You are on page 1of 11

MAKALAH

PENGUKURAN GOOD CORPORATE GOVERNANACE


(GCG)

Dosen
Dr. H. Jauhar Arifin, Drs., M.M

Disusun oleh :Kelompok 4

Anggota:
Ahmad Rusdi : 218.057.20202.0824
Atik Fatmawati : 218.057.20202.0825
Aprian Fahturrahman : 218.057.20202.0860
Noorlinda : 218.057.20202.0828
Siska Anggreani : 218.057.20202.0816
Zainudin Irwan : 218.057.20202.0817

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI BISNIS


( GENAP/II )

SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINISTRASI


(STIA) TABALONG
Kampus : Komplek Stadion Olahraga Pembataan Tanjung Kec.Murung Pudak Kab.Tabalong
Telp. (0526) 20202484
Website : www.stiatabalong.ac.id
Email : info.stiatabalong.ac.id
2018/2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak
akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga
terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita
nanti-natikan syafa’atnya di akhirat nanti.

Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu
berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan
pembuatan makalah sebagai tugas akhir dari mata kuliah Hukum Acara Peradilan Agama
dengan judul “PENGUKURAN GOOD CORPORATE GOVERNANACE”.

Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak
terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik
serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi
makalah yang lebih baik lagi. Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini
penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya kepada guru Bahasa
Indonesia kami yang telah membimbing dalam menulis makalah ini.

Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Tanjung, 29 April 2019

Klompok 4

I
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................................................................... i

DAFTAR ISI ..................................................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................................................... 1

A. Latar Belakang .............................................................................................................................. 1

B. Rumusan Permasalahan ............................................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................................................... 3

A. Pengertian Pengukuran (Assessment) Good Corporate Governance .......................................... 4

B. Manfaat Pengukuran (Assessment) Good Corporate Governance .............................................. 5

C. Konsep Kinerja Pengukuran (Assessment) Good Corporate Governance .................................... 5

D. Pengukuran Good Corporate Governance Didalam Suatu Perusahaan ....................................... 6

E. Pengukuran Terhadap Penerapan Good Corporate Governance................................................. 7

BAB III PENUTUP ............................................................................................................................................ 8

A. Kesimpulan ................................................................................................................................... 8

B. Saran ............................................................................................................................................. 8

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................................................... 8

II
BAB I PENDAHULUAN

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kita sering mendengar banyak perusahaan yang terpuruk karena tata
pemerintahan sebuah perusahaan tersebut tidak baik sehingga banyak fraud atau
praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang terjadi, sehingga terjadinya krisis
ekonomi dan krisis kepercayaan para investor, yang mengakibatkan tidak ada investor
yang mau membeli saham perusahaan tersebut. artinya, bisa dikatakan jika
perusahaan tersebut tidak menerapkan Corporate Governance dengan baik.
Sejarah lahirnya GCG muncul atas reaksi para pemegang saham di Amerika
Serikat pada tahun 1980-an yang terancam kepentingannya (Budiati, 2012). Maraknya
skandal perusahaan yang menimpa perusahaan – perusahaan besar, baik yang ada di
Indonesia maupun yang ada di Amerika Serikat, maka untuk menjamin dan
mengamankan hak-hak para pemegang saham, muncul konsep pemberdayaan
komisaris sebagai salah satu wacana penegakan GCG.
Diindonesia, konsep GCG mulai dikenal sejak krisis ekonomi tahun 1997
krisis yang berkepanjangan yang dinilai karena tidak dikelolanya perusahaan-
perusahaan secara bertanggungjawab, serta mengabaikan regulasi dan sarat dengan
praktek (korupsi, kolusi, nepotisme) KKN (Budiati, 2012).
Bermula dari usulan penyempurnaan peraturan pencatatan pada Bursa Efek
Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia) yang mengatur mengenai peraturan bagi
emiten yang tercatat di BEJ yang mewajibkan untuk mengangkat komisaris
independent dan membentuk komite audit pada tahun 1998, Corporate Governance
(CG) mulai kenalkan pada seluruh perusahaan publik di Indonesia.pengerti GCG
menurut beberapa pakar sebagai berikut :
Menurut Cadbury Commitee of United Kingdom (1922) :” Seperangkat
peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola)
perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan, serta para pemegang kepentingan
internal dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka
atau dengan kata lain suatu sistem yang mengarahkan dan mengendalikan
perusahaan”. Muh. Effendi (2009) dalam bukunya The Power of Good Corporate
Governance, pengertian GCG adalah suatu sistem pengendalian internal perusahaan
yang memiliki tujuan utama mengelola risiko yang signifikan guna memenuhi tujuan

1
bisnisnya melalui pengamanan aset perusahaan dan meningkatkan nilai investasi
pemegang saham dalam jangka panjang.
Soekrisno Agoes (2006), Tata Kelola Perusahaan yang baik adalah : Sistem
yang mengatur hubungan peran Dewan Komisaris, peran Direksi, pemegang saham,
dan pemangku kepentingan lainnya. Disebut juga sebagai suatu proses yang
transparan atas penentuan tujuan perusahaan, pencapaiannya dan penilaian kinerjanya.
Wahyudi Prakarsa (dalam Sukrisno Agoes,2006) menjelaskan tatakelola perusahaan
yang baik adalah “Mekanisme administratif yang mengatur hubungan-hubungan
antara manajemen perusahaan, komisaris, direksi, pemegang saham, dan kelompok-
kelompok kepentingan yang lain. Dimana hubungan ini dimanifestasikan dalam
bentuk aturan permainan dan sistem insentif sebagai kerangka kerja yang diperlukan
untuk mencapai tujuan perusahaan, cara pencapaian tujuan serta pemantauan kinerja
yang dihasilkan”.
Dari pendapat pakar diatas dapat dikatakan bahwa good corporate governance
(GCG) adalah seperangkat peraturan yang mengatur, mengelola dan mengawasi
hubungan antara para pengelola perusahaan dengan stakeholders disuatu perusahaan
untuk meningkatkan nilai perusahaan. Perusahaan yang melakukan peningkatan pada
kualitas GCG menunjukan peningkatan penilaian pasar, sedangkan perusahaan yang
mengalami penurunan kualitas GCG, cenderung menunjukan penurunan pada
penilaian pasar.
Berdasarkan KeputusanMenteri Badan Usaha Milik Negara Nomor KEP–
117/M-MBU/2002Tentang Penerapan Praktek Good Corporate GovernancePada
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pasal 2 ayat 1 menyatakan bahwa “BUMN
wajib menerapkan good corporate governancesecara konsisten dan atau menjadikan
good corporate governance sebagai landasan operasionalnya.”.Kemudian pemerintah
mengeluarkan Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor PER –
01Tahun 2011 Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good
Corporate Governance) Pada Badan Usaha Milik Negara pasal 2 yang menyatakan
bahwa :
77“1. BUMN wajib menerapkan GCG secara konsisten dan berkelanjutan
dengan berpedoman pada peraturan menteri ini dengan tetap memperhatikan
ketentuan, norma yang berlaku serta anggaran dasar BUMN.2. Dalam rangka
penerapan GCG sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Direksi menyusun GCG
manual yang diantaranya dapat memuat boardmanual, manajemen risiko manual,

2
sistem pengendalian intern, sistem pengawasan intern, mekanisme pelaporan atas
dugaan penyimpangan pada BUMN bersangkutan, tata kelola teknologi informasi,
dan pedoman perilaku etika (code of conduct).”Dalam praktiknya, masih terdapat
Badan Usaha Milik Negara (BUMN)yangkurang begitu memperhatikan implementasi
dari prinsip-prinsip Good Corporate Governance(GCG) dalam melaksanakan kegiatan
usahanya.Hal ini terlihat dari adanya kasus-kasus yang terjadi pada Badan Usaha
Milik Negara (BUMN)seperti terungkapnya kasusWaskita Karya(salah satu BUMN
yang bergerak di bidang jasa konstruksi)yang diduga melakukan rekayasa laporan
keuangan. Dalam kasus ini diduga terdapat rekayasa keuangan sejak tahun buku
2004-2008 dengan memasukkan proyeksi pendapatan proyek multitahun ke depan
sebagai pendapatan tahun tertentu. (Sumber : Mohamad Fajri Mekka Putra, Kasus
Waskita dan Kelemahan Implementasi GCG Indonesia, September 2009).

B. Rumusan Permasalahan
1. Bagaimana pengukuran good corporate governance didalam suatu perusahaan?
2. Bagaimana Pengukuran Terhadap Penerapan Good Corporate Governance?
3. Jelaskan bagaimana arti ataupun manfaat suatu Assessment GCG!

BAB II PEMBAHA SAN

PEMBAHASAN

3
A. Pengertian Pengukuran (Assessment) Good Corporate Governance
Pengukuran (Assessment) Good Corporate Governance merupakan upaya untuk
mengukur atau lebih tepatnya memetakan kondisi perusahaan dalam penetapan Good
Corporate Governance saat ini. Langkah ini perlu guna memastikan titik awal level
penerapan Good Corporate Governance dan untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang
tepat guna mempersiapkan infrastruktur dan struktur perusahaan yang kondusif bagi
penerapan Good Corporate Governance secara efektif. Dengan kata lain, Pengukuran
(Assessment) Good Corporate Governance dibutuhkan untuk mengidentifikasi aspek-
aspek apa yang perlu mendapatkan perhatian terlebih dahulu, dan langkah-langkah apa
yang dapat diambil untuk mewujudkannya.

Good Governance yang diindonesiakan menjadi "tata pemerintahan yang baik" adalah
suatu praktek penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka memberikan pelayanan kepada
masyarakat dengan sebaik-baiknya. Definisi menurut UNDP lebih kurang adalah suatu
penggunaan semua wewenang mencakup wewenang ekonomi, politik dan administrasi
guna mengelola urusan-urusan negara pada semua tingkat. Tata pemerintahan disini
mencakup seluruh mekanisme, proses, dan lembaga-lembaga dimana warga dan kelompok
masyarakat mengutarakan kepentingan mereka, menggunakan hak hukum, memenuhi
kewajiban dan menjembatani perbedaan-perbedaan di antara mereka. Dalam konteks ini
tidak hanya pemerintah, namun meliputi tiga domain yaitu negara yang diwakili
pemerintah, swasta dan masyarakat.
Ada 9 indikator untuk mengukur Good Governance menurut UNDP, yaitu:
1. Participation (keterlibatan masyarakat),
2. Rule of law (penegakan hukum yang adil);
3. Transprancy (kebebasan memperoleh informasi);
4. Responsiveness (cepat dan tanggap);
5. Consensus Orientation (berorientasi pada kepentingan masyarakat);
6. Equity (kesempatan yang sama);
7. Efficiency and effectiveness (efisiensi dan efektivitas);
8. Accountability (pertanggungjawaban publik);
9. Strategic vision (adanya visi ke depan).

4
B. Manfaat Pengukuran (Assessment) Good Corporate Governance

1. Meningkatkan kesadaran bersama di kalangan pelaku bisnis terhadap pentingnya


GCG dalam pemulihan ekonomi dan pengelolaan perusahaan.
2. Dapat dimanfaatkan untuk memetakan masalah-masalah strategis yang terjadi
dalam penerapan GCG, sekaligus sebagai dasar dalam pembuatan kebijakan yang
diperlukan;
3. Mengetahui kondisi penerapan GCG dari emiten dan perusahaan, sebagai data
dalam rangka sosialisasi GCG oleh pihak-pihak terkait;
4. Menjadikan indeks dan rating sebagai suatu indikator atau standar mutu yang ingin
dicapai perusahan dalam bentuk pengakuan dari masyarakat terhadap penerapan
GCG;
5. Menciptakan komitmen dan tanggungjawab bersama serta mendorong seluruh
anggota organisasi perusahaan untuk menerapkan GCG;
6. Mendorong partisipasi masyarakat dalam pengembangan Corporate Governance;
7. Memunculkan inisiatif, khususnya dari perguruan tinggi untuk memasukkan
konsep GCG sebagai salah satu bagian dari silabus yang diajarkan dalam jenjang
pendidikan tinggi;
8. Mendorong respon positif dari kalangan bisnis internasional terhadap informasi
kondisi praktik GCG di Indonesia
9. Semua manfaat tersebut di atas dapat diperoleh, jika dan hanya jika, pengukuran
indeks dan peringkat GCG dilakukan secara paripurna dan atau dapat
dipertanggungjawabkan metodologinya.

C. Konsep Kinerja Pengukuran (Assessment) Good Corporate Governance


Governance tercipta apabila terjadi keseimbangan kepentingan antara
semua pihak yang berkepentingan dengan bisnis kita. Identifikasi keseimbangan
dalam keberadaannya memerlukan sebuah sistem pengukuran yang dapat menyerap
setiap dimensi strategis dan operasional bisnis serta berbasis informasi. Pengukuran
kinerja konsep GCG berdasarkan kepada lima dasar, yaitu:

 Perlindungan hak pemegang saham,


 Persamaan perlakuan pemegang saham,
 Peranan stakeholdersterkait dengan bisnis,
 Keterbukaan dan transparansi,
 Akuntabilitas dewan komisaris

Pengukuran efektifitas pelaksanaan GCG di Perusahaan dilaksanakan melalui


metode penilaian (assessment). Metode penilaian untuk mengukur efektifitas GCG
Perusahaan dapat dilakukan dengan:

 Penilaian sendiri; atau


 Penilaian pihak ketiga

5
D. Pengukuran Good Corporate Governance Didalam Suatu Perusahaan
Good Corporate Governance (GCG) merupakan acuan standar yang wajib
diterapkan oleh BUMN sebagai landasan operasional kegiatan usaha perusahaan
sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor
Kep-117/M-MBU/2002, tentang penerapan GCG pada BUMN. Dalam jangka panjang,
penerapan GCG diharapkan akan dapat meningkatkan nilai perusahaan dalam bentuk
meningkatnya kinerja serta citra perusahaan. Assessment terhadap penerapan GCG
menjadi relevan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi penerapan GCG
disamping untuk mengidentifikasi bidang-bidang yang memerlukan perbaikan. Hasil
assessment dengan demikian diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengambil
keputusan dibidang perbaikan penerapan GCG di masa yang akan datang, sehingga
manfaat dari diterapkannya GCG tersebut dapat diperoleh secara optimal. Didasari oleh
alasan tersebut, maka penulis memandang perlu adanya pengukuran sampai sejauh mana
penerapan GCG dilaksanakan oleh PT Pupuk Sriwidjaja dengan menggunakan suatu
metode pegukuran yang praktis, sederhana dan dapat dengan mudah dilakukan oleh
pihak internal perusahaan sehingga pengukuran tersebut dapat secara kontinyu dilakukan
oleh manajemen. Beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian dari manajemen PT
Pupuk Sriwidjaja untuk dapat melakukan perbaikan dalam praktik penerapan GCG pada
waktu yang akan datang adalah sebagai berikut:
a) Sistem pengangkatan Komisaris agar dilakukan secara transparan melalui fit and
proper test, seperti yang sudah dilakukan terhadap para anggota Direksi.
b) Pemegang Saham agar dapat mengangkat 1 orang Komisaris Independen untuk
mengawasi jalannya perusahaan dengan memastikan bahwa perusahaan tersebut telah
melakukan praktik-praktik transparansi, pengungkapan, kemandirian, akuntabilitas
serta praktik keadilan dan kewajaran menurut ketentuan yang berlaku.
c) Penilaian kinerja Komisaris dan Direksi agar dapat dilakukan secara individual
selain secara kolektif.
d) Selain Komite Audit yang sudah terbentuk, disarankan agar dibentuk komite
penunjang yang saat ini masih ditangani langsung oleh komisaris sehingga fungsinya
kurang optimal. Komite penunjang tersebut adalah Komite Renumerasi, Komite
Nominasi, Komite Asuransi dan Risiko Usaha.
e) Pelaksanaan seleksi Auditor Eksternal dapat dilakukan secara transparan oleh
Komisaris dengan terlebih dahulu mendapatkan masukan dari Komite Audit.

6
f) Komite Audit yang semuanya punya keterikatan dengan para pemegang
kepentingan hendaknya ditambah dengan anggota yang independen.

