You are on page 1of 10

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar belakang

Bermain adalah perangat untuk membangun penegtahuan anak. Menurut pieget yang telah

menghabiskan hidupnya untu mengamati berbagai perilaku anak dalam berbagai bentuk riset.

Dapat disumpulan bahawa bermai bagi anak adalah alat untuk membangun rumah pengetahuan

merea agar menjadi kuat (sefrizal, dkk,2012)

Seorang memperoleh pengetahuan bukan hanya melalui informasi dari lingkungan atau

dengan meminta kegiatan kepada orang lain, melainkan juga dalam proses bermain mereka.

Mereka membangaun pengetahuan kecakapannya sendiri secara perlahan, terus menerus dan

memodifikasi sesuai dengan pemahaman mereka sebagai anak. Dan dengan melalui proses

bermain ini dapat dimasukan dalam kurikulum pengajaran berbasis local. Melalui permainan

tradisional selain meningkatkan pengethuan juga melestarikan budaya bangsa.

Melalui pendidikan berbasis budaya dapat memmbantu siswa, menjajaki nilai-nilai yang

merea miliki secara kritis agar meningkat mutu pemikiran dan peerasaan mereka mengenai nilai-

nilai budaya yang ada dalam masyarakat.

Hasil penelitian kurniati, menunjukan bahwa permainan anak tradisional dapat menstimulus

ana dalam mengembangkan kerjasama, membantu ana menyesuaikan diri, saling berinterasi

secara positif, dapat mengkondisikan anak dalam mengkontrol diri, mengembangkan sikap

empati terhadap teman, menaati aturan serta menghargai orang lain. Pelestarian permainan

tradisional penting untuk dilakukan dengan cara memperkenalkan dan memainkan permainan
tradisional bersama anak, disertai dengan upaya penyadaran kepada pihak-pihak terkait

khusunya orang tua.

Rogers dan sawyer’s hingga anak usia seolah bermain bagi anak memiliki arti yang sangat

penting, adapun nilai-nilai penting bagi anak dalam permainan yaitu:

 Meningkatkan kemampuan problem solving pada anak

 Menstimulasi perkembangan bahasa dan kemampuan verbal

 Mengembangan keterampilan sosial

 Merupakan wadah pengekspresian emosi

Permainan tradisional sudah mulai hilang di masyarakat mingkabau padahl banyak nilai-

nilai filosofi dan kearifan local ada di dalamnya. Permainan tradisional merupakan salah satu

langkah dalam mempertahannya kebudayaan selain untuk menghibur diri juga sebagai sarana

mempertahankan hubungn dan kenyaman sosial.

Dalam permainan tradisional terdapat nilai-nilai pendidikan, mendidik sambil bermain

hormat kepada yang basar dan sayang kepada yang kecil. Nilai-nilai ini masih sangat relevan

diberikan pada masa sekarang untuk membentuk sebuah kepribadian yang berkarakter.

Mustifah (2008) menulis buku dengan judul Cerdas Melalui Bermain yang

menginformasikan bahwa bentuk-bentuk permainan dapat mengasah multiple intelegensi pada

anak usia dini. Multiple intelegensi dapat diasah dari permainan adalah permainan stimulasi

untuk kecerdasan bahasa, kecerdasan logika matematik, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan

kinestetik, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan

naturalis, dan kecerdasan eksistensialis. Bentuk permainan itu dibedakan lagi untuk anak yang
berusia antara 4-5 tahun dengan anak yang berusia 5-6 tahun. Bermain adalah dunia anak dan

bukan hanya sekedar memberikan kesenangan tetapi juga memiliki manfaat yang sangat besar

bagi anak. Lewat kegiatan bermain yang positif, anak bisa menggunakan otot tubuhnya,

menstimulasi penginderaannya, menjelajahi dunia sekitarnya, dan mengenali lingkungan tempat

ia tinggal termasuk mengenali dirinya sendiri. Kemampuan fisik anak semakin terlatih, begitu

pula dengan kemampuan kognitif dan kemampuannya untuk bersosialisasi.

Dalam bahasa sederhana, bermain membuatnya mengasah kecerdasannya karena setiap

anak pada dasarnya memiliki cerdas yang berbeda (Puspita, 2008). Permainan tradisional sangat

besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa, fisik, dan mental anak. Pengaruh dan manfaat

permainan tradisional terhadap perkembangan jiwa anak adalah (1) anak menjadi lebih kreatif,

(2) bisa digunakan sebagai terapi terhadap anak, serta (3) mengembangkan kecerdasan majemuk

anak, yaitu kecerdasan intelektual anak, kecerdasan emosi dan antarpersonal anak, kecerdasan

logika anak, kecerdasan kinestetik anak, kecerdasan natural anak, kecerdasan spasial anak,

kecerdasan musikal anak, dan kecerdasan spiritual anak.


BAB II

PEMBAHASAN

Memberikan pendidikan sebaiknya dilakukan sedini mungkin, bahkan disarankan waktu

anak dalam kandungan. Bentuk pemberian pendidikan ini yang berbeda-beda tergantung usia

dari anak tersebut. Mengingat pentingnya pendidikan itu maka dilakukan berbagai cara, bahkan

melalui permainan pendidikan juga dapat diberikan, salah satu permainan tradisional di

minangkabau ialah Manjalo. Permainan tradisional “Manjalo” salah satu permainan yang

berkembang pada masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat pada tempo dulu. Permainan

tradisional “Manjalo” sebagai bagian dari permainan yang lahir dari tuntutan kondisi alam

Minangkabau yang sarat dengan kondisi alam yang memiliki gunung, sungai, dan dataran tinggi

dan laut. Permainan tradisional “Manjalo”termasuk permainan tradisional yang berkembang

sesuai dengan aktivitas masyarakat yang sering menjala ikan yang sering dilakukan oleh

masyarakat Minangkabau pada tempo dulu.

Permainan tradisional ini pada masa lalu, merupakan kegiatan yang dilakukan oleh anak-

anak secara bersama-sama atas kehendak sendiri tanpa adanya paksaan. Permainan tradisional ini

tidak bisa lepas dari kehidupan anak-anak pada masa lalu,karena permainan tradisional ini

sebagai wahana dalam mengembangkan sikap sosial anak.

Anak dilahirkan dengan potensi memiliki kemampuan untuk berkembang secara baik,

tetapi mereka tidak mungkin sepenuhnya melakukan sendiri. Anak-anak dalam pengembangan

sosialnya membutuhkan bantuan dan program yang sesuai dengan kebutuhannya. Tindakan -

tindakan untuk mengembangkan sosial itu perlu ditangani secara serius melalui pematangan dan

upaya pembelajaran yang tepat.


Selain itu, dalam Best Play (Iswinarti, 2010: 8) menyebutkan bahwa peran ber-main pada

anak berdampak pada sejumlah bidang kehidupan anak, yaitu sebagai berikut,

 Bermain mempunyai peran yang pen-ting dalam belajar. Dalam hal ini, ber-main

dapat melengkapi kegiatan seko-lah anak, yang dapat memberi kesem-patan

kepada anak untuk memahami, meresapi, dan memberi arti kepada apa yang

mereka pelajari dalam seting pen-didikan formal. Secara khusus, bermain

menjadi penting yaitu membantu anak untuk memperoleh ”bukan informasi

khusus, tetapi mindset umum dalam pe-mecahan masalah”.

 Bermain dapat mendukung perkembangan fisik dan kesehatan mental yang baik.

Bermain memfasilitasi anak dalam ber-aktivitas fisik, meliputi kegiatan berolah

raga, yang mengungkinkan meningkat-nya koordinasi dan keseimbangan tu-buh,

serta mengembangkan keterampil-an dalam pertumbuhan anak. Adapun

sumbangan untuk kesehatan mental ada-lah membantu anak untuk membangun

dan mengembangkan resiliensi (daya ta-han) terhadap tekanan dalam hidup.

 Bermain memberi kesempatan untuk me-nguji anak dalam mengahadapi

tantang-an dan bahaya.

Perkembangan sosial merupakan proses pembentukan social self (pribadi dalam

masyarakat) yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya. Sedangkan tujuan

pengembangan sosial anak adalah :


1). Agar anak belajar menerima orang lain,

2). Anak mampu membentuk persahabatan akrap dengan orang lain,

3). Dapat mengembangkan keterampilan yang perlu untuk menjadi anggota yang

kooperatif, partisipatif pada masyarakat demokrasi

Sementara beberapa pola perilaku dalam situasi sosial pada awal masa kanak-kanak,

yaitu sebagai berikut :

1) Kerja sama,

2) Persaingan.

3) Kemurahan hati.

4) Hasrat akan menerima sosial.

5) Simpati.

6) Empati.

7) Ketergantungan

8) Sikap tidak mementingkan diri sendiri. Anak yang mempunyai kesempatan dan

mendapat dorongan untuk membagi apa yang mereka miliki dan yang tidak terus menerus

menjadi pusat perhatian keluarga.

9) Meniru, dengan meniru seseorang yang diterima baik oleh kelompoknya


Keterampilan sosial dalam lingkungan pendidikan merupakan kemampuaj seseorang

merespon lingkungan di dalam mengungkapkan perasaan, memelihara hubungan, dan

mempertinggi hubungan positif antar bangsa. Keterampilan sosial juga berarti Kemampuan

untuk pembiasaan yang sangat efektif bagi pemimpin dan anggotanya di dalam memecahkan

masalah-masalah yang terjadi. Permainan tradisional “Manjalo” ini cukup penting bagi

perkembangan jiwa anak-anak oleh karena itu perlu kiranya bagi anak-anak untuk diberi

kesempatan dan sarana di dalam kegiatan permainannya. Permainan yang diberikan tersebut

hendaknya berupa permainan-permainan edukatif. Dimana permainan tersebut diposisikan

sebagai sarana untuk pendampingan anak yang aktif, efektif, dan menyenangkan serta lebih

mendayagunakan. Permainan yang baik untuk anak adalah permainan yang banyak memberikan

kesempatan kepada anak untuk ikut berpartisipasi dalam permainan dan permainan tersebut

dapat menumbuhkan kemampuan bersosialisasi pada diri anak (Muhiddinur Kamal, dkk: 2016).

Permainan tradisional “Manjalo” juga sarat dengan nilai-nilai sosiologis dan filosofis yang

sangat tinggi. Permainan ini tidak hanya sekedar bermain, mengisi waktu luang semata, tetapi

jauh lebih itu permainan tradidional “Manjalo” ini mampu untuk menumbuhkembangkan dan

meningkatkan kemampuan sosial anak sejak dini.

Permainan tradisonal pada dasarnya sama tuanya dengan kebudayaan manusia. Permainan

tradisional ini tidak dapat dipisahkan dalam perjalanan kebudayaan manusia. Di berbagai

negara termasuk Indonesia memiliki sejarah panjang bagaimana permainan tradisonal pernah

menjadi bagian terpenting dalam kehidupan manusia dan peradaban suatu bangsa. Permainan

tradisional yang sarat dengan dengan sarana dan sarana pendukung menjadikan anak-anak

menjadi kreatif untuk berkreasi dalam menciptakan berbagai permainan maupun alat-alat yang

digunakan dalam permainan tersebut.


Permainan tradisional „Manjalo” sarat dengan nilai-nilai keterampilan sosial sehingga

sangat baik dalam pertumbuhan dan perkembangan sosial anak agar kelak anak memiliki sikap

dan keterampilan sosial dalam menjalani kehidupannya sampai akhir hayatnya. Adapun nilai-

nilai keterampilan sosial yang terkandung dalam permainan tradisional “Manjalo”

((Muhiddinur Kamal, dkk: 2016)) antara lain

1. Pengendalian Diri

2. Bekerjasama dalam Kelompok

3. Mengajak teman untuk Bermain

4. Membantu Teman tanpa Membeda-bedakan.

5. Tanggung Jawab

Dengan demikian, permainan tradisional bukan hanya sekedar permainan saja namun lebih

dari itu permainan tradisional sarat dengan nilai-nilai dalam pengembangan sosial anak. Hal ini

senada dengan pendapat Suseno (1999) yang menyatakan bahwa permainan tradisional sebagai

permainan yang penuh mengandung Wisdom. Sementara itu Iswinarti (2005) mengemukakan

bahwa permainan tradisional memberikan manfaat untuk perkembangan sosial anak.


BAB III

PENUTUP

Dalam rangka unruk mencedaskan sekaligus melestarikan budaya pembelajaran berbasis

kebudayaan local dapat diterapkan disekolah. Pendidikan tida hanya merupakan tanggung jawab

bagi sekolah saja namun juga keluarga dan masyarakat.

Daftar pustaka

Iswinarti. 2010. ”Nilai-nilai Terapiutik Per-mainan Tradisional Engklek untuk Anak Usia

Sekolah Dasar”. Naskah Publikasi. www.google.com. Diakses tanggal 24 September 2012.

Misbach, I. 2006. ”Peran Permainan Tradi-sional yang Bermuatan Edukatif da-lam Menyumbang

Pembentukan Ka-rakter dan Identitas Bangsa”. Laporan Penelitian. Bandung: Universitas

Pen-didikan Indonesia. Tidak diterbitkan.