You are on page 1of 93

1

TAQDÎM DAN TA’KHÎR DALAM AL-QUR’AN DAN

TAFSIRNYA

Oleh : Dr. H. Hasbullah Diman, MA

Dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir IAIN Pontianak

Taqdîm dan ta‟khîr adalah salah satu keistimewaan gaya bahasa ( ushlûb )

balâghah yang memiliki keindahan makna serta pengaruh yang mendalam bagi

pendengar maupun si pembicara. Dan setiap kalimat yang terucap melalui kata-kata

serta susunan kalimat yang teratur merupakan ketinggian serta keindahan gaya bahasa

ini. Ushlûb menurut pandangan para-sastrawan ( al-Balîgh ) adalah salah satu seni

ilmu balâghah yang dapat mengungkap dan menyingkap rahasia serta sebab-sebab

kalimat dalam menempatkan kata-kata yang dapat menggugah dan menyentuh

perasaan. Dan taqdîm dan ta‟khîr dalam Al-Qur’an terdapat bermacam-macam yang

memiliki sebab-sebab dan rahasia yang jelas, kemudian diungkap oleh para ulama

tafsir dengan berbagai penafsiran terhadap ayat-ayatnya.

A. Macam-macam bentuk taqdîm dan ta’khîr dalam Al-Qur’an dan tafsiran

ayat-ayatnya.
2

Bentuk taqdim dan ta‟khîr dalam Al-Qur’an, menurut As-Zarkasyi

( w. 794 H )ada tiga macam, Pertama : Didahulukan dengan maknanya tetap sebagai

taqdîm ( ٗ١ٍ‫ ػ‬ٕٝ‫اٌّؼ‬ٚ َ‫ِب لذ‬ ). Kedua : Didahulukan tetapi maksudnya diakhirkan,

( ‫ش‬١‫خ ثٗ اٌزؤخ‬١ٌٕ‫ا‬ٚ َ‫) ِّب لذ‬. Ketiga : Didahulukan dalam suatu ayat dan diakhirkan

1
ّ ‫خ‬٠‫ أ‬ٝ‫) ِب ل ّذَ ف‬.
pada ayat yang lain ( ٜ‫ أخش‬ٝ‫أخش ف‬ٚ

Ketiga bentuk taqdîm dan ta‟khîr di atas, berkembang dari pemahaman yang

dikembangkan oleh para pakar ilmu bahasa ( Nahwu-sharf, Balâghah serta sastra ),

dan pada awalnya dikembangkan oleh para ulama Balâghah, di antaranya : Pertama :

Oleh Abdul Qâhir Al-Jurjâni ( w. 471 H ) yang kemudian dilanjutkan oleh Khatîb

Al-Qazwainî ( w. 379 H ). Kedua : Oleh Syamsuddin Ibn Shâ’ig al-Khifnî

( w. 876 H ). Ketiga : Oleh Dhiyâuddin Ibn Atsîr ( w. 1239 H ). Dan yang Keempat :

2
Oleh ulama tafsir, yaitu Abu Su’ûd ( w. 982 H ) dan Imam Zamakhsyari ( 583 H ).

1. Metode ( manhaj ) yang dikembangkan para ulama Balâghah, berpegang

kepada unsur-unsur berikut ini :

a. Haqîkat ( kedudukan ) taqdîm.

b. Tujuan ( aghrâd ) taqdm.

c. Macam-macam taqdîm dan tema-temanya.

1
AZ-Zarkasyî ( 794 H ), Al-Burhân Fî Ulûmil Qur‟an, ( Beirut : Dar-Al-Fikr, 1408 H /
1988 M ), Cet. I, Jilid ke-3, h. 279, 319, 329
2
Abdul Adhîm Ibrâhim Muhamad Muth’inî, Khashâ‟is At-Ta‟bîr Al-Qur‟ani Wa Simâtuhu
Al-Balâghiyah, ( Kairo : Maktabah Wahbab, 1413 H / 1993 ), cet. I, Jilid ke-2, h. 79-80
3

Unsur kedua dan ketiga lebih terfokus kepada metode. Sedangkan unsur yang

pertama lebih cenderung kepada pembahasan sebab-sebab terjadinya taqdîm dan

ta‟khîr. Tujuan taqdîm menurut mereka ada dua macam, pertama : tujuan secara

umum, seperti ; ambil perhatian ( ihtimâm ), dan kedua : tujuan secara khusus yaitu

untuk mengkhususkan ( takhsîsh ).

Sedangkan macam-macam taqdîm menurut ulama Balâghah, adalah :

a. Taqdîm dengan niat ta‟khîr ( ‫ش‬١‫خ اٌزؤخ‬١ٔ ٍٝ‫ُ ػ‬٠‫) رمذ‬, yaitu mendahulukan

suatu kata tetapi niatnya adalah ta‟khîr ( diakhirkan ). Contoh : ( ُ‫ اٌؾى‬ٝ‫ئر‬٠ ٗ‫ز‬١‫ ث‬ٝ‫) ف‬

dalam hal ini, mendahulukan khabar sebelum mubtada‟, maksudnya meskipun

didahulukan khabarnya ( ٗ‫ز‬١‫ ث‬ٝ‫) ف‬, namun tetap kedudukannya sebagai ta‟khîr. Juga

( ‫ أٔب‬ّٝ١ّ‫ ) ر‬yaitu mendahulukan khabar ( ّٝ١ّ‫ ) ر‬terehadap mubtada’nya, yaitu :

( ‫أٔب‬ ). Mendahulukan maf‟ûl sebelum fâ‟il atau fi‟ilnya, meskipun maf‟ûl

didahulukan tetapi maksudnya tetap sebagai maf‟ûl yang kedudukannya di akhir

( ta‟khir ), contoh ; ( ‫ذ‬٠‫) ظشة غالِٗ ص‬.

b. Taqdîm tidak bertujuan ta‟khîr (‫ش‬١‫خ اٌزؤخ‬١ٔ ٍٝ‫ُ ال ػ‬٠‫) رمذ‬, yaitu

mendahulukan sesuai dengan kedudukannya, seperti ; mendahulukan mubtada’

terhadap khabar, mendahulukan fi‟il terhadap fâ‟il. Cara-cara ini adalah menurut

Abdul Qâhir Al-Jurjâni dalam kitabnya ( Dalâ‟il I‟Jâz ) dan kemudian diikuti oleh
4

yang lainnya dari ulama Balâghah seperti Khatîb Al-Qazwâinî ( w. 379 H ), meskipun

3
dalam hal ini Zamakhsyari ( w. 538 H ) tidak sependapat.

Sedangkan tema-tema ( maudhu‟ât ) taqdîm, menurut ulama Balâghah, tentu

tidak keluar dari situasi berikut ini :

1.) Mendahulukan Musnad Ilaih. Dalam hal ini, hanya khusus untuk

mubtada’, seperti mendahulukn musnad ilaih, yaitu lafazh ( ‫ذ‬٠‫ ) ص‬dalam contoh

( ‫ذ ِٕطٍك‬٠‫ () ص‬Si Zaid Berangkat ), sedangkan dalam bentuk fâ‟il tidak ada tempat

dalam situasi ini, karena jika fâ‟il didahulukan terhadap fi‟ilnya maka ia harus

menjadi mubtada’ dan akan hilang kedudukan fi‟il dan fâ‟ilnya, contoh ( ‫ذ‬٠‫ٕطٍك ص‬٠ ),

bila didahulukan fâ‟il-nya, maka menjadi ( ‫ٕطٍك‬٠ ‫ذ‬٠‫) ص‬. Dengan demikian kalimat

tersebut bukan taqdîm dan tâ‟khîr.

2. ) Mendahulukan musnad. Hal ini khusus untuk khabar yang bukan dari

fi‟il. Karena bila khabarnya didahulukan, maka mubtada’-nya berubah menjadi fâ‟il.

Seperti contoh : ( ‫ٕفغ‬٠ ‫ ) اٌصذق‬maka menjadi ( ‫ٕفغ اٌصذق‬٠ ). Dan kalimat ini,

menjadi bab taqdîm dan ta‟khîr.

3. ) Mendahulukan muta‟alliqât terhadap „âmil ( faktor )-nya. Seperti ;

4
mendahulukan maf‟ûl terhadap fâ‟il, dan sebagainya.

2. Metode Ibn Sha’ig ( w. 876 H ) dalam persoalan taqdîm.

3
Ibid., h. 81
4
Ibid., h. 80-81
5

As-Suyûtî ( 911 H ) dalam kitabnya Al-Itqân, membagi taqdîm menjadi dua

bagian, yaitu :

Pertama : Sesuatu yang tidak jelas maknanya secara zhâhir ( nyata ), dan

setelah diketahui bahwa pokok bahasan ini merupakan bab taqdîm dan ta‟khîr, maka

jelas maksudnya. Contohnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abû Hâtim

( w. 248 H ) , bahwa Al-Qur’an surat Thâha / 20 : 129, berbunyi :

) 129 :20 / ٗ‫ ( غ‬ّٝ‫أعً ِغ‬ٚ ‫ال وٍّخ عجمذ ِٓ سثه ٌىبْ ٌضاِب‬ٌٛٚ

Artinya :
“ Dan sekiranya tidak ada ketetapan dari Allah SWT yang telah terdahulu
atau tidak ada ajal yang telah ditentukan pasti ( azab itu ) menimpa
mereka ( Thaha / 20 : 129 ).

Menurut As-Suyûtî, bahwa ayat di atas masuk dalam bab taqdîm dan ta‟khîr,

dengan taqdîr ( ‫ ٌىبْ ٌضاِب‬ّٝ‫أعً ِغ‬ٚ ‫ال وٍّخ‬ٌٛٚ ), dimajukan lafazh ( ‫) ٌىبْ ٌضاِب‬

dan diakhirkan lafazh ( ّٝ‫أعً ِغ‬ٚ ) sehingga maksudnya, “ Dan sekiranya tidak ada

ketetapan dari Allah serta ajal yang telah ditentukan, pasti akan menimpa mereka.

Ketetapan serta ajal yang ditentukan Allah SWT menyebabkan tertundanya azab.

5
Demikian taqdîm ayat di atas tanpa mengubah maksudnya.

Kedua : As-Suyûtî memberi definisi dengan ungkapan ( ‫ظ وزٌه‬١ٌ ‫) ِب‬

( sesuatu yang tidak sama dengan maksud yang pertama ). Yaitu bahwa taqdîm yang

dimaksudkan adalah mendahulukan lafazh-lafazh yang keterangannya lebih penting

5
As-Suyûti, Al-Itqân îi Ulûmil-Qur‟an, ( Beirut : Darul-Fikr Li at-Thabâ’ah Wa Nasyr Wa
al-Tawzi’, 1416 H / 1996 M ), Jilid ke-2, Cet. Ke-1, h. 33
6

dan penjelasannya lebih diperlukan. Keterangan di atas merupakan penjelasan

Al-Imâm Syamsuddin Ibn Shâ’ig Al-Khifnî ( w. 876 H ), yang tertulis dalam

kitabnya yang berjudul ( ‫ أعشاس األٌفبظ اٌّمذِخ‬ٝ‫ () اٌّمذِخ ف‬pembukaan tentang rahasia

lafazh-lafazh yang didahulukan ), dan Imam berkata : “ bahwa hikmah yang

terpenting dalam mendahulukan lafazh-lafazh tersebut sama dengan yang dimaksud

oleh as-Sibawaih ( w. 181 H ) dalam kitabnya, dengan ungkapan, yaitu ( ِْٛ‫مَذ‬٠ ُٙٔ‫وؤ‬

ٕٝ‫بٔٗ أػ‬١‫ُ٘ ثج‬ٚ ُ٘‫بٔٗ أ‬١‫ ث‬ٜ‫ ) ) اٌز‬bahwa mereka mendahulukan lafazh-lafazh yang

dirasa keterangannya lebih penting dan penjelasannya lebih diperlukan ).Contoh,

didahulukannya lafazh Jalâlah ( Allah ) dalam persoalan yang sangat penting, dengan

tujuan tabaruk ( mencari berkah ). Sebagaimana dalam surat Ali-Imrân / 2 : 18 ( ‫ذ‬ٙ‫ش‬

‫ا اٌؼٍُ لبئّب ثبٌمغػ‬ٌٛٚ‫أ‬ٚ ‫اٌّالئىخ‬ٚ ٛ٘ ‫ ( ) هللا أٔٗ ال اٌٗ اال‬Allah menyatakan bahwasanya

tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakan keadilan. Para Malikat dan

orang-orang yang berilmu ). Tujuan dari taqdîm di atas, bahwa syahadat kepada

Allah lebih besar kedudukannya dari pada syahadat kepada Malaikat. Dan syahadat

kepada Malaikat lebih besar dari pada syahadat kepada para ulama, karena mereka

6
lebih dekat kepada Allah dan lebih ta’at.

3. Metode Ibn Atsîr ( w. 1239 H ) dalam taqdîm.

Ibn Atsîr membagi taqdîm menjadi dua bagian, yaitu : pertama : sesuatu yang

khusus untuk penunjukan lafazh terhadap makna, ( ٕٝ‫ اٌّؼ‬ٍٝ‫خزص ثذالٌخ األٌفبظ ػ‬٠ ‫) ِب‬.

6
Abdul Adhîm Ibrâhim Muhamad Muth’inî, op.cit., h. 104-105
7

Meskipun itu telah diakhirkan, namun tidak mengubah maknanya sebagai taqdîm.

Yang kedua : sesuatu yang khusus untuk tingkatan taqdîm dalam penyebutan

( ‫ اٌزوش‬ٝ‫ُ ف‬٠‫خزص ثذسعخ اٌزمذ‬٠‫) ِب‬. Dan menurut beliau, dalam bagian pertama bab

taqdim ini, terdapat dua macam aspek, yaitu :

1. Sesuatu yang didahulukan itu lebih mengena ( ablag ). Seperti ;

mendahulukan maf‟ûl terhadap fâ‟ilnya, mendahulukan khabar terhadap mubtada’,

mendahulukan hâl terhadap ‘âmilnya. Dan taqdîm semacam ini bertujuan untuk

pengkhususan ( ikhtishâsh ) dan juga untuk menjaga keserasian kalimat ( murâ‟atu

nazhm kalâm ). Pendapat ini tidak diterima oleh Al-Zamakhsyari ( w. 538 H )

kemudian dijadikannya sebagai satu maksud, yaitu ikhtishâsh ( pengkhususan ).

Contohnya, sebagaimana terdapat dalam surat Az-Zumar / 39 : 66( ِٓ ٓ‫و‬ٚ ‫ثً هللا فبػجذ‬

ٓ٠‫ ( ) اٌشبوش‬Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah

kamu termasuk orang-orang yang bersyukur ). Disebutkan dalam ayat ( ‫) ثً هللا فبػجذ‬

dan tidak disebutkan ( ‫) ثً اػجذ هللا‬. Didahulukan maf‟ûl bih dengan tujuan

memberikan makna secara khusus terhadap perintah ibadah yang hanya kepada Allah

SWT semata dan tidak kepada selain-Nya. Meskipun kalimat ( ‫ ) ثً اػجذ هللا‬itu

dibenarkan, namun mendahulukan maf‟ûl-bih dari fi‟ilnya adalah lebih utama. Ibn

Atsir ( w. 1239 H ) memberikan contoh lain, untuk menjaga keserasian kalimat

( Murâ‟atu Nazhm al-Kalâm ), dan surat Al-Fâtihah / 1 : 5 ( ٓ١‫بن ٔغزؼ‬٠‫ا‬ٚ ‫بن ٔؼجذ‬٠‫) ا‬

( Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami
8

memohon pertolongan ). Namun Al-Zamakhsyari dalam hal ini menyebutnya sebagai

ikhtishâsh. Disamping tujuan keserasian kalimat, juga dimaksudkan untuk menjaga

keindahan susunan sajak yang diakhiri dengan huruf nûn, karena bila disebutkan
7
( ‫ٕه‬١‫ٔغزؼ‬ٚ ‫) ٔؼجذن‬, maka akan hilanglah keindahan ( thalâwah ) kalimatnya. Dan

contoh lain dari murâ‟atu nazhm kalâm, seperti yang terdapat dalam surat Al-Hâqqah

/ 69 : 30-32, yaitu ;

‫ْ رساػب‬ٛ‫ب عجؼ‬ٙ‫ عٍغٍخ رسػ‬ٟ‫ٖ * صُ ف‬ٍٛ‫ُ ص‬١‫ٖ * صُ اٌغؾ‬ٍٛ‫ٖ فغ‬ٚ‫خز‬

) 32-30 : 69 / ‫ٖ * ( اٌؾبلخ‬ٛ‫فبعٍى‬
Artinya :
( Allah berfirman ): " Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya,
Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.
Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. "
( Al-Hâqah / 69 : 30-32 )

Dalam hal lain, mendahulukan maf‟ûl fih terhadap fi‟il, bukan bertujuan untuk

ikhtishâsh akan tetapi untuk menjaga keserasian susunan kalimat, seperti terdapat

dalam surat Yâsin / 36 : 37-39.

‫ ٌّغزمش‬ٞ‫اٌشّظ رغش‬ٚ * ٍّْٛ‫بس فبرا ُ٘ ِظ‬ٌٕٙ‫ً ٔغٍخ ِٕٗ ا‬١ٌٍ‫ُ ا‬ٌٙ ‫خ‬٠‫ءا‬ٚ

ْٛ‫ ػبد وبٌؼشع‬ٝ‫اٌمّش لذسٔبٖ ِٕبصي ؽز‬ٚ * ُ١ٍ‫ض اٌؼ‬٠‫ش اٌؼض‬٠‫ب رٌه رمذ‬ٌٙ

) 39-37 : 36 /‫ظ‬٠ ( * ُ٠‫اٌمذ‬

7
Ibid., h. 124-125
9

Artinya :
“ Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam;
Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka
berada dalam kegelapan, dan matahari berjalan di tempat peredarannya.
Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan
telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia
sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan
yang tua. “ ( Yâsin / 36 : 37-39 ).

Ibn Atsîr ( w. 1239 H ) berkata, bahwa dalam ayat ( ‫اٌمّش لذسٔبٖ ِٕبصي‬ٚ ),

mendahulukan maf‟ûl fih terhadap fi‟il tidak termasuk dalam kajian bab ikhtishâsh,

akan tetapi bagian dari bab murâ‟atu nazm kalâm. Juga dalam kalimat ( ِٕٗ ‫ً ٔغٍخ‬١ٌٍ‫ا‬

‫بس‬ٌٕٙ‫) ا‬. Kalimat ( ٞ‫اٌشّظ رغش‬ٚ ) dan kalimat ( ٖ‫اٌمّش لذسٔب‬ٚ ) semuanya untuk tujuan

keindahan susunan kalimat. Demikian juga dalam mendahulukan maf‟ûl yang

8
terdapat dalam surat Ad-Dluhâ / 93 : 9-11, yaitu untuk keserasian susunan kalimat.

*‫أِب ثٕؼّخ سثه فؾذس‬ٚ * ‫ش‬ٕٙ‫أِب اٌغبئً فال ر‬ٚ * ‫ش‬ٙ‫ُ فال رم‬١‫ز‬١ٌ‫فؤِب ا‬

)11 -9 :93 / ٝ‫( اٌعؾ‬


“Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-
wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu
menghardiknya. Dan terhadap ni'mat Tuhanmu maka hendaklah kamu
menyebut-nyebutnya ( dengan bersyukur ). ( Ad-Dluhâ / 93 : 8-11 )

2. Suatu kalimat bila diakhirkan, lebih mengena ( ablag ). Maksudnya adalah

bila suatu kalimat didahulukan itu baik, tetapi akan lebih baik bila diakhirkan. Seperti

8
Ibid., h. 26
10

didahulukan sifat terhadap maushûf, didahulukan shilah terhadap maushûl. Sebagai

9
contoh Ibn Atsîr menyebutkan sebuah syair :

‫ ُؼ‬١‫ص‬٠ ‫صش ٌد‬ ِ ‫ ْش‬ٛ‫ ػَٕب ًّء * ث‬ٌٝ َ ٓ١‫ ث‬- ‫اٌ ًّّشه‬ٚ - ‫فم ْذ‬
َ ُ ُِٙ‫ه فِ َشال‬
Artinya :
“ ٍٍٍٍSungguh telah jelas keraguan itu setelah ada kesulitan bagiku, namun
begitu berpisah dengan cepatnya burung-burung ( berkepala ) besar itu
bersuara keras sambil menerkam burung-burung kecil itu “.

Taqdîr kalimatnya adalah ( ‫ ػٕبء‬ٌٝ ٓ١‫ُ ث‬ٙ‫شه فشال‬ٛ‫ؼ ث‬١‫ص‬٠ ‫ ( ) صشد‬burung-

burung bersuara keras ketika berpisah, ketika telah jelas kesulitan bagiku datang ).

Didahulukan ma‟mûl ( ُٙ‫شه فشال‬ٛ‫ ) ث‬sebelum „âmil-nya, yaitu ( ‫ؼ‬١‫ص‬٠ ). Dan

kata ( ‫ُُ صش ٌد‬ ) adalah burung yang berkepala besar bersuara keras dan memangsa

10
burung-burung yang lebih kecil.

4. Metode Mufassirin dalam taqdîm.

Bila diperhatikan ternyata bahwa metode yang dikembangkan oleh ulama

tafsir jelas perbedaannya dengan beberapa metode sebelumnya, baik metode Ibn

Shâ’ig, metode ulama Balâghah maupun metode Ibn Atsîr. Metode Mufassirin

dikembangkan dengan menjelaskan makna dan lebih mengutamakan I‟jâz

( keindahan ) bahasanya. Dengan demikian, metode yang dikembangkan ulama tafsir

ini, tidak terlepas dari ketiga metode sebelumnya, dengan menggabungkan metode-

9
Ibid., h. 131
10
Ibid.,
11

metode sebelumnya. Maka metode ini memiliki kekayaan yang sangat tinggi dalam

persoalan taqdîm dan rahasia yang terkandung di dalamnya, seperti menjaga

keserasian ( ri‟âyatul fasl ) sebagaimana yang dilakukan ulama Balâghah, dan

keindahan susunan sajak ( husnu nazhm saj‟î ) sebagaimana yang dilakukan Ibn

Atsîr. Metode yang dikembangkan ulama tafsir ini, landasannya adalah dua imam,

yaitu :

1. Al-Allamah Abu Su’ud ( w. 982 H ) dalam kitabnya, Irsadul Aql al-Salim

ila Mazaya Al-Kitab Al-Karim.

2. Al-Imam Mahmûd Ibn Umar Al-Zamaksyari ( w.538 H ), dalam kitabnya,

Al-Kasysyâf „An Haqâ‟iqi Gawâmidhi al-Tanzîl.

Beberapa contoh penafsiran dari metode Abu Su’ûd sebagaimana dalam surat

Al-Hajj / 22 : 23 ; yaitu :

) 23 : 22 / ‫ش * ( اٌؾظ‬٠‫ب ؽش‬ٙ١‫ُ ف‬ٙ‫ٌجبع‬ٚ ‫ٌئٌئا‬ٚ ‫س ِٓ ر٘ت‬ٚ‫ب ِٓ أعب‬ٙ١‫ْ ف‬ٍٛ‫ؾ‬٠


Artinya :
“ Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan
mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera “. ( Al-Hajj / 22 : 23 )

Abu Su’ûd ( w. 982 H ) mengatakan bahwa mendahulukan perhiasan

( tahliyah ) sebelum pakaian ( libâs ), dengan kata-kata ( ‫ ) ر٘ت‬dan ( ‫) ٌئٌئا‬, karena

libâs itu adalah pakaian yang biasa dan lazim dipakai oleh manusia, sedangkan
12

tahliyah suatu yang berbeda dan istimewa, sehingga menurut Abu Su’ûd pantas untuk

11
didahulukan, karena memiliki makna khusus.

Dalam menafsirkan surat Al-Mu’minûn / 23 : 23, Abu Su’ud menjelaskan

tentang mendahulukan suatu cerita ( qishah ), terhadap kisah yang lainnya. Yaitu

dimulai dengan kisah Nabi Nûh As sebagai berikut :

‫شٖ أفال‬١‫ا هللا ِب ٌىُ ِٓ اٌٗ غ‬ٚ‫َ اػجذ‬ٛ‫بل‬٠ ‫ِٗ فمبي‬ٛ‫ ل‬ٌٝ‫ؽب ا‬ٛٔ ‫ٌمذ أسعٍٕب‬ٚ

)23 :23 /ِْٕٛ‫ْ * ( اٌّئ‬ٛ‫رزم‬

Artinya :
“ Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia
berkata: "Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, ( karena ) sekali-kali
tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa
( kepada-Nya ) ?" ( Al-Mu’minûn / 23 : 23 ).

Mendahulukan qishah Nabi Nuh As. terhadap qishah nabi-nabi yang lain,

beralasan karena kedudukan Nabi Nûh As itu lebih dahulu adanya sehingga sesuai

12
dengan urutan zamannya.

Dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan di antara taqdîm yang

dikembangkan Al-Zamakhsyari dan Abu Su’ûd, namun metode taqdîm yang

dikembangkan kedua ulama tersebut sangatlah bebas dan memiliki penghayatan

yang mendalam serta tidak terfokus kepada kaidah bahasa ( nahwu-sharf ) dan

11
Ibid., h. 135
12
Ibid., h. 138
13

sebagai landasannya adalah surat An-Nahl / 16 : 6, dengan maksud tidak terikat

kepada kaidah bahasa dan memiliki keindahan.

) 6 : 16/ ً‫ْ ( إٌؾ‬ٛ‫ٓ رغشؽ‬١‫ؽ‬ٚ ْٛ‫ؾ‬٠‫ٓ رش‬١‫ب عّبي ؽ‬ٙ١‫ٌىُ ف‬ٚ

Artinya :
“ Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya ( binatang ternak ),
ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu
melepaskannya ke tempat penggembalaan “. ( An-Nahl / 16 : 6 ).

Az-Zarkasyi ( w.794 H ) dalam kitabnya menyebut sebagai contoh taqdîm

dalam surat Al-Baqarah / 2 : 67-73.

‫ا لبي‬ٚ‫ا أرزخزٔب ٘ض‬ٌٛ‫ا ثمشح لب‬ٛ‫ؤِشوُ أْ رزثؾ‬٠ ‫ِٗ اْ هللا‬ٛ‫ ٌم‬ٝ‫ع‬ِٛ ‫ار لبي‬ٚ

ٟ٘ ‫ٓ ٌٕب ِب‬١‫ج‬٠ ‫ا ادع ٌٕب سثه‬ٌٛ‫) لب‬67( ٓ١ٍ٘‫ْ ِٓ اٌغب‬ٛ‫ر ثبهلل أْ أو‬ٛ‫أػ‬

ْٚ‫ا ِب رئِش‬ٍٛ‫ٓ رٌه فبفؼ‬١‫اْ ث‬ٛ‫ال ثىش ػ‬ٚ ‫ب ثمشح ال فبسض‬ٙٔ‫ي ا‬ٛ‫م‬٠ ٗٔ‫لبي ا‬

‫ب ثمشح صفشاء‬ٙٔ‫ي ا‬ٛ‫م‬٠ ٗٔ‫ب لبي ا‬ٌٙٔٛ ‫ٓ ٌٕب ِب‬١‫ج‬٠ ‫ا ادع ٌٕب سثه‬ٌٛ‫) لب‬68(

‫ اْ اٌجمش‬ٟ٘ ‫ٓ ٌٕب ِب‬١‫ج‬٠ ‫ا ادع ٌٕب سثه‬ٌٛ‫ ) لب‬69( ٓ٠‫ب رغش إٌبظش‬ٌٙٔٛ ‫فبلغ‬

‫ي‬ٌٛ‫ب ثمشح ال ر‬ٙٔ‫ي ا‬ٛ‫م‬٠ ٗٔ‫) لبي ا‬70( ْٚ‫زذ‬ٌّٙ ‫أب اْ شبء هللا‬ٚ ‫ٕب‬١ٍ‫رشبثٗ ػ‬

‫ْ عئذ ثبٌؾك‬٢‫ا ا‬ٌٛ‫ب لب‬ٙ١‫خ ف‬١‫ اٌؾشس ِغٍّخ ال ش‬ٟ‫ال رغم‬ٚ ‫ش األسض‬١‫رض‬

‫هللا ِخشط ِب‬ٚ ‫ب‬ٙ١‫ار لزٍزُ ٔفغب فبداسأرُ ف‬ٚ )71( ٍْٛ‫فؼ‬٠ ‫ا‬ٚ‫ِب وبد‬ٚ ‫٘ب‬ٛ‫فزثؾ‬
14

ُ‫ى‬٠‫ش‬٠ٚ ٝ‫ر‬ٌّٛ‫ هللا ا‬ٟ١‫ؾ‬٠ ‫ب وزٌه‬ٙ‫ٖ ثجؼع‬ٛ‫ ) فمٍٕب اظشث‬72(ّْٛ‫وٕزُ رىز‬

) 73-67 : 2 / ‫ْ ( اٌجمشح‬ٍٛ‫برٗ ٌؼٍىُ رؼم‬٠‫ءا‬


Artinya :
Dan ( ingatlah ), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah
menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina". Mereka berkata: "Apakah
kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?" Musa menjawab: "Aku
berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang
yang jahil. Mereka menjawab: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami,
agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu." Musa
menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi
betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka
kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Mereka berkata:
"Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada
kami apa warnanya". Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman
bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua
warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya. Mereka
berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan
kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu
(masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat
petunjuk ( untuk memperoleh sapi itu ). Musa berkata: "Sesungguhnya Allah
berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah
dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak
cacat, tidak ada belangnya." Mereka berkata: " Sekarang barulah kamu
menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya". Kemudian mereka
menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.
Dan ( ingatlah ), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling
tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang
selama ini kamu sembunyikan. Lalu Kami berfirman: " Pukullah mayat itu
dengan sebahagian anggota sapi betina itu! " Demikianlah Allah
menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan
padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti ( Al-Baqarah / 2 :
67-73 ).

Az-Zarkasyi mengatakan, mengapa beberapa qishah dalam Al-Qur’an tidak

disebutkan secara berurutan. Yaitu yang seharusnya didahulukan adalah tentang

pembunuhan ( al-qatl ), kemudian qishah penyembelihan sapi, sebagaimana yang


15

dimaksudkan ( taqdîr ) lain : ( ٖٛ‫اظشث‬ٚ ‫ا ثمشح‬ٛ‫ب فمٍٕب ارثؾ‬ٙ١‫ار لزٍزُ ٔفغب فبدسأرُ ف‬ٚ

‫ب‬ٙ‫) ثجؼع‬. “ Dan ( ingatlah ), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu

saling tuduh menuduh tentang itu, lalu Kami berfirman : “ Sembelihlah seekor sapi

dan kemudian pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi itu ).

Az-Zarkasyi menjawab atas petanyaan di atas, bahwa setiap qishah ( cerita )

tentang Bani Israil tidak diceritakan sesuai dengan urutannya, karena setiap qishah

sangat ditentukan sesuai dengan batasan dan beratnya suatu kejahatan ( jinâyat ).

Karena itu qishah di atas dibagi menjadi kepada dua kelompok berdasarkan taqrî‟

( celaan ). Pertama : dikelompokkan berdasarkan kekejihan perbuatannya, dan

diperintahkan untuk meninggalkannya. Kedua ; dikelompokkan berdasarkan atas

pembunuhan yang diharamkan. Sedangkan mendahulukan qishah penyembelihan

sapi ( dzabhul baqarah ) terhadap pembunuhan yang diharamkan dalam ayat di atas,

karena jika disesuaikan dengan urutannya ( pembunuhan yang diharamkan, kemudian

penyembelihan sapi ) maka qishah-nya masih tetap sama tentang pembunuhan dan

tidak ada perbedaan, oleh karena itu tidak perlu pengelompokkan. Dan dibedakan

sesuai dengan kejahatan dan dikelompokkan dengan dua celaan ( taqrî‟ ) untuk

membedakan kedua perbuatan dan dua bentuk kejahatannya. Demikian menurut

13
imam Al- Zamakhsyari .

13
Ibid., h. 143-144
16

B. Sebab dan rahasia Taqdîm dan Ta’khîr dalam Al-Qur’an dan tafsiran

ayatnya.

Dari macam-macam bentuk taqdîm dan ta‟khîr di atas, yang pertama :

didahulukan dengan makna tetap ( ٗ١ٍ‫ ػ‬ٕٝ‫اٌّؼ‬ٚ َ‫ِب لذ‬ ), atau dengan kalimat lain

( ‫ش‬١‫خ اٌزؤخ‬١ٔ ٍٝ‫ُ ال ػ‬٠‫رمذ‬ ). Kita yakin bahwa terdapat sebab-sebab dan rahasia-

rahasia secara khusus. Secara global As-Suyûti ( 911 H ) dalam kitabnya

14
menyebutkan, dengan tujuannya sebagai berikut, yaitu :

Pertama : Dengan tujuan tabarruk ( ‫ ) اٌزجشن‬yaitu mencari berkah. Terdapat

beberapa ayat-ayat yang mendahulukan „asmâ Allah, yaitu dengan tujuan untuk

memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan mencari berkah. Contohnya dalam surat

Ali-Imrân / 3 : 18,

ٛ٘ ‫ا اٌؼٍُ لبئّب ثبٌمغػ الاٌٗ اال‬ٌٛٚ‫أ‬ٚ ‫اٌّالئىخ‬ٚ ٛ٘ ‫ذ هللا أٔٗ ال اٌٗ اال‬ٙ‫ش‬

) 18 : 3 / ْ‫ُ * ( اي ػّشا‬١‫ض اٌؾى‬٠‫اٌؼض‬


Artinya :
“ Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang
menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu ( juga
menyatakan yang demikian ) tiada Tuhan melainkan Dia Yang Maha perkasa
dan Maha Bijaksana”. ( Ali-Imrân / 3 : 18 ).

Juga dalam surat Al-Anfâl / 8 : 41, yaitu :

14
As-Suyûtî ( 911 H ), Al-Itqân Fî Ulûmil Qur‟an, ( Beirut : Dar-Al-Fikr, 1416 H / 1996 M
), cet. I, Jilid ke-2, h. 35-39 , Az-Zarkasyi ( 794 H ), Al-Burhân Fî Ulûmil Qur‟an, ( Beirut : Dar al-
Fikr, 1408 H / 1988 M ), cet. Ke I, h. 279
17

) 41 : 8/ ‫ي ( األٔفبي‬ٛ‫ٌٍشع‬ٚ ٗ‫ء فؤْ هلل خّغ‬ٟ‫ا أّٔب غّٕزُ ِٓ ش‬ٍّٛ‫اػ‬ٚ

Artinya :
“ Ketahuilah sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai
rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul….”
( Al-Anfâl / 8 : 41 ).

Didahulukan Lafazh Jalâlah dalam kedua ayat di atas, dengan alasan karena

lafazh Jalâlah memiliki kedudukan yang lebih tinggi dan mulia. Dan tidak diragukan

lagi bahwa persyaksian terhadap Allah lebih tinggi kedudukannya dibanding

persyaksian kepada Malaikat, dan persyaksian kepada Malaikat lebih tinggi dari para
15
ulama, maka didahulukan. Ibn Katsîr menafsirkan dalam ayat Ali Imrân / 3 : 18,

bahwa dalam kalimat ( ‫ذا‬١ٙ‫ش‬ ) menyatakan, tentang tingginya sifat yang dimiliki

Allah SWT itu benar-benar Maha saksi, serta Maha Adil dari segala perkatan yang

disampaikan melalaui rasul-Nya. Dan ayat ( ٛ٘ ‫ ) أٔٗ ال اٌٗ اال‬memiliki makna tauhid

ulûhiyyah, hanyalah Dia satu-satunya Tuhan untuk semua makhluk yang berhak

disembah. Di samping itu Dia sebagai Tuhan ( Khâliq ), dan semua makhluknya

membutuhkan kepada-Nya, karena Dia Maha Kaya. Allah juga menyatakan

persyaksiannya kepada Malaikat dan para ahli ilmi ( ulûl-Ilmi ), hal itu merupakan

pertanda salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada mereka, karena

kedudukannya yang mulia, memiliki sifat jujur dan benar dalam setiap hal. Kemudian

ayat di atas di akhiri dengan ( ُ١‫ض اٌؾى‬٠‫ ) اٌؼض‬yaitu bahwa, Allah SWT Maha Mulia

15
Op.cit., h. 104 , As-Suyûtî, op.cit., h. 35
18

dan Maha Agung serta Maha Besar, dan Maha Bijaksana dalam setiap tindakan-Nya.

16
Sedangkan dalam penafsiran ayat 42 surat al-Anfal, bahwa lafazh jalâlah dalam

ayat ( ‫ي‬ٛ‫ٌٍشع‬ٚ ٗ‫) فؤْ هلل خّغ‬ adalah sebagai pembuka kalâm, sebagaimana Allah

berfirman ( ‫ األسض‬ٝ‫ِب ف‬ٚ ‫اد‬ٚ‫ اٌغّب‬ٝ‫) هلل ِب ف‬, yaitu, bahwa Allah mendapat

seperlima ( khumûs ), juga rasulullah SAW seperlima dari pembagian harta rampasan

17
sebagai hasil peperangan.

Kedua : Untuk Ta‟dzîm ( ُ١‫ ) اٌزؼظ‬yaitu untuk mengagungkan. Sebagaimana

surat An-Nisâ’ / 5 : 69 :

ٓ١١‫ُ ِٓ إٌج‬ٙ١ٍ‫ٓ أٔؼُ هللا ػ‬٠‫ٌئه ِغ اٌز‬ٚ‫ي فؤ‬ٛ‫اٌشع‬ٚ ‫طغ هللا‬٠ ِٓٚ

. ) 69 : 5 / ‫ ( إٌغبء‬. ٓ١‫اٌصبٌؾ‬ٚ ‫ذاء‬ٙ‫اٌش‬ٚ ٓ١‫م‬٠‫اٌصذ‬ٚ

Artinya :
“ Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul ( Nya ), mereka itu akan
bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah,
yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-
orang saleh “. ( Al-Nisâ‟ / 5 : 69 ).

Dalam ayat di atas perintah ta’at kepada Allah didahulukan terlebih utama

sebelum perintah ta’at kepada rasul, karena Allah itu lebih Agung kedudukan-Nya

dan lebih besar dari semua makluk-Nya. Dan lafazh Jalâlah didahulukan menurut al-

16
Ibn Katsîr, Mukhtashar Tafsîr Ibn Katsîr, Muhamad Ali Shâbunî ( tahqiq ), ( Kairo : Dar
As-Shâbuni, t.th ), Jilid : 1, h. 272

17
Ibid, jilid ke-2. h. 106
19

Baidhawi, karena perintah ta’at kepada Allah adalah sebagai sugesti ( targhîb ) bagi

umat Islam untuk menta’ati Allah kemudian menta’ati mereka-mereka yang

disebutkan dalam ayat, sesuai dengan janji-Nya, karena mereka memiliki ketinggian

akhlaq yang mulia. Yaitu para nabi ( nabiyyûn ) yang sukses dalam perjuangannya

sesuai dengan ilmu dan amal mereka dalam menegakkan kalimat tauhid. Juga orang-

orang yang jujur dan benar ( shiddîqun ) yang sangat tinggi derajat ketaqwaannya,

serta para ahli jihad yang mati syahid dalam menegakan agama Allah ( syuhadâ‟ )

dengan semangat yang kuat dalam berdakwah menegakan kalimat lâ ilâha-ilallah,

dan juga para orang-orang shaleh ( shâlihîn ) yang diberi umur panjang serta harta

benda yang cukup yang digunakan untuk tujuan beribadah dan mencari keridha’an

Allah SWT semata. Mereka tergolong orang-orang yang diberi nikmat ( oleh Allah )

kerena mereka betul-betul lebih mengenal Allah dibanding makhluk-makhluk lain,


18
sehingga orang-orang yang beriman diperintahkan untuk menta’ati mereka.

19
Ketiga : Untuk tujuan tasyrîf ( ‫ف‬٠‫) اٌزشش‬ yaitu untuk memulyakan. Ibn
Shâ’ig mengatakan, bahwa mendahulukan muzakkar ( laki-laki ) sebelum mu‟annats

18
Al-Baidlâwi, Tafsîr Al-Baidlâwi ( Anwârut Tanzîl wa Asrârut Ta‟wîl ), ( Beirut : Dar-al-
Fikr, 1416 H / 1996 M ), jilid ke-2, h. 214
19
Perbedaan antara ( ُ١‫ ) اٌزؼظ‬dan ( ‫ف‬٠‫ ) اٌزشش‬yang artinya mengangungkan dan
memuliakan, tidak terdapat perbedaan yang signifikan, karena mempunyai kesamaan tujuan yaitu
penghormatan, namun dilihat dari penggunaan lafazh-lafazh dalam ayat-ayat Al-Qur’an, Allah SWT
mengunakan ta‟zhim sebagai penghormatan kepada yang lebih tinggi kedudukannya, seperti ;
kedudukan Allah sendiri, para nabi-nabi dan malaikat dan sebagainya ( QS. 4 : 69 ). Sedangkan kata
tasyrif digunakan untuk penghormatan kepada yang lebih rendah kedudukannya, diantara makhluk-
20

( perempuan ) seperti yang terdapat dalam surat Al-Ahzâb ayat 35, yaitu : ( ْ‫ا‬
‫اٌّئِٕبد‬ٚ ٓ١ِٕ‫اٌّئ‬ٚ ‫اٌّغٍّبد‬ٚ ٓ١ٍّ‫اٌّغ‬ ),( Sesungguhnya laki-laki dan

perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min ), bahwa laki-laki
( muzhakar ) itu lebih didahulukan dari pada perempuan ( mu‟unats ), karena
kedudukan laki-laki lebih dimuliakan. Dan Al-Qurthubi menafsirkan bahwa ayat di
atas diawali dengan Islam, karena Islam mencakup di dalamnya makna iman yaitu
perbuatan yang diiringi dengan anggota badan. Kemudian disebutkannya kata
( imân ) dengan lafazh ( ِْٕٛ‫ ) اٌّئ‬yang merupakan kekhususan, yakni seorang
muslim yang memiliki keimanan yang sempurna. Sebagaimana juga didahulukan
lafazh al-Hurr ( orang merdeka ) sebelum al-abdu ( budak sahaya ) untuk
memuliakan orang yang merdeka, sebagaimana terdapat dalam surat Al-Baqarah / 2 :
178,

)178 : 2/ ‫( اٌجمشح‬. ٝ‫ ثبألٔض‬ٝ‫األٔض‬ٚ ‫اٌؼجذ ثبٌؼجذ‬ٚ ‫اٌؾش ثبٌؾش‬


Artinya :

“ Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita
dengan wanita. “ ( QS. Al-Baqarah / 2 : 178 ).

Didahulukan orang merdeka, karena ia lebih mulia dari pada hamba sahaya.

Ibn Katsîr menyatakan bahwa hukum pembunuhan yang dimaksud adalah qishas.

Hukum Islam pada awal Islam menetapkan, bahwa qishas bisa terjadi pada orang

yang merdeka membunuh budak, atau budak pria membunuh budak wanita,

kemudian dijelaskan dengan riwayat yang disampaikan kepada Ibn Abbâs,

( ٝ‫ ثبألٔض‬ٝ‫األٔض‬ٚ ‫اٌؼجذ ثبٌؼجذ‬ٚ‫اٌؾش ثبٌؾش‬ ) bahwa tidak dibenarkan seorang lelaki

makhluk-Nya, seperti Allah memulyakan bagi laki-laki dari wanita, atau memulyakan orang merdeka
dari budak sahaya, orang yang hidup dari yang mati, ( QS. 33 : 35 , QS. 2 : 178, QS. 30 : 19 ), Abdul
Azhîm Ibrâhîm Muhamad Muth’inî, op.cit., h. 5-6
21

merdeka membunuh wanita budak sahaya, tetapi orang merdeka mengqishas orang

lelaki merdeka juga, sebagimana juga seorang wanita mengqishas seorang wanita

merdeka. Dan menurut pendapat yang diriwayatkan Abi Mâlik, bahwasanya ayat
20
tersebut telah di-nasakh ( diganti ) dengan ayat ( ‫) إٌفظ ثبٌٕفظ‬ , sebagaimana

Allah berfirman dalam surat Al-Mâidah / 5 : 45.

ْ‫األر‬ٚ ‫األٔف ثبألٔف‬ٚ ٓ١‫ٓ ثبٌؼ‬١‫اٌؼ‬ٚ ‫ب أْ إٌفظ ثبٌٕفظ‬ٙ١‫ُ ف‬ٙ١ٍ‫وزجٕب ػ‬ٚ

ٌُ ِٓٚ ٌٗ ‫ وفبسح‬ٛٙ‫فّٓ رصذق ثٗ ف‬ ‫ػ لصب‬ٚ‫اٌغش‬ٚ ٓ‫اٌغٓ ثبٌغ‬ٚ ْ‫ثبأل ر‬

)45 :5/ ‫ْ * ( اٌّبئذح‬ٌّٛ‫ٌئه ُ٘ اٌظب‬ٚ‫ؾىُ ثّب أٔضي هللا فؤ‬٠

Artinya :
“ Dan telah kami tetapkan terhadap mereka di dalamnya ( At Taurat )
bahwasanya jiwa ( dibalas ) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan
hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka ( pun ) ada
kishasnya. Barangsiapa yang melepaskan ( hak kisas ) nya, maka melepaskan
hak itu ( menjadi ) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan
perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-
orang yang zalim. “ ( Al-Mâidah / 5 : 45 ).

Juga didahulukan kata khail ( kuda ) terhadap bighâl dan hamîr ( keledai ),

dalam surat An-Nahl / 16 : 8 , yang berbunyi :

/ ً‫ْ * ( إٌؾ‬ٍّٛ‫خٍك ِب ال رؼ‬٠ٚ ‫ٕخ‬٠‫ص‬ٚ ‫٘ب‬ٛ‫ش ٌزشوج‬١ّ‫اٌؾ‬ٚ ‫اٌجغبي‬ٚ ً١‫اٌخ‬ٚ


) 8 :16
Artinya :

20
Op.cit, Ibn Katsir. h. 155-156
22

“ Dan ( Dia telah menciptakan ) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu
menungganginya dan ( menjadikannya ) perhiasan. Dan Allah menciptakan
apa yang kamu tidak mengetahuinya. “ ( QS. An-Nahl / 16 : 8 ).

Tujuan didahulukannya khail terhadap bighâl karena khail ( kuda ) lebih baik

dari bighâl disebabkan banyak manfa’atnya. Dan juga lafazh al-Hayy ( yang hidup )

didahulukan terhadap lafazh al-Mayyît ( yang mati ) dalam surat Al-Rûm / 30 : 19

dan juga as-sama‟ ( pendengaran ) terhadap al-Bashar ( penglihatan ) dalam surat Al-

Baqarah / 2 : 7 dan surat Al-Isrâ’ / 17 : 36,

‫ب‬ٙ‫ر‬ِٛ ‫ األسض ثؼذ‬ٟ١‫ؾ‬٠ٚ ٟ‫ذ ِٓ اٌؾ‬١ٌّ‫خشط ا‬٠ٚ ‫ذ‬١ٌّ‫ ِٓ ا‬ٟ‫خشط اٌؾ‬٠

) 19 :30 / َٚ‫ْ ( اٌش‬ٛ‫وزٌه رخشع‬ٚ

Artinya :
“ Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati
dari yang hidup dan menghidupkan bumi yang sudah mati. Dan seperti itulah
kamu akan dikeluarkan dari kubur”. ( Ar-Rûm / 30 : 19 ).

Didahulukan al-hayy dari pada al-mayyît dalam ayat di atas, disebabkan

karena orang hidup lebih mulia dari yang mati, sebagaimana juga terdapat dalam

surat Fâthir / 35 : 22

) 22 : 35/‫اد ( فبغش‬ِٛ‫ال األ‬ٚ ‫بء‬١‫ األؽ‬ٞٛ‫غز‬٠ ‫ِب‬ٚ

Artinya :
“ Dan tidak ( pula ) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang
mati. “ ( Fâthir / 35 : 22 ).
Adapun al-mayyit didahulukan dalam surat Al-Mulk / 67 : 2, sebab

keberadaannya terlebih dahulu.

) 2 : 67 /‫بح ( اٌٍّه‬١‫اٌؾ‬ٚ ‫د‬ٌّٛ‫ خٍك ا‬ٞ‫اٌز‬


23

“ Yang menjadikan mati dan hidup “ ( Al-Mulk / 67 : 2 )

Dan Allah menjadikan manusia dari yang asalnya tiada menjadi ada dengan

tujuan untuk menguji mereka, diuji siapa di antara mereka ( manusia ) yang paling

baik amal perbuatannya, sebagaimana yang dimaksudkan Ibn Katsîr dalam

21
tafsirnya. Kemudian mendahulukan as-sama‟ dari al-bashar, sebagaimana dalam

surat Al-Baqarah / 2 : 7, yaitu :

‫ُ ػزاة‬ٌٙٚ ‫ح‬ٚ‫ أثصبسُ٘ غشب‬ٍٝ‫ػ‬ٚ ُٙ‫ عّؼ‬ٍٝ‫ػ‬ٚ ُٙ‫ث‬ٍٛ‫ ل‬ٍٝ‫خزُ هللا ػ‬


) 7 :2 / ‫ُ* ( اٌجمشح‬١‫ػظ‬
Artinya :
“ Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan
mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” ( Al-Baqarah / 2 :
7)

Abdul ‘Azhîm Ibn Ibrâhim Muth’inî menulis dalam kitabnya, bahwa rahasia

didahulukannya sama‟ ( mendengar ) dari bashar ( melihat ) sebagaimana banyak

dilihat dalam ayat-ayat Al-Qur’an, karena mendengar ( as-sama‟ ) itu lebih utama

dari melihat ( al-bashar ), karena setiap ilmu atau hal-hal lain berupa informasi

( ma‟lumât ) didapat terlebih dahulu melalui proses pendengaran dari pada

22
penglihatan. Dan al-qalb didahulukan dari pada sama‟ dan bashar dalam ayat di

atas, karena panca indra ( khawâs ) itu adalah alat pembantu hati yang paling utama.

