You are on page 1of 12

TUGAS AKHIR MATA KULIAH AKUNTANSI FORENSIK

AKUNTANSI FORENSIK DALAM UPAYA PENCEGAHAN TINDAK

PIADANA KORUPSI

Dosen Pengampu Mata Kuliah : Dwi Sudaryati, S.E., M.Acc., AKT

Disusun Oleh :
Nama : M. Khairil Azmi
NIM : 142160071
Kelas : EA-A

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” YOGYAKARTA
2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Maraknya Kasus korupsi hampir di setiap lini kehidupan di Indonesia sangat ironis

dengan banyaknya strategi yang telah dirumuskan oleh berbagai lembaga pemerintahan

seperti BPK, BPKP, Inspektorat, KPK maupun oleh kalangan LSM seperti MTI dan ICW.

Seluruh strategi yang merupakan jurus-jurus ampuh dalam pemberantasan korupsi

sepertinya belum mampu menuntaskan permasalahan korupsi yang sudah menggejala.

Bercemin dari kasus besar yang memuat kepermukaan telah membuka suatu babak baru

tindak pidana korupsi di Indonesia yang memberikan dampak domino secara besar – besaran

terhadap pola pemerintahan, politik di indonesia. Kasus 5 tahun Bank Century yang

melibatkan petinggi – petinggi Negara telah membuat suatu iklim baru dan pola pandang

masyarakat terhadap kinerja yang dihasilkan oleh Wakil Rakyat tersebut. Istilah korupsi

pada UU No. 31 tahun 1999 meliputi 30 tindak pidana korupsi bukan empat seperti di fraud

tree, yaitu conflict of interest, bribery, illegal gratuities, dan economic extortion. Conflict of

interest atau benturan kepentingan sering ditemui dalam bentuk bisnis pejabat/penguasa dan

keluarga serta kroni-kroninya. Bribery atau penyuapan merupakan hal yang sering dijumpai

dalam kehidupan bisnis dan politik di Indonesia. Illegal gratuities pemberian atau hadiah

yang merupakan bentuk terselubung dari penyuapan, hal itu juga sering dijumpai dalam

kehidupan bisnis dan politik di Indonesia. Economic extortion merupakan ancaman

terhadap rekanan, ancaman ini bisa secara terselubung atau terbuka. Peran akuntan forensik

sangat dibutuhkan didalam menindak lanjuti korupsi agar dapat membongkar banyaknya

terjadi kecurangan yang berasal dari korupsi. Akuntansi Forensik merupakan penerapan

disiplin akuntansi dalam arti luas, termasuk auditing, pada masalah hukum untuk
menyelesaikan hukum didalam mapupun diluar Pengadilan, disektor publik aupun sektor

privat (Tuanokota, 2010). akuntansi forensik adalah akuntansi yang akurat untuk tujuan

hukum atau akuntansi yang tahan uji dalam kancah perseteruan selama proses pengadilan

atau dalam proses peninjauan yudisial atau tinjauan administratif. Akuntansi forensik

merupakan praktik khusus bidang akuntansi yang menggambarkan keterlibatan yang

dihasilkan dari perselisihan aktual atau yang diantisipasi atau litigasi. Di Indonesia kasus

akuntansi forensik di sektor publik lebih menonjol dibandingkan di sektor privat. Kasus

yang berhubungan dengan akuntansi forensik akan berurusan dengan kerugian, baik di

sektor publik maupun di sektor privat. Di sektor publik tindakan melawan

hukum/kecurangan tersebut menimbulkan kerugian bagi negara dan keuangan negara. Di

sektor privat, tindakan melanggar hukum/kecurangan menimbulkan kerugian karena terjadi

cidera janji dalam suatu perikatan. Kasus-kasus yang berhubungan dengan

kecurangan/tindakan melawan hukum adalah korupsi, asset misappropriation, dan

kecurangan laporan keuangan (fraudulent financial statement).

