
lain.
5) Kolaborasi berikan antimicrobial sesuai indikasi dengan
hasil kultur sputum/darah, misalnya eritromisin.
Rasional : obat ini digunakan untuk membunuh
kebanyakan mikrobial
d. Nyeri berhubungan dengan agens cidera
Tujuan : mengurangi rasa nyeri
Kriteria hasil : Nyeri berkurang
Intervensi :
1) Kaji skala nyeri yang dialami klien.
Rasional : Mengetahui tingkat skala nyeri yang di alami
klien.

15
2) Berikan hiburan untuk mengalihkan rasa nyeri
Rasional :Nyeri dapat berkurang.
e. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan faktor biologis.
Tujuan : Meningkatkan nutrisi dan berat badan menjadi
normal.
Kriteria hasil :
1) Berat badan normal
2) Nutrisi terpenuhi
3) Peningkatan nafsu makan
Intervensi :
1) Pantau berat badan klien
Rasional : timbat berat badan dan catat peningkatan yang
ada.
2) Berikan makanan yang bernutrisi kolaborasi dengan nutrien
Rasional : memenuhi kebutuhan nutrisi klien
3) Berikan makanan yang menarik perhatian klien
Rasional : meningkatkan nafsu makan klien

16
BAB III
CONTOH ASUHAN KEPERAWATAN

A. IDENTITAS
Data Pasien Ayah Ibu
Nama An.H Tn. R Ny. N
Umur 6 tahun 6 bulan 36 tahun 34 tahun
Jenis Kelamin Laki-laki Laki-laki Perempuan
Alamat Kp. Pengasinan RT 04 RW 01 Pengasinan Rawa Lumbu
Agama Islam Islam Islam
Suku bangsa Jawa Sunda Sunda
Pendidikan - SMK SMP
Pekerjaan - Swasta Ibu rumah tangga
Penghasilan - - -
Keterangan Hubungan dengan
orang tua : Anak
kandung
Tanggal Masuk RS 18 Juli 2018

B. ANAMNESIS
Dilakukan sacara Alloanamnesis kepada ibu pasien.
1. Keluhan Utama :
Pasien datang dengan batuk
2. Keluhan Tambahan :
Muntah, mata merah, demam, pilek
3. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke IGD RSUD Kota Bekasi dengan rujukkan
dari RS Mitra Bekasi dengan batuk panjang, tidak berhenti sejak
2 hari SMRS. Batuk disertai dengan dahak berwarna putih, sedikit
jumlahnya, agak encer berwarna putih. Setelah batuk yang
panjang tersebut os merasa pengap sampai menunduk-nunduk ke

17
bawah yang disertai dengan keluarnya air mata seperti orang
menangis. Terkadang os muntah setelah batuk terjadi, namun
kejang setelah batuk disangkal. Saat batuk mata tidak menonjol,
lidah tidak menjulur, dan tidak ada bintik-bintik merah di wajah.
Sejak 2 hari SMRS juga mata os menjadi merah seperti orang
yang sedang sakit mata, berair, tidak terdapat nyeri dan gatal,
jarang terdapat kotoran mata, sekalipun ada kotoran mata tidak
kental, hanya berwarna putih, dan jumlahnya sedikit.
1 minggu SMRS os juga pernah batuk-batuk dengan dahak
berwarna putih, batuk tidak dipicu oleh cuaca ataupun debu.
Batuk tidak terlalu panjang dan tidak terdengar keras, hanya batuk
biasa. Batuk juga disertai dengan pilek dengan keluar lendir agak
encer warna agak putih-bening, kemudian disertai juga demam
yang tidak terlalu tinggi (sumeng-sumeng), naik turun. Kemudian
orangtua membawa os ke dokter kemudian diberi obat berupa
puyer dan sirup, keluhan-keluhan sempat mereda kemudian
timbul kembali.
a. Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit Umur Penyakit Umur Penyakit Umur
Alergi - Difteria - Jantung -
Cacinga - Diare - Ginjal -
n
DBD - Kejang + Darah -
Thypoid - Maag - Radang paru -
Otitis - Varicela - Tuberkulosis -
Parotis - Asma - Morbili -
Kesan : Os tidak pernah mengalami hal yang sama sebelumnya,
os sempat dirawat di rumah sakit karena kejang dengan
demam saat usia 2 bulan.

b. Riwayat Penyakit Keluarga :

18
Tidak ada keluarga satu rumah atau teman main pasien
mengalami hal yang serupa seperti pasien. Tidak ada keluarga
pasien yang menderita sakit mata.
c. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran :
Morbiditas Anak ketiga dari 3 bersaudara
kehamilan
KEHAMILAN Perawatan antenatal Setiap bulan periksa ke bidan,
suntik TT 2x, USG 1x (tidak
ada kelainan)
Tempat kelahiran Puskesmas
Penolong persalinan Bidan
Cara persalinan Normal, spontan
Masa gestasi 9 bulan
Berat lahir 2750 gr
KELAHIRAN Panjang badan 48 cm
Keadaan bayi Lingkar kepala tidak ingat
Langsung menangis
Nilai apgar tidak tahu
Tidak terdapat kelainan
bawaan
Kesan : Riwayat kehamilan dan persalinan pasien baik

d. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan :


Pertumbuhan gigi I : 7 bulan (normal: 5-9 bulan)
Psikomotor
Tengkurap : 4 bulan (normal: 3-4 bulan)
Duduk : 6 bulan (normal: 6 bulan)
Berdiri : 11 bulan (normal: 9-12 bulan)
Bicara : 10 bulan (normal: 9-12 bulan)
Berjalan : 12 bulan (normal: 13 bulan)
Kesan : Riwayat pertumbuhan dan perkembangan
pasien sesuai usia.

19
e. Riwayat Makanan
Umur (bulan) ASI/PASI Buah/biskuit Bubur susu Nasi tim
0-2 +
2-4 +
4-6 + +
6-8 +/+ +/+ + +
8-10 +/+ +/+ + +
Kesan : kebutuhan gizi pasien terpenuhi cukup baik
f. Riwayat Imunisasi :
Vaksin Dasar (umur) Ulangan (umur)
BCG -
DPT -
POLIO Lahir
CAMPAK -
HEPATITIS Lahir
B
Kesan : Imunisasi dasar tidak lengkap, karena orangtua pasien
takut memberikan imunisasi pada saat anaknya sering
mengalami kejang demam
g. Riwayat Keluarga
Ayah Ibu
Nama Tn. D Ny.A
Perkawinan ke- Pertama Pertama
Umur 40 38
Keadaan kesehatan Baik Baik
Kesan : Keadaan kesehatan kedua orang tua dalam keadaan baik.
h. Riwayat Perumahan dan Sanitasi :
Tinggal dirumah sendiri dengan 5 anggota keluarga (ayah,
ibu, 2 anak, dan nenek) di pemukiman yang padat penduduk,
tembok dengan tetangga hampir menempel. Rumah terdiri dari 3

20
buah jendela, kadang-kadang dibuka. Matahari cukup banyak
masuk ke rumah.
Kesan : Kesehatan lingkungan tempat tinggal pasien kurang baik

C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum : tampak sakit sedang
2. AVPU : alert
3. PAT
o A : (+), speech (+), dapat berkoordinasi dengan baik
o B : sesak (-), napas cuping hidung (-), retraksi (-)
o C : pucat (-), mottled (-), cyanosis (-)
4. Tanda Vital
o Kesadaran : compos mentis
o Tekanan darah : 100/70 mmHg
o Frekuensi nadi 96x/menit
o Frekuensi pernapasan : 24x/menit
o Suhu tubuh : 36,9 oC
5. Data antropometri
o Berat badan : 31 kg
o Tinggi badan : 124 cm
o Status Gizi menurut CDC:
o BB/U = 31/22 x 100% = 140% (obesitas)
o TB/U = 124/119 x 100% = 104% (gizi baik)
o BB/TB = 31/24 x 100% = 129% (obesitas)
6. Kepala
o Bentuk : Normocephali
o Rambut : Rambut hitam, tidak mudah dicabut,
distribusi merata
o Mata : Edema palpebra +/+ conjungtiva anemis -/-
, sklera ikterik -/-, perdarahan subconjunctiva +/+, perdarahan
aktif -/-, secret -/-, pupil bulat isokor, RCL+/+, RCTL +/+

21
o Telinga : normotia, membran timpani intak, serumen -/-
o Hidung : bentuk normal, sekret -/-, nafas cuping hidung -/-
o Mulut : bibir kering kemerahan, pucat -, T1/T1 detritus -/-,
kripta tidak melebar, faring hiperemis (-)
o Leher : KGB tidak membesar, kelenjar tiroid tidak
membesar.

22
7. Thorax
o Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris, retraksi
(-)
o Palpasi : Gerak napas simetris, vocal fremitus
simetris
o Perkusi : Sonor pada kedua ekstremitas
o Auskultasi : SN vesikuler, ronchi +/+, wheezing -/-
Cor BJ I & II normal, murmur -/-, Gallop -/-\
8. Abdomen
o Inspeksi : Perut cembung
o Auskultasi : Bising usus (+) normal 3x/menit
o Palpasi : upel, nyeri tekan -, hepar dan lien tidak
teraba membesar
o Perkusi : shifting dullness -, nyeri ketok -
9. Kulit : ikterik -, petechie -
10. Ekstremitas : akral hangat, cyanosis (-), oedem (-), turgor
kulit cukup, Rumple Leed (-), ptechie (-), CRT < 2detik

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium darah tanggal 19 Juli 2014
Jenis Hasil Satuan Nilai Normal
HEMATOLOGI
Darah lengkap
Leukosit 13,3 ribu/uL 5-10
Eritrosit 5 juta/uL 4-5
Hemoglobin 13,3 g/dL 11-14,5
Hematokrit 41,9 % 37-47
Trombosit 395 ribu/uL 150-400
Indeks Eritrosit
MCV 82,8 fL 75-87
MCH 26,3 Pg 24-30

23
MCHC 31,7 % 31-37
KIMIA KLINIK
GDS 92 mg/dL 60-110
Elektrolit
Natrium (Na) 140 mmol/L 135-145
Kalium (K) 5,0 mmol/L 3,5 – 5,0
Clorida (Cl) 101 mmol/L 94 – 111

2. Pemeriksaan Radiologi Foto Thorax (18 Juli 2018)

o Skeletal normal
o Cor, sinuses dan diafragma normal
o Pulmo : corakan normal. Tampak infiltrate di parakardial dan
parahiler bilateral
Kesan : Bronchopneumonia duplex

24
BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan
Pertusis adalah suatu infeksi akut saluran nafas yang mengenai
setiap pejamu yang rentan, tetapi paling sering dan serius pada anak-
anak (Behrman, 1992). Pertusis disebut juga sebagai tusis quinta,
whooping cough, batuk rejan. Penyebab pertusis adalah Bordetella
pertusis atau Haemophilus pertussis. Cara penularan melalui kontak
dengan pasien pertusis.Pemberian imunisasi dapat mengurangi angka
kejadian dan kematian yang disebabkan pertusis.
Pertusis dapat menyebabkan komplikasi di saluran pernapasan,
alat pencernaan, susunan saraf, dan perdarahan seperti epitaksis.
Pencegahan pertussis dapat dilakukan dengan secara aktif dan pasif.
Secara aktif dengan memberikan vaksin pertusis dalam jumlah 12 unit
dibagi dalam dosis interval 8 minggu. Menurut penyelidikan
imunologis membuktikan bahwa bayi berumur 1-15 hari telah dapat
membentuk antibodi.

25
DAFTAR PUSTAKA

Ngastiyah. (1997). Perawatan Anak I. Jakarta: EGC

Irianto, koes. 2015. Memehami Berbagai Penyakit. Bandung :


ALFABETA

Wong. 2002. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik (ed.6) . Jakarta : EGC

AL, Karel & Mila Meiliasari. 2005. Kesehatan Anak Merawat Anak Sakit
di Rumah. Jakarta: Puspa Swara
https://www.scribd.com/doc/188411272/Askep-Pertusis-Pada-Anak-docx
[19 Oktober 2018]

26