You are on page 1of 3

KOMUNIKASI ILMIAH

Komunikasi ilmiah (scholarly or scientific communication) adalah suatu


penyampaian pesan berupa informasi yang berisi fakta-fakta (kebenaran) dan
keberadaanya bisa di terima oleh banyak kalangan masyarakat bukan hanya
individu. Komunikasi ilmiah merupakan bagian dari komunikasi. Karena
komunikasi sendiri ialah proses penyampaian pesan dari pemberi pesan kepada
penerima pesan melalui suatu media dalam bentuk informasi yang berisi opini
maupun fakta yang keberadaanya bisa di terima oleh individu maupun kalangan
(masyarakat). Itu artinya tidak semua komunikasi bisa di kategorikan masuk
kedalam komunikasi ilmiah.

Komunikasi ilmiah umumnya berkaitan dengan kegiatan-kegiatan


penelitian, khususnya di lingkungan akademik. Dari segi kajian, komunikasi ilmiah
mencakup perkembangan ilmu pengetahuan, hubungan antara peneliti dalam
berbagai aspek, pemanfaatan dan kebutuhan informasi dari kelompok peneliti, serta
metode komunikasi baik formal maupun informal.

Keterkaitan antara komunikasi ilmiah dan tradisi akademik muncul ketika


banyak luaran dari proses penelitian/kegiatan akademik menjadi krusial untuk
digunakan sebagai informasi yang terekam atau tersimpan. Dalam tradisi akademik,
seorang peneliti sebagai produsen informasi akan banyak menghasilkan tulisan,
artikel, monograf, hasil penelitian, gagasan, ide, invensi, dan teori yang kemudian
dikomunikasikan dalam berbagai bentuk media. Agar banyak yang mengetahui dan
mengakui keberadaanya.

Seorang penulis juga mengkomunikasikan pengetahuannya ataupun


karyanya pada masyarakat melalui media rekam formal seperti buku, jurnal, dan
lain-lain. Melalui perkembangan teknologi informasi, banyak proses komunikasi
dilakukan melalui dunia maya. Diskusi, ceramah, juga dilakukan melalui media
blog,social networking, dan sebagainya.

Buku terbagi dari dua macam, buku fiksi dan buku nonfiksi. fiktif berarti
tidak nyata, rekaan, imajinasi, khayalan. Nah, dari sini sudah bisa disimpulkan
bahwa buku fiksi adalah buku yang berupa cerita rekaan. Itu artinya buku fiksi tidak
termasuk kedalam golongan komunikasi lmiah. Meskipun dapat di erima banyak
khalayak umum, namun isinya bukan fakta – fakta, melainkan hanya suatu
karangan opini. Contoh buku fiksi adalah novel, komik dan cerpen.
Sedangkan buku nonfiksi berisi informasi yang dibuat berdasarkan data,
fakta, dan penelitian. Dalam membuat buku non fiksi ini makanya tidak bisa
sembarangan. Apa yang ditulis harus bisa dipertanggung jawabkan. Maka buku
nonfiksi termasuk dalam golongan komunikasi ilmiah, karena memuat fakta-fakta
dan dapat di terima oleh banyak khalayak umum. Misalnya saja buku mengenai
inspirasi, tips, biografi, ensiklopedia, dll.

Menurut jenisnya, komunikasi memiliki dua jenis yaitu komunikasi satu


arah dan dua arah. Komunikasi satu arah (one way communication) adalah
komunikasi yang terjadi dari satu arah saja dimana hanya ada satu pihak yang
berkomunikasi dengan menyampaikan tanpa memberi kesempatan pihak lainnya
untuk merespon. Sedangkan, Komunikasi dua arah atau two ways
communication adalah proses komunikasi dimana terjadi timbal balik (feedback)
atau respon saat pesan dikirimkan oleh sumber atau pemberi pesan kepada penerima
pesan. Jenis komunikasi ini berbanding terbalik dengan komunikasi satu arah,
dimana kedua pihak berperan aktif saling berkesinambungan dan memberikan
respon terhadap pesan yang dikirimkan satu sama lain.

Dalam komunikasi dua arah, ketika pemberi pesan menyampaikan suatu


pesan yang berisi informasi kepada penerima pesan, kemudian si penerima pesan
menerima apa yang disampaikan oleh pemberi pesan bukan berarti itu adalah
komunikasi ilmiah. Karena meskipun diterima oleh si penerima pesan jika hal
tersebut tidak melalui metode ilmiah maka tidak termasuk kedalam komunikasi
ilmiah. Kecuali banyak diterima oleh banyak penerima pesan dan sudah melaului
metode ilmiah di tandai dengan data, fakta, dan penelitia yang sudah dilakukan.

Komunikasi verbal adalah komunikasi lisan yang disampaikan melalui kata-


kata yang diucapkan seperti pidato, presentasi, diskusi dan dialog tatap muka.
Dalam komunikasi lisanl ini, pengirim informasi berbagi pemikirannya dalam
bentuk kata-kata. Dalam penyampaiannya, pembicara harus menggunakan suara
yang keras atau nada yang lebih tinggi dan isi atau konten informasi yang jelas agar
si penerima informasi dapat dengan jelas memahami apa yang ingin disampaikan
oleh si pengirim informasi sehingga tidak menimbulkan kebingungan dan
kesalahpahaman. Pengirim infomasi atau pembicara juga harus memeriksa kembali
apakah pendengar atau penerima informasi tersebut telah mengerti dan memahami
konten informasi yang disampaikannya. Oleh karena itu, feedback atau umpan balik
dari si penerima informasi juga penting untuk diperhatikan sehingga komunikasi
dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Komunikasi Non-Verbal / simbolis ini meliputi bahasa tubuh, gerak tubuh
ekspresi wajah, dan bentuk tubuh. Dengan kata lain, si pengirim informasi tidak
menggunakan kata-kata dalam menyampaikan sesuatu yang diinginkannya namun
dengan menggunakan bahasa tubuh atau ekspresi wajah dan gerak tubuh tertentu
untuk mengirimkan informasi yang ingin disampaikannya. Kadang-kadang, bahasa
tubuh atau ekspresi wajah atau gerak tubuh tersebut terjadi secara tidak sengaja,
contohnya seperti berkeringat saat ketakutan atau pipinya merah saat merasa malu.

Sebagai contoh, pada saat kita ingin menyampaikan suatu pesan ketidaksenangan
dalam suatu perintah dari atasan dalam rapat namun kita tidak berani menolaknya
dengan kata-kata, biasanya kita akan menampilkan ekspresi wajah yang tidak
senang atau mengeleng-gelengkan kepala.

Komunikasi Tertulis atau adalah proses penyampaian informasi dengan


menggunakan berbagai tanda, simbol, gambar dan tipografi. Informasi atau pesan
yang ingin disampaikan tersebut dapat dicetak ataupun ditulis dengan tulisan
tangan. Komunikasi Tertulis ini memungkinkan informasi dicatat sehingga dapat
dijadikan referensi atau rujukan di kemudian hari dan hasil dari komunikasi tertulis
ini juga dapat dibahas berulang kali. Komunikasi Tertulis ini harus ringkas dan jelas
agar dapat mengkomunikasikannya secara efektif. Laporan tertulis yang bagus dan
benar adalah menggunakan tata bahasa yang tepat dan tidak menggunakan kata-
kata yang berlebihan, sehingga dapat benar-benar menyampaikan informasi yang
diperlukan.