You are on page 1of 8

Keterlibatan BUMD dalam Pemenuhan dan Pengelolaan

Kebutuhan Energi di Daerah

Oleh: Muhamad Sani / Deputi Kajian & BUMD – Asosiasi Daerah Penghasil Migas (ADPM)

Dasar Pemikiran
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjalankan pemerintahannya sesuai dengan
konstitusi NKRI yaitu Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI
1945). Dalam UUD NRI telah diatur tujuan Negara Indonesia, dan berbagai aturan dasar terkait
sistem ketatanegaraan Indonesia. UUD NKRI juga menjadi sumber hukum bagi seluruh
peraturan yang ada di Indonesia.

Memajukan kesejahteraan umum merupakan salah satu tujuan NKRI sebagaimana termaktub di
dalam alinea ke-4 UUD NRI 1945. Mengatur distribusi sumber daya alam, energi, serta kekayaan
negara dilakukan Indonesia dengan berbagai cara, diantaranya dengan mengaturnya di dalam
perundang-undanganan serta regulasi tertentu. Pengaturan ini dilakukan agar terjadi pemerataan
pendapatan dan manfaat atas pengelolaan dan distribusi sumber daya alam, energi, serta
kekayaan negara.

Dalam hal pengelolaan sumber daya alam dan energi untuk mencapai kesejahteraan umum,
UUD 1945 mengamanatkan sistem perekonomian atas dasar usaha bersama, sebagaimana bisa
kita baca dalam UUD 1945 pasal 33, sebagai berikut:

(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup
orang banyak dikuasai oleh negara.
(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
(4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan
prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan,
kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi
nasional.

Pasal 33 ini merupakan salah satu prinsip mendasar bagaimana seharusnya sumberdaya
perekonomian kita dikelola. Salah satu sumberdaya yang harus adalah gas bumi yang dihasilkan
dari perut bumi Indonesia dan sangat strategis fungsinya dalam perekonomian.

Pengertian dipergunakan untuk "sebesar-besar kemakmuran rakyat" yang diamanatkan


konstitusi seharusnya tak sentralistis. Kemakmuran rakyat itu bukan monopoli pusat, melainkan
bersifat adil dan merata kepada seluruh rakyat secara proporsional, kuncinya adalah pada kata
"proporsionalitas".

Rakyat di daerah dimana terdapat kandungan dan produksi gas bumi wajib mendapatkan
prioritas dalam memanfaatkan atau mendapatkan manfaat dari keberadaan gas bumi untuk
kesejahteraannya.

Kesejahteraan rakyat di daerah merupakan tugas dari Pemerintah daerah, termasuk dalam
pemenuhan kebutuhan minyak dan gas bumi sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan dan
perekonomian. Sudah selayaknya daerah teribat dalam pengelolaan minyak dan gas bumi sesuai
dengan kriteria distribusi urusan pemerintahan antar tingkat pemerintahan, yakni : Pertama,
prinsip Externalitas (Spill-over). Siapa kena dampak, mereka yang berwenang mengurus. Kedua,
prinsip akuntabilitas, yaitu yang berwenang mengurus adalah tingkatan pemerintahan yang
paling dekat dengan dampak tersebut (sesuai prinsip demokrasi, dan ketiga, prinsip Efisiensi,
yaitu otonomi daerah harus mampu menciptakan pelayanan publik yang efisien dan mencegah
High Cost Economy, melalui skala ekonomis (economic of scale) pelayanan publik serta cakupan
pelayanan (catchment area) yang optimal.

Daerah penghasil migas wajib terlibat mengurusi sektor migas, khususnya kegiatan migas yang
berada di daerahnya. Resiko pengelolaan migas, baik hulu maupun hilir ada di daerah.
Pengguna akhir atau sasaran dari hilir migas adalah rakyat di daerah sehingga pemerintah
daerah tidak dapat berdiam diri atau menjadi penonton dalam pengelolaan sektor hilir migas.
Pengurusan subsektor hulu dan subsektor hilir migas saling berkaitan dan tidak terpisahkan,
sebagai bagian dari ketahanan energi nasional yang berbasis pada ketahanan energi daerah.

