You are on page 1of 8

PEMBENTUKAN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN SISWA SEKOLAH DASAR MELALUI

SEKOLAH PEDULI DAN BERBUDAYA LINGKUNGAN

Ratna Widyaningrum

Abstract
Education is important for the individual character formation. One of the characters that must be
owned by an individual is the concern for the environment. Cultivate characters should be done
early. Education in the Primary School is one of the foundations in developing the character of
students from an early age so that students have a strong character, intelligent, noble, and steady
personality. Cultivate characters about the environmental care in the school can be done through
a environmentally learning process, integrating environmental curriculum, extracurricular
activities, habituation related to the environment, school environment, and supported by the
school facilities that are environmentally friendly. School care and cultured environment can be
used as one of the cornerstones in building the character of environmental care at the elementary
school students.
Keywords: Character Concerned about The Environment, Caring Schools and Cultured
Environment.
PENDAHULUAN berkepribadian yang mantap. Pembentukan
Pendidikan merupakan salah satu karakter anak bangsa memerlukan perhatian
sarana yang digunakan untuk dari berbagai pihak, baik oleh pemerintah,
mengembangkan manusia sebagai makhluk lingkungan masyarakat, keluarga, maupun
yang mampu bertanggung jawab terhadap sekolah. Pembentukan kerakter dapat
diri sendiri maupun terhadap kesejahteraan diartikan sebagai upaya membentuk
masyarakat. Manusia belajar bertanggung kepribadian yang dalam prosesnya
jawab dengan cara mengenal, menghayati, dipengaruhi oleh lingkungan keluarga,
serta melaksanakan nilai-nilai moral. sekolah, dan masyarakat.
Pendidikan berperan dalam pembentukan Sekolah merupakan salah satu
kemampuan, kepribadian, watak, serta tempat dalam membentuk karakter siswa
peradaban bangsa yang bermartabat dengan sehingga siswa akan memiliki kepribadian
cara menanamkan nilai-nilai pendidikan yang mantap. Sekolah Dasar (SD)
lingkungan hidup terhadap generasi penerus merupakan lembaga pendidikan dasar yang
bangsa. siswanya berusia antara enam sampai
Karakter merupakan jati diri pada dengan tiga belas tahun, memiliki
seorang individu. Oleh karena itu, karakteristik selalu ingin tahu dan
pembentukan karakter sebaiknya dilakukan membutuhkan pembimbing. Seorang guru,
sedini mungkin agar terbentuk sumber daya terutama guru kelas memiliki peranan yang
manusia (SDM) yang berkarakter kuat, sangat menentukan dalam pembentukan
cerdas, berbudi luhur, berhati mulia, serta kepribadian atau karakter siswa SD. Oleh

