You are on page 1of 10

TUGAS

KEPERAWATAN KELUARGA

Oleh

1. Arniati Rumbia (1811002)


2. Luluk Arif (1811018)
3. Ulfatul Kusna (1811030)

PRODI S1 KEPERAWATAN NON REGULAR

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH

SURABAYA

2019
KELUARGA DENGAN ANAK USIA PERTENGAHAN

Diagnosa yang muncul pada keluarga dengan anak usia pertengahan


diantaranya :
a. Perubahan peran dalam keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan
keluarga mengenal peran masing-masing anggota keluarga.
b. Resiko terjadinya konflik pada keluarga berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga mengenal masalah komunikasi.
c. Resiko terjadinya konflik keluarga dengan masyarakat berhubungan dengan
kurangnya peran serta keluarga dalam kehidupan bermasyarakat.

Rencana tindakan keperawatan keluarga dengan anak usia pertengahan :


a. Perubahan peran dalam keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan
keluarga mengenal peran masing-masing anggota keluarga.
Tujuan :
Setelah diberikan tindakan keperawatan, keluarga dapat mengenal dan
melaksanakan peran masing-masing anggota keluarga secara tepat.
Kriteria hasil :
1. Anggota keluarga dapat menempatkan diri/berperan sebagai anggota keluarga.
2. Keluarga dapat meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan baik.
3. Hubungan antara anggota keluarga baik.
Intervensi :
1. Gali kebutuhan akan peran masing-masing anggota keluarga.
• Berikan penjelasan tentang peran masing-masing anggota keluarga.
• Mendorong sikap emosi yang sehat terhadap peran masing-masing anggota
keluarga.
2. Identifikasikan akibat-akibat jika peran masing-masing anggota keluarga tidak
dilaksanakan.
• Mendiskusikan pelaksanaan peran sebagai anggota keluarga yang efektif.
• Mendorong keluarga untuk mengatur jadwal harian seefektif mungkin.
3. Gali sumber-sumber yang ada dalam keluarga
• Motivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas yang ada dalam masyarakat,
misalnya sarana hiburan, olahraga, dll.

b. Resiko terjadinya konflik pada keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan


keluarga mengenal masalah komunikasi

Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi konflik dalam keluarga
Kriteria hasil :
1. Pembicaraan dua arah.
2. Ada umpan balik dengan saling mengungkapkan masalah.
3. Memecahkan masalah keluarga.
4. Saling berinteraksi.
5. Meningkatkan keharmonisan keluarga.
6. Keputusan keluarga dapat mengatasi konflik
Intervensi :
1. Gali pengetahuan keluarga tentang komunikasi.
• Diskusikan tentang manfaat dan pentingnya komunikasi pada keluarga.
• Motivasi keluarga melakukan komunikasi dengan anggota keluarga
• Beri kesempatan pada keluaraga untuk mengulangi apa yang sudah dijelaskan
oleh perawat.
2. Jelaskan akibat konflik yang terjadi di keluarga.
• Jelaskan alternatif-alternati'f untuk mengatasi konflik
• Motivasi keluarga untuk mengambil keputusan dalam mengatasi konflik
• Evaluasi sejauh mana keluarga sudah mengambil keputusan.

c. Resiko terjadinya konflik keluarga dengan masyarakat berhubungan dengan


kurangnya peran serta keluarga dalam kehidupan bermasyarakat
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan keluarga dapat berperan serta aktif dalam
kegiatan sosial masyarakat.
Kriteria hasil :
1. Keluarga ikut dalam wadah sosial masyarakat.
2. Keluarga aktif dalam menggunakan saran umum yang ada dilingkungan tempat
tinggal.
Intervensi :
1. Gali kebutuhan keluarga untuk bersosialisasi dengan masyarakat.
• Identifikasi wadah kemasyarakatan yang ada disekitar lingkungan tempat tinggal
• Identifikasi akibat kurang peran serta aktif keluarga dalam masyarakat.
2.Motivasi keluarga untuk memanfaatkan sumber daya yang ada dalam
masyarakat.
• Motivasi keluarga untuk menggunakan waktu yang luang bersosialisasi dengan
masyarakat sekitar
•Motivasi keluarga agar secara aktif ikut dalam wadah kegiatan sosial masyarakat.
KELUARGA DENGAN ANAK USIA DEWASA

Diagnosa yang muncul pada keluarga dengan anak usia dewasa diantaranya:
1. Ketidakefektifan koping keluarga berhubungan dengan ketidakadekuatan
sumber psikologi untuk beradaptasi terhadap proses meninggalkan rumah, pilihan
karier.
ANALISA DATA

Data Mayor :
Pengungkapan ketidakmampuan untuk mengatasi atau menerima bantuan
Penggunaan mekanisme koping yang tidak sesuai
Ketidakmampuan memenuhi peran yang diharapkan
Data Minor :
Rasa khawatir, ansietas
Melaporkan tentang kesulitan dengan stress kehidupan
Ketidaefektifan partisipasi social
Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar
Perubahan pola komunikasi yang biasa

2. Gangguan proses keluarga berhubungan dengan pertambahan anggota


keluarga (misalnya pernikahan).
ANALISA
DATA Data
Mayor :

Tidak berkomunikasi secara terbuka dan efektif diantara anggota keluarga


Data Minor :
 Tidak dapat memenuhi kebutuhan fisik, emosi,dan spiritual
semua anggota keluarga

 Tidak dapat mengekspresikan atau menerima perasaan secara


terbuka
3. Ketidakfektifan pemeliharan kesehatan berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan tentang pencegahan penyakit.
ANALISA DATA
Data Mayor :
Melaporkan atau memperlihatkan gaya hidup yang tidak sehat (misalnya
penggunaan obat-obatan, makan dalam jumlah yang berlebihan, diet tinggi
lemak)

Data Minor :
Melaporkan atau memperlihatkan :
 Sistem pernapasan (sering terinfeksi, batuk kronis, dispnea saat aktivitas)
 Rongga mulut (sering sariawan, ompong pada usia dini)
 Sistem pencernaan dan nutrisi (obesitas, anoreksia, kakeksia, anemia kronis)
 Sistem musculoskeletal ( tot sering tegang, sakit punggung, nyeri leher)
 Konstitusional (keletihan kronis, malaise, apatis)
 Neurosensori (sakit kepala,adanya kerutan pada wajah)
 Psikoemosional (emosi rapuh, gangguan perilaky, sering merasa sanga kaca.

4. Konflik pengambilan keputusan berhubungan dengan pertentangan dalam


system pendukung.
ANALISA DATA
Data Mayor :
 Mengungkapkan ketidakpastian tentang pilihan-pilihan dan
konsekuensi alternative tindakan yang diinginkan

 Kebimbangan tentang alternative pilihan


 Menunda pengambilan keputusan
Data Minor :
 Mengungkapakan perasaan disstres saat mengupayakan suatu keputusan
 Berfokus pada diri sendiri tanda-tanda fisik disstres atau keteganagan
(peningkatan frekuensi jantung dan ketegangan otot, gelisah)saat keputusan
menjadi focus perhatian

 Mempertanyakan nilai-nilai atau keyakinan pribadi saat


mengusahakan suatu pengambilan keputusan

5. Risiko kesepian berhubungan dengan pelepasan anak (anak telah menikah


dan pergi dari rumah).

ANALISA DATA
Data Mayor :
 Pengungkapan rasa kesepian karena telah melepaskan anak yang menikah
 Ingin mencari suasana yang lebih ramai
Data Minor :
 Cemas, gelisah
 Sedih
 Sering merenung

Rencana tindakan keperawatan keluarga dengan anak usia pertengahan :


Diagnosa 1
Intervensi :
a. Kaji status koping individu saat ini
 Kaji kemampuan untuk menghubungkan fakta-
fakta
Dengarkan dengan cermat dan amatiwajah, gerak tubuh, kontak mata,
intonasi, dan intensitas suara

b. Berikan dukungan jika individu berbicara


 Tenangkan bahwa perasaan yang dimulainya memang sulit
 Jika individu menjadi pesimis, upayakan untuk lebih member
harapan pandangan realistis

c. Dorong untuk melakukan evaluasi diri tentang perilakunya


 Apa hal tersebut berguna bagi anda?
 Bagaimana hal tersebut dapat membantu?
d. Bantu individu untuk memecahkan masalah dengan cara yang konstruktif
 Apa yang menjadi masalah

 Siapa yang akan bertanggungjawab terhadap masalah


tersebut
 Apa keuntungan dan kerugian dari setiap pilihan
e. Bicarakan alternative yang mungin timbul (misalnya membicarakan dengan
orang terdekat)

f. Berikan kesempatan untuk belajar dan menggunakan teknik


pelaksanaan stress (misalnya jogging, yoga)

Diagnosa 2

Intervensi :

a. Bantu keluarga menghadapi kekhawatirannya terhadap masalah tersebut


b. Dorong keluarga untuk mengungkapkan rasa bersalah, marah,
menyalahkan diri, bermusuhan, dan mengenal lebih lanjut perasaannya dalam
anggota keluarga

c. Bantu keluarga untuk mengenal peran dan menentukan prioritas


untuk mempertahankan integritas keluarga dan menurunkan stress

d. Bina hubungan saling percaya antara anggota keluarga


Diagnosa 3
Intervensi :
a. Kaji pengetahuan tentang pencegahan primer
 Diet yang sehat ( misalnya, “empat dasar”, rendah lemak dan
garam, tinggi karbohidrat kompleks, asupan vitamin, mineral yang mencukupi,
air 2-3 liter sehari)

 Kontrol berat badan


 Hindari penyalahguanaan zat (misalnya alcohol, obat-obatan, tembakau)
 Hindari penyakit hubungan seksual
 Hygiene gigi/mulut (misalnya setiap hari, dokter gigi)
 Imunisasi
 Pola olahraga teratur
 Penatalaksanaan stress

 Bimbingan gaya hidup (misalnya seks aman, keluarga berencana,


ketermpilan menjadi orangtua, perencana keuangan)

b. Ajarkan pentingnya pencegahan sekunder


c. Tentukan pengetahuan yang diperluakn untuk mengatasi kondisi penyakit
d. Kaji apakah sumber daya yang dibutuhkan dirtumah tersedia (pemberi
asuhan, keuangan, peralatan)

Diagnosa 4
Intervensi :
a. Jalin hubungan saling percaya dan berarti yang meningkatkan saling
pengertian dan perhatian

b. Fasilitasi proses pengambilan keputusan yang logis


 Bantu individu mengenlai apa masalahnya dan dengan jelas
mengidentifikasi keputusan yang harus dibuat

 Gali apa yang akan timbul bila tidak membuat keputusan


 Bantu mengidentifikasi kemungkinann hasil berbgaai alternative
 Bantu individu untuk menghadapi ketakutan
 Benahi kesalahan informasi

 Bantu dalam mengevaluasi alternative berdasarakan pada


ancaman potensial atau actual terhadap nilai-nilai atau keyakinan

 Beri dorongan pada individu untuk membuata keputusan


c. Beri dorongan pada orang terdekat untuk terlibat dalam keseluruhan proses
pengambilan keputusan

d. Dengan aktif yakinkan individu bahwa keputusan sepenuhnya


ditangannya dan menjadi haknya untuk melakukan itu

e. Libatkan seluruh anggota keluarga dalam proses pengambilan keputusan

Diagnosa 5
Intervensi :
a. Identifikasi factor penyebab dan penunjang
b. Beri dorongan individu untuk membicarakan perasaan
kesepian c. Tingkatkan interksi social

 Kerahkan system pendukung tetangga dan keluarga individu


 Rujuk pada penyuluhan keterampilan social

 Tawarkan umpan balik tentang bagaimana individu


menampilkan diri pada orang lain

d. Kurangi hambatan kontak sosial


 Tentukan ketersediaan transportasi dalam komunitas (umum,
yang berubngan dengan ibadah)

 Identifikasi aktivitas yang membantu mempertahankan individu tetap


sibuk, terytama dalam periode risiko tinggi kesepian