You are on page 1of 5

BAB 1

NUSANTARA DI MASA VOC:

ABAD 17 DAN 18

Kawasan Perdagangan Nusantara

Mari kita membuka kembali kalender perjalanan bangsa kita 500

tahun lalu. Negara yang sekarang kita sebut Indonesia belum ada.

Menurut catatan sejarah, Indonesia waktu itu merupakan kawasan

‘yang terdiri dari sekumpulan satuan-satuan sosial-politik—umum-

nya berbentuk kerajaan—yang memiliki berbagai derajat kedaulat-

‘annya sendiri sendiri. Masing-masing menguasai kawasan, sumber

alam, dan penduduk yang menjadi basis bagi satuan-satuan ekono-

minya.

Nusantara bukan kawasan yang tertutup. Pada masa itu, seba-

gian besar ekonomi lokal di pulau-pulau utama sudah biasa mela-

kukan perdagangan antara mereka sendiri dan sebagian bahkan

dengan negara-negara lain di Asia dan Eropa. Ini bisa dimengerti

Karena Indonesia terletak di perlintasan jalur besar perdagangan

‘melalui laut antara Asia dan Eropa. Tiadanya kekuasaan politik

tunggal yang menguasai kawasan ini, seperti di Cina atau Jepang.


juga mempermudah siapa pun dari luar untuk datang dan berda-

‘gang di sini. Para pedagang India, Cina, Arab, Indonesia (Melayu),

dan kemudian Eropa (Belanda, Portugis, Inggris) pada awalnya

‘melakukan kegiatan sccara bebas. Mereka hanya perlu memper-

hatikan aturan penguasa dan tradisi setempat untuk kelangsungan

Kegiatannya. Dalam perjalanan waku, Karena keunggulan organi-

sasi, teknologi, dan akses informasi pasar, pedagang-pedagang

Eropa mendominasi perdagangan besar, terutama untuk jalur

Eropa. Para pedagang Cina, India, dan Arab juga berperan, tetapi

terutama dalam kegiatan perdagangan antar negara di kawasan

Asia dan di dalam kawasan Nusantara. Mercka juga berperan

sebagai pedagang perantara dengan para pedagang Eropa. Para

pedagang Indonesia sendiri banyak berperan di perdagangan lokal

dan sebagai penghubung antara sentra-sentra produksi dan peda

‘gang perantara. Dalam perkembangan sclanjutnya, para pedagang

Eropa yang pada masa itu dirasuk oleh semangat menaklukkan

mulai menggunakan ke-

daerah baru—semangat imperialisme

unggulan organisasi dan militernya untuk mendominasi kawasan

ini secara teritorial. Merck ingin mendapatkan keuntungan yang

lebih besar daripada sekadar berdagang biasa. Kita nani akan

‘mengisahkan bagaimana kongsi dagang Belanda Verenigde Oost: Indische Compagnie (VOC) melakukan
hal ini di Nusantara.
Di kawasan ini berkembang dua pusat perdagangan utama: di

sekitar Selat Malaka dan di kawasan Lout Jawa, dan keduanya

mengait dengan jalur besar perdagangan Asia-Eropa.

Perdagangan dan pertukaran, sesuai dengan teori ekonomi,

mendorong timbulnya spesialisasi produksi di antara ekonomi

ekonomi lokal berdasarkan keunggulan komparatif mereka masing-

masing. Kita dapat memperoleh kesan mengenai pola perdagangan

dan spesialisasi di kawasan ini dari kutipan berikut ini.

Kapas, kain, dan bahan pangan pokok (beras, garam, ikan

Kering, bij-bjian) dari Jawa diangkut ke pelabuhan-pelabuhan di

‘Sunda dan Sumatra Timur serta Sumatra Barat untuk ditukar

dengan lad; pedagang Cina dan India membawa produkproduk

seperti sutra, kain Katun, porselen ke Jawa dan selanjutnya dibawa

bersama beras ke Maluku untuk ditukar dengan cengkdh dan pala;

rempah-rempah dan beras dikirim ke Malaka dan sebagian ditukar

oleh pedagang Cina dan Indonesia dengan porselen, sutra, logam

mulia, atau wang tembaga. Di samping, dan terkait dengan, aliran

‘perdagangan segitiga utama antara Selat Malaka, Jawa, dan Kawa.


san Timur Indonesia ini, ada aliran-aliran perdagangan sampingan,

misalnya lada Sumatra dikirim ke Bali melalui Jawa untuk ditukar

dengan kain katun; pisau dari Belitung dan Karimata ditukar

dengan kayu cendana dan damar dari Timor: Lacca (kayu wangi)

didatangkan dari Burma Selatan, kesumba (pewarna) dari Marta-pura di Kalimantan Selatan.”

Selain spesialisasi produksi, pertukaran atau perdagangan juga

‘mendorong timbulnya satu proses penting lagi, yaitu monerisasi—

‘penggunaan uang sebagai alat tukar. Perdagangan dan monetisasi

berkembang seiring dan saling memperkuat—tumbuhnya perda-

‘gangan mendorong tumbuhnya monetisasi, pada gilirannya mone-

tisasi memperlancar dan memperluas kegiatan perdagangan, dan

selanjutnya perluasan perdagangan menuntut kebutuhan alat tukar

yang lebih banyak.

Pada masa itu, tidak ada satu standar mata uang di Nusantara,

tetapi berbagai lat tukar beredar dan dipakai masyarakat secara

bersamaan. Secara umum, ada dua kelompok mata uang yang

beredar dalam jumlah besa, yaitu (a) uang tembaga pecahan kecil

(termasuk campuran dengan timah putih dan timah hitam) dalam

berbagai bentuk dan asal (Cina, India, Belanda, dan lain lain); dan

(b) uang perak pecahan besar (dari Belanda, Meksiko, Spanyol,

dan lain-lain). Sebagai pecahan kecil, uang tembaga lebih luas

peredarannya daripada uang perak. Salah satu mata uang yang

Iuas dipakai adalah mata uang picis Cina yang terbuat dari tembaga
(atau campuran tembaga dan timah hitam) atau versi lokal mata

uang ni. Satu studi mengatakan bahwa pada abad 17 diperkirakan

sebanyak 800 juta picis beredar di kawasan Nusantara. Dengan

penduduk pada wakuw itu diperkirakan sckitar 10 juta, maka

Peredaran rata-rata per orang adalah 80 picis—suatu tingkat

monetisasi yang cukup tinggi pada masa it. Meskipun demikias

berbagailaporan mengenal masa ini mengatakan bahwa masyar,

Kat pada umumnya, terutama yang jauh dari pusat-pusat per,

gangan, selalu saja merasakan kelangkaan akan uang—artiny,

proses monetisasijauh dari selesai.

VOC membutuhkan ala tukar dalam jumlah besar untuk men

biayai pembelian komoditi dari produsen dan pedagang lokal,

untuk selanjutnya dickspor ke Eropa. Pada awalnya, mercka meme-

nuhi kebutuhan ini dengan mendatangkan uang perak Belanda

(gulden) dan negara lain (seperti, rixdollar), “Tetapi, cara ini ter-

nyata sangat mahal. Oleh karena itu, VOC mulai mencetak mata

uangnya sendiri untuk dipakai di Indonesia dari logam yang lebih

murah (timah hitam mulai diedarkan tahun 1633, selanjutnya

{embaga atau campurannya mulai 1636).> Baru tiga abad kemu-

dian, pada abad 19, kawasan ini mempunyai satu standar mata

uang, yaitu gulden Hindia Belanda, seiring dengan makin terkon-

solidasinya kekuasaan Belanda di Indonesia.