108 Ratna Widyaningrum Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016


karena itu, sebagai seorang guru harus demokratis mengakomodasi perbedaan
berkarakter yang kuat dan berkepribadian dengan tetap mengedepankan transparansi,
yang mantap sehingga bisa menjadi teladan tindakan yang objektif, serta bertanggung
bagi siswanya. Guru tidak boleh hanya jawab.
memberi contoh, tetapi harus mampu Menurut Undang-Undang Republik
menjadi contoh atau teladan bagi siswanya. Indonesia (UURI) no.17 Tahun 2007 tentang
Daryanto dan Suryatri (2012:41) RPJPN, terdapat 18 nilai-nilai dalam
mengemukakakn bahwa pembangunan pendidikan budaya dan karakter bangsa.
karakter yang merupakan upaya perwujudan Salah satu karakter yang perlu
amanat Pancasila dan UUD 1945 dikembangkan pada siswa adalah sikap
dilatarbelakangi oleh realitas permasalahan peduli terhadap lingkungan. Peduli
kebangsaan saat ini seperti: disorientasi dan lingkungan adalah sikap dan tindakan yang
belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila; selalu berupaya mencegah kerusakan pada
keterbatasan perangkat terpadu alam limgkungan alam sekitarnya dan
mewujudkan nilai-nilai Pancasila; mengembangkan upaya untuk memperbaiki
bergesernya nilai etika dalam kehidupan kerusakan alam yang sudah terjadi.
bermasyarakat; memudarnya nilai-nilai Pembentukan karakter ini dapat menjadikan
budaya bangsa; ancaman disintegrasi; dan lingkungan bersih, aman, dan terawat baik di
melemahnya kemandirian bangsa. lingkungan rumah, sekolah, dan lingkungan
Selama ini, banyak lulusan yang dimana individu itu berada.
berprestasi secara akademik tetapi belum Kondisi lingkungan saat ini sangat
berprestasi dalam hal sikap dan perilaku. memprihatinkan. Hal tersebut berkaitan erat
Oleh sebab itu, sudah saatnya sekolah- dengan sikap manusia yang kurang peduli
sekolah mulai dari jenjang yang paling dasar terhadap lingkungan, terus menerus
mengupayakan dan melakukan melakukan eksploitasi tanpa memperhatikan
pembudidayaan karakter di lingkungannya. dampak yang ditimbulkan. Perilaku dan cara
Komarudin Hidayat (2010) dalam pandang manusia yang bersifat materialistis
Daryanto dan Suryatri (2013:16) tersebut harus diperbaiki dan mulai diubah.
mengemukakan bahwa tanpa budaya Salah satu cara dalam mengubah dan
sekolah yang bagus akan sulit untuk memperbaiki perilaku serta cara padang
menanamkan pendidikan karakter pada tersebut adalah dengan pendidikan.
siswa. Ada tiga budaya yang perlu Sekolah merupakan salah satu
dikembangkan di sekolah, yaitu kultur lembaga yang berperan dalam menanmkan
akademik, kultur budaya, dan kultur nilai-nilai moral dan karakter. Sekolah Dasar
demokratis. Kultur akademik tercermin pada merupakan pondasi dalam penanaman
kedisplinan dalam bertindak, kearifan dalam karakter siswa sejak dini. Di sekolah anak
bersikap, serta kepiawaian dalam berpikir belajar di bawah pengawasan guru. Melalui
dan berargumentasi. Kultur budaya proses belajar mengajar yang berwawasan
tercermin dalam pengembangan sekolah lingkungan, penyediaan fasilitas sekolah
yang memelihara, membangun, dan yang memadai, serta kegiatan penunjang
mengembangkan budaya bangsa yang positif lain akan menumbuhkan rasa menghargai,
dalam rangka pembangunan manusia memiliki, dan memelihara dalam diri siswa
seutuhnya. Nilai budaya lokal yang berakar terhadap sumber daya dan lingkungan hidup.
pada budaya nusantara tetap dipertahankan Indikator karakter peduli
dan dilestarikan walaupun banyak budaya lingkungan di sekolah antara lain:
asing yang masuk ke Indonesia. Kultur pembiasaan memelihara kebersihan dan

Ratna Widyaningrum Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016 109


kelestarian lingkungan sekolah; tersedianya secara terencana dan terus menerus secara
tempat pembuangan sampah dan cuci komperehensif.
tangan; menyediakan kamar mandi dan air Adanya pendidikan lingkungan
bersih; pembiasaan hemat energi; adanya akan meminimalisir kerusakan lingkungan
biopori di lingkungan sekolah; membangun hidup. Menurut Adam (2014:166)
saluran pembuangan air limbah dengan baik; pendidikan lingkungan dilakukan sebagai
melakukan pembiasaan memisahkan jenis upaya untuk meningkatkan pemahaman dan
sampah organik dan anorganik; pengelolaan kepedulian masyarakat dalam mencari
sampah melauli pembuatan kompos dari pemecahan dan pencegahan timbulnya
sampah organik; penanganan limbah hasil masalah lingkungan. Atas dasar itulah
praktik; penydiaan peralatan kebersihan; pedidikan dan penanaman sikap peduli
adanaya tandon penyimpanan air; dan lingkungan diperlukan sejak dini.
adanaya program cinta bersih lingkungan. Menyikapi sikap tesebut, maka
Berdasarkan hasil observasi di pemerintah mencanangkan program
daerah Surakarta, masih jarang dijumpai Adiwiyata yaitu program yang bertujuan
sekolah-sekolah peduli dan berbudaya untuk mendorong dan membentuk sekolah-
lingkungan, terutama pada jenjang Sekolah sekolah di Indonesia agar dapat turut
Dasar. Umumnya Sekolah Dasar di daerah melaksanakan upaya pemerintah dalam
Surakarta belum menerapkan kurikulum pelestarian lingkugan. Pemerintah juga
yang berbasis lingkungan maupun menghimbau agar Pendidikan Lingkungan
menginternalisasikan nilai peduli Hidup dilaksanakan mulai pada jenjang SD
lingkungan secara utuh. Hal tersebut sampai SMA.
dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain: Penelitian ini bertujuan untuk
kemampuan pihak pengelola sekolah, memahami pentingnya pembentukan
kualitas pembelajaran, dan fasilitas sekolah karakter peduli lingkungan sejak dini dan
yang kurang mendukung untuk dijadikan menginspirasi pengelola sekolah untuk
sebagai sekolah peduli dan berbudaya mewujudkan sekolah peduli dan berbudaya
lingkungan. lingkungan.
Kegiatan utama sekolah peduli dan
berbudaya lingkungan diarahkan pada PEMBAHASAN
terwujudnya kelembagaan sekolah yang Karakter merupakan watak, tabiat,
peduli dan berbudaya lingkungan. akhlak, atau kepribadian seseorang yang
Disamping pengembangan norma-norma terbentuk dari hasil internalisasi berbagai
dasar yang antara lain: kebersamaan, kebajikan (virtues) yang diyakini dan
keterbukaan, kesetaraan, kejujuran, digunakan sebagai landasan untuk cara
keadilan, dan kelestarian fungsi lingkungan pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak.
hidup dan sumber daya alam. Selain itu di Sikap peduli merupakan salah satu karakter
sekolah peduli dan berbudaya lingkungan yang harus dimiliki oleh setiap individu.
menerapkan prinsip dasar yaitu: partisipatif, Sikap peduli lingkungan merupakan sikap
dimana komunitas sekolah terlibat dalam dan tindakan yang selalu berupaya
manajemen sekolah yang meliputi mencegah kerusakan pada lingkungan alam
keseluruhan proses perencanaan, di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-
pelaksanaan dan evaluasi sesuai tanggung upaya untuk memperbaiki kerusakan alam
jawab dan peran; serta berkelanjutan, yang sudah terjadi (Hasan, 2010:4).
dimana seluruh kegiatan harus dilakukan Karakteristik anak Sekolah Dasar
secara umum sebagaimana dikemukakan

110 Ratna Widyaningrum Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016


Sumantri dan Permana (2011) adalah Memfasilitasi orang tua siswa melalui
sebagai berikut: (1) mereka secara ilmiah konsultasi secara periodik berkiatan dengan
memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan nilai, norma, dan kebiasaan karakter yang
tertarik pada dunia sekitar yang mengelilingi menjadi prioritas di sekolah dan
diri mereka sendiri, (2) mereka senang penerapannya di rumah masing-masing.
bermain dan lebih suka bergembira/riang, Selain itu, pihak sekolah dapat mengajak
(3) mereka suka mengatur dirinya untuk peran serta masyarakat dengan
menangai berbagai hal, mengeksplorasi menghadirkan tokoh yang dapat
suatu situasi dan mencobakan usaha–usaha memberikan pembelajaran atau panutan bagi
baru, (4) mereka bergetar perasaannya dan para siswa maupun mengadakan kegiatan
terdorong untuk berprestasi sebagaimana yang berkaitan dengan masyarakat antara
mereka tidak suka mengalami ketidakpuasan lain: bakti sosial, kunjungan ke panti asuhan,
dan menolak kegagalan-kegagalan, (5) panti jompo dan lan-lain.
mereka belajar secara efektif ketika mereka Strategi yang ketiga adalah
merasa puas dengan situasi yang terjadi, (6) penguatan lingkungan. Agar pembudidayaan
mereka belajar dengan cara bekerja, karakter dapat berkembang dan berjalan
mengobservasi, berinisiatif, dan mengajar efektif, diperlukan adanya peguatan yang
anak–anak lainnya. konsisten dengan cara dilakukannnya
Menurut Daryanto dan Suryatri komunikasi secara terus menerus berkaitan
(2013: 34) upaya pembentukan karakter dengan nilai, norma, dan kebiasaan yang
siswa dapat dilakukan melalui beberapa telah menjadi prioritas serta memberikan
strategi yaitu permodelan (modeling), kesempatan para siswa untuk menerapkan
pengajaran (teaching), dan penguatan nilai-nilai tersebut. Kebijakan mengenai
lingkungan (reinforcing). Melalui aturan atau tata tertib sekolah menjadi acuan
permodelan, pihak sekolah, keluarga, dan pokok pembudidayaan karakter di sekolah.
masyarakat harus memberikan teladan Pembiasaan-pembiasaan seperti: tegur,
dalam bersikap. Sekolah bisa memberikan salam, sapa, solat berjamaah, berdoa dalam
buletin berkala dan konseling bagi orang tua mengawali dan mengakhiri kegiatan dapat
siswa berkenaan dengan cara menjadi orang dijadikan program pihak sekolah dalam
tua yang baik sehingga menjadi panutan rangka pembiasaan karakter bagi siswa.
bagi anak. Sekolah juga bisa menghadirkan Penguatan pendidikan karakter juga
tokoh panutan dalam masyarakat untuk dapat dilakukan melalui visualisasi yaitu
melakukan sharing bersama siswa berkaitan dengan pemasangan pamflet, majalah
dengan nilai, norma, dan kebiasaan, serta dinding, serta pemberian penghargaan bagi
karakter yang baik dan keberhasilan yang guru ataupun siswa berkaitan dengan
telah dicapai untuk dijadikan sebagai model prestasi dalam hal penerapan nilai-nilai
atau panutan bagi para siswa. karakter prioritas. Selain itu, penguatan
Strategi berikutnya adalah lingkungan yang dapat dilakukan pihak
pengajaran. Pihak sekolah bersama dengan sekolah adalah penataan lingkungan fisik
keluarga dan masyarakat harus memberikan sekolah yang nyaman, bersih, dan sehat
perhatian terutama dalam pembelajaran dalam rangka mendukung budaya sekolah.
nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan Pendidikan karakter bukan sekedar
karakter pada siswa. Sekolah dapat mengajarkan hal yang benar dan salah tetapi
melakukan hal tersebut melalui kurikulum jua harus menanamkan kebiasaan
yang diterapkan dan diwujudkan dalam mata (habituation) hal yang baik sehingga siswa
pelajaran, kegiatan, serta proyek sosial. menjadi paham (kognitif) tentang hal yang

