You are on page 1of 29

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr.wb.
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Cedera Medula Spinalis
”.

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Sistem
Muskuloskeletal. Selama proses penyusunan makalah ini kami tidak lepas dari
bantuan berbagai pihak yang berupa bimbingan, saran dan petunjuk baik berupa
moril, spiritual maupun materi yang berharga dalam mengatasi hambatan yang
ditemukan. Oleh karena itu, sebagai rasa syukur dengan kerendahan hati, kami
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pembimbing
yang sudah memberikan kesempatan kepada kami untuk menyelesaikan
penyusunan makalah ini.

Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, untuk itu penulis
mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun untuk perbaikan
penyusunan selanjutnya.

Jambi, Maret 2017

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 1
DAFTAR ISI 2
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 3
1.2 Rumusan Masalah 4
1.3 Tujuan 4
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1. Pengertian 6
2.2. Etiologi 6
2.3. Manifestasi Klinik 6
2.4.WOC 7
2.5. Penatalaksanaan 7
2.6. Pemeriksaan Penunjang 7
2.7. Asuhan Keperawatan 8
2.7.1 Pengkajian 8
2.7.2 Pemeriksaan Fisik 8
2.7.3 Diagnosa Keperawatan 9
2.7.4 Intervensi Keperawatan 10
BAB III TINJAUAN KASUS
3.1 Pengkajian 17
3.2 Identitas 17
3.3 Riwayat sakit dan Kesehatan 17
3.4 Pola Pemenuhan Kebutuhan Dasar 18
3.5 Pemeriksaan Fisik 19
3.6 Data Penunjang 21
3.7 Terapi atau Tindakan lain 22
3.8 Daftar Masalah 23
3.9 Analisa Data 23
3.10 Diagnosa Keperawatan 23

2
3.11 Rencana Asuhan Keperawatan 23
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan 28
5.2 Saran 28
DAFTAR PUSTAKA 29

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Cidera medulla spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang


disebabkan seringkali oleh kecelakaan lalu lintas. Apabila cedera itu mengenai
daerah L1-2 dan/atau di bawahnya maka dapat mengakibatkan hilangnya fungsi
motorik dan sensorik serta kehilangan fungsi defekasi dan berkemih. Cidera
medulla spinalis diklasifikasikan sebagai komplet : kehilangan sensasi fungsi
motorik volunter total dan tidak komplet : campuran kehilangan sensasi dan
fungsi motorik volunter (Marilynn E. Doenges,1999;338).

Cidera medulla spinalis adalah masalah kesehatan mayor yang


mempengaruhi 150.000 orang di Amerika Serikat, dengan perkiraan10.000 cedera
baru yang terjadi setiap tahun. Kejadian ini lebih dominan pada pria usia muda
sekitar lebih dari 75% dari seluruh cedera (Suzanne C. Smeltzer,2001;2220). Pada
usia 45-an fraktur banyak terjadi pada pria di bandingkan pada wanita karena
olahraga, pekerjaan, dan kecelakaan bermotor. Tetapi belakangan ini wanita lebih
banyak dibandingkan pria karena faktor osteoporosis yang di asosiasikan dengan
perubahan hormonal (menopause) (di kutip dari Medical Surgical Nursing,
Charlene J. Reeves,1999).

Klien yang mengalami cidera medulla spinalis khususnya bone loss pada
L2-3 membutuhkan perhatian lebih diantaranya dalam pemenuhan kebutuhan
ADL dan dalam pemenuhan kebutuhan untuk mobilisasi. Selain itu klien juga
beresiko mengalami komplikasi cedera spinal seperti syok spinal, trombosis vena
profunda, gagal napas; pneumonia dan hiperfleksia autonomic. Maka dari itu
sebagai perawat merasa perlu untuk dapat membantu dalam memberikan asuhan
keperawatan pada klien dengan cidera medulla spinalis dengan cara promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif sehingga masalahnya dapat teratasi dan klien
dapat terhindar dari masalah yang paling buruk.

4
1.2 Rumusan masalah
1.2.1 Bagaimana konsep dari cidera medula spinalis ?
1.2.2 Bagaimana asuhan keperwatan secara teori pada kasus cidera medula
spinalis?
1.2.3 Bagaimana aplikasi asuhan keperawatan pada kasus nyata cidera medula
sinalis ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui konsep dan aplikasi asuhan keperawatan dari kasus
cidera medula spinalis.
1.3.2 Tujuan khusus
1.3.2.1 Untuk mengetahui konsep dari cidera medula spinalis.
1.3.2.2 Untuk asuhan keperwatan secara teori pada kasus cidera medula spinalis.
1.3.2.3 Untuk mengetahui aplikasi asuhan keperawatan pada kasus nyata cidera
medula sinalis.

5
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Anatomi dan fisiologi medula spinalis

Spinal cord merupakan perpanjangan dari otak dalam menginervasi


bagian bawah dari tubuh, karenanya komposisi spinal cord mirip otak yaitu
terdiri dari grey mater dan white mater. Grey mater ada di bagian dalam dan
white mater ada di bagian luar. Spinal cord dimulai dari foramen magnum di
bagian atas diteruskan pada bagian bawahnya sebagai conus medullaris, kira-
kira padda level T12-L1 selanjutnya dteruskan ke distal sebagai kauda
equina.pada setiap level akan keluar serabut syaraf yang disebut nerve root.

2.2 Definisi
Cedera medula spinalis adalah cedera yang mengenai servikalis
vertebralis, dan lumbalis akibat dari suatu trauma yang mengenai tulang
belakang. Trauma pada tulang belakang dapat mengenai jaringan lunak pada
tulang belakang, yaitu ligamen dan diskus, tulang belakang dan sumsum
tulang belakang (medula spinalis).

6
2.3 Etiologi
Trauma langsung yang mengenai tulang belakang dan melampaui batas
kemampuan tulang belakang dalam melindungi syaraf - syaraf yang berada
didalamnya. Trauma tersebut meliputi kecelakaan lalu lintas, kecelakaan
olahraga, kecelakaan industri, kecelakaan lain seperti jatuh dari pohon,
bangunan/ ketinggian, luka tusuk, luka tembak, dan kejatuhan benda keras.

2.4 Patofisiologi
Trauma pada leher dapat bermanifestasi pada kerusakan struktur
kolumna vertebra, komprei diskus, sobeknya ligamentum servikalis, dan
kompresi medula spinalis pada setiap sisinya yang dapat menekan spina dan
bermanifestasi pada kompresi radiks dan distribusi syaraf sesuai segmen dari
tulang belakang servikal.
Trauma pada servikal bisa menyebabkan cidera spinal stabil dan tidak
stabil. Cedera stabil adalah cedera yang komponen vertebralnya tidak akan
tergeser dengan gerakan normal sehingga sumsum tulang yang tidak rusak dan
biasanya resikonya lebih rendah. Cedera yang tak stabil adalah cedera yang
dapat mengalami pergeseran lebih jauh dimana terjadi perubahan struktur dari
oseoligamentosa posterior (pedikulus, sendi-sendi permukaan, arkus tulang
posterior, ligamen interspinosa dan supraspinosa), komponen peertengahan
(sepertiga bagian posterior badan vertebral, bagian posterior dari diskus
intervertebralis dan ligamen longitudinal posterior), dan kolumna anterior (dua
pertiga bagian anterior korpus vertebra, bagian anterior diskus intervertebralis,
dan ligamen longitudinal anterior).
Pada cedera hiperekstensi servikal, pukulan pada muka atau dahi akan
memaksa kepala ke belakang dan tak ada yang menyangga oksiput hingga
kepala itu membentur bagian atas punggung. Ligamen anterior dan diskus
dapat rusak atau arkus syaraf mungkin mengalami kerusakan.
Pada cedera fleksi akan meremukkan badan vertebral menjadi baji, ini
adalah cedera yang stabil dan merupakan tipe fraktur vertebral yang paling
sering ditemukan. Jika ligamen posterior tersobek, cedera bersifat tak stabil

7
dan badan vertebral bagian atas dapat miring ke depan di atas badan vertebra
di bawahnya.

2.5 WOC

Trauma pada servikalis Fraktur, sublukasi, dislokasi, Trauma pada servikalis


tipe ekstensi kompresi dikus, robeknya tipe ekstensi
ligamentum, dan kompresi
akar syaraf

Cedera spinal tidak stabil Cedera spinal stabil

Fraktur kompresi baji


Kompresi korda Risti injury Spasme otot
Ligamentum utuh

Tindakan Mk : Nyeri Spasme otot


dekompresi Aktual/risiko:
dan stabilisasi Pola nafas tidak
efektif
Curah jantung Kompresi diskus
menurun dan kompresi akar
syaraf di sisinya

Fase asuhan
MK:
perioperatif
Imobilisasi
Prognosis penyakit

Respon
Kompresi
psikologis MK: Paralisis
jaringan
Kecemasan ekstremitas
atas dan bawah

Mk:
Ggn integritas
kulit

8
2.6 Manifestasi Klinis
 Hipoventilasi atau gagal pernafasan terutama pada cidera setinggi
servikal
 Edema pulmoner akibat penatalaksanaan cairan intravena yang tidak
tepat
 Paralisis flaksid di bawah tingkat cidera
 Hipotensi dan bradikardi
 Retensi urin dan alvi
 Paralisis usus dan ileus
 Kehilangan kontrol suhu

2.7 Pemeriksaan Diagnostik


a. Radiologi servikal. didapatkan:
 fraktur odontoid didapatkan gambaran pergeseran tengkorak ke
depan
 fraktur C2 didapatkan gambaran fraktur
 fraktur pada badan f=vertevra
 fraktur kompresi
 subluksasi pada tulang belakang servikal
 dislokasi pada tulang servikal
b. CT Scan
Didapatkan fraktur pada tulang belakang, menggambarkan strukur spinal
dan perispinal
c. MRI
Digunakan untuk mengkaji jumlah kompresi medula dan jenis cidera
dimana medula spinalis berlanjut
d. Pielogram intravena
Untuk menentukan fungsi kandung kemih
e. Sistoskopi
Pemeriksaan yang memungkinkan visualisasi langsung dari kandung
kemih dan uretra, dapat mendeteksi batu, infeksi, atau rumor kandung
kemih

9
2.8 Penatalaksanaan
a. Lakukan tindakan segera untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada
medula spinalis. Sebagian cederaa medula spinalis diperburuk oleh
penanganan yang kurang tepat, efek hipotensi atau hipoksia pada jaringan
syaraf yang sudah terganggu.
 Letakkan pasien pada alas yang keras dan datar untuk pemindahan
 Beri bantal pasir pada sisi pasien untuk mencegah pergeseran
 Selimuti pasien untuk mencegah kehilangan hawa panas badan
 Pindahkan pasien ke rumah sakit yang memiliki fasilitas
penanganan kasus cedera medula spinalis
b. Perawatan khusus
 Komosio medula spinalis (fraktur atau dislokasi) tidak stabil harus
disiingkirkan, jika terjadi pemulihan sempurna pengobatan tidak
diperlukan
 Kontusio/ transeksi/ kompresi medula spinalis
Dengan :
- Metil prednisolon 30mg/kgBB bolus intravena selama 15 menit
dilanjutkan dengan 5,4 mg/kgBB/jam selama 45 menit. Setelah
bolus, selama 23 jam, hasil optimal bila pemberian dilakukan
<8 jam onset.
- Tambahkan profilaksis stres ulkus: antasid/ antagonis H2.
c. Tindakan operasi diindikasikan pada :
a. Reduksi terbuka pada dislokasi
b. Fraktur servikal dengan lesi parsial medula spinalis
c. Cedera terbuka dengan benda asing/ tulang dalam kanalis spinalis
d. Lesi parsial medula spinalis dengan hematomielia yang progresif
d. Perawatan umum
 Perawatan vesika dan fungsi defekasi
 Perawatan kulit/ dekubitus
 Nutrisi yang adekuat

10
 Kontrol nyeri: analgetik, obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS),
antikonvulsan, kodein, dll
e. Fisioterapi, terrapi vokasional, dan psikoterapi pada pasien yang
mengalami sekucle neurologis berat dan permanen

2.9 Komplikasi
a. Pneumonia
b. Emboli paru
c. Septikemia
d. Gagal ginjal

2.10 Askep secara teori

Data subjektif

1. Pengertian pasien tentang cidera dan defisit yang ditimbulkannya.


2. Sifat cidera, sebagaimana trjadi cidera.
3. Terdapat dispnoe
4. Perasaan yang tidak biasa ( paresthesia, dsb)
5. Riwayat hilang kesadaran
6. Terdapat nyeri
7. Hilang sensory tingkatannya.

Data obyektif
1. Status respirasi ( terjadi penurunan fungssi pernafasan karena terganggu
otot aksesori mayor)
2. Tingkat kewaspadaan dan kesadaran menurun
3. Orientasi
4. Ukuran pupil, kesamaan dan reaksi
5. Kekuatan motorik ( mengalami paralisis sensori dan motorik total)
6. Posisi tubuh dalam posisi netral.
7. Suhu, tekanan darah turun, nadi.
8. Integritas kulit

11
9. Kondisi kolon dan kandung kemih dan distensi.
10. Terdapat cidera lain ( fraktur dan cidera kepala)

Pemeriksaan diagnostik

Pengkajian neurologik yang lengkap perlu dilakukan, pertama perlu kiranya


perlu diketahui apakah terdapat patah atau pergeseran vertebral. Diagnostik
dengan sinar X ( sinar X pada spinal servikal lateral dan pemindahan CT)>
suatu riset dilakukan untuk cidera lain karena trauma spinal sering brsamaan
dengan cidera lain, yang biasanya dari kepala dan dada. Pemantauan EKG
kontinyu merupakan indikasi karena biodikardia (perlambatan frekuensi
jantung) dan asistole ( standstill jantung) umum cedera servikal akut. CT scan
sangat membantu penyusuran cidera medula spinalis. MRI dapat menemukan
kompresi medula spinalis dan edema.

Diagnosa keperawatan
a. Penurunan fungsi mobilitas b\d adanya paraplegia sekunder adanya
penekanan pleksus brachialis, pleksus lumbalis oleh karena trauma
medula spinalis.
b. Gangguan pola napas tidak efektif b\d kelemahan otot abdomen dan
intercostal serta ketidakmampuan membersihkan sekresi.
c. Gangguan eliminasi ( bowel incontinensia, konstipasi) b\d rusaknya
nervus pudendus lintasan vegetatif pada sakral 3-4-5 sekunder adanya
penekanan oleh trauma medula spinalis.
d. Gangguan eliminasi ( urinary incontinensia, retensi) b\d rusaknya nervus
pudenous lintasan vegetatif pada sakral 3-4-5 sekunder adanya
penekanan oleh trauma medula spinalis.
e. Gangguan rasa nyaman nyeri radiks b\d tertekannya nervus curalis
sekunder adanya trauma medula spinalis pada segmen Th 12-L1 2,3
f. Perubahan emosi dan kepribadian ( depresi, denial, anxiety, kecacatan
menetap, perubahan body image) b\d penurunan fungsi neurilogis,
sekunder adanya trauma medula spinalis.

12
Masalah kolaboratif, komplikasi potensial Berdasarkan data pengkajian
komplikasi yang mungkin terjadi meliputi
 Trombosis vena provunda.
 Hipertensi orto stadi.
 Hiperrefleksi autonom.

a. Penurunan fungsi mobilitas b\d adanya paraplegia sekunder adanya


penekanan pleksus brachialis, pleksus lumbalis oleh karena trauma
medula spinalis.
Kriteria hasil :mempertahankan posisi fungsi dibuktikan oleh tak
adanya kontraktur, foot droop. Meningkatkan bagian tubuh yang sakit.
Intervensi :
1. kaji secara teratur fungsi motorik.
2. Mencegah terjadinya deformitas dan kehilangan fungsi gerak.
Posisi tidur pasien yang benar untuk mencegah kontraktur dan
mempertahankan body aligment yang baik.
a. Tempat tidur dengan alas yang keras dan rata.
b. Usahakan telentang kecuali saat pemenuhan aktivitas, untuk
mencegah deformiter fleksi paha.
c. Gunakan footboard selama terjadi kelumpuhan agar kaki tetap dalm
posisi dorsofelksi mencegah foot droop, tumit memendek plantar
fleksi.
d. Cgah penggunaan foot board setelah terjadi kekejangan yang
berlanjut karena akan menambah kekakuan dan plantar fleksi.
e. Cegah terjadinya tekanan yang berlebihan pada tumit.
f. Jangan menggunakan perban untuk menarik kaki yang sakit ke arah
plantar fleksi.
3. Berikan suatu alat agar pasien mampu untuk meminta pertolongan.
4. Bantu \ lakukan latihan rom pada semua ekstremitas dan sendi,
pakailah gerakan perlahan dan lembut.
5. Pantau TD sebelum dan sesudah melakukan aktifitas pada fase
akut.

13
6. Gantilah posisi secara periodik walaupun dalam keadaan duduk.
7. Gunakan ganjalan pada daerah posterior dan usahakan lutut dalam
posisi ekstensi secara penuh, amankan daerah posteror dengan
perban yang elastis.
8. Gunakan bantalan daerah trochanter mulai dari krista iliaka sampai
pertengahan paha untuk mencegah eksternal rotasi pada sendi paha
jika dalam posisi dorsal.
9. Tempatkan pasien dalam posisi prone 15 menit – 1 ½ jam 2 – 3 kali
perhari untuk mencegah kontraktur paha yang fleksi.
10. Memberi latihan pada daerah yang sakit, ajarkan pasien untuk
menempatkan bagian kaki yang sakit di atas bagian kaki yang sehat
agar pasien mampu mengembalikan badannya sendiri.

b. Gangguan pola napas tidak efektif b\d kelemahan otot abdomen dan
intercostal serta ketidakmampuan membersihkan sekresi.
Kriteria hasil : Mempertahankan ventilasi adekuat dibuktikan oleh tidak
adanya distress pernapasan dan GDA dalam batas dalam batas yang
diterima
Intervensi :

c. Gangguan rasa nyaman nyeri radiks b\d tertekannya nervus curalis


sekunder adanya masa trauma medulla spinalis pada segmen Th 12 -
L1 2,3
Kriteria hasil : Melaporkan penurunan rasa nyeri \ ketidak nyamanan.
Mengidentifikasi cara-cara untuk mengatasi nyeri.
Intervensi :
1. Kaji terhadap adanya nyeri.
2. Evaluasi peningkatan iritabilitas, tegangan otot, gelisah, perubahan
tanda vital yang tak dapat dijelaskan.
3. Berikan tindakan kenyamanan misalnya ; perubahan posisi,
masase, kompres hangat\dingin, sesuai indikasi.
4. Dorong pengguanaan teknik relaksasi.

14
d. Gangguan eliminasi ( urinary incontinensia, retensi) b\d rusaknya
nervus pudenous lintasan vegetatif pada sakral 3-4-5 sekunder
adanya penekanan oleh trauma medula spinalis.
Kriteria hasil : eliminasi urin dapat dipertahankan masukan \
pengeluaran dengan urine jernih bebas bau.
Intervensi :
1. Kaji pola berkemih seperti frekuensi dan jumlahnya.
2. Palpasi adanya distensi kandung kemih.anjurkan pasien untuk
melaporkan asupan cairan, pola berkemih,jumlah residu urin
setelah dilakukan kateterisasi, kualitas urin dan
beberapa perasaan yang tidak biasanya ada yang mungkin terjadi.
3. Observasi adanya urine seperti awan atau berdarah, bau yang tidak
enak.
4. Bersihkan daerah perineum dan jaga agar tetap kering, lakukan
perawatan kateter jika perlu.

e. Gangguan eliminasi (urinary incontinensia, konstipasi) b/d rusaknya


nervus pudenous lintasan vegetatif pada sacral 3-4-5 sekunder
adanya penekanan oleh trauma medulla spinalis.
Kriteria hasil : Menciptakan kembali kepuasan pala eliminasi usus.
Intervensi :
1. Auskultasi bising usus, catat lokasi dan karakteristiknya.
2. Observasi adanya distensi abdomen jikabising usus tidak ada atau
berkurang.
3. Catat adanya mual, ingin muntah.
4. Kenali adanya tanda-tanda\ periksa adanya sumbatan.

f. Perubahan emosi dan kepribadian ( depresi, denial, anxiety,


kecacatan menetap, perubahan body emage) b\d penurunan fungsi
neurologist, sekunder adanya trauma medulla spinalis.
Kriteria hasil : Mengenali kerusakan sensori.

15
Mengungkapkan kesadaran tentang kebutuhan sensori dan potensil
terhadap penyimpangan \ kelebihan beban
Intervensi :
1. Lindungi dari bahaya tubuh.
2. Bantu pasien mengenali dan mengkompensasi perubahan
sensasi.
3. Posisikan pasien untuk melihat sekitar aktifitas.
4. Berikan aktifitas hiburan.
5. Berikan tidur tanpa gangguan dan periode istirahat.

EVALUASI
hasil yang diharapkan
mempehatikan peningkatan pertukaran gas dan bersihan jalan napas dari
sekresi yang diperlihatkan oleh bunyi nafas normal pada pengkajian
auskultasi.

a) bernapas dengan mudah tanpa napas pendek.


b) melatih napas dalam setiap jam, batuk efektif dan paru-paru bersih
dari secret.
c) bebas dari infeksi paru-paru ( missal, suhu normal, frekuensi nadi dan
pernapasan normal, bunyi napas normal, tidak ada sputum purulen.

bergerak dalam batas disfungsi dan memperlihatkan usaha melakukan latihan


dalam nafas fungsi.

mendemostrasikan integritas kulit dengan optimal.


a) memperlihatkan turgor kulit normal dan kulit bebas dari kemerahan
atau kerusakan
b) berpartisipasi dalam perawatan kulit dan memantau prosedur dalam
keterbatasan fungsi
mencapai fungsi kandung kemih
a) tidak memperlihatkan adanya tanda infeksi saluran urine. ( mis. suhu
normal, berkemih jernih, urine encer)

16
b) mngosumsi asupan cairan adekuat.
c) berpartisipasi dalam program latihan dalam batasan fungsi.
mencapai fungsi defekasi
a) melaporkan pola defekasi tratur.
b) mengkonsumsi makanan berserat yang adekuat dan cairan melalui
oral.
c) berpartisipasi dalam program latihan defekasi dalam batas fungsi
melaporkan tidak ada nyeri dan ketidak nyamanan.
bebas komplikasi
a) memperlihatkan tidak ada tanda tromboflebitis, trombosis vena
provunda, atau emboli paru.
b) tidak menunjukkan adanya manifestasi emboli paru ( missal. tidak neri
dada atau panas pendek : gas darah arteri normal )
c) mempertahankan tekanan darah dalam batas normal.
d) tidak mengalami sakit kepala dengan perubahan posisi
e) tidak menunjukkan adanya hiperefleksia autonom ( mis. tiak sakit
kepala, diaforesis, hidung tersumbat, atau bradikardia diaforesis.)

17
BAB III
KASUS

3.1 Contoh kasus


Pasien F, laki-laki usia 40 tahun, pekerjaan pegawai swasta, masuk RSUD
pada tanggal 28 Januari 2017 atas rujukan Puskesmas, dengan keluhan utama
kelemahan anggota gerak sejak 5 hari yang lalu. Klien merasa kelemahan
anggota geraknya semakin memberat. Makan dan minumnya baik. Klien
tampak menggunakan colar neck. Satu bulan sebelum masuk RSUD, pasien
mengalami kecelakaan. Mobil yang ditumpangi pasien masuk ke lubang, dan
kepala pasien terbentur atap mobil sampai 4x. Saat itu pasien pingsan,
lamanya kira-kira 20 menit, perdarahan THT tidak ada, muntah tidak ada dan
pasien masih mengingat peristiwa sebelum kejadian. Pasien mengalami
kelemahan pada keempat anggota gerak, nyeri hebat di area leher bagian
belakang dan dipasang colar neck. Jika buang air kecil (BAK) pasien
ngompol, pasien juga tidak bisa buang air besar (BAB), klien dirawat di
Puskesmas selama 2 hari. Pasien masih menggunakan kateter sampai saat ini
dan untuk bisa BAB dibantu dengan klisma. Pasien menjalani fisioterapi
sebanyak 9 kali yang dilakukan oleh fisioterapist agar bisa berjalan lancar.
Saat difisioterapi, kepala pasien ditarik.

3.2 Asuhan keperawatan


Pengkajian
a. Identitas
Nama : Tn. F
Umur : 40 tahun
Alamat : Jambi
Pekerjaan : Pegawai Swasta
b. Keadaan Umum : kesadarannya compos mentis, klien memakai colar
neck

18
c. Keluhan Utama : Pasien mengeluh mengalami kelemahan anggota gerak
5 hari yll 7 semakin memberat. Mengalami muntah-muntah 10x dalam 2
hari.
d. Riwayat penyakit sekarang : Tn.F mengalami kelemahan keempat
anggota gerak, nyeri di area cedera, demam, sesak napas. Muntah.
e. Riwayat Penyakit Dulu : Klien mengalami kecelakaan lalu lintas 1
bulan yang lalu
f. Riwayat Alergi : Klien menyatakan tidak mempunyai alergi.
g. Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada masalah
h. Keadaan Umum : TD = 100 / 60 mmhg,

N= 80 x/menit
RR = 29 x/menit
T = 38,50C

ROS (Review of System)

B1 (Breathing) : napas pendek, sesak


B2 ( Blood ) : berdebar-debar, hipotensi, suhu naik turun.
B3 ( Brain ) : nyeri di area cedera
B4 ( Blader ) : inkontinensia uri
B5 ( Bowel ) : tidak bisa BAB (konstipasi), distensi abdomen, peristaltik
usus menurun.
B6 ( Bone ) : kelemahan ke empat anggota gerak(Quadriplegia)
Psikososial : menyangkal, tidak percaya, sedih dan marah, takut cemas,
gelisah dan menarik diri.

Pemeriksaan Diagnostik
a. Hasil Laboratorium :
Hb 13,2 g/dl
Ht 36 %
Leukosit 16.500/uL
Trombosit 244.000/uL

19
LED 25 mm
Ureum 23 mg/dL
Kreatinin darah 0.6 mg/dl
GDS 126 mg/dL
Na 105
K 4,2 meq/l
Cl 73 meq/l
b. Foto X cervical : dislokasi C1-C2
c. MRI : fraktur C1 dengan dislokasi ke posterior, stenosis berat medulla
spinalis setinggi CI-CII.
d. BGA : menunjukkan keefektifan pertukaran gas dan upaya ventilasi
pH 7.607
pCO2 21.5 mmHg
pO2 84.7 mmHg
SO2 % 92.2
BE 0.0 mmol/L
HCO3 21.7 mmol/L

Analisa data

No Data Etiologi Masalah


Keperawatan
1. DS : klien mengeluh sesak Cedera cervical Ketidakefektifan
napas. (C1-C2) pola napas
DO : klien terlihat pucat,
sianosis, adanya pernapasan Kelumpuhan otot
cuping hidung pernapasan
RR= 29x/menit (diafragma)
TD = 100/60 mmHg
Ekspansi paru
menurun

20
Pola napas tidak
efektif
2. DS : klien mengeluh nyeri hebat Cedera cervical Nyeri
& tidak bisa tidur.
DO : Klien terlihat sangat Fraktur dislokasi
gelisah, suhu tubuh klien naik servikal
turun tak menentu, klien
memakai colar neck. Pelepasan mediator
N=80x/mnt. inflamasi
S= 38,50C Prostalglandin,
Hasil foto X-cervical bradikinin dll
menunjukan fraktur dislokasi
C1-2. respon nyeri hebat
Skala nyeri 8 (interval 1-10). dan akut

Nyeri

3. DS : Klien megatakan sering Cedera cervikalis Gangguan pola


ngompol. eliminasi uri
DO : Klien terpasang kateter. Kompresi medulla
spinalis

Gangguan sensorik
motorik

Kelumpuhan saraf
perkemihan

Inkontinensia uri

21
Gangguan pola
eliminasi uri

4. DS : Klien mengeluh tidak bisa Cedera cervikalis Gangguan eliminasi


BAB. alvi (Kostipasi)
DO : Peristaltik usus klien Kompresi medulla
menurun, abdomen mengalami spinalis
distensi.
Kelumpuhan
persarafan usus &
rektum

Gangguan eiminasi
alvi

5. DS : Klien merasa mengalami Cedera cervikalis Kerusakan


kelemahan pada keempat mobilitas fisik.
anggota geraknya. Kompresi medula
DO : Klien membutuhkan spinalis
bantuan untuk memenuhi ADL
nya. Gangguan motorik
sensorik

Kelumpuhan

Kerusakan
mobilitas fisk

22
Diagnosa keperawatan

1. Pola napas tidak efektif b.d kelumpuhan otot pernapasan (diafragma),


kompresi medulla spinalis.
2. Gangguan rasa nyaman : Nyeri b.d adanya cedera pada cervikalis
3. Gangguan pola eliminasi uri : inkontinensia uri b.d kerusakan saraf
perkemihan
4. Gangguan eliminasi alvi : Konstipasi b.d penurunan peristaltik usus akibat
kerusakan persarafan usus & rectum.
5. Kerusakan mobiltas fisik b.d kelumpuhan pada anggota gerak

Intervensi

1. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan kelumpuhan otot diafragma


Tujuan perawatan : pola nafas efektif setelah diberikan oksigen
Kriteria hasil :
a. ventilasi adekuat
b. PaCo2<45
c. PaO2>80
d. RR 16-20x/ menit
e. Tanda-tanda sianosis(-) : CRT 2 detik

Intervensi keperawatan :

 Pertahankan jalan nafas; posisi kepala tanpa gerak.


Rasional : pasien dengan cedera cervicalis akan membutuhkan
bantuan untuk mencegah aspirasi/ mempertahankan jalan nafas.
 Lakukan penghisapan lendir bila perlu, catat jumlah, jenis dan
karakteristik sekret.
Rasional : jika batuk tidak efektif, penghisapan dibutuhkan untuk
mengeluarkan sekret, dan mengurangi resiko infeksi pernapasan.
 Kaji fungsi pernapasan.
Rasional : trauma pada C5-6 menyebabkan hilangnya fungsi
pernapasan secara partial, karena otot pernapasan mengalami
kelumpuhan.

23
 Auskultasi suara napas.
Rasional : hipoventilasi biasanya terjadi atau menyebabkan akumulasi
sekret yang berakibat pnemonia.
 Observasi warna kulit.
Rasional : menggambarkan adanya kegagalan pernapasan yang
memerlukan tindakan segera
 Kaji distensi perut dan spasme otot.
Rasional : kelainan penuh pada perut disebabkan karena kelumpuhan
diafragma
 Anjurkan pasien untuk minum minimal 2000 cc/hari.
Rasional : membantu mengencerkan sekret, meningkatkan mobilisasi
sekret sebagai ekspektoran.
 Lakukan pengukuran kapasitas vital, volume tidal dan kekuatan
pernapasan.
Rasional : menentukan fungsi otot-otot pernapasan. Pengkajian terus
menerus untuk mendeteksi adanya kegagalan pernapasan.
 Pantau analisa gas darah.
Rasional : untuk mengetahui adanya kelainan fungsi pertukaran gas
sebagai contoh : hiperventilasi PaO2 rendah dan PaCO2 meningkat.
 Berikan oksigen dengan cara yang tepat.
Rasional : metode dipilih sesuai dengan keadaan isufisiensi
pernapasan.
 Lakukan fisioterapi nafas.
Rasional : mencegah sekret tertahan
2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya cedera
Tujuan keperawatan : rasa nyaman terpenuhi setelah diberikan perawatan
dan pengobatan
Kriteria hasil : melaporkan rasa nyerinya berkurang dengan skala nyeri 6
dalam waktu 2 X 24 jam
Intervensi keperawatan :
 Kaji terhadap nyeri dengan skala 0-5.
Rasional : pasien melaporkan nyeri biasanya diatas tingkat cedera.

24
 Bantu pasien dalam identifikasi faktor pencetus.
Rasional : nyeri dipengaruhi oleh; kecemasan, ketegangan, suhu,
distensi kandung kemih dan berbaring lama.
 Berikan tindakan kenyamanan.
Rasional : memberikan rasa nayaman dengan cara membantu
mengontrol nyeri.
 Dorong pasien menggunakan tehnik relaksasi.
Rasional : memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa
kontrol.
 Berikan obat antinyeri sesuai pesanan.
Rasional : untuk menghilangkan nyeri otot atau untuk menghilangkan
kecemasan dan meningkatkan istirahat
3. Perubahan pola eliminasi urine berhubungan dengan kelumpuhan syarat
perkemihan.
Tujuan perawatan : pola eliminasi kembali normal selama perawatan
Kriteria hasil :
a. Produksi urine 50cc/jam
b. Keluhan eliminasi urin tidak ada
Intervensi keperawatan:
 Kaji pola berkemih, dan catat produksi urine tiap jam.
Rasional : mengetahui fungsi ginjal
 Palpasi kemungkinan adanya distensi kandung kemih.
 Anjurkan pasien untuk minum 2000 cc/hari.
Rasional : membantu mempertahankan fungsi ginjal.
 Pasang dower kateter.
Rasional membantu proses pengeluaran urine
4. Gangguan eliminasi alvi /konstipasi berhubungan dengan gangguan
persarafan pada usus dan rektum.
Tujuan perawatan : pasien tidak menunjukkan adanya gangguan
eliminasi alvi/konstipasi
Kriteria hasil : pasien bisa b.a.b secara teratur sehari 1 kali

25
Intervensi keperawatan :
 Auskultasi bising usus, catat lokasi dan karakteristiknya.
Rasional : bising usus mungkin tidak ada selama syok spinal.
 Observasi adanya distensi perut.
 Catat adanya keluhan mual dan ingin muntah, pasang NGT.
Rasional : pendarahan gantrointentinal dan lambung mungkin terjadi
akibat trauma dan stress.
 Berikan diet seimbang TKTP cair
Rasional : meningkatkan konsistensi feces
 Berikan obat pencahar sesuai pesanan.
Rasional: merangsang kerja usus

5. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelumpuhan


Tujuan perawatan : selama perawatan gangguan mobilisasi bisa
diminimalisasi sampai cedera diatasi dengan pembedahan.
Kriteria hasil :
a. Tidak ada konstraktur
b. Kekuatan otot meningkat
c. Klien mampu beraktifitas kembali secara bertahap

Intervensi keperawatan :
 Kaji secara teratur fungsi motorik.
Rasional : mengevaluasi keadaan secara umum
 Instruksikan pasien untuk memanggil bila minta pertolongan.
Rasional memberikan rasa aman
 Lakukan log rolling.
Rasional : membantu ROM secara pasif
 Pertahankan sendi 90 derajad terhadap papan kaki.
Rasional mencegah footdrop
 Ukur tekanan darah sebelum dan sesudah log rolling.
Rasional : mengetahui adanya hipotensi ortostatik
 Inspeksi kulit setiap hari.

26
Rasional : gangguan sirkulasi dan hilangnya sensai resiko tinggi
kerusakan integritas kulit.
 Berikan relaksan otot sesuai pesanan seperti diazepam.
Rasional : berguna untuk membatasi dan mengurangi nyeri yang
berhubungan dengan spastisitas.

27
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Trauma medula spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang
disebabkan oleh benturan pada daerah medulla spinalis (Brunner & Suddarth,
2001).Penyebab dari Trauma medulla spinalis yaitu : kecelakaan otomobil,
industri terjatuh, olah-raga, menyelam, luka tusuk, tembak dan tumor. Bila
hemoragi terjadi pada daerah medulla spinalis, darah dapat merembes ke
ekstradul subdural atau daerah suaranoid pada kanal spinal, segera sebelum
terjadi kontusio atau robekan pada Trauma, serabut-serabut saraf mulai
membengkak dan hancur. Sirkulasi darah ke medulla spinalis menjadi
terganggu, tidak hanya ini saja tetapi proses patogenik menyebabkan
kerusakan yang terjadi pada Trauma medulla spinalis akut. Suatu rantai
sekunder kejadian-kejadian yang menimbulakn iskemia, hipoksia, edema, lesi,
hemorargi.
Penatalaksanaan pasien segera ditempat kejadian adalah sangat penting,
karena penatalaksanaan yang tidak tepat dapat menyebabkan kerusakan
kehilangan fungsi neurologik.Pada kepala dan leher dan leher harus
dipertimbangkan mengalami Trauma medula spinalis sampai bukti Trauma ini
disingkirkan. Memindahkan pasien, selama pengobatan didepartemen
kedaruratan dan radiologi,pasien dipertahankan diatas papan pemindahan.
Asuhan Keperawatan yang diberikan pada pasien dengan Trauma medula
spinalis berbeda penanganannya dengan perawatan terhadap penyakit
lainnya,karena kesalah dalam memberikan asuhan keperawatan dapat
menyebabkan Trauma semakin komplit dan dapat menyebabkan kematian.
4.2 Saran
Cedera medula spinalis adalah suatu kejadian yang sering terjadi
dimasyarakat. Tingkat kejadiannya cukup tinggi karena bis terjadi pada siapa
saja dan dimana saja. Sehingga perlu tingkat kehati-hatian yang tinggi dalam
melakukan setiap aktivitas agar tidak terjadi suatu kecelakaan yang dapat
mengakibatkan cedera ini.

28
DAFTAR PUSTAKA

Marilynn E Doenges, dkk., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, Penerbit


Buku Kedokteran, EGC, Jakarta
Brunner & Suddarth, 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8
Vol. 3 . Jakarta : EGC.

29