You are on page 1of 39

PENENTUAN KADAR KOTORAN PADA MINYAK PRODUKSI CRUDE

PALM OIL (CPO) DI PABRIK KELAPA SAWIT


PTPN III AEK NABARA SELATAN

KARYA ILMIAH

CIKITA DEVI DAMANIK


142401034

PROGRAM STUDI D3 KIMIA


DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2018

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


PENENTUAN KADAR KOTORAN PADA MINYAK PRODUKSI CRUDE
PALM OIL (CPO) DI PABRIK KELAPA SAWIT
PTPN III AEK NABARA SELATAN

KARYA ILMIAH

DiajukanUntukMelengkapiTugasAkhirdanMemenuhi
SyaratMencapaiGelarAhliMadya

CIKITA DEVI DAMANIK


142401034

PROGRAM STUDI D3 KIMIA


DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2018

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PERNYATAAN

PENENTUAN KADAR KOTORAN PADA MINYAK PRODUKSI Crude


Palm Oil (CPO) Di PABRIK KELAPA SAWIT PTPN IIIAEK NABARA
SELATAN

TUGAS AKHIR
Saya mengakui bahwa Karya Ilmiah ini adalah hasil karya sendiri, kecuali
beberapa kutipan dari ringkasan yang masing-masing disebut sumbernya.

Medan, Februari 2018

CIKITA DEVI DAMANIK


142401034

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


PENGHARGAAN

Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan YME atas semua
berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan Tugas Akhir
dengan judul Penentuan Kadar Air dan Kadar Minyak pada Ampas Kelapa Sawit
di Pabrik Kelapa Sawit PTPN III Aek Nabara Selatan. Sebagai salah satu syarat
untuk menyelesaikan pendidikan program Diploma III Kimia difakultas
Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa KARYA ILMIAH ini masih jauh
dari kesempurnaan karena adanya keterbatasan pada penulis, baik dari segi
pengetahuan, waktu maupun keterbatasan penulis. Meski demikian penulis
mengharapkan karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pihak yang
telah membaca karya ilmiah ini serta dapat bermanfaat bagi Universitas Sumatera
Utara.
Terimakasih penulis sampaikan kepada kedua orangtua penulis yang selalu
memberikan semangat, cinta dan kasih sayang serta perhatian dan dukungannya
kepada penulis dalam menyelesaikan pendidikan.
Pada masa penyelesaian karya ilmiah ini, penulis penulis telah banyak
mendapatkan dukungan, bantuan, dan juga dari berbagai pihak-pihak yang
terlibat. Oleh karena itu, dengan rasa keikhlasan dan kebaikan Hati, penulis ingin
menyampaikan rasa Terimakasih dan penghargaan kepada
1. Keluarga besar Damanik yang slalu mendukung dan mendoakan yang
terbaik untuk penulis dalam kondisi apapun, tanpa mereka penulis
bukanlah apa-apa.
2. Bapak Drs. Albert Pasaribu, M.Sc selaku dosen pembingbing yang dengan
sabar membimbing dan meluangkan waktunya kepada penulis dalam
penyusunanKaryaIlmiahini.
3. Ibu Dr. Cut Fatimah Zuhra, S.Si., M.Si selaku ketua departemen Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera
Utara.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


4. Bapak Dr. Minto Supeno, MS selaku ketua program studi D-III Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera
Utara.
5. SeluruhstafpengajarFakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam
khususnya jurusan kimia yang telah mendidik penulis dalam
menyelesaikan karya ilmiah ini.
6. Seluruhstafkaryawan di PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III PKS
AEK NABARA SELATAN LABUHAN BATU SUMATERA UTARA
yang telah memberikan bimbingan dan bantuannya kepada penulis
sehingga penulis bisa membuat Karya Ilmiah ini.
7. Teman-temansemasa PKL, Rebecka oktalia purba, Rhud Nainggolan,
Yusuf Manurung yang telah banyak memberikan dukungan dan
perhatiannya kepada penulis serta bersama-sama berjuang dalam dalam
suka dan duka.
8. Teman-temansayaangkatan 2014 yang telah memberikan semangat serta
motivasi kepada penulis dari awal hingga akhir pada masa perkuliahan.
9. SeluruhAnakkossaragih Andi yang telah banyak memberikan dukungan
kepada penulis sehingga penulis menjadi semangat dalam mngerjakan
Karya Ilmiah ini.
10. Rivaldy C Damanik selaku adek yang telahmemberikansemangat dan
dukungan kepada penulis, sehingga penulisdapatmenyeleaikan Tugas
Akhir ini.

Akhir kata penulis mengucapkan Terimakasih kepada semua pihak yang telah
banyak membantu demi selesainya Karya ilmiah ini. Harapan penulis semoga
karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


PENENTUAN KADAR KOTORAN PADA MINYAK PRODUKSI CRUDE
PALM OIL (CPO) DI PABRIK KELAPA SAWIT
PTPN III AEK NABARA SELATAN

ABSTRAK

Dalam proses pengolahan kelapa sawit di Pabrik Kelapa Sawit PTPN III Aek
Nabara Selatan. Telah didapatkan kadar kotoran pada Crude Palm Oil (CPO).
Kadar kotoran yang diperoleh dengan menggunakan pelarut N-heksan yang
disaring dengan menggunakan kertas saring whatmann no. 41 kemudian
dimasukkan kedalam oven yang bersuhu 105°C dan dimasukkan kedalam alat
soklet dan dibiarkan hingga sampel berwarna bening. Kadar kotoran yang
diperoleh sebanyak 2,08522% dan 2,42899%.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


DETERMINATION OF DRIED LEVELS IN CRUDE OIL PALM OIL
(CPO) PRODUCTION IN PALM OIL FACTORY
PTPN III AEK NABARA SELATAN

ABSTRACT

In processing of oil palm at PTPN III Aek Nabara Selatan Oil Mill. Crude Palm
Oil (CPO) has been found. The level of impurities obtained by using N-hexane
solvent is filtered by using filter paper whatmann no. 41 is then fed into the oven
at 105 ° C. and fed into the socket and left until the sample is clear. Levels of dirt
obtained as much as 2.08522% and 2.42899%.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


DAFTAR ISI

Halaman

PERSETUJUAN i
PERNYATAAN ii
PENGHARGAAN iii
ABSTRAK v
ABSTRACT vi
DAFTAR ISI vii
DAFTAR TABEL viii
DAFTAR LAMPIRAN ix
BAB 1 PENDAHULUAN 1
1.2 Identifikasi Masalah 2
1.3 Tujuan 2
1.4 Manfaat 2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 3


2.1 Minyak Kelapa Sawit 3
2.2 Proses Pengolahan Buah Kelapa Sawit 4
2.2.1 Stasiun Penerimaan Buah (Fruit Recifing Station) 4
2.2.1.1. Asam lemak Bebas 7
2.2.1.2 Asam Lemak 7
2.2.1.3. Standar Mutu 8
2.3Kadar Air 14
2.4.Pemurnian Minyak 15
2.5.Manfaat Kelapa Sawit dan Keunggulan pada
Aplikasinya untukKeperluan Pangan 17

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


BAB 3 BAHAN DAN METODE 19
3.1 Alat 19
3.2 Bahan 19
3.3 Prosedur Percobaan 19

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 20


4.1. Data 20
4.2. Perhitungan 20
4.3 Pembahasan 21

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 23


5.1. Kesimpulan 23
5.2. Saran 23

DAFTAR PUSTAKA 24
LAMPIRAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman


Gambar

2.1 KriteradalamMensortasi TBS (Tandan Buah Segar) 5


2.2 KomposisiAsamLemak Minyak Sawit 7
2.3 KomposisiAsamLemakMinyakKelapa 8
Sawit Dan MinyakIntiKelapaSawit
2.4 KomposisiAsamLemak Minyak Sawit dan Inti Sawit 13
4.1 Data Hasil Analisa Kadar Air Dan Kadar Kotoran 20
4.2 Syarat Minyak Kelapa Sawit Mentah SNI-2901-2006 22
4.3 Syarat Mutu Minyak Kelapa Sawit Mentah 22
SNI 01-2901-1992

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Judul Halaman

Lampiran 1 Gambar Storage Tank yaitu tempat 25


penyimpanan Minyak Kelapa Sawit(CPO)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


BAB 1
PENDAHULUAN

Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis Guinensis) berasal dari Guinea di pesisir


Afrika Barat, kemudian di perkenalkan ke bagian Afrika lainnya, Asia Tenggara
dan Amerika Latin sepanjang garis equator (antara garis lintang utara 15° dan
lintang selatan 12°. Kelapa sawit tumbuh baik pada daerah iklim tropis, suhu
antara 24°C-32°C dengan kelembaban yang tinggi dan curah hujan 200 mm per
tahun. Kelapa sawit mengandung kurang lebih 80% perikarp dan 20% buah yang
dilapisi kulit yang tipis. Kandungan minyak dalam perikarp sekitar 30%-40%.
Kelapa sawit menghasilkan dua macam minyak yang sangat berlainan sifatnya
yaitu, minyak sawit (CPO), yaitu minyak yang berasal dari sabut kelapa sawit,
dan minyak inti sawit (CPKO), yaitu minyak yang berasal dari inti kelapa sawit .
(Tambunan, R.2006)
Selama proses pengempaan berlangsung, air panas ditambahkan kedalam
screw press. Hal ini bertujuan untuk pengenceran (dilution) sehingga massa bubur
buah yang dikempa tidak terlalu rapat. Jika massa bubur buah terlalu rapat maka
akan dihasilkan cairan dengan viskositas tinggi yang akan menyulitkan proses
pemisahan sehingga dapat mempertinggi kehilangan minyak
Kelapa sawit pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah
kolonial Belanda pada tahun 1848. Ketika itu ada empat klepa sawit tang di bawa
dari Mauritus dan Amsterdam kemudian di tanam di kebun Raya Bogor. Tanaman
kelapa sawit di usahakan dan dibudidayakan secara komersial pada Tahun 1912.
(Fauzi, 2014)
Menurut Hunger (1924) pada tahun 1869 Peemerrintah Kolonial Belanda
mengembangkan tanaman kelapa sawit di Muara Enim dan tahun 1970 Musi
Hulu. Bapak kelahiran industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah
seorang Belgia bernama Adrien Hallet. Beliau pada tahun 1911 membudidayakan
kelapa sawit secara komersial dalam bentuk perkebunan di sungai Liput (Aceh)
dan Pulu Raja (Asahan)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Pada masa penjajahan Belanda pertumbuhan perkebunan besar kelapa
sawit telah berjalan sangat cepat sehingga sangat menguntungkan perekonomian
pemerintahan Belanda
Pada masa pendudukan Jepang pada tahun 1942, pemerintah pendudukan
meneruskan perkebunan kelapa sawit ini dan hasilnya di kirim ke Jepang sebagai
bahan mentah industri perang. Kemudian semua terhenti karena terjadinya
serangan Sekutu pad tahun 1943.
Pada tahun 1947 Pemerintah Belanda merebut kembali dua pettiga dari
perkebunan yang pernah dikuasai Kelaskaran (stoler, 1985). Kemudian menjelang
akhr tahun 1948 maskapai-maskapai perkebunan mereka masing-masing dan
menjadi milik mereka kembali. Pada Akhir tahun 1957 seluruh perusahaan milik
maskapai Belanda di ambil alih oleh pemerintah Indonesia. (Risza, 1994)

1.2 IdentifikasiMasalah
Untukmenghasilkanminyakinti sawit yang tinggi maka perlu diperhatikan
mulai dari cara perawatan pohon kelapa sawit serta pada proses pengolahannya
dan juga kadar air dan minyak yang ditersisa di dalam ampas hasil pengepressan.
Permasalahan yang dikemukakan dalam karya ilmiah ini adalah “cara penentuan
kadar air dan kadar minyak pada ampas kelapa sawit”. Bagaimana cara penentuan
kadar air dan kadar minyak pada ampas kelapa sawit.

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui cara penentuan kadar air dan kadar minyak
padaampaskelapasawit

1.4 Manfaat
Untukmengetahuicarapenentuan kadar air dan kadar minyak pada ampas
kelapa sawit sehingga minyak yang didalam ampas tidak terbuang.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 MinyakKelapaSawit
Tanamankelapasawit(ElaisGuinensis) berasal dari Guinea di pesisir Afrika
Barat, kemudian diperkenalkan ke bagian Afrika lainya, Asia Tenggara dan
Amerika Latin sepanjang garis equator (antara garis lintang utara 15° dan lintang
Selatan 12°). Kelapa sawit tumbuh baik pada daerah iklim tropis, dengan suhu
antara 24°C-32°C dengan kelembaban yang tinggi dan curah hujan 200
mm/Tahun. Kelapa sawit menghasilkan dua macam minyak yang sangat berlainan
sifatnya, yaitu :
1. Minyak sawit (CPO), yaitu minyak yang berasal dari sabut kelapa sawit
2. Minyakintisawit (CPKO), yaitu minyak yang berasal dari inti kelapa sawit
Padaumumnyaminyaksawit lebih banyak mengandung asam-asam
palmitat, oleat, dan linoleat jika dibandingkan dengan mminyak inti sawit. Pada
minyak kelapa sawit, asam lemak dapat bebas terbentuk karena adanya aksi
mikroba atau karena hidrolisa autokatalitik oleh enzim lipase yang terdapat pada
buah sawit. (Rondang Tambun, 2006)
Kelapa sawit mempunyai beberapa jenis atau varietas yang dikenal sebagai
Dura (D), tenera(T), dan pisifera (P). Ketiga jenis ini dapat di bedakan dengan
cara memotong buahnya secara memanjang/melintang. Dura memiliki inti besar
dan bijinya tidak dikelilingi sabut dengan ekstraksi minyak sekita 17-18%. Deli
dura memiliki inti besar dan cangkang tebal serta dipakai oleh pusat-pusat
penelitian untuk memproduksi jenis Tenera. Tenera merupakan hasil persilangan
antara Dura dan pisifera tidak mempunyai cangkang dengan inti kecil sehingga
tidak di kembangkan sebagai tanaman komersial. (LyungPahan, 2010

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


2.2 Proses PengolahanBuahKelapa Sawit
2.2.1 StasiunPenerimaanBuah (Fruit Recifing Station)
1. Jembatan Timbang (Weigth Bridges)
Alat ini beerfungsi untuk menimbang TBS dari afdeling yang diangkut
truk. Untuk memperoleh netto TBS , ditimbang terlebih dahulu bruttonya, yaitu
berat truk dengan berat TBS. Kemudian TBS dikeluarkan dari truk dan
dituangkan di loading ramp. Setelah itu truk yang kosong ditimbang untuk
mengetahui berat tarra setelah itu berat netto dari TBS yaitu selisih antara berat
tarra. Kapasitas timbangan yang di gunakan 30 dan 40 ton

2. Loading Ramp
Berfungsi sebagai alat penampung sementara dan pemindahan TBS dan
juga sebagai pembersihan TBS dari pasir dan kotoran
Spesifikasi Loading Ramp
1. Kemiringan 27°-30°
2. Jarak Kisi ± 1-5cm
3. Kapasitas Tampung ±150 ton
4. 14 buah pintu yang di gerakkan oleh kompressor untuk menutup dan
membuka pintu sehingga TBS dapat masuk ke dala lori.

Pada tahap ini dilakukan pensortasian terhadap TBS yang masukk, sebab
mutu daru TBS yang diolah sangat mempengaruhi rendemen dan mutu produksi
dari CPO yang dihasilkan. Adapun tujuan sortasi adalah untuk mengetahui tingkat
kematangan buah dan menilai mutu yang masuk ke pabrik.
Derajat kematangan yang baik yaitu, jika tandan-tandan yang di panen
berada pada fraksi 1,2 dan 3, sebab pada faksi inin terjadi keseimbangan
randemen minyak tinggi dengan kadar asam lemak bebas yang rendah.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Tabel2.1 KriteradalamMensortasi TBS (Tandan Buah Segar)

No Kematangan Fraksi Jumlah Brondolan Keterangan

1 Mentah 00 Tidak ada yang membrondol Sangat mentah


0 1-10 Buah luar brondol Mentah
2 Matang 1 10-25 Buah luar brondol Kurang Matang
2 25-50 Buah luar brondol Matang I
3 50-75 Buah luar brondol Matang II

4 Lewat 4 75-100 Buah luar brondol Lewat matang I


Matang 5 Buah dalam juga membrondol, ada Lewat matang II
yang Busuk

3. Lori Rebusan
Berfungsi untuk mengangkut TBS dari Loading Ramp ke Sterilizer
sebagai tempat merebus TBS. Rata-rata kapasitas tiap lori rebusan adalah 2,5 ton
/lori. Dalam pengisian lori hendaknya jangna sampai penuh, karena dapat
mengakibatkan :
1. Tandan buah dapat jatuh kedalam rebusan
2. Pintu maupun plate penahan tandan buah bengkok
3. Tandan buah dapat jatuh, sehingga dapat menimbulkan:
a. penyumbatan saringan pipa kondensat
b. kerugian waktu dan stteam sera kerusakan alat

4. Trasfer Carriage
Berfungsi untuk memindahkan lori yang berisi TBS dari loading ramp ke
rel rebusan. Alat ini terdiri dari 1 unit dengan kapasitas 3 lori.
a. StasiunPerebusan (Steriizer Station)
Langkah pertama dari pengolahan kelapa sawit adalah rebusan yang
berfungsi sebagai tempat merebus TBS dengan tekanan 2,8 -3 kg/cm2 dan
suhunya 130°C-140°C serta mambutuhkan siklus ± 100 menit. Tempat
rebusan ada 3 unit, kapasitas dari tiap rebusan 10 unit lori, sedangkan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


lamanya untu merebus lori 90 menit. Pemeriksaan dan pembersihan
saringan kondensat dan rel dilakukan setiap minggu.
1) Tujuan Perebusan:
a) Mematikan dan menonaktifkan enzim penghidrolisa minyak
b) Mengurangi kadar air dalam buah ± 10% -14% terhadap total TBS
yang direbus.
c) Membekukan zat putih telur yang terdapat dalam dagiing buah
d) Memudahkan sawit lepas dari janjangan pada proses penebahan
(thrasher).
e) Mampermudah pemecahan cangkang, sehingga presentase inti
pecah berkurang .
2) Sistem Rebusan
Sisten rebusan menggunakan 3 sistem puncak:
a) PuncakPertama
Seetelah selesai pengeluaran udara, tekanan uap di naikkan hinga
0,8 -1,0 kg/cm2.kemudian di buang dengan Blow Down sampai
rekanan uap 0 kg/cm2.
b) PuncakKedua
Sterilizer diisiuaplagi hingga tekanan 1,5 - 2,0 kg/cm2 kemudian
dibuang Melalui Blow Down sampai tekanan uap 0 kg/cm2
c) PuncakKetiga
Diisidenganuaphingga tekanan 2,8 – 3,0 kg/cm2 kemudian ditahan
sampai jangka waktu tertentu, lalu selanjutnya di buang.

b. KomposisiMinyakKelapaSawit
Minyak kelapa sawit merupakan sumber utama sumber pangan dengan
tingkat konsumsi lebih dari 80% dan 20% buah yang dilapisi kulit tipis ; kadar
minyak dalam perikarp kelapa sawit adalah lemak semi padat yang mampunyai
komposisi tetap karena mengandung sejumlah besar asam lemak tidak jenuh
dengan atom karbbon lebih dari delapan. (S. Ketaren 1986).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


2.2.1.1. Asam Lemak Bebas
Asam lemak bebas di hasilkan oleh proses hidrolisis dan oksidasi biasanya
bergabung dengan lemak netral. Hasil reaksi hidrolisa minyak kelapa sawit adalah
gliserol dan ALB. Reaksi ini akan di percepat dengan adanya faktor-faktor panas,
air, keasaman, dan katalis (enzim). Semakin lama reaksi ini berlangsung, maka
semakin banyak kadar ALB yang terbentuk (Anonim 2001).
Kadar asam lemak bebas dalam minyak kelapa sawit, biasanya hanya
dibawah 1%. Lemak dengan kadar asam lemak bebas lebih dari 1%. Asam lemak
bebas, walaupun berada dalam jumlah kecil dapat mengakibatkan rasa tidak lezat.
Hal ini berlaku pada lemak yang mengandung asam lemak tidak dapat menguap,
dengan jumlah atom C lebih besar dari 14. (Ketaren, 1986)

2.2.1.2 Asam Lemak


Dua jenis asam leak yang paling dominan pada minyak kelapa sawit yaitu
asam palmitat C 16:0 (jenuh) dan asam oleat C 18:1 (tidak jenuh). Umumnya
komposisi asam lemak kelapa sawit adalah sebagai berikut:

Tabel 2.2KomposisiAsamLemak Minyak Sawit

Nama Asam Jenis Rumus Molekul Kadar (%)

Asam Laurat Asam Lemak Jenuh C 11 H 23 COOOH 2,0

Asam Miristat Asam Lemak Jenuh C 13 H 27 COOOH 1,8

Asam Palmitat Asam Lemak Jenuh C 15 H 31 COOOH 40

Asam stearat Asam Lemak Jenuh C 17 H 35 COOOH 3,0

Asam Arakhidat Asam Lemak Jenuh C 19 H 25 COOOH 1,0

Asam Linoleat Asam Lemak Tak Jenuh C 17 H 27 COOOH 1,1

Asam Linolenat Asam Lemak Tak Jenuh C 17 H 31 COOOH 7,9

Asam oleat Asam Lemak Tak Jenuh C 17 H 33 COOOH 42

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Kelapa sawit mengandung lebih kurang 80% perikarp dan 20% buah yang
dilapisi kulit yang tipis, kadar minyak dalam perikarp sekitar 34-40%. Minyak
kelapa sawit adalah lemak semi padat yang mempunyai komposisi tetap.
Rata-rata komposisi minyak kelapa sawit dapat dilihat pada tabel 2.2.
bahan yang tidak dapat disabunkan jumlahnyasekitar 0,3 persen.

Tabel 2.3.KomposisiAsamLemakMinyakKelapaSawit Dan


MinyakIntiKelapaSawit
Asam lemak Minyakkelapasawit(%) Minyakintikelapasawit(%)

Asam kaprilat - 3–5

Asam kaproat - 3–7

Asam laurat - 46 – 52

Asam miristat 1,1 – 2,5 14 – 17

Asam palmitat 40 - 46 6,5 – 9

Asam stearat 3,6 – 4,7 1 – 2,5

Asam oleat 39 – 45 13 – 19

Asam linoleat 7 – 11 0,5 – 2

2.2.1.3. Standar Mutu


Standar mutu adalah merupakan hal yang penting untuk menentukan
minyak yang bermutu baik. Ada beberapa faktor yang menentukan standar mutu,
yaitu kandungan air dan kotoran dalam minyak, kandungan asam lemak bebas,
warna, dan bilangan peroksida.
Faktor lain yang mempengaruhi standar mutu adalah titik cair dan
kandungan gliserida, refining loss, plastisitas dan spreadability, kejernihan
kandungan logam beratdan bilangan penyabunan.
Mutu minyak kelapa sawit yang baik memiliki kadar air kurang dari 1%
dan kadar kotoran lebih kecil dari 0,01%. Kandungan asam lemak bebas serendah

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


mungkiin (lebih kurang 2% atau kurang), bilangan peroksida dibawah 2, bebas
dari warna merah atau kuning (harus berwarna pucat) tidak berwarna hijau, jernih,
dan kandungan logam berat serendah mungkin atau bebas dari ion logam.
(Ketaren, 2005)
a. PemurnianMinyak (clarification)
Stasiun pemurnian minyak adalah stasiun terakhir untuk pengolahan
minyak. Minyak kasar hasil stasiun pengempaan dikirim ke stasiun inin untuk di
proses lebih lanjut sehingga diperoleh minyak produksi, proses pemisahan
minyak, air dan kotoran dilakukan dengan sistem pengendapan, sentrifugasi dan
penguapan.
1) Sand trap Tank
Alatinidigunakanuntuk memisahkan pasir dari cairan minyak kasar yang
berasal dari screw press. Untuk memudahkan pengendapan pasir, cairan
minyak kasar
Haruscukuppanas yang diperoleh dengan menginjeksi uap.
2) Saringan Bergetar (Vibrating Screen)
Saringanbergetardigunakanuntukmemisahkan benda-benda padat yang
terikut minyak kasar.Saringan bergetar terdiri dari 2 tingkat saringan
dengan luas permukaan masing-masing 2m2.. tingkat atas memakai
saringan ukuran 20 mesh, sedangkan tingkat bawah memakai saringan 40
mesh.Crude oil yang telah diencerkan dialirkan ke vibrating screen dengan
tujuan untuk memisahkan beberapa bahan asing seperti pasir, serabut
danbahan bahan lain yang masihmengandung minyak dan dapat
dikembalikan ke digetser. Untuk mengetahui ketepatan penambah air
pengencer maka setiap 2jam sekali diambil sempel crude oil sebelum
masuk vibrating screen untuk selanjutnya dengan hand centifuge/electric
centrifuge dapat diketahui komposisi minyak, NOS dan air. komposisi
yang tepat adalah satu bagian minyak dan dua bagian sludge (NOS dan
air). dengan menggunakan decanter maka perbandingan minyak dan
sludge 1:1. Minyak kasar yang telah di saring dialirkan kedalam crude oil

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


tank dan suhu dipertahan kan 90 - 95°C selanjutnya minyak kasar akan
dipompa ke setling tank.
3) Tangki /Pompa Minyak Kasar (Crude Oil Tank / Pump)
Tangkiminyakkasaradalah tanki penampung minyak kasar, yang telah
disaring, untuk di pompakan ke tangki pisah (contonius clarifer
tank)dengan pompa minyak kasar. Untuk menjaga agar suhu cairan tetap,
diberikan penambahanpanas dengan penambahan panas dengan
menginjeksi uap.Pembersihan secaramenyeluruh (luar dan dalam)
dilakukan setiap minggu akhir mengolah.
4) TangkiMasakanMinyak
Minyak yang telahdipisah pada tangki pemisah ditampung pada tangki ini
untuk dipanasi lagi sebelum diolah lebih lanjut pada oil
centrifuge.Diusahakan agar tangki ini tetap penuh untuk menjaga agar
spiral yang dialiri uap dengan tekanan 3kg/cm2.Tangki terbentuk silinder,
dengan bagian dasar berbentuk kerucut.
5) Sentrifusi Minyak (Oil Purifier)
Untukpemurnianminyak yang berasal dari tangki masakan yang
mengandung air ± 0,50 – 0,70% dan ± 0,10 – 0,30 dipergunakan alat
pemisah sentrifusi ini yang berputar antara 5.000 – 6.000 Rpm. Akibat
gaya sentrifugal yang terjadi, maka minyak mempunyai berat jenis lebih
kecil bergerak ke arah oros, dan terdorong keluar oleh sudu-sudu (parig
disc), sedangkan kotoran dan air yang berat jenisnya lebih besar terdorong
ke arah dinding bowl. Air keluar, padatan melekat pada dinding bowl yang
dikeluarkan dengan pencucian.
6) Tangki Apung (Float Tank)
Tangkiapungdigunakanuntuk mengatur jumlah minyak yang masuk
kedalam tangki tanpa udara (Vacuum) agar merata dan tetap (konstan).
Perlu diperhatikan agar pengapung selalu dalam keadaan baik.
7) PengeringanMinyak (Vacuum Dryer)
Pengeringanminyakdigunakanuntuk memisahkan air dan minyak dengan
cara penguapan hampa. Alat ini terdiri dari tabung hampa udara dan 3

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


tingkat steam ejector.Minyak terhisap kedalam tabung melalui pemercik
(nozzle), akibat adanya hampa udara, dan terpancar kedalam tabung
hampa.Uap air dari tabung hampa, terhisap oleh ejector1, masuk kedalam
kondensor 1, sisa uap kondensor 1 terhisap oleh ejector 2, masuk kedalam
kondensor 2, sisa uap terakhir dihisap oleh ejector 3 dan dibuang ke
atmosfer.Air yang terbentuk dalam kondensor 1 dan 2 langsung di
tampung dalam tangki air panas dibawah (hot well tank).
b. Sifat Kimia Minyak dan Lemak
Pada umumnya asam lemak jenuh dari minyak mempunyai rantai lurus
monokarbosilat dengan jumlah atom karbon yang genap. Reaksi penting
pada minyak dan lemak adalah reaksi hidrolisi, oksidasi dan hidrogenasi.
1) Hidrolisis
Dalam reaksi hidrolisis, minyak atau lemak akan diubah menjadi asam
lemak bebas dan gliserol. Reaksi hidrolisis yang dapat mengakibatkan
kerusakan minyak atau lemak karena tercapainya jumlah suatu air dalam
minyak atau lemak tersebut. Minyak atau lemak dapat dihidrolisis menjadi
gliserol dan asam lemak karena adanya air. reaksi ini dipercepat oleh basa,
asam, dan enzim-enzim. Hidrolisis oleh enzim lipae akan menyebabkan
kadar asam lemak bebas menjadi tinggi.(ketaren,1986).
2) Oksidasi
Proses oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah
oksigen dengan minyak. Oksidasi biasanya dimulai dengan pembentukan
peroksida dan tingkat selanjutnya adalah terurainya asam-asam lemak
disertai dengan konversi hidroperoksida menjadi aldehid dan keton serta
asam-asam lemak bebas.(ketaren,1986)
3) Hidrogenasi
Hidrogenasi disebut pengerasan menyebutkan penjenuhan/ikatan rangkao
dalam rangkaian asam lemak dari trigliserida. Dua akibat yang
ditimbulkan yaitu titik cair lemak atau minyak akan naik atau minyak akan
lebih cair.(Adiono,1987)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


c. Kadar Kotoran
Kadar pengotor dan zat terlarut adalah keseluruhan bahan-bahan asing
yang tidak larut dalam minyak, pengotor yang tidak terlarut dinyatakan
sebagai persen zat pengotor terhadap minyak atau lemak. Pada umumnya,
penyaringan hasil minyak sawit dilakukan dalam rangkaian proses
pengendapan yaitu minyak sawit jernih dimurnikan dengan sentrifugasi.
Denan proses tersebut kotoran-kotoran yang berukuran besar memang
dapat disaring. Akan tetapi, kotoran-kotoran atau serabut yang berukuran
kecil tidak dapat disaring, hanya melayang-layang didalam minyak sawit
sebab berat jenisnya sama dengan minyak sawit. Padahal alat sentrifugasi
tersebut dapat berfungsi dengan prinsip kerja yang berdasarkan pada
perbedaan berat jenis.(marunduri, 2009)
Kotoran yang terdapat pada minyak terdiri dari tiga golongan, yaitu :
1) Kotoran yang tidak terlarut dalam minyak (fat insolube) dan terdispersi
dalam minyak.
Kotoran yang terdiri dari biji atau partikel jaringan, lendir dan getah serat-
serat yang berasal dari kulit abu atau material yang terdiri dari Fe, Cu, Mg
dan Ca, serta air dalam jumlah kecil. Kotoran seperti ini dapat diatasi
dengan cara mekanis yaitu dengan cara pengendapan dan sentrifugasi.
Kadar pengotor dalam minyak sawit berupa logam seperti besi, tembaga,
dan kuningan biasanya berasal dari alat-alat pengolahan yang digunakan.
Tindakan preventif pertama yang harus dilakukan untuk menghindari
terikutnya kotoran yang berasal dari pengelupasan alat-alat dan pipa
adalah mengusahakan alat-alat dari stainless stell.
Mutu dan kuualitas kelapa sawit yang mengandung logam-logam tersebut
akan turun. Sebab dengan kondisi tertentu, logam-logam dapat menjadi
katalisator yang menstimulir reaksi oksidasi minyak sawit. Reaksi ini
dapat dimonitor dengan melihat perubahan warna minyak sawit yang
semakin gelap dan akhirnya menyebabkan ketengikan.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


2) Kotoran yang berbentuk suspensi koloid dalam minyak
Kotoran ini terdiri dari fosfolipid, senyawa yang mengandung nitrogen dan
senyawa kompleks lainnya. Kotoran dapat dihilangkan dengan
menggunakan uap panas, sentrifugasi atau penyaringan dengan
menggunakan adsorben.
3) Kotoran yang terlarut dalam minyak (fat soluble compound)
Kotoran yang termasuk dalam golongan ini terdiri dari asam lemak bebas,
sterol, hidrokarbon, monogliserida yang dihasilkan dari hidrolisis
trigliserida., zat warna yang terdiri dari karatenoid, klorofil. Zat wrna
lainnya yang dihasilkan dari proses oksidasi dan dekomposisi minyak
yang terdiri dari keton, aldehida, dan resin serta zat lainnya yang belum
teridentifikasi. (ketaren, 1986)

d. KomposisiMinyakKelapaSawit
Kelapasawitmengandung 80% perikarp (lapisan serat daging) dan 20% buah
yang dilapisi kulit tipis, minyak dalam perikarpsekitar 34 – 40%. Minyak kelapa
sawit adalahlemak semi padat yang mempunyai komposisi yang tetap. Titik lebur
minyak kelapa sawit tergantung pada trigligseridanya. Minyak sawit terdiri atas
berbagai trigligserida dengan rantai asam lemak yang berbeda-beda.
Panjangrantaiadalah 14–20 atom karbon. Dengan demikian sifat minyak
sawit ditentukan oleh perbandingan komposisi trigligserida. Karena kandungan
asam lemak yang terbanyak adalah asam lemak jenuh oleat-linoleat. Jumlah asam
jenuh dan asam tak jenuh dalam minyak kelapa sawit hampir sama. Komponen
utamanya adalah asampalmitatdanoleat.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Tabel 2.4KomposisiAsamLemak Minyak Sawit dan Inti Sawit
Tak Titik lebur Asam Lemak % Berat
jenuh (°)
Asam Jumlah
Minyak Minyak inti
lemak brondolan
sawit sawit
Kaprilat 8 16,7 - 2,7 (3-5)
Kaprat 10 31,6 - 7,0 (3-7)
Laurar 12 44,2 - 46,6 (40-52)
Miristat 14 54,4 1,4 (0,5-6) 14,1 (14-17)
Palmitat 16 62,9 40,1 (32-45 8,8 (7,9)
stearat 18 69,6 5,5 (2-7) 1,3 (1-3)
Jumlah 47,0 80,8
asam jenuh
Oleat 18 1 15 42,7 (38- 18,5 (13-19)
Linoleat 18 2 -5 52) 0,7 (0,5-2)
10,3 (5-11)
Jumlah lemak asam jenuh 53,0 119,2

2.3Kadar Air
Air dalamminyakhanya dalam jumlah kecil. Hal ini dapat terjadi karena
proses alami sewaktu penumbuhan dan akibat perlakuan di pabrik serta
penimbunan. Air yang terdapat dalam minyak dapat ditentukan dengan cara
penguapan dalam alat pengering. Kadar air yang terkandung dalam minyak kelapa
sawit tergantung pada efektifitas pengolahan kelapa sawit menjadi CPO, dan juga
tergantung pada kematangan buah. Buah yang terlalu matang akan mengandung
air yang lebih banyak. Untuk itu perlu pengaturan panen yang tepat dan
pengolahan yang sempurna untuk mendapatkan produk yang mutunya tinggi.
Minyak kelapa sawit yang mempunyai kadar air sangat kecil (<0.15%)
akan memberikan kerugian mutu minyak, dimana pada tingkat kadar air yang
demikian kecil akan sangat memudahkan terjadinya proses oksidasi dari minyak
itu sendiri. Proses oksidasi ini dapat terjadi dengan adanya oksigen di udarabaik
pada suhu kamar selama proses pengolahan pada suhu tinggi yang akan
menyebabkan minyak akan mempunyai rasa dan bau yang tidak enak (ketengian).
Akibat mutu minyak menjadi turun.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Jika kadar aair dalam minyak sawit (<0.15%) maka akan mengakibatkan
hidrolisa minyak, dimana hidrolisa minyak dari minyak sawit ini akan
menghasilkan gliserol dan asam lemak bebas yang menyebabkan rasa dan bau
tengik pada minyak tersebut. Untuk mendapatkan kadar air yang sesuai dengan
yang diinginkan, maka harus dilakukan pengawasan intensif pada proses
pengolahan dan penimbunan. Hal ini bertujuan untukmenghambat atau menekan
terjadinya hidrolisa dan oksidasi minyak. (Gunawan E, 2004)

2.4. Pemurnian Minyak

Stasiun pemurnian minyak adalah stasiun terakhir untuk pengolahan


minyak. Minyak kasar hasil stasiun pengempaan di kirim ke stasiun ini untuk di
proses lebi lanjut sehingga diperoleh minyak produksi, proses pemisahan minyak,
air dan kotoran dilakukan dengan sistem pengendapan, sentrifugasi dan
penguapan.
1. Sand Tramp Tank
Alat ini digunakan untuk memisahkan pasir dari ciran minyak kasar yang
berasal dari screw press. Untuk memudahkan pengendapan pasir, cairan
minyak kasar harus cukup panas yang diperoleh dengan menginjeksi uap.
2. Saringan Bergetar (Vibrating Sreen)
Saringan bergetar digunakan untuk memisahkan benda-benda padat yang
terikut minyak padat. Saringan bergetar terdiri dari 2 tingkat saringan
dengan luas permukaan masing-masing 2 m2. Tingkat atas memakai
saringan ukuran saringan 20 mesh, sedangkan tingkat bawah memakai
saringan 40 mesh. Crude oil yang telah di encerkan dialirkan ke vibrating
screen dengan tujuan untuk memisahkan beberapa bahan asing seperti
pasir, serabut dan bahan-bahan lain yang masih mengandung minyak dan
dapat dikembailikan ke digetser. Untuk menggetahui ketepatan
penambahan air pengernceran maka setiap 2 jam sekali diambil sampel
crude oil sebelum masuk vibrating screen untuk selanjutnya dengan hand
centrifuge / electric centrifuge dapat diketahui komposisi minyak, NOS
dan air. komposisi yang tepat adalah satu bagian minyak dan satu bagian

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


sludge (NOS dan air). jika menggunakan decanter maka perbandingn
minyak dan sludge 1:1. Minyak kasar yang telah di saring dialirkan
kedalam crude oil dan suhu dipertahankan 90 - 95° selanjutnya minyak
kasar dipompa ke setling tank
3. Tangki / Pompa Minyak Kasar (crude oil tank / pump)
Tangki minyak kasar adalah tangki penampung minyak kasar, yang telah
disaring, untuk dipompakan ke tangki pisah (continious clarifer tank)
dengan pompa minyak kasar. Untuk menjaga suhu cairan tetap, diberikan
penambahan panas dengan menginjeksi uap. Pembersihan dilakukan
menyulurkan (luar dan dalam) dilakukan setiap minggu akhir mengolah.
4. Tangki Masakan Minyak (oil tank)
Minyak yang telah di pisah pada tangki pemisah di tampung dalam tangki
ini untuk dipanasi lagi sebelum diolah selih lanjut pada oil centrifuge.
Diusahakan agar tangki tetap penuh untuk menjaga spiral yang dialiri uap
dengan tekana 3 kg/cm2. Tangki berbentuk silinder, dengan bagian dasar
berbentuk kerucut.
5. Sentrifusi Minyak (oil Purifier)
Untuk pemurnian minyak yang berasal dari tangki masakan yang
mengandung air ± 0,50 – 0,70 dan ± 0,10 – 0,30 dipergunakan alat
pemisah sentrifusi ini, yang berputar adntaara 5.000 – 6.000 rpm. Akibat
gya sentrifugal yang terjadi, maka minyak yang mempunyai berat jenis
lebih kecil bergerak kearah poros, dan terdorong keluar oleh sudu-sudu
(parig disk), sedangkan kotoran dan air yang berat jenisnya lebih besar
akan terdorong kearah dinding bowl. Air keluar padatan melekat pada
dingding bowl yang dikeluarkan dengan pencucian.
6. Tangki Apung (Float Tank)
Tangki apung dipakai untuk mengatur jumlah minyak masuk kedalam
tangki hampa udara (vacuum) agar merata dan tetap (konstan). Perlu
diperhatikan agar pelampung selalu dalam keadaan baik.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


7. Pengeringan Minyak (vcuum Dryer)
Pengeringan minyak dilakukan agar memisahan air dan minyak dengan
cara penguapan hampa. Alat ini terdiri dari tabung hampa udara dan 3
tingkat steam ejector. Minyak terhisap ke dalam tabung malalui pemercik
(nozzle), akibat adanya hampa udara, dan terpancar kedalam tabung hampa
udara. Uap air dari tabung hampa, terhisap oleh ejector 1, masuk kedalam
kondensor 1, sisa uap dari kondensor 1, terhisap oleh ejector 2, masuk
kedalam kondensor 2, sisa uap terakhir dihiap oleh ejector 3 dan di buang
ke atmosfer. Air yang terbentuk dalam kondensor 1 dan 2 langsung
ditampung pada tangki air panas dibawah (hot wll tank).

2.5. Manfaat Kelapa Sawit dan Keunggulan pada Aplikasinya untuk


Keperluan Pangan
Manfaat kelapa sawit dapat dimanfaatkan di berbagai industri karena
memiliki susunan dan kandungan gizi yang cukup lengkap. Industri yang banyak
menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku adalah industri kosmetik dan
farmasi. Bahkan, minyak sawit telah dikembangkan sebagai salah satu bahan
bakar nabati (biodisel).
Minyak sawit juga memiliki keunggulan dalam hal susunan dan nilai gizi
yang terkandung di dalamnya. Kadar steril dalam minyak sawit relatif lebih
rendah dibandingkan dengan minyak nabati lainnya yang terdiri dari sitosteroldan
kolesterol. Dalam CPO, kadar sterol berkaisar 360-620 ppm dengan kadar
kolesterol hanya sekitar 10 ppm atau sebesar 0,001% dalam CPO.
Berikut adalah beberapa keunggulan minyak sawit pada aplikasinya untuk
keperluan pangan:
1. Produk pangan yang diformulasikan dengan menggunakan minyak sawit
akan mempunyai keawetan yang lebih baik karena minyak sawit sangat
stabil terhadap proses ketengikan dan kerusakan oksidatof lainnya. Alasan
itulah membuat minyak sawit dikenal sebagai minyak goreng terbaik.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


2. Minyak sawit mempunyai kecenderungan untuk mengalami kristalisasi
dalam bentuk Kristal kecil sehingga mampu meningkatkan kinerja
creaming jika digunakan pada formulasi cake dan margarin.
3. Kandungan asam palmitat minyak sawit sangat baik untuk proses aerasi
campuran lemak/gula, misalnya pada proses baking.
4. Minyak sawit baik digunakan untuk membuat vanaspati, atau vegetable
ghe, yang mengandung 100% lemak nabati, bias digunakan untuk
substitusi mentega susu dan mentega cokelat.
5. Roti yang diproduksi dengan shortening dari minyak sawit mempunyai
tekstur dan keawetan yang lebihh baik.
6. Minyak sawit juga banyak untuk produksi krim biskuit, karena kandungan
padatan dan titik lelehnya yang cukup tinggi. (Fauzi, Y,.dkk..2012

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


BAB 3
BAHAN DAN METODE

3.1 Alat
1. TimbanganAnalitik
2. Erlenmeyer
3. Kertas Saring
4. Oven
5. tang penjepit
6. Soklet
7. Kertas
8. Labu Alas 250 mL

3.2 Bahan
1. TimbanganAntik
2. N-Heksan

3.3 ProsedurPercobaan
1. Ditimbang kertas saring whatmann no.41
2. Diambil sampel minyak cpo ± 20 gram
3. Tuang sampel minyak melalui kertas saring kedalam erlenmeyer
4. Diambil N-heksan secukupnya untuk membilas sampel sampai kertas
berwarna putih.
5. Sampel yang berada dalam kertas whatmann diletakkan didalam oven
yang bersuhu 105°C dengan waktu 10 menit
6. Ditimbang kembali setelah sampel dingin
7. Dibalut dengan kertas
8. Dirangkai alat soklet
9. Dimasukkan kedalam alat soklet
10. Dilarutkan pelarut pada labu alas
11. Disokletasi sampai sampel berwarna bening

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Data Percobaan


Dari hasil analisa yang dilakukan untuk penentuan kadar air dan kadar
minyak pada ampas kelapa sawit di Pabrik Kelapa Sawit PTPN III Aek Nabara
Selatan dengan sampel yang sama dilakukan sebanyak dua kali percobaan dan
diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.1 Data Hasil Analisa Kadar Air Dan Kadar Kotoran
Tanggal Berat Sampel Berat Sampel Kadar kotoran
Basah Kering %
(gr) (gr)
01-01-2017 16,9010 12,3379 2,08522
01-02-2017 16,3393 14,8659 2,42899%

4.2. Perhitungan
Dari data yang diperoleh, dapat dihitung kadar kotoran pada pada minyak
produksi (CPO) yang dinyatakan dalam % berat. Persentase kadar kotoran dapat
dihitung dengan:
- Sampel 1
% Kadar Kotoran = Berat Sampel kering × Berat Sampel basah
%
= 12,3379 × 16,9010
%
= 2,08522%