Hak partisipasi kepada daerah ini justru suatu keharusan karena daerah dimana terdapat industri
hulu dan hilir migas yang langsung terpapar berbagai aktivitas eksplorasi, eksploitasi dan
pengolahan. Daerah penghasil menanggung risiko langsung dari berbagai ekses kegiatan,
pencemaran lingkungan, penurunan kualitas alam, serta menyaksikan SDA yang berada di
wilayahnya terus dikuras setiap hari.

Tujuan pengelolaan energi adalah mencapai kemandirian, menjamin ketersediaan energi.


Daerah penghasil energi mendapat prioritas untuk memperoleh energi dari sumber energi
setempat. Pengelolaan energi menjadi tanggung-jawab bersama, baik pemerintah pusat maupun
pemerintah daerah. Karena, UU energi menyatakan bahawa pemerintah daerah berwenang
membuat perda di bidang energi.

Keterkaitan dengan Perundang-Undangan lainnya

 UU No. 4 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah.


 UU No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
 UU No.30 Tahun 2007 tentang Energi
 UU No.22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi
 PP Nomor 79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN)
 Perpres Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN)
Pemenuhan Kebutuhan Energi Daerah
Energi merupakan kebutuhan masyarakat modern. Energi memegang peran penting sebagai
pemicu pembangunan ekonomi suatu masyarakat atau bangsa. Karenanya, bangsa-bangsa maju
berusaha keras untuk mempertahankan kemampuannya menyediakan dan memanfaatkan energi
untuk pembangunan ekonomi masyarakat.

Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi sumberdaya energi besar sudah membuktikan
bagaimana energi, khususnya minyak dan gas bumi (migas), menjadi sumber kekuatan ekonomi
negara melalui pemanfaatan migas sebagai sumber pendapatan negara dan sumber energi
untuk /kendaraan, mesin-mesin industri dan pemenuhan konsumsi rumah tangga. Pemanfaatan
ini terus berkembang sehingga kini migas memiliki fungsi strategis bukan saja sebagai sumber
pendapatan dan konsumsi kendaraan/rumah tangga, melainkan juga sebagai sumber bahan
baku dan sumber energi bagi industri.

Dengan kata lain, migas merupakan bukan saja sebagai komoditi yang diperjual-belikan
melainkan juga modal pembangunan ekonomi. Setiap satuan energi yang dikembangkan
dimanfaatkan untuk menggerakkan perekonomian dan memajukan kesejahteraan rakyat di
daerah tempat energi tersebut dikembangkan pada khususnya dan untuk seluruh rakyat
Indonesia pada umumnya.

Membangun dari pinggiran yang termasuk dalam sembilan cita-cita (Nawacita) sebagai prioritas
pembangunan juga berlaku dalam pembangunan sektor energi. Pengelolaan energi yang
berbasis pada potensi energi di tiap-tiap daerah dapat menjadikan energi sebagai modal dan
katalis dalam pembangunan nasional. Dengan begitu rasa keadilan pada masyarakat akan
tumbuh dan menjadi motivasi untuk bersama-sama membangun bangsa dalam sektor energi dan
sektor-sektor lain.

Paradigma pembangunan ekonomi nasional yang berbasis ekonomi daerah yang dikembangkan
atas keberadaan energi di tia-tiap daerah akan lebih menjamin ketersediaan, keterjangkauan dan
akses energi untuk kehidupan dan menggerakkan roda ekonomi. Hal ini juga akan menimbulkan
rasa keadilan masyarakat, karena rakyat di daerah-daerah penghasil energi merasakan langsung
manfaat keberadaan sumber daya energi di daerahnya.

Untuk itu, pemerintah daerah memilki peran strategis dalam setiap mata rantai pengelolaan
energi pada umumnya, dan pengelolaan migas pada khususnya. Energi yang bersumber dari
dalam perut bumi di daerah harus memberikan manfaat maksimal bagi perekonomian daerah.
Keterlibatan BUMD Migas
Konsepsi UU Migas menetapkan bahwa migas adalah komoditas yang dikuasai langsung oleh
negara dengan tujuan semaksimal mungkin mewujudkan kesejahteraan rakyat. Negara dalam
hal ini diwakili pemerintah dan pemerintah terdiri dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Maka, badan usaha yang paling relevan adalah BUMN dan BUMD.

BUMD didirikan untuk turut serta melaksanakan pembangunan daerah khususnya dan
pembangunan ekonomi nasional umumnya dalam rangka ekonomi terpimpin untuk memenuhi
kebutuhan rakyat dengan mengutamakan industrialisasi dan ketenteraman serta kesenangan
kerja dalam perusahaan, menujumasyarakat yang adil dan makmur.

BUMD Migas adalah wakil pemerintah daerah dalam melakukan manajemen sektor migas.
Sekalipun BUMD entitas bisnis yang bertugas mengejar keuntungan, pemiliknya adalah pemda
sehingga keuntungan sebagai hasil akhir usaha dapat dipastikan berada dalam kekuasaan
pemda yang menaungi dan bertanggung jawab langsung terhadap pemenuhan hajat hidup rakyat
di daerah.

BUMD didirikan bertujuan untuk turut serta melaksanakan pembangunan daerah


khususnya dan pembangunan ekonomi nasional umumnya untuk memenuhi kebutuhan rakyat
menuju masyarakat yang adil dan makmur. BUMD adalah sebuah perwujudan dari peran
Pemerintah Daerah dalam pembangunan ekonomi daerah.

Gambar 2. Fungsi BUMD sebagai pengelola sumber daya alam di daerah

Secara umum peranan perusahaan BUMD dalam kegiatan perekonomian dan pembangunan
daerah dapat dilihat dari 3 aspek, yaitu :

1. Peningkatan produksi;
2. Perluasan kesempatan kerja; dan
3. Peningkatan pendapatan daerah.
Selain itu, BUMD memiliki berbagai fungsi dan peranan yang dibebankan kepadanya, utamanya
adalah:

1. Melaksanakan kebijakan pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan


daerah;
2. Pemupukan dana bagi pembiayaan pembangunan daerah;
3. Mendorong peran serta masyarakat dalam bidang usaha;
4. Memenuhi kebutuhan barang dan jasa bagi kepentingan publik; dan
5. Menjadi perintis kegiatan dan usaha yang kurang diminati swasta.
Royalty Interest Dalam Tata Kelola Jaringan Gas Bumi
Dalam sektor hilir, khususnya terkait jaringan gas bumi, keterlibatan BUMD adalah sebagai
pengelola domestic public obligation (DPO) atau royalty interest dari penguasaan jaringan gas.

Terbitnya Peraturan Menteri ESDM No. 06/2016 tentang Alokasi dan Peruntukan Gas Bumi pada
24 Februari 2016 yang lalu,mengubah pola alokasi gas bumi untuk BUMD Hilir Migas
(selanjutnya “BUMD”). Dengan Permen tersebut, tidak ada lagi privilege/keistimewaan Daerah
Penghasil Migas cq BUMD untuk mendapatkan alokasi gas.

Sebelumnya, BUMD memiliki privilege alokasi gas dari keberadaan sumur-sumur di daerah,
sebagaimana disebutkan dalam PTK 29 Tahun 2009. Dengan peraturan lama, BUMD dapat
terlibat dalam bisnis hilir gas bumi dengan niga gas dan berkontribusi langsung dalam
Pendapatan Asli Daerah (PAD).

