You are on page 1of 4

GRIYA SEHAT, GRIYA IDAMAN

Griya sehat merupakan impian dari setiap orang. Semua orang pasti menginginkan
rumah yang sehat, nyaman, indah, dan ramah lingkungan. Namun, karena indonesia terletak
pada garis katulistiwa, sehingga membuat negara ini mengalami iklim tropis. Ikim tropis ini
selain bersifat panas juga mengundang banyak curah hujan. Dua hal tersebut membuat
indonesia memiliki 2 musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Dengan tingkat
kelembapan yang tinggi dan curah hujan yang tinggi membuat iklim tropis di wilayah
indonesia ini memerlukan penanganan yang tinggi. Selain dari masalah iklim, permasalahan
yang timbul belakang ini mengenai keterbatasan energi global yang membuat masyarakat
harus berfikir dua kali untuk mendesain sebuah rumah yang ramah lingkungan dan hemat
energi. Salah satu aspek ramah lingkungan dalam bangunan yang akhir-akhir ini kurang
mendapat perhatian para perancang adalah penghawaan alami. Penghawaan alami atau
ventilasi ialah proses penyediaan udara segar ke dalam ruangan dan pengeluaran udara kotor
dari suatu ruangan tertutup, baik secara alamiah maupun mekanis atau buatan (Gunawan,
2009). Dimana banyak bangunan saat ini yang dirancang menggunakan penghawaan buatan
seperti AC atau yang lainnya. Penghawaan buatan ini dirancang karena kondisi iklim di
indonesia yang tidak menentu, lahan yang sempit, dan kondisi lingkungan sekitar yang sudah
terkena polusi.
Sistem penghawaan yang kurang baik pada sebuah bangunan seperti penggunaan AC,
akan berakibat buruk terhadap lingkungan sekitar. Menurut Saptono Istiawan S.K., Ir, IAI
dalam bukunya “Strategi Rumah Hemat Energi“, penghawaan buatan dalam hal ini AC,
menempati urutan pertama dalam presentase penggunaan energi, sebesar 47,3%. Dengan
presentase tersebut, penggunaan AC pada hunian bertolak belakang dengan konsep hemat
energi. Padahal penggunaan AC dalam bangungan dimaksudkan untuk mengurangi tingkat
kelembapan udara dalam ruangan serta mengatur suhu dalam ruangan agar tetap nyaman.
Penghawaan alami yang buruk pada bangunan juga mempengaruhi kenyamanan
aktivitas penghuninya. Selain itu juga dapat mengakibatkan berkurangnya kadar Oksigen
(O2) dalam suatu ruangan dan bertambahnya kadar Carbon (CO2) karena kurangnya supply
udara dari luar ruangan.
Dalam buku yang ditulis oleh ARCHsketch yang berjudul “Panduan Desain Griya
Sehat” menjelaskan untuk mengatasi masalah penghawaan pada iklim tropis salah satu cara
yang lazim dan banyak digunakan adalah cross ventilation system atau yang biasa disebut
ventilasi silang. Ventilasi silang ini dapat dilakukan dengan meletakkan dua buah jendela di
kedua sisi ruangan. Dengan begitu, udara yang berada dalam ruangan tersebut dapat bergerak
dan berganti.
Aspek yang kedua adalah pencahayaan. Pencahayaan alami yaitu matahari, berperan
penting dalam kehidupan makhluk hidup. Masyarakat indonesia beruntug tinggal di negara
yang beriklim tropis karena banyaknya cahaya matahari yang di peroleh setiap harinya.
Fungsi cahaya matahari sangat banyak salah satunya bagi kesehatan tubuh karena kaya akan
vitamin D yang baik untuk tulang. Menurut ARCHsketch dalam bukunya “Panduan Desain
Griya Sehat” menjelaskan bahwa sinar matahari yang masuk dalam rumah terdiri dari 48%
cahaya, 46% sinar infra merah, dan 6% sinar ultaviolet. Dari keseluruhan sinar matahari
tersebut, 80% dapat menembus kaca, 12% akan diserap oleh kaca, dan 8% dipantulkan
kembali.
Masuknya cahaya alami ke dalam bangunan dapat diatur sedemikian rupa sehingga
kebutuhan cahaya terpenuhi dengan baik. Secara umum pencahayaan alami terbagi menjadi
2, yaitu pencahayaan samping dan pencahayaan atas. Pencahayaan yang minim dapat
dipengaruhi dengan lahan yang sempit dan memanjang, orientase bangunan yang menghadap
langsung ke matahari, rumah minimalis dengan bukaan minim, dan pantulan cahaya matahari
yang berlebihan.
Permasalahan atau pengaruh tersebut dapat diatasi dengan berbagai cara, antara lain
dengan membuat teranglangit ditengah-tengah bangunan. Perlu diperhatikan juga dalam
membuat teranglangit, karena cahaya yang berlebihan akan berpengaruh pada suhu
bangunan.Selanjutnya pada bangunan yang menghadap langsung ke arah matahari dapat
diatasi dengan membuat penghalang cahaya secara vertikal untuk menyaring besarnya cahaya
matahari yang masuk ke dalam ruangan. Kemudian pada bangunan minimalis dengan bukaan
yang sedikit, pencahayaan alami dapat dibuat dengan membuat taman ditengah-tengah
rumah. Selain mendapat pecahayaan alami, taman ditengah ruangan juga menghadirkan
penghawaan alami. Sedangan masalah yang ditimbulkan oleh pantulan cahaya matahari yang
berlebihan dapat ditangani dengan memberikan elemen-elemen pendukung pada bangunan
tersebut yang dapat mereduksi panas cahaya yang akan masuk. Contohnya pada material
keramik yang mengkilat dan berwarna cerah pada teras yang dapat memantulkan cahaya
matahari dapat diubah dengan warna yang sedikit gelap dan mempunyai sifat yang tidak
memantulkan cahaya dengan sempurna.
Aspek yang ketiga yang perlu diperhatikan dalam mendesain suatu bangunan adalah
penyediaan air bersih. Kondisi indonesia yang beriklim tropis dimana cahaya matahari dapat
bersinar merata sepanjang tahun dan memiliki curah hujan yang tinggi, ini membuat
indonesia kaya akan sumber daya alam terutama simpanan air bersih yang berada dibawah
tanah. Hal ini didukung pula oleh tanah di alam indonesia yang sangat subur dan memiliki
daya serap air yang baik. Selain itu banyak juga ditemukan sumber mata air di indonesia.
Pada perkembangan pola hidup masyarakat saat ini yang menggunakan air melebihi
batas, global dan perubahan iklim yang tidak menentu, serta ketidakpedulian masyarakat
akan keberlanjutan air bersih, maka keberadaan air bersih di indonesia perlahan akan menjadi
masalah serius di indonesia. Suplai air tanah yang tadinya melimpah menjadi terbatas,
terutama di wilayah perkotaan dengan pembangunan yang tak pernah berhenti. Bahkan bukan
hanya keterbatasan persediaan air bersih saja yang menjadi masalah, tetapi juga kualitas
airnya.
Untuk mengatasi masalah diatas ARCHsket dalam bukunya “Panduan Desain Griya
Sehat” memaparkan beberapa cara untuk mengatasi sempitnya resapan air yang ada karena
semakin banyaknya pembangunan yang kurang memperhatikan resapan air yaitu: 1. Dalam
mendesain bangunan perhatikan tatacara dalam mendesain seperti presentase luas bangunan,
yang dimana 60% dari lahan tersebut digunakan untuk bangunan dan 40% untuk area
resapan; 2. Kurangi penggunaan conblock untuk menutupi permukaan tanah; 3. Bila lahannya
sempit, usahakan membuat taman pada sudut lahan agar tetap ada area untuk resapan.
Selain cara-cara diatas ada juga cara lain yaitu memaksimalkan pemanfaatan air hujan
dengan baik, tidak membuang sampah sembarangan, memperbanyak menanam pohon untuk
resapan, membuat biopori, dan tidak membuang limbah sembarangan.
Dengan mengikuti atau memperhatikan aspek – aspek diatas dalam mendesain rumah,
maka akan terwujud rumah idaman yang sehat, nyaman, asri, dan ramah lingkungan.

Sumber :
Istiawan,Saptono dan Ika Puspa Kencana.2006.Ruang Artistik dengan
Pencahayaan.Jakarta:Penebar Swadaya.
Redaksi Rumah.2008.Serial Rumah:Rumah Sehat.Jakarta:Gramedia.
Redaksi Penerbit Cahaya Atma:Panduan Desain Griya Sehat.Yogyakarta
PENULIS

Nama : Hesti Sulistiyowati


Tempat Tanggal Lahir : Boyolali, 22 Desember 1997
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Karanggede, Boyolali, Jawa Tengah
Sekolah : Universitas Negeri Semarang
Jurusan : Teknik Sipil
Prodi : Pendidikan Teknik Bangunan