You are on page 1of 102

ANALISIS PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN WILAYAH

KOTA CIREBON TAHUN 2001-2008

OLEH
FARIDAH
H14061585

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI


FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
RINGKASAN

FARIDAH. Analisis Perkembangan Perekonomian Kota Cirebon Tahun 2001-


2008 (dibimbing oleh ALLA ASMARA)

Pembangunan ekonomi mempunyai tujuan meningkatkan taraf hidup


masyarakat, pemerataan pendapatan dan memperluas kesempatan kerja dan juga
diharapkan dapat mencapai target-target seperti yang telah ditetapkan baik untuk
regional maupun nasional. Untuk itu pemerintah daerah dituntut untuk siap
menjalankan tugas pemerintah dan pembangunan secara efektif, efisien, dan
berkelanjutan. Pemerintah daerah harus mampu bersikap kreatif dan inovatif
dalam menggali potensi ekonomi yang terdapat di daerah, sehingga dapat
membuka ekonomi yang baru.
Pertumbuhan ekonomi Kota Cirebon berperan penting terhadap
pertumbuhan ekonomi Nasional, hal ini dikarenakan Kota Cirebon merupakan
pusat pertumbuhan nasional untuk wilayah Jawa Barat bagian timur. Selama
empat Tahun terakhir (2005-2008) pertumbuhan ekonomi Kota Cirebon
mengalami fluktuasi, seiring produktivitas sektor-sektor ekonomi mengalami
perubahan dari Tahun ke Tahun. Pertumbuhan tertinggi dicapai pada Tahun 2007,
sehingga pada Tahun ini produktivitas perekonomian di Kota Cirebon dirasakan
relatif sangat baik dibanding Tahun-Tahun sebelum dan sesudahnya.
Tingginya laju pertumbuhan ekonomi ini tidak berarti bahwa masyarakat
sudah sejahtera karena ternyata tingkat pengangguran terbuka Kota Cirebon juga
tinggi. Pada penelitian ini akan melihat pertumbuhan sektor-sektor perekonomian
serta mengidentifikasi sektor-sektor mana saja yang berpotensi menjadi sektor
perekonomian yang progresif dan sektor yang unggulan di Kota Cirebon pada
Tahun 2001-2008.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sektor progresif dan sektor
unggulan yang dapat dijadikan sebagai pemacu laju pertumbuhan ekonomi Kota
Cirebon sehingga dapat mengurangi tingkat pengangguran. Analisisnya
menggunakan Shift Share untuk mengetahui sektor mana yang progresif yang
dapat dilihat dari pertumbuhan regionalnya, pertumbuhan proporsionalnya dan
pertumbuhan pangsa wilayahnya serta analisis Location Quotient (LQ) untuk
melihat sektor basisnya.
Berdasarkan hasil analisis Shift Share terdapat tiga sektor yang memiliki
nilai pergeseran bersih (PB) yang negatif (non progresif) yaitu sektor pertanian,
sektor industri, sektor pengangkutan dan lima sektor yang memiliki nilai PB yang
positif (progresif) yaitu sektor listrik, gas, dan air bersih, sektor bangunan, sektor
perdagangan, sektor lembaga keuangan, dan sektor jasa-jasa. Sedangkan
berdasarkan analisis LQ yang menjadi sektor unggulan adalah sektor bangunan,
sektor perdagangan, sektor pengangkutan, dan sektor lembaga keuangan.
Berdasarkan pangsa penyerapan tenaga kerjanya sektor perdagangan dan
jasa-jasa yang banyak menyerap tenaga kerja dimana sektor perdagangan
merupakan sektor yang progresif dan unggulan sedangkan sektor jasa-jasa
merupakan sektor progresif namun bukan unggulan. Pentingnya peran
perdagangan dan jasa-jasa terhadap perekonomian ini membutuhkan prioritas
yang tinggi bagi pemerintah untuk dapat mengembangkan kedua sektor tersebut
dengan cara meningkatkan investasi dan memberikan sarana dan prasarana yang
memadai.
ANALISIS PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN WILAYAH
KOTA CIREBON TAHUN 2001-2008

Oleh

Faridah
H14061585

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

pada Departemen Ilmu Ekonomi

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI


FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
DEPARTEMEN ILMUEKONOMI

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh,


Nama Mahasiswa : Faridah
Nomor Registrasi Pokok : H14061585
Program Studi : Ilmu Ekonomi
Judul Skripsi : Analisis Perkembangan Perekonomian Kota
Cirebon Tahun 2001-2008

Dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian
Bogor.

Menyetujui,
Dosen Pembimbing,

Alla Asmara, S.Pt, M.Si.


NIP. 19730113 199702 1 001

Mengetahui,
Ketua Departemen ilmu Ekonomi

Dedi Budiman Hakim, Ph.D.


NIP. 19641022 198903 1 003

Tanggal Kelulusan :
PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH


BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH
DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA
PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.

Bogor, Juli 2011

Faridah
H14061585
RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Faridah lahir di Kota Cirebon, 8 Juli 1989. Penulis


merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, dari pasangan Bapak Sanusi dan Ibu
Eli Fatonah. Jenjang pendidikan penulis dilalui tanpa hambatan, penulis
menamatkan sekolah dasar pada SDN PEKALANGAN I Cirebon, kemudian
melanjutkan ke SLTPN 7 Cirebon dan lulus pada Tahun 2003. Pada tahun yang
sama penulis diterima di SMAN 3 Cirebon dan lulus pada Tahun 2006.
Penulis masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI)
dan diterima sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi dan Studi
Pembangunan pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Selama menjadi
mahasiswa, penulis aktif dalam Organisasi Mahasiswa Daerah (OMDA) IKC IPB
dan IPB serta aktif di beberapa kegiatan kepanitiaan yang diadakan di IPB.
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Judul
skripsi ini adalah “Analisis Perkembangan Perekonomian Kota Cirebon
Tahun 2001-2008”. Skripsi ini menganalisis sektor-sektor perekonomian yang
mampu meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi (LPE) secara drastic dengan
tujuan untuk mengurangi tingkat pengangguran terbuka Kota Cirebon. Disamping
hal tersebut, skripsi ini juga merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan
manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini terselaikan atas bantuan dan


dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan rasa tulus dan hormat,
penulis menghaturkan terima kasih kepada :
1. Alla Asmara, S.Pt M.Si sebagai dosen pembimbing skripsi yang dengan sabar
mengarahkan, membimbing dan memberikan dorongan sejak perencanaan
penelitian hingga penyusunan skripsi ini berakhir.
2. Dr. Ir. Wiwiek Rindayati, M.Si sebagai dosen penguji utama dan Fifi Diana
Thamrin, M.Si sebagai dosen komisi pendidikan yang telah memberikan
masukan kepada penulis.
3. Badan Pusat Statistik, BAPPEDA, serta instansi-instansi terkait yang telah
memberikan informasi kepada penulis.
4. Ayah Sanusi dan Ibu Eli Fatonah selaku orang tua tercinta atas kasih sayang
yang tulus, kesabaran, dan dukungan, serta do’a yang tiada henti untuk
penulis.
5. Kakak Saeful Bahtiar Martadiputra dan adik Husnia atas dukungan dan
do’anya.
6. Tyaz Wulandary ‘Pelangi Biru’, Diana Septiawati ‘Pelangi Jingga’, Diani
Septia Dewi ‘Pelangi Nila’, Ginanjar Pratama ‘Pelangi Kuning’, dan Dicky
Zulharman ‘Pelangi Hijau’ dan tidak lupa Alm. Nur Rohman ‘Pelangi Merah’
yang sampai akhir hayatnya memberikan pesan yang baik kepada kami untuk
bisa lulus bersama, terima kasih atas persahabatan yang indah dan tak
terlupakan ini.
7. Mutiara Probokawuryan, Luthfi Tiandra Fajri, dan Ukke Hentresna Lestari
teman seperjuangan yang saling mendukung saat penyusunan skripsi penulis.
8. Teman-teman Arsida (Ina, Ivong, mba Leni, mba Yunita, mba Madun, Ikmah,
arie, mba Rina, chuby dll) dan teman-teman IE 43 atas kebersamaan dan
persaudaraan yang terjalin selama ini.
9. Saudara-saudara dari IKC (Mas Dadan, Mas Marto, Mas Firman, Fahmi,
Adhi, Mas Yadi, Fauzah, Susi, Iin, Ipit, Chepy, dkk) atas perhatiannya dari
awal masuk ke IPB sampai lulus dari IPB. Kalian adalah keluarga baru saya di
IPB.
10. Kepada teman-teman B01 2006 (Faisal Nafis, Angga, Uul, Ina, Dina, Dhia,
Kecap, Adi, Apri, Igoy, dkk) walaupun kebersamaan kita hanya satu tahun
tapi kenangan bersama kalian takkan pernah terlupakan.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penelitian ini masih jauh dari
sempurna, oleh sebab itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis
harapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang
memerlukannya dan untuk kemajuan ilmu pengetahuan di masa yang akan datang.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Bogor, Juli 2011

Faridah
H14061585
i

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ......................................................................................................... i


DAFTAR TABEL ................................................................................................ iii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ iv
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ v
I. PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2. Perumusan Masalah ................................................................................. 3
1.3. Tujuan Penelitian ..................................................................................... 4
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN .................... 5
2.1. Teori Basis Ekonomi ............................................................................... 5
2.2. Konsep Pertumbuhan Ekonomi ................................................................ 5
2.3. Konsep Wilayah ...................................................................................... 9
2.4. Kendala dan Strategi Pembangunan Wilayah ......................................... 12
2.5. Analisis Shift Share ................................................................................. 13
2.6. Analisis Location Quetient (LQ) ............................................................. 17
2.7. Penelitian Terdahulu ................................................................................ 19
2.8. Kerangka Pemikiran ................................................................................. 22
III. METODE PENELITIAN ............................................................................. 24
3.1. Jenis dan Sumber Data ............................................................................ 24
3.2. Metode Analisis ....................................................................................... 24
3.2.1. Analisis Shift Share ..................................................................... 24
3.2.2. Metode Location Quotient (LQ) ................................................. 31
3.3. Konsep dan Definisi Data .................................................................... . 32
3.4. Uraian Sektoral .........................................................................................33
IV. GAMBARAN UMUM .................................................................................. 50
4.1. Wilayah Administratif ............................................................................. 50
4.2. Laju Pertumbuhan Penduduk .................................................................. 50
ii

4.3. Struktur Perekonomian ............................................................................ 53


4.4. Visi dan Misi Kepala Daerah .................................................................. 57
4.5. Sektor Perekonomian ............................................................................... 59
4.5.1. PDRB Menurut Sektor Perekonomian .......................................... 59
4.5.2. Pertumbuhan Ekonomi .................................................................. 61
V. HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................................... 67
5.1. Analisis Laju Pertumbuhan PDRB Sektor-Sektor Perekonomian
Kota Cirebon dan Propinsi Jawa Barat pada Periode 2001-2008............. 67

5.2. Rasio PDRB Kota Cirebon dan Propinsi Jawa Barat Tahun 2001-2008 . 70
5.3. Analisis Komponen Pertumbuhan Wilayah Kota Cirebon
Tahun 2001-2008...................................................................................... 72
5.4. Pergeseran Bersih dan Profil Pertumbuhan Sektor-Sektor Perekonomian
Kota Cirebon .......................................................................................... 76
5.5. Analisis Sektor Unggulan Kota Cirebon ................................................. 79
5.6. Penyerapan Tenaga Kerja di Sektor Perekonomian ................................ 80
VI. KESIMPULAN DAN SARAN...................................................................... 82
6.1. Kesimpulan .............................................................................................. 82
6.2. Saran ........................................................................................................ 82
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 85
LAMPIRAN .......................................................................................................... 87
iii

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman
4.1. Peranan NTB Atas Dasar Harga Berlaku Setiap Sektor Dalam
Perekonomian Kota Cirebon Tahun 2005-2008 ........................................... 55
4.2. Sektor-sektor Perekonomian Kota Cirebon ................................................... 60
4.3. Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Cirebon Atas Dasar Harga
Konstan 2000 Tahun 2005-2008 ................................................................... 63
5.1. Perubahan PDRB Kota Cirebon Menurut Sektor Perekonomian
Berdasarkan Harga Konstan 2000, Tahun 2001 dan Tahun 2008 ................. 67
5.2. Perubahan PDRB Provinsi Jawa Barat Menurut Sektor Perekonomian
Berdasarkan Harga Konstan 2000, Tahun 2001 dan Tahun 2008 ................. 70
5.3. Rasio PDRB Kota Cirebon dan PDRB Provinsi Jawa Barat
(Nilai Ra, Ri dan ri) ...................................................................................... 71
5.4. Analisis Shift Share Menurut Sektor Perekonomian di Kota Cirebon
Berdasarkan Komponen Pertumbuhan Regional, Tahun 2001-2008 ............ 73
5.5. Analisis Shift Share Menurut Sektor Perekonomian di Kota Cirebon
Berdasarkan Komponen Pertumbuhan Proporsional, Tahun 2001-2008 ...... 74
5.6. Analisis Shift Share Menurut Sektor Perekonomian di Kota Cierebon
Berdasarkan Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah, Tahun 2001-2008. 75
5.7. Pergeseran Bersih Kota Cirebon, Tahun 2001 dan 2008………………….. 77
5.8. Nilai Location Quotient (LQ) Sektor-sektor Perekonomian Kota Cirebon
Atas Dasar Harga Konstan, Tahun 2001-2008 ............................................. 80
5.9. Penduduk 10 Tahun Ke Atas yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha
Utama Tahun 2004-2007 ............................................................................. 81
iv

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman
1. Laju Pertumbuhan Ekonomi dan Tingkat Pengangguran Terbuka Kota
Cirebon 2005-2008 ........................................................................................ 3
2. Model Analisis Shift Share ............................................................................. 17
3. Kerangka Pemikiran ....................................................................................... 23
4 Profil Pertumbuhan Sektor Perekonomian ..................................................... 30
5. Piramida Penduduk Kota Cirebon Tahun 2008-2009 .................................... 52
6. Produk Domestik Regional Bruto Kota Cirebon Atas Dasar Harga
Konstan 2000, Tahun 2005 – 2008 ................................................................ 54
7. Profil Pertumbuhan Sektor Perekonomian Kota Cirebon .............................. 78
v

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman
1. PDRB Jawa Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2001-2008 ....... 87
2. PDRB Kota Cirebon Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2001-2008 ... 88
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan ekonomi mutlak diperlukan oleh suatu daerah dalam rangka

meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat, dengan cara

mengembangkan semua bidang yang berpotensi pada suatu daerah. Menurut

Todaro (2003) pembangunan adalah merupakan suatu proses multidimensional

yang melibatkan perubahan-perubahan besar dalam struktur sosial, sikap mental

yang sudah terbiasa dan lembaga-lembaga nasional termasuk pula percepatan atau

akselerasi pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketimpangan dan pemberantasan

kemiskinan yang absolut.

Pembangunan itu dapat dibedakan menjadi pembangunan fisik serta

pembangunan sosial dan ekonomi. Pembangunan fisik dapat didefinisikan sebagai

pembangunan riil dalam kehidupan masyarakat di suatu wilayah, misalnya

pembangunan gedung perkantoran, pusat perbelanjaan (mall), pembangunan

sarana dan prasarana transportasi yang dapat meningkatkan kenyamanan serta

kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut. Selain itu pemerintah daerah

haruslah melakukan pembangunan di bidang sosial dan ekonomi dalam bentuk

pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dalam segala

bidang dan SDM tersebut bermanfaat sebagai sumber pembangunan wilayah.

Terdapat beberapa tujuan dan pembangunan wilayah yang pada akhirnya

akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut.

Adapun tujuan dari pembangunan fisik agar masyarakat merasa nyaman tinggal di

daerah tersebut sehingga dapat meningkatkan produktivitasnya. Jika,


2

produktivitas masyarakat di wilayah tersebut terus meningkat, maka Produk

Domestik Regional Bruto (PDRB) di wilayah tersebut juga akan meningkat.

Tujuan dari pembangunan sosial dan ekonomi diantaranya menciptakan SDM

daerah yang berkualitas dan dapat bersaing di zaman modern seperti sekarang ini.

Jika SDM berkualitas di wilayah tersebut berjumlah banyak, maka akan dapat

menciptakan sebuah kota yang terus melakukan pembangunan secara

berkesinambungan demi kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut.

Pembangunan di Indonesia menciptakan pertumbuhan ekonomi di masing-

masing daerah, salah satunya daerah Jawa Barat. Pertumbuhan ekonomi Kota

Cirebon berperan penting terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, hal ini

dikarenakan Kota Cirebon merupakan pusat pertumbuhan nasional untuk wilayah

Jawa Barat bagian timur. Oleh karena itu dalam penelitian ini akan

mengidentifikasi bagaimana profil pertumbuhan sektor perekonomian Kota

Cirebon.

Sesuai dengan visi dan misi Kota Cirebon dan dengan memperhatikan

latar belakang sejarah/budaya, demografi, potensi dan pertumbuhan yang

berkembang, maka fungsi Kota Cirebon diarahkan menjadi:

Cirebon sebagai kota perdagangan dan jasa, diharapkan mampu menempatkan

fungsinya sebagai pusat pengumpulan, pemasaran, dan distribusi hasil-hasil

produksi baik yang berasal dari wilayah Jawa Barat bagian Timur dan Jawa

Tengah bagian Barat.

Laju pertumbuhan ekonomi Kota Cirebon pada Tahun 2008 sebesar

5,64%. Angka ini tidak sepesat dari Tahun sebelumnya yang mencapai 6,17%

(Tahun 2007). Artinya, pertumbuhan produksi barang dan jasa yang dihasilkan
3

sektor-sektor ekonomi pada Tahun 2008 tidak sebaik pada Tahun 2007. Begitu

pula yang terjadi pada Tahun 2006 dan Tahun 2005. Selama empat Tahun terakhir

(2005-2008) pertumbuhan ekonomi Kota Cirebon mengalami fluktuasi, seiring

produktivitas sektor-sektor ekonomi mengalami perubahan dari Tahun ke Tahun.

Pertumbuhan tertinggi dicapai pada Tahun 2007, sehingga pada Tahun ini

produktivitas perekonomian di Kota Cirebon dirasakan relatif sangat baik

dibanding Tahun-Tahun sebelum dan sesudahnya.

15 LPE
12,61 12,12
10 10,14 10,74

6,17 Tingkat
5 4,89 5,54 5,64
Pengangguran
Terbuka
0
2005 2006 2007 2008

Sumber: BAPPEDA Kota Cirebon, 2009

Gambar 1. Laju Pertumbuhan Ekonomi dan Tingkat Pengangguran Terbuka Kota

Cirebon 2005-2008

Tingginya laju pertumbuhan ekonomi ini tidak berarti bahwa masyarakat

sudah sejahtera karena ternyata tingkat pengangguran terbuka Kota Cirebon juga

tinggi. Dapat dilihat dari Gambar 1 bahwa jika terjadi kenaikan LPE maka tingkat

pengangguran terbuka akan menurun, begitu juga sebaliknya apabila LPE

menurun maka tingkat pengangguran terbuka akan meningkat.

1.2 Perumusan Masalah

Kota Cirebon yang merupakan salah satu pusat pertumbuhan nasional,

maka penting dilakukan penelitian bagaimana pertumbuhan ekonominya.

Pertumbuhan ekonomi ini dapat dilihat dari bagaimana pertumbuhan sektor

perekonomian. Sebagaimana terlihat dari Gambar 1, dimana laju pertumbuhan


4

ekonominya memang relative meningkat setiap tahunnya. Namun, ternyata tingkat

penganggurannya masih lebih tinggi dibandingkan dengan laju pertumbuhan

ekonominya.

Hal ini juga dapat dibuktikan dengan hasil uji korelasi antara LPE dengan

tingkat pengangguran terbuka yang menunjukkan bahwa adanya hubungan

korelasi yang sangat tinggi sebesar -0,904 yang artinya terjadi perbandingan

terbalik antara LPE dengan tingkat pengangguran terbuka.

Walaupun dalam peningkatan LPE dapat mengurangi pengangguran tetapi

tingkat pengangguran terbuka masih lebih besar. Oleh karena itu, dalam penelitian

ini akan diidentifikasi sektor-sektor mana saja yang progresif dan sektor apa saja

yang menjadi sektor unggulan di Kota Cirebon yang diharapkan mampu

meningkatkan LPE secara maksimal sehingga tingkat pengangguran akan turun

secara drastis.

Dalam penelitian yang penulis lakukan, terdapat beberapa permasalahan

yang dibahas dalam skripsi ini. Adapun permasalahan yang diangkat adalah:

1. Bagaimana pertumbuhan sektor-sektor perekonomian Kota Cirebon?

2. Sektor apa saja yang menjadi sektor progresif Kota Cirebon?

3. Sektor-sektor apa saja yang menjadi sektor unggulan di Kota Cirebon?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengidentifikasi pertumbuhan sektor-sektor perekonomian Kota Cirebon.

2. Mengidentifikasikan sektor yang progresif di Kota Cirebon.

3. Mengidentifikasi sektor unggulan Kota Cirebon.


5

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Basis Ekonomi

Teori basis ekonomi (economic base theory) merupakan pandangan bahwa

laju pertumbuhan ekonomi suatu wilayah ditentukan oleh besarnya peningkatan

ekspor dari wilayah tersebut (Tarigan, 2007). Kegiatan ekonomi dikelompokkan

atas kegiatan basis dan kegiatan nonbasis. Hanya kegiatan basis yang dapat

mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah.

Analisis basis dan nonbasis pada umumnya didasarkan atas nilai tambah

ataupun lapangan kerja. Misalnya, penggabungan lapangan kerja basis dan

lapangan kerja basis dan lapangan kerja nonbasis merupakan total lapangan kerja

yang tersedia untuk wilayah tersebut. Demikian juga penjumlahan pendapatan

sektor basis dan pendapatan sektor nonbasis merupakan total pendapatan wilayah

tersebut. Di dalam suatu wilayah dapat dihitung berapa besarnya lapangan kerja

basis dan lapangan kerja nonbasis, dan apabila kedua angka itu dibandingkan,

dapat dihitung nilai rasio basis (base ratio) dan kemudian dapat dipakai untuk

menghitung nilai pengganda basis (base multiplier). Rasio basis adalah

perbandingan antara banyaknya lapangan kerja nonbasis yang tersedia untuk

setiap satu lapangan kerja basis.

2.2 Konsep Pertumbuhan Ekonomi

Menurut Kuznets dalam Priyarsono et al (2007) pertumbuhan ekonomi

adalah kenaikan jangka panjang dalam kemampuan suatu wilayah untuk

menyediakan semakin banyak jenis barang dan jasa kepada penduduknya,


6

kemampuan tersebut tumbuh sesuai dengan kemajuan teknologi dan penyesuaian

kelembagaan dan ideologis yang diperlukan. Pertumbuhan ekonomi juga dapat

diartikan sebagai proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang.

Persentase pertambahan output haruslah lebih besar dari persentase pertambahan

jumlah penduduk dan ada kecenderungan bahwa dalam jangkka waktu tertentu

bahwa pertumbuhan itu akan berlanjut. Teori pertumbuhan yang menyangkut

ekonomi nasional cukup banyak, seperti Teori Klasik yang terdiri dari Teori

Adam Smith dan Teori Richardian, Teori Keynes, dan Teori Harrod-Domar.

Smith dalam Priyarsono et al (2007) menyatakan mengenai faktor yang

menentukan pertumbuhan ekonomi, perkembangan penduduk akan mendorong

pertumbuhan ekonomi. Penduduk yang bertambah akan memperluas pasar dan

perluasan pasar akan meningkatkan spesialisasi dalam perekonomian tersebut.

Spesialisasi, kemudian akan meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan

mendorong perkembangan teknologi. Kenaikan dalam produktivitas yang

disebabkan dengan kemajuan teknologi akan meningkatkan tingkat upah dari

keuntungan, pada saat yang bersamaan pertumbuhan penduduk juga akan

meningkatkan akumulasi kapital dari tabungan. Dengan adanya akumulasi kapital

maka stok alat-alat modal dapat ditambah dan mendorong meningkatnya

produktivitas dan teknologi yang berkelanjutan sehingga proses pertumbuhan

akan terus berlangsung sampai seluruh sumberdaya alam termanfaatkan atau

tercapai kondisi stasionary state.

Teori Klasik Adam Smith ini mendapat kritikan terutama karena asumsi

yang tidak realistis tentang pasar bebas. Pada kenyataannya, pasar persaingan

sempurna yang seratus persen bebas dari campur tangan pemerintah ini tidak
7

ditemukan di dalam perekonomian manapun. Sebaliknya, peranan pemerintah

dalam perekonomian selalu ada dan diperlukan untuk mengatur perekonomian.

Smith juga belum menyadari adanya hukum tambahan hasil yang berkurang (the

law of diminishing return) dalam produksi.

Pandangan Ricardo sangat bertentangan dengan teori Smith mengenai

akhir dari proses pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang dan peranan

penduduk dalam pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, perkembangan penduduk

yang berjalan dengan cepat, pada akhirnya akan menurunkan kembali tingkat

pertumbuhan ekonomi ke taraf yang rendah. Pada taraf ini, pekerja akan

menerima tingkat upah minimal, yang hanya cukup untuk hidup (subsistence

level).

Pada mulanya jumlah penduduk rendah dan sumber daya alam relatif

berlimpah. Pengusaha dapat memperoleh tingkat keuntungan yang tinggi. Oleh

karena pembentukan modal tergantung pada keuntungan maka laba yang tinggi

akan menciptakan tingkat pembentukan modal yang tinggi pula. Ini

mengakibatkan kenaikan produksi dan pertambahan permintaan tenaga kerja.

Oleh karena jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan meningkat maka upah akan

naik dan kenaikan upah ini akan mendorong pertambahan penduduk. Semakin

bertambahnya penduduk mengakibatkan semakin banyak pekerja yang digunakan

sehingga tambahan hasil yang diciptakan oleh seorang pekerja menjadi lebih kecil

dengan semakin banyaknya jumlah pekerja. (Ricardo dalam Priyarsono et al,

2007)

Teori Ricardo ini mendapat kritikan tentang pertambahan penduduk yang

akan menyebabkan menurunnya tingkat upah hingga minimal. Pada


8

kenyataannya, terjadi peningkatan upah uang dan laju pertumbuhan penduduk

dewasa ini cenderung menurun.

Menurut Keynes dalam Priyarsono et all (2007) pertumbuhan yang stabil

terjadi dengan cara pemerintah perlu menerapkan kebijakan fiskal (perpajakan dan

belanja pemerintah), kebijakan moneter (tingkat suku bunga dan jumlah uang

yang beredar), dan pengawasan langsung. Pendapatan total merupakan fungsi dari

pekerjaan total suatu negara. Semakin besar pendapatan nasionalnya, semakin

besar volume pekerjaan yang dihasilkan, demikian sebaliknya. Volume pekerjaan

tergantung pada permintaan efektif. Permintaan efektif ditentukan pada titik saat

harga permintaan agregat sama dengan harga penawaran agregat. Permintaan

efektif terdiri dari permintaan konsumsi dan permintaan investasi.

Kenaikan investasi menyebabkan naiknya pendapatan dan karena

pendapatan meningkat maka muncul permintaan yang lebih banyak atas barang

konsumsi, yang pada gilirannya menyebabkan kenaikan berikutnya pada

pendapatan dan pekerjaan. Proses ini cenderung kumulatif sehingga kenaikan

yang berlipat pada pendapatan atau melalui kecenderungan untuk mengkonsumsi.

Oleh karena kecenderungan mengkonsumsi (MPC) turun dengan adanya kenaikan

pendapatan maka diperlukan suntikan investasi yang besar untuk memperoleh

tingkat pendapatan dan pekerjaan yang lebih tinggi dalam perekonomian.

Teori Keynes ini juga memiliki kelemahan, di mana pada wilayah yang

terdapat banyak pengangguran terselubung yang bersedia menerima upah sangat

rendah maka prinsip multiplier sulit untuk berlaku. Para pengangguran

terselubung tersebut dianggap sebagai oranng yang bekerja, namun jika mereka

ditarik keluar dari perekonomian maka tidak akan mempengaruhi output. Jadi,
9

tambahan investasi tidak akan meningkatkan upah mereka dan tidak akan

memberikan tambahan pendapatan yang besar pada perekonomian.

2.3 Konsep wilayah

Menurut Aritetoles dalam Restiviana (2008), konsep wilayah atau region

mempunyai tiga macam pengertian, yaitu wilayah homogen (homogeneous

region), wilayah polarisasi (polarization region) atau wilayah nodal (nodal

region) dan wilayah perencanaan (planning region) atau wilayah program

(programming region).

1. Wilayah Homogen

Konsep wilayah homogen diartikan sebagai suatu konsep yang

menganggap bahwa wilayah-wilayah geografis dapat dikaitkan bersama-sama

menjadi sebuah wilayah tunggal apabila wilayah tersebut mempunyai

karakteristik yang serupa. Ciri-ciri tersebut dapat bersifat ekonomi, misalnya

struktur produksinya hampir sama, atau pola konsumsinya homogen, dapat juga

bersifat geografis, misalnya keadaan topografi atau iklimnya serupa, dan bahkan

dapat pula bersifat sosial atau politis, misalnya suatu kepribadian masyarakat yang

khas, sehingga mudah dibedakan dengan karakteristik wilayah-wilayah lainnya.

2. Wilayah Nodal

Wilayah-wilayah nodal (pusat) terdiri dari satuan-satuan wilayah yang

heterogen. Misalnya distribusi penduduk yang terkonsentrasi pada tempat-tempat

tertentu akan mengakibatkan lahirnya kota-kota besar, kotamadya-kotamadya dan

kota-kota kecil lainnya, sedangkan penduduk di daerah-daerah pedesaan relatif

jarang atau dengan kata lain lalu lintas jalan raya nasional memperlihatkan tingkat
10

polarisasi yang lebih rapi dibandingkan dengan kota-kota lain yang tidak terletak

pada jaringan lalu lintas jalan raya.

3. Wilayah Perencanaan

Kategori wilayah perencanaan atau wilayah program sangat penting

artinya apabila dikaitkan dengan masalah-masalah kebijaksanaan wilayah. Pada

tingkat nasional atau wilayah, tata ruang perencanaan oleh penguasa nasional,

wilayah difungsikan sebagai alat untuk mencapai sasaran pembangunan yang

telah ditetapkan. Pembagian wilayah perencanaan disusun berdasarkan pada

analisis kegiatan pembangunan sektoral yang teralokasi pada satuan lingkaran

geografis. Wilayah perencanaan merupakan suatu wilayah pengembangan, dimana

program-program pembangunan dilaksanakan. Dalam hal ini yang penting

diperhatikan adalah persoalan koordinasi dan desentralisasi pembangunan wilayah

dapat ditingkatkan dan dikembangkan.

Gunawan dalam Mahila (2007) menyatakan bahwa pertumbuhan suatu

wilayah sering kali tidak seimbang dengan wilayah lainnya. Hal ini disebabkan

oleh beberapa faktor, yaitu: perbedaan karakteristik potensi sumberdaya manusia,

demografi, kemampuan sumberdaya manusia, potensi lokal, aksesibilitas dan

kekuasaan dalam pengambilan keputusan serta aspek potensi pasar. Berdasarkan

perbedaan ini, wilayah dapat diklasifikasikan dalam empat wilayah, yaitu:

1. Wilayah Maju

Wilayah maju merupakan wilayah yang telah berkembang dan

diidentifikasikan sebagai wilayah pusat pertumbuhan, pemusatan penduduk,

industri, pemerintahan, pasar potensial, tingkat pendapatan yang tinggi dan

memiliki sumberdaya manusia yang berkualitas.


11

2. Wilayah Sedang Berkembang

Wilayah ini memiliki karakteristik pertumbuhan penduduk yang cepat

sebagai implikasi dari peranannya sebagai penyangga wilayah maju. Wilayah

sedang berkembang juga mempunyai tingkat pendapatan dan kesempatan kerja

yang tinggi, potensi sumberdaya alam yang melimpah, keseimbangan antara

sektor pertanian dan industri serta mulai berkembangnya sektor jasa.

3. Wilayah Belum Berkembang

Potensi sumberdaya alam yang dimiliki wilayah ini, keberadaannya masih

belum dikelola dan dimanfaatkan. Tingkat pertumbuhan dan kepadatan penduduk

masih rendah, aksesibilitas yang kurang terhadap wilayah lain. Struktur ekonomi

wilayah masih didominasi oleh sektor primer dan belum mampu membiayai

pembangunan secara mandiri.

4. Wilayah Tidak Berkembang

Karakteristik wilayah ini diidentifikasikan dengan tidak adanya

sumberdaya alam, sehingga secara alamiah tidak berkembang. Selain itu, tingkat

kepadatan penduduk, kualitas sumberdaya manusia dan tingkat pendapatan masih

rendah. Pembangunan infrastruktur pun tidak lengkap. Budiharsono dalam Mahila

(2007) menganalisis pertumbuhan sektor-sektor di propinsi Jawa Barat pada

kurun waktu 1983 sampai 1987. Data yang digunakan adalah nilai PDRB dari

sektor primer, industri, utilitas, dan jasa pada Tahun 1983 dan Tahun1987. Hasil

penelitiannya menunjukkan bahwa Propinsi Jawa Barat bertumpu pada sektor

pertanian, selain sektor primer Propinsi Jawa Barat juga bertumpu pada sektor

jasa.
12

2.4 Kendala dan Strategi Pembangunan Wilayah

Dalam pembangunan wilayah untuk dapat mewujudkan keterpaduan antar

sektor dan menghilangkan kesenjangan antar wilayah atau antar daerah, bukan

merupakan pekerjaan yang mudah karena adanya beberapa kendala sebagai

berikut:

1. Keterbatasan kemampuan pemerintah untuk mencurahkan dana yang lebih

besar untuk pembangunan sarana dan prasarana yang akan lebih membuka dan

menyeimbangkan kesempatan dan berkembangnya kondisi sosial dan

ekonomi masyarakat di wilayah-wilayah terbelakang secara lebih cepat.

2. Keterbatasan sumberdaya manusia di wilayah terbelakang, yang antara lain

menjadi penyebab sekaligus akibat keterbelakangan itu.

3. Persaingan antar pengusaha di sektor wilayah untuk memanfaatkan

kesempatan dan tantangan menghadapi globalisasi.

4. Sulitnya menarik investasi swasta sebagai sumber dan pemacu pertumbuhan

ke wilayah terbelakang, terutama investasi yang berkualitas yang mampu

membuka lapangan kerja dan meningkatkan pertumbuhan daerah secara

berkelanjutan.

Strategi yang perlu diperhatikan dalam pengembangan regional, adalah:

1. Desentralisasi kekuasaan dan pengeluaran daerah

Pemerintah daerah mulai meningkatkan kemampuan dalam memperbesar

pendapatan daerah. Sedangkan pemerintah pusat tetap meneruskan pengalihan

sumberdaya kepada pemerintah daerah dalam bentuk bantuan yang tidak

meningkat sehingga memberikan keleluasaan dalam membuat keputusan. Pada

jangka menengah dan jangka panjang, perlu dipertimbangkan suatu strategi


13

tahapan pembangunan yang sedikit demi sedikit memberikan pengawasan,

perencanaan, pendanaan, dan proses implementasi kepada administrasi

pemerintah daerah.

2. Peningkatan pendapatan daerah

Pemerintah daerah perlu menyusun sejumlah kritera untuk pemasukan

keuangan daerah, seperti kemampuan administrasi dan proses budgedting yang

baik dalam rangka menunjang perbaikan kelembagaannya.

3. Pengembangan kelembagaan

Program pengembangan kelembagaan yang perlu dicapai adalah

koordinasi antara kelembagaan, transparansi dan rasa tanggung jawab,

profesionalisasi pegawai sipil dengan peningkatan standar kinerja dan pengupahan

serta pelatihan untuk meningkatkan kemampuan aparat pemerintah.

4. Keanekaragaman kebudayaan

Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang memiliki

kemampuan dan kebutuhan yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, pemerintah daerah

harus tanggap terhadap perbedaan-perbedaan itu sehingga perlu adanya suatu

“penilaian sosial” yang menggambarkan strategi kebudayaan untuk masing-

masing daerah.

2.5 Analisis Shift Share

Analisis Shift Share pertama kali diperkenalkan oleh Perloff et all (1960),

yang telah menggunakan analisis ini untuk mengidentifikasi sumber pertumbuhan

ekonomi wilayah di Amerika Serikat. Lucas (1979) juga menggunakan analisis ini

untuk mengidentifikasi pertumbuhan sektor-sektor atau wilayah yang lamban di


14

Indonesia dan Amerika Serikat. Analisis Shift Share juga dapat digunakan untuk

menduga dampak kebijakan wilayah ketenagakerjaan.

Knudsen (2000) menyatakan bahwa Shift-share adalah sebuah teknik

banyak digunakan untuk analisis ekonomi regional. Sebagai metodologi, shift-

share terdiri dari model akuntansi berbasis tradisional, model Analisis Variansi,

dan informasi-teori model. Selanjutnya, Shift Share probabilistik memberikan

kemajuan besar lebih dari metode akuntansi tradisional berbasis karena

memungkinkan peneliti untuk uji kuantitatif hipotesis tentang perubahan dalam

pekerjaan atau nilai tambah wilayah atau sektor.

Analisis Shift Share menganalisis berbagai perubahan indikator kegiatan

ekonomi, seperti produksi dan kesempatan kerja, pada dua titik waktu di suatu

wilayah. Hasil analisis ini juga dapat menunjukkan bagaimana perkembangan

suatu sektor di suatu wilayah jika dibandingkan secara relatif dengan sektor-sektor

lainnya apakah perkembangan suatu wilayah bila dibandingkan dengan wilayah

lainnya. Tujuan analisis shift share adalah untuk menentukan produktifitas kerja

perekonomian daerah dengan membandingkan dengan daerah yang lebih besar

(regional atau nasional).

Keunggulan utama dari analisis shift share adalah dapat melihat

perkembangan produksi atau kesempatan kerja di suatu wilayah hanya dengan

menggunakan dua titik waktu data. Data-data yang digunakan juga mudah

diperoleh dan relatif tersedia disetiap wilayah, yaitu Pendapatan Domestik

Regional Bruto (PDRB), Pendapatan Domestik Bruto (PDB), dan penyerapan

tenaga kerja di masing-masing sektor.


15

Analisis shift share mempunyai banyak kegunaan, diantaranya adalah

untuk melihat:

1. Perkembangan sektor perekonomian di suatu wilayah terhadap perkembangan

ekonomi wilayah yang lebih luas.

2. Perkembangan sektor-sektor perekonomian jika dibandingkan secara relatif

dengan sektor-sektor lainnya.

3. Perkembangan suatu wilayah dibandingkan dengan wilayah lainnya, sehingga

dapat membandingkan besarnya aktivitas suatu sektor pada wilayah tertentu

dan perubahan antar wilayah.

4. Perbandingan laju sektor-sektor perekonomian di suatu wilayah dengan laju

pertumbuhan perekonomian nasional serta sektor-sektornya.

Kemampuan analisis shift share dalam memberikan informasi mengenai

pertumbuhan sektor-sektor perekonomian di suatu wilayah tidaklah terlepas dari

kelemahan-kelemahan. Kelemahan-kelemahan dalam analisis shift share adalah:

1. Persamaan shift share hanyalah Identity equation dan tidak mempunyai

implikasi-implikasi keperilakuan. Metode shift share merupakan teknik

pengukuran yang mencerminkan suatu sistem perhitungan semata dan tidak

analitik.

2. Komponen pertumbuhan regional secara implisit mengemukakan bahwa laju

pertumbuhan suatu wilayah hanya disebabkan oleh kebijakan wilayah tanpa

memperhatikan sebab-sebab laju pertumbuhan yang bersumber dari wilayah

tersebut.

3. Kedua komponen pertumbuhan wilayah (PP dan PPW) mengasumsikan

bahwa perubahan penawaran dan permintaan, teknologi dan lokasi


16

diasumsikan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan wilayah. Disamping

itu, analisis shift share juga mengasumsikan bahwa semua barang dijual

secara regional, padahal tidak semua demikian.

Secara umum terdapat tiga komponen utama dalam analisis shift share

(Budiharsono dalam Priyarsono et all, 2006). Ketiga komponen pertumbuhan

wilayah tersebut yaitu komponen pertumbuhan nasional (PN) atau komponen

pertumbuhan regional (PR), komponen pertumbuhan proporsional (PP) dan

komponen pertumbuhan pangsa wilayah (PPW).

a. Komponen Pertumbuhan Regional (Regional Growth Component)

Komponen pertumbuhan regional (PR) adalah perubahan produksi suatu

wilayah yang disebabkan oleh perubahan produksi regional secara umum,

perubahan kebijakan ekonomi regional atau perubahan dalam hal-hal yang

mempengaruhi perekonomian semua sektor dan wilayah. Bila diasumsikan bahwa

tidak ada karakteristik ekonomi antar sektor dan antar wilayah, maka adanya

perubahan akan membawa dampak yang sama pada semua sektor dan wilayah

tumbuh lebih cepat daripada sektor wilayah lainnya.

b. Komponen Pertumbuhan Proporsional (Proportional Mix Growth Component)

Komponen pertumbuhan proporsional (PP) timbul karena perbedaan

sektor dalam permintaan produk akhir, perbedaan dalam ketersediaan bahan

mentah, perbedaan dalam kebijakan industri (seperti kebijakan perpajakan, subsidi

dan price support) dan perbedaan dalam struktur dan keragaman pasar.

c. Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah (Regional Share Growth

Component)
17

Komponen pertumbuhan pangsa wilayah (PPW) timbul karena

peningkatan atau penurunan PDRB atau kesempatan kerja dalam suatu wilayah

dibandingkan dengan wilayah lainnya. Cepat lambatnya pertumbuhan suatu

wilayah dibandingkan dengan wilayah lainnya ditentukan oleh keunggulan

komparatif, akses ke pasar, dukungan kelembagaan, prasarana sosial ekonomi

serta kebijakan ekonomi regional pada wilayah tersebut.

Komponen Pertumbuhan Regional (PR)

Maju
Wilayah ke j Wilayah ke jj
Sektor ke i (sektor i) PP + PPW ≥0

Lambat
Komponen Komponen
PP + PPW < 0
Pertumbuhan Pertumbuhan
Proporsional Pangsa Wilayah
(PP) (PPW)
Sumber : Budiharsono dalam Priyarsono et al, 2006

Gambar 2 Model Analisis Shift Share

Berdasarkan Gambar 2 dapat ditentukan dan diidentifikasikan

perkembangan suatu sektor ekonomi pada suatu wilayah. Apabila PP + PPW ≥ 0,

dapat dikatakan bahwa pertumbuhan sektor ke i di wilayah ke j termasuk kedalam

kelompok progresif (maju). Sementara itu, PP + PPW < 0 menunjukkan bahwa

pertumbuhan sektor ke i pada wilayah ke j tergolong pertumbuhan lambat.

2.6 Analisis Location Quotient (LQ)

Location quotient (kuosien lokasi) atau disingkat LQ adalah suatu

perbandingan tentang besarnya peranan suatu sektor/industri di suatu daerah

terhadap besarnya peranan sektor/industri tersebut secara nasional. Ada beberapa


18

variabel yang bisa diperbandingkan, tetapi yang umum adalah nilai tambah

(tingkat pendapatan) dan jumlah lapangan kerja. (Tarigan, 2007)

Menurut Priyarsono et al (2007) terdapat dua asumsi utama yang

digunakan dalam metode LQ adalah:

1. Pola konsumsi rumah tangga di daerah bawah identik (sama dengan) pola

konsumsi rumah tangga daerah atasnya.

2. Baik daerah atas maupun daerah bawah mempunyai fungsi produksi yang

linier dengan produktivitas di tiap sektor yang sama besarnya.

Pada kenyataannya dua asumsi diatas sangat sulit untuk diterima.

Umumnya pola konsumsi masyarakat yang tinggal di daerah bawah berbeda

dengan daerah atasnya. Demikian juga halnya dengan asumsi kedua. Produktivitas

di setiap sektor pada daerah bawah dan atas kemungkinan besar akan berbeda.

Namun demikian, terlepas dari kelemahan-kelemahan di atas, selama data

pendapatan dan tenaga kerja di suatu daerah tersedia secara lengkap dan akurat

untuk diterapkan. Selain itu perhitungan yang digunakan juga relatif sederhana

dan tidak membutuhkan biaya yang besar dan waktu yang lama dalam

mengklasifikasikan sektor-sektor basis dan non-basis di suatu daerah.

Menurut Tarigan (2007) menggunakan analisis LQ sebagai petunjuk

adanya keunggullan komparatif dapat digunakan bagi sektor-sektor yang telah

lama berkembang sedangkan bagi sektor yang baru atau sedang tumbuh apalagi

yang selama ini belum pernah ada, LQ tidak dapat digunakan karena produk

totalnya belum manggambarkan kapasitas riil daerah tersebut. Adalah lebih tepat

untuk melihat secara langsung apakah komoditi itu memiliki prospek untuk

diekspor atau tidak, dengan catatan terhadap produk tersebut tidak diberikan
19

subsidi atau bantuan khusus oleh daerah yang bersangkutan melebihi yang

diberikan daerah-daerah lainnya.

2.7 Penelitian Terdahulu

Restiviana (2008) menganalisis laju pertumbuhan PDRB sektor-sektor

perekonomian Kabupaten Banyuwangi pada periode Tahun 2003-2006. Hasil

penelitiannya berdasarkan analisis Shift Share didapat kesimpulan bahwa sektor

perekonomian Kabupaten Banyuwangi yang menunjukkan pertumbuhan terbesar

pada periode waktu 2003-2006 adalah sektor perdagangan hotel dan restoran,

sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor bangunan serta sektor listrik, gas dan

air bersih. Sedangkan sektor perekonomian yang memiliki tingkat pertumbuhan

terkecil adalah sektor pertambangan dan penggalian. Hal ini dikarenakan mata

pencaharian masyarakat Kabupaten Banyuwangi tidak didominasi oleh kegiatan

produksi di sektor pertambangan dan penggalian, melainkan di sektor pertanian.

Anjani (2007) menganalisis pertumbuhan sektor-sektor perekonomian

pasca otonomi daerah Kota Depok. Berdasarkan hasil penelitiannya, pertumbuhan

PDRB sektor-sektor perekonomian Kota Depok selama otonomi daerah Tahun

2001-2004, pertumbuhan PDRB Kota Depok mengalami peningkatan. Pada

Tahun 2001-2004 secara keseluruhan nilai PB Kota Depok adalah bernilai positif

artinya sektor-sektor perekonomian di Kota Depok secara keseluruhan tergolong

ke dalam kelompok yang maju. Hal ini menunjukkan bahwa semasa otonomi

daerah berlangsung, sektor-sektor perekonomian di kota Depok tidak ada yang

pertumbuhannya paling lambat.

Mukhyi (2007) menganalisis peranan subsektor pertanian dan sektor

unggulan terhadap pembangunan kawasan ekonomi Propinsi Jawa Barat dengan


20

pendekatan IRIO. Hasil penelitiannya adalah tingkat kontribusi margin Propisi

Jawa Barat dan Nasional unggul dalam sektor industri pengolahan, sektor

perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor pertanian. Dalam analisis shift share,

sumbangan terhadap Propinsi Jawa Barat pada sektor pertambangan dan

penggalian, sektor bangunan dan sektor jasa-jasa. Dengan pendekatan Location

Quatient (LQ), mempunyai keunggulan disektor industri pengolahan, sektor

listrik, gas dan air bersih, serta sektor perdagangan, hotel dan restoran terhadap

Nasional baik keterkaitan ke belakang maupun ke depan. Sedangkan terhadap

dirinya sendiri mempunyai keunggulan disektor industri pengolahan, sektor

bangunan, dan sektor perdagangan, hotel dan restoran.

Esteban (2000) dengan penelitiannya yang berjudul Reginal Convergence

in Europe and The Industry Mix: a Shift Share Analysis menjelaskan sejauh mana

kesenjangan antar daerah yang ada diproduktivitas agregat per pekerja dalam Uni

Eropa dapat dikaitkan dengan perbedaan dalam komposisi sektoral kegiatan,

daripada kesenjangan produktivitas yang seragam diseluruh sektor. Untuk efek ini

kita menggunakan analisis Shift Share dan menunjukkan bahwa daerah

spesialisasi memiliki peran sangat kecil dan bahwa perbedaan antar dasarnya

dapat dijelaskan oleh kesenjangan produktivitas seragam saja. Hasil empiris kami

berubah menjadi statistic sangat signifikan dan yang kuat untuk definisi yang

berbeda dari nilai bersih yang ditambahkan (harga pasar dan faktor biaya), derajat

yang berbeda kerusakan sektoral, tanggal dan aset alternatif Negara. Temuan ini

menyediakan dukungan untuk kebijakan pembangunan daerah berfokus kepada

tindakan memproduksi seragam dalam peningkatan produktivitas daerah, seperti

infrastruktur dan sumber daya manusia.


21

Marquez et al (2009) dengan penelitiannya yang berjudul Incorporating

Sectoral Structure into Shift–Share Analysis menyajikan sebuah cara baru untuk

menggabungkan sektoral dimensi dalam komponen pertumbuhan regional yang

disediakan oleh shift share tradisiona lanalisis. Metodologi baru menjelaskan cara

bahwa dinamika sektor tertentu disuatu daerah dipengaruhi oleh kinerja sektor

lain, struktural, dan efek diferensial. Untuk menggambarkan hal ini perluasan

dari metode shift share, sebuah aplikasi disediakan menggunakandata untuk

wilayah Spanyol Extremadura untuk periode 1990-2004. Hasil menyoroti

bagaimana komponen ini baru dapat memberikan wawasan baru kedalam analisis

sektoral dan regional proses pertumbuhan ekonomi.

Mayor dan Lopez (2008) dengan penelitiannya yang berjudul Spatial shift-

share analysis versus spatial filtering: an application to Spanish employment data

menganalisis pengaruh efek spasial di evolusi kerjadaerah, sehingga

meningkatkan penjelasanyang berbeda-beda dengan dengan tujuan ini dua non

parametrik teknik diusulkan yaitu spasial shift share analisis dan spatial filtering.

Spatial Shift Share model yang sudah ditetapkan sebelumnya berdasarkan bobot

matriks spasial memungkinkan identifikasi dan estimasi efek spasial. Selanjutnya,

teknik Spatial Filtering dapat digunakan untuk menghilangkan efek korelasi

spasial sehingga memungkinkan dekomposisi dari variasi kerjamenjadi dua

komponen, masing-masing berhubungan dengan efek spasial dan struktural. Pada

penerepan kedua teknik untuk analisis spasial kerja daerah di Spanyol

mengarahkan ke beberapa temuan yang menarik dan menunjukkan keuntungan

utama dan keterbatasan setiap prosedur, bersama dengan kuantifikasi kepekaan

dua alat analisis ini berkaitan dengan bobot matriks yang dipertimbangkan.
22

Zaccomer (2006) penelitiannya yang berjudul Shift-Share Analysis with

Spatial Structure: an Application to Italian Industrial Districts yang bertujuan

untuk memperpanjang teknik Shift Share dengan memperkenalkan struktur spasial

dalam kasus tertentu yaitu industri kabupaten Italia. Ekstensi hal ini

dimungkinkan karena penggunaan hukum status perusahaan bersamaan dengan

informasi kegiatan, tersedia pada daftar bisnis Italia di Chamber of Commers.

Sejauh analisis spasial yang bersangkutan, dalam pekerjaan ini kita memberikan

arti teritorial yang lebih tepat untuk konsep teoritis dari lingkungan.

2.8 Kerangka Pemikiran

Kondisi perekonomian suatu wilayah selain dipengaruhi oleh kondisi

demografi, potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia, aksesibilitas juga

dipengaruhi oleh kebijkan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah,

seperti kebijakan pemerintah tentang perimbangan keuangan antara pusat dan

daerah pada Tahun 2000.

Laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi diharapkan mampu mengurangi

pengangguran. Laju pertumbuhan enomomi ini dapat meningkat secara drastis

dengan memacu pertumbuhan sektor-sektor perekonomian yang unggul dan

progresif. Perubahan struktur ekonomi Kota Cirebon sangat dipengaruhi oleh

potensi yang dimiliki wilayahnya. Jika sektor-sektor ekonomi mengalami

pertumbuhan cepat maka wilayah akan berkembang pesat pula. Laju pertumbuhan

sektor-sektor ekonomi dapat dianalisis dengan menggunakan analisis shift share .

Sedangkan, sektor unggulan dapat dianalisis dengan menggunakan analisis

Location Quatient (LQ) Secara skematis, kerangka pemikiran dapat dijelaskan

pada Gambar 3.
23

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Analisis Shift Share Analisis Location Quotient (LQ)

Sektor Progresif Sektor Unggulan

Meningkatkan Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE)

Kebijakan Pembangunan Perekonomian Kota Cirebon

Gambar 3 Kerangka Pemikiran

Pada penelitian ini analisis shift share digunakan untuk menganalisis

pertumbuhan sektor-sektor perekonomian di Kota Cirebon, sehingga dapat

diketahui sektor-sektor yang memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dan sektor-

sektor yang memiliki pertumbuhan lambat, selain itu juga dapat menganalisis

daya saing antar sektor. Informasi mengenai pertumbuhan sektor-sektor

perekonomian dapat menjadi rekomendasi bagi Pemerintah Daerah untuk

menentukan kebijakan pembangunan dan perencanaannya, dan bagi para investor

untuk menanamkan modalnya pada sektor-sektor yang menguntungkan.


24

III. METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder

yang merupakan data PDRB menurut 8 sektor perekonomian. Data sekunder

tersebut berupa PDRB sektor-sektor perekonomian Kota Cirebon dan Propinsi

Jawa Barat atas dasar harga harga konstan Tahun 2000 periode 2000-2003.

Sumber data berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cirebon, BPS Pusat

Jakarta, BPS Jawa Barat, situs pemerintah Kota Cirebon, serta beberapa bahan

pustaka lain yang penulis baca dari berbagai sumber.

3.2 Metote Analisis Data

3.2.1 Analisis Shift Share

Berdasarkan Budiharsono dalam Priyarsono dan Sahara (2006), terdapat

asumsi dalam metode analisis shift share yaitu perubahan indikator kegiatan

ekonomi di suatu wilayah dibagi menjadi tiga komponen pertumbuhan, yaitu

komponen pertumbuhan regional (PR), komponen pertumbuhan proporsional (PP)

dan komponen pertumbuhan pangsa wilayah (PPW). Pada analisis shift share

diasumsikan dalam suatu negara terdapat m daerah yaitu Kota Cirebon

(j=1,2,3,…,m) dan n sektor (i=1,2,3,..,n), maka:

1. Menghitung perubahan PDRB adalah sebagai berikut:

∆Yij = Y’ ij + Y ij ……………………………………………………… (1)

Dimana :

Yij = PDRB sektor i di wilayah Cirebon pada Tahun dasar analisis (Juta

Rupiah).
25

Y’ij = PDRB sektor i di wilayah Cirebon pada Tahun akhir analisis (Juta

Rupiah)

2. Rumus persentase perubahan PDRB adalah sebagai berikut:

ij .............................................................. (2)

3. Menghitung rasio PDRB

Rasio PDRB digunakan untuk melihat perbandingan PDRB di suatu

wilayah tertentu. Rasio PDRB terbagi atas ri , Rj dan Ra, yaitu:

a. ri ……………………………………… (3)

Dimana:

ri = Rasio PDRB sektor i pada wilayah Kota Cirebon

Yij = PDRB dari sektor i di wilayah Cirebon pada Tahun dasar analisis (Juta

Rupiah).

Y’ij = PDRB dari sektor i di wilayah Cirebon pada Tahun akhir analisis (Juta

Rupiah).

b. Ri

Dimana:

Ri = rasio PDRB propinsi Jawa Barat dari sektor i.

Y’I = PDRB propinsi Jawa Barat dari sektor i pada Tahun akhir analisis (Juta

Rupiah).

Yi = PDRB propinsi Jawa Barat dari sektor i pada Tahun dasar analisis (Juta

Rupiah).

c. Ra
26

Dimana:

Ra = rasio PDRB Propinsi Jawa Barat

Y’.. = PDRB Propinsi Jawa Barat pada akhir Tahun analisis (Juta Rupiah).

Y.. = PDRB Propinsi Jawa Barat pada Tahun dasar analisis (Juta Rupiah).

4. Menghitung komponen pertumbuhan wilayah

Komponen pertumbuhan regional (PR), komponen pertumbuhan

proporsional (PP), dan komponen pertumbuhan pangsa wilayah (PPW).

a. Komponen Pertumbuhan Regional (PR)

PRij = (Ra)Yij ………………………………………….. (6)

Dimana:

PRij = komponen pertumbuhan regional sektor i untuk wilayah Cirebon

(Juta Rupiah).

Yij = PDRB dari sektor i diwilayah Cirebon pada Tahun dasar analisis

(Juta Rupiah).

b. Komponen Pertumbuhan Proporsional (PP)

PPij = (Ri-Ra)Yij ……………………………………….. (7)

Dimana:

PPij = komponen pertumbuhan proporsional sektor i untuk wilayah

Cirebon (Juta Rupiah).

Yij = PDRB dari sektor i di wilayah Cirebon pada Tahun dasar analisis

(Juta Rupiah).

Apabila:

PPij > 0, menunjukkan bahwa sektor i pada wilayah Cirebon pertumbuhannya

cepat.
27

PPij < 0, menunjukkan bahwa sektor i pada wilayah Cirebon pertumbuhannya

lambat.

c. Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah (PPW)

PPWij = (ri-Ri)Yij …………………………………… (8)

Dimana:

PPWij = komponen pertumbuhan pangsa wilayah sektor i untuk wilayah

Cirebon (Juta Rupiah).

Yij = PDRB dari sektor i pada wilayah Cirebon pada Tahun dasar analisis

(Juta Rupiah).

Apabila:

PPWij > 0, maka sektor j mempunyai daya saing yang baik dibandingkan

dengan sektor i.

PPWij < 0, maka sektor i diwilayah Cirebon tidak dapat bersaing dengan

baik apabila dibandingkan dengan wilayah lainnya.

d. Adapun perubahan dalam PDRB sektor i pada wilayah Cirebon dirumuskan

sebagai berikut:

∆Yij = PRij + PPij + PPWij ……………………………………. (9)

∆Yij = Y’ ij + Y ij ………………………………………………. (1)

Rumus ketiga komponen pertumbuhan wilayah Cirebon dirumuskan sebagai

berikut:

PRij = Yij (Ra) …………………………………………………..(6)

PPi j = (Ri-Ra)Yij ……………………………………….. ………(7)

PPWij = (ri-Ri)Yij …………………………………… …………….(8)


28

Apabila persamaan (1), (6), (7) dan (8) di substitusikan ke persamaan (9),

maka akan didapatkan:

∆Yij = PRij + PPij + PPWij

Y’ij - Yij = Y’ij - Yij + (Ra-Ra)Yij + Yij(ri-Ri)

Persentase ketiga pertumbuhan wilayah dapat dirumuskan:

%PRij = Ra ………………………………………………… (10)

%PPij = Ri-Ra ………………………………………………(11)

%PPWij = ri-Ri ………………………………………………..(12)

Atau:

%PRij = (PRij) / Yij * 100%

%PPij = (PPij) / Yij * 100%

%PPWij = (PPWij) / Yij * 100%

Sumber : Budiharsono dalam Priyarsono dan Sahara, 2006

5. Aplikasi Analisis Shift Share

Untuk mengevaluasi profil pertumbuhan sektor-sektor perekonomian

dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan 4 kuadran yang terdapat pada garis

bilangan. Sumbu horizontal menggambarkan persentase perubahan komponen

pertumbuhan proporsional (PPij), sedangkan sumbu vertikal merupakan persentase

pertumbuhan pangsa wilayah (PPWij). Dengan demikian pada sumbu horizontal

terdapat PP sebagai absis, sedangkan PPW sebagai ordinat.

Penjelasan masing-masing kuadran yang terdapat pada gambar 4 adalah

sebagai berikut:
29

a. Kuadran I merupakan kuadran dimana PP dan PPW sama-sama bernilai

positif. Hal ini menunjukkan bahwa sektor-sektor di wilayah yang

bersangkutan memiliki pertumbuhan yang cepat (dilihat dari nilai PP nya) dan

memiliki daya saing yang lebih baik apabila dibandingkan dengan wilayah-

wilayah lainnya (dilihat dari nilai PPW nya).

b. Kuadran II menunjukkan bahwa sektor-sektor ekonomi di wilayah yang

bersangkutan pertumbuhannya cepat (PP-nya bernilai positif), tetapi daya

saing wilayah untuk sektor-sektor tersebut dibandingkan dengan wilayah

lainnya kurang baik (PPW-nya bernilai negatif).

c. Kuadran III merupakan kuadran dimana PP dan PPW nya bernilai negatif. Hal

ini menunjukkan bahwa sektor-sektor ekonomi di wilayah yang bersangkutan

memiliki pertumbuhan yang lambat dengan daya saing yang kurang baik jika

dibandingkan dengan wilayah lain.

d. Kuadran IV menunjukkan bahwa sektor-sektor ekonomi pada wilayah yeng

bersangkutan memiliki pertumbuhan lambat (dilihat dari nilai PP-nya yang

negatif), tetapi daya saing wilayah untuk sektor-sektor tersebut baik jika

dibandingkan dengan wilayah lainnya (dilihat dari nilai PPW-nya yang

positif).
30

Kuadran IV Kuadran I

PPij

Kuadran III PPWij Kuadran II

Sumber: Budiharsono dalam Priyarsono dan Sahara (2006)

Gambar 4. Profil Pertumbuhan Sektor Perekonomian

Pada Gambar 4 terdapat garis yang memotong Kuadran II dan Kuadran IV

yang membentuk sudut 45 . Garis tersebut merupakan garis yang menunjukkan

nilai pergeseran bersih bernilai nol (PBj=0). Bagian atas garis tersebut

menunjukkan PBj > 0 yang mengindikasikan bahwa sektor-sektor tersebut

pertumbuhannya progresif (maju). Sebaliknya, di bawah garis 45 berarti PBj < 0

menunjukkan sektor-sektor yang lamban.

Secara matematis nilai pergeseran bersih (PB) sektor i pada wilayah

Cirebon dapat dirumuskan sebagai berikut:

PBij = PPij + PPWij ………………………………………… (13)

Dimana:

PBij = pergeseran bersih sektor i pada wilayah Cirebon

PPij = komponen pertumbuhan proporsional sektor i pada wilayah

Cirebon

PPWij = komponen pertumbuhan pangsa wilayah sektor i pada wilayah

Cirebon
31

Apabila:

PBj > 0, maka pertumbuhan sektor i pada wilayah Cirebon termasuk ke dalam

kelompok progresif (maju)

PBj < 0, maka pertumbuhan sektor i pada wilayah Cirebon termasuk lamban.

3.2.2 Metode Location Quotient (LQ)

Pada metode LQ, terdapat teori ekonomi basis, perekonomian di suatu

daerah dibagi menjadi dua sektor utama yaitu sektor basis dan non basis. Sektor

basis adalah sektor yang mengekspor barang dan jasa ataupun tenaga kerja ke

tempat-tempat di luar batas perekonomian daerah yang bersangkutan. Sedangkan,

sektor non basis adalah sektor yang menyediakan barang dan jasa yang

dibutuhkan oleh masyarakat yang bertempat tinggal di dalam batas-batas daerah

itu sendiri. Sektor ini mengekspor barang, jasa, maupun tenaga kerja, sehingga

luas lingkup produksi dan daerah pasar sektor non basis hanya bersifat lokal.

Pada metode ini, penentuan sektor basis dan non basis yang dilakukan

dengan cara menghitung perbandingan antara pendapatan (tenaga kerja) di sektor i

pada daerah bawah terhadap pendapatan (tenaga kerja) total semua sektor di

daerah bawah dengan pendapatan (tenaga kerja) di sektor i daerah atas terhadap

pendapatan (tenaga kerja) semua sektor di daerah atasnya. Secara matematis nilai

LQ dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

LQ =

Dimana:

Sib = PDRB sektor i pada daerah Cirebon (Juta Rupiah).

Sb = PDRB total semua sektor daerah Cirebon (Juta Rupiah).


32

Sia = PDRB sektor i pada Provinsi Jawa Barat (Juta Rupiah).

Sa = PDRB total semua sektot di Provinsi Jawa Barat (Juta Rupiah).

Jika hasil perhitungan dengan menggunakan rumus diatas menghasilkan

nilai LQ > 1, maka sektor i dikategorikan sebagai sektor basis. Nilai LQ yang

lebih dari satu tersebut menunjukkan bahwa pangsa PDRB pada sektor i di daerah

Cirebon lebih besar dibandingkan Provinsi Jawa Barat dan output pada sektor i

tersebut lebih berorientasi ekspor. Sebaliknya, jika nilai LQ < 1 sektor i

diklasifikasikan sebagai sektor non basis dan output pada sektor i tersebut

cenderung untuk diimpor.

3.3. Konsep dan Definisi Data

PDRB dapat diartikan ke dalam tiga pengertian, yaitu :

a. Pendekatan Produksi

PDRB adalah jumlah nilai produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh

berbagai unit produksi dalam satu wilayah atau region tertentu, pada suatu waktu

tertentu, dimana umumnya dalam jangka satu Tahun.

b. Pendekatan Pendapatan

PDRB adalah jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi

yang ikut langsung di dalam produksi di suatu wilayah atau region pada jangka

waktu tertentu (umumnya satu Tahun). Balas jasa faktor produksi itu adalah

terdiri dari upah/gaji, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan usaha. Dalam

pengertian, PDRB termasuk pula penyusutan barang modal tetap dan pajak tidak

langsung netto.
33

Jumlah semua komponen pendapatan ini tiap sektor disebut sebagai nilai

tambah bruto sektoral. PDRB merupakan jumlah dari nilai tambah bruto seluruh

sektor atau seluruh lapangan usaha.

c. Pendapatan Pengeluaran

PDRB adalah semua pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga dan

lembaga swasta yang tidak mencari untung, konsumsi pemerintah, pembentukan

modal tetap domestik regional bruto, perubahan stock serta ekspor netto di suatu

wilayah atau region pada suatu kurun waktu tertentu. Ekspor netto disini

pengertiannya adalah nilai ekspor dikurangi dengan nilai impor dari daerah

tertentu dalam kurun waktu tertentu pula.

3. 4. Uraian Sektoral

Uraian sektoral yang mencakup ruang lingkup dari masing-masing sektor

kegiatan ekonomi dan cara-cara penghitungan Nilai Tambah Bruto (NTB), baik

atas dasar harga berlaku maupun atas dasar konstan 2000 serta sumber data yang

digunakan.

1. Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan

Sektor ini terdiri dari Subsektor Tanaman Bahan Makanan, Perkebunan,

Peternakan, Kehutanan dan Perikanan.

1.1. Tanaman Bahan Makanan

Sub sektor ini mencakup komoditi tanaman bahan makanan misalnya padi,

jagung, ketela pohon, ketela rambat, kacang tanah, kacang kedelai, sayur-sayuran,

buah-buahan, kentang dan hasil produksi ikutannya. Termasuk pula di sini hasil-

hasil pengolahan yang dilakukan secara sederhana misalnya beras tumbuk, gaplek

dan sagu.
34

Data produksi diperoleh dari Kantor Dinas Pertanian dan Kelautan,

sedangkan data harga bersumber dari data harga yang dikumpulkan oleh Badan

Pusat Statistik. Nilai Tambah Bruto (NTB) atas dasar harga berlaku diperoleh

dengan cara pendekatan produksi, yaitu dengan mengalikan terlebih dahulu setiap

jenis kuantum produksi dengan masing-masing harganya, kemudian hasilnya

dikurangi dengan biaya antara.

Biaya antara diperoleh dengan menggunakan rasio biaya antara terhadap

output yang merupakan hasil Survei Khusus Pendapatan Regional (SKPR) yang

dilaksanakan Badan Pusat Statistik. Nilai Tambah Bruto (NTB) atas dasar harga

konstan 2000 dihitung dengan cara revaluasi.

1.2. Tanaman Perkebunan

Sub sektor ini mencakup komoditi tanaman perkebunan yang diusahakan

oleh rakyat dan perkebunan yang diusahakan oleh perusahaan besar misalnya

komoditi karet, kopra, kopi, kapuk, teh, tebu, tembakau, cengkeh dan lain

sebagainya termasuk pula hasil produksi ikutannya dan hasil-hasil pengolahan

sederhana seperti minyak kelapa, tembakau olahan, kopi kering dan teh olahan.

Data produksi diperoleh dari Dinas Pertanian, Peternakan dan Kelautan,

sedangkan data harga berupa data perdagangan besar dikumpulkan oleh Badan

Pusat Statistik. Nilai Tambah Bruto atas dasar harga berlaku dihitung dengan

pendekatan produksi yaitu dengan mengalikan terlebih dahulu setiap jenis

kuantum produksi dengan masing-masing harganya, kemudian hasilnya dikurangi

dengan biaya antara. Biaya antara diperoleh dengan menggunakan rasio biaya

antara terhadap output yang merupakan hasil dari Survei Khusus Pendapatan
35

Regional (SKPR). Nilai Tambah Bruto (NTB) atas dasar harga konstan 2000

dihitung dengan revaluasi.

1.3. Peternakan dan Hasil-hasilnya

Sub sektor ini mencakup produksi ternak besar dan ternak kecil misalnya

sapi, kerbau, babi, kuda, kambing, domba serta unggas. Dalam sub sektor ini

termasuk pula hasil-hasil ternak misalnya susu, kulit dan telur. Yang dimaksud

dengan produksi peternakan adalah banyaknya ternak yang lahir dan penambahan

berat ternak. Produksi peternakan dihitung berdasarkan perkiraan dengan

menggunakan rumus :

Produksi = Jumlah pemotongan + (Populasi ( akhir Tahun - awal Tahun) +

Jumlah (Ternak keluar - ternak masuk).

Data jumlah ternak yang dipotong, populasi ternak keluar dan ternak yang

masuk diperoleh dari Dinas Peternakan dan Kelautan sedangkan data harga

dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik. Nilai Tambah Bruto atas dasar harga

berlaku diperoleh dengan cara pendekatan produk yaitu dengan mengalikan

kuantum setiap jenis produksi dengan masing-masing harganya, kemudian

dikurangi dengan biaya antara. Biaya antara diperoleh dengan menggunakan rasio

biaya antara terhadap output yang merupakan hasil Survei Khusus Pendapatan

Regional (SKPR). Nilai Tambah Bruto atas dasar harga Konstan 2000 dihitung

dengan cara revaluasi.

1.4. Kehutanan

Sub sektor ini mencakup komoditi kayu pertukangan, kayu bakar, arang,

bambu, rotan dan lain sebagainya. Data produksi dan data harga diperoleh dari

PT. Perhutani. Nilai Tambah Bruto atas dasar harga berlaku dihitung dengan
36

mengalikan terlebih dahulu masing-masing jenis kuantum produksi kehutanan

dengan masing-masing harganya, kemudian dikurangi dengan biaya antara.

Biaya antara diperoleh dengan menggunakan rasio biaya antara terhadap

output yang merupakan hasil Survei Khusus Pendapatan Regional (SKPR). Nilai

tambah bruto atas dasar harga konstan dihitung dengan mempergunakan cara

revaluasi. Untuk sub sektor kehutanan di Kota Cirebon sudah sudah tidak

dilakukan penghitungan lagi karena komoditi untuk sub sektor kehutanan di Kota

Cirebon sudah tidak tersedia.

1.5. Perikanan.

Sub sektor ini mencakup kegiatan perikanan laut, perikanan darat (air

tawar dan tambak) dengan pengolahan sederhana (pengeringan dan penggaraman

ikan). Data produksi dan harga komoditi perikanan diperoleh dari Kantor Dinas

Pertanian, Peternakan dan Kelautan. Nilai Tambah Bruto atas dasar harga berlaku

dihitung dengan pendekatan produksi yaitu dengan mengalikan dahulu masing-

masing kuantum produksi perikanan dengan harganya, dengan menggunakan

rasio biaya antara terhadap output yang satu yang merupakan hasil Survei Khusus

Pendapatan Regional (SKPR). Nilai Tambahan Bruto atas dasar harga konstan

2000 dihitung dengan cara revaluasi.

2. Sektor Pertambangan dan Penggalian

Sektor ini diklasifikasikan dalam 3 (tiga) sub sektor, yaitu Sub Sektor

Minyak dan Gas Bumi (Migas), pertambangan tanpa Migas dan Penggalian.

Sektor ini mencakup kegiatan-kegiatan penggalian, pemboran dan pengambilan

segala macam pemanfaatan misalnya benda non biologis, barang-barang tambang,

mineral dan barang galian yang tersedia di dalam, baik yang berupa benda padat
37

maupun benda cair misalnya minyak mentah maupun benda gas misalnya gas

bumi.

2.1. Pertambangan

Sub sektor ini mencakup komoditi minyak mentah, gas bumi, batubara,

biji emas dan perak. Di wilayah kota Cirebon tidak terdapat kegiatan sub sektor

ini, oleh karena itu datanya tidak disajikan.

2.2. Penggalian

Sub sektor ini mencakup kegiatan penggalian dan pengambilan segala

macam jenis barang galian seperti batu kapur, pasir, batu-batuan, tanah liat, tanah

timbun dan barang galian sejenisnya. Sama dengan sub sektor Pertambangan sub

sektor ini pun tidak ada kegiatannya di Kota Cirebon, oleh sebab itu datanya tidak

disajikan.

3. Sektor Industri Pengolahan

Sektor Industri Pengolahan mencakup dua Sub sektor yaitu Industri

Minyak dan Gas, dan Industri Tanpa Minyak dan Gas.

3.1. Industri Minyak dan Gas Bumi ( Migas )

Sub sektor ini mencakup kegiatan pengolahan, pengilangan minyak bumi

dan gas alam cair misalnya premium, minyak tanah, minyak disel, aftur, avigas

dan lain sebagainya. Nilai Tambah Bruto atas dasar harga berlaku diperoleh

dengan mempergunakan pendekatan produksi yaitu output dikurangi biaya antara.

Data mengenai jumlah output dan biaya antara diperoleh dari Badan Pusat

Statistik melalui survei. Nilai Tambah Bruto atas dasar harga konstan 2000

dihitung dengan metode deflasi dengan mempergunakan deflator Indeks Harga

Perdagangan Besar (IHPB) hasil penggalian minyak bumi.


38

3.2. Industri Tanpa Migas

Sub sektor ini mencakup industri besar dan sedang, industri kecil dan

kerajinan rumah tangga. Industri besar dan sedang mencakup perusahaan industri

yang mempunyai jumlah tenaga kerja 20 orang atau lebih. Sedangkan industri

kecil mempunyai tenaga kerja antara 5 sampai dengan 19 orang dan industri

kerajinan rumah tangga dengan tenaga kerja 1 sampai dengan 4 orang.

Nilai Tambah Bruto atas dasar harga berlaku untuk industri besar dan

sedang dihitung dengan menggunakan pendekatan produksi, yaitu nilai output

dikurangi dengan biaya antara. Nilai output dan biaya antara diperoleh dari Survei

Industri Besar dan Sedang yang rutin setiap Tahun dilakukan oleh Badan Pusat

Statistik. Sedangkan untuk industri kecil dan kerajinan rumah tangga dilakukan

estimasi berdasarkan indikator jumlah tenaga kerja dan rata-rata output per tenaga

kerja, hasil suatu Survei Industri Kecil dan Kerajinan Rumah Tangga.

Nilai Tambah Bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan

menggunakan metode deflasi dengan deflatornya adalah Indeks Harga

Perdagangan Besar untuk barang-barang industri.

4. Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih

Sektor ini mencakup kegiatan Subsektor Listrik, Gas dan Air Bersih.

4.1. Listrik

Sub sektor ini mencakup kegiatan pembangkitan dan penyaluran tenaga

listrik yang diselenggarakan oleh Perusahaan Listrik Negara (PT. PLN) dan non

PLN. Nilai Tambah Bruto atas harga berlaku dihitung dengan menggunakan

metode pendekatan produksi, yaitu output dikurangi dengan biaya antara. Nilai

output diperoleh dari perkalian produksi listrik dengan tarif listrik yang datanya
39

diperoleh dari PLN, sedangkan biaya antara diperoleh dari perkalian rasio biaya

antara dengan nilai outputnya. Rasio ini didapat dari survei yang diselenggarakan

Badan Pusat Statistik. Nilai Tambah Burto atas dasar harga konstan 2000

diperoleh dengan menggunakan metode ekstrapolasi dengan ekstrapolatornya

adalah Indeks Produksi Listrik.

4.2. Gas Kota

Sub sektor Gas Kota mencakup kegiatan penyediaan gas kota yang

biasanya diusahakan oleh Perusahan Gas Negara. Nilai Tambah Bruto atas dasar

harga Tahun berlaku dihitung dengan berdasarkan pendekatan produksi yaitu

output dikurangi dengan biaya antara Nilai output dan biaya antara diperoleh dari

Survei Gas yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik setiap Tahun. Nilai Tambah

Bruto atas dasar konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode ekstrapolasi

dengan ekstrapolatornya adalah Indeks Produksi Gas.

4.3. Air Bersih

Sub sektor Air Bersih mencakup kegiatan proses pembersihan, pemurnian

dan proses kimiawi lainnya untuk menghasilkan air minum, serta pendistribusian

dan penyaluran baik yang dilakukan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)

maupun bukan PDAM. Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku dihitung

dengan pendekatan yaitu output dikurangi dengan biaya antara. Nilai output dan

biaya antara diperoleh dari Survei Air Minum yang dilakukan oleh Badan Pusat

Statistik setiap Tahun. Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung

dengan menggunakan metode ekstrapolasi dengan ekstrapolatornya adalah Indeks

Produksi Air Bersih.


40

5. Sektor Bangunan

Sektor ini mencakup kegiatan pembangunan fisik (konstruksi), baik yang

digunakan sebagai tempat tinggal atau pun sarana lainnya yang dilakukan oleh

perusahaan kontruksi maupun perorangan. Nilai Tambah Bruto atas dasar harga

berlaku dihitung dengan pendekatan produksi, yaitu mengurangi nilai output

dengan nilai biaya antara. Data nilai output dan biaya antara diperoleh dari Survei

Perusahaan Kontruksi AKI dan Non AKI ditambah dengan kegiataan kontruksi

yang dilakukan oleh perorangan atau individu.

Nilai Tambah Bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan

menggunakan metode deflasi dengan deflatornya indeks harga perdagangan besar

untuk barang bangunan.

6. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran

6.1. Perdagangan Besar dan Eceran

Perdagangan besar mencakup kegiatan pengumpulan dan penjualan

kembali barang baru atau bekas oleh pedagang dari produsen atau importir kepada

pedagang besar atau pedagang eceran. Perdagangan eceran mencakup kegiatan

pedagang yang umumnya melayani konsumen perorangan atau rumah tangga

tanpa merubah sifat, baik barang baru maupun barang bekas.

Nilai Tambah Bruto baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar

harga konstan 2000 dihitung dengan metode arus barang (commodity flow), yaitu

output dihitung berdasarkan margin perdagangan yang timbul akibat perdagangan

barang-barang dari sektor Pertanian, Pertambangan dan Penggalian, Industri serta

barang dari impor dikurangi biaya antara.


41

6.2. Hotel

Sub sektor Hotel mencakup kegiatan penyedian akomodasi yang

menggunakan sebagian atau seluruh bangunan sebagai tempat penginapan, yang

dimaksud akomodasi di sini adalah baik hotel berbintang maupun hotel tidak

berbintang serta tempat tinggal lainnya yang digunakan untuk menginap seperti

losmen dan motel.

Nilai Tambah Bruto atas dasar harga berlaku dihitung dengan pendekatan

produksi, yaitu nilai output dikurangi biaya antara. Nilai output diperoleh

dariperkalian kamar yang terjual dengan rata-rata tarif per kamar. Biaya antara

diperoleh dari perkalian rasio biaya antara hasil Survei Khusus Pendapatan

Regional (SKPR) dengan nilai outputnya. Nilai Tambah Bruto atas dasar harga

konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode ekstrapolasi dengan

ekstrapolatornya adalah Indeks Jumlah Kamar yang terjual.

6.3. Restoran

Sub sektor Restoran mencakup kegiatan usaha penyediaan makanan dan

minuman jadi yang pada umumnya dikonsumsi di tempat penjualan. Kegiatan

yang termasuk dalam sektor ini seperti bar, kantin, warung kopi, rumah makan,

warung nasi, warung sate, katering dan kegiatan sejenis lainnya.

Nilai Tambah Bruto atas dasar harga berlaku dihitung dengan pendekatan

produksi, yaitu output dikurangi dengan biaya antara. Nilai output diperoleh

dengan cara mengalikan pengeluaran makanan dan minuman per kapita selama

satu Tahun dengan jumlah penduduk pertengahan Tahun. Biaya antara diperoleh

dari perkalian rasio biaya antara yang diperoleh dari pelaksanaan Survei Khusus

Pendapatan Regional (SKPR). Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000
42

dihitung dengan menggunakan metode deflasi, dimana Indeks Harga Konsumen

(IHK) Makanan dijadikan deflatornya.

7. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi

7.1. Angkutan Rel

Angkutan ini mencakup kegiatan pengangkutan barang dan penumpang

dengan menggunakan alat angkut kereta api yang sepenuhnya dikelola oleh PT.

Kereta Api Indonesia (PT. KAI) Nilai Tambah Bruto atas dasar harga berlaku

dihitung dengan pendekatan produksi, yaitu output dikurangi dengan biaya antara.

Nilai output dan biaya antara diperoleh dari Laporan Keuangan PT KAI. Nilai

Tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan

metode ekstrapolasi yang memakai Indeks Barang dan Penumpang untuk

Angkutan Rel sebagai ekstrapolatornya. Nilai tambah bruto atas dasar harga

konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode revaluasi.

7.2. Angkutan Jalan Raya

Sub sektor ini mencakup kegiatan pengangkutan barang dan penumpang

dengan menggunakan alat angkut jalan raya, baik kendaraan bermotor maupun

tidak bermotor. Termasuk disini adalah kegiatan lainnya seperti sewa kendaraan

(rent car), baik dengan atau tanpa pengemudi. Nilai Tambah Bruto atas dasar

harga berlaku dihitung dengan pendekatan produksi, yaitu output dikurangi biaya

antara. Nilai output diperoleh dengan cara jumlah kendaraan umum dikalikan

dengan rata-rata output per kendaran. Biaya antara diperoleh dari perkalian rasio

biaya antara dengan nilai outputnya. Nilai Tambah Bruto atas dasar harga

konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode revaluasi.


43

7.3. Angkutan Laut

Sub sektor Angkutan Laut mencakup kegiatan pengangkutan barang dan

penumpang dengan menggunakan kapal yang beroperasi di dalam dan di luar

daerah domestik oleh perusahaan angkutan laut. Nilai Tambah Bruto atas dasar

harga berlaku dihitung dengan pendekatan produksi, yaitu output dikurangi

dengan biaya antara. Output dan biaya antara diperoleh dari Survei Khusus

Pendapatan Regional (SKPR). Nilai Tambah Bruto atas dasar harga konstan 2000

dihitung dengan menggunakan metode ekstrapolasi dengan ekstrapolatornya baik

bermotor maupun tidak bermotor serta kegiatan penyeberangan dengan

menggunakan kapal ferri. Nilai Tambah Bruto atas harga berlaku dihitung dengan

menggunakan pendekatan produksi, yaitu output dikurangi dengan biaya antara.

Nilai output dan biaya antara diperoleh dari Survei Khusus Pendapatan Regional

(SKPR). Nilai Tambah Bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan

menggunakan metode ekstrapolasi, dengan memakai Indeks Jumlah Penumpang

dan Barang sebagai ekstrapolatornya.

7.4. Angkutan Udara

Sub sektor Angkutan Udara mencakup kegiatan pengangkutan penumpang

dan barang dengan menggunakan pesawat udara yang diusahakan oleh perusahaan

penerbangan yang beroperasi di wilayah tersebut. Nilai Tambah Bruto atas dasar

harga berlaku dihitung dengan pendekatan produksi, yaitu output dikurangi

dengan biaya antara. Nilai output dan biaya antara diperoleh dari Survei Khusus

Pendapatan Regional (SKPR). Metode ekstrapolasi digunakan untuk menghitung

nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dengan menggunakan Indeks

Jumlah Penumpang dan Barang sebagai ekstrapolatornya.


44

7.5. Angkutan Sungai dan Penyeberangan

Sub sektor ini mencakup kegiatan pengangkutan barang dan penumpang

dengan menggunakan kapal atau angkutan sungai, baik bermotor maupun tidak

bermotor, serta kegiatan penyeberangan dengan alat angkut kapal ferri. NTB atas

dasar harga berlaku dihitung dengan pendekatan produksi yaitu output dikurangi

biaya antaranya. Nilai Output dan biaya antara diperoleh dari SKPR. Metode

Ekstrapolasi digunakan untuk menghitung NTB atas dasar harga konstan 2000

dengan ekstrapolatornya Indeks Jumlah Penumpang dan Barang.

7.6. Jasa Penunjang Angkutan

Sub sektor ini mencakup kegiatan yang bersifat menunjang dan

memperlancar kegiatan pengangkutan, yaitu jasa pelabuhan udara, laut, darat

(terminal dan parkir), sungai, bongkar muat laut dan udara, keagenan penumpang,

ekspedisi laut, jalan tol dan kegiatan lain sebagainya yang sejenis. Nilai Tambah

Bruto atas harga berlaku dihitung dengan pendekatan produksi, yaitu output

dikurangi dengan biaya antara. Nilai output dan biaya antara diperoleh dari

Survei Khusus Pendapatan Regional (SKPR). Nilai Tambah Bruto atas dasar

harga konstan 2000 diperoleh dengan menggunakan metode ekstrapolasi dengan

memakai Indeks Penumpang dan Barang sebagai ekstrapolatornya.

7.7. Komunikasi

Sub sektor Komunikasi mencakup kegiatan pos dan giro, telekomunikasi

dan jasa penunjang komunikasi. Pos dan Giro mencakup kegiatan pemberian jasa

kepada pihak lain dalam hal pengiriman surat, wesel dan paket yang

diusahakan oleh PT. (Persero) Pos Indonesia serta perusahaan swasta lainnya.

Telekomunikasi meliputi pemberian jasa kepada pihak lain dalam hal pengiriman
45

berita melalui telegram, telepon dan teleks yang diusahakan oleh PT. Telkom dan

PT. Indosat. Jasa penunjang telekomunikasi meliputi kegiatan yang menunjang

kegiatan komunikasi seperti warung telekomunikasi (wartel, radio panggil dan

telepon seluler).

Nilai Tambah Bruto atas dasar harga berlaku dihitung dengan

menggunakan pendekatan produksi, yaitu output dikurangi dengan biaya antara.

Nilai output dan biaya antara dari kegiatan pos dan giro serta telekomunikasi

diperoleh dari laporan keuangan PT (Persero) Pos Indonesia dan PT. Telkom

Wilayah Kota Cirebon. Nilai Tambah Bruto atas dasar harga konstan 2000

dihitung dengan menggunakan metode ekstrapolasi dengan menggunakan

ekstrapolatornya jumlah surat yang dikirim untuk kegiatan pos dan giro dan

jumlah pulsa untuk kegiatan telekomunikasi.

8. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan

8.1. Bank

Sub sektor Bank mencakup kegiatan bank sentral dan bank komersial

yang memberikan jasa keuangan kepada pihak lain misalnya menerima simpanan

dalam bentuk giro dan deposito, memberikan kredit atau pinjaman baik jangka

pendek, menengah dan panjang, mengirim uang, membeli dan menjual surat-surat

berharga, mendiskonto surat wesel/surat dagang/ surat hutang dan sejenisnya.

Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku dihitung dengan menggunakan

pendekatan produksi yaitu output dikurangi dengan biaya antara. Nilai output dan

biaya antara diperoleh dari laporan Bank Indonesia sebagai bank sentral. Nilai

tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan
46

metode deflasi memakai Indeks Harga Konsumen (IHK) Umum sebagai

deflatornya.

8.2. Lembaga Keuangan Lainnya

Sub sektor Lembaga Keuangan lainnya mencakup kegiatan asuransi,

dana pensiun, pegadaian, koperasi simpan pinjam dan lembaga pembiayaan.

Dalam sub sektor ini juga mencakup kegiatan valuta asing, pasar modal dan jasa

penunjangnya seperti pialang, penjamin emisi dan lain sebagainya. Nilai Tambah

Bruto atas dasar harga berlaku dihitung dengan pendekatan produksi, yaitu output

dikurangi dengan biaya antara. Data output dan biaya antara sub sektor ini

diperoleh dari Survei Khusus Pendapatan Regional (SKPR). Nilai Tambah Bruto

atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode deflasi

memakai Indeks Harga Konsumen (IHK) Umum sebagai deflatornya.

8.3. Sewa Bangunan

Sub sektor Bangunan mencakup kegiatan usaha persewaan bangunan dan

tanah, baik yang menyangkut bangunan tempat tinggal maupun bukan tempat

tinggal seperti perkantoran, pertokoan, apartemen, serta usaha persewaan tanah

persil. Nilai Tambah Bruto atas harga berlaku dihitung dengan pendekatan

produksi, yaitu output dikurangi dengan biaya antara Niali output diperoleh dari

perkalian antara pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita untuk sewa

rumah, kontrak rumah, sewa beli rumah dinas, perkiraan sewa rumah, pajak dan

pemeliharaan rumah dengan jumlah penduduk pertengahan Tahun. Nilai biaya

antara diperoleh dari perkalian pengeluaran pemeliharaan rumah per kapita

dengan jumlah penduduk pertengahan Tahun. Nilai Tambah Bruto atas dasar
47

harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode deflasi yang memakai

Indeks Harga Konsumen (IHK) perumahan sebagai deflatornya.

8.4. Jasa Perusahaan

Sub sektor Jasa Perusahaan mencakup kegiatan pemberian jasa hukum

(Advokat dan Notaris), jasa akutansi dan pembukuan, jasa pengolahan dan

penyajian data, jasa pembangunan/ arsitek dan tehnik, jasa periklanan dan riset

pemasaran serta jasa persewaan mesin dan peralatan. Nilai Tambah Bruto atas

dasar harga berlaku dihitung dengan menggunakan pendekatan produksi, yaitu

output dikurangi dengan biaya antara. Nilai output diperoleh dari perkalian jumlah

perusahaan dengan rata-rata output per perusahaan hasil Survei Khusus

Pendapatan Regional (SKPR). Biaya antara diperoleh dari hasil perkalian antara

rasio biaya antara dengan nilai outputnya. Nilai Tambah Bruto atas dasar harga

konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode revaluasi.

9. Sektor Jasa-Jasa

9.1. Jasa Pemerintahan Umum

Sub sektor ini mencakup kegiatan yang dilaksanakan oleh Pemerintah

untuk kepentingan rumah tangga serta masyarakat umum. Sebagai contoh Jasa

Pemerintahan Umum, Pertahanan dan Keamanan dan lain sebagainya.

9.2. Jasa Swasta

Sub sektor ini mencakup kegiatan jasa yang dilakukan pihak swasta,

misalnya jasa sosial dan kemasyarakatan, jasa hiburan dan rekreasi serta

perorangan dan rumah tangga.


48

9.2.1. Jasa Kemasyarakatan

Sub sektor ini mencakup kegiatan jasa pendidikan, kesehatan, riset/

penelitian, palang merah, panti wreda, yayasan pemelihara anak cacat (YPAC),

rumah ibadat dan sejenisnya, baik yang dikelola swasta maupun pemerintah. Nilai

Tambah Bruto atas dasar harga berlaku dihitung dengan pendekatan produksi,

yaitu output dikurangi dengan biaya antara. Nilai output diperoleh dari hasil

perkalian jumlah indikator produksi misalnya jumlah murid, jumlah tempat tidur

rumah sakit, jumlah dokter, jumlah panti asuhan dan lain sebagainya dengan rata-

rata output per masing-masing indikator dari hasil Survei Khusus Pendapatan

Regional (SKPR). Biaya antara diperoleh dari perkalian antara rasio biaya antara

dengan nilai outputnya. Nilai Tambah Bruto atas dasar harga konstan 2000

diperoleh dengan menggunakan metode revaluasi.

9.2.2. Jasa Hiburan dan Rekreasi

Sub sektor ini mencakup kegiatan jasa bioskop, kebun binatang, taman

hiburan, pub, bar, karaoke, diskotik, kolam renang dan kegiatan hiburan lainnya.

Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku dihitung dengan pendekatan

produksi, yaitu output dikurangi dengan biaya antara. Nilai output diperoleh dari

hasil perkalian jumlah pengunjung/ penonton dengan rata-rata tarif per

pengunjung/ penonton hasil Survei Khusus Pendapatan Regional (SKPR). Biaya

antara diperoleh dari perkalian antara rasio biaya antara dengan nilai outputnya.

Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan

metode revaluasi.
49

9.2.3. Jasa Perorangan dan Rumah Tangga

Sub sektor ini mencakup kegiatan yang pada umumnya melayani

perorangan dan rumah tangga misalnya jasa reparasi, pembantu rumah tangga,

tukang cukur, tukang jahit, semir sepatu dan kegiatan lainnya. Nilai tambah bruto

atas dasar harga berlaku dihitung dengan pendekatan produksi, yaitu output

dikurangi dengan biaya antara. Nilai output diperoleh dari hasil perkalian jumlah

masing-masing jenis kegiatan usaha jasa perorangan dan rumah tangga dengan

rata-rata output per masing-masing jenis kegiatan tersebut. Biaya antara diperoleh

dari hasil perkalian antara rasio biaya antara dengan nilai outputnya. Nilai tambah

bruto atas dasar harga konstan 2000 diperoleh dengan menggunakan metode

revaluasi.
50

IV. GAMBARAN UMUM

4.1 Wilayah Administratif

Wilayah geografi Kota Cirebon berbentuk dataran rendah dengan

topografinya datar (Flat), menurut data Potensi Desa 2003, beberapa kecamatan

memiliki letak geografis berupa pesisir pantai (Coast), yaitu Kecamatan

Lemahwungkuk dan Kejaksan. Sedangkan untuk tiga kecamatan lainnya, letak

geografisnya berupa daerah dataran (Plain).

Kota Cirebon ini merupakan bagian dari wilayah administrasi Propinsi

Jawa Barat, dengan luas wilayah adiministrasi sebesar 37,36 km2, yang terbagi

menjadi 5 kecamatan dan 22 kelurahan. Wilayah kecamatan yang memiliki luas

wilayah terbesar adalah Kecamatan Harjamukti sebesar 47,15% dari luas wilayah

Kota Cirebon. Lalu terluas kedua adalah Kecamatan Kesambi, yang luasnya

sekitar 21,57%. Selanjutnya berturut-turut Kecamatan Lemahwungkuk (17,42%),

Kejaksan (9,68%) dan Pekalipan (4,18%).

4.2 Laju Pertumbuhan Penduduk

Eksistensi penduduk sebagai sumber daya manusia memiliki peranan yang

berarti dalam berbagai aktivitas sosial ekonomi. Akan lebih berarti lagi apabila

mutu penduduk ini pun dapat dihandalkan. Dalam kaitannya dengan analisis

penduduk, maka dalam penyajiannya dapat disusun dalam suatu komposisi

penduduk. Komposisi penduduk menggambarkan susunan penduduk yang dibuat

berdasarkan pengelompokkan penduduk menurut karakteristik-karakteristik yang

sama (Rusli, 1983).


51

Misalnya komposisi penduduk dapat disajikan menurut umur dan jenis

kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, lapangan pekerjaan, bahasa dan

agama. Penduduk Kota Cirebon pada tahun 2008 berjumlah 298.995 jiwa (Hasil

Suseda Jawa Barat), yang terdiri dari 145.545 laki-laki dan 153.450 perempuan,

sehingga menghasilkan seks rasio sebesar 94,85. Artinya, dari 100 orang

penduduk perempuan terdapat 95 orang penduduk laki-laki. Ini mengindikasikan

bahwa penduduk Kota Cirebon memiliki kecenderungan seimbang antara jumlah

laki-laki dan perempuan.

Pada tahun 2009, penduduk Kota Cirebon meningkat sebesar 1,98% dari

tahun 2008, sehingga menjadi 304.904 jiwa yang terdiri dari 147.639 laki-laki dan

157.265 perempuan. Pertumbuhan penduduk pada tahun 2008 relatif lebih tinggi

dibanding tahun-tahun sebelumnya dan tahun sesudahnya. Hal ini dipengaruhi

oleh tingginya jumlah kelahiran hidup yang mencapai peningkatan sebesar 3,87%

dari 5.372 tahun 2007 menjadi 5.580 tahun 2008 dan diperkirakan mengalami

penurunan sebesar 5,77% pada tahun 2009.

Kemudian apabila kita perhatikan piramida penduduk Kota Cirebon pada

tahun 2008 dan 2009 (Gambar 5), menunjukkan bahwa karakteristik penduduk

Kota Cirebon termasuk kategori ekspansif, yaitu sebagian besar penduduk berada

dalam kelompok umur muda. Hal ini ditunjukkan oleh persentase kelompok

penduduk umur di bawah 15 tahun yang mencapai 27,79% (2008) dan 27,23%

(2009), serta persentase kelompok penduduk umur 65 tahun ke atas yang

mencapai 5,29% (2008) dan 5,34% (2009). Tipe ini biasanya dijumpai pada

negara-negara berkembang, yang ditandai dengan angka kelahiran dan angka

kematian yang cenderung tinggi, atau ditandai dengan tingkat pertumbuhan


52

penduduk yang relatif cepat akibat dari masih tingginya angka kelahiran dan

sudah mulai menurunnya angka kematian.

Tahun 2008

Tahun 2009

Gambar 5. Piramida Penduduk Kota Cirebon Tahun 2008-2009

Struktur umur penduduk Kota Cirebon pada tahun 2008 sebagian besar

terkonsentrasi pada kelompok umur 0-4 tahun hingga mencapai 9,80% dari

penduduk keseluruhan (298.995 jiwa), bahkan pada tahun 2009 diperkirakan

distribusi kelompok umur 0-4 tahun mencapai 10,65% dari penduduk

keseluruhan (304.904 jiwa), atau diperkirakan meningkat sebesar 10,83% dari

tahun 2008. Fenomena ini diharapkan menjadi pemicu untuk mengeintensifkan

program keluarga berencana (KB) dan keluarga yang berkualitas, sehingga


53

tingkat kelahiran dapat dikendalikan yang pada akhirnya akan menekan atau

memperlambat pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun.

4.3 Stuktur Perekonomian

Sistem perekonomian biasanya sangat dipengaruhi oleh potensi sumber

daya alam (SDA) yang ada dan berbeda-beda di tiap wilayah. Potensi SDA tidak

lepas dari pengelolaan oleh manusia sebagai Sumber Daya Manusia (SDM)

menjadikan sangat beragam kegiatan perekonomian yang pada akhirnya

memberikan warna tersendiri pada sistem ekonomi di suatu wilayah. Sistem

ekonomi yang terbentuk pada suatu wilayah dapat memberikan gambaran

bagaimana struktur perekonomian di wilayah tersebut. Salah satu indikator yang

sering digunakan untuk menggambarkan struktur ekonomi suatu wilayah adalah

distribusi persentase sektoral PDRB.

Distribusi persentase PDRB sektoral menunjukkan peranan masing-

masing sektor dalam sumbangannya terhadap PDRB secara keseluruhan. Semakin

besar persentase suatu sektor, semakin besar pula pengaruh sektor tersebut di

dalam perkembangan ekonomi suatu daerah. Distribusi persentase juga dapat

memperlihatkan kontribusi nilai tambah setiap sektor dalam pembentukan PDRB,

sehingga akan tampak sektor-sektor yang menjadi pemicu pertumbuhan (sektor

andalan) di wilayah yang bersangkutan. Semakin besar peranan suatu sektor

dalam perekonomian, dapat dikatakan bahwa sektor tersebut sebagai engine

growth atau mesin pertumbuhan ekonomi daerah.

Pada Gambar 6, diperlihatkan struktur ekonomi Kota Cirebon pada Tahun

2005-2008 menurut kelompok sektor primer, sekunder dan tersier. Dalam kurun

waktu tersebut nampak sekali bahwa kelompok sektor primer dan sekunder
54

mengalami penurunan kontribusi yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan

kinerja sektor pertanian dan industri yang semakin tertinggal perkembangannya

dari sektor-sektor lainnya. Pada kelompok sektor primer kontribusinya menurun

dari 0,34 persen menjadi 0,30 persen dan dari kelompok sektor sekunder menurun

dari 38,82 persen menjadi 36,75 persen.

4000

3500 3357,21
3148,03
2920,12
3000 2714,51
2347,05 2447,77
2500 2255,11
2161,25
PRIMER
2000
SENKUNDER
1500 TERSIER

1000

500
17,09 17,12 17,78 18,55
0
2005 2006 2007 2008

Gambar 6 Produk Domestik Regional Bruto Kota Cirebon Atas Dasar Harga
Konstan 2000, Tahun 2005 – 2008 (Milyar Rupiah)

Sementara itu kelompok sektor tersier terlihat semakin memberikan

kontribusi yang besar bagi perekonomian Kota Cirebon, kontribusinya meningkat

dari 60,84% menjadi 62,95%. Kelompok sektor tersier ini sangat didukung oleh

sektor perdagangan.

Di Kota Cirebon peranan sektor pertanian merupakan sektor yang

memberi kontribusi paling kecil dibandingkan dengan sektor lainnya, dan

mempunyai kecenderungan relatif stabil dari Tahun ke Tahun. Pada Tahun 2008

distribusi sektor pertanian atas dasar harga berlaku sebesar 0,30% mengalami

sedikit penurunan dibandingkan dengan Tahun 2007 yang sebesar 0,3%.


55

Kelompok sektor sekunder yang didukung oleh sektor industri, sektor

listrik, gas dan air (LGA) serta sektor bangunan kontribusinya terhadap

pembentukan PDRB Kota Cirebon sejak Tahun 2005 selalu mengalami

penurunan. Penurunan kontribusi pada kelompok ini disebabkan karena

menurunnya kontribusi sektor industri terhadap PDRB. Sedangkan besaran

kontribusi masing-masing sektornya adalah sebagai berikut; sektor industri

sebesar 30,34%, sektor LGA sebesar 1,83% dan sektor bangunan sebesar 4,58%.

Kelompok sektor tersier selalu memberikan kontribusi tertinggi

dibandingkan kelompok sektor yang lainnya dan sejak Tahun 2005 senantiasa

mengalami peningkatan. Jika pada Tahun 2007 kontribusi sektor tersier sebesar

61,66% maka pada Tahun 2008 sebesar 62,95%. Kelompok sektor tersier ini

didukung oleh sektor perdagangan sebesar 35,50% yang memberikan kontribusi

tertinggi bagi PDRB Kota Cirebon, sektor pengangkutan dan komunikasi dengan

kontribusi sebesar 14,28%, sektor lembaga keuangan dengan kontribusi sebesar

6,72%, dan sektor jasa dengan kontribusi sebesar 6,44%.

Tabel 4.1. Peranan NTB Atas Dasar Harga Berlaku Setiap Sektor dalam
Perekonomian Kota Cirebon Tahun 2005-2008
(persen)
Lapangan Usaha 2005 2006 2007 2008
PRIMER 0,34 0,33 0,31 0,30
Pertanian 0,34 0,33 0,31 0,30
Pertambangan - - - -
SEKUNDER 38,82 38,35 38,03 36,75
Industri 33,27 32,37 31,92 30,34
Listrik, Gas dan Air 1,74 1,83 1,82 1,83
Bangunan 3,81 4,15 4,49 4,58
TERSIER 60,84 61,33 61,66 62,95
Perdagangan 31,97 33,05 33,16 35,50
Pengangkutan 17,06 16,54 15,88 14,28
Lembaga Keuangan 6,00 5,82 6,33 6,72
Jasa 5,82 5,92 6,10 6,44
JUMLAH 100,00 100,00 100,00 100,00
56

Dari uraian kontribusi diatas dengan melihat pada pada Tabel 3 dapat

diketahui bahwa struktur perekonomian Kota Cirebon sejak beberapa Tahun ke

belakang sangat didukung oleh sektor perdagangan dan sektor industri dengan

kontribusi masing-masing merupakan penyumbang terbesar bagi pembentukan

PDRB Kota Cirebon. Bila pada sektor industri kegiatan usaha didominasi pada

tiga jenis usaha besar yaitu industri rokok, industri makanan ternak dan jaring

dimana sebagian besar produknya dipasarkan di luar Kota Cirebon. Pada sektor

perdagangan kegiatan usaha cukup beragam yaitu mulai dari pedagang kecil

sampai ke pedagang besar. Tingginya kontribusi di sektor ini dapat dimengerti

karena Kota Cirebon merupakan kota niaga.

Tingginya kontribusi sektor sekunder dan sektor tersier berarti pula bahwa

roda ekonomi Kota Cirebon separuhnya masih digerakkan oleh usaha bidang

perdagangan dan jasa serta industri sebagai penggerak utama perputaran ekonomi

di Kota Cirebon. Secara fisik kegiatan ekonomi di sektor perdagangan dan jasa

dapat dilihat hampir di setiap wilayah Kota Cirebon. Besarnya rentang PDRB

sektor primer dan tersier merupakan gambaran yang cukup kuat bahwa basis

kegiatan ekonomi Kota Cirebon tidak bersumber dari kekayaan alam yang

terdapat di Kota Cirebon. Sedangkan sektor-sektor yang memberikan kontribusi

terendah bagi pembentukan PDRB selama Tahun 2008 adalah sektor pertanian

dan sektor bangunan.


57

4.4 Visi dan Misi Kepala Daerah

Adapun visi Walikota Cirebon tahun 2008-2013 adalah sebagai berikut :

1. Meningkatnya kualitas sumber daya manusia memiliki makna bahwa dalam

upaya mencapai kesejahteraan masyarakat kota cirebon dilakukan melalui

upaya peningkatan komponen-komponen indeks pembangunan manusia (ipm)

dengan fokus utama indeks daya beli, indeks pendidikan dan indeks

kesehatan.

2. Sejahtera memiliki makna bahwa kesejahteraan masyarakat yang harus

menjadi landasan sekaligus tujuan utama dari pelaksanaan pembangunan di

kota cirebon. hal ini bermakna bahwa setiap kegiatan dan produk yang

dihasilkan dari pelaksanaan pembangunan harus bisa menciptakan masyarakat

kota cirebon sejahtera, yaitu suatu masyarakat yang secara materiil terpenuhi

melalui pertumbuhan (ekonomi) yang terus meningkat yang diikuti

peningkatan pendapatan, kesehatan, pendidikan, rasa aman masyarakat, dan

diimbangi pemerataan pendapatan, kesehatan dan pendidikan yang lebih baik;

3. Berkelanjutan memiliki makna bahwa kegiatan pembangunan dilaksanakan

secara terus menerus dengan memperhatikan pembangunan periode

sebelumnya.

Selanjutnya berdasarkan visi tersebut dirumuskan misi Walikota Cirebon yaitu :

1. Meningkatkan sumber daya manusia, dengan tujuan yang akan dicapai, yaitu :

a. Meningkatkan daya beli masyarakat

b. Meningkatkan kualitas tenaga kerja


58

c. Mewujudkan pengentasan kemiskinan di masyarakat, dengan sasaran

menurunnya keluarga miskin. Diharapkan pada akhir tahun 2013

persentase keluarga miskin berkurang hingga menjadi 20 % dari KK Kota.

d. Meningkatkan kualitas pendidikan dan memperkecil anak putus sekolah

e. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat

f. Meningkatkan profesionalisme pelayanan rehabilitasi dan bantuan sosial

2. Mengoptimalkan pemanfaatan ruang kota dan pelestarian keseimbangan

lingkungan, dengan sasaran yang akan dicapai, yaitu :

a. Mewujudkan pembangunan di wilayah Harjamukti

b. Mewujudkan tata ruang kota yang selaras serasi dan seimbang sesuai

dengan daya dukung lingkungan

3. Meningkatkan profesionalisme aparatur dan revitalisasi kelembagaan

pemerintah kota yang efektif dan efisien menuju pemerintahan yang baik,

bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme.

4. Meningkatkan keamanan dan ketertiban umum

5. Meningkatnya kualitas dan kuantitas pelayanan sarana dan prasarana

ekonomi, serta produktifitas ekonomi yang berdaya saing tinggi, yaitu dengan

tujuan yang ingin dicapai, antara lain :

a. Menciptakan laju pertumbuhan ekonomi

b. Menciptakan peningkatan pelayanan sarana dan prasarana bagi masyarakat

6. Melestarikan dan mengembangkan budaya dan pariwisata yang bertumpu

pada nilai-nilai dan budaya cirebonan, dengan tujuan melestarikan dan

mengembangkan budaya khas Cirebon dengan sasaran meningkatnya

pelestarian budaya melalui kepariwisataan khas Cirebon dengan indikator


59

sasaran meningkatnya persentase benda cagar budaya, meningkatnya

persentase sanggar seni yang aktif, dan meningkatnya jumlah kunjungan

wisatawan.

7. Meningkatkan kemitraan dan optimalisasi kerjasama pemerintah dengan

lembaga lainnya, dengan tujuan meningkatkan jumlah investasi antara

pemerintah dan swasta serta lembaga pemerintah dan pemerintah daerah.

4.5 Sektor Perekonomian

4.5.1 PDRB Menurut Sektor Perekonomian

Tujuan kegiatan ekonomi antara lain adalah untuk menghasilkan barang

atau jasa. Kegiatan ekonomi yang dimaksud beraneka ragam sifatnya, sehingga

perlu dikelompokkan sesuai dengan pembagian lapangan usaha. Pada

penghitungan PDRB Tahun 2000 – 2008 telah menggunakan Tahun dasar yang

baru Tahun 2000 sedangkan Tahun dasar sebelumnya adalah Tahun dasar 1993.

Perubahan sektor ekonomi atau lapangan usaha ini yang berdasarkan

Tahun dasar 2000 mempunyai dua alasan yaitu :

a. Cakupan sektor ekonomi dengan menggunakan Tahun dasar 2000 lebih

mengacu pada klasifikasi yang direkomendasikan yaitu “System of National

Accounts (SNA)” Tahun 2000. Sektor ekonomi ini lebih lengkap dan lebih

luas serta bermanfaat bagi para perencana.

b. Sektor ekonomi dengan menggunakan Tahun dasar 2000 umumnya lebih rinci

dengan maksud agar lebih berorientasi pada pengguna data. Adapun pembagian

sekor ekonomi yang tersebut adalah:


60

4.2. Sektor-sektor Perekonomian Kota Cirebon

Sektor Perekonomian Sub Sektor Prekonomian


1. Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan
dan Perikanan 1.1. Tanaman Bahan Makanan
1.2. Tanaman Perkebunan
1.3. Peternakan dan Hasil-hasilnya
1.4. Kehutanan
1.5. Perikanan
2. Sektor Pertambangan dan Penggalian 2.1. Minyak dan Gas Bumi (Migas)
2.2. Pertambangan Tanpa Migas
2.3. Penggalian
3. Sektor Industri Pengolahan 3.1. Industri Minyak dan Gas
a. Penggalian Minyak Bumi
b. Gas Alam Cair
3.2. Industri Tanpa Migas
a. Industri Besar dan Sedang
b. Industri Kecil dan Kerajinan Rumah
Tangga
4. Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih 4.1. Listrik
4.2. Gas
4.3. Air Bersih
5. Sektor Bangunan/Konstruksi
6. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran 6.1. Perdagangan Besar dan Eceran
6.2. Hotel
6.3. Restoran
7. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 7.1. Angkutan Rel
7.2. Angkutan Jalan Raya
7.3. Angkutan Laut
7.4. Angkutan Sungai dan Penyebrangan
7.5. Angkutan Udara
7.6. Jasa Penunjang Angkutan
7.7. Komunikasi
8. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa
Perusahaan 8.1. Bank
8.2. Lembaga Keuangan Lainnya
8.3. Sewa Bangunan
8.4. Jasa Perusahaan
9. Sektor Jasa-jasa 9.1. Jasa Pemerintahan Umum
9.2. Jasa Swasta
a. Jasa Sosial Kemasyarakatan
b. Jasa Hiburan
c. Jasa Peorangan dan Rumah Tangga
61

4.5.2 Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi suatu wilayah dapat dinilai dengan berbagai ukuran

agregat. Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator makro yang sering

digunakan sebagai salah satu alat strategi kebijakan bidang ekonomi. Laju

pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto adalah salah satu indikator untuk

melihat perkembangan ekonomi yang dicapai oleh suatu daerah.

Indikator ini menunjukkan naik tidaknya produk yang dihasilkan oleh

seluruh kegiatan ekonomi yang dihasilkan oleh daerah tersebut. Secara umum,

pada Tahun 2008 perekonomian Kota Cirebon mengalami pertumbuhan positif

sebesar 5,64%. Pertumbuhan tersebut didukung oleh pertumbuhan positif semua

sektor kecuali sektor pengangkutan dan komunikasi yang tumbuh negatif sebesar -

5,13%. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sektor keuangan, persewaan dan jasa

perusahaan yang pertumbuhannya mencapai 12,89%. Selanjutnya diikuti oleh

sektor jasa-jasa serta sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan pertumbuhan

masing-masing sebesar 11,63% dan 10,40%.

Apabila laju pertumbuhan ekonomi Kota Cirebon dipakai sebagai dasar

(Base Line), maka kinerja sektoral dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok.

Kelompok Pertama : adalah sektor yang berhasil mencapai pertumbuhan di

atas rata-rata (5,64 persen);

Kelompok Kedua : adalah sektor yang berhasil mencapai pertumbuhan

positif walaupun masih dibawah LPE rata-rata;

Kelompok Ketiga : adalah sektor yang mengalami pertumbuhan negatif.

Dari tabel 4.3 terlihat bahwa pertumbuhan sektor yang termasuk pada

kelompok pertama yaitu sektor listrik, gas dan air bersih, sektor bangunan, sektor
62

perdagangan, hotel dan restoran, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan,

serta sektor jasa-jasa. Sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan

merupakan sektor dengan pertumbuhannya yang tertinggi di Tahun 2008 yaitu

sebesar 12, 89%.

Pertumbuhan sektor ini sangat didukung oleh sub sektor lembaga

keuangan bukan bank seperti lembaga pembiayaan (leasing), jasa penukaran uang

(Money Changer), dan koperasi mengalami peningkatan pertumbuhan yang cukup

tinggi, yaitu 13,76% pada Tahun 2008 sedangkan pada Tahun 2007

pertumbuhannya sebesar 10,98%. Semakin banyaknya lembaga yang memberikan

kredit dengan uang muka rendah dan persyaratan yang mudah mendorong

meningkatnya pertumbuhan sub sektor ini. Sedangkan sub sektor bank mengalami

sedikit perlambatan pertumbuhan yaitu dari 13,57% pada Tahun 2007 menjadi

13,06% pada Tahun 2008.

Sementara itu dengan banyaknya usaha-usaha baru yang tumbuh di Kota

Cirebon telah mendorong peningkatan nilai tambah pada kegiatan usaha sub

sektor persewaan bangunan dan jasa perusahaan. Untuk dua jenis kegiatan ini

telah terjadi pertumbuhan pada Tahun 2008 sebesar 11,95% dan 11,88%.

Pertumbuhan sektor jasa-jasa yang mencapai 11,63% pada Tahun ini sangat

didukung oleh sub sektor pemerintahan umum yang tumbuh sebesar 14,17%.

Sedangkan sub sektor jasa swasta yang terdiri dari jasa sosial kemasyarakatan,

jasa hiburan dan rekreasi serta jasa perorangan dan rumah tangga hanya tumbuh

sebesar 6,31%. Sub sektor ini merupakan salah satu lapangan kegiatan ekonomi

masyarakat yang cukup dominan di Kota Cirebon.


63

Sektor perdagangan, hotel dan restoran merupakan sektor dengan

pertumbuhan tertinggi ketiga selama Tahun 2008. Sektor ini mampu tumbuh

sebesar 10,40% yang pada Tahun sebelumnya tumbuh sebesar 9,24%.

Pertumbuhan sektor ini sangat didukung oleh sub sektor hotel yang tumbuh

mencapai 15,29%, sub sektor restoran sebesar 12,15% dan sub sektor

perdagangan sebesar 10,18%. Sektor ini merupakan salah satu motor penggerak

ekonomi Kota Cirebon.

Meningkatnya kegiatan usaha di sektor perdagangan, hotel dan restoran

dikarenakan Kota Cirebon merupakan basis kegiatan ekonomi di wilayah III

Cirebon. Dengan didukung jumlah hotel bintang dan non bintang yang cukup

banyak serta letak yang strategis Kota Cirebon menjadi pilihan bagi para pelaku

ekonomi, untuk memilih sarana akomodasi. Begitu pula untuk kegiatan usaha

restoran, Kota Cirebon dengan banyak makanan khas seperti nasi jamblang, empal

gentong dan sea food serta makanan khas lain menjadikan usaha di bidang

restoran dapat berkembang dengan pesat.

Tabel 4.3. Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Cirebon Atas Dasar Harga
Konstan 2000 Tahun 2005-2008
Lapangan Usaha 2005 2006 2007*) 2008*))
1. Pertanian 5,15 0,15 3,88 4,29
2. Pertambangan - - - -
3. Industri 0,81 3,83 3,45 3,55
4. Listrik, Gas dan Air Bersih 7,18 4,11 8,52 9,62
5. Bangunan 7,24 9,84 8,3 8,92
6. Perdagangan 9,5 6,97 8,15 10,4
7. Pengangkutan 6,05 4,72 5,01 -5,13
8. Keuangan 5,55 7,96 12,39 12,89
9. jasa 5,43 7,81 9,31 11,63
TOTAL 4,89 5,54 6,17 5,64
Keterangan: *) Angka Perbaikan
**) Angka Sementara
64

Sektor selanjutnya yang pertumbuhannya cukup besar adalah sektor listrik,

gas dan air bersih yang mencapai 9,62% pada Tahun 2008. Semakin

meningkatnya jumlah perumahan dan pusat perbelanjaan di Kota Cirebon

mengakibatkan semakin tingginya kebutuhan listrik, air dan gas. Meningkatnya

sektor LGA ini didukung meningkatnya kinerja sub sektor listrik dan sub sektor

gas yang masing-masing tumbuh sebesar 15,73% dan 7,20%, sementara sub

sektor air bersih pertumbuhannya mengalami perlambatan yaitu tumbuh sebesar

2,34%. Hal ini disebabkan karena adanya permasalahan antara PDAM Kota

Cirebon dengan Kabupaten Kuningan sebagai penyedia air yang mengakibatkan

terhambatnya distribusi air di Kota Cirebon.

Urutan berikutnya dicapai oleh sektor bangunan yang pertumbuhannya

mencapai 8,92% selama Tahun 2008. Rupanya kondisi yang sama dengan kinerja

perbankan mampu menarik investor untuk menanamkan investasinya di sektor

bangunan baik tempat tinggal berupa perumahan maupun sarana dan prasarana

umum lainnya.

Pertumbuhan sektor yang termasuk pada kelompok kedua yaitu sektor

pertanian dan sektor industri pengolahan. Kinerja sektor pertanian pada Tahun ini

relatif lebih baik dibandingkan dengan Tahun sebelumnya dengan

pertumbuhannya sebesar 4,29%. Penyumbang terbesar pertumbuhan di sektor ini

adalah sub sektor perikanan yang mencapai 7,69%, karena letak Kota Cirebon di

pinggir laut yang memiliki potensi perikanan laut.

Sementara itu, untuk sub sektor pertanian tanaman bahan makanan dan

peternakan mengalami perlambatan pertumbuhan bahkan untuk tanaman

perkebunan pertumbuhannya negatif. Hal ini disebabkan semakin berkurangnya


65

lahan-lahan pertanian yang masih tersisa di Kota Cirebon. Lahan-lahan pertanian

tersebut semakin banyak yang telah berubah menjadi perumahan-perumahan yang

dikembangkan oleh para developer.

Sektor industri mengalami pertumbuhan sebesar 3,55%, untuk lapangan

usaha industri Kota Cirebon yang di dominasi oleh industri rokok, industri

makanan ternak dan industri jaring masih menunjukkan pertumbuhan.

Pertumbuhan PDRB sektor industri pada Tahun 2008 sebesar 3,55% lebih tinggi

dibanding pertumbuhan pada Tahun 2007 yaitu sebesar 3,45%. Sedangkan yang

termasuk pada kelompok ketiga adalah sektor pengangkutan dan komunikasi

dengan angka pertumbuhan sebesar -5,13%.

Hal ini disebabkan karena kinerja pelabuhan di Kota Cirebon yang

melayani angkutan bongkar muat barang dari dan ke luar Cirebon menurun.

Menurunnya jumlah barang yang dimuat dari pelabuhan Kota Cirebon

menyebabkan pertumbuhan di usaha angkutan laut mencapai -40,37%. Adapun

Kegiatan usaha yang dilakukan di Pelabuhan Cirebon meliputi angkutan batu

bara, angkutan kayu, angkutan semen, angkutan pupuk dan bahan-bahan baku

industri.

Sedangkan untuk usaha angkutan lainnya seperti angkutan rel, angkutan

jalan raya, angkutan udara, dan jasa penunjang angkutan mengalami pertumbuhan

positif yang besarnya masing-masing adalah 14,89%, 9,37%, 9,35% dan 12,76%.

Sementara itu kinerja di sub sektor komunikasi semakin maju. Kemajuan dibidang

komunikasi ini diwarnai oleh makin beragamnya teknologi informasi. Semula

komunikasi hanya bisa dilakukan melalui telepon kabel, tetapi saat ini

komunikasi dapat dilakukan dengan telepon seluler. Pada saat ini alat
66

komunikasi ini lebih kompetitif dengan berbagai fasilitas yang tersedia serta

harga relatif murah. Dengan kondisi yang demikian jumlah pengguna alat

komunikasi ini makin bertambah dari waktu ke waktu. Alat komunikasi yang

lainnya juga mengalami kemajuan yang cukup pesat adalah komunikasi melalui

dunia maya atau internet.

Saat ini usaha yang menekuni jasa internet makin banyak jumlahnya.

Sebaliknya usaha komunikasi berupa warung telekomunikasi saat ini dalam

kondisi yang kurang berkembang bahkan sejumlah warung telekomunikasi tidak

beroperasional lagi. Meningkatnya jumlah pengguna komunikasi ini telah

menjadikan nilai tambah di sub sektor komunikasi naik dengan pertumbuhan

sebesar 21,84%.
67

V. PEMBAHASAN

5.1 Analisis Laju pertumbuhan PDRB sektor-sektor perekonomian Kota


Cirebon dan Provinsi Jawa Barat pada periode 2001-2008

Pertumbuhan ekonomi di Kota Cirebon dipengaruhi oleh laju pertumbuhan

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang semakin meningkat dari Tahun ke

Tahun. Laju pertumbuhan ekonomi Kota Cirebon selama Tahun 2001-2008

bernilai positif di sektor perekonomiannya kecuali sektor Pertambangan karena

sama sekali tidak ada kontribusi sektor Pertambangan terhadap PDRB Kota

Cirebon. Nilai dari laju pertumbuhan ekonomi Kota Cirebon tersebut sebesar 43,

09%.

Tabel 5.1. Perubahan PDRB Kota Cirebon Menurut Sektor Perekonomian


Berdasarkan Harga Konstan 2000, Tahun 2001 dan Tahun 2008
PDRB (juta rupiah) Perubahan
Persen
Sektor Prekonomian PDRB (juta
(%)
2001 2008 rupiah)
1. Pertanian 14057,38 18546,39 4489,01 31,93
2. Pertambangan 0 0 0 -
3. Industri 1674944,18 2109737,6 434793,42 25,96
4. Listrik, Gas, dan Air
Bersih 65962,32 104856,44 38894,12 58,96
5. Bangunan 141987,1 233172,71 91185,61 64,22
6. Perdagangan 1128604,89 1820040,29 691435,4 61,26
7. Pengangkutan 647091,78 796245,59 149153,81 23,05
8. Lembaga Keuangan 153181,83 346647,68 193465,85 126,30
9. Jasa-jasa 243934,25 394281,39 150347,14 61,63
Total 4069763,73 5823528,09 1753764,36 43,09

Berdasarkan Tabel 5.1, dapat diketahui bahwa sumbangan sektor ekonomi

terhadap PDRB bernilai positif sehingga laju pertumbuhan ekonomi Kota Cirebon

juga bernilai positif. Hal ini akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota

Cirebon. Pada Tahun 2001, sektor ekonomi yang paling besar kontribusinya

terhadap PDRB Kota Cirebon adalah sektor industri yaitu sebesar Rp. 1674944,18
68

juta dan meningkat menjadi Rp. 2109737,6 juta pada Tahun 2008 atau meningkat

25,96%.

Sektor ekonomi yang paling rendah kontribusinya terhadap PDRB Kota

Cirebon adalah sektor pertanian , yaitu sebesar Rp. 14057,38 juta dan meningkat

menjadi Rp. 18546,39 juta pada Tahun 2008 atau meningkat 31,93%. Laju

pertumbuhan ekonomi terbesar adalah sektor lembaga keuangan sebesar 126,30%

dimana nilai PDRB pada Tahun 2001 sebesar Rp. 153181,83 juta dan meningkat

menjadi Rp. 346647,68 juta pada Tahun 2008. Sedangkan laju pertumbuhan

ekonomi terendah adalah sektor pengangkutan yaitu sebesar 23,05% dengan

perbedaan PDRB pada Tahun 2001 sebesar Rp. 647091,78 juta dan sedikit

mengalami peningkatan menjadi Rp. 796245,59 juta. Laju pertumbuhan ekonomi

terendah di Kota Cirebon adalah sektor pengangkutan karena pada sub sektor

angkutan laut terjadi penurunan jumlah barang yang dimuat dari pelabuhan Kota

Cirebon.

Perubahan PDRB paling besar terjadi di sektor indusutri sebesar Rp.

434793,42 juta, hal ini diperoleh dari selisih nilai PDRB sektor industri pada

Tahun 2008 sebesar Rp. 2109737,6 juta dan Rp. 1674944,18 juta di Tahun 2001.

Perubahan PDRB terendah yaitu disektor pertanian sebesar Rp. 4489,01 juta yang

didapat dari hasil selisih PDRB sektor pertanian di Tahun 2008 sebesar Rp.

18546,39 juta dan Rp. 14057,38 juta di Tahun 2001.

Jika dilihat dari pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Barat, PDRB Jawa

Barat juga meningkat dalam periode Tahun 2001-2008. Hal ini dapat

diindikasikan dengan adanya laju pertumbuhan PDRB yang bernilai positif


69

hampir di semua sektor kecuali di sektor pertambangan yang laju pertumbuhannya

negatif, dengan nilai laju sebesar 42,68%. (Tabel 5.2)

Berdasarkan Tabel 5.2, sektor perekonomian yang menyumbangkan

PDRB terendah adalah sektor bangunan sebesar RP. 5143936.7 juta pada Tahun

2001 dan mengalami peningkatan di Tahun 2008 yaitu menjadi Rp. 9731000 juta

atau 89,17%. Sedangkan sektor perekonomian yang berkontribusi paling tinggi

yaitu sektor industri sebesar RP. 82993409,8 juta pada Tahun 2001 dan

mengalami peningkatan menjadi Rp. 133757000 juta pada Tahun 2008 atau

sebesar 61, 17%.

Perubahan PDRB paling besar terjadi di sektor industri yaitu sebesar Rp.

50763590,16 juta yang diperoleh dari selisih nilai PDRB sektor industri sebesar

RP. 82993409,8 juta pada Tahun 2001 dan mengalami peningkatan menjadi Rp.

133757000 juta pada Tahun 2008. Perubahan PDRB paling rendah terjadi disektor

listrik, gas dan air bersih yaitu sebesar Rp. 1856842,74 juta yang diperoleh dari

selisih PDRB pada Tahun 2008 sebesar Rp. 6026000 juta dan Rp. 4169157,26

juta pada Tahun 2001. Laju pertumbuhan ekonomi terbesar adalah sektor

bangunan sebesar 89, 17% yang diperoleh dari nilai PDRB sektor bangunan

Tahun 2001 sebesar Rp. 5143936,70 juta dan Rp. 9731000,00 juta pada Tahun

2008. Sedangkan laju pertumbuhan ekonomi terendah adalah sektor

pertambangan yang benilai negatif yaitu sebesar -59,18% yang dapat dilihat dari

nilai PDRB Tahun 2001 sebesar Rp. 16761111,20 juta dan terjadi penurunan

menjadi Rp. 6842000 juta pada Tahun 2008.


70

Tabel 5.2. Perubahan PDRB Provinsi Jawa Barat Menurut Sektor Perekonomian
Berdasarkan Harga Konstan 2000, Tahun 2001 dan Tahun 2008
PDRB (juta rupiah) Perubahan
Sektor
PDRB (juta Persen (%)
Prekonomian
2001 2008 rupiah)
1. Pertanian 29554466,80 36505000 6950533,17 23,52
2. Pertambangan 16761111,20 6842000 -9919111,22 -59,18
3. Industri 82993409,80 133757000 50763590,16 61,17
4. Listrik, Gas, dan
Air Bersih 4169157,26 6026000 1856842,74 44,54
5. Bangunan 5143936,70 9731000 4587063,30 89,17
6. Perdagangan 36403261,70 56938000 20534738,32 56,41
7. Pengangkutan 7925724,28 12234000 4308275,72 54,36
8. Lembaga
Keuangan 5885016,62 9076000 3190983,38 54,22
9. Jasa-jasa 14532915,6 19064000 4531084,44 31,18
Total 203369000 290173000 86804000,01 42,68

Sumbangan sektor industri terhadap PDRB Provinsi jawa Barat tetap jadi

yang terbesar baik pada Tahun 2001 maupun Tahun 2008. Pada Tahun 2001

sektor industri berkontribusi sebesar Rp. 82993409,80 juta dan pada Tahun 2008

sebesar Rp. 133757000 juta hal ini dapat menjelaskan bahwa industri di Provinsi

Jawa Barat terus berkembang sehingga tetap memberikan kontribusi yang besar

terhadap PDRB.

5.2 Rasio PDRB Kota Cirebon dan Provinsi Jawa Barat Tahun 2001-2008

Kontribusi sektor perekonomian di Kota Cirebon maupun di Provinsi Jawa

Barat hampir seluruhnya mengalami peningkatan pada periode Tahun 2001-2008

kecuali untuk sektor pertambangan dimana tidak memberikan kontribusi terhadap

PDRB Kota Cirebon dan terjadi penurunan kontribusi terhadap PDRB Provinsi

Jawa Barat. Tiap sektor ekonomi, baik itu pada PDRB Kota Cirebon maupun

Provinsi Jawa Barat memiliki rasio yang berbeda-beda. Rasio sektor


71

perekonomian Kota Cirebon dan Provinsi Jawa Barat diperlihatkan dalam bentuk

Ra, Ri, ri.

Tabel 5.3. Rasio PDRB Kota Cirebon dan PDRB Provinsi Jawa Barat (Nilai Ra,
Rid an ri)
Sektor Perekonomian Ra Ri ri
1. Pertanian 0,43 0,24 0,32
2. Pertambangan 0,43 -0,59 -
3. Industri 0,43 0,61 0,26
4. Listrik, Gas, dan Air Bersih 0,43 0,45 0,59
5. Bangunan 0,43 0,89 0,64
6. Perdagangan 0,43 0,56 0,61
7. Pengangkutan 0,43 0,54 0,23
8. Lembaga Keuangan 0,43 0,54 1,26
9. Jasa-jasa 0,43 0,31 0,62

Nilai Ra didasarkan pada perhitungan selisih antara jumlah PDRB Provinsi

Jawa Barat Tahun 2008 dengan jumlah PDRB provinsi Jawa Barat Tahun 2001.

Antara Tahun 2001-2008, nilai Ra sebesar 0,43 (Tabel 5.3). Hal ini menunjukkan

bahwa pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Barat meningkat sebesar 0,43.

Nilai Ri dihitung berdasarkan selisih antara PDRB Provinsi Jawa Barat

sektor i pada Tahun 2008 dengan PDRB Provinsi Jawa Barat sektor i pada Tahun

2001. Nilai Ri di seluruh sektor perekonomian Provinsi Jawa Barat hampir

seluruhnya bernilai positif terkecuali sektor pertambangan karena terjadi

penurunan kontribusi di sektor tersebut.

Nilai Ri terbesar terdapat pada sektor bangunan sebesar 0,89. Sedangkan,

nilai Ri terkecil terdapat pada sektor pertambangan yang bernilai negatif yaitu

sebesar -0,59 karena terjadinya penurunan kontribusi dari sektor pertambangan

pada Tahun 2008 terhadap PDRB Jawa Barat.

Nilai ri dihitung berdasarkan selisih antara PDRB sektor i di Kota Cirebon

Tahun 2008 dengan PDRB Kota Cirebon Tahun 2001. Seluruh sektor ekonomi
72

mengalami peningkatan kontribusi terhadap PDRB Kota Cirebon, hal ini dapat

dilihat dari nilai ri yang diperoleh bernilai positif. Nilai ri terbesar terdapat pada

sektor lembaga keuangan sebesar 1,26 sedangkan nilai ri terkecil terdapat pada

sektor pengangkutan sebesar 0,23.

5.3 Analisis Komponen Pertumbuhan Wilayah Kota Cirebon Tahun 2001-


2008
Dalam pembangunan daerah Cirebon, faktor yang mempengaruhi

pertumbuhan sektor-sektor perekonomiannya adalah komponen pertumbuhan

wilayah. Ketiga komponen pertumbuhan wilayah tersebut yaitu pertumbuhan

regional (PR), pertumbuhan proporsional (PP) dan pertumbuhan pangsa wilayah

(PPW). Jika ketiga komponen pertumbuhan wilayah tersebut bernilai positif,

maka laju pertumbuhan sektor-sektor perekonomian di Cirebon semakin

meningkat dari Tahun ke Tahun.

Komponen pertumbuhan proporsional sebagai pengaruh pertama

menjelaskan hasil kali rasio PDRB Provinsi Jawa Barat dengan PDRB Kota

Cirebon sektor i pada Tahun 2001. Pengaruh pertumbuhan regional menjelaskan

perubahan kebijakan ekonomi regional yang mempengaruhi perekonomian semua

sektor di laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat, yaitu sebesar 42,68%. Hal ini

jika ditinjau secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Barat

Tahun 2001-2008 telah mempengaruhi peningkatan PDRB Kota Cirebon sebesar

Rp. 1737097,45 juta (42,68%).


73

Tabel 5.4. Analisis Shift Share Menurut Sektor Perekonomian di Kota Cirebon
Berdasarkan Komponen Pertumbuhan Regional, Tahun 2001-2008
PRij
Sektor Prekonomian
(juta rupiah) Persen (%)
1. Pertanian 6000,11 42,68
2. Pertambangan 0 42,68
3. Industri 714916,50 42,68
4. Listrik, Gas, dan Air Bersih 28154,70 42,68
5. Bangunan 60604,36 42,68
6. Perdagangan 481722,48 42,68
7. Pengangkutan 276198,22 42,68
8. Lembaga Keuangan 65382,61 42,68
9. Jasa-jasa 104118,47 42,68
Total 1737097,45 42,68

Pada Tabel 5.4, secara sektoral dapat dilihat bahwa peningkatan sektoral

terbesar terdapat pada sektor industri sebesar Rp.714916,50 juta. Hal ini

mengindikasikan bahwa sektor industri sangat dipengaruhi oleh perubahan

kebijakan pemerintah Provinsi Jawa Barat, yang berarti bahwa jika terjadi

perubahan kebijakan di tingkat Provinsi Jawa Barat, maka kontribusi sektor

industri beserta subsektornya akan mengalami perubahan. Hal ini menjelaskan

bahwa kebijakan ekonomi Pemerintah Provinsi Jawa Barat sangat mempengaruhi

besar kecilnya kontribusi terhadap sektor industri Kota Cirebon. Komponen PR

terkecil yaitu sektor pertanian yaitu sebesar Rp. 6000,11 juta.

Komponen pertumbuhan proporsional sebagai pengaruh kedua

menjelaskan selisih antara Ri dan Ra, hasil selisih itu akan dikalikan dengan

PDRB Kota Cirebon sektor i Tahun 2001. Hasil dari perhitungan komponen

pertumbuhan proporsional dijelaskan pada Tabel 5.5.


74

Tabel 5.5. Analisis Shift Share Menurut Sektor Perekonomian di Kota Cirebon
Berdasarkan Komponen Pertumbuhan Proporsional, Tahun 2001-2008
PPij
Sektor Prekonomian
(juta rupiah) Persen (%)
1. Pertanian -2694,14 -19,17
2. Pertambangan 0 -101,86
3. Industri 309576,65 18,48
4. Listrik, Gas, dan Air Bersih 1223,34 1,85
5. Bangunan 66011,47 46,49
6. Perdagangan 154912,95 13,73
7. Pengangkutan 75548,79 11,68
8. Lembaga Keuangan 17675,9 11,54
9. Jasa-jasa -28064,45 -11,5
Total -1737097 -42,68

Sektor yang mengalami penurunan kontribusi terhadap PDRB Kota

Cirebon adalah sektor pertanian dan sektor jasa-jasa. Sektor pertanian

pertumbuhannya lambat karena banyak lahan pertanian yang diganakan untuk

pemukiman, sedangkan untuk sektor jasa-jasa sendiri pertumbuhannya lambat

karena kurang baiknya pengelolaan pemerintah yang mengelola tempat-tempat

rekreasi seperti Taman Ade Irma Suryani dan Gua Sunyaragi sehingga kurang

dapat menarik masyarakat Kota Cirebon maupun luar Kota Cirebon untuk datang

berkunjung. Sektor yang memiliki nilai PP terbesar (PPij > 0) adalah sektor

industri sebesar Rp. 309576,65 juta, sektor ini sangat baik dikembangkan di Kota

Cirebon karena sektor ini mengalami pertumbuhan yang cepat. Laju pertumbuhan

proporsional terbesar terjadi pada sektor bangunan sebesar 46,49%. Hal ini

menunjukkan bahwa pembangunan di sektor bangunan tumbuh sangat cepat.

Jika PPWij > 0, maka sektor i di Kota Cirebon tergolong memiliki daya

saing baik, sedangkan jika PPWij < 0, maka sektor i tersebut digolongkan yang

mempunyai daya saing yang kurang baik. Sektor yang berdaya saing rendah

adalah sektor industri, sektor bangunan dan sektor pengangkutan. Sektor-sektor


75

tersebut yang memiliki daya saing rendah jika dibandingkan dengan sektor yang

sama di kota atau kabupaten lainnya. Untuk sektor industri sendiri di Kota

Cirebon lebih didominasi oleh industri rumah tangga, sedangkan untuk sektor

bangunan dan sektor pengangkutan sendiri kurangnya sarana dan prasarana yang

mendukung sektor-sektor tersebut.

Tabel 5.6 Analisis Shift Share Menurut Sektor Perekonomian di Kota Cierebon
Berdasarkan Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah, Tahun 2001-
2008
PPWij
Sektor Prekonomian
(juta rupiah) Persen (%)
1. Pertanian 1183,04 8,42
2. Pertambangan - -
3. Industri -589699,73 -35,21
4. Listrik, Gas, dan Air Bersih 9516,08 14,43
5. Bangunan -35430,22 -24,95
6. Perdagangan 54799,97 4,86
7. Pengangkutan -202593,2 -31,31
8. Lembaga Keuangan 11407,35 72,08
9. Jasa-jasa 74293,12 30,46
Total 1753764,36 43,09

Sektor yang memiliki PPWij terendah adalah sektor industri yaitu -35,21%.

Sedangkan sektor yang mempunyai PPWij terbesar adalah sektor lembaga

keuangan yaitu 72,08%.

Sektor yang memiliki nilai PPW yang positif yaitu sektor pertanian, sektor

listrik, gas dan air bersih, sektor perdagangan, dan sektor jasa-jasa. Untuk sektor

pertanian berarti hasil produksi dari sektor ini memiliki daya saing yang baik

dibandingkan dengan wilayah lainnya di Jawa Barat.

Sektor listrik, gas dan air bersih memiliki daya saing yang tinggi

dibandingkan dengan di daerah lainnya di Jawa Barat karena Kota Cirebon

sebagai kota penyalur listrik untuk wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan
76

Kuningan. Kemudian di Kota Cirebon ini sedang dilaksanakan City Gas (gas

kota) dimana setiap penduduknya menggunakan gas dan 95% penduduk Kota

Cirebon menggunakan air dari PDAM.

Sesuai dengan visi dan misi Kota Cirebon yang ingin menjadikan Kota

Cirebon menjadi kota perdagangan dan jasa-jasa. Untuk sektor perdagangan

sendiri Kota Cirebon ini merupakan pengumpul bernagai macam barang hasil

produksi dari luar kota, yang nantinya akan didistribusikan ke kota-kota lain di

Jawa Barat. Kota Cirebon juga memiliki banyak hotel dan restoran hal ini

dikarenankan letak Kota Cirebon yang strategis sehingga banyak sekali para

wisatawan dan juga orang yang sedang dalam perjalanan jauh yang melalui jalur

pantura untuk singgah sekedar untuk wisata kuliner maupun beristirahat dan

menginap. Selain itu Kota Cirebon juga memiliki Rumah Sakit (RS) tipe B

(tingkat propinsi) seperti RSUD. Gunung Jati dan RSUD. Ciremai dimana

penggunanya tidak hanya penduduk Kota Cirebon saja tetapi berasal dari wilayah

III Jawa Barat, Brebes, dan Tegal.

5.4 Pergeseran Bersih dan Profil Pertumbuhan Sektor-sektor Perekonomian


Kota Cirebon

Pergeseran bersih adalah hasil penjumlahan dari nilai pertumbuhan

proporsional dan pertumbuhan pangsa wilayah. Berdasarkan Tabel 5.7, terdapat

tiga sektor yang memiliki nilai PB yang negatif yaitu sektor pertanian, sektor

industri, sektor pengangkutan dan lima sektor yang memiliki nilai PB positif yaitu

sektor listrik, gas dan air bersih, sektor bangunan, sektor perdagangan, sektor

lembaga keuangan dan sektor jasa-jasa.


77

Pada Gambar 7, terdapat garis yang memotong Kuadran II dan Kuadran

IV yang membentuk sudut 45 . Garis tersebut merupakan garis yang

menunjukkan nilai pergeseran bersih bernilai nol (PBj=0). Bagian atas garis

tersebut menunjukkan PBj > 0 yang mengindikasikan bahwa sektor-sektor

tersebut pertumbuhannya progresif (maju). Sebaliknya, di bawah garis 45 berarti

PBj < 0 menunjukkan sektor-sektor yang lamban.

Tabel 5.7. Pergeseran Bersih Kota Cirebon, Tahun 2001 dan 2008
PBij
Sektor Prekonomian
(juta rupiah) Persen (%)
1. Pertanian -1511,1 -10,75
2. Pertambangan - -101,86
3. Industri -280123,08 -16,73
4. Listrik, Gas, dan Air Bersih 10739,42 16,28
5. Bangunan 30581,25 24,54
6. Perdagangan 209712,92 18,59
7. Pengangkutan -127044,41 -19,63
8. Lembaga Keuangan 128083,24 83,62
9. Jasa-jasa 46228,67 18,96
Total 16666,91 0,41

Bagian atas garis menunjukkan PB > 0 yang mengindikasikan bahwa

terdapat lima sektor yang memiliki PB yang positif yaitu sektor sektor listrik, gas

dan air bersih, sektor bangunan, sektor perdagangan, sektor lembaga keuangan

dan sektor jasa-jasa dan termasuk kedalam kelompok sektor progresif. Sedangkan

PB < 0 mengindikasikan bahwa terdapat tiga sektor yang memiliki PB negatif dan

termasuk kelompok sektor lamban. Ketiga sektor itu adalah sektor pertanian,

sektor industri, sektor pengangkutan.

Profil pertumbuhan sektor perekonomian digunakan untuk mengevaluasi

pertumbuhan sektor perekonomian di wilayah Kota Cirebon pada kurun waktu

yang telah ditentukan. Pada sumbu horizontal terdapat PP sebagai absis


78

sedangkan sumbu vertikal terdapat PPW sebagai ordinat yang dapat dilihat pada

Gambar 7.

Pertumbuhan Sektor-sektor
Perekonomian 1. Pertanian
80

2. Pertambangan
60
3. Industri
40
4. Listrik, Gas, dan
20 Air Bersih
5. Bangunan

PPij 0
6. Perdagangan
-150 -100 -50 0 50 100
-20 7. Pengangkutan

-40 8. Lembaga
Keuangan
-60 9. Jasa-jasa

PPWij

Gambar 7 Profil Pertumbuhan Sektor Perekonomian Kota Cirebon

Kuadran I merupakan kuadran dimana PP dan PPW sama-sama bernilai

positif. Hal ini menunjukkan bahwa sektor-sektor di wilayah yang bersangkutan

memiliki pertumbuhan yang cepat (PP > 0) dan memiliki daya saing yang lebih

baik apabila dibandingkan dengan wilayah-wilayah lainnya (PPW > 0). Sektor

perekonomian Kota Cirebon yang ada di kuadran I adalah sektor listrik, gas dan

air bersih, sektor perdagangan, dan sektor keuangan.

Kuadran II menunjukkan bahwa sektor-sektor ekonomi di wilayah yang

bersangkutan pertumbuhannya cepat (PP > 0), tetapi daya saing wilayah untuk

sektor-sektor tersebut dibandingkan dengan wilayah lainnya kurang baik (PPW <
79

0). Sektor yang ada di kuadran II adalah sektor industri, sektor bangunan dan

sektor pengangkutan.

Kuadran III merupakan kuadran dimana PP dan PPW nya bernilai

negative. Hal ini menunjukkan bahwa sektor-sektor ekonomi di wilayah yang

bersangkutan memiliki pertumbuhan yang lambat dengan daya saing yang kurang

baik jika dibandingkan dengan wilayah lain. Tidak ada sektor yang ada pada

kuadran III pada profil pertumbuhan sektor-sektor perekonomian Kota Cirebon.

Kuadran IV menunjukkan bahwa sektor-sektor ekonomi pada wilayah

yeng bersangkutan memiliki pertumbuhan lambat (PP < 0), tetapi daya saing

wilayah untuk sektor-sektor tersebut baik jika dibandingkan dengan wilayah

lainnya (PPW > 0). Sektor yang ada di kuadran IV adalah sektor pertanian dan

sektor jasa-jasa

5.5 Analisis Sektor Unggulan Kota Cirebon

Pada metode LQ, terdapat teori ekonomi basis, perekonomian di suatu

daerah dibagi menjadi dua sektor utama yaitu sektor basis dan non basis. Sektor

basis adalah sektor yang mengekspor barang dan jasa ataupun tenaga kerja ke

tempat-tempat di luar batas perekonomian daerah yang bersangkutan. Sedangkan,

sektor non basis adalah sektor yang menyediakan barang dan jasa yang

dibutuhkan oleh masyarakat yang bertempat tinggal didalam batas-batas daerah

itu sendiri. Sektor ini mengekspor barang, jasa, maupun tenaga kerja, sehingga

luas lingkup produksi dan daerah pasar sektor non basis hanya bersifat lokal.
80

Tabel 5.8 Nilai Location Quotient (LQ) Sektor-sektor Perekonomian Kota


Cirebon Atas Dasar Harga Konstan, Tahun 2001-2008
Sektor Tahun
Perekonomian 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
1. Pertanian 0.02 1.01 0.03 0.02 0.02 0.02 0.02 0.03
2. Pertambangan 0 0 0 0 0 0 0 0
3. Industri 1.01 0.42 0.99 0.95 0.89 0.85 0.83 0.79
4. Listrik, Gas, dan
Air Bersih 0.79 31.95 0.83 0.73 0.74 0.81 0.83 0.87
5. Bangunan 1.38 54.48 1.31 1.25 1.14 1.19 1.19 1.19
6. Perdagangan 1.55 62.74 1.56 1.39 1.47 1.48 1.50 1.59
7. Pengangkutan 4.08 159.96 3.73 3.49 3.72 3.63 3.40 3.24
8. Lembaga
Keuangan 1.30 51.00 1.20 1.62 1.64 1.77 1.77 1.90
9. Jasa-jasa 0.84 33.96 0.78 0.88 0.88 0.88 0.94 1.03

Dapat dilihat dari Tabel 5.8 untuk sektor yang memiliki nilai LQ > 1 maka

sektor tersebut adalah sektor unggulan Kota Cirebon. Dari tabel 5.8 yang

termasuk kedalam sektor unggulan Kota Cirebon pada Tahun 2001-2008 ada

empat sektor yaitu sektor bangunan, sektor perdagangan, sektor pengangkutan,

dan sektor lembaga keuangan. Sedangkan sektor ekonomi dengan nilai LQ < 1

merupakan sektor non unggulan. Ada lima sektor non unggulan Kota Cirebon

yaitu sektor pertanian, sektor pertambangan, sektor industri, sektor listrik, gas dan

air bersih serta sektor jasa-jasa. Sektor yang memiliki nilai LQ terbesar adalah

sektor pengangkutan dengan nilai LQ sebesar 3,24 pada Tahun 2008.

5.6 Penyerapan Tenaga Kerja di Sektor Perekonomian Kota Cirebon.

Dalam analisis ini akan dilihat bagaimana peranan sektor-sektor

perekonomian Kota Cirebon dalam penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan hasil

analisis sebelumnya bahwa yang termasuk kedalam sektor unggulan dan sektor

progressif yaitu sektor tersier.


81

Tabel 5.9. Penduduk 10 Tahun Ke Atas yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha
Utama Tahun 2004-2007
(Jutaan Rupiah)
Tahun
Lapangan Pekerjaan
2004 2005 2006 2007
4608 6206 2340 5652
1. Pertanian (4,35) (5,81) (2,27) (4,85)
1296 642 702 785
2. Pertambangan (1,22) (0,60) (0,68) (0,67)
10080 8436 9477 6594
3. Industri (9,51) (7,89) (9,19) (5,66)
4. Listrik, Gas, dan Air 288 428 819 1727
Bersih (0,27) (0,40) (0,79) (1,48)
8496 9202 6084 6908
5. Bangunan (8,02) (8,61) (5,90) (5,93)
44640 44084 41418 48984
6. Perdagangan (42, 12) (41,25) (40,18) (42,05)
10080 8132 10413 10519
7. Pengangkutan (9,51) (7,61) (10, 10) (9,03)
3456 3852 5733 4239
8. Lembaga Keuangan (3,26) (3,60) (5,56) (3,64)
23040 25894 26091 31086
9. Jasa-jasa (21,74) (24,23) (25,31) (26,68)
Jumlah 105984 106876 103077 116494
Sumber: SUSEDA Jawa Barat 2007 (diolah)
Keterangan: ( ) Persentase

Dapat dilihat dari Tabel 5.9 bahwa pangsa penyerapan tenaga kerja terbesar

disektor perdagangan, hal ini juga sesuai dengan hasil analisis sektor unggulan

dan sektor progresif Kota Cirebon sebelumnya yang menunjukkan bahwa sektor

perdagangan yang mampu mendorong laju pertumbuhan ekonomi dan juga

mampu menyerap tenaga kerja. Sedangkan sektor jasa-jasa merupakan sektor

kedua terbesar terhadap penyerapan tenaga kerja dimana sektor ini pun

merupakan sektor yang progresif.

Sesuai dengan hasil analisis LQ dan Shift Share yang menunjukkan sektor-

sektor unggulan dan sektor-sektor yang progresif seperti sektor bangunan

(5,93%), sektor perdagangan (42,05%), sektor pengangkutan (9,03%) dan sektor


82

jasa-jasa (26,68%) pada Tahun 2007 merupakan empat sektor yang pangsa

penyerapan tenaga kerjanya tinggi.


83

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil analisis dengan metode Shift

Share dan metode Location Quotient (LQ) yaitu:

1) Pertumbuhan perekonomian Kota Cirebon periode 2001-2008 meningkat

sebesar 0,43. Kontribusi sektor-sektor perekonomian terhadap PDRB Jawa

Barat Tahun 2001-2008 mengalami peningkatan kecuali pada sektor

pertambangan sedangkan kontribusi sektor perekonomian Kota Cirebon

mengalami peningkatan selama Tahun 2001-2008.

2) Sektor-sektor yang progresif di Kota Cirebon yaitu sektor listrik, gas, dan air

bersih, sektor bangunan, sektor perdagangan, sektor lembaga keuangan dan

sektor jasa-jasa. Sedangkan sektor yang non-progresif di Kota Cirebon yaitu

sektor pertanian, sektor pertambangan, sektor industri dan sektor

pengangkutan.

3) Sektor unggulan (basis) Kota Cirebon adalah sektor bangunan, sektor

perdagangan, sektor pengangkutan dan sektor lembaga keuangan.

4) Sektor yang mampu menyerap tenaga kerja adalah sektor tersier yaitu sektor

perdagangan, sektor pengangkutan, sektor lembaga keuangan dan sektor jasa-

jasa. Dimana sektor tersebut merupakan sektor yang unggulan dan juga sektor

yang progresif di Kota Cirebon.

6.2 Saran

1) Pemerintah Kota Cirebon dapat memprioritas pembangunan yang diarahkan

kepada pengembangan sektor tersier yaitu sektor perdagangan, sektor

pengangkutan, sektor lembaga keuangan dan sektor pengangkutan. Hal ini


84

akan sangat berperan dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian Kota

Cirebon dan pengurangan jumlah pengangguran terbukanya.

2) Pemerintah Kota Cirebon khususnya jika ingin memaksimalkan pembangunan

di sektor industri dengan memberikan bantuan modal untuk industri rumah

tangga yang memiliki prospek yang tinggi agar dapat meningkatkan daya

saing disektor industri agar bisa lebih baik dalam bersaing dengan sektor

industri di Kota atau Kabupaten lain di Jawa Barat.

3) Sektor pengangkutan merupakan salah satu peluang untuk meningkatkan

perekonomian Kota Cirebon. Maka kepada pemerintah Kota Cirebon

harapannya dapat memperbaiki sarana dan prasarananya agar kontribusi sektor

pengangkutan terhadap PDRB Kota Cirebon bisa lebih besar lagi. Hal ini

terkait dengan letak wilayah Kota Cirebon yang sangat strategis.

4) Penelitian selajutnya disarankan untuk meneliti sektor basis nya berdasarkan

tenaga kerja yang bekerja di sektor perekonomian agar hasil yang didapatkan

lebih spesifik.
DAFTAR PUSTAKA

Anjani, A. 2007. Analisis Pertumbuhan Sektor-Sektor Perekonomian Pasca


Otonomi Daerah (Studi Kasus: Kota Depok) [skripsi]. Departemen Ilmu
Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Badan Pusat Statistik. 2004. PDRB Propisi-propinsi di Indonesia Menurut


Lapangan Usaha 2000-2004. Badan Pusat Statistik, Jakarta.

. 2008. PDRB Propisi-propinsi di Indonesia Menurut


Lapangan Usaha 2004-2008. Badan Pusat Statistik, Jakarta.

Badan Pusat Statistik Kota Cirebon. 2005. PDRB Kota Cirebon Tahun 2005. BPS
Kota Cirebon, Cirebon.

. 2006. PDRB Kota Cirebon Tahun 2006. BPS


Kota Cirebon, Cirebon.

. 2007. PDRB Kota Cirebon Tahun 2007. BPS


Kota Cirebon, Cirebon.

. 2008. Cirebon Dalam Angka 2008. BPS


Kota Cirebon, Cirebon.

. 2008. PDRB Kota Cirebon Tahun 2008. BPS


Kota Cirebon, Cirebon.

. 2009. Indikator Makro Kota Cirebon


2005-2009. BPS Kota Cirebon, Cirebon.

Esteban, J. 2000. “Regional convergence in Europe and the industry mix: a shift-
share analysis”. Regional Science and Urban Economics Volume 30.

Knudsen, D C. 2000. Shift-share analysis: further examination of models for the


description of economic change.
www.ideas.repec.org/a/eee/soceps/v34y2000i3p177-198.html [12 April
2011]

Mahila, 2007. Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Kabupaten Karawang Periode


1993-2005 Penerapan Analisis Shift Share [skripsi]. Departemen Ilmu
Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Marquez, M A, Julian Ramajo dan Geoffrey J D Hewwings. 2009. “Incorporating


Sectoral Structure into Shift–Share Analysis”. Growth and Change
Journal Volume 40 Nomor 4.
86

Mayor, M dan Ana Jesus Lopez. 2008. “Spatial shift-share analysis versus spatial
filtering: an application to Spanish employment data”. Empical
Economics Journal Volume 34.

Mukhyi, M A. 2007. Analisis Peranan Subsektor Pertanian dan Sektor Unggulan


Terhadap Pembangunan Kawasan Ekonomi Propinsi Jawa Barat:
Pendekatan Analisis IRIO. mukhyi.staff.gunadarma.ac.id [21 Desember
2009]

Priyarsono, D. S., Sahara, M. Firdaus. 2007. Ekonomi Regional. Universitas


Terbuka, Jakarta.

Restiviana, P R. 2008. Analisis Perekonomian Wilayah Kabupaten Banyuwangi


2003-2006 [skripsi]. Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan
Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Soepono, P. 1993. Analisis Shift-Share: Perkembangan dan Penerapan. Jurnal


Ekonomi dan Bisnis Indonesia (JEBI), No. 1, Tahun III, Yogyakarta.

Tarigan, R. 2007. Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi. Edisi Revisi. Bumi
Aksara, Jakarta.

Todaro, M P. Dan Smith, Stephen C. 2003. Pembangunan Ekonomi Dunia


Ketiga. Haris Munandar dan Puji [penerjemah]. Edisi ke-8. Erlangga,
Jakarta.

Winarto, H. 2005. Analisis Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Banyumas


Tahun 1970-2001 [tesis]. Program Studi Magister Ilmu Ekonomi dan
Studi Pembangunan Program Pasca Sarjana, Universitas Diponegoro
Semarang.

Zaccommer, G P. 2006. “Shift-Share Analysis with Spatial Structure: an


Applicationto Italian Industrial Districts”. Transition Studies Review
Journal Volume 13 Nomor 1.
Lampiran 1. Produk Domestik Regonal Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 Kota Cirebon Tahun 2001-2008
( Juta Rupiah)
Lapangan Usaha 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
1. Pertanian 14057,38 14380,27 15503,8 16251,29 17088,01 17118,92 17782,98 18546,39
2. Pertambangan 0 0 0 0 0 0 0 0
3. Industri 1674944,2 1754497,5 1818594 1881356 1896634,5 1969304,3 2037319,9 2109737,6
4. Listrik, Gas, dan Air
Bersih 65962,32 68304,76 74258,44 78990,45 84658,13 88140,82 95652,07 104856,44
5. Bangunan 141987,1 147739,2 156928,25 167805,81 179954,95 197668,88 214081,5 233172,71
6. Perdagangan 1128604,9 1178353,9 1220709,7 1288370,2 1410756,3 1509106,2 1648518 1820040,3
7. Pengangkutan 647091,78 659070,35 696866,26 733615,4 777987,81 814698,4 839266,18 796245,59
8. Lembaga Keuangan 153181,83 160864,52 169364,26 239776,79 253082,7 273216,9 307060,56 346647,68
9. Jasa-jasa 243934,25 258484,6 270410,07 284252,31 299696,38 323099,33 353188,18 394281,39
Total 4069763,7 4241695,1 4422634,7 4690418,2 4919858,8 5192353,8 5512869,4 5823528,1

87
Lampiran 2. Produk Domestik Regonal Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 Jawa Barat Tahun 2001-2008
( Juta Rupiah)
Lapangan Usaha 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
1. Pertanian 29554467 29186914 29161783 34458000 34942000 34822000 35687000 36505000
2. Pertambangan 16761111 16918714 17019035 7705000 7143000 6982000 6677000 6842000
3. Industri 82993410 8,603E+09 91336590 96978000 105334000 114300000 122703000 133757000
4. Listrik, Gas, dan Air
Bersih 4169157,3 4398612,3 4447323,7 5338000 5650000 5428000 5751000 6026000
5. Bangunan 5143936,7 5580463,4 5984953,4 6602000 7781000 8233000 8928000 9731000
6. Perdagangan 36403262 38647465 39198353 45529000 47260000 50719000 54790000 56938000
7. Pengangkutan 7925724,3 8478452,1 9323751,2 10309000 10329000 11143000 12271000 12234000
8. Lembaga Keuangan 5885016,6 6490645,3 7067352,6 7247000 7624000 7672000 8646000 9076000
9. Jasa-jasa 14532916 15661103 17426171 15837000 16821000 18200000 18728000 19064000
Total 203369000 8,728E+09 220965314 2,3E+08 242884000 257499000 274181000 290173000

88