You are on page 1of 14

BAB 1

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Penyu adalah kura-kura laut yang ditemukan di semua samudra di


dunia. Menurut data para ilmuwan, penyu sudah ada sejak akhir zaman Jura
(145 - 208 juta tahun yang lalu) atau seusia dengan dinosaurus. Pada masa itu
Archelon, yang berukuran panjang badan enam meter, dan Cimochelys telah
berenang di laut purba seperti penyu masa kini. Penyu pada umumnya
bermigrasi dengan jarak yang cukup jauh dengan waktu yang tidak terlalu
lama. Jarak 3.000 kilometer dapat ditempuh 58 - 73 hari dan merupakan salah
satu hewan purba yang masih hidup sampai sekarang.
Penyu adalah satwa migran, seringkali bermigrasi dalam jarak ribuan
kilometer antara daerah tempat makan dan tempat bertelur. Penyu
menghabiskan waktunya di laut tapi induknya akan menuju ke daratan ketika
waktunya bertelur. Induk penyu bertelur dalam siklus 2-4 tahun sekali, yang
akan datang ke pantai 4-7 kali untuk meletakan ratusan butir telurnya di dalam
pasir yang digali. Namun, para ahli mengatakan bahwa keberhsilan hidup
penyu sampai usia dewasa sangatlah rendah, hanya sekitar 1-2% dari jumlah
telur yang dihasilkan.
Populasi penyu telah mengalami penurunan yang drastis saat ini,
dimana beberapa spesies terancam punah dalam waktu dekat. Di alam, penyu-
penyu yang baru menetas menghadapi ancaman kematian dari hewan-hewan
seperti kepiting, burung dan reptilia lainnya seperti biawak. Selain dari alam,
ancaman paling besar bagi penyu di Indonesia, juga di dunia adalah manusia.
Manusia yang memanfaatkan wilayah pesisir untuk hidup, dengan melakukan
pembangunan di wilayah pesisir secara berlebihan tanpa disadari telah
mengurangi habitat penyu untuk bersarang. Kemudian berkurangnya populasi
penyu juga disebabkan oleh penagkapan penyu untuk diambil daging,
cangkang, kulit serta telurnya.
Di beberapa negara, penduduk masih mengambil telur penyu untuk di
konsumsi, termasuk Indonesia. Penduduk atau masyarakat percaya bahwa
telur penyu memiliki berbagai macam khasiat, yakni memiliki kandungan gizi
dan protein yang tinggi dan untuk meningkatkan kesuburan serta vitalitas pria.
Namun pada kenyataannya telur penyu memiliki kandungan toksin (racun)
yang cukup tinggi.
Telur penyu memiliki kandungan lemak dan kolesterol 20 kali lebih
banyak dibandingkan telur ayam. Kandungan koleterol yang tinggi
menyebabkan penyempitan pembuluh darah, sehingga mengakibatkan
penyakit berbahaya seperti penyakit jantung, stroke, tekanan darah tinggi dan
obesitas. Selanjutnya berdasarkan jurnal ilmiah oleh ditemukan kandungan
senyawa yang tergolong polutan organik persisten (POP) seperti tembaga,
merkuri, cadmium, arsenic yang mengakibatkan berbagai macam penyakit.
Telur-telur penyu ini dapat ditemukan di pasar umum maupun pasar ikan yang
ada disekitaran pesisir pantai, salah satu lokasinya adalah pasar-pasar di kota
Padang.
Pada tahun 2018, BPSPL kota Padang melakukan sidak dan
menemukan adanya penjualan telur penyu di warung makan di kelurahan
perupuk, kecamatan Koto Tangah, kota Padang. Hal ini membuktikan bahwa
masih maraknya penjualan telur penyu di kota Padang.
Menurut surat edaran nomor : 526/MEN-KP/VIII/2015 tentang
pelaksanaan perlindungan penyu, telur, bagian tubuh dan/atau produk
turunnya yang dikeluarkan oleh menteri kelautan dan perikanan mengatakan
bahwa penyu merupakan hewan yang dilindungi baik dengan hukum nasional
maupun internasional dimana keberadaanya terancam punah.
Dengan latar belakang diatas, penelitian magang yang berjudul “
Persebaran dan Intensitas Penjualan Telur Penyu di kota Padang” ini
bertujuan untuk mengetahui lokasi-lokasi penjualan telur penyu di kota
Padang serta intensitas penjualannya sehingga sebagai masukan bagi instansi
terkait untuk melakukan sosialisasi dan penyuluhan terkait dengan pentingnya
menjaga spesies penyu yang populasinya semakin berkurang.

2. Rumusan Masalah
a. Bagaimana Persebaran Lokasi Penjualan telur penyu di kota Padang?
b. Bagaimana intensitas penjualan telur penyu di tempat penjualan telur
penyu di kota Padang?
3. Tujuan
a. Bagaimana Persebaran Lokasi Penjualan telur penyu di kota Padang?
b. Bagaimana intensitas penjualan telur penyu di tempat penjualan telur
penyu di kota Padang?
4. Manfaat
a. Bagi mahasiswa, sebagai sarana latihan dan penerapan ilmu pengetahuan
perkuliahan dan meningkatkan kemampuan dan sosialisasi lingkungan
kerja, serta menambah wawasan.
b. Bagi Perguruan tinggi, agar terciptanya kerjasama antara perguruan tinggi
dengan instansi terkait (BPSPL).
c. Bagi pemerintah dan instansi terkait, sebagai acuan atau pedoman untuk
melakukan sosialisai dan penyuluhan terhadap masyarakat.
BAB 2

KAJIAN TEORI

A. Penyu

Penyu adalah kura-kura laut yang ditemukan di samudera di


seluruh samudera di dunia. Menurut data para ilmuan, penyu sudah ada
sejak akhir zaman Jura (145-208 juta tahun yang lalu) atau seusia dengan
dinosaurus. pada umumnya penyu melakukan migrasi dengan jarak yang
cukup jauh dalam waktu yang singkat, yakni jarak 3.000 km dapat
ditempuh 58-73 hari.

Penyu adalah satwa migran, seringkali bermigrasi dalam jarak


ribuan kilometer antara daerah tempat makan dan tempat bertelur.
Penyu menghabiskan waktunya di laut tapi induknya akan menuju ke
daratan ketika waktunya bertelur. Induk penyu bertelur dalam siklus 2-4
tahun sekali, yang akan datang ke pantai 4-7 kali untuk meletakan
ratusan butir telurnya di dalam pasir yang digali. Namun, para ahli
mengatakan bahwa keberhsilan hidup penyu sampai usia dewasa
sangatlah rendah, hanya sekitar 1-2% dari jumlah telur yang dihasilkan.

Di dunia ada 7 jenis penyu dan 6 diantaranya terdapat di Indonesia.


Jenis penyu yang ada di Indonesia adalah Penyu hijau (Chelonia mydas),
Penyu sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu lekang (Lepidochelys
olivacea), Penyu belimbing (Dermochelys coriacea), Penyu pipih (Natator
depressus) dan Penyu tempayan (Caretta caretta). Penyu yang tidak
ditemukan di perairan laut Indonesia adalah penyu Kemp’s Ridley. Penyu
belimbing adalah penyu yang terbesar dengan ukuran panjang badan
mencapai 2,75 meter dan bobot 600 - 900 kilogram. Sedangkan penyu
terkecil adalah penyu lekang, dengan bobot sekitar 50 kilogram.
B. Penyebab punahnya penyu/ permasalahan penyu
Keberadaan penyu baik ketika berada di perairan maupun ketika
menuju daerah pesisir untuk bertelur banyak mendapatkan gangguan
bahkan ancaman bagi kehidupannya. Permasalahan yang dapat
mengancam kehidupan penyu dapat digolongkan menjadi 2, yakni
ancaman dari faktor alam dan ancaman dari manusia.