- Sampel 2
% Kadar Kotoran = Berat Sampel kering × Berat Sampel basah
%
= 14,8659 × 16,3393
%
= 2,42899%

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


4.3 Pembahasan
Kadar kotoran adalah bahan-bahan yang tidak larut dalam minyak, dimana
dengan ukuran kecil zat pengotor ini sulit untuk disaring, oleh karena itu perlu
dimurnikan terlebih dahulu dengan menggunakan alat purifier sebelum di simpan
pada tangki timbun.
Kadar pengotor dan zat terlarut adalah keseluruhan bahan-bahan asing
yang tidak larut dalam minykak, pengotor yang tidak terlarut dinyatakan sebagai
persen zat pengotor terhadap minyak atau lemak. Pada umumnya, penyaringan
hasil minyak sawit dilakukan dalam rangkaian proses ppengendapan yaitu minyak
sawit jernih dimurnikan dengan sentrifugas (marunduri, 2009)
Kadar kotoran merupakan salah satu faktor yang berkaitan langsung
dengan penurunan mutu minyak sawit atau yang biasa yang disebut dengan /
crude palm oil CPO. Untuk mengetahui tinggi rendahnya asam lemak bebas maka
perlu dilakukan alnalisa asam lemak bebas. Dalam penentuan kadar asam lemak
bebas (ALB). PKS Aek Nabara menggunakan metode grafimetri.
Analisis grafimetri adalah proses isolasi dan pengukuran suatu berat unsur
atau senyawa tertentu. Metode grafimetri memakan waktu yang cukup lama,
adanya pengotor pada konstituen dapat di uji dan bila perlu faktor-faktor koneksi
dapat digunakan. (Anonim, 2011)

4.3.1 Nilai Kadar Kotoran


Berdasarkan hasil pengamatan pada tabel dan perhitungan di atas telah
dapat diketahui hasil analisa kadar kotoran di produksi minyak (CPO), bahwa
tanggal 01 Februari 2017, % kadar kotoran pada minyak produksi (CPO) 2,
08522% dan pada tanggal 02 Februari 2017 kadar kotoran pada minyak produksi
(CPO) 2,42899%.
Kandungan kadar kotoran minyak dapat dipengaruhi pada saat proses
pengolahan dan pada saat pemanenan, untuk itulah pada saat proses pengolahan
minyak terdapat stasiun klarifikasi yang merupakan stasiun pemurnian minyak
dengan metode penyaringan, pengendapan, sentrifugasi.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Jenis-jenis kadar kotoran yang terdapat pada minyak sawit dan kemudian
akan disaring oleh vibrating screen yaitu berupa pasir, serabut, lumpur, dan lain-
lain. Menurut pardameian (2009) crude oil yang telah diencerkan, dialirkan ke
vibrating screen yang berukuran 20-40 mesh untuk memisahkan bahan asing
seperti pasir, serabut, dan bahan-bahan lainnya.

4.3.2 Standar Kadar Kotoran Berdasarkan SNI


Standar kualitas minyak sawit pada PKS Aek Nabara Selatan berdasarkan
SNI 01-2901-2006 dan SNI 01-2901-1992 sudah memenuhi standar dengan
dibawah 5%. Adapun standar SNI 01-2901-2006 dapat dilihat pada tabel 4.2 dan
SNI 01-2901-1992 pada tabel 4.3.

Tabel 4.2 Syarat Minyak Kelapa Sawit Mentah SNI-2901-2006

No Karakteristik Batasan
1 Kadar Asam Lemak Bebas (%) <50,0
2 Kadar Air (%) <0,50
3 Kadar Kotoran (%) <0.50
Sumber : Standar Nasional Indonesia, 2006

Tabel 4.3 Syarat Mutu Minyak Kelapa Sawit Mentah SNI 01-2901-1992
No Karakteristik Syarat Cara Pengujian
1 Warna Kuning jingga sampai Visual
kemerah-merhan
2 Asam lemak bebas (%) 5,00 BS 684 – 1958
3 Asam kotoran (%) 0,50 SNI – 1384 1992
4 Kadar air (%) 0,45 BS 684 – 1958
Sumber : Standar Nasional Indonesia 1992

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Hasil yang diperoleh diketahui bahwa pada tanggal 01 Februari 2017,
persen kadar kotoran pada minyak produksi(CPO), 2, 08522% dan pada tanggal
02 Februari 2017 kadar kotoran pada minyak produksi (CPO) 2,42899%.
Kadar kotoran tersebut masih tergolong rendah, jika dibandingkan dengan
standar kadar kotoran yang ditetapkan.

5.2 Saran
1. Dalam melakukan analisa terhadap crude palm oil menggunakan
parameter lain yang juga menggunakan metode lain untuk
membandingkan metode mana yang lebih baik.
2. Pada pelaksanaan analisa crude palm oil pada tangki timbun sebaiknya
dilakukan setiap 1 jam sekali, nilai kadar kotoran akan berubah setiap saat
tergantung kondisi tempat penyimpanan.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2001. Analisis Lion Information Center. Diakses 20 Mei 2017 pada jam

20.18. di http:/www.asiaticlion.org/.

Aziz, A. A., 2009. Penentuan Kadar Air dan Kadar Kotoran Minyak Sawit
Mentah(CPO) Pada Tangki Penyimpanan di Pabrik Kelapa Sawit
PTPN. IV Kebun Adolina, Universitas Sumatera Utara, Medan

Fauzi, Yan dkk. 2004. Kelapa Sawit, Budi Daya, Pemanfaatan Hasil, dan Limbah,
Analisa Usaha dan Peemasaran. Edisi Revisi. Cetakan 14. Jakarta:Penebar
Swadaya

Gunawan E. 2004. Pengantar Proses Pengolahan Kelapa Sawit. Medan: Lembaga


Pendidikan Perkebunan.

Keisyo L. 1998. Pbabrik Fraksionasi Sawit PTP II. Medan: Lembaga Penelitian
Perkebunan.

Ketaren, A. 1986. Minyak Dan Lemak Pangan. Cetakan Pertama. Jakarta :


Universitas Indonesia Press.

Mangoensoekarjo S. 2003. Manajemen Agrobisnis Kelapa Sawit. Yogyakarta:


Gadjah Mada University Press

Naibaho, P.M. 1996. Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit, Medan: Pusat


Penelitian Kelapa Sawit.

Tim Penulis. 1997. Kelapa Sawit Usaha Budidaya, Pemanfaatan Hasil Dan Aspek
Pemasaran. Cetakan VIII. Jakarta: Penebar swdaya

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Lampiran 1 : Gambar Storage Tank yaitu tempat penimpanan Minyak Kelapa
Sawit(CPO)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA