You are on page 1of 13

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS HALU OLEO

FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI

MAKALAH GEOKIMIA

“CARBON 14 DAN JEJAK BELAH”

OLEH :

KELOMPOK : 8 (DELAPAN)

NAMA ANGGOTA : 1. MUH. ARIF RAHMAN(F1G114023)

2. MUH. KHAIRIL RUSMAN(F1G114047)

3. LA ODE FAISAL(F1G114090)

4. HAYATUL HUSNA(F1G114069)

5. NUR ASTUTI SYAFITRI(F1G114056)

KENDARI

2015

(i)
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, sekaligus shalawat serta
salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada nabi Muhammad SAW, juga kepada
para keluarga, sahabat, serta pengikutnya sampai akhir zaman. Almadulillah atas izin
dan ridho-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ”CARBON 14
DAN JEJAK BELAH”.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah Geokimia
pada semester tiga ini. Selanjutnya, penyusun mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini. Penyusun
menyadari sepenuhnya bahwa di dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, tetapi keinginan dan motivasi baik, selalu menjadi bekal bagi
penyusun. Kekurangan, kekhilafan merupakan proses untuk perbaikan dalam
pembelajaran. Oleh sebab itu, penyusun mohon masukan berupa kritik dan saran
yang bersifat membangun demi kesempurnaan penyusunan makalah ini.

Penyusun berharap semoga makalah ini dapat membawa manfaat dan


menambah wawasan tidak hanya bagi penyusun, melainkan juga bagi pembaca.

Kendari, Oktober 2015

Penyusun

(ii)
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………………………………………………….................i

KATA PENGANTAR……………………………………………………..................ii

DAFTAR ISI………………………………………………………………...............iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang..……….................................………………...............1


1.2 Tujuan....……………………………………………......….................2
BAB II PEMBAHASAN

2.1 Carbon 14..............................................................................................3

2.2 Jejak Belah............................................................................................4

BAB III PENUTUP

3.1 Simpulan……………………………….............………………..........9

3.2 Saran..................………………………......……………………….....9

DAFTAR PUSTAKA

(iii)
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Karbon adalah salah satu jenis atom yang sudah sering kita dengar. Bahkan
dalam sejarah perkembangannya karbon telah dikenal cukup lama dalam kehidupan
manusia. Atom karbon dikenal mempunyai banyak manfaat dan cukup dekat dengan
segala aktifitas dan kehidupan manusia di muka bumi. Mengingat begitu besar
manfaatnya bagi kehidupan manusia, maka penelitian terhadap atom karbon ini
selalu dikembangkan demi pemanfaatannya bagi kebutuhan manusia.
12
Terdapat tiga macam isotop karbon yang ditemukan secara alami, yakni C
13 14
dan C yang stabil, dan C yang bersifat radioaktif dengan waktu paruh
peluruhannya sekitar 5730 tahun. Karbon merupakan salah satu dari di antara
beberapa unsur yang diketahui keberadaannya sejak zaman kuno. Istilah "karbon"
berasal dari bahasa Latin carbo, yang berarti batu bara.
Jejak belah atau geokronologi merupakan ilmu untuk menentukan umur
absolut batuan, fosil dan sedimen, dalam suatu tingkat ketidakpastian tertentu yang
melekat dalam metode yang digunakan. Pentarikhan Jejak Belah (Fission Track
Dating) adalah suatu metode penentuan umur batuan secara mutlak berdasarkan
penghitungan jejak-jejak yang terjadi akibat peluruhan uranium (238U) oleh sinar
alpha.
Pembelahan spontan 238U pada mineral meninggalkan jejak belah yang
dapat diperbesar dengan proses pengetsaan. Jumlah jejak pada area tertentu
merupakan fungsi dari umur mineral tersebut dan kandungan uraniumnya. Metode
pentarikhan jejak belah antara lain digunakan untuk menentukan umur mineral apatit
dan zirkon, yang terkandung dalam batuan beku seperti granit. Metode ini
memberikan informasi tentang berbagai peristiwa geologi yang ada hubungannya
dengan umur mutlak suatu batuan, khususnya tentang sejarah perubahan suhu di
masa lampau. Dalam penelitian ini, metode pentarikhan jejak belah digunakan untuk
penentuan umur contoh batuan granit asal daerah Sumatera Barat. Proses pengerjaan
di laboratorium meliputi penggerusan, pencucian, pemisahan mineral, pengikatan,
1
pemolesan, pengetsaan (etching), pengiradiasian, dan penghitungan umur dengan
metode detektor eksternal. Hasil penelitian terhadap contoh granit yang diambil dari
Sumatera Barat menunjukkan bahwa umur zirkon SB-36, SB-38, dan SB-47 (SB =
Sumatera Barat, 36, 38 dan 47 adalah nomor kode contoh) masing-masing adalah
39,03 ± 1,75; 48,09 ± 2,31 dan 4,74 ± 0,49 juta tahun, termasuk ke dalam umur
Tersier Awal-Tersier Akhir.
Jenis batuan yang dapat diuji dengan metode Jejak Belah adalah batuan yang
mengandung mineral zirkon atau apatit, umumnya batuan beku asam sampai
intermedier seperti granit, granodiorit, diorit, riolit, dasit, andesit dan tuf primer yang
bersifat asam. Zirkon digunakan untuk penentuan umur batuan yang realtif muda
(0.75 – 100 juta tahun), sedangkan apatit untuk yang relatif tua (1 – 300 juta tahun).
Dengan menggunakan metode AFTA, apatit dapat dipakai untuk menentukan umur
pemanasan yang terjadi pada waktu lampau (paleothermal) pada batuan sedimen
yang berhubungan dengan pembentukan atau pematangan hidrokarbon.

1.2 Tujuan
a. Dapat mengetahui dan memahami Carbon 14.
b. Dapat mengetahui dan memahami Jejak belah.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Carbon 14

Setiap mahluk hidup (manusia, binatang dan tumbuhan) dan benda mati di
Bumi ini mengandung karbon-14. C-14 mempunyai waktu paruh 5.730 tahun,
maksudnya jika dalam tubuh mahluk hidup terdapat 1000 atom C-14, 5.730 tahun
setelah mahluk hidup itu mati, jumlah atom C-14 akan berkurang setengahnya
menjadi 500. 5.730 tahun berikutnya atau 11.460 tahun kemudian jumlahnya tersisa
250 dan seterusnya.Dengan mengukur jumlah C-14 yang terkandung pada fosil,
umur fosil bisa ditentukan. Untuk rekaman sepanjang sejarah, metode ini cukup baik
dengan penyimpangan akurasi sekitar beberapa ratus tahun.

Radioisotop karbon – 14 terbentuk di bagian atas atmosfer dari penembakan


atom nitrogen dengan neutron yang terbentuk oleh radiasi kosmik. Karbon radioaktif
tersebut di permukaan bumi sebagai karbondioksida dalam udara dan sebagai ion
hidrogen karbonat di laut. Oleh karena itu karbon radioaktif itu menyertai
pertumbuhan melalui fotosintesis. Lama – kelamaan terdapat kesetimbangan antar
karbon – 14 yang diterima dan meluruh dan tumbuh-tumbuhan maupun hewan
sehingga mencapai 15,3 dm/menit gram karbon. Keaktifan ini tetap dalam beberapa
ribu tahun apabila organisme hidup mati, pengambilan 14C terhenti dan keaktifan ini
berkurang. Oleh karena itu umur bahan yang mengandung karbon dapat diperkirakan
dari pengukuran keaktifan jenisnya dan waktu paruh 14C.
Karbon-14, 14C, atau radiokarbon, adalah isotop
radioaktif karbon dengan inti yang mengandung 6 proton dan 8 neutron. Terdapat
tiga macam isotop karbon yang terjadi secara alami di Bumi:
a. 99% merupakan karbon-12
C-12 ini berguna untuk mengetehui umur fosil
b. 1% merupakan karbon-13
C-13 digunakan dalam penelitian hidrologi dan panas bumi

3
c. Karbon-14 terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit
Misalnya sejumlah 1 bagian-per triliun (0,0000000001%) dari karbon yang
ada di atmosfer. C-14 ini berguna untuk mempelajari mekanisme reaksi fotosintesis.
Karbon-14 ditemukan pada tanggal 27 Februari 1940 oleh Martin Kamen dan Sam
Ruben dari Laboratorium Radiasi Universitas California, Berkeley, meskipun
keberadaannya telah diduga sebelumnya oleh Franz Kurie pada tahun 1934.
Waktu paruh karbon-14 adalah 5.730 ± 40 tahun. Ia meluruh
menjadi nitrogen-14 melalui peluruhan beta. Massa atom karbon-14 adalah sekitar
14,003241 sma.
Isotop-isotop karbon yang berbeda tidak memiliki perbedaan yang besar
dalam sifat-sifat kimianya. Ini digunakan dalam riset kimia, yaitu dalam teknik yang
disebut pelabelan karbon: beberapa atom karbon-12 dari senyawa tertentu digantikan
dengan atom-atom dari karbon-14 (atau beberapa atom dari karbon-13) dengan
tujuan agar dapat memantaunya di sepanjang terjadinya reaksi-reaksi kimia yang
terjadi pada senyawa tersebut. Keberadaannya dalam bahan organik adalah dasar dari
metode penanggalan radiokarbon untuk memperkirakan umur pada sampel-sampel
arkeologi, geologi, dan hidrogeologi.
Umur bahan-bahan yang berasal dari makhluk hidup (fosil) dapat ditentukan
dengan mengukur keaktifan jenis dalam fosil dibandingkan terhadap keaktifan
jenis yang terdapat pada tumbuhan yang masih hidup. Hal ini didasarkan pada
reaksi pembentukan dan peluruhan di alam :
+ +
+ , = 5.770 th

Dengan anggapan bahwa konsentrasi di udara dalam bentuk .


Tumbuhan hidup berfotosintesis mengambil dari udara dan hewan hidup
memakan hasil fotosintesis tersebut.

2.2 Jejak Belah

Keberadaan dan munculnya Geokimia sebagai cabang ilmu geologi baru


menyebabkan munculnya metode metode dan data observasi baru. Hal yang menarik
4
perhatian para ahli sedimentologi adalah awal mulanya sebagian besar penelitian
mengenai geokimua mengarah pada penelitian kuantitatif untuk mengetahui
penyebaran unsur-unsur kimia dialam, termasuk akan penyebaran dalam batuan
sedimen.Seiring berjalannya waktu data tersebut menuntun pada kenyataan untuk
memahami apa yang disebut siklus geokimia(geochemical cycle) serta penemuan
hukum-hukum yang mengontrol penyebaran atau distribusi unsur dan proses proses
yang menyebabkan timbulnya pola penyebaran dan distribusi seperti itu.
Baru-baru ini, kimia nuklir (nuclear chemistry) menyumbangkan sebuah
“jam” dan “termometer” yang pada gilirannya membuka era penelitian baru terhadap
14 40
sedimen. Unsur-unsur radioaktif, khususnya C dan K, memungkinkan
dilakukannya metoda penanggalan langsung terhadap batuan sedimen tertentu.
14
Metoda C, yang dikembangkan oleh Libby, dapat diterapkan pada endapan resen.
40
Metoda K/40Ar terbukti dapat diterapkan pada glaukonit, felspar autigen, mineral
lempung, dan silvit yang ditemukan dalam endapan tua. Analisis isotop dapat
digunakan untuk menentukan temperatur purba. Metoda Urey—berdasar-kan nisbah
16
O/18O yang merupakan fungsi dari temperatur—dapat dipakai untuk menaksir
temperatur pembentukan cangkang fosil yang ada dalam endapan bahari. Meskipun
“jam” dan “termometer” tersebut masih memperlihatkan kekeliruan, namun harus
diakui bahwa keduanya telah memberikan kontribusi yang berarti terhadap
pemelajaran sedimen. Berbagai kajian teoritis dan eksperimental tentang stabilitas
mineral pada berbagai kondisi oksidasi-reduksi (Eh) dan pH dilakukan oleh Garrels
dan beberapa ahli lain (lihat Garrels & Christ, 1965). Penelitian aspek-aspek
geokimia sedimen banyak menambah pengertian kita tentang endapan sedimen.
Buku-buku yang membahas tentang topik-topik geokimia sedimen antara lain adalah
Geochemistry of Sediments karya Degens (1965) dan Principles of Chemical
Sedimentology karya Berner (1971).
Jejak belah atau geokronologi merupakan ilmu untuk menentukan umur
absolut batuan, fosil dan sedimen, dalam suatu tingkat ketidakpastian tertentu yang
melekat dalam metode yang digunakan. Berbagai macam metode penentuan umur
digunakan oleh ahli geologi untuk mencapai hal tersebut. Jejak belah berbeda
penggunaannya dengan biostratigraf, yaitu merupakan ilmu untuk menempatkan

5
batuan sedimen dalam suatu periode geologi tertentu melalui pendeskripsian,
pengkatalogan, dan pembandingan kumpulan fosil flora dan fauna. Biostratigrafi
tidak secara langsung memberikan suatu penentuan umur absolut dari batunya, hanya
menempatkan dalam suatu interval waktu dimana kumpulan fosil telah diketahui
pernah hidup bersama.

Pengetahuan tentang sejarah bumi pada massa yang lalu mendorong pesatnya
penelitian akan hal-hal yang berkaitan dengan umur bumi. Pentarikhan untuk
menentukan umur bumi telah dilakukan dengan berbagai cara. Penentuan umur
batuan secara Radiometrik, sekarang merupakan cara yang umum digunakan dalam
studi stratigrafi dan geologi sejarah. Untuk menentukan waktu absolut, para peneliti
mengkolerasikan denga sifat radioaktif suatu unsur, yaitu waktu paruhnya. Dari sifat
inilah dapat ditentukan umur material berdasarkan aktifitas radioaktifnya. Sehingga
para peniliti menyimpulkan bahwa material yang mengandung unsur radioaktif dapat
digunakan untuk menetukan umur suatu kejadian geologi dengan menetukan umur
fosil, batuan atau material yang lainnya dalam satuan waktu absolut. Penarikhan
dibedakan dalam :

a. Pentarikhan jejak belah, digunakan untuk menetukan umur batuan dengan


memecah rasio antara kerapatan spontan dan jejak belah.
b. Pentarikhan kemagnetan purba, digunakan untuk menetukan umur endapan
dengan mengukur kemagnetan sesuai dengan medan magnet bumi saat
pengendapan.
c. Pentarikhan Radiokarbon, digunakan untuk menetukan umur arang kayu,
gambut, cangkang karang yang terdapat dalam endapan quarter dengan
mengukur C-14 yang terkandung dalam bahan tersebut.

Metode pentarikhan Jejak Belah merupakan salah satu metode pentarikhan


radiometrik berdasarkan pengukuran jejak-jejak yang terjadi akibat peluruhan unsur-
unsur radioaktif oleh sinar alfa. Jejak yang terbentuk di alam ini merupakan dasar
bagi analisis pentarikhan jejak belah untuk menentukan umur absolut suatu mineral
tempat jejak tersebut terbentuk. Jenis mineral yang dapat ditentukan umurnya antara

6
lain : mineral Apatit dan Zirkon yang umumnya terdapat dalam batuan beku asam
sampai menengah (granit-diorit) dan batuan vulkanik jenis Tuf Primer. Mineral apatit
umunya digunakan untuk menentukan umur batuan yang cukup tua , sedangkan
Zirkon umumnya digunakan untuk menentukan batuan yang relatif muda.

Jumlah jejak pada area tertentu merupakan fungsi dari umur mineral tersebut
dan kandungan uraniumnya. Metode pentarikhan jejak belah antara lain digunakan
untuk menentukan umur mineral apati dan zirkon, yang terkandung dalam batuan
beku seperti granit. Metode ini memberikan informasi tentang berbagai peristiwa
geologi yang ada hubunganya dengan umur mutlak suatu batuan, khususnya tentang
sejarah perubahan suhu di masa lampau. Metode penelitian Dalam penelitan ini,
penentuan umur batuan dengan metode pentarikhan jejak belah dilakukan dengan
metode EDM (External Detector Method), yaitu penghitungan jejak spontan (Ns)
dilakukan pada kristal, sedangkan jejak induksi (Ni) dilakukan pada detektor mika
(Galbraith, 1984). pengasahanDengan tahapan sebagai berikut: Pengikatan butir
(mounting) iradiasi pengetsaan (etching) dan pemolesan Pengetesan pengetsaan
adalah “pengikisan” logam dengan menggunakan obat-obat etsa (etching solution)
Pengetsan ini bertujuan untuk memperbesar ukuran jejak spontan (Ns) yang
terbentuk dalam mineral zirkon. Zirkon (ZrSiO4) adalah oksida zirkonium, ZrO2 dan
oksida silkat, SiO2 sehingga digunakan larutan pengetsa berupa senyawa alkali
seperti campuran KOH dan NaOH. Penentuan umur batuan Penghitungan umur
dilakukan dengan metode detektor eksternal. Dalam metode ini jejak induksi
dihitung pada mika dan jejak spontan dihitung pada kristalnya sendiri. Adupun
Aplikasi lain atau contoh nyata yang dapat dilihat dari geokimia salah satunya adalah
metode yang digunakan oleh sedimentologist dalam mengumpulkan data dan bukti
pada sifat dan kondisi depositional batuan sedimen, yaitu analisis kimia dari batu,
melingkupi geokimia isotop, termasuk penggunaan penanggalan radiometrik, untuk
menentukan usia batu, dan kemiripan dengan daerah sumber. Metode ini pertama
kali dipakai pada tahun 1970an dimana penelitian sedimentologi mulai beralih dari
makroskopis dan fisik ke arah mikroskopis dan kimia. Dengan perkembangan teknik
analisa dan penggunaan katadoluminisen dan mikroskop elektron memungkinkan

7
para ahli sedimentologi mengetahui lebih baik tentang geokimia. Perkembangan
yang pesat ini memacu kita untuk mengetahui hubungan antara diagenesa, pori-pori
dan pengaruhnya terhadap evolusi porositas dengan kelulusan batupasir dan
batugamping. Saat ini berkembang perbedaan antara makrosedimentologi dan
mikrosedimentologi. Makrosedimentologi berkisar studi fasies sedimen sampai ke
struktur sedimen. Di lain fihak, mikrosedimentologi meliputi studi batuan sedimen di
bawah mikroskop.

8
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Karbon atau zat arang merupakan unsur kimia yang mempunyai simbol C dan
nomor atom 6 pada tabel periodik. Sebagai unsur golongan 14 pada tabel periodik,
karbon merupakan unsur non-logam dan bervalensi 4 (tetravalen), yang berarti
bahwa terdapat empat elektron yang dapat digunakan untuk membentuk ikatan
kovalen.

Karbon-14, 14C, atau radiokarbon, adalah isotop radioaktif karbon dengan inti
yang mengandung 6 proton dan 8 neutron. Keberadaannya dalam bahan organik
adalah dasar dari metode penanggalan radiokarbon untuk memperkirakan umur pada
sampel-sampel arkeologi, geologi, dan hidrogeologi.

Jejak belah atau geokronologi merupakan ilmu untuk menentukan umur


absolut batuan, fosil dan sedimen, dalam suatu tingkat ketidakpastian tertentu yang
melekat dalam metode yang digunakan. Berbagai macam metode penentuan umur
digunakan oleh ahli geologi untuk mencapai hal tersebut.

Metode pentarikhan Jejak Belah merupakan salah satu metode pentarikhan


radiometrik berdasarkan pengukuran jejak-jejak yang terjadi akibat peluruhan unsur-
unsur radioaktif oleh sinar alfa.

3.2 Saran

Mengetahui Carbon 14 dan jejak belah melalui makalah ini, diharapkan dapat
menambah khazanah ilmu pengetahuan kita agar lebih takjub atas ciptaan Tuhan
Yang Maha Esa dan lebih arif dalam memahami alam semesta.

9
DAFTAR PUSTAKA

Bowman, S. (1990) Interpreting the Past: Radiocarbon Dating, University of


California Press, ISBN 0-520-07037-2

Currie, L. (2004) The Remarkable Metrological History of Radiocarbon Dating II, J.


Res. Natl. Inst. Stand. Technol., 109, 185–217.

de Vries, H. (1958) Kon. Ned. Acad. Wetensch. Proc. Ser. B Phys. Sci. 61, 94; and in
Researches in Geochemistry, P. H. Abelson (Ed.) (1959) Wiley, New York, p. 180.