1. Ancaman dari faktor alam


Gangguan dan ancaman dari faktor alami yang terjadi sampai saat
ini antara lain :
- Pemangsaan (Predation) tukik, baik terhdap tukik yang baru
keluar dari sarang maupun ketika tukik berada di laut.
Ancaman ketika tukik baru menetas berasal dari babi hutan,
anjing liar, biawak, burung elang dan predator lainnya.
Sedangkan ancaman tukik yang ada di laut berasal dari ikan
cucut.
- Penyakit, yang disebabkan oleh bakeri, virus atau karena
pencemaran lingkungan perairan.
- Perubahan Iklim, yang menyebabkan permukaan air laut naik
dan banyak terjadi erosi di pantai peneluran sehingga hal
tersebut berpengaruh terhadap berubahnya daya tetas dan
keseimbangan rasio kelamin tukik.
2. Ancaman dari faktor manusia
Sedangkan gangguan/ancaman dari faktor manusia yang senantiasa
terjadi sampai saat ini diantaranya :
- Tertangkapnya penyu karena aktivitas perikanan, baik sengaja
maupun tidak sengaja melalui berbagai macam alat tangkap
seperti tombak, jaring insang, rawai panjang, pukat.
- Penangkapan penyu dewasa untuk dimanfaatkan daging,
cangkang dan tulangnya.
- Pengambilan telur-telur penyu yang dimanfaatkan sebagai
sumber protein.
- Aktivitas pembangunan di wilayah pesisir yang merusak
habitat penyu untuk bertelur seperti penambangan pesir,
pembangunan pelabuhan dan bandara, pembangunan sarana
prasarana wisata pantai dan pembangunan dinding atau tanggul
pantai.

C. Telur penyu
Penyu mengalami siklus bertelur yang beragam, dari 2 - 8 tahun
sekali. Sementara penyu jantan menghabiskan seluruh hidupnya di laut,
betina sesekali mampir ke daratan untuk bertelur. Penyu betina
menyukai pantai berpasir yang sepi dari manusia dan sumber bising dan
cahaya sebagai tempat bertelur yang berjumlah ratusan itu, dalam lubang
yang digali dengan sepasang tungkai belakangnya. Pada saat mendarat
untuk bertelur, gangguan berupa cahaya ataupun suara dapat membuat
penyu mengurungkan niatnya dan kembali ke laut, juga penyu
menggunakan magnetism bumi sebagai bantuan untuk kembali ke
kampung halamannya ketika saat masih menjadi tukik, dan kembali saat
sudah dewasa untuk bertelur.
Penyu yang menetas di perairan pantai Indonesia ada yang
ditemukan di sekitar kepulauan Hawaii. Penyu diketahui tidak setia pada
tempat kelahirannya. Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan seekor
penyu. Dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina,
paling banyak hanya belasan tukik (bayi penyu) yang berhasil sampai ke
laut kembali dan tumbuh dewasa. Itu pun tidak memperhitungkan faktor
perburuan oleh manusia dan pemangsa alaminya
seperti kepiting, burung dan tikus di pantai, serta ikan-ikan besar begitu
tukik tersebut menyentuh perairan dalam.
D. Kandungan telur penyu
1. Kandungan gizi telur penyu
Dari 100 gram berat telur penyu, gizi yang terkandung
didalamnya adalah : energi 144 kkal, protein 12 g, lemak 10.2 g,
kalsium 84 mg, fosfor 193 mg, zat besi 1 mg, vitamin A telur penyu =
600 IU, vitamin B1 telur penyu 0.11 mg.
2. Kandungan racun di telur penyu
- Kandungan senyawa polutan organik persisten (POP) dan
logam berat yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia
diantaranya tembaga, kobalt, selenium, arsenic, cadmium, dan
merkuri.
- Kandungan polychlorinated biphenyl atau PCB memiliki dosisi
tinggi yakni 300 kali diatas batas aman harian yang ditetapkan
lembaga WHO.
- Kandungan lemak dan kolesterol 20 kali lebih besar dibanding
telur ayam.
E. Penyakit yang disebabkan mengkonsumsi telur penyu
Beberapa penyakit yang disebabkan oleh kandungan toksin
didalam telur penyu dapat menyebabkan penyakit, diantaranya kanker,
liver, kerusakan sistem syaraf, gangguan sistem hormon endokrin,
penyakit jantung, stroke
F. Peraturan perundang-undangan larangan mengambil telur penyu
1. Peraturan internasional
- Indonesia telah menandatangani Biodiversity Convention
dengan meratifikasinya melalui Undang-undang No. 5 Tahun
1994 tentang Pengesahan Konvensi Perserikatan Bangsa-
bangsa mengenai Keanekaragaman hayati.
- populasi enam spesies penyu laut tercantum sebagai yang
rentan, terancam, atau sangat terancam menurut IUCN Red List
of Threatened Species [Daftar Merah Spesies Yang Terancam
Menurut IUCN].
- CITES (Convention on International Trade in Endangered
Species of Wild Fauna and Flora/ Konvensi Internasional yang
Mengatur Perdagangan Satwa dan Tumbuhan Liar Terancam
Punah).
- Secara regional, pada tanggal 12 September 1997 bertempat di
Thailand, Pemerintah Indonesia bersama-sama negara ASEAN
lainnya telah menandatangani kesepakatan bersama mengenai
Konservasi dan Perlindungan Penyu.
- Serta tahun 2001 menandatangani nota kesepahaman di bawah
Konvensi Konservasi Species Migratori Satwa Liar, perjanjian
tersebut kemudian dikenal dengan Nota Kesepahaman Penyu
Laut Kawasan Samudra Hindia dan Asia Tenggara.

2. Peraturan nasional
- Peraturan Pemerintah (PP) nomer 7 tahun 1999 tentang
pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.
- Undang-undang no.5 tahun 1990 tentang konservasi sumber
daya alam hayati dan ekosistemnya.
- Surat edaran mendagri nomor 523.3/5228/SJ/2011 tanggal 29
Desember 2011 tentang pengelolaan penyu dan habitatnya.
- Surat edaran menteri kelautan dan perikanan Indonesia nomor :
526/MEN-KP/VIII/2015 tentang pelaksanaan perlindungan
penyu, telur, bagian tubuh, dan/atau produk turunannya.
G. SIG

Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan suatu sistem


berbasis komputer untuk menangkap (capture), menyimpan (store),
memanggil kembali (retrieve), menganalisis dan mendisplay data spasial,
sehingga efektif dalam menangani permasalahan yang kompleks baik
untuk kepentingan penelitian perencanaan, pelaporan maupun untuk
pengelolaan sumber daya dan lingkungan. Salah satu keunggulan SIG
adalah fungsi analisis dan manipulasinya yang handal, baik secara grafis
(spasial) maupun tabular (data berbasis tabel).
Ada 2 (dua) jenis model dalam kerangka analisis spasial, yaitu :
Model Berbasis Presentatif, yakni model yang mempresentasikan objek di
permukaan bumi (landscape) dan Model berbasis proses, yakni model
yang mensimulasikan objek-objek di permukaan bumi (seperti bangunan,
sungai, jalan, dan hutan) melalui layer data di dalam SIG.
Model berbasis proses digunakan untuk menggambarkan interaksi
objek yang dimodelkan pada model representatif. Hubungan tersebut
dimodelkan menggunakan berbagai alat/tool/model analisis spasial.
Analisis spasial dapat dilakukan pada data yang terformat dalam
bentuk layer data raster ataupun layer data yang berisi data vektor. Ada
beberapa jenis analisis spasial untuk penanganan data vektor yang dibagi
menjadi 3 (tiga) : (1) ekstraksi, (2) overlay dan (3) proximity.
Tumpang susun (overlay) dalam analisis Sistem Informasi
Geografis adalah menggabungkan dua atau lebih data grafis untuk
memperoleh data grafis baru yang memiliki satuan pemetaan baru. Untuk
melakukan overlay maka hasus memenuhi syarat yaitu mempunyai sistem
koordinat yang sama antar data.
Beberapa metode yang untuk melakukan overlay data grafis pada
Sistem Informasi Geografis yaitu identity, intersection, union dan update.
Metode Identity adalah tumpang susun dua grafis dengan menggunakan
data grafis pertama sebagai acuan batas luarnya, metode intersection
adalah metode tumpang susun antara dua data grafis tetapi apabila batas
luarnya dua data grafis tersebut tidak sama maka yang dilakukan
pemrosesan hanya pada daerah yang bertampalan metode union adalah
tumpang susun yang berupa penggabungan antara dua data atau lebih,
metode update dengan menghapuskan informasi grafis pada coverage
input dan diganti dengan informasi dari informasi converage update.
BAB 3