Kita memahami bahwa hati adalah alat yang menerima segala apa saja hasil dari

21
Ibn Katsîr, op.cit., h. 527

22
Abdul ‘Azhîm bin Ibrâhîm Muhamad Muth’inî, op.cit., h. 107
24

proses mendengar dan melihat. Sedangkan qalb diakhirkan terhadap sama‟

sebagaimana dalam surat Al-Jâtsiyah / 45 : 23 ( ٗ‫لٍج‬ٚ ٗ‫ عّؼ‬ٍٝ‫خزُ ػ‬ٚ ) bertujuan

untuk menjaga, bila terdapat kejanggalan ( cacat ) dalam pendengaran atau karena

tersumbat, sehingga telinga tidak bisa mendengar dengan baik. Dan Allah SWT

mencela jika, dalam hal ini ia tidak ingin mendengarkan ayat-ayat Allah SWT,

sebagaimana dalam surat Al-Jâtsiyah / 45 : 7-8.

ٌُ ْ‫صش ِغزىجشا وؤ‬٠ ُ‫ٗ ص‬١ٍ‫ ػ‬ٍٝ‫بد هللا رز‬٠‫غّغ ءا‬٠ ) 7( ُ١‫ً ٌىً أفبن أص‬٠ٚ
) 8-7 :45 / ‫خ‬١‫ ( اٌغبص‬.‫ب‬ٙ‫غّؼ‬٠
Artinya :
“ Kecelakaan yang besar bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi
banyak berdosa, dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya
kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan-akan dia tidak
mendengarnya. “ ( Al-Jâtsiyah / 45 : 7-8 ).

Maksud ayat Al-Baqarah / 2 : 7 di atas, bahwa Allah SWT telah mengunci

mati hati, pendengaran serta penglihatan mereka ( orang-orang kafir ). Didahulukan

hati ( qalb ) dalam ayat, karena panca indra ( telinga dan mata ) yang merupakan alat

bantu tadi, dan tidak dapat menyampaikan hasil kerjanya dengan baik, karena terutup

dan juga tidak bisa menerima petunjuk, disebabkan banyaknya perbuatan dosa. Allah

SWT benci atas perbuatan mereka, sehingga menutupi hati mereka yang

menyebabkan hati mereka tidak bisa memberikan inspirasi dan berfikir dengan
25

baik,yang akhirnya tidak bisa mendengar hal-hal yang baik dan juga tidak bisa

23
melihatnya.

Sedangkan didahulukan kata ( ٝ‫ع‬ِٛ ) terhadap ( ْٚ‫) ٘بس‬, karena Nabi Mûsa

As. lebih mulia dari Nabi Harûn As. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-A’râf /

7 : 122.

)122 : 7 /‫ْ ( األػشاف‬ٚ‫٘بس‬ٚ ٝ‫ع‬ِٛ ‫سة‬


" ( Yaitu ) Tuhan Musa dan Harun". ( al-‘Arâf : 7 : 122 ).

Sedangkan mendahulukan ( ْٚ‫ ) ٘بس‬terhadap ( ٝ‫ع‬ِٛ ) dalam surat Thâha /

20 : 70, bertujuan untuk menjaga keserasian dan persamaan akhir ayat ( ‫ط‬ٚ‫ِشاػبح سإ‬

24
‫خ‬٠‫) األ‬. , yaitu :

) 70 : 20 /ٗ‫( غ‬ٝ‫ع‬ِٛٚ ْٚ‫ا ءإِب ثشة ٘بس‬ٌٛ‫ اٌغؾشح عغذا لب‬ٟ‫فؤٌم‬

Artinya :
“ Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata: "
Kami telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa ". ( Thâha / 20 : 70 ).

Dan mendahulukan manusia dari jin bertujuan untuk memuliakan manusia

sebagai makhluk Allah yang paling mulia, sebagaimana dalam surat Al-Isrâ’ / 17 : 88,

23
Al-Quthubî, Al-Jâmi‟ li Ahkâmi Al-Qur‟an, ( Beirut : Daru al-Fikr, 1419 H / 1999 M ),
cet. I, Jilid ke-4, h. 16

24
Abdul Azhîm Muth’inî, of.cit., h. 116
26

ْٛ‫ؤر‬٠ ‫ا ثّضً ٘زا اٌمشءاْ ال‬ٛ‫ؤر‬٠ ْ‫ أ‬ٍٝ‫اٌغٓ ػ‬ٚ ‫لً ٌئٓ اعزّؼذ اإلٔظ‬

) 88 :17/ ‫ ( اإلعشاء‬.‫شا‬١ٙ‫ُ ٌجؼط ظ‬ٙ‫ وبْ ثؼع‬ٌٛٚ ٍٗ‫ثّض‬


Artinya :
“ Katakanlah : " Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk
membuat yang serupa Al Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat
membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi
pembantu bagi sebagian yang lain ". ( Al-Isrâ’/ 17 : 88 ).

Didahulukan makhuk jin di dalam surat Al-An’âm / 6 : 130, karena

penciptaan jin lebih dahulu dari manusia.

ُ‫ٔى‬ٚ‫ٕزس‬٠ٚ ٟ‫بر‬٠‫ىُ ءا‬١ٍ‫ْ ػ‬ٛ‫مص‬٠ ُ‫ؤرىُ سعً ِٕى‬٠ ٌُ‫ا إلٔظ أ‬ٚ ٓ‫بِؼشش اٌغ‬٠

ٍٝ‫ا ػ‬ٚ‫ذ‬ٙ‫ش‬ٚ ‫ب‬١ٔ‫بح اٌذ‬١‫ُ اٌؾ‬ٙ‫غشر‬ٚ ‫ أٔفغٕب‬ٍٝ‫ذٔب ػ‬ٙ‫ا ش‬ٌٛ‫ِىُ ٘زا لب‬ٛ٠ ‫ٌمبء‬

)130 : 6 /َ‫ (األٔؼب‬.ٓ٠‫ا وبفش‬ٛٔ‫ُ وب‬ٙٔ‫ُ أ‬ٙ‫أٔفغ‬

Artinya :
“ Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-
rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat
Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari
ini? Mereka berkata: "Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri", kehidupan
dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka
sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. “ ( Al-An’âm / 6 :
130 ).

Kemudian disebutkan dalam ayat yang lain, bahwa jin terlebih dahulu

penciptaannya dari makhluk lainnya.

)27 : 15 /‫ ( اٌؾغش‬. َّٛ‫اٌغبْ خٍمٕبٖ ِٓ لجً ِٓ ٔبس اٌغ‬ٚ

Artinya :
27

“ Dan Kami telah menciptakan jin sebelum ( Adam ) dari api yang sangat
panas. “ ( Al-Hijr / 15 : 27 ).

Dan boleh didahulukan jin sebelum manusia, bukan karena ia terlebih dahulu

dalam hal penciptaannya, tetapi karena ta‟ajub ( keheranan ), sebagaimana dalam

surat Ar-Rahmân / 55 : 33.

‫األسض‬ٚ ‫اد‬ّٛ‫ا ِٓ ألطبس اٌغ‬ٚ‫اإلٔظ اْ اعزطؼزُ أْ رٕفز‬ٚ ٓ‫بِؼشش اٌغ‬٠

.) 33 :55 /ّٓ‫ْ اال ثغٍطبْ ( اٌشؽ‬ٚ‫ا الرٕفز‬ٚ‫فبٔفز‬

Artinya :
“ Hai jama`ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus ( melintasi )
penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya
melainkan dengan kekuatan.“ ( Ar-Rahmân / 55: 33 ).

Keempat : Untuk munasabah ( ‫ ) إٌّبعجخ‬yaitu penyesuaian. Dalam hal ini,

As-Suyutti membagi munasabah tersebut kepada dua sebab. Pertama : penyesuaian

lafazh yang didahulukan ( al-mutaqaddim ) sebab siyaqul kalam ( konteks ).

Contohnya dalam surat Al-Nahl / 16 : 6, yaitu :

) 6 :16 / ً‫ ( إٌؾ‬. ْٛ‫ٓ رغشؽ‬١‫ؽ‬ٚ ْٛ‫ؾ‬٠‫ٓ رش‬١‫ب عّبي ؽ‬ٙ١‫ٌىُ ف‬ٚ


Artinya :
“ Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu
membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat
penggembalaan. “ ( An -Nahl / 16 : 6 ).
28

Didahulukan kata ( ْٛ‫ؾ‬٠‫رش‬ ) terhadap ( ْٛ‫رغشؽ‬ ) karena siyaqul kalâm

( konteks-nya ) yaitu sama-sama memiliki kesamaan arti ( istirahat ), baik kata

( ‫ ) اٌغشاػ‬maupun dalam kata ( ‫) اإلساؽخ‬. Dan kedua lafazh tersebut sama-sama

indah ( jamâl ). Namun keindahan yang dimiliki kata ( ْٛ‫ؾ‬٠‫رش‬ ) melebihi kata

( ْٛ‫رغشؽ‬ ), karena istirahatnya ( binatang ternak ) dari tempat pengembalaan

( mar‟ah ) itu di sore hari, tentu dalam keadaan kenyang ( bithan ), dan hal itu lebih

menyenangkan dan menarik. Berbeda dengan waktu istirahat mereka di saat

melepaskannya menuju tempat pengembalaan ( di pagi hari, tentu tidak sama dengan

yang pertama, kerena mereka dalam keadaan lapar ( khumash ). Demikian

25
dimaksudkan as-Suyuti dalam kitabnya. Juga hal yang semisal dengan taqdîm

dalam surat Al-Rûm / 30 : 24 yaitu :

) 24 : 30/َٚ‫غّؼب ( اٌش‬ٚ ‫فب‬ٛ‫ىُ اٌجشق خ‬٠‫ش‬٠


Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk ( menimbulkan ) ketakutan dan
harapan. “ ( Ar-Ruum / 30 : 24 )

Didahulukan lafazh ( ‫فب‬ٛ‫ ) خ‬terhadap ( ‫غّؼب‬ ), karena rasa takut terhadap

petir itu lebih dahulu dari pada harapan akan datangnya hujan. Tidak mungkin terjadi

hujan kecuali setela terjadi beberapa kali petir. Demikian pula didalahulukan kata

25
As-Suyutî, Al-Itqân Fî Ulûmil Qur‟an, ( Kairo : Dar-Al-Fikr, 1416 H / 1996 M ), cet.
ke- 1, jilid ke-2, h. 36
29

israf ( pemborosan ) dalam kedua kalimat tersebut ( ‫ا‬ٛ‫غشف‬٠ ) dan ( ‫ا‬ٚ‫مزش‬٠ ),

dalam surat Al-Furqân / 25 : 67 yaitu :

/ ْ‫اِب * ( اٌفشلب‬ٛ‫ٓ رٌه ل‬١‫وبْ ث‬ٚ ‫ا‬ٚ‫مزش‬٠ ٌُٚ ‫ا‬ٛ‫غشف‬٠ ٌُ ‫ا‬ٛ‫ٓ ارا أٔفم‬٠‫اٌز‬ٚ
) 67 :25

Artinya :
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan ( harta ), mereka tidak
berlebih-lebihan, dan tidak ( pula ) kikir, dan adalah ( pembelanjaan itu ) di
tengah-tengah antara yang demikian. “ ( Al-Furqan / 25 : 67 ).

Didahulukan al-isrâf ( berlebih-lebihan ) terhadap qutur ( kikir ), untuk

meniadakan sifat berlebih-lebihan tersebut, karena kemuliaan seseorang itu dengan

memberikan infâq ( shadaqah ) bukan karena berlebih-lebihannya atau kikir. Juga

dalam surat Al-Anbiya’ / 21 : 91, yaitu :

) 79 :21 /‫بء‬١‫ػٍّب ( األٔج‬ٚ ‫ٕب ؽىّب‬١‫وال ءار‬ٚ

“ Dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu “
( Al-Anbiyâ‟ / 21 : 79 ).

Didahulukannya hukm ( hukum ) terhadap ilm ( ilmu ), meskipun ilmu itu

adalah lebih dahulu dari segalanya. Karena siyaqul kalâm ( konteksnya ) berkenaan

dengan Daud As dan Sulaiman As. dalam memutuskan suatu hukum.

ُّٙ‫وٕب ٌؾى‬ٚ َٛ‫ٗ غُٕ اٌم‬١‫ اٌؾشس ار ٔفشذ ف‬ٟ‫ؾىّبْ ف‬٠ ‫ّبْ ار‬١ٍ‫ع‬ٚ ‫د‬ٚ‫دا‬ٚ

)78 : 21 / ‫بء‬١‫( األٔج‬. ٓ٠‫شب٘ذ‬


30

“ Dan ( ingatlah kisah ) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan


keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-
kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan
yang diberikan oleh mereka itu, “ ( Al-Anbiyâ‟ / 21 : 78 )

Yang kedua : Penyesuaian lafazh baik untuk tujuan taqdim ataupun ta‟khir.

Contoh dalam surat Al-Hadîd / 57 : 3, yaitu :

) 3 :57 /‫ذ‬٠‫ُ * ( اٌؾذ‬١ٍ‫ء ػ‬ٟ‫ ثىً ش‬ٛ٘ٚ ٓ‫اٌجبغ‬ٚ ‫اٌظب٘ش‬ٚ ‫خش‬٢‫ا‬ٚ ‫ي‬ٚ‫ األ‬ٛ٘

“ Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia
Maha Mengetahui segala sesuatu. “ ( Al-Hadîd / 57 : 3 ).

Lafazh-lafazh pada ayat di atas, seperti lafazh ( ‫ي‬ٚ‫ ) األ‬didahulukan dari

lafazh ( ‫) اٌظب٘ش‬, karena penyesuaian, yaitu al-awwal adalah sesuai dengan

kedudukannya di awal. Juga sebagaimana kata ( ٓ١ِ‫ ) اٌّغزمذ‬dalam surat Al-Hijr / 15

: 24, maka ia didahulukan terhadap ( ٓ٠‫ ) اٌّغزؤخش‬yaitu ; ( ُ‫ٓ ِٕى‬١ِ‫ٌمذ ػٍّٕب اٌّغزمذ‬ٚ

ٓ٠‫ٌمذ ػٍّٕب اٌّغزؤخش‬ٚ ) dan juga dalam surat Al-Muddattsir / 73 : 34, ( ْ‫ٌّٓ شبء ِٕىُ أ‬

‫زؤخش‬٠ ٚ‫زمذَ أ‬٠ ) yaitu didahulukan kata ( َ‫زمذ‬٠ ), juga dalam surat Al-Qashâsh / 28 :

70, mendahulukan lafazh ( ٌٝٚ‫ ) األ‬dalam ayat ( ‫خشح‬٢‫ا‬ٚ ٌٝٚ‫ األ‬ٟ‫) ٌٗ اٌؾّذ ف‬, juga

dalam surat Al-Wâqi’ah / 56 : 39-40, didahulukan lafazh ( ٓ١ٌٚ‫ ) األ‬dalam dua ayat

26
ini ; ( ٓ١ٌٚ‫ ) صٍخ ِٓ األ‬dan ( ٓ٠‫خش‬٢‫صٍخ ِٓ ا‬ٚ ). Demikian selanjutnya. Az-Zarkasyi

26
Ibid ., h. 37
31

menamakan hal itu dengan sebutan mura‟atul isytiqâq lafazh ( menjaga keserasian

27
asal lafazh ).

Kelima : Untuk mendorong ( ٗ١ٍ‫اٌؾش ػ‬ ) dan menjaga agar tidak

menyepelekan. Contoh dari rahasia taqdîm ini sebagaimana dalam surat An-Nisâ’ / 4

: 11 tentang mendahulukan wasiat ( washaya ).

) 11 : 4 / ‫ٓ ( إٌغبء‬٠‫ د‬ٚ‫ب أ‬ٙ‫ ث‬ٟ‫ص‬ٛ٠ ‫خ‬١‫ص‬ٚ ‫ِٓ ثؼذ‬


“ ( Pembagian-pembagian tersebut di atas ) sesudah dipenuhi wasiat yang ia
buat atau ( dan ) sesudah dibayar hutangnya. “ ( An-Nisâ’ / 4 : 11 ).

Alasan didahulukan washiyah ( wasiat ) terhadap dain ( hutang-piutang ) bagi

ibu / bapak yang meninggal dunia, untuk mendorong berwasiat dan menjaga agar

tidak menyepelekan hak mereka, karena kebiasaan yang terjadi bahwa wasiat itu

28
disepelehkan sedang hutang-piutang didahulukan. Az-Zarkasyi ( w. 794 H )

mengatakan, bahwa wasiat didahulukan terhadap dain, karena menurut hukum

syari’ah, bahwa wasiat itu berkenaan dengan warisan ( warasah ), dan cara

pengambilannya serupa dengan mirats ( harta warisan ) yang memerlukan

penyelesaian yang baik. Berbeda dengan hutang-piutang yang mudah dilaksanakan,

karena merupakan suatu kewajiban yang harus disegerakan bersamaan dengan

27
Az-Zarkasyi, op.cit., h. 306

28
Abdul Azhim Muth’ini, op.cit., h. 118
32

wasiat. Sehingga digunakan kata auw (ٚ‫ ) أ‬dengan pengertian mempunyai kedudukan

29
yang sama dalam syari’at, keduanya wajib.

30
Allah SWT memerintahkan berbuat adil, karena umat pada masa jahiliyah

tidak mengetahui hukum dalam pembagian harta warisan ( mirâts ) bagi nishâb laki-

laki dan perempuan. Dan keduanya mempunyai hak yang sama, sebagiamana

ketentuan syari’at bagian anak laki-laki sama dengan dua anak ( perempuan ), karena

seorang pria itu memiliki tanggungjawab yang penuh untuk memberi nafkah kepada

anak dan istrinya, dan bagi anak perempuan yang lebih dari dua, maka bagi mereka

dua pertiga dari yang diwariskannya, dan seorang ibu / bapak yang ditinggalkan

seperenam atau sepertiga, dan hal itu dilakukan setelah urusan wasiat serta hutang-

31
piutangnya telah diselesaikannya. Juga taqdîm semacam ini, seperti mendahulukan

amwâl ( harta benda ) terhadap awlâd ( anak-anak ), sebagaimana dinyatakan dalam

surat Al-Kahfi / 18 : 46 , surat As-Syua’ara / 26 : 88, surat Al-Anfâl / 8 : 2, Saba’ / 34

: 37, yaitu :

* ) 46: 18 / ‫ف‬ٙ‫ب ( اٌى‬١ٔ‫بح اٌذ‬١‫ٕخ اٌؾ‬٠‫ْ ص‬ٕٛ‫اٌج‬ٚ ‫اٌّبي‬

* ) 88 :26 / ‫ْ ( اٌشؼشاء‬ٕٛ‫ال ث‬ٚ ‫ٕفغ ِبي‬٠ ‫َ ال‬ٛ٠

29
Az-Zamakhsyari, Al-Kasyâf „an Haqâ‟iq Ghawâmidh at-Tanzîl wa Uyûn al-Aqâwil Fî
Wujûh at-Ta‟wîl, ( Beirut : Dar- Al-Kutub Ilmiyah, 1415 H / 1995 M ), cet. Ke-1 h. 508,

30
“ Bahwa masyarakat jahiliyah, tidak memberikan yang senasab satu bapak, kecuali
mereka yang seibu dan sebapak dalam pembagian warisan “, Ibn Katsîr., op.cit., h. 363
31
Ibid., h. 363 - 364
33

8 / ‫ُ ( األٔفبي‬١‫أْ هللا ػٕذٖ أعش ػظ‬ٚ ‫الدوُ فزٕخ‬ٚ‫أ‬ٚ ُ‫اٌى‬ِٛ‫ا أّٔب أ‬ٍّٛ‫اػ‬ٚ

ِٓ‫ اال ِٓ ءا‬ٝ‫ رمشثىُ ػٕذٔب صٌف‬ٟ‫الدوُ ثبٌز‬ٚ‫ال أ‬ٚ ُ‫اٌى‬ِٛ‫ِب أ‬ٚ * ) 28 :

‫ اٌغشفبد‬ٟ‫ُ٘ ف‬ٚ ‫ا‬ٍّٛ‫ُ عضاء اٌعؼف ثّب ػ‬ٌٙ ‫ٌئه‬ٚ‫ػًّ صب ٌؾب فؤ‬ٚ

* ) 37 : 34 / ‫ْ ( عجؤ‬ِٕٛ‫ءا‬
Artinya :
“ Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. “ ( al-Kahfi / 18 :
46 ). ( yaitu ) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna ( al-
Syua’ara / 26 : 88 ). Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu
hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang
besar. ( al-Anfâl / 8 : 28 ). “Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan ( pula )
anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah
yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah
mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi
( dalam surga). “ ( Saba’ / 34 : 37 ).

Rahasia didahulukan harta benda ( amwâl ), karena manusia dalam hidup ini

memiliki harta terlebih dahulu sebelum mempunyai anak, dan dengan harta dia

menikah dan mempunyai anak dan juga karena harta benda itu lebih bermanfaat,

32
demikian didahulukanya amwâl ( harta ) menurut ulama Balâghah.

Keenam : Karena lebih dahulu ( ‫) اٌغجك‬, yaitu mendahulukan karena

kejadiannya lebih dahulu, seperti mendahulukan malam terhadap siang. Karena itu

para ulama ilmu falak mengawali dalam penetuan tanggal ( târikh ) pada malam hari.

Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Ali-Imrân / 3 : 190,

32
Abdul Azhîm Muth’inî, op.cit., h. 147
34

‫ األٌجبة‬ٌٟٚ‫بد أل‬٠٢ ‫بس‬ٌٕٙ‫ا‬ٚ ً١ٌٍ‫اخزالف ا‬ٚ ‫األسض‬ٚ ‫اد‬ّٛ‫ خٍك اٌغ‬ٟ‫اْ ف‬

)190 :3 / ْ‫( اي ػّشا‬


Artinya :
“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, “
( Ali-Imrân / 3 : 190 )

Juga mendahulukan malaikat dari manusia, sebagaimana dalam surat Al-Hajj /

22 : 75, karena malaikat terlebih dahulu keberadaanya dari manusia.

) 75 : 22 / ‫ِٓ إٌبط ( اٌؾظ‬ٚ ‫ ِٓ اٌّالئىخ سعال‬ٟ‫صطف‬٠ ‫هللا‬


“ Allah memilih utusan-utusan (Nya) dari malaikat dan dari manusia “
( Al-Hajj / 22 : 75 ).

Di samping itu, bahwa Allah SWT dengan kehendak dan kekuasaan-Nya

memilih malaikat sebagai utusannya, karena ia lebih mampu untuk menyampaikan


33
risalah dari Tuhan. Demikian pula didahulukan sinnah ( ‫ ) عٕخ‬terhadap naum

( َٛٔ ), karena kebiasaan manusia sebelum tidur dimulai dengan merasa ngantuk,

sebagaimana dalam surat Al-Baqarah / 2 : 255, ( َٛٔ ‫ال‬ٚ ‫ال رؤخزٖ عٕخ‬ ) ( tidak

mengantuk dan tidak tidur ). Demikianlah ayat datang dengan kalimat yang sesuai

dengan kebiasaan manusia. Juga zulumât ( kegelapan ) didahulukan terhadap nûr

( cahaya ), karena kegelapan mendahului datangnya cahaya.

33
Ibnu Katsîr, op.cit., h. 556
35

Sesuai dengan kewajiban dan taklîf ( beban ), seperti dalam surat Al-Hajj / 22

: 77 ( ‫ا‬ٚ‫اعغذ‬ٚ ‫ا‬ٛ‫) اسوؼ‬, mendahulukan shafâ‟ terhadap marwâh, sebagaimana dalam

surat Al-Baqarah / 2 : 158 ( ‫ح ِٓ شؼبئش هللا‬ٚ‫اٌّش‬ٚ ‫) اْ اٌصفب‬, dan dimulai dengan

bilangan yang terendah, mastnâ ( dua ), tsulâsa ( tiga ), kemudian rubâ‟a ( empat ),

dalam surat An-Nisâ’/ 4 : 3, ( ‫سثبع‬ٚ ‫صالس‬ٚ ٕٝ‫) ِض‬, juga dalam surat Al-Mujâdilah / 58

: 7, berkenaan dengan nasehat dimulai dari yang lebih banyak, yang sederajat,

kemudian sendiri-sendiri dalam tatanan kehidupan masyarakat. Sebagaimana dalam

surat Saba’ / 34: 46, ( ‫ا ِب‬ٚ‫ صُ رزفىش‬ٜ‫فشاد‬ٚ ٕٝ‫ا هلل ِض‬ِٛٛ‫اؽذح أْ رم‬ٛ‫لً أّب أػظىُ ث‬

‫) ثصبؽجىُ ِٓ عٕخ‬. ( Katakanlah: " Sesungguhnya aku hendak memperingatkan

kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas)

berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan ( tentang Muhammad )

34
tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu ).

Ketujuh : Karena menjadi sebab ( ‫خ‬١‫( اٌغجج‬. Contoh mendahulukan ( (

‫ض‬٠‫اٌؼض‬terhadap ( ُ١‫ ) اٌؾى‬dalam surat Ali-Imrân / 3 : 62, ( ٌٛٙ ‫اْ هللا‬ٚ ‫ِب ِٓ اٌٗ اال هللا‬ٚ

ُ١‫ض اٌؾى‬٠‫) اٌؼض‬, karena Dia Allah SWT adalah Azîs ( Maha Mulia ), maka Dia menjadi

Hakim ( mahabijaksana ). Juga mendahulukan ( ُ١ٍ‫ ) اٌؼ‬terhadap ( ُ١‫) اٌؾى‬, dalam

surat Al-Baqarah / 2 : 22 ( ُ١‫ُ اٌؾى‬١ٍ‫ا عجؾبٔه ال ػٍُ ٌٕب اال ِب ػٍّزٕب أه أٔذ اٌؼ‬ٌٛ‫) لب‬,

karena adanya hukum dan kemapanan ( itqân ) keduanya timbul dan berkembang

34
As-Suyûtî, op.cit., h. 37-38 , Abdul Azhîm Muth’inî, op.cit, h. 119
36

dengan adanya ilmu ( ilm ). Sedangkan mendahulukan ( ُ١‫ ) اٌؾى‬terhadap ( ُ١ٍ‫) اٌؼ‬

dalam surat Al-An’âm / 6 : 83 ( ُ١ٍ‫ُ ػ‬١‫) ٔشفغ دسعبد ِٓ ٔشبء اْ سثه ؽى‬, dan 128

( ُ١ٍ‫ُ ػ‬١‫ب اال ِب شبء هللا اْ سثه ؽى‬ٙ١‫ٓ ف‬٠‫) خبٌذ‬, dan 139 ( ُ١ٍ‫ُ ػ‬١‫ُ أٗ ؽى‬ٙ‫صف‬ٚ ُٙ٠‫غض‬١‫) ع‬,

untuk memuliakan kedudukan hukum Islam ( tasyri ahkâm ). Dan didahulukan

lafazh ( ‫ ) ٔؼجذ‬sebelum lafazh ( ٓ١‫) ٔغزؼ‬, dalam surat Al-Fâtihah / 1 : 5, karena ibadah

adalah sebab datangnya pertolongan ( ‫) اإلػبٔخ‬. Juga mendahulukan taubah, sebab

dengan bertaubat ( taubah ), akan datang kesucian diri ( thahâroh ), sebagaimana

dalam surat Al-Baqarah / 2 : 222 ( ٓ٠‫ش‬ٙ‫ؾت اٌّزط‬٠ٚ ٓ١‫اث‬ٛ‫ؾت اٌز‬٠ ‫) اْ هللا‬, juga

mendahulukan ifk ( dusta ) terhadap itsm ( dosa ) dalam surat Jâtsiyah : 7 ( ً‫ً ٌى‬٠ٚ

ُ١‫) أفبن أص‬, karena kebohongan itu adalah sebab adanya dosa. Dalam hal ini terdapat
35
kesamaan pendapat antara Ibn Atsîr dengan Ibn Shâ’ig .

Kedelapan : Karena banyak ( ‫) اٌىضشح‬, yaitu mendahulukan yang lebih banyak

terhadap yang sedikit, sebagaimana Allah SWT mendahulukan orang kafir terhadap

orang mu’min, dalam surat Al-Taghâbun / 64 : 2, yaitu :

* ‫ش‬١‫ْ ثص‬ٍّٛ‫هللا ثّب رؼ‬ٚ ِٓ‫ِٕىُ ِئ‬ٚ ‫ خٍمىُ فّٕىُ وبف ش‬ٞ‫ اٌز‬ٛ٘

) 2 : 64/ ٓ‫( اٌزغبث‬

Artinya :

35
Abdul Azhîm Muth’inî, op.cit., h. 119-120, As-Suyûtî, opcit., h. 38
37

“Dia-lah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan
di antaramu ada yang beriman. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu
kerjakan. “ ( At-Taghâbun / 64 : 2 )

Didahulukan ( ‫ ) اٌىبفش‬terhadap ( ِٓ‫ ) اٌّئ‬karena banyak dari manusia yang

kafir, dengan bukti bahwa Allah SWT telah menyatakan dalam surat yang lain, surat

Yûsuf / 12 : 103, berbunyi :

) 103 : 12 /‫عف‬ٛ٠ ( ٓ١ِٕ‫ ؽشصذ ثّئ‬ٌٛٚ ‫ِب أوضش إٌبط‬ٚ


Artinya :
“ Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu
sangat menginginkannya. “ ( Yûsuf / 12 : 103 )

Dan banyak manusia yang menjadi kafir, meskipun dengan usaha keras untuk

mengajak mereka beriman, mereka tidak akan beriman, karena keimanan itu tidak

bisa dipaksakan. Demikian juga dengan ayat lain dalam surat Fâthir / 35 : 32, dengan

didahulukan ( ٌُ‫ () اٌظب‬orang zhâlim ), kemudian ( ‫ () اٌّمزصذ‬pertengahan ), kemudian

( ‫ ( ) اٌغبثك‬yang berlomba-lomba berbuat kebaikan ). Sebagaimana bunyi ayatnya :

‫ُ ِمزصذ‬ِٕٙٚ ٗ‫ُ ظبٌُ ٌٕفغ‬ّٕٙ‫ٕب ِٓ ػجبدٔب ف‬١‫ٓ اصطف‬٠‫سصٕب اٌىزبة اٌز‬ٚ‫صُ أ‬

) 32 :35 /‫ش ( فبغش‬١‫ اٌفعً اٌىج‬ٛ٘ ‫شاد ثبرْ هللا رٌه‬١‫ُ عبثك ثبٌخ‬ِٕٙٚ

Artinya :
“ Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di
antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri
mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara
mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah.
Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.“ ( Fâthir / 35 : 32 )
38

Juga sama halnya dalam ayat lain yang mendahulukan ( ٟ‫شم‬ )( yang

sengsara ) terhadap ( ‫ذ‬١‫ ( ) عؼ‬yang bahagia ) dalam surat Hûd / 11 ; 105, yaitu :

) 105 : 11 / ‫د‬ٛ٘ ( * ‫ذ‬١‫عؼ‬ٚ ٟ‫ُ شم‬ّٕٙ‫ؤد ال رىٍُ ٔفظ اال ثبرٔٗ ف‬٠ َٛ٠
Artinya :
Di kala datang hari itu, tidak ada seorangpun yang berbicara, melainkan
dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang
berbahagia. ( Hûd / 11 : 105 )

Taqdim semacam ini banyak terdapat dalam Al-Qur’an di antaranya dalam

surat Al-Mâidah / 5 : 38, dengan mendahulukan lafazh ( ‫اٌغبسق‬ )

) pencuri laki-laki ) dari pada ( ‫ () اٌغبسلخ‬pencuri perempuan ), yaitu :

‫ض‬٠‫هللا ػض‬ٚ ‫ّب عضاء ثّب وغجب ٔىبال ِٓ هللا‬ٙ٠‫ذ‬٠‫ا أ‬ٛ‫اٌغبسلخ فبلطؼ‬ٚ ‫اٌغبسق‬ٚ

) 38 : 5 / ‫ُ * ( اٌّبئذح‬١‫ؽى‬

Artinya :
“ Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan
keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai
siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.“ ( Al-
Mâidah / 5 : 38 )

Alasan ayat di atas, menurut Abdul Azhîm Muth’inî, didahulukan lafazh

( ‫ ) اٌغبسق‬terhadap ( ‫) اٌغبسلخ‬, karena sumber penyebab perbuatan pencurian

dilakukan kebanyakan oleh kaum pria dari pada kaum wanita. Hal ini tentu

disebabkan karena persoalan tanggung jawab mencari nafkah dipikul oleh kaum pria,

dan pencurian itu terjadi sesuai batas kemampuan seseorang dalam mencari nafkah.
39

Maksud dari hukuman tersebut, bahwa seoarang pencuri dipotong apabila mencapai

ukuran tertentu ( nishâb ), sehingg nabi bersabda dalam hal ini, tidaklah dipotong

seseorang yang mencuri kecuali telah mencapai seperempat dinar atau lebih,

demikian hukuman tersebut dijelaskan oleh Allah Maha Mulia dan Maha Bijaksana.
36
Dan didahulukan ( ‫خ‬١ٔ‫ ( ) اٌضا‬wanita perzina ) dari pada ( ٝٔ‫ ( ) اٌضا‬pria pezina ),

dalam surat An-Nûr / 24 : 2, yaitu :

) 2 :24 /‫س‬ٌٕٛ‫ّب ِبئخ عٍذح ( ا‬ِٕٙ ‫اؽذ‬ٚ ً‫ا و‬ٚ‫ فبعٍذ‬ٟٔ‫اٌضا‬ٚ ‫خ‬١ٔ‫اٌضا‬

Artinya :
“ Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-
tiap seorang dari keduanya seratus kali dera,. “ ( An-Nûr / 24 : 2 )

Alasan Abu Su’ud dalam tafsirnya, karena kaum wanita kebanyakan yang

mengajak kepada perbuatan zina, dengan prilaku cara berpakaian, tanpa menutup

aurat, sehingga mengundang syahwat. Sedangkan dalam surat An-Nûr ayat 3, tidak

sama dengan taqdîm di atas, lafazh ( ٟٔ‫ ) اٌضا‬didahulukan terhadap ( ‫خ‬١ٔ‫) اٌضا‬, karena

persoalannya berbeda, kaum pria lebih berhak untuk mengajukan lamaran dengan

meminang sebelum menikah ( khithbah ), karena pria yang memiliki kafâ‟ah

( kecukupan ) dan memiliki kesanggupan terhadap pemberian nafkah. Maksud dari

ayat di atas, bahwa bahwa Al-Qur’an menjelaskan kepada kita, tentang ketentuan

hukuman seorang pelaku zina baik itu bikr ( yang belum menikah ), atau muhsin

36
Ibid., h. 515
40

( telah menikah ), dan apabila dia seorang bikr, maka had ( ketentuan ) hukumannya

dengan cambukan 100 kali kemudian diasingkan dari tempatnya menurut jumhur

ulama, sedangkan bagi yang telah menikah hukumannya adalah dirajam ( dilempari

37
dengan batu ). Bunyi ayatnya yaitu :

‫ ِششن‬ٚ‫ب اال صاْ أ‬ٙ‫ٕىؾ‬٠ ‫خ ال‬١ٔ‫اٌضا‬ٚ ‫ ِششوخ‬ٚ‫خ أ‬١ٔ‫ٕىؼ اال صا‬٠ ‫ ال‬ٟٔ‫اٌضا‬

) 3 :24 /‫س‬ٌٕٛ‫ٓ ( ا‬١ِٕ‫ اٌّئ‬ٍٝ‫ؽشَ رٌه ػ‬ٚ

Artinya :
“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina,
atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini
melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang
demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mu'min. “ ( An-Nûr / 24 : 3 )

Kata ( ‫اط‬ٚ‫ ( ) األص‬istri-istri ) didahulukan terhadap ( ‫الد‬ٚ‫ () األ‬anak-anak ),

dalam surat At-Taghâbun / 64 : 14, yaitu :

) 14 :64 / ٓ‫ُ٘ ( اٌزغبث‬ٚ‫ا ٌىُ فبؽزس‬ٚ‫الدوُ ػذ‬ٚ‫أ‬ٚ ُ‫اعى‬ٚ‫اْ ِٓ أص‬


Artinya :
Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi
musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; ( At-Taghâbun /
64 : 14 ).

Ibn Hajib berpendapat bahwa hal itu disebabkan, karena istri-istri yang

menjadi musuh lebih banyak terjadi dari pada anak-anak. Allah SWT menerangkan

hal itu untuk menjadi peringatan bahwa kecintaan itu akan membuat seseorang lupa

untuk beribadah kepada Allah SWT. Demikian rahasia didahulukan kata azwâj dalam

37
Ibid., As-Suyûtî, h. 38, Abdul Azhîm Muth’inî, op.cit., h. 120-121, Ibid ., h. 580-581
41

ayat di atas. Demikian juga didahulukan lafazh ( ‫اي‬ِٛ‫ ) األ‬terhadap ( ‫الد‬ٚ‫ ) األ‬dalam

surat At-Taghâbun / 64 : 15, yaitu :

) 15 :64/ ٓ‫ُ ( اٌزغبث‬١‫هللا ػٕذٖ أعش ػظ‬ٚ ‫الدوُ فزٕخ‬ٚ‫أ‬ٚ ُ‫اٌى‬ِٛ‫أّب أ‬


Artinya :
“ Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan ( bagimu ):
dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” ( At-Taghâbun / 64 : 15 ).

karena amwal ( harta-benda ) kebanyakan menjadi penyebab datangnya

musibah ( fitnah ), dengan dalil surat Al-‘Alaq / 97 : 6-7 :

) 7-6 :97 / ‫ ( اٌؼٍك‬ٕٝ‫) أْ سآٖ اعزغ‬6( ٝ‫طغ‬١ٌ ْ‫وال اْ اإلٔغب‬

Artinya :
“ Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena
dia melihat dirinya serba cukup “. ( Al-„Alaq / 97 : 6-7 ).

Lafazh awlâd ( anak-anak ) tidak didahulukan dalam ayat di atas, karena tidak

semua awlâd itu menjadi penyebab datangnya fitnah, sebagai peringatan dari Allah

SWT terhadap makhluk-Nya siapa yang ta’at dan siapa yang ingkar kepadaNya.

Sedangkan didahulukan ( ‫اٌؼزاة‬ ) terhadap ( ‫ () اٌّغفشح‬ampunan ), sesuai

dengan konteks ( siyâqul kalam ), yaitu sesuai dengan sifat yang dimiliki Allah yang

Maha Kuasa untuk memberi azab atau Maha Pengampun dan Maha Bijaksana

38
terhadap hamba-Nya, sebagaimana Allah berfirman :

38
As-Suyuti., Al-Itqan Fi Ulumil-Qur‟an, op.cit., h. 39
42

/ ‫ُ* ( اٌّبئذح‬١‫ض اٌؾى‬٠‫ُ فبٔه أٔذ اٌؼض‬ٌٙ ‫اْ رغفش‬ٚ ‫ُ ػجبدن‬ٙٔ‫ُ فب‬ٙ‫اْ رؼزث‬

) 118 :5
Artinya :
“ Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-
hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. “ ( Al-Mâidah / 5 :
118 )

Demikian beberapa rahasia didahulukan lafazh-lafazh Al-Qur’an karena

banyak terjadi dalam kehidupan manusia.

Kesembilan : Dimulai dari yang lebih rendah kepada yang lebih tinggi

( ٍٝ‫ األػ‬ٌٝ‫ ا‬ٝٔ‫ ِٓ األد‬ٝ‫) اٌزشل‬, seperti mendahulukan kaki ( ً‫ ) ُِ سع‬terhadap tangan

( ‫ذ‬٠ ), sebagaimana firman Allah dalam surat Al-‘Arâf / 7 : 195, yaitu :

َ‫ب أ‬ٙ‫ْ ث‬ٚ‫جصش‬٠ ٓ١‫ُ أػ‬ٌٙ َ‫ب أ‬ٙ‫ْ ث‬ٛ‫جطش‬٠ ‫ذ‬٠‫ُ أ‬ٌٙ َ‫ب أ‬ٙ‫ْ ث‬ٛ‫ّش‬٠ ً‫ُ أسع‬ٌٙ‫أ‬

* ْٚ‫ْ فال رٕظش‬ٚ‫ذ‬١‫ا ششوبءوُ صُ و‬ٛ‫ب لً ادػ‬ٙ‫ْ ث‬ٛ‫غّؼ‬٠ ْ‫ُ ءارا‬ٌٙ

) 195 : 7 / ‫( األػشاف‬
Artinya :
“Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat berjalan,
atau mempunyai tangan yang dengan itu ia dapat memegang dengan keras,
atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai
telinga yang dengan itu ia dapat mendengar ? Katakanlah: "Panggillah
berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian lakukanlah
tipu daya (untuk mencelakakan) ku, tanpa memberi tangguh ( kepada ku ).“
( Al-‘Arâf / 7 : 195 )
43

Dalam ayat di atas, mendahulukan lafazh dari tingkatan yang rendah kepada

tingkatan yang tinggi. Seperti dimulai lafazh ( ً‫أسع‬ ) sebelum ( ‫ذ‬٠‫) أ‬, dengan tujuan

peningkatan derajat ( ٝ‫) اٌزشل‬. Yaitu karena derajat tangan itu lebih mulia dari pada

kaki, dan mata ( ain ) lebih mulia dari pada tangan ( yad ), dan pendengaran ( sama‟ )

lebih mulia dari pada penglihatan ( bashar ). Juga contoh, seperti mendahulukan

( ّٓ‫ () اٌشؽ‬Pengasih ) terhadap ( ُ١‫ ( ) اٌشؽ‬Penyayang ), mendahulukan ( ‫ف‬ٚ ‫) اٌشء‬

( Pemurah ) terhadap ( ُ١‫) اٌشؽ‬, mendahulukan ( ‫ي‬ٛ‫ ) اٌشع‬terhadap ( ٝ‫إٌج‬ ).

Sebagaimana dalam surat Maryam / 19 : 51,

:19 / ُ٠‫ب ( ِش‬١‫ال ٔج‬ٛ‫وبْ سع‬ٚ ‫ أٗ وبْ ِخٍصب‬ٝ‫ع‬ِٛ ‫ اٌىزبة‬ٟ‫اروش ف‬ٚ

) 51
“ Dan ceritakanlah ( hai Muhammad kepada mereka ), kisah Musa di dalam
Al-Kitab ( Al Qur'an ) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih dan
seorang rasul dan nabi.” ( Maryam / 19 : 51 ).

Kesepuluh : Dimulai dari predikat yang tinggi kepada yang rendah


39
( ٝٔ‫ األد‬ٌٝ‫ ا‬ٍٝ‫ ِٓ األػ‬ٌٝ‫) اٌزذ‬. Contoh : didahulukan lafazh ( ‫شح‬١‫ ) صغ‬terhadap

( ‫شح‬١‫ ) وج‬dalam surat Al-Kahfi / 18 : 49,

) 49 : 18 /‫ف‬ٙ‫( اٌى‬0 ‫شح اال أؽصب٘ب‬١‫ال وج‬ٚ ‫شح‬١‫غبدس صغ‬٠ ‫ال‬

Artinya :
“ Yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak ( pula ) yang besar,
melainkan ia mencatat semuanya ". ( Al-Kahfi / 18 ; 49 )

39
Abdul Azhîm Muth’inî, op.cit., h. 121
44

Allah menerangkan setiap perbuatan buruk sekecil apapun apalagi yang besar,

atau perbuatan baik, maka Allah SWT akan membalasnya sesuai dengan catatannya.

Didahulukan lafazh ( ‫شح‬١‫صغ‬ )( kesalahan kecil ) terhadap( ‫شح‬١‫وج‬ ) ( kesalahan

besar ), karena kesalahan yang kecil itu lebih ringan dan lebih sedikit ( dosa )nya dari

pada kesalahan yang besar ( ‫شح‬١‫وج‬ ). Yang kecil itu tentu lebih tinggi ( tingkatan )

kebaikannya. Demikian pula mendahulukan Al-Masih terhadap Malaikat dalam surat

An-Nisâ’ / 4 : 172,

) 172 : 4/ ‫ْ *( إٌغبء‬ٛ‫ال اٌّالئىخ اٌّمشث‬ٚ ‫ْ ػجذا هلل‬ٛ‫ى‬٠ ْ‫ؼ أ‬١‫غزٕىف اٌّغ‬٠ ٌٓ


Artinya :
“ Al Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah dan tidak
( pula enggan ) malaikat-malaikat yang terdekat ( kepada Allah ).“ ( Al-Nisâ‟
/ 4 : 172 )

Karena tingkatan Al-Masih lebih tinggi dari Malaikat dalam hal ketaatan

kepada Allah SWT, maka Al-Masih didahulukan terhadap Malâikat, demikian

menurut Ibn Shâ’ig. Menurut sebagian ulama, suatu kalimat yang tingkatannya lebih

rendah ( lemah ) didahulukan terhadap yang lebih kuat ( qudrah ), seperti

mendahulukan penyebutan hewan yang berjalan di atas perutnya, kemudian yang

berjalan dengan dua kaki, kemudian yang berjalan dengan empat kaki, sebagaimana

dalam surat An-Nûr / 24 : 45 ;

ٍٝ‫ ػ‬ٟ‫ّش‬٠ ِٓ ُِٕٙٚ ٕٗ‫ ثط‬ٍٝ‫ ػ‬ٟ‫ّش‬٠ ِٓ ُّٕٙ‫هللا خٍك وً داثخ ِٓ ِبء ف‬ٚ
) 45 : 24/ ‫س‬ٌٕٛ‫ أسثغ ( ا‬ٍٝ‫ ػ‬ٟ‫ّش‬٠ ِٓ ُِٕٙٚ ٓ١ٍ‫سع‬
45

Artinya :
“ Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian
dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan
dengan dua kaki, sedang sebagian ( yang lain ) berjalan dengan empat kaki.
“ ( An-Nûr / 24 : 45 )

Binatang yang berjalan dengan perutnya didahulukan karena lebih rendah

kemampuannya dan menakjubkan dibanding dengan hewan yang berjalan dengan dua

kaki, dan yang berjalan dengan dua kaki tidak lebih mampu dibanding dengan yang

berjalan dengan empat kaki. Contoh taqdîm ini didasarkan kepada kemampuan dan

juga menakjubkan, seperti mendahulukan ( ‫ ) اٌغجبي‬terhadap (‫ش‬١‫) اٌط‬, dengan tujuan

ta‟ajub ( menakjubkan ), sebagaimana dalam surat Al-Anbiyâ’ / 21 : 79 :

) 79 : 21 / ‫بء‬١‫ش ( األٔج‬١‫اٌط‬ٚ ٓ‫غجؾ‬٠ ‫د اٌغجبي‬ٚ‫عخشٔب ِغ دا‬ٚ

Artinya :
“ Dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua
bertasbih bersama Daud. “ ( Al-Anbiyâ‟ / 21 : 79 )

Az-Zarkasyi berpendapat bahwa mendahulukan gunung-gunung terhadap

burung dalam ayat di atas, adalah karena dalam penciptaan gunung-gunung ( jibal )

itu serta cara bertasbihnya lebih mengherankan dari pada kemampuan burung-burung,

karena benda padat berbeda kemampuannya dengan burung sebagai hewan natiq

40
( yang berbicara ). Karena itu didahulukan.

40
As-Suyûtî, op.cit., h. 39-40
46

Kesebelas : Untuk tujuan dâ‟iyah ( ‫خ‬١‫ ) اٌذاػ‬yaitu ajakan, seperti perintah

menahan pandangan ( gaddul basyar ), karena pandangan dapat mengajak kepada

perbuatan syahwat ( farj ), sebagaimana dalam surat Al-Nûr / 24 : 30, yaitu ;

‫ُ اْ هللا‬ٌٙ ٝ‫ُ رٌه أصو‬ٙ‫ع‬ٚ‫ا فش‬ٛ‫ؾفظ‬٠ٚ ُ٘‫ا ِٓ أثصبس‬ٛ‫غع‬٠ ٓ١ِٕ‫لً ٌٍّئ‬

) 30 : 24 /‫س‬ٌٕٛ‫ْ ( ا‬ٛ‫صٕؼ‬٠ ‫ش ثّب‬١‫خج‬

Artinya :
“ Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka
menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu
adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa
yang mereka perbuat". “ ( An-Nûr / 24 : 30 ).

Didahulukan ( ‫ )) غط اٌجصش‬menjaga pandangan ) terhadap ( ‫ط‬ٚ‫) ؽفع اٌفش‬

( memelihara kemaluan ), karena pandangan dapat mengajak kepada perbuatan farj

( syahwat ), sebagaimana sabda Nabi yang diriwayatkan ibn Mâjah ( ْ‫ب‬١ٔ‫ٕبْ رض‬١‫اٌؼ‬

ٗ‫ىزث‬٠ ٚ‫صذق رٌه أ‬٠ ‫اٌفشط‬ٚ ) ( kedua mata berzina, dan farj membenarkannya atau

mendustakannya ), maka Allah memerintahkan kepada seorang mu’min untuk

menjaga pandangan serta menjaga kehormatan dari apa yang diharamkan Allah. Hal

itu disebabkan perbuatan maksiat dimulai dengan melihat. Demikian Allah

menerangkan itu, karena Allah Maha Mengetahui perbuatan yang dilakukan

41
hambaNya.

41
Az-Zarkasyi, op.cit., h. 293 , Ibnu Katsîr, op.cit., h. 598
47

Keduabelas : Untuk tujuan tartîb ( ‫ت‬١‫ ) لصذاٌزشر‬yaitu berurutan, sebagaimana

dalam ayat wudlu’ surat Al-Mâidah / 5 : 6 ;

ٌٝ‫ىُ ا‬٠‫ذ‬٠‫أ‬ٚ ُ‫٘ى‬ٛ‫ع‬ٚ ‫ا‬ٍٛ‫ اٌصالح فبغغ‬ٌٝ‫ا ارا لّزُ ا‬ِٕٛ‫ٓ ءا‬٠‫ب اٌز‬ٙ٠‫بأ‬٠

) 6 : 5/ ‫ٓ ( اٌّبئذح‬١‫ اٌىؼج‬ٌٝ‫أسعٍىُ ا‬ٚ ُ‫عى‬ٚ‫ا ثشء‬ٛ‫اِغؾ‬ٚ ‫اٌّشافك‬

Artinya :
“ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat,
maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah
kepalamu dan ( basuh ) kakimu sampai dengan kedua mata kaki “
( Al-Mâidah / 5 : 6 )

Mengusap ( mashû ) sebagian kepala setelah dua basuhan ( gaslain ) yaitu

membasuh muka dan kedua tangan hingga kedua siku, juga larangan melihat ke kiri

atau ke kanan untuk menjaga / menghidari percakapan, dengan demikian bukti

diperintahkan tartîb ( berurutan ) dalam pelaksanaan wudhu’. Karena itu Imam Asy-

Syafi’i mewajibkan tartib. Juga dengan alasan, bahwa huruf ( fâ‟ ) dalam kalimat

( ‫ا‬ٍٛ‫ ) فبغغ‬mendahulukan perintah membasuh ( muka ), kemudian membasuh

anggota-anggota wudhu’ lainnya, dan hal ini sebagai bukti bahwa pelaksanaannya

harus berurutan ( tartîb ). Juga menyelipkan perintah mengusap kepala setelah

membasuh muka dan kedua tangan sebagai bukti diwajibkannya tertib. Maksud ayat

adalah bahwa perintah berwudhu’ bagi yang berhadats sebelum sholat adalah dengan

membasuh muka, setelah niat, kemudian membasuh kedua tangan hingga kedua siku,

kemudian menyapuh sebagian kepala menurut sebagian pendapat mazhab, kemudian


48

membasuh kedua kaki hingga mata kaki. Demikian penjelasan tertib dari ayat wudhu’

42
di atas.

Ketigabelas : untuk perhatian bagi mukhatab ( ‫ ) اإل٘زّبَ ػٕذ اٌّخبغت‬Seperti

mendahulukan para kerabat ( ٝ‫ ) اٌمشث‬dari anak-anak yatim ( ِٝ‫زب‬١ٌ‫ ) ا‬dan orang-

orang miskin ( ٓ١‫اٌّغبو‬ ) serta Ibnussabîl ( ً١‫اثٓ اٌغج‬ ), dalam hal pemberian

shadaqah, sebagaimana dalam surat Al-Anfâl / 8 : 41

ِٝ‫زب‬١ٌ‫ا‬ٚ ٝ‫ اٌمشث‬ٞ‫ٌز‬ٚ ‫ي‬ٛ‫ٌٍشع‬ٚ ٗ‫ء فؤْ هلل خّغ‬ٟ‫ا أّٔب غّٕزُ ِٓ ش‬ٍّٛ‫اػ‬ٚ

)41 : 8 / ‫ً ( األٔفبي‬١‫اثٓ اٌغج‬ٚ ٓ١‫اٌّغبو‬ٚ


Artinya :
“ Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai
rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat
Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil “ ( Al-Anfâl / 8 :
41 )

Didahulukan para ahli kerabat ( ٝ‫ ) اٌمشث‬kemudian para yatim ( ِٝ‫زب‬١ٌ‫) ا‬

kemudian para miskin dan seterusnya untuk tujuan ihtimâm ( perhatian ) bagi atau
43
oleh mukhâtab, karena mereka lebih diutamakan dan lebih membutuhkan.

 Taqdîm dan ta‟khîr yang kedua : ialah mendahulukan suatu kata, sedangkan

niatnya adalah ta‟khîr ( diakhirkan )( ‫ش‬١‫خ ثٗ اٌزؤخ‬١ٌٕ‫ا‬ٚ َ‫ ) ِبلذ‬atau dengan kalimat lain

( ‫ش‬١‫خ اٌزؤخ‬١ٔ ٍٝ‫ُ ػ‬٠‫رمذ‬ ), seperti mendahulukan khabar terhadap mubtada’. Dalam

42
Az-Zarkasyi, op.cit., h.317, Ibn Katsîr, op.cit., h. 488-489

43
Az-Zarkasyi, op.cit., h. 309
49

taqdîm bentuk ini terdapat rahasia dan sebab-sebab, sebagaimana disebutkan oleh

Az-Zarkasyi dalam kitabnya al-Burhân, dan juga As-Suyûtî yang memberikan

maksud lain yaitu ( ‫ش‬١‫ اٌزؤخ‬ٚ ُ٠‫ِب أشىً ِؼٕبٖ ثؾغت اٌظب٘ش فٍّب ػشف أٔٗ ِٓ ثبة اٌزمذ‬

‫ () ارعؼ‬sesuatu yang belum jelas maknanya secara zhahir, namun setelah diketahui

bahwa hal itu termasuk taqdîm dan ta‟khîr, maka jelas maksudnya ). Seperti

mendahulukan maf‟ûl terhadap fâ‟il, sebagaimana dalam surat Fâthir / 35 : 28 ;

) 28 : 35 /‫ هللاَ ِٓ ػجبدٖ اٌؼٍّب ُء ( فبغش‬ٝ‫خش‬٠ ‫أّب‬


Artinya :
“ Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya,
hanyalah ulama. “ ( Fâthir / 35 : 28 )

Didahulukan lafazh ( ‫ ) هللا‬sebagai maf‟ûl terhadap lafazh ( ‫اٌؼٍّبء‬ ).

Tujuannya untuk memberitahukan kepada umat, bahwa hamba Allah yang paling

takut kepada-Nya adalah para ulama. Demikian juga dalam ayat ini ( ُ١٘‫ اثش‬ٍٝ‫ار اثز‬ٚ

ٗ‫ () سث‬Al-Baqarah / 2 : 124 ), didahulukannya maf‟ûl ( ُ١٘‫ ) اثش‬sebelum lafazd ( ٗ‫) سث‬

sebagai fâ‟il. Yang bertujuan bahwa penyebutan Ibrâhim karena beliau sebagai imam,

maka didahulukannya lebih baik, dan juga untuk memberitakan kepada manusia
44
bahwa ia sebagai manusia yang mulia. Juga mendahulukan maf‟ûl tsâni ( ٌٗٙ‫) ا‬

terhadap maf‟ûl awwal ) ٖ‫ا‬ٛ٘ ) dengan tujuan inâyah ( perhatian ). Sebagaimana

surat Al-Jâtsiayah / 45 : 23 ( ٖ‫ا‬ٛ٘ ٌٗٙ‫ذ ِٓ ارخز ا‬٠‫ () أفشأ‬Maka pernahkah kamu

melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya ). Asal taqdîrnya
44
Ibid., h. 319
50

yaitu ( ٌٗٙ‫اٖ ا‬ٛ٘ ‫ذ ِٓ ارخز‬٠‫ ) أفشأ‬yang menjadikan berhala atau hawa nafsu sebagai

sesembahan. Juga contoh taqdîm ini terdapat dalam surat Al-Qamar / 54 : 1, yaitu :

) 1 : 54 /‫أشك اٌمّش ( اٌمّش‬ٚ ‫الزشثذ اٌغبػخ‬


Artinya :
“ Telah dekat ( datangnya ) saat itu dan telah terbelah bulan. “ ( Al-Qamar /
54 : 1 )

Didahulukannya lafazh ( ‫ () الزشثذ اٌغبػخ‬telah dekat hari kiamat ) terhadap

(‫ ( ) أشك اٌمّش‬terbelahnya bulan ), yang asal taqdîrnya adalah ( ‫الزشثذ‬ٚ ‫أشك اٌمّش‬

‫ () اٌغبػخ‬terbelahnya bulan itu tanda datangnya kiamat ). Terbelahnya bulan

merupakan tanda datangnya hari kiamat, dan langit serta bumi akan hancur sa’at itu.

Karena itu didahulukan lafazh ( ‫الزشثذ اٌغبػخ‬ ) meskipun maknanya adalah sebagai

ta‟khîr ( diakhirkan ), dan sebab dan rahasia didahulukannya untuk menjaga

45
keserasian akhir kalimat ( murâ‟atul fashilah ). Dan mendahulukan maf‟ûl dalam

surat Yâsîn / 36 : 37, 38, 39, 40 ;

‫ ٌّغزمش‬ٞ‫اٌشّظ رغش‬ٚ *ٍّْٛ‫بس فبرا ُ٘ ِظ‬ٌٕٙ‫ً ٔغٍخ ِٕٗ ا‬١ٌٍ‫ُ ا‬ٌٙ ‫خ‬٠‫ءا‬ٚ

ْٛ‫ ػبد وبٌؼشع‬ٝ‫اٌمّش لذسٔبٖ ِٕبصي ؽز‬ٚ * ُ١ٍ‫ض اٌؼ‬٠‫ش اٌؼض‬٠‫ب رٌه رمذ‬ٌٙ

) 39 -37 : 36 /‫ظ‬٠ ( *ُ٠‫اٌمذ‬


Artinya :

45
Ibid., h. 325
51

“ Dan suatu tanda ( kekuasaan Allah yang besar ) bagi mereka adalah
malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta
mereka berada dalam kegelapan. dan matahari berjalan di tempat
peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha
Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah,
sehingga ( setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir ) kembalilah dia
sebagai bentuk tandan yang tua. “ ( Yâsîn / 36 : 37-39 )

Didahulukan maf‟ul dalam ayat ( ‫اٌمّش لذسٔبٖ ِٕبصي‬ٚ ) dengan tujuan menjaga

keserasian susunan kalimat ( murâ‟atu nazhm kalâm ). Kemudia Allah berfirman

( ‫بس‬ٌٕٙ‫ً ٔغٍخ ِٕٗ ا‬١ٌٍ ‫) ا‬, kemudian ayat berikutnya ( ٞ‫اٌشّظ رغش‬ٚ ), maka terlihat

keindahan susunan kalimat ( nazhm ). Apalagi setelah datangnya ayat berikutnya

( ‫اٌمّش لذسٔبٖ ِٕبصي‬ٚ ), semuanya tersusun dengan satu keserasian ( nazhm ). Dan

jika dikatakan ( ‫لذسٔب اٌمّش ِٕبصي‬ٚ ), maka hilang keindahan serta keserasian susunan

kalimat ( nazm ). Maksud ayat, bahwa apabila berganti siang kemudian berpindah

menjadi malam, maka ia menjadi gelap gulita, dan matahari berhenti dari

peredarannya pertanda datangnya hari Kiamat, maka tidak ada keputusan, tiada gerak,

demikian ketentuan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan kami

jadikan bulan berjalan sesuai dengan waktunya, maka terlihatlah cahaya malam dan

matahari berputar pada waktunya, maka terlihatlah cahaya siang, dan apabila bulan

pada malam pertamanya, terlihat sedikit cahaya, dan setiap berpindah manâzil

( tempat ), maka bertambah cahaya, hingga sempurna cahaya pada malam ke-14,

kemudian berkurang sedikit demi sedikit hingga akhir bulannya, maka akan tampak
52

seperti ( urjûn yang tua ). Demikian Allah tentukan setelah itu awal bulan yang lain.

46

Dan mendahulukan ma‟bûd ( ‫د‬ٛ‫ ( ) اٌّؼج‬yang disembah ) yaitu Allah SWT,

dengan perbuatan seorang hamba ( ‫ ) اإلخال‬dengan tujuan yaitu ikhtishâsh

( kekhususan ). Karena ayat tersebut memberitakan agar seorang hamba

mengkhususkan dalam penyembahannya hanya kepada Allah SWT semata, dengan

penuh keikhlasan. Sebagaimana disebutkan dalam surat Az-Zumar / 39 : 14,

) 14 : 39 / ‫ ( اٌضِش‬ٟٕ٠‫لً هللا أػجذ ِخٍصب ٌٗ د‬


Artinya :
“ Katakanlah: "Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya dalam ( menjalankan ) agamaku". “ ( Az-Zumar / 39 :
14 )

Demikian pula mendahulukan dua jar-majrûr ( ٌٗ ) dalam surat At-Taghâbun

/ 64 : 1, yaitu ; ( ‫ٌٗ اٌؾّذ‬ٚ ‫ٌٗ اٌٍّه‬ )( hanya Allahlah yang mempunyai semua

kerajaan dan semua puji-pujian ). Yaitu segala bentuk kekuasaan atau kerajaan ( al-

Mulk ) yang haqiqi hanyalah Allah SWT pemilikNya. Begitu pula dengan segala puji-

pujian yang merupakan sumber asalnya dari-Nya, oleh karena itu segala bentuk

47
kerajaan dan segala pujian dikhususkan hanya untuk Allah SWT semata.

46
Muhamad Syeikhûn, Dirâsah Fî Lughah Al-Arabiyah Wa Adâbuha, ( Kairo : Maktabah
Dirasat Islamiyah wal Arabiyah, 1417 H / 1996 M ), h. 142, Ibn Katsîr, op.cit., h. 162-163

47
Mohamad Syaikhûn, op.cit., h. 142,
53

C. Sebab dan rahasia Taqdîm dan Ta’khîr dalam Ilmu Qirâ’at dan tafsiran

ayat-ayatnya.

Pertama : Tentang Qirâ‟ah ( ‫ا‬ٍِٛ‫لز‬ُٚ ‫ا‬ٍٛ‫لبر‬ٚ ), yaitu mendahulukan ( ‫ا‬ٍٛ‫) لبر‬

terhadap ( ‫ا‬ٍٛ‫لز‬ٚ ) dalam ayat ( ‫ا‬ٍٛ‫لز‬ٚ ‫ا‬ٍٛ‫لبر‬ )( yang berperang dan yang terbunuh ),

surat Ali-Imran / 3 : 195, yaitu :

ُ‫ ثؼعى‬ٝ‫ أٔض‬ٚ‫غ ػًّ ػبًِ ِٕىُ ِٓ روش أ‬١‫ ال أظ‬ٟٔ‫ُ أ‬ٙ‫ُ سث‬ٌٙ ‫فبعزغبة‬

‫ا‬ٍٛ‫لبر‬ٚ ٍٟ١‫ عج‬ٟ‫ا ف‬ٚ‫ر‬ٚ‫أ‬ٚ ُ٘‫بس‬٠‫ا ِٓ د‬ٛ‫أخشع‬ٚ ‫ا‬ٚ‫ٓ ٘بعش‬٠‫ِٓ ثؼط فبٌز‬

‫اثب‬ٛ‫بس ص‬ٙٔ‫ب األ‬ٙ‫ ِٓ رؾز‬ٞ‫ُ عٕبد رغش‬ٍٕٙ‫ألدخ‬ٚ ُٙ‫ئبر‬١‫ُ ع‬ٕٙ‫ا ألوفشْ ػ‬ٍٛ‫لز‬ٚ

) 195 : 3 / ْ‫اة * ( اي ػّشا‬ٛ‫هللا ػٕذٖ ؽغٓ اٌض‬ٚ ‫ِٓ ػٕذ هللا‬

Artinya :
Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya ( dengan berfirman ),
" Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal
di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, ( karena ) sebagian kamu
adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah,
yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang
berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-
kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang
mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah
pada sisi-Nya pahala yang baik." ( Ali-Imran / 3 : 195 )

Dan Imam Hamzah ( w. 156 H ) dan Imam Kisa’i ( w. 189 H ) membacanya

dengan mendahulukan bentuk maf‟ul ( ‫ا‬ٍٛ‫لز‬ٚ ) terhadap bentuk fa‟il ( ‫ا‬ٍٛ‫لبر‬ ).


54

Maksud ayat di atas adalah jawaban atas pertanyaan, tentang apakah akan dihapus

dosa-dosa orang-orang yang berperang di jalan Allah atau terbunuh ?, Rasulullah

SAW menjawabnya, ya, karena itu Allah berfirman : ( ٍُٕٙ‫ألدخ‬ٚ ُٙ‫ئبر‬١‫ُ ع‬ٕٙ‫أوفشْ ػ‬

‫بس‬ٙٔ‫ب األ‬ٙ‫ ِٓ رؾز‬ٞ‫) عٕبد رغش‬, bahwa Allah SWT akan menghapuskan kesalahan

orang-orang yang berperang di jalanNya, atau terbunuh, dan memasukkanNya

kedalam Surga, yang terdapat didalamnya bermacam-macam minuman ( masyrab ),

susu, madu dan yang lainnya, yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah

terdengar oleh telinga, dan tidak pernah tersirat dalam sanubari. Demikian itu,

sungguh karena besarnya kekuasaan Allah serta balasan-Nya yang tiada terbilang.

Demikianlah maksud ayat ( ‫ا‬ٍٛ‫لز‬ٚ ‫ا‬ٍٛ‫لبر‬ٚ ), Allah mengangkat setinggi-tingginya

derajat orang-orang yang berperang di jalan Allah SWT apapun resikonya membunuh

48
atau terbunuh. Demikian menurut Ibn Katsir dalam kitabnya.

Kedua : Mendahulukan huruf hamzah ( ‫ ) ّ٘ضح‬terhadap huruf ya‟ ( ‫بء‬٠ )

dalam surat Ar-Ra’du : 31 dalam bacaan ( ‫ؤط‬١٠ ٍُ‫) أف‬, yaitu :

ً‫ ث‬ٝ‫ر‬ٌّٛ‫ وٍُ ثٗ ا‬ٚ‫ لطؼذ ثٗ األسض أ‬ٚ‫شد ثٗ اٌغجبي أ‬١‫ أْ لشءأب ع‬ٌٛٚ

‫ؼب‬١ّ‫ إٌبط ع‬ٜ‫ذ‬ٌٙ ‫شبء هللا‬٠ ٌٛ ْ‫ا أ‬ِٕٛ‫ٓ ءا‬٠‫ؤط اٌز‬١٠ ٍُ‫ؼب أف‬١ّ‫هلل األِش ع‬

48
Ibn Katsir, op.cit., h. 348-349, Alamudin Ramadhan Al-Jundy, et. al., Al-Ghayah fi Al-
Qira‟at Asyar lil Hafizh Abu Bakr Ahmad bin Husein bin Mahran Al-Ashbahani ( w 371 H ), ( Saudi
Arabiyah : Darussyawaf li Nasyr Wa Tawzi’, 1411 H / 1990 M ), cet. ke-2, h. 221
55

ُ٘‫جب ِٓ داس‬٠‫ رؾً لش‬ٚ‫ا لبسػخ أ‬ٛ‫ُ ثّب صٕؼ‬ٙ‫ج‬١‫ا رص‬ٚ‫ٓ وفش‬٠‫ضاي اٌز‬٠ ‫ال‬ٚ

)31 :13 /‫ؼبد ( اٌشػذ‬١ٌّ‫خٍف ا‬٠ ‫ػذ هللا اْ هللا ال‬ٚ ٟ‫ؤر‬٠ ٝ‫ؽز‬
Artinya :
Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu
gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh
karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, ( tentu Al Qur'an
itulah dia). Sebenarnya segala itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah
orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah
menghendaki ( semua manusia beriman ), tentu Allah memberi petunjuk
kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa
bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat
tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya
Allah tidak menyalahi janji. ( Ar-Ra‟d / 13 : 31 )

Maka bacaan yay‟asi ( ‫أط‬


ِ َُْٟ َ٠ )( mengetahui ) dibaca menjadi ya‟yasi (

‫ظ‬٠ْ‫ؤ‬٠ ). Kedua bacaan tersebut dibenarkan ( shahihah ), menurut Imam Qalun ( 120-

205 H ) dan Imam Warsy ( 110- 197 H ). Dalam dua qira‟at di atas ( ‫أط‬
ِ َُْٟ ٠َ )

atau ( ‫ظ‬٠ْ‫ؤ‬٠ ), adalah menjelaskan tentang iman umat terdahulu mengetahui dan

membuktikan, bahwa Zabur adalah bukan sekedar hujjah ( dalil ) atau mu’jizat, akan

tetapi dirasakan serta masuk akal, karena bukti-bukti dapat diterima dengan baik dan

sempurna. Dan semua kitab-kitab yang diturunkan kepada umatnya, serta mukjizat

yang terdapat didalamnya, selesai dengan kematian para Nabinya, akan tetapi kitab
56

Al-Qur’an yang diturunkan kepada nabi Muhamad SAW sebagai kitab mukjizat, tetap

49
abadi dan menjadi panutan bagi umat islam hingga hari kiamat.

Ketiga : Mendahulukan bentuk maf‟ul ( ٍَُْٛ‫ُمز‬٠ ) terhadap fa‟il ( ٍُُْٛ‫مز‬٠َ )

dalam bacaan ( ٍََُْٛ‫ُ ْمز‬٠َٚ ٍَُُْٛ‫َ ْمز‬١َ‫ () ف‬mereka membunuh dan terbunuh ), Dan Hamzah

( 80 H – 156 H ) dan Kisa’i ( 119 H – 189 H ) membacanya dengan mendahulukan

bentuk maf‟ul terhadap bentuk fa‟il. Sebagaimana dalam surat At-Taubah / 9 : 111,

yaitu :

ً١‫ عج‬ٟ‫ْ ف‬ٍٛ‫مبر‬٠ ‫ُ اٌغٕخ‬ٌٙ ْ‫ُ ثؤ‬ٌٙ‫ا‬ِٛ‫أ‬ٚ ُٙ‫ٓ أٔفغ‬١ِٕ‫ ِٓ اٌّئ‬ٜ‫اْ هللا اشزش‬

ِٓٚ ْ‫اٌمشءا‬ٚ ً١‫اإلٔغ‬ٚ ‫ساح‬ٛ‫ اٌز‬ٟ‫ٗ ؽمب ف‬١ٍ‫ػذا ػ‬ٚ ٍْٛ‫مز‬٠ٚ ٍْٛ‫مز‬١‫هللا ف‬

ُ١‫ص اٌؼظ‬ٛ‫ اٌف‬ٛ٘ ‫رٌه‬ٚ ٗ‫ؼزُ ث‬٠‫ ثب‬ٞ‫ؼىُ اٌز‬١‫ا ثج‬ٚ‫ذٖ ِٓ هللا فبعزجشش‬ٙ‫ ثؼ‬ٝ‫ف‬ٚ‫أ‬

) 111 : 9 : / ‫ثخ‬ٛ‫( اٌز‬


Artinya :
Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji
(Allah), yang melawat, yang ruku`, yang sujud, yang menyuruh berbuat
ma`ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum
Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu'min itu. ( At-Taubah / 9 : 111 )

Didahulukan atau diakhirkan pada ayat ( ٍْٛ‫مز‬٠ٚ ٍْٛ‫مز‬١‫ ) ف‬tidak berpengaruh

kepada maksud ayatnya, karena menurut Ibn Katsir bahwa huruf wawu ( ٚ‫ا‬ٚ ) tidak

49
Ibid., Jilid ke-2, h. 282
57

bertujuan untuk tartib ( urutan ), akan tetapi untuk persamaan ( taswiyah ), karena itu

baik didahulukan atau sebaliknya, maka balasan dari perbuatan tersebut ( membunuh

atau terbunuh ) dalam peperangan ( fi Sabilillah ) adalah mendapat pahala surga.

Sebagaimana yang dimaksudkan dalam Kitab Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur’an.

Demikianlah janji Allah bagi orang-orang yang beriman atas suatu kemenangan yang

50
sangat besar.

 Taqdîm dan ta‟khîr yang ketiga : ialah mendahulukan kalimat dalam suatu

ّ ‫خ‬٠‫ أ‬ٝ‫ِب ل ّذَ ف‬


ayat dan mengakhirkan dalam ayat lain. ( ٜ‫ أخش‬ٝ‫أخش ف‬ٚ ). Taqdîm

semacam ini sebagian ulama menyebutnya taqdîm yang bukan istilah

( ٝ‫ش االصطالؽ‬١‫ُ غ‬٠‫) اٌزمذ‬. Dalam hal ini terdapat sebab-sebab serta rahasia khusus,

sebagaimana disebutkan oleh Az-Zarkasyi dalam kitabnya, yaitu :

Pertama : Didahulukan lafazh ( ‫ ) اٌؾّذ‬dalam surat Al-Fâtihah / 1 : 1 ( ‫اٌؾّذ‬

ٓ١ٌّ‫ ) هلل سة اٌؼب‬dan diakhirkan dalam surat Al-Jâtsiyah / 45 : 36 yaitu ( ‫فٍٍٗ اٌؾّذ‬

ٓ١ٌّ‫سة األسض سة اٌؼب‬ٚ ‫اد‬ّٛ‫) سة اٌغ‬. Didahulukan ( ‫ ) اٌؾّذ‬dalam surat Al-Fâtihah

karena ia sebagai asal, yaitu sebagai mubtada‟. Sedangkan diakhirkan ( ‫ ) اٌؾّذ‬dalam

surat Al-Jâtsiyah adalah sebagai jawaban atas suatu pertanyaan, yang seakan-akan

ada pertanyaan, “ Untuk siapa semua puji-pujian itu ? ( ‫) ٌّٓ اٌؾّذ ؟‬. Dan siapa

pemiliknya ? ( ‫ِٓ أٍ٘ٗ ؟‬ٚ ). Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terjawab

50
Al-Baidhâwi ( w. 791 H ), Tafsir Al-Baidhâwi ( Anwârut Tanzîl Wa Asrârut Ta‟wîl ),
( Libnani, Dârul Fikr, 1416 H / 19 96 ), Jilid ke-3, h. 174
58

sebagaimana jawaban Al-Qur’an dalam surat Al-Jâtsiyah di atas ( ‫ () فٍٍٗ اٌؾّذ‬maka

milik Allah SWTlah segala puji-pujian itu ). Yaitu bahwa Allahlah penguasa bagi

yang ada di langit dan di bumi. Dan contoh semacam ini, juga diungkap dalam

Al-Qur’an surat Ghâfir / 40 : 16 ; ( ‫َ ؟‬ٛ١ٌ‫ ( ) ٌّٓ اٌٍّه ا‬Kepunyaan siapakah kerajaan

pada hari ini? ). Dan sebagai jawabannya adalah (‫بس‬ٙ‫اؽذ اٌم‬ٌٛ‫ () هلل ا‬Kepunyaan Allah

51
Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan ).

Kedua : Mendahulukan kalimat ( ‫ي اٌجبة‬ٛ‫ ) دخ‬terhadap lafazh ( ‫ي ثبٌؾطخ‬ٛ‫) اٌم‬.

dalam surat Al-Baqarah / 2 : 58 ( ‫ا ؽطخ‬ٌٛٛ‫ل‬ٚ ‫ا اٌجبة عغذا‬ٍٛ‫ادخ‬ٚ )( dan masukilah

dari gerbang sambil membungkuk dan makanlah dari hasil buminya ) dan diakhirkan

dalam surat Al-A’râf / 7 : 161 ( ‫ا اٌجبة عغذا‬ٍٛ‫ادخ‬ٚ ‫ا ؽطخ‬ٌٛٛ‫ل‬ٚ ) ( Dan makanlah dari

hasil buminya dan masukilah dari pintu gerbangnya sambil membungkuk ). Para

ulama balaghah dan ulama lainya seperti Az-Zamakhsyari dan Abû Su’ûd tentang

taqdîm dan ta‟khîr ini, berpendapat bahwa perintah dalam dua ayat di atas adalah

dengan menggabungkan maknanya, yaitu baik ( ‫ي ثبٌؾطخ‬ٛ‫ ) اٌم‬atau ( ٓ٠‫ي عبعذ‬ٛ‫) اٌذخ‬

tanpa harus berurutan di antara keduannya, dengan membolehkan mana yang harus

didahulukan. Dan As-Suyûtî berpendapat, meskipun ada perbedaan dalam dua ayat

tersebut, namun tujuannya adalah untuk keindahan dalam kefasihan ( tafannûn fil

51
Az-Zarkasyi, op.cit., h. 329, Ibn Katsîr, op.cit., h. 314
59

52
fashîhah ). Maksud surat Al-Baqarah / 2 : 58, bahwa Allah memerintahkan kepada

Bani Israil memasuki ardhul muqaddas ( Baitul Maqdis ) ada yang mengatakan

Ariha’, karena pertolongan Allah dan keluar dari tîh selama 40 tahun setelah

pembukaan maka diperintahkan untuk bersujud ( baca : bersyukur ) kepada Allah atas

kemenangan dan pembukaan kota baru, dan beristigfar, maka Allah akan

53
mengampuni kesalahan dan ditambahkan segala kebaikan.

Ketiga : Mendahulukan ( ٓ١‫ ) اٌّخبغج‬terhadap ( ‫الد‬ٚ‫ ) األ‬dalam dua surat Al-

An’âm dan Al-Isra’ dengan redaksi yang berbeda. Dalam surat Al-An’âm / 6 : 151

berbunyi :

) 151 : 6 / َ‫بُ٘ * ( األٔؼب‬٠‫ا‬ٚ ُ‫الدوُ ِٓ اِالق ٔؾٓ ٔشصلى‬ٚ‫ا أ‬ٍٛ‫ال رمز‬ٚ


Artinya :
“ Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan.
Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka". ( Al-An‟âm / 6 :
151 )

Surat Al-Isra’ / 17 : 31 berbunyi :

‫ُ وبْ خطئب‬ٍٙ‫بوُ اْ لز‬٠‫ا‬ٚ ُٙ‫خ اِالق ٔؾٓ ٔشصل‬١‫الدوُ خش‬ٚ‫ا أ‬ٍٛ‫ال رمز‬ٚ
) 31 : 17 / ‫شا * ( اإلعشاء‬١‫وج‬
Artinya :
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan.
Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu.
Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. “ ( Al-Isra‟ /
17 : 31 )

52
Ibid., h. 332, Abdul Azhm Muth’inî, op.cit., h. 150-151
53
Ibn Katsîr, op.cit., h. 68
60

Di dahulukan mukhâtab dengan dhamîr ( ُ‫ ) ٔشصلىُ ) ) و‬dalam surat Al-An’âm

/ 6 : 151 dan tidak didahulukan dalam surat Al-Isra’ / 17 : 31, dengan khîtab pada

ayat Al-An’âm ditujukan kepada orang-orang miskin ( ‫) اٌفمشاء‬. Ini dibuktikan dengan

dalil ( ‫) ِٓ اِالق‬, yaitu karena kemiskinan. Dan kemiskinan itu bagi orang-orang

miskin, tentu telah terjadi. Maka janji Allah untuk memberikan rejeki bagi orang-tua

mereka lebih penting dari pada anak-anak mereka, karena itu didahulukan dlamîr kum

( ُ‫ ) ٔشصلى‬terhadap dlamîr hum ( ُ٘‫ب‬٠‫ا‬ٚ ).

Sedangkan khitâb Allah dalam surat Al-Isra’ / 17 : 31 dengan mendahulukan

dlamîr ( ُ٘ )( ُٙ‫ ) ٔشصل‬yang ditujukan kepada orang-orang kaya ( ‫بء‬١ٕ‫) أغ‬, dengan

dalil ( ‫خ اإلِالق‬١‫ () خش‬takut kemiskinan ). Dan kata “ khasyiah “ adalah sebagai bukti

adanya kekhawatiran mereka akan kemiskinan, yakni mereka takut bila terjadi

terhadap anak-anak mereka. Dengan demikian rejeki bagi anak-anak mereka lebih

penting, maka janji Allah untuk pemberian rejeki bagi anak-anak mereka diutamakan

dari pada rejeki bagi orang-tua mereka.

Melihat dua redaksi ayat yang berbeda di atas, Ibn Katsir menjelaskan dalam

kitabnya tentang surat Al-An’âm / 6 : 151, bahwa Allah SWT melarang pembunuhan

yang dilakukan orang tua terhadap anak-anaknya disebabkan kemiskinan yang tidak

dapat memberikan nafkah ( rejeki ) dengan baik terhadap anak-anak mereka. Maka

dalam ayat tersebut didahulukan dlamîr-kum, sebagai ta‟kîd ( penekanan ), bahwa

janji Allah untuk mengutamakan rejeki bagi mereka ( orang-tua ) karena rejeki bagi
61

mereka lebih penting. Sedangkan maksud larangan Allah atas pembunuhan yang

terdapat dalam surat Al-Isra’ / 17 : 31, ditujukan kepada selain orang miskin ( baca :

orang kaya ), akan tetapi orang kaya takut jatuh miskin di suatu hari dan hal itu bisa

mengakibatkan kelaparan bagi anak-anak mereka. Maka rejeki bagi anak-anak

mereka adalah lebih penting dari pada rejeki orang tua mereka. Karena itu Allah

berjanji untuk mendahulukan rejeki anak-anak mereka. Dan redaksi ayat

mendahulukan dhamir-hum ( ُٙ‫ ) ٔشصل‬terhadap dlamîr-kum ( ُ‫بو‬٠‫ا‬ٚ ), karena rejeki

bagi anak-anak mereka lebih penting. Demikian maksud Allah dalam dua ayat di atas,

54
karena Allah SWT Maha Penyayang terhadap hambaNya.

Keempat : Tentang ( ٜ‫ذ‬ٌٙ‫ ا‬ٛ٘ ‫ هللا‬ٜ‫٘ذ‬ )( petunjuk Allah itulah petunjuk

yang sebenarnya ). Terdapat redaksi yang berbeda antara surat Al-Baqarah / 2 : 120

dan yang terdapat dalam surat Ali-Imrân / 3 : 73.

Dalam surat Al-Baqarah / 2 : 120, yaitu :

ٛ٘ ‫ هللا‬ٜ‫ُ لً اْ ٘ذ‬ٙ‫ رزجغ ٍِز‬ٝ‫ ؽز‬ٜ‫ال إٌصبس‬ٚ ‫د‬ٛٙ١ٌ‫ ػٕه ا‬ٝ‫ٌٓ رشظ‬ٚ
) 120 : 2 / ‫ ( اٌجمشح‬. ٜ‫ذ‬ٌٙ‫ا‬
Artinya :
“ Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga
kamu mengikuti agama mereka “. ( Al-Baqarah / 2 : 120 )

54
Abdul Azhîm Ibrâhim Al-Muth’inî, op.cit., h. 183, Az-Zarkasyi, op.cit., h. 330, Ibn Katsîr
, op.cit., h. 375
62

Didahulukan ( ‫ هللا‬ٜ‫ ) ٘ذ‬terhadap ( ٜ‫ذ‬ٌٙ‫ ا‬ٛ٘ ), kemudian datang ayat lain

dengan redaksi yang berbeda, dengan mendahulukan ( ٜ‫ذ‬ٌٙ‫ ) ا‬dari pada ( ‫ هللا‬ٜ‫) ٘ذ‬

sebagaimana dalam surat Ali-Imrân / 3 : 73 yaitu :

: 3 / ْ‫ هللا * ( اي ػّشا‬ٜ‫ ٘ذ‬ٜ‫ذ‬ٌٙ‫ٕىُ لً اْ ا‬٠‫ا اال ٌّٓ رجغ د‬ِٕٛ‫ال رئ‬ٚ

) 73

Artinya :
“ Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti
agamamu, katakanlah : “ sesungguhnya petunjuk ( yang harus diikuti )
adalah petunjuk Allah “. ( Ali-Imrân / 3 : 73 )

Bila diperhatikan dari beberapa redaksi ayat-ayat di atas, dapat dipahami,

bahwa didahulukan ( ‫ هللا‬ٜ‫ ) ٘ذ‬dalam dua tempat ( surat Al-Baqarah / 2 : 120 dan

Al-An’âm / 6 : 71 ) terhadap ( ٜ‫ذ‬ٌٙ‫ ا‬ٛ٘ ), terdapat sebab-sebab, yaitu :

( 1 ). Adanya nash yang menyatakan, bahwa petunjuk Allah SWT adalah

petunjuk yang sebenarnya ( ٜ‫ذ‬ٌٙ‫ ا‬ٛ٘ ‫ هللا‬ٜ‫) ٘ذ‬, sebagai bantahan atas pengakuan

dengan adanya petunjuk selain dari Allah SWT.

( 2 ). Dalam surat Al-Baqarah / 2 : 120, Yahudi dan Nasrâni itu mengaku,

bahwa petunjuk itu dari mereka. Dengan adanya pengakuan itu, seakan-akan mereka

tidak setuju kepada umat saat itu kecuali mengikuti dan membenarkan petunjuk

mereka ( ٜ‫ال إٌصبس‬ٚ ‫د‬ٛٙ١ٌ‫ ػٕه ا‬ٝ‫ٌٓ رشظ‬ٚ ). Dan dalam hal ini, seakan-akan

mereka menolak semua petunjuk kecuali dari mereka. Oleh karena itu Allah SWT

mendatangkan nash, dengan penekanan atas batalnya dakwaan mereka, dengan


63

redaksi ( ٜ‫ذ‬ٌٙ‫ ا‬ٛ٘ ‫) لً اْ ٘ذىبهلل‬, yang maksudnya bahwa tidak ada petunjuk kecuali

dari Allah SWT.

( 3 ). Sedangkan didahulukannya ( ٜ‫ذ‬ٌٙ‫ ) ا‬terhadap ( ‫ هللا‬ٜ‫ ) ٘ذ‬dalam surat

Ali Imrân : 73, karena umat belum terlihat nampak keingkaran mereka dengan adanya

petunjuk Allah SWT, bahkan mereka menyetujuinya dengan tujuan ingin memfitnah

terhadap mereka-mereka yang telah beriman kepada Allah, karena kedengkian

mereka ( hasad ) terhadap orang-orang yang diberikan Allah atas karunia-Nya,

karena itu datang nash dengan redaksi ( ‫ هللا‬ٜ‫ ٘ذ‬ٜ‫ذ‬ٌٙ‫لً اْ ا‬ ), bantahan jelas,

terhadap sekelompok masyarakat yang mengira mereka bisa menyesatkan orang-

orang mu’min. Maka kata ( ٜ‫ذ‬ٌٙ‫ا‬ ) dalam ayat Ali-Imrân / 3 : 73 ini, ditambah

dengan alif dan lam, dan menjadi pokok pembicaraan, bahwa maksud dari

( ‫ هللا‬ٜ‫ ) ٘ذ‬adalah sama dengan ( ٜ‫ذ‬ٌٙ‫ ) ا‬dengan alif dan lam. Sebagaimana bunyi

ayatnya :

‫ أؽذ ِضً ِب‬ٝ‫ئر‬٠ ْ‫ هللا أ‬ٜ‫ ٘ذ‬ٜ‫ذ‬ٌٙ‫ٕىُ لً اْ ا‬٠‫ا اال ٌّٓ رجغ د‬ِٕٛ‫ال رئ‬ٚ

‫هللا‬ٚ , ‫شبء‬٠ ِٓ ٗ١‫ذ هللا ثئر‬١‫ لً اْ اٌفعً ث‬, ُ‫وُ ػٕذ سثى‬ٛ‫ؾبع‬٠ ٚ‫زُ أ‬١‫ر‬ٚ‫أ‬

) 73 : 3 /ْ‫ُ * ( اي ػّشا‬١ٍ‫اعغ ػ‬ٚ

Artinya :
“ Dan Janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti
agamamu. Katakanlah: " Sesungguhnya petunjuk ( yang harus diikuti ) ialah
petunjuk Allah, dan ( janganlah kamu percaya ) bahwa akan diberikan
kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan ( jangan pula
kamu percaya ) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu
64

“, Katakanlah : Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan


karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas
( pemberian-Nya ) lagi Maha mengetahui " ( Ali-Imrân / 3 : 73 )

Dan kesimpulan bahwa maksud ayat Al-Baqarah / 2 : 120, bahwa ayat ini

ditujukan kepada Nabi SAW dan pengikutnya untuk meninggalkan petunjuk Yahudi

dan Nasrani dan menerima petunjuk Allah SWT dalam hal perintah berdakwa yang

jelas-jelas nyata kebenarannya. Maka dengan ayat ( ٜ‫ذ‬ٌٙ‫ ا‬ٛ٘ ‫ هللا‬ٜ‫) لً اْ ٘ذ‬

menegaskan kepada Nabi Muhamad SAW bahwa hidayah Allahlah yang

mengutusmu ke jalan yang lurus ( agama yang lurus ), dan jika kamu mengikutinya

setelah datangnya ilmu ( Al-Qur’an ), maka Allah tidak bisa melindungi dan menjadi

penolong. Sedangkan maksud dalam Ali Imrân / 3 : 73, bahwa orang-orang mu’min

tidak akan mendapatkan ketenangan kecuali dengan mengikuti petunjuka Allah

( agam Islam), dan Allah berfirman ( ‫ هللا‬ٜ‫ ٘ذ‬ٜ‫ذ‬ٌٙ‫ ) لً اْ ا‬menegaskan bahwa

hidayah Allah yang memberikan petunjuk ke dalam hati setiap mu’min dengan
55
petujuk rasul-Nya dan dengan ayat-ayat-Nya.

Kelima : Terdapat empat tempat dalam Al-Qur’an berkenaan dengan

ungkapan ( ta‟bîr ) al-Qur’an yang berbunyi ( ‫ش هللا‬١‫ِب أً٘ ٌغ‬ٚ ) ( yang disembelih

atas nama selain Allah SWT ). Dalam tiga tempat didahulukan ungkapan ( ‫ش هللا‬١‫) ٌغ‬

terhadap ( ٗ‫ ) ث‬yaitu dalam surat Al-Mâidah / 5 : 3, surat / 6 : Al-An’âm / 6 : 145, dan

55
Abdul Azhîm Ibrîhim Muth’inî, op.cit., h. 114 dan 292
65

surat An-Nahl / 16 : 115, sedangkan dalam surat Al-Baqarah / 2 : 173 didahulukan

( ٗ‫ ) ث‬terhadap ( ‫ش هللا‬١‫) ٌغ‬.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Mâidah / 5 : 3 :

: 5 / ‫ش هللا ثٗ ( اٌّبئذح‬١‫ِب أً٘ ٌغ‬ٚ ‫ش‬٠‫ٌؾُ اٌخٕض‬ٚ َ‫اٌذ‬ٚ ‫زخ‬١ٌّ‫ىُ ا‬١ٍ‫ؽشِذ ػ‬


)3
Artinya :
“ Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, ( daging
hewan ) yang disembelih atas nama selain Allah. “ ( Al-Mâidah / 5 : 3 )

Dalam surat Al-An’âm / 6 : 145 :

ٚ‫زخ أ‬١ِ ْٛ‫ى‬٠ ْ‫طؼّٗ اال أ‬٠ ُ‫ غبػ‬ٍٝ‫ ِؾشِب ػ‬ٌٟ‫ ا‬ٟ‫ؽ‬ٚ‫ ِب أ‬ٟ‫لً ال أعذ ف‬

6 /َ‫ش هللا ثٗ ( األٔؼب‬١‫ فغمب أً٘ ٌغ‬ٚ‫ش فبٔٗ سعظ أ‬٠‫ ٌؾُ خٕض‬ٚ‫ؽب أ‬ٛ‫دِب ِغف‬

) 145 :

Artinya :
“ Katakanlah : " Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan
kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya,
kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging
babi -karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih
atas nama selain Allah “. ( Al-An’âm / 6 : 145 )

Dalam surat An-Nahl / 16 : 115 :

/ ً‫ش هللا ثٗ * ( إٌؾ‬١‫ِب أً٘ ٌغ‬ٚ ‫ش‬٠‫ٌؾُ اٌخٕض‬ٚ َ‫اٌذ‬ٚ ‫زخ‬١ٌّ‫ىُ ا‬١ٍ‫أّب ؽشَ ػ‬

) 115 :16
66

Artinya :
“ Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu ( memakan ) bangkai,
darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain
Allah .“ ( Al-Nahl / 16 : 115 )

Dan dalam surat Al-Baqarah / 2 : 173

ٖ‫ب‬٠‫ا هلل اْ وٕزُ ا‬ٚ‫اشىش‬ٚ ُ‫جبد ِب سصلٕبو‬١‫ا ِٓ غ‬ٍٛ‫ا و‬ِٕٛ‫ٓ أ‬٠‫ب اٌز‬ٙ٠‫ب أ‬٠

‫ش هللا‬١‫ِب أً٘ ثٗ ٌغ‬ٚ ‫ش‬٠‫ٌؾُ اٌخٕض‬ٚ َ‫اٌذ‬ٚ ‫زخ‬١ٌّ‫ىُ ا‬١ٍ‫ْ * أّب ؽشَ ػ‬ٚ‫رؼجذ‬

) 173 -172 :2 / ‫*( اٌجمشح‬


Artinya :
“ Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rejeki yang baik-baik
yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-
benar hanya kepada-Nya kamu menyembah. Sesungguhnya Allah hanya
mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang
( ketika disembelih ) disebut ( nama ) selain Allah. “ ( Al-Baqarah / 2 : 172-
173 )

Dari empat nash di atas, terdapat tiga redaksi yang berulang-ulang dengan

ungkapan ( ٗ‫ش هللا ث‬١‫ِب أً٘ ٌغ‬ٚ ), sebagaimana dalam surat Al-Mâidah / 5 : 3, surat

Al-An’âm / 6 : 145 dan surat An-Nahl / 16 : 115, yaitu dengan mendahulukan

( ‫ش هللا‬١‫ ) ٌغ‬terhadap ( ٗ‫) ث‬. Dan seharusnya ( asal ) didahulukan ( ٗ‫ ) ث‬terhadap

( ‫ش هللا‬١‫) ٌغ‬, karena dhamîr dalam ( ٗ‫ ) ث‬kembali kepada mâ ( ‫) ِب‬, dan ( ‫ش هللا‬١‫) ٌغ‬

tidak terlepas maksudnya dari ( ً٘‫) أ‬, sebagai shilah dari maushûl. Dan hal ini,

diungkap dalam surat Al-Baqarah / 2 : 173, dengan ungkapan ( ‫ش هللا‬١‫ِب أً٘ ثٗ ٌغ‬ٚ ).
67

Dari empat nash di atas terdapat rahasia sebab-sebab didahulukan atau diakhirkannya,

yaitu :

( 1 ). Didahulukan ungkapan ( ‫ش هللا‬١‫ ) ٌغ‬terhadap ( ٗ‫ ) ث‬sasarannya ditujukan

kepada Ahli Makkah, yang mayoritas saat itu belum beriman kepada Allah SWT.

Juga sebagai pencegahan terjadinya kemusyrikan serta pembatalan atas aqidah

mereka dengan menjadikan berhala sebagai tuhan yang disembah, serta

penyembelihan yang mengatasnamakan nama tuhan mereka ( berhala ), sebagaimana

diungkap dalam surat Al-An’âm / 6 : 145 dan An-Nahl / 16 : 115

( keduanya Makiyah ), dan Al-Mâidah / 5 : 3 adalah Madaniyah, terkecuali ayat yang

menyatakan tentang haji wada’ adalah Makiyah.

( 2 ). Sedangkan didahulukan lafazh ( ٗ‫ ) ث‬terhadap ( ‫ش هللا‬١‫) ٌغ‬, sebagaimana

disebutkan dalam surat Al-Baqarah / 2 : 173, sasarannya ditujukan kepada Ahli

Madinah yang kita ketahui mayoritas mereka telah beriman. Dan mereka bukan

penyembah berhala, juga bukan kafir tetapi untuk mencegah kemusyrikan, dan juga

untuk menerangkan hukum-hukum Islam, seperti ; halal, haram dan sebagainya.

Karena itu awal ayatnya dimulai dengan ungkapan ( ‫ا‬ِٕٛ‫ٓ آ‬٠‫ب اٌز‬ٙ٠‫بأ‬٠ ) ( wahai orang-

orang yang beriman ).

3. Didahulukan ( ‫ش هللا‬١‫ ) ٌغ‬terhadap ( ٗ‫ ) ث‬dalam tiga tempat ( surat Al-

An’âm : 145, An-Nahl : 115, serta surat Al-Mâidah : 3 ), untuk tujuan ta‟kîd

( penekanan ) tentang batalnya keimanan selain kepada Allah SWT, sehingga

didahulukan lafadz ( ‫ش هللا‬١‫) ٌغ‬, karena sangatlah penting. Sedangkan dalam surat Al-
68

Baqarah : 173 sesuai dengan asalnya ( ‫ش هللا‬١‫ِب أً٘ ثٗ ٌغ‬ٚ ), dengan memajukan

lafazh ( ٗ‫) ث‬, kerena sebagian mereka telah beriman, maka diakhirkan kalimat ( ‫ش‬١‫ٌغ‬

56
‫ ) هللا‬karena tidak dibutuhkan penekanan ( ta‟khîd ).

Maksud ayat di atas, bahwa Allah SWT memberitakan kepada seluruh umat

Islam tentang mengharamkan bangkai, darah, daging babi, serta penyembelihan yang

disebutkan selain nama Allah SWT, karena memakan makanan yang baik ( tayyib )

adalah syarat diterimanya do’a dan amal ibadah, sedangkan memakan makanan yang

diharamkan menghalangi diterimanya do’a dan ibadah. Sebagaimana hadits nabi

SAW, “ Wahai manusia sesungguhnya Allah itu baik, maka Dia tidak akan menerima

kecuali yang baik juga “ ( HR. Muslim ). Sedangkan kepada yang terpaksa Allah

SWT hanya membolehkannya, kecuali tidak berlebihan sebagai rukhshah

( keringanan ) dari Allah SWT, karena Dia Maha pengampun dan lagi Maha

57
penyayang. Demikian maksud ayat-ayat di atas menurut ulama tafsir.

Keenam : Mendahulukan ( ‫ٓ هلل‬١ِ‫ا‬ٛ‫ ( ) ل‬orang-orang yang menegakan

keadilan karena Allah ) terhadap ( ‫ذاء ثبٌمغػ‬ٙ‫ ( ) ش‬menjadi saksi dengan adil )

dalam surat Al-Mâidah / 5 : 8, dan mendahuluakn ( ‫ٓ ثبٌمغػ‬١ِ‫ا‬ٛ‫ ( ) ل‬orang yang

56
Abdul Azhîm Ibrâhim Muth’inî, op.cit., h. 162-163

57
Ibid., h. 150, 478, 626, 350
69

benar-benar penegak keadilan ) terhadap ( ‫ذاء هلل‬ٙ‫ ( ) ش‬menjadi saksi karena Allah )

dalam surat An-Nisâ’ / 4 : 135. Bunyi ayat Al-Mâidah, yaitu :

َٛ‫غشِٕىُ شٕآْ ل‬٠ ‫ال‬ٚ ‫ذاء ثبٌمغػ‬ٙ‫ٓ هلل ش‬١ِ‫ا‬ٛ‫ا ل‬ٛٔٛ‫ا و‬ِٕٛ‫ٓ ءا‬٠‫ب اٌز‬ٙ٠‫بأ‬٠

* ٍّْٛ‫ش ثّب رؼ‬١‫ا هللا اْ هللا خج‬ٛ‫ارم‬ٚ ٜٛ‫ ألشة ٌٍزم‬ٛ٘ ‫ا‬ٌٛ‫ا اػذ‬ٌٛ‫ أال رؼذ‬ٍٝ‫ػ‬

) 8 :5 / ‫( اٌّبئذح‬
Artinya :
“ Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang
selalu menegakkan ( kebenaran ) karena Allah, menjadi saksi dengan adil.
Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong
kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat
kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan. “ ( Al-Mâidah / 5 : 8 )

Dan ayat An-Nisâ’ / 4 : 135, yaitu :

ٚ‫ أٔفغىُ أ‬ٍٝ‫ ػ‬ٌٛٚ ‫ذاء هلل‬ٙ‫ٓ ثبٌمغػ ش‬١ِ‫ا‬ٛ‫ا ل‬ٛٔٛ‫ا و‬ِٕٛ‫ٓ ءا‬٠‫ب ا ٌز‬ٙ٠‫بأ‬٠
ْ‫ أ‬ٌٜٛٙ‫ا ا‬ٛ‫ّب فال رزجؼ‬ٙ‫ ث‬ٌٝٚ‫شا فبهلل أ‬١‫ فم‬ٚ‫ب أ‬١ٕ‫ىٓ غ‬٠ ْ‫ٓ ا‬١‫األلشث‬ٚ ٓ٠‫اٌذ‬ٌٛ‫ا‬
:4 /‫شا * ( إٌغبء‬١‫ْ خج‬ٍّٛ‫ا فبْ هللا وبْ ثّب رؼ‬ٛ‫ رؼشظ‬ٚ‫ا أ‬ٍٚٛ‫اْ ر‬ٚ ‫ا‬ٌٛ‫رؼذ‬
) 135
Artinya :
“ Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar
penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu
sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin,
maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti
hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu
memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka
sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu
kerjaan. “ ( An-Nisâ‟ / 4 : 135 )
70

Dua surat di atas ( An-Nisa’ dan Al-Maidah ) adalah keduanya madaniyah

sebagaimana disepakati jumhur ulama, namun ayat al-Maidah berkenaan dengan ayat

ini, terdapat perselisihan pendapat. Dan disepakati ulama ( ijma’ ), bahwa Al-Maidah

atau An-Taubah surat yang turun terakhir dari Al-Qur’an. Sebagaimana Az-Zarkasyi

mengatakan dalam kitabnya, al-Burhan, bahwa Rasulullah membaca surat Al-Maidah

ketika haji wadâ‟, kemudian Rasulullah bersabda ; “ sesungguhnya akhir al-Qur‟an

yang turun adalah Al-Mâidah, dan menghalalkan yang telah ditetapkan

kehalalannya, dan mengaharamkan yang telah diharamkan “. Sebagaimana juga as-

58
Suyuti mengatakan dalam kitabnya. Dan dari taqdîm dan ta‟khîr kedua ayat di

atas terdapat rahasia yang terkandung di dalamnya, yaitu :

1. Didahulukan ayat ( ‫ٓ ثبٌمغػ‬١ِ‫ا‬ٛ‫ا ل‬ٛٔٛ‫و‬ ) karena khitâb-nya ditujukan

kepada orang-orang mu’min secara mutlak. Karena mereka memiliki kewajiban

secara mutlak menjadi penegak keadilan. Dan perintah tersebut ditunjukan bagi

orang-orang yang beriman. Demikian yang dimaksudkan dalam surat An-Nisa’/ 4 :

135. Diriwayatkan bahwa turunnya ayat ini, sebagaimana dikutip oleh Al-Wâhidi

dalam kitabnya ( asbâbu an-nuzl ). Diriwayatkan oleh Abi Hâtim dari as-Sa’dy

bahwa ayat ini turun kepada Nabi SAW, tentang pesengketaan di antara orang kaya

dan orang miskin, dan menjelaskan orang miskin tidak akan berbuat zhalim terhadap

orang kaya. Maka kata Nabi, tidaklah Allah menghukum terhadap perkara mereka

58
Ibid.,h. 165
71

keculi dengan adil. Maka turunlah ayat ini ( ‫ٓ ثبٌمغػ‬١ِ‫ا‬ٛ‫ا ل‬ٛٔٛ‫ا و‬ِٕٛ‫ٓ ءا‬٠‫ب اٌز‬ٙ٠‫بأ‬٠ )

sampai ( ‫ّب‬ٙ‫ ث‬ٌٝٚ‫شا فبهلل أ‬١‫ فم‬ٚ‫ب أ‬١ٕ‫ىٓ غ‬٠ ْ‫) ا‬.

2. Sedangkan didahulukannya ayat ( ‫ٓ هلل‬١ِ‫ا‬ٛ‫ا ل‬ٛٔٛ‫ ) و‬karena khitâbnya

ditujukan kepada orang-orang beriman secara khusus dan semua manusia secara

umum. Karena ayat ini, sebagaimana menurut ijma’ ulama turun di saat haji wada’

dan dia adalah surat yang terakhir turun dari Al-Qur’an. Oleh karena itu Ahli-Makkah

termasuk dalam khitâb ayat ini. Dengan demikian ayat ini, sebagai ayat nasehat

terhadap umat manusia pada umumnya. Kerena itu didahulukan ( ‫ٓ هلل‬١ِ‫ا‬ٛ‫ا ل‬ٛٔٛ‫) و‬,

karena perintah menegakan kebenaran karena Allah adalah bukan hanya tanggung

59
jawab mukhâtab akan tetapi ditujukkan kepada sebagian umat muslim lainya.

Sehingga ditafsirkan, bahwa kedua ayat di atas, memerintahkan kepada setiap

mu’min berlaku adil, baik terhadap diri sendiri, terhadap kedua orang tua atau

kerabat, kaya atau miskin dengan ikhlas karena Allah SWT, karena yang demikian itu

lebih mendekati kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada-Nya karena Dia Maha
60
mengetahui apa yang dilakukan hamba-Nya.

Ketujuh : Didahulukan lafazh ( ‫ذا‬١ٙ‫ () ش‬saksi ) terhadap ( ُ‫ٕى‬١‫ث‬ٚ ٕٝ١‫) ث‬

dalam surat Al-Isra’ / 17 : 96 sementara dalam surat Al-Ankâbut / 29 : 52

didahulukan ( ُ‫ٕى‬١‫ث‬ٚ ٕٝ١‫ ) ث‬terhadap (‫ذا‬١ٙ‫) ش‬.

59
Ibid., h. 166

60
Ibid., h. 447-447 dan 494-495
72

Surat Al-Isra’ / 17 : 96 yaitu :

/ ‫شا ( اإلعشاء‬١‫شا ثص‬١‫ٕىُ أٗ وبْ ثؼجبدٖ خج‬١‫ث‬ٚ ٟٕ١‫ذا ث‬١ٙ‫ ثبهلل ش‬ٝ‫لً وف‬

) 96 :17
Artinya :
“ Katakanlah : " Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu
sekalian. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat
akan hamba-hamba-Nya ". “ ( Al-Isrâ‟ / 17 : 96 )

Sedangkan surat Al-Ankâbut / 29 : 52 mengatakan :

ٓ٠‫اٌز‬ٚ ‫األسض‬ٚ ‫اد‬ّٛ‫ اٌغ‬ٟ‫ؼٍُ ِب ف‬٠ ‫ذا‬١ٙ‫ٕىُ ش‬١‫ث‬ٚ ٟٕ١‫ ثبهلل ث‬ٝ‫لً وف‬

) 52 :29 / ‫د‬ٛ‫ْ ( اٌؼٕىج‬ٚ‫ٌئه ُ٘ اٌخبعش‬ٚ‫ا ثبهلل أ‬ٚ‫وفش‬ٚ ً‫ا ثبٌجبغ‬ِٕٛ‫ءا‬

Artinya :
“Katakanlah: "Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antaramu. Dia
mengetahui apa yang di langit dan di bumi. Dan orang-orang yang percaya
kepada yang batil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yang
merugi. “ ( Al-Ankâbut / 29 : 52 ).

Didahulukan ( ‫ذا‬١ٙ‫ ) ش‬terhadap ( ُ‫ٕى‬١‫ث‬ٚ ٕٝ١‫ ) ث‬dalam ayat 96 surat Al-Isra’/

17, dan diakhirkan dalam ayat 52 surat Al-Ankâbut / 29, disebabkan :

1. Didahulukan ( ‫ذا‬١ٙ‫ ) ش‬dalam surat Al-Isra’, karena bila kita amati sikap

penolakan kafir Quraisy terhadap Rasululullah SAW sungguh telah sampai kepada

puncak keingkarannya. Dibuktikan dengan ayat 90-93 dalam surat Al-Isrâ’ ini, yaitu :

‫ْ ٌه عٕخ‬ٛ‫ رى‬ٚ‫ػب * أ‬ٛ‫ٕج‬٠ ‫ رفغش ٌٕب ِٓ األسض‬ٝ‫ا ٌٓ ٔئِٓ ٌه ؽز‬ٌٛ‫لب‬ٚ

‫ رغمػ اٌغّبء وّب‬ٚ‫شا * أ‬١‫ب رفغ‬ٌٙ‫بس خال‬ٙٔ‫ػٕت فزفغش األ‬ٚ ً١‫ِٓ ٔخ‬
73

ِٓ ‫ذ‬١‫ْ ٌه ث‬ٛ‫ى‬٠ ٚ‫ال * أ‬١‫اٌّالئىخ لج‬ٚ ‫ ثبهلل‬ٟ‫ رؤر‬ٚ‫ٕب وغفب أ‬١ٍ‫صػّذ ػ‬

ٖ‫ٕب وزبثب ٔمشإ‬١ٍ‫ رٕضي ػ‬ٝ‫ه ؽز‬١‫ٌٓ ٔئِٓ ٌشل‬ٚ ‫ اٌغّبء‬ٟ‫ ف‬ٝ‫ رشل‬ٚ‫صخشف أ‬

) 93-90 : 17/ ‫( اإلعشاء‬

Artinya :
“Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga
kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai
sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah
kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas
kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-
malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah
rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan
mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab
yang kami baca " ( Al-Isrâ‟ / 17 : 90-93 )

2. Diakhirkan ( ‫ذا‬١ٙ‫ ) ش‬dalam al-Ankabut atau didahulukan ( ُ‫ٕى‬١‫ث‬ٚ ٕٝ١‫) ث‬.

Karena ayat ini bercerita tentang pengingkaran kafir Quraisy terhadap Rasul yang

masih bersifat umum. Redaksi ayat Al-Ankâbut / 29 : 50-51, itu adalah sebagai

berikut :

‫ش‬٠‫أّب أٔب ٔز‬ٚ ‫بد ػٕذ هللا‬٠٢‫بد ِٓ سثٗ لً أّب ا‬٠‫ٗ ءا‬١ٍ‫ال أٔضي ػ‬ٌٛ ‫ا‬ٌٛ‫لب‬ٚ

‫ رٌه ٌشؽّخ‬ٟ‫ُ اْ ف‬ٙ١ٍ‫ ػ‬ٍٝ‫ز‬٠ ‫ه اٌىزبة‬١ٍ‫ُ أٔب أٔضٌٕب ػ‬ٙ‫ىف‬٠ ٌُٚ‫ٓ* أ‬١‫ِج‬

) 51-50 : 29/ ‫د‬ٛ‫ْ ( اٌؼٕىج‬ِٕٛ‫ئ‬٠ َٛ‫ ٌم‬ٜ‫روش‬ٚ


Artinya :
“ Dan orang-orang kafir Mekah berkata: " Mengapa tidak diturunkan
kepadanya mu`jizat-mu`jizat dari Tuhannya?" Katakanlah: " Sesungguhnya
mu`jizat-mu`jizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya
seorang pemberi peringatan yang nyata". Dan apakah tidak cukup bagi
74

mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab ( Al Qur'an )


sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam ( Al Qur'an ) itu
terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. “
( Al-Ankâbut / 29 : 50-51 )

Dari perbedaan bentuk pengingkaran mereka, maka didahulukan( ‫بدح‬ٙ‫) اٌش‬

( saksi ) terhadap ( ‫ٕخ‬١‫ () اٌج‬bukti ). Dan hal ini terbukti bahwa dakwah yang

disampaikan oleh para rasul dan keingkaran mereka terhadap dakwah tersebut tidak

membuahkan hasil. Karena itu seakan-akan, Rasul berkata : Saya telah

menyampaikan dakwah ini kepada mereka, dan engkau, ya Allah telah mengetahui

apa yang aku sampaikan “. Hal ini diisyaratkan dengan adanya bukti saksi dengan

ayat ( ‫شا‬١‫شا ثص‬١‫ ( ) أٗ وبْ ثؼجبدٖ خج‬Sesungguhnya Dia adalah Maha Mengetahui lagi

Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya ). Dengan alasan demikian, maka

didahulukan zharaf ( ُ‫ٕى‬١‫ث‬ٚ ٕٝ١‫ ) ث‬terhadap lafazh ( ‫ذا‬١ٙ‫ ) ش‬untuk tujuan takhshis

( pengkhususan ). Karena itu ayat Al-Ankâbut / 29 : 52 ini bertujuan untuk

pengkhususan ( ‫األسض‬ٚ ‫اد‬ٚ‫ اٌغّب‬ٝ‫ؼٍُ ِب ف‬٠ ‫ذا‬١ٙ‫ٕىُ ش‬١‫ث‬ٚ ٟٕ١‫ ثبهلل ث‬ٝ‫) لً وف‬, takdirnya

( ُ‫شو‬١‫ٓ أؽذ غ‬١‫ٕىُ أٔزُ ال ث‬١‫ث‬ٚ ‫ أٔب‬ٕٝ١‫) ث‬. Dan kekhususan itu terletak hanya pada ilmu

Allah, yaitu ilmu Allah terhadap hamba-Nya. Karena itu didahulukan zharaf untuk

61
tujuan kekhususan ( takhshîsh ). Dan maksud ayat di atas bahwa Allah SWT

memberi pelajaran kepada Nabi SAW tentang hujjah terhadap kaumnya, bahwa

61
Abdul Azhîm Ibrâhim Muth’inî, op.cit., h. 171-173
75

segala yang disampaikannya itu benar, dan Allah menjadi saksi terhadap Nabi-Nya

62
dan juga terhadap kaumnya.

Kedelapan : Berkenaan dengan ( ‫ () األوً اٌشغذ‬memakan banyak dan enak ).

Didahulukan lafazh ( ‫ ) سغذا‬terhadap ( ‫ش شئزّب‬١‫ ) ؽ‬dalam surat Al-Baqarah / 2 : 35

dan didahulukan ( ُ‫ش شئز‬١‫ ) ؽ‬terhadap ( ‫ ) سغذا‬dalam Al-Baqarah / 2 : 57. Redaksi

ayat tersebut adalah sebagai berikut :

Surat Al-Baqarah / 2 : 35 :

‫ال رمشثب‬ٚ ‫ش شئزّب‬١‫ب سغذا ؽ‬ِٕٙ ‫وال‬ٚ ‫عه اٌغٕخ‬ٚ‫ص‬ٚ ‫بآدَ اعىٓ أٔذ‬٠ ‫لٍٕب‬ٚ

) 35 : 2 /‫ٓ ( اٌجمشح‬١ٌّ‫ٔب ِٓ اٌظب‬ٛ‫٘زٖ اٌشغشح فزى‬

Artinya :
“ Dan Kami berfirman: "Hai Adam diamilah oleh kamu dan isterimu surga
ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja
yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan
kamu termasuk orang-orang yang zalim. “ ( Al-Baqarah / 2 : 35 )

Surat Al-Baqarah / 2 : 58 :

‫ا اٌجبة عغذا‬ٍٛ‫ادخ‬ٚ ‫ش شئزُ سغذا‬١‫ب ؽ‬ِٕٙ ‫ا‬ٍٛ‫خ فى‬٠‫ا ٘زٖ اٌمش‬ٍٛ‫ار لٍٕب ادخ‬ٚ

) 58 :2 / ‫ٓ ( اٌجمشح‬١ٕ‫ذ اٌّؾغ‬٠‫عٕض‬ٚ ُ‫بو‬٠‫ا ؽطخ ٔغفش ٌىُ خطب‬ٌٛٛ‫ل‬ٚ

Artinya :

62
Ibn Katsîr, op.cit. h. 401 dan h. 41
76

“ Dan ( ingatlah ), ketika Kami berfirman: "Masuklah kamu ke negeri ini


( Baitul Maqdis ), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di
mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud,
dan katakanlah: "Bebaskanlah kami dari dosa", niscaya Kami ampuni
kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami)
kepada orang-orang yang berbuat baik".“ ( Al-Baqarah /2 : 58 )

Apa rahasia taqdîm dan ta‟khîr dari kedua redaksi ayat di atas ?. Rahasianya :

( a ). Didahulukan ( ‫ ) سغذا‬terhadap ( ‫ش شئزّب‬١‫) ؽ‬, karena khitâb Allah itu

ditujukan terhadap Nabi Adam As dan Siti Hawa’ agar masuk surga dan memakan

makanan di dalamnya dengan suka hati dan banyak. Karena itu didahulukan

raghadan ( banyak dan enak ) yang dimaksudkan adalah makanan, karena

didulukannya makanan itu lebih penting bagi keduanya. Sedangkan makna yang

terkandung dalam ( ‫ش شئزّب‬١‫ؽ‬ ), bahwa Adam dan Hawa’ di dalam surga berada

dalam keadaan tenteram dan damai tidak ada tekanan dan ganngguan apapun.

( b ). Sedangkan didahulukan ( ُ‫ش شئز‬١‫) ؽ‬, karena khitâb Allah itu ditujukan

kepada Bani Isrâil ketika memasuki kota Ariha dan di dalamnya terdapat banyak

penduduk, maka mendahulukan lafazh tersebut lebih penting. Sedangkan makna

kalimat ( ُ‫ش شئز‬١‫ؽ‬ ), adalah bahwa suatu tempat ( kota besar ), jika banyak

penduduknya tentu tidak nyaman, karena di dalamnya kurang ketentraman dan

dibutuhkan usaha keras untuk mencari rejeki dan juga sebagai tempat tinggal yang
63
layak. Maka mendahulukan ( ُ‫ش شئز‬١‫ ) ؽ‬lebih penting bagi mereka. Tafsir ayat

Al-Baqarah / 2 : 35 adalah bahwa Allah SWT memuliakan Adam AS, kemudian

63
Abdul Azhîm Muth’inî, op.cit.,h . 188
77

Allah SWT memerintakan kepada para Malaikat bersujud kepadanya, kemudian

mereka bersujud kecuali Iblîs, dan Allah SWT memberikan kebebasan memakan

sesukanya ( ragadan ), kemudian Allah SWT menguji Adam dan istrinya dengan

perintah menjauhkan pohon larangan, namun dengan godaan syaithan akhirnya

keduanya melanggar larangan Allah, karena itu Allah menyuruh mereka keluar dari

surga tersebut hingga datangnya waktu kiamat. Sedangkan dalam ayat Al-Baqarah / 2

: 58, perintah Allah ditujukan kepada Bani Israil untuk memasuki Baitul Maqdîs

setelah menaklukan orang-orang kafir. Mereka diperintahkan memasuki kota itu

dengan menundukan kepala ( sujûd ), kemudian bersyukur dan beristigfar kepada

64
Allah, lalu Allah menambahkan nikmat-Nya.

Kesembilan : Tentang syafâ‟at dan keadilan ( ‫ اٌؼذاٌخ‬ٚ ‫) اٌشفبػخ‬. Terdapat dua

redaksi yang sama tetapi kata “ syafâ‟ah “ didahulukan dalam suatu ayat dan

diakhirkan dalam ayat yang lain. Yaitu :

( a ). Surat Al-Baqarah / 2 : 48 berbuyi :

‫ئخز‬٠ ‫ال‬ٚ ‫ب شفبػخ‬ِٕٙ ً‫مج‬٠ ‫ال‬ٚ ‫ئب‬١‫ ٔفظ ػٓ ٔفظ ش‬ٞ‫ِب ال رغض‬ٛ٠ ‫ا‬ٛ‫ارم‬ٚ

) 48 :2 / ‫ْ ( اٌجمشح‬ٚ‫ٕصش‬٠ ُ٘ ‫ال‬ٚ ‫ب ػذي‬ِٕٙ

Artinya :
“ Dan jagalah dirimu dari ( `azab ) hari ( kiamat, yang pada hari itu )
seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan ( begitu
pula ) tidak diterima syafa`at dan tebusan daripadanya, dan tidaklah mereka
akan ditolong. “ ( Al-Baqarah / 2 : 48 )

64
Ibn Katsîr, op.cit., h.54-55, dan 68
78

( b ). Terdapat dalam surat Al-Baqarah / 2 : 123 berbuyi :

‫ب‬ٙ‫ال رٕفؼ‬ٚ ‫ب ػذي‬ِٕٙ ً‫مج‬٠ ‫ال‬ٚ ‫ئب‬١‫ ٔفظ ػٓ ٔفظ ش‬ٞ‫ِب ال رغض‬ٛ٠ ‫ا‬ٛ‫ارم‬ٚ

) 123 : 2 / ‫ْ ( اٌجمشح‬ٚ‫ٕصش‬٠ ُ٘ ‫ال‬ٚ ‫شفبػخ‬

Artinya :
“ Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat
menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu
tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfa`at sesuatu syafa`at
kepadanya dan tidak ( pula ) mereka akan ditolong. “ ( Al-Baqarah / 2 : 123 )

Dalam kedua redaksi ayat di atas terdapat perbedaan yang nyata :

( 1 ). Dalam ayat pertama, Al-Baqarah / 2 : 48, didahulukan lafazh ( ‫) اٌشفبػخ‬

terhadap ( ‫ ) اٌؼذي‬sedangkan lafazh ( ‫ ) اٌشفبػخ‬menjadi nâib-fâ‟il dari fi‟il yang

manfi ( ً‫مج‬٠ ‫ ) ال‬dan lafazh ( ‫ ) اٌؼذي‬menjadi nâib fâ‟il dari fi‟il ( ‫ئخذ‬٠ ‫) ال‬.

( 2 ). Dalam ayat kedua , Al-Baqarah / 2 : 123, didahulukan lafazh ( ‫) اٌؼذي‬

terhadap ( ‫) اٌشفبػخ‬, sedangkan lafazh (‫ ) اٌؼذي‬menjadi nâib-fâ‟il dari fi‟il yang manfi

( ً‫مج‬٠‫) ال‬, sebagaimana lafazh ( ‫ ) ا ٌشفبػخ‬menjadi nâib-fi‟il dalam ayat pertama.

( 3 ). Lafazh ( ‫ ) اٌشفبػخ‬diakhirkan dalam ayat kedua, dengan berganti fi‟il

yang menjadi musnad ( predikat ) lafazh ( ‫ ) اٌؼذي‬dalam ayat pertama, yaitu fi‟il

( ‫ئخز‬٠‫) ال‬, ketika diakhirkan.

Abdul Azhîm Muth’inî memberikan penjelasan tentang kedua redaksi ayat di

atas, sebagai berikut :


79

( 1 ). Kembalinya dlamîr dalam ayat pertama ( ‫ب شفبػخ‬ِٕٙ ً‫مج‬٠ ‫ال‬ٚ ) tentu

kepada jiwa ( nafs ) karena ayat ini berbicara tentang mereka yang tidak bisa

memberikan pertolongan kepada orang lain, juga tidak diterima syafa’at dan juga

tebusan. Karena itu jika kembalinya dhamîr ( ‫ب‬ِٕٙ ) dalam ayat di atas bukan kepada

jiwa ) orang yang berbuat dosa ), maka redaksi ayat seharusnya seperti ini ( ً‫مج‬٠ ‫ال‬ٚ

‫ب شفبػخ‬ٙ١‫) ف‬. Jika kembalinya dhamir pertama kepada nafs ( orang yang berbuat dosa

yang tidak bisa memberi pertolongan ), maka kembalinya dhamir dalam ( ‫ئخز‬٠ ‫ال‬ٚ

‫ب ػذي‬ِٕٙ ) kepada jiwa juga. Dengan demikian ayat Al-Baqarah / 2 : 48, mempunyai

makna bahwa seorang mu’min tidak bisa memberikan pertolongan kepada orang lain,

dan yang mendapatkan syafa’at tidak dapat memberikan syafa’at kepada orang lain,

atau pemberian syafa’atnya itu ditolak. Jika dimintakan ganti dari syafa’at kepada

tebusan, maka tebusan itu juga ditolak. Ayat Al-Baqarah / 2 : 123 menjelaskan,

bahwa di akhirat itu semua hubungan kehidupan sosial terputus ( baik kepada kedua

orang tua, anak, saudara, ataupun istri ). Sebagaimana ditegaskan Allah dalam surat

An-Najm / 53 : 39 yaitu :

) 39 :53 / ُ‫ ( إٌغ‬ٝ‫ظ ٌإلٔغبْ اال ِب عؼ‬١ٌ ْ‫أ‬ٚ

“ Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah
diusahakannya. “ ( An-Najm / 53 : 39 )

Dengan demikian jelas kembalinya dlamîr kepada ayat-ayat ( ٜ‫) ال رغض‬, ( ‫ال‬

ً‫مج‬٠ ), ( ‫ئخز‬٠ ‫ال‬ٚ ).


80

( 2 ). Sedangkan dlamîr dalam ayat kedua ( Al-Baqarah / 2 : 123 ), hanya

kembali kepada jiwa orang kedua yang berbuat maksiat. Dengan maksud bahwa

orang-orang yang berbuat maksiat pada hari kiamat tidak bisa digantikan sedikitpun,

meskipun itu mempunyai hubungan kekeluargaan. Dan apabila ia ingin menggantikan

tebusan maka tebusan itu tidak diterima, dan apabila memberikan syafa’at kepada

orang lain, maka tidak bermanfa’at.

Sedangkan mendahulukan ( ‫ ) اٌشفبػخ‬dalam ayat pertama dan mengakhirkan

dalam ayat kedua, juga mengakhirkan ( ‫ ) ػذي‬dalam ayat pertama dan

mendahulukannya dalam ayat kedua, adalah bertujuan untuk meniadakan harapan

( raja‟ ), terhadap jiwa seseorang di hari Kiamat, dan menyatakan penolakan terhadap

Bani Israil meskipun bapak-bapak mereka adalah para nabi, sehingga mereka mengira

65
akan mendapatkan syafa’at dari bapak-bapak mereka di hari Kiamat. Demikianlah

maksud taqdîm dan ta‟khîr dalam ayat di atas.

Kesepuluh : Tentang ( ‫ ) اٌٍؼت‬dan ( ٌٍٛٙ‫ ) ا‬yaitu main-main dan senda gurau.

Dalam hal ini terdapat empat tempat dalam Al-Qur’an, didahulukannya ( ‫) اٌٍؼت‬

terhadap ( ٌٍٛٙ‫) ا‬. Yaitu :

1. Dalam surat Al-An’âm / 6 : 32, bunyi ayat :

*ٍْٛ‫ْ أفال رؼم‬ٛ‫زم‬٠ ٓ٠‫ش ٌٍز‬١‫خشح خ‬٢‫ٌٍذاس ا‬ٚ ٌٛٙٚ ‫ب اال ٌؼت‬١ٔ‫بح اٌذ‬١‫ِب اٌؾ‬ٚ

) 32 : 6/ َ‫( األٔؼب‬
65
Abdul Azhîm Muth’inî, op.cit., h. 189-194
81

Artinya :
“ Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau
belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang
bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya ? “ ( Al-An‟âm / 6 : 32 ).

2. Dalam surat Al-An’âm / 6 : 70, bunyi ayat :

) 70 :6 / َ‫ب ( األٔؼب‬١ٔ‫بح اٌذ‬١‫ُ اٌؾ‬ٙ‫غشر‬ٚ ‫ا‬ٌٛٙٚ ‫ُ ٌؼجب‬ٕٙ٠‫ا د‬ٚ‫ٓ ارخز‬٠‫رس اٌز‬ٚ


“ Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai
main-main dan senda-gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. “
( Al-An‟âm / 6 : 70 )

3. Dalam surat Muhamad / 47 :36 :

ُ‫غؤٌى‬٠ ‫ال‬ٚ ُ‫سو‬ٛ‫ئرىُ أع‬٠ ‫ا‬ٛ‫رزم‬ٚ ‫ا‬ِٕٛ‫اْ رئ‬ٚ ٌٛٙٚ ‫ب ٌؼت‬١ٔ‫بح اٌذ‬١‫أّب اٌؾ‬

) 36 : 47/ ‫اٌىُ* ( ِؾّذ‬ِٛ‫أ‬


Artinya :
“ Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan
jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu
dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.“ ( Muhamad / 47: 36 )
4. Dalam surat Al-Hadâd / 57 : 20

‫اي‬ِٛ‫ األ‬ٟ‫رىبصش ف‬ٚ ُ‫ٕى‬١‫رفبخش ث‬ٚ ‫ٕخ‬٠‫ص‬ٚ ٌٛٙٚ ‫ب ٌؼت‬١ٔ‫بح اٌذ‬١‫ا أّٔب اٌؾ‬ٍّٛ‫اػ‬

) 20 :57 / ‫ذ‬٠‫الد ( اٌؾذ‬ٚ‫األ‬ٚ

Artinya :
“ Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan
dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu
serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak. “ ( Al-Hadîd /
57 : 20 ).
82

Kemudian didahulukannya ( ٌٍٛٙ‫ () ا‬senda gurau ) terhadap ( ‫اٌٍؼت‬ )

( permainan ), terdapat dalam dua tempat, yaitu :

1. Dalam surat Al-A’râf / 7 : 51 Yaitu :

‫ا‬ٛ‫َ ٕٔغبُ٘ وّب ٔغ‬ٛ١ٌ‫ب فب‬١ٔ‫بح اٌذ‬١‫ُ اٌؾ‬ٙ‫غشر‬ٚ ‫ٌؼجب‬ٚ ‫ا‬ٌٛٙ ُٕٙ٠‫ا د‬ٚ‫ٓ ارخز‬٠‫اٌز‬

) 51 :7 /‫ْ ( األػشاف‬ٚ‫غؾذ‬٠ ‫برٕب‬٠‫ا ثآ‬ٛٔ‫ِب وب‬ٚ ‫ُ ٘زا‬ِٙٛ٠ ‫ٌمبء‬

Artinya :
“ ( Yaitu ) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai senda
gurau dan main-main, dan kehidupan dunia telah menipu mereka". Maka
pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka
melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka
selalu mengingkari ayat-ayat Kami. “ ( Al-A‟râf / 7 : 51 ).

2. Dalam surat Al-Angkabut / 29 : 64 yaitu :

‫ا‬ٛٔ‫ وب‬ٌٛ ْ‫ا‬ٛ١‫ اٌؾ‬ٌٟٙ ‫خشح‬٢‫اْ اٌذاس ا‬ٚ ‫ٌؼت‬ٚ ٌٛٙ ‫ب اال‬١ٔ‫بح اٌذ‬١‫ِب ٘زٖ اٌؾ‬ٚ

) 64 :29 /‫د‬ٛ‫ْ * ( اٌؼٕىج‬ٍّٛ‫ؼ‬٠

Artinya :
“ Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main.
Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka
mengetahui. “ ( Al-Ankabût / 29 : 64 )

Az-Zarkasyi ( w. 794 H ) menyebutkan, bahwa alasan didahulukan lafazh

( ‫ ) اٌٍؼت‬terhadap lafazh ( ٌٍٛٙ‫ ) ا‬dalam beberapa ayat di atas, karena ( ‫) اٌٍؼت‬

( permainan ) itu banyak dilakukan ketika masa kanak-kanak ( shiba’ ). Sedangkan

( ٌٍٛٙ‫ ( ) ا‬senda-gurau ) sering terjadi di masa dewasa ( syabbab ). Waktu sibâ’ lebih
83

dahulu datangnya dari pada masa syabab. Sedangkan alasan mendahulukan ( ٌٍٛٙ‫) ا‬

terhadap ( ‫) اٌٍؼت‬, dalam surat Al-A’râf menurut beliau, karena senda gurau akan

berakhir setelah datangnya hari Kiamat dan juga dimulai dengan dua masa tadi, yaitu

masa shibâ’ dan masa shabab. Dan dalam surat Al-Ankâbut / 29 : 64 didahulukan

( ٌٍٛٙ‫) ا‬, karena masa-masa syabab ( muda ) lebih banyak senda-guaru dibanding pada

masa shibâ’. Dan didahulukan (ٌٍٛٙ‫ ) ا‬dimaksudkan juga, untuk memberi isyarat

bahwa kehidupan di dunia lebih cepat dan tidak kekal ( fana’ ) dibanding dengan

kehidupan akhirat. Demikian menurut Az-Zarkasyi dalam kitab al-burhân

66
sebagaimana diungkap oleh Abdul Azhîm Muth’inî dalam kitabnya.

D. Analisis tentang taqdîm dan ta’khîr.

Setelah melalui proses panjang pembahasan tentang taqdîm dan ta‟khîr ini,

penulis baru bisa menganalisis tentang terjadinya perubahan-perubahan redaksi dalam

ayat-ayat Al-Qur’an yang merupakan bacaan umat Islam dan menjadi pedoman

hidup. Untuk memahami isi kandungan Al-Qur’an tersebut dengan benar tentu kita

harus memahami jalan atau cara untuk mencapai tujuan tersebut, tentu dalam hal ini

berkenaan dengan beberapa syarat serta kaidah yang diperlukan bagi seorang

mufassir. Karena itu proses pencapaian tujuan tersebut memerlukan pemahaman

kajian ilmu-ilmu bahasa ( nahwu-sharf, balaghah dan sastra, ) dan ilmu-ilmu lainya

66
Ibid., h. 194 –195,
84

yang mendukungnya, seperti ; ushul tafsir, ushul fiqh, ilmu mantiq, nasikh-mansukh,

asbab nuzul, serta qirâ‟at yang keseluhannya merupakan sumber-sumber utama

dalam kajian Al-Qur’an.

Sedangkan kajian taqdîm dan ta‟khîr adalah salah satu dari sekian banyak cara

untuk memahami isi dan rahasia kandungan Al-Qur’an. Dan bila dilihat dari

definisinya, sebagaimana dibahas dalam bab II taqdîm dan ta‟khîr itu merupakan

kaidah dasar ilmu bahasa, sebagaimana dipahami dalam pandangan ulama nahwu,

ulama balaghah serta ulama lainnya. Menurut ulama nahwu, sebagaimana diungkap

oleh Mushtafah al-Ghalayini, bahwa taqdîm dan ta‟khîr adalah mendahulukan

kedudukan mubtada‟ sebagai muhkûm alaih ( subjek ) dan mengakhirkan khabar

sebagai mahkûm bih ( predikat ) dan kedua bentuk tersebut terkadang didahulukan

atau diakhirkan sesuai kehendak pembicara. Sedangkan menurut yang lain, seperti

ulama balaghah dan tafsîr misalnya, az-Zarkasyi ( w. 794 H ), bahwa taqdîm dan

ta‟khîr merupakan gaya bahasa ( uslub ) balaghah, yang lebih mementingkan

pemakaian kata-kata atau kalimat sehingga menjadi susunan kalimat yang indah dan

menarik. Di anrata taqdîm dan ta‟khîr ini, seperti mendahulukan khabar terhadap

mubtada’ dan sebaliknya, mendahulukan musnad ilaih terhadap musnad. Kemudian

berkembang pemahamannya sesuai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan.,

seperti taqdîm dan ta‟khîr dalam balaghah dan sastra umpamanya mendahulukan

dengan tujuan-tujuan tertentu, antara lain untuk mengkhsuskan ( takhshîsh ),

penyesuaian konteks ( siyaqul kalâm ), menjaga akhir kalimat ( murâ‟atul fawâshil ),

dengan macam bentuk-bentuk taqdîm dan ta‟khîr dalam al-Qur’an. Juga metode ini
85

berkembang dimulai dari ulama balaghah yang dipelopori oleh Abdul Qâhir Al-

Jurjâni ( w. 471 H ), dan Khatîb Al-Qazwaini ( w. 379 H ), kemudian dikembangkan

lagi oleh ulama tafsir dan ulama-ulama lainnya, seperti ; Ibnu Shâ’ig dan diterusakan

oleh As-Suyûti ( w. 911 H ), Az-Zarkasyi ( w. 794 H ) dan ulama-ulama tafsir

lainnya, seperti Abu Su’ûd dan al-Zamakhsyari dan sebagainya. Dan dari perbedaan

macam bentuk taqdîm dan ta‟khîr serta metode yang dikembangkan masing-masing

ulama, mereka tidak bergeser dari unsur-unsur berikut ini :

a. Hakikat taqdîm dan ta‟khîr

b. Urgensi taqdîm dan ta‟khîr serta macam-macam dan bentuknya.

Dari urgensi ( tujuan ) taqdim menurut ulama balaghah di atas terdapat tujuan

secara khusus dan juga secara umum. Tujuan secara khusus, seperti untuk tujuan

takhsis, dan sebagainya dan tujuan secara umum seperti untuk ihtimâm terhadap yang

didahulukan ( bil muqadam ) dan sebagainya. Macam-macam taqdîm juga terdapat

pembagian dan bentuknya, seperti ; mendahulukan dengan niat untuk mengakhirkan,

seperti ; mendahulukan khabar terhadap mubtada’, mendahulukan maf‟ûl terhadap

fâ‟ilnya. Macam taqdim yang lain, seperti mendahulukan tidak bertujuan ta‟khîr,

seperti mendahulukan mubtada‟ terhadap khabar, mendahulukan fâ‟il terhadap

fi‟ilnya dan sebagainya.

Menurut pandangan ulama bahasa, dalam taqdîm dan ta‟khir terdapat banyak

perbedaan pendapat, seperti pendapat ulama Bashrah dan Kufah dalam ilmu nahwu

dan sharf, mereka masing-masing mempunyai argumentasi yang kuat sebagaimana

diungkap dalam pembahasan bab III. Dengan demikian taqdîm dan ta‟khîr bukan saja
86

ilmu yang tersusun dengan kaidah-kaidah ilmu nahwu dan sharf, akan tetapi juga

seni bahasa dalam rangka menyusun bentuk kalimat yang indah yang tidak terikat

dengan kaidah-kaidah tertentu yang telah dikembangkan oleh ulama balaghah dan

ulama-ulama lainnya. Sehingga dengan berkembangnya pemahaman luas tentang

taqdîm dan ta‟khîr terdapat juga bentuk taqdîm dan ta‟khîr secara istilah dan juga

secara bukan istilah. Taqdîm dan ta‟khîr semacam ini, dikenal dengan istilah ulama

balaghah, ulama sastra dan juga ulama tafsir, dengan bentuk taqdîm dalam suatu ayat

dan takhîr dalam ayat yang lain. Ini banyak dicontohkan dalam Al-Qur’an dengan

taqdîm bukan istilah ( taqdîm gharu istilahi ). Demikian taqdîm dan ta‟khîr dalam al-

Qur’an. *

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an Al-Karîm

Abdul Bâqi, Muhamad Fuâd, Al-Mu‟jam Al-Mufahrâs Li Al-Fâzh Al-Qur‟ân Al-

Karîm, Kairo : Dar Al-Hadîts, 1411 H / 1991 M, Cet. Ke-3

Akhdhori, Imâm, Ilmu Balâghah ( al-Ma’ni, Bayn, Badî’ ) ( terj. ), Jauhar Al-

Maknûn, Bandung : PT. Al-Ma’ârif, 1982 M, Cet. Ke-6

Al-Baili, Ahmad, Al-Ikhtilaf Baina Al-Qirâ‟at, Bairut : Dârul Jail, 1408 H / 1988 M,

et. Cet. Ke-1


87

Anbâri, Abdullah, Al-, ( w. 577 H ), Al-Inshâf Fi Masâ‟il al-Khilâf Baina al-

Nahwiyîn Al-Bashrîyîn Wa Al-Kûfîyyîn, Beirut : Dar Al-Kutûb Al-

Ilmiyah, 1418 H / 1998 M, Jilid ke-1, Cet. Ke- 1

Athief Zein, Sâmih, Majma‟ Al-Bayân Al-Hadîts ( Tafsir Mufradât Li Al-Alfâzd Al-

Qur’an Al-Karîm ), Beirut : Maktabah Al-Kitab Al-Lubnâni, 1404 H /

1984 M, cet. Ke-2.

……………….., Ushûl al-Fiqh Al-Muyassar Al-Muqadimah Li Al-Maushu‟ah Al-

Ahkâm As-Syar‟iyah Fi Al-Kitab Wa As-Sunnah, Beirut : Dar Al-Kitab

Al-Lubnani, 1410 H / 1990 M, cet. Ke- 1

Baidhâwi, Nashiruddîn, Tafsir Al-Baidhâwi ( Anwar al-Tanzîl Wa Asrâr al-Ta‟wîl ),

Beirut : Dar-Kutûb Ilmiyah, 1416 H / 1996M

Cowan, J. Milton, Mu‟jam Al-Lughah Al-Arabiyah Al-Mu‟ashirah ( Dictionary of

Modern Written Arabic, Hans Wehr ( Arabic-English ), Beirut :

Maktabah Lubnan, 1974, cet. Ke-3

Dayyab, Hifni Bek, ( ed. ), Kaidah Tata Bahasa Arab terjemahan Prof. Dr. Chatîbul

Umam et.al, Jakarta : Darul Ulum Press, t.th, cet. Ke-3

Echols, M. John, ( et.al ), Kamus Inggris Indonesia, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka

Utama, 1976, cet. Ke- 23

Ghalâyini, Syeikh Mushthafa, Al-, Jâmi‟ud Durûs Al-Arabiyah, Beirut : Al-Maktabah

Al-Ashriyah, 1441 H / 1991 M Jilid 1, cet. Ke-23

Hasan, Abbâs, An-Nahwu Al-Wâfi‟, Kairo : Dar- Al-Ma’ârif, t.th, cet. Ke- 11
88

Hâsyimi, Sayyid Ahmad, Al-, Jawâhir Al-Adab Fî Adabiyat Wa Insya‟ Lughatul

Arab, Kairo : Maktabah As-Tsaqâfah Ad-Diniyah, 13 89 H / 1969 M,

Jilid ke-1, cet. Ke- 27

Ibn Aqîl, Jamâluddin, Syarkh Ibn Aqîl, ( tahqiq HA. Fahuri ), Beirut : Dar Al-Jeil t.th,

cet. ke-1

Ibn Katsîr, Mukhtasyar Ibn Katsîr, ( Tahqiq : Muhamad Ali Shâbuni ), Kairo : Dar

As-Shâbuni, t.th

Ismâil, Sya’bân Muhamad, Dr., Al-Qirâ‟at Ahkâmuha Wa Mashdaruha , Kairo :

Darussalâm Li al-Thibâ’ah Wa Nasr Wa Al-Tawzi’, 1406 H / 1986 M

Jârim, Ali, Al-, dan Mustafa Amîn, Al-Balâghah Al-Wadhihah ( terj. ) Bandung :

Sinar Baru Algesindo, 1994, cet. Ke-1

Jurjâni, Abdul Qâhir Al-, Dala‟il I‟jâz, Beirut : Dar-Al-Kutub al-Ilmiyah, t.th,

Jurjâni, Muhamad Al-, ( w. 471 H ), Kitab Asrârul Balâghah, Kairo : Mathba’ah Al-

Madani, 1412 H / 1991 M, cet. Ke-1

Khifnî, Abdul Mun’im Al, Dr. , Kitab At-Ta‟rifat, Kairo : Dar Al-Rasyad, 1991

Ma’luf, Louis, Al-Munjîd, Beirut : Dar Al-Masyriq, 1986, cet. Ke-4

Muhamad, Ahamad Sa’at, Al-Ushûl Al-Balâghiyah Fî Kitab Sibaweih, Kairo :

Maktabah Adab, 1419 H / 1999 M, cet. Ke-1

Munawwir, Ahmad Warson, Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, Surabaya :

Pustaka Progressif, 1997


89

Mutawalli, Abdul Hamîd Mahmûd, Al-Mustanîr Fî Ulûmil Qur‟an, Kairo : Maktabah

Wa Mathba’ah Mushthafa AlBâbili Al-Halabi Wa Awlâduhu, 1411 H /

1991, cet. Ke-1

Muth’inî, Abdul Azhîm bin Ibrâhim Al-, Khasa‟is At-Ta‟bir Al-Qur‟ani Wa Simatuhu

Al-Balâghiyah, Kairo : Maktabah Wahbah, 1413 H / 1992, Jilid ke-2

Qâbil Nasr, Athiah, Al-Qabsul Jâmi‟ Li Qira‟ati Nafi‟ Min Tharîq Al-Syâtibiyah,

Kairo : t.t : 1415 H / 1994 M, Cet. Ke-1

Qattân, Manna’ Khalîl, Al-, Nuzul Al-Qur‟an „Ala Sab‟ati Ahrufin, Kairo : Maktabah

Wahbah, 1411 H / 1991 M, Cet. Ke-1

………………….…, Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur‟an, ( terj. ), Drs. Muzakir As, Bogor :

Pustaka Litera Antar Nusa, 1996 M, cet. Ke-3

Qazwaini, Khatîb, Al-, Al-Idhâh Fî Ulûmi al-Balâghah, Beirut : Dar Al-Kutub Al-

Ilmiyah, t.th

Sakkaki, Al-, Miftâhul Ulûm, Beirut : Dar Al-Kutub Ilmiyah, 1403 H / 1993

Sibawaih, Abu Basyar bin Usman bin Qanbar, ( tahqiq : Abdul Salam Muhamad

Harun, Kitab Sibawaih, Beirut : Dar Al-Jeil, t.th, Jilid ke-1, cet. Ke- 1

Suyuti, Imâm Jalâluddin, Al-, Al-Itqân Fî Ulûmil Qur‟an, Beirut : Dar Al-Fikr, 14 16

H / 1996, cet . ke-1

……………………….., Ad-Dûr Mantsûr Fî Tafsîr Bil Ma‟tsûr, Beirut : Dar Al-

Kutub Ilmiyah, 1421 H / 2000 M, Jilid ke-3, Cet. Ke-1

Shihâb, Quraish, Dr. , Membumikan Al-Qur‟an, Bandung : Mizan, 1992, cet. Ke- 2
90

Syeikhûn, Muhamad, Dirâsat Fî Al-Lughah Al-Arabiyah Wa Adâbuha, Kairo :

Dirasat Al-Islamiyah Wa Al-Arabiyah, 1417 H / 1996

Zamakhsyari, Abu Qâshim Mahmûd bin Umar, Al-, Asas al-Balâghah, Beirut : Dar

Al-Fikr, 1409 H / 1989 M

…………., Al-Kasyâf „An Haqâ‟iq Ghawâmidh At-Tanzil Wa Uyun Al-Aqâwil Fî

Wujûh At-Ta‟wil, Beirut : Dar Al-Kutub Ilmiyah, 1415 H / 1995 M, cet. 1

Zarkasyi, Imam Badrudin bin Muhamad Abdullah, Al-, Al-Burhân Fî Ulûmil Qur‟an,

Kairo : Tabâ’ah Al-Halabi, 1973

Zarqâni, Syeikh Muhamad Abdul Azhîm, Al-, Manâhil Irfân Fi Ulûmil Qur‟an,

Kairo: Maktabah Al-Halabi, t.th ***


91

RIWAYAT HIDUP PENULIS

Hasbullah Diman, lahir di Jakarta, 5 Juni 1968 dari pasangan Bapak H. Diman

( Jakarta ) dan Hj. Asmanih ( Jakarta ) kedua sudah Al-Marhum dan Al-Marhumah.

Dengan Pendidikan Dasar SDN 07 Pulo Gebang Jakarta Timur ( 1981 ), dan SMP

Negeri 138 Cakung Jakarta-Timur ( 1983 ), KMI Pondok Moden Gontor Ponorogo,

Jawa-Timur ( 1990 ).

Menyelesaikan Sarjana ( S1 ) di Al-Azhar University, jurusan Studi Islam dan

Bahasa Arab, Cairo-Mesir ( 1999 ). Dan pernah mengecap pendidikan SMA As-

Syafi’iyah, Jatiwaringin hanya satu tahun, kemudian pindah ke Pesantren Gontor

hingga selesai. Pernah menjadi staff pengajar di KMI Pondok Modern Arisalah,

Bakalan, Ponorogo ( 1990 ), pengajar di KMI Majlis Qurra’ Wal Huffadz Tuju-tuju-
92

Kajuara-Bone, Sulawesi-Selatan ( 1991 ), sebelum menyelesaikan ( S1 ) di Al-Azhar,

Kairo-Mesir.

Dan tahun 2000 melanjutkan ( S2 ) di Pascasarjana UIN ( Syarif

Hidayatullah ), Jakarta, jurusan Tafsir-Hadits ( 2000- 2004 ) dengan tesis “ Taqdîm

dan Ta‟khîr Dalam Al-Qur‟an “ ( Analisis Kebahasaan dengan Tafsir Terhadap Ayat-

Ayatnya ), sampai pada hari disidangkannya.

Dan kegiatan sehari-hari menjadi staf pengajar di Ma’had Da’wah dan Ilmu

Pengetahuan Islam, Al-Husnayain, Bekasi. Dan tinggal di Jakarta-Timur bersama

Istri tercinta Hj. Barkah dan kedua-anak, Asyrof Arobi ( 5,1 tahun ) dan Sofwatun

Nada’ ( 2,10 tahun ). Dan didampingi oleh seorang ibunda mertua tercinta. ***
93