A. PTK 29/2009 B. PERMEN 06/2016


KKKS

KKKS • Alokasi Gas diberikan kepada


Badan Usaha yang memiliki
Privilege Fasilitas Jaringan Distribusi
Alokasi Gas s.d ke End Users.
BUMD

Lelang BUMN BUMD SWASTA


BUMN SWASTA

END USERS
END USERS

Gambar 1. Perubahan Pola Alokasi Gas Bumi untuk BUMD

Memperhatikan implikasi ketentuan sebagaimana dijelaskan dalamPermen 06/2016 serta resiko


komersial akibat adanya eskalasi harga gas di hulu, maka dipandang perlu adanya terobosan
dalam melibatkan Daerah yang diwakili oleh BUMD untuk memastikan adanya kelangsungan
penerimaan manfaat dari kegiatan Niaga gas bumi yang dilakukan di Daerah.

Apalagi Pemerintah telah menerbitkan Permen ESDM No.4/2018 tentang Wilayah Jaringan
Distribusi (WJD) dan Wilayah Niaga Tertentu (WNT) dimana dalam setiap satu Kabupaten/Kota
atau kumpulan kecamatan akan ditetapkan satu Pemegang Hak Khusus (PHK) WJD & WNT oleh
BPH Migas. PHK WJD & WNT tersebut selanjutnya berkewajiban membangun dan
mengembangkan jaringan distribusi gas sekaligus melakukan kegiatan Niaga, semakin
mempercepat kematian usaha BUMD, PHK WJD & WNT yang kelak akan mendapatkan jaminan
pasokan gas bumi dari Pemerintah melalui KKKS (Kontraktor Kontraktor Kerjasama).

Sehubungan dengan pertimbangan tersebut diatas sekaligus untuk memastikan keberlanjutan


usaha BUMD sebagai sumber PAD dalam APBD Daerah dan keberhasilan program Pemerintah
di Daerah dalam penentuan pemenang WJD & WNT tadi maka, mengutip konsep Participating
Interest 10% (PI 10 %) di sektor hulu migas maka, disektor hilir migas khususnya kegiatan niaga
gas bumi semestinya dapat juga dapat diterapkan konsep yang sama yakni, Domestic
Participating Obligation (“DPO”).

Domestic Public Obligation (DPO) adalah royalty interest yang dikelola oleh Badan Usaha Milik
Daerah (BUMD) dan ditujukan untuk memajukan perekonomian daerah melalui partisipasi aktif
dala, pengelolaan jaringan gas pipa yang dilaksanakan oleh badan usaha yang ditunjuk oleh
pemerintah untuk membangun jaringan gas pada wilayah jaringan distribusi (wjd) dan atau
wilayah jaringan transmisi (wjt).

Royalti interest atau Bunga royalti sendiri dalam industri minyak dan gas bumi mengacu pada
kepemilikan sebagian dari sumber daya atau pendapatan yang dihasilkan. Perusahaan atau
orang yang memiliki royalti tidak menanggung biaya operasi yang diperlukan untuk menghasilkan
sumber daya, namun orang atau perusahaan tersebut masih memiliki sebagian sumber daya
atau pendapatan yang dihasilkan.
Daftar Pustaka

Muhamad Sani, 2018, Energi bersih untuk rakyat, www.Linkedin.com/MuhamadSani , diakses


pada tanggal 1 November 2018.

Bukhori, 2018, Saatnya sekarang DPD RI Menyelamatkan BUMD Hilir Migas, FGD Peran DPD
RI dalam Mendukung Optimalisasi Pengelolaan BUMD Migas

BPK Perwakilan Provinsi Banten, 2014, Peranan BUMD Sebagai Salah Satu Sumber
Pendapatan Daerah www.portibionline.com, diakses pada tanggal 1 Novemebr 2018

Royalty interest, https://www.investopedia.com, diakses pada tanggal 3 November 2018.

UU No.30 Tahun 2007 tentang Energi.

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah.

Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional

Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional.