You are on page 1of 21

KEPERAWATAN GERONTIK

14 KEMUNDURAN DAN KELEMAHAN LANSIA

OLEH :
KELOMPOK 2 B11-A

I Gusti Ayu Selvia Yasmini (183222911)


I Gusti Ayu Yustina (183222912
I Kadek Apriana (183222913)
I Made Dwi Satwika (183222914)
I Putu Aditya Wardana (183222915)
Kadek Ayu Dwi Cesiarini (183222916)
Ni Luh Putu Eva Budiantini (183222918)
Luh Putu Ratih Artasari (183222919)

PROGRAM STUDI ALIH JENJANG S1 ILMU KEPERAWATAN


STIKES WIRA MEDIKA PPNI BALI
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada kami sehingga kami mampu
menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Adapun makalah ini merupakan
salah satu tugas dari Mata kuliah keperawatan gerontik.
Dalam menyelesaikan penulisan makalah ini, kami mendapat banyak bantuan
dari berbagai pihak dan sumber. Karena itu kami sangat menghargai bantuan dari
semua pihak yang telah memberi kami bantuan dukungan juga semangat, buku-buku
dan beberapa sumber lainnya sehingga tugas ini bisa terwujud. Oleh karena itu,
melalui media ini kami sampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu pembuatan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangannya dan jauh
dari kesempurnaan karena keterbatasan kemampuan dan ilmu pengetahuan yang kami
miliki. Maka itu kami dari pihak penyusun sangat mengharapkan saran dan kritik
yang dapat memotivasi kami agar dapat lebih baik lagi dimasa yang akan datang.

Denpasar, 24 Februari 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

Halaman
Kata Pengantar.................................................................................................. 2
Daftar Isi........................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...................................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah................................................................................. 5
1.3 Tujuan................................................................................................... 5
1.4 Manfaat ................................................................................................ 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian lansia.................................................................................. 6
2.2 Macam-macam 14 kemunduran dan kelemahan lansia....................... 8
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .......................................................................................... 20
...............................................................................................................
3.2 Saran .................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seiring berjalannya waktu, proses penuaan memang tidak bisa dihindarkan.


Keinginan semua orang adalah bagaimana agar tetap tegar dalam menjalani hari
tua yang berkualitas dan penuh makna. Hal ini dapat dipertimbangkan mengingat
usia harapan hidup penduduk yang semakin meningkat. Menjadi tua adalah suatu
proses naturnal dan kadang-kadang tidak tampak mencolok. Penuaan akan terjadi
pada semua sistem tubuh manusia dan tidak semua sistem akan mengalami
kemunduran pada waktu yang sama. Meskipun proses menjadi tua merupakan
gambaran yang universal, tidak seorangpun mengetahui dengan pasti penyebab
penuaan atau mengapa manusia menjadi tua pada saat usia yang berbeda-beda.
Penuaan terjadi tidak secara tiba-tiba, tetapi berkembang dari masa bayi,
anak-anak, dewasa, dan akhirnya menjadi tua. Seseorang dengan usia kronologis
70 tahun mungkin dapat memiliki usia fisiologis seperti orang usia 50 tahun. Atau
sebaliknya, seseorang dengan usia 50 tahun mungkin memiliki banyak penyakit
kronis sehingga usia fisiologisnya 90 tahun.
Menurut data sensus penduduk menunjukkan jumlah penduduk lansia di
Indonesia tahun 2010 sebanyak 18,1 juta jiwa (7,6% dari total populasi), tahun
2014 meningkat menjadi 20,24 juta jiwa (8,03 % dari total populasi), dan
diperkirakan akan mencapai 36 juta jiwa pada tahun 2025. Namun pelayanan
pada lansia masih sangat terbatas, baik dari segi jenis dan cakupannya. Sementara
kebutuhan akan pelayanan keperawatan semakin meningkat. Proses asuhan
keperawatan pada usia lanjut adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk
memberikan bantuan, bimbingan, pengawasan, perlindungan dan pertolongan
kepada lanjut usia secara individu, seperti di rumah/lingkungan keluarga, panti
werda maupun piskesmas, yang diberikan oleh perawat untuk asuhan
keperawatan yang masih dapat dilakukan oleh anggota keluarga atau petugas
social yang bukan tenaga keperawatan, diperlukan latihan sebelumnya atau

4
bimbingan langsung pada waktu tenaga keperawatan melakukan asuhan
keperawatan di rumah atau panti.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa saja masalah yang sering muncul pada lansia ?

1.2.2 Apa saja masalah kemunduran dan kelemahan pada lansia (14
impairment) ?

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Untuk mengetahui apa saja masalah yang muncul pada lansia

1.3.2 Untuk mengetahui apa saja 14 kemunduran dan kelemahan yang


dialami oleh lansia

1.4 Manfaat Penulisan

1.4.1 Manfaat Teoritis

Dengan ditulisnya makalah ini diharapkan dapat menambah ilmu


pengetahuan dan wawasan bagi pembaca tentang proses keperawatan
pada lansia.

1.4.2 Manfaat Praktis

Dengan ditulisnya makalah ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam


memberikan proses keperawatan pada lansia.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian dari Lansia
Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Menurut Bernice
Neugarten (1968) James C. Chalhoun (1995) masa tua adalah suatu masa dimana
orang dapat merasa puas dengan keberhasilannya. Badan kesehatan dunia (WHO)
menetapkan 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan proses penuaan yang
berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lanjut usia. Lansia banyak
menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan
terintegrasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lanjut usia menjadi
4 yaitu : usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun, Lanjut usia (elderly) 60 -74
tahun, lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun dan usia sangat tua (very old) diatas 90
tahun.
Sedangkan menurut Prayitno dalam Aryo (2002) mengatakan bahwa setiap orang
yang berhubungan dengan lanjut usia adalah orang yang berusia 56 tahun ke atas,
tidak mempunyai penghasilan dan tidak berdaya mencari nafkah untuk keperluan
pokok bagi kehidupannya sehari-hari.Saparinah (1983) berpendapat bahwa pada usia
55 sampai 65 tahun merupakan kelompok umur yang mencapai tahap penisiun, pada
tahap ini akan mengalami berbagai penurunan daya tahan tubuh atau kesehatan dan
berbagai tekanan psikologis. Dengan demikian akan timbul perubahan-perubahan
dalam hidupnya.
Dari berbagai penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa lanjut usia merupakan
periode di mana seorang individu telah mencapai kemasakan dalam proses
kehidupan, serta telah menunjukan kemunduran fungsi organ tubuh sejalan dengan
waktu, tahapan ini dapat mulai dari usia 55 tahun sampai meninggal.
Tetapi bagi orang lain, periode ini adalah permulaan kemunduran. Usia tua dipandang
sebagai masa kemunduran, masa kelemahan manusiawi dan sosial sangat tersebar
luas dewasa ini. Pandangan ini tidak memperhitungkan bahwa kelompok lanjut usia
bukanlah kelompok orang yang homogen . Usia tua dialami dengan cara yang
berbeda-beda.
B. Masalah kesehatan yang terjadi pada Lansia

6
Pada lansia terjadi banyak perubahan dalam dirinya, hal ini bisa disebut
perkembangan atau perubahan yang terjadi pada lansia, diantaranya yaitu :
1. Perubahan jasmani
Terjadi penuaan yang terbagi atas penuaan primer ( primary aging) dan
penuaan sekunder (secondary aging). Pada penuaan primer tubuh mulai
melemah dan mengalami penurunan alamiah. Sedangkan pada proses penuaan
sekunder, terjadi proses penuaan karena faktor-faktor eksteren, seperti
lingkungan ataupun perilaku. Berbagai paparan lingkungan dapat dapat
mempengaruhi proses penuaan, misalnya cahaya ultraviolet serta gas
karbindioksida yang dapat menimbulkan katarak, ataupun suara yang sangat
keras seperti pada stasiun kereta api sehingga dapat menimbulkan
.berkurangnya kepekaan pendengaran. Selain hal yang telah disebutkan di atas
perilaku yang kurang sehat juga dapat mempengaruhi cepatnya proses
penuaan, seperti merokok yang dapat mengurangi fungsi organ pernapasan.
Penuaan membuat sesorang mengalami perubahan postur tubuh. Kepadatan
tulang dapat berkurang, tulang belakang dapat memadat sehingga membuat
tulang punggung menjadi telihat pendaek atau melengkung. Perubahan ini
dapat mengakibatkan kerapuhan tulang sehingga terjadi osteoporosis, dan
masalah ini merupakan hal yang sering dihadapi oleh para lansia.Penuaan juga
terlihat pada kulit di seluruh tubuh lansia, kulit menjadi semakin menebal dan
kendur atau semakin banyak keriput yang terjadi. Rambut yang menjadi putih
juga merupakan salah satu ciri-ciri yang menandai proses penuaan. Kulit yang
menua menjadi menebal, lebih terlihat pucat dan kurang bersinar.
Perubahan-perubahan yang terjadi dalam lapisan konektif ini dapat
mengurangi kekuatan dan elasitas kulit, sehingga para lansia ini menjadi lebih
rentan untuk terjadinya pendarahan di bawah kulit yang mengakibatkan kulit
mejadi tampak biru dan memar. Pada penuaan kelenjar ini mengakibatkan
kelenjar kulit mengasilkan minyak yang lebih sedikit sehingga menyebabkan
kulit kehilangan kelembabanya dan mejadikan kulit kering dan gatal-gatal.
Dengan berkurangnya lapisan lemak ini resiko yang dihadapi oleh lansia