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan
metode survei yang digunakan dalam pengungkapan suatu masalah atau
keadaan sebagaimana adanya dan mengungkapkan fakta-fakta yang ada,
berfungsi dalam mengadakan spesifikasi mengenai gejala-gejala fisik maupun
sosial yang dipersoalkan. Hasil penelitiannya difokuskan untuk memberi
gambaran keadaan sebenarnya dari Objek yang diteliti (Tika : 2005)
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di wilayah kota Padang, tepatnya di pasar-
pasar sekitaran pesisir pantai kota Padang. Waktu penelitian yang
direncanakan adalah sejak tanggal 17 Juni 2019 sampai selesai.
C. Bahan dan Alat Penelitian
1. Bahan
a. Peta administrasi kota Padang
b. Data lokasi pasar di kota Padang
2. Alat
a. GPS Essential, untuk mengambil titik koordinat lokasi penjual penyu.
b. Laptop, untuk membantu analisis dan membuat laporan.
c. Kamera, untuk mengambil dokumentasi kegiatan penelitian.
d. Alat tulis.
D. Tahap Penelitian
Penelitian ini dilakukan menggunakan metode survei dengan beberapa
tahap yakni tahap pra-lapangan, tahap lapangan dan tahap pasca-lapangan.
Penjelasan masing-masing tahap sebagai berikut :
1. Tahap pra-lapangan
Tahap pra-lapangan merupakan hal yang perlu
dilakukan sebelum melakukan penelitian di lapangan. Dalam
penelitian ini tahap pra-lapangannya adalah dengan
mempersiapkan bahan dan alat yang akan digunakan untuk
observasi.
2. Tahap lapangan
Tahap lapangan adalah adalah hal yang dilakukan
ketika di lapangan. Dalam penelitian ini tahap lapangan
diantaranya :
a. Pengumpulan data sekunder, yakni data lokasi pasar yang ada
di kota Padang pada dinas pasar
b. Pengumpulan data primer, yakni dengan observasi ke pasar-
pasar yang telah ditentukan, dan jika memungkinkan dengan
wawancara.
c. Pengambilan dokumentasi kegiatan penelitian sebagai bukti
kegiatan penelitian.
3. Tahap pasca lapangan
Yakni tahap yang dilakukan setelah kegiatan yang ada di
lapangan. Dalam penelitian ini tahap pasca lapangan
diantaranya :
a. Pengolahan data yang sudah didapatkan dari hasil observasi di
lapangan.
b. Penyusunan laporan.
E. Populasi dan Sampel
Satuan penelitian pada penelitian ini adalah pasar-pasar yang
ada di kota Padang. Kemudian dari seluruh populasi yang merupakan
pasar dan pasar ikan di kota Padang, akan dibatasi menjadi pasar dan
pasar ikan yang ada di sekitar pesisir pantai kota Padang.
F. Jenis Data
1. Data Primer
adalah data yang diperoleh langsung dari responden atau objek yang
diteliti, atau ada hubungannya dengan yang diteliti ( Moh. Pabundu T., 2005 :
44 ).dalam penelitian ini data primer yang peneliti lakukan adalah mensurvei
sendiri ketempat yang akan di teliti.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti tidak secara
langsung dari subjek atau objek yang diteliti, tetapi melalui pihak lain seperti
instansi-instansi atau lembaga-lembaga yang terkait, perpustakaan, arsip
perorangan dan sebagainya ( Moh. Pabundu T., 2005 ).
Adapun data sekunder yang peneliti butuhkan yaitu:
a. data dari dinas pasar
b. peta administrasi
c. peta lokasi pasar
G. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah cara pengadaan pengumpulan data
untuk keperluan pelaksanaan penelitian.Untuk mendapatkan data-data dalam
penelitian ini digunakan orientasi dan analisis melalui metode antara lain :
1. Metode survey
Metode survey yang peneliti gunakan dengan mendatangi langsung
pasar pagi yang ada di kota padang,informasi yang di kumpulkan peneliti
berdasarakan pengamatan berdasarkan observasi dan wawancara.
2. Metode dokumentasi
Data yang dimaksud meliputi tempat pasar pagi yang menjual telur
penyu secara bebas.
H. Teknik Analisis Data