Ratna Widyaningrum Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016 111


baik, mampu merasakan (afektif) nilai yang dikemudian hari warga sekolah tersebut
baik, dan mampu melakukan (psikomotor). dapat turut bertanggungjawab dalam upaya-
Oleh sebab itu, pendidikan karakter yang upaya penyelamatan lingkungan hidup dan
baik harus melibatkan aspek pengetahuan pembangunan berkelanjutan. Kegiatan
yang baik (moral knowing), merasakan yang utama sekolah berbudaya lingkungan adalah
baik (loving good/moral feeling), dan mewujudkan kelembagaan sekolah yang
perilaku yang baik (moral action). peduli dan berbudaya lingkungan bagi
Pendidikan karakter menekankan pada habit sekolah dasar dan menengah di Indonesia
atau kebiasaan-kebiasaan yang terus (Sarumaha dan Mulyanti, 2013).
dipraktikkan dan dilakukan dalam Menurut Rahmat Mulyana
kehidupan sehari-hari (Daryanto dan (2009:178) keberadaan sekolah peduli dan
Suryatri, 2013: 42). berbudaya lingkungan memberikan manfaat
Pembentukan karakter peduli sebagai berikut: peningkatan efisiensi dalam
lingkungan di Sekolah Dasar dapat penggunaan sumber daya dan dana;
dilakukan melalui berbagai kegiatan. peningkatan suasana belajar yang nyaman
Kegiatan tersebut dapat dilakukan secara dan kondusif; menumbuhkan nilai-nilai
berkala dan melibatkan siswa, sehingga pemeliharaan dan pengelolaan lingkungan
menjadi suatu kebiasaan. Sekolah hidup; dan terhindarnya dampak negatif dari
berbudaya lingkungan dapat diwujudkan lingkungan.
dengan cara mengimplementasikan Salah satu SD di kota Surakarta
kurikulum berbasis lingkungan hidup. Hal yang sudah mengikuti program Adiwiyata,
tersebut sesuai dengan pendapat Ahmad Sekolah Peduli dan Berwawasan
Fajarisma Budi Adam (2014:170) kebijakan Lingkungan Budaya adalah SD
yang dilakukan sekolah meliputi kebijakan Muhamadiyah 1 Surakarta. Upaya yang
pengembangan kurikulum, kebijakan sudah dilakukan oleh sekolah antara lain
anggaran untuk melakukan kegiatan terkait, dengan pengembangan kebijakan dan
dan kebijakan fasilitas yang memadai dalam program berbasis lingkungan, adanya
mendukung pelaksanaan sekolah yang budaya peduli lingkungan, dan
berbudaya lingkungan. Agar kebijakan pengembangan kegiatan berbasis partisipatif
diterima oleh semua pihak diperlukan serta sarana pendukung sekolah. Salah satu
adanya sosialisasi. Visi dan misi sekolah program yang digalakkan oleh sekolah
juga harus mengarah kepada sikap peduli adalah penambahan tanaman pada setiap
terhadap lingkungan hidup. Akan lebih baik lantai, bekerja sama dengan BLH, dan
lagi jika visi dan misi tersebut terpampang pemanfaatan lahan secara vertikal untuk
di dinding sehingga semua warga sekolah mengatasi keterbatasan lahan.
dapat mengetahui. Berdasarkan data tahun 2015,
Sekolah berbudaya lingkungan sebanyak 12 sekolah mulai dari tingkat SD
merupakan salah satu program Kementerian sampai SMA di Surakarta mendapatkan
Negara Lingkungan Hidup dalam rangka penghargaan program Adiwiyata dari
mendorong terciptanya pengetahuan dan Kementerian Lingkungan Hidup. Ada tiga
kesadaran warga sekolah dalam upaya Sekolah Dasar yang mendapatkan
pelestarian lingkungan hidup. Tujuan penghargaan tersebut yaitu SDN Joglo
sekolah berbudaya lingkungan adalah Kadipiro, SDN Kleco, dan SDN Slembaran.
menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah Sekolah-sekolah tersebut merupakan
untuk menjadi tempat pembelajaran dan sekolah yang sudah mewujudkan sikap
penyadaran warga sekolah, sehingga kepeduliaan terhadap lingkungan baik dalam