B. Rumusan Masalah

1. Apa penyebab terjadinya korupsi?

2. Bagaimana Pencegahan Tindak Pidana Korupsi?


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Akuntansi Forensik

Akuntan forensik adalah akuntan yang terdaftar dan bersertifikat akuntan yang telah

memperoleh pendidikan tambahan atau sertifikasi sebagai pemeriksa kecurangan atau

sebagai seorang akuntan forensik. Anggota dari International Federation of Accountants

(IFAC) seperti American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) dan Chartered

Professional Accountants of Cananda (CPA Canada) dimana anggotanya yang memenuhi

syarat harus memiliki Certified in Financial Forensic (CFF) untuk dapat menjadi seorang

akuntan forensik. Secara internasional, sebagai organisasi anti kecurangan dunia,

Association of Certified Examination (ACFE) menyediakan sertifikasi untuk kecurangan

yang dikenal dengan Certified Fraud Examiner (CFE) (Singleton and Singleton 2010).

Akuntan forensik akan menggunakan pengetahuannya di bidang akuntansi, audit dan

hukum, investigasi dan kriminologi untuk mengungkap kecurangan, menemukan bukti dan

menyampaikan bukti tersebut ke pengadilan, jika dibutuhkan.Kita dapat membedakan dua

perbedaan utama antara auditor dan akuntan forensik. Studi lain telah membuat perbedaan

antara akuntan forensik dan audit. Mengungkapkan pendapat pada keakuratan dan

kelengkapan laporan keuangan adalah tujuan audit, sedangkan tujuan akuntansi forensik

adalah pengumpulan data keuangan yang sistematis untuk menganalisa dan

menginterpretasikan masalah keuangan yang kompleks dan untuk menanggapi keluhan

yang timbul dari masalah-masalah pidana, perdata dan pertanyaan lainnya yang timbul dari

penyelidikan maupun yang bersumber pada penyelidikan terhadap suatu perusahaan (Smith

2012). Akuntan forensik memberikan skeptisisme professional dan kemampuan analisis

untuk melihat melampaui angka yang disajikan untuk menyelidiki dan menemukan maksud
sebenarnya dari transaksi, sebaliknya, fokus audit adalah untuk menentukan apakah laporan

keuangan perusahaan disajikan dengan wajar tanpa ada salah saji yang material

(Warshacsky 2013).

Audit dilakukan untuk membantu dalam penerapan strategi manajemen untuk

mencapai tujuan serta memberikan laporan keuangan yang benar dan adil dalam lingkungan

bisnis kepada pemangku kepentingan untuk mengambil keputusan, sedangakan akuntansi

forensik dilakukan untuk menyelidiki penyimpangan atau kecurangan dan pengukuran

dampak (Imoniana et al. 2013). Audit menemukan laporan salah saji sedangkan akuntansi

forensik memeriksa atau menganalisa salah saji secara mendalam (Kushnirof 2012).

Akuntansi forensik dapat dilakukan jika auditor memiliki kecurigaan adanya penyimpangan

dan salah saji yang disengaja dalam laporan keuangan (Italia 2012). Prosedur utama dalam

akuntansi forensik lebih menekankan pada teknik wawancara yang mendalam dan analisis

data walaupun seringkali menggunakan teknik audit umum seperti pengecekan rekonsiliasi,

konfirmasi dan sebagainya. Akuntansi forensik memfokuskan pada segmen tertentu

misalnya pemasukan dan pengeluaran yang di curigai telah terjadi tindak kecurangan atau

korupsi baik dari laporan pihak dalam atau orang ketiga (tip off) atau petunjuk terjadinya

kecurangan (red flag) dan petunjuk lainnya. Akuntan forensik bertugas untuk

mengumpulkan bukti untuk mengetahui keabsahan transaksi akuntansi yang kompleks..

Akuntan forensik dapat memberikan pendapat hukum dalam pengadilan. Akuntansi

forensik adalah penggunaan keahlian di bidang akuntansi, audit, hukum yang dipadu dengan

kemampuan investigatif untuk memecahkan suatu masalah atau sengketa keuangan atau

dugaan kecurangan yang pada akhirnya akan diputuskan oleh pengadilan/arbitrase/tempat

penyelesaian perkara lainnya. Kasus korupsi pada dasarnya adalah sengketa keuangan

antara negara dengan warganya yang secara resmi telah ditunjuak untuk mengelola
pemerintahan. Sengketa tersebut harus diselidiki kebenarannya oleh lembaga negara

(misalnya KPK) dan di putuskan oleh hakim di pengadilan.

B. Korupsi
Definisi korupsi adalah suatu perilaku tidak jujur atau curang demi keuntungan pribadi

oleh mereka yang berkuasa, dan biasanya melibatkan suap. Korupsi dapat juga didefinisikan

sebagai suatu tindakan penyalahgunaan kepercayaan yang dilakukan seseorang terhadap

suatu masalah atau organisasi demi untuk mendapatkan keuntungan.

Secara etimologis istilah “korupsi” berasal dari bahasa Latin,

yaitu “corruptio” atau “corruptus” yang artinya sesuatu yang rusak, busuk,

menggoyahkan, memutarbalik, menyogok. Sehingga dari asal katanya, arti korupsi adalah

penyalahgunaan jabatan resmi untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

Menurut Robert Klitgaard, pengertian korupsi adalah suatu tingkah laku yang

menyimpang dari tugas-tugas resmi jabatannya dalam negara, dimana tujuannya untuk

memperoleh keuntungan status atau uang yang menyangkut diri pribadi atau perorangan,

keluarga dekat, kelompok sendiri, atau dengan melanggar aturan pelaksanaan yang

menyangkut tingkah laku pribadi.

Menurut Henry Campbell Black, definisi korupsi adalah suatu perbuatan yang

dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan suatu keuntungan yang tidak sesuai dengan

kewajiban resmi dan hak-hak dari pihak lain.

Menurut Nathaniel H. Leff, pengertian korupsi adalah suatu cara diluar hukum yang

digunakan oleh perorangan atau kelompok untuk mempengaruhi tindakan-tindakan

birokrasi.

Menurut KBBI, pengertian korupsi adalah tindakan penyelewengan atau

penyalahgunaan uang negara (perusahaan dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau

orang lain.
BAB III

PEMBAHASAN

A. Penyebab Terjadinya Korupsi

Korupsi terjadi disebabkan adanya penyalahgunaan wewenang dan jabatan yang

dimiliki oleh pejabat atau pegawai demi kepentingan pribadi dengan mengatasnamakan

pribadi atau keluarga, sanak saudara dan teman. Wertheim dalam Lubis (1977) menyatakan

bahwa seorang pejabat dikatakan melakukan tindakan korupsi bila ia menerima hadiah dari

seseorang yang bertujuan mempengaruhinya agar ia mengambil keputusan yang

menguntungkan kepentingan si pemberi hadiah. Kadang-kadang orang yang menawarkan

hadiah dalam bentuk balas jasa juga termasuk dalam korupsi. Ackerman (1991) berpendapat

bahwa korupsi terjadi di perbatasan antara sektor pemerintah dan sektor swasta. Apabila

seorang pejabat pemerintah memiliki kekuasaan penuh terhadap pendistribusian

keuntungan atau biaya kepada sektor swasta, maka terciptalah suatu insentif untuk

penyuapan. Jadi korupsi tergantung besarnya keuntungan dan biaya yang berada di bawah

pengendalian pejabat pemerintah.

Terjadinya korupsi menurut para ahli terjadi karena beberapa faktor yang tidak

bersifat tunggal. Lutfhi (2002) menyebutkan faktor-faktor penyebab terjadinya korupsi

adalah: (1) motif, baik motif ekonomi maupun motif politik, (2) peluang, dan (3) lemahnya

pengawasan. Erika Revida (2003) menyebutkan penyebab korupsi meliputi, (1) gaji yang

rendah, kurang sempurnanya peraturan perundang-undangan, administrasi yang lamban dan

sebagainya, (2) warisan pemerintahan kolonial, (3) sikap mental pegawai yang ingin cepat
kaya dengan cara yang tidak halal, tidak ada kesadaran bernegara, tidak ada pengetahuan

pada bidang pekerjaan yang dilakukan oleh pejabat pemerintah.

Menurut Tanzi (dalam Teguh Kurniawan, 2009) terdapat faktor langsung dan tidak

langsung yang menyebabkan korupsi. Faktor penyebab langsung dari korupsi ada enam

yaitu: (1) pengaturan dan otorisasi, (2) perpajakan, (3) kebijakan pengeluaran/anggaran, (4)

penyediaan barang dan jasa dibawah harga pasar, (5) kebijakan diskresi lainnya dan (6)

pembiayaan partai politik. Adapun penyebab tidak langsung dari korupsi ada enam yaitu:

(1) kualitas birokrasi, (2) besaran gaji di sektor publik, (3) sistem hukuman, (4) pengawasan

institusi, (5) transparansi aturan, hukum, dan proses, (6) teladan dari pemimpin. Pengaturan

dan otorisasi dapat menyebabkan korupsi ketika seorang pejabat memiliki kewenangan

monopoli untuk melakukan pengaturan dan otorisasi tanpa diimbangi ketersediaan

transparansi, kejelasan prosedur dan upaya administratif. Perpajakan menyebabkan korupsi

ketika tidak didasarkan atas aturan yang jelas dan masih memungkinkan kontak langsung

antara petugas pajak

B. Pencegahan Tindak Pidana Korupsi

Strategi terkait masyarakat menurut Gillespie dan Okruhlik ditekankan pada tiga hal

utama, yakni norma etika, pendidikan, dan kewaspadaan publik. Adapun strategi terkait

dengan hukum adalah berkenaan dengan pengenaan aturan hukum terhadap tindak pidana

korupsi. Namun demikian, sanksi hukum terhadap tindak pidana korupsi akan lebih efektif

jika diperkuat oleh strategi pendukung lain seperti keberadaan auditor dan investigator

independen, komisi khusus yang dapat melakukan tindakan hukum terhadap pelaku korupsi,

serta peningkatan besar hukuman bagi pelaku korupsi. Strategi terkait pasar menurut

Gillespie dan Okruhlik (1991) adalah dengan mengurangi intervensi pemerintah dalam

perekonomian serta mengurangi regulasi yang kompleks dan berlapis. Sementara strategi
terkait politik menekankan pada tiga perhatian, yakni kewenangan, akses terhadap proses

politik, serta reformasi administrasi/birokrasi.

Pada posisi sebelum perbuatan korupsi terjadi upaya pencegahannya bersifat

preventif. Pada posisi perbuatan korupsi terjadi upaya mengidentifikasi atau mendeteksi

terjadinya korupsi bersifat detektif. Sedangkan pada posisi setelah perbuatan korupsi terjadi

upaya untuk meyelesaikannya secara hukum dengan sebaikbaiknya bersifat represif.

Strategi preventif harus dibuat dan dilaksanakan dengan diarahkan pada hal- hal yang

menjadi penyebab timbulnya praktik korupsi. Setiap penyebab korupsi yang teridentifikasi

harus dibuat upaya preventifnya, sehingga dapat meminimalkan penyebab korupsi. Di

samping itu, perlu dibuat upaya yang dapat meminimalkan peluang untuk melakukan

korupsi. Strategi detektif harus dibuat dan dilaksanakan terutama dengan diarahkan agar

apabila suatu perbuatan korupsi terlanjur terjadi maka perbuatan tersebut akan dapat

diketahui dalam waktu yang singkat dan akurat. Deteksi dini mengenai suatu tindakan

korupsi dapat mempercepat pengambilan tindak lanjut dengan tepat sehingga akan

menghindarkan kerugian lebih besar yang mungkin timbul. Strategi represif harus dibuat

dan dilaksanakan terutama dengan diarahkan untuk memberikan sanksi hukum yang

setimpal secara cepat dan tepat kepada pihak-pihak yang terlibat dalam praktik korupsi.

Dengan demikian, proses penanganan korupsi sejak dari tahap penyelidikan, penyidikan dan

penuntutan sampai dengan peradilan perlu dilkaji untuk dapat disempurnakan di segala

aspeknya sehingga proses penanganan tersebut akan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.

Akntansi forensik dalam kontek preventif, detektik dan represif secara aksiomatik

dapat mengambil peranannya dengan menyediakan pendekatan-pendektan yang efektif

dalam mencegah, mengetahui atau mengungkapkan dan menyelesaikan kasus korupsi.

Untuk kepentingan ini akuntansi forensik di indoensia belum banyak digunakan karena

profesi akuntansi belum menetapkan standar dari penerapan akuntansi forensik sebagai
salah satu profesi akuntan. Akuntansi forensik dan profesi akuntan forensik yang di

negaranegara maju mengambil peran strategik dalam pengungkapan kecurangan termasuk

korupsi di Indonesia belum begitu umum peranannya. Kondisi ini tidak terlepas dari belum

ditetapkannya standar untuk profesi ini dan belum dimasukannya akuntansi forensik dalam

kurikulum perguruan tinggi yang menghasilkan tenaga akuntan. Pendidikan akuntan

forensik merupakan sinergi dari pendidikan tinggi dan profesi akuntansi yang secara khusus

dalam kurikulumnya memberikan dasar-dasar ilmu hukum khusus yang berhubungan

dengan pembuktian dan alat bukti perkara.


KESIMPULAN

Akuntansi forensik merupakan formulasi yang dapat dikembangkan sebagai strategi

preventif, detektif dan persuasif melalui penerapan prosedur audit forensik dan audit

investigatif yang bersifat litigation suport untuk menghasilkan temuan dan bukti yang dapat

digunakan dalam proses pengambilan putusan di pengadilan.

Belum tersedianya institusi yang menghasilkan tenaga akuntansi forensik dan audit

forensik memerlukan upaya dari institusi penyelenggara pendidikan dalam menyediakan

kurikulum yang membekali lulusan dengan kompetensi akuntansi forensik. Belum

tersedianya lembaga dan standar profesi auditor dan akuntan forensik merupakan tantangan

bagi profesi akuntansi di Indonesia untuk mengoptimalkan peran profesi dalam penanganan

masalah nasional khususnya pengungkapan dan penanganan kasus korupsi.

upaya yang dilakukan dalam pemberantasan korupsi di Indonesia masih cenderung

parsial dan tidak memiliki desain strategi yang jelas sehingga dalam banyak hal tidak

mampu mengurangi secara signi kan tingkat korupsi yang terjadi dalam penyelenggaraan

pemerintahan baik di pusat maupun daerah. Strategi antikorupsi yang baik adalah strategi

yang telah mempertimbangkan semua faktor yang berpengaruh dan dengan melakukan

diagnosa yang benar terhadap permasalahan korupsi yang dihadapi.


Daftar Pustaka

Leardo Arles, Anita (2013) Akuntansi Forensik Dalam Upaya Pemberantasan Tindak Pidana

Korupsi Di Indonesia. Program Pendidikan Profesi Akuntansi Universitas Riau

a d m i n . a c c h , Keahlian Akuntan Forensik Dan Pendidikan Akuntansi Forensik Di


Indonesia, https://acch.kpk.go.id/id/component/content/article?id=693:keahlian-
akuntan-forensik-dan-pendidikan-akuntansi-forensik-di-indonesia, 19-05-2019,
20.00

Pengertian Korupsi: Definisi, Penyebab, serta Jenis dan Bentuk Korupsi,


https://www.maxmanroe.com/vid/sosial/pengertian-korupsi.html, 19-05-2019, 20.30

I DEWA NYOMAN WIRATMAJA, AKUNTANSI FORENSIK DALAM UPAYA


PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI, Jurusan Akuntansi Fakultas
Ekonomi, Universitas Udayana

WAHYU SETIAWAN (2012), PENGARUH AKUNTABILITAS LAPORAN KEUANGAN


PEMERINTAH DAERAH (LKPD) TERHADAP TINGKAT KORUPSI
PEMERINTAH DAERAH DI INDONESIA, FAKULTAS EKONOMIKA DAN
BISNIS UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG