You are on page 1of 6

PERAN GANDA WANITA KARIER DALAM POLA PENGASUHAN ANAK

Menjadi wanita karier nampaknya menjadi tren di era sekarang ini.


Bahkan menurut Tofler ( 1995 ) menyatakan bahwa menjalani pekerjaan tradisional
sebagai ibu rumah tangga saja telah menjadi momok yang menakutkan bagi wanita
itu sendiri. Pilihan menjadi seorang wanita karier sudah barang tentu akan
menghadapkan wanita ke dalam peran ganda. Sebagai Seorang istri , seorang ibu
sekaligus sebagai seorang pekerja. Menurut Frank D Cox ( 1993 ) ada tiga tipe
wanita dalam bekerja , yaitu :
1. Tipe pertama : adalah mereka yang bekerja dan berhenti setelah
melangsungkan perkawinan. Kemudian tinggal dirumah dan mengurus suami
serta anak-anaknya. Biasanya ini terjadi karena mendapatkan suami yang
mampu secara finansial sehingga tidak memerlukan tambahan penghasilan
dari sang istri.
2. Tipe kedua adalah mereka yang bekerja sampai memiliki anak. Bilamana anak
mereka lahir dan memutuskan untuk mengutamakan perawatan anak daripada
bekerja. Boleh jadi karena sang suami mampu atau karena tidak cocoknya
tuntutan pekerjaan wanita tersebut dengan kondisi rumah tangga mereka.
3. Tipe ketiga adalah wanita yang menekuni pekerjaannya sebagai profesi
meskipun mereka sudah melangsungkan pernikahan dan memiliki anak.
Mereka tidak meninggalkan pekerjaannya dan terus bekerja, meskipun
pekerjaan yang dilakukan mengharuskan mereka berada diluar rumah dan
meninggalkan anak-anak mereka pada jam kerja. Tipe ketiga inilah yang
disebut dengan wanita karier.
Wanita sebagai ibu rumah tangga berhak meniti kariernya berdasarkan
profesionalisme yang dimilikinya. Sebagai wanita karier tentu saja tidak boleh
melalaikan tanggung jawab dan tugas utamanya dalam mendidik anak-anaknya di
lingkungan keluarga. Seringkali kesibukan orang tuaterutama seorang ibu dalam
meniti kariernya agak melalaikan tugasnya terhadap pendidikan dan pembinaan
anaknya dilingkungan keluarga dikarenakan waktu yang tidak cukup dimiliki untuk
mengasuh langsungpendidikan anak-anaknya sehingga tidak sedikit dari mereka
yang menitipkan dan mempercayakan pendidikan anak kepada orang lain, guru
mengaji atau lembaga pendidikan yang lainnya. Setiap orang tua berharap anaknya
lahir dan tumbuh secara normal serta mempunyai masa depan yang lebih cerah
1
daripada orang tuanya. Hampir semua orang tua berharap jika keturunannya kelak
mampu mencapai tingkat kecerdasan dan pendidikan yang melebihi mereka.
Pendidikan yang baik adalah yang mendukung perkembangan aspek kecerdasan
anak secara sempurna. Sedangkan pendidikan yang kurang baik cenderung
menekankan aspek tertentu ( moral dan atau logika semata ) sehingga anak hanya “
bermoral “ tapi lemah intelektual atau sebaliknya. Pada dasarnya setiap anak
mempunyai karakter dan gaya belajar berbeda, termasuk juga anak kembar. Orang
tua yang berkualitas mempunyai peluang lebih besar untuk mendapatkan keturunan
berkualitas , tapi ini bukan semata-mata bawaan orang tua, karena banyak faktor
penentu lain dalam mematangkan kecerdasan anak seperti lingkungan, pendidikan,
pemenuhan gizi , kesehatan dan lain sebagainya.
Seperti kita ketahui bersama berita yang sering kita dengar , baca dan
lihat di radio , koran maupun televisi yang penuh dengan kisah tentang lenyapnya
sopan santun dan rasa aman, menyiratkan adanya serbuan dorongan sifat jahat.
Dalam konteks yang lebih besar berita itu sekedar memberi gambaran adanya
emosi yang pelan-pelan tak terkendali dalam kehidupan kita sendiri dan juga dalam
kehidupan orang-orang disekitar kita. Contoh kejadian yang baru saja diberitakan
tentang anak-anak Sekolah Dasar di daerah Pekunden Semarang yang membawa
senjata tajam ke sekolah karena bermaksud menantang duel murid sekolaha lain.
Peristiwa ini mencerminkan meningkatnya ketidakseimbangan emosi , keputusasaan
dan rapuhnya moral didalam keluarga kita, masyarakat dan kehidupan kita bersama.
Meningkatnya tindak kekerasan dan kekecewaan entah dalam bentuk kesepian
anak-anak yang terpaksa ditinggal sendiri atau diasuh baby sitter dan televisi, atau
dalam kepahitan anak-anak yang disingkirkan, disia-siakan atau diperlakukan
dengan kejam atau dalam keintiman tak lazim dari tindak kekerasan dalam
perkawinan. Daniel Goleman pernah mengatakan bahwa kehidupan , keluarga
merupakan sekolah kita yang pertama untuk mempelajari emosi. Orangtua
merupakan pelatih emosi bagi anak-anaknya. Bahkan keterlibatan orangtua
terhadap emosi anak tidak ada bedanya dengan keterlibatan pelatih olahraga dalam
melatih para atlit ( Daniel Goleman via John Gottman , 2003 ).
Sebagai wanita karier dan sekaligus seorang ibu yang berperan sangat
penting dalam mencetak anak-anaknya menjadi generasi penerus bangsa yang
cerdas , bermartabat , berbudi pekerti luhur , santun dan beragama , timbul
tantangan dan pertanyaan besar yang harus dijawab , yaitu “ Apa yang bisa kita
2
ubah untuk menolong anak-anak kita memiliki nasib kehidupan yang lebih baik
? faktor-faktor manakah yang lebih berperan ? misalnya kapan anak ber IQ
tinggi gagal dalam kehidupan masa depannya dan sebaliknya anak yg ber IQ
rata-rata menjadi amat sukses ?
Masih menurut Daniel Goleman dalam bukunya yang berjudul
Kecerdasan Emosional, perbedaannya seringkali terletak pada kemampuan –
kemampuan yang disebut sebagai Kecerdasan Emosional. Yang mencakup
pengendalian diri, semangat dan ketekunan , serta kemampuan untuk memotivasi
diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi , mengendalikan dorongan hati dan
tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar
beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir , berempati dan berdo’a.
Berdasarkan peryataan dari aqhli tersebut , dapat dipahami bahwa pendidikan
dalam rumah tangga merupakan sekolah yang paling utama untuk mengembangkan
aspek sosial emosional. Hal ini disebabkan oleh sentuhan kasih sayang orang tua
yang tulus ikhlas tanpa syarat, membimbing , mengasuh dan mendidik anaknya.
Dalam banyak literatur belum ada formula yang menyebutkan secara pas
dan tepat kiat-kiat menjalankan peran ganda wanita karier dalam menjalankan
tugasnya sebagai istri , ibu sekaligus sebagai pekerja. Dan tentu saja tugas
pengasuhan anak bukan saja mutlak dibebankan kepada wanita karier saja tapi
seorang ibu rumah tangga murnipun wajib mengetahui dan memahami apa-apa
yang harus dia kuasai, lakukan dan mengerti dalam mengasuh dan mendidik anak-
anaknya. Beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan pegangan seorang wanita
karier dalam mendidik anak-anaknya antara lain sebagai berikut :
1. Menanamkan pendidikan agama sedini mungkin. Sebagai seorang ibu tentu saja
tidak akan membiarkan anak-anaknya mengalami keterlambatan dalam
perkembangan agama. Perlu diberikan stimulasi agar anak mampu
mengembangkan hal tersebut. Misalnya dengan melibatkan anak dalam
kegiatan-kegiatan keagamaan. Melibatkan anak secara aktif dilingkungan
masjid, mengikuti pendidikan TPA, mengajak anak sholat di masjid.
Membiasakan ketaatan beribadah melalui pembiasaan dan keteladanan dari
kedua orang tuanya. Sebab anak usia dini belum mampu menangkap
penjelasan logis secara optimal. Pembacaan kisah dalam Al Qur’an atau dongen
bertemakan agama dapat mengasah imajinasi dan sosial emosi anak, sehingga
pesan agama dapat lebih disampaikan. Tidak kalah pentingnya adalah mendidik
3
keshalihan sosial karena perkembangan keagamaan yang baik akan
berpengaruh pada perilaku sosial yang baik pula. Oleh karena itu, pola
pendidikan agama pada anak tidak boleh dipisahkan dari nilai-nilai moral yang
berlaku dimasyarakat. Pendidikan agama perlu diaktualisasikan dalam
kehidupan sehari-hari, seperti berbakti kepada orang tua, suka menolong , rela
berbagi mainan dengan temannya , menghormati yang lebih tua dan lain-lain (
Ahmad Tafsir dkk, 2004 )
2. Mengajarkan kecerdasan emosional sejak dini.Topik yang diajarkan meliputi
kesadaran diri dalam arti mengenali perasaan dan menyusun kosa kata untuk
perasaan itu dan melihat kaitan antara gagasan, perasaan dan reaksi.
Mengetahui kapan pikiran atau perasaan menguasai keputusan, melihat akibat
pilihan alternatif dan menerapkan pemahaman ini pada keputusan tentang
masalah seperti obat terlarang , merokok dan seks. Kesadaran diri juga dapat
berupa kemampuan mengenali kekuatan serta kelemahan kita dan melihat diri
kita sendiri dalam sisi yang positif tetapi reaktis sehingga dapat menghindar dari
bahaya-bahaya yang tak terduga dari tingginya harga diri.
3. Melatih anak dalam mengelola emosi.Memberikan pengertian tentang
pentingnya menyadari apa yang ada dibalik perasaan ( misalnya rasa sakit hati
yang memicu amarah dan mempelajari cara untuk menangani kecemasan ,
amarah dan kesedihan. Dalam mengendalikan dorongan hati ada sebuah filosofi
dari “ Lampu Lalu Lintas “ yang dijabarkan dalam 6 ( enam ) langkah yaitu :
- Lampu Merah : 1. Stop, tenang dan berpikir sebelum bertindak
- Lampu Kuning : 2. Ceritakan masalahnya dan bagaimana perasaannya.
: 3. Tentukan tujuan yang positif.
: 4. Pikirkan Pemecahan-pemecahannya
: 5. Pikirkan akibatnya.
- Lampu Hijau : 6. Teruskan dan laksanakan rencana terbaik.
4. Mengajarkan anak tentang memikul tanggung jawab bagi keputusan dan
tindakan serta menindaklanjuti kesepakatan.
5. Mengembangkan empati dan kepedulian, memahami perasaan orang lain dan
menerima sudut pandang mereka serta menghargai perbedaan dalam cara
bagaimana perasaan orang terhadap berbagai macam hal. Hubungan
merupakan fokus penting termasuk belajar menjadi pendengar yang baik dan
penanya yang baik. Membedakan antara apa yang dikatakan atau dilakukan
4
seseorang dengan reaksi serta penilaian anda sendiri, bersikap tegas bukannya
marah atau diam saja dan mempelajari seni bekrjasama , memcah konflik serta
merundingkan kompromi.
6. Mengenalkan dan mengajarkan anak tentang sikap Optimis. Optimisme adalah
hasil dari kebiasaan berpikir positif. Optimis juga bisa diartikan sebagai
kecenderungan untuk memandang segala sesuatu dari sisi dan kondisi baiknya
serta mengharapkan hasil yang maksimal.
7. Pemecahan masalah. Seringkali orang tua tidak memberikan kebebasan
terhadap anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, bahkan ada sebagian
orang tua yang beranggapan bahwa anak harus dibebaskan dari segala bentuk
permasalahan, sebab setiap masalah dapat menimbulkan tekanan batin dan
kecemasan atau depresi selama masalah tersebut belum selesai. Akibatnya
anak cenderung manja bahkan cengeng. Lebih dari itu anak bisa menjadi lebih
mudah marah dan frustasi jika keinginannya tidak dituruti.
8. Motivasi diri. Bagian dari diri anak yang bisa merasakan suatu keberhasilan
adalah emosi. Bahkan ini bisa membuat anak merasakan kepuasan sejati yang
lebih besar dari keberhasilan itu sendiri.
9. Kecerdasan spiritual.
Adalah kemampuan untuk merasakan tingkat keyakinan seseorang terhadap
agama ( Ahmad Tafsir, 2006 ). Kecerdasan spiritual hanya diperoleh dengan
menyadari rasa keberagaman, bukan sekedar mengetahui suatu agama.
Dengan kata lain kemampuan untuk merasakan kehadiran Tuhan disisinya atau
merasa bahwa dirinya selalu dilihat oleh Tuhan. Menurut Ary Ginanjar Agustian,
2004 , Kecerdasan Spiritual adalah kelanjutan dari Kecerdasan Intelektual dan
Kecerdasan Emosional. Sebab tanpa spiritualitas kecerdasan manusia tidak
akan memberi makna pada hidup seseorang.
Demikian beberapa hal yang bisa dilakukan oleh para wanita karier
dalam menjalankan peran gandanya sebagai seorang istri, ibu sekaligus pekerja
untuk mengasuh dan mempersiapkan anak-anaknya menjadi generasi penerus
bangsa, pembawa tongkat estafet pembangunan yang berbudi pekerti luhur,
berwawasan luas, cerdas, santun, beragama dan berakhlak baik.
Daftar Pustaka :
1. Emotional Intelligence , Daniel Goleman 1995
2. Ternyata anakku bisa kubuat genius , Sujadi 2009.
3. Internet

5
6