E. Pengukuran Terhadap Penerapan Good Corporate Governance


1. BUMN wajib melakukan pengukuran terhadap penerapan Good Corporate
Governance dalam bentuk:
1.1 Penilaian (assessment) yaitu program untuk mengidentifikasi pelaksanaan
Good Corporate Governancedi BUMN melalui pengukuran pelaksanaan dan
penerapan Good Corporate Governance di BUMN yang dilaksanakan
secara berkala setiap 2 (dua) tahun.
1.2 Evaluasi (review), yaitu program untuk mendeskripsikan tindak lanjut
pelaksanaan dan penerapan Good Corporate Governance di BUMN yang
dilakukan pada tahun berikutnya setelah penilaian sebagaimana dimaksud
pada 16huruf a, yang meliputi evaluasi terhadap hasil penilaian dan tindak
lanjut atas rekomendasi perbaikan.
2. Sebelum pelaksanaan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
a, didahului dengan tindakan sosialisasi Good Corporate Governancepada BUMN
yang bersangkutan.
3. Pelaksanaan penilaian pada prinsipnya dilakukan oleh penilai (assessor)
independen yang ditunjuk oleh Dewan Komisaris/Dewan Pengawas melalui
proses sesuai dengan ketentuan pengadaan barang dan jasa masing-masing
BUMN, dan apabila diperlukan dapat meminta bantuan Direksi dalam
proses penunjukannya.
4. Apabila dipandang lebih efektif dan efisien, penilaian dapat dilakukan
dengan menggunakan jasa Instansi Pemerintah yang berkompeten di bidang
Good Corporate Governance yang penunjukannya dilakukan oleh Direksi
melalui penunjukan langsung.
5. Pelaksanaan evaluasi pada prinsipnya dilakukan sendiri oleh BUMN
yang bersangkutan (self assessment), yang pelaksanaannya dapat didiskusikan
dengan atau meminta bantuan (asistensi) oleh penilai independen atau
menggunakan jasa Instansi Pemerintah yang berkompeten di bidang Good
Corporate Governance
6. Pelaksanaan penilaian dan evaluasi dilakukan dengan
menggunakan indikator/parameter yang ditetapkan oleh Sekretaris Kementerian
BUMN.17
7. Dalam hal evaluasi dilakukan dengan bantuan penilai independen atau
menggunakan jasa Instansi Pemerintah yang berkompeten di bidang Good
Corporate Governance ,maka penilai independen atau Instansi Pemerintah
yang melakukan evaluasi tidak dapat menjadi penilai pada tahun berikutnya.
8. Sebelum melaksanakan penilaian, penilai sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) dan ayat (4), menandatangani perjanjian kesepakatan kerja dengan Direksi
BUMN yang bersangkutan yang sekurang-kurangnya memuat hak dan kewajiban
masing-masing pihak, termasuk jangka waktu dan biaya pelaksanaan.
9. Hasil pelaksanaan penilaian dan evaluasi dilaporkan kepada RUPS/Menteri
bersamaan dengan penyampaian Laporan Tahunan

7
BAB III PENUTUP

PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Pengukuran (Assessment) Good
Corporate Governance merupakan upaya untuk mengukur atau lebih tepatnya memetakan
kondisi perusahaan dalam penetapan Good Corporate Governance saat ini. Pengukuran
(Assessment) Good Corporate Governance Good dapat tercipta apabila terjadi
keseimbangan kepentingan antara semua pihak yang berkepentingan dengan bisnis kita.
Identifikasi keseimbangan dalam keberadaannya memerlukan sebuah sistem pengukuran
yang dapat menyerap setiap dimensi strategis dan operasional bisnis serta berbasis
informasi.

B. Saran
1.

DAFTAR PUSTAKA

1. https://www.proxsisgroup.com/articles/good-corporate-governance-gcg-dan-penerapannya-
di-indonesia-part/
2. https://kumparan.com/teddy-kozuma/good-corporate-governance
3. https://fakhrurrojihasan.wordpress.com/2013/12/30/8-manfaat-assessment-implementasi-gcg/
4. http://annualreport.id/dialog/wilson-arafat-pentingnya-assessment-implementasi-gcg-
5. http://www.bulog.co.id/gcg_ass.php