112 Ratna Widyaningrum Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016


hal penyediaan lingkungan yang bersih, Hal tersebut sesuai dengan
sehat, dan nyaman serta mampu mengelola penelitian yang telah dilakukan oleh Yeni
sampah dengan baik sehingga mewujudkan Isnaeni (2013:170) pengembangan karakter
suasana belajar yang nyaman bagi siswa. peduli lingkungan dapat dilakukan melalui
Adanya program Adiwiyata tersebut pembentukan remaja cinta lingkungan atau
diharapkan dapat menciptakan warga Green Club yang bertindak sebagai pelopor
sekolah, khususnya siswa yang peduli dan kebersihan yang bertugas membantu guru
berbudaya lingkungan serta mendukung dan atau siswa mengingatkan setiap warga
mewujudkan sumber daya manusia yang sekolah yang lupa akan peraturan, dan
memeiliki karakter bangsa berkaitan dengan membantu mensosialisasikan kesadaran
perkembangan ekonomi, sosial, dan mencintai lingkungan hidup di lingkungan
lingkungannya dalam mencapai sekolah.
pembangunan berkelanjutan di daerah. Selain itu, menurut penelitian yang
Kegiatan sederhana yang dapat telah dilakukan oleh Abidinsyah dan Dasim
dilakukan oleh siswa SD antara lain Budimansyah (2012: 16) mendapatkan hasil
membuangan sampah pada tempatnya. bahwa untuk meninternalisasikan nilai
Sebelumnya siswa harus dikenalkan dengan peduli lingkungan dapat dilakukan dengan
jenis-jenis sampah. Sampah organik dan cara mengintegrasikan nilai peduli
anorganik. Sampah organik dibuang pada lingkungan dalam semua mata pelajaran;
tempat sampah warna biru, sedangkan melibatkan orang tua siswa, masyarakat, dan
sampah anorganik dibuang pada tempat media massa dalam mendukung upaya
sampah warna kuning. Kegiatan lain yang sekolah menginternalisasi nilai peduli
dapat dilakukan adalah hari bersih sampah. lingkungan; melibatkan siswa dalam tugas
Di Sekolah Dasar dalam setiap minggunya yang brekaitan dengan isu-isu lingkungan
diadakan satu hari untuk kegiatan hidup; dan memadukan kearifan lokal
membersihkan lingkungan sekolah pada hari sebagai media dan bahan ajar dalam
tertentu. Penjadwalan piket pada tiap kelas menginternalisasikan nilai peduli
juga dapat dilakukan untuk menjaga lingkungan pada siswa.
kebrsihan kelas. Langkah-langkah sederhana seperti
Pengintegrasian isu-isu berkaitan yang telah dikemukakan di atas dapat
dengan lingkungan hidup dalam menjadi sarana untuk
pembelajaran juga dapat dilakukan oleh menumbuhkembangkan sikap kepedulian
guru untuk mengenalkan berbagai dampak siswa terhadap lingkungan sekitarnya.
dari kerusakan lingkungan. Selain itu, Namun, untuk mewujudkan suatu sekolah
kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan yang berbudaya lingkungan memang tidak
dengan kepedulian lingkungan juga dapat mudah. Butuh dukungan dari pihak
digalakkan seperti: pembentukan kelompok pemerintah, sekolah, maupun masyarakat
pecinta alam, pemanfaatan barang bekas sekitarnya. Sekolah juga harus memiliki
melalui kerajinan tangan dan keterampilan, fasilitas yang memadai untuk mewadahi
pembentukan kelompok Laskar Hijau yang segala aktivitas siswa kaitannya dengan
mengawasi kebersihan di sekolah, atau kegiatan peduli lingkungan. Selain itu,
pembentukan kelompok cocok tanam di pemberlakuan kurikulum berbasis
sekolah yang membantu mengontrol lingkungan membutuhkan tenaga pengajar
pemeliharaan dan penanaman tanaman di yang kompeten.
lingkungan sekolah.

Ratna Widyaningrum Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016 113


KESIMPULAN DAN REKOMENDASI REKOMENDASI
Kepedulian terhadap lingkungan akan
menciptakan suasana yang tenang, tentram
KESIMPULAN dan sehat. Biasakan memberikan contoh
Pembudayaan karakter peduli sikap peduli terhadap lingkungan kepada
lingkungan penting ditanamkan sejak dini. anak untuk dapat diterapkannya dalam
Salah satu cara untuk menumbuh kehidupannya dimasa kini dan masa yang
kembangkan karakter tersebut adalah akan datang, karena anak merupakan
melalui pendidikan di sekolah. Sekolah yang generasi penerus keluarga, masyarakat, dan
berbudaya lingkungan akan menunjang bangsa. Diharapkan sekolah-sekolah di
munculnya sikap kepedulian terhadap daerah Surakarta mulai mengembangkan diri
lingkungan. Dengan pendidikan karakter menjadi sekolah berbudaya lingkungan.
peduli lingkungan ini anak mempunyai
bekal pengetahuan tentang pentingnya
menjaga lingkungan agar anak menjadi
manusia yang sehat jasmani dan rohani.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2015. Sekolah Adiwiyata. Diakses melalui http://www.sdmuh1solo.com/p/sekolah-


adiwiyata.html pada tanggal 11 Maret 2016.

Anonim. 2015. Dua Belas Sekolah di Surakarta Mendapatkan Predikat Adiwiyata. Diakses
melalui http://www.jatengprov.go.id/id/newsroom/12-sekolah-di-surakarta-mendapat-
predikat-adiwiyata pada tanggal 11 Maret 2016.

Abidinsyah dan Dasi Budimansyah. 2012. Internalisasi Nilai Peduli Lingkungan Melalui
Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal (Studi di SD Negeri Antasan Besar 7
Banjarmasin). Jurnal Integritas. 1 (1): 1-18.

Ahmad Fajarisma Budi Adam. 2014. Analisis Implementasi Kebijakan Kurikulum Berbasis
Lingkungan Hidup Pada Program Adiwiyata Mandiri di SDN Dinoyo 2 Malang. Jurnal
Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan. 2 (2): 166-173.

Daryanto dan Suryatri Darmiatun. 2013. Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah.


Yohyakarta: Gava Media.

Hasan, S.H. 2010. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta:
Kementerian Pendidikan Nasional.

Rahmat Mulyana. 2009. Penanaman Etika Lingkungan Melalui Sekolah Peduli dan Berbudaya
Lingkungan. Jurnal Tabularasa PPS UNIMED. 6 (2): 175-180.

114 Ratna Widyaningrum Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016


Sarumaha, M.S dan Mulyanti, D. 2013. Implementasi Pendidikan Lingkungan Hidup Dalam
Mewujudkan Sekolah Berbudaya Lingkungan. Diakses melalui
http://guruidaman.blogspot.com pada tanggal 11 Maret 2016.

Yeni Isnaeni. 2013. Implementasi Kebijakan Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan di
SMP Negeri 3 Gresik. Jurnal Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan. 1 (2): 166-172.

Ratna Widyaningrum Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016 115