You are on page 1of 128

Ramadhan

MERAIH

TERBAIK
Meraih Ramadhan Terbaik
© Muhamad Alhadi

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang


All Right Reserved

Cetakan Ke-1, Mei 2018


Cetakan Ke-2, Mei 2019

Diterbitkan oleh

Jakarta Timur
E-mail: serambihabib@gmail.com

Tata Letak dan Desain Sampul: Tim Kreatif Serambi


Ukuran 14,8 x 21 cm
Halaman: iv+120

Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Sayyid Muhamad bin Abdullah Alhadi, M.A.


Meraih Ramadhan Terbaik / Sayyid Muhamad bin Abdullah Alhadi,
M.A
Cetakan 1-Jakarta: Serambi Habib
Mei 2019
iv-120 Hal, 14,8 X 21 cm
1. Islam I. Judul II. Muhamad Alhadi
MUKADIMAH

B
ulan Ramadan setiap tahun menghampiri. Saya, dan
mungkin sebagian kalangan masih memposisikan
Ramadan sekadar menahan makan dan minum dari
semenjak terbit fajar sampai maghrib –ritual untuk
menggugurkan kewajiban semata. Padahal, masih banyak
fasilitas dan bonus Ramadan yang seandainya didayagunakan
akan mampu memberikan faedah yang jauh lebih baik,
ringkasnya mampu mengangkat seorang muslim dari derajat
mukmin menjadi muttaqin.
Buku yang ada di tangan pembaca yang budiman ini,
diharapkan dapat membantu menemukan jawaban atas
beberapa isu-isu penting yang muncul berkenaan dengan ritual,
tradisi dan amalan semenjak Ramadan yang berkembang di
masyarakat. Meski jauh dari sempurna dan komprehensif,
perdebatan khilafiyah yang ditampilkan pada bagian ini tidak
bermaksud untuk membenturkan, melainkan untuk meluaskan
cakrawala berfikir dan agar saling menghargai dalam perbedaan
pendapat –sepanjang didukung oleh dalil yang shahih.
Buku kecil ini juga memberanikan diri meramu amaliah
untuk menghidupkan Ramadan berupa program yang

Meraih Ramadhan Terbaik i


dilaksanakan oleh pribadi, keluarga dan juga masyarakat.
Sesungguhnya tidak ada program yang baru, para ulama dan
orang-orang shaleh senantiasa bersiap-siap menyongsong dan
mengisi siang dan malam Ramadan dengan amaliah yang jauh
lebih baik, bahkan mungkin tidak tercantum dalam buku ini.
Semoga sumbangsih kecil ini dapat menjadi pendorong saya
dan juga pembaca budiman untuk mengevaluasi apa-apa yang
telah luput terdahulu sekaligus mempersiapkan kedatangan
Ramadan tahun ini dengan perencanaan yang lebih baik, dan
menghantarkan kita pada Ramadan yang terbaik. Insya’ Allah.
Ciracas, Sya’ban 1439 H.
Muhamad Alhadi, M.A.

ii Meraih Ramadan Terbaik


DAFTAR ISI
MUKADIMAH ........................................................................... i
DAFTAR ISI ............................................................................. iii

MENGENAL RAMADAN ...................................................... 1


Tarhib: Bergembira Menyambut Ramadan.............................. 2
Setan di belenggu: Hoax atau Fakta?........................................ 6
Padusan, keramas: Hukum Mandi Ramadan ........................... 9
Munggahan (Makan-makan Sebelum Ramadan) .................. 11
Ngabuburit ............................................................................. 12
Petasan dan Bunyi Menggangu .............................................. 13
Ramadan tambah boros? ........................................................ 15
Makanan dan Minuman Khas Ramadan................................ 19
Khilafiyah Sekitar Berbuka Puasa........................................... 23
Bagaimana Cara Nabi  Makan? ........................................... 29
Haruskah Kurma? Bukan sekedar yang manis ........................ 38
Kopi minuman para wali ........................................................ 43

BONUS DAN AMALAN YANG DILIPATGANDAKAN . 49


Lailatul Qadar ........................................................................ 49
Pahala yang Tak Terhingga.................................................... 55
Umrah Ramadan Berpahala Haji ........................................... 56
Perisai Diri ............................................................................. 57
Jaminan Doa Tidak Tertolak ................................................. 58
Pintu Khusus Ke Surga .......................................................... 59
Ditambahkan Rezeki .............................................................. 60
Dijauhkan Dari Fitnah ........................................................... 61
Puasa dan Kesehatan .............................................................. 62

DISKON DAN PENGHAPUSAN DOSA............................. 65


Matematika Diskon ............................................................... 65
Amalan Penghapus Dosa, Penyebab Rahmat, dan Pembebas
dari Neraka ............................................................................. 66

Meraih Ramadhan Terbaik iii


PROGRAM MENGHIDUPKAN RAMADAN ................... 69
Program Sendiri ..................................................................... 70
1. Meraih Lailatul Qadar................................................ 70
2. Program 112 Juta Pahala ............................................ 74
3. Sedekah, Zakat dan Infaq ........................................... 79
4. Umrah Ramadan setara Haji ...................................... 80
5. Bolehkah Berhenti Merokok? .................................... 81
Program Sekeluarga ............................................................... 82
1. Itikaf bersama Keluarga .............................................. 84
2. Jaga Malam Sekeluarga .............................................. 85
3. Sedekah keluarga ........................................................ 85
Program Bersama (Jama’i) ...................................................... 86
1. Tarawih ...................................................................... 86
2. Proyek 60 Kali Haji dan 30 Kali Umrah .................... 87
3. Dakwah bil hal ........................................................... 90
4. Saling memaafkan ...................................................... 91
5. Buka Puasa Bersama................................................... 93
6. Takbiran ..................................................................... 95
7. Shalat Idul Fitri .......................................................... 97

KIAT MERAIH YANG TERBAIK...................................... 101


4 Kunci Sukses ..................................................................... 101
Sepuluh Indikator Ramadan Terbaik ................................... 107
1. Naik derajat dari Mukmin menjadi Muttaqin .......... 107
2. Takut Kepada Allah  (al-Kauf min al-Jalil) ........... 108
3. Mengamalkan al-Qur’an (al-‘Amal bi at-Tanzil) ..... 109
4. Berorientasi Akhirat (Isti’dad li Yaum ar-Rahil) ...... 109
5. Hidup Sederhana (Ar-Ridha bi al-Qalil) ................. 109
6. Kesalehan dan Kebajikan Individual......................... 110
7. Peka Sosial................................................................ 112
8. Kesinambungan ibadah setelah Ramadan ................ 114
9. Semangat Menimba Ilmu ......................................... 115
10. Semangat Memakmurkan Masjid ............................. 116
BEBERAPA RUJUKAN ...................................................... 117

iv Meraih Ramadan Terbaik


Mengenal Ramadan

R
amadhan, Ramazan atau dalam kamus Bahasa
Indonesia tertulis ‘ramadan” adalah bulan ke-9 dalam
kalender Islam. Apabila merunut kamus Arab, maka
transliterasi yang benar adalah ‘ramadhan’ bukan ‘ramadan’,
yang artinya memang berbeda.
‘Ramadhan’ atau ‘ramadan’?
Ada kalangan yang mempermasalahkan dan melarang
menulis kata ‘ramadan’ melainkan ‘ramadhan’. Meskipun ini
tidak substansial, namun perlu untuk dicermati.
Ramadhan berasal dari kata ramadhi (‫ض ال َحر‬ ِ ‫)ر َم‬
َ artinya
panas yang terik yang sangat membakar, saat matahari
membakar gurun pasir. Sementara ‘ramadan’ dalam kamus Arab
ditemukan (‫رمدة‬-‫أرمد‬-‫ )رمد‬yang artinya buta atau sakit pada mata,
tidak ada wazan (pola) kata ‘ramadan’ (‫)رمادن‬, sehingga kata ini
kalaupun ada--tetapi tidak dipakai atau tidak populer dan tidak
mengakibatkan penyalahgunaan makna.
Dengan demikian rasanya kurang bijak melarang penulis
ramadan yang sudah diserap dan dibakukan dalam Kamus
Bahasa Indonesia. Karena serapan itu melihat juga penggunaan
dalam bahasa asing lainnya, seperti dalam Bahasa Inggris
digunakan Ramadan. Pada cover buku sudah tertulis Ramadhan
namun dalam buku ini konsisten ditulis ‘Ramadan’.

Meraih Ramadhan Terbaik 1


Tarhib: Bergembira Menyambut Ramadan
Tarhib, adalah menyambut dengan mengucapkan kata
“marhaban” artinya selamat datang, kenapa bukan ahlan wa
sahlan?
Ahlan wa sahlan dapat juga diartikan dengan “selamat
datang”, tetapi untuk menyambut bulan Ramadan digunakan
kata marhaban, ada perbedaan dalam maknanya.
Ahlan terambil dari kata ahl yang berarti “keluarga”,
sedangkan sahlan dari kata sahl yang berarti “mudah” Ahlan wa
sahlan adalah ungkapan selamat datang yang di celahnya
terdapat kalimat tersirat “Anda datang diterima di tengah
keluarga dan (melangkahkan kaki utuk pulang dengan mudah”
(ji’ta ahlan wa raja’ta sahlan).
Marhaban terambil dari kata rahb yang berarti “luas atau
lapang”, sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu yang
datang disambut dan diterima dengan dada yang lapang, penuh
kegembiraan, serta dipersiapkan baginya ruangan yang luas
untuk melakukan apa saja yang diinginkannya.
Marhaban Ya Ramadan, “Selamat Datang Ramadan”, berarti
“kami menyambutmu dengan penuh kegembiraan dan kami
persiapkan untukmu tempat yang luas agar engkau bebas
melakukan apa saja, yang berkaitan dengan upaya mengasah dan
mengasuh jiwa kami.
Bagaimana Hukum mengucapkan Tarhib Ramadan?
Para ulama Saudi yang dikenal memiliki pandangan yang
keras, menyatakan: bolehnya memberi ucapan selamat dalam
memasuki bulan Ramadan. [Fatwa Lajnah Da’imah lil Buhutsi
wal Ifta’ Saudi Arabia no 20638]
Mereka merujuk kepada hadits, bahwasanya Nabi ‫ﷺ‬
memberi kabar gembira pada para sahabatnya, “Sungguh akan
datang bulan Ramadan, bulan penuh berkah”, kemudian Nabi
‫ ﷺ‬menyebutkan keutamaannya dan anjuran beramal di
dalamnya.

2 Meraih Ramadhan Terbaik


Al-Khubawi dalam kitab Durratun Nashihin
mengemukakan:
ِّ ‫َ َ ى‬ َ َ ََ ْ ُ ُ َ َ ْ َ
‫هللا َج َسد ُه عَل الن ْْ َي ِان‬
ُ ‫ان َح َّر َم‬‫من ف ِرح ِبدخو ِل رمض‬
“Barangsiapa yang bergembira dengan kedatangan bulan
Ramadan niscaya Allah mengharamkan jasadnya dari
neraka”
Hadits di atas biasanya sangat populer menjelang bulan
Ramadan. Lutfi Fadlullah dalam penelitiannya berkesimpulan
bahwa lafaz dan kandungan hadits di atas mempunyai ciri-ciri
hadits palsu, yaitu satu amalan kecil yang menjanjikan pahala
yang begitu besar. Hadits tersebut juga tidak dijumpai dalam
kitab-kitab hadits yang mu’tabar, bahkan tidak terdapat pada
kitab-kitab yang mengandung hadits-hadits dha’if, sehingga
dikenali dalam istilah ilmu hadits dengan la yu’raf lahu ashlun
atau la ashla lahu (tidak diketahui sumber asalnya).
Namun demikian tidak berarti seorang muslim tidak
dianjurkan bergembira dengan kedatangan bulan suci Ramadan,
bahkan sudah sepatutnya Ramadan yang merupakan keutamaan
dan rahmat yang Allah ‫ ﷻ‬disambut dengan penuh penuh syukur
dan suka cita yang dibuktikan dengan memperbanyak amal
sholeh di dalamnya.
َ‫ﺠ َﻤﻌُﻮﻥ‬
ْ َ‫ﻗُﻞْ ِﺑ َﻔﻀْﻞِ ﺍﻟّﻠﻪِ ﻭَﺑِﺮَ ْﺣﻤَِﺘﻪِ ﻓَﺒِﺬَِﻟﻚَ ﻓَﻠَْﻴ ْﻔﺮَﺣُﻮﺍْ ُﻫﻮَ ﺧَْﻴﺮٌ ّﻣِﻤَّﺎ ﻳ‬
“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya,
hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan
rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka
kumpulkan” [QS. Yunus/10: 58].
Ulama tafsir menjelaskan yang dimaksud dengan “karunia
Allah” pada ayat di atas adalah al-Qur’anul Karim. Karena
Al-Qur’an diturunkan pada bulan tersebut dan pada setiap
malamnya Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah ‫ ﷺ‬untuk
mengajari Al-Qur’an kepada beliau. Bulan Ramadan dengan
segala keberkahannya merupakan rahmat dari Allah. Karunia

Meraih Ramadhan Terbaik 3


Allah dan rahmat-Nya itu lebih baik dan lebih berharga dari
segala perhiasan dunia. Allah ‫ ﷺ‬memerintahkan untuk
bergembira atas karunia dan rahmat-Nya karena itu akan
melapangkan jiwa, menumbuhkan semangat, mewujudkan rasa
syukur kepada Allah , dan akan mengokohkan jiwa, serta
menguatkan keinginan dalam berilmu dan beriman, yang
mendorang semakin bertambahnya karunia dan rahmat.
Menurut al-Sa’adi itu semua adalah bentuk kegembiraan yang
terpuji (Taisir al-Karim ar-Rahman: 1/366).
Para ulama dan orang shalih sangat merindukan dan
berbahagia jika Ramadan akan datang. Ibnu Rajab Al-Hambali
berkata:
َ‫ ﻛَاﻧُﻮْا ﻳَدْﻋُﻮْنَ الﻠﻪَ ﺳِﺘَﺔَ أَﺷْﻬُرٍ أَنْ ﻳُﺒَﻠِﻐَﻬُﻢْ ﺷَﻬْر‬: ُ‫ﻗَاﻝَ ﺑَﻌْضُ الﺴَﻠَﻒ‬
ْ‫ ﺛُﻢَ ﻳَدْﻋُﻮْﻧَالﻠﻪَ ﺳِﺘَﺔَ أَﺷْﻬُرٍ أَنْ ﻳَﺘَﻘَﺒَﻠَﻪُ مِﻨْﻬُﻢ‬،َ‫رَمَﻀَان‬
“Sebagian salaf berkata, ‘Dahulu mereka (para salaf) berdoa
kepada Allah selama enam bulan agar mereka dipertemukan
lagi dengan Ramadan. Kemudian mereka juga berdoa selama
enam bulan agar Allah menerima (amal-amal shalih di
Ramadan yang telah lalu).
Berbeda halnya dengan gembira karena syahwat duniawi dan
kelezatannya atau gembira diatas kebatilan, maka itu adalah
kegimbiraan yang tercela. Sebagaimana Allah  berfirman
tentang Qarun,
ِ ُّ ‫اَّلل ََل ُُِي‬ ِ
َ ‫ب اﻟْ َﻔ ِﺮﺣ‬
‫ي‬ ََّ ‫ﻟَﻪُ ﻗَ ْﻮُﻣﻪُ ََل تَ ْﻔَﺮ ْح ۖ إ َّن‬
“Janganlah kamu terlalu bangga, karena Allah tidak
menyukai orang-orang yang membanggakan diri.” [Al
Qashash: 76]
Karunia dan rahmat Allah  berupa bulan Ramadan juga
patut untuk kita sampaikan dan kita sebarkan kepada seluruh
kaum muslimin. Agar mereka menyadarinya dan turut
bergembira atas limpahan karunia dan rahmat dari Allah ,
sebagaimana dalam Surah Ad-Dhuha ayat 11, “Dan terhadap

4 Meraih Ramadhan Terbaik


nikmat dari Tuhanmu hendaklah kamu menyebut-nyebutnya.”
Dengan menyebut-nyebut nikmat Allah akan mendorong
untuk mensyukurinya dan menumbuhkan kecintaan kepada
Dzat yang melimpahkan nikmat atasnya. Karena hati itu selalu
condong untuk mencintai siapa yang telah berbuat baik
kepadanya.
Keutamaan Ramadan tidak disangsikan; keberkahan, amal
yang dilipatgandakan, dan pemberian ampunan serta adanya
satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Siapa pun
yang terhalang kebaikan darinya, sungguh ia orang merugi.
Karenanya, setiap muslim harus merasa gembira saat Ramadan
tiba. Rasulullah  bersabda kepada para sahabatnya,
ُ َُْ ُ ُ ‫َى‬ َ ُ ‫ىَ ُ ْ َ َ َ ُ َ ْ ٌ ُ َ َ ٌ َ َ َ ه‬
‫اَّلل ع َّز َو َج َّل عل ْيك ْم ِص َي َامه تفتح‬ ‫أتاكمى رمضان شهر مبارك فرض‬
َََُ ََُ َ ْ ُ َ ْ‫ى‬ ُ ‫ُْى‬ ُ ‫فيه أ ْب َو‬
‫يه مردة‬ ِ
ُّ
‫يه أب ىواب الج ِح ِيم وتغل ِف‬ ِ ‫الس َم ِاء َوتغلق ِف‬
َّ ‫اب‬
ِ ِ
ْ َ َ َ َ َ ْ َ ٌ ‫ى‬ ‫ى‬ ‫َّ َ ن ه‬
‫يه ل ْيلة خ ْْ ٌي ِم ْن أل ِف ش ْه ٍر َم ْن ُح ِر َم خ ْْ َيها فقد ُح ِر َم‬‫ف‬ ‫َّلل‬ ‫ي‬
ِ ِ ِ ِ ِْ ِ ‫اط‬ ‫ي‬ ‫الش‬
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan penuh
berkah. Bulan yang Allah jadikan puasa di dalamnya fardhu
(kewajiban). Pada bulan itu, pintu-pintu langit dibuka,
pintu-pintu neraka ditutup, dibelenggu pemimpin setan, dan
di dalamnya Allah memiliki 1 malam yang lebih baik dari
seribu bulan, siapa yang diharamkan dari kebaikannya maka
sungguh dia telah-benar-benar diharamkan kebaikan.”
[HR. Al-Nasai dan al-Baihaqi, Shahih al-Targhib, no. 985]
Ibnu Rajab berkata: Hadits ini dasar dalam tahniah dari
sebagian manusia kepada sebagian yang lain dengan datangnya
bulan Ramadan, bagaimana seorang mukmin tidak bergembita
dengan dibukakanya pintu-pintu surga? Bagaimana seorang
pendosa tidak bergembira dengan ditutupnya pintu-pintu
neraka? Bagaimana orang berakal tidak bergembira dengan
masa yang syetan dibelengg di dalamnya?”
Seorang mukmin yang bergembira dengan datangnya bulan
(Ramadan) sepantasnya benar-benar menyiapkan diri untuk

Meraih Ramadhan Terbaik 5


menyambut bulan yang penuh barakah itu, yaitu menyiapkan
iman, niat ikhlash, dan hati yang bersih, di samping persiapan
fisik. Kemudian berdoa kepada Allah agar menyampaikan umur
kita kepada bulan yang mulia ini dalam kondisi sehat wal ‘afiat.
Sehingga ia bisa mengisi Ramadan dengan puasa, qiyam, zikir,
tilawah, dan amal-amal shaleh lainnya dengan maksimal.
Sebagian ulama salaf shalih berdoa kepada Allah agar
disampaikan kepada Ramadan. Lalu mereka berdoa agar Allah
berkenan menerima amal ibadah mereka. Mu’alla bin Al-Fadhl,
ulama tabi’ tabiin mengatakan:
‫كانوا يدعون هللا تعاىل ستة أشهر أن يبلغهم رمضان يدعونه ستة‬
‫أشهر أن يتقبل منهم‬
“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang
Ramadan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan
mereka dengan bulan Ramadan. Kemudian, selama enam
bulan sesudah Ramadan, mereka berdoa agar Allah
menerima amal mereka selama bulan Ramadan.” [Lathaif
Al-Ma’arif: 264]
Dari Abu 'Amr Al-Auza'i, ia berkata bahwasanya Yahya bin
Abi Katsir berdoa memohon kehadiran bulan Ramadan:
‫ََ ا‬ ُ ِّ ُ َ َ ِّ َ َ ‫ى‬ ِّ ‫ى ه‬
‫ َوت َسل ْمه ِم نِّ ين ُمتق َّبل‬، ‫ َو َسل ْم ِ يىل َر َمضان‬، ‫الل ُه َّم َسل ْم ِ ن ين ِإىل َر َمضان‬
“Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadan, dan
antarkanlah Ramadan kepadaku, dan terimalah amal-amalku
di bulan Ramadan.” [Hilyatul Auliya'1/420]

Setan di belenggu: Hoax atau Fakta?


Benar kah setan-setan dibelenggu pada Bulan Ramadan?
Apa kah artinya setan sudah tidak berdaya menggoda manusia?
Tapi kenapa masih banyak maksiat?
Benar, terdapat hadis shahih yang menyatakan setan-setan
dibelenggu pada bulan Ramadan, diriwayatkan oleh sejumlah

6 Meraih Ramadhan Terbaik


ulama hadis, antara lain: Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam
Ahmad, Ibnu Huzaimah dan lain-lain.
Dari Abu Hurairah , sesungguhnya Rasulullah SAW telah
bersabda, “Apabila bulan Ramadan datang, maka pintu-
pintu surga akan dibukakan dan pintu-pitu neraka akan
ditutup serta syetan-syetan akan dibelenggu.” [HR Bukhari
No. 1898 dan Muslim 1079].
Setan, berasal dari kata syathona artinya menjauh,
dinamakan demikian karena ia menjauh dari Allah . Maka
siapa pun yang menjauh dari Allah  dia pantas disebut sebagai
setan, baik dari golongan makhluk gaib maupun manusia.
Para ulama memberikan penjelasan mengenai maksud dari
“setan-setan “dibelenggu” pada bulan suci Ramadan, sebagai
berikut:
a. Tidak Bisa Leluasa Mengganggu dan Mencelakakan
Manusia
Pendapat ini memaknai “terbelenggunya syetan” adalah
bahwa syetan tidak bisa leluasa untuk mengganggu dan
mencelakakan manusia sebagaimana biasanya pada bulan-
bulan lain, mengapa?
Karena di bulan Ramadha umumnya orang-orang sibuk
dengan shaum, membaca Al-Qur’an dan berdzikir. Semua
kegiatan ini membuat syetan menjadi terbelenggu untuk
leluasa menggoda dan mencelakakan manusia. Ruang gerak
mereka menjadi lebih terbatas, dibandingkan dengan har-
hari di luar bulan Ramadan.
b. Yang dibelenggu Hanya Setan yang Membangkang
Pendapat ini menyatakan yang dibelenggu tidak semua
syetan, melainkan hanya sebagiannya saja. Mereka adalah
syetan-syetan yang membangkang, sebagaimana dijelaskan
dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Huzaimah, Nasa’i,
Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim. Dari Abu Hurairah
Ra. Rasulullah SAW bersabda, “Pada malam pertama bulan

Meraih Ramadhan Terbaik 7


Ramadan syetan-syetan dibelenggu. Yaitu syetan-syetan
yang membangkang.”
d. Terhalangi dari Mencuri Dengar Berita dari Langit
Pendapat lainnya lagi seperti apa yang dikatakan oleh
Al-Hulaimi, di mana beliau berpendapat bahwa yang
dimaksud dengan syetan-syetan di sini adalah syetan-syetan
yang suka mencuri berita dari langit. Malam bulan Ramadan
adalah malam turunnya Al-Qur’an, mereka pun terhalangi
untuk melakukan dengan adanya “belenggu” tersebut. Maka
akan menambah penjagaan (sehingga setan-setan tersebut
tidak mampu melakukannya lagi).
Intinya, dimaksud dengan “dibelenggu” merupakan suatu
ungkapan akan ketidak-mampuan setan untuk menggoda dan
menyesatkan manusia. Jadi jika ada pertanyaan, mengapa masih
banyak terjadi kemaksiatan pada bulan Ramadan? Bukankan
syetan-syetan yang biasa menggoda manusia telah dibelenggu?
Berdasarkan pengertian di atas, para ulama menjawab
pertanyaan tersebut dengan empat jawaban:
(1) Dibelenggunya syetan hanya berlaku bagi mereka yang
melakukan ibadah shaum dengan penuh keikhlasan.
(2) Yang dibelenggu hanya sebagian syetan saja, yaitu syetan
yang membangkang sebagaimana dijelaskan di atas.
(3) Tidak mesti dengan dibelenggunya syetan maka kemaksiatan
akan hilang atau terhenti, karena masih ada sebab-sebab
lainnya selain syetan. Bisa jadi kemaksiatan tersebut timbul
karena sifat jelek manusianya, adat istiadat yang rusak,
lingkungan masyarakat yang sudah bobrok, serta
kemaksiatan tersebut bisa juga disebabkan oleh syetan-syetan
dari golongan manusia. Jelasnya, maksiat bisa terjadi dengan
sebab lain yaitu dorongan hawa nafsu yang selalu mengajak
pada kejelekan, adat kebiasaan dan gangguan dari setan
manusia.

8 Meraih Ramadhan Terbaik


Intinya maksudnya adalah kejelekan itu berkurang di bulan
Ramadan. Beberapa pernyataan dari Pihak Kepolisian RI
tingkat kejahatan seperti Narkoba pada Bulan Ramadan secara
keseluruhan menurun hingga 21% dibandingkan bulan-bulan
lainnya (Kompas, 29/6/2015).
Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa pada bulan Ramadan,
jiwa lebih condong pada kebaikan dan amalan shalih, yang
dengan kebaikan ini sebagai jalan terbukanya pintu surga.
Begitu pula kejelekan pun berkurang ketika itu yang akibatnya
pintu neraka itu tertutup. Sedangkan setan itu diikat berarti
mereka tidaklah mampu melakukan maksiat sebagaimana ketika
tidak berpuasa. Namun maksiat masih bisa terjadi karena
syahwat. Ketika syahwat itu ditahan, maka setan-setan pun
terbelenggu. [Majmu’ Al-Fatawa: 14/167].

Padusan, keramas: Hukum Mandi Ramadan


Diantara sambutan, persiapan dan wujud kegembiraan
menyambut Ramadan bagi sementara orang adalah bersih-
bersih. Di berbagai daerah di Indonesia tradisi mandi ini dikenal
dengan berbagai sebutan. Mandi Balimau (menggunakan jeruk
limau sebagai pewangi) berkembang di masyarakat Kuntu,
Bangka dan Sumatera Barat. Sementara di Asahan dikenal
mandi Pangir atau Marpangir (menggunakan pandan sebagai
pewangi), di Pulau Jawa dikenal dengan padusan atau keramas
atau sebutan lainnya.
Bagaimana kedudukan hal tersebut secara syar’i?
Penting sekali untuk memahami kedudukan sesuatu sebelum
diyakini merupakan bagian dari rangkaian peribadahan.
Sehingga segala sesuatu dapat bernilai pahala, bukan bid’ah. di
dalam syari’at harus dapat disandarkan pada ketetapan wahyu
(al-Quran atau Hadits Nabi ). Karena jika tidak, menganggap
sunnah atau wajib sesuatu tanpa adanya dasar mengenai hal

Meraih Ramadhan Terbaik 9


tersebut merupakan hal-hal yang melampaui batas dan tidak
dibenarkan secara syar’i.
Rambu kehati-hatian sangat penting ditekankan. Jangan
menganggap “padusan” di tempat-tempat yang dianggap
keramat; seperti sumber mata air, sungai atau sumur bernilai
pahala. Karena hal tersebut bisa menyebabkan seseorang
terjerumus ke dalam kesyirikan. Demikian pula dalam
pelaksanaannya tidak boleh ikhtilath (campur baur laki-laki dan
perempuan dalam satu tempat pemandian), mengumbar
pandangan pada aurat orang lain. Selain itu tidak boleh tabdzir
(belanja yang tidak bermanfaat), karena tidak jarang orang yang
melakukan tradisi tersebut menuju ke suatu daerah yang jauh
dan mengharuskan ongkos yang tidak sedikit.
Bagaimana agar tradisi ini bernilai pahala?
Lakukan mandi keramas sekedar untuk membersihkan dan
menyegarkan badan sebelum memulai aktivitas khusus
menjelang malam satu Ramadan. Dalam kitab-kitab fiqih,
dijelaskan hukum sunnah mandi malam di Bulan Ramadan,
sebagai berikut:
‫و ﺑﻘيﺔ األغﺴاﻝ المﺴﻨﻮﻧﺔ مذﻛﻮرة في المطﻮالت مﻨﻬا الﻐﺴل لدخﻮﻝ‬
‫المدﻳﻨﺔ الشرﻳفﺔ ولكل ليﻠﺔ من رمﻀان و ﻗيده األذرﻋي ﺑمن ﻳحﻀر‬
.‫الجماﻋﺔ والمﻌﺘمد ﻋدم الﺘﻘييد ﺑذالك‬
Dan disunahkan mandi itu pada saat memasuki Kota
Madinah dan pada setiap malam dari bulan Ramadan. [Kitab
al-Bajuri 1/81].
‫ وﻛذا ﺳائر األغﺴاﻝ المﺴﻨﻮﻧﺔ أي وﻛذلك ﻳﻨﺒﻐي ترﻛﻬا لﻠصائﻢ إذا‬:‫ﻗﻮلﻪ‬
‫خشي مﻨﻬا مفطرا‬
،‫ واالﺳﺘﺴﻘاء‬،‫ والكﺴﻮفين‬،‫ غﺴل الﻌيدﻳن‬:‫ومن االغﺴاﻝ المﺴﻨﻮﻧﺔ‬
‫ ولكل ليﻠﺔ من‬،‫ والﻐﺴل لالﻋﺘكاف‬،‫ وغﺴل غاﺳل الميت‬،‫وأغﺴاﻝ الحج‬
‫ ولﺘﻐير الجﺴد‬،‫ ولحجامﺔ‬،‫رمﻀان‬
Dikatakan: semua mandi itu hukumnya di-sunnahkan,
namun demikian boleh ditinggalkan bagi orang yang

10 Meraih Ramadhan Terbaik


berpuasa yang khawatir batal (akibat mandi tersebut). Dan
diantara mandi yang disunahkan adalah mandi dua hari raya,
mandi pada saat gerhana, mandi sebelum shalat istisqa,
mandi haji, setelah memandikan jenazah, mandi sebelum
i’tikaf dan mandi pada setiap malam dari bulan Ramadan,
mandi setelah bekam dan perubahan badan lainnya. [I’anah
at-Thaliibin 2/72].
Jadi mandi malam yang hukumi sunnah di atas adalah mandi
setiap malam pada bulan Ramadan, waktunya mulai
terbenamnya matahari (maghrib) sampai terbitnya fajar shadiq
(subuh).

Munggahan (Makan-makan Sebelum Ramadan)


Tradisi ini di Jawa Barat disebut munggahan atau cucurak ,
botram atau megibung (Bali) lazim dilakukan sebelum
kedatangan Ramadan. Warga Surabaya menyambut datangnya
bulan penuh ampunan dengan acara megengan. Dalam acara
ini, masyarakat akan memakan kue apem. Pada sebagian daerah
di Jawa Timur megengan juga dapat diartikan sebagai tradisi
memberikan makanan bagi para tetangga terdekat menjelang
bulan Puasa.
Di Aceh, acara memakan hidangan khusus sebelum
Ramadan disebut sebagai meugang. Tradisi ini dilakukan
dengan cara memasak daging sapi dan menikmatinya bersama
orang terkasih atau anak yatim piatu. Semarak acara meugang
hampir mirip dengan hari raya Idul Adha. Sementara itu di
Minangkabau, Sumatera Barat terdapat acara malamang yakni
memasak dan memakan lamang atau lemang bersama-sama.
Tentu semua itu boleh dan tidak terlarang dilakukan
sepanjang tidak dianggap sebagai amalan wajib atau sunnah.
Jadi hukum mengadakan acara tersebut adalah mubah (boleh).

Meraih Ramadhan Terbaik 11


Bahkan apabila dilakukan wajar, tulus dan ikhlas, berbagi dan
mempedulikan sesama merupakan bentuk amalan sedekah.

Ngabuburit
Istilah ini berasal dari kata “burit”, dalam bahasa Sunda
artinya “sore”, mengalami pengulangan dwipurna menjadi
“ngabuburit” yakni ngalantung ngantosan burit atau “aktifitas
menunggu sore” atau “nunggu deng” (nunggu bedug dalam
bahasa Jawa). Sementara aktifitas untuk menunggu siang
disebut “ngabeubeurang”.
Dalam hukum fikih sepanjang ngabuburit pengertiannya
adalah sebagaimana definisi di atas, hukumnya mubah (boleh).
Tetapi status hukum boleh akan berubah sesuai dengan
kondisinya.
Awalnya ngabuburit hanya dilakukan oleh anak-anak yang
tidak punya aktivitas selain bermain. Ini biasanya dilakukan
setelah Shalat dan ngaji sore. Karena saat itu belum ada gadget,
sebagian anak-anak kecil maupun anak muda ada yang bermain
layangan, main kelereng atau sekedang keluar rumah masing-
masing, lalu secara bergerombol atau perorangan pergi ke
lapangan, alun-alun atau ke tempat keramaian. Bagi para orang
tua meskipun jarang biasanya hanya sekedar keluar rumah dan
bertandang di halaman rumah tetangga. Bahkan seringkali
terlihat anak-anak, anak muda dan orang tua berkumpul di
surau sambil tadarus menunggu magrib.
Kebiasaan ini jauh berbeda semenjak listrik merambah desa,
kendaraan bermotor semakin ramai, kehadiran mall, tempat
hiburan, gadget dan juga infotainment. Anak-anak muda
acapkali mengisi ngabuburit dengan membonceng pacar, pergi
ke mall/tempat hiburan, dan anak-anak bermain gadget.
Sementara sebagian orang tua asyik di depan televisi.

12 Meraih Ramadhan Terbaik


Bentuk ngabuburit seperti ini tentu tidak bermanfaat dan
hanya membuang waktu suci Ramadan. Boleh jadi generasi
berikutnya atau generasi yang akan datang merasa ngabuburit
itu bagian dari puasa atau paling tidak, menunggu buka puasa
(ngabuburit) tidak berdosa berduaan dan tidak mengapa
menghabiskan waktu dengan sia-sia di depan televisi atau
bermain gadget.
Harus disadari bahwa menunggu buka puasa dengan
bersenang-senang, berduaan, jalan-jalan, menyia-nyiakan
waktu bukan lah ajaran Islam. Rasulullah ‫ ﷺ‬mengecam pelaku
ini:
ٌ َ َ ‫َ ْ ى ْ َ َ ْ َ ْ َ ُّ َ ْ َ َ َ َ ْ َ ْ َ َ ى ْ َ ه‬
‫اجة ِ ن يف‬ ‫َّلل ح‬
ِ ِ ‫ فليس‬، ‫ور والعمل ِب ِه والجهل‬ ‫من لم يدع قول الز‬
ُ ِ َ َ ََ َ ُ َ َ َ َ َ َ ْ ‫ى‬
‫أن يدع طعامه وشابه‬
Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan
dusta serta kedunguan maka Allah tidak butuh terhadap
puasanya dari makan dan minum”.
[HR. Bukhari 5/2251. 2710, Ahmad 2/443, 9117, Abu Daud
2/307, 2362 dan lainnya]

Petasan dan Bunyi Menggangu


Pada tahun 2010 Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia
(MUI) Provinsi DKI Jakarta menetapkan fatwa tentang Hukum
Petasan dan Kembang Api. Menurut MUI haram membakar,
menyalakan atau membunyikan petasan dan kembang api
karena merupakan pemborosan (tabdzir) terhadap harta benda
yang diharamkan Allah ‫ﷻ‬, sebagaimana difirmankan:
"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu)
secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah
saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar
kepada Tuhannya." [QS. Al-Isra/17: 27]

Meraih Ramadhan Terbaik 13


Bunyi petasan juga sangat menggangu orang lain. Selain itu
membakar, menyalakan atau membunyikan petasan dan
kembang api sangat membahayakan jiwa, kesehatan, dan harta
benda (rumah, pabrik, dan lain-lain). Padahal agama Islam
melarang manusia melakukan tindakan yang dapat
membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Sebagaimana
difirmankan dalam :
"Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah dan
janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam
kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang berbuat baik." [QS. Al-
Baqarah/2:195.]
Telebih apabila membakar, menyalakan atau membunyikan
petasan dan kembang api adalah bersumber dari kepercayaan
umat di luar Islam untuk mengusir setan yang dianggap
mengganggu mereka. Hal ini jelas merupakan suatu
kepercayaan
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti
langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti
langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu
menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang
mungkar." (QS. An-Nur[24] : 21)
Sehubungan dengan haramnya membakar atau menyalakan
petasan dan kembang api, maka menurut MUI haram pula
memproduksi, mengedarkan dan memperjualbelikannya. Hal
ini didasarkan pada Kaidah Ushul Fiqh "Sesuatu yang menjadi
sarana, hukumnya mengikuti sesuatu yang menjadi tujuan”.
Dari aspek psikologis, menurut Khairul Huda anak yang
dibiarkan bermain petasan akan berpotensi memiliki mental
pengganggu. Karena itu, anak-anak harus dialihkan pada
permainan lain yang lebih kreatif, atau kalau pun petasan pilih
lah kembang api. Hasil penelitian menunjukan bahwa bermain
petasan sangat negatif karena membuat anak merasa puas kalau

14 Meraih Ramadhan Terbaik


bisa membuat orang lain terganggu, kaget atau menderita. Ini
sangat tidak baik bagi perkembangan psikologis (Republika
27/07/2011).
Demikian ditinjau dari berbagai aspek, maka membakar,
menyalakan atau membunyikan petasan dan kembang api
bahayanya (mudharat) lebih besar dari pada manfaatnya (kalau
pun ada manfaatnya). Padahal di antara ciri-ciri orang muslim
yang baik adalah orang yang mau meninggalkan hal-hal yang
tidak bermanfaat. Dan hadits Rasulullah ‫ﷺ‬:
"Di antara ciri-ciri orang muslim yang baik adalah orang
yang mau meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat".
Jauh lebih baik mengajari anak-anak menggunakan harta
untuk yang bermanfaat. Buat lah “celengan amal”, bilamana ada
sisa uang jajan, sisihkan dalam celengan. Setelah terkumpul ajak
anak-anak untuk sedekahkan kepada yang lebih membutuhkan.
Insyallah, harta kita menjadi berkah dan tumbuh generasi yang
shalih dan sholehah yang peka sosial.

Ramadan tambah boros?


Apakah pengeluaran belanja Ramadan tambah boros?
Apakah biaya listrik membengkak? Belum lagi buka puasa
bersama, belanja THR, mudik dan beli baju lebaran... semua
pengeluaran di bulan Ramadan meningkat.
Jujur saja, apabila jawabannya ‘ya’, maka ada yang salah
dengan amaliah Ramadannya. Perlu ada penyadaran dan
evaluasi (muhasabah), perlu diluruskan dan diperbaiki.
Setiap ibadah memiliki tujuan, maksud dan hikmah.
Begitupun dengan ibadah puasa yang dijalankan dengan tujuan
untuk melatih diri supaya tidak melakukan perbuatan-
perbuatan yang dilarang oleh Allah ‫ﷻ‬. serta melatih diri untuk
menjadi manusia yang lebih bertakwa kepada Allah ‫ﷻ‬.

Meraih Ramadhan Terbaik 15


Di antara hikmah berpuasa adalah merasakan penderitaan
orang yang tidak punya dan melatih diri untuk hidup sederhana.
orang yang berpuasa sebenarnya mampu untuk melakukan
kesenangan-kesenangan duniawi yang ada. Namun dia
mengetahui bahwa Allah ‫ ﷻ‬selalu mengawasi diri-Nya. Ini juga
salah bentuk takwa yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah ‫ﷻ‬.
Dalam hadits qudsi Allah ‫ ﷻ‬berfirman,
‫ى‬ ُ َ ُ َ َ ُ َ
‫َيدع ش ْه َوته َوط َع َامه ِم ْن أ ْج َِل‬
“Dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-
Ku” (HR. Muslim no. 1151)
Di antara hikmah meninggalkan syahwat dan kesenangan
dunia ketika berpuasa adalah:
1) Mengendalikan jiwa. Rasa kenyang karena banyak makan
dan minum, kepuasan ketika berhubungan suami-istri, itu
semua biasanya akan membuat seseorang lupa diri, kufur
terhadap nikmat, dan menjadi lalai. Sehingga dengan
berpuasa, jiwa pun akan lebih dikendalikan.
2) Hati akan menjadi sibuk memikirkan hal-hal baik dan sibuk
mengingat Allah. Apabila seseorang terlalu tersibukkan
dengan kesenangan duniawi dan terbuai dengan makanan
yang dia lahap, hati pun akan menjadi lalai dari memikirkan
hal-hal yang baik dan lalai dari mengingat Allah. Oleh
karena itu, apabila hati tidak tersibukkan dengan kesenangan
duniawi, juga tidak disibukkan dengan makan dan minum
ketika berpuasa, hati pun akan bercahaya, akan semakin
lembut, hati pun tidak mengeras dan akan semakin mudah
untuk tafakkur (merenung) serta berdzikir pada Allah.
3) Dengan menahan diri dari berbagai kesenangan duniawi,
orang yang berkecukupan akan semakin tahu bahwa dirinya
telah diberikan nikmat begitu banyak dibanding orang-orang
fakir, miskin dan yatim piatu yang sering merasakan rasa
lapar. Dalam rangka mensyukuri nikmat ini, orang-orang
kaya pun gemar berbagi dengan mereka yang tidak mampu.

16 Meraih Ramadhan Terbaik


Demikian keutamaan menahan nafsu lapar, dahaga dan
syahwat ditempa dalam satu bulan penuh yakni pada bulan
Ramadan, agar pada 11 bulan berikutnya manusia dapat hidup
seimbang dan sederhana, bukan sebaliknya.
Fakta yang terjadi Ramadan dari tahun ke tahun tidak
berubah, hal ini ditunjukan naiknya Indeks Harga Konsumen
(IHK) mendekatir Ramadan hingga lebaran pada setiap
tahunnya (data BPS diatas 2%). Bahan kebutuhan pokok seperti
beras, gula, minyak goreng, tepung terigu, cabai, tomat serta
bahan makanan lainnya serta transportasi masal mengalami
peningkatan signifikan. Selain itu sepanjang Ramadan dan
memasuki lebaran bahkan hingga beberapa minggu setelah
lebaran terjadi kenaikan volume sampah kertas dan sampah
lebih dari 20 persen. (Muhtarom, 2010). Semuanya itu terjadi
adalah akibat konsumsi berlebihan sepanjang Ramadan.
Berikut beberepa tips berkaitan dengan pengaturan belanja
dan konsumsi di bulan Ramadan:
1) Kontrol hawa nafsu jangan ‘balas dendam’. Puasa harusnya
membuat Anda tidak sekedar mampu menahan lapar dan
dahaga, tapi juga mengontrol nafsu, baik nafsu belanja, nafsu
ingin bermewah-mewah, dan hal-hal negatif lainnya. Waktu
berbuka puasa juga bisa disebut sebagai ajang balas dendam,
lantas membeli makanan apapun yang dilihatnya karena
“lapar mata”.
2) Buat daftar menu sebulan penuh. Membuat daftar menu
selama bulan puasa membuat Anda lebih bisa
mengendalikan pengeluaran. Jelasnya Anda tidak perlu kalap
berbelanja barang-barang yang tidak dibutuhkan lagi, tapi
cukup membeli apa yang sesuai dalam daftar menu, dan
menyiapkan makanan hanya yang betul-betul akan dimakan
dan dibutuhkan sekedarnya sesuai menu yang dibuat.

Meraih Ramadhan Terbaik 17


3) Belanja jauh hari dan dalam jumlah besar. Belanja dalam
jumlah besar akan membantu Anda menghemat
pengeluaran, karena biasanya belanja dalam jumlah besar
akan lebih murah, hemat biaya transport, hemat uang parkir,
dan yang pasti hemat tenaga juga. Bahkan belanja barang-
barang pokok seperti beras, minyak, dan bahkan pakaian
sebelum bulan Ramadan jauh lebih hemat, karena umumnya
harga-harga akan naik terlebih mendekati hari raya.
4) Buat makanan dan cemilan sendiri. Saat Ramadan, ada
banyak pedagang takjil di sepanjang jalan. Namun agar lebih
hemat, Anda bisa membuat aneka cemilan dan minuman
sendiri di rumah. Selain lebih hemat, membuat cemilan
sendiri juga jauh lebih higienis dan aman untuk kesehatan.
5) Buat stok lauk yang enak dan awet. Ada beberapa jenis lauk
yang tidak sekedar enak, tapi juga awet dan tahan lama jika
disimpan, sehingga cara ini bisa membantu Anda untuk
hemat pengeluaran dan juga tenaga. Diantara jenis lauk
tersebut, antara lain : nugget, kering tempe, serundeng,
dendeng, dan lainnya.
6) Kurangi buka puasa di luar dan bawa bekal. Buka puasa di
luar dapat mengacaukan keuangan Anda, karena mau tidak
mau Anda harus rela menikmati makanan yang kadangkala
memiliki harga menguras kantong. Alasan itulah yang
membuat Anda wajib mengurangi jadwal buka puasa di luar.
Jika terpaksa harus keluar, maka Anda bisa menekan
pengeluaran dengan cara membawa bekal puasa sendiri dari
rumah.
___________________ ___________________

Kenapa harus hemat?


Tips sederhana diatas diharapkan mampu membuat Anda
lebih berhemat selama Ramadan dan bisa memenuhi segala
kebutuhan selama Ramadan. Allah ‫ ﷻ‬tidak menyukai hal-hal
yang berlebihan (mubajir), sebaliknya menyukai hal yang

18 Meraih Ramadhan Terbaik


sederhana. Tentu alangkah lebih baiknya jika hemat dan bisa
menyisihkan sedikit pendapatan untuk bersedekah di bulan
Ramadan. Perintah menafkahkan sebahagian rezeki
sebagaimana tersurat dalam firman berikut:
ُ ۡ ‫يمونَٱ ذ‬ ۡ ۡ ‫ذ‬
َ‫لصل ٰوةََوم ذِماَرزقنٰ ُه ۡمَيُنفِقون‬ َِ ‫ٱَّلِينََيُؤم ُِنونََب ِٱلغ ۡي‬
ُ ِ‫بَو ُيق‬
“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang
mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki
yang Kami anugerahkan kepada mereka” [Al-Baqarah/2:3]

Makanan dan Minuman Khas Ramadan


“dan diantara tanda-tanda akan kedatangan
bulan Ramadan adalah munculnya Iklan Sirup di TV”
[Bukan hadits]
___________________ ___________________

Secara umum memilih dan memilah makan telah dipandu


oleh Allah ‫ﷻ‬, tidak hanya pedoman tetapi aplikasinya dalam
kehidupan sehari-hari yang tercermin dalam keseharian Nabi .
Allah  berfirman:
ۡ ُ ۡ
َُ ‫نس‬
٢٤ََ‫نَإ ِ َٰلَطعا ِمهَِۦ‬ ٰ ‫نظ َِرَٱ ِۡل‬ ‫ف لي‬
“maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya
[Q.S. Abasa/80:24]
Ayat di atas bersifat umum dan tujuan pokoknya adalah
mengantarkan manusia untuk beriman kepada Allah , namun
secara khusus difahami adanya anjuran untuk memilih
makanan-makanan yang bersifat nabati (berdasarkan
konteksnya yang berbicara tentang hujan, biji-bijian, sayur-
mayur, buah-buahan dan rerumputan). Lebih lanjut dapat
disebutkan beberapa petunjuk Islam tentang makanan dan
minuman pada bagian selanjutnya (Shihab, 2013:447).

Meraih Ramadhan Terbaik 19


1) Jenis Makanan dan Minuman
Al-Qur’an mempergunakan kata akala (makan) dalam
berbagai bentuknya, apabila ditelusuri lebih lanjut maka dapat
ditemukan kontek pembicaraan Allah  tentang pemeliharaan
dan nikmat-Nya kepada manusia berupa makanan-makanan
dari jenis daging (An-Nahl/16: 5), ikan (An-Nahl/16:4),
tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang disebutkan secara
khusus.
Sedangkan apabila ditelusuri ayat-ayat yang meyebutkan
minum (syariba), akan ditemukan jenis minuman susu
(An-Nahl/16: 66), minuman madu (An-Nahl/16: 69) dan air
(al-Waqi’ah/56: 68).
Semua jenis makanan dan minuman tersebut disebutkan
secara khusus pada ayat-ayat di atas, hal ini menimbulkan
dugaan para ulama bahwasanya jenis makanan dan minuman di
atas mempunyai kandungan gizi tertentu yang berbeda (lebih
baik?) dibandingkan dengan daging lainnya seperti daging
kambing, unta, sapi dan kerbau.

2) Pemilihan Makanan
Perintah makan, dalam al-Qur’an diulang sebanyak 27 kali
dalam berbagai kontek dan arti; apabila berbicara tentang
makanan yang dimakan (obyek perintah tersebut), selalu
menekankan salah satu dari dia sifat, yakni sifat halal (boleh)
dan thayyib (baik).
Bahkan ditemukan empat ayat yang menggabungkan kedua
sifat-sifat tersebut, yakni halalal thayyiban (halal dan baik), pada
Surah Al-Maidah/5: 88; Al-Baqarah/2: 168; Al-Anfal/8: 69
dan An-Nahl/16: 114.
Rangkaian kedua sifat (halal dan baik) menunjukan bahwa
yang diperintahkan untuk dimakan adalah makanan yang
mengandung kedua sifat tersebut. Karena boleh jadi sesuatu
bersifat halal, tetapi tidak baik atau tidak disenangi seperti

20 Meraih Ramadhan Terbaik


memakan biawak (tidak disenangi Nabi ), atau mungkin tidak
baik khusus bagi orang yang memiliki alergi, kolesterol atau
darah tinggi, walaupun halal. Sebaliknya boleh jadi sesuatu yang
baik menurut ukuran manusia tetapi tidak halal.

3) Sedap dan Baik Akibatnya


Makanan yang dianjurkan adalah makanan yang sedap
(hanian) dan juga harus mempunyai akibat yang baik terhadap
yang memakannya (mari`an). Hal ini sesuai dengan isyarat
dalam firman  berikut:
ُ ۡ ِۡ ‫ُ ٰ ذ‬ ُ
َ‫ََشءٖ َم ِۡن ُه‬
ۡ ‫ك ۡم َعن‬ ‫َِنلة َۚٗفإِن َطِۡب َل‬ ‫وءاتواَ َٱلنِساءَ َصدقت ِ ِهن‬
‫ن ۡفساَف ُُكُوهَُهن ِيَ ذ‬
٤َ‫اَم ِريَا‬
“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu
nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.
Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian
dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah
(ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi
baik akibatnya” [QS. An-Nisa/4:4]
Ayat di atas secara keseluruhan berbicara tentang mahar,
yakni seorang suami yang kurang ‘sreg’ untuk menggunakan
mahar istrinya meskipun si istri memberikannya secara suka
rela. Sebagian ahli tafsir menggunakan potongan ayat ini yakni
kata yang digarisbawahi di atas untuk menegaskan bahwa apa
yang dihasilkan dari kerja yang halal apabila dikonsumsi akan
menimbulkan rasa tenang, dan membawa kesehatan dan
kesejahteraan.
Berbeda dengan harta yang haram, walaupun makanannya
tersebut rasanya sedap, belum tentu membawa mari`a (manfaat
baik untuk tubuh kita), secara fisik maupun non-fisik. Non-fisik
seperti dimudahkan badan untuk beribadah dan berkarya mulia.
___________________ ___________________

Meraih Ramadhan Terbaik 21


4) Tidak berlebihan
Segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik. Allah 
menekankan pentingnya makan dan minum, tetapi memberi
batasan agar tidak berlebihan:
ۡ ُُ ۡ ُ ۡ ُ ُ ُ
َ‫ٱش ُبواََوَل‬
َ َ‫ج ٖدَوُكواَو‬ ِ ‫۞يٰب ِِنَءادمَخذواَزِينتكمَعِند‬
ِ ‫َكَمس‬
٣١ََ‫ۡسف ِي‬ ۡ ‫َُي ُِّبَٱل ۡ ُم‬
ُ ‫ُۡ ُ ذ‬
‫ۡسف ۚٗواَإِن َُهۥََل‬
ِ ِ ‫ت‬
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap
(memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah
berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berlebih-lebihan. [Al-Anfal/7; 31]
Bahkan Allah  mencela orang yang makan seperti binatang
(Qs. Muhammad/47: 12), dan bahwa yang tersiksa kelak di hari
kemudian akan makan dengan memenuhi perutnya (As-
Shafat/37: 66). Ayat tersebut jelas memberikan petunjuk untuk
memperhatikan dan memilih makanan yang baik, tidak seperti
binatang, dan tidak pula sebagaimana halnya orang yang tersiksa
yang makan sekadar memenuhi perut mereka.
5) Perut dan Sumber Penyakit
Nabi Muhammad  bersabda:
ُ ْ ٌ َُُ َ ْ ًّ ََ ‫م و َع ااء‬ َ َََ َ
‫شا ِم ْن َبط ٍن ِب َح ْس ِب ْاب ِن آد َم أ كَلت ُي ِق ْم َن ُصل َبه‬ ‫آد ي‬
ِ ‫ما مل‬
َ َ ٌ ُ ُ َ َ ََ ٌ ُ ُ َ َ َ ٌ ُ ُ َ َ ‫َ ْ ى َ َ ي َ َِ ى‬
‫ف ِإن كان ل محالة فثلث ِلطع ِام ِه وثلث ِلش ِاب ِه وثلث ِلنف ِس ِه‬
“Tidaklah seorang anak Adam (manusia) mengisi bejana
(kantong) yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah
baginya beberapa suap yang bisa menegakkan tulang
sulbinya. Jikalau memang harus berbuat, maka sepertiga
untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan
sepertiga untuk nafasnya.” [HASAN. HR. at-Tirmidzi]
Berbagai penelitian ilmiah menunjukan bahaya besarnya
lingkar perut (kegemukan). Edward Yu misalnya meneliti
225.072 laki-laki dan perempuan dengan resiko, 32.571

22 Meraih Ramadhan Terbaik


meninggal pada usia rata-rata 12 tahun. Berat badan (BMI)
maksimum dalam kelebihan berat badan (obesitas I, 30 hingga
34,9 kg/m2), dan obesitas II (≥35,0 kg / m2) dikaitkan dengan
peningkatan risiko untuk semua penyebab kematian.
Ringkasnya kelebihan berat badan maksimum berkaitan dengan
peningkatan angka kematian (mortalitas), termasuk kematian
akibat penyakit kardiovaskular dan penyakit jantung koroner.
[Yu E, et.al, 2017]
Maka benarlah perkataan –yang menurut sebagian ulama
bukanlah sabda Nabi  melainkan ucapan Al-harits bin Kaldah
salah seorang thabib (dokter) dari Arab- berikut:
‫الحميﺔ رأس الدواء والمﻌدة ﺑيت الداء وﻋﻮدوا ﻛل جﺴﻢ ما اﻋﺘاد‬
Diet (berpantang) adalah kepalanya obat dan Lambung
adalah rumah penyakit.” [Zadul Ma’ad: 4/104].

Khilafiyah Sekitar Berbuka Puasa


Permasalahan sekitar berbuka puasa dimulai dari penentuan
waktu berbuka, lafaz doa apa yang dibaca, dan kapan doa
tersebut diucapkan, sebelum atau setelah berbuka?

1) Segera Berbuka Pada Waktunya


Setelah waktu berbuka tiba, segerakan berbuka. Hal ini tidak
ada ikhtiliaf para ulama dari berbagai mazhab. Adapun ikhtilaf
muncul karena perbedaan fikih dalam menentukan batas waktu
tenggelam-nya matahari (ghurub) dan datangnya malam (lail).
Perintah berbuka puasa secara sempurna berdasarkan
potongan ayat 187 dari surah Al-Baqarah: ‫ﺛﻢ أتمﻮا الصيام إلى الﻠيل‬
(..Kemudian sempurnakanlah puasa kalian hingga malam). Ayat
tersebut dengan jelas menggunakan kata al-lail (malam) bukan
maghrib.
Thahir Ibnu Asyur berkata, (‫ )إلى الﻠيل‬dipilihnya kata (‫)إلى‬
untuk menunjukkan disegerakannya berbuka saat matahari

Meraih Ramadhan Terbaik 23


terbenam. Karena (‫ )إلى‬tidak memanjang bersama tujuan,
berbeda dengan huruf (‫)حﺘى‬. Yang dimaksud di sini adalah
mengaitkan kesempurnaan puasa dengan malam.” (At-Tahrir
wa At-Tanwir: 2/181)
Rasulullah  bersabda,
َ َّ ْ‫ى‬ ‫َ ىَْ َ ه‬
‫الل ْي ُل ِم ْن َها ُه َنا [ ن‬
‫ َو ىأد َب َر الن َه ُار ِم ْن ها‬، ]‫المشق‬
َ ‫ جهة‬: ‫يعن‬ ‫ِإذا أقبل‬
ُ‫الصائم‬ َّ ‫ َف َق ْد أ ْف َط َر‬: ‫س‬
ُ َّ ْ َ َ َ ‫َ ي‬
ْ‫الشم‬ ‫ن‬ َُ
ِ ‫ وغربت‬،]‫ جهة المغرب‬: ‫يعن‬ ‫هنا [ ي‬
“Bila malam (al-lail) telah datang dari arah sini (timur) dan
siang telah pergi dari arah sini (barat) dan telah tenggelam
(gharabati) matahari, maka sungguh orang puasa telah
berbuka.” [HR. Bukhari, no. 1954 dan Muslim, no. 1100].

Apakah memang mayoritas umat Islam menganggap lail


sama dengan ghurub (terbenam) atau ada perbedaan memahami
ghurub?
Menurut Mazhab Ahlusunnah, sebagaimana dikatakan
Imam An-Nawawi, ”Puasa selesai dan sempurna dengan
terbenamnya matahari menurut Ijma’ (konsensus) umat Islam.”
[Al-Majmu Syarh Muhazab: 6/304].
Ibnu Hajar berkata, “Ungkapan Nabi , “(Jika malam
menjelang di sini). Yaitu dari sebelah timur. Yang dimaksud
gelap di sini adalah yang kegelapan secara kasat mata. Dalam
hadits di atas disebutkan tiga perkara; Karena, walaupun asalnya
berkaitan, akan tetapi secara zahir tidak berkaitan. Boleh jadi
malam menjelang di sebelah barat, akan tetapi tidak terjadi
malam secara hakiki, tapi hanya karena faktor yang menutup
sinar matahari. Demikian pula halnya berlalunya siang.
Berikutnya, diikat dengan sabda, (dan matahari terbenam).
Untuk memberi isyarat bahwa kedatangan malam dan
berlalunya siang harus secara hakiki, yaitu melalui terbenamnya
matahari, bukan karena sebab lain.” [Fathul Bari: 4/196]
Para ulama berkata, ‘Setiap satu faktor dari ketiga faktor
tersebut mengandung dua faktor lainnya dan saling berkaitan.
Karena boleh jadi dia berada di sebuah lembah atau

24 Meraih Ramadhan Terbaik


semacamnya, sehingga dia tidak dapat menyaksikan
terbenamnya matahari. Maka ketika itu dia berpedoman dengan
datangnya gelap dan hilangnya sinar.” (Syarah Muslim, 7/209).
Sementara menurut pendapat Imam Ja’far As-Shadiq
(wafat.148 H) –guru Abu Hanifah, Malik bin Anas, dari Sufyan
ats Tsauri, Sufyan bin ‘Uyainah, Muhammad bin Tsabit al
Bunani, dan masih banyak lagi—dan pendapatnya menjadi
dasar utama mazhab Ja’fari/Syiah). Menurut beliau:
“dengan terbenamnya matahari, benar maghrib sudah
masuk. Tetapi, keterbenaman ini tidak dapat diketahui
hanya dengan hilangnya bola matahari dari pandangan mata,
melainkan dengan naiknya mega merah di ufuk timur,
karena ufuk timur lebih tinggi daripada ufuk Barat. Mega
merah di ufuk timur itu sebenarnya merupakan bias cahaya
matahari, semakin dalam terbenam, semakin hilang bias itu.
Konsekwensinya, waktu tersebut akan berbeda dengan batas
waktu menurut mazhab Ahlusunnah, yakni berbeda sekitar 15
menit atau lebih, tetapi tidak sampai menunggu bintang
muncul. Sementara Syiah dituduh menunda Magrib sampai
bintang-bintang bermunculan, meskupun ditolak oleh ulama
Syiah tidak benar berdasarkan keterangan Imam Ja’far as-
Shadiq peletak dasar mazhab Ja’fari, beliau pernah diberitahu
bahwa penduduk Irak menunda Magrib sampai bintang-
bintang bertebaran. kemudian berkata, “Ini adalah perbuatan
musuh Allah, wahai Abul Khattab.” Selain itu Syiah selalu
melakukan rukyat, bukan hisab. Alhasil, waktu berbuka akan
lebih lambat sekitar 15 menit atau lebih tergantung rukyat,
tetapi apabila telah tiba waktunya mereka pun sepakat
menyegerakan berbuka.
Ketika waktunya telah tiba, menurut pemahaman masing-
masing mazhab, maka menyegerakan berbuka disepakati
mengandung kebaikan.
Dalam hadits yang diriwayatkan Sahal Ibnu Sa’ad  dan
Abdurrahman bin Sahr, Nabi  bersabda:

Meraih Ramadhan Terbaik 25


ْ ْ ُ َ ُ َّ ُ َ َ َ
‫اس ِبخ ْْ ٍي َما َع َّجلوا ال ِفط َر‬‫ل يزال الن‬
Orang-orang akan tetap dalam kebaikan selama mereka
menyegerakan berbuka”. [HR. Bukhari: 1831, Muslim 1845,
Ibnu Majah: 1688 dan lainnya].
2) Lafaz Sebelum makan
Mengawali segala sesuatu dengan basmalah sangat
dianjurkan bagi umat islam karena dengan membaca basmalah
seseorang dapat menghindari gangguan setan yang dapat
melemahkan iman dan ibadah seseorang. Hal ini sesuai hadits
berikut:
‫ى‬ ‫َ ىى َ ى َ ُ ُ ْ ََْْ ُ ْ َ ه ََ ى َ ْ َ َ ى ْ َْ َُ ْ َ ه َ ى‬
‫اَّلل ت َعاىل ِ نف أ َّو ِل ِه‬
ِ ‫اَّلل تعاىل ف ِإن ن ِِس أن يذكر اسم‬
ِ ‫ِإذا أ كل أحدكم فليذكر اسم‬
ُ َ َ ُ َ َّ َ ِ ‫ه‬ ْ ُ َْ
‫آخره‬ ِ ‫فل َيق ْل ِبس ِم‬
ِ ‫اَّلل أوله و‬
“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka
hendaknya ia menyebut nama Allah . Jika ia lupa untuk
menyebut nama Allah  di awal, hendaklah ia
mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan
nama Allah pada awal dan akhirnya)”.
[HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858] Hadits
Hasan Shahih.
Lafaz tersebut tidak ada perselisihan, semua ulama
bersepakat dilakukan di awal (sebelum makan), tetapi boleh juga
di tengah atau diakhir (apabila lupa).

3) Lafaz Doa Saat Berbuka Puasa


Lafadz doa saat berbuka puasa cukup banyak variasinya, baik
yang populer, yang memiliki derajat shahih maupun dhaif.
a) Lafaz Doa yang Populer
Doa berbuka puasa yang sangat populer di masyarakat
didasarkan hadits dari Mu’adz bin Zuhrah, telah sampai
riwayat kepadanya bahwa sesungguhnya jika Nabi  berbuka
puasa, beliau  membaca (doa):

26 Meraih Ramadhan Terbaik


ُ َ ْ‫ى ْ َ ى‬ ُ َ ‫ى ه ى‬
‫ َو َعَل ِرز ِقك أفط ْرت‬،‫الل ُه َّم لك ُص ْمت‬
“Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu
aku berbuka (telah).” [HR. Abu Dawud: 2358]
Lafaz di atas dinilai lemah dhaif. Namun tidak berarti tidak
boleh diamalkan. Bahkan para ulama mengkompomikan
doa-doa tersebut dengan doa berpredikat shahih.
َ ‫)أ َ ْف‬, kata kerja lampau
Redaksi di atas menggunakan kata ( ُ‫ط ْرت‬
yang artinya ‘saya sudah berbuka’, sehingga difahami
sebagian kalangan sebagai doa setelah berbuka puasa.
b) Lafaz Doa dengan Predikat Shahih
Sedangkan lafaz dengan predikat Shahih, yang diriwayatkan
dari Rasulullah :
‫ى َ َ ُ ُ ه َ ه هُ ى‬
‫اَّلل َعل ْي ِه‬ ‫اَّلل صَل‬
ِ ‫رض هللا عنهما قال كان رسول‬ ‫عن ابن عمر ن‬
ْ ُ ْ َ َ ََ َ ُ ُ ُ ْ ْ ‫ َ َ َ ه َ ُ َ َْه‬: َ‫َ َ ه َ َ ىْ َ َ َ ي‬
‫وسلم ِإذا أفطر قال ( ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت األجر ِإن‬
ُ ‫َش َاء ه‬
) ‫اَّلل‬
Dari Ibnu Umar  berkata: Rasulullah  apabila berbuka
puasa (telah), beliau berkata (Dzahabazh zhoma’u wabtallatil
‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah) [Telah hilanglah dahaga,
telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang
ditetapkan, jika Allah menghendaki]
(SHAHIH, Riwayat Abu Daud [2/306, no. 2357] dan selainnya;
lihat Shahih al-Jami’: 4/209, no. 4678].
َ ‫) ِإذَا أ َ ْف‬, kata kerja
Redaksi di atas juga menggunakan kata (‫ط َر‬
lampau yang artinya ‘apabila telah berbuka’, sehingga dapat
difahami pula sebagai doa setelah berbuka puasa.

