You are on page 1of 2

BAB 25

A. Undang-undang 15/2002
Kejahatan berupa tindak pidana korupsi, penyuapan, penyelundupan barang,
penyelundupan tenaga kerja, penyelundupan imigram, perbankan, perdagangan budak,
wanita, dan anak-anak, perdagangan senjata gelap, penculikan, terorisme, pencurian
pengeelapan, penipuan dan berbagai kejahatan kerah putih.
Kriminalisasi dari setiap tahap dalam proses pencucian uang, merupakan inti dari
undang-undang pencucian uang. Ada tiga tahap dalam proses pencucian uang
1. Placement  upaya menempatkan uang tunai hasil kejahatan kedalam system
keuangan atau upaya menempatkan kembali dana yang sudah berada dalam
system keuangan.
2. Layering  upaya mentransfer harta kekayaan hasil kejahatan yang telah berhasil
masuk dalam system keuangan melalui tahap placement
3. Integration  upaya menggunakan kekayaan yang berasal dari tindak pidana yang
telah berhasil masuk dalam system keuangan melalui placement dan layering,
seolah-olah kekayaan “halal”
Dalam rangka pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dibentuk
PPATK, yang bertugas:
1. Mengumpulkan, menyimpan, menganalisis, mengevaluasi informasi yang
diperoleh PPATK
2. Memantau catatan dalam buku daftar pengecualian yang dibuat oleh penyedia jasa
keuangan
3. Membuat pedoman mengenai tatacara pelaporan transaksi keuangan yang
mencurigakan
4. Memberinasihat dan bantuan kepada instansi yang berwenang tentang informasi
yang diperoleh oleh PPATK
B. UU No.25 Tahun 2003
Perbedaan UU No. 15 tahun 2002 dengan UU No. 25 tahun 2003
 Pengertian cakupan penyedia jasa keuangan Cakupan pengertian penyediaan jasa
keuangan diperluas tidak hanya bagi setiap orang yang menyediakan jasa dibidang
keuangan tetapi juga meliputi jasa lainnya yang terkait dengan keuangan.
 Macam-macam Transaksi Pengertian transaksi keuangan mencurigakan diperluas
dengan mencantumkan transaksi keuangan yang dilakukan atau batal dilakukan dengan
menggunakan harta kekayaan yang diduga berasal dari tindak pidana.
 Pembatasan jumlah hasil tindak pidana pembatasan jumlah hasil tindak pidana sebesar
lima ratus juta rupiah atau lebih, atau nilai yang setara diperoleh dari tindak pidana
dihapus, karena tidak sesuai dengan prinsip yang berlaku umum bahwa untuk
menetukan suatu perbuatan dapat dipidana tidak tergantung pada besa atau kecilnya
hasil tindak pidana yang diperoleh.
 Perluasan tindak pidana asal Cakupan tindak pidana asal diperluas untuk mencegah
berkembangnya tindak pidana yang menghasilkan harta kekayaan dimana pelaku
tindak pidana berupaya menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul hasil tindak
pidana namun perbuatan itu tidak dipidana.
C. Prinsip Mengenal Nasabah
Di Indonesia, prinsip mengenal nasabah pertama kali diatur dalam Peraturan Bank
Indonesia (PBI) No. 3/10/PBI/2001 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (Know
Your Customer Principles) sebagaimana terakhir diubah dengan PBI No. 5/21/PBI/2003.
Yang dimaksud dengan Prinsip Mengenal Nasabah dalam PBI ini adalah “prinsip yang
diterapkan bank untuk mengetahui identitas nasabah, memantau kegiatan transaksi nasabah
termasuk pelaporan transaksi yang mencurigakan.
Berdasarkan ketentuan bahwa melalui penerapan prinsip mengenal nasabah
diharapkan bank secara dini dapat mengidentifikasi transaksi yang mencurigakan, untuk
meminalisir berbagai risiko, seperti risiko operasional (operasional risk), risiko hukum
(legal risk), risiko terkonsentrasinya transaksi (concentration risk), dan risiko reputasi
(reputational risk). Di samping itu, dengan menerapkan prinsip ini, bank diharapkan tidak
hanya mengenal nasabah secara harfiah saja, tapi bisa mengenal lebih konfrehensif lagi,
tidak hanya mengetahui identitas nasabah tapi juga berkaitan dengan profil dan karakter
transaksi nasabah, yang dilakukan melalui jasa perbankan
Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa penerapan prinsip mengenal
nasabah (know your customer principle) sangat penting dalam industri perbankan guna
menjaga stabilitas kesehatan bank. Seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi,
semakin kompleksnya produk dan aktivitias perbankan, maka risiko yang dihadapi oleh
bank juga akan semakin meningkat. Peningkatan risiko ini mesti diimbangi dengan
peningkatan kualitas manajemen risiko. Pengaturan penerapan prinsip mengenal nasabah
juga disempurnakan berdasarkan standar internasioanl

D. Kriminalisasi dari Perbuatan Pencucian Uang


Indonesia menetapkan perbuatan-perbuatan tertentu secara resmi sebagai tindak
pidana, sebagai perbuatan criminal, atau secara spesifik disebut Tindak Pidana Pencucian
Uang (TPPU).
TPPU ini diperinci pada bab II dari undang-undang tentang TPPU. Bab III memerinci
tindak pidana lain yang berkaitan dengan TPPU.