You are on page 1of 12

MAKALAH

TAFSIR ISY’ARI

Untuk memenuhi tugas “Qowaid At-Tafsir”

Dosen Pengampu:

M. Maulana Nur Kholis .MA

Disusun Oleh :

Muhammad Yusuf Abdullah

PRODI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR

FAKULTAS DAKWAH DAN USULUDDIN

INSTITUT PESANTREN KH. ABDUL CHALIM

MOJOKERTO

2019

1
A. Pendahuluan

Al-Qur’an merupakan pedoman hidup bagi seluruh umat Islam.

Namun sebagian kalangan penganut agama ini hanya menjadikan Al-

Qur’an sebagai simbol keagamaan yang dapat mendatangkan keberkahan

tanpa mengetahui isi kandungannya.Tak ayal lagi maka Al-Qur’an hanya

sebatas dibaca atau sebagai hiasan arsitektur bangunan, terutama masjid.

Untuk memahami Al-Qur’an beberapa ulama memandang perlu

untuk memiliki perangkat keilmuan yang telah disusun sebagai sebuah

disiplin ilmu yang disebut ‘Ulumul Qur’an. Dalam ‘Ulumul Qur’an

sendiri sebenarnya terdapat cabang – cabang ilmu yang lain namun istilah

yang paling popular dalam menginterpretasi Al-Qur’an disebut dengan

tafsir.

‫ علم يبحث فيه عن القرآن الكريم من حيث‬:‫ و التفسير فى اإلصطالح‬.‫ اإلضاح و التبين‬:‫التفسير فى اللغة‬
1
.‫داللته على مراد هللا تعالى بقدر الطاقة البشرية‬

Tafsir menurut bahasa adalah penerang dan

penjelas.Adapun tafsir menurut istilah adalah ilmu yang di dalamnya

membahas Al-Qur’an Al-Karim untuk mengetahui petunjuk Allah menurut

kemampuan yang dimiliki oleh Manusia.

Selain tafsir dikenal juga dengan istilah ta’wil. Beberapa ulama

menganggap bahwa tafsir dan ta’wil adalah sama; yang lain menganggap

perbedaan keduanya berdasarkan keumuman dan kekhususannya, di mana

1
Muhammad Abd al-‘Adzim az-Zarqani, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an. Beirut: Daar al-Kitab
al-‘Ilmiyah. hlm. 265.

2
tafsir lebih umum dari pada ta’wil; dan ada pula yang menganggap tafsir

dan ta’wil benar-benar berbeda. Adapun pendapat yang membedakan

antara tafsir dan ta’wil adalah bahwa tafsir hanya berhenti pada

pemahaman terhadap apa yang tersurat dalam mushaf sedangkan ta’wil

tidak berhenti pada yang tersurat tetapi jauh lebih dalam menggali makna

yang tesirat pada sebuah text atau mushaf.2

Sebagai petunjuk bagi manusia (hudan li al-nas) al-Qur’an juga

menginspirasi dan membentuk pola fikir dari berbagai macam disiplin

keilmuan, tidak terkecuali bidang tasawuf. Karena itu dalam makalah ini

penulis berusaha untuk menerangkan tentang metode atau corak penafsiran

yang dipakai oleh para sufi dalam memahami Al-Qur’an.

B. Tafsir Al-Qur’an dalam Khazanah Ilmu Tasawuf

Tafsir pada hakikatnya merupakan penjelasan atau uraian dan hasil

pemahaman manusia (baca : mufassir) terhadap al-Quran dengan metode

atau pendekatan tertentu yang dipilih oleh mufassir. Secara teologis

Normatif, al-Qur’an itu kebenarannya adalah mutlak, sebab ia berasal dari

Tuhan Dzat yang Mutlak. Namun demikian, setelah yang mutlak itu

masuk dalam pemikiran manusia, ia menjadi relatif kebenarannya. Sebab

tidak mungkin yang relatif itu –yaitu pemikiran manusia- akan mampu

menangkap yang seratus persen dari yang mutlak tersebut. Dengan

.ibid. hlm. 267.


2

3
demikian, di sana masih ada kebenaran-kebenaran lain atau makna-makna

lain yang mungkin belum tertangkap oleh manusia. Dari sini, muncullah

keragaman pemahaman dan penafsiran terhadap Al-Qur’an.

Dalam dunia sufistik penafsiran terhadap Al-Qur’an terjadi dan

dilakukan menurut horizon pemikiran para Sufi karena itu penafsiran yang

dilakukan oleh para sufi dengan dilatar belakangi oleh keilmuan dan corak

sufistiknya disebut Tafsir Sufistik. Sedangkan para sufi ketika menafsirkan

Al-Qur’an selalu menggunakan isyarat-isyarat yang digali dari lapisan-

lapisan makna terdalam dari ayat-ayat Al-Qur’an, karena itu penafsiran ini

disebut sebagai Tafsir Isyari. Jadi pada hakikatnya antara Tafsir Sufistik

dan Tafsir Isyari adalah sama.

1. Antara Tafsir Sufi Nadzari dan Tafsir Sufi Isyari

Dalam khazahan tafsir yang dilakukan oleh para Sufi terapat dua

sisi perbedaan antara Tafsir Sufi Nadzari dengan Tafsir Sufi Isyari, yaitu

sebagai berikut:

Sisi Pertama, bahwa Tafsir Sufi Nadzori didasarkan atas

pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang terlintas di dalam pikiran orang-

orang sufi dan kemudian Al-Quran ditafsirkan berdasarkan pengetahuan

ilmiah tersebut. Sedangkan Tafsir Sufi Isyari tidak didasarkan atas

pengetahuan-pengetahuan ilmiah, akan tetapi didasarkan atas riyadhoh

ruhiyah atau mujahadah yang telah dilakukan seorang sufi terhadap

dirinya sendiri sampai kepada tingkatan di mana telah tersingkap baginya

4
makna-makna terdalam pada ayat-ayat Al-Qur’an. Dengan demikian,

telah mengalir di dalam jiwa para sufi tersebut awan kegaiban yang

dibawa oleh ayat-ayat tersebut dari ma'rifah-ma’rifah yang suci.

Sisi Kedua, penganut Tafsir Sufi Nadzori melihat bahwa apa yang

ditafsirkan tersebut adalah makna keseluruhan dari ayat yang

ditafsirkannya dan tidak ada makna yang lain dibalik itu, yang disesuaikan

berdasarkan atas batas kemampuannya. Adapun penganut Tafsir Sufi

Isyari berpendapat bahwa yang ditafsirkan itu tidak mengandung seluruh

makna dari ayat tersebut bisa saja ada makna yang lain.

Dikarenakan pandangan tersebut maka penulis lebih cenderung

kepada Tafsir Isyari sebagai salah satu metode penafsiran Al-Qur’an

dikarenakan tidak mencoba untuk memonopoli tafsir ayat-ayat Al-Qur’an

dan tetap meletakan Al-Qur’an dalam makna dzahirnya, walaupun telah

diterangkan makna batinnya.

2. Tafsir Isyari sebagai salah satu metode memahamai Al-Qur’an

Menurut Imam Ghazali, Tafsir Isyari adalah usaha mentakwilkan

ayat-ayat Al-Qur’an bukan dengan makna zahirnya malainkan dengan

suara hati nurani, setelah sebelumnya menafsirkan makna zahir dari ayat

yang dimaksud.

Ibnu Abbas berkata, sesungguhnya Al Qur’an itu mengandung

banyak ancaman dan janji, meliputi yang lahir dan bathin. Tidak pernah

terkuras keajaibannya, dan tak terjangkau puncaknya. Barangsiapa yang

5
memasukinya dengan hati-hati akan selamat. Namun barangsiapa yang

memasukinya dengan ceroboh, akan jatuh dan tersesat. Ia memuat

beberapa khabar dan perumpamaan, tentang halal dan haram, nasikh dan

mansukh, muhkam dan mutasyabih, dzhahir dan batin. Dzhahirnya adalah

bacaan, sedang bathinnya adalah takwil.

Dengan demikian, menurut kaum sufi setiap ayat Al-Qur’an

mempunyai makna yang dzahir dan batin. Makna dzahir adalah makna

yang segera mudah dipahami oleh akal pikiran sedangkan makna batin

adalah isyarat-isyarat yang tersembunyi dibalik itu yang hanya dapat

diketahui oleh ahlinya. Isyarat-isyarat kudus yang terdapat di balik

ungkapan-ungkapan Al-Qur’an inilah yang akan tercurah ke dalam hati

dari limpahan pengetahuan gaib yang dibawa ayat-ayat. Itulah yang biasa

disebut tafsir Isyari.

Dalam kitab Tafsir Wal Mufassirun terdapat beberapa pendapat

perihal tafsir Isyari ini:

a. Menurut Asy- Syatibi. I’tibar Qur’aniyah datangnya ke dalam hati,

yang nampak bagi mata hati, jika sempurna kedua syaratnya maka

akan muncul dua pendapat:

1) Sumber pancarannya berasal dari Al-Qur’an lalu kemudian diikuti

oleh beberapa teori-teori (sufistik). Pendapat ini adalah pendapat

yang benar kareana dapat menembus sampai cahaya hati dan tidak

dibatasi oleh teori-teori (sufistik)

6
2) Sumber pancarannya berasal dari teori-teori (sufistik) dan Al-

Qur’an digunakan sebagai justifikati teori-teori itu.