4) Berdoa sebelum atau setelah Berbuka?


Doa memiliki waktu-waktu yang mustajab. Artinya ketika
berdoa di waktu tersebut akan lebih mudah dan lebih cepat
terkabulkan. Cermati hadits berikut:
ُ ْ َ ْ ُ َ ْ َ َ َ ْ ُ َّّ َ ُ َّ َ ُ َ ْ ُ َ ُ ُ ُ َ ْ َ ُّ َ ُ ٌ َ َ
ِ ‫ ودعوة المظل‬، ‫ والص ِائم حن يف ِطر‬، ‫ ِاإلمام الع ِادل‬: ‫ثالثة ل ترد دعوتهم‬
‫وم‬

Meraih Ramadhan Terbaik 27


“Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa
sampai berbuka, doanya pemimpin yang adil, dan doanya orang
yang terzhalimi’” [HR. Tirmidzi no.2464, Ibnu Majah no.1752,
Ibnu Hibban no.2405, dan lainnya]
Kata ‘sampai berbuka’ (‫ ) َحﺘَّى ﻳُ ْفطِ ر‬pada hadits di atas
mengindikasikan bahwa waktu mustajab tersebut adalah
sebelum berbuka yaitu menjelang/ketika akan terbenam
matahari. Meskipun demikian ditemukan juga redaksi hadits
dari at-Tirmizi no. 3552 menggunakan kata ‘ketika berbuka’
(‫)حِ ينَ ﻳُ ْفطِ ُر‬.
Hadits di atas juga secara jelas menganjurkan sepanjang hari
saat ia berpuasa, agar bermohon kepada Allah  karena do’anya
tidak tertolak.
Syeikh Al-‘Utsaimin menjelaskan:
‫الدعاء يﻜون قﺒل اإلفطار عند الغروب ؛ ألنه يجتمﻊ فﻴه انﻜسار‬
‫ وكل هذه أسﺒاب لﻺجابة وأما بعد الفطر‬، ‫النفس والذل وأنه صائم‬
‫ لﻜن ورد‬، ‫فإن النفس قد استراحت وفرحت وربما حصلت غفلة‬
‫دعاء عن النﺒﻲ صلﻰ الله علﻴه وسلم لو صح فإنه يﻜون بعد اإلفطار‬
”‫ ” ذهب الظمأ وابتلت العروق وثﺒت األجر إن شاء الله‬: ‫وهو‬
Doa (yang mustajab) adalah sebelum/menjelang berbuka
yaitu ketika akan terbenam matahari. Karena saat itu
terkumpul (sebab-sebab mustajabnya doa) berupa hati yang
tunduk dan perasaan rendah (di hadapan Rabb) karena ia
berpuasa. Semua sebab ini adalah penyebab doa dikabulkan.
Adapun setelah berbuka puasa, badan sudah segar lagi dan
nyaman. Bisa jadi ia lalai (akan sebab-sebab mustajab). Akan
tetapi terdapat hadits yang seandainya shahih maka doa
mustajab itu setelah buka puasa yaitu doa: Dzahabaz dzama’
wabtallail ‘uruq wa tsabatal ajru insyaallah. Maka doa
mustajab itu setelah berbuka.”
Apakah setiap berdoa diharuskan hanya dengan
menggunakan lafaz dari nash quran dan hadits saja?

28 Meraih Ramadhan Terbaik


Nyatanya, para ulama berbeda pendapat tentang hukum
berdoa dengan menggunakan lafadz hadits yang derajat
keshahihannya masih menjadi perdebatan. Sebagian
mengatakan tidak boleh berdoa kecuali hanya dengan lafadz doa
dari hadits yang sudah dipastikan keshahihannya. Namun
sebagian yang lain mengatakan tidak mengapa bila berdoa
dengan lafadz dari riwayat yang kurang dari shahih (atau dhaif).
Bahkan dalam lafadz doa secara umum, pada dasarnya malah
dibolehkan berdoa dengan lafadz yang digubah sendiri. Apalagi
ada dugaan (setengah yakin) bahwa lafadz itu diucapkan oleh
Rasulullah , karena riwayat-riwayat yang ada bukan maudhu
(palsu melainkan dhaif (lemah).
Atas dasar di atas, maka yang termudah adalah
mengkompromikan dalil-dalil yang ada. Menurut Wahbah
Az-Zuhaili, doa yang matsur adalah sebagai berikut:
ُ ْ ‫َ ى‬ ُ ْ‫ى َ َ ى‬ ُ َ ْ ‫نِّ ى َ ُ ْ ُ َ َ ى ْ َ ى‬
،‫ط ْرت َو َعل ْيك ت َوكلت َو ِبك ا َمنت‬ َ ‫ ْو ُ ُعَل ُ ِر َز ِ َق َكَ أف‬،‫ت‬ ‫اللهم ِان لك صم‬
ُ ‫األ ْج ُر إ ْن َش َاء ه‬
َ‫ َيا َواسﻊ‬،‫اَّلل تعاىل‬ ْ ‫َ َ َ ي ه َ ُ َ َْه‬
ِ ‫ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت‬
ُ ْ َ ْ َ ‫َ َ ن َ ُِ ْ ُ َ َ َ َ ن‬ ‫َ ْ ُ ه ى‬ ْ ْ َ
‫ ورزق ِ ين فأفطرت‬،‫َّلل ال ِذي أعان ِ ين فصمت‬ ِ ِ ‫ الحمد‬،‫رىل‬ ِ‫الفضل ِإغ ِف ي‬
"Ya Allah, sesunguhnya aku berpuasa karena-Mu dan aku
berbuka dengan rezeki-Mu. Kepada-Mu aku bertawakal dan
kepada-Mu aku beriman. Dahaga telah lenyap, urat-urat
telah basali dan pahala telah pasti didapatkan, insya Allah.
Wahai Tuhan yang luas karunia-Nya, ampunilah dosaku.
Segala puji bagi Allah yang telalh membantuku sehingga ku
dapat berpuasa dan memberiku rezeki sehingga aku dapat
berbuka."

Bagaimana Cara Nabi  Makan?


Nabi Muhammad  adalah suri tauladan bagi umat islam
dan segala perilakunya menjadi pedoman hidup bagi seluruh

Meraih Ramadhan Terbaik 29


manusia. Tidak hanya akhlak yang mulia dan tuntunannya
dalam beribadah.
Rasulullah  juga mencontohkan kepada umatnya
bagaimana cara melakukan sesuatu dengan baik dan benar
seperti halnya saat makan. Berikut ini adalah beberapa anjuran
dan cara makan rasulullah  berdasarkan riwayat yang ada.
1) Berwudhu sebelum makan
Tidak hanya sebelum melakukan shalat wajib maupun shalat
sunnah, Rasul juga berwudhu sebelum makan untuk
menghindari gangguan setan dan menghilangkan kefakiran
sebagaimana yang disebutkan dalam hadits “Berwudhu sebelum
makan menghilangkan kefakiran, dan berwudhu setelah makan
menghilangkan gangguan setan”
2) Minum dari gelas dengan beberapa tegukan
Selain makan dengan perlahan, Rasulullah  pun
menganjurkan untuk minum dengan benar yakni tidak
meminum air dalam gelas dengan sekali teguk dan juga tidak
meminumnya langsung dari teko, sebagaimana disebutkan
dalam hadits, “Jangan minum sekaligus, ambillah jeda (ambil
nafas) dua sampai tiga kali. Rasulullah jika minum bernafas
sampai tiga kali” [HR Al Bukhari dan Muslim] pada masing-
masing tegukan dimulai dengan basmalah dan diakhiri dengan
alhamdulillah. Pembahasan tentang bacaan basmalah telah
dikemukakan pada sub-bab Khilafiyah di seputar berbuka puasa.
3) Makan dengan tangan kanan
Seorang muslim hendaknya mengikuti sunnah Rasul 
untuk senantiasa makan dengan tangan kanan dan menurut para
ilmuwan hal ini bermanfaat bagi kesehatan terutama untuk
melatih saraf sensorik pada tangan. Sebagaimana disebutkan
dalam hadits “Hendaklah kamu sekalian makan dengan tangan
kanan. Sebab setan makan dan minum dengan tangan kirinya”
[HR Muslim]

30 Meraih Ramadhan Terbaik


4) Duduk di Lantai dan Tidak bersandar
Seorang muslim hendaknya tidak makan atau minum sambil
berdiri, maupun menyandar. Sabda beliau , “Janganlah
seorang di antara kalian minum sambil berdiri . [HR Muslim].
Makan maupun minum sambil duduk lebih utama,
meskipun pada beberapa kondisi terdapat riwayat mengenai
kebolehan makan dan minum sambil berdiri.
Sebaiknya makanan yang dimakan diletakkan di atas tanah
untuk menjaga kerendahan diri. Sebagaimana sabda Rasulullah
 “Aku tidak makan sambil bersandar. Aku adalah seorang
hamba, maka aku minum seperti minumnya hamba dan makan
pun seperti makannya seorang hamba”
5) Tidak mencela makanan
Seperti apapun makanan yang didapat dan diperoleh apabila
kita tidak menyukainya sebaiknya jangan mencela makanan.
Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, “Rasulullah SAW
tidak pernah mencela makanan; Jika ia suka dimakannya, jika
tidak suka ditinggalkannya” [HR. Bukhari dan Muslim]
6) Makan Bersama-sama
Ramadhan adalah kesempatan untuk membiasakan makan
bersama, orang tua dan anak-anak yang selama ini terpisah
makan secara sendiri-sendiri. Seorang muslim hendaknya
mengajak orang lain untuk makan baik keluarga, sahabat atau
tetangganya terlebih keluarga inti. Makanan yang baik dalam
Islam adalah makanan yang banyak orang memakan secara
bersama-sama, “Rasulullah  tidak pernah makan sendirian”
(diriwayatkan Anas bin Malik ). Dalam hadits lainnya,
“Makanan dua orang cukup untuk tiga orang, makanan untuk
tiga orang cukup untuk empat orang” [HR Al Bukhari dan
Muslim].
Bulan puasa adalah kesempatan untuk berbagi makanan dan
minuman, baik melalui acara Buka Puasa Bersama dengan
dhuafa, anak yatim, kolega atau kerabat lainnya.

Meraih Ramadhan Terbaik 31


7) Bersabar untuk mengambil makanan
Etika makan bersama dengan orang lain menjadi perhatian
beliau . Rasul  menganjurkan untuk bersabar hingga
orangtua atau pemimpin mengambil makanan terlebih dahulu
dan orang yang menyajikan makanan akan makan setelah orang
lain makan. Rasulullah  bersabda: “Yang melayani minuman
suatu kaum, hendaknya dialah yang terakhir orang yang
minum”. [HR Attirmidzi].
8) Tidak meniup makanan
Terkadang kita suka meniup makanan saat makanan masih
panas, hal ini sebenarnya harus dihindari karena Rasul 
melarang meniup makanan tatkala masih keluar uap panas,
sebagaimana hadits berikut: “Rasulullah  melarang orang
untuk meniup-niup minuman/makanan” [HR Abu Dawud].
Hal ini juga telah dibuktikan oleh para pakar kesehatan
bahwa meniup makanan tidaklah baik untuk kesehatan.
9) Makan dari tepian piring
Jika memakan makanan maka makanlah dari sisi pinggiran
atau tepi piring makan hingga ke tengahnya seperti yang
senantiasa dicontohkan oleh Rasulullah . Beliau  berkata,
“Berkat itu turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah
dari tepi-tepinya dan jangan makan dari tengah-tengahnya”
[HR Abu Dawud,Attirmidzi]
10) Mengunyah Secara Perlahan dan Mengecilkan Suapan
Rasulullah selalu menyantap makanan dengan mengecilkan
suapannya dan mengunyahnya hinga berkali-kali. Selain itu
Rasul tidak menyuapkan makanan sebelum suapan yang
sebelumnya selesai ditelan. Sebagaimana sabda Rasulullah ,
“Kecilkan suapan dan baguskan Mengunyahnya”, sabdanya lagi,
“Janganlah mengulurkan tangan pada suapan yang lain
sebelum menelan suapan pertama”.

32 Meraih Ramadhan Terbaik


11) Tidak menggunakan perkakas makan yang terbuat dari
emas dan perak
Makan dengan perkakas emas dan perak adalah kebiasaan
kaum kafir dan juga berlebih-lebihan oleh karena itu Rasul 
melarang umatnya untuk menggunakan perkakas yang terbuat
dari logam tersebut. “Rasulullah  melarang kami minum dan
makan dengan perkakas makan dan minum dari emas dan
perak”. [HR. Bukhari Muslim]
12) Segera Berbuka Pada Waktunya
Setelah waktu berbuka tiba, segerakan berbuka. Sebagaimana
telah dikemukakan pada pembahasan sebelumnya tentang
khilafiah di sekitar berbuka puasa.
Ketika waktunya telah tiba, menyegerakan berbuka
disepakati pra ulam mengandung kebaikan, sebagaimana hadits
dari Sahal Ibnu Sa’ad , Nabi  bersabda:
ْ ْ ُ َ ُ َّ ُ َ َ َ
‫اس ِبخ ْْ ٍي َما َع َّجلوا ال ِفط َر‬‫ل يزال الن‬
Orang-orang akan tetap dalam kebaikan selama mereka
menyegerakan berbuka”. [Muttafaqun ’alaih].
Demikian, syari’at Islam yang sempurna telah mengajarkan
supaya tidak memberat-beratkan diri dengan menunda berbuka
puasa, padahal waktunya telah tiba. Karena hal ini akan
berdampak buruk pada kesehatan, terutama pada organ
lambung.

13) Makan Sahur


Sahur sangat penting untuk mendukung kelancaran ibadah
puasa. Makanan yang disantap saat sahur, akan menjadi
cadangan energi selama berpuasa. Oleh karena itu, usahakan
tidak meninggalkan sahur ketika akan berpuasa, karena juga
terdapat berkah dalam makan sahur. Dalam hadits dari Anas bin
Malik , bahwasanya Rasulullah  bersabda:

Meraih Ramadhan Terbaik 33


‫ه‬ ‫َ ْ ىَ َ ن َ ه ُ َ ْ ُ َ َ َ َ َ ُ ُ ه َ ه ه ُ ى‬
‫اَّلل َعل ْي ِه َو َسل َم‬ ‫اَّلل صَل‬
ِ ‫ض اَّلل عنه ق ىال ا قال رسول‬ ‫س َ ر َِّ ي‬
ٍ ‫َعن َّ أن‬
َ َ ُ ُّ ‫ن‬ ُ َ
‫ور بركة‬ ِ ‫تسحروا ف ِإن ِ يف السح‬
Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam makan
sahur itu ada berkahnya”. [Muttafaqun ’alaih].
Termasuk dalam sunnah, adalah mengakhirkan waktu sahur,
berdasarkan riwayat dari Qatadah dari Anas bin Malik dari Zaid
bin Tsabit dia berkata, ia pernah makan sahur bersama Nabi
Muhammad  saat menjelang subuh, dalam hadits berikut:
ُ ْ ُ َ َ َ َّ ‫ه ُ ُ َ ى‬ ‫َ َ َّ ْ َ َ َ َّ ِّ َ ه ه ُ ى‬
‫ال قلت‬ ‫َّلل َعل ْي ِه َو َسل َم ث َّم ق ْمنا ِإىل الصَل ِة ق‬ ‫تسحرنا مﻊ الن ِ ين صَل ا‬
ْ‫ﻴﻊ َعن‬ٌ ‫ي َآي اة َح َّد َث َنا َه َّن ٌاد َح َّد َث َنا َوك‬
َ‫ال َق ْد ُر َخ ْمس ن‬
َ ‫ان َق ْد ُر َذل َك َق‬
َ ‫ىْ ى‬
‫كم ك‬
ِ ْ ِ
‫َّ ى َّ ُ َ َ َ ْ ُ َ َ َ ْ نَ َ ا‬ ِ
ْ َ َ
‫ِهشام ِبنح ِو ِه ِإل أنه قال قدر ِقراء ِة خم ِس ْي آية‬
Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah  lalu
melaksanakan shalat. Anas berkata, Aku bertanya kepada
Zaid: “Berapa jarak antara adzan dan sahur ?”. Dia
menjawab: ‘seperti lama membaca 50 ayat’. [At-Tirmizi: 638
dan lainnya].
Menurut Abu Bakar Al-Kalabazi, waktu mengakhirkan
sahur tersebut ialah makan sahur di sepertiga terakhir malam.
Hal ini diilihat dari kebiasaan Nabi Muhammad SAW sendiri,
Beliau sangat terbiasa bangun tengah malam dan shalat malam.
Sangat dimungkinkan jika Nabi  beribadah terlebih dahulu,
baru makan sahur menjelang waktu subuh.
Berdasarkan keterangan ini, tampaknya tujuan dari
mengakhirkan sahur itu bukan semata makan dan minum,
tetapi mesti diiringi dengan ibadah lainnya, seperti shalat,
dzikir, dan berdo’a. Sebab itulah waktu terbaik untuk beribadah,
terutama berdo’a.
Dari aspek kesehatan, para pakar nutrisi menganjurkan agar
tidak makan berlebihan saat sahur, karena dapat menyebabkan
melonjaknya kadar gula dalam darah, serta merangsang
keluarnya hormon insulin secara berlebihan. Hormon insulin ini
akan mengangkut gula darah ke seluruh jaringan tubuh guna

34 Meraih Ramadhan Terbaik


diubah menjadi glikogen atau lemak. Apabila makan terlalu
banyak, maka glikogen dan lemak yang dihasilkan juga
berlebihan. Padahal, lemak yang berlebihan sukar diuraikan
menjadi gula darah kembali. Akibatnya, seseorang yang makan
berlebihan saat sahur tidak bertambah segar, tetapi justru
semakin merasa lesu.
14) Makan Sampai Kenyang?
Anjuran untuk makan secukupnya, hanya dilakukan pada
saat lapar, dan berhenti sebelum kekenyangan. Berikut
pernyataan yang dinisbatkan kepada Nabi  :
ّ ‫نحن قوم ل نأكل‬
‫حن نجوع وإذا أكلنا ل نشﺒﻊ‬
“Kami (kaum muslimin) adalah kaum yang hanya makan bila
lapar dan berhenti makan sebelum kenyang“
[Burhanuddin al-Halbi, As-Sirah Al-Halbiyyah/4]
Meskipun para ulama memahami maknanya pernyataan ini
isinya benar, namun sanadnya diketahui. Sehingga bukan lah
hadist dan tidak dinisbatkan kepada Nabi  dan tidak dapat
dijadikan dasar melarang makan sampai kenyang (puas). Jadi
boleh kah makan sampai kenyang?
Kenyang berbeda dengan kekenyangan. Maksudnya adalah
makan lah sampai puas, maknanya rasa kenyang yang tidak
membahayakan, tidak mengapa. Hal ini didasarkan kepada
riwayat berikut:
‫ يوم غزوة‬،‫النن ﷺ يوم األحزاب‬‫أن جابر بن عبدهللا األنصاري دعا ي‬
،‫شعي‬
ْ ‫شء من‬ َ
‫ وعَل ي‬-‫سخلة‬- ‫صغية‬ْ ‫ إىل طعام عَل ذبيحة‬،‫الخندق‬
َ َ ‫ن‬
،‫ وجعل يدعو عشة عشة‬،‫النن ﷺ أن يقطﻊ الخي واللحم‬
ّ ‫فأمر ي‬
َ
‫ فبارك‬،‫ وهﻜذا‬،‫ويأن عشة آخرون‬ ‫ ثم يخرجون ي‬،‫ويشبعون‬
‫ن‬
‫فيأكلون‬
‫وبق منها بقية‬ّ
‫ ي‬،‫غفي‬ ْ ‫ وأكل منها جمﻊ‬،‫وف السخلة‬ ‫الشعي ي‬
ْ ‫هللا ن يف‬
.‫للجيان‬
ْ ‫حن رصفوها‬ ّ ‫عظيمة‬
Jabir bin Abdillah Al-Anshari mengundang Nabi  untuk
memakan daging sembelihannya yang kecil ukurannya
beserta sedikit gandum. Kemudian Rasulullah  mengambil

Meraih Ramadhan Terbaik 35


sepotong roti dan daging, kemudian beliau memanggil
sepuluh orang untuk masuk dan makan. Mereka pun makan
hingga kenyang kemudian keluar. Lalu dipanggil kembali
sepuluh orang yang lain, dan demikian seterusnya. Allah 
menambahkan berkah pada daging dan gandum tadi,
sehingga bisa cukup untuk makan orang banyak, bahkan
masih banyak tersisa, hingga dibagikan kepada para tetangga.
‫ فسقﻴتهم‬:‫ قال أبو هريرة‬،‫سق أهل الصفة لﺒنا‬ ّ ‫والنن ﷺ ذات يوم أيضا‬
‫ي‬
‫ َاشب‬:‫ ثم قال‬،‫ َاشب يا أبا هريرة قال َشبت‬:‫النن ﷺ‬
‫ي‬ ‫قال‬ ‫ثم‬ ،‫رووا‬ ّ
‫حن‬
‫ ثم قلت والذي بعثك بالحق ل أجد له‬،‫فشبت‬ َ ‫ َاشب‬:‫ ثم قال‬،‫فشبت‬ َ
ّ
َ ،‫ ثم أخذ النن ﷺ ما بق‬،‫مسلكا‬ً
،‫عليه الصالة والسالم‬- ‫وشب‬ ‫ي‬ ‫ي‬
Dan suatu hari, Nabi  menyajikan susu pada Ahlus Shuffah.
Abu Hurairah berkata, “Aku minum sampai puas”.
Kemudian Nabi  bersabda, “Ayo minum lagi, Abu
Hurairah”! Maka aku minum. Kemudian Nabi  bersabda,
“Ayo minum lagi“. Maka aku minum lagi. Kemudian Nabi
 bersabda, “Ayo minum lagi“. Maka aku minum lagi, lalu
aku berkata “Demi Dzat yang mengutusmu dengan
kebenaran, tidak lagi aku dapati tempat untuk minuman
dalam tubuhku”. Kemudian Nabi  mengambil susu yang
tersisa dan meminumnya.
Menurut Syeik bin Baz, semua dalil di atas menunjukan
bolehnya makan sampai kenyang dan puas yang wajar, selama
tidak membahayakan. [Majmu’ Fatawa wa Maqalat as-syeikh Ibn
Baz: 4/118].

15) Makan Sesuai Porsi dan Habiskan


Tidak hanya waktu makan dan jenis makanan yang
dikonsumsi, pola makan sehat juga bergantung pada porsi
makanan yang dikonsumsi. Setelah seharian menahan haus dan
lapar, seringkali timbul keinginan mengonsumsi makanan
dalam jumlah banyak. Padahal jika perut langsung diisi
dengan porsi banyak maka proses pencernaan pun akan ‘kaget’

36 Meraih Ramadhan Terbaik


dan bekerja tidak maksimal dalam mencerna makanan.
Sebaiknya makan dalam porsi kecil saja saat berbuka, dan
setelah sembahyang shalat magrib dapat dilanjutnya dengan
makan besar.
Sementara itu anjuran untuk senantiasa menghabiskan
makanan yang diambil merupakan perilaku sederhana
menjauhi boros dan mubazir serta untuk mendapatkan berkat
dari makanan secara utuh. Rasulullah  bersabda, “Kamu tidak
mengetahui di bagian yang manakah makananmu yang berkat”
[HR Muslim], karena itu habis kan lah makanan tersebut,
tanpa tersisa sedikitpun.
16) Membaca hamdalah setelah selesai makan
Makanan yang kita dapatkan dan makan setiap hari adalah
pemberian dan rezeki dari Allah  oleh sebab itu setelah makan
Rasul senantiasa mengucapkan syukur dengan membaca
hamdalah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini
Rasulullah  jika selesai makan dan mengangkat
hidangannya membaca: alhamdulillahi hamdan katsiran
thoyyiban mubaarokan fihi, ghoiro makfiyin wala mustaghnan
‘anhu rabbana (segala puji bagi Allah, pujian yang sebaik-
baiknya, yang baik dan berkat. Tiada terbalas, dan tidak dapat
tidak, tentu kami membutuhkan kepadanya, wahai Tuhan
kami). [HR Al Bukhari].
17) Tidak memberikan makanan yang tidak disukai
Rasul  senang berbagi makanan dengan orang lain tetapi
beliau  tidak pernah memberikan suatu makanan yang tidak
disukai oleh dirinya sebagaimana disebutkan dalam hadits,
“Janganlah kamu memberi makanan yang kamu sendiri tidak
suka memakannya” [HR Ahmad].
18) Makanan Berserat (Nabati)
Adanya anjuran untuk memilih makanan-makanan yang
bersifat nabati difahami dari Q.S. Abasa/80:24 berdasarkan

Meraih Ramadhan Terbaik 37


konteksnya yang berbicara tentang hujan, biji-bijian, sayur-
mayur, buah-buahan dan rerumputan [rujuk kembali hal.63].
Makanan berserat akan memperlancar proses pengeluaran
racun dari dalam tubuh dan dapat mengurangi konsentrasi
radikal bebas dalam tubuh, hingga sel-sel tubuh menjadi lebih
segar dan elastis.
19) Berbuka dengan buah yang manis?
Berbuka lah dengan yang manis! Anjuran ini sudah tepat
atau keliru?
Khusus pada saat berpuasa, berbuka puasa dengan yang
manis memang masih menjadi tradisi yang melekat pada umat
muslim, khususnya masyarakat Indonesia. Namun menurut
pakar kesehatan, sebenarnya makan makanan yang sekadar
manis bukan hal yang tepat.
Jika mengonsumsi makanan manis yang mengandung kadar
gula yang tinggi akan dengan cepat meningkatkan kadar gula
darah. Selain itu, makanan manis yang berlebihan juga dapat
menurunkan nafsu makan terhadap menu lain, padahal setelah
berpuasa tubuh membutuhkan asupan nutrisi lain yang bisa
didapatkan dari menu makan malam. Jadi apabila sudah
mengonsumsi makanan manis pada saat buka puasa, usahakan
makanan tersebut berasal dari buah-buahan yang manis, seperti
kurma atau jus buah yang dapat ditambah sedikit gula.
Bagaimana pandangan Islam berdasarkan kebiasan Nabi ?
Pembahasan tentang hal ini akan dikemukakan secara lebih
lengkap pada sub-bab berikut.

Haruskah Kurma? Bukan sekedar yang manis


Kurma kering (tamr) dan kurma basah (ruthb) keduanya
sangat dianjurkan untuk dikonsumsi saat berbuka puasa. Ibnu
Qayyim al-Jauziah mengemukakan alasannya, bahwasanya

38 Meraih Ramadhan Terbaik


tuntunan dari Nabi ‫ ﷺ‬yang berbuka puasa dengan kurma atau
air, mengandung hikmah sangat mendalam. Karena saat
berpuasa lambung kosong dari makanan apapun, sehingga tidak
ada sesuatu yang amat sesuai dengan liver (hati) yang dapat di
disuplai langsung ke seluruh organ tubuh serta langsung
menjadi energi, selain kurma dan air. Karbohidrat yang ada
dalam kurma lebih mudah sampai ke liver (hati) dan lebih cocok
dengan kondisi organ tersebut. Terutama kurma masak yang
masih segar. Liver (hati) akan lebih mudah menerimanya,
sekaligus organ ini dapat langsung memprosesnya menjadi
energi. Kalau tidak ada kurma basah, kurma kering pun baik,
karena mempunyai kandungan unsur gula yang tinggi pula. Bila
tidak ada juga, cukup beberapa teguk air untuk mendinginkan
panasnya lambung akibat puasa sehingga dapat siap menerima
makanan sesudah itu.
Hal tersebut disandarkan kepada hadits berikut:
ْ‫َ ى‬ ْ ‫ه‬ ‫َ َ ى َ َّ ُّ َ ه ه ُ ى‬ َ‫ى‬
‫اَّلل َعل ْي ِه َو َسل َم ُيف ِط ُر ق ْب َل أن‬ ‫ كان الن ِ ين صَل‬:‫س ْب ِن َم ِالك قال‬ ِ ‫َع ْن أن‬
ٌ ُ ُ َ ‫ٌ َ ْ ى‬ َُ ٌ َ ُ َ ‫َ ْ ى‬ َ ‫ُ َ ِّ َ ى‬
‫ ف ِإن ل ْم تك ْن ت َم ْْ َيات‬،‫ ف ِإن ل ْم تك ْن ُرط َبات فت َم ْْ َيات‬،‫َل َعَل ُرط َبات‬ ‫ي َص ي‬
َ ْ َ
‫ح َسا حسوات ِمن ماء‬
َ َ
“Dari Anas bin Malik ra., ia berkata : Nabi ‫ ﷺ‬biasa
berbuka puasa sebelum shalat dengan ruthab (kurma basah),
jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan tamr
(kurma kering), dan jika tidak ada tamr, beliau meminum
seteguk air”. [HR. Ahmad: 12265 dan Abu dawud: 2356]
Selain hadits di atas, juga ada hadits lainnya dari Salman bin
Amir  bahwa Rasulullah ‫ ﷺ‬bersabda,
َ ‫إ َذا ىأ ْف َط َر ىأ َح ُد ُك ْم َف ْل ُي ْفط ْر َع ىَل َت ْمر َفإ َّن ُه َب َر ىك ٌة َفإ ْن ىل ْم َيج ْد َت ْم ًرا َف‬
‫الم ُاء‬ ِ ِ ِ ٍ ِ
َ ُ َّ َ ِ
‫ف ِإنه ط ُه ْو ٌر‬
”Bila kalian berbuka puasa, maka berbukalah dengan kurma,
karena kurma itu barakah. Kalau tidak ada kurma, maka
dengan air, karena air itu mensucikan. [HR. Abu Daud dan
At-Tirmizi: 658]

Meraih Ramadhan Terbaik 39


Sedangkan dalil yang menyebutkan agar berbuka puasa
dengan yang manis, memang tidak ada. Apalagi berbuka dengan
makanan manis seperti es buah, kolak dan seterusnya sejenisnya.
Walaupun secara hukum tentu tidak dilarang dan tidak jadi
haram.
Sebagian besar ulama menganjurkan kurma untuk berbuka
puasa, bukan makanan manis (halawah). Meskipun demikian
ada sebagian ulama seperti al-Hattab Ar-Ru'aini (w. 954 H),
Al-Kharasyi (w. 1101 H) dan Al-Qadhi Ar-Ruyani yang
memperbolehkan, sepanjang rasanya manis.
An-Nawawi (w. 676 H) salah satu muhaqqiq (ulama
peneliti) besar dalam ruang lingkup mazhab Asy-Syafi'iyah
dalam al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab menolak pendapat
ini:
‫وﻗاﻝ الروﻳاﻧي ﻳفطر ﻋﻠى تمر فإن لﻢ ﻳجد فﻌﻠى حالوة فإن لﻢ ﻳجد فﻌﻠى‬
‫الماء وﻗاﻝ الﻘاضي حﺴين األولى في زماﻧﻨا أن ﻳفطر ﻋﻠى ما ﻳأخذه‬
‫ﺑكفﻪ من الﻨﻬر ليكﻮن أﺑﻌد ﻋن الشﺒﻬﺔ وهذا الذي ﻗااله ﺷاذ والصﻮاب‬
‫ما ﺳﺒق ﻛما صرح ﺑﻪ الحدﻳث‬
Ar-Ruyani berkata,"Berbuka itu dengan kurma, bila tidak
ada maka dengan halawah (manis-manis), bila tidak ada
maka dengan air". Al-Qadhi Husein berkata yang lebih
utama di zaman kami berbuka dengan apa yang didapatnya
dengan kedua tangannya dari sungai, biar jauh dari syubhat.
Namun apa yang disebutkan oleh kedua ulama ini diragukan
(syadz). Yang benar adalah apa yang sudah disebutkan di
dalam hadits (yakni kurma).
Salim bin Ied Al-Hilaly dalam Shahih Ath-Thibb An-
Nabawy, mengemukakan bahwa zat-zat yang mengandung gula
(glukosa dan fruktosa) memerlukan 5-10 menit dapat terserap
dalam usus manusia ketika dalam keadaan kosong. Keadaan
tersebut terjadi pada orang yang sedang berpuasa. Jenis makanan
yang kaya dengan kategori tersebut yang paling baik adalah
kurma khususnya ruthab (kurma basah) karena kaya akan unsur

40 Meraih Ramadhan Terbaik


gula, yaitu glukosa dan fruktosa yang mudah dicerna dan diserap
oleh tubuh.
Maka, urutan makanan yang terbaik bagi orang yang berbuka
puasa adalah ruthab (kurma basah) atau tamr (kurma kering)
kemudian air. Hindari gula atau makanan manis lainnya.
Mengonsumsi makanan manis yang mengandung kadar gula
yang tinggi akan dengan cepat meningkatkan kadar gula darah.
Selain itu, makanan manis yang berlebihan juga dapat
menurunkan nafsu makan terhadap menu lain, padahal setelah
berpuasa tubuh membutuhkan asupan nutrisi lain yang bisa
didapatkan dari menu makan malam.
Apabila terbiasa mengonsumsi makanan manis pada saat
buka puasa, maka usahakan makanan tersebut berasal dari buah-
buahan yang manis, seperti kurma atau jus buah yang ditambah
sedikit gula. Patut diingat, batasan konsumsi aman untuk gula
menurut Kementerian Kesehatan Indonesia tidak melebihi 50
gram atau setara empat sendok makan, sementara menurut
WHO lebih kecil lagi, hanya 25 gram atau dua sendok makan
Diantara kebiasaan Rasulullah ‫ﷺ‬, adalah memakan kurma
saja atau pun bersama dengan makanan lainnya.
1. Makan kurma dengan keju
Sebagaimana yang diriwayatkan dari kedua anak Busyr As-
Sulamiyyain, mereka berdua berkata:
“Rasulullah  pernah mengunjungi kami, maka kami
hidangkan kepada beliau, keju dan kurma kering,
sedangkan beliau  sangat menyukai keju dan tamr
(kurma kering)” [SHAHIH, Abu Dawud 3837; Ibnu Majah 3343]
Ibnul Qayyim memberikan komentarnya terhadap hadits
tersebut dalam Ath-Thibb An-Nabawy : ‘Zubdah (keju)
dapat berfungsi melunakkan tinja, melemaskan syaraf dan
bengkak yang terjadi pada kandung empedu dan juga
kerongkongan, berkhasiat juga mengatasi kekeringan yang
terjadi. Bila dioleskan pada gusi bayi, berkhasiat sekali

Meraih Ramadhan Terbaik 41


mempercepat pertumbuhan gigi. Berguna untuk mengatasi
batuk yang timbul karena hawa panas atau hawa dingin,
menghilangkan kudis dan kulit kasar. Rasa mual yang
terkandung dapat menghilangkan selera makan namun dapat
diatasi dengan makanan yang manis-manis, seperti madu
dan kurma. Ketika Nabi  mengkombinasikan antara kurma
dan keju, terdapat hikmah agar kedua jenis makan tersebut
saling melengkapi” [At-Thibb An-Nabawy: 313]
Keju dengan kandungan lemak dan protein yang tinggi
dapat menambah kekurangan kandungan lemak yang
terkandung dalam kurma.
2. Makan kurma dengan mentimun
Dalam hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim,
dari Abdullah bin Ja’far , ia berkata.
“Aku melihat Rasulullah makan buah mentimun dengan
ruthab (kurma basah)” [HR. Bukhari 5440; Muslim 2043]
Hadits ini mempunyai pelajaran yang sangat agung yaitu
menggambarkan tentang keahlian Rasulullah ‫ ﷺ‬dalam hal
mengkonsumsi makanan secara seimbang. Rasulullah ‫ﷺ‬
mencampur buah kurma dan mentimun dengan tujuan agar
rasa panas yang terkandung dalam kurma dapat
menyeimbangkan rasa dingin dan basah yang ada di
mentimun, hal ini karena mentimun agak sulit untuk dicerna
di lambung, dingin dan terkadang berbahaya. [At-Thibb
An-Nabawy: 339-340]
3. Makan kurma dengan semangka
Sebagaimana hadits dari Ummul Mukminin Aisyah ,
“Rasulullah ‫ ﷺ‬biasa makan semangka dengan kurma basah”.
[SHAHIH. HR. Abu Dawud no. 2826]
4. Minuman dari Kurma
Rasulullah ‫ ﷺ‬mengharamkan arak, meskipun terbuat dari
perasan air kurma, hal ini sesuai dengan hadits:

42 Meraih Ramadhan Terbaik


“Sesungguhnya sebagian dari anggur itu (dapat dijadikan)
khamr (arak), dan sebagian dari kurma itu (dapat dijadikan)
khamr (arak), dan sebagian dari madu itu (dapat dijadikan)
khamr (arak) dan sebagian dari biji gandum itu berupa khamr
(arak), sebagian dari gandum gerst/sejenis tepung sereal
(dapat dijadikan) khamr (arak)”
[SHAHIH. Abu Dawud no. 3676 dan Ahmad: IV/267]
Sementara pada masa sekarang dikenal jus dari kurma. Jus
ini perlu dipergunakan secara cermat, karena boleh jadi
memiliki kandungan gula (glukosa) yang lebih tinggi dari
buah kurma, apabila dalam proses produksi ditambahkan
gula. Untuk itu perhatikan angka kecukupan gizi yang ada
pada kemasan botol Jus Kurma, atau membuat sendiri jauh
lebih aman dan murah.

Kopi minuman para wali


Kopi memiliki kedudukan yang terhormat dalam kehidupan
para wali. Ibnu Hajar Al-Haitami berkata:
َّ ‫وب أ َ َّن َه ِذ ِه الﻘَ ْﻬ َﻮه ﻗَ ْد َجﻌَﻠَ َﻬا ا َ ْهل ال‬
‫صفَاء َمجْ ﻠﺒَﺔ‬ َ ‫ب ال َم ْك ُر‬ َ ‫اِ ْﻋﻠَ ْﻢ ا َﻳ َﻬا الﻘَ ْﻠ‬
‫لأل ْﺳ َر ِار َم ْذ َهﺒَﺔ ِلأل ْﻛدَ ِار‬
“ketahuilah duhai hati yang gelisah bahwa kopi ini telah
dijadikan oleh Ahli shofwah (orang orang yg bersih hatinya)
sebagai pengundang akan datangnya cahaya dan rahasia
tuhan, penghapus kesusahan.”
Banyak ulama yang berfatwa mengenai hukum kebolehan
dan anjuran meminum kopi, seperti Syekh Zakariya al-Anshori,
Abdurrahman Bin Ziyad , Zarruq al-Maliki al-Maghribi,
Syekh Abu Bakr bin Salim, Habib Abdulloh al-Haddad.
Bahkan Syekh Abdul Qodir Bin Muhammad al-Jaziry
mengarang buku khusus tentang hukum meminum kopi
Umdatus Shofwah fi Hukmil Qohwah, dan Habib
Abdurrohman bin Muhammad al-Aidrus dalam Risalah Inusi

Meraih Ramadhan Terbaik 43


as-Shofwah bi Anfusi al-Qohwah, dari Indonesia juga ada
Syekh Ikhsan Jampes Kediri dalam kitabnya Irsyadul Ikhwan fi
Syurbil Qohwah wa Addukhon, juga Syeh abdul Qodir Bin
Syekh dalam kitab Shofwatu As Shofwah fi Bayan hukmil
Qohwah. Ibnu Toyyib dan Syekh Bamakhramah mengarang
syair tentang keutamaan meminum kopi.
Secara klinis, berbagai penelitian tentang khasiat kopi
diantaranya menambah kebugaran dan membantu konsentrasi.
Kandungan endorfin dalam kopi membantu menjaga
kebugaran, sedangkan kafein bisa meningkatkan tenaga. Selain
itu Kopi membantu menjaga fungsi otak untuk bekerja lebih
baik. Kafein dalam kopi menghalangi plak beta-amyloid di otak,
sehingga otak bisa berfungsi lebih baik [Higdon & Frei; 2007]
Dari khasiat tersebut menjadi jelas bahwa ulama sufi
menikmati kopi bukan karena unsur mistis, melainkan agar bisa
menolak rasa kantuk untuk beribadah sepanjang malam dan
menjadikan tubuh bersemangat untuk tetap berdzikir kepada
Allah ‫ﷻ‬.
Sejarah mencatat tanaman kopi berasal dari Abyssinia
(Afrika Timur) semenjak abad ke-5. Kopi dikenal pertama kali
oleh bangsa Arab sebagai minuman energi (untuk begadang).
Penyebaran kopi dimulai saat itu bersamaan dengan penyebaran
Islam. Sumber kopi pertama di Mocha salah satu daerah di
Yaman. Saat itu Mocha menjadi satu-satunya gerbang lalu-
lintas perdagangan biji kopi. Dari pelabuhan Mocha biji kopi
diperdagangkan hingga ke Eropa. Demikian strategisnya
pelabuhan tersebut, sampai-sampai orang Eropa menyebut kopi
sebagai mocha.
Salah satu kota di Yaman adalah Tarim, Provinsi
Hadramaut. Kota kecil yang dijuluki kota seribu wali memiliki
sekitar 350 masjid. Aktivitas untuk menghidupkan Ramadan di
kota ini seakan tidak pernah tidur. Apa rahasianya?

44 Meraih Ramadhan Terbaik


Kegiatan pagi diisi dengan shalat dhuha, dilanjutkan
membaca al-Qur’an, zikir dan pengajian majelis taklim sampai
dhuhur, demikian juga ashar diisi dengan pembacaan kitab-
kitab agama. Biasanya setiap selesai majelis taklim para hadirin
membaca surat Yasin bersama, dan di akhiri dengan “Qoshidah
Fardiyah” qasidah nasehat yang dibaca oleh satu orang.
Khatam al-Qur’an di Tarim disebut “khotmu rubu’” sebab
khataman ini dilaksanakan setiap 4 empat hari sekali. Diantara
masjid yang melaksanakan khotmur rubu’ ini seperti Masjid al-
Muhdlar, Masjid Ba’alawi, Masjid Saqqaf, Masjid Wa’il
sementara banyak juga masjid yang melaksanakan “khotmu
sitta” yaitu khataman setiap 6 hari sekali.
Setelah ashar pada jumat pertama bulan Ramadan seluruh
masyarakat dan santri mancanegara yang berada di Tarim
melaksanakan ziarah ke makam para sahabat dan para wali di
pemakaman Zambal dipimpin oleh mufti Tarim dan para ulama
hingga menjelang waktu berbuka puasa. Kemudian peziarah
bergegas ke masjid untuk berbuka dengan takjil yang telah
disediakan dan dilanjutkan shalat tasbih dan shalat awwabin,
barulah setelah itu mereka kembali ke rumah masing-masing.
Sebagian yang berbuka puasa di rumah dengan makanan
sekadar untuk mengganjal perut, yaitu hanya dengan memakan
korma, meneguk minum secukupnya, lalu memakan gorengan
(cemilan) ala kadarnya. Makan malam diakhirkan sekitar pukul
8 atau 9 malam –sebelum mengerjakan salat tarawih.
Setiap rumah membekali makanan dan minuman anti
“ngantuk”, yakni kopi dan cemilan pedas. Makanan seperti
sambosa rasanya hangat cenderung pedas, karena kaya rempah
yang bakal membuat ‘melek’ semalaman. Sementara kopi
menjadi minuman wajib dari satu majelis ke majelis atau masjid
lainnya.
Meskipun memiliki banyak keuntungan, bagi sebagian orang
yang berisiko tinggi mungkin dapat terkena efek samping seperti

Meraih Ramadhan Terbaik 45


gelisah, sulit tidur, gangguan irama jantung, naiknya asam
lambung, hingga gagal jantung. Badan Keamanan Pangan Eropa
(EFSA) menyarankan untuk tidak meminum kopi lebih dari empat
cangkir sehari.
Kapan waktu terbaik minum kopi di bulan Ramadan? berikut
adalah adalah beberapa saran.
___________________ ___________________

Tips minum kopi di Bulan Ramadan.


1. Pada Saat Sahur
Minum kopi setelah makan sahur berkhasiat menimbulkan
energi untuk melanjutkan ibadah, juga membuat peminumnya
tidak ngantuk karena akan melanjutkan kegiatan di pagi hari.
Sebaiknya tidak boleh lebih dari 1 cangkir.
2. Dua Jam Setelah Berbuka
Tidak dianjurkan mengonsumsi kopi secara langsung setelah
adzan maghrib tiba. Minum kopi sebaiknya dilakukan 2 jam
setelah berbuka puasa, atau sebelum memulai salat Isya dan
Tarawih. Kenapa?
Karena kafein pada kopi memberi energi yang membuat
pengonsumsinya aktif. Jadi ibadah pada malam Ramadan (ihya
al-lail) berupa shalat malam, membaca al-Qur’an dan i’tikaf bisa
dilaksanakan dengan khusyuk dan maksimal tanpa rasa
mengantuk.
3. Imbangi dengan Konsumsi Air yang Cukup
Sebaik-baiknya khasiat kopi, tentunya akan tidak baik jika
dikonsumsi secara berlebihan apa lagi pada saat bulan puasa.
Oleh karena itu, imbang asupan kafein dengan perbanyak
meminum air secara cukup agar tubuh seimbang agar mampu
menjalankan puasa dengan maksimal.
Saat sahur diharuskan mengonsumsi air dengan cukup
karena pada saat puasa tubuh akan dehidrasi (kekurangan

46 Meraih Ramadhan Terbaik


cairan). Selain itu kopi memang cenderung mengakibatkan
kebiasaan berkemih menjadi lebih sering.
Menurut pakar kesehatan manusia dianjutkan
mengkonsumsi air 8 gelas setiap harinya. Pada saat berpuasa
caranya, dapat dilakukan dengan meminum sekitar 2 gelas saat
buka puasa. Lalu setelah tarawih hingga menjelang tidur,
minum lagi sebanyak 3-4 gelas. Sedangkan pada saat sahur,
dapat minum sebanyak 2 gelas lagi.
4. Konsumsi lah Kopi yang Segar
Kopi segar adalah biji kopi tidak terlalu lama disangrai dan
juga tidak terlalu lama disimpan. Kopi ini lebih berkhasiat
dibandingkan kopi sachet yang diduga kandungan kopinya
bukan 100% asli, sementara kopi cair (ready to drink) sudah
ditambahkan zat-zat lain termasuk pengawet.
Selain rasanya berbeda, khasiatnya berkurang bahkan bisa
mengganggu kesehatan jika dikonsumsi terutama pada saat
bulan puasa.

Meraih Ramadhan Terbaik 47


48 Meraih Ramadhan Terbaik
Bonus dan Amalan yang
Dilipatgandakan

R
amahan dapat diibaratkan sebagai tiket yang akan
mempermudah dan memperhalus jalan menuju
ketakwaan. Rintangan meraih predikat manusia terbaik
yakni yang paling bertakwa tersebut disingkirkan Allah , nafsu
dibelenggu dan segala urusan dipermudah. Doa, permohonan,
zikir dan amalan-amalan dilipatgandakan. Ramadan ibarat
mesin waktu yang akan mempersingkat pintasan menuju surga-
Nya. Karena itu kenalilah ‘bonus’, diskon dan strategi meraih
keutamaan Ramadan.
___________________ ___________________
Lailatul Qadar
Lailatul qadar adalah jantungnya Ramadan, demikian
diungkapkan Imam Ja’far As-Shadiq. Kemuliannya dan
keutamaannya tidak tertandingi oleh malam-malam lainnya, di
dasarkan kepada firman Allah  berikut:
ۡ ُ ۡ ُ ۡ ۡ ُ َ ۡ‫إنذاَ َأنزل‬
َٞ‫ َلۡلة َٱلق ۡد َرِ َخ ۡۡي‬٢َ ِ‫ وما َأدرىٰك َماََلۡلة َٱلق ۡد َر‬١َ ِ‫َِف ََلۡلةَِٱلق ۡد َر‬ ِ ‫نٰه‬ ِ
ُ ۡ َٰٓ ۡ
ُّ َ‫َن َلَٱلملئك َُةَو‬ ُ ۡ
َ‫ سل ٰ ٌم‬٤َٖ‫ِنَكَأ ۡمر‬
ِ ‫وحَفِيهاَبِإِذ ِنَرب ِ ِهمَم‬ َُ ‫ٱلر‬ ِ
‫ ت ذ‬٣َ‫م ِۡنَأل ِفَش ۡهر‬
ٖ
ۡ ۡ
٥َ‫َّتَم ۡطلعِ َٱلفج َِر‬ ٰ ‫ِِهَح ذ‬

Meraih Ramadhan Terbaik 49


“1) Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur`an)
pada malam kemuliaan; 2) Dan tahukah kamu apakah
malam kemuliaan itu; 3) Malam kemuliaan itu lebih baik dari
seribu bulan; 4) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan
malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala
urusan; 5) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit
fajar”. [QS. al-Qadr: 1-5]
Ditegaskan dalam Al-Qur’an, malam tersebut adalah malam
mulia, tidak mudah diketahui betapa besar kemuliaannya. Ini
diisyaratkan oleh adanya “pertanyaan” dalam bentuk
pengagungan, yaitu “Wa ma adraka ma laylatul qadar.”
1) Pengertian
Lail (‫ )ليل‬artinya malam, sedangkan qadar (‫)ﻗدر‬, menurut
Quraish Shihab (1999) dapat dijelaskan dalam tiga pengertian:
Penetapan atau pengaturan
Lailatul qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah 
bagi perjalanan hidup manusia. Pendapat ini dikuatkan oleh
dengan Firman Allah  “malam yang penuh berkah di mana
dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar dengan
kebijaksanaan” [QS Ad-Dukhan: 3-4]. Ada ulama yang
memahami penetapan itu dalam batas setahun.
Al-Qur’an yang turun pada malam lailatul qadar diartikan
bahwa pada malam itu Allah  mengatur dan menetapkan
khiththah dan strategi bagi Nabi-Nya, Muhammad  guna
mengajak manusia kepada agama yang benar yang pada
akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia,
baik sebagai individu maupun kelompok.
Kemuliaan
Malam tersebut adalah malam mulia yang tiada bandingnya.
Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Qur’an
serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang
dapat diraih.

50 Meraih Ramadhan Terbaik


Kata qadar yang berarti mulia ditemukan dalam ayat ke-91
Surat Al-An’am yang berbicara tentang kaum musyrik: “mereka
itu tidak memuliakan Allah sebagaimana kemuliaan yang
semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak
menurunkan sesuatu pun kepada manusia’.
Sempit
Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena
banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan
dalam Surat Al-Qadar: “Pada malam itu turun malikat-malaikat
dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala
urusan”. Kata qadar yang berarti sempit digunakan oleh Al-
Qur’an antara lain, “Allah melapangkan rezeki bagi yang
dikehendaki dan mempersempitnya (bagi yang
dikehendakinya)”. [Ar-Ra’du: 26].
___________________ ___________________

2) Kapan Terjadi?
Berdasarkan riwayat yang ada, lailatul qadar itu terjadi hanya
satu malam pada setiap tahunnya, dan itu pasti terjadi. Riwayat-
riwayat yang diterima dari Nabi  mengindikasikan waktu dan
ciri-ciri terjadinya. Pada suatu riwayat dikatakan terjadi pada
sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan, sebagaimana sabda
beliau :
- Pada 10 malam terakhir
َ َ َ َْ َ ْ ‫َ َ َّ ْ ى ْ ى َ ْ َ ْ ن‬
‫ش األ َو ِاخ ِر ِم ْن َر َمضان‬
ِ ‫تحروا ليلة القد ِر ِف الع‬
“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari
bulan Ramadan.” (HR. Bukhari)
- Pada malam-malam ganjil
Riwayat lain, menyebutkan peluang terjadinya lailatul qadar
pada malam-malam ganjil lebih memungkinkan daripada
malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi ,
َ َ َ َْ َ ْ َ ْ ْ ‫َ َ َّ ْ ى ْ ى َ ْ َ ْ ن‬
‫ش األ َو ِاخ ِر ِم ْن َر َمضان‬
ِ ‫تحروا ليلة القد ِر ِف ال ِوت ِر ِمن الع‬
Meraih Ramadhan Terbaik 51
“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam
terakhir di bulan Ramadan.” (HR. Bukhari)
- Pada 7 Malam Terakhir
bahwa Nabi  bersabda,
‫َ ْ ن ىْى َ ْ َ ْ َ ْ َ ُ َ ى ُ ُ ى‬ َ َْ َ ْ ‫ْ َ ُ َ ن‬
‫ف أ َحدك ْم أ ْو‬ ‫ش األ َو ِاخ ِر )يع ِن ليلة القدر( ف ِإن ضع‬
ِ ‫الت ِمسوها ِف الع‬
ّ‫الس ْﺒﻊ ْال َﺒ َواف‬
َّ ‫ي َع ىَل‬ َ َ َ َ َ
َّ‫ل ُي ْغ ىل َ ن‬
ِ ِ ‫عجز ف‬
“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika
ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada
tujuh malam yang tersisa.” (HR. Muslim)
- Pada 9, 7 atau 5 Malam Terakhir
Riwayat lain menunjukan isyarat lain keberadaan lailatul
qadar, Nabi  bersabda:
َ َ
، ‫اس َعة ت ْب ّق‬
َ ‫ْ َ َ َ َ ىْى َ ْ َ ْ ن‬ َ َ َْ ‫وها نف ْال َع‬
َ ُ َْ
ِ ‫ش َاألو ِاخ ِر َ ِم َن رمضان ليلة القد ِر ِف ت‬
ِ ‫ن‬ َِ َ ‫نالت ِمس‬
‫ ِف خ ِام َسة ت ْب ّق‬، ‫ِف َس ِاب َعة ت ْب ّق‬
“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan
Ramadan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang
tersisa.” (HR. Bukhari)
Menurut pendapat yang paling kuat dalam mazhab
Ahlusunnah memang tidak ada penetapan, Ibnu Hajar dalam
Fathul Bari mengatakan bahwa lailatul qadar terjadi pada
malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dan waktunya
berpindah-pindah dari tahun ke tahun. Mungkin pada tahun
tertentu terjadi pada malam ke-27 atau mungkin juga pada
tahun yang berikutnya terjadi pada malam ke-25 tergantung
kehendak dan hikmah Allah .
Namun demikian perlu diakui adanya riwayat yang
menegaskan lailatul qadar terjadi pada malam tertentu.
- Pada Malam 27 atau 29 Setiap Tahunnya
Abu Hurairah  meriwayatkan bahwa Rasulullah 
bersabda:

52 Meraih Ramadhan Terbaik


‫ وإن المالئﻜة تلك الليلة ن يف األرض‬،‫وعشين‬
َ ‫ أو تاسعة‬،‫إنها ليلة سابعة‬
‫أكي من عدد الحىص‬
"Sesungguhnya Lailatul Qadar itu akan turun pada malam
27 atau 29, dan sesungguhnya malaikat yang ada di muka
bumi pada malam itu lebih banyak dari pada jumlah kerikil."
(Hadits Hasan, riwayat Ibnu Huzaimah).
‫ أخينا عن ليلة القدر‬، ‫عن عبادة بن الصامت أنه قال ( يا رسول هللا‬
‫ التمسوها‬، ‫ه ن يف رمضان‬‫ ي‬: ‫ن؟ فقال رسول هللا صَل هللا نعليه و سلم‬
‫عشين أو‬ َ ‫عشين أو ثالث و‬ َ ‫ فإنها وتر ف إحدى و‬، ‫العش األواخر‬
َ ‫ف‬
‫ن‬ ‫ي‬ ‫ي‬
َ ‫عشين أو تسﻊ و‬
) ‫عشين أو يف آخر ليلة‬ َ ‫عشين أو سﺒﻊ و‬ َ ‫خمس و‬
"Dari Ubadah bin Shamit bahwasanya ia berkata, ‘Wahai
Rasulullah saw, beritahukan kami tentang Lailatul Qadar!’
Rasulullah saw menjawab, ‘Dia ada dalam bulan Ramadan.
Carilah pada sepuluh terakhir, karena dia terdapat pada
malam ganjil, pada malam 21, atau 23, atau 25, atau 27, atau
29, atau di malam terakhir." (Hadits hasan, riwayat Ahmad).
- Malam 19, 21, dan 23 Setiap Tahunnya
Pendapat ini terdapat dalam riwayat mazhab Syiah, malam
lailatul qadar sudah ditentukan tanggalnya yakni tanggal 19,
21, 23 setiap tahunnya.
- Malam 27 Setiap Tahunnya
Dalam riwayat Ahlusunnah ditemukan hadits yang juga
menetapkan satu tanggal pasti lailatul qadar, yaitu setiap
tanggal 27 Ramadan:
َ ‫َ ه ىُ ه ى‬ ْ َْ‫ى‬ ‫َ َ ُ َ ي ن ى ْ ى ْ َ ْ َ ه ِّ َ ى‬
‫ه الل ْيلة ال ِ ّن أ َم َرنا‬ ِ ‫اَّلل ِإ نن أل ْعل ُم َها َوأ ك ُي ِعل ِم‬
ِ ‫قال أن ِف ليل ِة القد ِر و‬
‫ين – َوإ َّن َما َش َّك ُش ْع َب ُة فن‬ َ ‫ه ىل ْي ىل ُة َس ْﺒﻊ َوع َْش‬ َ َ ‫َ ُ ُ ه‬
ِ ِ ِ ِ ٍ َ ‫ ِب ِقي ه ِام ىه ُا ِ ه َ ى‬ ‫اَّلل‬ ِ ‫ول‬ ‫رس‬
ْ َ َ
‫ّ ََ َ َ ُ ُ ه‬ ْ َ ْ َ
 ‫اَّلل‬
ِ ‫ ِه الليلة ال ِن أمرنا ِبها رسول‬- ‫هذا الحر ِف‬
Ubay (bin Ka’ab) berkata tentang lailatul qadar, “Demi
Allah, sesungguhnya aku mengetahui bahwa ia (lailatul
qadar) adalah malam yang Rasulullah  memerintahkan

Meraih Ramadhan Terbaik 53


untuk qiyamullail, yaitu malam ke-27.” Syu’bah (salah
seorang perawi) ragu dengan kata “amarana” atau “amarana
bihaa”. (HR. Muslim)
Sahabat Ubay bin Kaab  bahkan bersumpah untuk
memantapkan keyakinannya atas penetapan tanggal 27 tersebut.
Apabila tanggal tersebut sudah ditetapkan (tanggal 27 dalam
riwayat ahlusunnah, atau tanggal 23 dalam riwayat Syiah), maka
ada kepastian bagi setiap muslim untuk beribadah pada malam
tersebut.
Namun mayoritas mazhab ahlusunnah mengkompromikan
berbagai dalil yang ada dan menyakini bahwa lailatul qadar itu
berpindah-pindah setiap tahunnya. Kadang di malam ke-27,
kadang di malam ke-23, atau bisa jadi di malam ke-21, atau di
malam lainnya. Dengan ketidakpastian tanggal ini maka perlu
strategi ‘mengintip’ malam-malam sesuai isyarat dalam riwayat
di atas. Sehingga hikmahnya, setiap muslim akan semakin rajin
‘mengintip’ dan senantiasa berbuat baik pada rentang tanggal-
tangal tersebut.
3) Tanda Terjadinya Malam Lailatul Qadar
Pada sat terjadi, cuaca pada malam itu udaranya sedang, tidak
terlalu dingin dan tidak terlalu panas. Dalilnya adalah sabda
Rasulullah :
َ ‫ وه نف‬، ‫ ثم نسيتها‬، ‫نإن كنت أريت ليلة القدر‬
‫العش األواخر من‬ ‫ي ي‬ ‫ي‬
‫وه ليلة طلقة بلجة ل حارة و ل بارة‬
‫ي‬ ، ‫لتها‬ ‫لي‬
"Saya pernah diperlihatkan Lailatul Qadar, akan tetapi saya
lupa, malam itu jatuh pada malam sepuluh terakhir dari
bulan Ramadan, suasana malam itu cerah dan indah, tidak
panas dan tidak dingin." [Shahih, HR. Ahmad, Ibnu
Khuzaimah, dan Ibnu Hibban].
Setelah terjadi, Matahari pada pagi harinya terbit berwarna
merah dan sinarnya tidak menyengat. Dalilnya adalah hadits
yang diriwayatkan oleh Ubay bin Ka'ab :

54 Meraih Ramadhan Terbaik


‫أخينا رسول هللا صَل هللا عليه وسلم أن الشمس تطلﻊ من ذلك‬
‫الﻴوم ل شعاع لها‬
"Rasulullah saw telah memberitahukan kita bahwa matahari
terbit pada hari itu tidak bercahaya (sinarnya tidak
menyengat)." [HR. Muslim].
Adanya tanda-tanda tersebut tidak mutlak terlihat, dan
jikalau seseorang tidak melihat tanda-tandanya bukan berarti
lailatul qadar tidak ada. Lailatul qadar tetap ada tetapi mungkin
kurang perhatian, tidak jeli, ataupun boleh jadi karena Allah 
tidak berkenan memperlihatkan tanda-tanda tersebut pada
seseorang dan menampakan kepada orang lainnya.
___________________ ___________________

4) Amalan yang dapat dilakukan


Kebiasan Rasulullah , keluarga dan para sahabatnya adalah
menghidupkan sepuluh malam terakhir dari Ramadan dengan
beritikaf, memperbanyak ibadah kepada Allah  dan
menjauhkan diri mereka dari berbagai kebisingan dan tarikan-
tarikan duniawi demi menggapai kebaikan dan keberkahan
didalamnya dan untuk bisa meraih lailatul qadar.
Menghidupkan malam tidak hanya terbatas menunaikan
shalat, tapi mencakup semua ketaatan. Inilah yang ditafsirkan
oleh para ulama. Al-Hafidz berkata, (Menghidupkan
malamnya) maksudnya begadang dengan melakukan ketaatan.
An-Nawawi berkata: “Yaitu larut dengan begadang dalam shalat
dan (ibadah) lainnya.” Dalam kitab Aunul Ma’bud dikatakan:
“Yaitu dengan shalat, zikir dan mambaca Al-Qur’an.”

Pahala yang Tak Terhingga


Diantara bentuk pahala yang tidak dapat dihitung pahalanya
adalah puasa dan perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan
khususnya di Bulan Ramadan.

Meraih Ramadhan Terbaik 55


Puasa: Pahala Tiada Tanding
“Abu Umamah Al-Bahili penah berkata: saya berkata:
Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang
Allah dapat memberikan manfaat kepadaku dengannya”. Maka
Rasulullah ‫ ﷺ‬pun menjawab : “Hendaknya kamu berpuasa,
karena puasa itu tidak ada tandingan (pahala)-nya.” [HR.
Nasa’i].
Dalam riwayat Abu Hurairah , Rasulullah  bersabda :
‫ىَ ى‬ ٗ َّ َ َّ ‫ُك ُّل َع َمل ْابن ٰا َد َم ىل ٗه ا َّل‬
‫الص ْو َم ف ِانه ِىل َوانا ا ْج ِزى ِبه‬ ِ ِ ِ
“Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa,
karena puasa itu untuk Ku dan Akulah yang akan
membalasnya. [HR. Muslim: 1151]
Al-Hadits)
Medapatkan Pahala Puasa lewat Takjil
Takjil adalah istilah makanan atau minuman untuk sekadar
membatalkan puasa. Namun perbuatan ini mendapatkan pahala
setara orang berpuasa. Zaid bin Khalid Al-Juhani berkata bahwa
Nabi  bersabda:
‫ى َ ى ُ ْ ى‬ َ ‫َم ْن َف‬
‫طهر َص ِائ ًما كان له ِمث ُل أ ْج ِر ِه‬
“Barangsiapa memberi buka puasa bagi orang puasa, maka ia
mendapatkan seperti pahala orang yang berbuasa, tanpa
mengurangi pahala orang yang puasa sedikit pun”. [HR
Tirmidzi].

Umrah Ramadan Berpahala Haji


Umrah berbeda dengan haji. Akan tetapi umrah Ramadan
mendapatkan keutamaan haji berdasarkan sabda Nabi :
‫ا‬ َْ َ َ ‫ا‬ َّ َ
‫ف ِإن ُع ْم َرة ِ نف َر َمضان تق ِنىص َح َّجة َم ِع‬
“Sesungguhnya umrah di bulan Ramadan seperti berhaji
bersamaku. [HR. Bukhari]

56 Meraih Ramadhan Terbaik


Dalam lafazh Muslim disebutkan,
‫ا‬ َ ‫َ َّ ُ ْ ا‬
‫يه ت ْع ِد ُل َح َّجة‬
ِ ‫ف ِإن عم َرة ِف‬
Umrah pada bulan Ramadan senilai dengan haji.” [HR.
Muslim no. 1256]
Menurut Imam An-Nawawi, maksud hadits di atas bukan
berarti umrah Ramadan sama dengan haji secara keseluruhan.
Sehingga jika seseorang punya kewajiban haji, lalu ia berumrah
di bulan Ramadan, maka umrah tersebut tidak bisa
menggantikan haji tadi.” [Syarh Muslim: 9/2] Jadi, umrah
Ramadan senilai dengan haji dari sisi keutamaan dan pahala
yang akan diberikan Allah .

Perisai Diri
Dalam sebuah hadits, Nabi  bersabda:
َّ ُ ْ َ ٌ َّ ِّ ‫إ َّن َما‬
‫الص َي ُام ُجنة َي ْست ِج ُّن ِب َها ال َع ْبد ِم َن الن ِار‬ ِ
“Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba
dari siksa neraka.” [Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah ,
HR. Ahmad: 3/396]

Yang dimaksud puasa sebagai (‫( ) ُجﻨَّﺔ‬perisai) adalah puasa


akan menjadi pelindung yang akan melindungi bagi pelakunya
di dunia dan juga di akhirat.
Adapun di dunia maka akan menjadi pelindung yang akan
menghalanginya untuk mengikuti godaan syahwat yang
terlarang di saat puasa. Oleh karena itu tidak boleh bagi orang
yang berpuasa untuk membalas orang yang menganiaya dirinya
dengan balasan serupa, sehingga jika ada yang mencela ataupun
menghina dirinya maka hendaklah dia mengatakan, “Aku
sedang berpuasa.” Rasulullah  bersabda,
ُ ْ َ َ َ ْ ُ ََ ُ ‫ى‬ َ ‫َّ ٌ َ ى‬
‫الص َي ُام ُجنة َو ِإذا كان َي ْو ُم َص ْو ِم أ َح ِدك ْم فَل َي ْرفث َول َي ْصخ ْب ف ِإن َس َّابه‬ِّ ‫َو‬
ٌ ِّ ُ ْ ُ ‫ى ٌ َ َ ى‬
َ ‫ى‬
‫أ َحد أ ْو قاتله فل َيق ْل ِإ ن ين ْام ُرؤ َص ِائ ٌم‬

Meraih Ramadhan Terbaik 57


“Puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang
berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada
orang yang mencercanya atau memeranginya, maka
ucapkanlah, ‘Aku sedang berpuasa” (H.R. Bukhari dan
Muslim).
Sedangkan perisai di akhirat maka puasa menjadi perisai dari
api neraka, yang akan melindungi dan menghalangi dirinya dari
api neraka pada hari kiamat. Rasulullah  juga bersabda,
َ‫ى‬ ُ َّ ُ ْ َ ٌ َّ َ ‫َق‬
ِّ : ‫ال َرُّب َنا َع َّز َو َج َّل‬
‫ َوه َو ِ يىل َوأنا‬،‫الص َي ُام ُجنة َي ْست ِج ُّن ِب َها ال َع ْبد ِم َن الن ِار‬ ‫ى‬
‫أ ْج ِزي ِب ِه‬
“Rabb kita  berfirman, ‘Puasa adalah perisai, yang
dengannya seorang hamba membentengi diri dari api neraka,
dan puasa itu untuk-Ku, Aku-lah yang akan membalasnya”
[H.R. Ahmad].

Jaminan Doa Tidak Tertolak


Doa memiliki waktu-waktu yang mustajab. Artinya ketika
berdoa di waktu tersebut akan lebih mudah dan lebih cepat
terkabulkan. Cermati hadits berikut:
ُ ْ َ ْ ُ َ ْ َ َ َ ْ ُ َّّ َ ُ َّ َ ُ َ ْ ُ َ ُ ُ ُ َ ْ َ ُّ َ ُ ٌ َ َ
ِ ‫ ودعوة المظل‬، ‫ والص ِائم حن يف ِطر‬، ‫ ِاإلمام الع ِادل‬: ‫ثالثة ل ترد دعوتهم‬
‫وم‬
“Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa
sampai berbuka, doanya pemimpin yang adil, dan doanya orang
yang terzhalimi’” [HR. Tirmidzi no.2464, Ibnu Majah no.1752,
Ibnu Hibban no.2405, dan lainnya]
Kata ‘sampai berbuka’ (‫ ) َحﺘَّى ﻳُ ْفطِ ر‬pada hadits di atas
mengindikasikan bahwa waktu mustajab tersebut adalah
sepanjang waktu berpuasa (dari terbit fajar sampai tenggelamnya
matahari) Hadits di atas juga secara jelas menganjurkan
sepanjang hari saat ia berpuasa, agar bermohon kepada Allah 
karena do’anya dijamin dikabulkan (tidak ditolak oleh Allah ).

58 Meraih Ramadhan Terbaik


Pintu Khusus Ke Surga
Pintu ini bernama “ar-Royyan”, berasal dari kata ‘ar-riyy’
yang maksudnya adalah nama salah satu pintu di surga yang
hanya dikhususkan untuk orang yang berpuasa memasukinya.
Kata ini juga artinya bersesuaian dengan keadaan orang yang
berpuasa. Orang yang berpuasa kelak akan memasuki pintu
tersebut dan tidak pernah merasakan haus lagi.” [Fathul Bari, 4:
131]. Pintu ini akan disediakan kelak, berdasarkan hadits:
َ ُ َّ َّ ُ ‫َّ ن ْ َ َّ َ ً ُ َ ُ ى‬
َّ ‫ َي ْد ُخ ُل م ْن ُه‬، ‫ان‬
‫الص ِائ ُمون َي ْو َم‬ ‫ِإن ِف الجنة بابا يقال له الري‬
َ ُ َّ َ ْ ‫ِ َ َ ْ ُ ُ ْ ُ ى َ ٌ َ ْ ُ ُ ْ ُ َ ُ ى‬
ِ ْ
‫ ل يدخل ِمنه ى أحد غ ْيهم يقال أين ُ الص ِائمون‬، ‫ال ِق َي َام ِة‬
‫َ َ َ َ ُ ْ َ َى‬ ُ َ ٌ ُْ ُ ْ َ َ ُ ََُ
‫ فل ْم‬، ‫ ف ِإذا دخلوا أغ ِلق‬، ‫ ىل َيدخ ُل ِمنه أ َحد غ ْْ ُيه ْم‬، ‫ومون‬ ‫فيق‬
ٌ َ ُْ ْ ُ َْ
‫يدخل ِمنه أحد‬
“Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut “ar
rayyan”. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui
pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa
tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan
diseru, “Mana orang yang berpuasa?” Lantas mereka pun
berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang
yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan
tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya.“
[HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152]
Sorga memiliki delapan pintu, yang dapat dimasuki
berdasarkan amalan-amalan terbaik seseorang. Dalam berbagai
hadits diketahui nama pintu-pintu tersebut terdiri dari 1) Pintu
Shalat, 2) Pintu Sedekah, 3) Pintu Jihad, 4) Pintu Ar-Rayyan,
5) Pintu Haji, 6) Pintu Al-Ayman, 7) Pintu Al-Kazhiminal
Ghaizha wal ‘Afina ‘anin-Naas, dan 8) Pintu Dzikir, Pintu
Ridha, atau Pintu Ilmu. Pintu yang disebut ‘ar-royyan’ adalah
pintu khusus bagi yang berpuasa. Terdapat dalam hadits:
َّ ُ ُ ُ ْ َ َ َّ َّ َ ُ ٌ َ َ ‫ُ ى‬ َ َّ ْ
‫الر َّيان ل َيدخله ِإل‬ ‫ ِفﻴها باب يسم‬، ‫ِ نف ال َجن ِة ث َم ِان َية أ ْب َواب‬
َ َّ
‫الص ِائ ُمون‬

Meraih Ramadhan Terbaik 59


“Surga memiliki delapan buah pintu. Di antara pintu tersebut
ada yang dinamakan pintu Ar Rayyan yang hanya dimasuki
oleh orang-orang yang berpuasa.“ [HR. Bukhari: 3257]

Ditambahkan Rezeki
Rezeki untuk orang mukmin mendapatkan tambahan dari
Allah  pada bulan Ramadan. Kutipan hadits dari Salman Al-
Farisi  berkenaan dengan khutbah Rasulullah ‫ ﷺ‬pada akhir
bulan Sya’ban, beliau  bersabda:
ْ ْ ُ ْ َ
... ‫ َو ُه َو ش ْه ٌر ُي َز ُاد ِف ْي ِه ِرزق ال ُمؤ ِم ِن‬....
“Bulan Ramadan adalah bulan ditambahnya rizki orang
mukmin. [HR. Ibnu Huzaimah: 1887, Al-Baihaqi: 7/216, dhaif]

Sesungguhnya ada begitu banyak bentuk rezeki, mulai dari


kehidupan, kebahagiaan, jodoh, harta benda dan lain
sebagainya, semua berupa nikmat-nikmat yang Allah 
anugrahkan adalah rezeki.
Kalau dilihat dari ukuran harta yang diperoleh dan
dibelanjakan selama Ramadan, umumnya pengeluaran
membengkak sebagaimana diuraikan sebelumnya. Meskipun
demikian boleh jadi rezeki datang dalam bentuk lain.
Berpuasa melatih diri orang yang beriman agar membentuk
pribadi yang bertakwa. Pribadi-pribadi ini lah yang akan
diberikan jaminan kecukupan, keberkahan dan jalan keluar dari
kesulitan-kesulitan.
Jaminan ini adalah firman Allah  kepada orang yang
beriman dan bertakwa, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-
negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi....”
[Qs. Al-A'raf: 96]. Selain itu diberikan jalan keluar dari
kesulitan, “..Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia
akan mengadakan baginya jalan keluar. [At-Thalaq: 2].

60 Meraih Ramadhan Terbaik


Kemudian diberikan keberkahan dan rezeki yang tidak diduga
sebelumnya, “Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada
disangka-sangkanya.. [At-Thalaq: 3]

Dijauhkan Dari Fitnah


Fitnah dapat berarti ujian, siksa, azab. Seseorang tanpa
sepengetahuannya pasti diuji oleh Allah .
Bentuk ujian (ibtila) adalah dengan kesulitan-kesulitan
urusan dunia untuk mengukur tingkat kesabaran seseorang atas
takdir yang Allah  tetapkan. [QS. al-Hajj/22: 11].
Fitnah yang maknanya diuji dengan perkara-perkara yang
mubah atau kenikmatan, ditegaskan firman Allah , “Dan
ketahuilah, bahwa sesungguhnya harta-harta dan anak-anak
kamu sekalian itu adalah fitnah atau ujian, dan sesungguhnya di
sisi Allah adalah pahala yang besar.” [QS. Al-Anfal/8: 28].
Kata ‘fitnah’ dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 35 kali
dengan berbagai maknanya.
Makna lain fitnah adalah siksa atau azab api neraka bagi
musuh-musuh Allah (QS.Az-Zariyat [51]: 10-14);
penangguhan siksa dan luput dari pencegahannya ke atas orang
yang berbuat zhalim (QS. al-Anbiya [21]:111); dan fitnah yang
bermakna ibtila (ujian) dengan dengan kemaksiatan sehingga
nampak jelas orang yang taat kepada Allah dengan menjauhi
kemaksiatan tersebut. (QS. Al-Baqarah [2]:102).
Intinya, makna bentuk fitnah bisa berupa kebaikan dan
keburukan. Keduanya merupakan fitnah, ibtila dan ikhtibar
(ujian) bagi segenap manusia. Seperti ditegaskan al-Qur’an,
“Tiap-tiap jiwa yang bernyawa akan merasakan maut
(kematian). Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan
kebaikan sebagai bentuk fitnah atau cobaan (apakah sabar atau

Meraih Ramadhan Terbaik 61


tidak). Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.”
(QS. Al-Anbiya/21:35]
Untuk keluar dari fitnah ini salah satunya dapat ditutupi
dengan berpuasa. Dari Umar , ia berkata: “Siapakah yang
hafal sebuah hadits dari Nabi  yang berkenaan dengan fitnah?”
Maka Hudzaifah menjawab, “Aku mendengar beliau 
bersabda:
“Fitnah (ujian) seseorang dalam keluarga (istri), harta, anak,
dan tetangganya dapat ditutupi dengan shalat, puasa, dan
sedekah.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Puasa dan Kesehatan


“Puasa lah, niscaya kamu akan sehat”!
Demikian hadits yang diriwayatkan dalam berbagai bentuk
lafadz, antara teks pendek dan teks panjang berikut:
َ
‫ُص ْو ُم ْوا ت ِص ُّح ْوا‬
َ
.‫وص ْو ُم ْوا ت ِص ُّح ْوا وسافروا تستغنوا‬
ُ ‫ اغزوا تغنموا‬:‫وف رواية‬
‫ي‬
ْ ُّ َ ْ ُ ْ ُ ْ ُّ َ
.‫ واغزوا تغنموا‬٬‫ وصوموا ت ِصحوا‬٬‫وف رواية سافروا ت ِصحوا‬ : ‫ي‬
“Berpuasalah kalian pasti sehat”. Dalam redaksi lain
“Berperangkan kalian pasti dapat rampasan, berpuasalah
kalian pasti sehat, dan bepergianlah kalian pasti diampuni”.
Diriwayat dari berbagai jalur: Ath-Thabraniy meriwayatkan dari jalur
Musa bin Zakariya dengan sanadnya sampai kepada Muhammad bin
Sulaiman bin Abi Dawud dengan sanadnya sampai kepada Abu
Hurairah secara marfu’. [HR. Ath-Thabrani, Mu’jamul Ausath:
1/174, no. 8312; Abu Nu’aim, Thibbun Nabawi: 1/236, no. 113,
dinilai DHAIF]
Sementara dari Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kamil: 3/226,
meriwayatkan dari Al-Husain bin ‘Abdullah bin Dhamirah dari
bapaknya dari kakeknya dari ‘Ali bin Abi Thalib .

62 Meraih Ramadhan Terbaik


Status hadits tersebut diperselisihkan para ulama. Abu
Hatim menilainya sebagai hadits matruk, al-Hafidz al-'Iraqi
menilainya dhaif, an-Nasai mengggarisbawahinya sebagai
bukan hadits yang kuat. Sedangkan di sisi lain Nurudin al-
Haitsami menilai para perawinya terpecaya (tsiqah), al-hafidz
al-Mundziri juga menilainya tsiqah. Jalur hadits itu saat ditinjau
dari Zuhair ibn Muhammad dikomentari oleh Ibnu Abi Hatim
sebagai rawi yang shalih, sedangkan Ibnu 'Adi menilainya
sebagai rawi yang tidak perlu dipermasalahkan. [Al-Munjid
dalam Islamqa.info: 2018].
Secara umum hadits itu masih diunggulkan oleh sejumlah
ulama, sehingga tidak masalah bila dijadikan dalil. Syeikh Ibn
Baz mengatakan:
‫ نعم‬.‫ صوموا تصحوا وال بأس به‬:‫ ورد عن النيب ﷺ حديث‬،‫نعم‬
“Benar, disebutkan dalam hadits ‘Puasa lah, niscaya kamu
akan sehat’, tidak ada masalah, benar”!
___________________ ___________________

Dampak puasa terhadap kesehatan juga mendapat dukungan


dari para pakar kesehatan. Secara klinis puasa memiliki
hubungan yang istimewa dengan kesehatan. Berikut manfaat
puasa untuk kesehatan.
___________________ ___________________

Penyakit yang dapat dikontrol dengan puasa diantaranya


adalah sakit maag, kegemukan, kencing manis, kolesterol tinggi,
tekanan darah tinggi dan asam urat dan persendian.
Kegemukan, Kencing Manis, Kolesterol Tinggi, Tekanan
Darah Tinggi dan Asam Urat
Selama puasa Ramadan akan terjadi pengurangan asupan
makanan, sehingga kita dapat mengurangi berat badan sekitar 5
%. Penelitian membuktikan, asupan kalori orang yang berpuasa
akan berkurang selama menjalankan puasa, dan hal ini akan
mengontrol berat badannya. Berbagai penyakit metabolik,

Meraih Ramadhan Terbaik 63


seperti kegemukan (obesitas), penyakit kencing manis (Diabetes
Mellitus/DM), kadar kolesterol dan trigliserida tinggi
(dislipidemia), tekanan darah tinggi (hipertensi) dan kadar asam
urat tinggi (hiperurisemia), akan lebih baik dan terkontrol jika
seseorang yang mengalami penyakit tersebut dapat
mengendalikan berat badannya. Puasa Ramadan merupakan
kesempatan yang baik bagi mereka dengan penyakit kronis ini
untuk mengendalikan penyakitnya.
Sakit Maag
Sakit maag dapat terjadi karena kelainan fungsional, pola
makannya akan lebih teratur selama puasa Ramadan. Pada saat
sahur dan berbuka, hidnari cemilan yang mengandung coklat,
keju, makanan berlemak dan berminyak.
Jauhi pula minuman yang mengandungsoda kopi serta rokok,
serta mengendalikan diri dari stres, merupakan faktor penting
yang membuat kondisi penderita sakit maag membaik selama
menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Penyakit Persendian
Gangguan pada sendi berupa pengapuran (osteoartritis),
terutama pada sendi lutut dan sendi tulang belakang, dapat
terbantu apabila berkurang berat badannya. Jika puasa Ramadan
dilaksanakan dengan baik, maka berat badan dapat dikontrol
dan dikurangi, sehingga akan memperbaiki keadaan penyakit
kronis yang ada. Hal ini dapat terwujud jika kaidah-kaidah
selama puasa dapat dilaksanakan dengan baik, yaitu tidak makan
dan minum yang berlebih-lebihan, serta banyak mengkonsumsi
buah dan sayur-sayuran, serta melakukan kegiatan olah raga
ringan.
Salah satu aktifitas fisik yang sangat baik, yaitu melaksanakan
shalat tarawih dan shalat malam yang bermanfaat membantu
membakar lemak di dalam tubuh jika dilakukan secara rutin.
mempunyai manfaat meningkatkan perubahan respon
ketahanan tubuh imunologik.

64 Meraih Ramadhan Terbaik


Diskon dan Penghapusan
Dosa

B
agi umat Nabi Muhammad  ada satu anugerah yang
sangat besar –dan tidak diberikan kepada umat
sebelumnya- yaitu berupa anugerah satu bulan
(Ramadan) yang di dalamnya banyak keistimewaan
dibandingkan dengan bulan lainnya. Bahkan Rasulullah 
Menyampaikan bahwa “Jika umatku tahu nilai yang ada dalam
bulan Ramadan, maka pasti mereka berharap seluruh bulan
menjadi bulan Ramadan”.
___________________ ___________________

Matematika Diskon
Betapa kayanya Allah dan betapa murahnya Allah .
Sebagaimana Rasulullah  bersabda, “Dalam bulan biasa,
pahala setiap kebajikan dilipatgandakan 10 kali lipat, namun
dalam bulan Ramadan pahala amalan wajib dilipatgandakan 70
kali lipat dan amalan yang sunah disamakan dengan pahala
amalan wajib di luar Ramadan." [HR Muslim]
Kalau dilihat dari logika matematika, kita akan dapat
menghitung berapa jumlah pahala, jika kita beramal. Di bulan

Meraih Ramadhan Terbaik 65


biasa beramal Rp 1.000 Allah  ganti dengan Rp 10.000 (10
kali lipat), maka pada bulan Ramadan Allah akan mengganti
dengan Rp 70.000 (70 kali lipat). Analoginya jika di surga
berharap mendapat rumah mewah seharga 1 milyar maka di luar
bulan Ramadan cukup beramal 100 juta saja, sedangkan khusus
pada bulan Ramadan cukup hanya beramal Rp 14,3 juta.
[Raswan, 2016].
Bayangkan jika umat sadar - dalam arti yakin dengan
seyakin-yakinnya akan janji Allah  ini - maka tidak akan ada
satupun dari mereka yang rela melewatkan satu detik dan
menitpun bulan Ramadan kecuali untuk dijadikan ibadah dan
amal.
Dan, diskon Allah  ini berlaku sepanjang Bulan Ramadan.

Amalan Penghapus Dosa, Penyebab Rahmat, dan Pembebas


dari Neraka
“Ramadan is not about losing Weight,
Its about losing Sins”
___________________ ___________________

Ramadan datang bukan menyusutkan berat badan,


melainkan menghilangnya Dosa-dosa’. Bagaimana bisa?
1) Shalat dan Puasa Ramadan Penebus Dosa
“Shalat lima waktu, hari jumat dengan jumat yang lainnya
dan antara Ramadan dengan Ramadan lainnya, adalah
sebagai penebus dosa selama tidak berbuat dosa besar.” (HR.
Muslim).
2) Mendapat Rahmat, Ampunan dan Pembebasan dari Neraka
Dari Salman Al-Farisi  berkata : Rasulullah ‫ ﷺ‬memberi
khutbah kepada kami di hari akhir dari bulan Sya’ban dan
bersabda:

66 Meraih Ramadhan Terbaik


َ ْ َْ ُ‫ى ى‬ ٌ َ ُ ‫ى ُّ َ َّ ُ َ ْ ى ى ه‬
‫اس قد اظلك ْم ش ْه ٌر َع ِظ ْي ٌم ُم َب َارك ِف ْي ِه ل ْيلة القد ِر خ ْْ ٌي‬ ‫ايهاالن‬
ً‫هللا َ َ ٗه َ ْ َ ا َوق َي َام ىل ْي ىلة َت َ ُّوع‬ ُ َ َ َ ْ َ ْ‫ْ ى‬
‫ط ا‬ ‫ة‬‫ض‬ ‫ي‬‫ر‬ ‫ف‬ ‫ام‬ ‫ي‬‫ص‬ ‫ل‬ ‫ع‬ ‫ج‬ ‫ر‬ ‫ه‬ ‫ش‬ ‫ف‬ ‫ل‬ ‫من ا‬
ْ‫ان ىك َمن‬ َ ‫ِْ َ ِ ْ َ ْ ى‬ ‫ِ َ ْ َ َ ِ َّ َ َ َ ٍ َّ َ ْ َ ْ ى‬
ِ
‫من تطوع (تقرب) فيه بخصلة من خصال الخ ْي ك‬
ْ‫ان ىك َمن‬ َ ‫ى َّ ْ َ ْ َ َ ْ َ ِ ِ َ ِ ُ َ َ ْ ِى َّ ِ ْ ِ َ ْ َ ا ِ ى‬
‫ ومن ادى فيه فريضة ك‬.‫ادى الف ِريضة ِفيما ِسواه‬
ُ ْ ْ ُ َ ُ ِ ٌ ْ َِ ِ َ ُ َ ُ َ ‫ى َّ َ ْ ْ نَ َ َ ا‬
‫ وهو شهر يزاد ِفي ِه ِرزق‬.‫ي ف ِر ْيضة ِف ْي َما ِسواه‬ ْ ‫ا ْدى سب ِع‬
ٌ ْ ٗ ُ ٰ َ ٌ َ ْ َ ٗ ُ َ ْ ‫َ ُ َ َ ْ ٌ ى َّ ُ ٗ َ ْ َ ٌ َ ى‬ ْ
‫ال ُمؤ ِم ِن وهوشهر اوله رحمة واوسطه مغ ِفرة وا ِخره ِعتق‬
َّ
‫ِم َن الن ِار‬
“Hai sekalian manusia akan datang bulan yang agung
(Ramadan) yaitu bulan yang penuh berkah di dalamnya.
Dalam bulan itu ada malam yang mulia (lailatul qadr) yang
lebih utama dari pada seribu bulan. Allah telah mewajibkan
puasa di bulan itu, dan shalat di malamnya sebagai ibadah
sunah. Barang siapa yang melakukan kebaikan (ibadah
sunah) di bulan itu pahalanya seperti melakukan ibadah wajib
dibanding bulan yang lainnya. Dan barang siapa melakukan
kewajiban di dalamnya, maka pahalanya seperti melakukan
70 kewajiban dibanding bulan lainnya. Bulan Ramadan
adalah bulan ditambahnya rizki orang mukmin, bulan di
awalnya menjadi rahmat, di tengahnya menjadi ampunan
dan di akhirnya merupakan kebebasan dari neraka”.
[HR. Ibnu Huzaimah: 1887, Al-Baihaqi: 7/216, DHAIF]
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari
dan Imam Muslim, Rasulullah ‫ ﷺ‬bersabda:
َّ
َ‫النار َس ْبع ن‬ َ ُ َ ْ َ ُ ‫َم ْن َص َام َي ْو ًما نف َسبيل ه َ َ ه‬
‫ي‬ ْ ِ ِ ‫ ب َّعد اَّلل وجهه ع ِن‬،‫اَّلل‬
ِ ِ ِ ‫ِي‬
ً َ
‫خ ِريفا‬
“Barangsiapa berpuasa sehari fi sabiilillaah (di jalan Allah),
maka Allah akan menjauhkan wajahnya (dan seluruh
raganya) dari api neraka sejauh 70 tahun perjalanan.”
[HR. Bukhari: 2840 dan Muslim: 1153]
___________________ ___________________

Meraih Ramadhan Terbaik 67


68 Meraih Ramadhan Terbaik
Program Menghidupkan
Ramadan

T
arget ibadah puasa secara khusus dan ibadah Ramadan
lainnya secara umum adalah terwujudnya peningkatan
takwa kepada Allah  dalam arti yang sesungguhnya
sebagaimana firman  dalam QS 2: 183. Oleh karena itu, dari
Ramadan ke Ramadan, dari satu ibadah ke peribadahan
berikutnya semestinya membuat muslim semakin takwa,
ibadahnya semakin berkualitas. Ibarat orang menaiki tangga,
maka dia sudah berada pada pijakan tangga yang lebih tinggi
sesuai dengan frekuensi peribadatannya. Manakala dari tahun
ke tahun ibadah Ramadan yang tunaikan tidak menunjukan
peningkatan taqwa kepada Allah , maka dikhawatirkan kalau
puasa tersebut tergolong puasa yang hanya merasakan lapar dan
haus saja, Rasulullah ‫ ﷺ‬bersabda: Betapa banyak orang yang
berpuasa, tapi tidak mendapatkan pahalanya, melainkan hanya
lapar dan haus saja [HR. Ahmad dan Hakim dari Abu Hurairah].
Merencanakan peningkatan prestasi ibadah pada bulan
Ramadan tahun ini dibandingkan Ramadan tahun-tahun
sebelumnya dapat diupayakan melalui penyusunan program
untuk pribadi, keluarga dan untuk dilakukan bersama-sama
dengan masyarakat.

Meraih Ramadhan Terbaik 69


Program Sendiri
Puasa adalah ibadah yang paling pribadi, personal atau
private tanpa orang lain mengetahui dan apalagi menilainya.
Sebagaimana Allah  firmankan dalam hadits Qudshi, “Puasa
adalah untuk-Ku semata, dan Aku lah yang menanggung
pahalanya”, artinya tidak ada yang tahu bahwa seseorang
berpuasa selain Allah  dan dirinya sendiri.
Program ibadah sepanjang Ramadan dan seluruh
peribadatan di dalam Islam harus diarahkan membentuk pribadi
yang selalu merasa dalam pengawasan Allah , menghargai
waktu, disiplin dan sebagainya, sehingga dari ibadah ini tercipta
perbaikan dan peningkatan hingga akhir hayat.

1. Meraih Lailatul Qadar


Berikut adalah amaliah yang dapat dilakukan, tidak hanya
khusus untuk menyongsong lailatul qadar, tetapi umum untuk
malam-malam lainnya.
- Mandi Malam
Para salafusshaleh dahulu menganjurkan untuk mandi di
setiap malam dari malam-malam yang sepuluh akhir
Ramadan. Diantara mereka ada yang mandi dan
menggunakan wangi-wangian di malam-malam yang
diharapkan terjadinya lailatul qadar di dalamnya. Mandi
dilakukan selepas Magrib. Tidak sepatutnya bagi seorang
yang bermunajat kepada Sang Penguasa (Allah swt) didalam
khalwatnya kecuali dia telah menghiasi keadaan lahir dan
batinnya.
- Shalat Isya dan Subuh Berjamaah
Imam Syafi’i dalam Al-Umm dari sekelompok ulama
Madinah dan dinukil pula sampai pada Ibnu ‘Abbas
disebutkan,

70 Meraih Ramadhan Terbaik


ْ‫َى ى‬ َ َ ِّ َ ُ ْ ‫ى َّ ْ َ َ َ َ ْ ُ ُ ى‬
‫العش َاء ِ ن يف َج َماعة َو َي ْع ِز ُم عَل أن‬ َ
ِ ‫أن ِ ِّإحياءها يحصل ِبأن يص ي‬
‫َل‬
َ َ ُّ َ َ ُ
‫الص ْﺒح ِ ن يف َج َماعة‬ ‫يص يَل‬
“Menghidupkan lailatul qadar bisa dengan melaksanakan
shalat Isya’ berjamaah dan bertekad untuk melaksanakan
shalat Shubuh secara berjama’ah.”
Sematara itu Imam Malik dalam Al-Muwatha’, mengatakan
Ibnul Musayyib berkata,
ْ ِّ َ َ‫َ ََ ْ ى‬ ْ َ َ‫َ َ ى ى‬
‫َم ْن ش ِهد ل ْيلة القد ِر ـ َي ْع ِ ن ين ِ ن يف َج َماعة ـ فقد أخذ ِب َحظ ِه ِمن َها‬
“Siapa yang menghadiri shalat berjama’ah pada malam
Lailatul Qadar, maka ia telah mengambil bagian dari
menghidupkan malam Lailatul Qadar tersebut.” [Lathaif Al-
Ma’arif: 329
Perkataan Imam Syafi’i dan ulama lainnya berdasarkan
hadits dari ‘Utsman bin ‘Affan , Nabi  bersabda,
‫ه‬ ‫ى ى‬ ُ‫َ ى َ ى‬ َ ْ َ َ
‫َم ْن ش ِهد ال ِعش َاء ِ نف َج َماعة كان له ِق َي ُام ِن ْص ِف ل ْيلة َو َم ْن َصَل‬
‫ى ى‬ ‫َ ى َ ىُ ى‬ َْ َ ْ
‫ال ِعش َاء َوالف ْج َر ِ نف َج َماعة كان له ك ِق َي ِام ل ْيلة‬
“Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya berjamaah, maka baginya
pahala shalat separuh malam. Siapa yang melaksanakan
shalat ‘Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya pahala
shalat semalam penuh.” (HR. Muslim no. 656 dan Tirmidzi
no. 221)
- Memperbanyak Doa dan Zikir
Setelah shalat sunnah ba’diyah Isya, melakukan zikir (ta’qib),
diantaranya dapat membaca istighfar 70 kali atau lebih.
Sebagaimana sabda Rasulullah ‫ﷺ‬, “Demi Allah, sungguh aku
beristighfar pada Allah dan bertobat padanya setiap hari
lebih dari 70 kali” [HR. Bukhari]. Lafaz yang dibaca semisal
(‫ )اﺳﺘﻐفر هللا و أتﻮب إليﻪ‬atau lainnya.
Aisyah  bertanya kepada Rasulullah ; “Wahai Rasulullah,
apa pendapatmu jika aku ketepatan mendapatkan malam

Meraih Ramadhan Terbaik 71


lailatul qodar, apa yang harus aku ucapkan?”, beliau
menjawab: “Ucapkanlah:
‫اللَّهُ َّم ان ََّك ُع ُف ٌّو َك ِر ٌمي ُ ُِت ُّب الْ َع ْف َو فَاع ُْف َع ِ ّن‬
ِ
(Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pema’af mencintai
kema’afan, maka ma’afkanlah daku).” [HASAN SHAHIH.
HR. Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850]
Sofyan at-Tsauri berkata,”Berdoa di malam itu lebih aku
sukai daripada melaksanakan shalat. Dan jika dia membaca
maka dia berdoa dan berharap kepada Allah didalam doanya
yang barangkali Allah  menyetujui permintaannya.
Memperbanyak doa lebih utama daripada melaksanakan
shalat yang tidak diperbanyak doa di dalamnya namun jika
dia membaca lalu berdoa maka itu baik.”
- Menghidupkan Malam seperti Siang
Sebagian ulama terdahulu salafusshaleh berpendapat bahwa
kesungguhan di (malam) lailatul qodr adalah juga seperti
kesungguhan di siang harinya dengan senantiasa
bersungguh-sungguh dalam beramal shaleh. Imam Syafi’i
berkata,”Dianjurkan agar kesungguhnyanya di siang hari
seperti kesungguhannya di malamnya.” Hal ini menunjukkan
anjuran bersungguh-sungguh di setiap waktu dari sepuluh
malam terakhir baik di siang maupun malam harinya.
Amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam
lailatul qadar berdasarkan hadits dari Abu Hurairah , dari
Nabi , beliau bersabda,
َْ َّ َ َ ُ ‫ُ ى‬ َ ‫َم ْن َق َام ىل ْي ىل َة ْال َق ْدر إ‬
ْ ‫يم ًانا َو‬
‫اح ِت َس ًابا غ ِف َر له َما تقد َم ِم ْن ذن ِب ِه‬ ِ ِ
“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar
karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-
dosanya yang telah lalu akan diampuni.” [HR. Bukhari no.
1901]

72 Meraih Ramadhan Terbaik


- Tabattul
Diantara ibadah yang paling mulia yang mendekatkan
dirinya kepada Allah swt pada waktu ini adalah tabattul
(Fokus dalam beribadah kepada Allah)
ۡ ۡ َ‫ٱذ ُك َر‬
٨َ‫ٱسمََربِكَوتب ذتلَإَِلۡهَِتبۡت ِيٗل‬
ۡ
ِ َ‫و‬
“Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya
dengan penuh ketekunan”. [QS. Al Muzammil: 8]
Menurut Ibnu Abbas dan Mujahid, Abu Sholih, ’athiyah,
waddihak, dan sadii: ‫ ( وتﺒﺘل إليﻪ تﺒﺘيال) ا‬artinya ikhlas untuk
beribadah. Dan Al-Hasan berkata: ihklas untuk beribadah.
Tetapi Nabi  melarang tabattul sampai memutuskan
hubungan dari manusia dan komunitas (seperti menempuh
jalan kependetaan untuk meninggalkan pernikahan, dan
menjadi pendeta di tempat-tempat sembahyang).
Bentuk tabattul, dalam konteks Ramadan adalah
meninggalkan perkataan sia-sia, meninggalkan debat,
obrolan, permainan gadget, beralih kepada kesibukan yang
bernilai ibadah, seperti i’tikaf atau menyendiri dan berhias
dengan munajat, berzikir dan berdoa kepada-Nya.
- Membaca Al-Qur`an
Menghidupkan malam lailatul qadar pun bukan hanya
dengan shalat, bisa pula dengan dzikir dan tilawah Al-
Qur’an. Al-Qur’an turun pada bulan Ramadan sebagaimana
firman Allah ,
ُ
‫شه َُرَرمضانََاَّليَأن ِزلََفِيهََِالقرآن‬
“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan
(permulaan) Al-Quran.” [Al Baqarah/2:185]
- I’tikaf
I’tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk ketaatan kepada
Allah, dan ini khusus di dalam masjid tidak sah selain masjid.

Meraih Ramadhan Terbaik 73


Ibnu Qudamah berkata, ‘I’tikaf tidak sah di selain masjid.
Kalau orang yang beri’tikaf laki-laki. Kami tidak tahu
diantara para ulama’ ada perbedaan dalam hal ini. Asal hal
itu adalah firman Allah  , ‘Dan janganlah engkau pergauli
(para wanita) sementara kamu semua dalam kondisi beri’tikaf
di dalam masjid.’
Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah  biasa
beri’tikaf pada setiap Ramadan selama 10 hari dan pada akhir
hayat, beliau melakukan i’tikaf selama 20 hari. [HR.
Bukhari]
Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dengan sanadnya dari Zuhri
dari Urwah dan Said bin Musayyab dari Aisyah  dalam
hadits :
‫ وال اﻋﺘكاف إال‬, ‫وأن الﺴﻨﺔ لﻠمﻌﺘكﻒ أن ال ﻳخرج إال لحاجﺔ اإلﻧﺴان‬
‫في مﺴجد جماﻋﺔ‬
“Sesungguhnya sunnah bagi orang beri’tikaf, tidak keluar
kecuali untuk keperluan orang. Dan tidak ada i’tikaf kecuali
di masjid (yang ada shalat) jama’ah.’ [‘Al-Mugni: 3/65].
Nabi  juga pernah beri’tikaf di 10 hari terakhir dari bulan
Syawal sebagai qadha’ karena tidak beri’tikaf di bulan
Ramadan. [HR. Bukhari & Muslim]
___________________ ___________________

2. Program 112 Juta Pahala


Membaca Ayat al-Qur’an yang pertama diturunkan Allah 
ke bumi adalah ‘iqra'’ yang berarti ‘bacalah’, berasal dari kata
qara'a, dalam kamus-kamus, kata ini memiliki arti yang
bermacam-macam, diantaranya adalah membaca, menganalisa,
mendalami, merenungkan, menyampaikan, meneliti.
Nazaruddin Umar (2016), mengemukakan makna iqra'
sebagai berikut:
• Makna iqra’ pada ayat pertama Surah al-Alaq artinya adalah
how to read, yaitu bagaimana cara kita membaca Alquran

74 Meraih Ramadhan Terbaik


dengan baik dan benar, serta dapat mengkhatamkannya.
"Meskipun tidak tahu artinya, tapi dapat pahala, insyaallah,"
kata Imam Masjid Istiqlal Jakarta tersebut.
• Iqra' yang kedua adalah how to learn, yang berarti tentang
bagaimana mendalami al-Quran dengan mengetahui artinya,
tafsirnya, bahkan takwil-nya.
• Iqra' yang ketiga adalah how to understand, yaitu bagaimana
menghayati kitab Allah  tersebut.
• Makna iqra' yang keempat, yaitu bagaimana menyingkap
(mukasyafah) tabir-tabir di dalam al-Quran.
Membaca al-Quran dalam pengertian mana pun, baik dari
pengertian sekadar melisankan terlebih menyingkap maknanya,
merupakan ibadah terbaik. Baik membaca dengan lancar
maupun terbata-bata.
Aisyah  meriwayatkan bahwasanya Rasulullah ‫ ﷺ‬bersabda,
َ ََ َ ُ ٌ ُ ‫ٌى‬ ‫ى‬ َ َ َ َ َ ُ ‫ى‬
‫الك َر ِام ال َ َي َرِة َوال ِذي َيقرا القران َو َيتتعت ُﻊ‬
ِ ‫الس ىف َرة‬ ‫الماهر ِبالقر ِان مﻊ‬
‫َ ُ َ َى َ ٌ ى‬
‫يه شاق له ا َجران‬ ِ ‫ِفيه وهو عل‬
“Orang yang ahli dalam al Qur’an akan berada bersama
malaikat pencatat yang mulia lagi benar, dan orang terbata-
bata membaca al Qur’an sedang ia bersusah payah
(mempelajarinya), maka baginya pahala dua kali.” [Hr.
bukhari, Nasa’I, Muslim, Abu Daud, Tarmidzi, dan ibnu
Majah]
Maksud ‘orang yang ahli dalam al Qur’an’ adalah orang yang
senantiasa membacanya, apalagi jika memahami arti dan
maksudnya. Dan yang dimaksud ‘bersama-sama malaikat’
adalah, ia termasuk golongan yang memindahkan al-Qur’an dan
Lauhil Mahfuzh, karena ia menyampaikannya kepada orang
lain melalui bacaannya. Dengan demikian, keduanya memiliki
pekerjaan yang sama. Atau bisa juga berarti, ia akan bersama
para malaikat pada hari kiamat kelak.

Meraih Ramadhan Terbaik 75


Orang yang terbata-bata membaca al-Qur’an akan
memperoleh pahala dua kali; satu pahala karena bacaannya, satu
lagi karena kesungguhannya mempelajari al Qur’an. Tetapi
bukan berarti pahalanya melebihi pahala orang yang ahli al
Qur’an. Orang yang ahli al-Qur’an tentu saja memperoleh
derajat yang istimewa, yaitu bersama malaikat khusus. Maksud
yang sebenarnya adalah, bahwa dengan bersusah payah
mempelajari al Qur’an akan menghasikan pahala ganda. Oleh
karena itu, jangan meninggalkan baca al-Qur’an, walaupun
mengalami kesulitan dalam membacanya.
Ikhtisar Program 112 Juta Pahala
Mulai lah dengan membuat target membaca al-Quran
minimal 1 juz per hari. Maka dalam 1 bulan, akan khatam
30 juz. Abdullah bin Mas’ud  berkata: “Rasulullah  bersabda:
‫ف‬
ٌ ‫ﺣﺮ‬ ُ ُ‫اْلَ َسنَةُ ﺑِ َﻌ ْش ِﺮ أ َْﻣثَ ِﺎِلَﺎ َلَ أَﻗ‬
ْ ‫ﻮل امل‬
َِّ ‫ﺎب‬
ْ ‫اَّلل ﻓَﻠَﻪُ ﺑِِﻪ َﺣ َسنَةٌ َو‬ ِ َ‫ﻣن ﻗَﺮأَ ﺣﺮﻓًﺎ ِﻣن كِﺘ‬
ْ َْ َ ْ َ
ِ ِ
‫ف‬ٌ ‫ف َوﻣ ٌﻴم َﺣ ْﺮ‬ ٌ ‫ف َوَلَ ٌم َﺣ ْﺮ‬ ٌ ‫َوﻟَ ِك ْن أَﻟ‬
ٌ ‫ف َﺣ ْﺮ‬
“Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya
satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan
dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak
mengatakan ‫ الم‬satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam
satu huruf dan Miim satu huruf.” [HR. Tirmidzi no. 6469].
Al-Quran terdiri dari 114 Surah, 6.236 ayat, 77.449 kata,
dan 320.014 huruf [menurut Ibn Katsir]. Sehingga 1 juz al-
Quran kurang lebih 10.910 huruf x 1 huruf x 10 kebaikan =
109.100 pahala per hari.
Belum lagi kalau dihitung sewaktu datang lailatul qadar,
apabila anda membaca rutin setiap hari 1 juz selama satu bulan,
maka pasti akan ketemu dengan lailatul qadar, sehingga
hitungannya akan menjadi:
- 109.100 pahala x 28 hari = 3.163.832 pahala kebaikan
- 109.100 pahala x 1.000 x 1 hari = 109.097.667 pahala

76 Meraih Ramadhan Terbaik


- Jadi total pahala yang terkumpul selama bulan Ramadan =
112.261.499 pahala kebaikan
Angka di atas hanya untuk memberikan gambaran, anda
tidak perlu menghitung pahala tersebut. Allah 
melipatgandakan pahala kepada siapa pun yang dikehendaki
dan memiliki kemauan.
Membaca al-Qur’an 1 juz kurang lebih 40-50 menit,
sehingga akan sangat mudah bagi yang sibuk membagi 1 juz
tersebut ke dalam 5 kali baca, masing-masing 10 menit. Ajak
lah keluarga, teman atau siapa pun agar tidak melewatkan
proyek besar ini.
Apakah saya bisa dan punya waktu?
Ada baiknya sejenak merenung tentang waktu yang berkah.
Alkisah, seorang guru berpesan kepada muridnya yang sudah
khatam belajar darinya, ia berpesan agar sang murid membaca
al-Qur’an 3 juz setiap hari, “jangan tinggalkan membaca Al
Qur'an ,Semakin banyak baca Al Qur'an urusanmu semakin
mudah”!
Sang murid yang akan mulai bekerja ini ragu, “membaca al-
Quran 3 juz paling tidak butuh 2 jam”, gumamnya dalam hati,
tetapi ia mengiyakan “Baik guru”, ia pun pamit pulang dan
berjumpa dengan keluarganya.
Esoknya adalah hari pertama ia bekerja. Butuh waktu 1 jam
perjalan pergi, ditambah 8 jam kerja di kantor yang padat, dan
1,5 jam perjalanan pulang. Benar-benar hari yang melelahkan.
Tetapi sedapat mungkin sisa waktu malam itu ia sempatkan
membaca al-Qur’an.
Pagi-pagi setelah subuh ia membaca 1 juz, siang selepas
dzuhur hanya seperempat juz, sore setelah Ashar seperempat
juz, sisanya 1,5 juz dibaca selepas Isya di rumahnya.

Meraih Ramadhan Terbaik 77


Satu hari, seminggu, sebulan ia mulai terbiasa membaca 3 juz
dalam satu hari, tanpa beban. Ia mulai berfikir untuk mencoba
menambah juz, kali ini targetnya adalah 5 juz.
“Aku bisa!” tekadnya dalam hati. Pagi hingga sore ia tetap
tidak menambah bacaan hanya mampu 1,5 juz saja, tetapi
malam hari ia tambah bacaan menjadi 3,5 juz. Hingga tercapai
sudah target 5 juz per hari.
Waktu perjalanan dari kantor ke rumah tetap 2,5 jam, waktu
bekerja tetap 8 jam sehari, tetapi ia mampu membaca 5 juz
sehari. Hari berganti dengan penuh berkah, tiada waktu yang
terlewati dengan sia-sia. Semua pekerjaan tuntas pada
waktunya, lancar dan berkah.
Kini... Ia telah menambah target bacaan, 10 juz dalam satu
hari. Tanpa mengurangi perjalanan dari rumah ke kantor yang
tetap 2,5 jam dan tidak mengurangi waktu bekerja yang tetap 8
jam sehari. Kenapa bisa?
Jawabannya karena waktunya berkah. Allah ‫ﷻ‬
menganugrahkan waktu yang berkah waktunya disibukkan
dengan membaca al-Qur’an.
Dari Abu Sa’id r.a. berkata, Rasulullah  bersabda, bahwa
Allah  berfirman dalam hadits qudshi:
ُ َ َ َ ‫َ َ ْ ىّ ى َ ُ ى‬ َ َ ُ ُ ُ ُ ‫َ َ َى‬
‫عط‬
‫فضلَ ما َا ِ ي‬ ‫كري ومسئل ِين اعطﻴته ا‬ ِ ‫قران عن ذ‬ ‫من شغله ال‬
ٌ َ ‫ى ى‬ َ َ ٌ ‫ْ ى نا َ َ ُ ى‬
.‫ضل اَّلل عَل خ ِلقه‬
ِ ‫آلم كف‬
ِ ‫آلم اَّلل عَل س ِائ ِر الك‬
ِ ‫السا ِئ ْلي وفضل ك‬
“Siapa yang disibukkan oleh al-Qur’an untuk berdzikir
kepada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka Aku berikan
kepadanya sesuatu yang lebih utama daripada yang Aku
berikan kepada orang-orang yang memohon kepada-Ku dan
keutamaan kalam Allah di atas seluruh perkataan adalah
seumpama keutamaan Allah atas makhluk-Nya.” [HR.
Tirmidzi, Dailami, dan Baihaqi].

78 Meraih Ramadhan Terbaik


3. Sedekah, Zakat dan Infaq
Sedekah dan berbuat baik kepada sesama manusia dengan
harta di bulan Ramadan lebih utama dari pada bersedekah di
bulan-bulan yang lain.
Dari Ibnu Abbas dia berkata:
ُ ‫ى َ ى‬ َّ َ َ ْ ‫ى َ َ ُ ُ ه َ ه ه ُ َ ى ْ َ َ ه َ ى‬
‫ َوكان أ ْج َود َما‬، ‫اس‬ ‫الن‬ ‫اَّلل صَل اَّلل علي ِه وسلم أجود‬ ِ ‫كان رسول‬
ْ‫ان َي ْل َق ُاه ِ نف ُك ِّل ىل ْي ىلة من‬
َ ‫نَ َ ْ َ ُ ْ ُ َ ى‬ َ َ ََ ‫َ ُ ُ ن‬
‫يكون ف رمضان ِح ْي يلقاه جييل وك‬
ِ
ُ َ ْ ‫َ َ َ َ ِ ي َ ُ َ ُ ُ ْ ُ ْ َ َ ى َ ُ ِ ُ ِ ه َ ه ه ُ َ ى ِ يْ َ َ ه َ ى‬
‫اَّلل صَل اَّلل علي ِه وسلم أجود‬ ِ ‫ر ْمضان فيد ِارسه ْالقرآنى فلرسول‬
ِّ ‫بال َخ ْْي ِم ْن‬
‫الري ـ ِـح ال ُم ْر َسل ِة‬ ِ ِ
"Rasulullah  adalah orang yang paling dermawan, dan
beliau sangat dermawan pada bulan Ramadan di saat Jibril
menjumpainya, dan Jibril menjumpainya setiap malam di
malam-malam bulan Ramadan sambil mengajarkan kepada
beliau Al Qur’an, maka Rasulullah  lebih dermawan dalam
kebaikan daripada angin yang berhembus."
[HR. Bukhari, no. 6 dan Muslim, no. 2308]
Imam Nawawi menjelaskan dalam hadits di atas terdapat
faedah-faedah diantaranya: anjuran memperbanyak sikap
dermawan di bulan Ramadan.
Bagi yang perhitungan zakatnya bertepatan di bulan
Ramadan atau setelah bulan Ramadan namun dia
mengeluarkannya di bulan Ramadan secara segera Ta’jil untuk
mendapatkan keutamaan zakat di bulan Ramadan, maka hal
semacam ini tidak ada larangan.
Dibolehkan mengeluarkan zakat sebelum berakhir satu
tahun dengan cara di-ta’jil atau disegerakan pembayarannya.
Yang dimaksud dengan ta’jil zakat adalah: penyaluran zakat
sebelum tiba jatuh temponya dengan membayarkan untuk masa
kurang dari dua tahun. Dasarnya adalah hadits dari Ali bin Abi
Thalib  bahwasanya Nabi  bersabda: Keluarga Abbas
menyegerakan pembayaran sadaqoh atau zakat untuk masa dua

Meraih Ramadhan Terbaik 79


tahun pembayaran." [HR. Abu Ubaid Al Qasim bin Sallam
dalam kitab Al-Amwal, no. 1885].
Adapun jika pembayaran zakatnya wajib dikeluarkan
sebelum bulan Ramadan (semisal bulan Rajab) kemudian
diakhirkan dan baru di bayarkan di bulan Ramadan, maka
hal semacam ini tidak dibolehkan, karena tidak diperkenankan
mengakhirkan pembayaran zakat dari waktunya kecuali
ada uzur. Prinsip zakat adalah dikeluarkan segera setalah
mencapai nisab, haul atau panennya, sebagaimana nash, “Dan
tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan
dikeluarkan zakatnya).” [QS. Al An’am: 141].
4. Umrah Ramadan setara Haji
Bagi yang mampu untuk umrah, lakukan lah di Bulan Ramadan.
tekad dan niat yang besar untuk melaksanakan sunnah-sunnah
Ramadan kendati terhalang oleh udzur berupa kelemahan fisik
dan harta. Seperti berangan-angan dan bertekad agar bisa
melaksanakan umroh saat Ramadan, atas dasar keyakinan akan
janji Rasulullah ‫ ﷺ‬dalam sabdanya kepada Ummu Sinan al-
Anshoriy :
‫ا‬ َ ‫َ َّ ُ ْ ا‬ َْ َ ُ َ ََ َ َ َ َ
‫يه ت ْع ِد ُل َح َّجة‬
ِ ‫ ف ِإن عم َرة ِف‬،‫ف ِإذا جاء رمضان فاعت ِم ِري‬
“Jika telah tiba Ramadan, maka umrah-lah. Karena
sesungguhnya umrah di bulan tersebut sama pahalanya
dengan menunaikan haji.
Para ulama berbeda pendapat tentang mereka yang
mendapatkan keutamaan yang disebutkan dalam hadits Ummu
Sinan di atas tersebut, ada tiga pendapat:
Pertama: Bahwa hadits tersebut khusus bagi wanita yang
diajak bicara oleh Nabi . Yang berpendapat seperti ini adalah
Said bin Jubair dari kalangan tabi'in. Dikutip oleh Ibnu Hajar
dalam Fathul Bari (3/605). Di antara dalil yang digunakan
untuk pendapat ini adalah riwayat dari Umma Ma'qal, dia
berkata, "Haji adalah pahala haji, umrah adalah pahala umrah.
Hal ini disampaikan Rasulullah kepadaku, dan aku tidak tahu

80 Meraih Ramadhan Terbaik


apakah itu khusus untuk aku atau untuk orang-orang secara
umum." (HR. Abu Daud, no. 1989]
Kedua: Keutamaan ini berlaku bagi orang yang telah niat
berhaji namun dia tidak mampu, kemudian diganti dengan
umrah di bulan Ramadan. Maka di sana berkumpul niat haji
dengan menunaikan umrah dan pahalanya adalah pahala haji
sempurna bersama Nabi . Ibnu Rajab berkata "Ketahuilah,
bahwa siapa yang tidak kuasa melakukan sebuah kebaikan, lalu
dia menyayangkannya dan ingin mendapatkannya, maka dia
sama pahalanya dengan orang yang melakukannya… kemudian
dia menyebutkan contohnya, di antaranya; Sebagian wanita
tidak berkesempatan menunaikan haji bersama Nabi shallallahu
alaihi wa sallam, maka ketika beliau datang wanita tersebut
bertanya apa yang dapat menggantikan haji tersebut. Maka
beliau berkata, "Lakukanlah umrah di bulan Ramadan, karena
umrah di bulan Ramadan, sama denga menunaikan haji, atau
haji bersamaku." [Lathaiful Ma'arif: 249]
Ketiga: Pendapat para ulama dalam empat mazhab dan yang
lainnya, bahwa keutamaan dalam hadits ini bersifat umum bagi
siapa saja yang umrah di bulan Ramadan. Umrah di dalamnya
sama dengan haji bagi siapa saja. Karena itu bagi yang memiliki
kelapangan dan rezeki, liburan Ramadan adalah saat yang tepat
untuk melakukan Umrah senilai pahala haji.
___________________ ___________________

5. Bolehkah Berhenti Merokok?


“Merokoklah selagi sehat dan berhenti sebelum mati”
[Bukan hadits]
___________________ ___________________

Tidak diketahui siapa yang mencetuskan kaidah itu. Apapun


alasannya, merokok menurut logika umum bukan lah sesuatu
yang ‘baik’ –untuk tidak mengatakan buruk.

Meraih Ramadhan Terbaik 81


Jujur lah.. “Betul!, memang merokok itu merugikan, secara
kesehatan maupun finansial, karena itu kalau mau konsisten
menerapkan maqashid syariah, sudah dari dahulu rokok
diharamkan oleh sebagian kalangan –makruh menurut sebagian
yang lain.
Berhenti merokok? Tidak mudah. Kenapa?
Para peneliti mengungkapkan “Nikotin” yang terkandung
dalam tembakau menjadi alasan utama sulit menghentikan
kebiasaan merokok. Nikotin adalah bahan kimia yang
menimbulkan ketagihan. Semakin banyak dihisap semakin
besar ketergantungan kepada zat ini.
Nikotin, berkhasiat menimbulkan rangsangan sensasi “enak
dan nyaman” yang berpusat pada otak. Sehingga pada saat
pasokan nikotin dihentikan, otak mulai memerintahkan
perokok untuk menyalakan sebatang lagi. Karena otak sedang
merindukan sensasi “enak dan nyaman” tersebut. [Zika, 2016]
Ketagihan nikotin diindikasikan dengan gejala-gejala yang
mirip dengan gejala sakaw. Orang yang mencoba berhenti
merokok setidaknya akan merasa tidak nyaman, seperti ‘susah
tidur (karena otaknya belum “nyaman”, lemah/letih, tidak
bersemangat, sulit konsetrasi, bahkan mudah tersinggung.
___________________ ___________________

Ramadan adalah momentum, saat yang tepat untuk


berhenti merokok!

Program Sekeluarga
Keluarga Islami adalah keluarga yang anggota-anggota
bukan hanya status keagamaannya sebagai muslim, tapi juga
dapat menunjukkan keislaman dalam kehidupan sehari-hari,
baik dalam hubungannya kepada Allah Swt maupun dengan
sesama anggota keluarga dan tetangganya. Dari sini akan
terpancar sinar kemuliaan keluarga dalam kehidupan

82 Meraih Ramadhan Terbaik


masyarakat, karena dari keluarga yang islami itulah akan
terwujud nantinya masyarakat yang islami. Oleh karena itu
menjadi penting bagi setiap muslim untuk memperbaiki dan
menata keluarga dengan sebaik-baiknya.
Dalam konteks bulan Ramadan, memperbaiki keislaman
keluarga bisa kita lakukan dengan lebih menkondisikan suasana
pengamalan ajaran Islam dalam keluarga seperti tadarrus dan
tadabbur (mengkaji) Al-Qur’an, sahur bersama, buka puasa
bersama, tarawih bersama yang disertai ceramah dan
memperkokoh hubungan dengan sesama anggota keluarga
karena suasana kumpul bersama keluarga di rumah pada bulan
Ramadan relatif lebih banyak sehingga tercipta keakraban dan
keharmonisan hubungan antar keluarga yang berdampak sangat
positif dalam upaya memperbaiki keislaman anggota keluarga.
Ramadan merupakan momentum yang sangat baik untuk
memperbaiki keislaman anggota keluarga. Misalnya anggota
keluarga yang belum bisa membaca Al-Qur’an bisa
dikembangkana kemampuannya membaca Al-Qur’an, begitu
juga dengan pemahaman dan pengamalannya. Memperbaiki
keislaman keluarga merupakan tanggung jawab bersama,
khususnya bagi seorang suami atau bapak. Seorang bapak harus
memperbaiki keislaman dirinya terlebih dahulu baru
memperbaiki keislaman keluarganya. Keluarga harus di-
islamisasikan terlebih dahulu sebagaimana firman Allah yang
artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah
manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar,
yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan (QS 66:6).
Berikut adalah program keluarga yang bisa dilakukan secara
bersama keluarga:

Meraih Ramadhan Terbaik 83


1. Itikaf bersama Keluarga
I’tikaf disyari’atkan dilaksanakan di masjid berdasarkan
firman Allah Ta’ala,
َ ُ َ ْ ُ ْ ‫َ َ ُ َ َ ُ ُ َّ َ ى‬
َ ‫ون نف ْال َم‬
‫اج ِد‬
ِ ‫س‬ ‫اشوهن وأنتم ع ِاكف ِ ي‬ ِ ‫ول تب‬
(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu
beri’tikaf dalam masjid.” (QS. Al Baqarah [2]: 187)
Menurut mayoritas ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua
masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya)
“Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”.
Dibolehkan bagi wanita untuk melakukan i’tikaf
sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan
istri tercinta beliau untuk beri’tikaf. [HR. Bukhari & Muslim].
Namun wanita boleh beri’tikaf di sini harus memenuhi 2 syarat
yaitu: 1) diizinkan oleh suami dan 2) Tidak menimbulkan fitnah
atau masalah bagi laki-laki. [Fiqh Sunnah II/151-152]
Waktu Minimal Lamanya I’tikaf
I’tikaf tidak disyaratkan harus dengan puasa. Karena Umar
 pernah berkata kepada Nabi , “Ya Rasulullah, aku dulu
pernah bernazar di masa jahiliyah untuk beri’tikaf semalam di
Masjidil Haram?” Lalu Nabi  mengatakan, “Tunaikan
nadzarmu.” Kemudian Umar beri’tikaf semalam. [HR. Bukhari
dan Muslim]. Dan jika beri’tikaf pada malam hari, tentu tidak
puasa. Jadi puasa bukanlah syarat untuk i’tikaf. Maka dari hadits
ini boleh bagi seseorang beri’tikaf hanya semalam.
Yang Membatalkan I’tikaf
Beberapa hal yang membatalkan i’tikaf adalah: 1) Keluar dari
masjid tanpa alasan syar’i atau tanpa ada kebutuhan yang mubah
yang mendesak (misalnya untuk mencari makan, mandi junub,
yang hanya bisa dilakukan di luar masjid), 2) Jima’ (bersetubuh)
dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah: 187. [Shohih Fiqh
Sunnah II/155-156]

84 Meraih Ramadhan Terbaik


Perbanyaklah dan sibukkanlah diri dengan melakukan
ketaatan tatkala beri’tikaf seperti berdo’a, dzikir, dan membaca
Al Qur’an. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengisi
hari-hari kita di bulan Ramadan dengan amalan sholih yang
ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi .
___________________ ___________________

2. Jaga Malam Sekeluarga


Berdasarkan hadits Abu Dzar bahwa Nabi  melaksanakan
shalat malam bersama mereka (kaum muslimin) pada malam 23
dan 25. Disebutkan bahwa beliau  mengajak keluarga dan
istri-istrinya pada malam 27 secara khusus. Hal ini
menunjukkan kesungguhan beliau membangunkan mereka di
hari-hari ganjil yang diharapkan terjadi didalamnya Lailatul
Qodr. Hal ini dibuktikan sendiri oleh Aisyah dan disampaikan
melalui haditsnya:
َ ‫كان رسول هللا صَل هللا عليه وسلم اذا دخل‬
‫العش احيا الليل‬
‫وايقظ اهله وشد ن‬
‫المير‬
Apabila Rasulullah  memasuki malam sepuluh terkahir
bulan Ramadan, beliau beribadah dengan sungguh-sungguh
serta membangunkan anggota keluarganya.
Sofyan Tsauriy mengatakan,”Aku menginginkan jika telah
masuk sepuluh hari terakhir melaksanakan shalat malam dan
bertahajjud didalam serta membangunkan keluarga dan anakna
untuk melaksanakan shalat jika mereka sanggup
melaksanakannya.”
___________________ ___________________

3. Sedekah keluarga
Siapkan lah satu wadah yang berfungsi untuk celengan
keluarga, setiap anggota keluarga diajarkan untuk menyimpan
kelebihan uang dari seluruh anggota keluarga. Apabila sudah
penuh ajaklah anak anda untuk menginfakaannya ke masjid,

Meraih Ramadhan Terbaik 85


lembaga Ziswaf atau pun disalurkan langsung kepada yang
berhak.
Usahakan Ibu dan Bapak sesering mungkin memberi teladan
dengan mengisi kotak amal saat di mesjid, mengajak anak-anak
ke panti asuhan atau memberi makan kaum dhuafa. Dengan
begitu mereka akan terpacu untuk mengikuti jejak orang tuanya.

Program Bersama (Jama’i)


Wujud program bersama yang dapat dilakukan oleh seluruh
elemen masyarakat yang berkepribadian Islami diantaranya:

1. Tarawih
Secara bahasa kata tarawih (‫ )تراويح‬adalah bentuk jamak dari
tarwihah (‫ )ترويحة‬yang artinya istirahat. Dinamakan demikian
karena pada asalnya adalah nama untuk duduk yang mutlak, duduk
yang dilakukan setelah menyelesaikan 4 rakaat shalat di malam
bulan Ramadan disebut tarwihah, karena orang-orang beristirahat
setiap empat rakaat. [Lisanul ‘Arab: 2]
Secara syariah, shalat Taraweh adalah sunnah yang hanya
dilakukan pada malam bulan Ramadan, dengan dua rakaat-dua
rakaat, dimana para ulama berbeda pendapat tentang jumlahnya.
Pendapat Pertama
Dasar hukum dalil pelaksanaan tarawih bagi sebagian ulama
adalah sama dalil shalat malam/tahajjud (witir). Hadits-hadits
tentang shalat tahajjud (witir) memang menyebutkan bahwa beliau
SAW tidak pernah shalat malam lebih dari 11 rakaat. Baik di
dalam Ramadan maupun di luar Ramadan.
Bagi kelompok ini, tarawih itu hanya nama atau sebutan saja.
Intinya adalah shalat malam, kalau di luar bulan Ramadan disebut
tahajjud. Sedangkan kalau di luar Ramadan disebut dengan
tarawih. Maka mereka mengatakan bahwa jumlah bilangan rakaat
shalat tarawih adalah 11 rakaat.

86 Meraih Ramadhan Terbaik


Pendapat Kedua
Di sisi lain, ada lagi sebagian dari ulama yang mengatakan dalil
shalat tahajjud (witir) berbeda dengan shalat tarawih. Buat mereka,
tarawih adalah jenis shalat khusus di luar shalat tahajjud. Mereka
menerima hadits-hadits tentang shalat malamnya Rasulullah saw
yang tidak pernah lebih dari 11 rakaat. Tetapi buat mereka, bukan
dalil untuk shalat tarawih, melainkan shalat witir atau sering juga
dikatakan dengan shalat tahajjud. Sehingga jumlah bilangan rakaat
tawarih bukan 11 rakaat.
Untuk shalat tarawih secara khusus yang memang hanya ada di
bulan Ramadan, mereka menggunakan dalil dari apa yang
dikerjakan oleh seluruh shahabat Nabi  di masa Umar bin
Khattab  yaitu shalat tarawih seusai shalat Isya' sebanyak 20
rakaat.
Saat itu Umar  melihat bahwa umat Islam shalat tarawih
sendiri-sendiri, lalu beliau mengatakan bahwa alangkah baiknya
bila mereka tidak shalat tarawih sendiri-sendiri, tapi di belakang
satu imam yaitu Ubay bin Ka'ab . Dan riwayat yang mereka
tetapkan adalah bahwa jumlah rakaat shalat tarawihnya para
shahabat saat itu adalah 20 rakaat.
Sedangkan jumlah shalat tarawih yang dilakukan oleh nabi 
yang hanya 2 malam saja, lalu setelah itu tidak dikerjaan lagi,
ternyata semua riwayatnya tidak menyebutkan jumlah rakaatnya.
Kalau pun ada, para hali hadits mengatakan bahwa semua hadits
yang menyebutkan beliau shalawat tarawih (bukan shalat
tahajjud/witir) 11 rakaat semuanya hadits palsu. Termasuk juga
yang menyebutkan bahwa beliau shalat tarawih 20 rakaat.
___________________ ___________________

2. Proyek 60 Kali Haji dan 30 Kali Umrah


Ada banyak ibadah di dalam Islam yang terlihat sederhana
dan tidak sulit dikerjakan, tetapi Allah  memberikan pahala
besar, yakni pahala setara haji dan umrah.

Meraih Ramadhan Terbaik 87


Proyek #1 : 30 kali haji dan umrah.
Syaratnya lakukan zikir setelah shalat shubuh berjamaah
sampai terbit matahari, setelah itu lakukan shalat dua rakaat
(Shalat Isyraq). Hal ini berdasarkan riwayat dari Anas bahwa
Rasulullah  berkata:
‫صلَّى‬ َ ‫سث ُ َّم‬ َّ ‫ّللا َحت َّىت َطلُ َع ال‬
ُ ‫شم‬ ُ ‫ع ةث ُ َّمقَعَ َديَذ‬
َ َّ ‫ك ُر‬ َ ‫صلَّى الغَ َداة َفِى َج َما‬
َ ‫َمن‬
ُ ‫قَا َلقَا َل َر‬.‫ع م َرة‬
ِ َّ ‫سو ُل‬
‫ ت َا َّم ةت َا َّم ة‬ ‫ّللا‬ ُ ‫َركعَتَي ِن كَانَتلَ هُ كَأَج ِر َح َّج ة َو‬
‫ت َا َّم ة‬
“Siapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu
ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit,
kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti
memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda,
“Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” [HR.
Tirmidzi, no. 586, Hasan Shahih]
Tata Cara Pelaksanaan Shalat Isyroq
- Shalat isyroq dilakukan sebanyak dua raka’at. Gerakan dan
bacaannya sama dengan shalat-shalat lainnya.
- Berdasarkan riwayat yang telah dikemukakan, shalat isyroq
disyariatkan bagi orang yang melaksanakan shalat jama’ah
shubuh di masjid lalu ia berdiam untuk berdzikir hingga
matahari terbit, lalu ia melaksanakan shalat isyroq dua
raka’at.
- Ketika berdiam di masjid dianjurkan untuk berdzikir. Dzikir
di sini bentuknya umum, bisa dengan membaca Al
Qur’an,membaca dzikir, atau lebih khusus lagi membaca
dzikir pagi.
- Waktu shalat isyroq sebagaimana waktu dimulainya shalat
Dhuha yaitu mulai matahari setinggi tombak (sekitar 15-20
menit setelah matahari terbit).
Bolehkan untuk perempuan?
Syaikh Ibn Baz berkata, “Jika wanita duduk di tempat
shalatnya setelah shalat Shubuh lalu berdzikir pada Allah,

88 Meraih Ramadhan Terbaik


membaca Al-Qur’an, sampai matahari meninggi, lalu ia
melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia mendapatkan pahala
yang dijanjikan dalam shalat isyroq, yaitu akan dicatat
mendapatkan pahala haji dan umrah yang sempurna.”
Jadi shalat ini boleh pula dilakukan oleh perempuan di
rumahnya. Tunggu apa lagi? Ini kesempatan bagi kaum
perempuan untuk mendapatkan pahala haji dan umrah dengan
shalat isyraq asalkan tidak melalaikan aktivitas wajib di rumah.
Apabila rutin dilakukan sepanjang 1 bulan, maka anda
memperoleh pahala setara 30 kali haji dan umrah.
Proyek #2 : 30 kali haji yang sempurna
Tidak hanya ibadah shalat yang mendapatkan pahala haji
dan umrah, menuntut ilmu dan mengajar di masjid pun
diberikan pahala ibadah haji. Sebagaimana penjelasan dari
riwayat Abu Umamah bahwa Rasul  berkata.
‫ كان له كأجر‬،‫خيا أو يعلمه‬
ْ ‫من غدا إىل المسجد ليريد إل أن يتعلم‬
‫حاج تاما حجته‬
“Siapa yang berangkat ke masjid hanya untuk belajar kebaikan
atau mengajarkannya, diberikan pahala seperti pahala ibadah
haji yang sempurna hajinya,” [HR At-Thabarani: 86].
Apabila rutin dilakukan minimal 1 kali setiap hari sepanjang
1 bulan, maka anda memperoleh pahala setara 30 kali haji yang
sempurna.
___________________ ___________________

Meskipun kedua amalan di atas diberikan pahala ibadah haji


dan umrah, bukan berarti orang yang mengerjakan amalan
tersebut tidak diwajibkan haji dan umrah. Kewajiban haji dan
umrah tetap berlaku bagi siapapun. Pahala ketiga amalan di atas
diserupakan dengan pahala ibadah haji dan umrah bertujuan
untuk memotivasi (targhib) umat Islam untuk melakukannya
lebih giat dan menerus.
___________________ ___________________

Meraih Ramadhan Terbaik 89


3. Dakwah bil hal
Kewajiban untuk mengajak kepada kebaikan dituntut
Diantara aktivitas yang bisa kita lakukan untuk mengkondisikan
masyarakat untuk menyambut Ramadan antara lain:
1. Pemasangan spanduk dan stiker penyambutan Ramadan
dengan slogan-slogan yang menumbuhkan semangat
beribadah Ramadan dengan segala aktivitasnya
2. Menyelenggarakan tabligh akbar, membentuk panitia
kegiatan Ramadan di masjid, mushalla dan kerohanian
Islam baik di kantor, kampus maupun sekolah dan klub-
klub seperti olah raga, kesenian dll dengan mencanangkan
sejumlah program dan sebagainya.
3. Menyambut Ramadan juga dapat dilakukan oleh para
pengelola media massa, baik cetak maupun elektronik
dengan menyiapkan acara dan rubrik Ramadan yang
berkualitas.
4. Manfaatkan akun jejaring sosial, facebook, twitter,
whatsapp, youtube, instagram dan sejenisnya untuk
berbagi ajakan kepada kebaikan dan mengingatkan
sesama muslim. Ini juga saatnya anda menulis sendiri
bahan untuk share. Kutip lah buku, kitab yang otoritatif,
tetapi hindari membahas perkara ikhtilaf (hal-hal yang
masih diperdebatkan para ulama). Dengan mengutip dari
sumber aslinya, anda akan terhindar dari hoax dan fitnah,
selain itu anda memperoleh tambahan ilmu.
5. Tegasnya semua pihak dari kaum muslimin harus
mempersiapkan diri menyambut kedatangan Ramadan
tahun ini dengan perencanaan yang matang, untuk itu
mutlak keharusan pembentukan panitia kegiatan
Ramadan agar aktivitas Ramadan bisa dilaksanakan
dengan baik.
___________________ ___________________

90 Meraih Ramadhan Terbaik


Perlombaan dan Aktivitas Sosial
Menyemarakkan Ramadan dengan berbagai aktivitas yang
dapat mendekatkan diri kepada Allah  dan bernilai sosial
dapat ditumbuhkan secara bersama.
1. Perlombaan
Berlomba dalam kebaikan dipupuk dengan menumbuhkan
kecintaan terutama bagi kalangan remaja dan anak-anak.
Lomba yang dapat diselenggarakan seperti lomba azan,
KULTUM (Kuliah Tujuh Menit), lomba tahfidz dan lain
sejenisnya.
2. Pelatihan
Ramadan saat yang tepat untuk mengadakan pelatihan-
pelatihan meningkatkan kualitas ibadah seperti : Paltihan
pengurusan jenazah, pelatihan khatib dan muballigh,
pengelolaan perpustakaan masjid, manajemen masjid,
mengurus jenazah, pengelolaan zakat, pengelolaan baitul
maal wat tamwil (BMT) dan sebagainya yang kesemua itu
juga dimaksudkan untuk meningkatkan pemakmuran masjid
dan sebagainya.
Manakala sejak dini, aktivitas Ramadan telah kita
rencanakan dengan matang dan kita laksanakan pada waktunya
dengan baik, niscaya banyak manfaat yang kita peroleh dalam
upaya menyelamatkan diri, keluarga dan masyarakat dari
sejumlah krisis yang selalu menghantui
___________________ ___________________

4. Saling memaafkan
Meminta maaf itu sulit.. tetapi lebih sulit memberi maaf..
Manusia adalah makhluk yang tidak luput dari dosa dan
salah, maka dari itu harus sering diingatkan agar saling
memafkan.

Meraih Ramadhan Terbaik 91


- Evaluasi diri. Apabila pada hari itu, minggu itu atau tahun
itu ada orang lain yang melukai hati kita, maka sedapat
mungkin maafkan lah dia sebelum ia meminta maaf.
- Sadar diri. Meskipun tidak merasa punya kesalahan kepada
orang lain, tidak ada salahnya meminta maaf apabila ada
ucapan yang tidak disengaja, perilaku atau sekadar status di
media sosial yang menyinggung perasaan orang lain.
Manfaatkan momentum Ramadan untuk meminta maaf.
- Menahan diri. Puasa berarti ‘imsak’ yakni menahan diri dari
amarah. Apabila belum bisa memaafkan setidaknya diam,
dan lupakan. Ingat lah Allah  memuji orang yang menahan
marah (al-kadziminal ghaiz) dalam dalam firman-Nya:
ُ ُ
ِ ‫اَللَُي ُِبَال ُمح‬
َ‫سن ِي‬ ِ ‫والَك ِظ ِميَالَغيظَوالعاف ِيَع ِنَال‬...
‫اسَو‬
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya serta
memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-
orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali ‘Imran:134)”[10].
- Diam, duduk atau berbaring
Apabila ada kekesalan, kekecewaan berbuah emosi maka
tahan lah marah. Abdullah bin ‘Abbas  berkata bahwa
Rasulullah  bersabda, “Jika salah seorang dari kalian marah
maka hendaknya dia diam”. [HR Ahmad: 1/23].
“Jika salah seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri
maka hendaknya dia duduk, kalau kemarahannya belum
hilang maka hendaknya dia berbaring”. [HR Abu Dawud:
4782, Ahmad: 5/152]
- Damaikan.
Mendamaikan yang berselisih agar saling memaafkan akan
mendatangkan kasih sayang Allah .

92 Meraih Ramadhan Terbaik


ُ ‫ذ‬ ‫ذُ ذ‬ ُ ‫ذ‬
َ‫إِنمَاَال ُمؤم ُِنونَإِخوةٌَفأصل ُِحواَبيَأخويكمَواتقواَاَللَلعلكم‬
َ‫َحون‬ُ ‫تُر‬
“Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara, karena
itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih)
dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
[QS.Al-Hujurat:10]
- Letakkan Marah Pada Tempatnya
Bukan tidak boleh marah, terlebih pada urusan kebaikan.
‘Aisyah  berkata, “Rasulullah  tidak pernah marah karena
(urusan) diri pribadi beliau, kecuali jika dilanggar batasan
syariat Allah, maka beliau  akan marah dengan pelanggaran
tersebut karena Allah”. [HR. Bukhari: 3367, Muslim:2327]
___________________ ___________________

5. Buka Puasa Bersama


Buka puasa sebagai bagian dari aktivitas di bulan Ramadhan,
juga merupakan upaya meraih hikmah hikmah sosial seperti adanya
tuntutan bersedekah, mempererat emosionalitas (ukhuwah)
dengan sesama muslim, famili atau rekan kerja, meningkatkan
semangat membantu orang lain, menjadi media fastabiqul khairat
(berlomba-lomba dalam kebaikan) dengan di dalam buka bersama
terdapat kegiatan ibadah secara kolektif, dan lain-lainnya.
Unsur positif buka puasa bersama, ini harus dijaga agar jangan
sampai menimbulkan kerugian, semisal menimbulkan tumpukan
sampah apabila digelar di tempat umum, terlebih masjid atau
tempat ibadah lainnya.

Etika Makan di Masjid


Ulama berbeda pendapat tentang hukum makan di masjid. Ada
yang membolehkan atau melarang. Secara ringkas dijelaskan
berikut.

Meraih Ramadhan Terbaik 93


- Pendapat Pertama, Boleh makan di masjid.
An-Nawawi ulama Syafiiyah mengatakan:
‫ال بأس ابللك والرشب يف املسجد ووضع املائدة فيه وغسل اليد فيه‬
”Tidak mengapa makan dan minum di masjid, meletakkan
makanan di masjid, dan mencuci tangan di masjid.” [al-Majmu’
Syarh Muhadzab, 2/174].
Demikian pula dinyatakan Al-Buhuti (w. 1051 H). mereka
mengambil dalil hadis dari Abdullah bin Harits :
ْ
‫ن صَل هللا عليه وسلم ِ ن يف ال َم ْس ِج ِد‬
َّ
ِّ ‫الن‬ ‫د‬ ‫ه‬ْ ‫ُك َّنا َن ْأ ُك ُل َع ىَل َع‬
‫ِي‬ ِ ‫ه‬ ُ ْ
‫الخ ْ نَي َوالل ْح َم‬
“Kami makan roti dan daging di dalam masjid, di zaman
Nabi .” [HR. Ibnu Majah. Kasyaf al-Qana’, 2/371].
- Pendapat Kedua, Bersyarat.
Ulama mazhab Maliki membedakan antara makan ringan
kering dengan makanan yang lainnya. Mereka membolehkan
makan di masjid untuk makanan yang ringan dan kering, seperti
kurma atau yang lainnya. Sementara makanan yang lebih berat
dari pada itu, tidak boleh dimakan di masjid, kecuali dalam
keadaan darurat.
Imam Malik membenci makan daging atau semacamnya di
masjid. Ibnul Qosim menambahkan, ’Termasuk juga makan di
teras masjid. Sedangkan orang yang puasa, yang dia diberi
Sawiq (adonan kurma dan tepung) atau semacamnya, atau
semua makanan ringan, hukumnya tidak masalah.’ [al-Muntaqa
Syarh al-Muwatha, 1/311].
Intinya makanan dan minuman pada saat berbuka puasa tidak
boleh sampai mengotori masjid, sehingga mengakibatkan
terganggunya tempat shalat.
___________________ ___________________

94 Meraih Ramadhan Terbaik


6. Takbiran
Takbir adalah mengucap kalimah “Allahu Akbar”. Untuk
menunjukkan keberhasilan ibadah Ramadan, maka puasa
Ramadan diakhir dengan takbir, tahlil dan tahmid yang
merupakan kalimat tauhid. Perintah ini terdapat dalam firman
Allah :
ُ ‫ذ‬ ُ
َ‫لَع َما َهدىٰك ۡم َولعلك ۡم‬
‫ذ‬
ٰ َ ‫َلل‬ ُ ‫ك ِملُوا َٱلۡع ذِدةَ َوِلِ ُك‬
َ ‫ّبوا َٱ‬
ۡ ُ
ِ‫وِل‬...
ِ
ُ ۡ
١٨٥َ‫ك ُرون‬ َ ‫تش‬
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan
hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya
yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”. [Al-
Baqarah/2: 185].
Mayoritas ulama mengatakan bahwa ayat di atas adalah
perintah untuk bertakbir di akhir Ramadhan. Mengenai waktu
takbir tersebut, para ulama berbeda pendapat.
- Takbir dilakukan sepanjang malam ketika idul fitri
- Dimulai ketika melihat hilal Syawal hingga berakhirnya
khutbah Idul fitri
- Dimulai ketika imam keluar untuk melaksanakan shalat ied
- Pada saat hari Idul fitri
- Takbir ketika keluar dari rumah menuju tanah lapang hingga
imam keluar untuk shalat ‘ied
- Menurut pendapat Mazhab Hanifah, takbir tersebut adalah
ketika Idul Adha dan ketika Idul Fitri tidak perlu bertakbir
(Fathul Qodir: 1/239].
Seorang muslim yang telah mencukupkan (menunaikan)
ibadah puasa, maka dia memiliki tauhid yang mantap, dengan
tauhid yang mantap itu dia selalu mengutamakan Allah  dan
selalu terikat pada nilai-nilai yang diturunkan-Nya. Karena itu
orang yang tauhidnya mantap, akan selalu menjalani kehidupan

Meraih Ramadhan Terbaik 95


yang sesuai dengan ketentuan Allah , mencintai Allah  di
atas segala-galanya serta tunduk dan taat kepada-Nya.

Takbir Keliling dan Bersama-sama Bid’ah?


Menurut ulama salafi-wahabi, seperti Syeik bin Baz, Syekh
Utsaimin, bahwa takbir bersama-sama pada hari-hari Ied tidak
disyariatkan. Ajaran sunnah dalam takbir ini, ialah setiap orang
bertakbir dengan suara yang keras. Masing-masing bertakbir
sendiri.
Dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia dan Majelis Tarjih
Muhammadiyyah, disebutkan bahwa praktek membaca takbir
dua hari raya, sesungguhnya dapat ditemukan contohnya dari
riwayat-riwayat para Sahabat. Dalam riwayat Imam Asy-Syafi’i
‫ َو ِِف ِر َواي َ ٍة‬.‫َح ِديْ ُث ا ْب ِن ُ َُع َر َأن َّ ُه ََك َن ا َذا غَدَ ا ا ََل الْ ُم َص ََّّل َك َّ ََّب فَ َرفَ َع َص ْوتَ ُه ِابلتَّ ْكب ْ ِِْي‬
ِ ِ
‫ََك َن يَغْدُ و ا ََل الْ ُم َص ََّّل َح ََّّت ا َذا َجلَ َس ْاال َما ُم تَ َركَ التَّ ْكب ْ َِْي‬
ِ ِ ِ
Hadits dari Ibnu Umar (yang memberitakan) bahwa apabila
ia berangkat ke tempat shalat ia membaca takbir dan ia
nyaringkan suara takbirnya. Dan pada riwayat lain
(menceritakan): Ia berangkat ke tempat shalat sampai imam
duduk, baru ia berhenti takbir. [Riwayat Imam Asy-Syafi’i]
Dalam riwayat al-Bukhari, juga didapatkan riwayat dari Abu
Hurairah dan Ibnu Umar (tanpa sanad) bahwa keduanya pergi
ke pasar, pada hari kesepuluh sambil membaca takbir dan orang-
orang mengikuti takbir mereka. Hal yang demikian juga
diriwayatkan oleh al-Bagawi dan al-Baihaqi, bahwasannya Ibnu
Umar itu sebagai orang yang selalu memperlihatkan tuntunan
Nabi  membaca takbir dari rumahnya sampai ke tempat shalat.
Sementara dalam riwayat Ahmad, Ibnu ad-Dunya dan lain-
lain, Ibnu Umar mengatakan, Rasulullah  bersabda:
‫رش فَأَ ْك ِ ُِث ْوا ِفْيْ ِ َّن‬
ِ ْ ‫َما ِم ْن َأ ََّّي ٍم َأع َْظ ُم َو َال َأ َح ُّب ال َ ْي ِه الْ َع َم َل ِفْيْ ِ َّن ِم ْن ه ِذ ِه الْ َع‬
ِ ِ َّ‫ِ ال ْ ْ ل ِ ِ الَّت‬
ِ‫م َن تَّكب ِِْي َوا تَّ ْحم ْيد َو ْل ْيل‬

96 Meraih Ramadhan Terbaik


“Tiada hari yang lebih besar bagi Allah dan tiada pekerjaan
pada hari-hari itu yang lebih disukai Allah dari pada hari-
hari sepuluh itu. Oleh karenanya selama itu hendaklah kamu
perbanyak membaca” “La ilaha illalla- Allahu Akbar- Al-
Hamdulillah.” [HR. Ahmad, Ibnu Abi Dunya dan lain-lainnya]
Dari hadits-hadits di atas, bahwa takbir yang
dikumandangkan pada dua hari raya, di samping bermakna
syukur pada hari yang penuh kegembiraan juga sekaligus syiar
akan keagungan Allah.
___________________ ___________________
Persoalan takbir akan mengganggu orang lain, hal itu tergantung
situasi dan cara pelaksanaannya. Jika dilakukan secara beramai-ramai
di jalan raya, biasanya peserta takbir keliling yang begitu banyak tidak
memperdulikan lingkungannya sehingga bisa terjadi kecelakaan.
Begitu juga bacaan takbir yang keras (lebih-lebih dengan pengeras
suara) pada tengah malam sementara masyarakat sekitar tengah tidur
atau istirahat, boleh jadi akan mengganggu mereka. Oleh karena itu
takbir akan bernilai syiar apabila dilakukan secara tertib dengan tetap
memperdulikan lingkungan, waktu dan teknis pelaksanaannya.
___________________ ___________________

7. Shalat Idul Fitri


Shalat dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha
hukumnya adalah sunnah muakkadah dikarenakan Rasulullah
saw tidak pernah meninggalkannya di setiap hari raya. Bahkan
sebagian menilai hukum shalat ‘ied adalah wajib bagi setiap
muslim, baik laki-laki maupun perempuan yang dalam keadaan
mukim. Dalil dari hal ini adalah hadits dari Ummu ‘Athiyah,
beliau berkata,
‫ات‬ ََ َ َ َ َْ َْ ْ ‫ىْ ُ ْ َ ن‬ َّ ‫ى َ َ َ َ ْ ن‬
َّ ‫الن‬
ِ ‫ – أن نخ ِرج ِف ال ِعيدي ِن العو ِاتق وذو‬-‫وسلم‬ ‫صَل هللا عليه‬ ‫ى‬ -‫ن‬ ِ ‫أمرنا – تعن‬
ْ ‫ْ ُ ُ َ ى ِ َ َ ْ ُ َّ َ ْ َ ْ َّ ن‬
‫يل َن ُم َص هَل ْال ُم ْس ِل ِم ْ ن‬
َ.‫ي‬
ِ ‫ور وأمر الحيض أن يع‬ ِ ‫الخد‬
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada
kami pada saat shalat ‘ied (Idul Fithri ataupun Idul Adha)
agar mengeluarkan para gadis (yang baru beranjak dewasa)
dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang

Meraih Ramadhan Terbaik 97


haidh. Namun beliau memerintahkan pada wanita yang
sedang haidh untuk menjauhi tempat shalat.”
Kata ied berdasar dari akar kata aada – yauudu yang artinya
kembali sejalan dengan kata fitri bisa berarti buka puasa untuk
makan dan bisa berarti suci. Adapun fitri yang berarti buka
puasa berdasarkan akar kata ifthar dan berdasar hadis Rasulullah
 dari Anas bin Malik: Tak sekali pun Nabi Muhammad 
pergi (untuk shalat) pada hari raya Idul Fitri tanpa makan
beberapa kurma sebelumnya." Dalam Riwayat lain: "Nabi 
makan kurma dalam jumlah ganjil." (HR Bukhari).
Dengan demikian, makna Idul Fitri adalah hari raya dimana
umat Islam untuk kembali berbuka atau makan. Oleh karena
itulah salah satu sunah sebelum melaksanakan shalat Idul Fitri
adalah makan atau minum walaupun sedikit. Hal ini untuk
menunjukkan bahwa hari raya Idul Fitri 1 syawal itu waktunya
berbuka dan haram untuk berpuasa.
Waku pelaksanaan shalat id dimulai sejak terbit matahari
hingga tengah hari (zuhur). Bagi yang terlewat shalat id bersama
imam maka hendaklah dia mengerjakannya secara sendiri
(munfarid) di waktu tersebut. Apabila dilakukan sebelum
zuhurbagi yang munfarid dianggap telah mengerjakan pada
waktunya (bukan qodho) akan tetapi jika waktunya telah berlalu
maka diperkenankan untuk meng-qadhanya (menurut mazhab
Syafiiiyah).
Tata cara shalat ied dan juga munfarid atau qadha yaitu
dilakukan sebanyak 2 (dua) rakaat:
1) Rakaat Pertama
- Dimulai dengan Takbiratul Ihram
- Bertakbir 7 kali setelah takbirotul ihram pada rakaat
pertama
- Membaca bacaan al-Fatihah serta Surah dengan
dikeraskan pada rakaat pertama
Di antara takbir-takbir 7 kali dan 5 kali membaca:

98 Meraih Ramadhan Terbaik


‫ْ ا ى ا‬ َ َ ُ َ ‫ى‬ ُ َ ْ َ ‫ُ ى َْ ى‬
‫هللا ُبك َرة َوأ ِصيَل‬ ِ ِ ‫ والح ْمد‬،‫هللا أ ك ُي ك ِﺒ ْ ًيا‬
ِ ‫ وس ْبحان‬،‫َّلل ك ِث ْ ًيا‬
“Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi
Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah, baik
waktu pagi dan petang.”
Atau boleh juga membaca:
ْ‫ُ ى‬ ُ َّ َ ‫َ ى‬ ُ َ ْ َ َ َ ُ
‫َّلل َول ِإله ِإل هللا َوهللا أ ك َ ُي‬
ِ ِ ‫هللا والح ْمد‬
ِ ‫س ْبحان‬
“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain
Allah, Allah maha besar.”
2) Rakaat Kedua
- Bertakbir 5 kali setelah posisi berdiri kembali pada rakaat
kedua. Di antara takbir-takbir itu, lafalkan kembali
bacaan sebagaimana dijelaskan pada poin kedua.
Berlanjut ke ruku’, sujud, dan seterusnya hingga salam.
3) Membaca khutbah
- Khutbah dilakukan setelah selesai shalat ied berjamaaah
- Apabila shalat dilakukan sendirian (munfarid) tidak perlu
dilakukan.

Meraih Ramadhan Terbaik 99


100 Meraih Ramadhan Terbaik
Kiat Meraih Terbaik

K
esuksesan menjalankan program kebaikan sepanjang
Ramadan, sangat tergantung kepada banyak hal.
Beberapa faktor yang menjadi kunci sukses harus
diketahui dan penciri (indikator) harus ditetapkan.

4 Kunci Sukses
Kesuksesan menjalan program kebaikan sepanjang
Ramadan, sangat tergantung kepada banyak hal. Beberapa
faktor yang patut diperhatikan dan dicermati secara konsisten.
1) Tetapkan Target
Menyusun target dan perencanaan untuk mencapi target
tersebut serta tujuannya adalah tuntunan ajaran Islam. Allah 
berfirman:
ُ‫ذ‬ ُ ‫ذُ ذ‬ ‫ذ‬
َ‫َماَق ذدمتَل ِغ ٍدَواتقوا‬
‫نظرَنف ٌس ذ‬ ‫ياَأ ُّيهاَاَّلِينََآم ُنواَاتقواَاَللَوِل‬
ُ ‫ذ ذ ذ‬
ٌَ ِ ‫اَللَإِنَاَللَخب‬
َ‫ۡيَبِماَتعملون‬
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang
telah diperbuatnya untuk hari esok ; dan bertakwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan” (Al-Hasyr: 18)
Seorang muslim harus mempunyai target dan visi masa
depan. Jangan sampai kehidupannya sekedar mengalir saja,
karena sesuatu yang mengalir pasti dari atas menuju ke bawah.
Terpenting untuk selalu diingat tetapkan target untuk masa

Meraih Ramadhan Terbaik 101


depan yang paling “depan” yaitu akhirat. Maka ini juga harus
ada persiapan dan target yaitu masuk surga tertinggi, surga
Firdaus serta masuk surga tanpa hisab dan melihat wajah Allah
di surga kelak.
Buatlah target jangka pendek, target jangka menengah dan
target jangka panjang. Contoh penerapan aplikasi pada program
sebagaimana yang sudah disusun sebelumnya.
__________________ ___________________

Niatkan lah..
- Saat usai berbuka puasa, berangkat ke masjid, tarawih,
sekaligus niat untuk i’tikaf di masjid, membaca al-Quran dan
zikir hingga kembali ke rumah.
- Bangun lebih dini. Sambil mempersiapkan makan sahur
dapat diisi shalat malam, membaca al-Qur’an hingga usai
sahur.
- Berangkat ke masjid untuk shalat subuh, dilanjutkan zikir
setelah subuh hingga matahari terbit dan dilanjutkan shalat
israq.
- Berangkat ke tempat kerja (kantor, misalnya) niatkan agar
dapat shalat zuhur berjamaah, berangkat ke masjid kantor
tambahkan niat untuk ber-‘uzlah (mengasingkan diri) guna
menghindari kemaksiatan dan ghibah yang (mungkin)
terjadi di kantor. Ulangi pada shalat ashar, sebelum kembali
ke rumah.
- Bagi yang tidak sempat berbuka di rumah, bawa lah ta’jil
lebih, niatkan untuk memberi makan/minum bagi saudara-
saudara yang berbuka puasa.
Dari masing-masing niat tersebut, Anda sudah mengumpulkan
banyak pahala. Melalui contoh praktis tersebut sesuaikan
program anda sesuai kemampuan.
__________________ ___________________

102 Meraih Ramadhan Terbaik


2) Perkuat Niat/Tekad
Dalam hadits qudsi dari Abu Hurairah , Nabi ‫ ﷺ‬bersabda,
bahwasanya Allah  berfirman:
َ َ َ َ َ‫ُ َّ َ َّ ن‬ َ َّ َ َ ْ َ ‫َّ ه َ ى‬
‫ي ذ ِلك ف َم ْن ه َّم‬ ْ ‫ ثم ب‬، ‫ات‬ ِ ‫الس ِّيئ‬ ‫ات و‬ ِ ‫اَّلل كت َب ال َح َسن‬ ‫إن‬
ُ ‫ِب َح َس َنة َف ىل ْم َي ْع َم ْل َها ىك َت َﺒ َها ه‬
َ‫ َفإ ْن ُهو‬، ‫اَّلل ىل ُه ع ْن َد ُه َح َس َن اة ىكام ىل اة‬
َ ِ ْ َ ‫ِ َ َّ َ َ َ ى َ ى َ َ َ ه ُ ى ُ ْ َ ُ ِ َ َْ َ َ َ َ ِ ى‬
‫هم ِبها فع ِمىلها كتﺒها اَّلل له ِعنده عش حسنات ِإىل سب ِع ِمائ ِة‬
‫ى‬ ْ ‫ى‬
‫ِض ْعف ِإىل أض َعاف ك ِث ْ َية‬
“Sesungguhnya Allah mencatat berbagai kejelekan dan
kebaikan lalu Dia menjelaskannya. Barangsiapa yang
bertekad untuk melakukan kebaikan lantas tidak bisa
terlaksana, maka Allah catat baginya satu kebaikan yang
sempurna. Jika ia bertekad lantas bisa ia penuhi dengan
melakukannya, maka Allah mencatat baginya 10 kebaikan
hingga 700 kali lipatnya sampai lipatan yang banyak.” (HR.
Bukhari no. 6491 dan Muslim no. 130)
Ibnu Rajab Al Hambali berkata, “Yang dimaksud ‘hamm’
(bertekad) dalam hadits di atas adalah bertekad kuat yaitu
bersemangat ingin melakukan amalan tersebut. Jadi niatan
tersebut bukan hanya angan-angan yang jadi pudar tanpa ada
tekad dan semangat.”(Jaami’ul Ulum wal Hikam, 2: 319)
Perihal bertekad dalam beramal dapat dilihat pula pada
hadits lainnya:
ْ َ ُّ َ ُ ‫ْ َه َ ُ ه‬ َ َ َّ َ ‫َ ْ َ ى َ ه‬
‫اَّلل َمن ِاز َل الش َهد ِاء َو ِإن‬ ‫اَّلل الش َهادة ِب ِصدق بلغه‬ ‫من سأ ل‬
‫َ ى‬
‫َمات َعَل ِف َر ِاش ِه‬
“Barangsiapa yang berdo’a pada Allah dengan jujur agar bisa
mati syahid, maka Allah akan memberinya kedudukan
syahid walau nanti matinya di atas ranjangnya.” [HR.
Muslim no. 1908]
Bahkan boleh jadi niat tersebut hanya sekadar keinginan belum
sempat diperbuat. Dalam hal ini lah maka niat atau tekad orang

Meraih Ramadhan Terbaik 103


mukmin diposisika lebih baik dari amalnya (an-niyatul mu’min
khairu min ‘amalihi).
‘Aisyah  mengabarkan bahwa Rasulullah ‫ ﷺ‬bersabda,
َ ‫َّ ى‬ َ ‫ََى ُ ى‬ ‫ٌَ ى‬ ُ‫َ ُ ُ ى‬
‫َما ِم ِن ى ْام ِر ٍئ تكون له َصلة ِبل ْيل فغل َبه َعل ْﻴ َها ن ْو ٌم ِإل كت َب‬
‫ى َ َ ُ َ َا ى‬ َ ُ‫هُ ى‬
‫اَّلل له أ ْج َر َصل ِت ِه َوكان ن ْو ُمه َصدقة َعل ْي ِه‬
“Tidaklah seseorang bertekad untuk bangun melaksanakan
shalat malam, namun ketiduran mengalahkannya, maka
Allah tetap mencatat pahala shalat malam untuknya dan
tidurnya tadi dianggap sebagai sedekah untuknya.” [HR. An
Nasai no. 1784].
Abud Darda’ berkata, “Barangsiapa mendatangi ranjangnya,
lantas ia berniat ingin shalat malam. Sayangnya, tidur telah
mengalahkannya hingga ia bangun ketika shubuh, maka akan
dicatat sebagai kebaikan apa yang ia niatkan.” (HR. Ibnu Majah
secara marfu’, Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 319]. Perkataan
Abud Darda’ ini semakna dengan hadits ‘Aisyah di atas.
Sa’id bin Al Musayyib berkata, “Barangsiapa bertekad
melaksanakan shalat, puasa, haji, umrah atau berjihad, lantas ia
terhalangi melakukannya, maka Allah akan mencatat apa yang
ia niatkan.”
Abu ‘Imran Al Juwani berkata, “Malaikat pernah berseru:
catatlah bagi si fulan amalan ini dan itu.” Lantas ia berkata,
“Wahai Rabbku, sesungguhnya si fulan tidak beramal apa-apa.”
Lantas dijawab, “Ia mendapatkan yang ia niatkan (tekadkan).”
Ulama salaf berkata, “Bertekad untuk melakukan kebaikan
sudah seperti orang yang melakukannya.”
Hadits tersebut bisa jadi renungan bahwasanya setiap orang
akan mendapatkan yang ia niatkan walau ia tidak sampai
beramal asal sudah punya tekad yang kuat untuk beramal.
Namun ingat sekali lagi, niatan di sini adalah tekad bukan
angan-angan. Sehingga banyaknya angan-angan tidaklah
bermanfaat apabila tidak ada realisasi atau tidak ada langkah

104 Meraih Ramadhan Terbaik


menuju kepada kebaikan. Berbeda halnya dengan tekad dalam
kebaikan, pasti ada persiapan dan langkah yang ingin ditempuh.
__________________ ___________________

3) Perkuat Keikhlasan
Semakin besar kekuatan ikhlas dalam beramal, semakin besar
pula pahala amalan tersebut. Allah berfirman:
َ ُ ‫هللا ُي َضاع‬
ُ ‫َو‬
‫ف ِل َم ْن َيش ُاء‬ ِ
“…dan Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia
kehendaki…” [QS. Al-Baqarah: 261]. Ibnu Katsir
menjelaskan bahwa: “yang demikian itu bergantung pada
(tingkat) keikhlasannya.” [Tafsir Ibnu Katsir: 1/693]
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah ‫ ﷺ‬juga bersabda:
‫ ُغ ِف َر َ َُل َما تَ َق َّد َم ِم ْن َذنْ ِب ِه‬،‫ اميَاًنا َوا ْح ِت َس اااب‬،‫َم ْن َصا َم َر َمضَ َان‬
ِ
“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh
keyakinan (akan pahalanya) dan niat yang ikhlas dalam
meraih ganjaran dari Allah, maka pasti dosa-dosanya yang
telah lalu diampuni.” [Shahih Bukhari: 38, Shahih Muslim: 760]
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari
dan Imam Muslim, Rasulullah ‫ ﷺ‬bersabda:
َّ
َ‫النار َس ْبع ن‬ َ ُ َ ْ َ ُ ‫َم ْن َص َام َي ْو ًما نف َسبيل ه َ َّ َ ه‬
‫ي‬ ِْ ِ ‫ بعد اَّلل وجهه ع ِن‬،‫اَّلل‬
ِ ِ ِ ‫ِي‬
ً َ
‫خ ِريفا‬
“Barangsiapa berpuasa sehari fi sabilillaah (di jalan Allah),
maka Allah akan menjauhkan wajahnya (dan seluruh
raganya) dari api neraka sejauh 70 tahun perjalanan.” [Shahih
Bukhari: 2840 dan Shahih Muslim: 1153]
Para ulama menjelaskan bahwa termasuk dalam cakupan
makna fi sabililaah dalam hadits di atas adalah; “ikhlas karena
Allah semata”.
Jika tekad dan niat tersebut terhalang oleh udzur, maka Insya
Allah, terdapat pahala bagi niat yang shalih sesuai kadar

Meraih Ramadhan Terbaik 105


kekuatan tekad dan harapan di dalam hati. Karena itu
kumpulkanlah sebanyak mungkin niat yang shalih dalam satu
amal atau pekerjaan. Semakin banyak niat yang shalih dalam
suatu amalan, maka semakin banyak pula pahalanya.
‫ َوعَ ََّل‬،‫ات َك ِث ْ َْي ٌة عَ ََّل ِم ْقدَ ِار َما َ َْي َت ِم ُل الْ َع ْبدُ ِم َن ال ِنّ َّي ِة‬ٌ ‫فَ ُرب َّ َما ات َّ َف َق ِيف الْ َع َملِ الْ َوا ِح ِد ِن َّي‬
.‫ِك ِنيَّ ٍة َح َس نَ ٌة‬ِّ ُ ‫ فَيَ ُك ْو ُن َ َُل ب‬، ِ‫ِم ْقدَ ِار ِع ْ ِْل الْ َعا ِمل‬
“Bisa saja niat yang banyak berkumpul pada satu amalan sesuai
kadar kemampuan seorang hamba dalam menghadirkan niat
dan sesuai kadar ilmu yang dimiliki orang yang beramal. Maka
ia akan memperoleh untuk setiap niat, pahala tersendiri.”
[Ta’thiirul Anfaas: 49]
__________________ ___________________

4) Upayakanlah kesempurnaan ibadah


Semakin sungguh-sungguh seorang hamba dalam usaha
menyelaraskan diri dengan tuntunan Nabi ‫ ﷺ‬baik yang
diperintahkan, dianjurkan, atau dicontohkan melalui ucapan
dan perbuatan beliau ‫ﷺ‬, maka semakin besar pula pahala yang
diraih oleh hamba tersebut. Contohnya dengan mengerjakan
amalan-amalan pada waktu, tempat, dan kondisi yang
dianjurkan, seperti; sholat di sepertiga malam yang akhir,
bermujahadah dalam ibadah di sepuluh malam terakhir
Ramadan, mengkhatamkan al-Quran, menjaga wudhu.
Namun jika hal tersebut tidak mampu dilakukan karenakan
lemahnya fisik, maka upayakan kesempurnaan mutaba’ah pada
amalan lain seperti; menyempurnakan wudhu lalu diiringi
dengan sholat dua rakaat, beristigfar di waktu sahur,
menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur, melakukan
dzikir muthlaq, dan lain sebagainya dari amalan-amalan yang
ringan namun berbobot besar di sisi Allah.
“Hendaklah kalian beramal sesuai kemampuan kalian (jangan
asal banyak namun akhirnya jenuh dan tidak beramal lagi).”

106 Meraih Ramadhan Terbaik


Sepuluh Indikator Ramadan Terbaik
Ramadan ibarat sekolah (madrasah Ramadan) yang akan
mendidik siapa pun masuk yang mengikuti dengan baik setiap
pelajarannya di dalamnya hingga dinyatakan lulus. Apa
indikator kelulusan dari madrasah Ramadan?
__________________ ___________________

1. Naik derajat dari Mukmin menjadi Muttaqin


Allah  memotivasi setiap orang beriman untuk masuk
mengikuti berpuasa Ramadan, sehingga keluar dari madrasah
Ramadan tersebut ia menjadi “alumni” yang mencapai predikat
muttaqin (orang-orang yang bertakwa).
Takwa artinya secara bahasa adalah menghindar. Orang yang
bertakwa adalah orang yang menghindar, ada 3 tingkat:
- Pertama, menghindar dari kekufuran dengan jalan beriman
kepada Allah .
- Kedua, berupaya melaksanakan perintah Allah  sepanjang
kemampuan yang dimiliki dan menjauhi larangan-Nya.
- Ketiga, yang tertinggi adalah menghindar dari segala aktifitas
yang menjauhkan pikiran dari Allah .
Suatu ketika sahabat agung Ali bin Abi Thalib  ditanya
tentang takwa, beliau menjelaskan :
ِ‫الْخ َْو ُف ِم َن الْ َج ِل ْيلِ َوالْ َع َم ُل ِابلتَّ ْ ِْنيْلِ َو ْاال ْس ِت ْعدَ ا ُد ِل َي ْو ِم َّالر ِح ْيلِ َوال ّ ِرضَ ا ِابلْ َق ِل ْيل‬
ِ
Takwa itu adalah takut kepada Allah yang Maha Mulia,
mengamalkan apa yang termuat dalam at tanzil (Al-Qur’an),
mempersiapkan diri untuk hari meninggalkan dunia dan ridha
(puas) dengan hidup seadanya (sedikit). [Sabi al-Huda: 1/421]
Dari ungkapan di atas, ada empat hakikat takwa yang harus
ada pada diri kita masing-masing dan ini bisa menjadi tolok
ukur keberhasilan ibadah Ramadan, dan akan dijelaskan sebagai
indikator berikutnya.
___________________ ___________________

Meraih Ramadhan Terbaik 107


2. Takut Kepada Allah  (al-Kauf min al-Jalil)
Takut kepada Allah  (‫ف مِ نَ ال َج ِلي ِل‬
ُ ‫ )الخَو‬adalah takut tidak
mendapatkan ridha-Nya, sebab kalau Dia tidak ridha kepada
kita berarti murka, siksa dan azab-Nya lah yang didapat. Takut
tidak berarti menjauh, bahkan takut kepada Allah  justru
harus bertambah dekat (taqarrub ilallah).
Takut kepada Allah  akan membuat manusia ditakuti oleh
seluruh makhluk yang jahat kepadanya. Rasulullah ‫ ﷺ‬bersabda:
‫َ َ ْ َ َ َْ ه‬ ْ ََ ‫اَّلل َت َع ىاىل َخ َاف ُه ُك ُّل‬
ِ ‫ ومن خاف غ ْ َي‬، ‫شء‬
‫اَّلل‬ َ ‫اف ه‬ َ َ ْ َ
‫من خ‬
‫ي‬
‫شء‬ ْ ‫َت َع ىاىل خوفه اَّلل ِمن كل‬
َ َ ِّ ُ ْ ُ ‫ه‬ ُ َ َّ َ
‫ي‬
Barangsiapa yang takut kepada Allah, niscaya setiap sesuatu
akan takut kepadanya. Dan barangsiapa yang takut kepada
selain Allah, niscaya Allah akan membuat ia takut kepada
setiap sesuatu. [Ihya Ulumuddin, HR. Ibnu Hibban).
Dalam hadits qudshi Allah  berfirman:
َ ‫َ ْ َْ ن‬
‫ َول‬،‫ي‬ ْ ‫ف‬ ‫و‬ ‫خ‬ ‫ي‬ ‫د‬ ‫ب‬ْ ‫ َوع َّز ّن َل ىأ ْج َم ُﻊ َع ىَل َع‬:‫اَّلل َع َّز َو َج َّل‬ ُ ‫ول ه‬ُ ‫َي ُق‬
ِ ِ ‫ى‬ ‫ي‬ ِ ِ
َ ْ ُ ُ ْ َ ْ ُّ ‫ى‬
َ َ ‫ى ْ َ ُ ى ُ ْ َْ ن‬ ‫ى‬
‫ َو ِإذا‬،‫ ى ِإذا أ ِمن ِ ن ين ِ ن يف الدن َيا أخفته َي ْو َم ال ِق َي َام ِة‬،‫ي‬ ِ ْ ْ ‫أ َج َمﻊ ل نه أم ُّن‬
َ ْ َ ْ َ ُ ُ ْ َّ
‫خاف ِ ن ين ِ يف الدن َيا أمنته يوم ال ِق َيام ِة‬
Demi kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku, Aku tidak
mengumpulkan pada hambaKu dua ketakutan dan Aku tidak
mengumpulkan baginya dua keamanan. Jika ia me-rasa aman
kepada-Ku di dunia, niscaya Aku buat ia takut pada hari
kiamat. Dan jika ia takut kepada-Ku di dunia, niscaya Aku
buat ia merasa aman pada hari kiamat. [HR. Ibn Mubarak]
Konsekuensi takut kepada Allah  adalah selalu berusaha
menghindari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan Allah 
tidak ridhai, seperti meninggalkan sholat, tidak membayar
zakat, berbuat maksiat, mendzolimi orang lain dan maksiat
lainnya.
___________________ ___________________

108 Meraih Ramadhan Terbaik


3. Mengamalkan al-Qur’an (al-‘Amal bi at-Tanzil)
Tadarus yang dilakukan selama Ramadan harus membekas
setelah Ramadan. Al-Qur’an tidak boleh hanya sekedar dibaca,
namun harus dapat diamalkan.
Rasulullah  mengingatkan kedatangan suatu kaum kelak
seperti dia, baik perkataannya, tapi buruk kelakuannya. Cermati
hadits berikut:
َ َ ْ َ َ َ ْ ُ َ ‫َ ٌ ى‬ َّ ‫َس َي ْخ ُر ُج نف آخر‬
‫وم أ ْحداث األ ْسن ِان ُسف َه ُاء األ ْحل ِم‬ ‫مان ق‬ ‫الز‬
ْ‫آن َل ُي َجاو ُز َح َناج َر ُهم‬ َ ْ ُ ْ َ ُ َ ْ َ َّ َ ْ ْ ِ َ ِ َ ْ ‫َ ُ ْ ُ ْ َ َ ِ ي‬
ِ
ِ ِ ‫يقولون قول خ ْ ِي ال ِيي ِة يقرؤون القر‬
ْ‫ َف َإذا ىلق ْﻴ ُت ُم ْو ُهم‬، ‫الرم َّية‬ َ ُ ْ َّ ُ ْ َ َ ‫َي ْم ُر ُق ْو َن م َن ِّ ْ َ ى‬
ِ ْ ِ ِ َ ‫الدي َن ىكما ىيم ُر ًق الس َه ىم ِمن‬
َّ ِ
َ َ َ ْ َ ْ ْ ُ َ ْ َ ْ ْ ُ ْ َّ َ ْ ُ ْ ُ ُ ْ َ
‫هللا يوم ا ِلقيامة‬ ِ ‫ ف ِإن قتلهم أجرا ِلمن قتلهم ِعند‬، ‫فاقتلوهم‬
“ Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda,
berucap dengan ucapan sebaik-baik manusia (Hadits Nabi),
membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan
mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak
panah meluncur dari busurnya, maka jika kalian berjumpa
dengan mereka, perangilah mereka, karena memerangi
mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “.
[HR. Bukhari 3342]
___________________ ___________________

4. Berorientasi kepada Akhirat (Isti’dad li Yaum ar-Rahil)


Ramadan membentuk pribadi tangguh, manusia yang siap
menyongsong kematian. Ia tidak lagi sibuk memikirkan dunia,
namun perhatiannya selalu tertuju pada akhirat. Harta dunia
yang dimiliki dijadikan perantara (wasilah) untuk meraih yang
kekal di akhirat kelak.
___________________ ___________________

5. Hidup Sederhana (Ar-Ridha bi al-Qalil)


Ramadan melatih jasmani dan rohani untuk hidup
sederhana. Sederhana dalam ajaran Islam dengan beberapa
konsep seperti qanaah dan zuhud.

Meraih Ramadhan Terbaik 109


Qanaah secara sederhana artinya adalah menerima cukup.
Menurut Zen Alhadi (2011) pengertian qanaah dalam konteks
sekarang adalah “meningkatkan kemampuan agar lebih besar
daripada keinginan”. Orang qanaah selalu bisa menekan
keinginannya serendah mungkin, Ia menerima dan
mendayagunakan segala sesuatu secukupnya.
Zuhud adalah kondisi metal yang tidak mau terpengaruh
oleh harta dan kesenangan duniawi dalam mengabdikan diri
kepada Allah . Orang zuhud bukan orang yang tidak memiliki
harta sama sekali, tetapi ia tidak terikat dan tidak terbelenggu
oleh harta, melainkan ia lebih terikat kepada Allah , meskipun
memiliki banyak harta, tetapi semua didayagunakan untuk
meraih cinta Allah  (A. Yani, 2007).
___________________ ___________________

Saat berbuka puasa dengan minum dan makan sedikit saja telah
merasakan nikmatnya makanan tersebut. Nafsu makan menggebu-
gebu menjelang berbuka sebetulnya hanya ‘lapar mata’ saja. Oleh
karena itu, shaum Ramadan sesungguhnya akan sanggup
membentuk sesorang menjadi pribadi sederhana dan tidak rakus
terhadap kebutuhan ragawi dan duniawi.
___________________ ___________________

6. Kesalehan dan Kebajikan Individual


Apabila alumni Ramadan dapat mempertahankan setiap
ucapan, sikap, dan perilaku yang baik seperti yang dilakukan
pada saat Ramadan, ini merupakan indikasi bahwa Ramadan
yang telah dilaluinya telah berhasil mencetak dirinya menjadi
pribadi yang memiliki kesalehan dan kebajikan.
Saleh artinya “tidak ada kerusakan atau terhentinya
kerusakan,” saleh juga diartikan bermanfaat dan sesuai. Amal
saleh adalah pekerjaan yang apabila dilakukan tidak
menyebabkan mudharat (kerusakan) atau apabila dilakukan
akan diperoleh manfaat dan kesesuaian. Ringkasnya amal saleh

110 Meraih Ramadhan Terbaik


adalah segala perbuatan yang berguna bagi pribadi, keluarga,
kelompok dan manusia secara keseluruhan. (A.Yani: 33).
Manusia yang baik (al-khair) berbeda tingkatannya dengan
manusia yang bajik (al-birr). Kebajikan (al-birr) adalah
himpunan dari semua kebaikan (al-khair) yang meliputi nilai-
nilai luhur rohani dan akhlak yang baik, serta segala yang lahir
dari keduanya berupa amal saleh yang mendekatkan seorang
hamba kepada Allah .
Pelaksanaan berbagai bentuk kebajikan akan melahirkannya
menjadi orang yang selalu berada dalam kebenaran (dalam arti
sesuai ucapanm sikap dan perbuatannya) dan mereka itulah
orang-orang yang bertakwa [Tafsir al-Mishbah: 1/46-469].
Bentuk kesalehan dan kebajikan individu yang muncul
setelah Ramadan, dapat dijelaskan berikut:
- Hidup Seimbang
Umat muslim dan muslimah pada hakekatnya adalah hamba
Allah yang diperintahkan untuk beribadah. Namun
demikian, ada kalanya karena kesibukan pekerjaan duniawi
dan hawa nafsu, terkadang melupakan kewajiban ibadah.
Pada bulan Ramadan umat Islam dilatih untuk mengingat
dan melaksanakan seluruh kewajiban beribadah dengan
imbalan pahala yang berlipat ganda.
- Disiplin terhadap waktu
Dalam menjalankan ibadah shaum Ramadan, kita harus
patuh pada waktu sahur dan buka. Kita bangun untuk makan
sahur saat dini hari dan diharapkan dapat meningkatkan
motivasi bahwa kita bekerja dengan bangun lebih pagi, agar
mendapatkan rejeki yang halal. Kaum muslim dan muslimah
agar dapat menjalankan shaum dengan tetap kuat dan sehat
di siang hari, perlu mengatur ritme bekerja agar tubuh
mendapatkan istirahat yang cukup.
- Tangguh, tabah dan sabar

Meraih Ramadhan Terbaik 111


Selama shaum pada bulan Ramadan, kita dibiasakan
menahan yang tidak baik dilakukan. Misalnya tidak boleh
marah-marah, berburuk sangka, dan dianjurkan agar bersifat
sabar atas segala perbuatan orang lain. Misalkan ada orang
yang menggunjingkan kita, atau mungkin meruncing pada
fitnah, tetapi kita tetap sabar karena kita dalam keadaan
shaum. Hal ini hendaknya dapat menjadikan diri lebih tabah
tidak hanya saat shaum bulan Ramadan namun hendaknya
tetap sabar dalam melaksanakan tugas dan fungsi
___________________ ___________________

7. Peka Sosial
Pada bulan Ramadan rasa persaudaraan sesama muslim,
tampak lebih jelas. Silaturahmi antar sesama semakin terasa,
tumbuh sikap gemar berbagi, misalnya menyediakan tajil gratis,
buka puasa bersama, santunan dhuafa dan anak yatim, maupun
bentuk pemberian sedekah lainnya.
Sikap saling memberi, saling menolong disebut kerjasama
dalam kebajikan (ta’awunu alal birri). Di atara maksud ta’awun
dalam kebajikan adalah menghilangkan atau paling tidak
mengurangi kesulitan orang lain. Apabila ini dilakukan maka ia
akan dihilangkan kesusahannya oleh Allah  di akhirat nanti
dan mendapat pertolongan-Nya.
Dari Abu Hurairah , Nabi ‫ﷺ‬, bersabda: “Siapa yang
melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan
melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang
siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah
akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa
yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi
aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong
hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”.
[HR. Muslim, Arba’in An Nawawi no. 36].
Wujud ta’awun terbaik dicontohkan oleh kesiapan Sahabat
dari Kaum Anshar (pribumi) untuk menanggung kehidupan

112 Meraih Ramadhan Terbaik


para Muhajirin (pendatang) pada peristiwa Hijrah. Sahabat
Anshar rela membagi kebun, ternak dan hartanya untuk Sahabat
Muhajirin, bahkan diantaranya ada siap menceraikan salah satu
istrinya untuk dinikahi Muhajirin. Meskipun demikian Sahabat
Muhajirin tidak menerima begitu saja pertolongan nyang akan
mereka dapatkan, karena dalam ukhuwwah (persaudaraan) yang
paling baik adalah mengutamakan orang lain, sehingga mereka
pun lebih senang menolong. [Ahmad Yani, 2007:115]
Dalam kehidupan masyarakat muslim, ta’awun berarti saling
mengokohkan atau menguatkan antara yang satu dengan
lainnya, bukan justru saling melemahkan. Rasulullah ‫ﷺ‬
bersabda:
ً ُ ُ ُّ ُ ْ ْ ‫ى‬ ْ ْ ْ ْ
‫ال ُمؤ ِم ُن ِلل ُمؤ ِم ِن كال ُﺒن َي ِان َيشد َب ْعضه َب ْعضا‬
“Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti
sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.”
[HR. Muslim no. 4684]
Ibadah Ramadan mendidik seorang muslim untuk
merasakan betapa tidak enaknya lapar dan haus itu yang juga
telah disertai dengan menunaikan kewajiban zakat fitrah bahkan
diselingi dengan infaq dan shadaqah yang kesemua itu bermuara
pada penumbuhan dan pemantapan rasa tanggung jawab sosial.
Karena itu sesudah Ramadan berakhir, semestinya semakin
mantap rasa tanggung jawab sosial kita sehingga kita punya
perhatian terhadap kaum muslimin yang mengalami kesulitan
hidup secara ekonomi.
Demikian alumni Ramadan ditandai kualitas kesolehan
individual dan sosialnya yang meningkat, jiwanya dipenuhi
dengan cahaya ilahiah, hatinya sanggup berempati atas
penderitaan orang lain dan raganya rela berjerih payah
membantu sesama.
___________________ ___________________

Meraih Ramadhan Terbaik 113


8. Memelihara kesinambungan ibadah setelah Ramadan
Amal-amal ibadah satu bulan Ramadan, adalah bekal
pasokan agar ruhani dan keimanan seseorang meningkat untuk
menghadapi 11 setelahnya. Namun, orang akan gagal meraih
keutamaan Ramadan, saat ia tidak berupaya menghidupkan dan
melestarikan amal-amal ibadah yang pernah ia jalankan selama
berada di madrasah Ramadan.
Rasulullah ‫ ﷺ‬bersabda,
َّ ُّ ‫ُ َْ ُ ُ ى‬ َ ٌ ْ َ َّ َ ِّ ُ َ ٌ َّ َ ُ
‫السن ِة‬ ‫ ف َم ْن َيك ْن ف ّ َيته ِإىل‬، ‫شة ف ّ َية‬ِ ‫ و ِلكل‬، ‫َو ِلك ِّل َع ِمل ِشة‬
َ ْ ََ َ َ َ ‫ُ ى‬ ََْ ََ
‫ فقد ض َّل‬، ‫ َو َم ْن َيك ِإىل غ ْْ ِي ذ ِلك‬، ‫ فق ِد اهتدى‬،
”Setiap amal itu pasti ada masa semangatnya. Dan setiap
masa semangat itu pasti ada masa futur (malasnya).
Barangsiapa yang kemalasannya masih dalam sunnah
(petunjuk) Nabi ‫ ﷺ‬maka dia berada dalam petunjuk. Namun
barangsiapa yang keluar dari petunjuk tersebut, sungguh dia
telah menyimpang.”[ HR. Thobroni, Al Mu’jam Al Kabir]
Allah  lebih mencintai amalan yang dilakukan secara
kontinu (terus menerus). Allah  akan memberi ganjaran pada
amalan yang dilakukan secara menerus berbeda halnya dengan
orang yang melakukan amalan sesekali saja.
Meskipun demikian tidak seluruh amalan harus dilakukan
secara rutin, melainkan harus sesuai dengan petunjuk Nabi ‫ﷺ‬.
[Ibrahim Ar Ruhailiy, Tajridul Ittiba’: 89]
Untuk mengetahui manakah amalan yang mesti dirutinkan,
dapat kita lihat pada tiga jenis amalan berikut:
a) Pertama, amalan yang bisa dirutinkan baik ketika tidak
bepergian (mukim) maupun ketika bepergian (safar).
Contohnya: Puasa pada ayyamul biid (setiap tanggal 13, 14,
15 pada bulan Hijriyyah); Shalat sunnah qobliyah shubuh
(shalat sunnah fajar); Shalat malam, dan shalat witir.
Amalan-amalan seperti ini tidaklah ditinggalkan
meskipun dalam keadaan bersafar. Ibnu ‘Abbas 

114 Meraih Ramadhan Terbaik


mengatakan, “Rasulullah ‫ ﷺ‬selalu berpuasa pada ayyamul
biid (13, 14, 15) baik dalam keadaan mukim (tidak bersafar)
maupun dalam keadaan bersafar.” [HR. Bukhari no. 2996]
Ibnul Qayyim mengatakan, “Termasuk di antara petunjuk
Nabi ‫ ﷺ‬ketika bersafar adalah meng-qoshor shalat fardhu
dan tidak mengerjakan shalat sunnah rawatib qobliyah dan
ba’diyah. Yang tetap dilakukan adalah mengerjakan shalat
sunnah witir dan shalat sunnah qabliyah shubuh. Demikian
pula qiyamul lail (shalat malam) baik ketika mukim maupun
ketika bersafar.” [Zaadul Ma’ad, 1/456, 311]
b) Kedua, amalan yang hanya dirutinkan ketika mukim, bukan
ketika safar. Contohnya adalah shalat sunnah rawatib selain
shalat sunnah qobliyah subuh sebagaimana dijelaskan di atas.
c) Ketiga, amalan yang kadang dikerjakan pada suatu waktu
dan kadang pula ditinggalkan. Seperti, puasa pada selain hari
senin-kamis boleh dilakukan kadang-kadang, misalnya saja
berpuasa pada hari selasa atau rabu.
Intinya, tidak semua amalan mesti dilakukan secara rutin, itu
semua melihat pada ajaran dan petunjuk Nabi shallallahu ’alaihi
wa sallam. Namun kesinambungan amaliah setelah Ramadan
perlu mendapat perhatian dan keseriusan.
___________________ ___________________

9. Semangat Menimba Ilmu


Aktivitas Ramadan juga telah merangsang kegairahan kita
untuk menimba ilmu pengetahuan, khususnya yang
menyangkut pendalaman ajaran Islam. Kuliah subuh, kuliah
zuhur, ceramah tarawih, pesantren Ramadan dan studi
keislaman lainnya di bulan Ramadan merupakan aktivitas-
aktivitas yang merangsang semangat untuk menimba ilmu
pengetahuan. Aktivitas ini membuat kita tidak hanya lebih
panatis sebagai seorang muslim, tapi juga paham dan memiliki
wawasan keislaman yang lebih baik.

Meraih Ramadhan Terbaik 115


Namun perlu kita ingat bahwa sedalam-dalamnya ilmu
yang kita gali, tetap saja terasa cetek dan sedikit ilmu yang kita
peroleh, apalagi ilmu Allah itu sangat luas. Menyadari hal ini
semestinya kita semakin terangsang untuk menimba ilmu dan
sesudah Ramadan ini, semangat itu harus kita buktikan.
___________________ ___________________

10. Semangat Memakmurkan Masjid


Ramadan juga telah melatih muslim untuk kembali ke
masjid, kembali memakmurkan masjid, kembali beraktivitas di
masjid. Itu sebabnya selama Ramadan, masjid-masjid relatif
lebih makmur, pengurus dan jamaahnya lebih aktif dan aktivitas
lebih banyak dan bervariasi.
Berakhirnya Ramadan tidak boleh membuat masjid kembali
sepi, tanpa kepengurusan yang serius, tanpa jamaah yang aktif
dan tanpa aktivitas.
Oleh karena itu keberhasilan ibadah Ramadan juga harus
dibuktikan dengan selalu aktif memakmurkan masjid, mulai
dari shalat berjamaah hingga mengatasi dan memecahkan
persoalan umat dan mengatur strategi perjuangan
meningkatkan kualitas umat.

116 Meraih Ramadhan Terbaik


BEBERAPA RUJUKAN

Al-Ghazali, Abi Hamid Muhammad bin Muhammad. Ihya


’Ulumuddin. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1406 H
Al-Kalbi, Ibnu Dihyah Umar bin Hasan al-Andalusi (w. 633 H.).
Ma Wadaha wastiban fi Fadhail Syahru Sya;ban. Riyadh:
Maktabb Adhwa`ussalaf, 2003
Al-Munjid, Syeikh Ahmad Shaleh. Islam, Su`al wa al-Jawab,
https://islamqa.info
An-Nawawi, Abu Zakaria Yahya bin Syarf. Al-Minhaj Syarh
Shahih Muslim bin Al-Hajaj. Beirut: Dar al-Ihya at-Turats
al-Arabi, 1392.
As-Sa’adi, Abdurrahman bin Nashir. Taisir al-Karim ar-
Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan (Tafsir As-Sa’adi).
Muassasah ar-Risalah, 1420 H.
as-Syamiy, Muhammad bin Yusuf. Sabil al-Huda wa ar-Rasyad fi
Sirah Khair al-Ibad. Beirut: Dar al-Kitab ‘Ilmiyyah, 1993.
http://muslim.or.id
Ibn ‘Asakir, Ali bin al-Hasan (w.571 H). Juz`u fi Fadli Rajab.
Muhaqqiq Jamal ‘Azwn. Beirut: Muassasah ar-Rayan, 2000
Ibn Baz. Majmu Fatawa wa Mawalat as-Syeikh Ibn Baz,
https://binbaz.org.sa
Ibn Qayyim. Zaadul Ma’ad. Muassasah Ar Risalah, cetakan
keempat, 1407 H. Tahqiq: Syu’aib Al Arnauth, ‘Abdul
Qadir Al Arnauth
Ibn Taymiyyah, Ahmad bin Abdul Halim (w. 728 H.). Majmu’ al-
Fatawa. Madinah al-Munawwarah: Majma’ al-Malik Fahd,
1995.
Mausu’ah al-Hadits, http://library.islamweb.net
Raswan. “Matematisasi Pahala Ramadan” .Khazanah Republika.
Edisi Kamis 25 Agustus 2011
Sarwat, Ahmad. “Kumpulan Konsultasi Syari’ah” dalam
http://rumahfiqih.com
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Mishbah: Pesan Kesan dan
Keserasian Al-Qur’an. Ciputat: Lentera Hati, 2012

Meraih Ramadan Terbaik 117


Tofa, Ulis. Puasa lah Anda Akan Sehat Jasmani dan Rohani.
Jakarta: Maktaba Gaza, 2016
Yani, Ahmad. Be Excellent: Menjadi Pribadi Terpuji. Depok: Al-
Qalam, 2007
Yu E, Ley SH, Manson JE, Willett W, Satija A, Hu FB, et al.
Weight History and All-Cause and Cause-Specific
Mortality in Three Prospective Cohort Studies. Ann Intern
Med. 2017;166:613–620. doi: 10.7326/M16-1390
Ziyan, Abu. “Memaksimalkan Pahala Ramadan” dalam
https://www.alhujjah.com

118 Meraih Ramadhan Terbaik


TENTANG PENULIS

Muhamad, adalah Kandidat Doktor Pengkajian Islam


Konsentrasi Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah. Pendidikan
terakhir Magister Program Studi Ilmu Tafsir-Hadits pada Institut
PTIQ Jakarta. Kader dakwah alumnus lembaga dakwah LPPD
Khairu Ummah, pernah belajar pada lembaga dakwah Ar-Risalah
dan Ma’had Lughah LIPIA Jakarta.
Pandangan keagamaan: Mazhab Syafi’iah-Asy’ariyyah; Tarekat
Alawiyah.

Meraih Ramadan Terbaik 119


BUKU PILIHAN

Terbaik Dari Yang Terbaik:


Dari Tuhan Untuk Kita keberagamaan dan Keutamaan Amal pada Bulan Haram

Buku ini adalah versi lengkap pembahasan seputar


bulan-bulan terbaik (bulan haram). Pembahasan
dalam buku ini dapat membantu menemukan jawaban
atas beberapa isu-isu penting yang muncul berkenaan
dengan ritual, tradisi dan amalan semenjak Rajab,
Sya’ban hingga Ramadan, dan hal-hal lain yang
berkembang di masyarakat
Tebal: 180 halaman

Persoalan Surah Al-Fatihah


Seputar Hukum Bacaan Tajwid dan Qiraat
Buku ini memuat permasalahan seputar tata cara baca
surah Al-Fatihah beberapa diantaranya merupakan
sumber kesalahan yang cukup fatal. Padahal keabsaan
Shalat ditentukan oleh seberapa benar bacaan Al-
Fatihah.
Buku ini dapat menjadi bahan ajar bagi para pengajar
al-Qur’an, sehingga memudahkan murid yang
bertalaqqi.
Tebal: 45 halaman

Buku lain karya Muhammad bin Abdullah Alhadi, MA


1. Khutbah Jum’at Para Habib: Kumpulan Khutbah Setahun Para Habib
2. Tafsir Al-Haddad (Seri Tafsir Habaib)
3. Tafsir Al-Attas
4. Ibu Sosial bukan Ibu Sosialita
5. Shalawat Untuk Kekasih
6 Buku Saku: 15 Permasalahan Seputar Azan dan Iqomah
7 Mempersaudarakan Dua Mazhab

CARA PESAN:
Telepon/WA: 0899-7035-421
E-mail: serambihabib@gmail.com

120 Meraih Ramadhan Terbaik