Вы находитесь на странице: 1из 6

PENGARUH PIJAT OKSITOSIN TERHADAP PENGELUARAN

KOLOSTRUM PADA IBU POST PARTUM DI RUMAH SAKIT


UMUM DAERAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU
Fionie Tri Wulandari 1)
Fidyah Aminin 1)
Utami Dewi 1)
1)
Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang

Abstract : Effek of oxytocin massage to sperding colostrum at matternal post partum in the
general hospital of the Riau Islands Province. According to the data of health research (Riskesdas)
in 2013 only 30,2% exclusive breastfeeding in Indonesia Tanjungpinang, the percentage exclusive
breastfeeding only 22,17%. While the target of exclusive breastfeeding in Indonesia have to reach
80%. The low breastfeeding because decrease mother’s milk production in the first day after birth
because less by the luck of stimulation of the oxytocin and prolactin hormone which was instrumental
in lactation, causing the milk doesn’t produced after birth, it takes effort nonpharmacologic form of
massage oxytocin to get the milk. Massage oxytocin very helpful in processing to get the milk. The
purpose of research to determine the effect of oxytocin massage to get colostrum on post partum
maternal in the general hospital of the Riau Islands Province. This type of research is quasy
experiment with design post test only control group design. The research was conducted 33 days on 6-
8 June 2014 in general hospital of the Riau Island Province. The sampling tecniave with non-
probability sampling with 15 respondent group of treatment and 15 respondents group of the control.
The results of research can be concluded that treatment group mean spending time 5:12 hours, while
the control group mean spending time 8:16 hours. The test results independent T-test p-value-0,006
which means P ≤ 0,05, there oxytocin massge effect on the everage time spending colostrum.
Midwife or public health have to apply massage oxytocin to the mother post partum to give colostrum
on her baby soon after birth.

Keywords :Effect of Oxytocin Massage, spending colostrum, Maternal post partum

Abstrak : Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap Pengeluaran Kolostrum pada Ibu Post Partum di
Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Kepulauan Riau. Pemberian ASI Eksklusif di Indonesia
Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 hanya mencapai angka 30,2%. Untuk
kota Tanjungpinang, presentase pemberian ASI Eksklusif hanya 22,17%. Sementara itu target
pemberian ASI Eksklusif di Indonesia harus mencapai 80%. Penyebab rendahnya pemberian ASI
Ekskusif salah satunya adalah penurunan produksi ASI pada hari-hari pertama setelah melahirkan
dapat disebabkan oleh kurangnya rangsangan hormon oksitosin dan prolaktin yang sangat berperan
dalam kelancaran produksi ASI, sehingga menyebabkan ASI tidak segera keluar setelah melahirkan,
untuk mengeluarkan ASI dibutuhkan upaya nonfarmakologis berupa pijat oksitosin.Pijat oksitosin
sangat membantu dalam proses pengeluaran ASI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh
pijat oksitosin terhadap pengeluaran kolostrum pada ibu post partum di Rumah Sakit Umum Daerah
Provinsi Kepulauan Riau. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasy experiment dengan rancangan
yang digunakan post test only design with control group. Penelitian dlaksanakan selama 33 hari pada
tanggal 06 Juni- 08 Juli 2014 di RSUD Provinsi Kepri. Teknik pengambilan sampel dengan non
probability sampling dengan 15 responden kelompok perlakuan dan 15 responden kelompok kontrol.
Hasil penelitan dapat disimpulkan bahwa rerata waktu pengeluaran kelompok perlakuan 5.21 jam
sedangkan rerata waktu pengeluaran kelompok kontrol 8.16 jam. Hasil uji T-Test Independent nilai p-
value=0.006 yang berarti p≤0.05 menyatakan ada pengaruh pijat oksitosin terhadap rerata waktu
pengeluaran kolostrum. Setiap petugas kesehatan atau bidan hendaknya mengaplikasi pijat oksitosin
kepada ibu post partum agar ibu tetap memberikan kolostrum pada bayinya segera setelah lahir.

Kata Kunci : Pengaruh pijat oksitosin, Pengeluaran Kolostrum, Ibu post partum

Bagi ibu yang menyusui bayi, kelan- pendamping ASI disarankan diberikan sampai
caran ASI sangat penting untuk memenuhi dengan usia bayi menginjak usia enam bulan.
kebutuhan bayi. ASI eksklusif tanpa Pemberian Air Susu Ibu (ASI) atau menyusui

173
174 Jurnal Kesehatan, Volume V, Nomor 2,Oktober 2014, hlm 173-178

bayi dilakukan di berbagai lapisan masyarakat didalam ASI terdapat nutrien yang diperlukan
diseluruh dunia, karena banyak manfaat yang untuk pertumbuhan otak bayi yang tidak ada
diperoleh dari ASI Eksklusif dan praktik atau sedikit sekali terdapat pada susu sapi,
menyusui selama 2 tahun. antara lain: Taurin, Laktosa, DHA, AA,
Pentingnya pemberian ASI Eksklusif Omega-3, dan Omega-6 . Tetapi tidak sedikit
terlihat dari peran dunia yaitu pada tahun 2006 ibu yang kecewa karena ternyata ASI yang
World Health Organization (WHO) keluar tidak selancar seperti yang diharapkan,
mengeluarkan Standar Pertumbuhan Anak yang para ibu lebih memilih untuk memberikan anak
kemudian diterapkan di seluruh dunia yang nya susu formula.
isinya adalah menekankan pentingnya Pencapaian ASI Eksklusif di Provinsi
pemberian ASI saja kepada bayi sejak lahir Kepulauan Riau masih rendah sedangkan target
sampai usia 6 bulan. Setelah itu, barulah bayi Kementerian Kesehatan telah menerbitkan
mulai diberikan makanan pendamping ASI Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
sambil tetap disusui hingga usianya mencapai 2 450/Menkes/SK/IV/2004 tentang pemberian
tahun. Sejalan dengan peraturan yang di ASI secara eksklusif pada bayi di Indonesia
tetapkan oleh WHO, Di Indonesia juga sebesar 80%, Tetapi tidak semua ibu post
menerapkan peraturan terkait pentingnya ASI partum langsung mengeluarkan ASI karena
Eksklusif yaitu dengan mengeluarkan Peraturan pengeluaran ASI merupakan suatu interaksi
Pemerintah (PP) nomor 33/2012 tentang yang sangat komplek antara rangsangan
pemberian ASI Eksklusif. Peraturan ini mekanik, saraf dan bermacam-macam hormon
menyatakan kewajiban ibu untuk menyusui yang berpengaruh terhadap pengeluaran
bayinya sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan. oksitosin. Pengeluaran hormon oksitosin selain
Selain itu pentingnya ASI juga terlihat dipengaruh oleh isapan bayi juga dipengaruhi
pada acara dunia yaitu Pekan ASI sedunia oleh reseptor yang terletak pada sistem duktus,
Agustus 2008, The World Alliance For Breast bila duktus melebar atau menjadi lunak maka
Feeding Action (WABA) memilih tema Mother secara reflektoris dikeluarkan oksitosin oleh
Support: Going For the Gold. Makna tema hipofise yang berperan untuk memeras air susu
tersebut adalah suatu gerakan untuk mengajak dari alveoli ( Endah,2011).
semua orang meningkatkan dukungan kepada Oleh karena itu perlu adanya upaya
ibu untuk memberikan bayi-bayi mereka mengeluarkan ASI untuk beberapa ibu
makanan yang berstandar emas yaitu ASI yang postpartum. Dalam upaya pengeluaran ASI ada
diberikan eksklusif selama 6 bulan pertama dan 2 hal yang mempengaruhi yaitu produksi dan
melanjutkan ASI bersama makanan pengeluaran. Produksi ASI dipengaruhi oleh
pendamping ASI lainnya yang sesuai sampai hormon prolaktin sedangkan pengeluaran
bayi berusia 2 tahun atau lebih. dipengaruhi oleh hormon oksitosin . Hormon
ASI Eksklusif merupakan makanan oksitosin akan keluar melalui rangsangan ke
pertama, utama dan terbaik bagi bayi, yang puting susu melalui isapan mulut bayi atau
bersifat alamiah. ASI mengandung berbagai zat melalui pijatan pada tulang belakang ibu bayi,
gizi yang dibutuhkan dalam proses dengan dilakukan pijatan pada tulang belakang
pertumbuhan dan perkembangan bayi ibu akan merasa tenang, rileks, meningkatkan
(Prasetyono, 2009). Khasiat ASI begitu besar ambang rasa nyeri dan mencintai bayinya ,
seperti ASI dapat menurunkan risiko bayi sehingga dengan begitu hormon oksitosin
mengidap berbagai penyakit. Apabila bayi sakit keluar dan ASI pun cepat keluar (Endah, 2011).
akan lebih cepat sembuh bila mendapatkan ASI. Melalui pijatan atau rangsangan pada
ASI juga membantu pertumbuhan dan tulang belakang, neurotransmitter akan
perkembangan kecerdasan anak. Menurut merangsang medulla oblongata langsung
penelitian, anak – anak yang tidak diberi ASI mengirim pesan ke hypothalamus di hypofise
mempunyai Intellectual Quotient (IQ) lebih posterior untuk mengeluarkan oksitosin
rendah 7 – 8 poin dibandingkan dengan anak- sehingga menyebabkan buah dada
anak yang diberi ASI secara eksklusif. Karena mengeluarkan air susunya. Dengan pijatan di
Wulandari, Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap Pengeluaran Kolostrum 175

daerah tulang belakang ini juga akan Type dengan kriteria penelitian ini:
merileksasi ketegangan dan menghilangkan
1. Ibu 2 jam post partum spontan yang belum
stress dan dengan begitu hormon oksitosoin
mengeluarkan kolostrum
keluar dan akan membantu pengeluaran air susu
2. Bentuk payudara normal/tidak ada kelainan
ibu, dibantu dengan isapan bayi pada puting
3. Tidak menderita penyakit sistemik
susu pada saat segera setelah bayi lahir dengan
4. Kondisi psikologis responden baik
keadaan bayi normal.
5. Umur responden 20-35 tahun
Di Indonesia Pijat Oksitosin belum
6. Responden sudah melakukan mobilisasi 2
diketahui banyak ibu-ibu post partum, tetapi
jam post partum
telah diadakan seminar dan pelatihan pijat
7. Responden primipara dan multipara
oksitosin di beberapa tempat. Pijat oksitosin
Teknik pengumpulan data dilakukan
lebih banyak dikenal masyarakat di Pulau jawa
dalam 2 tahap, pertama peneliti memilih
( Endah, 2011) untuk Kepulauan Riau sendiri
responden sesuai dengan kriteria sampel inklusi
dari 3 (tiga) Rumah sakit yang ada, belum ada
yang telah ditetapkan dan peneliti memberikan
yg melaksanakan Pijat oksitosin untuk ibu post
informed consent. Pada tahap kedua responden
partum. Tahun 2012 jumlah persalinan spontan
diminta mengisi data biografi meliputi nama,
di RSUD Provinsi Kepri 140 orang dan tahun
alamat, usia, paritas, pendidikan terakhir.
2013 meningkat 2 kali lipat yaitu 276 orang.dan
Selanjutnya peneliti melakukan pemiijat
kemungkinan terjadi kenaikan lagi tahun 2014.
oksitosin pada responden yang diberikan
Hasil studi pendahuluan melalui
perlakuan.Peneliti melakukan observasi dan
wawancara yang dilakukan pada bidan ruang
pengukuran pada kedua kelompok yang
Kebidanan RSUP Kepri mereka mengatakan
diberikan perlakuan serta yang tidak diberikan
tidak pernah melakukan pijat oksitosin pada
perlakuan. waktu pengeluaran kolostrum
saat memberikan perawatan kepada ibu post
dimasukkan kedalam lembar observasi.
partum. Baik untuk merangsang keluarnya ASI,
Saat melakukan penelitian, pemijatan
mengatasi perdarahan, maupun merangsang
oksitosin maupun saat pengukuran jumlah
kontraksi uterus. Mereka lebih cenderung
kolostrum yang keluar juga di lakukan oleh
menggunakan terapi breast care dan terapi
peneliti sendiri. Untuk mengukur pijat oksitosin
farmakologi seperti oksitosin intra-muskular.
peneliti menggunakan SOP pijat oksitosin.
Jadi metode untuk meningkatkan produktivitas
Analisis data dengan Univariabel dan
ASI melalui terapi non-farmakologi seperti
bivariabel untuk melihat hubungan antara
terapi pijat oksitosin belum pernah diterapkan.
variabel bebas (pemijatan bayi) dengan variabel
METODE terikat (kualitas tidur), uji statistik mengguna-
kan t-test dependent dengan tingkat signifikansi
Desain penelitian ini quasi eksperiment
0,05 (Notoadmojo, 2010).
dengan rancangan One Group pre and post test
design yaitu observasi dilakukan sebelum dan HASIL DAN PEMBAHASAN
sesudah diberikan perlakuan pada responden.
Penelitian dilakukan di Ruang kebidanan Hasil
Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi
Kepulauan Riau 6 Juni-8 Juli 2014. Populasi Tabel 1. Distribusi Rerata Waktu
kasus dalam penelitian ini adalah ibu Post Pengeluaran Kolostrum (jam) pada
partum 2 jam yang diberikan perlakuan yaitu Ibu Post Partum yang dilakukan
Pijat Oksitosin
melalui pemijatan Oksitosin di Ruang
Kebidanan RSUD Provinsi Kepri Tahun 2014. Kelompok
Sedangkan populasi kontrol dalam penelitian Perlakuan Mean (jam) Varians N
ini adalah seluruh ibu Post Partum yang tidak
diberi perlakuan yaitu pemijatan Oksitosin. Pengeluaran
Kolostrum pada Ibu
Pengambilan sampel dengan cara Non Nifas yang dilakukan
5.21 0,441 15
Probability Sampling-Purpossive Sampling Pijat Oksitosin
176 Jurnal Kesehatan, Volume V, Nomor 2,Oktober 2014, hlm 173-178

Tabel 1, menunjukkan rerata waktu atau taraf sigfnifikan α=0.05, Apabila nilai p
pengeluaran kolostrum ibu nifas yang dilakukan value ≤ 0.05 berarti terdapat Pengaruh yang
pijat oksitosin sebesar 5.21 jam signifikan antara variabel independen dan
variabel dependen.
Tabel 2. Distribusi Rerata Waktu
Pengeluaran Kolostrum (jam) Pada Tabel 4. Perbedaan rerata waktu
Ibu Post Partum Yang Tidak pengeluaran kolostrum (jam) pada
Dilakukan Pijat Oksitosin kelompok perlakuan dan kelompok
kontrol
Kelompok Mean
Varians N
Kontrol (jam)
Kelompok Mean ( Jam ) P value N
Pengeluaran ASI
Pada Ibu Nifas
yang Tidak 8.16 6,377 15 Perlakuan 5.21 15
Dilakukan Pijat
Oksitosin 0.006
Kontrol 8.16 15
Berdasarkan tabel 2, diketahui rerata
waktu pengeluaran Kolostrum pada ibu nifas α= 0.05
yang tidak dilakukan pijat oksitosin 8.16 jam.
Dengan memperhatikan tabel 4 diketahui
Tabel 3. Normalitas Distribusi Kelompok bahwa pada kelompok perlakuan rerata waktu
perlakuan dan kelompok kontrol pengeluaran kolostrum 5.21 jam, sedangkan
pada kelompok kontrol 8.16 jam. Hasil uji
statistik didapatkan p value=0.006 (p≤0.05),
Tests of Normality
artinya ada pengaruh pijat oksitosin terhadap
KELOMPOK Shapiro-Wilk rerata pengeluaran kolostrum.
Statistic Df Sig.
Pembahasan
Perlakuan . 933 15 .301
1. Rerata Waktu Pengeluaran Kolostrum (Jam)
JAM
Pada Ibu Post Partum yang dilakukan Pijat
Kontrol .903 15 .107 Oksitosin dan yang Tidak Dilakukan Pijat
α=0.05 Oksitosin

Hasil penelitian ini, menunjukkan pada


Berdasarkan hasil output uji normalitas kelompok perlakuan rerata waktu pengeluaran
varians dengan menggunakan uji Shapiro Wilk Kolostrum 5.21 jam. Dalam penelitian ini pijat
pada Tabel 3, nilai signifikansi untuk kelompok oksitosin dilakukan berdasarkan Standar
perlakuan 0,301 dan kelompok kontrol 0,107. Operasional Prosedur (SOP) yang diberikan
Karena nilai signifikansi kedua kelompok lebih pada ibu post partum 2 jam . Sedangkan hasil
dari 0,05, maka dapat dikatakan bahwa yang diperoleh pada kelompok yang tidak
kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dilakukan pijat oksitosin (kontrol) rerata waktu
berdistribusi normal. pengeluaran Kolostrum 8.16 jam.
Analisis bivariat dilakukan secara Dengan waktu yang lama pengeluaran
komputerisasi dengan uji T-Test Independent kolostrum dapat di percepat dengan tindakan
untuk membandingkan dua kelompok mean nonfarmakologis yaitu melalui pijatan atau
dari dua sampel yang berbeda. Prinsipnya ingin rangsangan pada tulang belakang, neu-
mengetahui apakah ada perbedaan mean antara rotransmitter akan merangsang medulla
dua populasi, dengan membandingkan mean oblongata langsung mengirim pesan ke hypo-
sampelnya dengan tingkat kepercayaan 95% thalamus di hypofise posterior untuk
Wulandari, Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap Pengeluaran Kolostrum 177

mengeluarkan oksitosin yang menyebabkan dipengaruhi oleh faktor kejiwaan, ibu yang
buah dada mengeluarkan air susunya. Dengan selalu dalam keadaan tertekan, sedih, kurang
pijatan di daerah tulang belakang ini juga akan percaya diri dan berbagai bentuk ketegangan
merelaksasi ketegangan dan menghilangkan emosional akan menurunkan volume ASI
stress dan dengan begitu hormon oksitosin bahkan tidak akan terjadi produksi ASI. Untuk
keluar dan akan membantu pengeluaran air susu memproduksi ASI yang baik harus dalam
ibu, dibantu dengan isapan bayi pada putting keadaan tenang.
susu pada saat segera setelah bayi lahir dengan
keadaan bayi normal, Kolostrum yang menetes 2. Pengaruh Pijat Oksitosin terhadap rerata
atau keluar merupakan tanda aktifnya reflex waktu pengeluaran kolostrum pada
oksitosin ( Perinasia, 2007 ). kelompok perlakuan dan kelompok kontrol
Hasil penelitian ini relevan dengan hasil
penelitian Endah (2011), yang mendapatkan Hasil perhitungan dengan analisa statistik
waktu pengeluaran kolostrum kelompok T-Test Independent pada 15 responden
perlakuan rata–rata 5,8 jam. kelompok perlakuan dan 15 responden
Penelitian ini dilakukan pada ibu post kelompok kontrol didapatkan nilai p=0,006
partum yang bersalin pada saat 2 jam post (<0,05). Hasil lain menunjukkan bahwa nilai t
partum atau setelah ibu post partum melakukan hitung sebesar 4.381 sedangkan nilai t tabel
mobilisasi dini ke ruang kebidanan Rumah 2,048 atau t tabel lebih kecil dari t hitung yang
Sakit Muhammadiyah Bandung. berarti secara statistik Ho ditolak, dengan
Hal ini menunjukkan kesesuaian dengan demikian dapat disimpulkan terdapat pengaruh
teori, dengan melakukan pemijatan pada rerata waktu pengeluaran kolostrum antara
sepanjang tulang belakang (vertebrae) sampai kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.
tulang costae kelima-keenam akan merangsang Hasil tersebut menunjukkan terdapat
hormon prolaktin yang diproduksi oleh hipofise perbedaan waktu pengeluaran kolostrum antara
anterior dan oksitosin yang diproduksi oleh ibu post partum yang dipijat oksitoksin
hipofise posterior , sehingga ASI pun otomatis (perlakuan) dengan ibu yang tidak dilakukan
dapat lebih lancar. Selain memperlancar ASI pijat oksitoksin (kontrol). Pijat oksitosin yaitu
pijat oksitosin memberikan kenyamanan pada suatu cara untuk membantu mempercepat
ibu nifas, mengurangi bengkak (engorgement), pengeluaran ASI atau Kolostrum dengan
mengurangi sumbatan ASI, merangsang pelepa- rangsangan pijatan pada kedua sisi tulang
san hormon oksitosin, mempertahankan pro- belakang, mulai dari leher kearah tulang belikat
duksi ASI ketika ibu dan bayi sakit.Adanya rasa dilanjutkan ke tulang costae di bawah kedua
nyaman yang dirasakan ibu selama pemi-jatan payudara ibu post partum (Perinasia, 2007).
merupakan syarat keberhasilan pijat oksitosin. Melalui pijatan atau rangsangan pada
Kolostrum keluar dari hari pertama tulang belakang, neurotransmitter akan
sampai hari keempat atau ketujuh setelah merangsang medulla oblongata langsung
melahirkan. Hal ini menunjukkan kesesuai mengirim pesan ke hypothalamus di hypofise
dengan teori dengan hasil penelitan, bahwa posterior untuk mengeluarkan oksitosin yang
kolostrum akan keluar pada hari pertama menyebabkan buah dada mengeluarkan air
(<24jam). Dengan tidak dilakukannya pijat susunya. Dengan pijatan di daerah tulang
oksitosin pengeluaran kolostrum terjadi belakang ini juga akan mereklaksasi ketegangan
keterlambatan dibanding dengan ibu yang dan menghilangkan stress dan dengan begitu
dilakukan pijat oksitosin. Ibu yang tidak di hormon oksitosin keluar dan akan membantu
lakukan pijat oksitosin mengalami pengeluaran air susu ibu. Kolostrum yang
keterlambatan pengeluaran kolostrum, hal ini menetes atau keluar merupakan tanda aktifnya
bisa terjadi puting susu ibu yang sangat kecil reflex oksitosin ( Perinasia, 2007 )
akan membuat produksi hormon oksitosin dan Pada kenyataannya menyusui bukanlah
hormon prolaktin akan terus menurun dan ASI suatu aktivitas yang terjadi secara otomatis, hal
akan terhenti. Selain itu produksi ASI sangat tersebut membutuhkan hal- hal yang dapat
178 Jurnal Kesehatan, Volume V, Nomor 2,Oktober 2014, hlm 173-178

memotivasi dan merubah cara pandang ibu Dalam penelitian ini kelompok perlakuan
mengenai menyusui seperti beberapa penelitian rerata waktu pengeluaran kolostrum 5.12 jam
yang dilakukan oleh Holroyd tahun 2002 lebih singkat dari rerata kelompok kontrol 8.16
menyatakan bahwa pengetahuan serta jam. Hal tersebut menunjukkan kesesuaian
keterampilan ibu mempengaruhi kepercayaan dengan teori, dengan melakukan pemijatan
diri ibu dalam menyusui. Kurang lancarnya pada sepanjang tulang belakang (vertebrae)
pengeluaran ASI setelah kelahiran perlu di sampai tulang costae kelima-keenam akan
tanggapi karena hal ini akan mempengaruhi merangsang hormon prolaktin yg di keluarkan
pemberian ASI ekslusif oleh ibu. oleh hipofise antrerior dan hormon oksitosin
Penelitian oleh Mulyati tahun 2009 yang dikeluarkan oleh hipofise posterior,
massase/pijat merupakan salah satu terapi sehingga ASI keluar yang terjadi karena sel otot
pendukung yang efektif untuk mengurangi halus di sekitar kelenjar payudara mengerut.
ketidaknyamanan fisik serta memperbaiki Penyebab otot-otot itu mengerut adalah hormon
gangguan mood. Pengurangan ketidak- oksitosin.
nyamanan pada ibu menyusui akan membantu Selain memperlancar ASI pijat oksitosin
lancarnya pengurangan ASI. Terjadinya memberikan kenyamanan pada ibu nifas,
peningkatan produksi ASI pada kelompok mengurangi bengkak (engorgement),
perlakuan dapat memberikan efek rileks pada mengurangi sumbatan ASI, merangsang
ibu yang secara tidak langsung dapat pelepasan hormon oksitosin, mempertahankan
menstimulasi hormone oksitosin yang dapat produksi ASI ketika ibu dan bayi sakit. Adanya
membantu proses kelancaran produksi ASI. rasa nyaman yang dirasakan oleh ibu selama
Penelitian monika tahun 2012 menyatakan proses pemijatan merupakan syarat
bahwa Pada kelompok bayi yang hanya keberhasilan pijat oksitosin.
menerima ASI, maka ASI pertama/kolostrum
akan keluar 23 jam pasca melahirkan SIMPULAN
Stimulasi oksitosin membuat sel-sel
mioepitel di sekitar alveoli di dalam kelenjar Berdasarkan hasil analisis dan
payudara berkontraksi. Kontraksi sel-sel yang pembahasan dapat disimpulkan:
Efektifitas kombinasi menyerupai otot ini 1. Rerata waktu pengeluaran kolostrum pada
menyebabkan susu keluar melalui duktus dan ibu post partum kelompok perlakuan pijat
masuk ke dalam sinus-sinus laktiferus. Refleks oksitosin adalah 5.21 jam.
let-down dapat dirasakan sebagai sensasi 2. Rerata waktu pengeluaran kolostrum pada
kesemutan atau dapat juga ibu tidak merasakan ibu post partum kelompok kontrol 8.16 jam.
sensasi apapun. Tanda-tanda lain let-down 3. Pijat oksitosin berpengaruh terhadap rerata
adalah tetesan susu dari payudara ibu dan susu pengeluaran kolostrum pada ibu post partum
menetes dari payudara lain yang tidak sedang (p-value=0.006)
diisap oleh bayi.

DAFTAR PUSTAKA
Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi penelitian
Endah, S.N. & Masdinarsah, I. 2011. Pengaruh
kesehatan. Jakarta: PT Rineka Citra.
pijat oksitosin terhadap pengeluaran
kolostrum pada Ibu post partum di Perinasia. 2007. Manajemen Laktasi. Jakarta:
ruang kebidanan rumah sakit gramedia.
muhammadiyah Bandung.Bandung