You are on page 1of 9

yang menunjukkan gejala EPS yang berat bila diberikan antipsikosis yang lain.

Namun, karena clozapin memiliki efek resiko agranulositosis yang lebih tinggi dibandingkan
antipsikosis yag lain, maka pengunaannya di batasi hanya pada pasien yang resisten atau
tidak dapat mentoleransi antipsikosis lain. Pasien yang diberi clozapine perlu di pantau sel
darah putihnya setiap minggu.
Secara farmakokinetik, clozapine di absorpsi secara cepat dan sempurna pada
pemberian per oral. Kadar puncak plasma tercapai pada kira-kira 1,6 jam setelah pemberian
obat. Clozapine secara ekstensif diikat protein plasma (>95%), obat ini di metabolisme
hampir sempurna sebelum dieksresi lewat urin dan tinja (30% melaui kantong empedu dan
50% melaui urine), dengan waktu paruh rata-rata 11,8 jam sehingga pemberiannya
6
dianjurkan 2 kali dalam sehari. Distribusi dari clozapine dibandingkan obat antipsikotik
lainnya lebih rendah. Umunya afinitas dari clozapine rendah pada reseptor D2 dan tinggi pada
reseptor 5HT2A sehingga cenderung rendah untuk menyebabkan terjadinya efek samping
EPS. Pada reseptor D4 afinitasnya lebig tinggi 10 kali lipat dibandingkan antipsikotik
lainnya, dimana reseptor D4 terdapat pada daerah korteks dan sedikit pada daerah striatal.
Hal ini lah yang membedakan clozapine dengan APG I.

Dosis :
- Hari 1 : 1 – 2 x 12,5 mg.
- Berikutnya ditingkatkan 25 – 50 mg / hari sp 300 – 450 mg / hari dengan pemberian
terbagi.
- Dosis maksimal 600 mg / hari.
- Sediaan yang ada di pasaran tablet 25 mg dan 100 mg

Efek samping :
- Granulositopeni, agranulositosis, trombositopeni, eosinofilia, leukositosis, leukemia.
- Ngantuk, lesu, lemah, tidur, sakit kepala, bingung, gelisah, agitasi, delirium.
- Mulut kering atau hipersalivasi, penglihata kabur, takikardi, postural hipotensi, hipertensi.
- Dsb.

Kontra indikasi :
- Ada riwayat toksik/hipersensitif.
- Gangguan fungsi Sumsum tulang.
- Epilepsi yang tidak terkontrol.
- Psikosis alkoholik dan psikosis toksik lainnya.
- Intoksikasi obat.
- Koma.
- Kollaps sirkulasi.
- Depresi SSP.
- Ganguan jantung dan ginjal berat.
- Gangguan liver.

 RISPERIDONE

Risperidone merupakan obat APG II yang kedua diterima oleh FDA (Food and
Drug Administration) sebagai antipsikotik setelah clozapine. Rumus kimianya adalah
benzisoxazole derivative. Absorpsi risperidone di usus tidak di pengaruhi oleh makanan dan
efek terapeutik nya terjadi dalam dosis rendah, pada dosis tinggi dapat terjadi EPS.
Pemakaian risperidone yang teratur dapat mencegah terjadinya kekambuhan dan
menurunkan jumlah dan lama perawatan sehingga baik digunakan dalam dosis pemeliharaan.
Pemakaian riperidone masih diizinkan dalam dosis sedang, setelah pemberian APG I dengan
dosis yang kecil dihentikan, misalnya pada pasien usia lanjut dengan psikosis, agitasi,
gangguan perilaku yang di hubungkan dengan demensia.

Risperidone dapat memperbaiki skizofrenia yang gagal di terapi dengan APG I


tetapi hasil pengobatannya tidak sebaik clozapine. Obat ini juga dapat memperbaiki fungsi
kognitif tidak hanya pada skizofrenia tetapi juga pada penderita demensia misalnya demensia
Alzheimer.

Metabolisme risperidone sebagian besar terjadi di hati oleh enzim CYP 2D6
menjadi 9-hydroxyrisperidone dan sebagian kecil oleh enzim CYP 3A4. Hydroxyrisperidone
mempunyai potensi afinitas terhadap reseptor dopamin yang setara dengan risperidone.
Eksresi terutama melalui urin. Metabolisme risperiodne dihambat oleh antidepresan
fluoxetine dan paroxetine, karena antidepresan ini menghambat kerja dari enzim CYP 2D6
dan CYP 3A4 sehingga pada pemberian bersama antidepresan ini, maka dosis risperidone
harus dikurangi untuk meminimalkan timbulnya efek samping dan toksik. Metabolisme obat
ini dipercepat bila diberikan bersamaan carbamazepin, karena menginduksi CYP 3A4
sehingga perlu peningkatan dosis risperidone pada pemberiaan bersama carbamazepin
disebabkan konsentrasi risperidone di dalam plasma rendah.
Indikasi :
- Skizofrenia akut dan kronik dengan gejala positif dan negatif.
- Gejala afektif pada skizofrenia (skizoafektif).

Dosis :
- Hari 1 : 1 mg, hari 2 : 2mg, hari 3 : 3 mg.
- Dosis optimal - 4 mg / hari dengan 2 x pemberian.
- Pada orang tua, gangguan liver atau ginjal dimulai dengan 0,5 mg, ditingkatkan sp 1 – 2
mg dengan 2 x pemberian.
- Umunya perbaikan mulai terlihat dalam 8 minggu dari pengobatan awal, jika belum terlihat
respon perlu penilaian ulang.
- Kadar puncak plasma dicapai dalam waktu 1-2 jam setelah pemberian oral.

Efek samping:
- EPS
- Peningkatan prolaktin (ditandai dengan gangguan menstruasi, galaktorea, disfungsi
seksual)
- Sindroma neuroleptik malignan
- Peningkatan berat badan
- Sedasi
- Pusing
- Konstipasi
- Takikardi

 OLANZAPINE
Merupakan derivat dari clozapine dan dikelompokkan dalam golongan
dibenobenzodiazepine. Absorpsi tidak dipengaruhi oleh makanan. Plasma puncak
olanzapine dicapai dalam waktu 5-6 jam setalah pemberian oral, sedangkan pada pemberian
intramuskular dapat dicapai setelah 15-45 menit dengn waktu paruh 30 jam (antara 21-54
jam) sehingga pemberian cukup 1 kali sehari.
Olanzapine merupaka antagonis monoaminergik selektif yang mempunyai afinitas
yang kuat terhadap reseptor dopamin (D1-D4), serotonin (5HT2A/2c), Histamin (H1) dan α1
adrenergik. Afinitas sedang dengan reseptor kolinergik muskarinik (M1-5) dan serotonin
(5HT3). Berikatan lemah dengan reseptor GABAA, benzodiazepin dan β-adrenergik.
Metabolisme olanzapine di sitokrom P450 CYP 1A2 dan 2D6. Metabolisme akan meningkat
pada penderita yang merokok dan menurun bila diberikan bersama dengan antidepresan
fluvoxamine atau antibiotik ciprofloxacin. Afinitas lemah pada sitokrom P450 hati sehingga
pengaruhnya terhadap metabolisme obat lain rendah dan pengaruh obat lain minimal
terhadap konsentrasi olanzapine.
Eliminasi waktu paruh dari olanzapine memanjang pada penderita usia lanjut.
Cleareance 30% lebih rendah pada wanita dibanding pria, hal ini menyebabkan terjadinya
perbedaan efektivitas dan efek samping antara wanita dan pria. Sehingga perlu modifikasi
dosis yang lebih rendah pada wanita. Cleareance olanzapine meningkat sekitar 40% pada
perokok dibandingkan yang tidak merokok, sehingga perlu penyesuaian dosis yang lebih
tinggi pada penderita yang merokok.

Indikasi :
- Sizofrenia atau psikosis lain dengan gejala positive dan negatif.
- Episode manik moderat dan severe.
- Pencegahan kekambuhan gangguan bipolar.

Dosis :
- Untuk skizofrenia mulai dengan dosis 10 mg 1 x sehari.
- Untuk episode manik mulai dengan dosis 15 mg 1 x sehari.
- Untuk pecegahan kekambuhan gangguan bipolar 10 mg / hari.

Efek samping:
- Penigkatan berat badan
- Somnolen
- Hipotensi ortostatik berkaitan dengan blokade reseptor α1
- EPS dan kejang rendah
- Insiden tardive dyskinesia rendah

 QUETIAPINE

Struktur kimia yang mirip dengan clozapine, masuk dalam kelompok


dibenzodiazepine derivates. Absorpsinya berlangsung cepat setelah pemberian oral,
konsentrasi plasma puncak dicapai dalam waktu 1,5 jam setelah pemberian. Metabolisme
terjadi di hati, pada jalur sulfoxidation dan oksidasi menjadi metabolit tidak aktif dan waktu
paruhnya 6 jam.

Quetiapine merupaka antagonis reseptor serotonin (5HT1A dan 5HT2A), reseptor


dopamin (D1 dan D2), reseptor histamin (H1), reseptor adrenergik α1 dan α2. Afinitasnya
lemah pada reseptor muskarinik (M1) dan reseptor benzodiazepin. Cleareance quetiapine
menurun 40% pada penderita usia lanjut, sehinga perlu penyesuaian dosis yang lebih rendah
dan menurun 30% pada penderita yang mengalami gangguan fungsi hati. Cleareance
quetiapine meningkat apabila pemberiannya dilakukan bersamaan dengan antiepileptik
fenitoin, barbiturat, carbamazepin dan antijamur ketokonazole.

Quetiapine dapat memperbaiki gejala positif, negatif, kognitif dan mood. Dapat
juga memperbaiki pasien yang resisten dengan antipsikotik generasi pertama tetapi hasilnya
tidak sebaik apabila di terapi dengan clozapine. Pemberian pada pasien pertama kali
mendapat quetiapine perlu dilakukan titrasi dosis untuk mencegah terjadinya sinkope dan
hipotensi postural. Dimulai dengan dosis 50 mg per hari selama 4 hari, kemudian dinaikkan
menjadi 100 mg selama 4 ahri, kemudian dinaikkan lagi menjadi 300 mg. Sete;ah itu dicari
dosis efektif antara 300-450 mg/hari.

Efek samping obat ini yang sering adalah somnolen, hipotensi postural, pusing,
peningkatan berat badan, takikardi, dan hipertensi.

 ZIPRASIDONE
APG II dengan struktur kimia yang baru, obai ini belum tersedia di Indonesia.
Ziprasidone merupakan antipsikotik dengan efek antagonsis antara reseptor 5HT2A dan D2.
Berinteraksi juga denga reseptor 5HT2C, 5HT1D dan 5HT1A, afinitasnya pada reseptor ini
sama atau lebih besar dari afinitas pada reseptor D2. Afinitas sedang pada reseptor histamin
dan α1. Ziprasidone tidak bekerja pada muskarinik (M1).

Ziprasidone juga antipsikotik yang mempunyai mekanisme kerja yang unik karena
menghambat pengambilan kembali (reuptake) neurotransmiter serotonin dan norepineprine
di sinaps. Obat ini efektif digunakan untuk gejala negatif dan penderita yang refrakter dengan
antipsikotik. Obat ini aman diberikan pada penderita usia lanjut.

Absorpsi ziprasidone akan meningkat dengan adanya makan, tetapi tidak


dipangruhi oleh usia, jenis kelamin, gangguan fungsi hati atau ginjal. Konsentrasi plasma
puncak dicapai dalam waktu 2-6 jam setelah pemberian oral dengan waktu paruh obat rata-
rata 5-10 jam, sehingga pemberiannya 2 kali sehari. Metabolsime ziprasidone melalui hati,
sebagian besar pada isoenzim CYP 3A4 dan sebagian kecil di CYP 1A2. Mekanisme kerja
farmakologik diperkirakan pro-serotonergik dan pro-noradregenik sehingga di prediksi dapat
bekerja sebagai antidepresan dan ansiolitik. Efikasi dari ziprasidone terjadi pada dosis 80-
160 mg/hari, untuk pengobatan terhadap gejala positif, negatif, dan depresif pada pasien
skizofrenia.

Dosis intial yang aman diberikan tanpa dosis titrasi adalah sebesar 40 mg perhari.
Pemberiannya akan semakin efektif bila bersamaan dengan makanan. Dosis pemeliharaan
berkisar antara 40-60 mg per hari.

Terjadinya efek samping EPS rendah dan tidak terjadi peningkatan kadar prolaktin.
Efek samping yang dijumpai selama uji klinis adalah somnolen (14%), peningkatan berat
badan (10%), gangguan pernafasan (8%), EPS (5%), dan bercak-bercak merah di kulit (4%).
Peningkatan berat badan sangat kecil atau dapat dikatan tidak ada, karena bekerja sangat
lemah pada reseptor AH1 walaupun bekerja juga sebagai antagonis pada reseptor 5HT2c.
Ziprasidone tidak menyebabkan gangguan jantung.

 ARIPIPRAZOLE
Merupakan antipsikotik generasi baru, yang bersifat partial agonis pada reseptor D2
dan reseptor serptonin 5HT1A serta antagonis pada reseptor serotonin 5HT2A. Aripiprazole
bekerja sebagai dopamin sistem stabilizer artinya menghasilkan signal transmisi dopamin
yang sama pada keadaan hiper atau hipo-dopaminergik karena pada keadaan
hiperdopaminergik aripiprazole afinitasnya lebih kuat dari dopamin akan mengeser secara
kompetitif neurotransmiter dopamin dan berikatan dengan reseptor dopamin. Pada keadaan
hipodopaminergik maka aripiprazole dapat menggantikan peran neurotransmiter dopamin
dan akan berikatan dengan reseptro dopamin.

Aripiprazole di metabolisme di hati melaui isoenzim P450 pada CYP 2D6 dan CYP
3A4, menjadi dehydro-aripiprazole. Afinitas dari hasil metabolisme ini mirip dengan
aripiprazole pada reseptor D2 dan berada di plasma sebesar 40% dari keseluruhan
aripiprazole. Waktu paruh berkisar antara 75-94 jam sehingga pemberian cukup 1 kali sehari.
Absorpsi aripiprazole mencapai konsentrasi plasma ouncak dalam waktu 3-5 jam setelah
pemberian oral. Aripiprazole sebaiknya diberikan sesudah makan, terutama pada pasien yang
mempunyai keluhan dispepsia, mual dan muntah.
Indikasi :
- Skizofrenia.

Dosis :
- 10 atau 15 mg 1 x sehari.

Efek samping :
- Sakit kepala.
- Mual, muntah.
- Konstipasi.
- Ansietas, insomnia, somnolens.
- Akhatisia.
1. Pemilihan Obat Valproat
Semua sediaan valproate dabsorpsi seua dengan cepat setelah pemberian oral.
Waktu paruh stabil valproate sekitar 8 hingga 17 jam dan konsentrasi plasma yang efektif
secara klinis. Valproat bekerja dengan cara menghambat neurotransmiter di otak.
Neurotransmiter ialah partikel kimiawi yang menjadi perantara komunikasi antar sel-sel
saraf. Valproat akan menghambat neurotransmiter yang dapat memicu timbulnya kejang.
Di dalam tubuh, depakote dimetabolisme di dalam organ hati dan dibuang melalui ginjal.
Kadar depakote tertinggi di dalam darah dicapai dalam waktu 4 jam setelah konsumsi obat.
Efek terapeutik valproate pada gangguan bipolar 1 dapat diperantarai oleh efek obat yang
belum diketahui pada system neurontransmitter y aminobutyric acid (GABA).
2. Faktor yang mempengaruhi prognosis anak pada gangguan jiwa

 Onset gejala
 Onset masalah identitas
 Perjalanan masalah
 Penggunaan zat
 Perkembangan anak
 Faktor Psikososial
 Faktor keluarga

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

Elvira, S. D., & Hadisukanto, G. (2017). Buku Ajar Psikiatri: Gangguan Bipolar. Jakarta: Badan
Penerbit FKUI

Maslim, Rudi. 2014. Penggunaan Klinis Obat Psikotropika. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran
Jiwa FK-Atmajaya
Sadock, B. J., & Sadock, V. A. (2007). Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral
Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition. New York: Lippincott William&Wilkins

Elvira, Sylvia D, Normiati Amir. 2013. Buku Ajar Psikiatri Ed. 2. Jakarta: FKUI