7
menjadi lebih rentan untuk mengalami cedera kulit.Penuaan juga mengubah
sistim saraf. Masa sel saraf berkurang yang menyebabkan atropy pada otak
spinal cord. Jumlah sel berkurang, dan masing-masing sel memiliki lebih
sedikit cabang. Perubahan ini dapat memperlambat kecepatan transmisi pesan
menuju otak. Setelah saraf membawa pesan, dibutuhkan waktu singkat untuk
beristirahat sehingga tiidak dimungkinkan lagi mentrasmisikan pesan yang
lain. Selain itu juga terdapat penumpukan produksi buangan dari sel saraf
yang mengalami atropy pada lapisan otak yang menyebabkan lapisan plak
atau noda.Orang lanjut usia juga memiliki berbagai resio pada sitem saraf,
mislanya berbagai jenis infeksi yang diderita oleh seorang lansia juga dapat
mempengaruhi proses berfikir ataupun perilaku. Penyebab lain yang
menyebabkan kesulitan sesaat dalam proses berfikir dan perilaku adalah
gangguan regulasi glukosa dan metabolisme lansia yang mengidap diabetes.
Fluktuasi tingkat glukosa dapat menebabkan gangguan berfikr. Perubahan
signifikan dalam ingatan, berfikir atau perilakuan dapat mempengaruhi gaya
hidup seorang lansia. Ketika terjadi degenerasi saraf, alat-alat indra dapat
terpengaruh. Refleks dapat berkurang atau hilang.
Alat-alat indra persebtual juga mengalami penuaan sejalan dengan
perjalanan usia. Alat-alat indra menjadi kuranng tajam, dan orang dapat
mengalami kesulitan dalam membedakan sesuatu yang lebih detail, misalnya
ketika seorang lansia di suruh untuk membaca koran maka orang ini akan
mengalami kesulitan untuk membacanya, sehingga dibutuhkan alat bantu
untuk membaca berupa kacamata. Perubahan alat sensorik memiliki dampak
yang besar pada gaya hidup sesorang. Seseorang dapat mengalami masalah
dengan komunikasi, aktifitas, atau bahkan interaksi sosial.
Pendengaran dan pengelihatan merupakan indra yang paling banyak
mengalami perubahan, sejalan dengan proses penuaan indra pendengaran
mulai memburuk. Gendang telinga menebal sehingga tulang dalam telinga
dan stuktur yang lainya menjadi terpengaruh. Ketajaman pendengaran dapat
berkurang karena terjadi perubhan saraf audiotorik. Kerusakan indara

8
pendengaran ini juga dapat terjadi karena perubahan pada lilin telinga yang
biasa terjadi seiring bertambahnya usia.
Struktur mata juga berubah karena penuaan. Mata memproduksi lebih sedikit
air mata, sehingga dapat me,buat mata menjadi kering. Kornea menjadi
kurang sensitive. Pada usia 60 tahun, pupil mata berkurang sepertiga dari
ukuran ketika berusia 20 tahun. Pupil dapat bereaksi lebih lambat terhadap
perubahan cahaya gelap ataupun terang. Lensa mata menjadi kuning, kurang
fleksibel, dan apabila memandang menjadi kabur dan kurang jelas. Bantalan
lemak pendukung berkurang, dan mata tenggelam ke kantung belakang. Otot
mata menjadikan mata kurang dapat berputar secara sempurna, cairan di
dalam mata juga dapat berubah. Masalah yang paling yang paling umum
dialami oleh lansia adalah kesulitan untuk mengatur titik focus mata pada
jarak tertentu sehingga pandangan menjdi kurang jelas.
Perubahan fisik pada lansia lebih banyak ditekankan pada alat indera dan
sistem saraf mereka. Sistem pendengaran, penglihatan sangat nyata sekali
perubahan penurunan keberfungsian alat indera tersebut. Sedangkan pada
sistem sarafnya adalah mulai menurunnya pemberian respon dari stimulus
yang diberikan oleh lingkungan. Pada lansia juga mengalami perubahan
keberfungsian organ-organ dan alat reproduksi baik pria ataupun wanita. Dari
perubahan-perubahan fisik yang nyata dapat dilihat membuat lansia merasa
minder atau kurang percaya diri jika harus berinteraksi dengan lingkungannya
(J.W.Santrock, 2002 :198). Dari penjelasan di atas dapat di tarik kesimpulan
berkenaan dengan cirri-ciri fisik lansia yaitu sebagi berikut (1) postur tubuh
lansia mulai berubah bengkok (bungkuk),(2) kondisi kulit mulai kering dan
keriput,(3) daya ingat mulai menurun,(4) kondisi mata yang mulai rabun,(5)
pendengaran yang berkurang.
2. Perkembangan Intelektual
Menurut david Wechsler dalam Desmita (2008) kemunduran kemampuan
mental merupakan bagian dari proses penuaan organisme sacara umum,
hampir sebagian besar penelitian menunjukan bahwa setelah mencapai puncak

9
pada usia antara 45-55 tahun, kebanyakan kemampuan seseorang secara terus
menerus mengalami penurunan, hal ini juga berlaku pada seorang
lansia.Ketika lansia memperlihatkan kemunduran intelektualiatas yang mulai
menurun, kemunduran tersebut juga cenderung mempengaruhi keterbatasan
memori tertentu. Misalnya seseorang yang memasuki masa pensiun, yang
tidak menghadapi tantangan-tantangan penyesuaian intelektual sehubungan
dengan masalah pekerjaan, dan di mungkinkan lebih sedikit menggunakan
memori atau bahkan kurang termotivasi untuk mengingat beberpa hal, jelas
akan mengalami kemunduran memorinya. Menurut Ratner et.al dalam
desmita (20080 penggunaan bermacam-macam strategi penghafalan bagi
orang tua , tidak hanya memungkinkan dapat mencegah kemunduran
intelektualitas, melinkan dapat menigkatkan kekuatan memori pada lansia
tersebut.
Kemerosotan intelektual lansia ini pada umumnya merupakan sesuatau
yang tidak dapat dihindarkan, disebabkan berbagai faktor, seperti penyakit,
kecemasan atau depresi. Tatapi kemampuan intelektual lansia tersebut pada
dasarnya dapat dipertahankan. Salah satu faktor untuk dapat mempertahankan
kondisi tersebut salah satunya adalah dengan menyediakan lingkungan yang
dapat merangsang ataupun melatih ketrampilan intelektual mereka, serta dapat
mengantisipasi terjadinya kepikunan.
3. Perkembangan Emosional
Memasuki masa tua, sebagian besar lanjut usia kurang siap menghadapi
dan menyikapi masa tua tersebut, sehingga menyebabkan para lanjut usia
kurang dapat menyesuaikan diri dan memecahkan masalah yang dihadapi
(Widyastuti, 2000). Munculnya rasa tersisih, tidak dibutuhkan lagi, ketidak
ikhlasan menerima kenyataan baru seperti penyakit yang tidak kunjung
sembuh, kematian pasangan, merupakan sebagian kecil dari keseluruhan
perasaan yang tidak enak yang harus dihadapi lanjut usia. Hal – hal tersebut di
atas yang dapat menjadi penyebab lanjut usia kesulitan dalam melakukan
penyesuaian diri. Bahkan sering ditemui lanjut usia dengan penyesuaian diri

10
yang buruk. Sejalan dengan bertambahnya usia, terjadinya gangguan
fungsional, keadaan depresi dan ketakuatan akan mengakibatkan lanjut usia
semakin sulit melakukan penyelesaian suatu masalah.
Sehingga lanjut usia yang masa lalunya sulit dalam menyesuaikan diri
cenderung menjadi semakin sulit penyesuaian diri pada masa-masa
selanjutnya. Yang dimaksud dengan penyesuaian diri pada lanjut usia adalah
kemampuan orang yang berusia lanjut untuk menghadapi tekanan akibat
perubahan perubahan fisik, maupun sosial psikologis yang dialaminya dan
kemampuan untuk mencapai keselarasan antara tuntutan dari dalam diri
dengan tuntutan dari lingkungan, yang disertai dengan kemampuan
mengembangkan mekanisme psikologis yang tepat sehingga dapat memenuhi
kebutuhan– kebutuhan dirinya tanpa menimbulkan masalah baru. Pada orang
– orang dewasa lanjut atau lanjut usia, yang menjalani masa pensiun
dikatakan memiliki penyesuaian diri paling baik merupakan lanjut usia yang
sehat, memiliki pendapatan yang layak, aktif, berpendidikan baik, memiliki
relasi sosial yang luas termasuk diantaranya teman – teman dan keluarga, dan
biasanya merasa puas dengan kehidupannya sebelum pensiun (Palmore, dkk,
1985). Orang – orang dewasa lanjut dengan penghasilan tidak layak dan
kesehatan yang buruk, dan harus menyesuaikan diri dengan stres lainnya yang
terjadi seiring dengan pensiun, seperti kematian pasangannya, memiliki lebih
banyak kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan fase pensiun (Stull &
Hatch, 1984).
Penyesuaian diri lanjut usia pada kondisi psikologisnya berkaitan dengan
dimensi emosionalnya dapat dikatakan bahwa lanjut usia dengan keterampilan
emosi yang berkembang baik berarti kemungkinan besar ia akan bahagia dan
berhasil dalam kehidupan, menguasai kebiasaan pikiran yang mendorong
produktivitas mereka. Orang yang tidak dapat menghimpun kendali tertentu
atas kehidupan emosinya akan mengalami pertarungan batin yang merampas
kemampuan mereka untuk berkonsentrasi ataupun untuk memiliki pikiran
yang jernih.
Ohman & Soares (1998) melakukan penelitian yang menghasilkan

11
kesimpulan bahwa sistem emosi mempercepat sistem kognitif untuk
mengantisipasi hal buruk yang mungkin akan terjadi. Dorongan yang relevan
dengan rasa takut menimbulkan reaksi bahwa hal buruk akan terjadi. Terlihat
bahwa rasa takut mempersiapkan individu untuk antisipasi datangnya hal
tidak menyenangkan yang mungkin akan terjadi. Secara otomatis individu
akan bersiap menghadapi hal-hal buruk yang mungkin terjadi bila muncul rasa
takut. Ketika individu memasuki fase lanjut usia, gejala umum yang nampak
yang dialami oleh orang lansia adalah “perasaan takut menjadi tua”.
Ketakutan tersebut bersumber dari penurunan kemampuan yang ada dalam
dirinya. Kemunduran mental terkait dengan penurunan fisik sehingga
mempengaruhi kemampuan memori, inteligensi, dan sikap kurang senang
terhadap diri sendiri.
Ditinjau dari aspek yang lain respon-respon emosional mereka lebih spesifik,
kurang bervariasi, dan kurang mengena pada suatu peristiwa daripada orang-
orang muda. Bukan hal yang aneh apabila orang-orang yang berusia lanjut
memperlihatkan tanda-tanda kemunduran dalam berperilaku emosional;
seperti sifat-sifat yang negatif, mudah marah, serta sifat-sifat buruk yang biasa
terdapat pada anak-anak.
Orang yang berusia lanjut kurang memiliki kemampuan untuk
mengekspresikan kehangatan dan persaan secara spontan terhadap orang lain.
Mereka menjadi kikir dalam kasih sayang. Mereka takut mengekspresikan
perasaan yang positif kepada orang lain karena melalui pengalaman-
pengalaman masa lalu membuktikan bahwa perasaan positif yang dilontarkan
jarang memperoleh respon yang memadai dari orang-orang yang diberi
perasaan yang positif itu. Akibatnya mereka sering merasa bahwa usaha yang
dilakukan itu akan sia-sia. Semakin orang berusia lanjut menutup diri,
semakin pasif pula perilaku emosional mereka.
4. Perkembangan Spiritual
Sebuah penelitian menyatakan bahwa lansia yang lebih dekat dengan
agama menunjukkan tingkatan yang tinggi dalam hal kepuasan hidup, harga

12
diri dan optimisme. Kebutuhan spiritual (keagamaan) sangat berperan
memberikan ketenangan batiniah, khususnya bagi para Lansia. Rasulullah
bersabda “semua penyakit ada obatnya kecuali penyakit tua”. Sehingga
religiusitas atau penghayatan keagamaan besar pengaruhnya terhadap taraf
kesehatan fisik maupun kesehatan mental, hal ini ditunjukan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Hawari (1997), bahwa :
a. Lanjut usia yang nonreligius angka kematiannya dua kali lebih besar daripada
orang yang religius.
b. Lanjut usia yang religius penyembuhan penyakitnya lebih cepat dibandingkan
yang non religius.
c. Lanjut usia yang religius lebih kebal dan tenang menghadapi operasi atau
masalah hidup lainnya
d. Lanjut usia yang religius lebih kuat dan tabah menghadapi stres daripada yang
nonreligius, sehingga gangguan mental emosional jauh lebih kecil.
e. Lanjut usia yang religius tabah dan tenang menghadapi saat-saat terakhir
(kematian) daripada yang nonreligius.
5. Perubahan Sosial
Umumnya lansia banyak yang melepaskan partisipasi sosial mereka,
walaupun pelepasan itu dilakukan secara terpaksa. Orang lanjut usia yang
memutuskan hubungan dengan dunia sosialnya akan mengalami kepuasan.
Pernyataan tadi merupakan disaggrement theory. Aktivitas sosial yang banyak
pada lansia juga mempengaruhi baik buruknya kondisi fisik dan sosial lansia.
(J.W.Santrock, 2002, h.239).
6. Perubahan Kehidupan Keluarga
Sebagian besar hubungan lansia dengan anak jauh kurang memuaskan
yang disebabkan oleh berbagai macam hal. Penyebabnya antara lain :
kurangnya rasa memiliki kewajiban terhadap orang tua, jauhnya jarak tempat
tinggal antara anak dan orang tua. Lansia tidak akan merasa terasing jika
antara lansia dengan anak memiliki hubungan yang memuaskan sampai lansia
tersebut berusia 50 sampai 55 tahun.
Orang tua usia lanjut yang perkawinannya bahagia dan tertarik pada dirinya
sendiri maka secara emosional lansia tersebut kurang tergantung pada

13
anaknya dan sebaliknya. Umumnya ketergantungan lansia pada anak dalam
hal keuangan. Karena lansia sudah tidak memiliki kemampuan untuk dapat
memenuhi kebutuhan hidupnya. Anak-anaknya pun tidak semua dapat
menerima permintaan atau tanggung jawab yang harus mereka penuhi.
7. Hubungan Sosio-Emosional Lansia
Masa penuaan yang terjadi pada setiap orang memiliki berbagai macam
penyambutan. Ada individu yang memang sudah mempersiapkan segalanya
bagi hidupnya di masa tua, namun ada juga individu yang merasa terbebani
atau merasa cemas ketika mereka beranjak tua. Takut ditinggalkan oleh
keluarga, takut merasa tersisihkan dan takut akan rasa kesepian yang akan
datang. Keberadaan lingkungan keluarga dan sosial yang menerima lansia
juga akan memberikan kontribusi positif bagi perkembangan sosio-emosional
lansia, namun begitu pula sebaliknya jika lingkungan keluarga dan sosial
menolaknya atau tidak memberikan ruang hidup atau ruang interaksi bagi
mereka maka tentunya memberikan dampak negatif bagi kelangsungan hidup
lansia.
C. 14 Kemunduran Dan Kelemahan Lansia

Lansia mengalami perubahan dalam kehidupannya sehingga

menimbulkan beberapa masalah dalam kehidupannya. Permasalahan tersebut

biasa disebut 14 kemunduran dan kelemahan diantaranya yaitu :

1. Immobility : terdapat gangguan fisik, faktor lingkungan, jiwa yang membuat


lansia kurang bergerak. Penyebab yang paling sering adalah ganggun pada sendi
atau penyakit sendi yang terjadi karena tulang mengalami proses penuaan
(aging). Immobility biasa disebut dengan keterbatasan gerak dalam artian pada
lansia terjadi penurunan frekeuensi gerak dibandingkan dengan orang dewasa
pada umumnya.
2. Instability : hilangnya keseimbangan atau rasa tidak stabil saat berpijak pada
lansia janganlah dianggap peristiwa ringan. Karena jika teradi instabilitas atau
gangguan keseimbangan, lansia akan mudah terjatuh. Walaupun tidak sampai

14
menyebabkan kematian, namun lansia akan merasa kehilangan harga dirinya dan
muncul perasaan takut akan terjatuh lagi sehingga untuk selanjutnya lansia
tersebut menjadi takut berjalan untuk melindungi dirinya dari bahaya terjatuh.
Penyebabnya bisa karena proses menua, penyakit, ataupun obat-obatan.
3. Intelectual Impairment : gangguan fungsi intelektual dan ingatan yang cukup
berat. merupakan kumpulan gejala klinik yang meliputi gangguan fungsi
intelektual dan ingatan yang cukup berat sehingga menyebabkan terganggunya
aktivitas kehidupan sehari-hari. Kejadian ini meningkat dengan cepat mulai usia
60 sampai 85 tahun atau lebih, yaitu kurang dari 5 % lansia yang berusia 60-74
tahun mengalami dementia (kepikunan berat) sedangkan pada usia setelah 85
tahun kejadian ini meningkat mendekati 50 %. Salah satu hal yang dapat
menyebabkan gangguan interlektual adalah depresi sehingga perlu dibedakan
dengan gangguan intelektual lainnya.
4. Impairment of vision and hearing : gangguan panca indera, lansia terutama
yang mengalami sindrom metabolic biasanya sering mengalami gangguan panca
indera, seperti penglihatan, pendengaran, dan gangguan kulit.
5. Isolation (depresi) : perubahan status sosial, bertambahnya penyakit dan
berkurangnya kemandirian sosial serta perubahan-perubahan akibat proses
menua menjadi salah satu pemicu munculnya depresi pada lansia. Namun
demikian, sering sekali gejala depresi menyertai penderita dengan penyakit-
penyakit gangguan fisik, yang tidak dapat diketahui ataupun terpikirkan
sebelumnya, karena gejala-gejala depresi yang muncul seringkali dianggap
sebagai suatu bagian dari proses menua yang normal ataupun tidak khas. Gejala-
gejala depresi dapat berupa perasaan sedih, tidak bahagia, sering menangis,
merasa kesepian, tidur terganggu, pikiran dan gerakan tubuh lamban, cepat lelah
dan menurunnya aktivitas, tidak ada selera makan, berat badan berkurang, daya
ingat berkurang, sulit untuk memusatkan pikiran dan perhatian, kurangnya minat,
hilangnya kesenangan yang biasanya dinikmati, menyusahkan orang lain, merasa
rendah diri, harga diri dan kepercayaan diri berkurang, merasa bersalah dan tidak
berguna, tidak ingin hidup lagi bahkan mau bunuh diri, dan gejala-gejala fisik
lainnya. Akan tetapi pada lansia sering timbul depresi terselubung, yaitu yang

15
menonjol hanya gangguan fisik saja seperti sakit kepala, jantung berdebar-debar,
nyeri pinggang, gangguan pencernaan dan lain-lain, sedangkan gangguan jiwa
tidak jelas.
6. Inanition (malnutrisi) : kekurangan gizi pada lansia dapat disebabkan
perubahan lingkungan maupun kondisi kesehatan. Faktor lingkungan dapat
berupa ketidaktahuan untuk memilih makanan yang bergizi, isolasi sosial
(terasing dari masyarakat) terutama karena gangguan pancaindera, kemiskinan,
hidup seorang diri yang terutama terjadi pada pria yang sangat tua dan baru
kehilangan pasangan hidup, sedangkan faktor kondisi kesehatan berupa penyakit
fisik, mental, gangguan tidur, alkoholisme, obat-obatan dan lain-lain.
7. Irritable kolon : gangguan BAB yang terjadi pada lansia juga berkaitan dengan
asupan gizi lansia itu sendiri. Contohnya karena kurangnya asupan serat,
kurangnya minum, ataupun intervensi obat-obat tertentu. Akibatnya,
pengosongan isi usus menjadi sulit terjadi atau isi usus menjadi tertahan. Pada
konstipasi, kotoran di dalam usus menjadi keras dan kering, dan pada keadaan
yang berat dapat terjadi akibat yang lebih berat berupa penyumbatan pada usus
disertai rasa sakit pada daerah perut.
8. Incontinencia Urin : merupakan salah satu masalah yang sering didapati pada
lansia, yaitu keluarnya air seni tanpa disadari, dalam jumlah dan kekerapan yang
cukup mengakibatkan masalah kesehatan atau sosial. Beser bak merupakan
masalah yang seringkali dianggap wajar dan normal pada lansia, walaupun
sebenarnya hal ini tidak dikehendaki terjadi baik oleh lansia tersebut maupun
keluarganya. Akibatnya timbul berbagai masalah, baik masalah kesehatan
maupun sosial, yang kesemuanya akan memperburuk kualitas hidup dari lansia
tersebut. Lansia dengan beser bak sering mengurangi minum dengan harapan
untuk mengurangi keluhan tersebut, sehingga dapat menyebabkan lansia
kekurangan cairan dan juga berkurangnya kemampuan kandung kemih. Beser
bak sering pula disertai dengan beser buang air besar (bab), yang justru akan
memperberat keluhan beser bak tadi.
9. Infection : merupakan salah satu masalah kesehatan yang penting pada lansia,
karena selain sering didapati, juga gejala tidak khas bahkan asimtomatik yang

16
menyebabkan keterlambatan di dalam diagnosis dan pengobatan serta risiko
menjadi fatal meningkat pula.Beberapa faktor risiko yang menyebabkan lansia
mudah mendapat penyakit infeksi karena kekurangan gizi, kekebalan tubuh:yang
menurun, berkurangnya fungsi berbagai organ tubuh, terdapatnya beberapa
penyakit sekaligus (komorbiditas) yang menyebabkan daya tahan tubuh yang
sangat berkurang. Selain daripada itu, faktor lingkungan, jumlah dan keganasan
kuman akan mempermudah tubuh mengalami infeksi.

10. Iatrogenesis : salah satu yang sering didapati pada lansia adalah menderita
penyakit lebih dari satu jenis sehingga membutuhkan obat yang lebih banyak,
apalagi sebahagian lansia sering menggunakan obat dalam jangka waktu yang
lama tanpa pengawasan dokter dapat menyebabkan timbulnya penyakit akibat
pemakaian obat-obat yaqng digunakan.

11. Insomnia : dua proses normal yang paling penting di dalam kehidupan manusia
adalah makan dan tidur. Walaupun keduanya sangat penting akan tetapi karena
sangat rutin maka kita sering melupakan akan proses itu dan baru setelah adanya
gangguan pada kedua proses tersebut maka kita ingat akan pentingnya kedua
keadaan ini.Jadi dalam keadaan normal (sehat) maka pada umumnya manusia
dapat menikmati makan enak dan tidur nyenyak. Berbagai keluhan gangguan
tidur yang sering dilaporkan oleh para lansia, yakni sulit untuk masuk dalam
proses tidur. Tidurnya tidak dalam dan mudah terbangun, tidurnya banyak mimpi,
jika terbangun sukar tidur kembali, terbangun dinihari, lesu setelah bangun
dipagi hari.

12. Immune deficiency : daya tahan tubuh yang menurun pada lansia merupakan
salah satu fungsi tubuh yang terganggu dengan bertambahnya umur seseorang
walaupun tidak selamanya hal ini disebabkan oleh proses menua, tetapi dapat
pula karena berbagai keadaan seperti penyakit yang sudah lama diderita
(menahun) maupun penyakit yang baru saja diderita (akut) dapat menyebabkan
penurunan daya tahan tubuh seseorang. Demikian juga penggunaan berbagai

17
obat, keadaan gizi yang kurang, penurunan fungsi organ-organ tubuh dan lain-
lain.

13. Impotency : lemah syahwat yang terjadi pada lansia diakibatkan penurunan
aliran darah sistemik sehingga organ genitalia tidak dapat berkontraksi secara
maksimal.

14. Impecunity : dengan semakin bertambahnya usia maka kemampuan fisik dan
mental akan berkurang secara perlahan-lahan, yang menyebabkan
ketidakmampuan tubuh dalam mengerjakan atau menyelesaikan pekerjaannya
sehingga tidak dapat memberikan penghasilan. Akhirnya, lansia merasa miskin
dan merasa tidak dapat berbuat apa-apa sehingga dapat menimbulkan depresi.

D. Cara mengatasi Permasalahan Lansia


Berkaitan dengan masalah yang sering dialami oleh orang yang berusia
lanjut dapat di tempuh melalui hal-hal sebagai berikut :
1. Berhubungan dengan Kesahatan Lansia ( fisik) :
Orang yang telah lanjut usia identik dengan menurunnya daya tahan
tubuh dan mengalami berbagai macam penyakit. Lansia akan memerlukan
obat yang jumlah atau macamnya tergantung dari penyakit yang diderita.
Pemberian nutrisi yang baik dan cukup sangat diperlukan lansia,misalnya
pemberian asupan gizi yang cukup serta mengandung serat dalam jumlah
yang besar yang bersumber pada buah, sayur dan beraneka pati, yang
dikonsumsi dengan jumlah bertahap. Berikut hal-hal yang bisa dilakukan
untuk mempertahankan kesehatan fisik pada lansia :
a. Minum air putih 1.5 – 2 liter, secara teratur
b. Olah raga teratur dan sesuai dengan kapasitas kemampuanya
c. Istirahat dan tidur yang cukup
d. Minum suplemen gizi yang diperlukan
e. Memeriksa kesehatan secara teratur
2. Berhubungan dengan masalah intelektual

18
Sulit untuk mengingat atau pikun dapat diatasi pada saat muda dengan
hidup sehat, yaitu dengan cara :
a. Jadikan Olahraga sebagai kebutuhan dan rutinitas harian Anda.
b. Hendaknya Anda membiasakan diri dengan tidur yang cukup.
c. Berhati-hatilah dengan Suplemen penambah daya ingat.
d. Kendalikan rasa stress yang menyelimuti pikiran Anda.
e. Segera obati depresi Anda.
f. Hendaknya Anda selalu mengawasi obat-obatan yang dikonsumsi.
g. Cobalah dengan melakukan permainan yang berhubungan dengan daya ingat.
h. Jangan pernah berhenti untuk terus belajar dan mengasah kemampuan otak
i. Hendaknya Anda berusaha meningkatkan konsentrasi dan memfokuskan
pikiran
j. Tumbuhkan rasa optimis dalam diri Anda.
3. Berhubungan dengan Emosi :
a. Lebih mendekatkan diri kepada tuhan dan menyerahkan diri kita sepenuhnya
kepadaNya. Hal ini akan menyebabkan jiwa dan pikiran menjadi tenang.
b. Hindari stres, hidup yang penuh tekanan akan merusak kesehatan, merusak
tubuh dan wajahpun menjadi nampak semakin tua. Stres juga dapat
menyebabkan atau memicu berbagai penyakit seperti stroke, asma, darah
tinggi, penyakit jantung dan lain-lain.
c. Tersenyum dan tertawa sangat baik, karena akan memperbaiki mental dan
fisik secara alami. Penampilan kita juga akan tampak lebih menarik dan lebih
disukai orang lain. Tertawa membantu memandang hidup dengan positif dan
juga terbukti memiliki kemampuan untuk menyembuhkan. Tertawa juga
ampuh untuk mengendalikan emosi kita yang tinggi dan juga untuk
melemaskan otak kita dari kelelahan.
d. Rekreasi untuk menghilangkan kelelahan setelah beraktivitas selama
seminggu maka dilakukan rekreasi. Rekreasi tidak harus mahal, dapat
disesuaikan denga kondisi serta kemampuan.
e. Hubungan antar sesama yang sehat, pertahankan hubungan yang baik dengan
keluarga dan teman-teman, karena hidup sehat bukan hanya sehat jasmani dan
rohani tetapi juga harus sehat sosial. Dengan adanya hubungan yang baik
dengan keluarga dan teman-teman dapat membuat hidup lebih berarti yang
selanjutnya akan mendorong seseorang untuk menjaga, mempertahankan dan

19
meningkatkan kesehatannya karena ingin lebih lama menikmati kebersamaan
dengan orang-orang yang dicintai dan disayangi.
4. Berhubungan dengan Spiritual
a. Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan menyerahkan diri kita sepenuhnya
kepadaNya. Hal ini akan menyebabkan jiwa dan pikiran menjadi tenang.
b. Intropeksi terhadap hal-hal yang telah kita lakukan, serta lebih banyak
beribadah
c. Belajar secara rutin dengan cara membaca kitab suci secara teratur.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Lansia biasanya mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial sedikit demi
sedikit sehingga tidak dapat melakukan tugasnya sehari-hari lagi.
2. Pada lansia terjadi banyak perubahan, diantaranya perkembangan
jasmani/fisik, perkembangan intelektual, perkembangan emosi, perkembangan
spiritual, perubahan sosial, perubahan kehidupan keluarga, dan hubungan
sosio-emosional lansia.
3. Lansia mengalami perubahan dalam kehidupannya sehingga menimbulkan
beberapa masalah dalam kehidupannya, diantaranya pada masalah fisik,
intelektual, emosi, dan spiritual.
4. Masalah – masalah pada lansia yang timbul karena perubahan yang terjadi
pada lansia dapat diatasi sehingga tidak perlu dikhawatirkan,yang penting
ditanggulangi dengan baik.
B. Saran
Lansia adalah masa dimana seseorang mengalami kemunduran, dimana fungsi
tubuh kita sudah tidak optimal lagi.,karena itu diharapkan keluarga memahami
masalah ini dan dapat menanggulangi permasalahan yang ada dengan benar.

20
DAFTAR PUSTAKA

Anderson, Elizabeth T.2006.Keperawatan Komunitas Teori dan Praktik.Jakarta: EGC

Mubarak,Wahit Iqbal. 2009. Pengantar Keperawatan Komunitas 2. Jakarta: Salemba


Medika

Mickey Stanley, Patricia Gauntleff Seare.2006.Buku Ajar Keperawatan Gerontik


Edisi 2.Jakarta:ECG

21