You are on page 1of 11

KISI – KISI

1. Pengertian reservoir
Reservoir merupakan suatu formasi yang terdiri dari batuan dengan rongga yang sangat kecil, disebut pore, yang
dapat menyimpan fluida. Disamping mengandung berbagai jenis hidrokarbon, batuan reservoir umumnya
mengandung air asin. Fluida ini, dalam keadaan kesetimbangan, akan berada secara berlapis dengan yang paling
ringan (gas) berada paling atas, kemudian minyak, dan yang terberat (air) berada paling bawah.
Untuk dapat menyimpan minyak, suatu reservoir harus mempunyai bentuk dan konfigurasi tertentu serta
mempunyai penyekat (seal) sehingga minyak dapat terperangkap. Di samping itu, reservoir harus mempunyai
porositas minimum – yaitu batuan harus mempunyai ukuran rongga tertentu – dan reservoir tersebut harus
bersifat permeable – yaitu rongga-rongga tersebut harus saling berhubungan – sehingga minyak dapat mengalir di
dalam reservoir dan kemudian dapat diproduksikan melalui sumur-sumur produksi.

2. Petroleum system
Petroleum System Elements

Gas
Cap
Oil
Entrapment Water Seal Rock
Reservoir
Rock

Migration
120° F

350° F
Generation
24803

Suatu wilayah atau tempat bisa disebut sebagai sebuah reservoir apabila terdapat sumber dari hidrokarbon
atau tempat terakumulasinya minyak dan gas bumi. Untuk dapat terakumulasinya minyak dan gas bumi ini,proses
akumulasi minyak bumi di bawah permukaan harus memenuhi syarat atau disebut juga petroleum system sebagai
berikut :

• Batuan asal (source rock), merupakan endapan sedimen yang mengandung bahan -bahan organik yang cukup
untuk dapat menghasilkan minyak dan gas bumi ketika endapan tersebut tertimbun dan terpanaskan, dan
dapat mengelurakan minyak dan gas bumi tersebut dalam jumlah yang ekonomis.
• Batuan reservoir, sebagai tempat yang diisi dan dijenuhi oleh minyak bumi & gas bumi. Biasanya batuan
reservoir berupa lapisan batuan yang porous dan permeable. Syarat batuan tersebut harus memiliki porositas
sebagai penyimpan hidrokarbon dan permeabilitas sebagai tempat mengalirnya hidrokarbon.
• Lapisan penutup (cap rock), yaitu suatu lapisan batuan yang terdapat di bagian atas reservoir bersifat
impermeable atau memiliki porositas dan permeabilitas yang kecil sehingga cairan hidrokarbon tidak dapat
melalui batuan tersebut yang mengakibatkan minyak dan gas bumi terjebak.
• Jalur migrasi, merupakan alur transportasi minyak dan gas dari Source Rock menuju Reservoir yang apat berasal
dari rekahan (karena proses tektonik & pelarutan batuan dari air formasi) ataupun dari permeabilitas lapisan
batuan diatas source rock. Ada dua jalur migrasi yaitu migrasi primer dan migrasi sekunder.
• Perangkap reservoir (reservoir trap), merupakan unsur pembentuk reservoir yang mempunyai bentuk tertentu.
Umumnya berbentuk bentuk konkav ke bawah yang menyebabkan minyak & gas bumi berada dibagian teratas
reservoir.
3. Konsep batuan reservoir
batuan reservoir adalah batuan bawah permukaan yang mampu menjadi tempat terperangkapnya gas, minyak, air
dan fluida reservoir lain. Untuk menjadi reservoir minyak yang produktif, badan batuan harus cukup besar, berpori,
dan permeable sehingga mampu mengalirkan fluida ke lubang sumur. Batuan sandstone dan carbonate (misalnya
limestone dan dolomite) umumnya batuan yang paling besar pori-porinya dan merupakan batuan yang umum
sebagai batuan reservoir.
Suatu contoh batuan reservoir dapat diperbesar sehingga terlihat ribuan rongga kecil atau pori-pori. Ukuran
besarnya pori-pori tersebut disebut porositas. Makin besar porositas makin banyak fluida yang dapat dikandung.
Porositas batuan berkisar mulai dari lebih kecil dari 5 persen pada batuan sandstone atau carbonate yang
tersementasi sampai dengan 30 persen pada batuan sandstone yang unconsolidated.

Disamping harus berpori, batuan reservoir juga harus permeable. Permeable artinya terdapat pori-pori yang saling
berhubungan sehingga minyak dapat bergerak (mengalir) dari satu pori ke pori lainnya. Ukuran kemampuan batuan
untuk mengalirkan fluida disebut permeabilitas. Makin besar permeabilitas makin mudah bagi minyak untuk
mengalir di dalam batuan. Satuan permeabilitas adalah darcy. Tetapi kebanyakan batuan mempunyai permeabilitas
sangat kecil sehingga digunakan satuan millidarcy.
Umumnya, porositas dan permeabilitas tidak berhubungan secara langsung. Namun demikian, terdapat beberapa
batuan yang berporositas tinggi akan mempunyai permeabilitas yang tinggi pula.

4. Konsep jebakan reservoir

5. Tekanan reservoir
Semua fluida reservoir berada dalam tekanan. Tekanan ini ada di dalam reservoir karena reservoir dan fluida yang
dikandungnya berada di dalam keadaan terbebani oleh lapisan batuan dan fluida yang berada di atasnya (disebut
dengan overburden). Makin dalam suatu reservoir akan makin besar tekanannya. Jadi tekanan fluida di dalam
reservoir dapat dianalogikan dengan tekanan fluida pada suatu kolam renang. Pada bagian bawah kolam maka
tekanan fluidanya paling besar karena mendapat beban tekanan (hidrostatik) yang paling besar.
6. Tekanan reservoir normal
Seperti halnya pada suatu kolam renang, seperti disebutkan di atas, di dalam reservoir juga terdapat tekanan fluida.
Dalam keadaan normal, tekanan di dalam reservoir hanya berupa tekanan yang diakibatkan oleh tekanan
overburden fluida. Hal ini terjadi khususnya untuk reservoir yang mempunyai hubungan dengan permukaan –
misalnya berupa singkapan atau terhubungkan melalui batuan berpori lainnya dan terisi oleh air. Dalam keadaan
demikian, maka tekanan reservoir tersebut hanya berupa tekanan yang diakibatkan oleh tekanan hidrostatik fluida
– yaitu tekanan yang diakibatkan oleh berat kolom air. Tekanan ini disebut tekanan normal.
7. Tekanan reservoir abnormal
Reservoir yang tidak berhubungan dengan permukaan biasanya dikelilingi oleh batuan yang bersifat impermeable.
Dalam keadaan demikian, maka berat batuan yang berada di atasnya akan mempunyai andil yang besar terhadap
tekanan reservoir. Yang terjadi adalah berat batuan yang berada di atasnya seperti menggencet (squeezing)
reservoir. Karena fluida di dalam reservoir tidak dapat keluar, maka tekanan reservoir meningkat tinggi. Analogi ini
adalah seperti sebuah balon yang ditiup untuk kemudian digencet. Maka dengan adanya gencetan tersebut tekanan
balon menjadi lebih tinggi. Tekanan ini disebut tekanan abnormal. Tekanan abnormal dapat pula terjadi jika air yang
berada di bawah reservoir minyak terhubungan dengan permukaan dan terjadi efek artesis.

8. Sifat fisik batuan


POROSITAS
• Porositas merupakan besaran yang menentukan volume fluida yang bisa terkandung di dalam batuan (storage
capacity).
• Cadangan (reserves) hidrokarbon suatu reservoir sangat dipengaruhi oleh harga porositasnya.
• Hanya pori-pori yang saling berhubungan (interconnected) yang diperhitungkan dalam perhitungan-perhitungan
reservoir.
• Harga porositas dipengaruhi oleh:
– Pemilahan butir (sorting)
– Bentuk butiran (roundness atau angularity)
– Tipe kemasan (packing)
– Kompaksi
– Faktor sementasi
– Kontribusi porositas sekunder.

• Perbandingan antara volume ruang pori terhadap volume bulk batuan.

  Vb Vs  Vp
Vb : volume batuan
(bulk)
Vb Vb Vs : volume padatan
(grain)
Vp : volume ruang pori
batuan

• Klasifikasi Porositas Batuan (berdasarkan hubungan antar porinya)


Porositas Absolut: Perbandingan antara volume pori total terhadap volume bulk batuan.
Porositas Efektif: Perbandingan antara volume pori yang saling berhubungan terhadap volume bulk batuan.
• Klasifikasi Porositas (berdasar waktu terjadinya)
Porositas Primer: Terbentuk bersamaan proses pengendapan.
Porositas Sekunder: Terbentuk setelah proses pengendapan sebagai hasil dari proses pelarutan, kekar,
dolomitisasi, dsb.
• Penentuan porositas di bawah permukaan
– Log Densitas
– Log Sonik
– Log Neutron
– Log Nuclear Magnetic Resonance (NMR).

SATURASI
• Perbandingan antara volume pori batuan yang ditempati oleh fluida dengan volume pori efektif (saling
berhubungan) batuan.

• Hal-Hal Penting Mengenai Saturasi:


– Sg + So + Sw = 1
– So  Vb + Sg  Vb = (1 – Sw)  Vb
– Bervariasi terhadap posisi di dalam reservoir.
– Bervariasi terhadap jumlah komulatif produksi hidrokarbon dari reservoir.
– WC (Water Connate) : air yg berada direservoir.
– Swc (Saturasi wc) : saturasi air yg di reservoir.
– Water Cut : perbandingan fluida water yg terproduksi terhadap total fluida yg diproduksi.
– Water Influx : air yg mengganti tempat oil yg terproduksi.
– Free Water Level: Batas tertinggi yang ditempati air bebas.
– Zona Transisi: Zona dimana tidak diketahui fluida apa yang mendominasi.

PERMEABILITAS
Kemampuan suatu batuan (media berpori) untuk mengalirkan fluida yang ada di dalam pori-porinya (bila dikenai
gradien tekanan).
• Klasifikasi Permeabilitas
Permeabilitas absolut; bila fluida yang mengisi ruang pori dan mengalir di dalam media berpori hanya satu fasa.
Permeabilitas efektif; bila fluida yang mengisi ruang pori dan mengalir di dalam media berpori lebih dari satu fasa.
Permeabilitas relatif; perbandingan antara permeabilitas efektif dengan permeabilitas absolut.

WETTABILITAS
Apabila dua fluida bersinggungan dengan benda padat, maka salah satu fluida akan bersifat membasahi permukaan
benda padat tersebut, hal ini disebabkan adanya gaya adhesi.
AT = so - sw = wo. cos wo
dimana :
so = tegangan permukaan minyak-benda padat, dyne/cm
sw = tegangan permukaan air-benda padat, dyne/cm
wo = tegangan permukaan minyak-air, dyne/cm
wo = sudut kontak minyak-air.

TEKANAN KAPILER
Pengaruh tekanan kapiler dalam sistem reservoir antara lain adalah :
 Mengontrol distribusi saturasi di dalam reservoir.
 Merupakan mekanisme pendorong minyak dan gas untuk bergerak atau mengalir melalui pori-pori secara
vertikal.

• Sw vs Pc

RESISTIVITY BATUAN
KOMPRESSIBILITAS

9. Asumsi darcy
a. Alirannya steady state, alirannya lancar tanpa hambatan
b. Fluida 1 fasa, hanya menggunakan 1 fasa saja. Seperti air saja, atau oil saja, atau gas saja.
c. Viskositas konstan, kekentalan stabil
d. Kondisi aliran isothermal, temperatur tetap tidak berubah
e. Formasi homogen, menggunakanm satu jenis formasi
f. arah alirannya horizontal
g. Fluidanya incompressible, tidak ada perubahan besar volume disetiap tekanan.
10. Percobaan darcy

11. Arti 1 darcy


Definisi batuan mempunyai permeabilitas 1 Darcy menurut hasil percobaan ini adalah apabila batuan mampu
mengalirkan fluida dengan laju 1cm3/s berviskositas 1cp, sepanjang 1cm dan mempunyai penampang 1cm2,
perbedaan tekananan sebesar 1atm.

12. Macam-macam jebakan stratigrafi


Trap stratigrafi
Perangkap stratigrafi disebabkan oleh formasi batuan yang menyekat pada bagian atas reservoir atau karena
ada perubahan kontinuitas porositas atau permeabilitas di dalam reservoir. Satu jenis perangkap stratigrafi
adalah unconformity dimana bagian batuan berpori yang terendapkan mengalami erosi dan kemudian terlapisi
caprock di atasnya. Angular unconformity merupakan unconformity yang diakibatkan oleh pengandapan di atas
lapisan batuan berpori yang terlipat atau miring. Jenis perangkap stratigrafi lainnya adalah lenticular trap yang
tersekat oleh perubahan tiba-tiba dari penyebaran batuan berpori. Perubahan ini, misalnya diakibatkan oleh
proses pengendapan batu pasir atau clay yang tidak merata distribusinya seperti dapat terjadi pada delta suatu
sungai.
Trap reservoir ini dipengaruhi oleh variasi perlapisan secara vertikal dan lateral, perubahan facies batuan dan
ketidakselarasan, serta variasi lateral dalam litologi pada suatu lapisan reservoir dalam perpindahan minyak
bumi.
13. Jebakan stratigrafi dan structural
• Trap Struktural
Trap ini dipengaruhi oleh kejadian deformasi perlapisan dengan terbentuknya struktur lipatan dan patahan
yang merupakan respon dari kejadian tektonik.
 Perangkap antiklinal terbentuk akibat pelipatan lapisan batuan. Perangkap ini kemudian terisi oleh
hidrokarbon yang masuk dari bagian bawahnya. Pergerakan hidrokarbon ke atas kemudian
terhadang oleh caprock, yaitu batuan yang bersifat impermeable.
 Perangkap patahan terbentuk oleh pergeseran lapisan yang terpatahkan. Pergerakan hidrokarbon
dalam perangkap ini terhadang oleh batuan impermeable yang bergeser dan berada di sisi yang
berlawanan pada bidang patahan terhadap lapisan yang mengandung hidrokarbon atau oleh
material impermeable (disebut gouge) pada zona patahan. Dengan demikian efektivitas penyekatan
akan tergantung kepada seal pada bidang patahan. Suatu perangkap patahan yang sederhana dapat
terbentuk jika kontur struktur memberikan bidang bukaan terhadap patahan.
 Perangkap dome atau plug adalah formasi batuan berpori pada atau di sekeliling intrusi garam atau
batuan serpentine yang terangkat atau terlipat oleh proses intrusi. Akumulasi hidrokarbon di
sekeliling kubah garam biasanya tidak berkesinambungan melainkan terputusputus menjadi
beberapa segmen oleh patahan. Oleh sebab itu, biasanya hidrokarbon pada perangkap ini seringkali
sulit dibor.

14. Fluida reservoir


Sifat fisik fluida reservoir diantaranya adalah:
• densitas
• kompresibilitas
• viskositas
• faktor volume formasi
• kelarutan gas dalam minyak
• sifat termodinamika (misalnya tekanan gelembung, dew point pressure, equilibrium ratios).
15. Sifat fisik fluida reservoir (minyak)
• Tekanan gelembung (pb): Korelasi Standing
• Kelarutan gas dalam minyak (Rso): Korelasi Standing
• Densitas minyak (ρo):
• Faktor volume formasi minyak (Bo): Korelasi Standing
• Kompresibilitas minyak (co): Korelasi Vasquez and Beggs, Korelasi McCain, Rollins, and Villena
• Viskositas minyak (μo): Korelasi Vasquez and Beggs, Korelasi Beggs and Robertsons
16. Sifat fisik fluida reservoir (gas)
• Faktor deviasi gas (Z): Korelasi Dranchuk and Abou-Kassem
• Faktor volume formasi gas (Bg)
• Viskositas gas (μg): Korelasi Lee, Gonzalez, and Eakin
17. Konsep gas ideal
Gas ideal adalah fluida yang:
• Gas ideal adalah gas teoritis yang terdiri dari partikel-partikel titik yang bergerak secara acak dan tidak
saling berinteraksi.
• Memiliki volume molekul yang dapat diabaikan dibandingkan dengan volume fluida keseluruhan
• Tidak memiliki gaya tarik atau gaya tolak antara sesama molekul atau antara molekul dengan dinding
tempat gas itu berada
• Semua tumbukan antar molekul-molekulnya bersifat elastis murni yang berarti tidak ada kehilangan
energi.

Untuk menggambarkan properties gas ideal digunakan persamaan keadaan atau equation of state (EOS)
berdasarkan hukum-hukum gas ideal yang dihasilkan dari berbagai percobaan.
Hukum-hukum gas ideal tersebut, diantaranya:
• Hukum Boyle
• Hukum Charles
• Hukum Avogadro
• Hukum Gay Lussac.
Persamaan keadaan bertujuan untuk menghubungkan antara tekanan, volume, dan temperatur. Persamaan gas
ideal:

18. Gas nyata


Gas nyata, kebalikan dari gas ideal, menjelaskan karakteristik yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum gas ideal.
Untuk memahami perilaku gas nyata, maka faktor-faktor berikut ini mesti diperhitungkan:

 efek kompresibilitas;
 kapasitas panas spesifik;;
 efek termodinamika tidak setimbang;
 disosiasi molekul

Di banyak perhitungan, analisis mendetail mengenai gas nyata jarang dipergunakan, dan perkiraan dari nilai gas
ideal dapat digunakan. Di sisi lain, model gas ideal dapat digunakan digunakan pada kondisi mendekat titik
kondensasi gas, mendekati termodinamika, pada tekanan sangat tinggi, dan untuk menjelask efek Joule
Thomson serta beberapa kasus lain yang jarang digunakan.

Bedanya agas ideal dengan gas nyata

1. Gas Ideal tidak dapat ditemukan dalam kenyataan. Tapi gas berperilaku dengan cara ini pada suhu dan
tekanan tertentu.
2. Gas Ideal dapat berhubungan dengan persamaan PV = nRT = NKT, sedangkan gas nyata tidak bisa.
Untuk menentukan gas nyata, ada persamaan jauh lebih rumit.
3. Gas cenderung berperilaku sebagai gas nyata dalam tekanan tinggi dan suhu rendah. Gas nyata
berperilaku gas sebagai ideal pada tekanan rendah dan suhu tinggi.
4. Gas Ideal tidak memiliki gaya antarmolekul dan molekul gas dianggap sebagai partikel titik. Sebaliknya
molekul gas nyata memiliki ukuran dan volume. Selanjutnya mereka memiliki gaya antarmolekul.

19. Undersaturated reservoir


Undersaturated Reservoir adalah reservoir yang mempunyai tekanan awal reservoir lebih besar dari tekanan
saturasi (Pi>Pb). Kondisi undersaturated reservoir dapat menjadi saturated reservoir apabila penurunan
tekanan melewati tekanan saturasi (bubble point pressure) sehingga di dalam reservoir akan terbentuk gas cap.
Namun, tidak semua akan mengalami perubahan fasa dari kondisi saturated. Hal ini bergantung pada komposisi
penyusun fluida hidrokarbon.
20. Saturated Reservoir
Saturated Reservoir adalah reservoir yang mempunyai tekanan reservoir lebih kecil atau di bawah tekanan
bubble point-nya (Pi<Pb). Pada suatu keadaan menunjukkan kondisi saturated reservoir dimana reservoir
memiliki fasa gas bebas, fasa minyak, dan fasa air. Baik gas terlarut ataupun gas cap keduanya merupakan
sumber tenaga reservoir yang berfungsi sebagai tenaga dorong minyak dari dalam reservoir ke atas permukaan.

21. WOC
Kontak minyak-air (WOC – water-oil contact, yaitu bidang dimana air dan minyak saling bersentuhan)
merupakan sesuatu yang penting pada awal pengembangan suatu reservoir, sebab untuk mendapatkan
produksi minyak yang maksimum maka air jangan sampai ikut terproduksi bersama dengan minyak. Pada
umumnya, semua reservoir mempunyai air di bagian struktur terendah dengan minyak berada di atasnya. Akan
tetapi kontak minyak-air tidak berupa bidang yang menunjukkan perubahan yang tajam dan tidak berupa
bidang yang horizontal, namun berupa zona yang sebagian minyak dan sebagian air setebal kira-kira 10 – 15 ft.
Hal yang sama juga terjadi pada bidang kontak minyak-gas. Tetapi, minyak yang jauh lebih berat dibandingkan
dengan gas, cenderung tidak naik ke dalam zona gas seperti halnya air yang naik ke zona minyak. Mengenai hal
ini dapat dijelaskan oleh fenomena kapileritas.

22. Diagram fasa

Reservoir minyak dapat berupa reservoir dengan volume minyak yang stabil (low shrinkage oil) dimana
pengaruh tekanan terhadap volume tidak terlalu besar atau reservoir dengan volume minyak yang tidak stabil
(high shrinkage oil) dimana volume minyak sangat dipengaruhi oleh perubahan tekanan. Sedangkan reservoir
gas dapat berupa reservoir dengan gas kering (dry gas) atau gas basah (wet gas).

Secara teknis, jenis reservoir dapat didefinisikan oleh letak temperatur dan tekanan awal reservoir terhadap
daerah dua fasa pada diagram tekanan-temperatur (P-T). Kurva P-T tersebut, untuk tiap reservoir berbeda-beda
tergantung komposisi hidrokarbon yang dikandungnya. Namun, secara umum dapat digambarkan seperti
ditunjukkan pada gambar berikut. Daerah yang dibatasai oleh garis bubble point dan dew point adalah daerah
dimana terdapat baik fasa gas maupun fasa cair. Kurva-kurva di dalamnya menunjukkan persentase volumetrik
fasa cair. Tinjau suatu reservoir yang pada awalnya mempunyai p = 3700 psia dan T = 300 oF. Reservoir ini
berada pada titik A dan hidrokarbon yang dikandungnya adalah berupa fasa gas. Selama produksi, tekanan
turun, namun temperatur tetap sebesar 300 oF. Perubahan ini ditunjukkan oleh garis A-A1. Selama perubahan
tekanan pada kondisi isothermal ini, fasa di reservoir tetap berupa fasa gas. Komposisi fluida di reservoir tidak
berubah karena temperatur yang lebih besar dari cricondentherm. Begitu pula komposisi fluida yang
diproduksikan tetap. Namun demikian, fasa yang terproduksikan akan berubah sesuai dengan garis A-A2,
sehingga di permukaan akan muncul condensate liquid. Jika, misalnya cricondentherm adalah 50 oF, maka di
permukaan fluida terproduksi akan tetap sebagai fasa gas, dan reservoir yang demikian disebut dengan dry gas
reservoir.

Sekarang, tinjau reservoir yang pada awalnya mempunyai p = 3300 psia dan T = 180 oF, seperti ditunjukkan oleh
titik B. Reservoir ini juga mengandung fluida satu fasa berupa gas karena temperaturnya lebih besar dari
temperatur kritik. Karena diproduksikan, maka tekanan menurun, namun dengan komposisi fluida yang tetap
sama – seperti halnya yang terjadi di reservoir A – sampai tekanan dew-point dicapai, titik B1. Di bawah
tekanan ini fasa cair akan terkondensasi sebagai kabut atau dew dan reservoir demikian disebut dengan dew-
point reservoir. Kondensasi ini mengakibatkan fasa gas kehilangan kandungan cairan. Cairan yang terkondensasi
tersebut kemudian menempel pada dinding pori batuan dan tidak bisa bergerak (fenomena membasahi
berkenaan dengan tegangan antar muka). Oleh karenanya, gas yang terproduksikan ke permukaan mempunyai
kandungan cairan yang lebih sedikit dibandingkan dengan kandungan semula di reservoir sehingga untuk jenis
reservoir ini producing gas-oil ratio (GOR) akan meningkat. Kejadian ini disebut dengan retrograde
condensation. Disebut dengan retrograde karena pada kondisi ekspansi isotermal umumnya yang terjadi adalah
vaporization bukan condensation. Proses retrograde condensation akan berlangsung sampai titik B2 dicapai,
yaitu pada kandungan cairan maksimum 10% pada tekanan 2050 psia. Kejadian sebenarnya, setelah dew point
dicapai, komposisi fluida di reservoir berubah sehingga diagram P-T juga berubah. Namun untuk penjelasan di
sini, perubahan tersebut diabaikan dan tidak dibahas. Selanjutnya terjadi vaporization dari titik B2 ke titik B3.
Hal ini mengakibatkan liquid recovery dan oleh karenanya kemungkinan terjadi penurunan producing GOR di
permukaan.
Selanjutnya tinjau reservoir yang pada awalnya mempunyai p = 2800 psia dan T = 70 oF, seperti ditunjukkan
oleh titik C. Reservoir ini juga mengandung fluida satu fasa namun sekarang berupa fasa cair karena temperatur
lebih kecil dari temperatir kritik. Reservoir demikian disebut dengan bubble-point reservoir. Karena
diproduksikan, tekanan turun, dan suatu saat mencapai tekanan bubble-point yaitu pada p = 2400 psia, titik C1.
Di bawah tekanan ini gelembung gas akan muncul. Gas ini umumnya akan bergerak menuju sumur dan
kemudian terproduksikan dengan jumlah yang bahkan meningkat. Sebaliknya minyak terproduksikan akan
berkurang dan sebagian bahkan tetap berada di reservoir dan tidak terproduksikan. Istilah lain yang sering
digunakan untuk reservoir dengan fenomena mekanisme pendorongan semacam ini adalah depletion, dissolved
gas, solution gas drive, expansion, atau internal gas drive.

Dan jenis reservoir yang terakhir adalah jika reservoir berada pada titik D, yaitu yang pada awalnya mempunyai
p = 1800 psia dan T = 170 oF. Fluida yang terkandung di reservoir yang demikian berada dalam dua fasa yaitu
fasa cair dan fasa liquid.
23. Dry gas
Dry Gas. Yang dimaksud dengan dry gas adalah kondisi hidrokarbon bila tekanan dan temperaturnya menurun,
tidak akan terbentuk cairan.

24. Wet gas


Wet Gas. Sedangkan yang dimaksud dengan wet gas adalah hidrokarbon yang bila temperaturnya diturunkan
akan menghasilkan cairan.
25. Simulasi monte carlo dalam menghitung cadangan
Simulasi Monte Carlo (nama Monte Carlo p proses perhitungan yang berulang-ulang (berdasarkan analisis
statistik) dari model stokastik yang mensimulasi suatu proses fisik dari fenomena alam yang umumnya memiliki
variabel berupa penyebaran harga dalam bentuk frekuensi. Hasil dari proses simulasi ini adalah hubungan
probabilitas vs. harga. Model yang digunakan dapat dinyatakan oleh persamaan matematis yang variabelnya
ditetapkan berdasarkan distribusi frekuensi (probability density function) dan distribusi kumulatif (probability
distribution function). Distribusi frekuensi dari variabel dalam model tersebut seringkali hanya dapat
diperkirakan berdasarkan data yang terbatas sehingga distribusi yang dihasilkan tidak berbentuk kurva yang
berkesinambungan (continous). Karena ketidaklengkapan data tersebut maka kita hanya dapat memperkirakan
harga minimum, maksimum, dan paling mungkin (most likely) atau bahkan hanya harga minimum dan
maksimum saja. Oleh karena itu, distribusi frekuensi yang sederhanalah yang dapat digunakan, yaitu distribusi
segi tiga (triangular) dan distribusi segi empat (uniform distribution) seperti ditunjukkan oleh gambar skematik
berikut.

Untuk menghindari pengaruh subjektivitas dalam penentuan model distribusi variabel, simulasi Monte Carlo
menggunakan bilangan acak (random number). Hasil perhitungan tersebut dinyatakan dalam histogram dan
distribusi kumulatif.
26.