b. Ibnu Shalah memberikan fatwa bahwasanya yang meyakini perkataan

para sufi, khusunya dalam tafsir Isyari, maka ia telah kafir. Bagi Ibnu

Sholah tafsir Isyari tidaklah layak disebut tafsir.

c. Sa’id al-Din al-Tafzani: Al-Tafzani mengkritik para Batiniyah yang

hanya memfokuska n diri dalam memahami al-Qur’an secara batin saja

dan sering kali keluar dari makna dzahirnya. Namun ia bersimpatik

kepda kaum ‘Arif (Sufi) yang mencoba memahmi al-Qur’an hingga

kedalam makna yang terdalam tanpa menegasikan makna dzahirnya.

d. Ibn Athoillah Sakandari berpendapat bahwa pemahaman Al-Qur’an

dengan tafsir Isyari adalah pemahaman yang terdalam dari Al-Qur’an

namun dengan syarat tidak bertentangan dengan makna dzahirnya, dan

jangan menganggap bahwa pemahaman isyari yang diyakini adalah

satu-satunya pemahaman / tafsir dari al-Qur’an itu sendiri.

e. Ibn ‘Arabi memulai pendapatnya dengan menerangkan bahwa setiap

ayat dalam al-Qur’an memeliki dua bentuk pengertian: pertama,

pemahama yang dilihat dari dzahirnya (textual) dan pemahaman yang

diambil dari luar dzahirnya (kontekstual, batin). Karena itu dalam

setiap ayat Al-Qur’an memiliki dua dimensi pemahaman. Namun bagi

Ibnu Arabi pemahaman secara batin adalah pemahaman yang paling

utama. Pemahaman secara isyari (sufistik) adalah pemahaman yang

bersumber dari Allah. Ia mengkritik ulama literal yang memahami al-

7
Qur’an ( tafsir ) dari riwayat-riwayat ulama terdahulu saja, dan hanya

mengetahui isi al-Qur’an hanya dari kulit luarnya saja.

C. Metode Tafsir Isyari menurut Muhammad Husein Adz-Dzahabi (1915

– 1977)

Secara umum Metode yang dipakai oleh para sufi adalah metode

isyarat. Isyarat di sini maksudnya adalah menyingkap apa yang ada di

dalam makna lahir suatu ayat untuk mengetahui hikmah-hikmahnya.

Penggunaan kata “Isyarat” adalah untuk membedakannya dari ta’wil yang

selalu sering disalah fahami dan dinisbatkan kepada tujuan buruk. Padahal

metode isyarah yang digunakan oleh mereka dalam praktiknya lebih

banyak sama dengan takwil. Konsep Makna Dzahir dan Makna Batin

digunakan oleh kaum sufi untuk melandasi pemikirannya dalam

menafsirkan Al-Qur’an khusunya dan melihat dunia pada umumnya. Pola

sistem berpikir mereka adalah berangkat dari yang dzhahir menuju yang

batin. Bagi mereka batin adalah sumber pengetahuan sedangkan dzhahir

(teks) adalah penyinar. Al-Gazali menegaskan bahwa selain yang dzahir,

Al-Qur’an memiliki makna batin. Abdullah (Al-Muhasibi) memberikan

penjelasan pernyataan tersebut, bahwa yang dimaksud dengan yang dzahir

adalah bacaannya, dan yang batin adalah takwilnya. Sementara Abu

Abdurrahman mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dzhahir adalah

bacaanya sementara yang batin adalah pemahamannya.

8
Dalam sejarahnya telah terjadi kontroversi tentang tafsir isyari

(tafsir sufistik) dikarenakan penafsiran isyari mempunyai pengertian-

pengertian yang tidak mudah dijangkau oleh masyarakat umum bahkan

oleh sebagian ahli tafsir yang tidak menempuh suluk dan tidak mengenal

keilmuan dalam bidang Tasawuf. Sebagian ulama menilai bahwa tafsir

isyari itu mengikuti “tafsir batin” yang tidak dapat diterima oleh akal, ada

juga yang berpendapat ia mengikuti teori-teori filsafat, dan ada juga yang

berpendapat tafsir isyari itu adalah pengalaman spritual dan ksyf atau

mukasyafah hati atas pancaran-pancaran Ilahi ketika menafsirkan ayat-ayat

Al-Qur’an.

Muhammad Husein Adz- Dzahabi pengarang kitab At-Tafsir wal

Mufasirun dalam bukunya menyatakan rasa simpatinya terhadap tafsir

Isyari. Ia menyadari bahwa ia belum memahami dan belum dapat

merasakan kedamaian hati para sufi, serta belum mengetahui istilah-istilah

yang mereka pakai dalam dunia tasawuf, karena itu ia tidak menyalahkan

namun tetap selektif terhadap tafsir Isyari.

Salah satu upaya selektifitas Adz- Dzahabi adalah dengan

memberikan beberapa syarat agar Tafsir Isyari dapat diterima, yaitu :

Pertama : Tafsir Isyari tidak boleh menegasikan makna dzahir dari Al-

Qur’an al-Karim. Kedua : Penafsirannya harus memiliki landasan syar’i.

Ketiga : Tafsir Isyari tidak boleh bertentangan dengan dalil syar’I dan

rasionalitas. Keempat : Tetap menganggap bahwa Tafsir Isyari tersebut

hanyalah sebuah tafsir bukan makna dzahir dari ayat Al-Qur’an, dan

9
tafsirannya juga harus berdasarkan pemahaman makna dzahir terlebih

dahulu. Alasan mengapa kita harus mengetahui makna dzahir terlebih

dahulu sebelum makna batin karena pemaknaan secara batiniyah tidak

akan mungkin tercapai jika tidak mengetahui makna batinya terlebih

dahulu. Ibaratnya adalah bagaimana mungkin seseorang mengetahui

ruangan-ruangan di dalam sebuah rumah sebelum melewati pintu terlebih

dahulu.

D. Tanggapan Terhadap Pro Kontra Tafsir Isyari

Dalam memahami Tafsir Isyari terdapat pro dan kontra terhadap

tafsir Isyari. Antara lain sebagai yang dirangkum oleh Adz-Dzahabi

berikut :

1. Sebagaian ulama tafsir lebih cenderung kepada tafsir dzahir namun

tidak menentang penafsiran secara Isyari atau batini, di antaranya

adalah Al-Baidhawi dan Al-Zamakhsyari.

2. Sebagian ulama tafsir yang cenderung kepada tafsir dzahir menolak

tafsir Isyari atau batini ini, di antaranya adalah An-Naisaburi dan Al-

Alusi.

3. Sebagian ulama yang cenderung kepada tafsir Isyari dan kadangkala

mereka menolak tafsir dzahir, hal ini seperti yang dilakukan oleh Sahl

Tistari.

10
4. Sebagian ulama memfokuskan diri untuk cenderung kepada tafsir

Isyari. Ulama ini tidak mementingkan makna dzahir sama sekali, hal

ini seperti yang dilakukan oleh Abu Abdurrahman As-Salami.

5. Adapula yang menolak tafsir dzahir, kemudian memadukan penafsiran

sufistiknya, baik secara nadzari maupun secara Isyari. Hal ini

sebagaimana dilakukan oleh Ibn Arabi.

Dalam menyikapi perbedaan pendapat di atas penulis cenderung

untuk menggadopsi sikap yang dilakukan oleh Muhammad Husein Adz-

Dzahabi yang tidak anti pati terhadap semua tafsir Isyari dan tetap

menerima tafsir Isyari dengan catatan harus memenuhi syarat-syarat yang

telah disebutkan di atas. Hal ini dikarenakan menurut penulis dengan

memahami makna yang terdalam dari ayat-ayat al-Qur’an dapat melatih

kepekaan batin agar lebih mendekatkan diri kepada Allah swt.

E. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat di ambil beberapa kesimpulan sebagai

berikut:

1. Tafsir Sufistik adalah penafsiran Al-Qur’an yang dilakukan menurut

horizon pemikiran para Sufi. Sedangkan para sufi ketika menafsirkan Al-

Qur’an selalu menggunakan isyarat-isyarat yang digali dari lapisan-lapisan

makna terdalam dari ayat-ayat Al-Qur’an, karena itu penafsiran ini disebut

11
sebagai Tafsir Isyari. Jadi pada hakikatnya antara Tafsir Sufistik dan

Tafsir Isyari adalah sama.

2. Metodologi tafsir isyari (tafsir sufistik) adalah dengan menggali makna

batin dari ayat-ayat Al-Qur’an tanpa merubah makna dzahirnya.

3. Terjadi kontroversi terhadap tafsir isyari (tafsir sufistik) dikarenakan

penafsiran isyari mempunyai pengertian-pengertian yang tidak mudah

dijangkau oleh masyarakat umum bahkan oleh sebagian ahli tafsir yang

tidak menempuh suluk dan tidak mengenal keilmuan dalam bidang

Tasawuf.

4. Manfaat mempelajari Tafsir Isyari adalah untuk dapat memahami makna

yang terdalam dari ayat-ayat al-Qur’an serta dapat melatih kepekaan batin

agar lebih mendekatkan diri kepada Allah swt, tanpa harus merubah

makna dan ayat-ayat Al-Qur’an.

Daftar Pustaka

Az-Zarqani, Muhammad Abd al-‘Adzim, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an.

Beirut: Daar al-Kitab al-‘Ilmiyah..

Adz-Dzahabi, Muhammad Husein, At-Tafsir wa al-Mufasirun Juz Tsani. Kairo:

Daar al-Hadits.

12